Jumong – Episode 74

15 tahun kemudian
Di tengah malam buta, sekelompok orang berjalan perlahan seraya mendorong gerobak. Mereka menunggu diam disuatu tempat.
“Mereka datang.” ujar seorang pria berbisik.
Sekelompok orang yang lain muncul. Wakil dari kedua kelompok bertukar papan nama.
“Aku ingin melihat barangnya.” kata wakil kelompok kedua, yang merupakan pembeli.
Kelompok pertama membawa satu karung garam. “Dua puluh karung.”
“30 koin per karung.” kata pembeli.
“30 koin?! Sebelumnya kau bilang 50!” seru wakil kelompok penjual.
“Prajurit OkJo utara akan segera melakukan patroli di daerah ini.” kata pembeli. “Kurasa kau harus menjual barang ini secepatnya.”
Wakil kelompok penjual terdiam.
“Lupakan saja.” kata seorang pemuda kelompok penjual dengan tenang. “Perdagangan ini batal.”
Pembeli terkejut, namun berusaha menutupinya. “Kaulah yang akan rugi jika perdagangan batal. Bukankah begitu?” tanyanya.
“Jual saja.” bisik wakil kelompok penjual pada si pemuda.
“Kita harus menyelesaikan ini dengan cepat dan peri dari sini.” bisik penjual yang lain.
“Mundur.” kata pemuda itu tenang. Kedua temannya itu mundur dengan patuh. Si pemuda menatap pembeli dengan tajam. “Aku tidak bisa menjual barang padamu dengan harga itu.” katanya. Ia berpaling pada teman-temannya. “Jangan hanya berdiri disana! Cepat kita pergi!”
“Ya!” kata kelompok penjual.
Si pembeli diam sejenak, kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menyerang kelompok penjual. Pertarungan terjadi. Ilmu bela diri kelompok penjual tidak terlalu buruk. Si pemuda diserang oleh dua orang pria dan terpojok dekat gerobak. Seorang pria lain naik ke gerobak dan ingin menusuk pemuda itu.
“Yuri!” teriak temannya memperingatkan.
Pemuda itu ternyata adalah Yuri, putra kandung Ye Soya dan Jumong.
Ia menendang kedua pria dan mengelak dari serangan pria ketiga. Yuri berhasil mengalahkan mereka.
“Berhenti!” seru pembeli cemas melihat anak buahnya dikalahkan. “Aku setuju!”
Yuri berhenti bertarung dan tersenyum.

Ye Soya bekerja sebagai pelayan di sebuah kedai. Kesehatannya sangat buruk. Batuknya mengeluarkan darah.
“Apa yang terjadi?” tanya Nyonya Kedai cemas. “Sejak kapan kau mulai sakit?”
“Tidak apa-apa.” kata Ye Soya, menyembunyikan sapu tangannya yang terkena darah.
“Kau berdarah!” seru Nyonya Kedai cemas.
“Tolong jangan katakan pada Yuri.” ujar Ye Soya.

Yuri bekerja sebagai penyelundup barang. Ia menjual barang selundupannya pada orang-orang. Yuri seorang pemuda yang cerdas, tenang, berani dan pandai berunding.
“Kenapa kau tidak bekerja penuh pada kami?” tanya pembeli barang selundupan Yuri. “Aku akan menjadikanmu manajer dagang. Bagaimana menurutmu?”
“Aku tidak mau.” jawab Yuri singkat.
“Aku menawarkan posisi penting di kelompokku.” kata pembeli.
“Aku tidak mau bekerja dibawah seseorang.” kata Yuri tenang, tanpa ekspresi.
“Lancang!” seru anak buah si pembeli.
Pembeli menyuruh anak buahnya diam. Ia tersenyum pada Yuri. “Baiklah, tapi beritahu aku bila kau berubah pikiran.”
Yuri tidak mengatakan apa-apa dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Yuri memiliki dua orang sahabat, sekaligus menjadi anak buah Yuri.
Yuri menyerahkan kantong uang pada kedua sahabatnya. “Berikan ini pada yang lainnya dan belilah arak.” katanya.
“Aku senang kami mengangkatmu menjadi pemimpin walaupun kau lebih muda dari kami.” kata teman Yuri. “Jika tidak, Du Bong dan aku akan menjadi pengangguran.”
Yuri tersenyum.

