Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 07

Jang berjalan di gunung, akan kembali ke Haneulchae.

Giroo juga sedang berjalan pulang menuju ke Haneulchae, namin di tengah jalan ia menemukan seorang wanita tak sadar kan diri (Sunhwa). Ia menemukan minyak esensial dari lengan bajunya, kemudian ia menggunakan minyak itu untuk membantu menyadarkan si wanita dan membuang botolnya.

Ketika Sunhwa bangun, Giroo berkata padanya: “Wanita bangsawan  selalu membawa minyak wangi jenis ini dengannya, jadi aku menggunakannya” Kemudian, dia terkejut mendengar bahwa wanita ini tinggal di Kuil. Dia telah mendengar Tuan Puteri Sunhwa ada di sana . Setelah membawa wanita ini ke tempat yang aman, ia bertemu dengan Goosan dan mengetahui bahwa bahwa rencananya untuk ‘mencuri pedang-pisau’ gagal. Giroo sudah kehilangan jejak Jang …

Sementara itu Jang sampai di tempat Giroo menemukan Sunhwa, Jang mengambil botol yang tampak mewah di jalan. Begitu ia kembali ke Hanuelchae, orang-orang membuatnya berlutut di tengah-tengah mereka, dan mereka menginterogasi dia.

Mokrasu: (dengan teliti) Apa yang terjadi di sebenarnya?

Jang: Ke manapun kami pergi, tampaknya ada mata-mata. Jadi setelah mengalihkan perhatian mereka, aku menyerahkan  pedang pisau dengan aman kepada orang yang tepat.

Ilmuwan Ataek: Kepada siapa sebenarnya kau berikan pedang itui? Siapa? Aku instruktur yang dikirim untuk mendapatkan itu. Jika kau memberikan barang itu kepada orang yang tepat, seharusnya itu adalah kepadaku. Tapi aku tidak melihatmu!

Jang: Lalu … siapa orang itu? Siapa dia?

Bumro: Mengapa kau bertanya pada kami? Kau seharusnya tahu.

Semua orang terlihat menuduh kepada Jang.

ISTANA BAEKJAE

Jenderal Sun sedang melihat sepotong logam. Heukjipyung pengawalnya mengatakan bahwa mereka telah berusaha mengikuti ilmuwan Ataek …

Sun: Ironisnya, Mokrasu telah membantu melemahkan kekuatan Pangeran Aja, dan memperkuat diriku.

Heukjipyung bertanya apakah mereka harus membunuh ilmuwan Ataek. Sun ragu-ragu untuk membunuhnya, bertanya-tanya apakah dia justru dapat memanipulasinya . Ia ingin menemukan seseorang yang berbakat seperti Mokrasu yang akan melayaninya.

HANEULCHAE

Mokrasu: Kapan kau menyadari pisau itu ada padamu?

Jang: Setelah tentara memeriksa kami di pintu gerbang kota, kami semua berpisah. Jadi kemudian aku memeriksa isi dalam tas dan mendapatkan pedang itu beserta surat dari Maekdosu

Mokrasu: Mengapa kau tidak menunggu Giroo dan Bumro?

Jang: Aku merasa kita memiliki waktu yang sangant singkat. (Tidak seorang pun tampaknya percaya kepadanya.) Tanyalah Giroo. Sebelum barikade, aku bahkan tidak tahu pisau itu ada padaku

Giroo: Itu benar. Tak satu pun dari kami tahu.

Bumro: Itu bukanlah keadaan yang sebenarnya. Kita semua mengenakan pakaian yang sama, tetapi prajurit membiarkan dia pergi dan kemudian, mereka tiba-tiba menggeledah tasku. Itu aneh! (Mojin dan Mokrasu terlihat curiga.)

Mokrasu: Apakah itu benar?

Jang: Ya, tapi aku tidak ada hubungannya dengan itu.

Bumro: Dia pasti sudah merencanakan ini dengan tentara dari permulaan. Dia tidak tahu dialah yang membawa pisau, jadi dia mencoba untuk mengambilnya dari tasku. Tapi karena dia mendapatkannya, dia menyerahkannya kemudian dia pulang seolah tidak ada yang terjadi!

Jang: Itu tidak benar! Aku benar-benar tidak tahu apa-apa! Aku berharap untuk … untuk mengambil kesempatan ini … dan untuk berhasil dalam misi ini! (Tidak ada yang percaya padanya.)

Gomo: Apa yang aku ingin tahu sekarang ini adalah tentang bau yang datang berasal darimu. Itu bau dari minyak wangi yang sangat mahal dan hanya wanita bangsawan yang membawanya.

Mokrasu: Minyak wangi mahal? Apa maksudmu?

