Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 14

Giroo mengambil pedang dan bersiap dan ia pergi ke gudang. Ia menemukan ruangan itu tidak terkunci, dan kosong.

Mokrasu mengawasi Sunhwa dan Jang meloloskan diri dengan sebuah kereta, ia bersembunyi di belakang sebuah pohon

Jang: Apa yang terjadi! Aku perlu penjelasan di sini! Bagaimana mungkin kau meninggalkan catatan seperti itu? (Sunhwa sedang menyuruh untuk menjalankan kuda, tetapi Jang menghentikannya) Tuan Puteriku, aku tidak bisa meninggalkan Hanuelchae seperti ini!

Sunhwa: Itu adalah satu-satunya cara. Satu-satunya cara!

Jang: Aku tidak bisa pergi dengan tuduhan palsu atasku!

Sunhwa: Ini satu-satunya cara agar aku bisa tetap setia ke negaraku sebagai Puteri Shilla, dan juga menjaga cintaku untuk dirimu! (Kereta pergi)

Mokrasu menyaksikan mereka pergi, mengingat ….

Sebelumnya di Gudang Haneulchae

Sunhwa: (Mencoba untuk memaksa membuka pintu) Tunggu disana!! Aku akan menyelamatkanmu.

(Dari dalam) Suara Jang:  Apa yang terjadi? Aku tidak pernah mengatakan kepadamu setiap detil yang tertulis dalam catatan itu! Aku ¡ni bukanlah mata-mata! Katakan apa sebenarnya yang terjadi!

Mokrasu melihat dirinya.

Sunhwa: Apakah Anda Guru Mokrasu?

Mokrasu: Siapa kamu dan apa yang kau lakukan di Kuil Jin? Siapakah kamu?

Sunhwa: Aku tidak bisa mengatakannya kepada Anda sekarang.

Mokrasu: Lalu, kenapa kamu mencoba menyelamatkan Jang?

Sunhwa: Karena ia harus hidup. Dan ini adalah satu-satunya cara dia dapat mengikuti keinginanku.

Mokrasu: Apakah kamu mencoba mengatakan kalau kamu yang  mencuri Buku Keajaiban Baekjae, kemudian sengaja meninggalkannya di Pondok Jang sehingga ia dituduh sebagai mata-mata?

Sunhwa: Ya, aku yang melakukannya. Setelah ia diusir dari tempat ini, ia pernah menjadi pengawalku untuk sementara waktu. Aku ingin membuatnya tetap bersama diriku, tetapi dia tetap ingin kembali ke tempat ini. Walaupun aku tahu perbedaan tingkat sosial yang memisahkan kami, aku tidak bisa  berhenti mencintai dia. Dan ketika aku tahu dia adalah orang Baekjae, aku mencoba melupakannya, tapi aku tidak bisa!!!

Meski begitu, dia takkan pernah meninggalkan tempat ini. Itulah mengapa aku melakukan ini. Ini adalah satu-satunya cara agar cinta antara seorang wanita bangsawan Shilla dan seorang pria buronan dari Baekjae dapat terwujud.

Aku mendengar banyak tentang Anda dari dia, dan ikatan khusus di antara kalian berdua. Aku mengetahuinya!  Jadi tolong jangan mengajukan pertanyaan kepadaku lagi. Dan kumohon, biarkan dia ikut denganku. Jika Anda tidak mengabulkannya,  aku akan mati bersama-sama dengannya!

Mokrasu: Ini sinting!  Kau tidak dapat melakukan ini!

Sunhwa: Aku tahu. Anda mungkin berpikir kalau aku ini sedang bermain dengan api. Bagaimana mungkin aku bisa tetap waras, ketika aku ¡ni melepaskan status sosial aku saat ini? Namun, aku tidak bisa berhenti sampai di sini. Aku tidak bisa berhenti menginginkan untuk bisa bersamanya sampai mati.

Tanpa dirinya, aku tidak akan dapat tertawa, atau sedih, atau bahagia. Jadi bagaimana aku bisa menghentikan ini?

Mokrasu tercekat mendengar perkataan Sunhwa yang hampir sama dengan yang ia katakan pada Yungamo beberapa tahun lampau.

Mokrasu: (Kepada Yungamo) Aku. .. Aku bisa hidup tanpa dirimu, tapi aku tidak bisa bahagia tanpamu. Aku tidak bisa merasakan kesedihan tanpa dirimu,  aku tidak bisa merasa marah, atau merasakan sukacita …

Sunhwa: Ijinkan kami berdua pergi.

Mokrasu: …..

Sunhwa: Guru Mokrasu!

HANEULCHAE

Bumro: (Menepuk punggung  Giroo) Kau melakukannya dengan baik!

Maekdosu: Ya, aku tahu dia akan melakukannya!

Eunjin: Mengapa? Giroo membiarkan dia lolos?

Bumro: Bukan itu yang mau kukatakan!Adahal-hal yang kita mengerti tanpa harus mengucapkannya keluar dengan keras.

Woosoo: Apa yang akan Instruktur Mojin katakan?

Maekdosu: Biarlah aku menjelaskan padanya nanti!

Gooksoo: Itu nanti Tapi bagaimana dengan barang-barang kita? Kita diperintahkan untuk berganti pakaian.

Mokrasu: Tidak perlu melakukannya!

Eunjin: Benarkah? Kemudian, bisa kita membongkarnya sekarang?

Gomo: Guru, guru! Komisaris Baekmoo ada di sini.

Mokrasu: Mulai membongkar kembali! (Kepada Gomo) Mari kita pergi.

Mokrasu memberikan Buku Keajaiban Baekjae kepada Baekmoo. Mokrasu memberitahu Baekmoo bahwa perang akan dinyatakan terhadap Shilla segera, sehingga pangeran membutuhkan ini untuk menyiapkan perang. Dia mengatakan pada Guru bahwa  mereka akan mengembalikan buku itu setelah menggunakannya.

Mojin: Guru, apa yang telah terjadi? Mengapa Anda menyuruh setiap orang untuk membongkar kembali?

Mokrasu: Masalahnya sudah selesai. Jadi jangan lagi khawatir.

