Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 04

Smentara itu di penjara, Mokrasu, Mojin, Jang, dan Maedoksu digiring keluar dan akan diserahkan kembali ke para pedagang dari Sui (China). Mereka pasrah karena tidak ada yang bisa dimintai bantuan. Namun tiba-tiba Kim Saheum datang dengan petugas yang disuap itu dan menyelidiki orang-orang yang baru dikeluarkan dari penjara.

Kim Saheum: Tunggu ! Berhenti !

Kim Saheum (Mengambil patung emas): Siapa yang membuat ini ?

Mokrasu dan Mojin gelisah karena takut dikenali.

Petugas yang disuap itu mendekati mereka dan mengenali Maekdosu. Ia kemudian menunjuknya, “Itu orangnya”

Mokrasu, Mojin, Maekdosu, dan Jang digiring keluar penjara

Maekdosu: Bukan, Aku tidak membuatnya! Aku bersumpah, aku mencurinya!

Kim Saheum: Mencurinya? Dari mana ?

Maekdosu (gelisah dan gugup): Di .. suatu daerah … Jin …. atau Kyung …

Kim : Kamu bohong ! Kenapa kamu tidak menjualnya sesampainya kamu di Shilla?

Maekdosu: Jika kau bertanya mengapa aku tidak menjualnya di Shilla …. Aku tidak mengingatnya ….

Kim: Kamu datang ke Istana Shilla dan tidak menjualnya. Lalu apakah kamu mencoba untuk menjualnya ke Baekjae atau Jepang ?

Maekdosu: Kami hanya para budak jadi tidak tahu hal-hal semacam itu.

Kim: Aku mengerti! Bawa mereka ke para pedagang dari Sui ! (Ya!)

Mokrasu: Kami yang membuatnya! (Mojin dan Jang kaget) Nenek moyang kami adalah para ilmuwan dari Shilla, membuat barang-barang tradisional  untuk Istana Shilla sejak Dinasti Yang. Ketika kami menyeberang ke Sui (China), kami dijadikan budak. Dikarenakan kekerasan yang kami alami tak tertahankan lagi, kami mengambil kesempatan untuk  lari kembali ke Shilla.

Kim tertegun mendengar cerita Mokrasu, “Aku mengerti. Penjarakan mereka untuk saat ini. Aku akan mengetahui jika mereka berkata jujur.”

DI PENJARA

Prajurit: Keluarlah sekarang! Kamu semua dikirim kembali ke para pedagang dari Sui. (Mokrasu, Mojin, Jang, dan Maekdosu kaget)

Saat mereka keluar dari penjara, mereka berempat diikat dan kemudian diseret ke tempat yang berbeda dari para budak lainnya. Ternyata mereka dibawa ke suatu tempat seperti tempat produksi untuk menemui Kim Saheum.

Kim: Jawab pertanyaanku! Cermin tembaga saat ini sangat populer di Sui (China), tetapi Sui selalu mengukir pola unik mereka, apa itu?

Mok: Pola itu adalah Sasoo, Sashin, dan Danhwa.

Kim: Buatlah itu!

Mok: Baik. (Ikatan Mok dilepas)

Kim: Penuhi permintaan akan barang-barang dari Istana! Kalian bukan lagi budak. Aku sendiri yang akan mengeluarkan kartu identitas untuk kalian. Sediakan barang-barang terbaik untuk Istana.

Maekdosu: Untuk kami, jika Anda dapat menyediakan toko kecil untuk kami, kami dapat menjual barang-barang sisa kami untuk menyokong diri kami sendiri.

Kim (berpikir): Aku akan mengijinkannya.

Mokrasu, Mojin, Jang, dan Maekdosu lega dan senang mendengarnya.

Maekdosu: Terima kasih ……

Kim (tertawa senang): Sungguh suatu masalah bagi kami bahwa kami tidak memiliki ilmuwan yang menguasai teknolgi dari Sui (China), namun sekarang itu terpecahkan dengan cara yang tidak terduga sama sekali. (Kepada para prajurit) Lepaskan ikatan mereka (Baik Tuan).

Para prajurit melepaskan ikatan mereka, Kim pergi meninggalkan mereka dengan tertawa terbahak-bahak karena hatinya senang.

Maekdosu: Mojin, Mokrasu, kita selamat ….

Mereka berempat kembali ke Haneuljae,

Maekdosu (ke Mokrasu): Bagaimana itu menjadi sedemikian mudahnya? Bagaimana kau memiliki ide sedemikian brilian? Aku sudah berpikir bahwa kita akan dikirim pergi ke Sui (China) sebagai budak-budak, dan kemudian dibunuh. Aku sangat cemas.

Mojin: Bukan cuma itu.

Maekdosu: Apa maksudmu ‘bukan cuma itu’ ?

Mojin: Sekarang kita akan sering pergi ke Istana Shilla, jika kita tertangkap itu adalah akhir dari kita.

Maekdosu: Akhir? Kita mati?

HANEULJAE

Malam harinya Mokrasu mengumpulkan semua anggota Haneuljae untuk mengadakan pertemuan.

Mok: Sekarang kita harus menyediakan barang-barang ke Istana Shilla. Kita harus menjaga kerahasiaan kita, dan barang-barang itu harus tidak memiliki jejak dari budaya Baekjae.

Bumsang: Guru, aku ingin pergi ke Istana, sehingga aku dapat mempelajari gaya seni dari Shilla.

Mok: Baiklah. (Menoleh ke Jang) Sampai Jang bersungguh-sungguh menyadari kesalahannya, kalian semua bergantian mengawasinya.

(Para anggota Haneuljae sibuk dengan tugas masing-masing untuk memproduksi barang-barang untuk Istana Shilla)

Mokrasu, Bumsang, dan beberapa anggota dari Haneuljae akan berangkat ke Istana Shilla dengan maksud mengantar barang-barang untuk Istana.

Mojin: Tolong berhati-hatilah!

Wosoo: Berhati-hatilah.

Mokrasu: Ya.

Maekdosu (ke Bumsang): Kau harus menjaga dirimu sendiri. Kau tahu kau adalah segalanya yang kumiliki.

Bumryo: Ayah! Bagaimana dengan aku … aku?

Maekdosu: Kakakmu menjadi seorang pengrajin ahli  pada umur 14 tahun dan dia adalah kebanggaan keluarga kita, kau dan aku tidak ada yang harus dikhawatirkan. (Cih …)

Moraksu: Ayo, kita berangkat sekarang !

Para Anggota Haneuljae: Kembalilah dengan selamat !

Mojin menengok Jang di tempat Jang dihukum, namun Mojin terkejut melihat tempat itu kosong.

Mojin: Jang …. Jang lagi-lagi ….

(Jang berembunyi di almari yang dibawa oleh salah satu anggota Haneuljae yang berangkat bersama-sama Moraksu)

ISTANA SHILLA

Mokrasu menyerahkan barang-barang dari Haneuljae ke Istana. Jang masih ada di dalam lemari yang dikirim ke Istana Shilla. Lemari itu diletakkan di aula tempat latihan para penari Istana.

(Seorang anak perempuan datang ke aula untuk berlatih menari, Jang mengintip dari dalam lemari).

