Jumong – Episode 66

Jumong menangis dan jatuh pingsan.
“Jenderal!” seru Oyi dan yang lainnya cemas.

BuYeo merasa menang karena keadaan Jolbon makin lama makin parah. Geum Wa ingin terus menekan Jolbon agar Jolbon jatuh secepatnya.
Geum Wa juga sudah tidak terlalu menganggap Dae So. Ia menyelesaikan dan melakukan
semuanya sendiri dan melarang Dae So membantu.

“Ma Oo Ryeong!” seru Dae So dengan ekspresi wajah marah. “Bukankah kau mengatakan apdaku bahwa Jumong sudah mati?! Tapi, Jumong masih hidup.”
Maa Oo Ryeong ketakutan. “Pangeran, aku tidak pernah mengatakan bahwa Jumong sudah mati.” kata Ma Oo Ryeong.
“Diam!” bentak Dae So seraya menggebrak meja. Ia mengeluarkan pedang dan mengarahkannya pada Ma Oo Ryeong.
“Pangeran, maafkan aku.” kata Ma Oo Ryeong ketakutan. “Maafkan aku.”
Permaisuri Wan Ho datang dan berusaha menenangkan Dae So. “Dae So tenanglah!” kata Wan Ho.
“Aku menjadi tidak dihormati dan malu karena dia!” seru Dae So. “Bisakah kau membayangkan bagaimana rasanya dikalahkan oleh BiRyu dan Jolbon?! Ma Oo Ryeong harus bertanggung jawab atas malu yang kuterima!”
“Dae So, turunkan pedangmu!” seru Wan Ho.
Dae So membanting pedangnya ke lantai.
Beberapa saat kemudian, Na Ru datang dan mengatakan bahwa Geum Wa ingin Dae So ikut bersamanya untuk mengunjungi prajurit di perbatasan. Ia ingin memeriksa pasukan sekutu.

Geum Wa pergi bersama Yang Jung, Dae So, Young Po dan beberapa prajurit lain.
“Kumpulkan pasukan sekutu di Gunung Chun Ma dan Lembah Mu Soo.” kata Geum Wa. “Bersiaplah untuk menyerang Jolbon.”
“Apakah kau ingin berperang dengan Jumong?” tanya Yang Jung.
“Pihak kita tidak perlu sesuatu.” kata Geum Wa. “Aku akan menggunakan pasukan sekutu untuk berperang dengan Jolbon. Jolbon akan lebih cepat jatuh jika rakyat mereka ketakutan. Aku ingin Dae So dan Young Po memimpin pasukan sekutu.”
“Ya, Yang Mulia!”

Pasukan di bawah pimpinan Dae So dan Young Po berangkat. Geum Wa kemudian memerintahkan Perdana Menteri agar pergi ke Jolbon dan bujuk Jumong untuk menyerah.
“Jika Jumong tidak menyerah, maka Jolbon dan Jumong akan mendapatkan akhir yang menyedihkan.” kata Geum Wa. “Walaupun aku berperang melawan Jumong, tapi aku tidak ingin dia mati menyedihkan.”

Di kuil ramalan BuYeo, Yoo Hwa dan Ye Soya berdoa terus menerus selama beberapa hari.
Hujan di Jolbon akhirnya berhenti, namun Jumong belum juga sadar.

Bu Beo No menjaga perbatasan. Na Ru memata-matai mereka dan melapor pada Dae So.
“Prajurit yang menjaga perbatasan tidak mencapai 100 orang.” kata Na Ru.
“Habisi para prajurit itu dan bunuh semua warga desa.” perintah Dae So. “Ayo pergi!”
Pasukan Dae So berangkat dan menyerang perbatasan.

Bu Beo No terkejut perkemahan mereka diserang dengan mendadak oleh Pasukan BuYeo. Bu Beo No berlari dan melawan para prajurit BuYeo.
“Bu Beo No!” teriak Na Ru seraya menyerang Bu Beo No. Bu Beo No mengelak dan menangkis serangan Na Ru. Ia berhasil menjatuhkan Na Ru, kemudian melarikan diri dengan mengendarai kuda.

Jumong tersadar.
“Jenderal!” seru Ma Ri lega melihat Jumong sudah sadar.
“Apakah Kepala Klan So Seo No sudah kembali?” tanya Jumong.
Ma Ri dan Jae Sa terdiam.
“Hujan sudah berhenti.” kata Ma Ri. “Tapi bencana semakin buruk.”
“Para pengungsi yang menetap di BiRyu dan Gwanna meninggalkan Jolbon.” kata Jae Sa.
“Bagaimana dengan para Kepala Klan?” tanya Jumong.
“Pengkhianatan Kepala Klan bukan permasalahan kita.” kata Yeon Ta Bal. “Blokade akan menghancurkan Jolbon.”
Jumong mencoba bangun dari ranjang. ma Ri dan Jae Sa mencoba menahannya.
“Jangan cemas.” kata Jumong bersikeras.