KUIL JIN

Giroo berjalan masuk ke dalam kamar Sunhwa dan menemukansuratyang ia tinggalkan kepada Bomyung.

Suara Sunhwa: Berikansuratini kepada ibuku dan Yang Mulia. Dan janganlah mencariku.

Bomyung: (Mengambilsuratdari tangan Giroo) Apa yang terjadi di sini?

Giroo: Aku ini adalah Daehachan Doham Kim, seorang agen rahasia yang dikirim oleh Yang Mulia ke  Hanuelchae! (Menunjukkan bukti identitas dirinya kepada mereka)

Bomyung: Benarkah? Tapi apa yang terjadi?

Giroo: Sang Puteri melarikan diri dengan seorang pria Baekjae dari Hanuelchae!

Sochoong: Apa?

Bomyung: Apa?

Giroo: Kirim semua pengawal Puteri untuk menemukannya sekarang! Bahkan jika ia mengendarai kereta, ia tidak mungkin pergi terlalu jauh. Pergilah mencarinya sekarang! Kirim utusan untuk melacaknya ke segala penjuru daerah ini! Jika ada pejabat kerajaan atau raja tahu, kalian  akan kehilangan nyawa kalian, dan aku juga tidak akan selamat! Selain itu, kita tidak bisa membayangkan apa jenis hukuman yang akan diterima oleh Tuan Puteri! Itulah mengapa kalian harus menemukannya sebelum berita ini tersebar! Siapa pun yang menemukannya terlebih dahulu harus membawanya ke lokasi yang aman. Jika kalian yang pertama menemukannya, kalian harus memberitahuku!

DI TEMPAT RAHASIA

Goosan: Apa yang terjadi? Aku belum mendengar kabar darimu jadi aku terpaksa mencarimu.

Giroo: Pembantaian Hanuelchae harus ditunda. Kau harus mencari Puteri sebagai gantinya.

Goosan: Mencari Puteri?

Giroo: Kita tidak bisa membuang banyak waktu! Kita tahu arah mana ia ambil. Jadi kita masih bisa mengejarnya. Ambil jalan yang lebih besar. Tuan Puteri membawa kereta bersamanya. Setelah kau menemukannya, bawa Puteri dengan selamat kepadaku  dan bunuh pria yang bersama dengannya. Apakah kau mengerti?

Goosan: Ya!

DALAM PERJALANAN MELOLOSKAN DIRI

Jang: Tolong berhentilah, aku mohon padamu untuk berhenti! Aku tidak bisa pergi dengan tuduhan palsu ini diajukan kepada diriku!

Sunhwa: Aku tidak bisa.

Parapengawal sedang mencari sang Puteri sementara ia terus menjalankan kereta dengan kecepatan penuh. Akhirnya keretanya rusak dan terbuling sehingga mereka semua terlempar dari kereta.

Sunhwa: Apakah kau baik baik saja?

Jang: Ya, bagaimana denganmu?

Sunhwa: Kita tidak dapat  menggunakan kereta lagi jadi kita harus berjalan kaki. Mari ikuti aku!

Jang: Aku tidak bisa pergi.

Sunhwa: Kau harus! Kau harus!

(Kepada Chogee) Awasi kereta ini dan biarkan aku tahu ketika kau melihat para penjaga.

Chogee: Apakah Anda benar-benar harus melakukan ini? Parapengawal akan menemukan Anda pada akhirnya. Tidak, aku akan memberitahu mereka!

Sunhwa: Aku tantang kau jika kau melakukan itu, maka aku akan mat!

Chogee: Tuan Puteri!

Sunhwa: Aku tidak bergurau. Jika kau ingin aku mati, beritahu mereka! (Dia pergi mencari Jang.)

Jang: Apa yang terjadi? Katakan padaku semuanya!

Sunhwa: Aku melakukan semua ini supaya aku dapat membawamu pergi jauh dari tempat itu!

Jang: (Terlihat terkejut) Catatan yang ada namaku di dalamnya dan Buku Keajaiban Baekjae?

Sunhwa: Ya.  Aku telah kembali ke Istana, tetapi aku tetap tidak dapat melupakanmu. Jadi aku merencanakan itu semua.

Jang: (Kesal) Mengapa ? Mengapa Tuan Puteriku ? Bagaimana kau melakukannya?

Sunhwa: Kau takkan akan datang kepadaku bahkan jika aku memintamu untuk melakukannya. Jadi, ini adalah satu-satunya cara yang terpikir olehku. Kau tidak dapat kembali sekarang, jadi aku rasa kau akan ikut aku saat ini!

Jang: Bagaimana mungkin kau datang ke dalam hidupku dan memutuskan segalanya untuk aku? Apakah cinta bagimu adalah sebuah mainan di tanganmu? Ini bukanlah seperti itu. Dan seperti aku menghormatimu, kau harus menghormati aku. Jika kau tidak tidak melakukan itu, aku tidak bisa!

Sunhwa: (Melemparkan cincin yang ada di jari tangannya) Aku  melepaskan gelarku sebagai seorang Puteri. Karena itu, kau lepaskanlah Hanuelchae.

Kumohon, hanya sekali ini! Lakukanlah seperti yang aku minta! Bahkan jika kita kembali sekarang, kita tidak akan bisa hidup. Pertimbangkan ini sebagai keinginan terakhirku sebagai seorang Puteri. Kumohon, untuk sekali ini, dengarkan aku!

Beberapa saat kemudian

Sochoong dan anak buahnya menemukan kereta yang terbalik.

Chogee: Tuan Puteri! Tuan Puteri! Pergi dan seembunyikan diri Anda!Parapengawal datang!

Sochoong menemukan sebuah kain sutra dari sang Puteri. Dia terus mencari daerah tersebut.

Sochoong: “Tuan Puteri! Saya Sochoong! Jika Anda kembali dengan saya sekarang, semuanya akan baik-baik saja. Dan, semuanya akan kembali normal!”

