Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 15

Sunhwa: Dulu kau pernah mengatakan kepadaku bahwa awalmu di mulai dari pepohonan. Jadi aku berharap bahwa permulaan kita  dan akhir kita akan terbuat dari pohon juga, pohon bisa saja  terguncang dan dipatahkan berkali-kali sejak ia masih muda, tetapi ia masih bisa tumbuh.

Jadi, daripada berharap bahwa kau tidak akan terguncang atau patah di bawah tekanan, harapanku untukmu adalah bahwa walaupun kau terguncang dan patah, kau tetap akan menancapkan akar yang dalam dan terus berlanjut tumbuh semakin kokoh sama seperti sebuah pohon …

Itulah sebabnya aku memberimu cincin kayu.

Jang: (Memberikan kalungnya, Oh Saek Ya Myung Jo) Aku memberikan diriku kepadamu.
Aku akan melupakan tentang pencarianku untuk menemukan ayah dan identitas diriku.
Aku hanya akan memikirkan bagaimana hidup bersama denganmu, Tuan Puteriku.

Jika Kau memintaku untuk menjadi sebuah pohon, aku akan menjadi pohon.
Jika Kau memintaku untuk menjadi sebuah gunung, aku akan menjadi gunung.
Jika lautan, maka aku akan menjadi lautan yang dalam untukmu.

(Melihat ke arahnya) Namun … Apakah Kau akan tinggal di sini sepanjang malam?

Sunhwa: (memerah kemalu-maluan) Masuklah terlebih dahulu.

Jang: Tidak, aku pikir kau harus masuk terlebih dahulu.

Sunhwa: Mengapa begitu? Masuklah terlebih dahulu.

Jang: Aku katakan, Tuan Puteriku harus masuk terlebih dahulu.

DI DALAM

Sunhwa sedang membuka baju, tapi ia berubah pikiran. Dia mendengar suara, jadi dia menutupi diri dengan selimut, berharap-harap menunggu. (Ehem … ehem … :P)

Goosan berjalan masuk, diikuti oleh orang lain.

Sunhwa: (Para pria menyeretnya) Lepaskan aku! Lepaskan aku!

DI LUAR

Sunhwa: (Meronta terhadap orang-orang yang terus menyeretnya ke luar) Lepaskan aku! Lepaskan aku! Lepaskan aku!

Goosan: Lepaskan dia.

Mereka berdiri di depan Jang, siap untuk menangkapnya. Mereka melawan, satu orang melawan banyak.

Jang meraih tangan Puteri dan mereka mulai berlari.

Pasangan ini dihadang oleh kelompok lain, terdiri dari empat orang. Jang bertarung dengan mereka dan pasangan melanjutkan larinya

Segera, sekitar dua puluh orang pengawal mengepung mereka. Giroo sedang mengawasi, bersembunyi dari pandangan Jang.

Sochoong: (Kepada Jang) Kau telah dikepung.. Jangan melukai Puteri lagi dengan bertarung sia-sia. Menyerah sekarang!

Jang: …

Semua pengawal mengarahkan senjata mereka kepadanya. Tiba-tiba, Sunhwa mengambil pisau kecil di tangan kanannya, mengarahkannya ke arah lehernya sendiri.

Jang: Tuan Puteriku!

Giroo mengawasi ini dari jauh.

Sunhwa: (Melindungi Jang dengan tubuhnya, dan berbicara dengan para pengawal) Menyingkir!

Jang: Kau tidak seharusnya melakukan ini!

Sochoong: Tuan Puteriku

Sunhwa: (Kepada Jang) Jika aku tidak bisa pergi bersama dirimu, kamu harus pergi sendiri!

Jang: Tuan Puteri!

Sunhwa: (Kepada para pengawal) Bawakan kuda untuk pria ini!

Sochoong: Tuan Puteri, Kau tidak seharusnya melakukan ini.

Jang: Tuan Puteri!

Sunhwa: Biarkan dia meloloskan diri!

Jang: Aku tidak akan pergi sendirian! Tuan Puteri, ini tidak benar!

Sunhwa: Jika kalian membiarkan orang ini pergi, aku akan kembali ke Istana. Jika kalian tidak melakukan itu, aku tidak akan kembali ke Istana hidup-hidup!

Jang: Tuan Puteri! Mengapa kau melakukan itu untuk orang seperti aku?

Sunhwa: Bawakan kuda!

Jang: Aku tidak mau! Jika aku tidak bisa pergi denganmu, aku memilih untuk mati!

Sunhwa: Bawakan kuda kepadanya. Cepat!

Jang: Aku tidak bisa pergi! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa pergi meninggalkan  Tuan Puteri!

Goosan mengeluarkan pedang untuk menyerang, tetapi sang puteri mengancam bunuh diri.

Sochoong: (Kepada Goosan) Berhenti!

Semua orang berhenti.

Goosan: (Kepada anak buahnya.) Bawakan kuda. Jika Tuan Puteriku melompat ke atas kuda dengan dia, aku tidak akan menjamin keamanan orang itu lagi.

Sunhwa: Aku mengerti. Mundurlah kalian ke belakang! (Mereka membawa kuda kepada Jang.) Tunggangi kuda itu.

Jang: …

Sunhwa: Bertahan hidup!. Kau harus bertahan hidup jika kita ingin bertemu lagi! Kau harus bertahan hidup dan bertemu lagi! Kumohon, naiklah kuda!

Jang menggeleng, enggan menurutinya…

Sunhwa: Apakah kau memilih untuk mati?! Aku memilih untuk hidup, dan aku akan memenuhi cinta kita! Jadi kumohon … kumohon … naiklah kuda!

Jang: …

Sunhwa: (dengan nada memohon) Naiklah ke atasnya!

Jang enggan naik kuda itu. Sunhwa melempar kembali kalung Oh Saek Ya Myong Ju kepadanya.