Gomo: Tidak bisakah kau mencium baunya? Ada aroma ringan yang datang dari Jang.!

Mokrasu: Geledah dia. (Mereka menggeledahnya dan  menemukan botol mewah bekas minyak wangi milik Sunhwa)

Jang: Dalam perjalanan ke Hanuelchae, aku mendengar teriakan wanita, jadi aku berjalan ke arah teriakan itu dan aku menemukan ini. (Tidak ada yang percaya padanya.) Aku sekarang merasa dipermalukan! Setelah menyelesaikan misi pertamaku sebagai anggota Haneulchae, aku tidak sabar untuk kembali. Kalau aku mencuri pedang-pisau … mengapa aku kembali?!

RUANG PERTEMUAN

Mojin: Apa yang aku selalu takutkan menjadi kenyataan! Jadi sekarang, aku tidak bisa berpikir. Apa yang harus kita lakukan?

Mokrasu: …

Mojin: Guru … Aku akan memberitahumu apa yang harus kau lakukan. Aku telah melihat seperti apa hubunganmu dengan Yungamo sejak aku masih kecil. Aku juga menyaksikan bagaimana dia meninggal. Tapi sekarang, putuskanlah semua hubungan pribadi dengan dia. Kau harus mengeksekusi Jang …

DI SUATU RUANGAN

Bumro memukuli Jang dengan tongkat.

Bumro: Siapakah dirimu? Aku tanya kau! Apakah kau mata-mata? Benarkan ? Beritahu siapa kau sebenarnya! Siapa?

Jang: (Di lantai, terengah-engah.) Aku … temanmu … Jang … Temanmu … Jang.

Bumro: Siapa? Temanku? Bumro bodoh yang dulu menjadi temanmu sudah mati ketika kakanya mati. Persahabatan itu sudah tidak ada lagi sekarang!

Maekdosu dan lainnya mengetuk pintu dari luar, berteriak pada  Bumro untuk membukanya.

Maekdosu: Buka pintu! Aku katakan padamu untuk membukanya! Mengapa kau akan mendahului Guru Mokrasu? Buka pintu! Buka!

DALAM

Bumro: Katakan padaku, katakan bahwa kau mata-mata. Demi Surga! Katakan bahwa kau adalah seorang mata-mata supaya aku bisa membunuhmu dengan tanganku sendiri!

Jang: Bunuh aku! Apa bedanya jika aku mata-mata atau tidak? Kau tidak percaya aku! Tak satu pun dari orang-orang di sini percaya padaku!

Bumro: Bajingan! (Dia mengancam akan membunuh Jang, tapi ia tidak bisa melakukannya)

Jang: aku lelah dengan semua ini. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan rasa bersalahku lagi. Melihat kau tak berdaya oleh rasa bersalah yang sama membuat aku jadi gila. Bunuh saja aku … Bunuh aku!

Bumro: (Menangis Karena dirimu … karena kakakku … aku harus menjadi orang hebat untuk menggantikan kakakku, dan menjadi sepintar dia. Tapi aku tidak bisa … aku bahkan tidak bisa membunuhmu!

Orang-orang mendobrak pintu sehingga terbuka. Bumro meletakkan tongkatnya dalam kekalahan.

Bumro: (Menangis) Aku berharap … aku bisa kembali ke hidupku dulu.

Maekdosu mencoba menenangkan Bumro, mengatakan kepadanya bahwa dia tidak perlu khawatir tentang apa pun. Hidup dengan kehidupan yang nyaman tanpa khawatir adalah cara untuk melanjutkannya.

Semua anggota Haneulchae berkumpul untuk memutuskan mengenai Jang. Putusannya: BERSALAH!

Di Kuil, Sunhwa memberitahujkan Rahib bahwa ia akan meninggalkan kuil di pagi hari. Dia berjanji bahwa waktu berikutnya ia datang, ia hanya akan memikirkan rakyat.

Imam: Apakah itu berarti kau tidak akan mencari anak itu lagi?

Sunhwa: Aku akan melupakannya.

HANEULCHAE

Orang-orang Hanuelchae meninggalkan tas kecil untuk Jang di dalam ruangan tempat ia dikurung, membiarkan pintu terbuka … Jang diusir dari sana.

Jang berjalan pergi, dan ia melihat ke belakang ke arah Hanuelchae.

suara hati Jang: Aku juga ingin tahu … (Berpikir tentang ibunya.) Siapa aku … Kapan semua kekacauan ini dimulai? (Berpikir mengenai kematian Bumsaeng’s.) Apa yang harus aku lakukan? Ke mana … ke mana aku harus pergi?