“Jang! Apakah kau mendengarkanku? Kau tidak seharusnya melakukan ini! (Jang sedang mendengarkannya, sedangkan Sunhwa memohon dengan sorot matanya supaya Jang tidak mengungkapkan keberadaan mereka) Tidak peduli seberapa besar Puteri memikirkanmu, kau tidak dapat melakukan ini! Embalikan Tuan Puteri kami. Jika kau melakukannya, aku akan membiarkan dirimu pergi. Dia adalah seorang Puteri! Dia adalah Puteri dari Shilla!

Jang sedang berpikir apa yang harus ia lakukan sementara Sunhwa terus memohon dengan sorot matanya …

Kau tidak dapat melarikan diri dari sini. Dan kau tidak seharusnya melakukan ini, karena dia adalah seorang Puteri! Kau harus mengembalikannya, sebelum pengawal yang lain sampai di sini. Itu adalah cara  satu-satunya agar Tuan Puteri bisa kembali tanpa melukainya!

Jang berusaha untuk berdiri, tetapi Sunhwa meraih lehernya, dan mencium bibirnya dengan paksa. (Kayaknya dari pertama bertemu selalu  Sunhwa terus yang mencium Jang deh…. Jangnya pasif banget … hahaha)

Pengawal pribadi Giroo datang dengan para pemimpin mereka.

Goosan: Kami adalah pasukan pribadi yang dikirim oleh Kim Daehachan Doham. Apakah mereka ada di sini?

Sochoong: (Berbisik) Tuan Puteri, maafkan aku. (Kepada Goosan.) Aku pikir begitu! Cari daerah ini!

Giroo memerintahkan mereka untuk mencari di sekeliling daerah itu.

Giroo: Dia tidak bisa lari lebih cepat daripada kalian semua! Jadi pergi dan temukan dia!

Malam tiba

Goosan: Aku pikir mereka telah melarikan diri dari daerah ini.

Giroo: Apa? Goosan, kau pergi memberitahukan tentang hal ini kepada ayahku. Dan mengirimkan sisa penjaga pribadi kita ke seluruh Shilla untuk mencari sang Puteri. Apakah kau mengerti?

Goosan: Ya.

Giroo: Aku akan memberikan alasan apapun ke Haneulchae sehingga aku bisa pergi ke Seorabol. Pastikan jangan sampai berita ini tersebar.

(Kepada Sochoong) Hal yang sama berlaku bagimu. Jika berita ini sampai keluar, nama baik Tuan Puteri akan hancur, sehingga tetaplah menutup mulutmu.

Sochoong: Ya.

Tak lama kemudian

Chogee: Tuan Puteriku! Tuan Puteriku! Di mana Anda? Semua penjaga sudah pergi. Di mana Anda? Aku beritahu Anda mereka sungguh-sungguh sudah pergi!

Sunhwa: (Keluar dari tempat persembunyan) Apakah kau yakin mereka semua pergi?

Chogee: Ya. Ah, tapi pria Hwarang yang sering engunjungi Kuil Jin, aku tidak tahu bagaimana dia tahu, dia membawa pengawal pribadinya ke sini juga.

Sunhwa: Benarkah?

Chogee: Bagaimana dia bisa tahu?

Sunhwa: Dia pasti mendengar sesuatu. Mari kita pergi! (Dia berjalan terlebih dulu)

Chogee: (Kepada Jang) Apakah kita melakukan hal yang benar? Aku ¡ni menurutinya untuk berjalan bersama-sama hanya karena sang Puteri mengancam akan bunuh diri!

Jang: Tunggu saja sedikit lagi!

Chogee: Ya?

Jang: la melakukan semua hal ini karena ia tidak ingin aku pergi!

Chogee: Lalu?

Jang: Dia bilang dia akan melepaskan gelarnya. Tapi tunggu sampai dia hidup beberapa hari sebagai rakyat biasa. Dia akan mengubah pikirannya kemudian. Jadi bersabarlah sampai saat itu.

Chogee: Ya, aku akan melakukan itu. Apakah kau pikir dia akan pulang kembali setelah itu?

Jang: Ya, dia akan pulang. (Hampir pada dirinya sendiri.) Dan ia harus.

HANEULCHAE

Mokrasu:Adabegitu banyak hal yang terjadi sekarang. Dari mana saja kau seharian?

Giroo: Aku pergi untuk mencari Jang.

Mokrasu: ….

Giroo: Apakah Anda yang  membiarkan dia pergi?

Mokrasu: …

Giroo: Aku juga tak percaya kalau Jang itu seorang mata-mata. Tapi Anda selalu memikirkan keselamatan Hanuelchae sebelum hal lain, dan apa yang Anda lakukan adalah tidak masuk di akal. Bahkan jika Anda begitu  perdulu padanya, Anda harus mengikuti aturan, untuk mengajar kita apa yang benar dan apa yang salah.

Mokrasu: Segala sesuatunya telah  direncanakan oleh wanita yang tinggal di Kuil Jin. Hal ini terjadi karena mereka saling mencintai.

Giroo: Aku tidak bisa memahami Anda. Aku tidak bisa (Dia pergi)

Mojin: (Masuk ruangan) jAku juga tidak bisa mengerti Anda!

Mokrasu: Apakah kau tahu apa penyesalan terbesar dalam hidupku? Ketika Yungamo datang ke Achak menemuiku, aku tidak tahan melihat rasa sedih dan sakit di hatinya. Aku sangat  yakin dia datang untuk memintaku untuk melarikan diri dengannya. Seharusnya aku melakukan itu! Pergi hanya dengannya!

Mojin: Ya, Kau seharusnya melakukan itu. Mengapa kau tetap tinggal untuk menyiksaku seperti ini? (Dia pergi)

ISTANA SHILLA

Goosan menginformasikan Kim Saheum mengenai peristiwa larinya Puteri Sunhwa, memintanya untuk menjaga rahasia ini sementara mereka mencarinya.

Pada pertemuan nanti, Raja Jinpyeung memberitahu ayah Giroo bahwa Puteri kedua pergi ke Ko-Kuryo sebagai duta besar, tapi dia tidak dilayani dengan dengan baik disana. Menurut Puteri kedua, Ko-Kuryo tampaknya berkomunikasi dengan Baekjae, sehingga Raja ingin Giroo untuk menemukan informasi apapun tentang hal ini.