(Jang merasa seakan-akan ia ada di awang-awang dan dunia ini juga seakan-akan berputar)

Sementara itu penjaga toko Haneuljae di pasar Shilla, Asoji, sedang kebingungan, ia sangat lega ketika melihat Mokrasu datang, “Guru …. kita ada masalah”

Mok: Ada apa?

Asoji: Jang hilang! Kami baru mengetahuinya setelah Anda pergi. Manamojin dan anggota lainnya pergi mencarinya ke seluruh pasar untuk menemukannya sekarang.

Mok: Aku mengerti, ayo kita cari dia juga!

(Jang datang dengan rupa linglung)

Asoji dan Bumsang: Jang!

Mok (membentak): Pikiranmu tidak waras, kau gila!

Bumsang: Jang! … Jang !

HANEULJAE

Maekdosu: Apakah ini penyakit?

Gomo: Yah, aku tidak mengerti ini?

(Jang tiba-tiba bangun dan duduk seakan-akan ingin muntah)

Bumsang: Apa yang salah?

Maekdosu: Apa yang kau makan saat pergi keluar?

Jang: ….

Maekdosu: Atau apa  yang telah kau lakukan?

(Jang duduk dan seakan-akan mau muntah lagi, yang lain keheranan)

Mojin: Dia berpura-pura, dia tahu kalau akan dihukum, karena itu dia berpura-pura seperti itu.

Gomo: Aku tidak tahu penyakit apa ini, tapi ini terlihat sungguhan daripada dibilang berpura-pura.

Mojin (ke Mokrasu): Kau harus menghukumnya dengan berat daripada mengurung dia di kamarnya. Kita harus mengikatnya erat-erat (dengan peraturan) atau mengusirnya. Kita tidak akan tahu kapan dia akan melarikan diri lagi dan membuat kita dalam bahaya.

Bumsang: Dia sakit!

Mojin: Dia berpura-pura!

Bumsang: Dia tidak memalsukan hal seperti ini. Dia baru saja kehilangan ibunya, tetapi apa yang kita bicarakan dengannya hanyalah undang-undang dan peraturan. Biarkan dia tinggal bersama saya.

Mojin: Tidak bisa.

Mokrasu (menghela napas): Pindahkan Jang ke kamar Bumsang!

KAMAR BUMSANG

Mokdaesu (menyuapi Jang): Aak …. (Jang tidak mau membuka mulutnya) Kau berpura-pura ya ..

Bumro: Ayah, tidakkah kau tahu bahwa sungguh menjengkelkan ketika seseorang sakit tapi dia dituduh berpura-pura ?

Maedoksu: Mengapa kau berteriak pada ayah !

Bumro: Ketika kakak sakit kau sangat cemas, ketika aku sakit kau katakan kalau aku berpura-pura.

Modaeksu: Bukankah kau memang selalu berpura-pura sakit?

Bumro: Aku tidak melakukannya. Aku sakit ketika aku sakit.

Modaeksu: (memukul kepala Bumro) Dasar bodoh! Harusnya kau tahu sekarang kalau pura-puramu itu tidak akan pernah bisa menipuku. Aku selalu melakukannya seumur hidupku jadi aku tahu semua tipuan itu. Tidak akan pernah membuatku tertipu (meninggalkan kamar).

Bumro (ke Jang): Hey, kau berakting seperti sungguhan. Makan ini sekarang, sekarang. Aku akan katakan pada mereka kalau aku yang memakannya. Makanlah … makanlah.

(Bumsang masuk kamar mengawasi Jang).

Tengah Malam

(Bumsang bangun dan melihat kalau tempat tidur Jang kosong, ia lantas keluar untuk mencari Jang, ia menemukannya di tempat tungku-tungku pembakaran sedang melakukan sesuatu, Bumsang tidak memanggilnya, ia ingin tahu apa yang sedang dilakukan Jang malam-malam begini)

(Jang tidak sadar kalo Bumsang mengawasinya, ia pergi ke sana ke mari mengumpulkan benda-benda, ia melihat beberapa panci penggodokan. Jang duduk dan membaca buku resep, namun tidak mengerti dan memukul-mukul kepalanya)

Bumsang: Itulah mengapa kau harus belajar dengan keras. Kau sekarang tidak dapat melakukan sesuatu yang ingin kau lakukan. Jang, kau ingin aku mengajarimu?

Jang: Butuh berapa lama?

Bumsang: Yah, untuk dapat membaca semua buku yang ada di tempat ini, kira-kira 1-2 tahun.

Jang: Tidak, aku tak ingin melakukannya.

Bumsang: Maukan kamu kuajari membuat sesuatu?

Jang: Apakah kau tahu apa yang ingin kubuat ?

Bumsang: Melihat benda-benda yang kau curi sejauh ini, aku dapat dengan mudah menebaknya.

Jang: Sungguh?

Bumsang: Tapi,  kembalikan dulu  sarang madu yang sudah kau curi ke tempat asalnya. Ilmuwan Gomo benar-benar membutuhkan sarang madu besok. Aku akan mengajarimu bagaimana mendapatkan bahan-bahan itu.

Jang: Benarkah kau akan mengajariku?

Bumsang: Tentu! Aku akan mengajarimu.

Jang: Baiklah.

Bumsang: Omong-omong, kenapa kau mau membuat ‘itu’?

Jang: Ada saja!

(Besok paginya Jang mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan membuat ‘itu’, dari kejauhan Mokrasu dan Mojin melihat Jang sedang menumbuk bahan-bahan dan mereka heran.)

Malamnya

Bumsang: Walaupun aku mengajari kamu ….

Jang: Mengapa, apa ada sesuatu yang salah?

Bumsang: Tidak, kaulah orangnya yang belajar bermacam-macam hal dengan sangat cepat. Ini yang terbaik!

Jang: Benarkah?

(Bumsang tertawa dan menganggukkan kepalanya membenarkan. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan suatu benda dan menyerahkannya kepada Jang.)

Jang: Apa ini?

Bumsang: Bukankan ‘itu’ untuk seseorang?

Jang: Bagaimana kau tahu?

Bumsang: Taruh ‘itu’ ke dalam tempat ini.

Jang sangat senang sekali.

Beberapa hari kemudian

Bumsang dan beberapa anggota Hanuljae akan mengirimkan barang-barang ke Istana lagi.

Mojin (ke Bumsang): Kau sangat teliti, jadi aku tidak khawatir. Tetapi Guru tidak bersama kalian, jadi kalian harus tetap waspada.

Bumsang: Baik.

Suara Jang: Kirim aku bersamanya. (Jang lari menghampiri mereka)

Mojin: Apa yang kau katakan? Kau tidak akan pergi ke mana-mana

Jang: Aku tidak akan tertangkap. Ijinkan aku pergi bersamanya.

Mojin: Tidak bisa, aku tidak akan mengijinkanmu.

Maekdosu: Biarkan saja ia pergi, ia benar-benar menginginkan untuk pergi. Dia sudah lebih baik sekarang kondisinya. Dia bisa saja melarikan diri ….

Mojin: Ilmuwan Maekdosu…

Maekdosu: Apa yang ingin kukatakan adalah, sejak ia tinggal bersama kami, perilakunya berubah lebih baik.

Mojin: Tidak bisa.

Bumsang: Aku akan bertanggungjawab.