Sunhwa: Aku mengembalikan padamu dirimu sendiri, yang telah kau berikan kepadaku. Cari tahu siapa dirimu, dan siapa ayahmu. Aku yakin dia adalah orang seperti dirimu, bijak dan berpikiran mendalam.Aku juga akan menjadi lebih bijaksana dan berpikiran mendalam.

Jang: (Hampir berbisik) Tuan Puteriku …

Sunhwa: Kau akan menemukan prajurit Baekjae jika kau menyeberangi danau. Kau harus bertahan hidup! Berjanjilah padaku bahwa kau akan bertahan hidup!

Jang menyebut namanya dengan berbisik, menganggukkan kepalanya. Kemudian ia pergi meninggalkannya.

Suara hati Sunhwa:: (Masih memegang pisau yang mengancam terhadap dirinya sendiri, karena ia ingin menyaksikan Jang berkuda pergi) Kau harus sampai di sana dengan selamat!

Suara hati Jang: (Saat ia naik kuda, melarikan diri untuk hidupnya) Ya, aku akan bertahan hidup.

Suara hati  Sunhwa: (Meneteskan air mata perpisahan) Memang benar, kau harus bertahan hidup!

Jang sudah tidak terlihat. Para pengawal mencoba melangkah lebih dekat ke arah sang Puteri.

Sunhwa: (Menunjukkan kepada mereka pisaunya lagi) Jangan bergerak sampai ia menyeberangi perbatasan!

Sochoong memberikan tanda kepada  Goosan untuk mundur.  Sunhwa terus mengancam mereka dengan pisau yang terarah ke lehernya, air mata jatuh dari matanya.

Sekarang Jang tidak terlihat lagi, Giroo berjalan ke arah sang puteri.

Giroo: (Dengan lembut) Berikan kepadaku pisau itu. Kumohon, berikan padaku pisau itu!

Sunhwa mulai roboh, dan Giroo mengambil pisau dari tangannya. Dia mulai menangis, bersandar pada bahu Giroo.

Suara hati Sunhwa: Kau harus bertahan hidup, harus!

Pengawal mulai pergi mengejar Jang, menunggang kuda mereka.

Sunhwa: Berhenti! Jangan pergi! (Giroo menahannya, mencoba untuk menghentikannya melakukan tindakan gegabah, Sunhwa.meratap)

Catatan : Mengenai asal usul pisau kecil milik Puteri Sunhwa.

Pisau kecil itu adalah Pisau Perak Eunjangdo, Eunjangdo adalah pisau khusus wanita yang digunakan untuk melindungi diri sendiri dan juga sebagai aksesoris. Sudah biasa untuk wanita Korea membawa aksesoris pisau saku dengan mereka ke mana-mana

Eunjangdo secara tradisional dibuat dari perak dan merupakan aksesoris yang sangatlah penting yang harus dibawa di tali baju, atau ikat pinggang. Wanita Korea akan mengenakannya di korset mereka di balik ‘hanbok’ (baju tradisional wanita Korea) untuk menjaga nama baik mereka dari pria jahat dan akan menggunakannya untuk melakukan bunuh diri jika keperawanan atau kemurnian mereka dirusak.

DEKAT PERBATASAN

Jang sedang dikejar dengan rapat oleh pengawal pribadi. Ketika mereka melihat Jang menyeberangi perbatasan, Goosan memerintah mereka untuk menyeberang juga.

DI DAERAH PERANG BAEKJAE

Prajurit: Tentara Shilla menyerang! Tentara Shilla mulai menyerang!

Sersan: Apa? Tentara Shilla datang? Persiapkan pertahanan! (Tentara bersiap-siap untuk menyerang) Tunggu! Apa itu?

Mereka melihat seorang pria sendirian dengan pakaian biasa dikejar oleh pasukan pribadi dari Shilla.

Sersan: Serang tentara Shilla!

(Beberapa dari pasukan pribadi itu terkena panah dan yang lain kembali ke Shilla)

Pasukan Baekje lari mendekat untuk melihat siapa buronan itu. Jang masuk ke jebakan mereka. Pasukan menangkap Jang.

Sersan: (Mengarahkan pedangnya kepada Jang) Siapa kau? Kau tidak mengenakan seragam militer. Mengapa kamu menyeberangi perbatasan  Baekjae?

Jang: …

Sersan: Dia mencurigakan! Tangkap dia dan bawa ke dalam penjara!

PERBATASAN SHILLA

Goosan kembali.

Sunhwa: Kau bangsat! Ceritakan apa yang terjadi! Apa yang kau lakukan?

Giroo: Apa yang terjadi?

Goosan: Dia berhasil melarikan diri. (Sunhwa mendesah lega.) Kami mengikutinya sampai ke Baekjae, tetapi tentara melihat kami.

Sunhwa: Bagaimana dengan dia? Apakah pria itu hidup? Apakah dia hidup?!

Goosan: Dia ditangkap oleh tentara Baekjae, tapi dia adalah salah satu dari mereka ……

Chogee: Tuan Puteri! Itu berarti dia masih hidup! Mari kita pergi sekarang …

Giroo: (Kepada Sochoong) Ini harus tetap menjadi rahasia. Kita tidak tahu apa yang dia derita jika kabar ini sampai menyebar.

DI ISTANA SHILLA

Bomyung: Tuan Puteri! Apa yang kamu pikirkan ketika Anda melakukan itu?

