Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 06

Puteri Sunhwa ditanyai oleh Raja JinPyeung, yang mana dia dianggap bertanggungjawab menyebarkan Lagu Seodong. Ketika ditanya mengapa dia melakukannya, Puteri Sunhwa menjawabnya bahwa untuk banyak tahun, dia berpikir kalau seorang anak laki-laki, Seodong, telah mati karena kesalahannya. Tetepi baru-baru ini, dia mendengar kalau anak itu ternyata masih hidup. Jadi dia menyebarkan lagu ini supaya dapat menemukannya.

Marah karena pemikirannya yang liar, Raja memerintahkan untuk mengurungnya di Istana dan tidak mengijinkannya untuk keluar. Sang Puteri terkejut dan memohon agar Raja membatalkannya, tetapi Raja tidak bergeming. Kemudian Rahib Boryang, masih seorang anggota kerajaan, datang menghampiri dan meminta raja untuk menyerahkan Puteri padanya supaya dapat dididik di Kuil. Raja menyetujuinya dan mengusir sang Puteri keluar dari Istana. Sunhwa justru sangat senang dengan kemerdekaannya yang baru ini, memimpikan untuk menjelajahi seluruh negeri Shilla seperti yang Hwarang lakukan. Tetapi Raja menyuruh Boryang untuk mengurungnya di Kuil. Rahib Boryang hanya mengiyakan.

DI PASAR SHILLA

SEtelah meneliti Lagu Seodong yang dinyanyikan oleh anak-anak, Jang menemukan baris di Lagu itu yang diubah dari aslinya yang dia tulis dulu. Sehingga dari situ, ia menemukan pertanda yang membawanya ke gua kecil dimana biasanya dia dan sang Puteri bermain saat kecil dulu.

Setibanya di gua itu, Jang menemukan surat untuknya yang disembunyikan di balik batu, mengatakan padanya untuk menemuinya di Kuil Chung

DI SUATU JALANAN SHILLA

Giroo diserang oleh pengawal-pengawal pribadi. Tiba-tiba, Kim Saheum tertawa dan menyela pertarungan itu. Orang tua itu sangat bangga ketika melihat Giroo menjadi seorang ahli tarung sekarang.  Mereka akhirnya bertemu lagi, Pedagang terbesar di Shilla, menyambut anaknya seorang Hwarang, yang telah pergi beberapa tahun untuk melakukan misi rahasia.

Kemudian, berjalan bersisian dengan Jang, dan sementara Jang memikirkan Puteri Sunhwa dan surat itu, Giroo memikirkan mengenai Puteri juga.

Giro mengingat ….

Sepuluh tahun lalu, dia terluka hatinya karena Puteri Sunhwa telah menggantikannya saat Upacara di Najeong untuk anak laki-laki yang lain. Tetapi sang Puteri tetap teguh pada pendiriannya mengenai keputusan yang dia ambil, mengatakan bahwa anak laki-laki itu adalah anak penjual ubi, Seodong, mengetahui bagaimana ia mengatasi kesukaran dan kesulitan dalam hidup tidak seperti anak lain. membuatnya sangat cocok untuk mempersembahkan air ke Surga! Jadi kemudian, Giroo membuat perjanjian dengan Raja. Raja Shilla telah mengetahui ada kelompok ilmuwan tertentu dari Baekjae yang bersembunyi di Shilla, tetapi dia berpikir kalau ia membunuh mereka akan menghilangkan bakat-bakat yang hebat.  Jadi Giroo berjanji pada Raja kalau dirinya akan menyusup dan menjadi salah satu dari mereka dengan tujuan untuk mencuri ilmu mereka dan menukarnya dengan sang Puteri. Raja tertawa dan senang dengan keberaniannya, ia setuju.

Setelah dia ada di luar Istana, Sunhwa berterima kasih pada Rahib Boyang untuk menalangi hukuman Raja sehingga ia dapat berkeliling negeri seperti Hwarang lakukan. Tetapi sang rahib memberikan perintah pada para pengawal supaya sang puteri diikat (untuk mencegahnya melarikan diri).

