Jumong – Episode 73

Jumong memerintahkan Ma Ri, Jae Sa dan Sayong menyusun undang-undang negara.
“Kita juga harus menemukan orang-orang berbakat untuk memimpin negara ini.” saran So Seo No.
Oyi masuk ke ruangan. “Jenderal, Kepala Klan Mo Yeon datang dan ingin bertemu denganmu.” katanya.
Jumong keluar.
“Namaku Mak Pil, Kepala Klan Mo Yeon.” Mak Pil memperkenalkan diri. “Aku datang ingin memintamu untuk memasukkan klan Mo Yeon ke negara ini.”
“Tapi kalian sudah lama menjadi rakyat BuYeo.” kata Jumong. “Kelihatannya kalian datang ke Jolbon karean keadaan BuYeo sedang sulit. Jika kau meninggalkan keluargamu begitu mudah, maka kau juga akan meninggalkan Jolbon jika kondisi kami sedang sulit.”
“Kami memiliki stok makanan untuk kami sendiri.” kata Mak Pil. “Klan kami mulanya adalah bagian dari GoJoSeon. Kami datang karena kami mendengar bahwa kau memiliki semua benda keramat kami, Tangun. Akhirnya kami menemukan kembali akar kami. Kami tidak akan meninggalkan kalian disaat sulit.”
Jumong tersenyum. “Maafkan aku karena terlalu cepat mengambil kesimpulan.” katanya. Ia bersedia menerima klan Mo Yeon.

So Seo No teringat perkataan Sayong dan Chan Soo, yang menginginkan ia menjadi Ratu Goguryeo. Ia berpikir dalam-dalam seraya memandang istana yang dibangunnya.

Perpecahan internal terjadi. Pihak Jolbon bersikeras menginginkan So Seo No menjadi Ratu. Muk Guh mengetahui bahwa para Kepala Klan dan pemimpin Jolbon melakukan pertemuan tanpa sepengetahuan Jumong.
“Cari tahu kenapa mereka datang.” perintah Jae Sa pada Muk Guh.

Tabib suruhan Seol Ran mencampurkan racun di dalam obat Geum Wa. Racun tersebut berbentuk seperti obat sehingga tidak bisa dideteksi. Song Ju menyerahkan obat ini pada Geum Wa agar Geum Wa meminumnya.
Song Ju merasa curiga karena Seol Ran menemui tabib. Ia bergegas memanggil tabib istana.
“Apakah ada racun yang tidak bisa dideteksi?” tanya Song Ju.
“Mungkin racun bulu.” jawab Tabib Istana.
“Apakah kau memilikinya?” tanya Song Ju.
“Tidak.” jawab Tabib. “Kau bisa mendapatkannya jika pergi ke Han.”

Muk Guh memata-matai Yang Tak dan Chae Ryeong bicara dengan Song Yang. Malamnya, ia menyusup untuk mendengar pembicaraan mereka.
“Yang Tak, Kepala Klan Song Yang, dan Manajer Sayong melakukan pertemuan rahasia.” lapor Muk Guh pada Jae Sa dan Ma Ri.
“Untuk apa mereka melakukan itu?” tanya Jae Sa.
“Mereka membicarakan mengenai siapa yang akan menjadi Raja setelah kita membangun Goguryeo.” kata Muk Guh.
“Apa maksudmu?” tanya Ma Ri. “Kepala Klan So Seo No sudah berjanji memberikan tahta pada Jenderal!”
“Ya, aku sudah tahu bahwa Jolbon tidak akan membiarkan kita menggenggam kekuasaan.” ujar Jae Sa.

