Jumong – Episode 68

Jumong berdiri seorang diri di tepi sungai, menangisi kematian ibu, istri dan putranya.

Pasukan Da Mul pergi ke hutan untuk mencari jenazah Ye Soya dan Yuri, namun tidak bisa menemukannya.
“Hari sudah hampir gelap, kurasa sebaiknya kita…”
“Kita tidak boleh menyerah!” seru Oyi memotong kata-kata Chan Soo.
“Aku berharap mereka masih hidup, tapi kurasa tidak.” kata Ma Ri sedih.
“Jika mereka sudah mati, lalu dimana jenazah mereka?” tanya Oyi. “Kita harus menemukan mereka.”
“Benar.” kata Hyeopbo setuju. “Jika kita menyerah, mereka akan dimakan binatang buas.”

Sampai malam, mereka belum juga bisa menemukan jenazah Yuri dan Ye Soya. Beberapa saat kemudian Jae Sa, Moo Gul dan Muk Guh tiba. Jae Sa menyerahkan sebuah sepatu kecil milik Yuri.
“Kami menemukan ini di dekat sungai BiRyu.” kata Jae Sa.
“Sepatu ini biasa digunakan oleh anggota keluarga kerajaan.” tambah Muk Guh sedih. “Kurasa ini milik Yuri.”
“Mustahil menemukan jenazah mereka.” kata Bu Wi Yeom.
“Brengsek!” seru Oyi marah. “Kakak! Ayo kita serang BuYeo dan membalaskan dendam Putri Ye Soya dan Yuri!”
“Aku sudah tidak bisa bersabar lagi!” teriak Hyeoopbo. “Ayo kita musnahkan BuYeo demi Jenderal!”
“Tenanglah, kalian berdua.” kata Jae Sa.
“Tenang bagaimana?!” seru Oyi. “Raja Geum Wa tidak menghargai niat baik Jenderal dan membunuh keluarganya!”
“Apa kau ingin menyatakan perang dengan BuYeo?!” seru Jae Sa.
“Kenapa tidak?!” seru Ma Ri. “Membunuh Lady Yoo Hwa sama halnya dengan menyatakan perang dengan Jolbon!”
Terjadi perselisihan pendapat antara pihak Ma Ri dan pihak Jae Sa. Bu Wi Yeom menengahi mereka.

Geum Wa berniat melakukan pemakaman Yoo Hwa dengan pemakaman yang biasa dilakukan untuk permaisuri. Wan Ho sangat marah mendengarnya. Wan Ho bergegas menemui Geum Wa, namun Song Ju melarang. Ia kemudian berteriak-teriak di depan kamar Geum Wa untuk menyatakan protesnya.
Saking marahnya, Wan Ho sampai terjatuh lemas. Young Po sangat marah pada Geum Wa dan menerobos masuk ke kamarnya.
Young Po masuk. Ia melihat Geum Wa duduk diam tak bergerak, seperti tidak sadar. Emosi Young Po menyusut.
“Yang Mulia.” panggil Young Po. “Ayah, ini aku Young Po. Apakah kau mengenaliku?”
Geum Wa diam saja.

Jumong menunggu kedatangan Jae Sa dan Ma Ri untuk melaporkan keadaan padanya.
“Apa yang terjadi?’ tanya Jumong begitu Jae Sa dan Ma Ri tiba.
“Lady Yoo Hwa akan dimakamkan dengan Pemakaman Permaisuri di gunung pendiri.” kata Jae Sa.
“Kami menemukan ini di dekat Sungai BiRyu.” Ma Ri menyerahkan sepatu kecil milik Yuri. “Kurasa ini sepattu kulit milik Yuri.”
Jumong menerima sepatu itu dan memandangnya sedih.
“Kami mencari di sepanjang jalur BuYeo ke Jolbon, namun tetap tidak bisa menemukan Putri Ye Soya dan Yuri.” kata Jae Sa menyesal.
“Jika mereka masih hidup, mereka pasti sudah sampai di sini.” kata Ma Ri. “Tapi…”
“Cukup.” potong Jumong dengan mata berkaca-kaca. “Sudah cukup. Kalian boleh pergi.”
Jumong memegang sepatu Yuri erat-erat dan menangis.
Setelah agak tenang, Jumong memanggil Oyi dan mengajaknya pergi ke gunung pendiri dengan diam-diam.

Geum Wa sangat sedih dan tidak mau makan selama berhari-hari. Ia hanya duduk diam di depan peti jenazah Yoo Hwa. Song Ju sangat mengkhawatirkannya.
“Song Ju, bubarkan para pengawal yang menjaga tenda.” kata Geum Wa. “Jumong mungkin akan datang kemari. Jika Jumong datang, jangan bunuh dia. Kau mengerti?”
“Ya, Yang Mulia.” jawab Song Ju.

