Jumong – Episode 67

Pasukan Han dan BuYeo, yang membuat blokade di perbatasan Jolbon, telah ditarik mundur.

“Aku ingin meminta izinmu.” kata Jumong pada So Seo No. “Aku ingin membantu BuYeo.”
“Kau ingin membantu musuh?” tanya So Seo No. “Apa maksudmu?”
“Kita harus merengkuh BuYeo seperti kita merengkuh klan yang lain.” kata Jumong. “BuYeo bersekutu dengan Han hanya untuk menekan kita. Banyak rakyat BuYeo yang kelaparan dan para pengungsi meninggalkan rumah mereka. Aku ingin membantu rakyat BuYeo yang sekarat. Jika kita membantu BuYeo dengan niat yang baik, maka klan-klan dan negara yang ikut blokade akan bergabung dengan kita.”
“Aku mengerti maksudmu, tapi bukankah harga diri Raja Geum Wa terlalu tinggi untuk menerima tawaranmu?” tanya So Seo No.
“Aku tidak yakin, tapi kita harus berusaha membantu mereka.” kata Jumong.
“Aku akan mencoba bicara dengan ayah dan Kepala Klan Song Yang.” kata So Seo No.

Setelah pembicaraan dan perundingan, So Seo No memutuskan pergi ke BuYeo menjadi utusan untuk menawarkan bantuan.
“Aku dikirim oleh Jenderal Jumong sebagai utusan yang membawakan pesan untu Yang Mulia.” kata So Seo No apda Dae So begitu ia, Sayong dan Ho Yeon tiba di istana BuYeo.
Dae So tertawa sinis. “Perang belum berakhir, tapi kau berani kemari.” katanya. “Kau pasti ingin mati.”
“Aku sudah siap.” kata So Seo No.
“Apa yang ingin Jumong katakan pada Yang Mulia?” tanya Dae So.
“Aku akan mengatakannya sendiri pada Yang Mulia.” jawab So Seo No.
Dae So pergi untuk menyampaikan pada Geum Wa mengenai kedatangan So Seo No.
Saat Dae So pergi, So Seo No menyerahkan sebuah bungkusan berisi sesuatu pada Sayong. “Berikan ini pada Lady Yoo Hwa ketika aku bicara dengan Raja Geum Wa.” katanya.

Saat So Seo No sudah dipanggil masuk, Sayong meminta izin pada Song Ju untuk menemui Lady Yoo Hwa, namun Song Ju melarang.
“Kalau begitu, berikan ini padanya.” kata Sayong seraya menyerahkan bungkusan. “Ini adalah sutera. Jenderal Jumong belum pernah melihat putranya. Ia ingin Lady Yoo Hwa memakaikan sutera ini pada putranya. Kau bisa memeriksanya jika mau.”
Song Ju terdiam, ragu.
“Tolong jangan menolak.” bujuk Sayong. “Demi persahabatan masa lalu.”

“Kenapa kalian ingin memberikan makanan dan obat-obatan pada kami?” tanya Geum Wa setelah So Seo No menyampaikan maksud kedatangannya.
“Kami tidak punya maksud lain.” kata So Seo No. “Jenderal Jumong merasa simpatik pada rakyat yang kelaparan di BuYeo. Tolong terimalah niat baik Jenderal Jumong.”
“Jika aku menerima bantuan Jumong setelah berusaha menyerangnya, rakyat akan menertawakan aku.” kata Geum Wa. ”
“Tentu saja tidak, Yang Mulia.” kata So Seo No. “Jenderal Jumong mengatakan padaku bahwa hal yang paling diperhatikan oleh Yang Mulia adalah kesejahteraan rakyat. JikaYang Mulia menerima tawaran ini, maka hati rakyat akan tersentuh.”
Geum Wa diam sejenak. “Akan kupikirkan.” katanya.
“Aku ingin meminta sesuatu.” ujar So Seo No. “Tolong kirim Lady Yoo Hwa dan Ye Soya ke Jolbon.”
“Itukah syarat diajukan Jumong ingin membantu BuYeo?” tanya Geum Wa.
“Tidak.” jawab So Seo No cepat. “Jenderal Jumong tidak pernah mengatakan itu. Aku hanya mengajukan permintaan pribadi.”
“Keluar.” perintah Geum Wa.
“Yang Mulia..”
“Kubilang keluar!” bentak Geum Wa.

