Jumong – Episode 79

Para prajurit dan pihak istana Goguyeo berusaha memadamkan api yang semakin membesar. Jumong datang berlari-lari dengan panik dan cemas.
“Tidak ada satupun yang bisa keluar!” kata Mu Song.
“Maksudmu, Yuri ada di dalam?!” tanya Jumong khawatir.
“Ya, Yang Mulia!” kata Mo Pal Mo panik. Para pejabat datang. “Pangeran Yuri ada di dalam rumah pekerja!” teriak Mo Pal Mo.
“Yuri!” Jumong sangat shock. “Yuri!” teriak Jumong, berjalan menuju rumah yang terbakar.
“Yang Mulia!” para pejabat menahan Jumong.
“Yuri!!!!” teriak Jumong histeris. “Yuri!!!!”
Oyi dan yang lainnya berusaha keras menahan Jumong.
“Lepaskan aku!!” teriak Jumong meronta-ronta dari pegangan pejabatnya. “Yuri!!!”

Begitu mendengar kejadian kebakaran, So Seo No bergegas menuju tempat kebakaran.
Jumong terduduk lemas di tanah. Ia menangis.
“Yang Mulia, aku tidak percaya ini terjadi.” kata So Seo No.
“Yang Mulia, bunuh saja aku.” kata Mo Pal Mo, menangis dan berlutut di hadapan Jumong. “Semua ini salahku. Tolong bunuh aku.”
Dengan lemah, Jumong meminta Jae Sa mengumpulkan mayat para pekerja dan mencari jenazah Yuri. Jumong berjalan pergi dengan gontai.
“Kepala Jenderal, temukan orang dibalik kebakaran ini.” perintah So Seo No pada Oyi.
“Ya.” jawab Oyi.

Semua orang merasa sangat sedih dan terpukul. Mereka juga tidak bisa mengenali jenazah Yuri karena semua jenazah terbakar tak berbentuk.
“Paling tidak kita menemukan jenazahnya!” kata Moo Gul sedih.
“Aku bilang, aku tidak bisa mengenali mereka!” seru Mu Song. “Lakukanlah sendiri kalau kau bisa!”
Ketika perdebatan terjadi, Moo Gul melihat dua orang datang. Orang itu adalah Yuri, yang mengarahkan pedangnya ke leher salah seorang penyusup. Yuri tersenyum ketika melihat Moo Gul.
“Pangeran!” seru Moo Gul, berlari ke arah Yuri.
“Pangeran!” Ma Ri mengikuti Moo Gul dari belakang.
Mo Pal Mo mendongak, masih merasa sangat terpukul dan sedih.
Semua orang menarik napas lega melihat Yuri baik-baik saja.
Yuri menendang kaki si penyusup yang ditangkapnya agar penyusup itu berlutut.
Dengan gontai, Mo Pal Mo mendekati Yuri. “Pangeran…” gumamnya lemah.
Yuri tersenyum.

Hyeopbo bergegas menemui Jumong di ruangannya. Jumong sedang bersedih sendirian. “Yang Mulia, Pangeran Yuri masih hidup!” katanya senang.
Jumong langsung keluar menemui Yuri. “Yuri!” kata Jumong, menyentuh wajah putranya itu dengan lega. “Apa yang terjadi?”
“Maafkan aku karena membuatmu khawatir.” ujar Yuri. “Aku melarikan ketika terjadi kebakaran. Aku melihat seorang penyusup dan mengejarnya. Mereka adalah prajurit Han.”
Jumong melihat penyusup yang berhasil ditangkap Yuri. Ia meminta Hyeopbo mengadakan pertemuan istana.

Chan So berlutut di hadapan Jumong dan semua pejabat istana.
“Apa yang dilakukan penjaga gerbang depan ketika para pembunuh dari Han menyusup ke bengkel pandai besi?” tanya Jumong, meminta penjelasan.
“Maafkan aku, Yang Mulia!” ujar Chan Soo menyesal.
“Bengkel pandai besi adalah jantung Goguryeo.” kata Jae Sa, memarahi Chan Soo. “Jika bengkel tidak bisa selamat, maka demikian pula dengan istana! Yang Mulia, kau harus menghukum dia untuk memberi contoh kedisiplinan.”
Jumong akhirnya menurunkan kedudukan Chan Soo sebagai Kepala Gerbang Depan dan memerintahkan Hyeopbo untuk mengurungnya dalam penjara.
Chae Ryeong shock.
Selain itu, Ma Ri juga mengusulkan agar Jumong membatasi akses keluar masuk Goguryeo sampai perang selesai. Jumong setuju.

