Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 08

Jang: (Kembali setelah memeriksa keadaan sekitar) Tidak ada seorangpun di kota ini.

Sunhwa: Apa yang kau maksudkan?

Chogee: (Berlari menuju mereka) Tuan Puteri! Tuan Puteri! Ini sangat mengerikan!

Sunhwa: Apa?

Mereka menemukan para pimpinan pejabat terikat. Segera setelah Jang membuka ikatan mereka, para pejabat itu mengirimkan perintah untuk menangkap semua penduduk di kota itu. “Mereka tidak mungkin pergi jauh!”

Chogee : Tuan Puteri Sunhwa ada di sini. Beri penghormatan yang pantas!

Para Pejabat: Ya? (Melihat Sunhwa, terkejut dan buru-buru bersujud) Tuan Puteri!

Sunhwa: Kota sudah kosong. Siapa yang kalian ingin tangkap?

Pejabat: Penduduk kota ini mengikat kami semua sehingga mereka dapat melarikan diri.

Semuanya ditangkapi dan dibawa ke halaman gedung pemerintahan di hadapan sang Puteri.

Sunhwa: Apa yang terjadi di sini?

Pejabat: Kebanyakan dari daerah ini dulunya dibanjiri oleh air, tetapi ketika air itu hilang, banyak rakyat yang dikirim ke sini untuk bercocok tanam di daerah bekas air itu. Tetapi pajak semakin tinggi melebihi apa yang dapat mereka kumpulkan.

Sunhwa: Jika itu masalahnya, bukankah kita harus menurunkan pajaknya?

Pejabat: Aku tidak berkuasa untuk melakukan itu.

Pimpinan penduduk: Tuan Puteri! Selama 3 tahun, tidak ada dari kami yang dapat memenuhi perut kami. Setengah dari kami mati kelaparan dalam setahun. Yang lain banyak yang mati disiksa karena tidak dapat membayar pajak.

Sunhwa: Aku mengerti situasi kalian yang sulit, tetapi ini tidak akan memecahkan masalah. Tidakkah kalian takut akan konsekuensinya?

Pimpinan: Tiap hari kami hidup dalam ketakutan. Jadi kami pikir kami lebih baik menyeberangi perbatasan. Semua yang kami harapkan hanya dapat memberi makan anak-anak kami satu hidangan lengkap setiap hari.

Sunhwa: (Kepada pejabat) Menyeberangi perbatasan?

Pejabat: Baekjae mengembangkan rencana untuk memberikan tanah pertanian kepada rakyat Shilla yang pergi ke sana. Itulah mengapa banyak orang berbaris untuk menyeberangi perbatasan.

Sunhwa: (Melihat ke para petani) Apa yang akan terjadi kepada mereka?

Pejabat: Karena mereka adalah para budak Raja, mereka akan dijatuhi hukuman mati karena berkhianat. (Rakyat berbisik-bisik di antara mereka sendiri)

Sunhwa: Mereka tidak punya pilihan lain!

Pejabat: Aku sudah menulis banyak surat sebelumnya, tetapi aku diberitahu untuk mengikuti nstruksi sampai perintah baru dikirimkan kepadaku.

Sunhwa: Tapi…….

Pejabat: Ini adalah perintah Raja! Bahkan anda Tuan Puteri, tidak dapat melanggarnya.

Sunhwa: Apakah kau mau katakan bahwa kita harus membunuh semua orang-orang ini walaupun itu bukan kesalaha mereka?

Jang tetap melihat dari luar, mendengarkan percakapan itu. Dia teringat dengan tanah yang mereka lalui selama perjalanan.

Jang teringat …

Jang kecil: (bermain dengan lumpur) Tidak mungkin! Dapatkah kita benar-benar menggunakannya untuk itu?

Bumsaeng: Aku masih menelitinya!

Jang: Jika itu terbukti benar, ini semua dapat menyelamatkan kehidupan dari banyak orang.

Bumsaeng: Benar! Keahlian dan ilmu pengetahuan bukan hanya mengenai bagaimana menikmati kehidupan biasa dan mengekspresikan perasaanmu.

Selanjutnya

Pejabat: (Memberikan sebuah surat ke seorang penjaga) Berikan ini ke pejabat kota sebelah. Cepat! (Baik!)

Sunhwa: Tunggu! (Penjaga itu membungkuk hormat ke Puteri) Para pengawal pribadiku ada tinggal di Penginapan Hanjikul, di kota sebelah. Berikan pesan ini kepada mereka, dan kemudian pergilah ke Dove! (Baik)

Jang melihat penjaga berangkat dengan pesan-pesan itu sementara dia sedang berpikir …. Lalu tiba-tiba, membuat keputusan, dia mulai berlari.

Membawa sebuah cangkul di tangannya, dia pergi ke tanah yang tandus, melihat ke sekitarnya. Setelah selesai mengamati tempat itu, dia mulai menggalinya, membuat beberapa lubang. Lalu dia menuangkan air ke dalam lubang-lubang itu, mengamati lumpur dengan tangannya. Dia berkeringat.

