Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 27

Giroo dan Heukjipyung berjalan di luar. Wooyung, Sunhwa dan para pengiringnya berjalan ke arah mereka.

Tiba-tiba, Giroo mengenali Sunhwa dan dia tampak terkejut. Sunhwa terlihat kaget juga. Wooyung dan Heukjipyung saling memberi salam, tidak menyadari ketegangan itu.

Jang sedang mengamati mereka dari kejauhan, khawatir.

Wooyung: Ini adalah Dalsol, Heukjipyung dari polisi militer. (Heukjipyung dan Sunhwa saling memberi hormat.) Ini adalah Giroo dari Akademi Taehaksa (Giroo dan Sunhwa saling memberi hormat, pura-pura saling tidak mengenal)

Sunhwa: Aku adalah Jin Gakyung (Giroo terkejut)

Heukjipyung: Tuanku Jenderal sedang menunggumu, silahkan lewat sini.

Sunhwa: Ya. (Ia berjalan melewati Giroo yang masih terkejut.)

KEMUDIAN

Sun dan Haedoju duduk berhadapan, menunggu kedatangan Sunhwa yang menyamar sebagai Jin Gakyung.

Wooyung: Wanita inilah yang menjadi anaknya Tuan Jin.

Sunhwa: (memberi hormat) Aku adalah Jin Gakyung.

Sun: Silahkan duduk. (Sunhwa dan Wooyung duduk)

Haedoju: Tuan Jin pernah membantuku tiga tahun yang lalu, apakah dia telah menceritakannya padamu?

Sunhwa: Ayahku pernah memberitahuku, bahwa keberuntungan dan kesialan bisa jadi akan menjadi beban bagiku di masa depan, jadi beliau menyuruhku untuk mencari keberuntunganku sendiri.

Haedoju: Jadi dia tidak akan kembali ke Baekjae lagi?

Sunhwa: Dia sedang berkonsentrasi untuk membangun bisnis di daerah barat, dan bahkan jika ia memiliki waktu luang, aku tidak akan memaksanya untuk kemari. Jika aku ingin bergantung pada kejayaannya, maka aku tidak akan berada di sini.

Haedoju: Sejujurnya aku tidak pernah mendengar kalau ia mempunyai seorang istri.

Sunhwa: Ia memang tidak mempunyai seorang istri, tetapi beberapa istri. Istri yang pertama berasal dari China, dan yang kedua dari India. Yang ketiga berasal dari Jepang dan keempat dari Persia. Dan yang terakhir adalah ibuku, seorang wanita Baekjae. Dan dia mempunyai jumlah anak seluruhnya ada 12 orang. Setiap dari mereka memiliki bisnis sendiri. Ayahku akan mewariskan posisinya kepada yang terbaik di antara ke 12 anaknya. Aku ke Baekjae dengan tujuan untuk mendapatkan posisi itu. Apa lagi yang ingin kau ketahui?

Haedoju dan Sun puas dengan jawaban dari Sunhwa. Giroo dan Bomyung mendengarkan dari luar, lega karena jawaban Sunwa bisa memuaskan Jenderal dan Haedoju.

Jang mengawasi Giroo dari jauh dan gelisah. Eunjin mendatanginya.

Eunjin: Bukankah itu Giroo?

Jang: Benar

Eunjin: Apakah dia terbuka samarannya? Apakah Giroo tahu wajahnya?

Jang: Aku tidak tahu.

Eunjin: Aku gemetar. Aku sangat khawatir kalau Giroo dan Jenderal akan mengetahui perihal dirinya. Kau benar-benar membuatku gila.

Jang: … (menghela napas)

KEMUDIAN

Mojin: Bagaimana bisa ia datang ke istana?

Mokrasu: Itu tidak direncanakan. Aku pikir Jenderal yang memanggilnya kemari.

Gomo: Aku menyuruh seseorang untuk memanggil Giroo, tetapi mengapa sampai sekarang ia belum datang?

Mojin: Aku tahu. (Maekdosu masuk) Apakah kau menemukannya?

Maekdosu: Giroo pergi menemui Jenderal karena ada tugas darinya.

Mokrasu: Apa?!

Mojin: Tidakkah ini akan berakhir ?

Maekdosu: Omong-omong, Apakah Giroo tahu wajahnya? (Semua orang menoleh padanya) Kupikir Giroo tidak tahu wajahnya. Bukankah kita jadi terlalu gelisah mengenai hal itu? Tapi, yah …. itu hanya dugaanku saja. (Semua orang merasa ada harapan)

KEMUDIAN

Sun: Ijinkan aku bertanya satu hal padamu. Seorang pedagang tua datang menemuiku beberapa waktu yang lalu. Dia terlalu tua sehingga dia ingin melayani orang terhebat di negeri ini. Dia ingin melayaniku. Apa pendapatmu mengenai orang itu?

Sunhwa: (tersenyum) Seorang pedagang memiliki pemikiran spesial seperti itu? Seorang pedagang seharusnya hanya memikirkan bagaimana ia dapat menghasilkan uang. Bagaimana menggunakan seorang pedagang, itu adalah bagianmu, Jenderal.

Aku akan menghasilkan uang, dan kau akan mendapatkan kesempatan yang bagus jika membantuku. Tidakkah kau akan menjadi seorang yang berkuasa suatu hari nanti? (Sun senang dengan jawaban Sunhwa)

KEMUDIAN

Wooyung: Pertemuan ini berjalan sangat bagus.

Sunhwa: Benar. Kalau begitu, aku akan pergi (Giroo menatapnya, Sunhwa memberi hormat pada mereka berdua dan pergi diikuti oleh Bomyung)

Wooyung: Dia pandai berbicara dan memiliki nyali besar. (Menoleh kepada Giroo) Ayo kita pergi!

Giroo: (sembil mengikuti Wooyung) Apakah Jenderal menyukai Jin Gakyung?

Wooyung: (berbalik) Benar, dia sangat senang. Jenderal akan banyak membantunya.

Giroo: Ya. Kalau begitu aku harus … (Memberi hormat pada Wooyung dan pergi ke lain arah)

KEMUDIAN

Sambil melakukan pekerjaannya, Giroo berpikir

Suara hati Giroo:  Dia bertemu juga akhirnya dengan Jang.  Dia bahkan menemui Buyeo-Sun. Apa sebenarnya yang ia rencanakan?

Eunjin datang ke tempatnya bekerja dan mengawasinya dari jauh.

Suara hati Giroo:  Jang bukanlah masalahku sekarang. Masalah yang sebenarnya adalah identitas diriku yang sebenarnya.

KEMUDIAN

Eunjin masuk ke ruangan dimana Mokrasu, Mojin, dan Maekdosu sedang berkumpul.

Mojin: Bagaimana? Apakah dia tidak ketahuan?

Eunjin: Dia pulang ke kediamannya dengan selamat, jadi sebenarnya tidak ada sesuatu terjadi kepadanya.

Maekdosu: Bagaimana dengan Giroo?

Eunjin: Giroo bersama-sama dengan mereka, tetapi kelihatannya Giroo tidak mengenalinya.

Maekdosu: Itulah yang kupikirkan. Giroo tidak mengetahui wajahnya sama sekali.

Mokrasu: Bagaimana Jang?

Eunjin: Jang akan mampir ke kediamannya dan kemudian baru pergi kemari.

Mokrasu: … (menghela napas lega)

Mojin: Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Jadi kalian awasi Giroo, yang mengetahui hubungan antara Jang dan wanita itu. Dan Woosoo adalah satu-satunya orang selain Eunjin yang pernah bertemu secara muka dengannya. Jadi awasi juga Woosoo.

