Jumong – Episode 71

Malam itu, Hyeon To menjadi medan peperangan.
“Jaga bagian luar Hyeon To dan tangkap semua bengsawan dan prajurit yang melarikan diri!” perintah Jumong.
“Ya!” jawab Oyi dan Moo Gul.

Tuan Hwang dan Seol Ran mencoba kabur dari Hyeon To.

“Hidup Jenderal Jumong!” seru Pasukan Da Mul dan para pengungsi. “Hidup! Hidup!”
“Aku Jumong, putra Jenderal Hae Mo Su yang menghabiskan hidupnya demu menyelamatkan para pengungsi.” Jumong berseru pada pasukannya. “Aku disini untuk menyelamatkan kalian, sama seperti ayahku. Aku dan Pasukan Da Mul akan mengusir Pasukan Han malam ini. Kalian tidak akan pernah menderita lagi.”
“Hidup Pasukan Da Mul!” seru Pasukan Da Mul dan para pengungsi.

Tuan Hwang dan rombongannya yang hendak melarikan diri di kepung oleh Oyi, Moo Gul dan pasukannya.
“Kemana kalian akan pergi?” tanya Oyi.
“Dilihat dari pakaianmu, kau pasti orang dengan posisi penting.” kata Moo Gul.
“Serang!” perintah Tuan Hwang pada para prajuritnya.
Dengan mudak Oyi dan yang lainnya bisa mengalahkan prajurit Hwang.
“Orang-orang ono memperlakukan kami seperti binatang!” seru seorang pengungsi. “Biarkan kami membunuh mereka dengan tangan kami sendiri!”
“Biarkan kami membunuh mereka!” seru pengungsi yang lain setuju.
“Aku tahu perasaanmu.” kata Oyi. “Tapi ada alasan kenapa Jenderal Jumong menginginkan kita membawa mereka hidup-hidup. Aku akan membawa mereka pada Jemderal. Kau bisa melampiaskan dendammu nanti.”
“Ketika kalian akan membunuhnya, biarkan kami yang melakukannya!” seru pengungsi.
“Baiklah, tapi biarkan kami membawa mereka pada Jenderal terlebih dulu.” kata Moo Gul.

Seol Ran, Hao Chen dan para pengawalnya mencoba kabur dengan mengendarai kuda. Oyi dan Moo Gul mengejar mereka.
“Apa kau tahu siapa dia?” tanya Moo Gul.
Oyi tersenyum melihat Seol Ran. “Ya, aku tahu.” katanya. “Dia adalah putri Gubernur Hyeon To dan istri Pangeran Dae So, Seol Ran.”
“Ooooo… Tangkapan yan bagus!” kata Moo Gul.
“Para pengungsi di gerbang istana BuYeo memberitahuku bagaimana dia menyiksa Putri Ye Soya dan Yuri.” kata Oyi marah. “Aku akan membalaskan dendam untuk Putri Ye Soya.”
“Bunuh saja aku sekarang!” seru Seol Ran.
Oyi menampar wajah Seol Ran dengan emamarah. “Diam!” bentaknya. “Jangan khawatirr, aku akan membalaskan dendam Putri Ye Soya dengan nyawamu.” Ia berpaling pada pasukannya. “Bawa mereka!”

Seol Ran dibawa ke hadapan Jumong. Jumong berdiri, menatap Seol Ran tajam.
“Beri hormat padaku!” seru Seol Ran pada Jumong. “Walaupun aku tawanan, tapi aku tetap Putri Mahkota BuYeo!”
“Diam!” bentak Oyi. “Jenderal, ayo kita bunuh dia untuk membalaskan dendam Putri Ye Soya dan Yuri!”
“Mundur.” kata Jumong pada Oyi. “Buka ikatannya.” Moo Gul membuka ikatan Seol Ran. “Seperti keinginanmu, aku akan memperlakukanmu dengan baik. Tapi ingat, kau mungkin saja akan mati. Kurung dia di kamarnya!”
Seol Ran diseret pergi.
Jumong melihat Tuan Hwang dan pasukannya. “Perwira sayap kiri, kurung mereka dalam penjara dan cari tahu identitas mereka.”
“Jenderal, biarkan kami membunuhnya untuk balas dendam!” seru pengungsi.
“Aku mengerti.” ujar Jumong. “Tapi dia bisa membantu kita menyelamatkan lebih banyak pengungsi.”