Onjo dan Biryu melihat paman mereka dibawa ke penjara.
“Semua orang memuji Yuri.” kata Onjo. “Jika bukan karena dia, kita tidak akan tahu siapa yang melakukan itu.”
Biryu diam.
Yuri berjalan melewati mereka.
“Kakak!” panggil Onjo.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Biryu.
“Ya.” jawab Yuri.
“Yang Mulia pasti akan sangat sedih jika sesuatu yang buruk terjadi padamu.” kata Biryu. “Tidur di tempat yang tidak pantas bagi seorang Pangeran juga akan membuat Yang Mulia sedih. Mulai sekarang, berlakulah seperti layaknya seorang Pangeran.”
“Ya.” jawab Yuri tenang.

Chae Ryeong memohon So Seo No agar ia membujuk Jumong memaafkan Chan Soo. Tapi So Seo No menolak. Menurutnya, Chan Soo memang pantas dihukum karena melakukan kesalahan yang fatal.
“Bahkan jika Biryu dan Onjo melakukan kesalahan seperti itu, aku tidak akan meminta Yang Mulia memaafkan mereka.” kata So Seo No tegas.
Chae Ryeong pergi dengan kesal.

Karena kebakaran yang menimpa rumah pekerja, Goguryeo menderita kehilangan besar. Mereka kehilangan para pekerja yang sudah berpengalaman.
“Butuh 10 tahun untuk melatih pandai besi berpengalaman.” kata Mo Pal Mo. “Tidak ada yang bisa mengerjakan pembuatan senjata.”
“Justru itulah yang diinginkan musuh.” kata Jae Sa. “Jika Liaodong dan pasukan bantuan dari Chang An menyerang sebelum bengkel pandai besi diperbaiki, maka itu akan menjadi peperangan yang sulit.”
“Apa ada cara untuk menyelesaikan ini?” tanya Hyeopbo pada Mo Pal Mo. “Jika kau butuh bantuanku, aku akan bekerja di bengkel pandai besi.”
“Itu tidak akan membantu!” kata Mo Pal Mo mengejek.
Jumong berpikir. “Jika pandai besi BuYeo datang kemari, apakah mereka bisa membantu?”
“Walau BuYeo tidak memiliki metode seperti kita, tapi mereka memiliki banyak pandai besi berpengalaman.” kata Mo Pal Mo. “Mereka bisa menggantikan pandai besi kita.”
Jumong akhirnya memerintahkan Ma Ri dan Jae Sa agar pergi ke BuYeo untuk mengantarkan makanan, garam dan obat-obatan yang ia janjikan serta membawa pandai besi BuYeo ke Goguryeo.

Hwang Ja Kyung merasa senang karena prajuritnya berhasil membakar rumah pekerja pandai besi. Ia yakin bahwa Han akan memenangkan peperangan melawan Goguryeo.

Ma Ri dan Jae Sa tiba di BuYeo.
“Kami membawa makanan dan garam seperti yang dijanjikan oleh Yang Mulia.” kata Jae Sa.
“Terima kasih.” ujar Dae So. “Jumong mengatakan bahwa ia akan mengajari kami metode pembuatan senjata. Kapan ia ingin melakukannya?”
Jae So bertukar pandang dengan Ma Ri.
“Apakah ia berubah pikiran?” tanya Perdana Menteri.
“Yang Mulia tidak pernah mengingkari janjinya.” kata Ma Ri. “Kirim pendai besimu ke Goguryeo dan kami akan mengajari mereka.”
“Perdana Menteri, kirim beberapa pandai besi berpengalaman ke Goguryeo bersama para utusan.” kata Dae So. Kena dia!

Chae Ryeong marah besar karena Chan Soo dikurung.
“Aku tahu ini salahmu, tapi Yang Mulia tidak seharusnya melakukan ini pada kita.” kata Chae Ryeong ketika mengunjungi Chan Soo di penjara.
“Tidak.” kata Chan Soo. “Aku membuat Goguryeo mengalami kehilangan besar. Aku siap dihukum.”
“Memecatmmu saja sudah cukup.” kata Chae Ryeong. “Mengurungmu dalam penjara terlalu berlebihan. Aku akan melakukan sesuatu.”
“Jangan ibu.”cegah Chan Soo.
“Aku tidak tahan lagi. Aku pasti akan menyelamatkanmu.” Chae Ryeong berjalan pergi.

Na Ru dan salah seorang pejabat datang ke Goguryeo untuk mengantar para pandai besi. Di sana, Na Ru terkejut melihat Yuri ada dalam barisan pejabat tinggi kerajaan.
Na Ru memerintahkan pengawalnya untuk mencari tahu.
“Sang Chun adalah Putra Raja Jumong, Yuri.” lapor pengawal.
“Apa?! Yuri masih hidup?!”