Eunjin: Baik.

Mokrasu: …

KEMUDIAN

Daejang: Dia telah bertemu dengan Jenderal, jadi kita harus kembali ke sana lagi.

Jang: Aku tidak menyukai ini. Kita tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Giroo, tetapi aku tidak menyukai fakta kalau Puteri harus menemui Jenderal lagi.

Sunhwa: …

Jang: Kita tidak akan pernah tahu bagaimana rencananya untuk menggunakan Puteri. Lagipula, akulah orang yang seharusnya berurusan dengan Jenderal.

Daejang: Apa yang kau ingin aku lakukan? Dadu sudah bergulir sekarang.

Jang: Ditambah kita tidak bisa melakukan apa-apa mengenai Giroo.

Sunhwa: Teman-teman Seodong banyak yang tidak tahu akan diriku.

Suara hati Sunhwa: Tidak! Dia HARUS tidak mengenali aku. Janganlah terlalu khawatir.

Jang: Setelah apa yang telah dia lalui, dia memberi respek kepada kita. Tapi aku tidak bisa menahan diriku jika dia terlibat dalam masalah lagi. Apalagi sekarang kau ada di sini. Aku tidak peduli dengan diriku, jika ini menjadi besar. Kau yang akan dalam bahaya.

Sunhwa: Tidak akan terjadi apa-apa. Aku akan baik-baik saja.

Daejang: Uh .. huh! Apa yang membuatmu begitu khawatir. Kita hanya harus terus maju ke depan. Guru Mokrasu akan khawatir pada dirimu, jadi sekarang kembalilah ke Taehaksa.

KEMUDIAN

Jang kembali ke Taehaksa, ia mencari Giroo dan menemukannya di salah satu tempat kerja.

Giroo: Ada apa?

Jang: Apakah kau melihat wanita Shilla yang aku temui ? (Giroo berpikir) Apakah kau melihatnya?

Giroo: Tidak! Kenapa? Apa kau menyesali peristiwa itu?

Jang: … (menghela napas lega)

KEMUDIAN

Jang menemui Guru Mokrasu di kantornya.

Jang: Jin Gunsoo dan Haedoju memiliki hubungan yang sangat erat. Jadi Jenderal ingin bertemu dengannya. Dan Jenderal akan membantunya dalam membuka toko.

Mokrasu: Bagaimana kalau Jin Gunsoo dan Jin Gakyung yang asli kembali?

Jang: Tidak mungkin, karena mereka telah mati di atas perahu.

Mokrasu: Apakah Giroo benar-benar tidak mengenalinya?

Jang: Ya.

Mokrasu: Tidak ada yang dapat kita lakukan. Woosoo tahu wajahnya, jadi kita harus terus mengawasi Woosoo. Dayangnya pasti tahu Woosoo, jadi beritahukan padanya untuk menjauh dari Woosoo.

Jang: Baik.

KEMUDIAN

Sunhwa di kamarnya, berpikir …

KEMUDIAN

Kim Saheum: Apa? Tuan Puteri ada di sini? Apakah benar dia menyamar sebagai pedagang di Istana Sabi?

Giroo: Benar!

Saheum: Dan dia telah menemui Jenderal?

Giroo: Benar!

Saheum: Apa yang harus kita lakukan? Jika kita membuka usaha di Savisong, kita pasti akan sering bertemu muka.

Giroo: Ya!

Saheum: Hancurkan yang lain atau bekerja sama satu sama lain.

Giroo: Iya ayah.

Saheum: Kau temuilah dia dan segera selesaikan ini.

Giroo: Baiklah ayah.

KEMUDIAN

Jang sedang berjalan menuju ke kediaman Sunhwa. Ketika ia sudah dekat, ia tak sengaja melihat seseorang, dan ketika diperhatikan dengan seksama, Jang mengenalinya kalau itu Giroo, Jang segera menyembunyikan dirinya.

Jang melihat Giroo masuk ke kediaman Sunhwa. Jang memutuskan untuk mengikutinya dan melihat apa yang sedang Giroo lakukan.

DI DALAM

Sunhwa terkejut melihat Giroo masuk ke dalam kamarnya. Giroo menatapnya. Keduanya berdiri dan berdiam diri untuk beberapa saat.

Sunhwa: Aku tahu kau akan datang menemuiku.

Giroo: Kau akhirnya menampakkan dirimu.

Jang ada di luar kamar, kaget mendengarnya

Sunhwa: (duduk) Ya, aku lama berpikir mendalam tentang ini. Aku sangat menyesal atas apa yang telah terjadi padamu. Tapi aku tidak bisa memilih seseorang karena merasa kasihan. Itulah kesimpulan pertamaku.

Seperti yang telah kau katakan. Aku harus menetap di suatu tempat. Jadi aku memutuskan akan tinggal di Baekjae. Ini adalah kesimpulanku yang kedua.

Giroo: Kenapa harus …. di depanku?

Sunhwa: Itu tidak harus di depanmu. Tetapi aku tidak perlu untuk menghindarimu. Bukankah situasi kita sebenarnya sama satu sama lain? Kita harus menetap di sini. Ketika kau membuka rahasia mengenai diriku dan Seodong-Gong …

Giroo: … Puteri akan membuka rahasia identitasku sehingga  aku tidak dapat berbuat apapun?

Sunhwa: Aku menyesal untuk mengatakan ini, tetapi : ya. Dan aku percaya kau akan menyetujuinya.

Giroo: …

Suara Bomyung: (di luar) Ya ampun .. Oh .. Seodong-Gong

Jang masuk ke dalam ruangan, Sunhwa dan Giroo terkejut melihatnya.

Jang: Bagaimana kau bisa? Bagaimana kau tahu kalau dia adalah seorang Puteri?

Giroo: …

Sunhwa: Seodong-Gong

Jang: (menarik baju Giroo) Apa tingkatanmu? Siapa sebenarnya dirimu? Apa mungkin kaulah … kau yang …

Giroo: (tersenyum sinis) Tanyalah pada Puteri. (Kepada Sunhwa) Kau perlu menjelaskannya pada Jang. Dan kau mendapat persetujuanku.

Giroo melepaskan bajunya dari cengkeraman Jang dan ia beranjak pergi meninggalkan Jang dan sang Puteri di dalam kamar.

Jang: Apa ini? Apa sebenarnya yang telah terjadi?

Sunhwa: …. (terduduk)

Beberapa saat kemudian

Di halaman rumah, Sunhwa berdiri sedangkan Jang berjalan-jalan di tempat dengan hati tidak tenang.

Jang: Kau telah menipu semua orang, bahkan Guru Mokrasu?

Sunhwa: ….

Jang: Kau bahkan tahu semua hal mengenai Baekjae Singi (Keajaiban Baekjae)?

Sunhwa: …

Jang: Bagaimana? Mengapa kau tidak mengucapkan sepatah katapun mengenai hal ini?

Sunhwa: …

Jang: Bagaimana kau bisa melakukan ini kepadaku?

Sunhwa: Seodong-Gong, Aku adalah wanita milikmu, tetapi aku juga seorang Puteri dari Shilla. Ketika orang-orang Haneulchae melihat Giroo, dia adalah seorang mata-mata yang jahat. Tetapi jika kau melihatnya dari pihak Shilla, dia adalah pelayan yang sungguh setia.

Jang: Tapi tetap … tetap saja …

Sunhwa: Karena aku dan dirimu, dia dibuang oleh Shilla dengan begitu tiba-tiba. Akulah yang menghancurkan keluarganya. Karena cinta kita, dia dihancurkan oleh negaranya sendiri. Dan kau seharusnya juga menyadari, untuk melindungi keamanan diriku, harus kita bertiga saja yang tahu, dan kau harus menyembunyikannya.