Dia berlari ke hutan, memanjat bukit, berpikir: “Kakak Bumsaeng benar. Dia selalu benar! ”

Ketika ia kembali ke kota, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Dia mendengar suara seorang pria: “Ikat mereka dengan erat!”. Yang lain:: “Baik”

DI DALAM KOTA

Penduduk kota itu mulai membebaskan diri mereka sendiri, dan mereka mengikat petugas kepala. Mereka mengarahkan sekop dan tongkat terhadap Jang yang baru datang.

Petani 1: Letakkan senjatamu ke tanah! Sekarang!

Jang mencoba untuk melawan mereka, tapi dia kalah banyak dengan mereka.

Petani 1: Taruh senjata itu ke tanah.

Jang: Di mana Tuan Puteriku. Di mana Tuan Puteriku?

Puteri Sunhwa dikawal keluar dari ruangan, dikelilingi oleh para pimpinan pemberontak.

Chogee: Pengawal, aku tidak ingin mati! Tolonglah kami, kau harus menolong kami!

Pemimpin: (Kepada Jang) Jangan bertarung sia-sia. Aku meletakkan obat pelemas dalam makanan mereka. Setelah kami meninggalkan kota, mereka akan bangun.

Jang: Apakah ini semua yang kamu inginkan? Apakah kau ingin semua orang mati?

Pemimpin: Pada akhirnya kami akan mati juga. Tapi setidaknya sekarang kami harus mencoba untuk menyelamatkan leher kami..

Jang: Pesan telah mencapai Dove. Kalian semua akan ditangkap dalam perjalananmu.

Pemimpin: Itu sebabnya kami harus membawa Puteri bersama-sama dengan kami..

Jang: (Menletakkan cangkul) Beri aku tiga hari. Dalam tiga hari, aku akan menemukan satu pemecahannya. Aku akan menemukan cara untuk menyuburkan tanah.

Pemimpin: (Tertawa mengejek) Jangan mencoba untuk menipuku. Apa yang dapat kau lakukan hanya dalam waktu 3 hari? Kami sudah mencoba untuk melakukan itu selama 3 tahun. Kami telah menggali jau ke dalam tanah dan mengairi tanah dengan air. Tapi tidak ada gunanya. Ini adalah tanah yang Shilla berikan kepada kami!

Jang: Pasti ada cara! Aku akan menemukannya!

Pemimpin: Bahkan jika kau melakukannya, para prajurit akan sampai di sini dalam 3 hari.

Jang: Meskipun kamu membawa sang Puteri denganmu dan pergi, Kau akan tetap ditangkap oleh tentara. Kau akan membawa wanita dan anak-anak denganmu. Bagaimana kau akan membuat rencana untuk menyeberangi perbatasan dengan selamat? Yang kecil pasti akan mati di jalan!

Pemimpin: Tidak ada pilihan lain. Semuanya memang sudah buruk keadaannya, jadi kami sudah tidak punya pilihan lain.

Jang: (Melemparkan cangkul ke tanah dan menatap sang Puteri) Tuan Puteriku … sebagai Puteri dari Shilla, berikan janjimu sebagai seorang Puteri. Jika aku menemukan pemecahannya dalam waktu 3 hari, menyuburkan tanah … janji pada kami bahwa kau tidak akan menghukum orang-orang yang ada di sini.

Sunhwa: …

Chogee: Apakah Kau membuat kesepakatan dengan hidup kami? Kau tidak bisa, Kau tidak seharusnya melakukannya! Kau sedang berbicara mengenai sang Puteri!

Jang: Aku tidak membuat kesepakatan. Aku sedang berusaha mencari cara untuk menghidupkan kembali tanah dan untuk menyelamatkan hidup kita semua pada saat yang sama! (Kepada Sunhwa) Janji kepada kami!

Chogee: Kau tidak bisa! Jangan lakukan itu!

Sunhwa: Baiklah, aku akan bersumpah dengan gelarku sebagai seorang Puteri.

Jang: (Kepada para penduduk) Kalian juga, berjanjilah kepada kami, bahwa kalian akan menunggu selama 3 hari.

Pemimpin: Baiklah … Hanya untuk 3 hari. Tapi sang Puteri harus mengirimkan pesan lain ke Dove, mengatakan supaya tentara tidak datang ke sini.

Chogee: Jangan lakukan itu! Jika tentara tidak datang ke sini, apa yang akan terjadi dengan kita?

Sunhwa: Baiklah. Bawalah aku pena bulu dan kertas.

Chogee: Tuan Puteriku! Kau tidak seharunya melakukan ini!

Pemimpin para petani memerintahkan anak buahnya untuk mengirim seseorang untuk mencegat pembawa pesan, dan ia memerintahkan dua pria lain untuk mengikuti Jang ke  mana-mana, dan untuk membunuhnya di kesempatan pertama jika melakukan hal yang mencurigakan.

DI TANAH PERTANIAN

Jang meminta kedua orang yang mengawasinya untuk membantu dirinya menemukan kapur (kalsium-oksida). Mengambil sekarung penuh dari bukit kapur, mencampur tanah berlumpur dengan kapur.

Kota itu telah diawasi oleh para pengawal pribadi sang Puteri yang bersembunyi.