Akhirnya, Pasukan Da Mul berhasil menduduki Hyeon To dengan mudah. Jumong akan pergi ke medan perang. Ia memerintahkan Hyeopbo dan yang lainnya menjaga Hyeon To sampai ia kembali.

“Hyeon To telah diambil alih oleh pasukan Jumong!” lapor seorang prajurit pada Yang Jung dan yang lainnya.
“Jumong!!!!” teriak Yang Jung marah dan shock.
“Bagaimana dengan istriku di Hyeon To?” tanya Dae So cemas.
“Maafkan aku, tapi aku tidak mendengar kabar mengenai Putri Seol Ran.” jawab prajurit. “Para bangsawan tidak bisa keluar dari Hyeon To. Aku tidak tahu apakah Putri masih hidup atau tidak.”
Yang Jung terteriak marah. Mereka bingung apa yang harus dilakukan. Haruskah mereka kembali dan merebut Hyeon To kembali ataukah tetap menyerang markas Jolbon seperti rencana semula.

Muk Guh datang ke markas Pasukan Jolbon dan melaporkan bahwa mereka berhasil mengambil alih Hyeon To sepenuhnya.
“Jenderal akan memimpin pasukan dan mengawasi lembah Chunsu.” kata Muk Guh.
“Aku mengerti.” kata So Seo No senang. “Katakan padanya kami siap berperang dan menunggu perintahnya.”
“Aku dan Muk Guh akan bergabung dengan Jenderal.” kata Ma Ri.
“Pergilah.” ujar So Seo No.
Sayong tersenyum menang. “Yang Jung pasti sedang bingung apakah ia akan menyerang kita atau kembali ke Hyeon To.”
Yeon Ta Bal menyarankan bahwa mereka harus menyerang dari berbagai sisi.
Tidak lama setelah itu, Gye Pil datang. Ia sangat mengkhawatirkan So Seo No dan meminta Sayong menjaga So Seo No.

Young Po kembali ke BuYeo dan memukul Ma Jin dengan marah.
“Kenapa kau pergi ke Jolbon?” tanya Pamannya.
“Aku berunding mewakili BuYeo!” jawab Young Po.
Wan Ho mengatakan pada Young Po bahwa semua orang menganggap Young Po berkianat. “Selesaikan masalahmu sendiri!” serunya kesal.

“Yang Mulia, Pasukan Jolbon berhasil mengambil alih Hyeon To.” lapor Perdana Menteri pada Geum Wa. “Pangeran Dae So dan Yang Jung dalam bahaya. Kita harus mengirimkan pasukan bantuan.”
Geum Wa diam sejenak. “Perdana Menteri, aku yakin Dae So akan menemukan jalan keluar.” katanya acuh. “Jangan kirim pasukan bantuan. Jumong bermaksud mengusir Pasukan Hyeon To pergi. Aku tidak bisa melawan takdir. Kau harus memikirkan bagaimana caranya BuYeo bertahan. Dulu aku pernah bermimpi mengalahkan Pasukan Han. Kurasa sekrang, Jumong akan mewujudkan mimpi itu.”

Ma Ri, Oyi dan Moo Gul memata-matai perkemahan militer pasukan Hyeon To. Belum ada pergerakan apapun. Mereka kembali ke perkemahan Jumong.
“Kenapa kita tidak menyerang mereka terlebih dulu?” tanya Oyi.
“Mereka pasti sudah memasang pasukan penyergap dimana-mana.” kata Jumong. “Kita akan kehilangan banyak jika menyerang tanpa rencana.”
“Kurasa mereka mencoba kembali.” kata Ma Ri.
“Aku akan kembali ke markas Jolbon.” kata Jumong. “Perwira sayap kanan, kau berjaga disini dan awasi musuh.”
“Ya.”

Jumong tiba di markas Jolbon.
“Aku akan membuat penyergapan mereka tidak berguna.” kata Jumong dalam rapat. “Setelah itu, mereka tidak akan punya pilihan lain selain kembali.”
“Apa kau punya rencana?” tanya Yeon Ta Bal.
“Pertama, aku akan mengirim surat dan meminta mereka menyerah.” kata Jumong. “Yang Jung akan geram dan menyerang kita agar kita terpancing ke tempat penyergapan.”
“Lalu, kita tidak mengikuti mereka ke tempat penyergapan.” tambah Song Yang.
“Ya, mereka tidak akan siap jika kita tidak mengikuti mereka. Saat itulah kita akan menyerang.” kata Jumong.
Tidak lama kemudian, Mo Pal Mo, Chan Soo dan yang lainnya tiba membawakan makanan dan semua kebutuhan perang. Mereka kemudian membagikan makanan tersebut pada para prajurit.

