Jumong – Episode 69

Jumong memerintahkan Pasukan Da Mul berlatih intensif untuk peperangan melawan Han.
“Moo Gul, apakah menurutmu kita menang melawan Pasukan Han karena senjata kita?” tanya Jumong.
“Ya.” jawab Moo Gul ragu.
“Senjata kita untuk menang bukanlah pedang atau baju perang, tapi tekad kita untuk bertarung sampai mati.” kata Jumong. “Pedang dan senjata besi hanyalah alat untuk tekad kita.”
“Maafkan aku.” kata Moo Gul malu
“Perwira sayap kanan dan kiri, pastikan bahwa pasukan kita siap secara mental.” kata Jumong.
“Ya!”
Oyi memukul kepala Moo Gul. “Pikir, Nak!” ujarnya.

Jumong dan perwiranya mengadakan rapat.
“Perang kali ini sangat berbeda dengan perang sebelumnya.” kata Jumong. “Kali ini kita berperang di tanah mereka dan mereka mengenal wilayah itu lebih baik dari kita. Dengan lokasi yang bagus, 10 prajurit bisa menahan 100 musuh.”
“Benar.” ujar Ma Ri setuju. “Aku ingin menambahkan, kita juga mengalami masalah saat perang melawan Jimbun dan Imdun karena Kepala Klan Song Yang merebut supply perang Kepala Klan So Seo No. Kita tidak boleh membiarkan kejadian itu terulang kembali.”
“Hasil perang ini akan ditentukan dengan bagaimana kita menahan Pasukan Liaodong.” kata Jae Sa. “Begitu Pasukan Liaodong bergabung, perang ini menjadi tidak menguntungkan untuk kita.”
“Pasukan Liaodong tidak akan pernah tiba disana.” kata Jumong.
“Apa maksudmu?” tanya Jae Sa.
“Aku sudah mengirimkan pesan pada klan Mal Gal dan klan Hun.” kata Jumong. “Mereka akan mengambil alih kota jika Pasukan Liaodong pergi. Mereka tidak akan bisa pergi.”
Ma Ri tertawa. “Itu hebat!” serunya senang.

Bu Wi Yeom dan Bu Beo No melatih pasukan mereka bertempur dan saling melawan. Pasukan bajak laut bertarung dengan membabi-buta dan tidak teratur. Bu Wi Yeom memarahi mereka.
“Dengan latihan yang sistematis, mereka akan lebih baik.” kata Jumong pada Bu Wi Yeom. “Jangan terlalu keras pada mereka. Bu Beo No, latih mereka secara sistematis.”
“Ya!” jawab Bu Beo No.

Para Kepala Klan Jolbon menawarkan bantuan mereka untuk berperang. “Kami akan melakukan apapun agar bisa memenangkan perang.” kaat Song Yang.
Dari segi prajurit, mereka sudah memiliki banyak prajurit dari Jolbon, Pasukan Da Mul dan bantuan dari beberapa klan dan negara.
“Tapi ada satu hal yang mengangguku.” kata Jumong. “Makanan yang kita bawa dari selatan tidak bisa digunakan untuk supply perang. Jika perang ini memakan waktu lama, rakyat akan kelaparan sampai masa panen.”
“Jangan khawatir.” kata So Seo No. “Aku sudah memiliki makanan pengganti untuk supply perang.” So Seo No memberi isyarat pada Sayong.
Sayong mengambil sebuah peti dan meletakkannya di meja.
“Ini adalah daging kering.” kata So Seo No. “Aku mencamput daging mentah dengan garam dan mengeringkannya. Daging ini tidak akan mudah rusak dan baik digunakan sebagai makanan pengganti.”
Yeon Ta Bal mencicipi daging tersebut. “Bagus sekali!” katanya senang.
Hwanna dan Gwanna menawarkan diri untuk menyiapkan persediaan daging kering. BiRyu bertugas mendistribusikan besi dan membuat senjata. Yunna akan membantu Mo Pal Mo membuat persenjataan lebih cepat.