Di kota, seseorang mengeluh kepada kepala para petani, merasa bahwa kalau dengan mereka menunggu  mereka masuk perangkap untuk mengulur waktu.

Wanita: Sang Puteri telah mengucapkan janjinya.

Pria 1: Dia berjanji? Apakah kau pikir sang Puteri peduli sedikit saja tentang kehidupan kita?

Wanita: Tapi pengawal itu benar. Yang kecil akan mati di jalan …

Pria 2: Kita semua akan mati juga!

Pria 3: Apa pembawa pesan itu belum kembali? …

Pria 4: Pembawa pesan sudah datang! Pembawa pesan itu kembali!

DI TEMPAT PERSEMBUNYIAN

Sochoong: Apa yang terjadi di sana?

Penjaga: Orang-orang terbagi pendapatnya di antara mereka sendiri, ada yang ingin melarikan diri membawa sang Puteri sebagai jaminan, dan mereka yang ingin menunggu sedang mencari pemecahan lain. Pembawa pesan itu dikirim ke Dove kembali.

Bomyung: Bagaimana sang Puteri? Apakah dia baik-baik saja?

Penjaga: Ya, setidaknya untuk saat ini.

Bomyung: (Kepada Sochoong) Apa yang kau tunggu? Pergilah menyerang mereka!

Sochoong: Kita tidak bisa melakukannya. Puteri bisa terluka. (Lalu?) Kita harus menunggu sampai mereka mengeluarkan Puteri dari kota.

DI TANAH PERTANIAN

Jang masih bekerja dengan sebidang tanah, sedangkan sepasang petani, yang pada mulan enggan membantunya, lelah membantunya, dan mereka duduk.

DI KOTA

Orang-orang bosan menunggu, sehingga mereka mengeluarkan Puteri kr halaman, bersiap-siap untuk melarikan diri.

Sunhwa: Waktu belum habis.

Pria: Tidak masalah. Aku pergi untuk melihat apa yang mereka lakukan. Mereka hanya duduk, tidak melakukan apa-apa. Mereka sudah menyerah!

Pemimpin: Mulai sekarang, Tuan Puteriku dan kami … kita akan berada dalam perahu yang sama. Jika Kau mencoba untuk melakukan sesuatu saat kau sedang bersama kami, kita semua akan mati bersama-sama. Ikat Puteri dengan erat!

Suara Jang Bebaskan Tuan Puteri!

Jang: (Menjalankan terhadap pemimpin) Aku telah menemukan pemecahannya. Ada cara untuk menyuburkan kembali tanah.

Pria 1: Dia sedang berusaha untuk mengulur waktu.

Pria 2: Apa pemecahannya? Mari kita pergi!

Pria 3: (Kepada pemimpin) Jika kau ragu-ragu lagi, kita semua akan mati! (Kepada semua orang.) Mari kita pergi! Mari pergi!

Orang-orang mengikat sang Puteri dan Jang mencoba untuk melawan mereka tapi ia terpojok oleh laki-laki lain. petani lain yang berjalan ke arah mereka berteriak: “Para prajurit ada di sini! Mereka ada di luar kota! ”

Pemimpin: Tuan Puteri berbohong kepada kami.

Sunhwa: Aku tidak melakukannya….

Pemimpin: Inilah Shilla,  menganugerahkan kami tanah ini … suatu daerah yang benar-benar tandus, bahkan kami tidak bisa memberi makan anak-anak kami! Dan kemudian, memungut pajak yang tinggi dari kami. Itulah Shilla!

Kau berjanji akan menyuruh tentara kembali, dan sekarang kau mengatakan kau tidak melanggar janjimu. Itulah karakter Shilla!

Jang: Tuan Puteri Kau harus menepati janjimu!

Sunhwa: Jang … Bagaimana kau bisa …..?

Jang: Karena kau melanggar janjimu, aku telah kehilangan seseorang yang dekat denganku yang melebihi seorang kakak kandung..Penuhi janji ini untuk menebus janjimu dulu!
Sunhwa: Chogee, pergi memberitahu para prajurit bahwa mereka tidak boleh melakukan apapun tanpa perintahku..

Chogee: Tuan Puteri!

Sunhwa: Jika mereka melakukan sesuatu, aku akan menganggap itu sebagai ancaman terhadap hidupku. (Kepada para petani.) Lepaskan anak ini sekarang! (Kepada Jang.) Aku penasaran untuk melihat apa yang telah kau temukan. Mari kita pergi.

DI LAHAN PERTANIAN

Orang-orang berjalan menuju lahan pertanian, yang dipimpin oleh Jang dan sang Puteri. Sochoong dan anak buahnya sedang mengawasi mereka dari agak jauh di belakang..

Pemimpin: (Mengambil segenggam tanah.) Oh Tuhan! Tanah ini menjadi gembur!

Sunhwa: Bagaimana kau melakukannya?

Jang: Aku menggunakan cacing tanah.

Sunwha: Cacing tanah?

Jang: Ya. Mereka makan dari tanah dan mereka mengeluarkan kotoran beberapa kali dalam sehari. Meskipun tanah ini mandul pada awalnya, jika melepaskan  cacing tanah ke dalamnya, tanah tersebut dapat dihidupkan kembali.

