Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 16

Perang pecah antara Baekjae dan Shilla. Pasukan Baekjae, dipimpin oleh Jenderal Buyo-Sun, terperangkap di dalam sebuah benteng, dikepung oleh musuh mereka.

Dalam upaya putus asa untuk meminta bantuan, mereka menawarkan kesepakatan untuk 5 orang hukuman mati: “Nyalakan sinyal api dan kami akan membalas kalian semua dengan seribu pon emas.” (Berapa ya kalau dijumlahkan ke rupiah ? Pastinya banyak deh :D)

Suara hati Jang : (Sementara gigih berjuang melawan tentara Shilla.)

Aku akan bertahan hidup!
Aku akan bertahan hidup!
Aku pasti akan hidup!
Aku akan bertahan hidup, dan bertemu dengan dirimu lagi!
Aku akan hidup, membebaskan diri dari rasa bersalah ini karena tidak mampu melindungi Tuan Puteri dan karena telah melarikan diri seorang diri.  Aku akan membalasmu dengan hidupku!
Aku akan bertahan hidup!

Jang menyalakan sinyal api!

Di pagi hari, seorang tentara menyarankan Jenderal Weesong untuk mundur, karena pasukan bantuan Baekjae sedang menuju ke benteng dan mereka nanti bisa dikepung oleh musuh. Jenderal memerintahkan kepada anak buahnya untuk mundur.

BENTENG CHEONWIE, BAEKJAE

Seorang prajurit mengatakan pada Buyo-Sun mengenai mundurnya pasukan Shilla. Mereka sangat gembira!

Para prajurit Baekjae berbaris menuju Menara Sinyal, melihat semua korban. Di samping menara, mereka menemukan Jang, duduk, masih shock.

Sun: Luar biasa! Kau telah melakukan pekerjaan yang hebat!

Suara hati Jang: Orang ini adalah … Buyo-Sun?

Sun: Kau seorang pahlawan sejati dari Baekjae!

Jang melihat ke sekitarnya, mencari rekan-rekannya. Ia menemukan tubuh Tawanan 2.

Jang: Hei! Bangun! Bangun! Kau harus hidup! Bukankah kau bilang kau harus hidup?

Jang menemukan tubuh Tawanan 1.

Jang: (Menggoyangnya) Bangun! Aku bilang untuk bangun! Kau bilang kau harus bertahan hidup! Tidakkah kamu harus menyelamatkan puterimu? Tidakkah kau? Mengapa kamu mati? Mengapa!!?! Bangun! Aku bilang untuk bangun! Bangun!

Jang pergi ke Sopal.

Jang: Bangun! Bangun!

Sopal: (Bangun, berusaha duduk) Apakah aku … selamat?

Jang: (Penuh emosi) Ya! Kau selamat! Ya, kita berdua selamat!

Suara Prajurit: Di sini ada yang lain. Dia juga hidup!

Daejang perlahan-lahan bangun.

Sun: Mereka ini adalah orang-orang yang telah menyelamatkan kita. Bawa mereka dalam benteng, termasuk mereka yang sudah mati !

Jang tersenyum, lelah tetapi dengan sorot mata puas..

BENTENG CHEONWIE, BAEKJAE

Tiga tahanan yang masih hidup, Daejang, Sopal dan Jang, dikawal kembali ke benteng, dielu-elukan sebagai pahlawan.

Tiga ‘Pahlawan’ memasuki ruangan yang penuh dengan dokumen dan harta. Seorang tentara mengatakan kepada mereka untuk beristirahat sambil menunggu petunjuk dari sang Jenderal. Ketiganya lalu duduk.

Sopal: (Membuka kotak penuh emas dan menyentuh isi di dalamnya) Wow! Sungguh … Apakah ini benar-benar milik kita?

Jang: (Masih tidak percaya) Apakah kita benar-benar … selamat?

Sopal: Itu benar! Ya, kita benar-benar hidup? (Tertawa)

Jang: Ya! Kita selamat! Kita tidak mati!

Daejang: Itu benar! Kita selamat! Benar, kita kembali hidup!

Mereka saling berpelukan.

Sopal: Lihat! Semua ini milik kita! (Menggenggam beberapa keping emas dengan tangannya.) Ini milikku! Punyaku! Bagaimana ini bisa? Bagaimana? Dengan ini … aku bisa membeli tanah dan bekerja sampai aku nanti mematahkan punggungku. (Mengelus beberapa potong kain) Dengan ini … aku bisa membuatkan gaun untuk istri aku. Dia tidak pernah bisa membeli baju baru … Istriku … (Menangis) Istriku!

Daejang: Mengapa kamu menangis?

Sopal: Istriku … aku tidak punya istri untuk membeli gaun untuknya.

Daejang: Mengapa?

Sopal: Dia meninggal setelah diperkosa. Itu bukan salahnya … tapi dia meninggal … Aku tidak punya istri lagi! Tidak punya istri ….! Untuk apa aku hidup sekarang? Apa gunanya semua kekayaan ini, jika istriku sudah tidak ada di sampingku? Dia sudah mati … mati!

Jang berpikir tentang Tuan Puterinya, dan bagaimana Puteri Sunhwa menyelamatkan dirinya dengan mengancam untuk bunuh diri.

Sopal: Aku tidak punya alasan untuk hidup! Seorang yang  celaka seperti aku …

Daejang: Mengapa kau tidak punya alasan? Ini adalah istrimu yang menyelamatkan dirimu! Dia tidak ingin kamu menderita seperti sebelumnya, hanya karena Kau tidak memiliki kekuatan. Itu sebabnya ia menyelamatkan dirimu dan dia memberimu kekayaan. Mengapa kau tidak akan bertahan hidup? Kau harus hidup, berapapun harganya! (Sopal terus menangis, hati Jang juga bersedih untuk si duda itu…)

DI LUAR

Jang sedang melihat langit yang cerah, berdiri di belakang barikade.

Suara hati Jang: Tuan Puteri, aku selamat. Kau bilang aku harus hidup dalam rangka menemuimu  lagi. Jadi, aku sekarang bertahan hidup.

Namun … aku tidak ingin dirimu melihat diriku sekarang. Aku tidak ingin kau melihat aku dalam keadaan menyedihkan, tanpa daya apapun untuk melindungi Tuan Puteriku … Aku tidak akan bertemu seperti ini! Tidak seperti ini!

DI RUANGAN JENDERAL

Sun: Apa ada yang salah?

Heukjipyung: Aku merasa aku pernah melihat salah satu dari mereka sebelumnya.

Sun: Siapkan untuk menyerang tentara Shilla lagi.

Heukjipyung: Apa? Tidak banyak prajurit yang tersisa.

Sun: Tidakkah kau tahu bahwa dalam perang, jumlah tentara tidak begitu penting?