Mojin: Apa kamu ingin melanggar peraturan?

Bumsang: Mempercayai juga salah satu dari aturan kita. Sudah lama Jang tidak melakukan hal-hal yang bodoh, dan dia belajar dengan giat. (Mokrasu datang) Guru …

Mokrasu: Aku mengerti, tapi kau harus memegang kata-katamu!

Bumsang: Baik, Aku mengerti. (Jang senang mendengar ia diperbolehkan ikut Bumsang ke Istana)

Mokjin: Guru …

Mokrasu: Pergilah ..

ISTANA SHILLA

Seketaris Bagian Persediaan : Piring-piring harus diantar ke Istana bagian Utara, tolong kirimkan ke sana.

Bumsang: Baik. (Bumsang ini naksir si sekretaris, mau kasih tempat gincu dan isinya tapi sedikit takut-takut dan malu-malu 😀 )

Jang: Kakak, aku ingin pergi sebentar saja, aku akan kembali secepatnya.

Bumsang: Cepat ya !

(Sementara Jang mau menemui gadis kemarin di Istana, ia melihat kalau Bumsang juga mau menyerahkan tempat gincu dan isinya ke sektretaris, ia tertawa sendiri melihat tingkahnya Bumsang)

(Jang kembali ke aula di mana ia bertemu anak perempuan yang menciumnya, di sana ia melihat ada pelajaran menari, Jang mencari-cari dan menemukan si dia, anak perempuan itu juga melihat Jang dan memberinya kode untuk pergi ke ruangan sebelah, Jang mengangguk tanda mengerti)

Jang pergi ke ruangan sebelah, tapi tiba-tiba para pengawal istana menangkapnya.

Soochong: Siapa kamu?

Jang: Aku, Aku ….

Soochong: Siapa kamu menyelundup masuk ke Wisma para wanita?

Jang: Aku, Aku …

Penjaga: Dia mencurigakan. Dia harus diinterogerasi.

Jang: Bukan, aku mengirimkan barang-barang dari Naesung.

Soochong: Jika kamu datang ke sini hanya untuk  mengirim barang, bagaimana kamu bisa masuk jauh ke dalam sini?

Jang: Itu, Itu karena ….

Soochong: Katakan padaku sekarang!

Jang: Kau tahu …

Soochong: Ah ha … ini bukan seperti sangkaanmu itu. Bawa dia ke ruangan tersendiri. Anak ini perlu dicambuk. Lucuti pakaiannya! (Baik Tuan).

(Mereka membawa Jang ke suatu ruangan dengan mata tertutup dan celananya diturunkan sehingga pantatnya kelihatan. Pantatnya Jang mulus boq :P)

Soochong: Bicara yang jujur!

Jang: ….

Soochong: Cambuk dia !

Penjaga: Baik.  Satu.

Jang (menangis kesakitan): Aku minta maaf …

Penjaga: Dua.

Jang: Aukh…. Aku minta maaf … Aku hanya mencari seorang anak perempuan… Aku minta maaf.

(Terdengar suara tertawa anak-anak perempuan di belakang Jang, Jang langsung otomatis menutupi pantatnya yang telanjang dan salah tingkah :D)

Soochong: Lepaskan dia.

(Salah seorang penjaga melepaskan ikatan di tangan Jang, Jang langsung melepaskan penutup matanya dan berbalik, ia kaget sekali karena banyak anak perempuan yang melihat ke arahnya sambil tertawa terbahak-bahak, Jang langsung kelabakanh dan berusaha membetulkan celananya.)

(Jang juga melihat anak perempuan yang menjebaknya tertawa paling keras.)

Soochong: Kau sungguh bodoh! Aku akan memaafkanmu kali ini. Jangan pernah kembali lagi kemari, kau mengerti!

Jang: Iya… Iya. (Jang lari keluar)

DI BENGKEL KERJA ISTANA SHILLA

(Chungjak datang ke Istana dan berpapasan dengan Jang ketika dia mau menuju ke bengkel kerja istana untuk menemui Jingol, Pegawai Istana Tingkat Tinggi dan Kepala Bengkel Kerja Istana, Kim Saheum)

Kim Saheum: Kenapa kau datang kemari tanpa pemberitahuan?

Chungjak: Aku diperintahkan untuk mencari batu-batu dengan kualitas yang baik. Aku sedang mencarinya di gunung dan mampir kemari.

Kim: Bagaimana jika mereka memergoki jika kau adalah mata-mata dari Shilla.

Chung: Taehaksa sekarang dalam kondisi buruk.

Kim: Apa?

Chung: Ketika Buyo-Sun berusaha membunuh Mokrasu, mereka berhasil melarikan diri.

Kim: Apa?

Chung: Mereka mungkin melarikan diri ke arah Shilla atau Ko-Kuryo.

Kim: Apa? Jika mereka ada di Shilla, ini adalah kesempatan emas bagi kita! Baekjae memiliki teknologi pertanian yang terbaik saat ini, itulah kenapa kau menyusup ke Taehaksa.

Chung: Bukan hanya teknologi pertanian, Mokrasu menguasai semua teknologi. Jika Mokrasu datang ke pihak kita, kita akan dapat mengambil alih posisi pimpinan perdagangan, tidak hanya dengan Jepang tetapi juga dengan Chuncook (India).

Kim: Baiklah aku mengerti. Apakah kau akan tinggal di sini untuk beberapa waktu?

Chung: Ya.

ISTANA BAEKJAE

(Para menteri dan bangsawan berkumpul di Balairung Istana)

Haedoju: Yang Mulia, meskipun penobatan batal dikarenakan insiden yang buruk, Pangeran Aja sudah mati, dan posisi Putra Mahkota tidak dapat kosong untuk waktu yang lama.

Raja Weeduk: Aku harus menemukan tubuhnya! Bahkan jika benar peristiwa pada saat penobatan itu adalah hasil karya pemberontakkan Taehaksa, Aku pikir itu mungkin adalah hukuman dari Langit karena terburu-buru melakukan penobatan Putra Mahkota yang baru, padahal tubuh Pangeran Aja masih belum diketemukan. Apalagi, saudaraku Buyo-Gae sudah melakukan segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas Putra Mahkota. Sampai tubuh Pangeran Aja ditemukan dan diadakan upacara penguburan untuknya, penobatan Pangeran Mahkota yang baru ditunda.

Wangoo: Tapi Yang Mulia ….

Buyo-Sun: Anda berkata benar, Yang Mulia,  Dia adalah Pangeran Mahkota dari Baekjae yang Besar, Anda harus melakukan hal itu untuk menekan rumor yang beredar di antara rakyat. Hamba akan mengirim pasukan dari Weesabu, dan akan mendapatkan kembali tubuh dari Pangeran Aja.

DI KEDIAMAN BUYO-SUN

Buyo-Sun: Sekarang kita mendapatkan persetujuan resmi dari Baginda Raja untuk mencari Pangeran Aja.

Heukjipyung: Maaf? Bagaimana bisa?

Sun: Siapkan pembawa pesan untuk Jepang.

Heuk: Baik… Tuan, tolong lihat ini.

(Pedupaan dan tutup kotak dari batu yang berukir nubuat tentang Raja Baekjae diserahkan ke Buyo-Sun).

