Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 10

Sun mengikuti angka dan menulis huruf yang sesuai. Dia berakhir dengan dua kalimat :

  1. Kematian: raja.  Sun: dia bertanggung jawab.
  2. Kematian: raja atau pangeran mahkota. Sun: dia bertanggungjawab.

Sun: (Berpikir dengan keras) Jika raja mati, Sun-lah yang bertanggungjawab. Jika raja atau pangeran mati, Sun juga yang melakukannya! Aku melakukannya! Ini aku yang melakukannya!

PASAR SHILLA

Orang-orang di pasar berbicara tentang penyu-penyu yang mengherankan, dan bagaimana dikatakan bahwa Jenderal Buyo-Sun merencanakan untuk membunuh pangeran. Jang mendengar banyak orang berbicara tentang hal ini.

Suara hati Jang: Aku akan membuat mereka datang untuk mengawal pangeran kembali! Aku akan menempatkan mereka dalam situasi yang sulit!

Selanjutnya

Haedoju mengatakan pada Sun bahwa jika seseorang menyebar rumor kedua segera setelah yang pertama, mudah bagi orang untuk percaya kalau mereka memang berkomplot melawan raja. Kemudian, orang-orang tidak akan pernah menerima Buyo-Gye, ayah Sun,  sebagai raja sejati. Sun tidak ingin ayahnya dianggap perampas tahta, jadi ketika ia mendengar para pengawalnya pergi untuk membunuh pangeran, ia segera keluar dengan marah.

Sementara itu …

Aja sedang memeriksa kalung permatanya.

Baekmoo: Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Aja: Ini pasti tertukar!

Baekmoo: Kapan dan bagaimana?

Aja: (Berpikir) Hal pertama yang pembunuh itu lakukan ketika mencoba membunuh aku adalah mengambil kalungku. Mereka ingin membunuhku dan mengambilnya sebagai bukti. Aku punya perasaan kalungku ditukar dengan kalung yang ada di tangan mereka..

Baekmoo: Namun Tuanku, Yang Mulia hanya memiliki 3 orang anak. Kau yang pertama lahir, lalu Buyo-Byung, dan Buyo-Geun, yang meninggal pada masa kanak-kanak. Bagaimana mungkin ada kalung permata pertanda anak raja dengan nomor 4 di baliknya?

Aja: Aku tidak tahu …

Baekmoo: Jang datang. (Aja menyembunyikan kalung di balik bajunya)

Jang: Aku kembali.

Baekmoo: Apakah segala sesuatunya bekerja sesuai dengan rencanamu?

Jang: Ya. Aku menggunakan garam untuk membuat penyu mengambang  setelah garamnya mencair, satu demi satu. Orang-orang begitu kagum sehingga desas-desus tersebar dalam waktu singkat.

Baekmoo: Aku harap Kau benar.

Jang: ini akan berhasil. Sebelum menyebarkan desas-desus ini, ada satu lagi yang sudah menyebar di sekeliling.

Aja: Rumor apa?

Jang: Itu Sangjapyung Buyo-Gye (kakak Raja) adalah ahli waris langit  yang telah dipilih. Sekarang, kita harus pergi. Aku memeriksa tempat sewaktu menuju kemari. Kau harus beristirahat disanauntuk meneruskan perjalanan di pagi hari.

Keesokan harinya

Pasukan pribadi dipimpin oleh Heukjipyung berhasil melacak tempat Pangeran beristirahat, mereka segera mengepung dan menyerang tempat itu. Saat Pangeran dan pengiringnya terkepung oleh orang-orangnya Heukjipyung, tiba-tiba muncul tentara yang bertempur dengan para penyerang sehingga Pangeran dan pengiringnya terselamatkan. Heukjipyung melihat Jenderal Sun, dan mengerti akan tanda yang diberikan oleh Sang Jenderal, ia segera menyingkirkan diri dan membiarkan orang-orangnya tetap bertempur dan mati tak tersisa.

Jang melihat Jenderal Buyo-Sun memimpin para tentara itu, dan ia kemudian ingat bahwa Mojin mengatakan padanya kalau orang ini adalah pembunuh Yungamo. Sun berlutut di hadapan sang pangeran memohon ampun atas keterlambatannya, kemudian ia mengawal sendiri Sang Pangeran dengan selamat ke Istana.

Para bangsawan menyambut pangeran kembali. Di Balairung Istana, sang pangeran memberitahu mereka tentang ‘rumor aneh’ mendengar dia. Haedoju menyiratkan bahwa itu semua  mungkin telah disebarkan oleh musuh. Aja setuju dn  mengatakan bahwa karena ketidakhadirannya sehingga memudahkan gosip tak benar  menyebar di Baekjae.

Aja: Jadi aku tidak akan  meninggalkan Istana untuk sementara waktu. Selain itu, aku harus mengurus urusan internal sementara sampai Yang Mulia membaik. Apakah kau tidak apa-apa dengan keputusanku ini, paman?

Buyo-Gye: Tentu saja. Aku hanya mewakili sementara Tuanku Pangeran yang sedang pergi.

RUANGAN AJA

Aja: Siapkan segera ruangan pemanas untuk raja.

Jang: Baik.

Aja: Kami mengirim pesan ke Yang Mulia, maka ia akan berada di sini segera. Dia sangat lemah sekarang, jadi jangan buang waktu.

Jang: Aku tidak akan lama.

Aja: Terima kasih padamu, aku tidak hanya bisa sampai kemari dengan selamat, tetapi juga, Kau membuat lebih mudah bagiku untuk tetap tinggal. Aku benar-benar berterima kasih.

Jang: Bukan apa-apa. Aku akan kembali bekerja sekarang. (Dia meninggalkan ruangan.)

Aja: (Melihat kalung permata itu lagi)  Seorang anak keempat?

RUANGAN SUN

Heukjipyung: Kali ini, kita kalah. Aku ingin tahu siapa yang menyebarkan desas-desus kura-kura itu.