Jang: Aku tidak dapat melakukannya! Aku tidak dapat memaafkan dirinya!

Sunhwa: Tidak, kau harus memaafkannya. Cinta kita dimulai ketika tiada seorangpun yang memahaminya. Negara kita bermusuhan. Cinta kita dimulai dimana tidak ada pengertian dan kompromi.

Jang: …

Sunhwa: Seodong-Gong!

Jang: …

Sementara itu

Giroo di dalam kamarnya berpikir …

Keesokan harinya

Jang menemui Giroo.

Jang: Ikuti aku!

Giroo: Tidakkah percakapan kita berakhir tadi malam?

Jang memukulnya di wajah, tepat saat warga Haneulchae lainnya sedang lewat, mereka terkejut melihat Jang memukul Giroo.

Woosoo: Apa terjadi pada dirimu? Mengapa kau memukul Giroo?

Jang: … (meninggalkan mereka)

Woosoo: Giroo, kenapa? Ada apa?

Giroo: Aku tidak apa-apa. (Dia pergi menyusul Jang)

Woosoo: Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Gooksoo: Ya, karena Giroo tidak banyak bicara, dia pasti telah melakukan kesalahan.

Goyiso: Situasi berubah sekarang?

Juriyeong: Kelihatannya demikian.

KEMUDIAN

Bumro menemui ayahnya dan Eunjin, mengatakan kalau Jang telah berkelahi dengan Giroo dan memukulnya di wajah. Eunjin sangat senang sekali dan ingin tahu alasan kenapa Jang melakukan itu, tetapi Bumro juga tidak tahu.

Maekdosu sangat menyesal karena tidak dapat melihat dengan mata kepala sendiri ‘adegan yang bagus’ itu. Bumro mengatakan juga kalau Jang menyeret Giroo ke tempat lain, tapi dia tak tahu di mana, Maekdosu mengatakan kalau Jang akan ‘membunuh’ Giroo kali ini.

KEMUDIAN

Jang dan Giroo saling bertukar pukulan sampai keduanya sama-sama kecapaian. (Andy: tapi anehnya wajah Jang dan Giroo masih ‘mulus-mulus’ saja, tidak ada bekas pukulan atau lecet … aneh :P)

Jang: Dasar bajingan! Baiklah kau melakukan ini semua karena negaramu. Aku dapat mengerti itu. Tidak, jika aku yang menjadi dirimu, aku tidak akan ketahuan dan pasti akan menyelesaikannya. Bahkan walaupun kau adalah seorang musuh aku tetap respek dengan tugasmu itu. Dan kita harus bertarung satu sama lain, aku juga mengerti itu.

Apa yang tidak bisa kumaafkan adalah tindakanmu kemudian. Jika kau memang terpaksa harus menetap di sini, walaupun kau seorang mata-mata di Haneulchae dan akhirnya jika ada rasa hatimu padaku, kau tidak seharusnya mengkhianati kami, aku dan Guru, supaya dapat berada di samping Buyeo-Sun.

Kami mempercayaimu! Kami memberi pengakuan padamu dan kami berusaha segala cara untuk menyelamatkanmu! Kau tidak seharusnya mengkhianati kami untuk mendapatkan kekuasaan apapun! Kau bukan manusia !

Giroo: Sepertinya puteri tidak mengatakan semuanya padamu. Hwarang muda berumur 15 tahun, kenapa aku pergi ke Hanulchae dan menjadi mata-mata, dia tidak memberitahumu tentang ini. Jika saja bukan karenamu, aku sudah menikahinya di Shilla.

Sebaliknya daripada seorang Hwarang muda yang seharusnya mempersembahkan air saat upacara Najeong, kaulah yang menyela di tengah-tengahnya. Aku menghabiskan sepuluh tahun, setiap hari dalam kesetiaan, hanya untuk dapat melihatnya lagi. Tetapi kau menghancurkan hidupku hanya dalam sehari saja. Ketika kau dan Puteri saling berjanji tanpa ragu. dalam nama cinta, saat itulah kejatuhan keluargaku dan kehancuran diriku.

Kenapa? Milikmu adalah murni, dan cintaku adalah kejahatan? Baik itu kejahatan akhirnya menjadi cinta, atau cinta itu yang menjadi kejahatan, apakah bedanya? Perasaanku dikorbankan karena cintamu. Dan aku harus meghilangkannya, entah bagaimana caranya.

Seperti aku telah dihancurkan oleh cintamu, kau juga harus mengalami hal yang sama. Tapi kau telah bangkit lagi. Ya, aku memberimu respek karenanya. Kuakui kalau pertarungan kita baru akan dimulai.

Jang: Baiklah, aku akan menarik kembali perkataanku bahwa kau bukanlah manusia. Tapi kau adalah seorang bajingan yang sungguh menyedihkan. Aku akan memikirkan apa seharusnya yang akan kulakukan dengan dirimu. (Jang bangun berdiri dan pergi)

Giroo berteriak kesal.

KEMUDIAN

Jang memilah-milah catatan, mengingat …

Saat Jang baru saja menemukan penyembuhan bagi Raja Baekjae

Giroo: Aku harap dia bukanlah orang asing … karena kau sekarang sudah diterima janganlah melakukan hal bodoh yang  menghabiskan keberuntunganmu.

Saat Jang baru saja diterima sebagai anggota Haneulchae

Giroo: Kau pikir aku percaya padamu? Aku tidak mempercayaimu! Lepaskan dirimu dari rasa bersalah dan penuhilah janjimu, atau menyerah dengan janji itu dan pergilah. Putuskanlah!

Saat ia baru saja kembali setelah berhasil menyerahkan pedang-pisau.

Jang: Tanyalah Giroo. Sebelum aku melalui penjagaan aku tidak tahu kalau aku yang membawa pisau itu.

Giroo: Itu benar.

Saat Jang baru diterima oleh warga Haneulchae

Giroo: Sejak aku menjadi anggota dari Haneulchae, kaulah orang pertama yang membuatku iri dan merasa terbakar.

Saat Jang diselamatkan oleh Giroo dari racun ular

Jang: Terima kasih sudah menyelamatkan hidupku.

Giroo: Terima kasih karena kau sudah hidup.

Saat Jang dituduh sebagai mata-mata dan membandingkan buktinya.

Giroo: Aku tahu kalau dia menemui seorang wanita Shila beberapa waktu lalu. Aku tidak ingin dia menemuinya, aku ingin dia tetap ada di Haneulchae. Hari itu aku menemuinya dengan surat itu untuk mengeceknya, jika tulisan di surat dan di buku itu tidak sama, maka ini adalah perangkap, seseorang sedang berusaha memfitnah Jang.

KEMUDIAN

Giroo di kamarnya sedang berusaha mengerjakan sesuatu, tetapi pikirannya tidak terfokus sehingga ia berhenti. Giroo berpikir …

Sunhwa di kamarnya berpikir …

Jang berjalan-jalan di luar, berpikir …

KEMUDIAN

Jang menemui Giroo di kamarnya.

Jang: Aku akan merahasiakannya.

Giroo: Kau memang tidak memiliki pilihan lain.

Jang: Ini bukan karena aku tidak memiliki pilihan. Aku sekarang sedang memberimu kesempatan lagi, untuk memulai hidupmu, yang telah dihancurkan olehku.