Raja: Karena Puteri Sunhwa tinggal di Kuil Jin le sekarang, biarkan dia tahu jika kau menemukan sesuatu, sehingga dia bisa memberitahu aku.

DI BAEKJAE

Utusan dari Ko-Kuryo datang ke Baekjae.

Pangeran Aja ingin membuat perjanjian dengan utusan Ko-Kuryo sehingga mereka dapat membantunya melawan Shilla. Jendral Sun merasa bahwa mereka tidak memerlukan bantuan dari  Ko-Kuryo untuk memenangkan perang.  Golongan Buyo-sun melawan usul ini, mengatakan bahwa berdasarkan sejarah, Ko-Kuryo telah menjadi musuh yang lebih buruk daripada Shilla.

Pangeran Aja merasa bahwa lebih baik untuk menenangkan musuh jika itu dapat mengurangi penderitaan rakyat selama perang. Jendral Sun mengeluh Pangeran ketakutan untuk pergi berperang. Tetapi raja memberitahu anaknya untuk pergi dan memenuhi utusan itu.

Pangeran Aja mengatakan pada para utusan dari Ko-Kuryo bahwa ia akan mengajarkan mereka teknik pembuatan pisau tajam dengan balasan mereka akan membantunya melawan Shilla. Kalian tidak harus melawan mereka. Yang kami inginkan adalah tentaramu untuk mengalihkan perhatian tentara Shilla dan untuk membuat mereka membagi pasukan mereka.

Pimpinan para Utusan memberitahu pangeran bahwa teknik pisau tidak akan cukup untuk menjamin persekutuan mereka.  Ko-Kuryo baru-baru ini kalah dalam pertempuran melawanChinakarena tentara Sui (China) mengenakan perisai bersinar mata pasukan mereka di bawah sinar matahari, dan mereka mendengar kalau teknik itu datang dari Baekjae. Ini adalah apa yang diinginkan oleh utusan itu!

KAMAR PANGERAN AJA

Baekmoo: Tidakkah Anda berpikir mereka mengajukan usul ini karena mereka sebenarnya tidak berkeinginan untuk melakukan perjanjian dengan kita?

Aja: Lalu mengapa mereka datang? Ko-Kuryo sangat sibuk saat ini berperang dengan  Sui (China).

Baekmoo: Walaupun begitu, kita tidak pernah memberitahu Sui mengenai teknik pembuatan perisai bersinar.

Aja:  Itu benar. Buku Keajaiban BAekjae tidak mencantumkan mengenai pembuatan perisai demikian. Hanya ada satu cara, beritahu Akademi untuk mengembangkan perisai bersinar.

Baekmoo: Ya!

AKADEMI TAEHAKSA BAEKJAE

Heukjipyung memerintahkan orang-orang dari Akademi untuk mengabaikan perintah pangeran  dan untuk berkonsentrasi pada pembuatan senjata sebagai gantinya. Dia mengatakan kepada mereka itu lebih mendesak untuk melawan Shilla daripada berdamai dengan Ko-Kuryo. “Akulah yang akan bertanggungjawab mengenai hal ini, jadi tetap membuat senjata seperti semula!”

Buyo-Sun memberitahu ayahnya bahwa kesempatan mereka untuk melemahkan kekuasaan pangeran telah datang. Jadi dia memutuskan untuk mengambil sebagian besar tentara untuk berperang melawan Shilla.

Pangeran Aja menyadari tak seorang pun di Akademi meneliti untuk mengembangkan perisai yang bersinar. Dia mengirimkan Baekmoo ke Mokrasu untuk meminta sang Guru untuk mengembangkan teknik itu.

Baekmoo memberitahu para pemimpin Hanuelchae bahwa situasi sang pangeran sedang genting. Mereka harus mengembangkan teknik pembuatan perisai bersinar secepat mungkin. Pangeran Aja akan membutuhkan itu sebelum mereka pergi berperang melawan Shilla.

KEDIAMAN KIM SAHEUM

Giroo bertemu ayahnya, memberinya sebuah dokumen tertulis dari Baekjae mengenai rencana tentang perang melawan Shilla. Kemudian, dia mengatakan ayahnya untuk berkonsentrasi menemukan sang Puteri.

Saheum: Sesungguhnya apa yang terjadi? Apakah Jang menculiknya?

Giroo: Tidak, dia tidak melakukannya

Saheum: Apa? Apakah kau mengatakan Puteri rela melarikan diri dengannya? Seperti apa perilaku itu?

Giroo: Kirim mata-mata untuk mengawasi anak buah Ratu. Sang Ratu mungkin akan mendapat pesan dari mereka.

SUATU TEMPAT DI SHILLA

Para pasukan pribadi Giroo berjalan di sekitar pasar. Puteri Sunhwa, mengenakan pakaian tua biasa, berjalan di samping Jang. Mereka berdua melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada orang yang mengikuti mereka.

Sunhwa: Kita sudah sangat dekat perbatasan dengan Baekjae sekarang. Jika mereka menemukan kita di sini, aku merencanakan untuk melarikan diri ke Baekjae dengan dirimu. Jadi jangan coba-coba untuk meninggalkan aku.

Suara pria 1: (Mengeluh) Apa yang bisa kita lakukan? Bagaimana ia bisa membayar semua pajak jika ia tidak memiliki anak untuk membantunya? (Orang-orang membawa seorang wanita tua yang disiksa karena tidak membayar pajak.)

Pria 2: Itulah yang kukatakan. Lebih baik mati daripada hidup seperti ini!

Pria 1: Kita tidak dalam kondisi yang lebih baik dari wanita tua itu. Kita seharusnya juga  khawatir terhadap diri kita sendiri. Kita bisa saja di tempatnya suatu saat nanti.

Sunhwa: Apa yang terjadi disana?! (Dia mulai berjalan menuju wanita tua)

Jang: (Meraih sang Puteri.) Apa yang kau rencanakan untuk lakukan?!

Sunhwa: Aku ingin mencari tahu apa yang terjadi padanya.

Jang: Kau  tidak dalam posisi untuk membantunya lagi.