Heukjipyung: Ya … tapi …

Sun:  Pasukan kita sedang terinspirasi setelah melihat apa yang telah dilakukan oleh para orang hukuman itu. Selain itu, kita harus menyerang sementara tentara Shilla sedang mundur, menyerang mereka saat lengah. Selain itu, Aja akan datang dengan pasukan kedua. Aku tidak dapat menemuinya dalam kondisi kalah seperti ini!

Heukjipyung: Lalu …?

Sun: Panggil semua prajurit dan para tahanan bersama-sama.

Heukjipyung: Ya!

Para prajurit menyambut para tahanan “pahlawan” dengan teriakan keras.

Sun: (Melihat Jang dan teman-temannya) Itu adalah keberanian dan tekad yang kuat dari kalianlah yang menyelamatkan Baekjae. Meskipun aku berjanji memberi hadiah uang, namun apa yang kalian lakukan tidak akan bisa dibeli dengan uang.

(Melihat pada para prajurit) Dengar! Belajar dari mereka, yang berjuang untuk kehidupan mereka walaupun mereka sudah dijatuhi hukuman mati. Mereka hanya berlima, berperang melawan tentara musuh yang tak terhitung jumlahnya. Belajarlah untuk bertarung seperti yang mereka lakukan! Jika kalian belajar, kalian juga akan bertahan hihdup, dan keluar sebagai pemenangg! Dan yang pasti di akhirnya, kita akan menang! (Paraprajurit terus meneriakkan teriakan perang)

Karena kekuatan tekad mereka, tentara Shilla mundur dengan malu. Saat ini, kelima orang ini ingin memimpin kalian untuk bertempur lagi, untuk memusnahkan Shilla sekali dan untuk selamanya! (Para-mantan tahanan terkejut) Kita akan mempersiapkan serangan balik sekarang, yang dipimpin oleh ketiga pahlawan ini. Mereka pasti akan membawa kita semua ke kemenangan! Dan kita semua, kita akan bergabung dengan mereka dalam perang ini, menjadi pahlawan seperti mereka!

Heukjipyung memberikan tanda ke anak buahnya untuk mempersiapkan para mantan tahanan untuk memimpin serangan balik.

DI SATU RUANGAN

Para ‘pahlawan’ diberikan busur dan anak panah untuk pergi berperang.

Sopal: Apa yang terjadi? Ini bukan apa yang mereka janjikan kepada kita?

Jang: ini tidak masuk akal.

Sopal: (Kepada seorang prajurit) Jangan menyentuhku!

Jang: (Kepada Daejang) Ini tidak masuk akal. Kita harus mengajukan protes!

Sopal: Ya. Pikirkan bagaimana kita bisa selamat! Haruskah kita melalui neraka itu lagi? Tidak! Mari pergi! Mari kita pergi dan protes!

Sopal sedang mencoba untuk pergi, tapi Heukjipyung mengancam dia dengan pedang. Sopal ketakutan, dan ia bersembunyi di belakang Jang. Jenderal Sun berjalan ke arah mereka.

Jang: (Kepada Sun) Hal ini bukanlah apa yang dijanjikan kepada kami!

Sun: Aku tidak memenuhi janjiku ke orang yang tidak memiliki kekuasaan. Jika kau ingin aku tetap memenuhi janjiku, Jadilah kuat!

Jang: Aku menolak untuk melakukan hal ini.

Sun: Maka kau akan mati.

Jang: …

Sun: Sebaliknya, aku akan memberikan kesempatan kedua bagimu untuk hidup. Pasti ada alasan kuat  bagimu untuk bertahan hidup. Aku sangat suka kemauan untuk bertahan hidup yang kalian miliki. Itu senjata yang kuat di tanganku.

Jang: Kami bukan senjata. Kami adalah manusia! Mengapa kamu tidak membunuh aku saja sekarang?

Heukjipyung mencoba untuk membunuh Jang dengan pedangnya.

Sun: Hentikan pedangmu! Tempatkan mereka semua dalam penjara.

DI DALAM SEL PENJARA

Para mantan tahanan dipenjara lagi. Kali ini, mereka semua diikat dengan tali.

Jang ingat …

Sunhwa: Aku anggota keluarga kerajaan! Kau bahkan bukan orang yang merdeka. Kau budak buronan. Jika aku memutuskan untuk menyingkirkanmu, itu lebih mudah daripada membunuh seekor kecoa. Jika aku mengatakan padamu untuk menjadi pengawal aku, kau harus menjadi pengawalku. Jika aku mengatakan padamu untuk menjadi tukang, Kau harus jadi tukang. Jika aku katakan kau mencintaiku, Kau harus mencintaiku!

Jang: Aku tidak bisa melakukan itu.

Sunhwa: Jika kau tidak bisa, Kau akan mati!

Aku tidak mungkin membunuhmu, tetapi dunia akan menghukum dirimu.

Suara hati Jang: Apakah seperti ini? Apakah aku benar-benar tak berdaya seperti ini? Kenyataan bahwa aku telah kehilangan ibu … dan bagaimana aku melarikan diri sendiri, tanpa dapat melindungi Tuan Puteriku … Apakah semua hal ini terjadi karena aku sungguh tak memiliki kekuatan?

DI ISTANA SHILLA

Sunhwa ingat …

Suara Raja Jinpyung: Misinya hampir berakhir, jadi dia akan segera kembali. Kau harus mempersiapkan pernikahan.

Sunhwa: (Kepada Bomyung, yang masuk ke ruangan sambil membawa sebuah amplop) Apa ini?

Bomyung: Seseorang dari Naesung (Wisma Seni Kerajaan) mengetahui secuil informasi mengenai perisai bersinar yang Ko-Kuryo minta dari Baekjae.

Sunhwa: Mengapa kau menunjukkan ini kepadaku dan bukannya ke Yang Mulia?

Bomyung: Yang Mulia mengatakan kepada kami untuk menunjukkan ini kepada Anda sehingga Anda dapat menginstruksikan Daehachan Kim Doham mengenai apa yang harus dilakukannya.

Chogee: (Memasuki ruangan) Tuan Puteriku, Daehachan ada di Naesung sekarang.

DI NAESUNG (WISMA SENI KERAJAAN)

Giroo berdiri, menyambut sang Puteri.

Giroo: Ini adalah misi yang aku mulai karena Tuan Puteriku, jadi aku ingin kau untuk membimbing aku selama tahap terakhirku. Itu sebabnya aku minta ini kepada Yang Mulia.

Sunhwa: Aku menemukan bahwa apa yang Ko-Guryo inginkan dari Baekjae bukan merupakan campuran dari logam itu sendiri.

Giroo: Lalu?

Sunhwa: Di antara ramuan yang Baekjae kirimkan ke China,  mereka menemukannya dapat digunakan untuk membuat logam bersinar. Itulah yang mereka inginkan.

