Jumong – Episode 78

Jumong benar-benar merasa terharu bertemu putranya yang tidak pernah ia temui sejak lahir. Jumong mengulurkan tangan untuk menyentuh Yuri, namun Yuri mundur satu langkah, menolak disentuh.
“Kenapa kau mencampakkan kami?” tanya Yuri. “Kenapa kau membiarkan kami hidup menderita?”
Jumong sedih mendengar ucapan Yuri.
“Apa kau pikir, aku dan ibu akan mengganggu jalanmu?!” tanya Yuri marah. “Karena itukah kau meninggalkan kami?!”
“Yuri…”
“Aku sangat sedih setiap kali aku memikirkan bagaimana aku tumbuh.” kata Yuri. “Aku hidup dalam ketakutan, melarikan diri dari orang-orang tanpa tahu alasannya!” Yuri berteriak.
“Ini semua salahku.” kata Jumong sedih. “Aku melakukan kesalahan yang tidak termaafkan padamu dan ibumu.”
“Katakan padaku!” seru Yuri. “Kenapa?! Kenapa kau mencampakkan kami?!”
Jumong terdiam, tidak melepaskan pandangannya dari Yuri.
“Pangeran, Yang Mulia tidak pernah mencampakanmu dan Yang Mulia Ye Soya.” kata Hyeopbo menjelaskan. “Yang Mulia berpikir kalian berdua sudah mati 15 tahun yang lalu.”

Hyeopbo mengambil sepatu Yuri yang selama ini disimpan oleh Jumong. “Kau tahu apa ini?” tanya Hyeopbo pada Yuri. “Kami menemukan sepatu ini 15 tahun yang lalu ketika kami mencarimu. Karena itulah Yang Mulia menyimpan sepatu ini dan selalu mengingatmu dalam hatinya.”
Yuri menangis.
“Aku telah terluka karena banyak peperangan.” kata Hyeopbo menangis. “Tapi kehilangan kalian berdua jauh lebih menyakitkan. Selama ini, Yang Mulia hidup dalam penderitaan.”
“Aku tidak bisa mengerti.” kata Yuri. “Aku juga tidak bisa memaafkanmu. Ibuku tidak pernah datang padamu, karena ia berpikir bahwa kau telah meninggalkannya!”
Jumong memejamkan matanya dan menangis. “Dimana ibumu?”

Jumong memanggil Oyi dan Moo Gul ke ruangannya.
“Apa yang kau lakukan disini?!” tanya Oyi begitu melihat Yuri.
“Apa yang dilakukan Raja Dae So kali ini?” tanya Moo Gul emosi.
“Tenanglah dan dengarkan aku.” kata Hyeopbo.
Jumong tidak pernah memalingkan pandangannya sama sekali dari Yuri.
“Kepala Jenderal benar mengenai Yang Mulia Ye Soya.” kata Hyeopbo. “Ia dan Pangeran Yuri masih hidup. Ini adalah Pangeran Yuri.”
“Apa?” seru Oyi dan Moo Gul, terlonjak kaget.
“Aku akan pergi ke BuYeo dan mencari Ye Soya.” kata Jumong. “Ikutlah denganku.”
“Yang Mulia, biarkan kedua Jenderal menjemput Yang Mulia Ye Soya kembali.” kata Hyeopbo.
“Yang Mulia, biar kami yang menjemputnya.” kata Oyi.
“Aku akan pergi!” seru Jumong. “Ayo.”

Kedua sahabat Yuri mulai cemas karena Yuri tidak juga keluar sampai malam. Hyeopbo menjemput mereka di pintu gerbang.
Jumong, Yuri dan beberapa pejabat pergi mengendarai kuda ke BuYeo untuk menjemput Ye Soya.

Keesokan harinya, So SeoNo berkunjung ke ruangan Jumong, namun Jumong tidak ada.
“Kemana ia pergi?” tanya So Seo No pada penjaga.
“Aku tidak tahu.” jawab penjaga itu.
“Bagaimana bisa orang yang melayani Yang Mulia secara langsung tidak tahu kemana Yang Mulia pergi?” tanya So Seo No marah.
“Maafkan aku.”
So Seo No kemudian memerintahkan penjaga itu untuk memanggil Hyeopbo ke ruangannya.