Bu Beo No tiba. Ia melapor bahwa perbatasan dan desa dekat perbatasan telah diserang oleh Pasukan BuYeo dan Han. Warga disana dibunuh tanpa ampun.
Jumong dan para perwiranya memeriksa ke desa itu. Keadaan di sana sangat menyedihkan.
“Mereka mencoba menakuti pasukan dan rakyat kita.” kata Jumong. “Kita harus memperketat keamanan perbatasan.”
“Ya, Jenderal!”

Jumong berdoa lagi di GyehRu.
“Kau memberi cobaan ini bukan karena meninggalkan aku, tapi untuk mengajariku.” ujar Jumong dalam doanya. “Aku tidak akan gentar. Tolong, jagalah Jolbon.”

Perdana Menteri BuYeo datang ke GyehRu dan ingin bicara dengan Jumong.
“Yang Mulia tidak ingin ada pertumpahan darah lagi di Jolbon.” kata Perdana Menteri. “Menyerahlan padaBuYeo dan selamatkan rakyat Jolbon. Jika kalian tetap melawan BuYeo, maka Jolbon akan berakhir dengan menyedihkan.”
“Menyerah pada BuYeo sama dengan menyerah pada Han.” kata Jumong.
“Yang Mulia akan memberikan otonomi dan membiarkan kau memerintah Jolbon.” kata Perdana Menteri. “Jangan keras kepala dan pilihlah pilihan untuk hidup.”
“Aku lebih memilih mati dengan terhormat daripada hidup malu dan tanpa kehormatan.” kata Jumong tegas.
“Pemimpin yang baik seharusnya mendengarkan rakyat.” Perdana Menteri terus membujuk. “Tidak bisakah kau mendengar bahwa rakyat menangis karena bencana kelaparan? Apakah kau akan membuat kebutaanmu membawa kematian pada rakyat?”
“Seperti kau katakan, aku memang buta dan tuli.” kata Jumong. “Aku telah dibutakan dan ditulikan setelah melihat rakyat dibantai oleh BuYeo. Tapi, suara rakyat harus kau dengar dengan hati, bukan dengan telinga. Di hatiku, aku bisa mendengar rakyat sekarat dan memohon padaku untuk membangun negara yang kuat. Katakan pada Yang Mulia bahwa aku tidak akan pernah menyerah pada BuYeo dan Han.”

Para Kepala Klan membujuk Jumong agar menerima tawaran BuYeo, tapi keputusan Jumong sudah bulat.
“Jangan takut pada Han dan BuYeo.” katanya pada Kepala Klan. “Jika kita sudah bertekad menghadapi kematian, maka kita akan menemukan jalan untuk hidup. Tolong, percayalah padaku.”

Perdana Menteri kembali ke BuYeo dan menlapor bahwa Jumong menolak tawaran mereka. Geum Wa memerintahkan Dae So untuk menyerang perbatasan Jolbon.

Pasukan BuYeo membantai habis rakyat desa perbatasan Jolbon di Gwanna.
“Jumlah mereka tiga kali lipat lebih banyak dibanding prajurit kita.” lapor prajurit perbatasan Gwanna yang berhasil melarikan diri.
Rakyat ketakutan dan mulai kehilangan kepercayaan pada Jumong. Jika ini terus berlanjut maka Jolbon bisa jatuh.

Jumong mengambil Busur Da Mul yang disimpan oleh So Ryeong dan Putri Bintang.
“Apakah ini akhir untukku?” pikir Jumong dalam hati. “Apakah ini adalah kehendak langit? Apakah aku benar-benar Tuan dari Busur Da Mul ini, bukan BuYeo?”
“Jenderal, jika kau jatuh maka Jolbon tidak akan bisa bersatu.” kata So Ryeong. “Hatimu harus kuat.”
“Rakyat Jolbon dibunuh oleh Pasukan BuYeo.” kata Jumong sedih. “Aku tidak bisa melindungi mereka lagi. Aku sudah berdoa, tapi doaku tidak cukup. Pasukanku dibunuh, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak tahu kemana aku harus memimpin jalan bagi rakyat Jolbon.” Jumong kelihatan sangat sedih dan putus asa.

Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo meminta izin Jumong untuk menyusup ke markas BuYeo dan membunuh Dae So, namun Jumong menolak. “Aku tidak bisa membiarkan kalian mati.” katanya.
“Seseorang harus berkorban untuk menghentikan persekutuan ini.” kata Oyi. “Aku rela mati demi kau dan Jolbon. Tolong izinkan kami membunuh Pangeran Dae So.”
“Tolong izinkan kami, Jenderal!”
“Kesetiaan kalian membuatku malu karena aku lemah.” kata Jumong. “Langit tidak meninggalkan aku. Kalian adalah pendukung Goguryeo dan saudaraku, yang bisa kupercaya dan kugantungkan. Jika kalian mati, aku tidak akan bisa mewujudkan impianku. Jika kita semua tidak takut mati, kita harus bisa mencari cara untuk lolos dari blokade. Aku akan pergi ke perbatasan.”
“Ya!” seru Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo bersamaan.