Sunhwa: Tapi aku bisa menjual beberapa perhiasan milikku!

Jang: Bagaimana dengan kita? Bagaimana bisa kita hidup nanti? Kita perlu identitas baru. Kita akan membutuhkan perhiasan-perhiasan itu untuk membuatnya.

Jika orang-orang ini tidak melakukan apapun, itu bukan karena mereka kurang perhatian. Jika mereka tidak dapat membantunya itu karena tangan mereka sendiri sibu untuk mengurus diri  mereka sendiri.  ini adalah hal yang mereka alami sehari-hari, diri mereka dan keluarga mereka.¡¯ Mereka juga sudah terlalu sibuk mengurus diri mereka sendiri! (Mereka berdua pergi)

Sochoong datang, membawa sebuah gambar yang terlihat seperti Jang. Dia menunjukkan ke sekeliling, mencarinya.

DI DALAM PONDOK

Jang sedang memberikan pelajaran kepada sang Puteri tentang bagaimana kehidupan dari rakyat jelata.

Jang: Itulah bagaimana rakyat hidup. Itulah bagaimana seharusnya Tuan Puteriku harus hidup mulai dari  sekarang. Setiap rakyat jelata harus membayar pajak setiap tahun. Untuk kita supaya dapat memenuhinya, kita perlu membuat peralatan pertanian, atau membuat barang-barang lain sehingga dapat ditukarkan dengan alat-alat pertanian.

Dan kita membutuhkan sebidang tanah juga. Kita masih belum memiliki tanah yang sekarang, dan kita bisa menyewa tanah orang lain sekarang. Jadi kita harus mempelajari aturan pertanahan di sini. Ini adalah persyaratan dasar bagi kita untuk hidup sebagai rakyat jelata. Jika kita tidak bisa melakukan itu, kita pada  akhirnya akan menjadi seperti wanita tua itu yang kita lihat di pasar tadi.

Ini adalah kehidupan yang kau pilih, Tuan Puteriku. Jika Kau tidak dapat melakukan semua ini, kau tidak dapat tinggal bersama denganku.

Sunhwa: Aku akan melakukannya! (Jang tampak terkejut) Aku khan sudah mengatakan padamu kalau aku akan melakukannya!

Jang mendesah.

Pagi harinya

Mereka berjalan menuju suatu bidang tanah yang ditumbuhi rerumputan liat.

Jang: (Menghela napas) Aku akan membajak tanah. Kau membersihkannya setelah aku. (Puteri terlihat tidak mengerti) Kita harus membersihkan sebidang tanah untuk menabur benih.  Aku akan membajak tanah, jadi kau harus membersihkannya setelah aku.

Jang mulai membajak tanah.

Sunhwa: (Menantangnya) Teruskanlah! Apakah kau pikir aku akan menyerah begitu saja? Aku juga akan bekerja! (Go … go … go Sunhwa :D)

Dia mulai menarik tanaman liar dengan alat, tapi ia terus tersandung. Jang bahkan tidak melihat padanya, karena ia dengan sintingnya terus membajak.

Kemudian, Jang melihat Puteri berjuang mencabuti beberapa rumput liar.

Jang: Kau bisa kembali sekarang.

Sunhwa: (tersenyum malu-malu) Ini tidak terlalu buruk!

Jang: Aku harus mencari sesuatu yang lain sebelum matahari terbenam. Jadi pulanglah sekarang.

DI PONDOK

Sunhwa duduk, memukuli kakinya yang lelah. Dia melihat Jang membawa beberapa benda.

Sunhwa: Apa ini?

Jang: Ini adalah batang bambu. Kita harus membuat beberapa kipas atau keranjang dengan ini dan menjualnya di pasar. Perhatikan dengan seksama. Aku harus pergi berburu malam ini, jadi Tuan Puteriku harus melakukan ini.

Ambil batang yang  kuat sebagai dasarnya, dan silangkan satu lagi di atasnya seperti ini. Dan berikutnya satu, dan yang berikutnya. Itu caranya bagaimana kau melakukan ini. (Dia menunjukkannya.)

Esok paginya

Mereka terus membajak tanah. Jang terus bekerja tanpa berkata apa-apa. Sunhwa terus bekerja tetapi tanpa banyak membantu. Chogee terus mengawasi mereka, menunggu.

Baik Jang dan Sunhwa mengambil istirahat. Mereka makan ubi mentah, dengan diam. Jang melihat bahwa Sunhwa tangannya melepuh dan berdarah. Dia merasa sangat tidak enak tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.

Malam harinya

Jang mengukir batang kayu dengan diam.

Sunhwa: (Menunjukkan padanya keranjang yang ia buat) Bagaimana kelihatannya sejauh ini? Barang ini tampak bagus, bukan?

Jang: (Meneliti keranjang itu, dan dengan nada serius) Tidak seorang pun akan membeli ini. Ini memiliki banyak lubang. Kau harus memulai lagi. Bongkarlah semuanya ini dan mulai lagi dari awal. (Dia terus bekerja)

Pagi harinya

Di lahan pertanian, Sunhwa sedang mencoba untuk mengangkat banyak batu, tapi ia jatuh karena beratnya. Jang  bahkan tidak melihat padanya, karena ia terus membajak.

Malam harinya

Sunhwa: (Menunjukkan pada Jang keranjang yang baru ia buat) Barang ini hampir siap sekarang.

Jang: (Mengambil dan melihatnya)Ada satu lubang di tengah. (Dia melihat darah dalam keranjang itu sehingga ia melihat tangannya yang melepuh, Jang menyembunyikan emosinya) Jika keranjang ini  berlumuran darah, tidak ada yang akan membeli ini. (Dia serahkan kembali padanya dan ia terus bekerja.)

Sunhwa pergi. Dia berhenti mengerjakannya.

Sunhwa menangis di luar pondok. Jang memandangnya dari belakang.

Suara hati Jang: ¯Itulah sebabnya kau harus pergi. Bahkan jika aku memutuskan untuk hidup bersamamu, aku tidak bisa hidup seperti ini! Aku tidak bisa membiarkan dirimu menderita seperti ini!”