Jang berjalan menuju ke arah sungai. Di sana, dia mendengar anak-anak kecil menyanyikan “Lagu Seodong”. Dia mendesah dan ia berjalan pergi. Dia berhenti di atas batu, masih penuh dalam pemikiran.. Ketika ia berbalik, di sana ia melihat seorang wanita … Wanita itu melihat lurus ke arahnya … Mereka berdua dengan saksama melihat satu sama lain, mengenali satu sama lain.

Sunhwa: (.Menahan emosinya) Memang benar … kau masih hidup! Kau masih hidup!

Jang mencoba untuk tersenyum dan ia mengulurkan tangan ke arahnya … tapi dia tiba-tiba pingsan.

Sunhwa: Seodong! Seodong! Seodong!

Sunhwa membawa Jang ke sebuah pondok kecil, di mana Sunhwa merawatnya. Jang masih tak sadarkan diri. Chogee mengatakan pada Sunhwa bahwa anak ini pasti sedang  ‘kesurupan setan’ karena ia mengigau begitu lama.

Jang membuka matanya dan samar-samar ia melihat ibunya.

Yungamo: Apakah kau baik-baik saja, Jang? Apa kau baik-baik saja?

Jang: Ibu … aku tidak baik-baik saja. Aku mengalami masa-masa sulit … Bawalah aku denganmu. (Dia membuka matanya lagi, dan ia melihat Sunhwa.)

Sunhwa: Ini aku. Dapatkah kau mengenali aku? (Jang menutup matanya lagi.)

DI LUAR

Sunhwa memasak ramuan obat. Chogee mengatakan kalau dirinya akan melakukan itu untuk Sunhwa, namun Sunhwa ingin melakukannya sendiri.

DI DALAM

Ketika Jang melihat Sunhwa membawa mangkuk obat, dia duduk.

Sunhwa: (Tersenyum) Wah, kau sudah bangun! Lanjutkan berbaring. Kau sudah tidak sadarkan diri selama 3 hari berturut-turut. Aku sangat khawatir sekali … (Dia mencoba merasakan demamnya, tapi Jang menjauhkan wajahnya)

Jang: (Berbicara dengan bahasa formal) Tuan Puteriku, Kau tidak harus menderita seperti ini untuk orang yang tak berguna seperti aku.

Sunhwa: Kau marah padaku, bukan?

Jang: (Masih dalam nada formal) Itu tidak akan pernah terjadi …

Sunhwa: Nada bicaramu …  kau biasanya tidak berbicara seperti itu denganku?

Jang: Waktu telah berlalu. Aku senang kau mencariku. Dan aku senang bahwa aku telah bertemu lagi denganmu. Aku berterima kasih untuk merawat diriku seperti ini. Dengan itu, aku ….

Sunhwa: Puas? Apakah itu sudah cukup?

Jang: Ya. Aku harus pergi sekarang.

Sunhwa: Baiklah, aku mengerti. Tapi setidaknya kau perlu menghabiskan obat ini yang aku masak untukmu. Mangkuk itu penuh dengan obat, sehingga kau harus menghabiskannya sebelum pergi. Jika kau tidak meminumnya, aku akan membuangnya …

DLUAR

Sunhwa bertanya pada Chogee apakah dia masih tidak dapat menemukan akar ginseng apapun di hutan.

Chogee: Bahkan jika itu adalah Tuan Puteriku yang  mencari akar ginseng, barang itu tidak akan jatuh dari langit begitu saja! Dan jika kau berencana untuk memberi makan ginseng itu kepada pria kumal itu,  akar ginseng itu akan menjerit!

Sunhwa: Baiklah! Aku akan mencarinya sendiri!

Chogee berseru bahwa dia tidak akan menemukannya, tapi Sunhwa mengabaikan dirinya.

Jang ada di dalam pondok, merenung.. Sunhwa sedang mencari akar ginseng di hutan.

Beberapa saat kemudian

Jang berjalan keluar dari pondok itu. Dia melihat semangkuk obat-obatan, dan dia mendesah. Ia akan berjalan pergi ketika Chogee muncul.

Chogee: Tolong! Tolong! Puteri Sunhwa pergi ke hutan mencari akar ginseng, dan dia digigit ular!

Jang: Apa?

Chogee: Dia terkena gigitan ular! Aku pikir ular itu beracun …

Jang berlari ke arah sang puteri. Chogee mengatakan kepadanya di mana dia di. Begitu Jang melihat Sunhwa, berbaring di atas batu besar di tengah sungai, Jang melompat ke dalam air dan ia berenang ke arah sang puteri. Tapi Sunhwa menghilang. Tiba-tiba, dia mendengar tawanya.

