Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 30

Jang: Aku masih belum memanggilmu hyungnim (kakak). Hyungnim … tidak boleh seperti ini!

Aja: Panggil aku lagi. (Aja mulai sadar)

Jang: Cheon Na (Yang Mulia Pangeran) …

Aja: Kau menyelamatkanku lagi.

Jang: Cheon Na!

Aja: Panggil aku hyungnim! Aku merasa lebih baik ketika kau memanggilku dengan hyungnim. Adik pertamaku mati muda, adik kedua telah terbaring sakit selama 5 tahun, dan … adikku yang ketiga, aku bahkan tidak tahu wajahnya. Aku ingin mencarinya, tapi aku tak dapat menemukannya.

Jang: …

Aja: Surat yang kau berikan padaku berasal darinya. Aku pergi seorang diri ke tempat yang dijanjikannya tetapi ia tidak muncul.

Jang: Sendirian? Apakah kau pergi seorang diri?

Aja: Ya. Adikku bilang kalau kalung kami telah tertukar, berarti dia pernah melihatku. Bagaimana bisa dia tidak muncul. Atau mungkin Sun sudah menangkap dan membunuhnya kemudian mencoba untuk menjebakku. Aku sangat khawatir kalau dia dendam padaku atau apa?

Jadi, Jang. Daripada dia lebih baik kau yang memanggilku hyungnim.

Jang: Ya, hyungnim. (Aja tersenyum senang) Ya, hyungnim.

Jang mengambil kalungnya dan menyerahkannya pada Aja. Aja melihatnya dan membalik kalung itu dan melihat angka 1 (dalam huruf China) terukir di balik kalung. Aja sangat terkejut.

Aja: Ini … ini adalah …

Jang: Ya, hyungnim (Aja menatapnya tak percaya), aku adalah adikmu yang ketiga, Jang.

Aja: Kau … kau benarkah … adikku yang ketiga? (Aja masih tak dapat mempercayai)

Jang: Ya, aku adalah anak Yeongamo!

Aja: (masih shock) Bagaimana ini … bagaimana bisa? (Aja menatap Jang)

Jang: Cheon Na… Cheon Na … (Aja memegang erat tangan Jang)

Aja: Kau sangat dekat, kau sangat dekat di sampingku, tapi aku tidak mengetahuinya. (Mata Aja berkaca-kaca, bahagia bercampur haru) Karena itulah kau merasa sangat menghargaiku, itulah mengapa aku sangat menyukaimu. Kau bersamaku di setiap krisis. Karena dirimulah aku bisa hidup sampai sekarang. Mengingatkanku saat pertama kali kau mengawalku ke Istana dan ketika kau mendapatkan kemenangan di pertempuran Cheonwie. Setelah bertemu denganmu, aku mulai berubah. Aku ingin punya kepercayaan diri, aku mempercayaimu dan aku ingin kau mempercayaiku.

Jang: … (merasa terharu – red: aku juga … hiks hiks, sempet netes air mataku :P)

Aja: Ini pasti karena hubungan darah. Pasti karena kita adalah satu keluarga!

Jang menggenggam erat tangan Pangeran dengan kedua tangannya.

Jang: Kau sangat gembira menerimaku sebagai adik dan keluarga, tak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan perasaanku sekarang.

Walaupun aku tidak diterima sebagai adikmu, aku bersumpah untuk melindungi impianmu. Aku tahu impianmu yang  tulus, aku ingin mewujudkannya bersamamu. Aku mau mengikutimu dalam segala keadaan.

Tapi sebagai manusia, aku tak dapat menanggung kesedihan tidak diterima sebagai anggota keluarga. Aku tidak mengetahui kalau kau akan begitu gembira. Aku memiliki sedikit dendam di hatiku.

Tolong maafkan aku. Maafkan aku karena tidak mempercayaimu.

Aja: Jang!

Jang: Taeja Cheon Na!

Jang menundukkan kepalanya mencium tangan Pangeran, Pangeran menundukkan kepalanya mengadu kepalanya  dengan kepala Jang. Mereka berdua sangat bahagia … berdiam tanpa berkata-kata … melebihi semua kata-kata itu sendiri.

ISTANA RAJA

Weeduk: (marah) Kau tidak tahu apakah Pangeran mati atau hidup?

Mokrasu: Ampuni aku, Yang Mulia.

Wngoo: Apa yang terjadi? Ceritakan pada kami secara detil.

Mokrasu: Dia melakukan ritual di gua sesuai dengan urutannya. Dia sedang melakukan ritual terakhir untuk menerima naga kuning. Tapi pelayan yang mengantarkan naga kuning mencoba untuk membunuh Pangeran.

Weeduk: Apa?

Wangoo: Pembunuhan gelap?

Jang: Untungnya Jang menyadari ada pergerakan yang aneh, pembunuh itu gagal, tapi Pangeran masih tertusuk.

Weeduk: (kaget) Apa?

Wangoo: (khawatir) Lalu?

Mokrasu: Aku merawatnya dengan apa yang bisa kulakukan, dan ketika kami keluar dari gua, para pembunuh bayaran sedang mengejar kami. Untuk memancing mereka menjauh dari Pangeran, kami terpaksa berpisah.

Weeduk: Aku seharunya mengetahui ketika Sun dengan sukarela pergi ke perbatasan.

Wangoo: Jadi kau tidak tahu kejadian selanjutnya?

Mokrasu: Tidak!

Weeduk: Kirim pasukan ke Achak, SEKARANG!

Wangoo: Baik! (Dia bergegas pergi)

Weeduk: Apa yang harus kulakukan sekarang?

Mokrasu: …

Weeduk: (bergumam) Kumohon kau harus selamat! Kumohon kau harus tetap hidup!

MokRasu: … (terlihat khawatir)

KEMUDIAN

Wooyung masuk ke ruangan di mana Haedoju dan Gye sedang bercakap-cakap.

Wooyung: Sesuatu pasti telah terjadi!

Gye: Apakah dia mati?

Wooyung: Hanya Mokrasu yang ada di ruangan Raja.

Haedoju: Kami juga sudah mendengarnya.

Wooyung: Upacara akan dilangsungkan segera. Mungkinkah kalau Mokrasu saja yang kembali!

Haedoju: Karena itu sudah terjadi, tidakkah kita lebih baik mengirim prajurit untuk lebih memastikannya?

Wooyung: Jangan! Jangan lakukan apapun. Itulah mengapa kakak meninggalkan tempat ini.

Gye: Kau benar!

Wooyung: Seseorang yang terpercaya mungkin yang melakukan ini. Kita harus berpura-pura kalau kita tidak mengetahui apapun. (Buyo-Gye dan Haedoju mengangguk tanda setuju)

KEMUDIAN

Aja: Mendengarkan ceritamu, kukira kau sudah mengetahui semuanya, kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?

Jang: Sejujurnya, aku baru saja mengetahui kalau Jenderal-lah yang ingin membunuhku. Aku mengetahuinya ketika aku menyelidikinya.

Aja: Apakah Sun yang melakukan ini?

Jang: Ya, Cheon Na! Aku tahu ini sangat kasar, tapi aku ingin mengetahuinya, apakah ini hanya tindakan dari Jenderal seorang atau keluarga Raja yang menginginkannya? Akulah yang  memberikan surat itu padamu.

Aja: Jadi kau salah paham terhadapku kalau aku yang membawa prajurit itu, yang kau lihat di tempat perjanjian itu.

Jang: Ya, Cheon Na. Aku sungguh-sungguh minta maaf.

Aja: Tidak. Baguslah kalau kau tidak muncul saat itu. Jika kau menunjukkan dirimu, Sun akan mengetahui identitasmu. Dan kita mungkin tidak akan pernah bertemu sekarang.

Jang: tapi, Cheon Na, jika keberadaanku mengganggu posisimu, aku akan tetap menjadi diriku sebelumnya.

Aja: Kalung permata 5 warna milikmu. Kau kira siapa yang memberikannya padamu? Hanya raja yang bisa memberikannya padamu. Itu artinya, ketika sampai pada saat yang tepat, dia akan mengakuimu. Ketika kalung kita tertukar, dia pikir kau telah dibunuh oleh Sun, dan dia meneteskan air matanya.