Sunhwa terus menangis ….

Pagi harinya

Jang: (Berdiri di luar pondok) Ini saatnya untuk bangun! (Dia berjalan masuk ke dalam dan ia menemukan ruangan itu kosong.)

Dia berjalan menuju lahan pertanian, dan ia menemukan sang Puteri sudah bekerja disana.

Jang: Mengapa kau melakukan ini?

Sunhwa melihat  kepadanya, mengusap wajahnya yang kotor, dan dia terus bekerja sambil tersenyum. (Duh … gigih banget si Sunhwa … salut … salut !!)

Mereka terus bekerja di malam hari dan di pagi hari.  Lalu di hari lainnya.

Sunhwa: Akhirnya aku menyelesaikannya! Aku menyelesaikan keranjang itu!

Jang: (Menelitinya, dan tanpa tersenyum) Ini terlihat cukup baik.

Sunhwa: (Dengan senang) Benarkah? Aku bisa menjual ini di pasar?

Jang: (Bangun berdiri) Kau perlu terus membuat seperti ini dua puluh buah untuk menukarnya dengan benih, jadi kau harus terus membuatnya. Aku harus pergi memeriksa perangkap binatang.  Aku akan kembali.

Sunhwa kemudian tersenyum, bangga pada dirinya sendiri.

DI LUAR PONDOK

Suara hati Jang: Jika kau terus melakukan hal ini, aku takut tidak akan  mengijinkanmu pergi. Mengapa kau melakukan ini? (Karena Sunhwa cinta mati sama kamu dasar Jang bodoh! … hahahahaha :D)

Pagi harinya

Jang: Aku akan pulang ke rumah setelah menjual kulit binatang. Tinggallah di sini dan berjualan. Kau telah melihat pasar sebelumnya, jadi kau tahu ada banyak preman saling berebut  untuk setiap tempat kecil. Jadi hati-hati! (Sunhwa  mengangguk dan Jang pergi.)

Sunhwa melihat dua laki-laki berteriak pada wanita tua yang dipukul baru-baru ini karena tidak membayar pajak.

Pria: Aku merasa kasihan padamu, tapi kita juga harus membayar pajak. Apa yang kau pikir kau lakukan di sini? (Mereka menendangi barang-barangnya.)

Sunhwa: Hei,  permisi Tuan?

Pria: Siapa kau?

Sunhwa: (Memberikan dia kipas bambu) Aku belum punya uang, jadi ini adalah satu-satunya hal yang bisa kuberikan kepadamu. Tetapi jika aku menjual lebih banyak dan aku memperoleh cukup uang, aku akan memberikanmu lebih banyak. Jadi tolong, ijinkan aku untuk menjual keranjang bambu di sini. Aku mohon padamu….

Pria: Kuijinkan karena kau memintanya dengan sopan. Tapi untuk berikutnya, Kau harus membayar lebih!

Sunhwa: Tentu saja! Terima kasih, terima kasih banyak! (Kepada wanita tua) Nenek, aku boleh berjualan di sini?

Nenek: Ya, Kau boleh!

Petani: Berapa keranjang bambu itu?

Sunhwa: Apa?

Petani: Berapa keranjang bambu itu? Aku hanya memiliki beberapa buncis dan kacang polong.

Sunhwa: Buncis dan kacang polong? Kau dapat memberi aku apa pun yang kau inginkan. Memberiku sebanyak yang kau suka!

Petani: Kalau begitu, aku akan memberimu beberapa kacang polong. (Dia menuangkan beberapa) Ini! Semoga sukses!

Sunhwa: Terima kasih banyak! (Melihat kacang polong) Wow! Ini adalah pertama kali aku mendapatkan sesuatu! Nenek! Aku baru saja menjual ini!

Jang menyaksikan Sunhwa sangat bersuka cita di penjualan pertamanya. Dia tersenyum.

DI PONDOK

Jang: Berikan padaku semua yang kau terima hari ini. Aku akan melihat apakah kita bisa membeli alat-alat pertanian dengannya. (Sunhwa tampak takut) Apa ada yang salah? Kau tidak dapat menjual beberapa?

Sunhwa: Tidak, aku menjualnya!

Jang: Lalu? Apa ada yang salah?

Sunhwa: Itu karena ….  (Melihat ke arahnya) Nenek yang dipukul karena tidak membayar pajak, dia akan dipukuli lagi besok jika ia tak membayar!

Jang: (Menaikkan nada suaranya) Apakah kau berikan semuanya?

Sunhwa: (Melihat ke bawah) Ya … Tapi …..

Jang: Apakah kau berencana untuk memberikan semua yang kau kerjakan bagi orang miskin. Tiap hari, jika penjara dipenuhi oleh orang-orang yang tidak membayar pajak,  apakah kau akan melakukannya semua untuk mereka?

Sunhwa: Bukan begitu yang kumaksud.

Jang: Itulah sebabnya aku memberitahumu untuk kembali saja. Cara hidup seperti ini bukan untuk dirimu, jadi kau harus kembali. (Jang menatap ke kejauhan, marah,  Sunhwa menahan air matanya)

Suara Nenek: Nyonya …. Nyonya ….

Jang: Bagaimana dia menemukan kita?

Sunhwa: (Dengan nada minta maaf) Maafkan aku! Dia terus bertanya padaku!  (Jang terlihat kesal)

Nenek: Aku sungguh meminta maaf karena datang malam-malam begini.

Sunhwa: Mengapa nenek datang kemari?

Nenek: Karena bantuanmu, banyak orang-orang lain juga mengirimkan makanan padaku, jadi aku bisa embayar pajak besok.

Sunhwa: (Sangat bersukacita) Begitukah?

Nenek: Ya,  aku begitu berterima kasih kepadamu, aku tak punya barang lain untuk di berikan (Dia meninggalkan sepasang sandal bambu di lantai).  Aku berterima kasih, aku sungguh berterima kasih. (Dia pergi)

DI LUAR

Pasangan muda itu menyaksikan  wanita tua itu pergi dengan bertelanjang kaki.

DI DALAM

Sunhwa mencoba sandal itu.

