Jumong – Episode 64

Jumong dan pasukannya melawan para prajurit yang sangat banyak tanpa gentar.

Seorang prajurit BuYeo mendapatkan kabar bahwa beberapa orang menyerbu melewati blokade. Ia bergegas melapor pada Na Ru.
“Kurasa mereka adalah orang-orang yang merasa terancam karena adanya blokade.” kata Bu Beo No. “Kau tidak perlu cemas.”
Na Ru mengangguk. Ia melarang prajurit tersebut memberitahukan kabar ini pada Dae So agar Dae So tidak terganggu.

Dae So memanggil Bu Beo No ke ruangannya. Ia memberi hadiah pada Bu Beo No karena berhasil membunuh Jumong.
“Yang pertama, kau akan menjadi bangsawan BuYeo.” kata Dae So. “Kedua, kau akan menerima sebidang tanah.”
Bu Beo No diam.
“Cepat ambil hadiahmu.” perintah Na Ru.
Bu Beo No berterima kasih pada Dae So.
“Bu Beo No, aku menunjukmu sebagai Asisten Komandan.” kata Dae So. “Bantulah Komandan Na Ru untuk menyiapkan perang. Karena kau sudah mengenal Jolbon, maka ambil alih kelompok mata-mata dan pikirkan cara untuk menghancurkan musuh.”
“Ya.”

Bu Wi Yeom merupakan salah satu orang yang paling menonjol diantara para bajak laut. Jumong dan yang lainnya berniat mencari orang tersebut.
“Kita seperti mencari jarus di dalam tumpukan jerami.” kata Moo Gul mengomentari. Karena saat ini mereka sama sekali tidak tahu apapun mengenai orang yang bernama Bu Wi Yeom itu.
“Pedagang di San Chun dan Ma Gok mungkin bisa membantu kita.” kata So Seo No. Ia mengenal beberapa orang dari mereka.
“Aku akan pergi ke Ma Gok bersama Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo.” kata Jumong. “Kepala Klan So Seo No pergi ke San Chun dengan Jae Sa, Moo Gul dan Muk Guh.”
Mereka mulai mencari tahu siapa dan dimana keberadaan Bu Wi Yeom.

Di Ma Gok, Jumong melihat beberapa orang warga ditangkap. Oyi mencari tahu dan menemukan informasi bahwa Pasukan OkJo menangkap para pemuda Eu Pru dengan tujuan untuk melenyapkan bajak laut.
“Para bajak laut mungkin sedang bersembunyi.” kata Ma Ri. “Akan sulit menemukan mereka.”
“Untuk sementara ini, kita kembali ke kota dulu.” kata Jumong, berjalan bersama ketiga temannya.
“Berhenti!” teriak seseorang menghentikan mereka.
Oyi melempar sebuah pisau dan membunuh kepala pasukan. Jumong, Ma Ri, dan Hyeopbo bergegas menyerang dan membunuh anak buahnya.

Dae So memanggil para pemimpin SaChulDo ke BuYeo agar mereka membantu BuYeo dalam berperang melawan Jolbon.
“Kau tahu sendiri betapa sulitnya keadaan BuYeo saat ini.” kata Perdana Menteri, tidak setuju. “Warga-warga yang kelaparan berbondong-bondong meninggalkan BuYeo. Kau tidak bisa berperang. Blokade yang kita lakukan cukup untuk membuat Jolbon mati.”
“Aku setuju.” kata Heuk Chi. “Walaupun Jolbon sedang berada dalam krisis, mereka masih kuat.”
“Setelah kematian Jumong, Jolbon menjadi tidak punya kekuatan.” kata Dae So tersenyum menang. “Pembunuh yang kukirim berhasil membunuh Jumong.”
Para pejabat terkejut.
“Jika kita menyerang Jolbon sekarang, kita bisa menang.” kata Dae So.
“Kita tidak bisa membayar biaya perang.” kata Perdana Menteri.
“Kita bisa.” kata Dae So yakin. “Jika para bangsawan, pejabat dan SaChulDo membayar biaya perang.”
Para pejabat protes. Geum Wa datang ke ruang pertemuan itu dan menekan para pejabat. Ia berhasil menyelidiki uang yang dikorupsi oleh para pajabat dan akan menggunakannya untuk biaya perang. Jika para pejabat tetap menolak, maka para pejabat dan keluarganya akan dihukum mati sebagai pemberontak.