Hyeopbo menceritakan segalanya pada Jae Sa, Ma Ri dan Muk Guh. Mereka sangat cemas karena Jumong pergi ke BuYeo.
“Seharusnya kau menghentikan dia apapun yang terjadi!” seru Ma Ri.
“Hatiku sendiri bergetar ketika mendengar bahwa Permaisuri Ye Soya masih hidup!” teriak Hyeopbo. “Bagaimana menurutmu perasaannya?! Kenapa kalian tidak bisa mengerti perasaan Yang Mulia?!”
Ma Ri, Jae Sa dan Muk Guh terdiam.
“Aku tidak bisa tidur semalaman.” kata Hyeopbo. “Bagaimana bisa kita tidak tahu bahwa yang mengalahkan Pangeran Biryu di BuYeo adalah Pangeran Yuri?”
“Kita harus mempersiapkan kembalinya istri Raja Jumong, Permaisuri Ye Soya.” kata Ma Ri.
Masalah yang mendasar ada dua.Yang pertama, mereka tidak bisa mengangkat Ye Soya sebagai Permaisuri karena mereka sudah mengangkat So Seo No sebagai permaisuri. Yang kedua, karena Ye Soya adalah istri pertama, maka kedudukan Putra Mahkota seharusnya jatuh pada Yuri. Kedua masalah itu pasti akan menimbulkan pertikaian. Terutama pemilihan Putra Mahkota.
Pengawal masuk dan memberitahukan bahwa So Seo No memanggil Hyeopbo.

Hyeopbo menemui So Seo No.
“Dimana Yang Mulia?” tanya So Seo No. Hyeopbo diam. “Kau tidak tahu dimana Yang Mulia? Yang Mulia berada dalam bahaya karena mata-mata Han! Kenapa kau tidak melakukan tugasmu dengan benar?!” So Seo No memarahi Hyeopbo. “Pergi dan temukan dimana Yang Mulia berada!”
“Permaisuri, Yang Mulia pergi ke BuYeo.” kata Hyeopbo.
“Kenapa ia pergi ke BuYeo?” tanya So Seo No.
“Yang Mulia Ye Soya dan Pangeran Yuri masih hidup.” jawab Hyeopbo. “Yang Mulia pergi untuk menjemput Yang Mulia Ye Soya.”
So Seo No terkejut. “Maksudmu, orang yang datang dengan membawa potongan belati adalah…”
“Ia Pangeran Yuri.” kata Hyeopbo. “Dulu Yang Mulia memberikan potongan belati itu pada Yang Mulia Ye Soya sebagai bukti.”

Young Po dikurung dalam penjara di Liaodong. Ia berusaha menemukan cara untuk kabur dengan menyogok penjaga.
Di BuYeo, Wan Ho memohon pada Dae So untuk membantu Young Po di Liaodong. Dae So menarik napas dalam-dalam. Karena BuYeo sudah bersekutu dengan Goguryeo, Han menyiagakan pasukan mereka disekitar perbatasan BuYeo.
Untuk menyelamatkan Young Po, Perdana Menteri menawarkan diri untuk pergi ke Liaodong dan melakukan perundingan dengan Gubernur Hwang.
“Dimana Sang Chun?” tanya Dae So pada Na Ru. “Panggilkan dia.”

Ye Soya dan Ibu Du Bong berjalan pergi dari BuYeo. Di tengah perjalanan, Ye Soya batuk berdarah lagi. Tiba-tiba Ye Soya pingsan.
“Bangun!” seru Ibu Du Bong cemas.