Heuk: Benda-benda ini ditemukan di bengkel kerja Mokrasu.

ISTANA SHILLA

(Putri Sunhwa bersembunyi, para Pengawal Raja bingung mencarinya, Jang membantu Putri Sunhwa menghindari para pengawal. Setelah para pengawal pergi, mereka berdua keluar dari persembunyian dan pergi ke satu paviliun).

Sunhwa: Terima kasih karena sudah membantuku.

Jang: Aku tidak menyelamatkanmu untuk mendengar itu. (Lalu?) Aku menyelamatkanmu untuk membalas dendam demi diriku sendiri.

Sunhwa: Balas dendam?

Jang: Kau yang pertama kali menciumku dan kau mempermalukan aku, aku tak dapat menahannya lagi!

Sunhwa: Jika kamu tidak dapat menahan dirimu lagi, apa yang akan kamu lakukan?

Jang: Aku akan membalasmu!

Sunhwa: Membalasku? Bagaimana caranya?

Jang: Balikkan tubuhmu (Apa?) Tunjukkan padaku pantatmu! (Apa?) Kalau tidak aku akan berteriak, aku akan berteriak kalau kau ada di sini.

Sunhwa: Jangan … Jangan lakukan itu.

Jang: Kalau begitu balikkan tubuhmu!

Sunhwa: Mengapa ? (Wajahnya memelas)

Jang (merasa kasihan): Kalau begitu tutup matamu. (Sunhwa berpikir) Kataku tutup kedua matamu!

(Sunhwa menutup kedua matanya, Jang mengeluarkan tempat gincu, membukanya, dan mengaduk sebentar dengan jari tangannya kemudian mengoleskannya di bibir Sunhwa, ce’ileh kecil-kecil dah romantis :P)

Jang: Ibuku dulu adalah seorang penari. (Putri Sunhwa membiarkan Jang mengoleskan gincu di bibirnya)

Jang: Ketika kau terlalu lama menari dan berlatih dengan keras, kau akan haus dan bibirmu akan  pecah-pecah. (Sambil menyerahkan tempat gincu) Pakai ini jika kau membutuhkannya.

(Putri Sunhwa mengangguk dan menerima tempat gincu itu dengan senang).

Jang: Hari kemarin, aku datang untuk memberikan itu untukmu.

Petangnya

(Jang dan Sunhwa menyaksikan Ritual Nahjungje, ritual untuk mendoakan hasil panen yang baik)

Jang: Apa? Kau harus melakukan penghormatan seperti itu selama tiga hari?

Sunhwa: Ya, kata mereka kita harus berdoa kepada Dewa Air.

Jang: Tapi tiga hari itu terlalu lama.

Sunhwa: Karena itulah aku melarikan diri.

Jang: Apakah mereka tetap akan mengijinkanmu untuk menari setelah kau melarikan diri seperti ini?

Sunhwa: Aku tidak memikirkan seperti itu, karena aku adalah anggota yang termuda, maka akulah yang akan mempersembahkan air Najeong ke Surga.

Jang: Aku senang dengan keberanianmu. Aku ingin sekali melihatmu menari lagi. Selain ibuku, kau adalah gadis yang tercantik.

Sunhwa (sedikit tersinggung): Kalau begitu pergilah dan lihatlah ibumu menari.

Jang (bersedih): Dia sudah meninggal. (Sunhwa terkejut) Aku sungguh menyukai hari-hari di mana ibuku menari dan aku menjual ubi. Tapi karena orang jahat itu …. (Orang jahat?) Yeah, jadi aku akan terus mengganggunya seumur hidupku.

Sunhwa (berpikir): Ah, aku punya ide bagus.

(Sunhwa membawanya ke aula perlengkapan istana dan memberinya sebuah pakaian)

Jang: Apa itu?

Sunhwa: Pada saat hari perayaan Najeong, datanglah ke Wisma Najeong. Dan katakan kalau namamu Kim Doham, maka kamu akan dapat melihatku menari.

Jang: Kim Doham?

Sunhwa: Ya, jadi jangan terlambat, Seodong! (Seodong?) Katamu kau sangat menyukai hari-hari di mana ibumu menari dan kau menjual ubi. Jadi aku akan memanggilmu Seodong mulai sekarang. Seodong, seorang anak yang menjual ubi. Jadi jangan berpikir untuk mengganggu seseorang. Itu hal yang jelek. (Jang menuruti kata-kata Sunhwa)

DI SEBUAH PENGINAPAN DI DEKAT ISTANA SHILLA

Malamnya

Jang: Hyungnim (kakak), apakah kau menyukai seni dan membuat kerajinan?

Bumsang: Ya, aku suka. (Mengapa?) Mengapa kamu membuat gincu itu? Bukankah kamu membuat itu untuk mengekspresikan isi hatimu? Seni dan kerajinan juga seperti intu. Kau dapat mengekspresikan isi hatimu, dan juga kehidupanmu, yang mengandung semua keindahan yang kau temukan.

Jang: Siapa yang mengatakan itu?

Bumsang: Guru Mokrasu. (Jang menunjukkan muka tidak senang) Jika beliau mengatakan aku harus mati, maka aku akan bersedia mati.

Jang (mengalihkan pembicaraan): Apakah kakak sudah menyerahkan gincu itu?

Bumsang: Apa? Hei, bagaimana kau tahu itu? Hei, jika kau membocorkannya ….

Jang (tersenyum-senyum): Baiklah, baiklah. Aku tidak akan mengatakan apapun. Tapi, aku sungguh khawatir pada kakak. Kau sungguh pemalu.

Bumsang: Apa? (Jang menertawakannya)

WISMA NAJEONG

Tiga hari kemudian

(Jang menunggu di depan Wisma Najeong, menuruti kata-kata Sunhwa, ia menggunakan pakaian Hwarang yang diberikan oleh Sunhwa, tiba-tiba tiga orang dayang menghampirinya)

Dayang: Apakah kau Kim Doham?

Jang: Iya…

Dayang: Ikuti aku!

(Jang mengikuti mereka, ternyata Jang dijadikan anak pengambil air dari dalam sumur Najeong. Jang bingung tapi sudah kepalang basah, jadi ia pasrah saja dan mengikuti semua upacara dengan melakukan tugas sebaik-baiknya)

Suara Pengatur Upacara: Putri akan mengambil air dan mempersembahkannya ke Surga.

Suara Pengatur Upacara: Serahkan airnya kepada Putri Sunhwa.

DI KEDIAMAN RAJA SHILLA

Raja Jinpyeong: Tidakkah kau tahu Upacara Najeong adalah Upacara Kenegaraan yang sangat penting? Kau tahu bahwa ada seorang Hwarang muda yang sudah ditunjuk untuk mempersembahkan airnya. Bagaimana bisa kau mengubahnya? Perilaku tidak bertanggungjawabmu akan membuat Surga tersinggung.

Sunhwa: Tapi, tuanku, doa ini adalah doa untuk tahun-tahun kemakmuran. Anak laki-laki itu sudah menanam ubi dan menjualnya, saya mungkin melanggar aturan dikarenakan dia bukanlah seorang Hwarang, tapi putrimu ini tidak melanggar kehendak dari Surga.