Sun: Ini pasti perbuatan Chilryo, ayah mertua Aja. Mereka pasti berkomunikasi sejak waktu Aja pergi ke Shilla. Mereka pasti merencanakan ini sebelum ia datang.

Heukjipyung: Aku telah mengawasi mereka dengan ketat …

Sun: Sama seperti kita, hidup mereka dipertaruhkan. Masalah sebenarnya sekarang adalah bahwa pangeran Aja menunjukkan jiwa petarung.

(Dia menyaksikan Jang sedang  mempersiapkan ruangan pemanas) Apa itu?

Heukjipyung: Ini adalah ruangan untuk mengobati kesehatan raja. (Menunjuk pada Jang.) Dia asisten yang dibawa oleh pangeran. Mereka datang bersama-sama.

Jang dan Baekmoo sedang memeriksa ruangan pemanas ketika mereka mendengar raja telah tiba. Jang melangkah ke luar untuk menunggu prosesi. Wangoo berhenti di depan Jang, dan anak itu tampak terkejut, mengenali si orang tua.

Wangoo: Aku mendengar kalau kau juga membawa beberapa obat herbal untuk raja.

Jang: Ya. Sudah hampir siap sekarang.

Wangoo: Baiklah. Bawa nanti ke hadapan raja.

DI DALAM

Aja: (Membantu ayahnya) Yang Mulia, silakan duduk.

Weeduk: Kau kembali hidup-hidup!

Aja: Yang Mulia …

Weeduk: Aku takut aku akan mati sebelum Kau kembali, sebelum menyerahkan kerajaan kepada dirimu. Aku takut aku akan menjadi ayah yang berlaku buruk padamu.

Aja: Yang Mulia, jangan membayangkan hal-hal yang buruk. Mulai sekarang, aku akan berada di sini, di sisi Yang Mulia.

Weeduk: Itu bagus! Aku merasa sudah lebih baik, mengetahui itu. (Aja mendesah.) Apa? Apakah ada yang salah?

Aja: (ragu-ragu) Yang Mulia …

Weeduk: Katakan padaku apa yang salah.

Aja menunjukkan pada raja kalung permata dengan angka 4 di baliknya. Raja terkejut, mengingat waktu dia memberikan itu untuk Yungamo.

Raja: Ini adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh pangeran dari Baekjae, dan membuktikan statusnya. Jika Kau melahirkan anak laki-laki, Kau harus memberikan ini padanya. “

Weeduk: Bagaimana kau bisa memiliki ini?

Aja: Apa ini? Bagaimana ini bisa? Apakah Kau mengenali kalung permta ini?

Weeduk: (Menutup matanya) Aku sungguh malu …

Aja: Yang Mulia! Ini hal yang biasa bagimu untuk memiliki anak. Tapi ini?

Weeduk: Mana anak itu? Ketika aku berusaha mencarinya, dia sudah pergi, dan tidak ada cara aku bisa menemukannya. Dimana dia?

DI LUAR

Jang sedang menyalakan tungku pemanas untuk menghangatkan ruangan, sambil menyiapkan obat herbal.

DI DALAM

Weeduk: Dimana dia?

Aja: Aku pikir dia sudah mati.

Weeduk: Apa?

Aja: Aku pikir Buyo-Sun yang menemukannya pertama kali. Ini di tangan mereka. Anak buahnya menyamar sebagai laki-laki Shilla dan mereka hampir membunuhku. Aku pikir saat itulah kalung punyaku ditukar dengan yang satu ini.

Suara Wangoo: ” Tuanku Pangeran, obatnya sudah siap.”

Aja: Masuk

Jang: (Menempatkan obat di depan raja.) Yang Mulia, jika asap masuk kamar ini itu akan berbahaya bagi anda. Ijinkan aku untuk memeriksa ruangan ini.

Aja: Lakukanlah

Weeduk: (Sementara Jang sedang memeriksa sudut-sudut ruangan) Ini salahku. Salahku … Anakku! Anakku! (Dia mulai batuk)

Aja: Apakah ada orang di luar? Panggil dokter sekarang!

Jang menempatkan ramuan herbal untuk raja untuk dihirup. Batuknya berhenti.

Aja: Apa itu?

Jang: Guru Mokrasu mengatakan kepadaku kalau ini akan menghentikan batuk. (Dia memeriksa nadi raja dan ia mulai memijat dia.)

KUIL JIN

Bomyung mengatakan pada puteri Sunhwa bahwa ia harus pergi ke Seorabol, dimana 6 negara akan berkumpul bersama-sama untuk sebuah Upacara Segala Bangsa. Dua puteri yang lebih tua masing-masing bertanggung jawab atas 2 bangsa, membangun aliansi diplomatik. Raja ingin Sunhwa untuk mengambil alih  2 bangsa yang tersisa.

Sunhwa: Aku tidak akan pergi! Bukankah aku sudah mengatakannya?

Bomyung: Tuanku Puteri, Shilla menurunkan tahta kerajaan untuk para wanita. Sekarang, 3 puteri hanyalah calon untuk itu. Pada akhirnya, salah satu dari 3 puteri akan duduk di atas takhta. Keinginan Raja adalah untuk menguji semua, ke 3 puteri sekarang. Adalah tugas aku untuk membantu Kau untuk melakukan itu. Tetapi Kau tidak mau mendengarkan aku. Puteri Chunmyung sudah menikah dengan seorang Jenderal dan kekuasaannya mulai berkembang. Apa kau tidak punya rasa tertarik dalam menangani urusan negara?

Sunhwa: Aku melakukannya. Itulah sebabnya aku tinggal di sini. Aku akan mengurus Shilla dengan cara aku sendiri. Di sinilah aku bisa belajar untuk melakukan itu.

Bomyung: Ini adalah dokumen tentangIndiadanPersia. Perlakukan dokumen ini apapun yang ingin kau lakukan. (Dia meninggalkan Sunhwa.)