Oyi menggebrak meja setelah Jae Sa, Ma Ri dan Muk Guh menceritakan mengenai pihak Jolbon.
“Apa yang terjadi?!” serunya marah. “Kenapa mereka ingin mengambil kepemimpinan dari kita?! Kakak, sebelum Jenderal tahu, kita harus mengambil tindakan!”
“Tenanglah.” kata Ma Ri.
“Apa maksudmu?” tanya Moo Gul, sependapat dengan Oyi. “Lihat kondisi Jolbon sekarang! Bukankah kita yang menyelamatkan mereka?! Mereka benar-benar orang-orang yang tidak tahu berterima kasih!”
“Saat kita sendirian di Gunung Bon Gye, mereka tidak melakukan apa-apa untuk menolong kita. Kita bertahan hidup dengan kekuatan kita sendiri!” kata Mu Song.
“Kita harus merencanakan sesuatu.” ujar Ma Ri.
Jumong yang telah menyelamatkan GyehRu. Jumong yang menyatukan Jolbon. Jumong yang mengalahkan Hyeon To dan Yang Jung. Semuanya tindakan Jumong. Siapa lagi yang pantas menjadi Raja selain Jumong?

Ma Ri dan Jae Sa menyerahkan rancangan undang-undang yang mereka buat.
“Bagus sekali.” kata Jumong. “Aku akan merundingkannya dengan Kepala Klan.”
“Jenderal.” ujar Jae Sa hati-hati. “Pihak Kepala Klan So Seo No dan Kepala Klan Jolbon mengadakan pertemuan rahasia untuk menjadikan Kepala Klan So Seo No Ratu.”
Jumong terlihat terkejut.
“Kupikir, masalah ini sudah diselesaikan karena Kepala Klan So Seo No menunjukmu.” kata Ma Ri. “Tapi kurasa, orang-orang mulai memiliki nafsu berkuasa ketika kita siap membentuk negara baru.”
“Kita harus membuat masalah ini jelas.” kata Jae Sa. “Kita harus merencanakan sesuatu sebelum mereka mengambil kepemimpinan.”
Jumong membanting catatan bambu dan berteriak marah. “Jaga ucapanmu!” bentaknya. “Pasukan Da Mul dan Jolbon membuat sumpah darah. Kenapa kita harus berselisih demi kekuasaan?! Motivasiku adalah mewujudkan mimpi Jenderal Hae Mo Su untuk menyelamatkan para pengungsi dan mengembalikan kejayaan GoJoSeon! Aku tidak menginginkan kekuasaan!”
“Maafkan aku.” kata Ma Ri dan Jae Sa.
“Aku sangat kecewa pada kalian berdua.” kata Jumong marah. “Keributan ini datang dari para pemimpin. Aku yakin yang lainnya juga berpikiran sama. Dengar. Aku tidak peduli siapapun yang akan menjadi Raja.”

Song Ju dan Perdana Menteri berkunjung ke ruangan Dae So sambil membawa obat.
“Ini adalah obat Yan Mulia.” kata Perdana Menteri. “Di dalam obat ini, ada racun.Racun bulu yang tidak bisa dideteksi oleh sendok perak.”
“Siapa yang melakukan ini?” tanya Dae So.
“Aku yakin kau lebih tahu daripada aku.”
“Apa maksudmu?” tanya Dae So. “Aku sama sekali tidak mengetahui masalah ini.”
“Tidak masalah kau tahu atau tidak. Tapi kaulah satu-satunya orang yan bisa menyelesaikan masalah ini.”

Dae So menangkap Tabib suruhan Seol Ran dan memanggil Seol Ran.
Dae So memerintahkan Na Ru membunuh tabib tersebut di depan Seol Ran.
“Aku mengerti kenapa kau melakukan itu.” kata Dae So. “Tapi, aku tidak ingin membunuh ayahku sendiri demi tahta. Aku akan melepaskanmu kali ini, tapi aku tidak akan memaafkanmu jika ini terjadi lagi.”

Pihak So Seo No dan Jolbon mengadakan pertemuan rahasia. So Seo No menyerbu masuk dengan marah.
“Kita sudah membuat sumpah dnegan darah.” kata So Seo No. “Mendirikan Goguryeo adalah langkah pertama dalam mengembalikan kejayaan GoJoSeon. Agar kita bisa membangun sebuah negara yang baru, kita membutuhkan orang yang punya kepemimpinan yang tinggi dan mewarisi jiwa GoJoSeon untuk menjadi seorang Raja. Jenderal Jumong adalah satu-satunya orang yang pantas menduduki posisi tersebut.”