Giroo:  Ramuan yang mana?

Sunhwa: (dengan nada datar, tanpa memandangnya) Itu tugasmu untuk mencari tahu! Kami kalah dalam pertempuran pertama di perbatasan. Jika dalam waktu itu, Guru Mokrasu menemukan cara untuk membuat perisai bersinar, Shilla akan benar-benar kalah. Karena itu, kau harus mengembangkan perisai bersinar, dan menunjukkannya kepada kami terlebih dahulu. Dan menjadi seorang ilmuwan melalui itu … menyelesaikan misi rahasia yang YangMulia bebankan padamu.

Giroo: Aku akan melakukan seperti perintah Tuan Puteriku. Tetapi mengapa Tuan Puteri berbicara kepadaku dengan cara seperti ini?

Sunhwa: (Menatap Giroo) Apakah kamu pikir kamu bisa memiliki aku … atau lebih tepatnya, bahwa kamu bisa memenangkan hatiku dengan membuat kesepakatan dengan Yang Mulia?

Giroo: Ya. Apa yang aku lakukan dengan Yang Mulia adalah pernyataan cintaku bagimu dan pengabdian aku untuk Shilla! Itu sebabnya aku pikir aku bisa saja memilikimu  … bahwa aku bisa memenangkan hati Tuan Puteri! Aku tidak berpikir aku melakukan kesalahan, dan Yang Mulia setuju denganku.

Sunhwa berjalan pergi.

DI LUAR

Sunhwa tampak menunduk. Giroo mengawasi dirinya, dan ia berjalan pergi. Tiba-tiba ia berbalik.

Giroo: (Memberikan dia bungkusan) Aku datang ke sini hanya karena aku ingin memberimu ini.

Sunhwa membuka bungkusan, dan ia menemukan sebuah cincin pualam merah.

Giroo: Pada hari aku kembali setelah menyelesaikan misiku, aku berharap untuk melihatmu mengenakan cincin marmerku bukan yang kayu.

DI HANUELCHAE

Maekdosu dan Bumro saling berdebat. Maekdosu berharap untuk menikahi Mojin, tapi Bumro menyukai Eunjin, Puteri Mojin. Mereka berdua saling mengatakan kepada yang lainnya untuk menyerah dengan rasa cintanya.

Setiap orang berusaha sangat keras untuk mengembangkan perisai bersinar tetapi mereka merasa putus asa. Giroo meminta Mojin catatan dari semua ramuan yang dikirim ke Chinasehingga ia bisa mulai mencari di antara daftar tumbuh-tumbuhan obat.  Giroo kemudian bertanya pada Woosoo jika ia tahu sebuah ramuan bernama Chunmokgeum, tetapi Woosoo menjawabnya kalau ia tidak tahu.

Sementara itu, Bumro sedang berusaha untuk membuat Eunjin kagum dengan  memberinya kotak dengan warna emas, katanya :Auh ….. Bisakah kau berhenti memberiku benda kuning yang jelek itu?” Eunjin melanjutkan, “Ketika saatnya datang untuk melihat bagaimana rupa seorang pria, aku suka seseorang yang semua orang pikir kalau ia adalah orang yang tampan, bukan seseorang yang merasa ia sendiri orang yang tampan”

Sataek-Giroo sedang berjalan lewat dan dia melihat kotak emas yang Bumro pegang. Dia segera menyadari potensinya dan bertanya pada Bumro di mana ia mendapatkannya. Bumro menjawabnya kalau ia mengambilnya dari pondok Jang.

Giroo langsung pergi ke pondok Jang dan mulai mencari petunjuk. Bumro menemukan sebuah catatan dan mulai membaca, “Aku tidak tahu nama pohon ini, ini bukan Juchil atau Heukchil tetapi aku pikir ini juga dapat digunakan seperti yang lain. Warnanya emas.”

Woosoo bergabung dengan mereka dan mengatakan pada Giroo bahwa dia mempelajari kalau Chungeummok adalah Hwangchilsu, jenis lain dari pernis. Tiga jenis getah dari pohon pernis menghasilkan warna yang berbeda, Juchil menghasilkan pernis merah, Heukchil menghasilkan pernis hitam, sedangkan Hwangchil menghasilkan pernis kuning.

Giroo tidak pernah mendengar Hwangchilsu, Woosoo menjelaskan kalau itu sangat langka dan sulit untuk diekstrak dan karenanya itu hanya digunakan hanya untuk pengobatan.

Bumro menunjukkan ke Giroo, cairan yang dia gunakan untuk mengecat kotak emas, dan ketika dia meneliti cairan itu, Giroo berkata pada dirinya sendiri, :Jang, terima kasih. Akhirnya, kau membantuku untuk mengakhiri misiku.” (Dasar munafik ….. 😦 )

Giroo tidak membuang waktu lagi dengan segera ia menginformasikan pemerintah Shilla mengenai penemuannya sebelum mengatakannya pada  orang-orang Hanuelchae.

Melalui ‘penemuan’ itu,  Bumro, Woosoo dan Giroo diberi poin tambahan, dan Giroo diberitahu bahwa dia telah memenuhi syarat untuk menjadi seorang Ilmuwan (Ilmuwan di sini dimaksudkan setingkat dengan Mojin dan Gomo, bukan ilmuwan biasa seperti Maekdosu ataupun Goosoo) … Segera, akan diadakan Upacara Pengukuhan sebagai seorang ahli untuk Sataek-Giroo.

DI BENTENG CHEONWIE BAEKJAE

Sun: Apakah kamu sudah cukup merenungkannya?

Jang: Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima kasih.

Sun: Kau mengucapkan terima kasih?

Jang: Tuan Jenderal, meskipun aku sangat muda dan kurang berpengalaman, kau mengajari aku sebuah pelajaran besar di dalam hidupku. Belum pernah aku merasakan suatu kegagalan sebelumnya. Aku selalu bertanya-tanya mengapa ibuku meninggal, mengapa aku harus hidup sebagai buronan, mengapa aku tidak bisa mencintai seorang wanita dengan bebas dan mengapa aku begitu dipengaruhi oleh keadaanku, tidak mampu melindungi wanita yang kucintai. Tapi Tuan Jenderal telah  mengajarkan aku apa alasannya. Itu karena aku kekurangan satu kekuatan.  Aku butuh kekuasaan. Untuk mencapai bahkan tujuan terkecilku, aku akan membutuhkan kekuasaan.

Sun: (Tanpa memandangNYA) Jika orang sepertimu menginginkan kekuatan, kau akan membutuhkan seorang pemimpin. Aku akan memberimu kekuatan.  Layanilah aku.

Jang: Anda tidak akan menjadi pemimpinku.