Surat dari Jumong tiba di perkemahan pasukan Hyeon To. Yang Jung berteriak marah begitu membacanya.
Dae So mengambil surat itu. “Gubernur Yana Jung.” kata Jumong dalam suratnya. “Putrimu, Seol Ran dan bangsawan lain sudah menjadi tawanan kami. Jika kau menyerah sekarang, aku akan mengampuni nyawamu. Tapi jika kau tidak menyerah, kau dan Pasukan Han akan mati.”
“Apa kau akan membiarkan penghinaan ini?!” seru Dae So.
“Jika kita menyerang, dia mungkin akan membunuh Seol Ran.” kata Yang Jung cemas.
“Jumong tidak akan membunuh tawanan.” kata Dae So. “Aku punya rencana. Kita bisa berperang, tapi pancing mereka ke tempat penyergapan.”
“Bagus.” kata Yang Jung. “Lebih baik kita memancing mereka ke Lembah Jeon Hyeop.”
Pasukan Hyeon To berangkat. Ma Ri memata-matai mereka.

“Jenderal, musuh menuju ke perkemahan kita.” lapor Ma Ri.
“Berapa jumlah mereka?” tanya Jumong.
“Mereka tidak membawa seluruh pasukan.” jawab Ma Ri. “Tapi Yang Jung dan Pangeran Dae So memimpin mereka.”
“Mereka pasti ingin memancing kita.” ujar Jumong. “Bersiap menghadapi musuh!”
“Ya!” jawab Ma Ri,
Jumong dan para perwiranya berangkat menyambut Pasukan Hyeon To. Ia memerintahkan Bu Beo No dan Bu Wi Yeom bersiap-siap.

Pasukan Da Mul versus Pasukan Hyeon To.
“Aku akan maju terlebih dulu.” kata Dae So. “Serang!” teriaknya memerintahkan pasukan.
“Serang!” perintah Jumong pada Pasukan Da Mul.
Peperangan sengit terjadi di kedua kubu. Untuk kesekian kalinya, Jumong menghadapi Dae So.
Na Ru menghadapi Oyi. Na Ru menebas pedangnya ke dada Oyi, namun tidak mempan. Na Ru terkejut. Oyi menendang Na Ru hingga jatuh.
“Pedangmu seperti kayu bagi baju perang besiku!” teriak Oyi.
“Mundur!” teriak Dae So. “Mundur!”
Pasukan Dae So mundur dan melarikan diri.
“Kejar mereka!” perintah Jumong. Pasukan Da Mul berlari mengejar.
Yang Jung tersenyum menang.

Pasukan Hyeon To bersiap melakukan penyergapan begitu Dae So tiba di tempat tersebut. Jumong dan pasukannya mengejar mereka.
Setelah Jumong dan yang lainnya tahu kemana Pasukan Dae So menuju, Jumong memerintahkan pasukannya berhenti dan kembali.
Pasukan Dae So melewati Pasukan penyergap.
Pasukan penyergap beregangkan panahnya, bersiap menyerang Pasukan Da Mul. Beberapa saat menunggu, Jumong dan Pasukan Da Mul tidak juga datang.
Tidak jauh dari sana, Dae So dan Na Ru yakin bahwa Jumong sudah berada di lembah Jeon Hyeop. Mereka bergegas kembali ke tempat penyergapan.
“Apa yang terjadi?” tanya prajurit penyergap. “Aku tidak melihat mereka.”
Salah satu prajurit melapor bahwa Jumongd dan pasukannya kembali sebelum mencapai lembah Jeon Hyeop.