Giroo: (Kepada Bomyung) Bisakah kau tinggalkan aku sendirian dengan Tuan Puteriku? (Bomyung pergi meninggalkan mereka berdua)

(Kepada Sunhwa.) Tidak ada orang lain yang bisa melakukan itu, Tuan Puteriku. Kau teguh dan berani, dan sangat berperasaan. Aku kira tidak apa-apa bagimu untuk melakukan ini sekali dalam seumur hidupmu. (Sunhwa tidak menjawab dan wajahnya tetap tanpa ekspresi)

Saat aku dilatih sebagai Hwarang, salah satu guruku mengatakan kepadaku bahwa jenis para pemimpin terburuk adalah mereka yang tidak mengerti apa itu cinta, ikatan emosional, atau perasaan, seseorang yang hanya berjalan dengan aturan, tanpa mengetahui bagaimana emosi bisa memimpin orang lain untuk bertindak dalam banyak hal … Seorang pemimpin seperti itu tidak akan mengerti mengapa bawahannya bereaksi terhadap beragam emosi, dan bagaimana perasaan dapat  mempengaruhi begitu banyak dari mereka. Pemimpin seperti itu hanya akan memerintah dengan paksaan, tidak pernah memenangkan hati rakyatnya.

Dengan cara yang sama, dan karena itu, Tuan Puteriku akan menjadi seorang pemimpin besar dari Shilla. Kau pernah mengalami semuanya, dan Kau akan mengerti semuanya! Namun demikian … Kau harus mengakhiri ini sekarang. Sekali dalam seumur hidup sudah cukup! Sejak awal sampai sekarang, Kau selalu menjadi milik tempat ini!

(Ia membungkuk hormat untuk pergi, tapi ia berbalik.) Omong-omong, orang yang seharusnya berada di sisimu …… seharusnya diriku. Bukannya Jang!

KEDIAMAN KIM SAEHUM

Saheum: Apa yang terjadi dengan orang itu?

Giroo: Dia melintasi perbatasan.

Saheum: Menuju Baekjae? Itu melegakan. Kita bisa menjaga rahasia ini sekarang. Raja dan para bangsawan sibuk dengan perang, sehingga mereka tidak mengetahui apapun tentang sang puteri.

Giroo: Mereka seharusnya tidak perlu mencari tahu!

Saheum: Itu pasti! Raja sangat marah ketika puteri menyebarkan Lagu Seodong. Bayangkan itu sekarang! Jika Raja mengetahui bahwa Puteri mencoba melarikan diri dengan pria Baekjae itu, Raja akan sangat marah!

Giroo: Selain itu, dua puteri lainnya akan berusaha untuk melarang Puteri Sunhwa turut dalam politik jika mereka tahu.

Saheum: Tentu saja!

Giroo: Juga …

Saheum: Apa itu?

Giroo: Tolong bantu Puteri untuk melupakan … Katakan pada ibu untuk sering pergi mengunjunginya…

Saheum: Aku mengerti.

DI HANUELCHAE

Instruktur Gomo pikir dia menemukan sebuah logam yang bisa membantu membuat perisai bersinar, tapi itu terlalu berat, dan terlalu lemah.

Baekmoo: Bagaimana kabarnya?

Mokrasu: Ah kau sudah datang?

Mojin: Begitu cepatnya?

Mokrasu: Maaf, tapi kami tidak dapat menemukan apa pun.

Baekmoo: Pangeran mahkota cemas menunggu ini, jadi aku datang lebih awal.

Mojin: Apakah ada yang salah?

Baekmoo: Jendral Buyo-Sun sudah pergi berperang!

Mojin: Benarkah?

Baekmoo: Pertempuran akan segera dimulai … Jadi, putra mahkota berencana untuk bergabung dengan mereka, memimpin pasukan kedua.

DI DALAM RUANG KELAS

Anak perempuan: Sebenarnya, aku mendengar Instruktur Mojin berbicara dengan Guru Mokrasu.

Woosoo: Dan?

Anak pereempuan: Jang dan wanita itu …

Anak laki-laki: Wanita apa?

Woosoo: Apakah kau berbicara tentang wanita yang tinggal di Kuil Jin?

Anak perempuan: Ya, tapi …

Anak laki-laki: Apa?

Anak perempuan: Jang lari dengan dia.

Woosoo: Apa? Mereka melarikan diri bersama-sama?

DI TEMPAT LAIN

Maekdosu: Mereka melarikan diri bersama-sama? Benarkah? Bukankah itu Giroo yang membiarkan dia pergi?

Gooksoo: Ssst! Turunkan suaramu!

Maekdosu: Apakah itu benar?

Gooksoo: Ya. Mereka mengatakan mereka melarikan diri naik kereta.

Maekdosu: Dengan sebuah kereta? (Dia tertawa) Hal-hal yang baik akhirnya mulai bekerja untuk Jang!

Gooksoo: Ketika aku mendengar itu, hatiku mulai melompat!

Maekdosu: Apa? Mengapa hatimu melompat?

Gooksoo: Bahkan jika tidak naik kereta … aku juga ingin lari dengan seorang pria! (Meraih lengan orang tua itu) Tidakkah kau ingin mencoba ini juga sebelum semakin tua?

Maekdosu: Siapa? Aku?

Gooksoo: (Mengedipkan mata padanya) Ya …

Maekdosu cepat-cepat pergi, mengatakan apapun yang sedang ia masak pasti sudah matang sekaran! (hahahahah :D)

DI SUATU RUANGAN HANEULCHAE

Eunjin: (Kelihatan tertekan) Ya ampun! Betapa tak berpengharapannya diriku!  Seorang pria melarikan diri dengan wanita yang dicintainya. Pria yang lain sangat sibuk seakan-akan dia tidak pernah ada di sini! (Bumro datang dan memberinya sesuatu) Apa ini?

Bumro: Buka itu.

Eunjin: (Dia melihat lipstik.) Jadi apa?

Bumro: Ketika kami masih kecil, Jang mengatakan kepada aku dia membuat ini untuk memberikannya kepada anak perempuan.

Eunjin: Jadi?

Bumro: Aku rasa ini adalah alasan gadis-gadis sangat menyukainya.

Eunjin: Dan?