Mereka pergi ke penginapan untuk beristirahat. Di tempat itu, si rahib harus berbagi kamar dengan tamu lain : Jang. Dinding tipis memisahkan mereka dari kamar Sunhwa, jadi sang puteri memanggil si rahib dengan keras, Jang menegurnya, tanpa tahu kalau itu si puteri, mengatakan kalau sang rahib telah tidur, tetapi Sunhwa tidak mempercayainya. (Jang kemudian keluar) Puteri Sunhwa terus memohon kepada sang rahib untuk membebaskannya, ia mengatakan bahwa seorang anak laki-laki menderita karena dia, dan dia perlu menemukan anak itu untuk meminta maaf.

Karena lama tidak ada jawaban, maka sang Puteri mengatur siasat. Ia menyuruh Chogee, pelayannya, untuk lari keluar seakan-akan melarikan diri dengan memakai bajunya dengan tujuan membuat para pengawal mengejar Chogee karena mengira dirinya, dan ia akan berhasil meloloskan diri, tetapi ternyata sang Rahib mengetahuinya sehingga ia gagal untuk melarikan diri.

Sementara itu, Jang sedang berjalan-jalan mencari udara segar.

Esok harinya

Sang rahib akhirnya membebaskan sangPPuteri untuk berkeliling, untuk belajar dan mengoreksi kesalahan-kesalahan masa lalunya, Sang rahib memerintahkan Puteri untuk tetap membawa pengiringnya dan untuk tidak berkeliling sendiri. Dipenuhi dengan rasa sukacita, ia langsung berlari, kucing-kucingan dengan para pengawalnya, menuju gua kecil rahasia itu, dan menemukan surat jawaban dari Jang.

Suara Jang : Aku bertemu dengan dirimu segera setelah aku kehilangan ibuku. Itu adalah masa-masa di mana kesedihanku menjadi sukacita yang murni. Ttetapi itu sudah cukup bagiku. Aku akan melupakan semuanya sekarang, untuk memusatkan diriku ke hal-hal yang seharusnya kulakukan dengan hidupku. Janganlah mencariku.

Sunhwa merasa sedih dan kecewa di dalam hatinya.

HANEULCHAE

Ketika Giroo dan Jang kembali ke  Haneulchae, mereka menemukan seorang asing datang dengan pesan dari Pangeran Aja yang di utus dari Jepang, orang itu adalah Ilmuwan Ataek Gulchi, dari Akademi Taehaksa Baekjae.  Kekaisaran Jepang percaya bahwa Guru Mokrasu tahu bagaimana membuat jenis pedang yang kuat dan juga sangat tajam, jadi mereka meminta Guru Mokrasu untuk mengajari mereka cara pembuatannya. Tetapi Mokrasu mengatakan kalau ia tidak memiliki pengetahuan seperti itu.

Jadi Guru Mokrasu meminta semua orang untuk menghentikan segala kegiatan dan ikut serta dalam menemukan teknik ini. Jadi tiap orang di Haneulchae menjadi sibuk untuk mencoba menemukan teknik itu untuk membantu sang pangeran mendapatkan bantuan dari Jepang.

Setelah beberapa hari, Jang mengusulkan untuk menggunakan besi terkuat yang dapat dibuat Guru Mokrasu dan menggunakan satu sisi saja sebagai bagian yang tajam (seperti pisau) bukan seperti pedang jaman itu yang menggunakan dua sisi sehingga ketika berhadapan dengan baju besi selalu patah, tetapi banyak yang mengatakan kalau itu hanya untuk dekorasi saja, mana bisa digunakan untuk pertempuran. Namun Mokrasu mau mencoba untuk membuatnya. Ketika dites dengan mengayunkannya ke baju besi, pedang itu patah, Jang gagal, orang-orang sama mengejek ide dari Jang. Jang hanya terdiam.

