Jumong – Episode 70

Jumong sangat bimbang. So Seo No dan yang lainnya menyarankan pada Jumong untuk menerima tawaran Young Po dan memeriksa apakah yang dikatakan Young Po benar atau tidak.
“Apakah kau sudah memutuskan?” tanya Young Po. “Sebenarnya aku tidak ingin menukar nyawa Ye Soya dan Yuri, tapi aku tidak punya pilihan lain. Jika kau tidak membantuku, aku bukanlah orang yang membunuh Ye Soya dan Yuri. Tapi kaulah yang membunuh mereka.”
“Diam!” teriak Ma Ri, mengeluarkan pedanganya.
“Ma Ri!” seru Jumong menahan.
Ma Ri menyimpan kembali pedangnya.
“Kau dan Dae So merencanakan sesuatu untuk membunuh ayahku, Jenderal Hae Mo Su.” kata Jumong tenang pada Young Po. “Dan sekarang, kau mengajukan permintaan yang tidak masuk akal dengan nyawa Ye Soya dan Yuri.”
“Mungkin terdengar tidak masuk akal untukmu, tapi masuk akal untukku!” seru Young Po.
“Cepat katakan padaku, apakah kau ingin menerima tawaranku atau tidak!”
“Aku… akan menerima tawaranmu.” kata Jumong. “Tapi aku ingin tahu apakah Ye Soya dan Yuri benar-benar masih hidup atau tidak.”
“Dimana Lady Ye Soya dan Yuri?” tanya Jae Sa.
“Mereka ada di Hyeon To.” ujar Young Po. “Apakah kau ingin pergi dan melihat?”
“Aku yang akan pergi dan melihat.” kata Ma Ri. “Tapi kau tidak boleh meninggalkan Jolbon sampai aku kembali.”
“Apa kalian ingin menjadikan Pangeran Young Po sebagai tawanan?!” seru Ma Jin.
“Kami tidak bisa menjanjikan apa-apa sampai kami tahu bahwa mereka masih hidup.” kata So Seo No.
Young Po setuju.

Tuan Hwang berusaha mencari Ye Soya dan Yuri yang ia anggap melarikan diri. Namun ia belum juga bisa menemukan mereka.
Di tempat lain, Yuri sakit. Ye Soya menjadi sangat cemas. Ia menggedor-gendor pintu memanggil seseorang. “Apakah ada orang diluar?!” serunya panik.

“Menurutmu, kenapa Young Po ada di Jolbon?” tanya Dae So setelah mengetahui informasi mengenai keberadaan Young Po di Jolbon.
“Ia telah kehilangan pengaruh di BuYeo.” kata Na Ru. “Mungkin ia ingin meminta bantuan Jumong.”
“Maksudmu, ia sedang merencanakan pemberontakan?” tanya Dae So.
“Untuk alasan apa lagi ia ada di Jolbon?” tanya Na Ru.
“Kirim pasukan terbaik untuk menjemput Young Po.” perintah Dae So.

Karena dianggap sedang sakit dan tidak bisa memerintah, maka Dae So mewakili Geum Wa untuk mengambil keputusan. “Kirim 500 prajurit ke Hyeon To.” katanya. “Aku dan Jenderal Heuk Chi akan memimpin mereka.”

Jae Sa sangat mengkhawatirkan Jumong. Ia kini tahu betapa beratnya cobaan yang harus dihadapi oleh seorang pemimpin.
“Aku beruntung bisa mengabdi padamu.” kata Jae Sa. “Tapi aku sedih karena tidak bisa meringankan bebanmu.”
“Kesetiaan kalian sudah cukup membantuku melewati cobaan ini.” kata Jumong. “Oyi dan Moo Gul mempertaruhkan nyawa untuk menyamar menjadi pengungsi. Kau setia berada di sampingku. Bagaimana aku bisa mengeluh?”
Jae Sa tersenyum dan mengangguk.
“Orang tuaku dan para pengungsi tidak mati.” ujar Jumong. “Jiwa mereka akan hidup ribuan tahun bersama Goguryeo kita. Begitu aku mengetahui bahwa Ye Soya dan Yuri masih hidup, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan mereka. Kau harus mempersiapkan perang melawan Hyeon To.”
“Ya.”

Young Po memanfaatkan kesempatannya berada di Jolbon untuk memata-matai Jolbon. Ia membujuk Mo Pal Mo membuatkan sebuah pedang baja untuknya, namun Mo Pal Mo menolak.
“Aku akan membuatkanmu peti mati.” kata Mo Pal Mo. “Kau akan membutuhkannya jika kami menemukan bahwa Putri Ye Soya dan Yuri tidak hidup.”