Bumro: Dan apa! Aku ingin kau melihatku ….

Eunjin: Celakalah aku! Celakalah aku! Satu melarikan diri  dengan wanita yang dicintainya, tinggal di rumah impian, dan memiliki saat terbaik di hidupnya.  Sementara itu, aku mendapatkan sesuatu yang kecil dan jelek lagi di tempat ini!

Bumro: Tidakkah kau sedikit menyukaiku?

Eunjin: Di manakah kau Giroo?! Di manakah kau Jang?

DI ZONA PERANG BAEKJAE

Jang sedang disiksa dan diinterogasi oleh tentara. Dia terikat di kursi siksaan, tampak seperti seorang penjahat yang sengsara.

Jang: Aku orang Baekjae! Seorang pria Baekjae!

Kepala pasukan: Akuilah yang benar!

Jang: Apa yang kau ingin aku katakan?! Aku harus berpisah dengan seorang wanita Shilla karena aku dari Baekjae. Dan pasukan Shilla mencoba membunuh aku karena aku seorang Baekjae! Apa lagi yang kau ingin aku katakan padamu ?!

Kepala pasukan: Kau punya tanda pengenal Shilla. Mengapa kau selalu mengatakan kalau dirimu orang Baekjae? Beritahu kami siapa kau!

Jang: Siapa? Apakah kau bertanya itu lagi padaku?

Kepala pasukan: Ya, beritahu kami siapa dirimu. Shilla dan Baekjae akan berperang satu sama lain segera. Apakah kau mencoba untuk memata-matai kami, berpura-pura menjadi buronan dari Shilla? Mengakulah! Jika kau mengaku, aku akan membiarkan engkau hidup!

Jang: Akui? Mengaku apa? Katakan padaku! Katakan padaku!

Sang Kepala pasukan menyuruh anak buahnya untuk terus menyiksa Jang. Jang terus berteriak kepada sang Kepala pasukan menuntut didengarkan. Jang kehilangan kesadarannya.

Kepala pasukan: Siram dia dengan seember air dan taruh dia di belakang jeruji untuk sekarang

Kapten pergi ke Buyo-Sun.

Kepala pasukan: Kami menangkap seorang pria yang mencurigakan.

Heukjipyung: Seorang pria yang mencurigakan?

Kepala pasukan: Ya. Ia ditangkap beberapa hari lalu di luar benteng.

Heukjipyung: Apakah dia seorang tentara Shilla?

Kepala pasukan: Dia tidak terlihat seperti tentara. Kami siksa, tapi dia tetap bersikeras bahwa dia orang Baekjae.

Heukjipyung: Seorang pria Baekjae?

Sun: Bagaimana dengan identitas dirinya?

Kepala pasukan: Ini dari Shilla.

Heukjipyung: Bagaimana kalau dia mata-mata dikirim oleh Shilla?

Sun: Apakah mereka akan mengirim mata-mata yang membawa tanda pengenal dari Shilla?

Heukjipyung: Tidakkah kau menemukan apa pun dari dia?

Kepala pasukan: Tidak banyak. Jadi aku menempatkan dia di balik jeruji untuk saat ini.

Sun: Baiklah. Awasi dia!

Kepala pasukan itu pergi meninggalkan Sun dan berbicara dengan pengawalnya tentang situasi perang. Sun ingin menggunakan taktik menyerang dan mengejutkan musuh.

Heukjipyung: Tapi kita tidak pernah berjuang di daerah itu sebelumnya.

Sun: Setiap kali aku pergi berperang, kita menginjak teritori baru.Aku tidak pernah kalah dalam peperangan yang seperti ini..

(Beberapa saat) Aku akan memimpin pasukan itu!

DI PENJARA

Jang diletakkan di sel penjara.

Jang: Aku bilang aku orang Baekjae! Mengapa aku ditangkap? Mengapa!!?!

Penjaga: Dasar kau anak haram!  Diam! (Kepada para tahanan lain.) Hei, kau! Ajarkan orang ini untuk berperilaku di sini!

Jang: Biarkan aku pergi! Aku harus hidup! Aku harus hidup! Dengarkan aku! Aku harus hidup! Dengarkan!

Sopal: (Menendang Jang) Bangsat!

Jang: (Kepada penjaga penjara) Dengarkan aku! Dengarkan!

Sopal: Kau benar-benar berisik!

Jang: Dengarkan!

Sopal: (Sambil berdiri.) Hei! Bangsat! (Memukul kepala Jang) Diamlah jika aku mengatakannya baik-baik. Waktu kita tinggal dalam hitungan hari jadi mari kita merenungi dengan tenang. Bertobat untuk semua dosa-dosamu sebelum mati. Apakah kau mengerti, kau bangsat?

Jang mulai menendang Sopal, sehingga dua tahanan lainnya berdiri, tetapi Jang mengalahkan mereka juga. Dia meraih leher Sopal, mengguncangnya, dan memukulinya berkali-kali.

Jang: Apa dosa yang telah aku lakukan? Katakan padaku! Apa yang aku lakukan yang salah?! (Ia akan memukul sekali lagi, tetapi orang tua yang ada di sebelahnya menghentikan tinjunya)

Daejang: Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi cobalah tenang. Dari sorot matamu, kamu terlihat seperti anjing gila putus asa yang berusaha untuk tetap hidup.

Jang tenang dan dia duduk. Dua tahanan lainnya membantu Sopal.

Daejang: (Kepada Sopal) Kau harus berhati-hati pada siapa kau memprovokasi. Saat pertama kali aku melihatnya, aku tahu dia dipenuhi dengan amarah yang hebat, ia sewaktu-waktu seperti akan meledak.

(Kepada Jang, sambil menutup matanya.) Aku tidak tahu apa masalahmu.Tapi semua dari kita di sini telah menetapkan diri kita sendiri. Tak ada gunanya jika kau membuat begitu banyak keributan, jadi tenanglah.