Giroo: …

Jang: Tanpa ada dendam dan kejahatan. Kehidupan yang sesungguhnya yang menjadi milikmu. Jika kau melakukannya, aku akan bertarung denganmu.

Giro: ….

KEMUDIAN

Jang menemui Mokrasu dan Mojin di kantor Direktur.

Jang: Kalian tidak usah khawatir dengan Giroo. Dia tidak akan membuat masalah.

Mokrasu: Apa maksudmu? Bagaimana kau bisa begitu yakin?

Mojin: Apakah kau berkelahi dengannya karena itu?

Mokrasu: Berkelahi ?

Jang: Tidak, itu adalah masalah pribadi. Dia tidak akan menyebut-nyebut tentang itu lagi, percayalah padaku.

Mokrasu: …. (menghela napas sedikit lega).

KEMUDIAN

Di kediaman Sunhwa

Jang: Kenapa kau tidak menceritakannya padaku sebelumnya?

Sunhwa: ….

Jang: Aku harap semua itu tidak terjadi. Tapi kalau memang sudah, tolong beritahu aku.

Sunhwa: ….

Jang: Jangan bergumul sendirian. Kau melalui jalan yang sangat panjang untuk menemuiku, jadi berbagilah segalanya denganku.

Sunhwa: …

KEMUDIAN

Raja Weeduk mengunjungi Kuil Agung, yang biasanya dia lakukan ketika dalam kekuatiran besar. Tidak ada yang mengetahui maksud dan tujuan dari kunjungan ini secara pasti. Raja bertemu dengan Rahib Kepala dan memintanya untuk mempersiapkan upacara untuk menghormati seseorang (mungkin, untuk Pangeran ke-4 yang ia pikir sudah mati.)

KEMUDIAN

Pangeran Aja menemui Mokrasu untuk bercakap-cakap.

Aja: Pada peristiwa yang lalu, aku menyadari sesuatu dengan melihat keberanian dan keteguhan dari Jang.

Mok: Apa itu?

Aja: Aku terlalu takut kepada mereka (faksi Sun). Mereka menginginkan nyawaku dan aku telah mengalami beberapa usaha permbunuhan sebelumnya. Sehingga aku takut kepada mereka selama ini. Itu membuatku berpikir kalau aku tidak akan dapat mengalahkan mereka. Aku tidak dapat mengeluarkan pikiran itu dari dalam kepalaku.

Mokrasu: … (mendesah)

Aja: Tapi, tindakan Jang telah memberitahukan untuk melakukan hal yang sama dengannya. Aku harus melepaskan ketakutan itu. Hidupku bukanlah milikku pribadi, melainkan kehendak dari Langit.

Mok: … (tersenyum lega)

Aja: Jadi aku akan berubah. Sekarang aku ingin mengalahkan mereka. Bukan karena aku seorang pangeran, melainkan karena aku ada di pihak yang benar. Kau harus membantuku! Kekuatanku adalah Taehaksa dan diplomasi, dan aku akan mulai dari sana. Jadi kumpulkanlah semua teknologi yang kau ciptakan di Haneulchae dan di Taehaksa. Tampilkan  semua itu pada perayaan ritual!

Mokrasu: Baik, Tuanku!

Aja: Aku akan mengundang semua utusan dan pedagang dari tiap negara untuk menunjukkan pada mereka kebanggaan Baekjae seperti masa lampau.

Mok: Ya Tuan. Itu adalah ide yang hebat!

Aja: Aku akan memulai dari awal lagi.

Mok: (sangat senang) Ya, Pangeran, kau dapat melakukannya. Kau pasti dapat melakukannya. Itulah tujuan sebenarnya dari Taehaksa didirikan.

KEMUDIAN

Faksi Buyo-sun berkumpul membicarakan kunjungan raja dan kekuatan Pangeran yang semakin besar. Meskipun Sun sekarang telah dilarang untuk melakukan hubungan diplomatik internasional, dia berkata pada pendukungnya kalau dia sekarang berusaha mendapatkan pijakan dengan mengembangkan hubungan dengan para pedagang yang sering bepergian keliling dunia.

Buyo-Gye bertanya pada Sun apakah ia sudah membunuh pangeran ke-4, “Sudah” jawab Buyo-Sun. “Tapi kenapa tidak ada reaksi dari Pangeran Aja?” tanya Buyo-gye. Mereka khawatir mengapa Mokrasu, dan Pangeran tenang-tenang saja dan menduga kalau ada sesuatu yang sedang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

KEMUDIAN

Sopal: Siapa kau

Bos Preman: Beritahukan pada Jenderal kalau aku ada di sini!

Sopal: Kau adalah … Kau idiot jelek!

Bos Preman: (tertawa) Jangan menyesalinya, katakan kalau aku di sini.

Sopal: Uh .. huh! Jangan lakukan hal yang bodoh! Pergilah!

Bos Preman: aku adalah kapten di sini! (memaksa masuk, Sopal menghalanginya, mereka berdua bergumul, saling mendorong satu sama lain.)

Pengurus rumah: (membentak) Ada apa ini? (Bos itu lari ke belakang pengurus, Sopal mengejarnya)

Sopal: Orang ini datang minta bertemu dengan Jenderal.

Pengurus: Apa maumu?

Bos: (menghindari Sopal) Tidakkah kau mengenaliku?

Pengurus: Kau ..? (mengingat-ingat)

Bos: Kau yang menyuruhku untuk membawa anak Yeungamo dari Achak.

Sopal: (Bergumam) Anak Yeongamo?

Bos: Kau tahu aku membawa orang yang salah.

Pengurus: Baiklah, apa yang kau inginkan sekarang?

Bos: Jenderal harus tahu kalau ada sesuatu yang salah.

Pengurus: Sesuatu yang salah?

Bos: Jika dia mendengarkanku dia akan senang, jadi bawa aku menemuinya.

Pengurus: … (ragu-ragu)

Bos: Itu benar!

Pengurus: Ikuti aku!

Bos: Baik. (mereka berdua pergi menemui Sun)

Sopal: Anak Yeongamo adalah apa yang ingin Jang ketahui. Pasti ini!

DI DALAM KEDIAMAN SUN

Sun: Dia bukanlah orang yang sebenarnya?

Heukjipyung: Aku pikir kau harus mendengarkan kata-katanya.

Sun: Biarkan dia masuk!

Heukjipyung: Baik! (Kepada orang di luar) Masuklah!

Bos: Ya! (masuk dan menghormat)

Sun: Apa maksudmu? Dia bukanlah orang yang sebenarnya?

Bos: Bukankah ada 3 orang yang datang kesini?

Heukjipyung: Hanya satu orang yang datang!

Bos: Itu benar! Seodong dan Moksuk, serta Sukdoo pergi bersama.

Sun: Lalu?

Bos: Setelah itu, Sukdoo datang dan membawa semua keluarganya dan keluarga Moksuk pergi melarikan diri. Aku ingin tahu seberapa banyak mereka mendapat hadiah, jadi aku mengikuti mereka sepanjang jalan. Tetapi ketika aku ada di sana, aku baru tahu kalau Moksuk sudah terbunuh.

Sun: Apa?

Bos: Jadi aku memikirkannya dengan seksama. Kau mencari Seodong tetapi Moksuklah yang mati. Itu sedikit aneh, jadi aku datang padamu. Apakah kau tahu ini?

Sun: Bagaimana itu bisa terjadi? Jadi orang yang datang itu bukanlah Seodong? Dia itu, sebenarnya, adalah Moksuk?

Bos: Kau tidak tahu ini?

Heukjipyung: Dimana dia? Dimana orang yang bersama dengan mereka, yang bernama Sukdoo?