(Baik Sun dan penjaga melihat kepadanya, tertegun) Kau tidak bisa menjadi pemimpinku. Seseorang seperti Anda yang menyakiti dan mengancam orang-orang tidak dapat menjadi pemimpinku. Orang seperti itu mungkin dapat memperoleh senjata, tetapi ia tidak akan mendapatkan hati rakyat. Meskipun kau mengajari aku banyak pelajaran hebat, aku tidak akan pernah menjadi senjata di tanganmu.  Aku meminta pertemuan ini dalam rangka untuk memberitahumu hal ini.

(MARAH, Sun meraih pedangnya) Bunuh aku! Aku tidak punya keinginan untuk hidup lagi. Ini adalah hal  kedua yang aku sadari ketika aku terkunci di dalam penjara. (Sun menatap langsung ke mata pemuda kurang ajar ini) Bunuh aku.

Sun mengayunkan pedangnya siap untuk memotong tenggorokan Jang.

Suara Aja: Jang! (Pedang berhenti diayunkan ketika putra mahkota memasuki ruangan.)

Aja: Apakah kau bukannya Jang?

Jang: Tuanku Pangeran!

Aja: Aku mendengar apa yang kau lakukan dengan sinyal api, jadi aku datang untuk memujimu.

(Kepada Sun) Apa yang terjadi? Apakah benar bahwa orang-orang ini bukanlah tentara?

DI RUANG PERTEMUAN

Aja: Kau seharusnya menunggu untuk pasukan kedua sebelum serangan balik. Mengapa kau begitu terburu-buru!

Sun: Aku mencoba untuk menyerang, sementara musuh tidak siap. Aku telah memenangkan banyak pertempuran dengan cara ini, dan itu merupakan taktik militer yang hebat.

Aja: Kau melanggar janji yang kau buat pada orang-orang yang menyelamatkan hidupmu, dan kau berbohong kepada prajuritmu. Kau sebut ini taktik militer yang hebat?

Sun: Kalau begitu, haruskah aku meminta mereka sebelum mengirim mereka jika mereka bersedia mempertaruhkan hidup mereka? Haruskah aku mencoba meyakinkan mereka untuk berperang dengan terhormat, mengatakan kepada mereka bahwa mereka mungkin akan terbunuh?

Aja: Apakah kau mengatakan bahwa para prajurit lebih suka percaya seorang komandan yang menggunakan kebohongan dan ancaman?

Sun: Ini bukan berarti bahwa para prajurit mempercayai seorang pemimpin yang berdusta dan suka mengancam, tetapi para prajurit tidak akan mempercayai seorang pemimpin yang gagal.

Aja: Lalu, mengapa benteng ini dikepung? Jika tahanan tidak menyalakan sinyal api, kalian semua akan mati, dan benteng akan hilang!

Sun: … Anda benar. Setelah mendengarkan nasehat Tuanku Pangeran, aku merasa bahwa aku tidak tahu bagaimana caranya berperang. Oleh karena itu saat ini, aku ingin belajar dari Anda, Tuanku Pangeran. Oleh karena itu, silahkan Anda mengambil alih komando selama perang ini. Aku akan tinggal di belakang sebagai asisten Anda.

KAMAR SUN

Heukjipyung: Orang itu …

Sun: Siapa?

Heukjipyung: Orang tahanan yang tahu Pangeran Aja … aku ingat sekarang. Dia datang dengan Pangeran  Aja ketika pangeran kembali ke Istana. Ia membangun tungku pemanas untuk Yang Mulia Raja.

Sun: Benarkah? Dia melakukan itu?

Heukjipyung: Ya.

Sun: Cari tahu lebih lanjut tentang hubungan mereka.

Heukjipyung: Ya.

RUANGAN PANGERAN AJA

Aja: Ceritakan apa yang terjadi! Mengapa kau dipenjara? Apakah sesuatu terjadi di Hanuelchae?

Jang: Tidak, semuanya baik-baik saja di Hanuelchae.  Aku hanya pergi meninggalkan mereka.

Aja: Mengapa?

Jang: …

Aja: Apa sebenarnya yang terjadi di?

Jang: …

Aja: Aku bertanya padamu!

Jang: Aku mohon maafkan diriku, tapi aku tidak bisa memberitahu Anda.

Aja: Kau tidak bisa memberitahuku? Katakan sekarang!

Jang: …

Aja: Aku perintahkan kau untuk memberitahuku!

Jang: Tuanku! Maaf, tapi aku tidak bisa!

Aja: Baiklah. Lalu aku bertanya satu hal. Sudahkah Kau mengkhianati Hanuelchae?

Jang: TIdak …

Aja: Dalam hal itu, aku tidak akan bertanya lagi. Sebaliknya, tinggallah dengan aku. Kau membuat rumor menyebar sehingga menyelamatkan aku. Aku ingin membuatmu tetap  dengan aku saat itu, tapi aku menghormati keinginanmu. Tapi melihat dirimu lagi di sini begitu tiba-tiba, dan setelah mendengar dari apa yang kau lakukan dengan sinyal api, aku merasa bahwa kita ditakdirkan untuk bertemu. Tinggallah denganku. Kehadiranmu akan membuat para prajurit bersemangat Aku mohon kau tolonglah diriku.

Jang: …

Aja: Aku benar-benar ingin memimpin pasukan ke kemenangan. Jadi bantulah aku.

Jang: … aku tidak memiliki kekuatan untuk melakukan itu. Biarkan aku pergi.

RUANGAN SUN

Sun: Apa? Dia adalah orang yang datang dengan ide  kura-kura ramalan itu?

Heukjipyung: Ya. Aku yakin itu yang aku dengar.

Sun: Alasan mengapa pangeran ragu-ragu dan lemah terus bertahan adalah karena orang seperti dia. Mokrasu, Wangoo … dan sekarang orang ini … aku harus membunuhnya segera … Sebaliknya, aku telah memberikan keuntungan pada Pangeran dengan satu lagi orang menjadi pengikutnya.

Sementara itu

Jang berpikir …

Pangeran Aja dan Baekmoo berkeliling melihat para prajurit yang terluka. Jang mengikuti mereka dari belakang.

Seorang prajurit dengan infeksi kulit yang buruk di kakinya mengeluh ke tabib karena tidak diobati. pangeran bertanya pada tabib mengapa prajurit ini terabaikan. Tabib itu menjawab, mengatakan bahwa para prajurit lainnya yang membutuhkan pengobatan lebih mendesak. (Kepada prajurit yang sakit itu)  “Selain itu, kau bahkan tidak pergi berperang!” Prajurit itu berteriak kembali, mengatakan bahwa dia ingin pergi berperang, dan bahwa itu bukan salahnya dia jatuh sakit.

Aja: Biarkan aku melihat ini.

