Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 31

Jangdoo: Yang Mulia. .. (Raja menoleh) Apakah kau akan membiarkanku pergi? (Jang dan Mokrasu berdebar-debar menantikan) Apakah kau ingin aku memberitahumu kebenarannya?

Weeduk: Aku berjanji sebagai seorang Raja dari Baekjae. Aku tidak berdusta! (Raja duduk kembali) Siapa yang mendalangi semua ini?

Jangdoo: Apakah kau akan menjamin keselamatanku? Kau tidak akan membunuhku?

Weeduk: Tidak akan! Jadi siapa yang menyuruhmu?

Jangdoo: Sejujurnya … sejujurnya … dia mengatakan kalau dia adalah pangeran ke-4! (Jang kaget, Weeduk tak bisa percaya, Mokrasu sedikit kaget) Dia dengan jelas menyatakan kalau dirinya adalah Pangeran ke-4 dari Baekjae!

Jang sangat gusar mendengar itu tapi tak dapat berbuat apa-apa.

Weeduk: (bangkit berdiri) Apa? Pangeran ke-4 Baekjae? Aku tidak punya Pangeran Ke-4! Bagaimana dia bisa menyuruhmu untuk  membunuh Pangeran Aja? Dasar kau pernjahat! Kau perlu dicabik-cabik sampai ke potongan terkecil! Aku bersumpah sebagai ayah Pangeran Aja, jika kau memberitahuku siapa yang melakukan ini aku akan membebaskanmu. Tapi kau berani menipuku dengan kebohongan! Aku akan mengeksekusimu di depan mataku! (Kepada Wangoo) Siapkan segera!

Wangoo: Baik, Yang Mulia. (Kepada anakbuahnya) Persiapkan eksekusi!

Prajurit: Baik!

Jangdoo akan dieksekusi, Heukjipyung segera menemui Sun.

Heuk: Kita dalam masalah!

Sun: Kenapa? Apakah Jangdoo tidak melakukan apa yang kita suruh?

Heuk: Ketika dia mengaku sesuai dengan yang kita suruh, Raja menyuruh untuk mengeksekusinya sekarang!

Sun: Sekarang?

Giroo: Kau harus cepat!

Sun: Ya, mengapa aku tidak memikirkan ini! (Sun segera bangkit dan keluar)

KEMUDIAN

Wangoo: Aku akan memberimu satu kesempatan lagi untuk mengatakannya! Siapa yang menyuruhmu untuk membunuh Pangeran?

Jangdoo: Pangeran Ke-4 …

Wangoo: Jangan berbohong dan katakan yang sebenarnya!

Jangdoo: Dia mengatakan padaku kalau dia adalah Pangeran ke-4!

Weeduk: Kau penjahat! Eksekusi dia sekarang dan gantung kepalanya!

Wangoo: Baik! (Kepada anakbuahnya) Eksekusi dia!

Prajurit: Baik!

Suara Sun: Berhenti!

Wangoo: Ini sangat tidak dapat diterima, Jenderal! Bagaimana kau menghentikan perintah Raja?

Sun: (mendekati raja) Aku sangat menyesal, Yang Mulia, tetapi …

Sun  menunjukkkan kalung Jang, sebagai tanda pengenal Pangeran Ke-4 kepada Raja.

Raja kaget karena mengenalinya sebagai kalung yang ia serahkan pada Yeongamo. (Jang tak dapat melihat kalungnya, ia merasa curiga)

Sun: Prajurit mengambil ini dari gua.

Raja: Ini …

Sun berjalan menuju Jangdoo dan menunjukkan kalung itu kepadanya

Sun: Apakah kau mengenali ini?

Mokrasu: (Kepada Jang) Benda apa yang ia tunjukkan?

Jang: Aku juga tidak tahu.

Jangdoo: Bagaimana kau tahu ini? Dia memberikanku ini dan menunjukkannya sebelum membunuh Pangeran. Dia berkata kalau dia adalah Pangeran Ke-4. Keluarga kerajaan dan Pangeran berusaha membunuhnya, jadi dia akan membalas dendam! (Raja kaget, Mokrasu masih belum mengerti, Jang masih curiga)

Sun: Apakah kau yakin kalau dia berkata dia adalah Pangeran Ke-4?