Catatan: Masa dimana Drama Seo Dong Yo ini terjadi  bertepatan dengan masa  Drama Queen Seon Deok. Deokman (nantinya menjadi Queen Seon Deok) adalah saudara kembar dari Putri Cheonmyong (Chunmyung kalau di SDY), yang berarti dia adalah puteri yang kedua dari Raja Jinpyeong. Hanya saja di QSD tidak diceritakan mengenai puteri yang ke-3, yakni Sunhwa, dan demikian juga sebalikny, hampir tidak ada  yang diceritakan mengenai Deokman di SDY.

Chogee: Tuanku Puteri, Lady Bomyung kesal!  Selain itu, Kau telah menembakkan satu panah per hari, tetapi ini sudah ada lebih dari 30! Dia tidak akan datang!

Sunhwa: (melepaskan panah, tembakannya meleset) Aku akan menunggu sampai aku kehabisan anak panah.

Chogee: Disana tersisa 12. Apakah Kau benar-benar kembali ke Istana jika ia tidak datang dalam waktu 12 hari?

Sunhwa: Ya, aku akan pergi.

BAEKJAE

Aja: raja merasa lebih baik hari ini.

Jang: Ya, Tuanku. Jadi, aku harus pulang.

Aja: tungku penghangat dan rencana Kau tentang menyebarkan rumor menyelamatkan raja dan aku.

Jang: Itu adalah sebuah pujian yang berlebihan.

Aja: Jika Kau ingin, aku ingin membuatmu tetap di sisiku. Apa yang akan Kau katakan?

Jang: aku berterima kasih atas tawaran itu, tapi ada sesuatu yang aku harus lakukan sekembalinya ke Haneulchae.

Aja: Sesuatu yang harus Kau lakukan?

Jang: Ya, aku harus kembali.

Aja: Baiklah. Kalau begitu, berikan ini untuk Guru Mokrasu. Katakan padanya aku akan mencoba yang terbaik untuk mengembalikan orang-orang Hanuelchae.

Jang: Ya, Tuanku. (Dia meninggalkan Aja)

DI LUAR

Jang ingat sang puteri.

Suara Sunhwa: Datanglah padaku selama jam pertama setiap pagi. Aku akan mengambil ini sebagai ya, dan aku akan menunggumu. Sebenarnya, aku akan menunggu sampai kau datang. Aku akan memberikan cukup waktu bagimu untuk memikirkan hal ini.

Jang: (Berpikir kepada dirinya sendiri.) Tidakkan ini sudah terlambat? Aku tidak terlambat, khan? (Dia mulai berlari)

Di lain waktu

Kim Saheum datang dekat Hanuelchae untuk berbisnis, dan ia bertemu anaknya.

Saheum: Apakah Kau sadar bahwa puteri Sunhwa tinggal di Kuil Jin sekarang?

Giroo: Ya.

Saheum: Dan apakah Kau juga tahu bahwa ia menolak untuk berpartisipasi dalam Upacara Segala Bangsa?

Giroo: Mengapa?

Saheum: Itulah yang aku herankan. Entah dia tidak tahu raja ingin menggunakan kesempatan ini untuk menguji semua puteri, atau dia hanya tidak tertarik dalam masalah negara.

Giroo: Itu tidak benar. Aku kenal dia.

Saheum: Itu sebabnya aku merasa kau harus memperkenalkan diri padanya. Setelah puteri Chunmyung menikahi Jenderal, banyak bangsawan memihak padanya. Aku juga mendengar desas-desus dari para bangsawan mencoba untuk menikahkan anggota keluarga mereka dengan Puteri Sunhwa. Jadi aku tidak bisa menunggu sampai Kau selesai dengan misimu. Cobalah untuk memperkenalkan diri kepadanya, dan membawanya ke Upacara Semua Bangsa bersama dirimu.

TEMPAT LATIHAN MEMANAH

Chogee: Dengan ini, Kau hanya akan memiliki sisa 8 buah. (Sunhwa memanah target di pusatnya)

Giroo: Luar biasa! Aku memberimu busur ini, tapi aku tidak pernah menyangka kalau kau akan  belajar dengan begitu cepat. Apakah ada orang yang mengajarimu?

Sunhwa: …

Giroo: Ketika kau pertama kali belajar memanah, kau bahkan sulit berdiri di posisi yang tepat.

Sunhwa: Ya, itu tidak mudah.

Giroo: Sulit untuk menahan napas yang benar selekasnya setelah kau menarik tali busur ke belakang dengan sekuat tenaga. Dan kemudian, sulit untuk fokus pada target itu sendiri.

Sunhwa ingat kata-kata Jang: “Ketika Tuanku Puteri melepaskan anak panah, seluruh dunia adalah sasaran yang tepat.”

Sunhwa: Jika aku memanah, maka seluruh dunia adalah sasaranku yang tepat!

Giroo: (Tertawa) Itu benar! keyakinan dan rasa percaya dirimu akan mengirim panah menuju  sasaran yang tepat.

Sunhwa: Keyakinanku dan kepercayaan diriku?

Giroo: Ya, keyakinan dan rasa percaya dirimu. Keyakinanmu bahwa jika Kau melepaskan anak panahmu maka seluruh dunia akan jatuh.

Sunhwa: Keyakinan dan rasa percaya diri … Itu benar! Aku tidak boleh kehilangan itu. Aku tidak akan kehilangannya.

KUIL JIN

Giroo: Mengapa Kau pindah dari Kuil sebelumnya?

Sunhwa: Aku tertarik dalam seni dan ilmu, dan aku mendengar daerah ini terkenal untuk itu.

Giroo: Aku mengerti. Apa yang Kau paling membuatmu tertarik di antara ilmu sains?

