Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 03

Ketika Jang kecil menyentuh pedupaan perunggu, pedupaan itu mulai terbakar. Tapi dia meninggalkan ruangan, tanpa sedikitpun menengoknya. Kemudian, Mokrasu menemukan asap keluar dari pedupaan dan ia bertanya-tanya dengan suara  keras: “Siapa yang menjamah pedupaan ini! SIAPA?!!!”

Sementara itu, Buyo-Sun (keponakan raja) melakukan pencarian di Akademi, akhirnya sampai di kantor Mokrasu, dan di dalam kantor itu ia menemukan sebuah plakat batu pipih dengan teka-teki aneh, menunjuk pada seseorang yang ‘membuat pedupaan terbakar’ yang akan menjadi Raja Baekjae.

Dengan demikian orang-orang dari Akademi dituduh berkonspirasi, menyalahkan mereka untuk ‘badai’ yang merusak Upacara Penobatan Pangeran Mahkota Baru, di mana saudara raja itu akan ditunjuk sebagai pewaris tahta.

Pada perjalanan pulang ke rumahnya,  Jang tidak sengaja mendengar seorang prajurit memberikan perintah-perintah untuk memusnahkan orang-orang dari Akademi Taehaksa. Pada awalnya Jang tetap akan melanjutkan pulang ke arah rumahnya, namun ia mengingat pesan ibunya untuk mendapatkan respek dari Mokrasu. Jadi, ia berbalik, lari menjumpai Mokrasu dan ia mengatakan kepada Mokrasu apa yang dilihat dan didengarnya dari prajurit tersebut.

Mokrasu pertama tidak begitu saja mempercayai Jang, namun Jang memberikan nama-nama ilmuwan yang akan dibunuh oleh para prajurit tersebut, sehingga Mokrasu mau tidak mau menjadi terkejut dan percaya kepadanya karena Jang sama sekali belum mengetahui nama-nama ilmuwan inti dari Taehaksa. Selekasnya Mokrasu memberitahu para koleganya, yang merupakan Ilmuwan-ilmuwan inti dari Taehaksa untuk melarikan diri dan bertemu di hutan di luar kota Savisong.

Para prajurit dari Buyo-Sun dipimpin oleh Heukjipyung datang ke Akademi Taehaksa dan langsung menyebar mengepung Akademi, beberapa dari prajurit memasuki kamar-kamar, membantai setiap orang yang mereka temui tanpa pandang bulu, dan menangkap beberapa ilmuwan yang tidak sempat melarikan diri.

Mokrasu, Jang, dan para ilmuwan yang berhasil melarikan diri akhirnya bertemu di hutan di luar kota Savisong, dan ternyata benar, beberapa ilmuwan inti ada yang terbunuh dan ada juga yang tertangkap oleh para prajurit. Mereka bersedih atas nasib para rekannya. Ada yang bertanya ke mana sekarang mereka harus pergi berlindung. Mokrasu bingung, tetapi Jang mengusulkan untuk pergi ke Achak, di dekat sana ada satu gua besar yang tersembunyi, dan pasti aman buat mereka untuk sementara, sambil memikirkan langkah selanjutnya.

Kembali ke Akademi, Heukjipyung bertanya kepada seorang anggota Taehaksa di mana Moraksu, tetapi ia menjawab tidak tahu, Heukjipyung langsung menyabetkan pedangnya, kemudian ia bertanya lagi di mana Mokrasu kepada seseorang di samping orang pertama, yang ternyata adalah asisten Mokrasu yang pergi menjemput Jang, ia mengatakan kalau Mokrasu mengenal seorang anak berumur 10 tahun, dan mungkin Mokrasu ada di tempat anak itu, Heukjipyung bertanya lagi siapa anak itu, asisten itu menjawab kalau anak itu adalah anak dari Yungamo, bekas penari istana.

Jang membawa para pelarian dari Taehaksa bersembunyi di goa, kemudian ia berpamitan kepada Mokrasu untuk pulang menemui ibunya. Ketika Jang pergi, Mokrasu merasa hatinya tidak enak.

Jang lari menuju rumahnya sambil berteriak memanggil ibunya, namun tiba-tiba ada seseorang membekap mulutnya dan menyeretnya untuk lari, sebentar saja muncul para prajurit mengejar mereka. Jang menoleh melihat Mokrasulah yang menyeretnya pergi, mereka berdua lari secepat-cepatnya menghindari pengejaran dari para prajuirt.