Di tempat lain, Yang Jung memimpin pasukannya melawan Pasukan Bu Wi Yeom. Yang Jung menyerang Bu Wi Yeom dari belakang, namun senjatanya tidak mempan. Yang Jung sangat terkejut.
Bu Wi Yeom tertawa. “Kenapa kau kelihatan sangat terkejut?” tanyanya. “Baju perang ini adalah hadiah dari langit untuk mengusir kalian dari wilayah ini!”
Bu Wi Yeom menyeran Yang Jung dan berhasil menjatuhkannya. Yang Jung mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke wajah Bu Wi Yeom. Yang Jung melarikan diri.
“Mundur!” seru Yang Jung. “Mundur!”
“Kejar mereka!” teriak Bu Beo No memerintahkan pasukannya.
Yang Jung memancing Pasukan Bu Bu Beo No ke tempat penyergapan. Sama seperti sebelumnya, pasukan penyergap Hyeon To kebingungan karena pasukan Da Mul tidak juga muncul.

Pasukan Hyeon To lemas.
“Kita tidak bisa membodohi mereka.” Yang Jung berkata putus asa.
“Kalian lihat baju perang mereka?” tanya Na Ru. “Pedang baja kita tidak mempan untuk mereka.”
“Kita harus mundur.” kata Yang Jung. “Rebut kembali Hyeon To dan tunggu pasukan bantuan.”
Seorang prajurit masuk. “Gubernur, pasukan bantuan Liaodong tidak jadi kemari.” lapornya.
“Kenapa?!” tanya Yang Jung.
“Klan Mal Gal dan Hun bersama dengan Klan Oh Wan menyerang Liaodong segera setelah mereka berangkat.” kata prajurit. “Mereka kembali untuk melindungi Liaodong.”
Yang Jung terteriak marah dan stress. “Wang So Mun, kita kembali ke Hyeon To.” katanya. “Siagakan Pasukan penyergap agar Pasukan Da Mul tidak menyerang dari belakang.”
“Ya.”

Malamnya, Jumong dan pasukannya diam-diam menuju ke lembah Jeon Hyeop untuk menyerang pasukan penyergap Hyeon To. Karena pasukan penyergap tidak siap, Pasukan Da Mul berhasil melenyapkan mereka dengan mudah.

Yang Jung dan Pasukan Hyeon To berjalan menuju ke Hyeon To. Di tengah perjalanan, Pasukan Da Mul muncul dan menyerang mereka tiba-tiba.
Pasukan Hyeon To sangat terkejut karena serangan itu.
“Gubernur! Kau harus pergi dari sini!” teriak Wang So Mun.
Ma Ri maju dan membunuh Wang So Mun.
Yang Jung dan Dae So mencoba kabur mengendarai kuda. Jumong menggambil busur dan dua anak panah, kemudian menembakkan panah ke arah Yang Jung. satu panah mengenai kaki kuda dan yang satu lagi mengenai kaki Yang Jung.
“Pengeran Dae So!” panggil Yang Jung.
“Gubernur!” seru Dae So.
“Pangeran, kita harus pergi dari sini!” kata Na Ru.
Jumong dan para perwiranya mendekati mereka.
Dae So panik.
“Pangeran!” seru Na Ru.
Dae So akhirnya meninggalkan Yang Jung.
Jumong berhasil mendapatkan Yang Jung.

Dae So mengendarai kudanya tidak jauh dari sana, kemudian turun. Ia melihat medan peperangan dengan mata berkaca-kaca.
“Pangeran, kita harus pergi dari sini!” seru Na Ru.
Dae So berteriak dan menangis.

Peperangan berakhir. Yang Jung berlutut di hadapan Jumong dan Pasukan Da Mul.
“Kau adalah Pangeran Klan Gae Ma, tapi kau hidup sebagai anjing Han.” kata Jumong. “Dosamu lebih besar dibanding dosa Han. Aku akan memenggalmu untuk membalaskan dendam para pengungsi yang menderita. Tapi, aku akan memberimu kesempatan lagi. Aku akan mengusir Pasukan Hyeon To dan menyerang Han. Jika kau bisa membayar kesalahanmu dengan membantuku mengalahkan Han, aku akan membiarkanmu hidup. Apa yang akan kau lakukan?”
Yang Jung diam.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Jumong lagi.
“Aku tidak akan memohon padamu untuk mengampuni nyawaku!” teriak Yang Jung. “Bunuh aku. Bunuh aku sekarang!”
Jumong menggenggam erat pedangnya dan membunuh Yang Jung. Yang Jung tewas.
Jumong mengangkat pedangnya ke atas, disambut dengan sorak-sorai pasukannya.
“Hidup Jenderal Jumong!”
“Hidup Pasukan Da Mul!”

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s