“Dimana ibu?” tanya Yuri pada kedua sahabatnya.
“Sesuatu pasti terjadi.” kawan teman Yuri. “Dia membawa semua barang-barangnya dan pergi. Seseorang dari Pengawal Istana mencarimu.”
“Aku akan pergi ke rumah.” kata Yuri pada Jumong. “Aku dan ibuku sudah berkali-kali pindah. Dalam kondisi seperti ini, ia akan menulis tujuan kami ditempat rahasia. Aku yakin ibuku meninggalkan pesan untukku.”
“Aku akan ikut denganmu.” kata Jumong cemas.
“Ada terlalu banyak orang dan prajurit di wilayah itu.” kata Yuri menolak.
“Tapi Pengawal Istana mencarimu.” kata Jumong bersikeras. “Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian.”
“Jangan khawatir.”

Yuri mencari-cari pesan ibunya. Akhirnya Yuri bisa mendapatkan surat tersebut. Ketika Yuri dan kedua temannya hendak pergi, Na Ru dan beberapa pengawal istana datang dan mengepung mereka.
“Kenapa kau tidak melapor?!” tanya Na Ru marah. “Kau akan dihukum karena meningalkan istana tanpa izin. Tapi saat ini, Yang Mulia ingin bertemu denganmu. Ayo!”
“Aku tidak bisa pergi karena ibuku sedang sakit.” kata Yuri.
“Apa kau ingin melanggar perintah Yang Mulia?!” tanya Na Ru. “Bawa mereka! Jika kau berani macam-macam, aku akan membunuh kalians semua!”
Para pengawal membawa Yuri ke istana secara paksa. Di tengah perjalanan, Oyi dan Moo Gul, dengan menggunakan penutup wajah, menyelamatkan mereka.
Yuri merebut pedang salah seorang pengawal dan bertarung melawan pengawal BuYeo.
Oyi berhasil melukai lengan Na Ru, kemudian melarikan diri bersama Yuri.

Na Ru melapor pada Dae So.
“Kenapa mereka melarikan diri?” tanya Dae So curiga. Padahal kan dia cuma pengen ketemu.
“Peramal ma Oo Ryeong mengatakan bahwa Sang Chun akan membahayakanmu di masa depan.” kata Na Ru.
“Kenapa dia akan membahayakan aku?!” tanya Dae So marah.

Seol Ran meminta Ma Oo Ryeong untuk mengutuk Jumong.

Ibu Du Bong membawa Ye Soya ke dalam sebuah gua.
“Bangun!” kata Ibu Du Bong cemas. “Kau akan mati jika terus tidak sadarkan diri! Kenapa Yuri belum juga datang? Bangun!”
Ye Soya tidak bergerak sedikitpun.

Yuri dan Jumong akhirnya tiba di mulut gua. Yuri langsung masuk ke dalam.
“Ibu!” seru Yuri, bergegas berlari ketika melihat ibunya terbaring tak berdaya. “Ibu!”
“Yuri…” ujar Ye Soya lemah.
Jumong berjalan mendekati Ye Soya.
Ye Soya menoleh dan melihat Jumong.
“Istriku…” panggil Jumong pelan.
Ye Soya mencoba bangkit untuk melihat Jumong lebih jelas. “Yang Mulia…” ujarnya, menangis.
Jumong menunduk menyentuh wajah Ye Soya dan menangis. “Istriku…”
Tiba-tiba Ye Soya pingsan.
“Ibu!” teriak Yuri cemas. “Ibu!”
“Istriku!” panggil Jumong ketakutan. “Istriku! Istriku!” Jumong memeluk Ye Soya dan menangis keras.

Ye Soya dibawa ke Goguryeo dan diobati oleh tabib.
Begitu mengetahui bahwa Ye Soya dan Yuri masih hidup, Ma Pal Mo bergegas menemui mereka.
“Dimana Yang Mulia Ye Soya dan Pengeran Yuri?” tanya Mo Pal Mo antusias.
“Tabib sedang mengobati Yang Mulia Ye Soya.” jawab Oyi. “Ini adalah Pangeran Yuri.”
Mo Pal Mo menatap Yuri dan menangis. “Pangeran!” serunya penuh haru. Ia berlutut di hadapan Yuri. “Aku melakukan dosa besar padamu.”
Yuri bingung.
“Terima kasih, karena tetap hidup!” tangis Mo Pal Mo. “Terima kasih!”
Oyi dan yang lainnya tersenyum dan terharu.