Jang: …

Aja: Kau harus mengerti penderitaan di hatinya …

Jang: Tentu saja! Aku tidak mendendam padanya.

Aja: Kau tahu mengapa aku akhirnya menerima penyerahan tahta ketika Raja masih hidup? Raja ingin impiannya yang terbesar akan diwariskan kepadaku.

Apa jiwa dari Baekjae? Untuk mengelola langit dan bumi, dengan pendidikan dan teknologi yang menyejahterakan rakyat. Itu bukan berarti kita menaklukkan sebidang tanah untuk mendapatkan keuntungan. Itu berarti kita harus memperkaya kehidupan rakyat.

Jang: Arti dari impiannya yang terbesar untuk mewariskan tahtanya padamu adalah ?

Aja: Untuk membangun kembali keagungan Baekjae! Dia berpikir telah meruntuhkan usaha ayahnya, Raja Sunhwang, yang berusaha untuk membangun kembali Baekjae. Dia menyalahkan dirinya karena telah meruntuhkan Baekjae. Dia ingin meringankan kesedihan karena telah membuat kita tidak aman. Dia ingin aku mencapai itu.

Sun yang melupakan misi kerajaan, berkonspirasi dengan para bangsawan untuk mendapatkan keuntungan. Dia ingin mengambil Baekjae dari kita.

Jang: Cheon Na!

Aja: Jadi ketika Raja mengetahui dirimu masih hidup dan menjadi orang yang hebat, dia akan terlebih gembira daripada aku. Dan sekarang ketika ia menemukanmu, dan juga karena aku telah memutuskan untuk mengikuti harapannya, dia akan sangat bahagia. Sekarang kita bisa saling menjaga satu sama lain. Aku memilikimu yang lebih berharga daripada 10 ribu prajurit Sun.

Jang: Hyungnim

Aja: Apa yang harus kutakutkan? Apa yang dapat menghentikanku?

Jang: Hyungnim!

Aja: Jang!

KEMUDIAN

Sunhwa dan Soochong (lengan kanan diperban) menunggu laporan dari Daejang, yang baru saja masuk. (Andy: I love u Soochong, pengawal paling setia dari Sunhwa😛, sangat senang karena masih hidup, sakti sutradaranya :P)

Daejang: (kepada Soochong) Bagaimana kondisi badanmnu?

Sunhwa: Untunglah lukanya tidak terlalu dalam.

Daejang: Untunglah kalau begitu!

Sunhwa: Apa yang terjadi?

Daejang: Aku mengutus beberapa orang.

Sunhwa: (Kepada Soochong) Kita harus dapat menemukan mereka sebelum pihak musuh!

Soochong: Baik!

Daejang: Aku akan mencari di sekitar Achak dan daerah-daerah di sekitarnya.

Sunhwa: (khawatir) Darah menetes di goa, jadi seseorang pasti telah diserang di sana. Jadi temukan kalau ada orang yang mampir ke rumah tabib.

Daejang: Baiklah!

Sunhwa: … (mendesah, sangat kalut, gelisah memikirkan keadaan Jang dan Pangeran)

KEMUDIAN

Heuk jipyung berkuda menuju ke perbatasan.

DI PERBATASAN

Chilryo dan Sun bediskusi

Sun: Jadi apa yang akan kita lakukan?

Chilryo: Kita harus tetap mengawasi dan berjaga.

Sun: Aku berpikir kalau Ko-Kuryo tidak berniat untuk menyerang.

Chilryo: YA, benar. Memang lebih baik bertahan dulu.

Sun: Aku akan memerintahkan untuk membuat dinding pertahanannya lebih tinggi lagi.

Chilryu: Ya. (Mereka berdua berdiam diri beberapa saat, tenggelam dalam pikiran masing-masing)

Sun: Omong-omong, mengenai upacara….

Chilryo: Ya ?

Sun: Raja menggunakan semua usahanya untuk mengadakan upacara itu, apakah ada alasan yang lain?

Chilryo: Seperti yang sudah Raja katakan, ia ingin mengadakan kembali upacara besar yang sebelumnya selalu di bawah standar.

Sun: Tetapi alasan dari Mokrasu menjadi Pimpinan Kepala Akademi terlalu tiba-tiba dan semuanya berjalan dengan cepat menjadi skala besar. Orang-orang butuh mempersiapkannya semua, kenapa kau tidak kembali saja?

Chilryo: Ah .. tidak.

Sun: Tempat ini kelihatanya baik-baik saja, bukankah lebih penting untuk melakukan hal yang mendesak?

Chilryo: Mengapa kau tidak meminta penarikan pasukan kepada Raja?

Sun: Meskipun perang mungkin tidak terjadi, semuanya akan menjadi lebih rumit kalau perang pecah ketika para utusan ada di negara kita.

Chilryo: … (berpikir, dan menganggukkan kepalanya)

Sun: Lebih baik aku yang menjaga di tempat ini sampai upacara selesai.

Chilryo: Aku juga akan melakukan hal yang sama.

Sun: Ya.

Chilryo: Ya!

KEMUDIAN

Sun berjalan-jalan di dalam benteng, Heukjipyung menemuinya.

Heukjipyung: Guru Giroo mengirim surat. (meneyrahkannya pada Sun)

Sun mengambil surat dan langsung membacanya.

Suara Giroo: Misi di gua telah gagal. Pangeran terluka parah, tetapi jenazahnya belum ditemukan. Tapi aku ada rencana terakhir, jadi percayalah padaku. Sampai aku memanggilmu, jangan pulang ke Savisong. Aku akan menyelesaikan ini.

Sun: Rencana terakhir aku harus mempercayainya.

Heuk: Apa isinya?

Sun: Dia mengatakan pada kita untuk bersantai-santai di sini.

KEMUDIAN

Jang: Kau tidak boleh pergi sekarang!

Aja: Upacara akan dilakukan besok. Semua persiapan telah selesai, dan jika seseorang melakukan kontak Raja akan sangat khawatir.

Jang: Tapi ini terlalu berbahaya dengan kondisimu saat ini. Aku sudah melakukan pengobatan darurat, tapi kau harus tetap istirahat.

Aja: Aku tidak punya waktu untuk itu. Raja akan menyatakan penyerahan tahta saat upacara. Aku juga akan mengatakan keberadaanmu.

Jang: Tapi di atas semuanya itu, kesehatanmu lebih penting!

Aja: Apakah kau tidak mendengarkan perkataanku? Mereka sudah mengetahui pikiran dari Raja, makanya mereka melakukan ini padaku. Ini adalah kesempatan besar. Semua harus diumumkan pada upacara ini. Sangatlah penting untuk datang ke upacara tepat pada waktunya. Jadi aku memberitahumu: Aku akan pergi ke sana! Aku akan pergi ke Istana dengan menyamar untuk menghindari pengawasan mereka.

Jang: … (ragu-ragu dan khawatir)

Aja: Kau kadangkalanya sangat berani, tapi mengapa sekarang begitu ketakutan?

Jang: … (tersenyum malu – red: menurutku sebenarnya Jang takut dengan keselamatan Aja, bukan dirinya. Dan ini terbukti nantinya :(  )

Aja: Aku akan waspada di sepanjang jalan, dan lagi kau bersama-samaku, benar khan?

Jang tersenyum, dan mengambil kalungnya kemudian mengalungkannya ke leher Aja.

Jang: Ya, Cheon Na. Aku akan bersama denganmu, naiklah tahta!

Aja: Oh ya, aku meninggalkan kalungmu di suatu tempat di sini. Carilah!

Jang: Aku tidak menemukan apapun, ketika aku kesini.

Aja: Apa? Apakah mereka mengambil semuanya?

Jang: …

Aja: Dasar bandit! Beraninya mereka menyentuh kalung Pangeran! Ayo pergi, aku akan menyingkapkan kekurangajaran mereka dan menyelesaikannya juga sekaligus.

Jang: Ya, hyungnim.

KEMUDIAN

Giroo masih mencari Jang dan Pangeran bersama dengan anak buahnya.

Prajurit: Aku pikir mereka tidak kemari.

Giroo: ….

Giroo mengawasi keadaan sekitarnya dan tiba-tiba ia melihat jejek-jejak kaki dengan noda darah di tanah.

Giroo: Tunggu! (berpikirt) Gua! mereka ada di Gua!

Prajurit: Apa? Gua?