Jangdoo: Ya!

Sun: Apa yang dia katakan, mengenai identitasnya sebagai Pangeran Ke-4?

Jangdoo: Dia adalah anak dari Yeongamo, seorang penari Istana. (Mokrasu kaget, Jang terkejut, Raja sangat shock)

Wangoo: Yang Mulia! (Memapah Raja) Yang Mulia ! (Kepada para pengawal) Kawal pergi Raja sekarang!

Sun: Dalsol!

Heuk: Ya?

Sun: Kunci dia dalam penjara!

Heuk: Ya! (Kepada prajurit di belakangnya) Bawa dia ke penjara!

Prajurit: Ya!

Jang termenung, Mokrasu sangat terkejut mendengar kalau anak Yeongamo sebenarnya adalah anak Raja, yang berarti Pangeran Ke-4 adalah Jang! Mokrasu menatap Jang.

Jangdoo dibawa oleh para prajurit Sun dan akan menguncinya dalam penjara. Semua orang pergi. Mokrasu masih menatap Jang. Jang sendiri mengetahui kalau Mokrasu menatapnya dan menjadi sedikit gelisan.

KEMUDIAN

Raja dipapah para dayang untuk duduk, Wangoo mengikuti mereka. Sun masuk menyusul Raja dan menaruh kalung ke atas meja di hadapan Raja. Raja mengambil dan mengamati kalung tersebut.

Sun: Yang Mulia, aku sangat terkejut ketika melihat kalung ini. Bagaimana ini bisa terjadi? Baekjae tidak memiliki Pangeran Ke-4, tapi bagaimana bisa ada kalung Pangeran dengan ukiran angka 4 di baliknya? Dan bagaimana bisa dia yang membunuh Pangeran Aja? Bagaimana kebenarannya? Beritahukanlah padaku! Kau harus mengatakannya pada kami supaya kami dapat mencari dia yang mendalangi ini.

Weeduk: … (bingung)

Sun: Yang Mulia! Beritahukanlah padaku!

Weeduk: …

Wangoo: Jenderal! Kau harus melihat keadaan dari Raja! Dia perlu beristirahat sekarang! Datanglah lagi besok!

Sun: Ampuni aku Yang Mulia, aku sangat terobsesi dengan dalang pembunuhan itu, sehingga aku telah melakukan tindakan yang kurang hormat pada Yang Mulia. (Sun memberi hormat dan meninggalkannya)

Raja Weeduk menatap kalung permata tanda pengenal seorang Pangeran, milik dari Jang.

MASIH DI TEMPAT EKSEKUSI

Mokrasu: Apakah kau tahu apa yang orang itu katakan?

Jang: …

Mokrasu: Kau mengerti bahwa anak Yeongamo adalah Pangeran Ke-4?

Jang: … (menatapnya, tak dapat mengatakan apapun)

Mokrasu: Mengertikah kau ini?

Jang: … Ya, Guru.

Mokrasu: Ya Ampun, kalau begitu kau …

Jang: …

Mokrasu: Kau! Kau adalah …

Jang: (mengangguk) Ya, Guru! (Mokrasu memeluknya)

Mokrasu: Jang! Bagaimana bisa? Bagaimana …. (memeluknya lebih erat)

Jang: ….

Mokrasu: (Melepaskan pelukannya) Itulah alasannya mengapaYeongamo mengirimmu padaku. Itulah alasannya!

Jang: Ya,  Guru!

Mokrasu: … (berlutut di hadapan Jang)

Jang: … Guru mengapa kau lakukan ini. (Menarik Mokrasu untuk berdiri) Berdirilah!

Mokrasu: Tidak bisa, aku tak dapat melakukannya. Aturan adalah aturan, kumohon terimalah penghormatan dariku.