Sunhwa: Kau mengatakan kepadaku bahwa waktu sudah lama berlalu! Tapi kau masih jatuh di bawah tipuanku! (Dia mulai melarikan diri, dan Jang mengejarnya.)

Jang menemukan Sunhwa sedang duduk di batu bermain dengan dedaunan, jadi dia duduk di sampingnya.

Sunhwa: (Sambil menyerahkan sebatang daun. kepadanya) Apakah kau ingat yang satu ini? Ada dalam gua kecil, daun yang namanya kita tidak tahu. Kau bilang kegunaan untuk setiap tanaman lain kecuali untuk yang satu ini. Aku mengetahuinya kemudiani. Aku diberitahu bahwa tanaman ini membawa tawa untuk orang-orang yang lelah dan yang telah melalui banyak kesulitan. (Sunhwa mematahkan sehelai dan memberikan daun itu pada Jang.) Aku tidak bisa menemukan akar ginseng untukmu, tapi aku menemukan ini sebagai gantinya. Aku melalui banyak kesulitan untuk mendapatkan ini..

(Jang, ragu-ragu, ia mengunyahnya, Sunhwa tertawa..) Ha ha! Kau tertipu lagi! (Jang tampak terkejut.) Bukankah aku sudah katakan? Ini akan membuat Kau tertawa. (Jang tersenyum.)

Aku sungguh-sungguh minta maaf … Kau bilang aku tidak boleh menunjukkan kalung itu kepada siapa pun … bahwa itu adalah milik terakhir ibumu. Tapi aku tidak bisa menepati janjiku. Aku benar-benar minta maaf. Maafkan aku. Dan … jangan mengatakan hal-hal di depan aku … meminta ibumu untuk membawa dirimu dengannya … Tersenyumlah seperti biasanya kau tersenyum. Dan berteriaklah kepadaku seperti biasanya kau lakukan …. Itulah dirimu! (Jang tersenyum).

Mereka berdua berbaring di tanah bersisian, menonton seekor burung pelatuk … Sunhwa mandi di danau, dan Jang membelakanginya, kemudian sedikit mengintipnya (Andy: aku juga mau :P) .. Dia menarikan sebua tarian untuknya …. Jang mengoleskan gincu di bibirnya …

Kemudian; Chogee mengeluh bahwa Sunhwa melanggar janjinya lagi. “Bukankah kau bilang kau hanya akan minta maaf?” “Aku akan mendapat masalah jika aku turun sendiri” Tapi Sunhwa janji pada Chogee bahwa dia tidak akan mendapat masalah selama dia mengikuti petunjuknya: “! Ambil surat ini untuk Sochoong. ”

Sunhwa: (Menghela napas) Dia berbicara begitu banyak kadang-kadang aku merasa ada dia adalah mesin bicara.

Jang: (Menggunakan bahasa informal) Itu karena kau tidak mendengarkannya. (Berhenti sebentar) Aku harus berangkat besok …

Sunhwa: Kemana? Aku mendengar banyak orangmu yang bisa mellarikan diri dengan selamat saat itu. Apakah Kau masih bersama-sama dengan mereka? Aku mendengar ini kemudian … bahwa orang-orangmu adalah budak buronan yang sangat terampil dari China. Yang pasti itu adalah alasannya kenapa kau bisa membuat gincu begitu bagus … Setiap kali aku melihat lemari di mana kau menyembunyikan dirimu di dalamnya, aku merasa orang-orangmu pastilah sangat berbakat. Apakah Kau menjadi salah seorang seniman berbakat sekarang?

Jang: Tidak, aku belum belajar apa-apa. (Mengapa?) Itu tidak berhasil. Aku gagal menjadi seniman terampil atau orang terhormat. Menggunakan bahasamu, aku menjadi orang biasa yang membosankan.

Besoknya

Jang: Aku harus pergi  ke arah sini …

Sunhwa: Kami akan pergi lebih dulu.

Jang: Aku berterima kasih … benar-benar. Berterima kasih.

DI TENGAH JALAN

Jang sedang berjalan di jalan ketika 3 orang datang untuk menyerang dia. Dia melawan mereka.

Sochoong: Dia memiliki cukup ketrampilan bertarung.

Bomyung: Tapi kami tidak tahu dari mana asalnya atau apa yang telah dilakukannya sampai sekarang.

Sunhwa: Aku mengetahui semuanya itu..

(Jang berjalan ke arahnya, dan sedikit membungkuk hormat padanya.) Kau tidak dapat berbicara secara informal kepadaku lagi. Aku bilang tersenyum, tetapi Kau tidak bisa tersenyum di depan aku lagi. Kau tidak bisa berpikir tanpa sepengetahuan aku, Kau tidak bisa bermimpi tanpa persetujuanku.