Sementara itu

Sang Puteri menjelajah tempat-tempat kumuh di Shila, bahkan ketika ia melihat anak-anak menggali ubi manis, ia turut serta dan mencoba rasanya dan menemukan kalau itu sangat tidak enak! Ia tampak lelah, setelah sepanjang hari melihat situasi sebenarnya dari negerinya.

Maekdosu  sedang turun ke kota bersama Mojin, mereka berdua beristirahat di depan sebuah rumah, dan ketika Maekdosu sedang merayu Mojin dan mengeluarkan gincu, ia berusaha mengoleskannya ke bibir Mojin, tetapi Mojin kesal dan menepisnya. Saat itu Sunhwa lewat dan melihat gincu di tangan Maekdosu, segera Sunhwa menghampiri keduanya dan menanyakan siapa yang membuat gincu itu.

Maekdosu menggodanya mengatakan kalau ia membuatnya, tetapi Mojin menegurnya dan menanyainya mengenai bahan-bahan gincu itu, Maekdosu tidak dapat menjawabnya dengan benar. Mojin kemudian memberitahu Sunhwa kalau putrinyalah yang membuat gincu ini. Sunhwa merasa kecewa lagi.

HANEULCHAE

Setelah melakukan beberapa percobaan, Jang merasa kesal dan hampir putus asa. Ia kemudian pergi ke gunung tempat biasanya ia menebang pohon dan meneliti pepohonan. Ia memeriksa kapaknya kemudian tidur-tiduran. Saat itulah ia mendengar suara burung pelatuk sedang membuat lubang di pohon. Jang mengamatinya dengan seksama, dan kemudian terbersit sebuah ide di kepalanya.

Ia segera berlari kembali ke Haneulchae dan menemui Guru Mokrasu, mengatakan bahwa ia ingin melakukan pendekatan yang berbeda untuk membuat pedang itu. Jang merasa bahwa campuran dua macam material, besi kuat dan lunak akan berhasil, seperti paruh burung pelatuk, paruh itu bisa bertahan karena ada bagian yang meredam kekuatan benturan sehingga tidak patah.

Demikian juga pedang, jika membuat sisi tajamnya dengan besi yang kuat dan menggabungkannya dengan besi lunak sebagai bagian yang tumpul untuk meredam benturan, maka pedang itu tidak akan patah. Mokrasu terkejut dengan ide Jang, dan merasa kalau ide itu sangat bagus. Ia bersama-sama dengan Jang berusaha membuat contoh pedang itu. Ketika pedang itu sudah jadi dan mereka berusaha untuk mengetesnya, banyak orang masih mengejek Jang bahwa pedang itu sama saja dengan pedang yang pertama. Tapi Mokrasu mempercayai Jang untuk mencobanya. Jang mencobanya pada baju besi, dan ternyata baju besi itu robek sedangkan pedangnya masih utuh! Jang berhasil!

Mojin: Benarkah anda menemukan sebuah teknik yang luar biasa ini? Anda sungguh mengagumkan! Aku sungguh-sungguh berpikir untuk kali ini, kita tidak akan dapat menemukan jawabannya! Guru, Anda sungguh hebat!

Mokrasu: Tidak sepenuhnya benar! Ini hampir semuanya adalah ide dari Jang. Ketika orang-orang berpikir bahwa materialnya terlalu lunak dan tak berguna, dia mencobanya dengan cara yang berbeda. Dan ketika itu gagal, dia tidak menyerah sampai di sana dan dia memikirkan cara yang lain untuk meningkatkannya.

Tidak semua hal yang baru harus dibuat dari hal-hal yang benar-benar baru. Dia telah membuktikan bahwa menggunakan cara lama dan mengembangkan cara yang berbeda dapat menciptakan sesuatu yang baru. Dia juga menunjukkan bagaimana kerja dari proses penciptaan itu sendiri. Keahlian adalah sesuatu yang dapat kalian pelajari, tetapi untuk suatu pemikiran menjadi berkembang, seseorang membutuhkan ketekunan, inovasi, dan kerja keras.