Pemimpin: Cacing tanah dapat mengubah tanah seperti ini?

Jang: Mereka menyuburkan tanah dan mereka membuatnya ‘bernapas’ juga.

Pemimpin: Kau …. berarti kau menyebarkan cacing tanah di sepetak tanah ini? (Ya.) Bagaimana kau menemukan begitu banyak cacing tanah?

Jang: Ketika aku masih kecil, aku membuat gincu dengan menggunakan cacing tanah. Aku belajar pada saat itu bahwa mereka menyukai kapur, dan jika aku taburi kapur di atas tanah, cacing akan berkumpul di sekitarnya.

Para petani sangat kagum dengan ini, mereka mengamati tanah yang telah dihidupkan kembali oleh Jang.

Dari kejauhan, Sochoong memberi tanda kepada Sunhwa untuk berlindung. Sang Puteri membawa Chogee dan dia diam-diam berjalan pergi menyingkir. Sochoong memberikan tanda kepada anak buahnya untuk memanahi para petani. Para petani terkejut, mereka segera berlari untuk mencari perlindungan, beberapa dari mereka berjatuhan terkena panah.

Jang: (Kepada Puteri) Apakah kau akan membunuhi mereka semua? Apakah kau benar-benar akan membunuhi rakyatmu sendiri? Bukankah rakyat adalah jantung dari negerimu? Jika kau menyangkalnya, maka negeri ini hanyalah sebuah kurungan tirani!

Tuan Puteriku mungkin memiliki semua kebijaksanaan surgawi, semua keterampilan dari dunia ini, dan semua keahlian dari laut, tetapi jika seorang manusia bukanlah pusat dari semua itu, mengapa kau ingin memerintah atas mereka?

Sunhwa mencegah para prajurit menembakkan lagi panahnya.

DI KOTA
Sunhwa memberitahu rakyat bahwa pajak tahun ini akan dibebaskan. Orang-orang bersukacita.

Sunhwa: Tetapi orang yang menyebabkan pemberontakan ini harus membayar. (Semua orang takut.) Orang yang bertanggung jawab harus dihukum dengan tongkat. (Semua orang lega.)

Hukuman ‘pura-pura’ sedang dilaksanakan, dengan semua orang tertawa dan menari dengan sukacita.

Sementara itu

Jang sedang berlutut di depan Sochoong.

Sochoong: Dalam segala situasi, kita tidak bisa menukarkan hidup Tuan Puteri bahkan dengan seribu budak. Dan perilakumu yang kasar telah meletakkan sang Puteri dalam bahaya yang lebih besar! Perilaku Kau tak berpikir sebagai seorang pengawa..Ini adalah dua dosa terbesarmu. Kau harus mati untuk ini. (Dia mengeluarkan pedang untuk membunuh Jang …)

Sunhwa: Hentikan! Sebagai pengawal, ia layak untuk mati. Tapi untuk Shilla, dia seseorang yang aku butuhkan.

Bomyung: Tuan Puteri, Kau tidak boleh ikut campur dalam hal ini.

Sunhwa: Aku akan membawa hal ini langsung kepada raja. Kau tahu juga berapa banyak orang menderita karena tanah Shilla yang tandus dibandingkan dengan tanah Baekjae. Jika Jang tidak melakukan ini, banyak orang akan pergi ke Baekjae. Raja juga akan bersukacita atas hal ini.

Aku adalah orang yang melakukan kesalahan. Aku telah menggunakan seseorang terampil dalam seni dan ilmu sebagai pengawal aku. Jadi, aku akan menempatkan dia di mana dia seharusnya berada, dan menggunakannya sesuai keahliannya. (Kepada Jang.) Layanilah Shilla dan layani aku. (Jang tidak menjawab)

Bomyung: Dmi langit! Kenapa kamu tidak menjawab ketika sang Puteri adalah menyukaimu seperti ini? Kau seharunya dengan rendah hati harus menerimanya!

Jang sedang mengingat bagaimana Bumsaeng dan ibunya meninggal.

Sunhwa: Layanilah Shilla dan layani aku. (Belum ada tanggapan.) Layanilah Shilla dan aku …

Jang: Aku tidak mau.

Sunhwa: Apa? Kau tidak mau?

Jang: Tidak, aku tidak mau. Ada sebuah tempat di mana aku harus pergi ke sana.

Sunhwa: Tidakkah kau tahu ini? Sepanjang aku membutuhkan dirimu, kau tidak bisa lepas dari diriku. Itulah takdirmu!

Jang: Takdir bukanlah sesuatu yang tak bisa dihindari, tetapi itu adalah sebuah jalan yang bisa kita hindari namun juga, kitalah yang memilihnya. Saat ini, aku berencana untuk berjalan menuju takdirku walaupun aku bisa juga menghindarinya. Maafkan aku. (Ia berdiri, membungkuk hormat untuk sang Puteri, dan ia berjalan pergi.)

Sunhwa: Berhenti! Berhenti!

Sochoong: Berhenti di sana! (Mengambil busur dan anak panah) Berhenti di sana! Jika kau tidak berhenti, aku akan memanahmu! (Jang terus berjalan menjauh.) Aku akan memanahmu jatuh!