Namun, Kau bisa tinggal dengan aku selama sisa hidupmu. Sebenarnya, aku harus membuatmu di sisiku. Jadilah pengawalku.

Beberapa saat kemudian

Jang pergi ke tepi sungai, dan setelah berpikir … dia melempar kalungnya jauh-jauh. Dia kembali ke puteri, dan ia berlutut padanya.

Jang: Jika peryaratan untuk menjadi pengawal adalah untuk menyerahkan identitas seseorang … Aku akan pengawal Anda.

HANEULCHAE

Maekdosu sedang dihukum karena kegagalan masa lalu, jadi dia dipaksa untuk rasa ‘pasta kacang busuk.’, Tapi setelah mencobanya, ia merasakan makanan busuk itu sangat lezat (ternyata menjadi tahu). Eunjin juga harus dihukum, dan setelah membuang undiani, ia mengeluh bahwa dia harus memotong kayu, yang akan merusak tangannya.

Eunjin: Mengapa Kalian mengusir Jang pergi? Kita tidak harus melakukan hal ini ketika ia berada di sini! (Semua orang menunduk diam …..)

Mojin: Bukankah Aku sudah bilang kalau kita tidak diperbolehkan untuk berbicara tentang Jang?

PONDOK JANG

Maekdosu: Kau merindukannya, bukan?

Bumro: Mengapa aku harus? Aku merasa lega.

Maekdosu: Lalu mengapa kau di sini?

Bumro: Aku sedang memikirkan untuk tinggal di sini.

Maekdosu: Apa? Kau seharusnya tidak memperlakukannya seperti itu. Apakah Kau tahu siapa yang menderita lebih darimu setelah peristiwa itu? Jang. Apa kau tidak tahu berapa banyak Jang menyukai kakamu? Dan Bumsaeng juga, ia merasa Jang memang memiliki bakat besar sehingga dia benar-benar menyukainya.

Bumro: Bakatnya bokongku!

Maekdosu: Semua orang dilahirkan dengan bakat. Sama seperti Bumsaeng, Jang dan kau memiliki bakat tersendiri. Jangan berusaha keras untuk menjadi seperti kakakmu. Nikmatilah hidup sama seperti yang aku lakukan. Lihatlah aku! Aku mungkin tidak memiliki ketrampilan yang bagus, tapi aku membuat orang nyaman.

Bumro: Nyaman? Sebaliknya, orang menertawakanmu.

Maekdosu: Itu hal yang sama. Mengapa menjadikan hidup begitu serius? Jika orang tertawa padaku, aku akan menertawakan sikap mereka.

ISTANA BAEKJAE

Ilmuwan Ataek menunjukkan Heukjipyung jalur rahasia yang menghubungkan Baekjae dengan Haneulchae.

HANEULCHAE

Di Haneulchae, para ilmuwan khawatir, kalau-kalau Jang membawa sepasukan tentara untuk menyerang mereka. Mojin menyarankan supaya mereka menyembunyikan diri.

Mojin: Tidak ada dari kalian yang percaya kalau Jang akan sejauh itu, tetapi kita tidak mengetahui isi hati orang. Bagaimana kalu Jang memang benar seorang mata-mata Shilla? Dan bahkan juga kalau bukan, bagaimana kalau ia menyerang tempat ini karena dendam kepada kita?

Baik Mokrasu dan Giroo berpikir itu tidak perlu, tapi Mojin tidak setuju: “Lalu, apa yang terjadi dengan pedang itu?”

BAEKJAE

Ilmuwan Ataek dan rekannya pergi untuk memberitahu Mokrasu bahwa pedang itu benar-benar sudah aman disampaikan kepada mereka, tetapi ada salah komunikasi di antara para utusan, karena beberapa anak buahnya mencoba mengalihkan perhatian mata-mata Buyo-Sun. Mereka mengatakan pada Mojin bahwa benda itu sekarang aman di tangan Pangeran Aja.

Di perbatasan Shilla-Baekjae, Heukjipyung menjelaskan pada Sun, Ilmuwan Ataek telah mengikuti perintah sejak keluarga dan masa depannya yang dipertaruhkan, dan Mokrasu tidak akan mencurigai apa pun. Sun memerintah penjaga untuk tetap mengawasi jalan rahasia ini sampai ia memberikan perintah untuk menangkap Mokrasu.

HANEULCHAE

Giroo: Bukankah kita mencari Jang sekarang?

Mojin: Di mana kau akan dapat menemukannya?