Jang: (berlutut) Aku tidak dalam posisi yang bisa menerima penghormatanmu. Jika kau lakukan itu, aku akan terbunuh. Perlakukan aku sama seperti sebelumnya, dengan cara inilah kau dapat menolongku. Setelah aku menjadi seorang Pangeran, setelah aku menjadi seorang Pangeran sepenuhnya dan dapat berdiri di hadapan semua orang, belum terlambat kau melakukan penghormatan ini.

Mokrasu: …

Jang: Apakah kau benar-benar menginginkan aku terbunuh?

Mokrasu: …

Jang: Guru!

Mokrasu: Aku mengerti!

Jang: Kumohon batalkan penghormatanmu.

Mokrasu menganggukkan kepalanya. Jang merasa lega. Jang memegang tangan Mokrasu erat-erat, Mokrasu membalas memegang tangannya. Jang kemudian mengangkat bangun Mokrasu. Mereka berdiri dan kemudian berpelukan.

KEMUDIAN

Raja di dalam kamar sedang menatap angka 4 di kalung Oh Saek Ya Myung Ju, Wangoo datang dan meletakkan kalung milik Aja di samping milik Jang. Raja mengambil dan melihat di balik kalung milik Aja, akngka 1 terukir di sana.

Weeduk: Apa yang terjadi ini? Aja dan Pangeran ke-4 sudah dipastikan meninggal. Ketika Aja kembali dari Jepang, kalung ini tertukar. Tapi kapan ini tertukar lagi, dan Aja memiliki kalungnya lagi? Dan bagaimana dengan kalung Pangeran dengan ukiran angka 4?

Wangoo: Sejujurnya, kami berpikir kalau Pangeran ke-4 sudah mati, tapi kemudian kami mengetahui kalau Sun sedang mencarinya.

Weeduk: Terus? Bagaimana hasilnya?

Wangoo: Pangeran Aja melakukan usaha yang terbaik untuk menemukannya.

Weeduk: Jadi dia menemukannya?

Sangoo: Jika dia menemukannya, maka dia pasti akan memberitahuku.

Weeduk: Siapa lagi yang mengetahui tentang ini?

Wangoo: Yang pasti Baekmoo, Eunsol.

Weeduk: Bawa dia! Bawa dia kemari sekarang!

KEMUDIAN

Mokrasu: Berapa banyak Yeongamo menderita dengan mengetahui hal ini. Aku tidak seharusnya mengusirnya dengan hatinya yang seang remuk redam. Dia memang memiliki alasan tak dapat mengatakan apapun. Aku marah dan meragukannya. Ketika dia mengirimmu dan ketika aku memintanya untuk pergi bersamaku ke Shilla.

Jang: Guru, jangan lakukan ini pada dirimu! Ibu tetap akan menghargai apa yang telah kau lakukan baginya. Saat itu adalah waktu yang terbahagia di hidupnya ketika dia berlari kepadamu.

Mokrasu: tapi mengapa kau tidak memberitahu pangeran maupun diriku?

Jang: Aku memiliki kesalahpahaman terhadap anggota keluarga raja.  Kupikir kalau mereka tidak menginginkan keberadaanku. Tapi aku akhirnya mengakuinya kepada Pangeran.

Mokrasu: (menoleh padanya) Dan dia sudah tahu ini sebelum ia meninggal?

Jang: Ya!

Mokrasu: Dia pasti sangat senang mengetahui itu! Dia sangat menyukaimu dan ternyata kau adalah adiknya. Dia pasti sangat gembira!

Jang: Ya, Guru! Dia ingin membantu Raja bersama denganku. Dan dia berkata kalu dia sudah baikan dan harus pergi ke Upacara Donmyung.

Mokrasu: ….

Jang: Tapi aku tak dapat melindunginya.

Mokrasu: Ini bukan waktunya untuk menyalahkan dirimu sendiri. Bagaimana bisa kau difitnah sebagai pembunuhnya?

Jang: Ini adalah tipu daya dari Jenderal!

Mokrasu: Dan apa yang ia tunjukkan kepada Raja?

Jang: Aku tidak yakin, tapi kemungkinan besar itu adalah kalung Ya Myung Ju dengan angka 4 terukir di belakangnya.