(Melihat ke arah Jang) Kerjamu bagus !

Mojin merasa sedikit salah tingkah, semua orang merasa kagum pada Jang.

(Jang mendaki ke tempat tinggi, dan meneriakkan teriakan sukacita, mencium kapaknya. Ini adalah pertama kalinya ia mendengarakan pujian dari Guru Mokrasu)

Karena pedang itu sudah jadi, maka Guru Mokrasu akan mengirimkannya ke Pangeran Aja melalui seorang utusan ilmuwan Ataek Gulchi yang akan menunggu mereka di suatu tempat yang telah dijanjikan.

Guru Mokrasu memanggil Giroo dan mengutusnya bersama-sama dengan Jang, tetapi Bumro terus mengatakan kalau ia akan melakukan misi ini. Mojin berpikir kalau ini adalah misi yang sangat berbahaya jadi Bumro tidak diikut sertakan demi Maekdosu. Bumro protes. Kemudian akhrinya Mokrasu memutuskan untuk mengirim Giroo dan Jang mendampingi Bumro.

Mojin memanggil ketiga orang itu, ia menjelaskan kepada mereka kalau mereka hanya membawa potongan pedang, mereka bertiga heran. Mokrasu menjelaskan kalau Ilmuwan Ataek dapat membuat pedang lain hanya dengan melihat potongan pedang itu jadi mereka tidak usah membawa pedang utuh. Mojin melanjutkan keterangannya, ia mengatakan kalau pedang itu akan disembunyikan ke dalam ubi, sehingga tidak dicurigai.

Sebelum mereka berangkat, Giroo menemui Goosan dan menyuruh untuk menghubungi prajurit di pintu gerbang kota untuk bekerjasama dengan mereka merampas pisau itu demi kepentingan Shilla.

Keesokan harinya

Bumro, Giroo, dan Jang berangkat untuk menemui utusan Ataek. Ketika mereka masih dalam antrian pemeriksaan, tiba-tiba datang prajurit yang bekerjasama dengan Giroo, ia membisiki kepala penjaga gerbang.

Jang berada di depan, kemudian Bumro dan terakhir adalah Giroo. Seharusnya  Bumrolah yang  membawa patahan pedang-pisau khusus itu yang disembunyikan dalam ubi, jadi ketika giliran Jang diperiksa para penjaga membiarkannya lewat tanpa pemeriksaan ketat.

Ketika giliran Bumro akan diperiksa, Giroo memberi pertanda ke penjaga, sehingga penjaga gerbang memberhentikan Bumro dan menyuruhnya untuk mengeluarkan seluruh isi tasnya. Bumro ragu-ragu, tetapi para penjaga membentaknya sehingga dengan berkeringat dingin ia menumpahkan semua isi tasnya ke atas meja pemeriksaan. Para penjaga segera memotong-motong ubi-ubi yang ada, tetapi para penjaga tidak menemukan apapun di sana.

Giroo terkejut, dan berpikir di mana pisau-khusus itu sekarang berada, apakah mungkin di tasnya? Dengan terpaksa Giroo maju untuk diperiksa, namun ketika Giroo menaruh tasnya dan baru mau diperiksa, Bumro segera merebutnya dan lari,  Giro terkejut dan mengejarnya, para penjaga juga mengejar Bumro.

Jang yang melihatnya segera melarikan diri sehingga mereka bertiga berpisah. Setelah itu, Jang memeriksa tasnya dan menemukan kalau pedang-pisau itu ada di dalam tasnya. Jang juga menemukan surat permintaan maaf dari Maekdosu yang tidak menginginkan anaknya dalam bahaya, ia tidak ingin kehilangan anak lagi. Jang menghela napas, justru karena perbuatan Maekdosulah maka pedang-pisau ini selamat.