Giroo: Sial, betapa bodohnya aku! Ayo pergi ke gua! SEKARANG!

Para prajurit: Baik! (Mereka segera bergegas ke gua)

KEMUDIAN

Jang kembali ke perkemahan dan gudang obat untuk mengambil beberapa barang untuk membuat ramuan, kemudian kembali ke gua.

Jang: Aku mempersiapkan beberapa obat, jika kau merasa sakit.

Aja: Beritahu aku caranya!

Jang: Aku akan menolongmu!

Mereka pergi keluar gua, tetapi di luar gua mereka dihadang oleh para pembunuh bayaran. Jang mengalahkan mereka semua dan berlari pergi meninggalkan mereka sambil mengawal pangeran. Banyak orang pergi ke depan gua.

Pembunuh bayaran: Mereka di sini! Ada di sini!

Wangoo: Tangkap dia!

Prajurit: Baik!

Wangoo: Siapa dia? Siapa yang menyuruhmu?

Pembunuh: …

Wangoo: Siapa ?

Pembunuh: … akh (tiba-tiba anak panah melesat ke dadanya … pembunuh itu mati)

Wangoo dan anak buahnya mencari asal panah, mereka melihat ke sekitar.

Wangoo: Kita tidak ada waktu! Kawal Pangeran segera, SEKARANG! (mereka segera berpencar mencari Pangeran)

Giro dan anakbuahnya melihat mereka dari tempat tersembunyi.

Giroo: Itu para pengawal raja, pancing mereka pergi! Menyebar sekarang dan pancing para pengawal itu satu satu!

Prajurit: Baik!

Giroo: Dan ketika kau berhasil memancing mereka, rencana terakhir akan dipercepat! Bertemu di tempat ‘itu’, mengerti!

Prajurit: Baik! (Kepada rekan-rekannya) Ayo kita pergi!

KEMUDIAN

Daejang kembali ke tempat Sunhwa.

Daejang: Para pengawal raja datang ke Achak.

Sunhwa: Sungguhkah?

Bomyung: Jadi mereka akan segera ditemukan?

Daejang: Tapi mereka belum menemukannya!

Sunhwa: Di mana mereka berada sekarang?

Bomyung: Upacara akan dilangsungkan besok, kita tidak dapat menunggu lagi!

Daejang: Aku sudah memberitahu pengurus, tapi aku juga khawatir kepadanya.

Soochong: Ini waktu yang tepat untuk pergi sekarang! Jika orang-orang kita bertemu dengan mereka, keadaan akan lebih buruk.

Sunhwa: Aku juga berpikir demikian.

Daejang: Kalau begitu kita perlu berangkat ke Savisong sekarang.

Sunhwa: Kau perlu menghadiri upacara itu. Aku akan tetap mencari mereka bersama Soochong dan Bomyung. Aku tidak tahu situasi dari mereka, jadi aku tidak bisa pergi seperti ini.

Daejang: Jika mereka baik-baik saja, maka mereka sekarang sudah dalam perjalanan ke Savisong. Lebih baik kita menanti di daerah Savisong. (Sunhwa sangat gelisah)

KEMUDIAN

Para pejabat berkumpul di Balairung Istana.

Weeduk: Hari ini adalah hari untuk melakukan upacara. Ini dimaksudkan untuk membangkitkan kembali nama Baekjae. Sampai upacara selesai, kalian harus memberikan yang terbaik.

Semua: Baik!

Gye: Tapi aku tidak melihat Pangeran di sini.

Weeduk: (sedikit gelisah) Dia baru saja menyelesaiakan ritual menyembah 1000 kali.

Gye: Yang Mulia, pada acara ini, kesungguhan Pangeran akan mencapai Surga. Maka dari itu upacara ini pasti akan berhasil.

Weeduk: Bagaimana suasana di luar?

Haedoju: Banyak orang datang untuk melihat upacara.

KEMUDIAN

Persiapan sebelum upacara.

Weeduk: Apakah semuanya sudah siap?

Mokrasu: Ya, Tuanku. Utusan dan para pedagang sudah datang.

Wooyung: Barang-barang yang akan ditampilkan dari Taehaksa juga sudah siap.

Mokrasu: Aku mengadakan hubungan dengan para utusan dan pedagang.

Wooyung: Tuan Buyo-Gye, Jin Gakyung, dan aku sendiri yang akan menagani para utusan dari China.

Giroo: Tuan Abigi dan aku akan menangani para utusan dari Persia.

Weeduk: Bagus! Apakah kalian juga akan menampilkan ramuan obat-obatan kita yang unik?

Gomo: Ya. Para utusan sangat tertarik dengannya.

Weeduk: Bagus… Lanjutkan, jangan sampai ada kesalahan!

Semua: Baik, Yang Mulia!

KEMUDIAN

Perayaan dimulai, para pedagang dan utusan diterima dan dilayani dengan baik. Mokrasu mengawasi semuanya, semua terlihat normal dan terlihat keceriaan di mana-mana. Mokrasu sedang mengawasi Giroo, saat seseorang membisiki sesuatu di telinganya, sehingga Mokrasu meninggalkan perayaan. Giroo melihatnya.

Mokrasu pergi menemui Raja Weeduk.

Weeduk: Apakah masih belum ada kabar dari mereka?

Mokrasu: Belum Tuanku.

Weeduk: Apa yang dapat kulakukan? Bagaimana?

Mokrasu: Yang Mulia, janganlah khawatir. Dia akan datang. Jika sesuatu terjadi, Jang pasti akan datang.

Weeduk: Aku harap begitu.

Mokrasu: Dia akan datang, dia pasti datang ke upacara.

Weeduk: … (merasa bingung)

KEMUDIAN

Gomo dan Maekdosu menunggu di satu ruangan, Mokrau masuk.

Mokrasu: Adakah pesan dari Jang?

Gomo: Tidak.

Mokrasu: Tidak juga dari Nyonya Mojin atau Bumro dan Eunjin?

Maekdosu: Aku bisa mati kalau menunggu mereka seperti ini! Mereka tidak mengirim satu pesanpun, dan sekarang aku merasa muram.

Gomo: Jangan mengatakan hal-hal seperti itu!

Maekdosu: Kau tidak tahu, Gomo! Aku sudah mengalami kematian salah seorang anakku. Jika itu terjadi lagi ….

Gomo: Uh … huh … Kata-kata itu bisa benar-benar terwujud!

Mokrasu: Dia pasti datang. Mereka pasti bersama-sama. Tidak akan mudah datang bersama dengan Pangeran.

Gomo: Ya!

Mokrasu: Mereka pasti akan mencoba untuk mengontak kita.

Maekdosu: Apa yang dapat kita lakukan? Beritahu aku, apa yang dapat kubantu?

Aku hanya duduk diam dan menunggu, mataku berputar-putar dan obat-obatan tak bisa mengobatinya. Aku merasa lelah tapi aku tak bisa tidur. Sekarang, bahkan aku tidak melihat dunia luar lagi.

Mokrasu: Kau pergilah ke Jin Gakyung.

Maekdosu: DAn?

Mokrasu: Suruh dia mengutus beberapa orang, dan kirim ke setiap pintu gerbang Savisong dari Achak.

Maekdous: Aku akan cepat!

Mokrasu: Jika ada di antara mereka menghubunginya, beritahu aku secepatnya!

Maekdosu: Itu pasti! (Meninggalkan ruangan)

Mokrasu: Aku harus meletakkan dupa di atas altar. Kau tinggal dan tunggulah di sini.

Gomo: Aku akan melakukannya.

KEMUDIAN

Mokrasu membawa pedupaan ke atas altar dan meletakkannya di atas meja altar. Ia berbalik menghadap rakyat dan mengawasi mereka, kalau-kalau ia bisa melihat Jang dan Pangeran di antara rakyat.

Semua anggota Taehaksa sibuk mempertunjukkan penemuan baru mereka pada para penonton. Wooyung dan Giroo melayani para utusan dan mengantar mereka untuk melihat-lihat. Sunhwa datang bersama orang-orangnya, ia menyebar anakbuahnya untuk mencari Jang.

KEMUDIAN

Jang dan Aja menyamar rakyat biasa datang ke upacara itu.

Jang: Aku melihat altar. Tampaknya semua sudah dipersiapkan. Ini akan dimulai.