Malamnya, Oyi dan Jumong tiba di tenda. Mereka menyembunyikan wajah mereka dan menyusup masuk. Tidak ada seorang prajurit pun disana.
Song Ju menyambut mereka. “Yang Mulia sedang menunggumu.” katanya. “Yang Mulia membubarkan pengawal karena tahu bahwa kau akan datang.”
Jumong membuka penutup wajahnya dan masuk menemui Geum Wa.

“Aku datang untuk membawa jenazah ibu.” kata Jumong. “Tolong biarkan aku membawanya.”
“Dia akan tetap berada disisiku.” kata Geum Wa.
“Yang Mulia mengabaikan tawaranku untuk menolong BuYeo dan membuat ibuku dan Soya mati.” kata Jumong. “Jika kau menyerahkan jenazah ibu padaku, BuYeo dan Jolbon tidak perlu berperang.”
Geum Wa tertawa. “Kita akan terus berperang sampai salah satu dari kita mati.” ujar Geum Wa. “Disini, ada prajurit BuYeo yang ingin membunuhmu. Beri hormat pada ibumu dan pergi.”
“Yuri sudah mati, dan aku tidak pernah punya kesempatan untuk bertemu dengannya.” kata Jumong dengan mata berkaca-kaca. “Kau pikir, sekarang aku masih takut mati setelah ibu, istri dan putraku mati? Aku akan membawa ibuku.”
“Aku tidak akan membiarkanmu.” kata Geum Wa. “Kau harus membunuhku terlebih dulu sebelum membawanya. Dan jika kau membunuhku, maka kau juga akan terbunuh. Apa kau ingin mengakhiri hidupmu disini? Ucapkan selamat tinggal pada Yoo Hwa dan pergi.”
Jumong menangis, kemudian berlutut di depan peti jenazah ibunya.

Keesokkan harinya, jenazah Yoo Hwa dibakar.

Jumong dan Oyi kembali ke Jolbon, namun tinggal di perkemahan militer Pasukan Da Mul. So Seo No menemuinya.
“Aku tahu kata-kata tidak bisa menghilangkan kesedihanmu.” kata So Seo No. “Tapi jangan lupa bahwa rakyat Jolbon bergantung padamu.”
“Ketika ayahku mati, aku tidak tahu bahwa ia adalah ayahku.” kata Jumong. “Aku tidak bisa melindungi orang-orang yang kusayangi. Bagaimana aku bisa memimpin rakyat Jolbon?”
“Mata-mataku di BuYeo mengatakan bahwa Lady Yoo Hwa dibunuh saat mencoba pergi untuk mengatakan padamu bahwa Pangeran Dae So berencana membunuhmu.” ujar So Seo No. “Mereka mengorbankan nyawa mereka untuk menyelamatkanmu dan Goguryeo. Aku tahu bahwa kau tidak akan membiarkan pengorbanan Ye Soya berakhir dengan sia-sia. Aku percaya padamu. Kau akan melawati semua ini.”

Keesokkan harinya, Jumong, Pasukan Da Mul dan semua pihak GyehRu mengadakan upacara penghormatan kematian. Tiba-tiba, seekor burung mendarat di hadapan mereka. Di kaki burung tersebut diikatkan potongan kain. So Ryeong mengambil kain itu dan menyerahkannya pada Jumong.
Jumong membuka kain tersebut. Isinya tulisan seperti sandi.
Jumong teringat saat ia dan Oyi berjalan kembali dari gunung pendiri. Jumong dan Oyi melihat Peramal Bi Geum Sun di puncak bukit.
“Kau telah berhasil menyatukan Jolbon.” kata Bi Geum Sun. “Sekarang, kau layak mendapatkan satu dari dua benda keramat yang tersisa.”
Jumong membuka sebuah peti besar yang ada dihadapan Bi Geum Sun. Isinya adalah sebuah baju perang. Itu adalah baju perang yang dipakai Raja GoJoSeon. Selain baju perang, di dalam peti juga terdapat sebuah buku.
“Itu adalah buku yang berisi rahasia Iron Army GoJoSeon Kuno.” kata Bi Geum Sun.
“Lalu dimana benda keramat yang terakhir?” tanya Oyi.
“Kau akan menemukannya sendiri setelah berhasil menemukan rahasia Iron Army.” jawab Bi Geum Sun, kemudian berjalan pergi.