Mokrasu: Kalung Ya Myung Ju?

KEMUDIAN

Weeduk: Pangeran memberitahuku kalau kalungnya tertukar, tapi bagaimana mungkin sekarang ia memiliki kalung dengan angka 1 lagi, dan Jenderal memiliki kalung angka 4?

Baekmoo: Sebenarnya … aku juga tidak begitu …

Weeduk: Apakah dia sudah bertemu dengan Pangeran ke-4?

Baekmoo: Seseorang telah mengirimi Pangeran surat bahwa kalung mereka telah tertukar. (Weeduk dan Wangoo terkejut)

Weeduk: Jadi apa dia sudah menemukannya?

Baekmoo: Prajurit Wiesa Japyung tiba-tiba muncul dari mana tidak diketahui.

Weeduk: Wiesa Japyung?

Baekmoo: Ya, pangeran menggunakan seragam Taehaksa dan pasukan Heuk datang.

Wangoo: (pada Baekmoo) Jenderal berusaha memfitnah Pangeran ke-4 adalah orang yang membunuh Pangeran Aja.

Baekmoo: Apa?

Wangoo: Aku sangat pasti bahwa ini adalah konspirasi dari Jenderal. (Kepada Baekmoo) Tapi apakah ada indikasi kalau pangeran ke-4 menyimpan dendam?

Baekmoo: Ah …. Jika dia salah mengerti situasinya saat itu ….

Weeduk: Salah mengerti?

Baekmoo: Saat di mana Pangeran Aja akan menemui Pangeran ke-4. Jika dia salah paham bahwa prajurit Heuk adalah prajurit Pangeran, pangeran ke-4 mungkin saja memiliki dendam karena berpikir kalau Pangeran Ke-4 berusaha membunuhnya.

Weeduk: Jadi ada kemungkinan kalau Sun mengatakan kebenaran?

KEMUDIAN

Mokrasu: Jadi kau memberikan kalung yang sebenarnya kepada Pangeran? Dan milikmu hilang di dalam gua?

Jang: Ya, sehingga aku dapat mengungkapkan identitas  diriku. Mereka tidak tahu kalau kalung itu telah kembali ke pemiliknya yang semula. Jadi mereka menggunakan strategi ini karena mereka masih tidak tahu tentangku. Aku akan membuka jati diriku. Aku akan mengungkapkan siapa diriku dan membalaskan dendam bagi Pangeran.

Mokrasu: Aku mengerti. Tapi kau harus menunggu pada saat yang tepat untuk melakukannya. Raja tidak tahu tentang dirimu. Dia sangat terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Jenderal. Bahkan jika saja itu memang konspirasi, kaulah yang akan dituduh sebagai pembunuhnya. Jika kau menanggapinya dengan buruk, maka kau yang akan terluka. Aku akan mencari tahu situasinya.

KEMUDIAN

Sun: Kita menjadikan dua masalah terpecahkan dengan satu solusi. Aku sungguh terganggu dengan adanya Pangeran Ke-4. Tapi sekarang Raja juga tidak bisa mengakui kalau dia memiliki Pangeran yang ke-4.

Giroo: Sekarang dia dituduh sebagai pembunuh Pangeran Aja. Dia tidak akan dapat menjadi Pangeran Mahkota.

Heuk: Bagaimana jika dia muncul dan menyangkal semua ini? Dia dapat menyatakan kalau dia tidak membunuh Pangeran.

Giroo: Itu tidak akan menjadi situasi yang terburuk. Tapi keadaan sekarang sudah cukup bagus. Siapa Pangeran ke-4 dan dimana dia, akan tersembunyikan. Sekarang semua lebih baik dibuka daripada kita curiga tanpa mengetahui apapun. Ini memberikan kita pemecahannya.

Sun: Tidak ada yang lebih menakutkan selain daripada musuh yang tak terlihat.

Giroo: Ya.

Sun: Sekarang yang perlu kita lakukan hanya menyaksikan betapa paniknya Yang Mulia.

Giroo: Ya.