Sopal: Itulah yang aku katakan. Mengingat seberapa kuat dia, aku tidak berpikir ia cukup menderita …

Daejang: Kau juga, Kau diam! Marilah kita damai untuk sekarang, setuju? Apakah Kau mencoba untuk mengumumkan kepada dunia bahwa kita adalah orang hukuman mati?

Jang melihat cincin kayunya, dan ia ingat janji yang telah dibuatnya. Dia berdiri, sementara 3 tahanan lainnya melangkah mundur, takut padanya.Jang menghela napas, penuh dengan kemarahan yang tidak terkendali. Ia mulai memukul jeruji penjara.

Sunhwa berada di Istana Shilla, sedih melihat cincinnya.

Jang mulai menendangi jeruji penjara lagi.

Sopal: Aku akan gila! Aku tidak tahan lagi dengannya! (Teman-temannya  mencoba untuk menghentikannya untuk ikut campur …) Jangan menghentikan aku, jangan!

(Kepada Jang) Hei, kau! Ketika aku melihat istriku diperkosa oleh seorang pria berpangkat tinggi, aku kehilangan kendali atas diriku sendiri. Itu sebabnya aku di sini. Aku ditangkap saat mencoba untuk mematahkan leher anak haram itu. Apakah kau mendengarkan?

Tawanan 1: Itu benar. Aku juga, setelah melihat 3 dari anak aku mati karena penyakit, aku putus asa untuk menyelamatkan anakku. Tapi aku ditangkap saat mencuri.

Sopal: (Kepada tawanan 2) Hei saudara muda! Apa yang kau katakan yang telah kau lakukan?

Tawanan 2: Aku? Aku … aku membunuh orang. (Tiba-tiba meledak) Tapi mereka pantas mati! Tapi … tapi … (Menangis lagi)

Sopal: Mengapa kamu menangis? Stop! Berhenti sekarang!

(Kepada Daejang) Saudara tua… Apa situasimu?

Daejang: Aku?

Sopal: Ya. Kamu tidak pernah menceritakan apa-apa tentang dirimu.

Daejang: Mengapa kau ingin membawa beban orang lain sementara kamu sudah hampir mati?

Jang mulai menendangi jerujji penjara lagi.

Sopal: Dasar sial! Orang ini terlalu berisik! Tidakkah kalian semua setuju? Bukankah kita semua sudah memiliki cukup masalah?

PERANG DIMULAI

Tentara Baekjae menyerang tentara Shilla. Tiba-tiba, banyak tentara Shilla bergabung dengan tentara terdahulu, memaksa tentara Baekjae mundur. Mereka berlari ke dalam benteng, menutup gerbang.

Salah satu pimpinan tentara Baekjae mengatakan pada Jenderal Sun bahwa terlalu banyak prajurit yang tewas. Pimpinan lain mengatakan kepadanya bahwa, sementara Jenderal menyerang musuh, tentara lain dari Shilla merebut kembali daerah Baekjae lain yang berusaha dipertahankan..Selain itu, tentara Baekjae sekarang dikepung oleh musuh di luar benteng. Tidak ada jalan keluar yang terbuka.

Sun mengirimkan seorang pembawa pesan  untuk meminta pasukan bantuan.

Pertempuran terus berlanjut, dengan tentara Shilla mencoba menerobos benteng. Sun memerintahkan beberapa dari prajurit untuk pergi menyalakan sinyal api.

DI DALAM SEL PENJARA

Tawanan 2: Mengapa? Mengapa di luar begitu ramai?

Sopal: Benar! Daejang, Daejang! Bangun! Sesuatu yang aneh terjadi !Daejang, bangun!

Tawanan 1: Apakah kita sedang berperang?

Daejang: Apakah pertempuran sudah mulai?

Tawanan 1: Perang? Apakah itu berarti kita mungkin bisa hidup?

Tawanan 2: Mereka perlu setiap orang yang mereka bisa! Mereka mungkin membutuhkan kita …

Sopal: Sebaliknya, mari kita mencoba mendobrak dinding atau sesuatu selama tidak ada yang mengawasi! Kita harus hidup!

Tawanan 2: Bagaimana kita bisa mendobrak dinding?

PERTEMPURAN  BERAKHIR

Jendral Sun melihat berkeliling untuk mengecek korban di pihaknya.

Sun: Berapa banyak yang selamat?

Heukjipyung: Kurang dari seratus. Setengah dari mereka sedang terluka.

Sun: Berapa banyak penyediaan makanan yang kita miliki?

Heukjipyung: Tidak banyak. Kita tidak bisa bertahan lebih lama. Kita membutuhkan bantuan segera …

Sun: Apa yang terjadi dengan sinyal api? Mengapa masih belum menyala?

DI TEMPAT MENARA SINYAL API

Tempat ini penuh dengan tentara Baekjae yang mati. tentara Shilla sedang mengawasi menara.

BENTENG BAEKJAE

Heukjipyung: Menara sinyal api adalah hal pertama yang dirampas oleh tentara Shilla. Kami sudah mengirim prajurit kemarin, tapi belum terlihat sinar dari api yang berkobar….

Sun: Bagaimana dengan pembawa pesan yang kita kirimkan?

Heukjipyung: Kami utus dia melalui terowongan rahasia, tetapi tidak ada cara untuk mengetahui apakah ia pergi dengan selamat.

Mereka mendengar teriakan! Pembawa pesan itu kembali kepada mereka … mati.

DI PERKEMAHAN SHILLA

Seorang tentara mengatakan pada Jenderal Weesong (suami Puteri pertama dari Shilla) bahwa hanya  ada sedikit tentara di dalam benteng Baekjae dan mengusulkan kalau sekaranglah waktu yang tepat untuk menyerang mereka.