Mokrasu merasa kecapaian dan tak sengaja kakinya tersandung sehingga ia jatuh terguling dan pingsan. Yungamo (menangis diam-diam)  merawat Mokrasu di dalam sebuah goa kecil.  Mokrasu siuman, tetapi ia pura-pura masih tidak sadarkan diri, Yun menyuapinya dedaunan obat.  Yun meninggalkannya di dalam goa. Mokrasu bangkit dan pergi ke goa di mana anggota Taehaksa lainnya berada. Mereka berunding kemana sekarang mereka harus pergi,

Mok: Satu-satunya tempat di mana kita aman adalah Shilla.

Lainnya: Shilla ?

Mok: Benar Shilla, karena pasukan Buyo-Sun tidak akan berani menyeberangi perbatasan Shilla, dan selain itu kita akan suilt dikenali di sana asalkan kita berganti pakaian Shilla.

Saat mereka berunding, dua prajurit mendatangi tempat mereka, Mokrasu dan yang lainnya sangat terkejut, namun di belakang mereka Maekdosu berkata kalau mereka adalah kawan sendiri. Mereka berhasil mencuri seragam prajurit.

Akhirnya diputuskan mereka akan menuju Shilla dan akan tinggal di sana sampai kondisi di Baekje memungkinkan mereka untuk kembali lagi.

Pagi hari, sebelum keberangkatan para pelarian dari Taehaksa berangkat menuju Shilla, Mokrasu menemui Yungamo.

Yungamo: Tolong, Anda menjaga Jang … Jaga Jangku.

Mokrasu: Mengapa? Mengapa? Katakan padaku mengapa? Aku sangat yakin perasaanmu kepadaku tidak berubah, perasaan itu masih ada seperti dulu … Jadi mengapa kau tidak  ikut denganku? Apakah ini untuk menghormati ayah Jang? Apakah seperti  itu? Jika itu sebabnya, kau seharusnya tidak membiarkan aku melihat anak itu ! Kau seharusnya tidak mengutus Jang kepadaku dan menyuruhnya untuk mengakuiku sebagai ayahnya ! Anak itu membawa duniakku pegi menjauh dari diriku!

Jang: Itu bukan kemauan ibuku, aku sendiri yang menyangka dirimu itu ayahku. Jangan ganggu ibuku.

Yun: Jang !

Mokrasu: …. (pergi meninggalkan mereka berdua)

Setelah Mokrasu pergi, Yungamo mengatakan pada Jang bahwa dia tidak bisa pergi bersamanya karena jika itu terjadi maka ayah Jang tidak akan dapat menemukan mereka. Dia tidak bisa mengatakan kepada Jang  siapa dia sekarang. “Namun, bila kamu sudah berumur dua puluh tahun, temui ibu di sini, dan ibu akan memberitahumu.”

Untuk saat ini, Yun memerintahkan Jang untuk mengikuti Guru Mokrasu, dan berusaha mendapatkan rasa hormat darinya. “Kamu harus menjadi orang yang hebat. Itulah satu-satunya cara agar kamu dapat bertemu ayahmu ” setelah berkata demikian, Yun memberikan Jang kalung Taehaksa yang menjadi  identitas dirinya, dan ‘kalung Oh Saek Ya Myong Ju’. “Kalung ini diberikan oleh ayahmu. Jangan tunjukkan ini kepada siapapun!”.  Saat ini adalah saat di mana Jang menyadari untuk pertama kalinya bahwa ia juga memiliki ayah di suatu tempat … dan ia berharap bertemu suatu hari nanti! Ia senang berpisah dengan ibunya.

Para anggota Taehaksa menanti di pinggir sungai untuk perahu yang akan mengantarkan mereka ke daerah Shilla. Ketika perahu tiba, mereka naik satu persatu, namun saat giliran Moraksu, ia hanya berdiri dan memandang ke arah desa di mana Yungamo tinggal, seakan-akan berharap kalu Yungamo mengubah pikirannya dan pergi bersama-sama dengan mereka ke Shilla.

Sementara itu, setelah ditinggal pergi oleh Moraksu dan Jang, Yungamo ingat masa-masa di mana ia dan Mok menjadi sepasang kekasih, saling memadu kasih, saling menggoda. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk merubah jalan pikirannya.  Untuk sekali ini saja, dirinya memutuskan untuk mengikuti dorongan hatinya dan menjadi bahagia.