Walaupun pemimpin kedua pihak sudah memperingatkan pengikut masing-masing, tapi masih saja terjadi perselisihan diantara kedua belah pihak.
Untuk membuat masalah tersebut jelas, Jumong memanggil semua pihak terkait untuk mengadakan pertemuan.
“Aku tidak akan menjadi Raja Goguryeo.” kata Jumong.
Semua orang terkejut mendengarnya.
“Ayahku mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan para pengungsi dan mengembalikan kejayaan GoJoSeon.” kata Jumong. “Ibuku meninggal demi aku. Mimpi ayahku bukanlah untuk menjadi seorang Raja. Ambisi memiliki kekuasaan bukanlah motivasiku untuk berperang. Tugasku adalah menjaga dasar Goguryeo sampai aku mati. Aku tidak pantas meminpin sebuah negara.”
Semua orang menunduk, menyesal dan malu telah bersiteru untuk sesuatu yang tidak penting.
“Karena mereka sudah berpengalaman memimpin Jolbon, maka aku akan menyerahkan kepepimpinan pada Kepala Klan So Seo No dan Yeon Ta Bal.” kata Jumong.
“Jenderal, tapi itu bukan hal yang kuinginkan.” kata So Seo No menolak. “Aku sudah mengatakan padamu bahwa kau yang akan menjadi Raja.”
“Maafkan aku, tapi pendapatmu sendiri tidak bisa menyelesaikan masalah.” kata Jae Sa, membantah ucapan Jumong.
“Aku tidak ingin kalian bertengkar karena masalah ini lagi.” kata Jumong, kemudian berjalan pergi. Keputusannya sudah bulat.

Jae Sa, Ma Ri dan Yeon Ta Bal menjadi pihak ketiga yang ingin menyelesaikan masalah ini.
“Kita harus menghentikan pertikaian dan menyatukan kedua belah pihak.” kata Yeon Ta Bal.
“Apa kau punya rencana?” tanya Ma Ri.
“Jenderal Jumong dan So Seo No harus menikah.” kata Yeon Ta Bal.
“Kita tidak bisa membuat mereka menikah demi politik.” kata Ma Ri menolak.
“Mereka berdua duda dan janda sekarang.” kata Yeon Ta Bal. “Jika Jenderal Jumong menjadi Raja dan So Seo No menjadi Ratu, maka kita bisa menyelesaikan masalah ini.”
Jae Sa berpikir.
“Aku akan membujuk So Seo No. Kalian berdua, cobalah membujuk Jumong.”

Young Po memutuskan untuk pergi ke Chang An. Disana, ia bertemu lagi dengan Hwang. Mereka berencana membalaskan penghinaan yang telah mereka terima.

Yeon Ta Bal membujuk So Seo No.
“Aku tahu aku selalu memaksamu membuat keputusan sulit jika ada masalah besar.” kata Yeon Ta Bal. “Tapi, ini adalah satu-satunya solusi untuk menghentikan pertikaian.”
So Seo No ragu. “Jenderal Jumong masih terpukul dan sedih karena kehilangan keluarganya.” katanya, tersenyum. “Aku tidak bisa memaksanya menikah demi menghentikan pertikaian.”
“Ini adalah kehendak langit agar kau dan Jenderal Jumong bersama.” bujuk Yeon Ta Bal. “Pernikahan ini akan menghentikan pertikaian. Selain itu, kau bisa mengobati luka dan kesendiriannya, yang tidak bisa ia perlihatkan pada orang lain.”
So Seo No terdiam.