Weesong: Kita juga tidak  memiliki tentara yang banyak. Sebuah Jenderal yang baik tidak akan  terlibat dalam pertempuran yang berisiko. Biarkan pasukan kita beristirahat. Kemudian, setelah kita menerima bantuan ekstra pasukan dan ekstra amunisi, kita akan memulai serangan balik.

Prajurit: Bagaimana jika pasukan bantuan dari Baekjae datang?

Weesong: Perintahkan para penjaga untuk mengawasi dengan ketat bagi siapa saja meninggalkan benteng itu. Kita tidak bisa membiarkan mereka mengirim pesan ke manapun, atau menyalakan sinyal api! Apakah kau mengerti?

DI PERKEMAHAN BAEKJAE

Heukjipyung menunjukkan peta pada Jenderal, mengatakan padanya bahwa musuh telah mengepung mereka.

Sun: Apa yang terjadi pada pembawa pesan yang baru kita kirimkan? (Heukjipyung tidak menjawab.) Apakah kau katakan bahwa satu-satunya jalan keluar adalah untuk menyalakan sinyal api?

Heukjipyung: Ya.

Sun: Kirim orang untuk menyalakannya!.

Heukjipyung: <enara itu sudah dijaga dengan baik.

Sun: Bahkan jika mereka harus terbang ke langit atau menerobos tanah … Apapun yang mereka lakukan, mereka harus menyalakan sinyal api! Kirim pasukan ke sana!

Heukjipyung: Ya …

Sun: (Kepada dirinya sendiri) Aku tidak bisa mati seperti ini. Aku tidak bisa!

Tak lama kemudian

Sekelompok tentara dikirim untuk menyalakan sinyal api, tetrapi dihadang oleh tentara Shilla yang menjaga menara itu.

DI ISTANA SHILLA

Raja Jinpyeung: Apakah kau sudah mengirim senjata ke zona perang?

Saheum: Ya.

Raja: Katakan pada Jenderal Weesong untuk menggunakan pasukan tentara sebanyak yang dia butuhkan.

Kim Saheum memberitahu raja tidak perlu khawatir.

Raja: Omong-omong, aku mendengar Sunhwa pergi ke Kuil Jin lagi.Apakah karena Kim Doham?

Saheum: Anak hamba tidak terlalu jauh dari Jin Temple. Jadi hamba mendengar kalau mereka bertemu.

Suara: Yang Mulia! Puteri Sunhwa di sini!

Raja: Biarkan dia masuk!

Sunhwa: (Memasuki ruangan) Bagaimana kabar Anda, Yang Mulia?

Raja: Kau terlihat lelah! Apakah kau sakit?

Sunhwa: Tidak!

Raja: Apakah kau menemui agen rahasia Kim Doham?

Sunhwa: Ya …

Raja: Bagaimana, apa kau menyukainya?

Sunhwa: (Berhenti sebentar) Dia adalah bawahan yang sangat setia kepada Shilla …

Raja: (Tertawa) Apakah kau pergi melihatnya setelah mendengar tentang dia? Kau pergi sampai ke Jin Temple untuk memeriksa orang yang akan menjadi suamimu, khan? (Kepada Saheum.) Bagaimana beruntung, bukan? Tampaknya Tuan Puteri kita menyukainya juga!

Saheum: Hamba berterima kasih atas pemikiran yang begitu tinggi kepada  anak hamba, meskipun ia masih ada kekurangan dalam banyak hal!

Raja: Dilahirkan di antara kaum bangsawan, masa depan kehidupannya sudah terjamin dengan baik. Tapi ia memilih untuk menjalani kehidupan yang berbahaya dari agen rahasia. Dia melakukannya untukmu.

Sunhwa: …

Raja: Misinya sudah hampir berakhir, jadi dia akan segera kembali. Kau harus mempersiapkan pernikahan. (Sunhwa tampak terkejut) Kim Doham akan membantumu dalam bidang politik juga.

DI TEMPAT RAHASIA DEKAT HANEULCHAE

Goosan: Raja membicarakan mengenai pernikahanmu.

Giroo: Pernikahanku?

Goosan: Ya. Jadi ayahmu ingin kau untuk menyelesaikan misimu sesegera mungkin.

Giroo: Bagaimana Tuan Puteriku? Bagaimana dia bereaksi?

Goosan: Dia tetap tinggal  sepanjang hari di dalam Istananya tanpa pergi keluar.

Giroo: Baiklah. Kau bisa pergi sekarang.

ISTANA SHILLA

Sunhwa di dalam kamarnya, sedih melihat cincinnya.

Suara hati Sunhwa: Kau masih hidup, bukan? Apakah kau benar-benar selamat?

DI DALAM SEL PENJARA BAEKJAE

Jang sedang melihat cincin.

Sopal: Semuanya tenang sekarang. Apakah ini berarti kita menang?

Tawanan 2: Kalau begitu, kita tidak memiliki kesempatan untuk bertahan hidup.

Sun mengirim lebih banyak tentara untuk menyalakan sinyal api, kali ini melalui tepi sungai. Mereka semua dihadang pasukan Shilla dan tidak ada yang kembali.

DI RUANG PERTEMUAN BENTENG BAEKJAE

Sun: Apakah kau katakan kau punya pemecahannya?

Heukjipyung: Akan sulit bagi kita untuk bertahan hidup malam ini,.Jenderal. Setidaknya kau sendiri harus melarikan diri dari benteng ini …

Kepala pasukan berjalan masuk

Heukjipyung: Apa yang terjadi?

Kepala pasukan: Aku berencana menggunakan para tahanan sebagai tentara.

Heukjipyung: Kau bertanggung jawab atas mereka. Jadi silakan saja!

Kepala pasukan: Baik!. Tapi apa yang harus aku lakukan dengan orang-orang di daftar hukuman mati? Dan orang yang datang dari Shilla?