Di kedai, Ye Soya diganggu oleh pelanggan yang mabuk. Nyonya kedai melindungi Ye Soya.
“Jika kau bersedia menghabiskan malam bersamaku, aku akan memberimu 10 koin perunggu!” kata pelanggan mabuk.
Pelanggan itu mendorong Nyonya kedai dan menarik Ye Soya dengan paksa.
“Lepaskan aku!” teriak Ye Soya.
Tiba-tiba Yuri datang dan memelintir lengan si pelanggan. Ia menendang pelanggan itu sampai terlempar jatuh.
“Hentikan!” seru teman Yuri, berusaha menghentikan Yuri yang mencoba menghajar si pelanggan.
“Dasar Bajingan Tua!” seru Nyonya Kedai marah pada pelanggan itu.
Ye Soya hendak membantu Nyonya kedai membereskan meja, namun Nyonya Kedai melarang. “Sudah, sudah, tidak perlu.” katanya. “Yuri, bawa ibumu pulang.”
Yuri menarik Ye Soya dan mengajaknya pulang. Aku nangis waktu nonton adegan ini. Menderita banget Ye Soya dan Yuri.

“Kau harus berhenti bekerja.” kata Yuri sedih, berjalan melewati pasar bersama ibunya.
Ye Soya hanya diam dan tersenyum.
“Ibu!” bujuk Yuri.
“Aku harus bekerja jika aku ingin membeli lebih banyak buku.” kata Ye Soya, tersenyum menenangkan putranya. “Bagian terbaik dari hari-hariku adalah saat aku mendengarmu membaca.”
Yuri mengeluarkan obat dari kantongnya.
“Darimana kau mendapat uang untuk membeli obat?” tanya Ye Soya. “Apa kau bergaul lagi dengan orang-orang kasar itu?”
Yuri diam.
“Kudengar kau melakukan pekerjaan aneh untuk Manajer Chang.” ujar Ye Soya cemas. “Ternyata itu benar. Yuri, kau…”
“Apa gunanya belajar?” tanya Yuri. “Kau hanya semakin sakit jika aku belajar. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang agar kau bisa terus hidup.”
“Yuri..”
“Ayo.” ajak Yuri.

Di Goguryeo.
“Yang Mulia, Kepala Jenderal sudah kembali dari Heng In.” kata Ma Ri melapor pada Jumong.
Jumong keluar untuk menyambut Jenderal dan pasukannya.
“Aku kembali setelah menyelesaikan perintah untuk mengambil alih Heng In.” kata Oyi.

Di bengkel pandai besi, Onjo membuat sebuah pedang. Ia memanggil Mo Pal Mo untuk menunjukkan pedang buatannya. “Guru!” panggilnya.
Mo Pal Mo datang dan memukulkan pedang buatan Onjo ke besi. Pedang patah menjadi dua.
Onjo kecewa.
Mo Pal Mo tertawa. “Jangan kecewa.” katanya menghibur. “Aku membuat banyak sekali pedang sebelum berhasil membuat pedang bajaku yang pertama.”
“Pangeran, apa yang kau lakukan disini?” tanya Gye Pil.
“Aku sudah meminta izin dari ayah.” kata Onjo.
“Ada apa?” tanya Mo Pal Mo.
“Akan diadakan perjamuan diistana untuk merayakan kemenangan kita atas Heng In.” ujar Gye Pil. “Ayo kita pergi.”

Pihak istana Goguryeo makan-makan dan minum-minun bersama untuk merayakan kemenangan mereka. (miris banget lihatnya. Yuri & Ye Soya buat makan aja susah)
“Yang Mulia, markas kita di Eu Pru terus-menerus diserang oleh OkJo Utara.” kata Sayong. “Kita harus menaklukkan mereka.”
“Aku setuju.” ujar Jae Sa. “Jika kita tidak menaklukkan OkJo Utara, kita tidak akan bisa melakukan perdagangan yang stabil dengan wilayah selatan.”
“Aku sedang memikirkan cara untuk menaklukkan OkJo Utara tanpa perang.” kata Jumong. “Pertama, aku akan mengirim rombongan pedagang ke OkJo Utara.”
“Ayah, kirim aku ke OkJo Utara.” Biryu tiba-tiba masuk ke ruangan. “Aku akan memimpin rombongan pedagang dan mencari cara menaklukkan OkJo Utara tanpa perang.”
“Tidak.” tolak So Seo No. “Kau belum berpengalaman. Masalah ini menyangkut masa depan kita.” Ma Ri setuju dengan So Seo No.
Biryu mencoba meyakinkan. Akhirnya Jumong setuju mengirim Biryu ke OkJo Utara.
Mulanya So Seo No tidak setuju, tapi akhirnya ia setuju mengirim Biryu agar Biryu bisa membuktikan diri pada Jumong dan para pejabat lain bahwa ia pantas menjadi penerus tahta.