Aja: Benar. Kelihatannya seperti itu.

Jang: Kita dapat menyusup di antara rakyat. Kita hampir sampai di sana.

Aja: Baiklah, ayo!

Mereka berdua menerobos kumpulan orang-orang, Jang melihat Sunhwa, tapi tak menemuinya. Mereka berdua tetap berjalan di antara kerumunan orang, Jang sedang mengawasi orang-orang di sekitarnya, Aja mengikutinya di belakang. Tiba-tiba ada orang menyenggol Aja dan menusuknya. Jang mencoba meraih orang itu tetapi ia luput.

Aja: (suara parau) Jang!

Jang: (kaget) Cheon Na. (ia menghampiri Pangeran)

Aja: (menahan sakit) Jang!

Aja rubuh ke tanah, orang-orang di sekitarnya terkejut dan berusaha menolongnya

Jang: Cheon Na! Cheon Na! Cheon Na! Cheon Na! (mendudukkan Aja)

Aja menatapnya dengan pandangan menyesal, ia melihat ke arah perutnya, tangannya merah penuh berlumuran darah.

Jang: (panik) Cheon Na! Cheon Na!

Aja: … (merasa sudah dirinya tak kuat)

Jang: Cheon Na, tetaplah kuat! Raja sedang menunggumu.

Aja: (dengan suara lemah) Ya, ia pasti sedang menungguku. Aku punya berita yang sangat bagus.

Jang: Taeja Cheon Na!

Aja: Aku akhirnya dapat bertemu denganmu. Aku belum menjadi kakak yang sesungguhnya bagimu, justru aku berhutang sangat banyak padamu.

Jang: Jangan berkata begitu. Aku akan menjagamu selamanya. Kumohon tetaplah kuat! (Jang menarik Aja mendekat)

Aja: (hampir berbisik) Aku minta maaf! (Jang menangis – red : Sial … aku nangis juga ini😦 ) Baekjae … (mengumpulkan sisa kekuatan) Baekjae …. kumohon jagalah Baekjae … Jang. (Aja tertunduk lemas menyandar pada bahu Jang, jiwanya sudah mendahului pergi)

Jang: Taeja Cheon Na! Taeja Cheon Na! (berteriak) Taeja Cheon Na! Taeja Cheon Na! Taeja Cheon Na! (menangis, memeluk erat tubuh Aja) Tidak! Tidak! (mengguncang tubuh Aja) Taeja Cheon Na! Taeja Cheon Na!

Rakyat keheranan, dan keributan itu akhirnya sampai ke para pedagang, Sunhwa datang melihat, Wooyung datang, Giroo mengintip dari balik punggung orang banyak, Maekdous menyela untuk melihat. Para anggota Taehaksa lainnya juga datang melihat, Wangoo datang terlambat dan terkejut melihat Aja dipeluk oleh Jang yang menangis dan berteriak-teriak memanggil, “Taeja Cheon Na!” berulang-ulang.

Semua orang segera berlutut dan menangis meratap, meneriakkan, “Taeja Cheon Na” berulang-ulang. Sunhwa dan Daejang sangat terkejut dan cemas. Buyo-Gye juga tampak terkejut memandang Wooyung yang balas memandangnya. Giroo segera berlalu.

Suara hati Jang: Kau tidak bisa melakukan ini! Kau tidak dapat pergi seperti ini! Kau menyuruhku memanggilmu hyungnim, kau memintaku untuk tetap bersamamu. Raja masih menunggumu.

Jang mengingat saat ia mengantar Pangeran ke Istana dan bertarung dengan para pembunuh bayaran sehingga kalungnya tertukar.

Jangan memintaku untuk menjaga Ayah dan Baekjae. Jangan katakan kalau kau hanya memilikiku! Aku tak ingin sendirian.

Jang mengingat saat di goa di Achak dimana Jang membuka identitas dirinya kepada Aja.

Jangan katakan kalau aku dapat melakukan segala sesuatunya dengan baik. Aku mau mencapai semuanya bersama denganmu. Jika kau mati seperti ini, aku seharusnya tidak tahu semua ini. Anak siapa aku, saudaranya siapa aku ini. Aku seharunya tidak mengetahui keinginan ayah dan impianmu. Ini tidak benar! Ini tidak boleh terjadi! (Jang menangis dan memeluk Aja, semua orang hanya bisa menangis dan mengawasi mereka) Semua orang tetap berlutut dan menangis meratap.

KEMUDIAN

Mokrasu memasukkan pedang tujuh lekuk ke dalam kotak. Ia sedang akan keluar ketika Maekdosu berlari ke arahnya dan berteriak-teriak dengan sedih.

Maekdosu: Guru! Guru! Guru!

Mokrasu: Apakah kau menemukan Nyonya Mojin?

Maekdosu: Taeja Cheon Na … Taeja Cheon Na sudah … (menangis tak bisa melanjutkan kata-katanya)

Mokrasu: (terkejut) Apa ada yang salah?

Maekdosu: (menangis) Taeja Cheon Na baru saja meninggal. (Gomo masuk, Mokrasu menjatuhkan kotak pedang)

Mok: Apa?

Gomo: Apa yang kau katakan? (Maekdosu menangis tersedu-sedu)

Mok: Siapa? Siapa yang mengatakannya? Tidak, ini tidak mungkin!

Maekdosu: Aku baru saja melihatnya di pasar.

Mokrasu: Apa? Di pasar?

Maekdosu: Ya! Dia ditusuk oleh seseorang!

Gomo: Ini pasti tidak benar! Banyak orang berlalu lalang di sana. Bagaimana mungkin?

Makedosu: Aku sendiri juga tak dapat mempercayainya. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Aku tak dapat percaya ini! (menangis lagi)

Gooksoo: (masuk ke ruangan diikuti anggota lain) Guru! Guru! Bagaimana bisa … Bagaimana bisa ini terjadi?

Mokrasu terduduk lemas tak berdaya sangat terkejut dan tak percaya.

Mokrasu: (berbisik lemah) Taeja Cheon Na.

Semua anggota Taehaksa: Taeja Cheon Na! Taeja Cheon Na!  (Mereka semua jatuh terduduk di lantai dan meratap)

Mokrasu: (berseru) Taeja Cheon Na!

KEMUDIAN

Raja Weeduk sedang gelisah di kamarnya tak mengetahui kalau ada keributan besar di luar. Wangoo masuk sambil menunduk.

Weeduk: Akhirnya kau datang.  Bagaimana? Apakah kau sudah menemukan Pangeran?

Wangoo: …

Weeduk: Apakah kau sudah menemukannya? Apakah kau datang dengan tangan hampa?

Wangoo: … (menahan tangisnya)

Weeduk: Ada apa? Kau bisa memberitahuku!

Wangoo: (serak) Aku sangatlah menyesal menjadi orang yang mengatakan ini padamu, Yang Mulia, …

Weeduk: Beritahu aku sekarang!

Wangoo: (menangis) Taeja Cheon Na sudah …. (menahan tangis) … Dia sudah meninggal (menangis lagi).

Weeduk: (sangat shock) Apa?

Wangoo: Dia diserang di pasar. (menangis)

Weeduk: (masih shock, tubuhnya bergetar) …. Tidak mungkin! Taeja … (berteriak) Ini tidak benar … (bergegas keluar)

KEMUDIAN

Jenazah pangeran sudah diletakkan di dalam peti mati, dibawa kembali ke Istana dengan diusung oleh para prajurit dan diiringi oleh semua pejabat kerajaan. Raja menemui iring-iringan itu dan menyentuh peti mati Aja.

Weeduk: Bagaimana … (mulai menangis) bagaimana … (tubuhnya bergetar, menahan tangis) Ini semua adalah kesalahanku. (Jang mengawasi Raja) Aku yang membuatmu seperti ini. Maafkan aku. (menangis menyesal) Maafkan aku.

Semua pejabat menundukkan kepala. Raja menangis tersedu-sedu di atas peti mati Aja.

PERBATASAN KO-KURYO

Sun: Upacara pasti berlangsung dengan baik.

Chilryo: Ya, itu pasti!

Suara Heukjipyung: Tuan Jenderal! Tuan Jenderal (masuk tergesa-gesa) Jenderal, sebuah pesan datang dari Istana Sabi.