Ilmuwan Gomo harus pergi untuk perjalanan dagang ke Kuil, namun ia ingat seorang wanita telah mengikutinya selama perjalanan sebelumnya, jadi dia memberitahu Giroo untuk pergi menggantikan tempatnya.

Giroo: Baiklah, aku akan pergi. Selain itu, aku harus mencari Jang?

Mokrasu: Jangan. Aku tidak berpikir ia akan kembali dengan mudah. Dia akan kembali hanya jika dia ingin kembali.

DI KAMAR MAEDOKSU DAN BUMRO

Maekdosu: Bukankah sudah aku katakan? Jang tidak akan pernah melakukan hal seperti itu! Lihatlah apa yang telah kau lakukan! Bagaimana jika Jang mati karena kelaparan? Apa yang akan kau lakukan?

Bumro: Dia tidak akan mati! Dia tipe orang yang akan membunuh harimau jika dia lapar!

Maekdosu: Lihatlah apa yang kau katakan! Kau begitu sensitif! Apa yang telah terjadi dengan saudaramu, Jang tetap temanmu. Dia sebenarnya teman terbaikmu.

Bumro: Karena itulah aku tidak bisa memaafkannya. Aku sudah kesal bagaimana kakak Bumsaeng memperlakukannya seperti adik sendiri daripada perlakuannya terhadapku, adiknya sendiri. Tapi aku membiarkannya karena Jang temanku. Tapi setelah kakak meninggal, aku membenciya karena hal ini. Aku tidak dapat menahannya! (Dia pergi dengan kesal)

DI HALAMAN

Eunjin berteriak ke Bumro yang menuduh orang yang tidak bersalah dan menyebabkannya bekerja memotong kayu. Semua orang berbicara tentang hal itu, mengatakan bahwa setiap orang mengabaikan Jang selama 10 tahun karena lebih takut murka Bumro ketimbang hal lain.

Ketika Bumro melihat Giroo meninggalkan Haneulchae untuk perjalanan dagang, Bumro ingin ikut …

Sesampainya mereka di kota di mana Kuil yang Giroo ingin kunjungi berada, mereka berdua berpisah, karena waktu yang mepet, Bumro harus menunggu pesanan mereka di toko langganan mereka. Giroo menuju ke kuil.

KUIL

Para pengawal Sunhwa sedang berlatih di dekat Kuil. Sunhwa mencuri lihat Jang dari kejauhan dan Sunhwa ingat apa yang ia katakan kepada Jang: “Kau tidak dapat berbicara secara informal kepadaku lagi. Aku bilang tersenyum, tetapi Kau tidak bisa tersenyum di depanku lagi. ”

Sunhwa: (Kepada dirinya sendiri) Hal ini bukanlah apa yang aku inginkan.

Seseorang melepaskan panah menjatuhkan buah-buah di atasnya. Buah-buah itu jatuh di kakinya. Dia melihat ke belakang, dan dia menemukan Giroo, sedang tersenyum padanya.

Sunhwa: Wah! Bagaimana kau ada di sini?

Giroo: Aku membawa beberapa barang untuk rahib Boryang, dan aku sekalian mampir.

Sunhwa: Barang-barang?

Giroo: Ya. Dan juga … (Memberinya busur dan satu set panah) Ambillah ini. Aku membuat ini .

Sunhwa: Kau membuat ini untuk aku?

Giroo: Ya. Bukankah kau bilang kau mau menjelajahi dunia? Itu berarti bahwa kau tertarik dalam menjalani segala sesuatu dalam hidup. Namun, kau tidak bisa mempelajari segala sesuatu dalam hidup hanya melihat melalui perspektif wanita. Jika kau tidak masuk ke ‘sepatu’nya pria, tidakkah kau hanya merasakan setengah dari dunia? Banyak Hwarang belajar memanah sebelum seni disiplin lainnya karena ini membantu mereka fokus pada target tujuan mereka.

Sunhwa: Fokus pada tujuan mereka?

Giroo: Dalam memanah, seseorang pertama-tama harus menetapkan targetnya. Kemudian, arah harus sesuai dengan target untuk memanahnya dengan benar. Bukankah itu juga bagaimana kita menjalani hidup? Setelah kita tahu tujuan pribadi kita, kita harus mengambil arah yang benar ke sana. Walaupun kau seorang wanita, kau mengatakan kalau kau ingin menjelajahi dunia, jadi aku pikir sedang mencari tujuanmu. Itu sebabnya aku ingin untuk membuatkan satu set busur dan anak panah untukmu. (Membungkuk) Aku harus pergi memberikan barang kepada rahib..

Sunhwa: Tunggu! Kau berbicara seperti seorang Hwarang. Apakah kau seorang hwarang, dan siapa namamu?