Ye Soya duduk diam di ranjangnya, menangis. Ia teringat hari saat ia melihat Jumong menikah dengan So Seo No. Sudah lima belas tahun, namun kejadian itu masih jelas terpatri di pikirannya.

Hwang Ja Kyung menjadi Gubernur Yo Dong. Young Po dan Ma Jin masih berada disisinya.
Hwang sangat marah ketika mengetahui bahwa Goguryeo berhasil mengambil alih Heng In.
“Karena sekarang Jumong sudah menguasai Heng In, maka ia akan mencoba menaklukkan OkJo Utara.” kata Young Po.
“OkJo?” tanya Hwang. “Kita harus mengirim pasukan ke OkJo Utara.”
“Kita tidak perlu melakukannya.” kata Young Po. “Kita masih bisa menahan Gogureo tanpa pasukan. Berkat kau, sekarang aku menjadi pedagang besar di Han. Kini saatnya aku membayar kebaikanmu. Serahkan saja padaku.”
Young Po memutuskan untuk membawa semua harta kekayaannya dan kembali ke BuYeo.

Geum Wa sakit keras. Tabib ragu Geum Wa bisa pulih kembali.
Young Po sudah tiba di BuYeo. Wan Ho menyambut putranya itu dengan senang dan haru.
“Kau hampir menjadi warga Han!” seru Dae So. “Apa yang kau lakukan disini?”
“Kakak, lama tidak bertemu.” kata Young Po, tersenyum.
“Untuk apa kau datang ke BuYeo?” tanya Dae So dingin.
“Aku datang untuk membantu BuYeo menyelesaikan masalah.” jawab Young Po.
Setelah bertemu dengan Wan Ho dan Dae So, Young Po menjenguk Geum Wa.
“Ayah, kenapa kau bisa sakit seperti ini?” tanya Young Po.
Geum Wa tersenyum .”Kudengar kau menjadi pedagang besar di Han.”
“Ya.” jawab Young Po. “Aku akan menyelesaikan masalah BuYeo dengan kekayaan yang kubawa dari Han. Ayah, cepatlah sembuh.”

Young Po menawarkan bantuan pada Dae So menggunakan kekayaan yang diperolehnya dari Han. Dae So menolak mentah-mentah.

“Kenapa kau bekerja lagi?” tanya Yuri, melihat ibunya bekerja di kedai.
“Jangan khawatir.” kata Ye Soya, tersenyum menenangkan.
Tidak lama kemudian, seorang pria berseragam pengawal datang. “Manajer ingin bertemu denganmu.” katanya pada Yuri.
“Yuri.” panggil Ye Soya cemas.
“Jangan khawatir, Ibu.” Yuri berjalan mengikuti pengawal itu ke rumah Manajer Chang.
Manajer Chang menawarinya pekerjaan. “Aku punya pekerjaan yang akan menghasilkan banyak uang. Apa kau mau melakukannya?”
“Pekerjaan apa yang akan kulakukan?” tanya Yuri.
“Aku tidak bisa memberitahumu.” kata Manaher Chang. “Katakan saja kau mau atau tidak.”
“Aku akan melakukannya.” kata Yuri.

Manajer Chang membawa Yuri ke tengah hutan. Disana sudah ada beberapa orang yang menunggu, termasuk Young Po dan Ma Jin. Manajer Chang bicara sesuatu dengan Young Po. Yuri curiga.
Manajer Chang memerintahkan anak buahnya mengambil sebuah peti besar dari Young Po.
“Ada apa?” tanya Yuri.
“Kau tidak perlu tahu.” kata Manajer Chang. “Lakukan saja apa yang kuperintahkan.”
Anak buah Manajer Chang membuka peti itu. Ternyata peti tersebut berisi baju perang.
“Itu adalah seragam Pasukan BuYeo.” kata Manajer Chang. “Pakailah.”
Yuri bingung.