Bos: Aku tidak mau mengatakannya tanpa ada imbalan.

Sun: Ini. (melemparkan sekantung uang ke lantai)

Bos: Aku tahu akan terjadi seperti ini, jadi aku sudah menangkapnya. Aku sudah menanyainya, tapi dia tidak mau berbicara.

Sun memberikan isyarat pada Heukjipyung.

Heukjipyung: Ayo kita pergi! Di mana dia?

Bos: Kau tidak perlu pergi!

KEMUDIAN

Anak buah bos preman datang membawa karung besar yang bergerak-gerak. Ia meletakkannya di depan Heukjipyung. Bos dan anak buahnya membuka karung itu dan tampak Sukdoo ternyata ada di dalam karung itu. Sukdoo kaget dan ketakutan saat melihat Heukjipyung.

Heukjipyung: (mengenali Sukdoo) Bukankah dia orang palsu yang sebelumnya?

Bos: Ya, dia adalah Sukdoo, yang dekat dengan Seodong. (Sopal mengintip kejadian itu dari balik tiang rumah)

Heukjipyung: Kunci dia di dalam gudang!

Pengurus: Baik!

Sukdoo dibawa pergi oleh ketiga orang itu, Sopal segera berlalu.

KEMUDIAN

Daejang: Nona menyuruh orang-orang untuk menemukan tambang secara rahasia, dan sebuah tambang permata telah ditemukan, jadi Nona pergi untuk mengeceknya segera. (Daejang tertawa senang)

Jang:  Pangeran dan Guru Mokrasu ingin mengadakan Perayaan Ritual ini sebagai kesempatan untuk membangkitkan kembali keagungan Baekjae.

Daejang: Benarkah?

Jang: Benar, karena itu aku datang kemari untuk meminta padamu beberapa bahan yang diperlukan untuk perayaan ini.

Daejang: Apa yang kau perlukan?

Jang: Jika aku bisa mendapatkannya di pasar buat apa aku datang kemari? Bahan-bahan ini tidak mudah didapat seperti pernis kuning. (menyerahkan catatan bahan)

Daejang: (membaca catatan itu) Kau memberiku tugas yang sulit.

Suara Sopal:  (Di luar) Jika kau mencuri sesuatu karena aku tidak ada di sini …

Daejang: (tertawa) Sopal ada di sini!

Suara Sopal: (Di luar) … Kau akan pergi ke neraka!

Jang: (tersenyum) Ya,  sepertinya itu memang dia!

Suara Sopal: (Di Luar) .. Kau tidak akan pernah tahu ini. Tapi aku punya mata di tangan dan di punggungku!

DI LUAR

Sopal sedang berbicara dengan anak buah dari Daejang

Sopal: Barang-barang ini ada di mana-mana, jadi lakukan yang benar! (tertawa kecil dan memegang barang-barang dagangan)

Daejang: Dan kau menghabiskannya semua di atas meja judi.

Sopal: (tersipu-sipu) Daejang!

Daejang: Dan kau si bodoh! Apakah semua ini menjadi milikmu? Aku datang untuk mengambilnya, jadi semua ini adalah milikku.

Sopal: (salah tingkah) Kak, kenapa kau lakukan ini padaku? (Jang tersenyum melihat tingkahnya Sopal, Sopal melihat Jang) Jang aku datang kemari menemuimu.

Jang: Yah? Kenapa?

Sopal: Anak Yeongamo, yang kau minta aku mencarinya ..

Jang: Yah? Apakah kau tahu sesuatu?

Sopal: Kau! Kau tahu Sukdoo, khan?

Jang: Benar! Kenapa dengannya? Sukdoo.

Sopal: Orang kecil pendek dan jelek itu telah menangkap Sukdoo. Dan ia mengatakan pada Jenderal kalau ia telah salah membunuh orang.

Jang: Jadi sekarang Sopal ada di rumah Jenderal?

Sopal: Itu benar!

KEMUDIAN

Jang melakukan pekerjaannya di bengkel kerja sambil berpikir mengenai Sukdoo …

Suara hati Jang: Karena aku …..

Malam harinya

KEDIAMAN SUNHWA

Daejang: Mengapa kau datang kemari malam-malam begini?

Jang: Aku tidak merasa nyaman. Aku membutuhkan orang-orang bayaran.

Daejang: Apakah ini karena temanmu yang telah ditangkap oleh Jenderal?

Jang: Ya!

KEDIAMAN SUN

Sekelompok orang menyusup masuk ke dalam kediaman Sun. Sementara itu Heukjipyung sedang berada di gudang menginterogasi Sukdoo.

Heukjipyung: Jadi orang itu menyuruh Moksuk masuk ke dalam dan bertanya mengenai kalung permata itu?

Sukdoo: Ya. Moksuk menanyakan apa yang disuruh olehnya.

Heukjipyung: Kau menyaksikan ia mati dan kau lari?

Sukdoo: Ya!

Heukjipyung: Aku mengerti. Jadi kau tidak tahu siapa dia maupun dimana dia tinggal?

Sukdoo: Ya. Kami hanya sedikit mengetahui asal-usul masing-masing. Kami pergi ke sana hanya untuk bekerja. Jadi kami tidak punya waktu untuk bertanya-tanya tentang itu. (Heukjipyung memukulnya, Sukdoo menjerit kesakitan dan menangis ketakutan.)

Heukjipyung: Apa kau mau aku mempercayai itu?

Sukdo: … Kau sungguh .. sungguh … (Heukjipyung memukulnya lagi)

Heukjipyung: Bicara padaku! Bicaralah! Kalau tidak, kau tidak akan keluar dari tempat ini hidup-hidup! Beritahu padaku segala sesuatunya yang dapat menjadi bukti.

Sukdo: ….

Heukjipyung: Ya, pikirlah. Berpikirlah, maka kamu pasti dapat menemukannya.

Suara pengawal: Siapa di situ?

Heukjipyung: Ada apa?

Pengawal: Seseorang telah menyusup dan memasuki kamar Jenderal.

Heukjipyung: (terkejut, langsung keluar) Apa?

DI LUAR

Heukjipyung: (Kepada sersan) Tetap tinggal di sini dan amankan tempat ini.

Sersan: Tinggal dan amankan tempat ini!

Prajurit: Baik!

KEMUDIAN

Beberapa penyusup sedang bertarung melawan para pengawal Sun, para penyusup berpura-pura kalah, dan memancing para prajurit ke tempat lain.

Jang, dengan pakaian dan penutup muka serba hitam,  mengintip dari atas tembok dan langsung masuk ke dalam ketika melihat tempat itu kosong. Sopal menemuinya di tempat yang dijanjikan dan membawanya ke tempat tawanan. Mereka berhasil membebaskan Sukdoo dan segera berusaha melarikan diri. Sopal segera pergi dan pura-pura memberikan sinyal kepada para prajurit bahwa insiden itu berakhir.

Ketika Jang akan melompati tembok, sebatang pedang mengancam lehernya, ternyata Sun sudah datang. Sun mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang dicari-cari oleh Sun selama ini.

Ketika tangan Sun akan meraih penutup muka Jang, Jang melepaskan pisau-pisau terbang sehingga Sun harus menyelamatkan dirinya.

Saat Jang melompat, seorang pemanah berhasil memanah lengan kanannya, tapi Jang berhasil meloloskan diri.

Para pengawal Sun segera melakukan pengejaran, dan menemukan kalau penyusup itu masuk ke dalam halaman Akademi. Sehingga Heukjipyung memerintahkan untuk masuk ke dalam Taehaksa.