Sunwha: Aku tidak yakin …

Giroo menunjukkan dia sebutir beras, berkata kalau  ia percaya beras nantinya  yang akan menjadi harta paling penting dalam waktu dekat. Sunhwa terkejut bahwa hal ‘kasar’ seperti itu bisa menjadi begitu penting. Giroo mengatakan kepadanya bahwa semakin teknik pertanian berkembang, permintaan akan beras akan semakin tinggi. Dia mengatakan padanya alasan ilmu sains Baekjae  lebih dikenal  karena mereka memiliki teknologi pertanian yang lebih maju. Giroo merasa mengembangkan teknik pertanian padi  akan menjadi kunci kekuatan mereka. Bangsa yang sampai disanapertama akan menaklukkan yang lainnya.

Sunhwa ingat Jang mengatakan: “…. cacing makan sendiri dari tanah dan mereka mengeluarkan kotoran beberapa kali dalam sehari. Meskipun tanah ini tandus pada awalnya, jika menyebarkan cacing tanah di atas tanah ini, maka tanah ini akan dihidupkan kembali. “

Sunhwa: Aku tahu seorang pria yang bisa melakukannya.

Giroo: Benarkah?

Sunhwa: Ya. Dia bisa mengembangkan teknik pertanian.

Giroo: Maka Kau harus memenangkan dirinya.

Sunhwa: (Sambil menghela napas) Ya … aku harus melakukannya…

DI TENGAH JALAN BAEKJAE – SHILLA

Sementara dalam perjalanan kembali ke Hanuelchae, Jang menemukan seorang wanita tua tergeletak di atas tanah, batuk dan pingsan. Jang menggendongnya, membawanya kembali ke rumah, di mana  suaminya menderita penyakit yang sama. Setelah memeriksa mereka, ia mengatakan kepada mereka kalau mereka menderita ‘supbyung.’ Jadi Jang membangun tungku penghangat untuk mereka dan memasakkan obat untuk mereka.

KUIL JIN

Chogee: Kau hanya memiliki sisa 6 batang  sekarang.

Sunhwa berjalan menuju ke depan sasaran, menarik keluar panah satu demi satu.

Suara hati Sunhwa: Aku sudah terkena panah. Hatimu langsung menembus ke hatiku lagi dan lagi … (Menangis) Tetapi mungkinkah milikku tidak meninggalkan bekas di dalam hatimu?

Sochoong: Tuanku Puteri, ada seseorang menunggumu di luar.

Sunhwa: (Berharap-harap) Siapa? Apakah seorang pria atau wanita?

Sochoong: Dia adalah seorang pria.

Sunhwa selekasnya berlari menuju ke depan Kuil untuk menemui pria, yang dikiranya adalah Jang yang datang untuk menemuinya. Tetapi Sunhwa melihat Giroolah yang datang, dan dia terlihat sangat kecewa.

Giroo: Apakah Kau menunggu orang lain?

Sunhwa: (Menahan air matanya) Tidak, aku tidak menunggu orang.

Giroo memberinya saputangan. Dia mulai menyeka air matanya dengan itu.

Giroo: Apa ada yang salah?

Sunhwa: Jika panahku tidak mengenai sasaran. Apa yang bisa aku lakukan?

Giroo: Mungkin Kau gagal untuk menyatukan pikiranmu dengan tubuhmu.

Sunhwa: Tidak, aku sudah menyatukan keduanya. Sejak keduanya menjadi alasanku untuk hidup, aku menyatukannya.

Giroo: Mungkin Kau tidak menahan nafas setelahnya.

Sunhwa: Tidak, aku juga lakukan itu. Sebenarnya, ketika saat itu datang, aku secara otomatis menahan napas.

Giroo: Lalu … Kau harus mengubah targetmu.

Sunhwa: Apa?

Giroo:Adatarget yang salah. Beberapa tujuan yang bukan untuk dirimu. Kau mungkin telah berlatih dan mengembangkan keterampilan cukup bagus, tapi ada beberapa target yang tidak dimaksudkan untuk menjadi sasaranmu. Ketika itu terjadi kepadaku, daripada menyakiti diriku dengan mencoba untuk mencapai target yang salah, aku mengubah tujuan aku.  Diriku sendiri adalah  lebih penting daripada tujuanku itu.

Bahkan … Aku datang untuk menunjukkan padamu tujuanku hari ini. (Menunjukkan dia sebuah pot) Ini adalah tujuanku.

Sunhwa: Pot ini?

Giroo: Ya, ini adalah impianku.

Sunhwa: Impianmu?

Giroo: Ya, dan Tuanku Puteri … Kaulah yang memberi aku impian ini.

Sunhwa: Aku? Aku tidak mengerti apa yang Kau katakan …

DI ANTARA JALAN BAEKJAE – HANEULCHAE, SUATU TEMPAT DI SHILLA

Pasangan lanjut usia itu merasa lebih baik setelah rumah mereka dibangunkan tungku penghangat oleh Jang. Mereka berterima kasih padanya, meminta dia untuk tinggal dan makan bersama mereka. Tapi Jang mengatakan kepada mereka ia harus pergi, memberi mereka instruksi tertulis tentang apa yang harus dilakukan. Dia mulai barlari. Orang lain darikotaitu datang, bertanya tentang pemuda itu, ingin belajar bagaimana membangun tungku penghangat sendiri. Mereka kecewa ia telah meninggalkankotaitu.

KUIL JIN

Sunhwa: (Kepada dirinya sendiri) Aku harus mendengar sendiri dari dia. Aku harus bertemu langsung untuk memastikan apakah dia adalah sasaran yang salah.

Dia pergi ke pondok Jang. Tempat itu kosong.

Giroo sedang menulis surat untuk sang puteri:

“Panah berarti kekuatan, padi mewakili rakyat. Panah dan padi membutuhkan waktu 10 tahun hidupku untuk menghasilkan bentuknya. Dan pot itu adalah alasan dari semua kerja keras aku … negaraku, negara Tuanku Puteri. Ini adalah jalan yang kurencanakan supaya aku bisa berjalan bersama denganmu, Tuanku Puteri.