Prajurit: Ini sangat menyakitkan aku merasa seperti sekarat! Aku tidak meminta untuk sakit!

Tiba-tiba, pangeran mulai mengisap nanah yang keluar dari kaki yang terinfeksi. Semua orang tertegun. “Tuanku!” “Tuanku!” “Tuanku Pangeran!”

Sun: (Mengamati dari kejauhan.) Apa sih yang sedang pangeran lakukan sekarang? Kita berperang, tetapi ini semua dia yang cuma bisa dia pikir lakukan?! Mengapa langit memberikan hak kerajaan untuk seseorang seperti Aja, yang bahkan tidak tahu bagaimana berperang atau bagaimana aturan negara? Mengapa dia dan bukan aku?

RUANGAN PERTEMUAN

Aja: Jika kita bisa menyelesaikan perjanjian dengan Ko-Kuryo, kemenangan akan terjamin …

Baekmoo: Kami belum mendengar berita dari Hanuelchae.

Aja: Berapa banyak prajurit yang kita miliki?

Baekmoo: Sekitar seribu.

Aja: Dan Shilla?

Baekmoo: Aku pikir sekitar dua kali lebih banyak.

Aja: Bagaimana dengan senjata?

Baekmoo: Pasukan pertama menggunakan sebagian besar panah selama melindungi benteng. Paraprajurit mengumpulkan batang bambu dari hutan untuk membuat lebih banyak anak panah sekarang, tapi …

Aja: Apa ada yang salah?

Baekmoo: Tuanku Prince adalah komandan dalam nama saja … Sebagian besar tentara adalah pengikut Buyo-Sun … Kecepatan di mana mereka mengumpulkan batang bambu sangatlah lambat.

Sementara itu

Jang terus berpikir …

Buyo-Sun mengawasi tentara membuat panah.

Baekmoo mengatakan Pangeran Aja bahwa ada utusan datang dari Hanuelchae.

Aja: Apakah Guru Mokrasu kirim ini? (Ya!) Mana perisai bersinarnya?

Instruktur: (Menunjukkannya) Ini barangnya.

Aja: Betapa beruntungnya! Kita sekarang dapat menyelesaikan perjanjiannya! Baekmoo, bersiap-siap untuk menemui utusan Ko-Kuryo!

Baekmoo: Ya! (Dia pergi)

Aja: Katakan pada Mokrasu bahwa aku sangat senang! Kau bisa pergi sekarang. (Ya!)

Omong-omong, apa yang terjadi dengan Jang?

Pengrajin: Jang?

Aja: Dia ada di sini.

Instruktur: Apa?

Aja: Bagaimana sebetulnya dia sampai di sini? Aku dengar dia menyeberangi perbatasan karena Shilla tentara mencoba membunuhnya.

Instruktur: Sulit bagi kami untuk memberitahu Anda …

Aja: Semua akan baik-baik saja.. Katakan saja.

Artisan: Ia bertemu dengan seorang wanita bangsawan Shilla, dan ia melarikan diri dengannya.

Aja: (Kesal) Apa? Dia bertemu dengan seorang wanita Shilla? Apakah itu benar?

Instruktur: Ya …

Selanjutnya

Jang berhenti berpikir, ia sudah membuat keputusan.

Jang: (Memasuki Ruangan Jenderal dan membungkuk hormat kepada Pangeran Aja) Silhakan pakai aku.

Aja: (Dengan suara tawar) Kau bilang kau akan pergi. Mengapa kau berubah pikiran?

Jang: Aku melihat Tuanku Pangeran mengisap luka seorang prajurit. Kemudian, ibu dari prajurit yang menangis. Dia bilang bahwa sunggu penyesalan yang hebat karena anaknya sakit, karena anaknya akan memberikan hidupnya untuk pangeran sekarang. Aku yakin Tuanku akan mendapatkan banyak pengikut yang akan bersedia mati untukmu. Aku juga akan memberikan hidupku untukmu, Tuanku.

Aja terus mendengarkan, tidak bergeming.

Jang: Tapi kemudian, Kumohon berbagilah satu impian denganku.

Aja: Satu mimpi? Apa itu?

Jang: Menyatukan 3 kerajaan.

Aja: Aku mendengar kalau kau meninggalkan Hanuelchae karena wanita Shilla! Apakah kau berencana untuk melayani aku hanya karena perempuan itu? Apakah kau bermimpi impian seperti itu karena hanya seorang wanita belaka?

Jang: Ya, Tuanku. Aku memutuskan untuk bermimpi impian seperti itu hanya karena seorang wanita. Rakyat adalah akar dari semua mimpi. Ketika ibuku meninggal ketika aku masih muda, aku bermimpi menjadi tabib. Dan ketika aku menyaksikan apa yang guru yang hebat lakukan, aku bermimpi menjadi seorang guru yang baik itu sendiri. Oleh karena itu … impianku adalah ketika kau menjadi raja, kau akan menyatukan 3 kerajaan.

Aja: Baiklah (Sambil menyerahkan pedangnya) Aku secara resmi menunjukmu sebagai bawahanku.

DI ISTANA SHILLA

Sunhwa: Aku akan melakukannya. Aku akan mengambil perisai bersinar dan memperkuat hubungan kita dengan Ko-Kuryo. Aku akan melakukannya!

Raja Jinpyung: Apakah kau sungguh-sungguh?

Sunhwa: Ya, Yang Mulia! Aku akan melakukannya. Aku bertanggung jawab atas penyelesaian perisai bersinar. Itu sebabnya aku ingin menyelesaikannya dengan memperkuat hubungan luar negeri kita.

Raja mengangguk.

Sunhwa: Percayalah. Aku bukan lagi seorang Puteri yang masih kecil.

Raja tertawa bangga.

DI PERBATASAN BAEKJAE

Sopal: Kau tidak akan pergi? Orang ini gila, aku katakan padamu! Setelah semua yang mereka lakukan terhadapmu, Kau tidak akan pergi? Aku menganggap orang ini sebagai kawanku … tapi …

Daejang: Baik! Apakah kau menemukan seorang majikan untukmu?

Jang: Ya! Dengan demikian, bantulah aku untuk terakhir kalinya!

Sopal: Bagaimana?

Jang:Paraprajurit memandang tinggi kita. Jadi hanya pergilah berkeliling memberitahu mereka bagaimana kau selamat, dan bagaimana Putera Mahkota memenuhi janji Jenderal. Itu semua yang perlu kau katakan. Kau hanya perlu menghibur mereka.

Sopal: Apakah itu semua perlu kita lakukan?

Jang: Ya!

Sopal: Tidakkah kita harus pergi kemedanperang?

Jang: Kau tidak pergi!

Sopal: Aku akan jadi sinting karena orang ini!

Jang: Bantulah aku kali ini!