Jumong menunjukkan baju perang dan buku pada Mo Pal Mo dan yang lainnya.
“Kita harus berhasil memecahkan kode-kode itu.” kata Jumong.

Rakyat BuYeo merasa marah pada Geum Wa karena Geum Wa membunuh tawanan mereka, Lady Yoo Hwa. Selain itu, Geum Wa hidup tanpa tujuan. Paman Dae So dan Dae So mencoba menggunakan alasan itu untuk mengangkat Dae So menjadi Raja. Perdana Menteri menolak. Menurutnya, jika Dae So memang peduli pada BuYeo, maka seharusnya ia mendampingi Geum Wa memimpin BuYeo, bukan mencoba merebut tahta demi kepentingannya sendiri.

Perdana Menteri, Jenderal Heuk Chi dan Song Ju berusaha untuk melindungi kekuasaan dan kekuatan Geum Wa dari Dae So.
Song Ju menangkap para pengawal yang menjadi mata-mata Dae So. Perdana Menteri setuju dengannya.
“Siapa saja yang melanggar kekuasaan Yang Mulia akan dibunuh.” kata Perdana Menteri. “Beri mereka hukuman sesuai dengan hukum yang berlaku!”
“Ya.” kata Song Ju.

Mo Pal Mo membolak-balikkan bukunya dengan pusing. Ia sama sekali tidak bisa mengerti maksud kode-kode itu.
“Sabarlah sebentar lagi.” kata Hyeopbo pada Mo Pal Mo.
“Apa maksudmu?” tanya Mo Pal Mo. “Tidak ada orang yang bisa membaca tulisan ini.”
“Hanya ada satu orang di Jolbon yang bisa membacanya.” kata Hyeopbo, tertawa.
“Siapa dia?” tanya Ma Ri.
“Tunggu dan lihat saja siapa orangnya.” kata Hyeopbo.

Di tempat lain, Sayong sedang sibuk menulis sesuatu. Catatan-catatan bambu bergeletakkan di meja di depannya.
Hyeopbo masuk dan membawakan makanan untuknya. Sayong diam saja.
“Apakah kau berhasil memecahkan kodenya?” tanya Hyeopbo.
“Aku sedang berusaha.” jawab Sayong acuh.
Hyeopbo melihat Sayong dengan pandangan aneh.
“Kenapa kau melihatku?” tanya Sayong.
“Ah, tidak apa-apa.” jawab Hyeopbo. “Jika kau membutuhkan sesuatu, aku ada diluar. Berusahalah dengan keras.”
Ketika Hyeopbo sudah keluar, Sayong tersenyum.

Ye Soya berkali-kali mencoba kabur dari Hyeon To, tapi selalu berhasil ditangkap.
“Aku memperlakukanmu dengan baik.” kata Tuan Hwang. “Kenapa kau terus-menerus mencoba melarikan diri dariku?”
“Tolong lepaskan kami.” kata Ye Soya.
“Tanpa ayah tiri, kemana kalian bisa pergi?” tanya Tuan Hwang. “Ini peringatan terakhirku. Jika kau mencoba melarikan diri lagi, aku akan membunuuh anakmu.”
Tuan Hwang memerintahkan pelayan untuk mengawasi Ye Soya.
Tidak lama kemudian, Young Po datang. Ye Soya menyembunyikan wajahnya dan Yuri.

Young Po datang dan meminta bantuan Tuan Hwang untuk mengambil alih kekuasaan di BuYeo. Tuan Hwang tidak langsung menjawab dan berkata bahwa ia akan memikirkan hal tersebut terlebih dahulu.

Akhirnya Sayong berhasil memecahkan kode dalam buku. Mo Pal Mo bergegas membuat baju perang sesuai dengan metode yang tertulis dibuku tersebut.

Keesokkan harinya, baju perang telah selesai dibuat. Baju perang yang dibuat Mo Pal Mo kali ini ringan dan tipis. Jumong menguji kekuatan baju perang tersebut dan menembakkan anak panah. Anak panah tersebut terlontar, tidak sanggup menembus baju perang. Mo Pal Mo berhasil.

Anak-anak pengungsi yang dibawa Mo Pal Mo memberikan sebuah ramuan pada Jumong. Ramuan tersebut jika diminum akan menyebabkan tubuh menjadi hangat. Sangat berguna dalam cuaca dingin.

“Dengan Pasukan Besi yang kita miliki, Jolbon akan berperang untuk mengusir Pasukan Hyeon To!” seru Jumong di depan Pasukan Da Mul.
Pasukan Da Mul terkejut mendengarnya. Jumong akhirnya menyatakan perang.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s