Jae Sa dan Ma Ri meminta Mo Pal Mo membujuk Jumong.
Malam itu, Mo Pal Mo menemui Jumong di kamarnya.
“Jenderal, aku melakukan dosa besar padamu.” kata Mo Pal Mo. “Seharusnya aku membawa Lady Yoo Hwa dan Lady Ye Soya ketika meninggalkan BuYeo.”
“Itu bukan salahmu.” kata Jumong sedih.
“Jenderal.” Mo Pal Mo berkata hati-hati. “Kau akan melakukan tugas besar di masa depan. Kau butuh seseorang untuk berada disisimu dan membantumu. Kurasa, satu-satunya orang yang bisa melakukannya adalah Kepala Klan So Seo No. Kau harus menikah dengannya.”
Jumong diam, kemudian tertawa. “Kita belum minum banyak. Apakah kau sudah mabuk?” tanyanya.
“Tidak.” jawab Mo Pal Mo. “Ada alasan lain kenapa kau harus menikahi Kepala Klan So Seo No. Pernikahan adalah jalan satu-satunya untuk menghentikan pertikaian.” Mo Pal Mo mengatakan itu dengan sedih.
Jumong hanya diam.
“Jenderal, aku tahu kau belum bisa melupakan Lady Ye Soya dan Yuri.” ujar Mo Pal Mo sedih. “Tapi, kau harus melepaskan mereka suatu saat nanti. Aku yakin Lady Ye Soya juga menginginkan kau untuk menikah.”
“Aku tahu maksudmu, tapi aku tidak mau.” jawab Jumong singkat.
“Jenderal, jika Goguryeo jatuh sebelum terbentuk, semua darah Pasukan Da Mul akan tertumpah sia-sia.” bujuk Mo Pal Mo. “Apa kau ingin pengobanan Lady Yoo Hwa dan Lady Ye Soya sia-sia?” Mo Pal Mo menangis.
Jumong tidak mengatakan apa-apa.

Jumong berpikir. Akhirnya Jumong membuat keputusan. “Maukah kau menikah denganku?” tanyanya pada So Seo No. “Walaupun kita menikah, mungkin akan sulit mengembalikan apa yang sudah hilang di masa lalu. Tapi jika pernikahan kita bisa menyatukan dan membangun Goguryeo, maka kurasa itu memang takdir kita untuk melakukannya.”
Seo Seo No menangis.
“Apakah kau mau menikah denganku?” tanya Jumong lagi.

Ye Soya menggendong Yuri. “Yuri, bersabarlah.” katanya. “Sebentar lagi kau akan bertemu dengan ayahmu.”
Hari itu kota sangat ramai. Warga berbondong-bondong datang.
“Permisi, kemana orang-orang ini akan pergi?” tanya Ye Soya pada salah seorang warga. “Apa yang terjadi?”
“Hari ini adalah hari pembentukan Goguryeo yang dibangun oleh Jenderal Jumong dan Kepala Klan So Seo No.” jawab warga itu.
Ye Soya tersenyum lega dan senang.
“Dan hari ini adalah hari pernikahan mereka.” tambah warga.
Ye Soya terkejut. “Jenderal Jumong dan Kepala Klan So Seo No akan menikah?”
“Benar.” jawab warga.
Ye Soya menangis.
“Ibu..” panggil Yuri.
Ye Soya memeluk Yuri erat-erat.

Upacara pernikahan dimulai. Ye Soya menatap Jumong dari jauh sambil menangis.
“Aku membuat sumpah di hadapan Tuhan bahwa aku akan bersama dengan Ratu So Seo No sampai mati.” kata Jumong mengutarakan sumpah nikahnya.
“Aku membuat sumpah di hadapan semua orang disini bahwa aku akan mengabdi pada Raja dan mengembalikan kejayaan GoJoSeon.” kata So Seo No.
Ye Soya menangis. Ia menunduk memberi hormat kemudian berjalan pergi.
“Sebagai Raja Goguryeo, aku menghormati Burung Berkaki Tiga dan membangun sebuah negara yang makmur dan sejahtera.”
“Hidup Goguryeo!” seru semua rakyat. “Hidup Yang Mulia!”

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s