Yoo Hwa tidak bisa berhenti memikirkan Jumong dan khawatir bahwa Jumong benar-benar telah mati. Ia menemui Geum Wa untuk memastikan hal tersebut.
“Kelihatannya Jumong memang sudah mati.” kata Geum Wa pada Yoo Hwa.
Yoo Hwa lemas dan hampr terjatuh. Ia kelihatan pucat dan tidak sehat. “Aku tidak mempercayaimu.” katanya. “Tapi aku akan memastikan mayatnya. Kini, aku tidak lagi memendam kemarahan padamu. Tolong biarkan Soya dan aku pergi. Jumong sudah mati, jadi kami tidak perlu lagi menjadi tawananmu. Lepaskan kami.”
“Aku tidak bisa.” kata Geum Wa. “Akan terjadi medan peperangan di Jolbon ketika Han dan BuYeo melancarkan serangan. Jika kau pergi ke Jolbon, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu. Aku tahu perasaanmu, tapi aku tidak bisa membiarkan kau mati disana.”
“Kau tahu perasaanku?” tanya Yoo Hwa. “Apa kau tahu bagaimana perasaan seorang ibu ketika putranya mati mendahuluinya?”
“Aku juga merasa seih.” kata Geum Wa. “Aku mencoba memutus ikatanku dengan Jumong, tapi dia tetap putraku. Aku akan melindungi kau dan Soya. Aku juga akan membesarkan Yuri.”
“Jika kau memang menganggap Jumong putramu sendiri, kau tidak akan berusaha melenyapkan Pasukan Da Mul dan Jolbon.” kata Yoo Hwa. “Berhentilah membohongi dirimu sendiri. Lepaskan aku.”
Geum Wa menangis. Ia menggenggam tangan Yoo Hwa dan berlutut dihadapannya. “Walaupun aku tidak bisa mendapatkan hatimu, maka paling tidak aku akan mendapatkan ragamu. Aku akan selalu ada di sampingmu sampai aku mati.”
Yoo Hwa menangis.

Jumong berhasil menemukan pedagang yang pernah bertransaksi dengan So Seo No.
“Apakah kalian ingin memberi fur?” tanya pedagang. **Fur=bulu binatang**
“Benar.” kata Hyeopbo.
“Kalian terlambat.” kata pedagang. “Pedagang dari Heng In baru saja membeli semuanya.”
“Kudengar ada bajak laut yang menjual fur secara ilegal.” kata Jumong memancing. “Aku akan membayarmu dengan harga yang bagus. Bantu aku menemukan Bu Wi Yeom, kapten bajak laut. ”
Tanpa mereka sadari, seorang pria mendengarkan pembicaraan mereka.

Jumong mengendarai kudanya dan pergi melewati sebuah hutan. Di tengah hutan, mendadak sekelompok orang muncul dan mengepung mereka.
Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo turun dari kudanya dan bersiap berperang.
“Hentikan!” perintah Jumong. Ma Ri dan yang lainnya menyimpan kembali senjatanya. “Kami datang untuk bertemu dengan kapten kalian. Antar aku pada kapten kalian.”
Jumong menyerahkan surat dari pedagang tadi. Para bajak laut itu kemudian mengantarkan mereka pada seorang pria.