Sun: … (tiba-tiba bangun berdiri dan keluar)

KEMUDIAN

Mokrasu mendatangi kediaman Raja. Wangoo melihat dan segera menyambutnya.

Wangoo: Aku memang sedang mencarimu. Aku tahu kau akan terkejut mendengar nama Yeongamo. Itu terjadi sehari sebelum upacara peringatan atas kembalinya kepala raja yang terdahulu. Itulah mengapa aku tak dapat memberitahumu.

Mokrasu: Ya. Tapi apa yang ditunjukkan oleh Jenderal kepada Yang Mulia?

Wangoo: itu … (tiba-tiba Wangoo membungkuk hormat, Sun datang)

Sun: Beritahu Yang Mulia!

Wangoo: Yang Mulia, Jenderal ada disini.

Weeduk: Biarkan dia masuk. (Sun masuk)

Mokrasu dan Wangoo menunggu di luar, mereka mendengar Sun bertanya pada raja.

Suara Sun: Yang Mulia, Kau harus memberitahuku sekarang! Apa sebenarnya kalung itu?

Buyo-Gye dan Haedoju datang.

Gye: Beritahu Yang Mulia.

Wangoo: Yang Mulia, Perdana Menteri datang!

Weeduk: Biarkan dia masuk. (Buyo-Gye dan Haedoju masuk)

DI DALAM

Gye: (mendatangi raja) Aku tak dapat mempercayai ini! Orang yang membunuh pangeran Aja adalah pangeran ke-4? Bagaimana mungkin ada seorang Pangeran yang keberadaanya aku tidak tahu? Apakah ini benar?

Haedoju: Pangeran yang tersembunyi membunuh pangeran mahkota! Kewibawaan keluarga raja jatuh ke atas tanah. Tolong perjelas keadaan ini secepat mungkin.

Gye: Apakah mungkin 20 tahun yang lalu sebelum upacara ayah kita, Raja Sunhwang, aku harap bukanlah dia? Ini tidak boleh terjadi!

Haedoju: Benar, Yang Mulia, ini tidak boleh terjadi! Siapakah dia? Kau harus memberitahu kami supaya kau dapat membalaskan dendam Pangeran.

Weeduk: …

KEMUDIAN

Jang berdiri di luar, berpikir….

Mojin: Jang! Apa yang terjadi saat interogasi? Apakah orang itu mengatakan siapa dalangnya?

Gomo: Ya, aku sangat ingin tahu! Apakah dia berbicara?

Jang: Dia tidak berbicara, Tuan.

Mojin: bagaimana jika dia tetap menutup mulutnya? Apa yang akan terjadi nantinya? Tidak dapatkah kita menangkap dalang di balik semua ini?

Jang: Aku tak dapat melakukannya! Aku tak bisa! Aku akan mengungkapkan semua ini! Aku akan mengungkapkannya!

Jang pergi, ia berpapasan dengan Bumro dan lainnya.

Bumro: Jang, apakah kita akan mendapatkan hadiah karena telah menangkap penjahat itu? (Jang tak menghiraukan mereka dan tetap berlalu.)

Eunjin: (heran) Apa  yang salah dengan Jang?

Mojin: Mungkin dia kesal karena orang itu tidak mau membuka mulutnya.

Bumro: Kau tahu, mereka tidak berbicara saat permulaan.

Maekdosu: Tapi jika ia disiksa apakah ia tidak akan memberitahukan semuanya?

Eunjin: Mungkinkah begitu?

Maekdosu: Tidak ada seorangpun orang gagah yang tidak akan membuka mulutnya jika mereka disiksa.

Mojin: Aku harap itu benar.

Bumro: Hei … hei … Jangan khawatir. Cemaskanlah apa yang akan kita lakukan dengan hadiahmu. (Maekdosu tertawa)

Eunjin: Aku akan membuka usaha dagang.

Maekdosu: Aku akan membuka kedai minum, bersama dengan Nyonya Mojin. (tertawa senang)

Bumro: Kenapa kau menggunakan hadiahku?

Maekdosu: Aku menggunakan milikku. Mengapa kau mau menghabiskannya?

Bumro:  Sial !