Giroo: Aku akan memberitahumu nanti. Aku juga sedang mencari tujuan. (Dia pergi)

Sunhwa: (Kepada dirinya) Mengetahui tujuah hidup? (Dia mencari Jang, dan dia memberi tanda kepadanya untuk datang mendekat)

Sunhwa: Mari ikuti aku. (Giroo melihat Sunhwa berjalan pergi dengan seorang pria, tetapi ia tidak dapat mengenali punggung Jang.)

Sementara itu Bumro sudah mengambil pesanan dan sedang berjalan menuju Kuil untuk menemui Giroo, tetapi ia tidak menyadari di tengah jalan ia sudah dikuntit tiga orang. Dan saat di tempat sepi mereka bertiga mengepung Bumro dan menggiringnya pergi.

DI HUTAN

Jang: (Berbicara dengan sopan.) Kau tidak dapat memanggil aku seperti ini setiap kali Kau bosan.

Sunhwa: Aku tidak memanggilmuu karena aku merasa bosan. Kau tahu cara memanah, bukan? (Sambil mengeluarkan busur) Sini, ajari aku !

Jang: Ya?

Sunhwa: Ajari aku.

Jang: Ketika kau mau memanah, lengan, tubuh & jiwa harus menjadi satu. Pegang busur dengan tangan kiri, dan mengarahkan panah dengan tangan kananmu. (Sunhwa menarik tali busur dengan anak panahnya) Jika kau menembak seperti itu, panah akan terbang ke arah kiri kita.

Sunhwa: Lalu, apa aku harus menarik dengan cara ini? (Mengarahkan busurnya)

Jang: Tidak, lebih baik dengan cara ini … (Membetulkan letak busur di tangan Sunhwa)

Sunhwa: Lebih sulit daripada yang aku bayangkan … untuk mengenai satu target!

Jang: Ya. Pada awalnya, sulit untuk melihat ke mana kau akan mengarahkannya. Jadi ketika kau tidak bisa mengarahkannya dengan benar, anak panah akan melenceng. Kalau begitu, Gunakan pohon atau daun di sana untuk mempersempit target. (Dia berjalan di belakang sang puteri, untuk melihat ke mana anak panah mengarah) Sekarang, angkat busur. Tarik talinya, ambil napas dalam-dalam. Setelah kau menarik tali sedemikian, tahan nafas. Hanya pusatkan pandanganmu pada target.  Sekarang … lepaskan!

(Anak panah meluncur terbang)

Sunhwa: (Menghela napas) Sesaat sebelum kulepaskan, aku takut melenceng., aku memikirkan, “Bagaimana jika aku memanah melenceng dari target?”.

Jang: (Melihat jauh ke depan.) Ketika Tuan Puteriku melepaskan anak panah, seluruh dunia adalah sasaran yang benar!

Sunhwa merasa lebih percaya diri, dan ia mencoba lagi. Dia memanah dengan benar. Dia melompat-lompat dengan sukacita. Dia terus berlatih memanah.

Sekelompok laki-laki lewat, dan mereka terkejut oleh panah yang melayang di atas mereka.

Pria: Siapa itu? (Jang menarik sang puteri ke belakang tubuhnya.) Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin kau menembakkan anak panah ke arah orang-orang? (Jang melihat salah satu dari mereka mendorong Bumro.)

Sunhwa: Maaf … aku tidak melihat kalian. Tapi apa yang kalian lakukan di sini?

Man: Kami? Kami hanya berburu di sini. (Kepada Bumro, sambil mengancam dengan pisau di belakangnya.) Bukankah kita begitu?

Bumro: (Gemetar) … Ya …

Man: Kau tampaknya termasuk bangsawani. Apa yang kau lakukan selarut ini di tempat ini ?

Sunhwa: (Mengawai langit) Aku tidak memperhatikan waktu …

Chogee memanggilnya, ia berlari ke arah Puteri Sunhwa.

Chogee: Tuan Puteri! Kapan kau naik di sini? Semua orang bingung mencarimu! Kembali sekarang! Cepat! Semua orang begitu khawatir!

Sunhwa: Oh tidak, aku akan mendengarkan khotbah yang lain lagi. (Kepada Jang.) Mari kita pergi.

Sebelum kembali, Jang melihat Bumro, yang memandangnya dengan sorot mata  memohon. Jang berjalan pergi.

Para bandit, setelah melihat mereka pergi, hendak membunuh Bumro untuk merampas barang miliknya. Ketika pisau diayunkan oleh salah satu bandit, sebutir batu memukul bagian belakang kepala bandit itu. Jang berlari ke arah mereka, dan bertarung melawan mereka bertiga, yang ternyata ketiga orang itu bukanlah lawan dari Jang.. Ketiga bandit itu melarikan diri.