Di lain waktu

Jang sedang memeriksa persenjataan, dan mendiskusikan berbagai hal dengan orang-orang lainnya.

Buyo-Sun melihatnya dia melakukan itu semua.

Pangeran Aja juga  melihat dia melakukan itu semua.

Daejang dan Sopal sedang menghibur para prajurit Baekjae, memberitahu mereka bagaimana para prajurit Shilla gemetar melihat mereka.

Daejang: Pokoknya, ketika Jenderal memerintahkan kami untuk pergi kemedanperang lagi, Pangeran Aja mengatakan kepadanya bahwa mereka harus menepati janji yang mereka buat.

Sopal: Aku tidak bergurau! Jadi dia membebaskan kita! Aku mulai menangis ketika aku melihat bahwa …

Prajurit: Itu benar! Kami mendengar Pangeran Aja mengisap nanah seorang prajurit dengan mulutnya!

Jang mengawasi mereka …

RUANGAN AJA

Aja: Bagaimana sejauh ini?

Jang: Sama seperti yang kupikirkan, para prajurit berpikir sangat tinggi tentang Anda, Pangeran Aja. Namun demikian, kita memiliki tentara terlalu sedikit dibandingkan dengan tentara Shilla. Dan kita tidak memiliki cukup senjata, terutama panah. Kita kehilangan begitu banyak selama pertempuran terakhir kita. Bukankah Anda kirim pesan meminta bantuan amunisi panah lebih banyak?

Aja: Ini kesalahan Buyo-Sun. Sejak ia kehilangan nama baik ketika pertempuran sebelumnya, ia tidak akan membantu aku sekarang. Semua daerah terdekat di mana kita bisa mendapatkan amunisi tambahan  adalah pendukung Buyo-Sun. Kita juga mengirim pesan ke Istana. Tetapi bahkan Akademi diisi dengan para pendukung Buyo-Sun. Senjata-senjata itu akan memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan untuk sampai ke sini.

Namun, aku harus menang. Dia membuatku mengambil alih kepemimpinan begitu aku tiba di sini karena dia ingin aku sepenuhnya bertanggung jawab jika kita kalah dalam perang ini. Jika itu terjadi, aku bahkan akan kehilangan kekuatan kecil yang aku sudah peroleh melalui dirimu ketika kau menyebarkan rumor kura-kura. Aku harus menang!

RUANGAN BUYO-SUN

Sun: Strategi apa yang mereka miliki?

Heukjipyung: Dari apa yang aku dengar, dia tidak memiliki strategi karena dia bahkan tidak mengetahui kondisi musuh saat ini.

Sun: Tidak mengejutkan. Dia seorang pangeran mahkota yang selalu menghindari perang, lebih memilih untuk melakukan perjalanan ke Cina dan Jepang, bicara membangun hubungan luar negeri.

Heukjipyung: Segala sesuatunya terlihat buruk baginya. Jumlah tentara dan amunisi  terlalu sedikit.

Sun: Itu benar. Ia kehilangan kesempatan untuk menang. Seorang jenderal yang tahu perang akan menyerang sama dengan waktu yang telah aku rencanakan, menggunakan para tahanan. Jika aku jadi dia, aku tidak akan menyerang sekarang.

Sementara itu

Jang berpikir. Daejang dan Sopal berjalan ke arahnya.

Jang: Bukankah kalian sudah pergi?

Sopal: Kami melakukannya. Tetapi orang-orang di sekitar daerah ini menangisi perpisahan mereka dengan semua orang-orang  yang akan pergi berperang. Jadi sulit bagi kami untuk pergi. Di atas itu, mereka sebut kami “Pahlawan Penyala Api,” meminta kami untuk membantu mereka.

Daejang: Semua hidupnya, orang-orang mengumpat padanya. Jadi ketika dia mendengar mereka menyebutnya ‘pahlawan’, matanya bersinar-sinar seperti orang sinting! Dan ia memutuskan untuk kembali. Jadi, katakan padaku, bagaimana semuanya sejauh ini?

Jang: Segala sesuatu tampak suram. Jenderal Buyo-Sun, siapa yang seharusnya di pihak kita, menolak untuk membantu sama sekali.

Sopal: Orang itu benar-benar jahat! Kau dapat memberitahu dengan hanya melihat cara dia memperlakukan kami! Jujur saja, kalau bukan karena Pangeran Aja, aku ragu akan hidup kita sekarang. .J Tidakkah kau setuju, Daejang?

Daejang: Kukira kau membenci setiap orang yang dilahirkan dalam kelas bangsawan, dan kau ingin pergi.

Sopal: Itu karena … Omong-omong, semacam ‘Daejang’ apa kamu? (Daejang artinya bos/ketua)

Daejang: Mengapa kau tiba-tiba menanyakan itu?

Sopal: Aku memanggilmu Daejang karena orang lain memanggil kamu seperti itu, tapi … sebenarnya kamu itu ‘daejang’ apa?

Daejang: Aku seorang bos preman, kau bangsat!

(Kepada Jang.) Apakah kau mengetahui kondisi musuh?

Jang: Sebenarnya … aku tidak yakin …

Daejang: Bagaimana kau berperang tanpa mengetahui kondisi dari musuhmu? Itu tidak benar.

RUANG PERTEMUAN

Aja: Baekmoo! Bagaimana pertemuan dengan utusan Ko-Kuryo?

Baekmoo: …

Aja: Apa ada yang salah? Bukankah perjanjian akan berhasil  setelah kau memberi mereka perisai bersinar?

Baekmoo: Maaf, tapi … aku pikir kita sampai disanasedikit terlambat.

Aja:  Terlambat?

Baekmoo: Aku pikir Ko-Guryo bertanya sama dari Shilla.

Aja: Dan?

Baekmoo: Shilla membuat perisai bersinar dan memberikannya kepada mereka tepat sebelum kami lakukan.

Jang: (Menyela) Tuanku Pangeran! Aku akan pergi ke sana untuk memata-matai mereka!

Aja: Apa?

Jang: Aku mendengar bahwa dalam perang, hal itu penting untuk mengetahui situasi musuh. Karena itu, aku akan pergi ke sana untuk memeriksa jumlah tentara mereka, dan berapa banyak persenjataan yang mereka miliki.

Aja: Itu penting, tapi terlalu berbahaya.

Jang: Aku akan baik-baik saja. Hanya berikan aku beberapa seragam prajurit Shilla.

DI PERBATASAN SHILLA

Jang, Sopal, dan Daejang berhasil menyusup ke dalam perkemahan Shilla. Mereka menunggu, saat ada seorang penjaga lewat mereka bertiga menyergapnya. Jang mematahkan lehernya.  Sopal dan Daejang membantu dia.