Sementara itu Jang segera pergi ke satu ruangan dan melepas semua baju dan penutup muka yang digunakan untuk menyusup.  saat itu para pengawal sudah ada di dalam Taehaksa dan meneriaki semua orang untuk keluar dari kamar.

Semua anggota Akademi keluar dan bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Heukjipyung melihat Jang dan berjalan mendekatinya. Tetapi Mojin menghalangi jalannya.

Mojin: Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Ini adalah Taehaksa.

Heukjipyung: (mendorong Mojin ke samping) Beledah mereka!

Heukjipyung mengecek satu persatu orang dari Akademi bersama dengan sersan.

Eunjin tidak sengaja melihat ada noda darah di pakaian Jang, ia gelisah, Bumro juga  melihatnya,  dan Eunjin berusaha mendekati Jang untuk menutupi noda darah itu.

Heukjipyung: (memeriksa Juriyeong) Maju ke depan!

Juriyeong: Baik. (Dia dan yang lainnya maju ke depan)

Heukjipyung mendekati Maekdosu dan memeriksanya.

Maekdosu: Kau mengenalku.

Heukjipyung mengacungkan sarung pedangnya dan sersan menempatkan obor di dekat wajahnya.

Maekdosu: (mengelak dari obor) Kau hampir membakar wajahku!

Heukjipyung: Apakah orang ini dari Taehaksa?

Maekdosu mau menjawab tapi tiba-tiba Bumro menyelanya.

Bumro: Dia bukan anggota Taehaksa. Dia harus bekerja dahulu untuk bergabung dengan kami. (Maekdosu kebingungan) Dia tidak bekerja dan selalu minum-minum sepanjang waktu. (Andy: Salut buat Bumro … walaupun kelihatannya bodoh, tetapi pas saat-saat genting dia jadi pintar, bisa membaca situasi :D)

Maekdosu: Kau si bodoh ini!

Heukjipyung tidak mempedulikan mereka, ia berjalan mendekati Eunjin, ” Siapa kau? Majulah!”. Eunjin gelisah.

Heukjipyung: (membentak) Maju! Ayo majulah!

Maekdosu akhirnya sedikit ‘ngeh’ dengan peristiwa tadi ketika anaknya mengacaukan dirinya, sehingga ia melanjutkan sandiwara itu saat melihat Eunjin berusaha melindungi Jang.

Maekdosu: Kau! Dasar anak celaka! (menghampiri Bumro, menyela di antara Heukjipyung dan Eunjin, dan memukuli Bumro)

Bumro: Ayah!

Maekdosu: Daasr kau anak kurang ajar! Aku ini ayahmu, dasar bodoh! (Sambil memukuli Bumro, ia manariknya  ke depan Eunjin dan Jang sehingga menutupi Eunjin serta Jang) (Andy: Puinter juga bapak anak ini … hahahahaha aku jadi makin suka sama mereka berdua :D)

Bumro: Bukan seperti itu ayah!

Heukjipyung: (menyingkirkan mereka berdua) Pergi!

Suara Mokrasu: (dengan nada marah) Apa yang kau inginkan!

Semua orang, termasuk Heukjipyung menoleh ke arah asal suara itu, dan melihat Mokrasu berjalan menghampiri mereka.

Heukjipyung: Seseorang menyusup masuk ke dalam rumah Jenderal.

Mokrasu: Walaupun begitu, tempat ini dalam wewenang Pengawal Raja. Bagaimana bisa kau datang kemari dengan pasukan pribadimu!

Sersan: Tapi aku lihat orang itu menyelundup masuk ke tempat ini.

Mokrasu: (marah) Keluar sekarang!

Heukjipyung: Aku tidak akan melakukannya!

Mokrasu: Apa?

Tiba-tiba ada benda-benda jatuh jauh di belakang Mokrasu dan menimbulkan suara berisik, sehingga orang-orang menoleh ke sana. Eunjin segera memanfaatkan situasi itu, dan berkata, “Oh… apa itu? Siapa di sana? Ada orang di sana!

Bumro: Benar! Siapa itu? Yah, siapa itu? Siapa di sana?

Heukjipyung terkecoh dan curiga dengan tempat itu, ia egera meerintahkan anak buahnya untuk mengejar. Sersan dan prajurit lainnya segera m elakukan pengejaran. Jang merasa lega karena lepas dari situasi yang berbahaya. Tangan Eunjin tetap menutupi lengan baju Jang yang bernoda darah.

KEMUDIAN

Jang masuk ke kamar diikuti oleh Eunjin dan Bumro, Eunjin segera membuka lengan bajunya, terlihat banyak darah yang keluar dari bekas lukannya. Eunjin sangat kaget begitu juga dengan Bumro.

Eunjin dan Bumro : Ya Ampun.

Bumro: Bagaimana kau bisa mendapat luka itu?

Eunjin segera mengambil sehelai kain panjang untuk membalut luka dari Jang. Eunjin merasa sedih dan sakit hatinya melihat luka dari Jang.

Maekdosu: (masuk dengan tiba-tiba) Bumro kau ini bodoh! Kau telah menodai kehormatanku. (Sambil memukuli Bumro) Kau mengatakan hal yang bukan-bukan di hadapan mereka semua…. Dasar kau bodoh!

Bumro: Ayah bukan seperti itu maksudku. (Tiba-tiba Maekdosu melihat lengan Jang terluka parah.)

Maekdosu: Jang! Bagaimana ini bisa terjadi? Itu ..?!!

Eunjin: Sssstt .. Tolong diamlah …!!!

Maekdosu: (Memelankan suaranya) Bagaimana ini bisa terjadi?

Eunjin: Benar! Aku dengar kalau kau pergi ke rumah Jenderal?!! Kenapa kau pergi ke sana?

Bumro: Apakah pikiranmu sudah miring?

Eunjin: Aku tahu semua kemarahan dan dendammu terhadap Jenderal, tapi mengapa kau pergi ke sana?

Maekdosu: Kau harus tahu! Kita memiliki pilihan untuk  mengendalikan segala sesuatunya dengan emosi kita atau dengan pikiran yang waras.

Bumro: Benar! Kau seharusnya tidak pernah melakukan hal seperti ini!

Eunjin: Benar! Berjanjilah padaku! Jika kau melakukan hal ini lagi, aku tidak akan bisa hidup lagi.

Jang: (merasa berterima kasih atas perhatian teman-temannya) Baiklah, dan terima kasih. Jika saja Eunjin tidak menyadarinya, ini akan menjadi bencana.

Bumro: Itu memang Eunjin. (Eunjin tersipu malu)

Maekdosu: Bumro si bodoh! Wajahku adalah wajahmu. Wajah kecambah adalah wajahku. Di depan mereka kau melakukan…. (memukuli Bumro lagi)

Bumro : Ayah … (mengaduh)

Eunjin: Tuan …

Jang: … (tertawa melihatnya)

KEMUDIAN

Heukjipyung kembali kepada Sun dan mengatakan kalau ia telah kehilangan penyusup itu. Sun sangat marah, dan memerintahkan Heukjipyung untuk menggeledah setiap tempat di Istana Sabi, ia menduga kalau orang itu masih berkeliaran di Istana. Dan menyuruhnya untuk membawa bos preman dari Achak untuk mengenali siapa sebenarnya Seodong.