Sun: Apa itu?

Heuk: Taeja Cheon Na …. (Sun berpandangan dengan Chilryo) Taeja Cheon Na sudah meninggal.

Sun: (kaget) Apa?

Chilryo: Apakah itu benar?

Heuk: Ya.

Chilryo: Bagaimana? Bagaimana ini bisa?

Sun: Apa yang terjadi? (berseru) Bagaimana bisa ini terjadi?

Heuk: Dia diserang di pasar tepat sebelum upacara dimulai.

Chilryo: … (menahan duka)

Sun: Sial … sial … Aku harus pergi ke Istana sekarang. (Bangkit berdiri) Ayo berangkat! (Mereka keluar, Chilryo menyusul)

KEDIAMAN SUNHWA

Jang duduk di kamar sendirian, Sunhwa masuk menyentuhnya kemudian duduk di hadapannya.

Sunhwa: Aku mengingat apa yang biasa diucapkan oleh ayahku, “Pertempuran untuk tahta lebih keras daripada pertempuran antar bangsa”. Aku sangat takut dan sedih.

Jang: Pangeran tahu identitasku.

Sunhwa: Kau yang telah memberitahunya?

Jang: Ya! Itu semua adalah kesalahpahaman. Dia sangat gembira mengetahuui aku adalah adiknya. Dan dia bergurau denganku. Dia berkata aku adalah kekuatan baginya, tapi …  tapi aku tak dapat melindunginya kali ini. Aku seharusnya melindunginya. Tapi aku tak mampu.

Sunhwa: Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Itu adalah kehidupannya. Ini adalah takdir dari Langit.

Jang: Tidak, ini dilakukan oleh manusia. Manusia dengan niat yang jahat. Aku tidak akan cuma menonton. Aku tak dapat hanya melihat.

Sunhwa: Apa yang akan kau lakukan?

Jang: …

Sunhwa: Tidak ada seorangpun yang tahu akan dirinya dan tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan dilakukan kepadanya.

Jang mengambil sebuah benda dari balik bajunya dan diletakkan di atas meja. Sebuah plakat kayu.

Sunhwa: Apa itu?

Jang: Tanda pengenal yang kurebut dari orang yang membunuh Pangeran. Posisi, nama, dan usianya ada di sini, jadi aku dapat menemukannya. Mereka pasti merupakan sekelompok orang. Aku akan menemukan setiap orang dari mereka.

Sunhwa: … (menatap Jang)

Jang: Kau harus mencari Nyonya Mojin, Eunjin dan Bumro, yang masih belum datang kembali.

Sunhwa: Baiklah.

Jang: Aku khawatir karena mereka masih belum ada di sini sekarang. Ini pasti juga perbuatan dari mereka.

Sunhwa: Jangan khawatir, aku akan menemukan mereka.

KEMUDIAN

Sun, Heukjipyung, dan Chilryo berkuda sampai di depan gerbang istana. Mereka bertiga segera berlari memasuki Istana.

Semua pejabat Istana dan Raja mengadakan upacara penutupan peti. Sun datang dan menghormat pada Raja.

Sun: Taeja Cheon Na, bagaimana ini bisa terjadi padamu? (Mulai deh sandiwaranya) Bagaimana mungkin seorang Pangeran dari Baekjae yang Agung diserang? Ini hal yang tak dapat diterima! Bagaimana bisa ini terjadi?

Semua pejabat terdiam, Chilryo menangisi kematian Pangeran Aja, menantunya. Wangoo melirik ke arah Sun.

Sun: Aku akan mencarinya. Bahkan jika harus mencari ke seluruh pelosok Baekjae, aku akan menemukan orang yang melakukan ini pada Pangeran! (Jang mengawasi Sun)

Sun: Cheon Na!

(dalam hati kepada arwah Aja) Janganlah kau pikir ini tidak adil. Berpikirlah ini yang memang seharusnya. Kutukilah takdir kita di tempat yang kejam ini.

Wooyung menatap Sun, Giroo menatap Jang,

KEMUDIAN

Pertemuan diadakan di Balairung Istana.

Sun: Apa yang para pengawal lakukan? Yang Mulia, seperti yang kudengar, ada pembunuh gelap di gua. Kenapa ia tidak berdoa bersama dengan orang lain.

Weeduk: Ini adalah kesalahanku.

Sun: Kenapa ini harus disamarkan? Apa alasannya?

Weeduk: Aku mencoba untuk menyerahkan tahta pada Pangeran.

Semua pejabat faksi Sun  ‘kaget’ (dibaca: pura-pura kaget).

Gye: Yang Mulia, walaupun itu keputusan yang sewenagn-wenang, tapi itu adalah keputusanmu, dan kami akan mengikutinya.

Sun: Tapi kenapa ini dilakukan dengan sangat buruk? Dan sekarang ini membuat kita membatalkan upacara dan semua utusan tahu akan hal ini. Bukan seorang rakyat jelata melainkan seorang Pangeran sebuah negara terbunuh di pasar. Kau seharusnya tidak mengirimku ke perbatasan, tapi sebaliknya untuk melindungi Pangeran. Aku akan melenyapkan semua yang melakukan ini. Aku akan menemukan orang yang melakukan ini pada pangeran.

KEMUDIAN

Sun dan Heukjipyung menunggu Jang.

Jang: apakah kau memanggilku.

Sun: aku mendengar kalau kau yang mengawal Pangeran. Kau kira kau siapa sehingga bisa melindungi Pangeran. Apa yang terjadi? Beritahu aku situasinya!

Jang: Ada serangan di dalam gua. Jadi aku mengawal pangeran dan melarikan diri. Guru Mokrasu memancing mereka pergi. Jadi kami terpisah.

Heuk: apa yang terjadi setelah itu?

Jang: Aku mengawal Pangeran, yang terluka parah,  kembali ke gua. Aku merawatnya dan pangeran menjadi sadar. Dan dia ingin datang ke upacara, aku sudah katakan jangan karena tubuhnya masih belum sehat. Tapi dia katakan tidak apa-apa, jadi kami pergi ke Istana. Tapi di pasar … siapapun yang melakukan ini dia akan dihukum. Siapapun yang menyuruhnya untuk melakukan ini dia akan dihukum juga.

Heuk: Apakah kau melihat orang yang menyerang pangeran?

Jang: Tidak, aku tidak dapat mengingatnya. (Sun menatapnya tajam)

Heuk: Katakan padaku jika kau teringat sesuatu.

Jang: Tak ada satupun yang dapat kukatakan. (Sun masih mentatapnya, Jang balas menatapnya dengan berani)

Sun: Baiklah, kau boleh pergi. (Jang membungkuk, pergi)

KEMUDIAN

Jang keluar dari ruangan Sun, ia bertemu Giroo di luar yang akan menemui Sun. Mereka saling mengawasi satu sama lain. Giroo meninggalkan Jang masuk ruangan.

Suara hati Jang: Aku akan menemukannya! (melihat pada plakat kayu milik pembunuh Aja) Pasti !

KEMUDIAN

Giroo menemui Sun di ruangannya, membungkuk hormat. Sun  menatapnya dan tersenyum. Giroo balas tersenyum.

Sun: Aku sangat terkejut akan kehalusan dan keberanianmu terus mempersiapkan segala sesuatunya di balik kegagalan. (Giroo tersenyum senang) Siapa yang tahu kalau kau dapat melakukannya. Aku tak pernah menyangka di pasar di mana semua orang mengawasi.

Giroo: Jika itu dilakukan  secara diam-diam, justru akan semakin besar kecurigaannya.

Sun: Aku tidak akan melupakan jasamu. (Giroo tersenyum senang, Heukjipyung merasa tidak senang)

Giroo: (menaruh beberapa barang di atas meja) Ini ada di dalam gua. Ini bisa menjadi bukti, jadi aku mengambilnya.

Sun: (mengenali kalung permata) Ini adalah milik Pangeran … (mengambil kalung) Karena ini … (Gye tiba-tiba masuk, Sun bangkit berdiri)

Gye: Sun, kau melakukannya ….