Jang: Aku akan mencari ruang amunisi. Daejang, kau memeriksa berapa banyak  persediaan makanan  yang mereka miliki. (Kepada Sopal) Cari tahu jumlah tentara. (Mereka bertiga berpisah)

Jang tidak sengaja berpapasan dengan seorang prajurit Shilla.

Prajurit: Hei, kau! Melihat kau masih bangun selarut ini kupikir dirimu masih memiliki banyak energi. Berjalanlah bersamaku untuk memeriksa persenjataan.

Jang: Senjata?

Soldier: Ya. Mereka baru saja tiba. Jadi aku harus pergi kesanadengan beberapa dari kita. Mari pergi!

Jang  ‘membantu’ membawa semua senjata ke dalam ruang penyimpanan.

Ia bertemu Daejang luar, yang memberinya pelindung kepala Shilla. Prajurit lain memanggilnya, memerintahkan dia untuk mengambil teh dan mengantarkannya ke tenda Jenderal.

Jang: Yang mana tendanya?

Prajurit: Kamu bodoh! Apa yang kau pikirkan? Aku sedang berbicara tentang Jenderal Weesong!

Jang: Masih …

Soldier: Kau masih tidak tahu ini sampai sekarang? Itu tendanya disana!

Jang membawa nampan teh dan ia berjalan ke dalam tenda. Dia meletakkan baki, tetap menjaga kepalanya menunduk ke bawah.

Jang: Tuan, aku membawa teh. (Dia akan pergi, tetapi ia terkejut melihat Kim Saheum disana, berbicara dengan Jenderal.)

Weesong: Panggil sersan itu!

Jang: Ya …

Dia berjalan keluar. prajurit lain memanggilnya, tetapi ia mulai berlari. Ketiga ‘mata-mata’ selamat  meninggalkan wilayah musuh.

BENTENG CHEONWIE BAEKJAE

Aja: Bagaimana? Apa saja yang kau lihat dan temukan?

Jang: Jumlah tentara sekitar dua ribu. Mereka sudah punya banyak makanan dan persenjataan untuk memulai dengan perang, tapi ketika aku sampai disana, mereka mendapatkan lagi pasokan tambahan. Karena mereka memiliki begitu banyak anak panah, aku menebak banyak tentara pemanah terlatih. Kita mungkin dapat mempertahankan benteng ini lebih lama, tetapi jika kita ingin menyerang mereka, ada kemungkinan besar kita akan kehilangan di bawah kekuatan para pemanah mereka. Kami tidak akan mendapatkan banyak kesempatan jika berperang dengan mereka disana. Aku pikir lebih baik sementara kita tidak menyerang.

Aja: Jika aku kembali ke Istana seperti ini, aku akan kembali ke nol. Bahkan jika amunisi tambahan yang memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan tiba, aku akan menunggu mereka. Aku perlu untuk memenangkan perang ini!

(Kepada Jang) Bagaimana menurutmu?

Jang: Aku akan melakukan yang terbaik.

NEXT

Jang memerintahkan para prajurit untuk mengumpulkan jerami kering yang digunakan sebagai pakan ternak. Pangeran Aja mengawasi mereka dengan harapan.

Sun: (Kepada pangeran) Apakah kau berencana untuk bertarung dengan jerami bukan dengan panah? Dia sangat tidak berpengalaman. Kau seharusnya tidak mempercayakan perang ini padanya. Menyerahlah.

Aja: Tidak! Apakah aku menang atau kalah, aku akan tetap melakukannya!

Sun: (dengan nada mengejek) Baiklah …

ISTANA SHILLA

Jinpyung: Ha ha! Aku sudah mendengar berita itu!

Sunhwa: Ya, Yang Mulia Raja! Aku telah kembali setelah berhasil menyelesaikan misiku.

Jinpyung: Ya, aku tahu kau akan melakukan pekerjaan dengan baik! Tapi karena kau masih muda, aku agak khawatir. Tapi ketika aku mendengar bahwa kau menegur para utusan Ko-Kuryo karena hampir melanggar perjanjian mereka dengan kita untuk suatu hal yang  kecil, aku sangat bangga padamu!

Sunhwa: Terima kasih.

Jinpyung: Kau perlu keberanian untuk melakukan itu, dan sesuatu yang kurang dari saudarimu yang lebih tua. Jadi sekarang, kita hanya perlu untuk memenangkan perang ini. Itu saja yang kita butuhkan! (Dia tertawa.)

PERTEMPURAN DI LEMBAH GUNUNG GOOSUNG

Ini adalah malam berkabut. Setelah menumpuk jerami untuk pakan ternak di  seluruh perbatasan di lembah antara Baekjae dan Shilla, prajurit Baekjae memanah musuh-musuh mereka. Sebagai balasan, prajurit Shilla melepaskan panah kembali ke arah Baekjae, meskipun kabut masih menghalangi pandangan mereka. Mereka tidak dapat melihat bahwa mereka hanya memanahi berpuluh-puluh ikat jerami kering.

Setelah penyerangan itu, para prajurit dari Baekjae mengumpulkan jerami yang tertancapi panah dan juga yang tercecer. Jang berhasil mendapatkan amunisi panah dengan cepat.

Catatan : Kayak taktiknya Kong-ming di Legenda SamKok, saat itu peperangan terjadi di atas Sungai Yang-Tze, Kong-ming berjanji kepada pihak Wu untuk memberi mereka selaksa (10 ribu) anak panah, para pimpinan Wu meremehkannya apalagi saat itu mereka melihat selama 3 hari Kong-ming dan anak buahnya hanya bersantai-santai saja dan cuma mengumpulkan jerami.

Tetapi pada hari ketiga, seperti yang diramalkan oleh Kong-ming, saat itu di atas sungai Yang-Tze cuacanya sangat berkabut, Kong-ming menyuruh beberapa orang melepaskan panah ke kapal di pihak Wei, yang kemudian dibalas dengan ribuan anak panah, yang menancap ke kapal yang diisi jerami-jerami. Kong-ming berhasil mendapatkan puluhan ribu panah hanya dengan modal jerami saja, mempermalukan pimpinan Wu dan membuat mereka mau tidak mau tunduk dan kagum dengan taktiknya yang hebat.

BENTENG CHEONWIE BAEKJAE

Heukjipyung: Jenderal!

Sun: Apa ada yang salah?

Heukjipyung: Batalion kedua yang dipimpin oleh Pangeran Aja digunakan pada malam berkabut untuk mencuri panah dari tentara Shilla.

Sun: Benarkah? Bagaimana caranya?

Heukjipyung: Lembah berkabut di mana kita kalah … Setelah mengetahui bahwa daerah ini biasanya diisi dengan kabut, mereka memancing musuh dengan melepaskan panah pada mereka.

Sun: Dia menumpuk jerami pakan ternak kering disana, bukan?

Heukjipyung: Ya.