KEMUDIAN

Keesokan harinya, di kantor Direktur Taehaksa, Pangeran Aja memanggil Sun dan menginterogasinya mengenai insiden semalam, Sun mencoba membela dirinya kalau rumahnya disusupi oleh sekelompok orang dan petunjuk mengarah kepada Taehaksa. Tapi Pangeran tidak mau mendengarakan alasan seperti itu lagi, dan melarang Sun untuk melakukannya lagi tanpa seijin darinya. Sun mengiyakan dan meminta maaf pada Mokrasu. Mokrasu menjawabnya supaya hal itu tidak terjadi lagi. Saat itu Jang masuk dan Sun keluar, ketika mereka berpapasan, Sun tidak sengaja (?) mengenai tangan kanan Jang yang terluka, dan Jang merasa kesakitan.

Aja: Kenapa apakah lenganmu sakit? (Sun menoleh terkejut)

Jang: Ah .. tidak apa-apa Pangeran. (Menyerahkan buku kepada Pangeran, Jang sedikit gelisah melihat Sun mengetahui tangannya sakit)

KEMUDIAN

Wooyung: Apa yang terjadi? Apa masalahnya?

Sun: Pangeran ke-4 menyusup masuk ke rumahku.

Wooyung: Apa?

Giroo: Pangeran ke-4?

Wooyung: Jadi kau kehilangan dirinya?

Sun: … (kesal)

KEMUDIAN

Aja: Aku mencium ada gerakan aneh.

Baekmoo: Ya, ada sesuatu yang salah.

Aja: Cari tahu. Mereka pasti sedang mencari seseorang.

Baekmoo: Baik! … Raja sudah kembali ke Istananya, Anda sebaiknya pergi menemuinya.

Aja: Ayo ..

KEMUDIAN

Raja sedang dituntun oleb beberapa dayang.

Aja: Yang Mulia, apakah anda sudah lebih baikan?

Weeduk: Ya! Bagaimana dengan dirimu?

Aja: Aku juga sama, Yang Mulia.

Wangoo: (memasuki ruangan) Yang Mulia!

Weeduk: Ada apa?

Wangoo: Di dekat tambang di Achak di bawah kuasa kerajaan, telah ditemukan tambang permata baru yang memiliki jenis yang sama dengan yang sebelumnya.

Weeduk: Benarkah? Ini pertanda bagus bagi Kerajaan kita!

Aja: Bagaimana itu bisa ditemukan?

Wangoo: Aku tidak tahu detilnya, aku hanay menerima permintaan tambahan pasukan untuk menjaga tambang itu segera.

Weeduk: Ya kirim mereka segera.

Wangoo: Baik! Yang Mulia. (dia pergi)

ACHAK

Sunhwa: Aku dengar kalian menemukan sebuah tambang permata, di mana letaknya?

Pengurus: Kita mendapat masalah!

Sunhwa: Masalah?

Pengurus: (duduk) Orang-orang yang telah melaporkan kalau mereka menemukan tambang itu dibawa ke kantor pemerintahan.

Sunhwa: Kenapa? Mengapa pemerintah melakukan ini?

Pengurus: Di dekat tambang permata yang telah kita temukan, ada sebuah tambang yang sama.

Sunhwa: Jadi? Apakah ada masalah yang berkaitan dengan tambang yang satu itu?

Pengurus: Masalah apa lagi yang bisa ada di sana. Tambang itu milik negara, dan banyak prajurit yang menjaganya.

Chogee: Jadi walaupun kita yang menemukan tambang itu dahulu, semuanya menjadi sia-sia? (mendesah) Kita membuang uang.

Bomyung: Itu benar, kita datang kemari tanpa mengetahuinya.

Sunhwa: Tidak, itu memang milik negara. Tapi para bangsawanlah yang akan mengelola tambang itu. Jadi meskipun kita kehilangan tambang itu, kita bisa melakukan sesuatu mengenai pengelolaanya. Temukan siapa yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan tambang yang lama.

Pengurus: Daerah itu di bawah kuasa Tuan Jinryu.

Sunhwa: Benarkah?

Pengurus: Bagaimana dengan orang-orang kita yang dibawa mereka?

Sunhwa: Kau harus mengeluarkan mereka.

Pengurus: Baiklah, aku mengerti. (Dia bangkit dan mau pergi)

Sunwa: Tidak! Aku akan pergi bersamamu dan menemui pejabat itu.

Bomyung: Kau sendiri?

Chogee: Ya … itu …

Sunhwa: Aku adalah seorang pedagang sekarang, aku harus bertemu dengan orang-orang. (Bangkit berdiri dan pergi).

DI KANTOR PEMERINTAHAN

Pengurus: (Membungkuk hormat) Terima kasih karena telah melakkukan ini bagi kami.

Petugas: Aku melepasmu karena kau tidak punya maksud yang jelek. Tapi jangan mendekati tambang itu lagi.

Pengurus: Ya, aku mengerti! (Kepada anak buahnya) Ayo kalian harus pergi sekarang!

Sunhwa: (Menghampiri petugas) Aku adalah Jin Gakyung, dan akulah yang menyewa mereka.

Petugas: Jadi?

Sunhwa: Aku ingin berbicara dengan Gubernur. Ijinkan aku menemuinya. (Petugas itu memandang dengan pandangan menyelidik) Ini bukan sesuatu yang buruk, jadi ijinkanlah aku menemui beliau.

KEMUDIAN

Sunhwa menemui Gubernur Jinryu

Gubernur: Kau eorang pedagang?

Sunhwa: Ya, aku adalah pedagang dari China, Jin Gakyung.

Gubernur: Silahkan duduk! (Mereka duduk) apa yang membuatmu ingin menemuiku?

Sunwha: Tidak begitu lama, aku baru saja kembali dari China, tetapi Tuan Hadeoju dan Jenderal Sun terlalu  memuji diriku, (Gubernur kaget) sehingga aku bisa membuka toko di Istana Sabi.

Gubernur: Benarkah?

Sunhwa: Aku ingin melakukan sesuatu dengan toko-tokoku.  Bisakah kau mengijinkan kami untuk mengelola tambang yang telah ditemukan oleh orang-orangku?

Gubernur: … (berdehem, berpikir)

Sunhwa: Aku tidak akan melupakan kebaikanmu.

Gubernur: (tersenyum paksa) Itu sebetulnya bukanlah masalah yang sebenarnya.

Sunwha: Bukan masalah yang sebenarnya? … Semua tambang di China adalah milik dari pemerintah, tetapi bangsawan atau pedagang boleh mengelolanya. Bukankah Baekjae juga sama?

Gubernur: Baekjae juga sama, tetapi tidak untuk jenis permata itu.

Sunhwa: Apa maksudmu? Apa bedanya?

Gubernur: Tambang permata jenis itu dimiliki oleh Raja.

Sunhwa: Maaf?

Gubernur: Para prajurit yang menjaga tambang itu bukanlah dariku. Pengawal Raja-lah yang langsung menjaganya.

Sunhwa: Pengawal Raja?

Gubernur: Segala sesuatu yang bersangkutan dengan permata itu, jumlah hasil tambang dan waktunya harus diperintahkan dari Istana dan hanya menjadi milik dari Raja.

Sunhwa: Apakah permata itu begitu berharga?

Gubernur: Aku juga tidak tahu.

KEMUDIAN

Sunhwa kembali ke kediaman sementaranya.

Sunhwa: Pengurus! Apakah Pengurus ada di sini?

Suara Pengurus: (dari luar kamar) Ya!

Sunhwa: Bawa orang-orang yang menemukan tambang permata itu.

Suara Pengurus: Baik, segera kulakukan.

Pengurus masuk bersama dua orang yang menemukan tambang itu. Mereka membungkuk hormat kepada Sunhwa lalu duduk.

Sunhwa: Kalian telah banyak menderita.