“Yang Mulia, kurasa kita bisa menerima tawaran Jumong.” kata Dae So pada Geum Wa. “Kita bisa membunuhnya saat melakukan negosiasi dengannya.”

Dae So menemui So Seo No dan memintanya memanggil Jumong ke BuYeo.
So Seo No menolak. “Bagaimana aku bisa yakin bahwa Jenderal Jumong akan aman disini?” tanyanya.
“Maksudmu kau tidak mempercayai Yang Mulia?” Dae So bertanya balik.
“Sebenarnya, kaulah yang tidak bisa aku percaya.” jawab So Seo No tenang dan jujur.
“Jadi, kau ingin membawa Yang Mulia ke Jolbon?” tanya Dae So.
“Tidak.” jawab So Seo No cerdik. “Jika Yang Mulia ingin bertemu dengan Jenderal Jumong, dia harus melakukannya di wilayah netral di luar perbatasan BuYeo.”
Dae So berpikir. “Baiklah. Mereka akan bertemu di desa klan Yong Chun di selatan perbatasan BuYeo.”

Song Ju memberikan bungkusan dari Sayong pada Lady Yoo Hwa.
Setelah Song Ju keluar, Yoo Hwa mencari-cari sesuatu di dalam kain, kemudian merobek salah satu kain. Ia menemukan peta jalan rahasia untuk keluar dari istana BuYeo.

Na Ru dan para pengawal yang bertugas mengawal Geum Wa bernegosiasi dengan Jumong berkumpul. Diam-diam, Dae So memberi perintah pada Na Ru untuk membunuh Jumong di tempat negosiasi.
Secara tidak sengaja, pelayan Yoo Hwa mendengar perintah itu. Ia segera melaporkan hal tersebut pada Yoo Hwa. “Pangeran Dae So merencanakan sesuatu untuk membunuh Pangeran Jumong!” kata si pelayan panik.
Yoo Hwa meminta pelayan untuk memanggil Ye Soya.
“Kita harus keluar dari sini secepatnya untuk memberitahu Jumong.” kata Yoo Hwa pada Ye Soya. “Bersiap-siaplah.”
“Aku mengerti.” ujar ye Soya.

So Seo No kembali ke GyehRu. “Raja Geum Wa ingin bertemu langsung denganmu.” katanya pada Jumong.
“Itu artinya, ia akan menerima tawaran kita.” ujar Jumong senang. “Aku akan membujuk Yang Mulia. Terima kasih atas bantuanmu.”
“Aku juga memberikan peta rahasia pada Lady Yoo Hwa dan Ye Soya agar mereka bisa keluar dari istana.” kata So Seo No.
Jumong terkejut.
“Mereka akan segera tiba di Jolbon.” ujar So Seo No menenangkan. “Jangan khawatir.”

Karena hanya 20 prajurit yang bisa ikut ke tempat perundingan, maka Dae So memerintahkan Na Ru untuk menyamarkan prajurit BuYeo sebagai warga klan Yong Chun.
Di pihak lain, Jae Sa juga memimpin strategi untuk melindungi Jumong selama perundingan. Moo Gul marah-marah karena mereka membantu BuYeo. Hyeopbo mengatakan padanya agar jangan protes mengenai keputusan yang diambil Jenderal Jumong.
Sementara itu, Jumong sedang berdiri seorang diri di padang rumput, cemas memikirkan ibu dan istrinya.

Malam telah tiba. Yoo Hwa bersiap pergi. Agar bisa keluar dari kamarnya, ia meminta pelayannya menyampaikan pesan pada pelayan kuil ramalan bahwa Yoo Hwa ingin bertemu dengan Ma Oo Ryeong.
Pelayan kuil ramalan meminta izin pada penjaga untuk membawa Yoo Hwa ke kuil ramalan. Di tengah perjalanan, Yoo Hwa mengatakan bahwa barang yang inginia berikan pada Ma Oo Ryeong tertinggal. “Katakan pada Ma Oo Ryeong untuk menungguku.” kata Yoo Hwa pada pelayan kuil.
Pelayan kuil itu pergi terlebih dulu ke kuil. Yoo Hwa memanfaatkan kesempatan untuk pergi.