Hyeopbo membuat sebuah bahan peledak baru. Ia memanggil Mo Pal Mo, Mu Song dan Muk Guh untuk menunjukannya. Ia melempar bahan peledak itu dalam api, dan berlari kabur. Beberapa saat berlalu, tidak terjadi apa-apa. Hyeopbo bingung. Ia mendekat ke api untuk melihat. Mendadak api meledak dan mengenai wajah Hyeopbo. Hyeopbo berteriak kesakitan seraya memegangi wajahnya.
Mu Song bergegas memberi tahu Sayong. Sayong cemas bukan main. Ia masuk ke kamar Hyeopbo dan menyerbu masuk mendorong Muk Guh dan Mo Pal Mo.
“Jangan khawatir.” kata Hyeopbo. “Wajahku tidak terbakar.”
“Apa maksudmu jangan khawatir?!” seru Sayong. “Lihat yang terjadi pada wajahmu yang tampan!”
Muk Guh dan Mo Pal Mo mengernyit heran sekaligus jijay. Hahaha…

Geum Wa hidup tanpa semangat. Yang ia lakukan sehari-hari hanyalah minum dan mabuk-mabukan.
“Aku kehilangan wanita yang kucintai dan kehilangan mimpiku untuk bertarung melawan Han bersama para pengungsi GoJoSeon.” kata Geum Wa pada Perdana Menteri. “Aku sudah kehilangan segalanya. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan.”
“Itukah hal yang kau anggap segalanya?” tanya Perdana Menteri. “Kupikir, kau menganggap BuYeo segalanya! Jika kau jatuh seperti ini, kau akan benar-benar kehilangan segalanya. Kepada siapa rakyat bergantung jika kau seperti ini? Tolong jangan tinggalkan rakyat.”
Geum Wa hanya tertawa.

Mata-mata Dae So di Jolbon mengirimkan pesan bahwa Jumong mempersiapkan perang melawan Han. BuYeo merasa terancam. Ia takut Jumong akan menyerang BuYeo setelah selesai menyerang Hyeon To.
“Lady Yoo Hwa sudah meninggal dan kita tidak tahu apakah Ye Soya dan Yuri masih hidup.” kata seorang pejabat. “Dia akan membalas dendam pada kita.”
“Tidakkah kita harus melakukan sesuatu?” tanya Paman Dae So.
“Jumong mungkin marah, tapi kurasa ia tidak akan menyerang BuYeo.” kata Perdana Menteri.
“Kenapa kau berpikir begitu?” tanya Dae So.
“Jumong menawarkan makanan dan obat-obatan karena ia tidak ingin berperang.” kata Perdana Menteri. “Ia mungkin ingin membuat kita menyerah, tapi ia tidak akan menggunakan kekerasan. Untuk saat ini, musuh Jumong adalah Han, bukan BuYeo.”

Perdana Menteri dan Dae So bertanya pada Geum Wa apa yang harus dilakukan oleh BuYeo. Dengan acuh, Geum Wa menjawab, “Jolbon dan Hyeon To akan berperang, lalu kenapa BuYeo harus peduli?”
Dae So dan Perdana Menteri saling bertukar pandang.
“Han dan BuYeo menjalin persekutuan.” kata Dae So. “Han membantu kita melakukan blokade pada Jolbon.”
“Sekutu?” tanya Geum Wa. “Tidak akan ada peperangan jika Han dan Jolbon menjalin sekutu.” Geum Wa tertawa.
Perdana Menteri dan Dae So terdiam. Rupanya Raja mereka yang satu itu sudah mulai gila.
Akhirnya, Perdana Menteri dan Dae So memutuskan sendiri apa yang harus mereka lakukan. Perdana Menteri menyarankan pada Dae So agar mereka melakukan apapun untuk membantu Hyeon To. Jika Hyeon To jatuh, maka BuYeo akan menjadi sasaran Jumong berikutnya dan Jolbon akan semakin kuat. Mereka harus membantu Hyeon To untuk menyeimbangkan kekuatan.

Hao Chen datang ke Hyeon To untuk memberi kabar bahwa Jolbon sudah bersiap-siap melakukan perang dengan mereka. Yang Jung memerintahkan prajuritnya melapor pada Chang An dan Liaodong mengenai situasi yang dialami Hyeon To dan meminta bantuan.