Sunhwa: (Tersenyum) Aku telah menjadi salah satu dari mereka! Aku ini bukanlah seorang Puteri, tapi rakyat biasa, seperti dirimu! Satu di antara rakyat banyak! (Jang sedikit tersenyum ) Apakah aku salah? Salahkah aku?

Jang: Kau benar. Itulah bagaimana kehidupan rakyat jelata. Bahkan ketika seseorang berada dalam situasi yang sulit, ia masih berusaha membantu tetangganya yang menderita.  Ini adalah hati dari rakyat jelata!

(Melnatap tajam pada Sunhwa) Aku akan hidup bersama dirimu. Kita akan hidup bersama!

Sunhwa: (Bahagia) Benarkah? (Mereka berdua saling tersenyum.)

Chogee berada di luar pondok, mendengarkan.

Pagi harinya

Suara Chogee: Apa maksudmu? Kau ingin aku pergi? Ke mana?

Sunhwa: Aku bukanlah Puteri lagi jadi aku tidak membutuhkan pelayananmu. Makanya … (memberinya sekantung barang) Ambil ini!

Chogee: Tuan Puteri!

Sunhwa: Aku benar-benar berterima kasih untuk semuanya. Tanpa bantuanmu, aku takkan bertemu Seodong-Gong.

Chogee: Anda tak dapat melakukan hal ini.  Aku akan pergi denganmu!Aku akan pergi ke mana pun Tuan Puteriku pergi!

Sunhwa: Tidak boleh!

Chogee: Tapi Tuan Puteri ….

Sunhwa: Tidakkah kau mendengarkan! Kita  telah bersama sejak kita masih kecil, sehingga sangat  sulit bagiku untuk membiarkanmu pergi. Tapi aku bukanlah Sunhwa yang sama dengan diriku kemarin. Aku harus menjalani hidup dengan jalan yang berbeda. Jadi jangan membuat ini lebih sulit. Pergilah! (Dia berjalan pergi dengan Jang)

Chogee: Tuan Puteri! (Dia menangis.)

Jang dan Sunhwa melakukan perjalanan.

Jang: Ke mana kau mau pergi?

Sunhwa: Mari kita pergi ke dekat perbatasan antara Baekjae dan Shilla.

Jang: Kenapa disana?

Sunhwa: Untuk berjaga-jaga saja kalau nanti kita tertangkap, aku akan menyeberang ke perbatasan dengan dirimu.

Beberapa hari kemudian

Jang menunjukkan Sunhwa sebuah pemandangan.

Jang: Ini dia.

Sunhwa: (Tersenyum senang) Ini sungguh indah!

Jang: Aku akan membangun rumah untuk Tuan Puteriku di sini. Maukah kau tunggu aku sampai saat itu?

Sunhwa: Tentu saja, tentu saja aku akan menunggumu!

HANEULCHAE

Mokrasu mengatakan pada Mojin bahwa ia belum bisa mengembangkan perisai bersinar. Dia juga bertanya-tanya jika Giroo mungkin menemukan sesuatu di Seorabol. Dia khawatir bahwa tanpa penemuan ini, pangeran mungkin secara politik akan dirugikan.

BAEKJAE

Sun: Apa? Apakah kau mengatakan bahwa tentara Shilla sudah bergerak menuju zona perang?

Soldier: Ya, Jenderal. Tuan kita Pangeran salah informasi.

Sun: (Kepada pangeran) Daripada membuang-buang waktumu mencoba untuk membangun hubungan luar negeri, kau seharusnya sudah siap untuk berperang.

Haedoju: Aku juga berpikir seperti itu.

Chilryo: (Ayah mertua Aja) Apakah kau masih belum mendengar kabar tentang penemuan perisai bersinar?

Sun: Aku akan pergi ke zona perang sekarang.

Buyo-Gye: Baik, pergilah!

Sun: (Kepada tentara) Aku  akan memimpin batalion pertama. Kau mengambil batalion kedua dan bersiap-siap.

Prajurit: Ya,  Tuan.

Sun: (Bangkit berdiri, kepada sang pangeran) Tuanku Pangeran, Kau tinggal di sini menunggu berita tentang perisai bersinar. Aku harap kau berhasil membuat persekutuan dengan Ko-Kuryo.

DI PERJALANAN

Sun: Pangeran Mahkota tidak tahu bagaimana berperang. Sebelum berangkat, pergilah ke tempat di mana Yungamo pernah tinggal, dan suruhlah seseorang mengawasi tempat itu. Siapa tahu? Anak Yungamo dapat saja muncul dalam beberapa waktu ini.

Heukjipyung: Ya, aku akan melakukannya.

HALAMAN ISTANA

Sun:  (Kepada pasukannya.) Kita berjuang untuk memulihkan wilayah yang telah dirampas dari kita. Jadi, kita akan berangkat sekarang. Karena semua dari kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan, aku yakin kita pasti menang! Apakah kalian setuju? (Pangeran mengawai para prajurit memberikan jawaban dengan suara keras atas pidato dari Jendral Sun)

SHILLA

Sementara itu pasukan Shilla juga sedang mempersiapkan diri untuk pergi berperang. Giroo mengawasi mereka.

Giroo bertanya kepada ayahnya jika ada salah satu anak buah Ratu Maya mendengar sesuatu tentang sang Puteri. Kim Saheum memberikan jawaban negatif, dengan mengatakan bahwa raja sangat sibuk pada saat ini untuk mempersiapkan diri guna berperang, sehingga ia belum  tahu tentang sang Puteri belum. Salah satu anak buah Kim Saheum memberitahu Saheum bahwa pelayan Tuan Puteri sudah pulang ke Istana.

Groo: (Kepada Chogee) Di mana Tuan Puteri?

Chogee: Aku …  aku tidak tahu, aku kembali karena Tuan Puteri mengirim aku kembali!

Giroo: Siapa di luar? Siapkan segera ruang penyiksaan!

Chogee: Tidak, Jangan! Tidak! Mereka pergi dekat perbatasan dengan Baekjae, dekat dengan zona perang.

Giroo  membawa para pengawal dan ia pergi dengan kuda.