Dan mimpi ini, Kau memberikannya kepada aku. Ini adalah mimpi yang lahir ketika pertama kali aku melihatmu. Ini adalah mimpi yang lahir ketika aku mulai mencintaimu, Tuanku Puteri. Aku tidak pernah menyaksikan orang-orang rendahan makan ubi, juga aku tidak menghargai semua kelimpahan yang aku tinggal terima saja Tapi kau memberi aku sebuah impian saat itu.

Aku anak yang kehilangan kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam Upacara Air Najeong karena kau. Aku Kim Doham. ”

Sementara itu.

Chogee menyadari sang puteri menghilang jadi dia berlari kesana kemari mencarinya. Jang berjalan ke halaman Kuil, dan ia menemukan tempat itu  kosong.

Sunhwa sedang menunggu Jang di pondok itu.

Sunhwa menulis surat kepada Jang dan ia meninggalkannya  di pintu.

Mereka berdua kembali ke tempat mereka masing-masing, tidak bertemu satu sama lain.

Di pagi hari, Giroo pergi ke Kuil Jin, untuk meninggalkan suratnya. Dia melihat sudah ada surat lain disana, dan ia mulai membacanya.

Suara Jang: Aku sudah pergi untuk waktu yang lama. Ketika aku pergi, aku khawatir bahwa cintamu bagiku mungkin akan mati. Tapi aku lebih tenang sekarang. Sebenarnya, aku merasa lebih percaya diri tentang perasaanku sendiri untuk dirimu, jadi aku tenang sekarang. Aku percaya Tuanku Puteri merasakan hal yang sama, jadi aku tenang sekarang. Apakah ini keyakinan bahwa diriku telah di dalam hatimu adalah … cinta? Apakah rindu ini untuk melihat dirimu adalah … cinta?

Aku akan kesanakapan saja kau menghubungiku. Hari ini akan terasa lebih lama dari 2 bulan saat aku  pergi.

Giroo ingat….

Giroo: Apakah Kau sedang menunggu orang lain?

Sunhwa: (Menahan  air matanya) Tidak, aku tidak menunggu seorangpun.

Giroo: (Meremas-remas surat Jang) Dia tidak seharusnya memiliki orang lain selain aku!

Sementara itu

Sunhwa melihat pada panah yang tersisa dan marah, dia mematahkannya semua.

Giroo memberitahu Goosan untuk mengawasi sang puteri, dan untuk mencari tahu apakah ada seorang pria yang menemuinya.

HANEULCHAE

Suara Bumro: Jang di sini! Jang di sini! (Orang-orang Haneulchae keluar untuk menyambut dia.)

Mokrasu: Apakah semuanya berjalan dengan lancar?

Jang: Ya. Tapi ada mata-mata di mana-mana ketika kami pergi.

Mokrasu: Bagaimana dengan Putera Mahkota?

Jang: Dia selamat sekarang.

Mojin: Bagaimana dengan Yang Mulia?

Jang: Beliau sudah kembali ke Istana.

Gomo: Bagaimana dengan kesehatannya?

Jang: Setelah membangun rumah dengan tungku pemanas dan memberikan obat herbal pada raja, aku melihat dia mulai berangsur-angsur sembuh. (Memberikansuratkepada Mokrasu) Pangeran Aja  menyuruhku untuk memberikansuratini. Dan beliau  mengatakan kalau dia akan melakukan yang terbaik untuk memanggil kita kembali ke Baekjae.

Mahasiswa: Itu berarti kita semua bisa kembali?

Maekdosu: Kau telah melakukan dengan baik Jang! Sama seperti namamu! (Jang berarti ‘yang kuat.’) Dia kuat, itu sebabnya dia adalah Jang!

Mojin: Bagus! Kau pasti sudah menghadapi begitu banyak bahaya.!

Mokrasu: Kerja bagus!

Bumro: Guru! Apakah ini berarti sekarang Jang seorang pengrajin?

Maekdosu: Tentu saja. Setelah keluar dari sebuah terowongan yang gelap dan panjang, tentu saja Kau bisa menjadi seorang pengrajin!

Eunjin: Benarkah? Apakah Jang sekarang seorang pengrajin?

Mokrasu: Ya. Sekarang, Jang adalah seorang anggota dari Hanuelchae … Ah, tidak, dia adalah seorang pengrajin dari Akademi Sains Baekjae. (Orang-orang berbisik bahwa dia memang layak untuk itu) Ambil kebanggaan dalam hal ini dan terus melakukan yang terbaik!

Jang: Aku yakin itu!

Mokrasu: Giroo, Kau membantu Jang untuk mengejar ketinggalan pelajarannya.

Giroo: Baik.

Mokrasu: Kalian semua bisa pergi sekarang.

Maekdosu memberi tanda untuk Bumro dan lain-lain. Giroo berjalan ke Jang.

Jang: Tolong, ajari aku.

Giroo: Tidak, aku akan belajar darimu. Setelah menjadi anggota Hanuelchae, kau orang pertama yang membuat aku ini gugup dan cemburu. Aku akan mengajarkan pengetahuan. Tapi aku ingin belajar darimu bagaimana untuk berkonsentrasi dan menuangkan begitu banyak energi terhadap ilmu menciptakan.

Jang: Aku berterima kasih. Kalau bukan karena kau … Jika Kau tidak membawa aku keluar dari keterpurukan selama 10 tahun, aku pasti masih terhilang. Kau benar. Kau akan menjadi seorang pemimpin hebat seperti Guru Mokrasu. (Mereka berdua berjabatan tangan)

Eunjin: (Mengamati dari jauh.) Wow! Jika dua pecundang berbicara seperti itu, aku pikir mereka bergurau. Tapi karena dua orang tampan yang mengatakan itu, aku merasa seperti tak sadarkan diri sekarang …

KUIL JIN

Sunhwa berjalan mengitari menara Jingak sambil memanjatkan doa.