Raja: Uh huh … tidakkah kau bisa menutup mulutmu! Sampai aku berkata sebaliknya, kau harus dikurung di dalam kamarmu!

Sunhwa: ….

Raja (ke pengawalnya): Anak itu? Apakah kau mengetahui siapa sebenarnya anak itu?

Pengawal: Hamba baru tahu setelah perayaan, jadi hamba tidak dapat menangkapnya.

Raja: Sial …

(Sunhwa tersenyum senang mendengar bahwa para pengawal tidak dapat menangkap Seodong)

Catatan : Sunhwa dan Jang tidak pernah berkenalan, jadi Jang baru tahu kalau anak perempuan yang menciumnya sebenarnya adalah seorang Putri dari Shilla ketika upacara, dan Sunhwa sendiri tidak tahu nama Jang tetapi menjulukinga sebagai Seodong –

Raja: Siapa Hwarang yang seharusnya melakukan ini?

Pengawal: Dia adalah anak kedua dari Kim Saheum, Kim Doham.

Raja: Baiklah, aku sendiri yang akan berbicara langsung dengan Kim Ssheum. Jangan biarkan hal ini tersebar keluar! (Baik Tuan)

HANEULJAE

Maekdosu (menyeret Bumsang): Mengapa kau berjanji kalau kau akan bertanggungjawab terhadap Jang? Semuanya ini membuat aku kesal.

Bumsang: Dia bilang akan datang, jadi dia akan kembali ke sini segera.

Maekdosu: Kaulah harapanku satu-satunya.

Bumro (menarik-narik baju ayahnya): Ayah, bagaimana denganku? Aku?

Maekdosu (memukul kepala Bumro): Lepaskan aku, kau bodoh !

Mojin: Apakah Jang pergi ke suatu tempat lagi?

(Jang datang berlari-lari sambil membetulkan celananya)

Jang: Aku pergi buang air kecil. (Maekdosu dan Bumro kaget)

Maekdosu: Ini …

Mojin: Kalau kau tertangkap lagi, maka  aku akan menunjukkan apa itu artinya peraturan.

(Eunjin tiba-tiba lewat di depan mereka sambil membawa sesuatu)

Bumro: Ah, itu Eunjin. Dia pasti mencuri kacang hijau untuk dibubuhkan ke wajahnya lagi. (Mojin cepat-cepat menyusul Eunjin)

Maekdosu dan Bumro berlalu, Bumro : Ayah, kasih aku kue beras.

Bumsang: Jang kemari!

(Mereka masuk ke dalam kamar kerja Bumsang, Bumsang duduk dan memegang tongkat hukuman)

Bumsang: Kau berkata akan menepati janjimu padaku. Berapa kali kau ingin kupukul?

Jang: …

Bumsang (membentak): Aku tanya padamu berapa kali?

Jang: Ratusan. (Jang!) Ribuan. Pukullah aku puluhan ribu kali.

Bumsang: Jang ….

Jang (menangis): Pertama, dia menciumku, dan dia mempermalukan diriku, kemudian dia menipuku … Dia seorang anak perempuan yang jahat, seorang anak perempuan yang benar-benar jahat. Seorang anak perempuan yang tidak dapat kusukai, dan seharusnya tidak kusukai. (Jang menangis tambah keras, Bumsang tertegun melihatnya).

Beberapa saat kemudian

(Bumsang masuk membawa air di mangkok untuk Jang) Bumsang: Minumlah.

(Jang menerima mangkok itu dan minum) Bumsang: Ada apa?

Jang: Hyungnim (kakak) … Jika aku bisa melakukan ini, aku akan menurut padamu selamanya. Tolonglah bantu aku.

Bumsang: Sekali ini? Apa itu?

Jang: Kau tahu, pria dan wanita melakukan hal-hal yang aneh …

Bumsang: ….

Jang: Kau tahu, bahwa … seorang pria dan wanita melakukan hal ini itu … kau tahulah.

Bumsang: Saling berbagi kasih?

Jang: Benar itu dia! Bagaimana cara menulisnya? (Mengapa?) Aku akan membalas dendam. Aku akan membalas dendam dan mengakhirinya demi kebaikan semua.

Beberapa hari selanjutnya

Bumsang, Jang, dan beberapa anggota Haneuljae kembali mengantarkan barang-barang ke Istana Shilla.

Bumsang: Apa kamu tidak ke Istana lagi sekarang?

Jang: Tidak, aku tidak akan pergi.

Bumsang: Lalu kenapa kau ikut denganku kemari?

Jang: Aku akan melakukan sesuatu di pasar. Aku nanti akan ada di tokonya Asoji.

Datanglah kesana jika kakak sudah selesai. (Baiklah)

TOKO ASOJI

Seorang pegawai Istana datang: Ehemm….

Asoji (terkejut): Ah, bagaimana kabarmu Tuan?

Pegawai Istana: Lemari pakaian ini miring ke satu sisi, perbaiki dan kirim kembali!

Asoji: Baik Tuan … baik.

Pegawai Istana (ke anak buahnya): Ayo kita pergi.

Asoji: Hati-hati di jalan, Tuan!

(Jang datang menemui Asoji)

Asoji: Ah, aku senang kau datang, Jang. Aku harus membeli sesuatu, Jadi kau yang jaga toko sementara.

Jang: …. (Asoji pergi)

(Jang duduk dan mengeluarkan beberapa kertas yang berisi tulisan yang sudah ia persiapkan beberapa hari sebelumnya)

Jang (kepada dirinya sendiri): Aku akan mengumumkan ini ke seluruh pasar, jadi kau akan lihat nanti!

Suara Sunhwa: Mengumumkan apa? (Jang kaget dan berusaha mencarinya)

(Sunhwa keluar dari dalam lemari yang dikembalikan oleh pegawai istana yang diminta untuk diperbaiki, Jang kaget setengah mati)

Sunhwa: Mengumumkannya di seluruh pasar? Apa itu, ayo kita lakukan sama-sama!

(Sunhwa menghampiri Jang dan merebut kertas-kertas itu dari tangan Jang, lalu membacanya, Jang berusaha untuk merebutnya kembali tetapi tidak berani menyentuh Sunhwa)

Sunhwa (membaca tulisan di kertas): Setiap malam, Putri Sunhwa dan Seodong secara rahasia saling bertemu dan berbagi kasih satu sama lain.

(Sunhwa memandangi Jang, Jang salah tingkah dan tidak berani menatap Sunhwa)

Jang: ….

Sunhwa (melagukan tulisan Jang): Setiap malam, Putri Sunhwa dan Seodong bertemu secara diam-diam untuk berbagi kasih satu dengan yang lain. Dan keduanya saling berpelukan sepanjang malam.

Jang: ….. (tetap mengikuti Sunhwa)

Sunhwa: Kau mencoba menyebarkannya untuk membalas dendam kepadaku?

Jang: …. (menunduk, merasa malu)

Sunhwa: Pemikiranmu sungguh membosankan, tetapi kau melakukan hal-hal yang sangat lucu.

Jang: Kau menipuku!

Sunhwa: Aku memberitahumu dengan caraku sendiri

Jang: Kau tidak membiarkan aku tahu! Sebaliknya kau mengatakan padaku untuk bertindak sopan di hadapan putri?