Pria 1: Ini memang menyedihkan, tapi tidak terlalu membuat kami menderita.

Sunhwa: (memberikan sekantung uang) Aku berharap ini sedikit mengurangi penderitaanmu, periksalah isinya.

Pria 1: Anda tidak harus melakukan ini.

Sunhwa: Omong-omong, Seperti apa permata yang kau lihat?

Pria 1: Warnanya kuning dan biru.

Sunwha: Biru?

Pria 1: Ya! Dan itu bercahaya di gua yang gelap!

Sunhwa: Bercahaya? Benarkah itu bercahaya?

Pria 1: Ya .. (mengangguk)

Sunhwa: Katakan secara persis, dapatkah kau memerincinya sekali lagi?

Pria 1: Sebenarnya, aku …

Sunhwa: Tidak dapatkah kau memberiku penjelasan secara detil?

Pria 1: (kepada teman-temannya) Bagaimana, apakah kalian dapat memikirkan sesuatu, kawan-kawan?

Pria 2: Yah… sejujurnya …

Sunhwa: Apa? (pria itu mengambil sesuatu dari kantong dompetnya)

Pria 2: (dengan nada sedikit malu) Aku punya sedikit kebiasaan yang … (meletakkan sebuah benda di atas meja)

Benda itu ternyata sebongkah batu permata berwarna biru, Sunhwa sangat terkejut, ia meraihnya dan menggenggamnya, permata itu berpendar biru di tangannya.

Sunhwa: Ini …. ini adalah permata dengan lima warna. Raja yang memilikinya dan hanya pihak Istana yang boleh  mendapatkannya.

KEMUDIAN

Heukjipyung menyuruh bos preman dan temannya untuk bersantai-santai saja di Savisong tetapi tugas mereka sebenarnya adalah mencari Seongdo, karena jika ia mengutus prajurit mencarinya maka Seodong pasti akan bersembunyi, dan jika mereka menemukannya, mereka harus mengikutinya secara diam-diam dan mencari tahu dimana dia tinggal dan melaporkannya kepada Heukjipyung. Sopal mengawasi semuanya itu dari kejauhan.

KEMUDIAN

Aja: Benarkah bahwa anak dari Yeongamo adalah pemilik kalung ke-4? Pangeran ke-4 dari Raja!

Wangoo: Benar. Jadi Jenderal tidak membunuh Pangeran ke-4.

Baekmoo: Aku pikir tidak.

Aja: Jadi sebenarnya apa yang terjadi?

Baekmoo: Aku tidak yakin tapi dia mengutus beberapa orang untuk mencari Pangeran ke-4 ke Achak beberapa waktu yang lalu.

Aja: Sial! Sial!

Baekmoo: Dan dia muncul beberapa hari yang lalu.

Wangoo: Apa? Dia muncul? Siapa? Pangeran ke-4?

Bekmoo: Ya, dan mereka sedang mencari dirinya.

Aja: Kita harus menemukannya terlebih dahulu. Kita harus menemukannya! Utus beberapa pengawalku, awasi gerakan dari Heukjipyung! Gerakannya akan memberitahu kita apa sebenarnya yang sedang mereka rencanakan.

Baekmoo: Baik, Tuanku. (Dia pergi)

Aja: … (menghela napas)

Wangoo: Pangeran, apakah kita harus memberitahu Raja tentang ini?

Aja: Tidak, dia mengira kalau pangeran ke-4 sudah mati. Dia justru nanti akan lebih khawatir kalau mengetahui pangeran ke-4 masih hidup. Aku akan memberitahunya jika segala sesuatunya sudah pasti dan kita sudah menemukannya.

Wangoo: Baik.

KEMUDIAN

Kedua orang yang disuruh Heukjipyung berkeliling di pasar dan kedai, menyamar dan memakai topi lebar, berusaha menutupi wajah mereka. (Andy: hahahaha … wajahnya bisa disembunyikan tapi tingkah lakunya aneh, jadi tetap aja orang-orang menaruh perhatian sama mereka… :D)

KEMUDIAN

Mokrasu: Aku akan menampilkan Myunggwanggae (Baju Besi Emas / Perisai Bersinar – terjemahanku) di perayaan ini. Jadi Giroo harus mengajarkan cara membuatnya pada yang lain.

Giroo: Baik!

Mokrasu: Jang, apakah kau sudah memesan banyak pernis warna kuning ke pedagang?

Jang: Ya, aku sudah mengirim orang ke selatan, untuk membawa sebanyak yang mereka bisa.

Mokrasu: Kalau begitu pergilah dan kumpulkan mereka.

Jang: Baik. (Mokrasu pergi)

Juriyeong: (bergabung dengan mereka) Jang ada seseorang bernama Sopal yang ingin bertemu denganmu.

Jang: Baiklah, terima kasih.

KEMUDIAN

Sopal sedang menunggu di depan Pintu Gerbang Taehaksa.

Sopal: Jang! Jang!

Jang: Apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau kau ketahuan?

Sopal: Aku harus mengatakan ini padamu! (Berbisik di telinga Jang) Jangan pergi ke pasar dan tinggallah di Taehaksa untuk sementara waktu.

Jang: Aku tidak dapat melakukan itu.

Sopal: Kalau begitu apa yang akan kamu lakukan?

Jang: Kau pergi ke rumah Daejang sekarang! (Berbisik di telinga Sopal)

KEMUDIAN

Jang memancing bos preman dan temannya dengan muncul di pasar berpura-pura membeli sesuatu. Bos preman melihat dan mengenalinya. Jang segera pergi dan berjalan seakan-akan tidak tahu kalau dirinya diikuti. Jang masuk ke dalam suatu rumah, kedua orang itu mengikutinya ke dalam.

Anak buah bos preman: Kak, rumah apa ini?

Bos preman: Seperti yang terlihat di sini, banyak orang yang keluar dan masuk setiap waktu. Ini adalah sebuah rumah pedagang. Apakah ia sekarang jadi pedagang?

Anak buah: Pedagang?

Tiba tiba bos preman melihat dua pasang kaki bersepatu mendekati mereka. Bos preman sangat kaget ketika melihat dua orang berwajah galak memandang kepada mereka. Mereka berdua, Si bos dan anak buahnya,  tertawa paksa

Bos preman: Bagaimana kabar kalian? (sambil membalikkan tubuh)

Tapi mereka lebih kaget lagi ketika melihat dua orang sudah ada di belakang mereka, mengawasi dengan mata tajam. Kedua orang bandit itu diseret masuk ke dalam menemui Jang dan Daejang. Mereka berdua dipaksa berlutut di hadapan Jang.

Bos preman: Oh! Jang! Kau mengenalku khan? (Jang terkejut karena ia mengenali mereka) Hey! Ini sangat bagus kami dapat bertemu denganmu lagi di sini.

Anak buah: Ya! Bagus bertemu denganmu.

Daejang: Bawa mereka pergi

Penjaga: Baik!

Anak buah: Hey, Seodong … Seodong (Mereka berdua diseret pergi)

Daejang: Temanmu Sukdoo aman di sini. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Jenderal sangat ingin untuk menemukanmu?

Jang: Aku tidak tahu!

Daejang: Kau tidak tahu?

Jang: Aku tidak tahu mengapa dia mencariku.

Suara Sunhwa: Aku pikir aku sudah menemukan alasannya.

Jang: …

Sunhwa: Mengapa Jenderal mencari Seodong-Gong. (berjalan mendekat) Dan apa makna sebenarnya dari Kalung Oh Saek Ya Myong Ju milikmu, aku sudah menemukannya.

11 comments on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 27

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s