Jumong – Episode 75

Manajer Chang ditangkap dan seluruh barang-barangnya disita oleh karena ketahuan melakukan penyelundupan.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Du Bong. “Manajer Chang pasti akan melaporkan kita!”
“Kita harus segera pergi dari sini!” kata teman Yuri yang satunya.
Yuri dan kedua kawannya berlari ke kedai. Du Bong meminta ibunya (si Nyonya Kedai) agar mengemasi barang-barangnya.
“Ada apa?” tanya Ye Soya pada Yuri.
“Kita harus pergi dari sini.” jawab Yuri.
“Kenapa kita harus pergi?” tanya Ye Soya.
“Aku akan menceritakannya nanti.” kata Yuri.
“Aku sudah hidup disini lebih dari 10 tahun.” kata Ye Soya. “Kemana kita bisa pergi?”
“Ini darurat.” bujuk Yuri.
“Apa kau melarikan diri karena melakukan kejahatan?” tanya Ye Soya.
“Ya.” jawab Yuri jujur. “Maafkan aku.”
“Jika kau melakukan kesalahan, maka kau harus dihukum.” kata Ye Soya marah.
“Ibu.” Yuri berlutut di depan Ye Soya. “Aku melakukan itu bukan demi nyawaku. Aku tidak ingin ibu menderita karena aku. Tolong dengarkan aku, Ibu.”

Rupanya Oyi, Moo Gul dan Muk Guk-lah yang telah memerintahkan prajurit untuk menangkap Manajer Chang.
Prajurit itu menyiksa Manajer Chang agar mengaku siapa yang menyuruhnya menyamar menjadi Prajurit BuYeo. Namun Manajer Chang tidak mau mengaku.

Jumong termenung sendirian di ruangannya. Ia teringat pertemuannya dengan Ye Soya di Kuil Ramalan beberapa tahun yang lalu.

Yuri, Ye Soya dan yang lainnya mencoba melarikan diri dari pencarian Oyi dan prajuritnya.
Ketika Oyi sampai di rumah mereka, Yuri dan Ye Soya sudah tidak ada.

Jumong murung dan sedih berhari-hari. So Seo No melihatnya dari jauh.
So Seo No memanggil Hyeopbo untuk bertanya mengenai Jumong. “Tolong katakan padaku, ada apa dengan Yang Mulia?”
Hyeopbo ragu.
“Ia kelihatan sangat sedih.” kata So Seo No. “Ada apa?”
“Yang Mulia memang selalu banyak pikiran.” ujar Hyeopbo. “Dia berusaha mencari tahu cara untuk menaklukkan OkJo Utara tanpa pertumpahan darah. Tolong jangan khawatir, Permaisuri.”
“Baiklah. Kau boleh pergi.”

Oyi tiba lagi di Goguryeo.
“Apa yang dikatakan Raja OkJo?” tanya Jumong.
“Ia mengatakan, suatu kehormatan bisa bersekutu dengan Goguryeo.” jawab Oyi.
Jumong terdiam sesaat. “Apakah kau… menemukan mereka?” tanyanya.
“Maafkan aku, Yang Mulia.” ujar Oyi menyesal. “Kami sudah mencari di seluruh perbatasan, tapi tidak bisa menemukan mereka.”
Jumong kecewa.
“Yang Mulia, sekarang kita tahu bahwa ia masih hidup.” kata Oyi. “Aku pasti akan menemukan mereka. Jangan khawatir.”
Jumong meminta Oyi beristirahat. Setelah Oyi pergi, Jumong bangkit dan mengambil sepatu Yuri kecil. Ia memandang sepatu itu dengan sedih.

Jumong ingin melihat kedua putra tirinya.
Di Goguryeo, kemampuan bela diri Pangeran Biryu terkenal sangat hebat. Kemampuannya bisa disetarakan dengan Bu Beo No. Ia berusaha keras agar menjadi calon penerus tahta yang diakui oleh Goguryeo.