Sunhwa: Jadi  kau tidak berani muncul menghadapi aku, dan berkhayal untuk menggangguku?

Jang: …. (menunduk)

Sunhwa: Kau sungguh tolol!

Jang: Tidak, aku tidak tolol!

(Putri Sunhwa berkeliling pasar)

Jang: Apa yang sedang kau cari?

Sunhwa: Sesuatu yang tolol dan tidak berguna sepertimu, kenapa?

Jang: Apa yang membuatmu berpikir kalau aku ini tolol dan tidak berguna?

Sunhwa (ke seorang pedagang): Tuan,  bukankah ‘usus babi’ tidak berguna?

Jang: Jangan berkata begitu. Itu berguna. Kau dapat meniupnya dan memainkannya seperti bola. Atau kau dapat mengisinya dengan bubuk kacang untuk membuat bom kacang.

Sunhwa: Bagaimana dengan ekornya?

Jang: Itu dapat digunakan untuk mengejutkan orang.

Sunhwa pergi ke pedagang pot tanah liat: Tuan, bukankah pot yang berlubang ini tidak berguna?

Jang: Tidak, kau dapat mengisinya dengan air, dan kau dapat mengecek berapa lama waktu berlalu dengannya.

Sunhwa pergi ke pengrajin alat-alat pertukangan: Tuan, apakah petir berguna?

Jang: Itu untuk menghukum orang!

Sunhwa bertanya ke orang lewat: Tuan, sebuah tahi lalat. Apakah tahi lalat manusia berguna?

Jang: Iya, itu sangat berguna! Di kotaku, seorang anak perempuan dikenali oleh orangtuanya melalui tahi lalatnya.

(Sunhwa mau duduk, tetapi berteriak terkejut ketika melihat ada banyak cacing tanah di tempat itu)

Sunhwa: Cacing tanah itu? Apa kegunaannya cacing tanah?

Jang: Itu … aku membuat gincu dengan itu.

Sunhwa: APA ?

(Jang diajak Sunhwa menuju suatu gua tersembunyi)

Jang: Apa ini semua?

Sunhwa: Katamu ini ada nilainya. Ini, ini, dan ini juga

Jang: Untuk apa semua ini, kenapa kau mengumpulkan semuanya ini?

Sunhwa: Salah satu sepupuku, Rahib Borang,

Jang: Sepupumu, jadi dia anggota keluarga kerajaan?

Sunhwa: Ya, dia berkata padaku bahwa ada seseorang yang bernama Jibaka di Chuncooku (India). Suatu hari gurunya memberinya tugas untuk berkeliling negeri dan mengambil rumput-rumput yang tidak berguna. Tetapi Jibaka kembali dengan kedua tangan kosong. Dan dia katakan bahwa tidak ada rumput yang tidak berguna. Setiap rumput dapat digunakan untuk pengobatan. Jadi gurunya berkata, “Kau dapat melihat setiap nilai dari benda, jadi kau benar-benar seorang tabib”

(Sunhwa berkuda bersama-sama dengan Jang)

Sunhwa: Sepupuku berkata kalau aku harus menjadi orang seperti si Jibaka. Aku harus tahu setiap benda, sekecil apapun nilainya di Shilla Bahwa tidak ada satupun di Shilla yang tidak bernilai. Semua yang ada di Shilla berguna. Jadi aku akan menjadi Putri yang hebat!

Jang: Putri yang hebat? Hebat? Hebat ….

Suara Yungamo (ibu Jang): Kau harus menjadi orang yang hebat jadi nanti kau dapat bertemu dengan ayahmu.

(Mereka berdua beristirahat di suatu tempat)

Sunhwa: Wah itu sungguh indah. Ah …. tapi kau tahu, seharusnya mereka mengajariku hal-hal yang menarik seperti gurunya si Jibaka. Sebaliknya, aku harus belajar dan menghapal peraturan dan undang-undang dan membaca buku-buku. Aku tidak menyukainya.

Jang (tertidur): …

(Sunhwa tiba-tiba melihat sebuah kalung indah di dada Jang, jadi ia mengulurkan tangannya untuk melihat lebih jelas kalung itu, tetapi Jang bangun dan  memasukkannya kembali ke balik bajunya)

Jang: Apa yang sedang kau lakukan?

Sunhwa: Wah, itu sangat cantik. Apa itu?

Jang: Bukan apa-apa, itu bukan apa-apa.

Sunhwa: Berikan itu padaku!

Jang: Jangan, aku membutuhkan ini.

Sunhwa: Dari mana kau dapatkan itu?

Jang: Aku tidak dapat mengatakannya.

Sunhwa (cemberut): Baiklah, ayo kita pergi!

Jang menahannya pergi, “Aku tidak dapat memberikannya kepadamu”

Sunhwa (masih cemberut): Aku mengerti!

Jang: Aku membutuhkan ini untuk menemukan jati diriku. Sungguh!

Sunhwa: …  (Bangkit dari duduknya mau pergi)

Jang menahannya, “Sebaliknya, aku dapat memberimu ini, ini dari ibuku, jadi ini sangat berharga bagiku. tapi aku dapat memberikannya khusus untukmu.”

Jang: Jangan tunjukkan itu kepada siapapun. Jangan pernah, jangan pernah, selamanya.

Sunhwa (senang): Baiklah! (Sunhwa mengagumi kalung barunya)

BENGKEL KERJA ISTANA SHILLA

Chungjak: Aku menemukannya!

Kim: Apa kau yakin ?

Chungjak: Aku sangat yakin! Patung Buddha dengan gaya duduk berpikir seperti ini sangatlah populer di Taehaksa.

Kim : Aku mengerti. (Kepada pengawal) Apakah kau tahu bengkel kerja mana yang membuat patung ini?

Pengawal: Ya, itu adalah tempat baru.

Kim: Kirim pasukan diam-diam, sita semua barang-barangnya dan juga orangnya! Sekarang! (Baik)

PASAR SHILLA

(Prajurit menyita barang-barang di toko-toko yang dicurigai menjual barang-barang dari Baekjae dan menangkapi para pemiliknya)

Prajurit: Seret mereka keluar!

Kapten: Bawa mereka pergi!

Anggota Haenuljae: Guru.. Guru. Guru ….

Asojji: Keributan apa ini?

Anggota Haneuljae: Kita ada masalah, coba tengoklah ke sana …

Asoji mendekati toko yang disita oleh prajurit dan bertanya kepada salah satu orang yang menyaksikan, “Paman, apa yang sedang terjadi?”

Penonton: Yah, aku juga tidak tahu yang sebenarnya. (Pergi meninggalkan Asoji)

Prajurit: Ayo kita berangkat!

(Asoji kebingungan, ketika ia berbalik mau pulang ke tokonya, tidak sengaja ia melihat Chungjak sedang meninggalkan tempat itu, ketika Asoji berusaha untuk mengejarnya ia kehilangan jejaknya)

HANEULJAE

Mokrasu: Menurut Bumsang, Shilla membuat sendiri Biruri (kaca).

Mojin: Apa? Perhiasan yang sangat berharga yang dari Pasa (Persia) itu?

Mokrasu: Berdasarkan penjelasan dari Bumsang ….

Asoji (terburu-buru): Guru .. Guru.