Chogee: (Mengikuti dari belakang) Apakah kau tidak akan menembakkan anak panah lagi? Mengapa Kau mematahkan semua anak panah?

Catatan: Di Korea, sebuah pagoda disebut Seoktop, berarti menara batu. Ada 3 jenis pagoda. Pagoda yang dibangun dengan batu bata, ditemukan di India dan China. Pagoda Jepang dibangun dengan kayu, dan pagoda Korea dibangun dengan batu granit. Inilah mengapa kebanyakan dari Pagoda di Korea terawat dengan baik.

Sebuah pagoda biasanya memiliki ruangan kecil di dalamnya untuk menyimpan Sari (lihat gambar di samping kanan) dan kain sutera. Sari adalah sisa yang terkristalilsasi dari proses kremasi. Proses kremasi dari seseorang yang tidak mendapat pencerahan tidak menghasilkan Sari, tetapi para rahib yang telah mencapai tingkat orang-orang suci menghasilkan Sari dalam jumlah yang banyak, bahkan sampai pada masa sekarang.  Sari dipercayai oleh banyak orang adalah kristalisasi dari jiwa para rahib dan dikatakan mempunyai kekuatan mistis untuk mengabulkan keinginan mereka yang putus asa. Banyak orangtua yang menginginkan anak-anaknya dapat melewati ujian perguruan tinggi, orang-orang yang ingin mendapatkan pekerjaan yang baik, menyembuhkan sakit, dan yang lainnya, berjalan mengelilingi pagoda dan memanjatkan doa.

HANEULCHAE

Maekdosu: (dengan nada marah) Berhenti!

Jang: Apa ada yang salah?

Maekdosu:  Selubungi dia. (Mereka membungkus  Jang di dalam karung, dan mereka membawanya.) Jangan sampai menyakiti lehernya.

Jang: Apa yang terjadi? Mengapa Kalian melakukan ini?

Mereka akhirnya melepaskan Jang di satu tempat, di mana banyak orang Haneulchae berkumpul. Eunjin kemudian mengatakan kepadanya bahwa ia harus tunduk pada Maekdosu, orang paling  tua di Hanuelchae.  Jang mengikuti instruksi, tampak bingung. Semua orang mengelilinginya, membaca ‘aturan’  dari Hanuelchae: Mereka harus makan dan bermain bersama, mendengarkan Instruktur Mojin … dan Maekdosu mengatakan pada Jang kalau ia harus membantu orang tua itu untuk menikahi Mojin.

Jang: ITertawa) Apakah itu semua yang aku harus lakukan?

Eunjin: Mungkin terdengar mudah, tapi tidak.

Jang: Kau benar, itu tidak mudah. Tapi karena aku seorang pengrajin sekarang, aku akan melakukannya.

Setelah itu

Mokrasu: (Melihat Jang masuk kamarnya) Apa yang terjadi?

Jang: …

Mokrasu: Aku bertanya padamu.

Jang: (ragu-ragu …) Anggur yang hanya diambil oleh raja-raja … dari Baekjae yang Hebat …

Mokrasu: (Tersenyum) Apa yang kau katakan? Bicaralah dengan jelas.

Jang: Angguryang menjadi  milik Baekjae yang Hebat … Tolong, berikanlah kepada aku!

Mokrasu: Itu tidak benar.

Jang: Guru, jangan membuat ini lebih sulit!

Mokrasu: (Tertawa dan memberinya sebotol.) Jangan minum terlalu banyak.

Selanjutnya

Giroo: (Kepada dirinya sendiri, setelah kembali membacasuratJang) Siapa yang dapat melakukan ini? Orang macam apa dia? (Dia menyembunyikansuratsesegera mungkin ketika melihat Jang berjalan masuk)

Jang: Aku mendengar Kau memiliki anggur di sini.

Giroo: Anggur? Aku tidak seharusnya memberikannya begitu saja. Mereka seharusnya telah memberitahumu untuk melakukan beberapa hal konyol.

Jang: Berikan saja itu kepadaku!

Giroo: Ini!

Jang: (Ia berjalan pergi dengan botol anggur, tapi ia berbalik) Apa isisuratitu? Apakah itusuratcinta? (Menertawakannya)

Tak berapa lama kemudian

Jang: (Menempatkan semua botol anggur di lantai) Aku pikir aku akan mati!

Semua orang tertawa. Dan perayaan itu terus berlanjut. Semua orang mencoba untuk membuat Jang mabuk.

Suara Mojin: Jang! Datang ke sini! (Dia membuka sebuah poster dengan wajah seseorang yang tampak seperti Jang.) Dapatkah Kau mengenali ini?

Maekdosu: Apa itu?

Mojin: Apakah itu kau? Ini mengatakan bahwa mereka sedang mencari seorang pembangun tungku penghangat untuk memberinya hadiah. Apakah itu Kau?

Jang: Ya, itu aku tapi …

Mojin: Apakah Kau sinting!

Kemudian

Mokrasu: Di Akademi, ada hukum yang melarang orang menyampaikan ilmu kita ke negara lain. Itu karena pengetahuan kita dapat digunakan oleh negara-negara musuh melawan kita. ilmu pengetahuan kita digunakan untuk membantu rakyat, yang merupakan cara Baekjae membantu warganya. Kau tidak tahu ini?

Jang: …

Mokrasu: Apakah kau tidak tahu ini?

Jang: Aku tahu.

Mokrasu: Lalu?

Jang: Bagiku, lebih penting untuk membantu seseorang yang menderita. Lain halnya jika aku berusaha mencuri rahasia persenjataan untuk negara yang lain. Orang-orang ini bisa mati karena ‘supbyung. ”

Mokrasu: Mereka adalah rakyat Shilla!