Malam itu, Jumong dan keenam perwiranya pergi ke perbatasan. Disana, mereka bertemu dengan beberapa orang yang dikejar-kejar oleh prajurit BuYeo. Jumong dan yang lainnya membunuh prajurit dan menyelamatnya orang-orang itu. Ternyata orang itu adalah Sayong dan beberapa orang lain.
“Apa yang terjadi?” tanya Jumong, terkejut. “Apakah Kepala Klan So Seo No baik-baik saja?”
“Dia baik-baik saja.” kata Sayong. “Ia ada di Gunung Ogeum dan mencari cara untuk masuk ke Jolbon. Dia memintaku datang ke Jolbon untuk memberi kabar padamu.”
“Karena Kepala Klan So Seo No sudah kembali, sekarang kita bisa menyerang blokade.” kata Jae Sa.
“Kita harus mengirim pasukan untuk melenyapkan pasukan sekutu dan membawa makanan ke Jolbon.” kata Ma Ri.
Jumong kemudian memerintahkan Ma Ri dan Jae Sa untuk menyiapkan pasukan.

Jumong dan Pasukan Da Mul menyerang blokade untuk memberikan jalan bagi So Seo No dan Bu Wi Yeom membawa makanan ke Jolbon.
Keesokkan harinya, rombongan So Seo No datang dengan membawa banyak kebutuhan makanan.
“Hidup Jolbon!” seru Pasukan Da Mul bersorak. “Hidup Jolbon!”
Jumong sangat lega dan bahagia melihat makanan dan semua kebutuhan tersebut tiba. Matanya berkaca-kaca.
Kini rakyat Jolbon bisa terbebas dari kelaparan.

Kabar bahwa Jolbon berhasil mendapatkan makanan menyebar sampai ke BuYeo. Geum Wa memerintahkan Dae So untuk mencari tahu negara mana yang memberikan makanan tersebut untuk Jolbon.
Malamnya, Geum Wa bermimpi. Dalam mimpinya, ia dikepung oleh sekelompok prajurit yang dipimpin oleh Jumong. Jumong mengakat pedang untuk membunuhh Geum Wa.
Geum Wa terbangun dengan kaget. Kata-kata Bi Geum Sun mengenai kehancuran BuYeo terngiang-ngiang ditelinganya.

Keesokkan harinya, Dae So memberitahukan Geum Wa bahwa Jumong berhasil memperolah makanan dari selatan dengan bantuan bajak laut.
Karena Jolbon berhasil mendapatkan makanan dari selatan, maka blokade sudah tidak ada gunanya lagi. Ditambah lagi, keadaan finansial BuYeo kritis karena kegiatan blokade yang mereka lakukan.
“Jika kita gagal mengambil alih Jolbon, maka keadaan di BuYeo hanya akan semakin memburuk.” kata seorang pejabat.
“Walaupun Jumong berhasil meloloskan diri dari blokade, tapi ia masih belum bisa menyelamatkan Jolbon sepenuhnya.” kata Yang Jung. “Kita harus segera menyerang mereka sebelum keadaan disana stabil.”
“BuYeo tidak bisa menyerang karena kondisi keuangan.” kata Geum Wa.
“Apa maksudmu?!” seru Yang Jung. “Jika kau terus-menerus gagal, maka pasukan Han akan kembali ke Hyeon To!”

Keadaan Yang Jung terpojok. Karena kegagalan BuYeo, maka Yang Jung juga gagal. Tuan Hwang melapor ke Chang An mengenai kegagalan Yang Jung. Ia memerintahkan Yang Jung untuk menarik pasukannya kembali ke Hyeon To.

Keadaan Jolbon sangat baik karena makanan dan semua kebutuhan mampu memenuhi kebutuhan rakyat.
“Maafkan aku karena meragukanmu.” kata Song Yang. “Kau telah menyelamatkan rakyat BiRyu. Aku akan mengabdi padamu.” Akhirnya Song Yang dan Kepala Klan Jolbon yang lain menyatakan kesetiaan mereka pada Jumong.
“Kita merasa sangat tersiksa beberapa waktu terakhir ini.” kata Jumong. “Tapi langit tidak meninggalkan Jolbon. Langit ingin agar rakyat Jolbon melewati masalah ini bersama dan menjadi benar-benar bersatu. Persatuan Jolbon tidak akan pernah lagi gentar.”
Para Kepala Klan tersenyum.
“Dari masalah ini, aku belajar sesuatu.” tambah Jumong. “Jalan untuk membangun negara baru tidak bisa dilakukan oleh satu orang. Kita semua bisa melewati ini karena kalian mempercayaiku dan menjalankan tugas kalian. Aku akan menyimpan pelajaran ini dalam hati untuk membantuk sebuah negara yang kuat.”

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s