Maekdosu: Kau! (mencengkeram kerah Bumro)

Bumro: Ayah …

Eunjin: Tuan …

Maekdosu: Kau selalu melakukan ini (memukuli Bumro, Bumro lari , Maekdosu mengejarnya)

KEMUDIAN

Wooyung, Haedoju, dan Buyo-gye menantikan Sun, yang baru datang.

Haedoju: Kerja bagus! Walaupun kau ada di perbatasan, itu adalah taktikmu  untuk meredam semua kecurigaan yang akan kita dapatkan karena kematian Pangeran.

Sun: Strategi? Apa yang sedang kau bicarakan?

Haedoju: … (terkejut)

Wooyung: … (tidak habis mengerti)

Sun: Itu bukanlah perbuatanku.

Buyo-Gye: …

Sun: Aku kembali karena ingin menginvestigasi orang yang melukai sang Pangeran. Dalam prosesnya, aku menemukan bahwa Pangeran ke-4 lah yang membunuh Pangeran Aja.

Gye: Benar! Itu Benar!

Sun: Kata-kata kalian mengecewakanku. Jangan salah mengerti denganku!

Ketiga orang lainnya hanya bisa terdiam.

KEMUDIAN

Di tengah perjalanan kembali,

Gye: Janganlah terlalu kecewa karena dia tidak memberitahukan pada kita semua. Memang lebih baik kalau hanya sedikit orang saja yang tahu mengenai ini.

Wooyung: Apakah itu yang kau pikirkan, Ayah?

Gye: Lalu? Apakah kau ada pikiran lain?

Wooyung: Dia telah berpikir jauh ke depan, apa yang akan dia lakukan setelah peristiwa penyerahan tahta kemudian mempersiapkan semuanya.

Gye: Setelah peristiwa itu?

Wooyung: Jika ada yang tahu kalau dialah yang memimpin rencana pembunuhan pangeran Aja, orang itu akan menjadi penghalang langkahnya, ketika dia memegang kekuasaan.

Gye: Dia melakukannya dengan baik.

Wooyung: (berbalik) Tidakkah kau mengerti. Dia mengendalikanmu, ayah. Bukan, lebih tepatnya ini akan tertuju kepada ibu.

Gye: Walaupun kalian berbeda ibu, tetapi kalian masih sedarah.

Wooyung: Kau akan lihat nanti! Pembagian kehormatan ketika menaikkan dirimu ke tahta, ibu dan aku akan dikecualikan. (Wooyung pergi)

Gye berpikir … masih tidak mempercayai perkataan anak perempuannya.

KEMUDIAN

Wooyung menemui Giroo di bengkel kerja.

Giroo: Apa yang bisa kulakukan untukmu?

Wooyung: Apa yang terjadi dengan kalung Pangeran ke-4?

Giroo: Apa maksudmu? Apa yang sedang kau bicarakan?

Wooyung: akankah kau tetap berpura-pura tidak mengetahui semua ini?

Giroo: (tertawa kecil menunjukkan wajah tak berdosa) Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan?

Wooyung: Kau pikir kekuasaannya bisa melakukan segalanya? Tapi kekuasaan yang ada sebenarnya ada di tangan ayahku, besannya, pejabat paling berkuasa, keluarga Hae, tidak akan bergerak tanpa perintah Haedoju. Di pusat kekuasaan keluarga Hae, ibuku yang berdiri di sana.

Giroo: Kupikir kau membicarakan ide yang salah.

Wooyung: … (terkejut melihat kepercayaan diri Giroo)

Woosoo datang menemui mereka, ia membawa sebuah surat.

Wooyung: Apa yang kau inginkan?

Woosoo: Aku ada sesuatu yang harus kuberikan pada Guru Giroo.

Giroo: Apa itu?

Woosoo: Pedagang Jin ingin menemuinya. (Woosoo memberikan surat)

Wooyung: (kepada Giroo) Pedagang Jin? Mengapa kau menemuinya?

Giroo: Aku juga tidak tahu.

KEMUDIAN

Chogee: Kenapa kau ingin menemuinya? Seodong-gong pasti akan marah kalau dia tahu!