“Aku akan pergi denganmu!”- Yun berseru, dengan sukacita di matanya. Tapi saat ia berlari menuju mereka layaknya seorang gadis kecil, tentara Buyo-Sun datang menyusul di belakangnya.

Orang-orang di perahu berteriak-teriak memperingatkan Yun, Jang berusaha turun dari perahu, Mok terpana, Yun masih berlari-lari ketika sebatang panah akhirnya menancap di punggungnya, ia tersungkur jatuh, namun masih sempat memandang Mokrasu, yang diseret naik perahu oleh anggota Taehaksa lainnya, dan akhirnya ia memandang Jang, yang menangis dan berusaha memberontak dari orang-orang di perahu yang memeganginya.

Yun (dalam hati): Jang! Berbahagialah Jang!

Perlahan-lahan Yun membalikkan badannya dan menatap angkasa sampai kematian menjemputnya.

Perahu yang berisi Jang, Mokrasu,  dan anggota Taehaksa meninggalkan Yun dan prajurit Buyo-Sun. Mereka berlayar menyusuri sungai  menuju ke arah Shilla.

Setelah di Shilla, Jang melakukan tindakan “memberontak”,  tidak mematuhi segala sesuatu dan semua orang, terutama ketika itu menyangkut dengan peraturan yang ditetapkan oleh Mokrasu. Di matanya,  ‘guru’  inilah  yang harus disalahkan atas kematian ibunya. Selain itu, ia tidak dapat mengerti bahwa sementara ia memiliki seorang ayah di tempat lain, ‘guru’ ini dan ibunya berkelakuan sebagai sepasang kekasih …

Dalam satu kesempatan,Jang melarikan diri setelah dimarahi oleh Mokrasu, dalam pelariannya ia merasa kelaparan dan beberapa kali berusaha untuk mencuri makanan dari seorang anak kecil, dan juga dari pedagang kue, namun selalu ia teringat oleh ajaran ibunya sehingga ia membatalkan niatnya.

Satu waktu ia beristirahat di dekat sebuah gubuk, dan ia bertemu seorang pria dengan dandanan pengemis yang dirantai kakinya, yang memberinya uang untuk membeli makanan dan juga alat pertukangan untuk memutuskan rantai di kakinya. Jang senang sekali, tanpa mencuri ia bisa mendapatkan makanan, sehingga Jang menyanggupi permintaan orang itu. Jang pergi ke pedagang kue yang tadi ia mau lakukan pencurian, ia membeli sebuah kue beras dan memakannya dengan lahap, kemudian berkeliling ke pasar untuk membeli kikir, kemudian kembali ke tempat orang yang tadi memberinya uang. Tapi kemudian, orang ini ditangkap oleh penjaga Shilla bersama dengan Jang. Orang ini dan banyak orang yang ditangkap lainnya ternyata adalah para  budak yang melarikan diri dari Cina.

Mokrasu, dan Mojin melihat kalau Jang tetangkap oleh prajurit Shilla dan dianggap salah satu budak dari Cina. Mokrasu, Mojin, dan Maekdosu berusaha membebaskan Jang dengan menyuap salah seorang petugas dengan sebuah patung emas hasil kerajinan mereka. Namun tak dinyana petugas itu berkhianat dan melaporkan mereka sehingga mereka ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara satu sel dengan Jang, dan dianggap sebagai budak dari Cina juga.

Petugas yang disuap itu berusaha menjual patung emas, namun ia ketahuan dan tertangkap oleh prajurit dari Kim Saheum yang curiga dengan kualitas patung itu berasal dari Baekjae, ia di bawa ke hadapan Kim Saheum dan dipaksa bicara, petugas itu mengatakan kalau ia mendapat patung itu dari orang-orang yang berusaha membebaskan salah seorang budak dari Cina.

Sementara itu di penjara, Mokrasu, Mojin, Jang, dan Maedoksu digiring keluar dan akan diserahkan kembali ke para pedagang dari Cina. Mereka pasrah karena tidak ada yang bisa dimintai bantuan. Namun tiba-tiba Kim Saheum datang dengan petugas yang disuap itu dan menyelidiki orang-orang yang baru dikeluarkan dari penjara.

Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s