Ma Jin tiba di Hyeon To. “Bawa Ye Soya dan Yuri kemari.” katanya memerintahkan anak buahnya.
“Itu…” anak buah Ma Jin berkata takut-takut. “Dia melarikan diri bersama anaknya.”
“Apa?!”
“Dia memohon pada kami agar mencarikan tabib untuk anaknya yang sakit.” kata seorang anak buah Ma Jin. “Tapi begitu kami tiba, ia sudah tidak ada.”
“Cepat pergi dan cari mereka!” seru Ma Jin cemas.
Ma Jin kembali ke tempat Ma Ri menunggu. “Kau pasti lapar.” katanya. “Aku akan membawa mereka setelah kau makan.”
“Apa kau mempermainkan aku?!” seru Ma Ri. “Aku ingin tahu apakah Lady Ye Soya masih hidup.”
“Kau ada di wilayah musuh.” kata Ma Jin mengancam. “Kau tidak akan selamat jika tidak menuruti perintahku.”
Anak buah Ma Jin mengeluarkan pedang mereka dan mengepung Ma Ri.
“Pengecut!” seru Ma Ri. Ia mengeluarkan pedangnya dan bertarung melawan anak buah Ma Jin. Ma Ri berhasil melarikan diri, walaupun lengannya terluka.

Keesokkan harinya, Jae Sa berlari menuju kamar Young Po dengan marah. Ia mengeluarkan pedangnya dan mengancam Young Po.
“Ada apa?” tanya Jumong.
“Perwira sayap kanan kembali dengan terluka setelah berhasil lolos dari kematian.” kata Jae Sa.
Jumong sangat terkejut, begitu juga Young Po.
“Ini tidak mungkin!” seru Young Po.
“Diam!” bentak Hyeopbo. “Bagaimana kau bisa berkata begitu setelah melihat ini?!”
“Aku tidak bisa menemukan Lady Ye Soya dan Yuri.” kata Ma Ri. “Ia berbohong pada kita!”
“Pasti ada yang salah!” seru Young Po. “Ini semua tidak mungkin!”
Tidak lama kemudian, Yang Tak datang bersama beberapa prajurit terikat. “Prajurit Pangeran Young Po tertangkap ketika sedang memata-matai camp militer kita.” katanya melaporkan. Ia membuka sebuah peta. “Ini adalah peta penyimpanan makanan dan camp militer kita.”
So Seo No sangat marah. Ia menari keluar pedangnya dan membunuh prajurit Young Po.
“Apa yang kau lakukan?” seru Young Po ketakutan.Ia menoleh pada Jumong. “Jumong!”
“Beraninya kau menggunakan orang yang sudah mati untuk maksud jahat!” seru So Seo No marah.
“Jangan buang waktu lagi.” kata Sayong. “Kita harus melenyapkan dia secepatnya.”
“Penggal kepalanya dan kirim ke BuYeo!” seru Jae Sa.
Young Po sangat ketakutan.
“Kau harus menunjukkan pada Raja Geum Wa bagaimana rasanya kehilangan keluarga.” kata So Seo No.
“Jenderal Jumong!” Young po meminta perlindungan.
“Kalian semua boleh pergi.” kata Jumong.
“Jenderal!”
“Pergi!” teriak Jumong memerintahkan. Ia memegang erat pedangnya hingga bergetar.

“Jenderal Jumong!” ujar Young Po.
“Jangan bicara apapun.” kata Jumong. “Kau merencanakan semua ini karena aku bersalah tidak bisa melindungi istri dan putraku. ”
Young Po berlutut di hadapan Jumong. “Tolong jangan bunuh aku.”
“Disini adalah tempat semua ikatan kita berakhir.” kata Jumong. “Jika aku melihatmu lagi, aku tidak akan memaafkanmu. Pergilah.”
Young Po bangkit dan berlari pergi.

Malam itu, Jumong diam, menggenggam dan memandangi sepatu Yuri. Ia menangis. “Yuri… Yuri…” gumamnya sedih.

Dae So datang bersama Seol Ran, membawa pasukan bantuan dari BuYeo. Yang Jung sangat senang karenanya.
“500 orang, katamu?” tanya Yang Jung. “Bagaimana kau bisa membantuku? Apa kau mempermainkan aku?”
“Kau tahu situasi BuYeo saat ini.” kata Dae So menjelaskan.
“Ya, tapi kau punya 30.000 prajurit jika kau memasukkan Pasukan SaChulDo!” teriak Yang Jung marah.
“Yang Mulia sedang sakit saat ini.” kata Seol Ran, membela suaminya. “Membawa 500 orang saja sangat sulit. Kami hanya membawa prajurit yang kuat. Mereka akan sangat membantu.”
Yang Jung mengatakan bahwa pasukan Hyeon To merasa tertekan karena Jumong.
Dae So menyarankan agar mereka memberi motivasi pada para prajurit. “Katakan pada mereka bahwa mereka berhak memiliki makanan dan wanita Jolbon jika mereka bisa merampasnya.”

Ma Ri dan yang lainnya mulai cemas karena Oyi dan Moo Gul tidak juga kembali. Muk Guh memeriksa perkemahan pengungsi, namun tidak bisa menemukan seorang pengungsi pun disana.
Ma Ri mengajak Muk Guh pergi ke Hyeon To untuk mencari tahu.
Di Hyeon To, mereka mendengar prajurit Hyeon To mengumumkan para rakyat. Barang siapa yang bersedia ikut ke medan peperangan, maka mereka bisa merampas apapun yang ada di Jolbon, termasuk wanita Jolbon.
Selain itu, mereka juga berhasil mengetahui bahwa Oyi, Moo Gul bersama para pengungsi akan dijadikan tameng perang.