Sun: Apa kau mencurigaiku? Kalian salah, kali ini bukanlah aku yang melakukannya. (Wooyung merasa aneh) Apakah aku akan melakukannya ketika banyak orang melihatnya? Sayang …

Gye: Jadi …

Sun: Aku tidak tahu, mungkin ada seseorang yang memiliki dendam melebihiku. (Giroo tersenyum sinis)

KEMUDIAN

Mokrasu: Masih belum ada kabar dari Nyonya Mojin?

Gomo: Tidak. Bumro dan Eunjin juga tidak. Sekarang aku mulai berpikiran yang tidak-tidak.

Maekdosu: Guru! Aku tidak tahan lagi. Aku akan pergi dan menemukannya.

Suara Mojin: Guru!

Maekdosu: Oh .. itu Mojin! (pelan-pelan duduk dan memegangi telinganya)

Eunjin masuk ke ruangan.

Maekdosu: Sekarang aku melihat hantu.

Mokrasu: Apa yang terjadi? Mengapa kalian datang begitu terlambat? Di mana Nyonya Mojin?

Eunjin: Ibu menyuruhku untuk membawa Guru ke sana.

KEMUDIAN

Bumro dan Mojin keluar dari ruangan dan bertemu dengan Daejang dan Sunhwa.

Sunhwa: Apakah kalian sudah makan?

Bumroo: Ya. Orang itu sangat keras kepala, bagaimana mungkin dia bisa menolak untuk makan.

Mojin memberi hormat, Mokrasu dan Eunjin berjalan mendatangi mereka.

Mojin: Aku mendengar kabar mengenai Pangeran saat dalam perjalanan kemari.

Mokrasu: Aku mengkhawatirkan dirimu. Apa yang sebenarnya terjadi?

Mojin: Ikuti aku. (Mereka melihat ke dalam ruangan, Mokrasu sedikit terkejut)

KEMUDIAN

Jang sedang berjalan di pasar.

Jang: (kepada orang lewat) Apakah kau tahu Abidal?

Pria: Aku tidak tahu.

Jang masuk ke toko pakaian

Pemilik toko: Selamat datang

Jang: Apakah kau tahu Abdal? (Pemilik toko menggeleng)

Jang menemui beberapa orang yang sedang duduk.

Jang: Apakah kalian tahu Abidal? (Mereka menggeleng)

Jang menemui seorang pedagang dan bertanya tentang Abidal padanya.

Jang: Ya, kau mengenalnya?

Pedagang: Abidal? Aku kenal dia!

Jang: Dia berumur sekitar 25 tahun bukan?

Pedagang: Ya, sekitar itulah.

Jang: Dia sekitar 5 kaki tingginya dan sangat cepat, benar?

Pedagang: Tapi mengapa kau mencarinya?

KEMUDIAN

Pedagang itu mengantarkan Jang ke depan sebuah rumah.

Pedagang: Ini rumahnya, tunggulah beberapa saat. (pedagang itu masuk)

Pedagang: Abidal! Abidal! (masuk ke dalam rumah)

Jang mengeluarkan plakat itu dan memikirkan sesuatu, kemudian ia menyimpannya kembali. Tak berapa lama pedagang itu keluar bersama seseorang.

Pedagang: Ini adalah orangnya yang mencarimu.

Abidal: Aku adalah Abidal.

Jang: Ya?

Abidal: Apakah kau benar membawakah tanda pengenalku? Aku pikir aku menghilangkannya di sekitar Istana Sabi.

Jang: Mengapa kau pergi ke sana?

Abidal: Aku mengawal Tuan Jinryu.

Jang: Tuan Jinryu? Apakah ini kediaman bangsawan?

Abidal: Ya. Mengapa?

KEMUDIAN

Sun: Tanda pengenal yang direbut oleh Jang adalah milik pelayan Jinryu?

Giroo: Ya. Ketika dia mencoba menyingkapnya lebih jauh, ia akan digiring ke pojok.

Sun: Jang memiliki api di matanya, dan dia bekerja sangat keras di Achak.

Heuk: Tapi yang jadi masalah adalah rakyat. Banyak orang mencurigai kita.

Giroo: Timpakan kesalahan itu pada Shilla atau Ko-Kuryo yang juga pasti memiliki tujuan itu dengan maksud membatalkan upacara. Tidak akan sulit untuk melakukan itu dari kantor militer.

Sun: Jadi menggiringnya dengan halus ke arah peperangan?

Giroo: Benar!

Sun: Baiklah! Kita dapat merubahnya ke perang! Orang-orang akan melupakannya ketika mereka sangat ingin untuk hidup. (Heuk mengangguk-angguk) Samarkas sebuah laporan ke kantor militer bahwa orang-orang dari Shilla yang membunuh pangeran.

Giroo: Baik. (Mereka berdua pergi)

Sun mengambil kalung Pangeran dari dadanya dan mengamatinya kemudian  berkata pada dirinya sendiri,” Hyungnim, Langit masih ada di pihakku. Posisi yang tidak cocok dan tidak nyaman bagimu seharusnya kau wariskan padaku.” Sun melihat ke balik kalung itu yang ternyata terukir angka 4, Sun sangat terkejut.

Sun: ini … ini … Ini bukan milik Aja Taeja Cheon Na.

Heuk masuk dengan tergesa-gesa

Heuk: kita dalam masalah.

Sun: Apa yang terjadi?

Heuk: Keluarlah. (Sun segera keluar)

KEMUDIAN

Mokrasu membawa seorang tawanan kepada Wangoo, yang kemudian melaporkannya pada Raja. Raja keluar untuk menemui mereka.

Wangoo: Apakah orang ini yang menyerang Pangeran di dalam gua?

Mokrasu: Itu benar.

Wangoo: Apakah orang-orang melihatnya?

Mokrasu: Beberapa orang melihatnya, Jang dan Nyonya Mojin.

Weeduk: Kau jahat! Sangat jahat! Kau … kau … Angkat kepalamu!

Sun, Heuk, dan Giroo datang. Jangdoo melihat kepada Giroo, Giroo terkejut dan gelisah.

Sun: Apakah ini dia? (Memberi hormat pada raja) Ini adalah di bawah wewenang militer. Siapa yang menangkapnya?

Mokrasu: Orang-orang Taehaksa menemukannya di jalan.

Sun: Dalsol, bawa orang ini ke kantor militer! Dan interogasi dia!

Heuk: baik!

Sun: Periksa, apakah itu Shilla atau Ko-Kuryo yang melakukan ini!

Wangoo: Tidak bisa!

Sun: Apa? Tidak? Apakah pengawal berhak menanyainya?

Wangoo: Dia melukai Aja Taeja Cheon Na! Ini adalah hak kami untuk menanyainya.

Sun: Dia tidak hanya melukai Pangeran! Aku menerima informasi bahwa musuh kita mencoba untuk membingungkan Baekjae melalui kejadian sast upacara. Bawa dia!

Heuk: Baik!

Wangoo: Mundur!

Sun: Apa yang kau lakukan? Apakah kau tidak percaya padaku?

Wangoo: Kau tidak dapat melakukan ini!

Sun: Aku bilang kalau pengawal tidak berhak melakukan ini!

Wangoo: Tidak bisa!

Sun: Mundur kau!

Weeduk: Cukup! Aku yang akan melakukan interogasinya!

Sun terkejut. Wangoo puas. Mokrsu lega. Giroo gelisah.

Weeduk: Dia adalah Pangeran dan juga anakku. Aku akan menanyai orang ini sendiri! Jadi Jenderal bisa mundur sekarang.

Jangdoo dibawa ke tempat interogasi. Diikat di atas kursi.

KEMUDIAN

Mojin, Maekdosu, dan Gomo berkumpul di ruangan direktur, Mokrasu datang.

Mojin: Bagaimana? Apakah kasus ini diambil alih  oleh militer?

Mokrasu: (duduk) Untungnya raja sendiri yang akan melakukan interogasi.

Mojin: Itu bagus. Ini kemujuran (Wooyung masuk dan mendatangi mereka)

Wooyung: Menginterogasi? Siapa yang akan dia interogasi?

Mokrasu: Instruktur Mojin membawa orang yang telah menyerang Pangeran di dalam gua.

Wooyung: Apa? Bukankah dia mati?