Jang kemudian memutuskan ia pergi sendiri sebelum semuanya terlambat. Ketika ia sampai di tempat yang dijanjikan, ia bertemu seseorang yang mengucapkan sandi rahasia, setelah Jang merasa kalau ini adalah utusan itu mereka bersalaman, ketika itulah Jang merasakan keanehan, dan tiba-tiba ada orang yang mendekati mereka. Jang dengan orang pertama berjalan menjauh dan mereka berpura-pura adalah teman lama yang baru bertemu dan kemudia mendadak mereka berdua berlari menuju arah berbeda untuk mengacaukan orang yang mengikuti mereka.

Jang kemudian bertemu dengan orang yang mengikutinya, ia kemudian bersalaman dengan orang itu, kemudian mengatakan kalau orang yang sebelumnya adalah orang palsu. Orang yang mengikuti Jang yang ternyata adalah utusan yang asli bertanya bagaimana ia bisa tahu? Jang mengatakan bahwa telapak tangan orang itu halus seperti seorang prajurit bukan kasar seperti seorang  pandai besi. Jang kemudian menyerahkan pedang-pisau kepadanya.

DI KUIL

Rahib Boryang:  Apakah menjelajahi negeri ini menyenangkan seperti yang kau bayangkan?

Sunhwa: Menyenangkan? Apanya yang menyenangkan menyaksikan penderitaan dari rakyat akibat dari perang?

Rahib: Tetapi ketika kau pertama kali datang kemari setelah diusir dari Istana, kau terlihat seperti akan berangkat menuju ke petualangan yang seru!

Sunhwa: Aku menyaksikan anak kecil yang terluka dibopong ibunya. Aku juga melihat banyak anak-anak menggali tanah untuk mencari ubi manis. Dan ketika aku mencoba sebuah ubi manis untuk pertama kalinya, rasanya sangat aneh. Aku dulu pernah mendengar dari seorang anak lagi-laki memberitahuku bahwa saat-saat paling membahagiakan di dalam hidupnya adalah ketika ia hidup bersama dengan ibunya, melihat ibunya menari, menanam, makan, dan menjual ubi manis. Itulah mungkin menjadi alasanku berpikir bahwa sebuah ubi seperti nasi yang dibubuhi bubuk emas. Aku tak dapat mengira-ngira berapa banyak anak itu menderita. Aku pikir aku mengerti mengapa dia menginginkan diriku utnuk melupakannya. Tetapi aku melihatnya kemanapun aku pergi. Ia memberitahuku untuk tidak mencarinya, tetapi aku merasa seperti dirinya memberitahuku hal yang sebaliknya!

Beberapa hari kemudian

Ilmuwan Gomo ke Kuil di mana Sunhwa berada, menyerahkan barang pesanan dari Rahib Boryang, setelah menerima pembayaran ia langsung meninggalkan kuil itu.

Sunhwa bercakap-cakap dengan Rahib Boryang di dalam kamar si Rahib, tak sengaja ia melihat sebuah bungkusan terbuka dan mengenali bentuk dan gambar ukirannya yang sama dengan tempat gincu yang diberikan oleh Jang waktu masih kecil. Jadi ia berlari mencari tahu ke sekeliling kuil dan seseorang mengatakan bahwa pedagang yang biasanya membawa barang itu baru saja pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi untuk waktu yang lama. Sunhwa segera mengejarnya dan dapat menyusulnya. Siunhwa mengikutinya diam-diam dari kejauhan.

Ketika mendekati Haneluchae, anggota Haneulchae yang berjaga memberikan tanda peringatan berupa suara burung, Gomo yagn mendengar itu segera membawa Suhnwa, yang belum tahu kalau ia sudah ketahuan, ke jalan yang berputar-putar. Benar saja, Sunhwa tersesat di gunung, berjalan berputar-putar menuju tempat yang sama.

Sementara itu, Jang dalam perjalanan pulang ke Haneulchae dan sedang menuju ke arah sang Puteri.

Iklan

One comment on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 06

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s