Para pengungsi di Jolbon, baik tua ataupun anak-anak, meminta Jumong memberi mereka senjata. Mereka juga ingin ikut berperang melawan Han.
“Beri kami senjata!” teriak pada pengungsi. “Beri kami senjata!”
Jumong keluar dan mengatakan pada para pengungsi bahwa jalan membantu Pasukan Da Mul bukan hanya dengan berperang, namun bisa dilakukan dari Jolbon. Ia memerintahkan Mo Pal Mo agar memberi para pengungsi tugas sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.
Para pengungsi tersebut diberi tugas mengangkat persenjataan dan membantu melakukan sesuatu di bengkel pandai besi.

Oyi dan Moo Gul memata-matai tambang. Para prajurit Han memaksa dan menyiksa para pengungsi untuk bekerja disana.
Oyi dan Moo Gul menyamar menjadi pengungsi untuk berkomunikasi dengan mereka.

Di Hyeon To, Yang Jung berniat menggunakan para pengungsi sebagai tameng menghadapi serangan Jumong. Selain itu, ia juga dipusingkan karena Chang An menolak memberi pasukan bantuan padanya.

Setelah berbincang dengan Tuan Hwang, secara tidak sengaja Young Po melihat Yuri berjalan. Ia terkejut dan mengikuti Yuri. Yuri berjalan menuju pada ibunya, Ye Soya.
Young Po tersenyum. Ia memerintahkan pada Ma Jin mencari tahu mengenai hal tersebut.
“Tuan Hwang mengira Ye Soya seorang pengungsi.” kata Ma Jin melaporkan. “Orang-orang berkata bahwa Tuan Hwang menyukai Ye Soya. Apa yang akan kau lakukan?”
“Ini kesempatan yang diberikan langit untukku.” ujar Young Po. “Aku akan menggunakan ini untuk keuntunganku.”

Malamnya, beberapa orang mengenakan pakaian hitam dan penutup wajah menyusup. Mereka membuka pintu kamar Ye Soya dan Yuri, kemudian mengancam Ye Soya dengan pedangnya.
“Siapa kau?” tanya Ye Soya.
“Diam.” kata seorang penyusup. “Bangunkan anakmu.”
Ye Soya mencoba membangunkan Yuri. Yuri bangun dan menangis.
Pengusup itu menggendong Yuri, lalu membawa Ye Soya dan Yuri keluar menemui Young Po.
“Lama tidak bertemu.” kata Young Po, tersenyum.
Young Po kemudian mengurung Yuri dan Ye Soya di sebuah ruangan.

Saat yang sama di perkemahan pekerja, Oyi dan Moo Gul membangunkan pada pengungsi.
“Kami adalah Pasukan Da Mul.” kata Oyi. “Aku diperintahkan Jenderal Jumong untuk kemari. Tidak lama lagi, Jolbon akan berperang dengan Han. Pasukan han mungkin saja akan membunuh kalian semua.”
“Kita harus memberontak.” kata Moo Gul.
“Jangan sampai Pasukan Han tahu hal ini sebelum pemberontakan terjadi.” Oyi memperingatkan.

Keesokkan harinya, Oyi, Moo Gul dan para pengungsi dikumpulkan oleh Pasukan Hyeon To. Mereka akan dijadikan tameng melawan Pasukan Da Mul.
“Brengsek.” gumam Moo Gul marah.

Rupanya, Young Po menangkap Ye Soya dan Yuri sebagai umpan untuk Jumong supaya tidak berperang. Ia akan menggunakan hal tersebut untuk merebut kekuasaan di BuYeo.
“Aku datang untuk mengadakan pertukaran denganmu.” kata Young Po pada Jumong. “Ye Soya dan Yuri ada bersamaku.”
Jumong sangat terkejut.
“Apakah Putri Ye Soya dan Yuri benar-benar masih hidup?” tanya Ma Ri.
“Tentu saja.” jawab Young Po.
“Bagaimana kami bisa mempercayaimu?!” seru Jae Sa.
“Disini adalah wilayah musuh.” kata Ma Jin. “Apakah kalian pikir kami berani datang kemari tanpa alasan yang bagus?”
“Dengan apa kalian ingin menukarnya?” tanya So Seo No.
“Aku akan membiarkan Ye Soya dan Yuri hidup jika… Pertama, jangan berperang dengan Hyeon To. Kedua, Jolbon cukup kuat untuk mengambil alih BuYeo. Setelah kau mengambil alih BuYeo, serahkan itu padaku. Jika kau berjanji padaku, aku akan menyerahkan Ye Soya dan Yuri.”
Jumong terdiam dengan mata berkaca-kaca.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s