Di lain pihak, Onjo memiliki kemampuan dan minat dalam bidang pandai besi. Ia sangat bersemangat bekerja di bengkel dengan Mo Pal Mo sebagai gurunya. Jumong berpesan pada Mo Pal Mo untuk mengajari Onjo merebut hati orang-orang.
Setelah Jumong pergi, Mo Pal Mo memperlihatkan ekspresi sedihnya. “Ia pasti sangat merindukan Yuri dan ingin bertemu dengannya.” kata Mo Pal Mo, menggeleng-geleng sedih. “Hanya dengan melihatnya saja, aku sudah bisa membaca isi hatinya.”

Perbuatan Young Po malah membuat OkJo Utara dan Goguryeo bersekutu. Ia marah besar mendengarnya.
“Mereka tidak mengetahui bahwa kita yang melakukannya, bukan?” tanya Young Po pada Ma Jin.
“Manajer Chang juga tidak tahu siapa kita.” kata Ma Jin.
“Aku membuang semua uangku dengan sia-sia!” seru Young Po kesal.

Hwang berkunjung ke BuYeo untuk berunding dengan Geum Wa. Namun karena Geum Wa sakit. ia bicara dengan Dae So. Hwang mengajak BuYeo bersekutu lagi dengan Han, tapi Dae So menolak mentah-mentah dan menyuruh mereka pergi.

Kesehatan Geum Wa sudah lebih baik daripada sebelumnya. Ia bahkan sudah bisa hadir dalam pertemuan pejabat istana.
“Aku punya sebuah pengumuman.” katanya. “Aku ingin menyerahkan tahta pada Dae So.”
Semua pejabat menoleh terkejut.
“Perdana Menteri, siapkan upacara penobatan dan umumkan pada masyarakat.” tambah Geum Wa.
“Yang Mulia, bagaimana bisa aku menggantikanm disaat kau masih hidup?” tanya Dae So. “Tolong dipertimbangkan lagi.”
“Kau sudah melakukan apapun untuk mendapat tahta ini.” ujar Geum Wa. “Laksanakan perintahku.”

Begitu Jumong mendengar bahwa Geum Wa menyerahkan tahta pada Dae So. Ia meminta para pejabatnya untuk berkumpul. Selama ini, Goguryeo dan BuYeo membina hubungan damai karena Jumong dan Raja Geum Wa. Namun keadaannya akan berbeda jika Dae So yang memimpin BuYeo.
Para pejabat menyarankan pada Jumong agar segera menyerang BuYeo. Saat ini, BuYeo belum bersekutu dengan Han, maka ini adalah saat yang tepat sebelum semuanya terlambat. Jumong menampung saran para pejabatnya.

Yuri, kedua sahabatnya, Ye Soya, dan Nyonya Kedai melakukan perjalanan dan beristirahat di tengah hutan. Nyonya Kedai menarik putranya dan memarahinya.
“Ini semua terjadi karena kau berhubungan dengan bajingan kecil itu, Yuri.” kata Nyonya Kedai. Tanpa mereka ketahui, Yuri mendengar pembicaraan itu. “Jangan berhubungan dengan orang seperti dia lagi!”
“Yuri masih muda, tapi ia sangat pintar.” kata Du Bong membela.
Yuri menarik napas dalam. Ia berjalan dan memberi minum pada ibunya. “Aku melakukan itu agar kehidupanmu lebih baik.” kata Yuri pada Ye Soya. “Maafkan aku karena membuatmu menderita seperti ini.”
Ye Soya tersenyum.
“Ibu, kenapa aku tidak punya ayah?” tanya Yuri.”Kau tidak pernah bercerita tentang dia. Orang seperi apa ayah?”
“Aku akan menceritakan padamu jika aku sudah siap.” jawab Ye Soya. “Tolong jangan bicarakan dia lagi.”
Yuri diam.
“Kemana kita akan pergi?” tanya Ye Soya.
“Aku belum memutuskan.” jawab Yuri.
“Ayo pergi ke BuYeo.”
“Apa ada alasan kenapa ibu ingin kesana?” tanya Yuri.
“Aku ingin menemukan sesuatu yang penting di BuYeo.” jawab Ye Soya.