Heukjipyung: Apapun itu, mereka akan mati. Kita perlu semua orang jadi gunakan mereka juga, tetapi bunuhlah orang yang dari Shilla.Siapa tahu? Dia bisa membuka benteng kepada musuh!

Kepala pasukan: Ya, aku akan melakukannya.

Sun: Tunggu! Berapa banyak dari mereka?

Kepala pasukan: Mereka ada lima orang.

Sun: Bawalah mereka ke lokasi eksekusi.

Kepala pasukan: Kita membutuhkan orang sebanyak yang kita bisa dapat…

Sun: Persiapkan untuk melaksanakan eksekusi!

Kepala pasukan: Baik …

DI SEL PENJARA

Penjaga: Keluar!

Sopal: Ke mana … ke mana kita akan dibawa pergi?

Penjaga: Ke mana menurutmu? Ke tempat eksekusi!

Tawanan 2: Apa? (menangis) Apakah kita akan mati?

DI TEMPAT PELAKSANAAN EKSEKUSI

Semua lima tahanan itu diikat dan dibuat berlutut untuk dieksekusi.

Kepala pasukan: Siapkan pelaksanaan eksekusi.

Pengawal: Ya!

Kepala pasukan: Lakukan sekarang!

Jang dan Daejang berada di barisan depan, dan dua prajurit bersiap-siap untuk memotong kepala mereka.

Suara hati Jang: (Menutup matanya) Kau bilang padaku untuk bertahan hidup. Tapi aku akan mati sekarang … di Baekjae. (Para pengawal sedang mengayunkan pedang mereka kepada para tahanan, siap untuk membunuh)

Suara Heukjipyung: Berhenti!

Para prajurit melangkah ke bawah, dan kepala pasukan berdiri, memberikan jalan bagi Pengawal Pribadi Jenderal yang berjalan masuk

Heukjipyung: Kalian semua sudah seperti orang mati sekarang. Tapi apakah kau ingin hidup? (Andy : Wah taktiknya hampir sama dengan Riftwar Saga : Serpentwar : Shadow Of The Dark Queen karangan Raymond E. Feist, menggunakan tahanan untuk berperang dan mata-mata)

Sopal: Ya!

Heukjipyung: Ada jalan hidup.

Sopal: Katakan padaku. Aku akan melakukan apa pun!

Heukjipyung: Sinyal Apil. Nyalakan itu! (Semua tahanan menjadi tertegun.) Selain mengampuni jiwa kalian, kami juga akan memberikan hadiah uang yang sangat besar jika kalian berhasil menyalakan sinyal api. Kalian akan melakukannya?

Sopal: Bunuh saja aku sekarang. Aku takut panah. HIdupku sudah busuk. Aku ingin mati seketika. Tidakkah kalian semua setuju? Mari kita mati di sini dengan tenang.

Heukjipyung: Seperti yang kau inginkan. . Eksekusi mereka!

Para prajurit bersiap-siap untuk membunuh mereka.

Daejang: Aku akan mencobanya. Aku akan mati juga. Jadi aku ingin mencoba.

Sopal: Saudara tua, mari kita mati secara tenang!

Jang: Ayo kita lakukan! (Matanya berbinar sinting.) Aku akan melakukannya! Aku akan mencoba!

Jenderal Sun sedang mengawasi mereka dari belakang. Dia ingat sebuah pepatah yang mengatakan bahwa, “Ketika semua jalan tertutup, coba menggunakan cara yang berbeda. Bahkan tikuspun bisa menggigit kucing!”

DI KEMAH MILITER

Para tahanan diperlihatkan sebuah kotak penuh berisi dengan emas.

Heukjipyung: Jika kalian menyalakan sinyal api, semua ini adalah milikmu.(Dia meletakkan surat di dalam kotak)

Kepala pasukan: Ini adalah surat jaminan pengampunan yang ditandatangani sendiri oleh Tuan Sangjapyung (kakak dari raja)..

Tawanan 1: Benarkah …? Apakah ini akan menjadi milik kami?

Heukjipyung: (Menunjukkan kepada mereka sebua peta) Mereka menemukan jalan rahasia kami. Dan tepi sungai juga diblokir. Satu-satunya cara lain bagi kami adalah menurunkan kalian ke bawah dengan tali terikat dari atas. Kalian akan beruntung jika kegelapan menyembunyikan diri kalian.. Tetapi jika tentara Shilla melihat kalian, kalian akan mati seketika! Cara lainnya mungkin …..

Jang: Mana jalan terpendek?

Heukjipyung: Jalan terpendek?

Jang: Mana jalan terpendek yang akan membawa kami langsung menuju ke Menara Sinyal?

Heukjipyung: Itu melalui gerbang utama.
Jang: Bukakan gerbang utama bagi kami!

Heukjipyung: Gerbang utama?

Jang: Ya!

Kelima tahanan diberikan satu kuda untuk masing-masing dari mereka, sehingga mereka dapat berkuda menuju ke Menara Sinyal secepat mungkin.

Sopal: Berpikir tentang ini, semua janji mengenai emas tidak akan ada gunanya jika kita mati!

Tawanan 1: Itulah kartu yang sedang mereka mainkan!

Daejang: Mari kita bertahan hidup! Jika kita bertahan hidup, semuanya akan berhasil!

Sopal: Itu benar! Aku harus membalas dendamku di kehidupan yang busuk ini dengan bertahan hidup!

Tawanan 2: Itu benar!

Tawanan 1: Ayo kita lakukan! Kematian adalah hal yang terburuk yang dapat terjadi pada kita!

suara Jang’s: Aku akan hidup! Aku akan melakukannya! Aku akan bertahan hidup! (Dia naik kuda itu)

Gerbang utama terbuka. Mereka meninggalkan benteng, memacu kuda mereka. Tentara Shilla terlihat lengah, sehingga mereka berlima, semuanya dapat meloloskan diri. Mereka semakin lebih dekat dengan Menara Sinyal.