Di Liaodong, Hwang melatih pasukan rahasia.
“Tugas kalian adalah menyusup ke Goguryeo sebelum perang dan menghancurkan bengkel besi mereka.” kata Hwang. “Kalian mengerti?”
“ya.” jawab Pasukan.
“Jenderal, Wang.” panggil Hwang pada Jenderalnya. “Kita harus menghentikan penyaluran besi ke Goguryeo. Cari cara.”
“Ya.”

Perdana Menteri dan Jenderal Heuk Chi melakukan perundingan dengan Gubernur Liaodong.
“Kalian sudah bersekutu dengan Goguryeo!” seru Hwang. “Tidak ada yang perlu dirundingkan!”
“Semua ini salahmu.” kata Perdana Menteri. “BuYeo tidak punya pilihan lain kecuali bersekutu dengan Goguryeo. Raja Dae So sangat membenci Raja Jumong. Han dan Goguryeo akan melakukan perang. Tidakkah kau membutuhkan bantuan BuYeo?”
“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Hwang.
“Bebaskan Pangeran Young Po dan berikan makanan dan senjata pada BuYeo.”
Hwang tersenyum sinis.

Perdana Menteri menemui Young Po dipenjara. “Aku akan membebaskanmu dengan satu syarat.”
“Aku akan melakukan apapun agar bisa hidup.” kata Young Po.
“Kau harus menyerahkan semua kekayaanmu pada BuYeo.”
Young Po terkejut. “Itu…” ia ragu sejenak. “Aku akan menyerahkan semua kekayaanku pada BuYeo.” katanya dengan terpaksa.

So Seo No memanggil Onjo dan Biryu ke tepi sungai untuk menceritakan kebenaran.
“Biryu, apakah kau tahu arti namamu?” tanya So Seo No. “Sungai Biryu membentang sangat jauh, jadi rakyat Goguryeo tidak akan pernah kehausan. Namamu Biryu karena kami ingin kau untuk seperti sungai BiRyu.”
“Lalu apa arti namaku?” tanya Onjo.
“Namamu Onjo karena kami ingin kau menjadi orang yang berbudi.” jawab So Seo No. “Apa kalian tahu siapa yang memberikan nama pada kalian?”
“Ayah kami yang sudah meninggal.” jawab Onjo.
“Walaupun ayah kami memberi nama pada kami, tapi Yang Mulia-lah yang membesarkan kami seperti anak-anaknya sendiri.” kata Biryu.
“Apa kalian tahu kalau Yang Mulia punya seorang putra yang lain?” tanya So Seo No.
“Kudenar ia meninggal saat dijadikan tawanan di BuYeo.” jawab Biryu.
“Istri dan putra Yang Mulia masih hidup.” kata So Seo No. “Ia menikahiku karena ia mengira mereka sudah meninggal. Istri dan putranya sekarang ada di istana.”
Biryu dan Onjo sangat terkejut.
“Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Biryu.
“Kau tidak bolwh gentar.” kata So Seo No. “Mereka hidup dalam penderitaan selama bertahun-tahun. Kau harus ingat arti nama kalian dan rengkuh mereka. Kalian mengerti?”

Jumong memanggil So Seo No untuk menceritakan mengenai Ye Soya dan Yuri. So Seo No menenangkannya. Ia mengatakan bahwa setelah Ye Soya sadar, ia akan memperlakukan Ye Soya sebagai permaisuri.
Setelah itu, So Seo No menjenguk Ye Soya yang masih terbaring di ranjang dan tidak sadarkan diri.
“Aku tidak tahu kenapa langit melakukan ini pada kita.” ujar So Seo No. “Tapi apapun takdir kita, aku akan menerimanya.” So Seo No menggenggam tangan Ye Soya dan meneteskan air matanya. “Yang Mulia menunggumu sembuh. Tolong cepatlah sadar.”