Sun: Sekarang, Shilla kehilangan anak panah mereka dan Baekjae memperolehnya.

Heukjipyung: Serangan balik sudah di mulai sekarang!

Sun: Aku kalah ….

PERTEMPURAN DI LEMBAH GUNUNG GOOSUNG

Pertempuran antara prajurit Baekjae dan prajurit Shilla, mereka saling berhadapan. Pangeran Aja dan Baekmoo meneriakkan perintah mereka sambil duduk di atas kuda mereka. Jang dan dua temannya, dan sisa prajurit berjuang dengan sekuat tenaga mereka.

ISTANA BAEKJAE

Pasukan Baekjae kembali ke Istana, membawa bendera kemenangan. Jang berkuda di antara para pemimpin perang.

Raja dan Pejabat tertinggi bertemu di dalam Balairung Istana. Pangeran memasuki ruangan, diikuti oleh Buyo-Sun dan Jang. Buyo-Sun dan Aja duduk, sementara Jang terus berdiri di belakang mereka.

Weeduk: (dengan nada bangga) Putra Mahkotaku… Kau telah melakukan pekerjaan yang besar!

Aja: Yang Mulia! Aku memenangkan perang ini! Aku menyerang pasukan Shilla dan merampas kembali tanah kita!

Weeduk: Aku sangat bangga padamu! Aku mendapat pesan darimu mengatakan bahwa kau kehabisan amunisi. Karena itu aku khawatir, tetapi kau memenangkan kemenangan bahkan sebelum pasokan tambahan sampai disana. Bagaimana kau melakukannya?

Aja: Seseorang membantu aku.

Weeduk: Benarkah? Siapa?

Aja: (Melihat Jang) Anak laki-laki ini.

Jang membungkuk kepada raja.

Weeduk: Kau …?

Aja: Ya, dia adalah anak laki-laki yang membangun tungku penghangat untuk Yang Mulia dan membantu Anda pulih dari penyakit Anda.

Weeduk: Apakah kau mengatakan bahwa ia juga membantu dirimu selama perang?

Aja: Ya! Bantuannya sangat penting bagiku untuk memenangkan perang ini! Tidak hanya itu, anak ini menyalakan sinyal api selama pertempuran pertama, menyelamatkan pasukan pertama.

Weeduk: Apakah itu benar?

Aja: Kami sebenarnya akan kalah dalam perang ini, karena jumlah prajurit dan amunisi kita lebih sedikit dari musuh kita. Taktik anak inilah yang memberikan kemenangan bagi pihak kita.

Weeduk: Bagaimana kau bisa menang tanpa persenjataan lebih?

Aja: Medan pertempuran dipenuhi dengan kabut, sehingga dalam pertempuran pertamanya, Jenderal Sun terkalahkan.  Anak ini justru menggunakan lembah berkabut itu, menumpuk daerah itu dengan jerami, yang biasanya digunakan sebagai pakan ternak, untuk mencuri anak panah dari pasukan Shilla. Dia datang dengan taktik yang cemerlang, yang mana memberikan kita kemenangan!

Weeduk: (Kepada Jang) Angkat kepalamu! (Jang menegakkan dirinya) Bantuanmu selama perang ini adalah faktor kunci. Siapa namamu?

Jang: Jang adalah nama hamba …

Weeduk: Jang? Aku akan memberimu hadiah untuk ini! Katakan padaku apa yang kau inginkan.  Aku akan memberimu apa pun yang kau minta. Jadi, katakanlah sekarang.

Jang: Hamba awalnya adalah seorang pelajar Sains. Ada seorang pria yang mengajari hamba semua hal mengenai kehidupan melalui sains  Hamba menginginkannya supaya beliau ada di dekat hamba.

Weeduk: Siapa dia?

Jang: Dia adalah mantan Pimpinan Akademi Sains Taehaksa, Guru Mokrasu.  (Semua orang terkejut) Panggilah Guru Mokrasu dan semua orang yang tinggal di Hanuelchae kembali ke Akademi Taehaksa Baekjae.  Kembalikan semua orang yang diusir ke Shilla! Panggillah orang-orang Hanuelchae kembali!

Weeduk: (Takut reaksi para pejabatnya) Apa hubunganmu dengan Guru Mokrasu?

Jang: Hamba adalah murid beliau, dan anggota dari Hanuelchae. Guru Mokrasu diusir ke Shilla setelah dituduhkan  tuduhan palsu. Tapi ia tidak pernah menyerah Shilla, dan ia masih setia kepada Yang Mulia. Oleh karena itu, hamba sangat mengaguminya.  Hamba percaya bahwa dia harus ada di dekat Yang Mulia demi Baekjae!

Haedoju: Tapi Yang Mulia! Mokrasu bersekongkol melawan kita!

Aja: Apakah kau berbicara tentang  pedupaan itu lagi?

Sun: Ya, Tuanku Pangeran! Apakah kau ingin aku mengingatkanmu? (Mengutip) “… Yang lahir dari kesalahan akan menyalakan dupa, dan yang menyalakan dupa ini … akan menjadi Raja. Raja akan membangkitkan Baekjae lagi, dan menerima kehormatan yang besar dan pujian!. ”

Haedoju: Siapa yang berani membuat ramalan seperti itu tentang masa depan kerajaan? Siapa yang berani mengukir kata-kata itu di atas batu?

Buyo-Gye: Mereka benar, Yang Mulia! Ini jelas konspirasi!

Aja: Aku setuju. Jika Guru Mokrasu membuat pedupaan itu ia pasti bersekongkol.  Namun, apakah kau yakin Guru Mokrasu yang membuatnya?

Haedoju: Itu ditemukan di kantornya …

Aja: Bagaimana kau tahu jika bukan orang lain yang menaruhnya di sana? Apakah kau menyelidiki dengan hati-hati?

Chilryo: Mereka tidak melakukannya, Tuanku. Mereka menyalahkannya langsung!

Haedoju: Kami tidak menyalahkannya! Dia melarikan diri dan tindakannya itu adalah bukti dari kesalahannya! (Gimana ga lari, wong pasukan Sun dikirim untuk membantai orang-orang Taehaksa … dasar penipu!)

Aja: Itu sebabnya kita harus memanggilnya kembali. Meskipun waktu telah lama berlalu, itu tetap hal yang benar bagi kita untuk menyelidiki lagi mengenai apa yang terjadi saat itu. Mari kita panggil kembali dia sekarang. (Kepada raja.) Panggil dia  kembali, Yang Mulia.

Semua orang sangat tegang. Jang masih menunggu, dalam posisi berdiri.

Iklan

One comment on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 16

  1. pertama liat ada di channel Banten TV,,,suka sama kakak han kang (49 days), tapi ternyata cocok juga main film saeguk hihihi :B ,,, thx ya udah dibuatkan sinopsisnya >.<

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s