Sunhwa: Aku ada bisnis dengannya.

Chogee: Dia datang! (Chogee meninggalkan Sunhwa)

Giroo: Aku pikir kita tidak akan menemui  satu-sama lain

Sunhwa: Aku tidak menyesal sama sekali. Aku percaya kalau kata-kataku telah membuatmu menderita, dan itu membuatmu dalam keputusan yang sulit, dan kau mencintaiku dengan caramu sendiri.

Giroo: …. (menundukkan kepalanya)

Sunhwa: Tapi tidak! Kau dapat melakukan apapun supaya kau naik ke tempat yang lebih tinggi. Karena itulah kau membunuh Pangeran Aja. (Giroo terkejut) Dan kau melakukannya tanpa mengedipkan matamu sekalipun. Dalam prosesmu membunuhnya, aku tahu ayahmu, menyamar sebagai Abigi, juga terlibat dalam rencana ini!

Giroo: Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan. Memang benar kalau ayahku menyamar menjadi pedagang Abigi, tapi itu hanya untuk bertahan hidup. Tapi apa hubungannya itu dengan pembunuhan Pangeran?

Sunhwa: Betapa jahatnya dirimu!

Giroo: Kau pasti salah paham karena adanya kondisi Keluarga raja yang kritis. Orang yang membunuh pangeran adalah pangeran ke-4! Dia telah terungkap sebagai dalang yang sebenarnya.

Sunhwa: (terkejut) Apa? Apa? Pangeran ke-4 dari Raja?

Giroo: Jadi jangan memanggilku seperti ini lagi. Seperti aku sekarang bukan lagi seorang Hwarang, kau juga bukan Puteri dari Shilla lagi. (Giroo pergi)

KEMUDIAN

Mokrasu mengawasi para penari Akademi berlatih, mengingat …

Suara Jang: Mereka tidak tahu kalau kalung kami telah bertukar lagi, kembali ke pemilik masing-masing. dan juga tidak tahu keberadaanku, karena itulah mereka menggunakan cara ini. Jadi aku tidak dapat mengungkapkan diriku.

Gye: Aku tak percaya ini. Pangeran dibunuh oleh Pangeran Ke-4? Bagaimana mungkin ada seoran Pangeran yang tidak kuketahui sebelumnya? Apakah ini benar?

Haedoju: Pangeran yang tersembunyi membunuh Pangeran Aja. Kewibaan keluarga raja jatuh ke tanah.

Mokrasu memandang para penari lagi.

Suara hati Mokrasu: Yeongamo! Ketika kau memintaku untuk menjaga Jang, kau ingin aku untuk melindunginya dari mara bahaya.

KEMUDIAN

Jang: Apakah dia menemui Giroo lagi?

Bomyung:  Ya dia hanya membawa Chogee.

Jagn: Kenapa menemui Giroo lagi, dan dirinya sendiri!

Suara Sunhwa: Apakah dia menungguku di dalam?

Pengurus: Ya.

Bomyung: Aku pikir sekarang dia ada di sini. (Dia membukakan pintu untuk Sunhwa lalu keluar)

Jang: Mengapa kau menemui Giroo lagi?

Sunhwa: Apa yang sedang terjadi? bagaimana bisa Pangeran ke-4 menjadi pembunuh dari Pangeran Aja?

Jang: Jangdoo yang telah diselamatkan oleh Mojin, mengaku seperti itu.

Sunhwa: Apa?

Jang: Ini pasti juga perbuatan dari mereka! Bahkan ketika Heuk dan Jenderal ada di perbatasan, ini pasti perbuatan mereka!

Sunhwa: Tepatnya, ini adalah perbuatan Giroo!

Jang: Apa maksudmu?

Sunhwa: Aku tidak punya bukti untuk membuktikannya, tetapi ketika kau dan Pangeran ada di gua, Pedagang Abigi membuat pergerakan menuju ke Achak.

Jang: Pedagang Abigi?

Sunhwa: Abigi adalah ayah Giroo.