“Aku Bu Wi Yeom.” kata pria itu. “Kau ingin berdagang denganku?”
“Aku menyamar menjadi pedagang agar bisa bertemu denganmu.” kata Jumong. “Namaku Jumong. Aku menyatukan Jolbon dan Pasukan Da Mul. Aku datang ke Eu Pru untuk melakukan perundingan denganmu.”
“Jumong?” tanya Bu Wi Yeom, tertawa terbahak-bahak diikuti oleh anak buahnya. “Walaupun aku bersembunyi dari Pasukan OkJo, aku tetap mendapatkan informasi dari luar. Jumong tidak bisa meninggalkan Jolbon karena blokade. Kenapa ia bisa datang ke Eu Pru?”
“Kami punya alasan.” kata Ma Ri.
Bu Wi Yeom memerintahkan anak buahnya, Dae San, agar membawakan satu gentong arak.
“Aku akan menguji apakah kau benar-benar Jumong atau bukan.” kata Bu Wi Yeom. “Minum ini.”
Ikatan Jumong dilepaskan. Tanpa ragu, Jumong menerima gentong itu dan meminum isinya sampai habis.
“Ikat dia di pohon.” kata Bu Wi Yeom pada anak buahnya, menunjuk Ma Ri. Ma Ri diikat di pohon. “Sajauh yang kutahu, Jumong adalah seorang ahli panah. Tembakkan panah ke arah botol arak itu.” Di dekat kepala Ma Ri, mereka menggantung sebuah botol arak.
Jumong terkejut. Setelah meminum satu gentong besar arak, pandangan seseorang tidak akan sejelas sebelumnya. Jumong menerima busur dan panah dari bajak laut.
Para bajak laut menertawakan Jumong.
“Dibandingkan mengejekku seperti itu, kenapa kau tidak membunuhku saja jika tidak bisa mempercayaiku?” tanya Jumong.
“Aku akan membiarkanmu hidup jika kau berhasil menembak target.” kata Bu Wi Yeom.
“Jenderal!” teriak Ma Ri. “Tembak saja!”
Jumong meregangkan busurnya dan mengarahkan target ke botol arak disamping kepala Ma Ri. Jumong ragu sesaat. Ia memejamkan matanya, kemudian menembak tepat ke tengah botol.
Para bajak laut terkejut.
“Mereka adalah prajurit dari OkJo.” kata Bu Wi Yeom. “Tangkap mereka!”
“Kenapa kalian tidak mempercayai kami?!” seru Oyi. “Dia adalah Jenderal Jumong!”
Seorang bajak laut memukul perut Oyi. “Diam!”
Seorang bajak laut mengangkat pedangnya untuk membunuh Jumong, namun tiba-tiba beberapa panah melesat dan membunuh bajak laut. Pasukan OkJo menyerang.
Bajak laut berlari dan menyerang pasukan OkJo. Jumong, Ma Ri, Oyi, dan Hyeopbo membantu mereka.
Bu Wi Yeom diam, bingung melihat Jumong dan yang lainnya membantu mereka.

So Seo No, Sayong, Moo Gul, Jae Sa dan Muk Guh dipangil ke markas persembunyian bajak laut. So Seo No kemudian membantu Jumong melakukan perundingan.
“Kau ingin berlayar ke selatan melewati laut ribuan li?’ tanya Bu Wi Yeom terkejut.
“Itulah satu-satunya jalan agar kami bisa mendapatkan makanan.” kata Jumong.
“Aku berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan nyawaku, tapi aku tidak bisa melakukan perjalanan yang berbahaya.” kata Bu Wi Yeom menolak. ‘Tidak ada yang berlayar saat ini karena angin yang sangat ganas. Kita akan tenggelam di dasar laut sebelum berhasil sampai di selatan.”
Jumong dan So Seo No berusaha membujuk Bu Wi Yeom.
Pada akhirnya, Bu Wi Yeom setuju. Namun ia meminta Jumong memberinya timbal balik yang setimpal.
Pihak Jumong kebingungan, tidak tahu apa yang harus mereka tawarkan untuk Bu Wi Yeom.

Di lain pihak, Yoo hwa duduk diam di depan kamar Geum Wa selama berhari-hari. Wajahnya sangat pucat.
Ye Soya membawakannya semangkuk bubur.
“Bawa itu pergi.” kata Yoo Hwa. “Jika Yang Mulia tidak mengizinkan aku pergi, maka aku akan mati bersama dengan Jumong. Ia akan mengirimmu dan Yuri jika aku mati.”
“Ibu…” ujar Ye Soya sedih. Ia duduk di samping Yoo Hwa dan menemaninya.
Bu Beo No melihat mereka dari jauh.
Tiba-tiba Yoo Hwa pingsan. Bu Beo No bergegas memerintahkan pengawal untuk membawa Yoo Hwa ke kamarnya.