Setelah mendengar laporan dari Ma Ri dan Muk Guh, Jumong memangil Jae Sa dan Ma Ri.
“Aku akan memimpin pasukan tambahan untuk menyelamatkan pada pengungsi dan menyerang musuh dari belakang.” kata Jumong.
“Tidak, itu terlalu berbahaya!” kata Jae Sa.
“Aku dan Perwira sayap kiri akan memimpin pasukan tambahan.” kata Ma Ri menawarkan diri. “Kau bisa memimpin markas.”
“Bu Beo No dan Bo Wi Yeom bisa mendampingi Kepala Klan Song Yang dan So Seo No memimpin markas.” kata Jumon bersikeras. “Jika ada seseorang yang harus mempertaruhkan nyawa untuk menyerang markas musuh, maka itu adalah aku.”

Mo Pal Mo dan Mu Song membantu Jumong mengenakan baju perang barunya.
“Ayah.” pikir Jumong. “Sekarang aku akan berperang untuk mewujudkan mimpimu mempersatukan para pengungsi GoJoSeon dan membentuk sebuah negara baru. Aku mengingkari janjiku untuk melindungi orang yang penting disisiku. Tapi, aku akan melindungi para pengungsi yang menderita dibawah tekanan Han.”
Sebelum pergi berperang, Jumong dan para Pasukan Da Mul berdoa terlebih dahulu. Setelah siap, mereka bergegas menuju Hyeon To.

Pihak Hyeon To membicarakan strategi di perkemahan militer mereka. Dae So menyarankan agar mereka menutup semua jalan menuju ke Hyeon To dari Jolbon.

“Semua jalan menuju Hyeon To ditutup.” kata Muk Guh pada Jumong.
“Berapa jumlah mereka?” tanya Jae Sa.
“10 kali lipat dari yang kita perkirakan.” jawab Muk Guh.
Jumong membuka petanya dan berpikir. “Kita akan melewati Gunung Sumak dan masuk ke Hyeon To.”
“Kita bisa masuk lewat jalur itu, tapi Gunung Sumak sangat berbahaya dan sulit dilewati.” kata Ma Ri.
“Mustahil mesuk ke Hyeon To melewati jalur itu.” kata Jae Sa setuju.
“Hanya itu satu-satunya jalan untuk menghindari Pasukan Han.” kata Jumong. “Kita harus masuk ke Hyeon To secepat mungkin.”

Pasukan Han mulai mengeluarkan pada pengungsi untuk dijadikan tameng.
“Kita harus mengambil senjata mereka di perjalanan menuju markas.” bisik Oyi pada Moo Gul. “Aku akan memberi isyarat.”
“Aku mengerti.” bisik Moo Gul.
Tiba-tiba beberapa prajurit datang membawa satu buah peti besar berisi borgol. Dalam perjalanan, para pengungsi akan diborgol supaya tidak bisa macam-macam.
Moo Gul dan Oyi mendesis kesal.

Dalam perjalanan menuju markas militer, Oyi dan Moo Gul bersiap melakukan sesuatu. Namun Jumong dan Pasukan Da Mul melakukan serangan mendadak untuk membebaskan mereka.
Peperangan terjadi antara pihak Da Mul melawan Pasukan Han. Pertarungan itu dimenangkan oleh pihak Jumong.
“Ini adalah Jenderal Jumong!” teriak Oyi pada para pengungsi. “Jenderal Jumong datang untuk menyelamatkan kalian!”
Para pengungsi bingung sejenak, kemudian berteriak, “Hidup Jenderal Jumong!”
“Aku akan menyerang Hyeon To sebelum mereka menyerang!” seru Jumong. “Apakah kalian bersedia bergabung denganku?”
Para pengungsi menyambut dengan sorakan senang.

Jumong dan Pasukan Da Mul menyerang Hyeon To malam itu juga. Peperangan terjadi, namun pihak Jumong mendominasi. Jumong kemudian menuju gudang senjata Hyeon To.

Keesokkan harinya.
Yang Jung, Dae So dan yang lainnya menunggu pada pengungsi di camp militer mereka.
“Gubernur, kita ada masalah!” seorang prajurit tiba-tiba datang. “Pasukan tambahan Jolbon menyerang Hyeon To dan menyelamatkan para pengungsi!”
Yang Jung dan yang lainnya terlonjak kaget.
“Bagaimana bisa Pasukan Jolbon menyerang Hyeon To?!” seru Yang Jung marah.
“Aku tidak tahu. Hyeon To tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi serangan mendadak mereka! Mereka bahkan merampas senjata kita!”

Ma Ri kembali ke camp militer Jolbon untuk memberi laporan pada So Seo No dan yang lainnya bahwa mereka berhasil menyerang Hyeon To. So Seo No kemudian memerintahkan para Kepala Klan mempersiapkan pasukan menyerang Pasukan Yang Jung.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com 

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s