Maekdosu: Kau tahu bagaimana Mojin. Orang itu sudah sangat sekarat, menunggu dikubur, Mojin menghidupkannya kembali. (Wooyung kebingungan) Dia pasti mengatakan semuanya sekarang. Siapapun yang merencanakan kejahatan ini mereka sekarang adalah orang hidup yang mati. (Wooyung bergegas pergi tanpa mendengar lebih lanjut)

Maedoksu: Guru! Kau lihat dia? Wajahnya yang putih menjadi kekuningan dan segera pergi keluar. (tertawa)

Mokrasu memikirkan tindakan Wooyung yang ganjil.

Maekdosu: Nyonya Mojin … huh … ada jerami di wajahmu (tangannya mengebaskan jerami di bahu Mojin) Bagaimana caramu menyelamatkan orang itu?

KEMUDIAN

Bumro sedang membual di depan Chogee.

Bumro: Jadi untuk menangkapanya, aku menerobos masuk saat banyak anak panah dilepaskan seperti hujan banyaknya. aku harus merangkak.

Chogee: Benarkah? Kau sungguh mengagumkan!

Bumro: Dan Nyonya Mojin dan Eiunjin sedang gemetar hampir mati ketakutan. Panah berhamburan ke arah kami. Jadi apa yang harus kulakukan? Aku membawa mereka dengan kedua tanganku. Aku harus menangkap orang itu jadi aku berpikir ..

Chogee: Berpikir apa?

Bumro: Bahwa aku harus membalaskan dendam Pangeran, jadi aku akan membalaskannya, aku akan memalaskannya bagi pangeran.

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk keras kepala Bumro.

Eunjin: Bumro! Bangun kau! Aku mencoba untuk tidak mematahkan semangatmu

Bumro: Apa?

Eunjin: Ini terlalu berlebihan! Terlalu berlebihan!

Bumro: (nada memohon) Eunjin!

Chogee: (kepada Eunjiin) Kenapa? Apakah Bumro mengatakan yang sebenarnya?

Bumro: Itu benar!

Eunjin: Benar! Jika kau tidak membawanya aku tidak dapat menyelamatkannya.

Bumro: Kau yang menyelamatkannya?

Eunjin: Lukanya sangat dalam. Dia tidaklah di ambang kematian, dia sebenarnya sudah mati.

Chogee: Terus? Terus?

Eunjin: Terus apa! Aku menggunakan keahlian dan obat-obatan yang telah kupelajari, aku berhasil menyelamatkannya dalam 10 hari. Kemudian aku sangat kelelahan …

Chogee: Pasti begitu … Nyonya Mojin tidak baik dalam melakukan apapun, dia hanyalah seorang wanita tua. (Eunjin dan Bumro tersenyum masam) Lagipula kalian berdua telah berusaha sedemikian sehingga dapat menyelamatkannya dan membawanya kemari. Aku harap orang-orang di balik layar akan terungkap semua.

KEMUDIAN

Raja sendiri yang melakukan pemeriksaan, Jangdoo disiksa untuk mendapatkan pengakuannya. Jika ia pingsan karena kesakitan maka air akan dituangkan ke atas kepalanya dan siksaan akan dilanjutkan.

KEMUDIAN

Jang: Dia masih hidup? (Sunhwa masuk ruangan)

Sunhwa: Ya. Pemeriksaan sudah akan dimulai. Jadi kita dapat mengetahui siapa dalang di balik pembunuhan Pangeran.

Jang: Itu bagus! Ini keberuntungan kita. Kupikir aku telah dipermainkan oleh tipuan Jenderal dan aku menyalahkan diriku sendiri.

Sunhwa: Itu tak akan terjadi. Pergilah  ke Istana.

Jang: Ya. (Dia keluar)

KEMUDIAN

Haedoju: Kita harus menghentikan ini! Apakah kita mempunyai alasan ?

Gye: Bagaimana kita menghentikan pemeriksaan yang dilakukan oleh raja sendiri.

HAedoju: Bagaimana jjika ia mengaku? Wiesa Japyung sudah mengatakan kalau ia tidak terlibat tapi itu adalah untuk menutup i rahasianya.

Wooyung: Alasan dia tidak memberitahu kita adalah supaya kita berpura-pura tidak mengetahui hal ini. Bahkan jika orang itu mengaku, kita harus menyangkal pengakuannya.

KEMUDIAN

Penyiksaan terus dilanjutkan tanpa istirahat. Jangdoo sudah terlihat lemah. Raja menghentikan pemeriksaan supaya Jangdoo tidak mati. Raja mengatakan padanya bahwa sampai ia mengaku siapa yang menyuruhnya, ia tidak bisa mati karena keinginannya sendiri. Raja tidak akan membiarkan dia mati bahkan akan memberikan apa yang diinginkan oleh Jangdoo jika ia mau mengatakan siapa yang telah menyuruhnya. Heukjipyung mengawasi dari kejauhan.

KEMUDIAN

Sun bertanya pada Giroo apakah orang ini bisa dipercaya, Giroo mengatakan kalau orang itu tidak akan membuka mulutnya kecuali untuk bunuh diri. Heukjipyung mendatangi mereka dan mengatakan kalau Raja melakukan pendekatan yang berbeda dengan menjanjikan akan memberikan apa yang diinginkan oleh orang itu. Giroo dan Sun gelisah. “Yang lebih menakutkan dari hukuman penyiksaan adalah janji manis” kata Heukjipyung. Raja bahkan akan menghadiahkan 1000 keping emas dan mengampuni kesalahannya. Sun dan Giroo semakin tidak tenang. Heukjipyung menyarankan Sun untuk melakukan sesuatu, kalau tidak mereka semua akan dalam masalah besar.

Sun: Ada satu hal yang harus lebh kita khawatirkan sekarang! (Sun mengambil kalung permata milik Jang) Ini bukanlah milik Pangeran Aja. Ini adalah milik Pangeran ke-4 yang kita cari-cari.

Heuk: Kenapa Pangeran Aja memiliki kalung Pangeran ke-4?

Sun: Apakah Pangeran memakai kalung saat di pasar?

Heuk: Ya.

Sun: Tapi ini adalah kalung lain yang terukir angka 4 di belakangnya.

Heuk: Apakah ini berarti mereka telah bertemu?

Sun: …

Heuk: Ini sesuatu yang kritis.  Bahkan walaupun Pangeran Aja mati, kalau dia muncul dan memproklamirkan dirinya ….

Sun: Itu tidak boleh terjadi!

Giroo: Ada satu cara untuk membereskan 2 masalah sekaligus.

KEMUDIAN

Jang masuk dengan tergesa-gesa ke dalam kantor Direktur.

Jang: Bagaimana hasilnya? Sudahkah mereka menemukan dalangnya?

Mokrasu: Raja sedang membujuk dia sekarang. Kesaksianmu juga akan dibutuhkan. Jadi kau harus tetap tinggal di sini!

Jang: Baik.

KEMUDIAN

Sun: Baik, mari kita lakukan itu! Ide cemerlang! Jika ini bisa dilakukan maka kita dapat membereskan dua masalah sekaligus. (Giroo tersenyum senang) Jika dia masih bertahan, dia akan dijebloskan ke penjara malam ini. Penjara dalam wewenang kantor militer.

Heuk: Ya.

Sun: Beritahu dia rencana kita malam ini.

Heuk: Bagaimana jika dia tidak dapat menanggungnya malam ini?

Giroo: Tunjukkan ini padanya (kain merah) Ini adalah tanda antara aku dan dia. Jika kau menunjukkan ini padanya, dia tak akan mengaku.

Sun: (kepada Heuk) Lakukan apa yang dia katakan.

Heuk: Baik! (Mengambil kain merah dari tangan Giroo)

KEMUDIAN

Weeduk: Apa kau pikir dia dapat melindungimu? Apakah kau pikir dia akan membebaskanmu?

Jangdoo:….

Weeduk: kemampuan dan kesetiaanmu sungguh patut dimalui. Aku akan mengirimmu ke Vietnam. Mereka adalah prajurit Baekjae. Kau akan kuangkat sebagai komandan. Kau akan aman di sana.

Heukjipyung datang di pintu masuk tempat pemeriksaan diadakan, dan melambaikan kain merah yang diberikan oleh Giroo. Jangdoo melihatnya dan segera menggigit lidahnya.

Wangoo: Dia mencoba menggigit lidahnya, cepat bekap meulutnya.

Jangdoo dibekap dengan kain supaya tidak menggigit lidahnya sendiri.