Hwang Ja Kyung berkunjung ke BuYeo untuk merundingkan masalah strategi menjatuhkan Goguryeo. Hwang mengatakan bahwa ia telah meminta 20.000 prajurit bantuan dari Chang An.
“Akan butuh waktu lama sampai mereka tiba.” kata Perdana Menteri. “Bagaimana jika Goguryeo menyerang terlebih dulu sebelum pasukan bantuan tiba?”
“Goguryeo tidak akan menyerang terlebih dulu.” kata Hwang percaya diri. “Prajuritku menyusup ke bengkel pandai besi Goguryeo dan membunh semua pekerja pandai besi. Mereka tidak akan bisa mempersiapkan perang.”
Dae So sangat terkejut dan marah. Ia merasa di bodohi oleh Jumong dan Goguryeo karena mengirimkan pandai besi ke kesana.
Kemarahan Dae So bertambah parah setelah Na Ru datang dan melapor bahwa Sang Chun ternyata adalah putra kandung Jumong, Yuri.

Ma Oo Ryeong berdoa untuk mengutuk Jumong bersama Seol Ran dan Young Po. Tiba-tiba terjadi angin berhembus kencang dan petir yang menyambar-nyambar. Ma Oo Ryeong tersambar petir dan tewas seketika. Aneh juga nih.

Para pandai besi BuYeo sangat membantu pekerjaan pembuatan senjata di Goguryeo. Keadaan sangat membaik.
Jumong memerintahkan Ma Ri untuk pergi ke OkJo Utara untuk merencanakan strategi perang bersama sekutu mereka itu.
“Yang Mulia, aku ingin mengatakan sesuatu.” kata Yuri.
“Apa itu?” tanya Jumong. Para pejabat lain memperhatikan Yuri.
“Yang Mulia, kenapa terlebih dahulu kita tidak membalaskan dendam pada Han karena membunuh para pandai besi kita?” saran Yuri.
“Pangeran Yuri benar, Yang Mulia.” ujar Oyi setuju. “Kita harus membalas dendam untuk meningkatkan semangat pasukan kita.”
Jumong mengangguk.
“Aku mendengar dari mata-mata kita di Liaodong bahwa kakak Gubernur Liaodong, Hwang Ja Sung, sedang dalam perjalanan menuju ke Liaodong.” kata Yuri. “Jika kau mengizinkan aku memimpin pasukan, aku akan pergi dan membunuhnya.”
“Itu rencana hebat.” kata Jumong setuju. “Aku akan memimpin sendiri pasukan itu. Yuri, kau boleh menemaniku.”
Biryu terkejut, kelihatan tidak senang.

Chae Ryeong dan Yang Tak merencanakan sesuatu. Mereka berdua berkunjung ke kamar Biryu.
“Aku datang kemari karena aku mencemaskanmu.” kata Chae Ryeong.
“Pangeran, tidakkah kau melihat bagaimana Yang Mulia memandang Pangeran Yuri?” tanya Yang Tak memprovokasi. “Ia tidak pernah melihatmu dengan pandangan seperti itu.”
“Apa maksudmu?” tanya Biryu.
“Dia sangat mempercayai Pangeran Yuri lebih dari kau.” kata Yang Tak.
“Ini hanya permulaan.” kata Chae Ryeong. “Ia akan menyayangi Pangeran Yuri lebih dan lebih lagi.” tambah Chae Ryeong memanas-manasi. “Pangeran, ada desas-desus yang mengatakan bahwa Lady Ye Soya akan menjadi Permaisuri setelah ia sembuh. Jika itu terjadi, Pangeran Yuri akan menjadi Putra Mahkota Goguryeo. Apakah kau akan membiarkan itu terjadi?”
Biryu sangat terkejut.
“So Seo No membantu Yang Mulia dan Pasukan Da Mul untuk menetap di Jolbon.” kata Chae Ryeong. “Karena itulah Pasukan Da Mul dan Pasukan Jolbon bisa membangun Goguryeo.”

Untuk memastikan, Biryu bertanya pada So Seo No.
“Jika itu benar, lalu bagaimana denganku?” tanya Biryu. “Bagaimana dengan Onjo?”
“Siapa yang peduli soal posisi Permasuri?” tanya So Seo No. “Apapun posisiku, jika aku bisa mengabdi pada Raja, aku sudah senang.”
“Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.” kata Biryu. “Yuri adalah adikku. Aku tidak akan pernah menyerahkan tahta padanya! Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!”