Jang: Sama seperti rakyat Baekjae, rakyat Shilla juga manusia! Kebenaran terbesar dalam hidup adalah bahwa semua ilmu pengetahuan harus menguntungkan kemanusiaan. Tidak harus ada kebangsaan untuk membatasi ilmu itu.

Mokrasu: Tapi semua ilmuwan memiliki bangsa mereka yang harus mereka melayani.

Jang: Rakyat dahulu yang harus diutamakan!!

Mokrasu: Kau telah menghancurkan kesempatan Baekjae untuk menggunakan penemuan tungku pemanas untuk manfaat diplomatik. Dan kesempatan Baekjae untuk memiliki supremasi ilmiah. Jadi pada akhirnya, Kau telah membantu musuh-musuh kita.

Jang: Namun … yang sakit disembuhkan. Pada akhirnya, manusialah yang terselamatkan.

Mokrasu: Kau terlalu idealis. Aku bercerita tentang kehidupan nyata.

Jang: Aku tidak bisa menerima kenyataan itu.

Mokrasu: Kau harus!

Jang: Aku tidak bisa.

Mokrasu: Kau harus menerimanya!

Jang: Aku tidak bisa!

Mokrasu: Jika itu terjadi, Kau tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi.

Jang: Aku tidak bisa menerimanya.

Mokrasu: Jangan bergerak satu langkah dari sini dan renungkan ini! Lalu, bicara padaku setelah Kau mengerti.

Giroo: Guru benar. Kau menjadi terlalu idealis. Jadi, katakan padanya Kau akan menerima itu dan meminta pengampunannya.

Selanjutnya

Suara hati Jang: Aku ingin melihatmu, Tuanku Puteri!

(Hari sudah berganti malam, Sunhwa masih berjalan di sekitar menara Jingak, berdoa…)

Suara hati Jang: Aku ingin menerima kenyataan ini, tetapi jika aku melakukan itu aku tidak akan dapat melihat Kau. Jika aku harus mendiskriminasi orang Shilla, dan mengobati penyakit raja dengan cara yang berbeda dengan mengobati penyakit orang-orang biasa … jika aku tidak dapat menggunakan pengobatan yang diberikan kepada raja bagi masyarakat umum hanya karena mereka dari Shilla …

Bagaimana mungkin aku, rakyat biasa, berani untuk mencintai puteri? Bagaimana mungkin aku, seorang laki-laki dari  Baekjae, mencintai seorang puteri Shilla? Jadi, aku akan berpegang teguh kepada kebenaranku. Aku akan berpegang teguh untuk itu, dan setelah aku mengukir  ini jauh ke dalam hatiku, aku akan pergi kepadamu, Tuanku Puteri. Tunggulah aku!

(Pagi itu Sochoong mencoba untuk menghentikan sang puteri, tapi Sunhwa mendorong dia pergi.)

Suara hati Jang: Tunggulah aku. (hujan mulai turun, dan Jang menjadi basah kuyup) Tolong percayalah padaku.

(Sunhw merangkak di sekitar menara Jingak)

Suara hati Jang: Berjalanlah di jalan ini dengan aku, jalan yang lebih panjang dari jarak yang memisahkan Shilla dan Baekjae.

KUIL JIN

Giroo bertanya pada Goosan kalau seorang pria telah datang untuk melihat sang puteri. “Tidak, tidak ada yang datang, tapi dia sudah bertingkah aneh.”

Giroo: Apa maksudmu?

Goosan: Dia belum makan selama beberapa hari, dan dia  hanya berjalan di sekitar menara Jingak.

Giroo: Apa yang para pengiringnya lakukan?

Goosan: Dia tidak mendengarkan siapa pun.

Orang-orang mencoba untuk menghentikan sang puteri tapi ia mendorong mereka pergi, hampir tak sadarkan diri. Giroo datang berlari, dan ia membawanya ke kamarnya.

Di dalam ruangan, Giroo memerintahkan dayangnya untuk membasuhnya dan untuk memijatnya. Kemudian di luar kamar, Giroo memberikan Goosan daftar nama obat untuk sang puteri, Giroo memberitahu dia untuk menanyai dayang sang Puteri untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi! “Aku yakin ini ada hubungannya dengan orang itu.”

Sementara itu

Chogee: (Kepada dirinya sendiri) Aku akan menjadi gila! Benar-benar menjadi gila! Tuanku Puteri membuatku gila! (Menangis)

Goosan: Siapa orang yang ada hubungannya dengan kejadian itu?

Chogee: (Terkejut) Bagaimana kau tahu? Siapakah Kau?

Goosan: Aku adalah petugas rahasia yang dikirim oleh Ratu Maya untuk menjaga sang puteri.

Chogee: Oh! Bagaimana kau tahu dia seorang puteri?

Goosan: Bukankah aku sudah katakan, aku dikirim ke sini? Apakah kau tidak akan mengatakannya?

Chogee: Hanya saja …

Goosan: Bicaralah! Jika tidak, bukan hanya ratu, tetapi juga raja akan tahu! Namun, demi puteri, aku bersedia untuk menjaga rahasia ini. Aku ingin tahu untuk membantumu. Jadi, katakanlah!

Chogee: Benarkah?

Goosan: Aku bersumpah.

Chogee: Sebenarnya … Dia itu adalah seorang pengawal yang menemukan teknik penyuburan tanah dengan cacing tanah… tidak hanya itu, tapi juga Lagu Seodong … (Dia berhenti disana.) Omong-omong, bagaimana keadaan Dalgee dayang Ratu Maya?

Goosan: Dalgee? Dia baik-baik!

Chogee: Kau bukan seorang perwira! Dalgee itu adikku! (dia berlari pergi)

Goosan: (Kepada Giroo) Aku minta maaf. Ayahmu mengirimkansuratini.

Kemudian

Giroo berpikir. “Lagu Seodong, penyuburan tanah dengan cacing … Siapa yang bisa?”