Jumong duduk diam di ruangannya. So Seo No datang menemuinya.
“Jangan terlalu dipikirkan apa yang dikatakan para pejabat.” kata So Seo No menenangkan. “Aku tahu bagaimana perasaanmu pada BuYeo.”
“Istriku, aku ingin menghadiri upacara penobatan di BuYeo.” kata Jumong.
“Itu terlalu berbahaya.” kata So Seo No melarang. “Tolong pikirkan lagi.”
“Disana ada banyak utusan dan perwakilan.” ujar Jumong. “Mereka tidak akan mencelakai perwakilan Goguryeo. Jangan khawatir.”

Wan Ho sangat lega dan senang karena Dae So akhirnya diangkat menjadi Raja. Ia meminta Dae So mengalahkan Goguryeo untuk membalaskan kesedihan dan penderitaannya selama ini. Dae So diam saja.

Dilain pihak, Ma Oo Ryeong cemas karena mendengar desas-desus bahwa Kuil Ramalan akan ditutup begitu Dae So menjadi Raja. Ia menemui Seol Ran untuk memohon bantuan. Seol Ran tersenyum licik.

Yuri dan kedua sahabatnya berjalan di kota BuYeo. Di dinding gerbang istana, mereka membaca sebuah pengumuman mengenai turnamen untuk merayakan hari penobatan.
“Siapapun yang menang akan mendapat hadiah dari Raja.”
“Yuri, ini hebat!” kata Du Bong. “Aku yakin kau akan menang!”
Yuri berpikir.

Kesehatan Ye Soya makin memburuk. Ketika ia datang sambil membawa tumpukan kayu bakar, Ye Soya tiba-tiba batuk-batuk hingga terjatuh. Batuknya mengeluarkan darah.
Ibu Du Bong berseru cemas.
“Ibu!” Yuri berteriak cemas ketika melihat ibunya. Yuri membawa Ye Soya ke dalam rumah dan membaringkannya di ranjang. Yuri sangat ketakutan dan sedih.

Jumong mengumumkan pada para pejabatnya bahwa ia akan datang ke BuYeo. Para pejabatnya menolak dan melarang keras, namun Jumong bersikeras.
“Aku ingin bicara dengan Pangeran Dae So dan menghentikan BuYeo menjalin persekutuan denan Han.” kata Jumong memberi penjelasan. “Aku ingin membujuk mereka bersekutu dengan Goguryeo. Jika Goguryeo dan BuYeo bisa mengalahkan Han bersama, maka kita bisa mewujudkan cita-cita kita. Percayalah padaku.”
Para pejabat terdiam.
“Yang Mulia, aku akan menemanimu.” kata Biryu.
Jumong setuju.

Yuri membawakan obat untuk Ye Soya.
“Yuri, apakah kau merindukan ayahmu?” tanya Ye Soya.
“Aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.” jawab Yuri. “Aku bahkan tidak tahu wajahnya. Tapi, aku ingin tahu orang seperti apa dia.”
“Ayahmu masih hidup.” kata Ye Soya.
Yuri terkejut. “Apa? Dimana dia?”
“Jika kau ingin bertemu ayahmu, kau harus punya barang bukti.” kata Ye Soya.
“Dimana bukti itu?” tanya Yuri cepat.
“Ada di dalam Istana BuYeo.”
“Kalau begitu, apa aku ada hubungannya dengan Istana BuYeo?” tanya Yuri penasaran.
“Aku akan mengatakannya setelah kau menemukan bukti itu.”
Yuri akhirnya memutuskan untuk mengikuti turnamen BuYeo agar bisa masuk ke istana.

Para utusan dan perwakilan dari berbagai klan dan negara mulai berdatangan di BuYeo. Perdana Menteri dan para pejabat menyambut mereka dengan hangat.
Mendadak seorang prajurit masuk dan berbisik di telinga Perdana Menteri. Perdana Menteri terkejut dan melapor ada Dae So.
“Perwakilan Goguryeo sedang menuju ke BuYeo.” lapor Perdana Menteri. “Secara resmi, Jumong datang dan membawa beberapa pejabatnya. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya.”
Dae So sangat terkejut. “Sambut mereka dengan hormat.” ujar Dae So.

Jumong dan rombongannya berjalan melewati kota BuYeo menuju istana. Yuri melihatnya dari jauh.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s