Sunhwa: Jangan memanah!

Jang berhenti sejenak, tapi ia terus berjalan tanpa berpaling kembali. Dia pergi ke tepi sungai, mencari ke mana-mana … Di sana, akhirnya ia menemukan kalung permatanya yang berkilauan. Dia mengambilnya dengan sukacita.

HANEULCHAE

Suara wanita: Jang di sini! Jang di sini!

Maekdosu: Jang, ‘Jang” macam apa? (Jang bisa berarti ‘saus’ di Korea)

Gooksoo: Bukan itu. Mereka berbicara tentang Jang, orang yang diusir dari sini!

Gomo: Ya, Aku mendengarnya juga!

Anak laki-laki: Jang datang’s! Jang datang!

Mojin: Jang? Apakah kau mengatakan Jang benar-benar kembali kepada kita?

Anak perempuan: Ya, aku cukup yakin itu dia.

Jang berjalan masuk dan , berlutut di hadapan semua orang.

Jang: Aku datang kembali. Namun, bukan karena aku mendengar tentang kesalahpahaman itu.

Maekdosu: Benarkah? Lalu kenapa?

Jang: Aku kembali karena aku sudah menyadari kesalahan yang aku buat selama 10 tahun ini.

Mokrasu: Apa kesalahan itu?

Jang: Aku sudah lupa dengan alasanku harus tinggal di sini. Aku akhirnya memahami tujuan sebenarnya dari keahlian dan ilmu sains yang saudara Bumsaeng ketahui. Ketika aku melihat kakak Bumsaeng mati untuk menjaga kebenaran itu tetap hidup, aku ingin untuk menirukan jejaknya. Dia adalah pria terhebat yang aku pernah tahu, jadi aku ingin menjadi seperti dia sesuai dengan keinginan ibuku.

Mokrasu: Lalu?

Jang: Aku selalu diliputi oleh rasa bersalah sehingga aku melupakan tujuanku yang sebenarnya. Karena melupakan tujuan itu, aku kehilangan jati diriku. Karena aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, aku sudah menyia-nyiakan sepuluh tahun hidupku penuh dengan rasa bersalah, mengabaikan keinginan terakhir saudara Bumsaeng bagiku.

Mokrasu: Apa keinginan terakhir Bumsaeng’s?

Jang: Untuk menjadi orang yang hebat dengan caraku sendiri. Aku telah memutuskan untuk melakukan itu. Bahkan jika aku terus ditegur dan terlepas diterima sebagai anggota Hanuelchae atau tidak, mulai sekarang … aku tidak akan dikendalikan oleh keadaanku. Aku akan mengambil kendali atas keadaanku. Dengan cara ini, aku akan lebih mendekati pemahaman atas keahlian dan ilmu sains. Inilah diriku yang sebenarnya..

PONDOK JANG

Bumro menunggu Jang di depan pondoknya.

Bumro: Kau tahu bagaimana mengatakan pidato, ya? (Tersenyum malu-malu.) Bagaimanapun … Selamat datang kembali! (Dia pergi)

Mokrasu mengawasi Jang  berjalan ke arah  pondoknya. Dia mengingat …

Yungamo: Tolong, Jaga Jang … Jagalah Jangku.

Mokrasu: Mengapa? Mengapa? Katakan padaku mengapa? Aku cukup yakin perasaan mu bagiku tidak berubah, perasaan itu masih seperti dulu … Jadi mengapa kau tidak ikut denganku? Apakah ini untuk menghormati ayah Jang? Apakah itu? Jika itu terjadi, Kau seharusnya tidak membiarkan aku melihat anak itu! Kau seharusnya tidak mengirimkan Jang kepada aku! Anak itu membawa duniaku jauh dari diriku.

Mokrasu terus mengawasi Jang berjalan.. Di belakangnya, Mojin sedang mengawasi Mokrasu..

Suara hati Mojin: Apakah ini begitu berat, untuk memutuskan semua hubungan dengan anaknya Yungamo?

Beberapa saat kemudian

Jang duduk di bukit, mengingat sang Puteri. Saat sang Puteri merawatnya, ketika Puteri mempermainkan dan menipunya, waktu dirinya mengajari Puteri memanah … dan ketika Puteri melompat-lompat dengan sukacita setelah berhasil memanah target untuk pertama kalinya. Waktu dirinya menjadi pengawal Puteri.

Suara Jang: Aku tidak akan dikendalikan oleh keadaanku. Aku akan mengambil kendali atas keadaanku.

Suara Bumro: Kau tahu bagaimana mengatakan pidato, ya?

Bibir Jang melengkung ke atas, geli dengan dirinya sendiri.

Jang: (Berbicara dengan keras) Aku akan mengambil kendali atas keadaanku … (Dia mendesah) Bagaimana aku dapat melakukannya?

Panah melayang ke arahnya. Jang bersembunyi di balik pohon, ia mencoba untuk menghindari panah-panah yang diarahkan padanya.

Jang: Tuan Puteriku! (Sunhwa terus memanah ke arahnya, dan ia terus menghindarinya.) Tuan Puteri!