Beberapa saat setelah kepergian Yoo Hwa, Geum Wa ingin bertemu dengan Yoo Hwa. Tapi Yoo Hwa tidak ada di kamarnya. Penjaga mengatakan bahwa Lady Yoo Hwa sedang pergi menemui Peramal Ma Oo Ryeong.
Geum Wa bergegas menyusul Yoo Hwa ke kuil ramalan, namun Yoo Hwa juga tidak ada di sana.
Saat itu, Yoo Hwa, Ye Soya, Yuri dan pelayan sedang melewati terowongan menuju keluar istana.
Geum Wa memerintahkan Dae So untuk mengerahkan pasukan menangkap Yoo Hwa dan Ye Soya.

Yoo Hwa dan Ye Soya berjuang keras menghindari diri dari kejaran pasukan BuYeo.
“Jika kita pergi bersama, kita akan tertangkap.” kata Yoo Hwa pada Ye Soya. “Aku akan menarik perhatian para prajurit. Kau dan Yuri, pergilah naik ke perahu.”
“Aku tidak mau, Ibu.” ujar Ye Soya cemas dan sedih.
“Kau tahu situasi kita saat ini.” Yoo Hwa membujuk. “Kau harus memberitahukan pada Jumong mengenai rencana Dae So. Waktu kita sempit. Jangan mencemaskan aku, cepatlah pergi.”
Ye Soya menangis, tidak bergerak.
“Pergilah!” seru Yoo Hwa. “Kau harus hidup agar Jumong hidup. Cepatlah!”
Ye Soya menangis. Ia menurunkan Yuri. “Yuri, beri hormat pada nenekmu.”
Yuri dan Ye Soya bersujud dan memberi hormat pada Yoo Hwa.
“Ibu, jagalah kesehatanmu.” ujar Ye Soya sedih.
Yoo Hwa mendekati Yuri. “Yuri, tumbuhlah menjadi pria yang kuat.” pesannya. “Berjanjilah padaku.”
“Ya.” jawab Yuri.
Yoo Hwa menangis dan memeluk cucunya. Ia menggendong Yuri dan menyerahkannya pada Ye Soya. “Aku tidak pernah memberi apa-apa padamu kecuali penderitaan.” ujar Yoo Hwa pada Ye Soya. “Jika kita bertemu lagi, kita harus bertemu dengan senyuman. Sekarang pergilah.”
“Ibu…”
“Pergi!” perintah Yoo Hwa menguatkan diri.
Dengan berat hati, Ye Soya pergi meninggalkan Yoo Hwa.

Yoo Hwa sengaja membuat pasukan BuYeo menemukannya.
“Dimana Ye Soya?” tanya Na Ru.
“Aku tidak tahu!” jawab Yoo Hwa.
Na Ru bertanya pada pelayan Yoo Hwa. Karena pelayan bersikeras mengatakan bahwa ia tidak mengetahui dimana Ye Soya, Na Ru membunuhnya.
“Komandan Song Ju, bawa Lady yoo Hwa kembali ke istana.” perintah Na Ru. “Aku akan mencari Ye Soya dan Yuri.”
“Aku mengerti.” ujar Song Ju.
Yoo Hwa sangat ketakutan dan cemas.

Ye Soya dan Yuri berusaha melewati lembah yang cukup terjal. Ia bersembunyi ketika melihat Na Ru lewat. Tiba-tiba, Ye Soya terpeleset dan jatuh pingsan.
“Ibu!” Yuri memanggil Ye Soya sambil menangis.