SHILLA, DEKAT PERBATASAN DENGAN BAEKJAE

Jang: (Menunjukkan kepada Sunhwa sebuah rumah yang baru dibuatnya) Ini dia. Bagaimana? Apa kau menyukainya?

Sunhwa: ……!

Jang: Mengapa? Tidakkah kau suka?

Sunhwa: (Menunjuk ke arah atap)Adalubang disana. Apakah Kau bisa mendapatkan roti jika seperti ini? Bangun ulang rumah ini!

(Jang mulai berjalan pergi, tapi Sunhwa meraihnya) Bagaimana kau bisa pergi hanya karena aku mengatakan hal seperti itu? (Jang tersenyum.) Kau meneliti setiap kesalahan kecil yang aku buat sebelumnya.

Jang: Aku cemas sekarang.  Aku takut kamu akan mengingatkan aku tentang ini berkali-kali!

Sunhwa: Itu benar.  Aku akan mengingatkanmu tentang hal ini setiap kali dirimu tidak berperilaku baik. (Jang tertawa.) Jadi, dapatkah kita pindah sekarang?

Jang: Kita belum bisa. Tempat itu masih kosong.

Sunhwa: Apa yang harus kita lakukan?

Jang: Ayo sini!

Mereka mengukir peralatan kayu dan hal-hal lain dengan cabang hutan. Mereka membuat bebek kayu, bermain-main saling melawan satu sama lain.

Mereka menyusup di dalam rumah orang lain, mencari selimut. Mereka melihat kamar dengan selimut ekstra, sehingga mereka mencurinya untuk kamar tidur mereka sendiri. Setelah mendapatkan selimut sudah siap, mereka melihat satu sama lain, malu-malu.

Jang: Mari kita pergi ke luar.

Sunhwa: Baik.

DI LUAR

Mereka berdua menatap malam berbintang.

Jang: Aku akan memberimu sesuatu.

Sunhwa: (Membuka telapak tangannya, dan menunjukkan sepasang cincin kayu hitam) Aku juga.

Sunhwa memasang cincin ke jari Jang, Jang juga memasang cincin satunya ke jari Sunhwa

Sunhwa: Dulu kau pernah mengatakan kepadaku bahwa awalmu di mulai dari pepohonan. Jadi aku berharap bahwa permulaan kita  dan akhir kita akan terbuat dari pohon juga, pohon bisa saja  terguncang dan dipatahkan berkali-kali sejak ia masih muda, tetapi ia masih bisa tumbuh.

Jadi, daripada berharap bahwa kau tidak akan dipindahkan atau patah di bawah tekanan, harapanku untukmu adalah bahwa walaupun kau terguncang dan patah, kau tetap akan menancapkan akar yang dalam dan terus berlanjut tumbuh semakin kokoh sama seperti sebuah pohon …

Itulah sebabnya aku memberimu cincin kayu.

Jang: (Memberikan kalungnya, Oh Saek Ya Myung Jo) Aku memberikan diriku kepadamu.
Aku akan melupakan tentang pencarianku untuk menemukan ayah dan identitas diriku.
Aku hanya akan memikirkan bagaimana hidup bersama denganmu, Tuan Puteriku.

Jika Kau memintaku untuk menjadi sebuah pohon, aku akan menjadi pohon.
Jika Kau memintaku untuk menjadi sebuah gunung, aku akan menjadi gunung.
Jika lautan, maka aku akan menjadi lautan yang dalam untukmu.

(Melihat ke arahnya) Namun … Apakah Kau akan tinggal di sini sepanjang malam?

Sunhwa: (memerah kemalu-maluan) Masuklah terlebih dahulu.

Jang: Tidak, aku pikir kau harus masuk terlebih dahulu.

Sunhwa: Mengapa begitu? Masuklah terlebih dahulu.

Jang: Aku katakan, Tuan Puteriku harus masuk terlebih dahulu.

DI DALAM

Sunhwa sedang membuka baju, tapi ia berubah pikiran. Dia mendengar suara, jadi dia menutupi diri dengan selimut, berharap-harap menunggu.

Goosan berjalan masuk, diikuti oleh orang lain.

Sunhwa: (Para pria menyeretnya) Lepaskan aku! Lepaskan aku!

DI LUAR

Sunhwa: (Meronta terhadap orang-orang yang terus menyeretnya ke luar) Lepaskan aku! Lepaskan aku! Lepaskan aku!

Goosan: Lepaskan dia.

Mereka berdiri di depan Jang, siap untuk menangkapnya. Mereka melawan, satu orang melawan banyak.

Jang meraih tangan Puteri dan mereka mulai berlari.

Catatan : wah baru nemu penjelasan mengenai kalungnya si Jang, Oh Saek Ya Myung Ju, aku dapetnya seperti ini :

Oh Saek Ya Myung Jo secara huruf diartikan ke Perhiasan 

Bercahayakan Malam dengan Lima Warna, atau lebih gampangnya, batu warna-warni (liontin).

Kedua kata pertama, Oh Saek, secara huruf  berarti Lima Warna,  sebenarnya memiliki arti lebih dalam, ketika kata untuk Lima (Oh) diikuti oleh Warna (Saek). Itu dapat berarti Lima Warna Utama di Korea, Hitam – Putih – Merah – Biru – Hijau, atau gampangnya Banyak Warna. Sebagai kata sifat, itu diterjemahkan dengan sederhana  ke ‘penuh warna/berwarna warni’. Dalam kisah ini, arti terakhirlah yang digunakan.

Dua kata selanjutnya, Ya Myung secara gampang, berkilau/bercahaya saat malam.

Kata ke lima, Ju/Jo, adalah belahan permata berbentuk bulat. Dengan kata lain, ambil sebuah permata besar, dan belah menjadi dua bagian. 

Jadi arti sesungguhnya dari Oh Saek Ya Myung Jo adalah Permata yang Berkilauan Warna-warni di saat Malam

Semoga ini membuat kita sedikit “melek”😛

5 comments on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 14

  1. Semakin asyik baca, bahkan kuulang2 dari episode 1 samapi final. Thanks alot fot this synopsis. Bikin aku nyenyak tidur

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s