Sunhwa: Tidak ada yang boleh menolakku. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Itu sebabnya aku mengikutimu. (Sunhwa melanjutkan memanah satu demi satu.)

Jang memutuskan untuk keluar dari sana. Sunhwa mencoba untuk mengikutinya, tapi dia menghilang. Sunhwa tampak kesal. Tiba-tiba, Jang melompat ke atasnya, jatuh di atas tubuhnya.

Jang: (Mencekal lengan Puteri) Aku tidak akan menyimpan seorang wanita dalam hatiku jika aku tidak bisa bicara biasa dengannya. (Masyarakat saat itu tidak mengizinkan orang untuk berbicara informal kepada Puteri.) Itulah aku. Itu sebabnya kau harus membiarkan aku pergi.

Jang: Tidak juga. Bukan begitu, tapi … aku bisa mulai dengan pepohonan. Ya, aku bisa mulai dari sana! Itu benar! Awal jalan aku akan dimulai dari pohon! (Ia berlari ke luar.)

Selanjutnya

Jang mengambil kuas dan sepotong kayu di tangannya, dan ia pergi sekitar hutan, memeriksa pohon-pohon yang berbeda, mencatatnya di buku catatan.. Sang Puteri mengikutinya berkeliling, berusaha untuk membantunya dengan cara apapun.

Kemudian, Jang melihat bahwa sang Puteri duduk di atas tunggul kayu, tampak menyedihkan.

Jang: Apakah ada yang salah? Apakah kau baik-baik saja?

Sunhwa: (sedikit malu) Aku … lapar.

PONDOK JANG

Jang sedang memasak jamur di atas batu bata yang dibakar dengan api di bawahnya..

Sunhwa: Apakah jamur ini benar-benar tumbuh setiap tahun?

Jang: Ya. Pada awalnya, aku melihat banyak dari mereka tumbuh di sekitar pohon-pohon pinus. Tahun berikutnya, aku menemukan hal yang sama. Dan juga tahun-tahun setelahnya.

Sunhwa: Apakah yang terjadi dari tahun ke tahun?

Jang: Aku tidak tahu itu. Aku sudah menyaksikan mereka selama 7 tahun. Dan aku akan tetap mengamati mereka … (Ia mendengar suara sehingga ia memberi tanda agar sang Puteri menyembunyikan.diri)

Eunjin: Wow, itu benar! Ini adalah jamur!

Maekdosu: Tidakkah kau ingat waktu yang lalu, Jang mengatakan kepada kita bahwa jika kita berjalan di dalam hutan, kita akan menemukan banyak jamur di sekitar pohon-pohon pinus?

Eunjin: Tidak ada seorangpun yang menaruh perhatian pada apa yang dikatakan oleh Jang. Tetapi kau tidak, kau mendengarkannya.

Maekdosu: Ini tentang makanan. Tentu saja aku akan memberikan perhatian! Jadi, ketika aku datang, Jang sudah menyimpan banyak jamur untuk diriku!

Eunjin: Terima kasih Tuan!

Maekdosu: Tidak perlu berterima kasih. Sebaliknya, Bantulah aku dengan ibumu …

Eunjin: Tentu saja! Aku selalu menganggapmu seperti ayahku! Kita berdua terhubung secara intelektual, bukan?

Jang dan Sunhwa melihat mereka meninggalkan tempat itu dan Jang menghela napas lega. Sunhwa tertawa.

Jang: Tuan Puteriku, Kumohon tinggalkan tempat ini. Ini berbahaya bagimu jika mereka menemukan dirimu di sini, dan aku juga akan diusir. Aku sudah cukup menderita untuk apa yang terjadi selama masa kecilku. Aku tidak ingin meninggalkan tempat ini lagi. Aku ingin diakui oleh mereka..

Sunhwa: (Menempatkan jamur ke mulutnya.) Aku tidak akan meninggalkanmu kecuali kau pulang denganku.

HANEULCHAE

Maekdosu memberikan sekelompok jamur untuk Mojin, menceritakan di mana mereka bisa mendapatkan lebih banyak. Mojin memanggil Gooksoo, mengatakan bahwa Maekdosu tahu tempat di hutan di mana mereka bisa menemukan lebih banyak jamur.. Gooksoo sangat senang mendengar kabar itu.

Eunjin mengambil sekelompok jamur untuk diberikan kepada Giroo.

Giroo: Eunjin Lihat! Woosoo menakjubkan!

Woosoo: Kau terlalu melebih-lebihkan!

Giroo: Aku telah berjuang begitu lama karena aku tidak bisa memecahkan masalah ini. Terima kasih kepada dirimu, aku akhirnya mendapatkan jawabannya! Aku akan memberitahu Guru Mokrasu tentang hal ini. Kau mungkin menjadi sarjana melalui ini.

Woosoo: Benarkah?

Giroo: Ya. (Dia memegang tangan Woosoo, membelainya.) Setiap orang khawatir bahwa tak ada wanita di sini yang bisa menjadi sarjana suatu saat nanti, untuk menggantikan tempat Instruktur Mojin. Dia akan benar-benar bahagia! Aku juga senang!

Eunjin terbakar dengan api cemburu.