Yoo Hwa dibawa kembali ke istana BuYeo.
“Kenapa kau lakukan ini padaku?” tanya Geum Wa. “Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku akan mengirim Soya dan Yuri pada Jumong jika waktunya sudah tepat.”
“Setelah kau membunuh Jumong?” tanya Yoo Hwa dingin.
“Apa maksudmu?” tanya Geum Wa.
“Kau pikir aku tidak tahu?” ujar Yoo Hwa. “Jumong ingin membantu BuYeo dengan tulus, tapi kau ingin menggunakan ketulusannya untuk membunuhnya! Seharusnya kau malu pada dirimu sendiri!”
“Aku tidak pernah memerintahkan seorang pun melakukan itu!” kata Geum Wa.
“Mungkin kau memang tidak pernah memerintahkan itu, tapi mungkin kau sengaja tidak melihat!” seru Yoo Hwa. “Jumong tidak akan pernah menyerang BuYeo! Walaupun ia mencoba menyerang, aku akan menghentikannya sendiri!”
“Dengan mengembalikan kejayaan GoJoSeon, artinya ia ingin menghancurkan BuYeo!”
“Bukankah dulu kau juga berusaha mengembalikan kejayaan GoJoSeon bersama Pasukan Da Mul dan Hae Mo Su?” tanya Yoo Hwa. “Aku tidak bisa mempercayaimu. Walaupun aku tidak akan bisa melihat Jumong lagi, aku tidak bisa tetap berada disisimu.” Yoo Hwa membalikkan badannya membelakangi Geum Wa, berniat pergi.
“Berhenti!” teriak Geum Wa. Ia menarik pedangnya dan mendekati Yoo Hwa. “Aku akan membuatmu tetap berada disisiku walaupun artinya aku harus membunuhmu.”
Yoo Hwa diam, tidak gentar sama sekali.
“Jika kau tidak mau kembali, maka aku akan membunuhmu.” kata Geum Wa.
“Bunuh aku.” kata Yoo Hwa lemah. “Tubuhku mungkin ada di dekatmu, tapi jiwaku ada bersama Hae Mo Su dan Jumong.” Yoo Hwa berjalan melewati Geum Wa.
Geum Wa mengangkat pedangnya dan membunuh Yoo Hwa.
Para pejabat terlonjak kaget.
Yoo Hwa terjatuh di tanah.
Geum Wa seperti tersadar dari amarah yang membutakan matanya. Ia kemudian menjatuhkan pedangnya dan memeluk Yoo Hwa.
“Sangat menyedihkan.” gumam Yoo Hwa lemah, kemudian meninggal.
Geum Wa menangis.

Yuri menangis, membangunkan ibunya yang masih pingsan. “Ibu!” tangis Yuri keras, memanggil ibunya.
Ye Soya sadar. “Yuri…” ujarnya seraya berusaha mengendong Yuri walaupun kakinya terkilir. “Ayo pergi.”
Saat itu, Tuan Hwang dan pasukan Han sedang dalam perjalanan kembali ke Chang An. Secera tidak sengaja Ye Soya bertemu dengan mereka. Para prajurit mengejar Ye Soya dan menangkapnya.
“Untuk apa kau melewati gunung ini?” tanya Tuan Hwang.
“Aku pengungsi yang ingin meninggalkan BuYeo karena kelaparan.” kata Ye Soya berbohong.
“Siapa namamu?”
“Namaku Geum.” jawab Ye Soya.
“Dimana ayah anak ini?”
“Ia sudah dibunuh oleh penjaga gerbang.” jawab Ye Soya.
Tuan Hwang menarik napas panjang. “Beri mereka air dan makanan, kemudian bawa ke Hyeon To.” Tuan Hwang memerintahkan salah seorang prajuritnya.
“Tolong lepaskan kami!” seru Ye Soya.
“Ayah anak ini sudah mati.” kata Tuan Hwang. “Tidak ada lagi yang menjaga kalian. Aku akan menjaga kalian berdua mulai saat ini.”
“Tolong lepaskan kami!” seru Ye Soya memohon.
“Bawa mereka ke Hyeon To!”

Ketika Jumong dan beberapa prajurit Da Mul hendak berangkat ke Yong Chun, Moo Gul dan Oyi datang berlari-lari.
“Jenderal!” seru Oyi.
“Ada apa?” tanya Jae Sa.
Moo Gul menoleh sedikit pada Oyi. “Jenderal… Jangan pergi ke Yong Chun.” katanya dengan ekspresi sedih.
Jumong dan yang lainnya bingung.
Oyi menangis. “Lady Yoo Hwa dan Lady Ye Soya… ketika sedang mencoba pergi dari BuYeo… telah terbunuh…”

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s