Sopal: Apakah itu Menara Sinyal yang bernilai ribuan gram emas?

Daejang: Masih terlalu dini untuk senang! (Ia berkuda ke arah Jang.)

Jang: (Kepada Daejang) Tiga dari kita akan mengalihkan perhatian tentara Shilla. Kau bawalah salah satu dari kita dan pergilah menuju arah yang berlawanan untuk menyalakan api!

Daejang: Baiklah. Aku akan pergi sekarang! (Dia meninggalkan mereka dengan Tawanan 1.)

Jang: (Kepada sisanya.) Mari kita pergi!

Mereka mulai bertarung melawan tentara Shilla.

Daejang dan Tawanan 1 bertarung juga.

Salah satu prajurit sedang berusaha untuk membunuh Sopal. Jang datang dari belakang, membelah si prajurit dengan pedangnya. Dia terus bertarung.

Daejang sampai ke menara, siap untuk menaiki tangga.Seorang tentara musuh sampai di sana, siap untuk membunuhnya.Jang menyusul tiba dan membunuh tentara itu. Keduanya, Jang dan Daejang bertarung, Sementara kawan-kawan  mereka yang lain bergabung dengan mereka berdua. Mereka berlima terus bertarung melawan tentara musuh yang terus datang.

Tawanan 1 terluka oleh pedang dan ia jatuh. Jang terus bertempur seperti orang gila.

Suara hati Jang:: Aku akan bertahan hidup!
(Dia ingat waktu sang Puteri membuat keranjang-keranjang bambu.) Aku akan bertahan hidup!
(Dia ingat senyum sang puteri.) Aku pasti akan hidup!
(Waktu Puteri memeluknya, menciumnya.dengan paksa) Aku akan bertahan hidup, dan bertemu dengan dirimu lagi!
(Waktu Puteri memeluknya sambil menangis, setelah menunggunya selama 2 bulan.) Aku akan hidup, membebaskan diriku dari rasa bersalah karena tidak mampu melindungi Tuan Puteriku dan karena telah melarikan diri seorang diri! Aku akan membalasmu dengan hidupku! Aku akan bertahan hidup!

Tawanan 2 terluka oleh prajurit lain. Jang mulai menaiki tangga. Daejang dan Sopal terus melawan tentara Shilla. Jang menyalakan sinyal api.

Heukjipyung mengatakan pada Jenderal bahwa sinyal api sudah dinyalakan!

Sun: Mereka berhasil melakukannya! Mereka benar-benar melakukannya.

ISTANA BAEKJAE

Seorang prajurit mengatakan pada Pangeran Aja bahwa sinyal api dinyalakan. Mereka bersiap-siap untuk berangkat!

PERKEMAHAN SHILLA

Weesong: Apakah kau mengatakan bahwa kalian kalah oleh lima orang?

Prajurit: Jika pasukan bantuan Baekjae tiba di sini sebelum kita merampas benteng, kita bisa kalah dalam perang ini!

Weesong: Bersiap-siap  untuk menyerang sekarang!

Soldier: Tapi itu sangat …..

Weesong: Kita harus merampas benteng sebelum pasukan bantuan datang!

BENTENG BAEKJAE

Heukjipyung: Pasukan Shilla sedang bersiap-siap untuk menyerang! Mereka datang kemari!

Sun: Sialan! Kita harus bertahan sampai pasukan bantuan tiba di sini! Gunakan segala sesuatu yang kita miliki, kita harus melindungi benteng ini!

Selanjutnya

Pangeran Aja sedang memimpin pasukan bantuan berbaris menuju ke benteng.

Pasukan Shilla berusaha untuk merampas benteng.

Di pagi hari, seorang tentara menyarankan Jenderal Weesong untuk mundur, karena pasukan bantuan Baekjae sedang menuju ke benteng dan mereka nanti bisa dikepung oleh musuh. Jenderal memerintahkan kepada anak buahnya untuk mundur.

BENTENG BAEKJAE

Seorang prajurit mengatakan pada Buyo-Sun mengenai mundurnya pasukan Shilla. Mereka sangat gembira!

Para prajurit Baekjae berbaris menuju Menara Sinyal, melihat semua korban. Di samping menara, mereka menemukan Jang, duduk, masih shock.

Sun: Luar biasa! Kau telah melakukan pekerjaan yang hebat!

Suara hati Jang: Orang ini adalah … Buyo-Sun?

Sun: Kau seorang pahlawan sejati dari Baekjae!

Jang melihat ke sekitarnya, mencari rekan-rekannya. Ia menemukan tubuh Tawanan 2.

Jang: Hei! Bangun! Bangun! Kau harus hidup! Bukankah kau bilang kau harus hidup?

Jang menemukan tubuh Tawanan 1.

Jang: (Menggoyangnya) BAngun! Aku bilang untuk bangun! Kau bilang kau harus bertahan hidup! Tidakkah kamu harus menyelamatkan puterimu? Tidakkah kau? Mengapa kamu mati? Mengapa!!?! Bangun! Aku bilang untuk bangun! Bangun!

Jang pergi ke Sopal.

Jang: Bangun! Bangun!

Sopal: (Bangun, berusaha duduk) Apakah aku … selamat?

Jang: (Penuh emosi) Ya! Kau selamat! Ya, kita berdua selamat!

Suara Prajurit: Di sini ada yang lain. Dia juga hidup!

Daejang perlahan-lahan bangun.

Sun: Mereka ini adalah orang-orang yang telah menyelamatkan kita. Bawa mereka dalam benteng, termasuk mereka yang sudah mati !

Jang tersenyum, lelah tetapi dengan sorot mata puas..

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s