Eunjin memberitahu semua orang bahwa dia telah merancang pakaian jenis baru. Dia membuat Maekdosu dan Bumro memakainya untuk peragaan busana. (Wah jaman dulu udah ada “fashion show” …. :D). Ternyata pakaian-pakaian yang diperagakan semuanaya berlengan pendek, (Lumayan sih baju-bajunya) Semua orang sangat kaget!

Mojin menghukum ketiga orang itu, terutama Eunjin.

Beberapa hari kemudian

Pengawal Raja, Wangoo Moojang, telah mengirimkan pesan rahasia memberitahukan pada Haneulchae bahwa kesehatan raja sedang memburuk, dan obat-obatan yang diberikan tidak bisa mengobati penyakit Raja..

Suara Wangoo: Kesehatan raja menurun. Jadi kami membawanya ke Rumah Sakit Akhan. Namun Rumah Sakit dipenuhi dengan orang-orangnya Buyo-Sun. Setelah Instruktur Gomo meninggalkan tempat ini, tabib baru telah merawat dia, tapi kesehatannya malah semakin menurun. Akhir-akhir ini, ia kehilangan kesadarannya. Aku khawatir jika tabib baru tidak diragukan lagi mungkin salah satu orang Buyo-Sun.

BAEKJAE

Buyo-Sun datang untuk memeriksa kesehatan raja, dan untuk menginterogasi tabib yang gemetar.

Tabib: Silahkan bunuh aku! Aku sudah mencoba semua aku bisa, tapi tidak ada yang bekerja …

Sun: Cobalah apa saja untuk menyembuhkannya. Semuanya!

Suara Wangoo: Aku menemukan di mana kau berada, jadi aku mengirim surat ini. Tolonglah  bantu kami. Jika sesuatu terjadi kepada raja sebelum kembalinya pangeran Aja, masa depan Baekjae dalam bahaya. Aku akan mengirimmu catatan mengenai gejala penyakit raja. Cari tahu apa yang telah dia derita dan kirim obatnya secepat mungkin. Ini adalah hal yang sangat mendesak!

Mojin: Apakah penyakit raja ini serius?

Mokrasu: Dia bahkan kehilangan kesadarannya …

Pembawa pesan: Ya. (Dia menjelaskan tentang gejala yang berbeda, dan bagaimana penderitaannya raja saat ini, tidak bisa bernapas lega dan berkeringat banyak.)

Gomo: Dia sudah sakit sejak aku berada di sana. Tapi aku tidak tahu itu bisa seburuk ini.

Pembawa pesan: Jadi, tolong bantu kami. Moojang mengatakan bahwa satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan raja sekarang, keduanya adalah Guru Mokrasu dan Instruktur Gomo.

Mokrasu: Membantumu? Ini adalah tugas kami. Ini mengenai negeri Baekjae, negara di mana kita nantinya akan dan harus kembali!.

Mojin: Jadi, aku akan mengurus segala sesuatu yang lain di Hanuelchae. Kau berdua harus berkonsentrasi pada usaha menemukan obat untuk penyakit raja..

Kedua tetua sedang mempelajari berbagai kemungkinan untuk penyakitnya raja. Mokrasu menduga apakah raja mungkin telah diracuni. Gomo meragukan itu, melihat catatan gejalanya Mereka membahas tentang berbagai penyakit  yang mungkin raja idap sekarang, tapi mereka merasa ada sesuatu yang aneh bahwa gejala yang sama cenderung untuk kembali setiap tahun bahkan setelah dilakukan pengobatan …

Giroo berjalan masuk, bertanya-tanya apakah dia bisa membantu apapun untuk mereka, tetapi mereka mengatakan bahwa dia tidak dibutuhkan sementara ini di sana. Di luar, Giroo menguping mereka dan ia menyadari raja Baekjae sakit.

Giroo mengirimkan pesan rahasia kepada ayahnya mengenai penemuan barunya kalau Raja Baekjae sedang sakit dan ini kesempatan untuk Shilla.

Instruktur Gomo menetapkan untuk perjalanan berkeliling, mencari jawaban atas pencarian mereka atas penyakit raja..

DI PONDOK JANG

Suara jang: Itu umur! Ini umur!

Jang masuk ke kamar di mana Sunhwa sedang tidur.

Jang: Tuan Puteriku!

Sunhwa: (Bangun) Mengapa kamu begitu ribut?

Jang: Ini adalah umur, umur pohon! (Apa?) Lingkaran-lingkaran yang ada di batang pohon. Ada 7 di sini. Itu berarti pohon ini berumur 10 tahun.

Sunhwa: Bagaimana kau tahu?

Jang: Aku menanam pohon ini 10 tahun yang lalu.

Sunhwa: Kemudian cincin masing-masing dihitung sebagai satu tahun?

Jang: Mari ikuti aku.

DI LUAR

Sunhwa: (Melihat sekelompok pohon yang sudah dipotong.) Apa? Kau memotong mereka semua?

Jang: Lihat. Ada 7 cincin di sini. Yang ini juga. Aku menanam mereka semua 10 tahun yang lalu. Ini berarti, pohon-pohon ini memakan waktu 3 tahun untuk menumbuhkan batang mereka, dan setiap tahun berikutnya, mereka membentuk cincin umur..