Tabib mengatakan pada Jumong bahwa Ye Soya sudah sadar, namun ia tidak yakin Ye Soya akan sembuh.
“Selamatkan dia.” kata Jumong. “Lakukan apapun untuk menyembuhkan dia.”
Jumong menjenguk Ye Soya. “Istriku..”
“Yang Mulia, aku menjadi beban untukmu lagi.” kata Ye Soya sedih. “Maafkan aku.”
“Jangan berkata begitu.” kata Jumong. “Cepatlah sembuh. Beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku.”

Chae Ryeong, Yang Tak dan Chan Soo merasa kedudukan mereka terancam dengan kembalinya Ye Soya dan Yuri.
“Chan Soo, para pejabat akan berusaha menjadikan Pangeran Yuri sebagai Putra Mahkota.” kata Chae Ryeong. “Awasi mereka!”
“Ya.”

Biryu meminta Hyeopbo mengantar Yuri menemui ia dan Onjo.
“Karena aku lebih tua darimu, maka aku akan menganggapmu adik.” kata Biryu. “Onjo, kau harus menganggap dia kakakmu.”
“Ya.” jawab Onjo enggan.
“Aku senang kalian menyambut Pangeran Yuri dengan baik.” kata Hyeopbo. “Pangeran Onjo, kenapa kau tidak memanggil Pangeran Yuri ‘Kakak’?”
“Kakak.” ujar Onjo ragu.

Kedua sahabat Yuri dan Ibu Du Bong diperbolehkan tinggal di istana untuk menemani Ye Soya. Selain itu, Yuri meminta Mo Pal Mo agar mengizinkannya bekerja di bengkel pandai besi. Mo Pal Mo melapor pada Jumong dan yang lainnya.
“Kurasa ia tidak nyaman dengan kehidupan istana.” kata Mo Pal Mo.
“Tapi tetap saja kita tidak bisa mengizinkannya bekerja di bengkel.” kata Ma Ri.
“Aku juga sudah mengatakan itu padanya.” kata Mo Pal Mo. “Tapi dia bersikeras. Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan?”
Jumong berpikir dan menarik napas dalam-dalam. “Biarkan Yuri melakukan apapun yang dia suka.” katanya. “Yuri tidak bisa tenang karena ia masih marah padaku. Berikan dia sedikit waktu. Ketua, tolong jaga dia.”
“Ya.” jawab Mo Pal Mo.

Malamnya, Yuri bekerja di bengkel pandai besi. Dengan bersemangat, ia membuat senjata. Jumong melihatnya dari jauh dan tersenyum tipis.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Yuri dan Mo Pal Mo berjalan ke rumah pekerja.
“Pangeran, kau boleh bekerja di bengkel pandai besi, tapi kau harus tetap tidur di kamarmu sendiri.” kata Mo Pal Mo.
Yuri tersenyum menenangkan. “Aku suka disini.” katanya. “Jangan khawatirkan aku.”
Mo Pal Mo hanya bisa geleng-geleng kepala.

Beberapa orang berpakaian hitam menyusup di bengkel pandai besi. Mereka membunuh semua penjaga, kemudian berpencar untuk melakukan sesuatu.
Di lain sisi, Mo Pal Mo berbincang dengan Mu Song.
“Dia sangat keras kepala” kata Mo Pal Mo mengomentari Yuri. “Mirip sekali dengan Yang Mulia.”
Mu Song tertawa.
Mo Pal Mo berhenti berjalan ketika melihat pada penjaga tewas. “Apa yang terjadi?!” seru Mo Pal Mo.
Tiba-tiba seseorang berteriak. “Kebakaran! Kebakaran!”

Mo Pal Mo bergegas berlari melapor pada Jumong.
“Yang Mulia!” teriak Mo Pal Mo panik. “Rumah pekerja pandai besi kebakaran! Pangeran Yuri ada di dalamnya! Ia tidak bisa keluar karena kebakaran terlalu besar!”
Jumong sangat terkejut.

sumber: princess-chocolates.blogapot 

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s