Mojin: Apa yang terjadi?

Asoji: Aku melihat Chungjak

Mokrasu: Chungjak? Bukankah dia kepala dari bengkel kerja pewarnaan?

Asoji: Ya.

Gomo: Apa kau yakin?

Asoji: Saya sangat yakin kalau itu dia. Aku melihatnya saat ia melintasi pasar.

Mok: Apa dia dengan orang lain?

Asoji: Dia sendirian.

Mojin: Dia tidak akan kemari sebagai pwmbawa pesan.

Gomo: Apakah dia sedang mencari kita?

Mojin: Dari pihak siapa? Jendral Weesa (Buyo-sun) atau Taehaksa?

Gomo: Aku kenal ia dengan baik. Sangat sulit untuk menghubungkannya dengan pihak Jendral.

Mojin: Apakah kita harus menghubunginya? Paling tidak kita membutuhkan penghubung, sehingga kita dapat kembali pulang ….

Mok (ke Asojji): Cari dia. Aku akan selesai di atas sini, dan  pergi ke bawah.

Asoji: Baik.

Mok: Bahkan jika kau menemukannya, jangan sebutkan tempat ini.

KANTOR PEMERINTAH

(Orang-orang yang ditangkapi di pasar sedang disiksa untuk mendapatkan keterangan dari mereka dari mana mereka mendapatkan barang-barang Baekje)

Kim: Apa ada yang kau kenali?

Chungjak: Tidak ada

Kim: Apakah mereka berkata benar bahwa mereka menyelundupkan barang-barang dari Baekjae?

Chungjak: Sepertinya demikian.

Kim: Hem……

Chungjak: Aku harus kembali besok.

Kim: Aku mengerti.

Chungjak: Saya sungguh menyesal mengganggu Anda.

Kim: Jangan khawatir, informasi ini terlebih penting.

Chunjak: Benar. Saya sebaiknya segera kembali.

Kim: Baiklah … Oh ya, aku akan pulang sekarang, datanglah malam ini ke tempatku. Aku tak dapat mengirimmu ke tempat musuh tanpa menjamumu terlebih dahulu. (Baik)

DI JALAN SHILLA

Chungjak: Saya akan mampir ke rumah Anda.

Kim: Baik, (ke kusirnya) Ayo jalan. (Pergi meninggalkan Chungjak)

Suara Asoji: Permisi. (Chungjak menoleh) Aku sedang mencarimu.

Chungjak (senang): Aku juga sedang mencarimu juga.

Asoji: Mari, ke arah sini … Apa yang telah terjadi?

Chungjak: Ada permohonan dari Guru Ahtaek Gulchi.

Asoji: Bagaimana kau tahu kalau kami ada di sini?

Chungjak: Aku tidak tahu. Aku pergi ke Shila, dan  Handanpyung ke Ko-Kuryo, kami berdua menyamar dengan membeli barang-barang dari sini dan dari sana. (Oh…) Taehaksa mengirimkan surat rahasia. (Sebuah surat?) Itu harus diberikan langsung kepada Mokrasu. Dimana dia sekarang?

Asoji: Ah … dia akan segera kemari.

Chungjak: Kalau begitu, aku akan pergi ke tempatku menginap, surat itu ada di sana.

Asoji: Oh … oh … Jam 7 malam, temui aku jam 7 malam.

Chungjak: Baik.

(Chungjak lari menyusul Kim Saheum)

Kim: Apa yang terjadi?

Chungjak: Aku bertemu salah satu dari mereka di jalan.

Kim: Apa? Benarkah itu?

Chungjak: Ya! Aku akan bertemu dengannya jam 7 malam ini.

Kim: Apa? Jam 7 malam, kita tidak punya banyak waktu. Aku akan ke kemiliteran untuk mengirimkan pasukan.

Chungjak: Aku akan di sana terlebih dahulu.

Kim: Baik, aku setuju.

(Chungjak berbalik dan pergi menuju ke penginapannya, namun dia bertemu dengan Mok yang mengawasi pertemuan dirinya dan Kim Saheum, Chungjak kaget, Mok curiga dan lari, Chungjak mengejarnya)

TEMPAT PERTEMUAN ASOJI DAN CHUNGJAK

(Para prajurit mengepung tempat pertemuan, mereka menunggu dengan gelisah, Asoji melewati jalan lain, terkejut melihat banyak prajurit sedang bersembunyi mengepung tempat yang Chungjak janjikan, ia segera pergi)

BENGKEL KERJA ISTANA

(Kim menunggu-nunggu dengan gelisah, kepala pengawal masuk menemuinya)

Kepala Pengawal: Chungjak dan Mokrasu masih belum muncul.

Kim: Apa yang terjadi?

Kepala Pengawal: Mungkin Anda salah mendapatkan waktunya?

Kim: Tidak, tidak.

Kepala Pengawal: Kalau begitu berarti mereka sudah tahu, atau Chungjak yang sudah  mengkhianati kita.

Kim: Itu tidak mungkin!

Seorang prajurit masuk melapor ke Kepala Pengawal, “Ada pembunuhan yang terjadi di pasar, Anda diminta ke sana.”

Kim: Sebuah pembunuhan?

Kepala Pengawal: Apa mungkin?

Prajurit lain datang, Kepala Pengawal bertanya: Ada apa ini?

Prajurit: Seseorang menemukan ini dan memberikannya kepada saya.

(Benda itu diserahkan ke Kepala Pengawal dan kemudian diserahkan ke Kim, yang melihatnya dengan teliti)

Prajurit: Dekorasi dan polanya seprtinya dari Baekjae

Kim: Apakah kau tahu siapa pemiliknya?

Kepala Pengawal: Apakah itu milik Chungjak? Dia meninggalkan tanda pengenalnya dan di mana ia sekarang?

Kim: Sepertinya demikian, ayo kita cek mayat itu dulu.

TEMPAT KEJADIAN PERKARA

Kepala Pengwal: Sepertinya disini ada bekas-bekas pertarungan.

Kim: Tunjukkan dia padaku.

Kepala Pengawal: Ini Chungjak!

Kim: Dia bekerja demi Shilla, kuburkan tubuhnya dengan hormat! (Baik Tuan) Kawal dia dengan hormat! (Baik Tuan)

Kim: Tunggu!

(Kim mengambil tanda pengenal Taehaksa dari tubuh Chungjak dan membandingkannya, ternyata kedua tanda pengenal itu berbeda, tanda pengenal yang ditemukan oleh prajurit berlapiskan emas sedangkan milik Chungjak tidak)

Kim: Segera temukan prajurit yang menemukan tanda pengenal, SEKARANG!

ISTANA SHILLA

Sunhwa: Carilah kalung itu, Lekas, lekas cari !

Choqi: Bagaimana aku dapat mencarinya saat malam hari, putri? Aku akan menyuruh semua dayang-dayang untuk mencarinya besok pagi.

Sunhwa: Tidak bisa, aku sudah berjanji kepadanya untuk tidak menunjukkannya kepada siapapun.

Choqi: Berjanjji kepada siapa?

Sunhwa: Kau tidak usah tahu!