Jumong, Yuri, Oyi dan pasukan Goguryeo yang lain bersembunyi di pinggir hutan, bersiap menyerang Hwang Ja Sung. Ketika Hwang Ja Sung mendekat, Jumong mengisyaratkan pasukannya untuk menyerang.
Pertarungan berat sebelah terjadi. Pasukan Goguryeo lebih unggul.
Yuri bertarung melawan Hwang Ja Sung. Yuri cukup bisa mengimbangi Hwang Ja Sung, namun belum cukup kuat untuk mengalahkannya. Hwang Ja Sung menendang Yuri dan menjatuhkannya di tanah. Ia hendak menebas Yuri, namun Yuri menahannya.
Jumong melihat pertarungan mereka, kemudian melompat untuk menusuk Hwang Ja Sung. Hwang Ja Sung tewas seketika.

Hwang Ja Kyung marah besar mengetahui kakaknya terbunuh di tangan Jumong. Ia berjanji akan menghabisi semua orang di Goguryeo.

Kesehatan Ye Soya sudah lebih membaik. Ia bahkan sudah bisa duduk di ranjangnya. So Seo No datang menjenguk.
“Aku senang kau sudah sembuh.” kata So Seo No.
“Maafkan aku karena membuatmu khawatir.” ujar Ye Soya.
“Jika kau tidak sembuh, Yang Mulia pasti akan sangat sedih.” kata So Seo No.
“Permaisuri, sekarang aku sudah sembuh. Aku akan segera pergi.” kata Ye Soya.
“Apa maksudmu?” tanya So Seo No. “Sekarang kau sudah bisa bertemu lagi dengan Yang Mulia. Kenapa kau ingin pergi?”
“Aku hanya ingin Yuri bertemu dengan ayahnya sebelum aku mati.” kata Ye Soya. “Jika aku ingin bertemu Yang Mulia, aku pasti sudah datang bertahun-tahun yang lalu. Aku tidak ingin keberadaanku mengganggumu dan Yang Mulia. Aku tidak ingin menjadi batu pengalang untukmu dan Yang Mulia.”
“Kau adalah istri pertama Yang Mulia.” ujar So Seo No. “Kaulah yang seharusnya menjadi permaisuri.”
“Aku tidak bisa.” tolak Ye Soya.
Ho Yeon memberi kabar bahwa Jumong telah kembali setelah berhasil membunuh Hwang Ja Sung.

So Seo No dan Ye Soya menyambut kedatangan Jumong dan yang lainnya.
“Ibu!” panggi Yuri ketika melihat ibunya.
“Istriku..” seru Jumong, senang melihat Ye Soya sudah sembuh.
Biryu kelihatan tidak suka.

Jumong mengajak Ye Soya ke ruangannya untuk berbincang.
“Terima kasih, karena sudah membesarkan Yuri menjadi laki-laki yang kuat.” kata Jumong. “yuri memiliki kemampuan bela diri yang baik dan karakter yang kuat. Ia akan membantuku mengalahkan Han dan membangun negara yang kuat.”
Jumong meraih tangan Ye Soya dan menggenggamnya. “Aku akan menghabisakan sisa hidupku untuk membayar kesalahan yang kulakukan padamu dan Yuri.”

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Biryu pada Chae Ryeong dan Yang Tak.
“Kita harus melenyapkan Pangeran Yuri dan Yang Mulia.” kata Chae Ryeong.
“Kau ingin memberontak?” tanya Biryu.
“Bukan pemberontakan, melainkan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.” kata Chae Ryeong.
“Yang Mulia akn pergi bersama Pangeran Yuri untuk memeriksa perbatasan.” kata Yang Tak. “Saat itulah kita akan bertindak. Setelah kita berhasil, kami akan mengabdi padamu sebagai Raja.”

Jumong, Yuri dan beberapa prajurit Goguryeo berangkat untuk memeriksa perbatasan di desa Tae Bong.
Di tempat lain, Chae Ryeong dan Yang Tak mempersiapkan pasukan untuk melakukan serangan mendadak.
“Jika kita berhasil, kalian semua akan menjadi bangsawan Goguryeo!” seru Yang Tak pada pasukannya.
Biryu melihat mereka dari jauh.

Yeon Ta Bal melaporkan pada So Seo No bahwa Chae Ryeong dan Yang Tak mengerahkan pasukan dari Klan Mal Gal secara diam-diam. So Seo No meminta ayahnya untuk mempersiapkan pasukan.
So Seo No sendiri yang pergi menghentikan mereka.

One comment on “Jumong – Episode 79

  1. mau tanya donk,,,
    sbnr’ya pangeran jumong itu lebih cyank mha cpha sich???
    lady so soe no or lady ye soya,,,

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s