Weeduk: bawa dia ke penjara!

Prajurit: Baik! (Jangdoo dibawa pergi dan dijebloskan ke dalam penjara.)

Wangoo: Yang Mulia, dia tidak akan berbicara dengan mudah.

Weeduk: Bawa Mokrasu dan Jang besok!

Wangoo: Baik!

Weeduk: Aku akan mencocokkan cerita mereka dengannya dan membuatnya melakukan kesalahan.

KEMUDIAN

Prajurit membawanya ke penjara, dan seorang penjaga penjara memberikan secarik kertas ke tangan Jangdoo saat ia dipaksa masuk ke dalam ruang tahanan. Penjaga penjara pergi diganti oleh para prajurit pengawal raja. Jangdoo berusaha membaca surat itu.

Penjaga tahanan menemui Heuk dan melaporkan kalau misinya sudah berhasil.

Jang duduk di dalam kamarnya, mengingat …

Suara Aja: Raja akan melakukan  penyerahan tahta pada saat Upacara Domnyung, saat itulah aku akan memberitahukan pada semua mengenai dirimu.

Suara Aja: Jadi ketika dia tahu kalau kau masih hidup dan menjadi orang yang hebat, dia akan sangat senang lebih daripada aku. Dan ketika dia menemukanmu dan aku mengikuti harapannya, dia akan sangat puas.

Suara hati Jang: Apakah aku harus memberitahu Yang Mulia?

Mokrasu: (masuk kamar) Jang!

Jang: (bangkit berdiri) ya?

Mok: Untuk menekan orang itu, kau dan aku akan pergi ke tempat pemeriksaan, aku sekarang memberitahumu dulu.

Jang: Baik! (Mok pergi)

KEMUDIAN

Weeduk: Apa kau sudah memikirkannya?

Jangdoo: …

Weeduk: (membentak) Apa kau sudah memikirkannya?

Jangdoo: ….

Weeduk: (bangkit berdiri dan pergi) Eksekusi dia!

Jangdoo: Yang Mulia. .. (Raja menoleh) Apakah kau akan membiarkanku pergi? (Jang dan Mokrasu berdebar-debar menantikan) Apakah kau ingin aku memberitahumu kebenarannya?

Weeduk: Aku berjanjji sebagai seorang Raja dari Baekjae. Aku tidak berdusta! (Raja duduk kembali) Siapa yang mendalangi semua ini?

Jangdoo: Apakah kau akan menjamin keselamatanku? Kau tidak akan membunuhku?

Weeduk: Tidak akan! Jadi siapa yang menyuruhmu?

Jangdoo: Sejujurnya … sejujurnya … dia mengatakan kalau dia adalah pangeran ke-4! (Jang kaget, Weeduk tak bisa percaya, Mokrasu sedikit kaget) Dia dengan jelas menyatakan kalau dirinya adalah Pangeran ke-4 dari Baekjae!

Jang sangat gusar mendengar itu tapi tak dapat berbuat apa-apa.

40 comments on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 30

  1. Mana lanjutannya nih bro,,,
    eh BTw thanks yah atas sinopsisnya,,,
    kalau blh saya tau,apakah d blog ini ada sinopsis drama”PAINTER OF THE WIND”gk?
    makasih sebelumnya…^_^

  2. sedih banget sih….gmn nasib jang selanjutx….duh, si aja knp menyedihkan banget sech hidupx……btw, thanks sinopsisx, lanjut donk…..penasaran banget nih……………………….

  3. btw sinopsis ep 30 ny dah kelar ya….poor jang pertama ibuny,kakak angkatnya,sekarang kakak kandungnya..bentar lg ayahny n terakhir putri sunhwa…ditunggu lanjutnny

    • moodku naik turun nih gara-gara Aja mati … asem😛 Padahal dah liat sebelumnya tapi pas liat lagi buat nulis sinopsis ini jadi down lagi … asem lagi-lagi asem ….😛

  4. ai………………. tulung lah tulung, lanjutanya ye…………………….., keasikan baca da jam 1 malam ni…….
    tapi tetep ditunggu lanjutanya, sekalian cerita lim sang ok yangperdagangan tu……
    makasih bos……

    • wah kalau sangdo, the merchant of joseon, tunggu agak lama ya😦 abis nyelesaikan seo dong yo rencana mo kerjain sinopsisnya yi san😀

      • wah………………………………., yg penting song of the prince nya disiapin dulu……. mas……. biar kelar atu2, ntr klo smua dikrjain……, malah gmn…… gitu….., maulah bantu, tp g pandai bhs inggris dink…….,

        oh ya….., mas tinggal dimana emg? mntap dunk klo da ada toko n usaha sndiri…….

        dulu saya kenal drama korea n mulai ketagihan krna g sgja maen pat tmn tionghoa, di riau, klo ga salah judulnya JI MAE …… & Paint Of The Wind, ON AIR, The Merchant… dan laen2, by the wy….. mas ini kenal gak sama pemainy..? klo tau FB nya mau dunk dibagi….

        ditunggu y episode slnjty……

        moga sukses slalu……,

        • Il ji mae kayaknya bisa dapetin sinopsisnya tapi minggu depan baru ku post. Klo painter of the wind baru dapat, masih 19 episode, episode yg terakhir sama orangnya lom di buatin. jadi tunggu aja dengan sabar. Aku kerjain sinopsisnya satu-satu koq, yi san mau kukerjain abis seo dong yo, ceritanya bagus banget, intrik intriknya ngeri ngeri lebih kejam daripada intrik2 di dongyi … merchan of joseon dah pernah ditayangin di LBS jadi aku pending dulu sinopsisnya. Aku fokus dulu sama yang belum pernah ditayangin di TV. Omong-omong Huh Joon juga bagus, baru ditayangin di LBS, pukul 22.00, ulangannya 05.00, sekedar info sutradaranya sama dengan yi san, dong yi, merchant, jang geum😀

      • huh joon emg ceritanya ttg apa mas……………….????

        kmren ada liad sih dikit,
        n kpn tuch episode slnjtya seo dong yo? 32-55
        ditunggu tentunya……………..
        oh ya, mas org jawa pa tionghoa ato korea….??????
        n krja di LBS TV jg y…..????

        Penasaran.DOT.com

        • akakakak … aku bkn orang lbs, cuman orang nganggur ga da kerjaan di rumah dan pecinta drama saeguk korea😛 aku tionghoa😀
          thks … aku tetep usahain koq lanjut asal ga banyak kerja dan tangan masih mampu, 1 episode 1 hari😀
          Huh joon juga bagus, dulu malah terkenal lebih dulu di korea sebelum jang geum, ceritanya juga tentang kisah nyata seorang dokter hebat, huh joon asalnya adalah anak gundik dari kepala perfektur yang berstatus sosial rendah, belajar pada seorang dokter hebat dan akhirnya berhasil mengungguli gurunya dalam bidang pengobatan. Sayang aku dah fokus ma Seo dong yo, kalo nda aku juga mau buat sinopsisnya huh joon😦

      • okelah klo bgt……………………. makasih bgt info y……
        tetep ditunggu seo dong yo…………. dah kgk sabaran….. hi.hi.hi………

        yah………….. mana tau aja ntr dri org LBS dikasih epresiasi ttg sinopsis yg dah dibuad…..
        he.he.he….
        tetep smgad yah bos…………..

    • eheheh …. jangan tiap jam, biasanya aku baru bisa posting lagi episode baru kalo agak malan sekitar jam 7 ke atas, soalnya baru bisa kerjain sinopsis kalo agak sore … pagi dan siang sibuk di toko dan juga sibuk buat kue😀 Tapi trims deh … aku jadi tau kalau banyak yang senang dengan sinopsis yang kubuat😀 jadi ‘obat kuat’ buatku … heheh😀

    • kucoba … tapi sulit juga kalo pake gambar soalnya waktunya terbuang banyak, sekarang ini aku usaha sendiri dari episode 24, ga ada sinopsis bhs inggris yang pake dialog, dulu enak, aku cuman terjemahin dan ambil gambar dari video… Rencanaku sih hari minggu ini mau review semua postingan seodongyo dan menambah beberapa gambar di postingan yang lampau, sekalian mo istirahat ngetik, tanganku pegel😛

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s