HANEULCHAE

Mokrasu: Apakah Kau bersedia menerimanya?

Jang: (Terlihat basah dan pucat) Aku … tidak bisa … menerimanya.

KUIL JIN

Chogee mengeluh kepada sang puteri karena memberinya masa-masa yang sulit.

Sunhwa: Bawakan kereta. Aku akan pergi ke Istana.

Bomyung: Tapi lakukanlah setelah beristirahat.

Sunhwa: Aku punya perasaan kalau ini akan menjadi kesempatan terakhir aku. Mari kita pergi.

Suara hati Sunhwa: “Seodong, jika ini menjadi keputusanmu, aku akan menghormatinya.”

HANRULCHAE

Mokrasu: (Melihat Jang) Tuanku Pangeran menulis kepadaku bagaimana Kau membantu dia kembali ke Istana. Pergilah ke pangeran. Pergilah ke Baekjae.

Jang: Aku tidak mau.

Mokrasu: Aku tidak dapat bertanggung jawab untuk Kau lagi. Sama seperti yang Mojin katakan, entah kau memang orang yang sangat berbahaya atau seseorang dengan potensi besar. Jadi aku tidak bisa mengendalikan Kau.

Aku bisa mengerti dirimu ketika Kau melupakan keselamatan yang lain dan dirimu sendiri, sementara berusaha menemukan hal-hal seperti tungku penghangat. Tapi aku tidak dapat bertanggung jawab bila Kau merasa dirimu benar dengan membantu rakyat dari negara musuh. Bahkan aku tidak bisa bertanggung jawab atas dirimu ketika Kau menggunakan rencana tipu daya seperti penyebaran rumor kura-kurat.

(Melihat Jang lagi, dan menurunkan suaranya.) Alasan kedua adalah bahwa, setiap kali aku melihatmu, aku masih memikirkan Yungamo. Kau mengingatkan aku pada cintaku padanya, dan juga  luka mendalam yang dia tinggalkan dalam diriku. Kau mengingatkanku pada kedua perasaan itu. Itu sebabnya aku tidak tahan untuk melihatmu lagi.

Setiap kali Kau menunjukkan kemampuan besar sebagai penemu, Kau terlihat sangat baik di mataku. Tapi kapan pun Kau melakukan sesuatu yang berbahaya, aku teringat pada luka yang dia tnggalkan dalam diriku. Kemudian, aku membencimu dan aku tidak dapat mengampunimu. Itu sebabnya aku tidak bisa menjadi gurumu.

Namun, Pangeran Mahkota berbeda. Dia pasti akan menggunakan kedua sisi kepribadianmu dengan baik, membuat Kau menjadi orang yang hebat. Itulah mengapa Kau harus pergi. Jadi pergilah!

Jang: Aku tidak bisa. Aku berharap aku bisa, demi Kau. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak tahu mengapa ibu telah memberitahuku untuk mendapatkan rasa hormat darimu. Aku tidak bisa mengatakan kalau dia apakah secara khusus bermaksud supaya aku  mendapatkan rasa hormatmu atau dia hanya ingin aku menjadi orang hebat … Namun, aku harus mengikuti setiap patah kata-katanya. Dia mengatakan ini adalah satu-satunya cara supaya aku dapat berdiri di hadapan ayahku. Satu-satunya cara bagi aku untuk mencari tahu siapa ayahku, siapa aku, dan mengapa aku memiliki kepribadian yang bertentangan seperti itu …

Aku butuh persetujuan darimu Guru  Mokrasu. Dengan demikian, cintamu bagiku, dan kebencianmu terhadap aku … tunjukkan padaku semua hal sama seperti seharusnya. Jika umat manusia diperlakukan hanya dengan kehangatan, manusia tidak akan pernah maju. Alam mencambuk manusia dengan tongkat dan membuatnya kuat, mendorong umat manusia untuk bertumbuh.

Dengan cara yang sama, aku ingin merasakan kedua sisi perasaanmu untukku. Dan dengan demikian, aku akan bertumbuh. Dan aku akan mendapatkan persetujuan darimu. Kumohon, terima aku apa adanya.

Mokrasu (tersentuh oleh perkataan Jang): Pergilah ke kamarmu dan beristirahatlah. Tubuhmu harus sehat supaya kau dapat belajar dengan baik.

KAMAR GIROO

Suara hati Giroo:  (Berpikir kepada dirinya sendiri) Orang dari Lagu Seodong, penyuburan tanah dengan cacing … Siapa yang bisa? (Dia membukasuratayahnya.)

Suara Saheum: Doham, sesuatu yang aneh terjadi. Ingat penemuan tungku penghangat yang kau tampilkan kepada raja baru-baru ini? Hal yang sama disampaikan oleh Puteri Sunhwa. Menurut sang puteri, tungku pnghangat  ini ditemukan oleh orang yang sama penemu penyuburan cacing tanah. Selidiki apa yang terjadi.

Giroo: Tungku penghangat! Orang yang menciptakan tungku penghangat … orang yang sama yang mengembangkan penyuburan tanah engan cacing … Pria dari Lagu  Seodong … Jang. Jang!? (Dia berlari keluar)

KUIL JIN

Sunhwa akan berangkat dengan kereta kuda kembali ke Istana. Saat dia akan naik kereta, ia teringat sesuatu sehingga membalikkan tubuh dan berjalan kembali ke dalam kuil Jin.  Bomyung memanggilnya, tapi Sunhwa mengatakan dia hanya sebentar. “Aku lupa sesuatu.” Dia pergi untuk mengambil tempat gincu yang tertinggal di depan kamarnya. Dia berbalik dan mulai berjalan kembal ke kereta … kemudian dia melihat Jang, sedang tersenyum lemah kepadanya.

Jang: Aku membuatmu menunggu terlalu lama, bukan? (Sunhwa berlari merangkulnya, menangis)

Giroo mengawasi mereka …

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s