Tabib memeriksa Yoo Hwa. Yoo Hwa menolak minum obat, makan ataupun minum.
“Aku sudah siap mati.” kata Yoo Hwa.
Bu Beo No ragu, apakah ia harus memberitahu Yoo Hwa mengenai Jumong atau tidak. Akhirnya Bu Beo No memutuskan untuk memberitahu Yoo Hwa dan Ye Soya bahwa Jumong masih hidup.
“Aku tidak tahu kenapa ia menghilang, tapi Jenderal Jumong masih hidup.” kata Bu Beo No. “Secepatnya, aku akan pergi ke Jolbon dan mengabdi padanya. Aku akan memikirkan cara agar kalian bisa keluar dari sini. Tolong jaga diri kalian.”
Ye Soya dan Yoo Hwa menangis lega.

Karena Dae So berhasil membunuh Jumong, maka ia meminta hadiah berupa kebutuhan makanan untuk BuYeo. Yang Jung setuju.
Tidak lama setelah itu, pengawal Yang Jung datang dan mengatakan bahwa Tuan Hwang datang dari Chang An.
Tuan Hwang mengatakan bahwa ia datang atas perintah Kaisar untuk membantu Yang Jung. Dengan sinis, Yang Jung menjawab bahwa ia tidak butuh bantuan apapun. Ia meminta Tuan Hwang beristirahat sebagai tamu di Hyeon To.

Jumong berpikir dan berhasil menemukan sesuatu yang tepat untuk dijadikan bayaran pada para bajak laut. Jumong menyerahkan sebuah perkamen.
Bu Wi Yeom membukanya dan berteriak marah, “Apakah kau mengolok-olokku?!”
“Aku tidak mengolokmu.” kata Jumong. “Yang ingin kuberikan tidak bisa dihitung dengan materi. Aku melihatmu meninggalkan mayat teman-temanmu di gunung. Mereka dicap sebagai penjahat seumur hidupnya. Setelah mati, mereka dimakan oleh hewan liar.”
“Apa sedang mengajariku?!” seru Bu Wi Yeom marah.
“Ayahku, Jenderal Hae Mo Su, lari dari Pasukan Han seumur hidupnya, dan bahkan ketika mati ia tidak memiliki makam. kata Jumong melanjutkan. “Namun ia punya impian untuk merebut kembali wilayah GoJoSeon. Bagaimana dengan teman-temanmu? Mereka mati tanpa harapan untuk masa depan. Ini adalah nama dari negara baru yang akan kubentuk.”
Perkamen yang diberikan Jumong pada Bu Wi Yeom adalah tulisan ‘Goguryeo’.
“Aku akan memberi kalian kesempatan untuk hidup sebagai manusia dan menjadi dasar Goguryeo.” kata Jumong. “Bergabunglah denganku dan menjadi pemilik Goguryeo, sebuah negara yang paling terang dan yang paling kuat dibawah matahari.”

Jumong memberi waktu pada Bu Wi Yeom untuk berpikir.
Setelah memikirkan baik-baik, Bu Wi Yeom kemudian memanggil Jumong ke ruangannya. Bu Wi Yeom mengeluarkan sebuah pakaian usang dan menceritakan pada Jumong bahwa dulu ayahnya adalah prajurit Da Mul dibawah pimpinan Jenderal Hae Mo Su. Pakaian itu adalah pakaian ayahnya, yang dipakaikan padanya saat ia kedinginan ketika lari dari kejaran Han.
Bu Wi Yeom berlutut di depan Jumong. “Aku tidak akan lagi hidup sebagai penjahat.” katanya. “Aku akan mengabdi padamu dan mewujudkan impian ayahku.”

So Seo No menawarkan diri untuk pergi berlayar ke selatan. Jumong khawatir karena perjalanan tersebut berbahaya. Namun So Seo No menenangkannya.
“Aku tidak akan mati dengan mudah.” kata So Seo No. “Aku akan kembali dan bergabung denganmu. Tolong jaga Jolbon.”

Para Kepala Klan berkumpul dan ingin bertemu dengan Jumong. Yeon Ta Bal tidak bisa berkata apa-apa.
“Karena ia telah melanggar janjinya untuk melindungi BiRyu dan klan lain, maka kami akan melindungi diri kami dengan cara kami sendiri.” kata Song Yang seraya berjalan pergi.

Dae So dan beberapa prajurit BuYeo berniat bicara dulu pada Song Yang sebelum menyerang Jolbon.
Pasukan BuYeo siap pergi berperang segera setelah Dae So kembali.

Di saat yang sama, Jumong dan keenam perwiranya sedang berada dalam perjalanan kembali ke Jolbon.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s