Malam itu, Yuri dan beberapa orang lain diperintahkan bersembunyi untuk menyergap rombongan pedagang yang lewat. Rombongan tersebut tidak lain adalah rombongan pedagang dari Goguryeo yang dipimpin Biryu, Sayong dan Chan Soo.
Peperangan terjadi. Yuri berhasil mengalahkan banyak orang dari rombongan tersebut.
Yuri bertarung melawan Biryu. Setelah beberapa saat bertarung, Yuri berhasil melukai lengan Biryu dan menjatuhkannya ditanah. Ketika Yuri hendak menusuk Biryu dengan pedangnya, Chan Soo menyelamatkan Biryu.

Biryu, Sayong dan Chan Soo kembali ke Goguryeo setelah mengalami kekalahan.
“Apa yang terjadi?” tanya Jumong.
“Maafkan aku.” ujar Biryu lemah.
“Aku bertanya, apa yang terjadi?!” bentak Jumong.
“Kami diserang oleh Prajurit BuYeo.” kata Sayong. “Mereka melakukan serangan mendadak dan menghabisi rombongan kami.”
Jumong dan So Seo No terkejut.

Para pejabat Goguryeo meminta Jumong agar mengizinkan mereka menyerang BuYeo.
“Aku tidak ingin berperang dengan BuYeo.” kata Jumong.
“Tapi jika BuYeo benar-benar menyerang pedagang kita, kita tidak bisa tinggal diam.” kata Ma Ri.
“Pikirkan baik-baik.” ujar Jumong. “Jika mereka memang ingin menyerang rombongan pedagang kita, kenapa mereka menggunakan seragam Pasukan BuYeo? Pasukan BuYeo tidak cukup kuat untuk melawan Goguryeo.”
“Maksudmu, ini adalah konspirasi?” tanya Ma Ri.
“Kepala Jenderal, pergilah ke perbatasan OkJo Utara dan cari tahu apa yang terjadi.” perintah Jumong pada Oyi.
“Ya, Yang Mulia.”

Young Po memberikan uang bayaran pada Manajer Chang. Ia sengaja mengadu domba BuYeo dan Goguryeo dengan tujuan untuk menjatuhkan Dae So dan menguasai BuYeo.

Oyi, Moo Gul dan Muk Guh memeriksa tempat kejadian penyergapan. Disana, mereka menemukan kepala panah yang biasa digunakan oleh Pasukan Han. Pasukan OkJo Utara bisa saja menyamar menjadi Pasukan BuYeo.
“Siapapun bisa mendapatkan kepala panah dari Han.” kata Muk Guh.
Oyi mengajak mereka memeriksa desa terdekat.

“Apakah kau pernah melihat Pasukan OkJo Utara akhir-akhir ini?” tanya Moo Gul, Oyi dan Muk Guh pada warga setempat. Jawabannya para warga sama. Tidak ada yang pernah melihat Pasukan OkJo beberapa waktu belakangan.
“Itu artinya, Han ada dibalik semua ini.” kata Moo Gul mengambil kesimpulan.
“Kita harus melapor pada Yang Mulia.” kata Oyi. Ia mengajak Moo Gul dan Muk Guh pergi.
Tiba-tiba, Oyi terdiam dan terkejut. Sekilas, ia melihat Ye Soya berjalan melewati mereka. Oyi bergegas berlari mengejar, namun Ye Soya sudah tidak ada.
“Ada apa?” tanya Moo Gul, mengejar Oyi. “Kakak!”
Oyi berlari mencari kemana-mana, tapi ia sudah kehilangan jejak Ye Soya.

Oyi kembali ke Goguryeo. Ia melapor pada Jumong bahwa orang-orang yang menyerang mereka bukanlah Pasukan BuYeo. “Kurasa Han yang melakukannya.” kata Oyi.
Jumong mengangguk. “Aku akan memberimu sebuah surat untuk dikirim pada Raja OkJo utara.”
“Ya, Yang Mulia.” Oyi bangkit dari duduknya dengan ragu. Ia hendak berjalan keluar, namun tiba-tiba berbalik lagi. “Yang Mulia.” panggilnya hati-hati.
“Ada apa?” tanya Jumong. “Katakan padaku.”
Oyi ragu dan terdiam sesaat. “Aku melihat Lady Ye Soya di desa dekat perbatasan OkJo.”
“Apa… yang kau katakan?” tanya Jumong shock.
“Aku tidak bicara dengannya karena ia menghilang ditengah keramaian.” kata Oyi. “Tapi aku yakin bahwa itu memang Lady Ye Soya.”
Jumong sangat terkejut.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s