Bumro: Bagaimana kau ada di sini? Apakah kau pernah bertemu Giroo?

(Jang tidak menjawab, dia akan berjalan pergi)

Bumro: Bukankah ini sudah cukup? Itu semua salah paham. Ini adalah kesalahan Ilmuwan Ataek. Itu sebabnya …

Jang: (Beralih melihat Bumro.) Aku tidak akan kembali. Tempat itu sudah membunuhku. Pada awalnya, karena kematian saudara Bumsaeng, aku pikir aku belajar sesuatu. Tapi perlahan perasaan itu berubah menjadi harga diri yang memberontak kemudian menjadi kebencian. Lalu pengrusakan diri sendiri, dan kemudian membutakan. Akhirnya, aku akan kehilangan diriku di sana. Aku akan memutuskan semua ikatan sekarang. Keahlian dan ketrampilan, orang-orang Hanuelchae … Baekjae … dan aku sendiri. Aku akan melupakan mereka semua. Aku tidak akan kembali lagi.

KUIL

Jang sedang berlutut di hadapan Sochoong dan pengawal lainnya.

Sochoong: Bagaimana kau bisa bertemu dengan puteri seperti itu tanpa memberitahuku? Apa kau tidak sadar apa yang telah Kau lakukan? (Kepada yang lain.) Pukuli dia!

Pengawal lain: Baik.

Mereka memukuli Jang dengan tongkat, lagi dan lagi.

(Menyaksikan dari jauh) Bumro: (Berbicara sendiri) Kenapa dia dihukum seperti itu? Apakah dia lebih memilih hidup seperti ini?

Di lain tempat

Bomyung: Kalau Tuan Puteri lebih menyukai anak laki-laki itu, dia akan terlebih lagi dalam masalah.

Sunhwa: Aku tidak melakukan hal ini karena aku menyukainay. Ini adalah sesuatu yang aku harus pelajari. Mengapa kau berusaha menghentikan aku?

Bomyung: Tuan Puteri .. …

Sunhwa: Tidak, ini tidak benar. Bukan itu yang aku inginkan. Jika aku terus dilindungi dan dikawal seperti ini, aku tidak dapat belajar dan melakukan apapun dengan bebas, apa perbedaannya antara sekarang dan tinggal di Istana?

Bomyung: Tapi …

Sunhwa: Aku harus pergi dari sini besok. Aku akan membawa Chogee dan Jang pergi denganku, jadi kalian akan tinggal di mana aku perintahkan..

Bomyung: Kita tidak bisa melakukan itu. Bagaimana kita bisa mempercayakan Puteri kepada anak laki-laki itu?

Sunhwa: Aku percaya padanya.

DI JALAN

Giroo: Apa yang terjadi? Karena kau tidak datang ke tempat yang dijanjikan, aku datang mencarimu …

Bumro: Jangan ungkit itu …..

Giroo: Apakah ada yang salah?

Bumro: Aku sial sekali! Aku bertemu Jang.

Giroo: Jang? Maka kita harus membawanya kembali.

Bumro: Tidak ada gunanya. Dia tidak akan kembali.

Giroo: Apakah kau menceritakan kalau semua itu hanya kesalahpahaman?

Bumro: Dia tidak peduli. Dia mengatakan dia akan melupakan kita semua. Aku berharap aku tidak bertemu dengannya.

Giroo: Di mana kau melihatnya? Aku mungkin bisa meyakinkan dia …

Bumro: Aku tidak pikir seperti itu. Aku mengatakan bahwa itu salah paham, jadi aku yakin dia akan kembali jika ia berubah pikiran.

Keesokan harinya

Imam Boryang menyapa puteri dan para pengiringnya sampai jauh dari Kuil. Kemudian, Sunhwa dan Chogee berkeliling di pasar, ketika sepasang preman berusaha mengganggu mereka berdua, Jang datang dan memukuli para preman itu.

Pada malam hari, Jang berdiri di luar, menjaga pintu kamar, sementara para wanita tidur. Keesokan harinya, mereka tiba di sebuah kota yang lain, tapi ada sesuatu yang aneh di sana …

Jang: (Kembali setelah berkeliling mengecek) Tidak ada seorang pun di kota ini.

Sunhwa: Apa maksudmu?

Jang: Aku telah mencari di dalam beberapa rumah, tetapi kota itu sepi.

Chogee: (Berlari menuju mereka.) Tuan Puteri! Tuan Puteri! Ini mengerikan!

Sunhwa: Apa?

2 comments on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 07

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s