Sunhwa: Bukankah mereka semua dari jenis yang sama?

Jang: Tidak, mereka semua berbeda. Lihat yang satu ini. Ini memiliki 10 cincin. Ketika aku datang ke sini, itu adalah pohon muda. Lihat yang satu ini lain. Ini memiliki lebih dari 30 cincin. Ketika aku datang ke sini, itu sudah menjadi pohon dewasa. Aku tidak menyadari hal ini sebelumnya. Aku telah melihat batang pohon setiap hari tapi aku tidak bisa memikirkan hal itu. Sebaliknya, aku membuang-buang waktuku dengan mengukur tinggi dan lebar mereka. Cincin-cincin ini  memberitahukan kita usia mereka! Pohon-pohon menjadi tua seperti yang kita alami!

Sunhwa: Baik. Setelah mendengarkanmu, ini memang terlihat seperti menunjukkan umur mereka …

Jang: Ini bukan ‘terlihat seperti’ … tapi itu memang menunjukkan umur pohon!

Sunhwa: Sungguh menarik …

Jang: Apa?

Sunhwa: Tidak hanya jumlahnya cocok, tetapi juga bentuk mereka. Lihat ini. Yang pertama sempit. Yang kedua itu lebar. Yang ketiga lebih lebar. Yang keempat itu sempit lagi.

Jang: Lihat ini! Cincin terakhir yang menandai tahun ke-10 memiliki lebar yang sama.

Sunhwa: Wow! Itu benar …

Jang: Cincin terakhir yang satu ini juga serupa.

Sunhwa: Benarkah?

Mereka pergi berkelilling, memotong lebih banyak pohon dan memeriksa batang yang berbeda, menemukan bahwa lebar dari cincin terakhir adalah sama, dan bahwa cincin tahun sebelumnya sama juga.

Sunhwa: Aku mengertit … Betapa menakjubkan!

Jang: Harus ada alasan. Harus ada penjelasannya, pasti!

Jang memotong lebih banyak pohon, mencari jawaban atas pencariannya.

Sementara itu

Giroo pergi ke lubang rahasianya, dan ia membaca jawaban ayahnya, pesannya: “Dapatkan salinan catatan medis dari raja Baekjae.” Giroo sedang menyalin catatan, ketika ia mendengar langkah kaki. Dia meniup lilin, menyelipkan catatan itu ke sembarang buku kemudian dia bersembunyi.

Jang sedang memasuki perpustakaan, mencari buku-buku. Dia mengambil beberapa buku dan membawa keluar bersamanya. Di dalam salah satu buku yang Jang ambil, ada kertas kecil di mana Giroo telah menyalin semua gejala penyakit raja dan juga buku aslinya …

PONDOK JANG

Jang dan Sunhwa membaca buku, Mempelajarinya.

Sunhwa: Aku terkesan. Aku tidak tahu kalau para budak menyimpan catatan terperinci dari semua yang mereka lakukan.

Jang: Kami bukan budak pada awalnya.

Sunhwa: Benarkah?

Jang: Ya. Pada awalnya, kami pedagang. Tetapi ketika kami pergi ke Cina, kami menjadi budak.

Sunhwa: Aku mengerti. Itulah alasan mengapa Kekaisaran Cina masih mencari orang-orangmu.

Jang: Ya …

(Sunhwa mengambil buku catatan medis raja, membacanya) Sunhwa: Hah?

Jang: Apakah ada yang salah?

Sunhwa: Ini terlihat seperti catatan medis penyakit seseorang.

Jang: (Menempatkan potongan kertas di samping.) Seseorang pasti telah meninggalkan catatan inidi sini. (Kemudian … ) Jawabannya seharusnya ada dalam buku ini, karena hujan dan matahari membuat pepohonan tumbuh. Tapi …

Sunhwa: Apa?

Jang: Dalam buku ini … ada banyak karakter yang aku tidak bisa membacanya …

Sunhwa: (Geli) Kau tidak akan mengusir aku keluar untuk sementara waktu khan?

Giroo pergi ke pondok Jang. Dia mendengar suara wanita, tertawa: “Mengapa kamu tidak mengatakan apa-apa? Haruskah aku pergi? ”

Suara Jang: Tolonglah, ajari aku.

Suara Sunhwa’s: Baiklah, aku akan memikirkannya.

Giroo melihat lembaran kertas, salinan catatannya, di lantai. Dia mencoba untuk mengambilnya, tapi dia mendengar suara langkah kaki sehingga ia menyembunyikan diri.

Pagi harinya

Giroo melihat Jang meninggalkan pondok, jadi dia berjalan masuk ke dalamnya. Dia mencari ke mana-mana untuk menemukan kertas catatannya, tetapi ia tidak dapat menemukannya. Dia membuka pintu lain dan ia merasa seseorang baru saja berjalan keluar. Sunhwa berjalan ke luar, tiba-tiba Jang merengkuhnya dan menutup mulut Sunhwa kemudian menggiringnya untuk bersembunyi sebelum Giroo menemukan mereka…

One comment on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 08

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s