Choqi: Apa mungkin …. Siapa? Apa anak laki-laki saat upacara Najeong itu? Apakah kau bertemu dengannya lagi? Apakah kau bertemu lagi dengannya di belakangku? Putri, kau berusaha membunuhku? Bagaimanapun juga, aku telah berbohong kepada Raja, dan lututku masih gemetaran. Putri sangat jahat. Aku dipukuli di betisku, dan kedua betisku yang indah sekarang seperti pilar istana.

Sunhwa: Aku tahu … Aku tahu … Hanya diamlah. Dengarkan aku.

(Sementra itu di pojok ruangan sang Putri Sunhwa, Kim dan Kepala Pengawal mendengarkan mereka.)

Kim: Panggil dayang itu nanti, harus diam-diam. (baik Tuan)

Pagi harinya

Bumsang, Jang, dan para anggota Haneuljae mengambil pembayaran pada Sekretaris Bagian Persediaan. Bumsang ingin memberikan tempat gincu itu tetapi masih malu-malu, Jang yang melihatnya seperti itu berinisiatif merebut tempat gincu itu dan menaruhnya di hadapan si gadis sekretaris.

Jang: Ini, kakakku ingin memberikannya padamu. (Si gadis kaget) Kakakku menyukaimu (Si gadis salah tingkah dan Bumsang menjadi malu sehingg ia berlari meninggalkan mereka, Jang menyusulnya).

DI PERJALANAN

Bumsang: Kau ini sungguh …

Jang: Berterimakkasih? (Tidak) Apa? Kau tidak akan bisa memberikannya ke gadis itu jika bukan karena aku.

Bumsang: Itu bukan sifatku. Itupun tidak seharusnya  diawali. Kita bukanlah orang Shilla.

Jang: Hyungnim, apa ini ? Kau sungguh bodoh!

Bumsang: Bodoh?

Jang: Tentu saja bodoh!

Bumsang: Kau sudah membalas dendam pada si “dia” dan tidak akan menemuinya lagi?

Jang: Tidak, membalas dendam adalah suatu tindakan bodoh, jadi aku berhenti melakukannya. (Apa?) Ah …. Hyungnim, Aku harus menjadi seseorang yang hebat. Bagaimana aku bisa menjadi seperti itu? (Apa?)

HANEULJAE

Malam harinya

Mojin (ke Gomo): Aku dengar dengan pasti bahwa dia menuju ke pasar itu.

Asoji (ke Gomo): Aku pikir kau tidak pergi ke bawah, dan aku berusaha mencari Chungjak dan itu membutuhkan beberapa saat.

Bumsang: Pasti ada yang salah!

Gomo: Aku juga berpikir begitu. Dia tidak biasanya seprti ini.

Mojin: Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?

Besok paginya

(Bumsang, dan dua anggota Hanuljae pergi mencari Mokrasu)

Mojin (ke Bumsang): Kau tahu tempatnya dengan baik, jadi carilah bersama-sama dengan Asoji. Aku akan mencari di sisi yang lain. (Baik)

Gomo: Hey, kita mendapatkan masalah, masalah yang besar. Seseorang datang ke bengkel kerja kita.

Mojin: Seseorang datang? Alarm bambu tidak berbunyi!

Gomo: Sesuatu terjadi dan ini tidak benar! Jadi aku membuat tanda di semua tempat di bengkel kerja kita.

Mojin: Lalu kenapa?

Gomo: Semua alarm di bengkel kerja kita dirusak!

(Tiba-tiba Mokrasu datang sambil memegangi tangan kirinya berdarah karena terluka berat)

Mojin: Guru…

Mokrasu: Bunyikan alarm bambu, bunyikan alarm!

(Para prajurit menuju ke arah Haneuljae, semua anggota dari Haneuljae bersiap-siap untuk mengungsi)

Mokrasu: Ini adalah situasi yang sebenarnya. Seseorang menyusup masuk ke Haneuljae tadi malam. Kita akan melaksanakan rencana gruup Setiap Ilmuwan kepala dari grup tahu tujuan kita selanjutnya. Kita tidak punya banyak waktu sekarang. Grup Ilmuwan Gomo silahkan berangkat sekarang!

Grup Gomo: Baik, ayo pergi.

Mojin: Bagaimana dengan Bumsang?

Mokrasu: Benar, Bumsang?

Jang: Dia pergi ke Istana, aku akan pergi memberitahunya.

Maekdosu: Tidak, aku yang akan pergi.

Jang: Jangan, aku tahu jalannya. Aku yang akan pergi.

Mokrasu: Baik, Jang, kamu yang pergi! Beritahu bumsang, dan kamu dapat mengikutinya.

Jang: Ya, aku mengerti. (Lari menyusul Bumsang)

Mokrasu: Mojin kau pergi sekarang!.

Mokjin: Baik.

Maekdosu: Tidak, aku hanya …. (Ke Moraksu) Aku juga, aku akan mengikuti Mojin.

Moraksu: Pergilah. Yang lain ikut denganku. Mari kita pergi sekarang.

(Para prajurit menyerbu masuk Haneuljae tapi mereka hanya menemukan tempat kosong)

(Jang berlari sepanjang jalan sambil mengawasi sekelilingnya, beberapa saat kemudian ia melihat Bumsang dan yang lainnya, cepat-cepat ia mendekati mereka)

Jang: Hyung … Hyungnim. Hyungnim, tunggu. Aku dengar kita harus lari. Setiap anggota Haneuljae harus melarikan diri. Cepat, sekarang.

(Para prajurit menggeledah pasar)

Bumsang: Apa yang kau katakan? Tidak bisa.

Jang: Aku hanya ingin mengatakan sepatah kata saja.

Bumsang: Kita tidak memiliki kemewahan itu sekarang.

Jang: Kita akan pergi jauh. Hyungnim, hanya satu patah kata. Hyungnim …..

Bumsang: Kembalilah cepat, kami akan bersembunyi di sana.

Jang: Baiklah, aku akan cepat.

(Jang pergi ke depan gerbang Istana, tetapi di sana ada pemeriksaan ketat bagi mereka yang ingin masuk ke Istana. Jang ragu-ragu. Akhirnya ia membatalkan maksudnya dan pergi menyusul Bumsang)

Jang: Hyung … Hyung …

(Jang tidak sadar kalau ada pasukan di belakangnya, Jang lari ke tempat Bumsang dan yang lainnya bersembunyi)

Jang: Hyung … Hyung … Hyung … Hyung … Hyung …

Bumsang mendengar seruan dari Jang keluar dari tempat persembunyiannya, namun terkejut melihat ada pasukan di belakang Jang, mereka berusaha bersembunyi lagi tapi sudah terlambat.

Jang: Hyung …

Bumsang: Jang! Prajurit di belakangmu, mereka datang …

(Bumsang dan yang lainnya berusaha lari, namun dicegat oleh pasukan lain, Jang bingung, akhirnya mereka terkepung oleh para prajurit)

(Sementara itu, Asoji menyaksikan mereka berempat dikepung oleh prajurit)

Jang (ketakutan): Hyungnim, apa yang harus kita lakukan?

Iklan

2 comments on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 04

  1. yg meranin little princess sunhwa ternyata sulli FX,pantes waktu liat grup FX nyanyi d LBS K POP..aku kyk pernah liat dmana snyumny itu…wajahny gk berubah yaa..natural imut beauty

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s