Jang: … (terlihat sangat murka)

KEMUDIAN

Mokrasu menemui Wangoo dan Baekmoo yang sedang berjalan di Istana.

Mokrau: Bagaimana situasinya?

Wangoo: Yang Mulia memintaku, apakah pangeran ke-4 dapat ditemukan jadi aku bertanya pada Eunsol, Baekmoo.

Mokrasu: … (menghela napas)

Wangoo: Kau mengenal Yeongamo, apakah kau mengetahui sesuatu?

Mokrasu: Jika kita menemukannya, apa yang akan terjadi setelah itu?

Baekmoo: Sebenarnya, Yang Mulia hanya ingin mengetahui siapa sebenarnya dia. Tidak satupun akan benar-benar berubah. Kau pikir juga begitu khan?

Wangoo: Aku juga berpikir begitu. Jika dia adalah dalang di balik semua ini …

Mokrasu: (menyela) Itu semua tidak benar. (Baekmoo tertegun) Yang kumaksudkan adalah ini pasti adalah konspirasi dari Jenderal.

Wangoo: Maka ini yang terburuk. Jenderal akan berusaha mengeksekusinya segera ketika dia muncul.

Baekmoo: Benar, jika ini konspirasi, kenapa dia memfitnah pangeran ke-4 sebagai pembunuh? Karena dia, keberadaannya adalah hal yang ditakutkan oleh Jenderal?

Prajurit: (berlari mendatangi mereka) Tuan Pengawal Raja.

Wangoo: Apa itu?

Prajurit: Kau harus segera ke kediaman Pangeran Buyeo-Do!

Wangoo: Kenapa? Apakah ada sesuatu yang terjadi pada pangeran?

Prajurit: Aku pikir keadaanya semakin memburuk.

Wangoo: Apa?

Prajurit: Jadi sekarang Yang Mulia sedang dalam perjalanan menuju ke sana.

Wangoo: Aku mengerti, ayo kita pergi! (Mereka berdua segera bergegas pergi)

KEMUDIAN

Mokrasu memasuki kantornya, berpikir …

Eunjjin: (memasuki ruangan) Guru, Jin Gakyung ingin menemuimu. Kupikir ini sangat penting.

Mokrasu keluar menemui Sunhwa.

Mokrasu: Ada apa?

Sunhwa: … (gelisah)

Mokrasu: Apa yang ingin kau katakan?

Sunhwa: Aku dengar kalau kau sudah mengetahui jati diri yang sebenarnya dari Seodong.

Mokrasu: Kau sudah mengetahuinya?

Sunhwa: Ya.

Mok: Itu mengapa kau ingin menemuiku?

Sunhwa: Bukan itu! Dia tak dapat menahan beban dan kesedihan dalam hatinya …

Mokrasu: Apa dia ingin menemui Yang Mulia?

Sunhwa: Ya. Tapi kupikir jika ia membuka identitasnya sekarang, ia akan jatuh ke dalam perangkap,. Aku sangat mengkhawatirkannya. Sejujurnya, aku tahu situasi yang telah dibuat oleh Guru Giroo, jadi aku memberitahunya.

Mokrasu: Apa?

Sunhwa: Dia sangat marah. Dia sudah tidak punya apa-apa di hatinya selain kemarahan dan dendam. (Mokrasu mendesah) Bisakah kita membiarkannya untuk sementara?

Mokrasu: Sejujurnya, aku juga ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Lagipula, Jang tidak akan dengan mudah bertindak menurut kemauan kita. Dia mengerti apa  artinya jika dia mengungkapkan identitasnya.

Sunhwa: …

Mokrasu: Dia nantinya bukan lagi Jang yang kita kenal. Jika dia mengungkapkan identitasnya, entah dia akan menjadi tumbal atau Pangeran, yang pasti salah satunya.

Sunhwa: … (gellisah dan kalut)

KEMUDIAN

Jang di bengkel kerja pengerjaan logam. Ia berusaha membuat sebuah pedang (?). Jang memusatkan pikiran dan hatinya untuk membuatnya. Mokrasu datang menghampirinya.

Mokrsu: Jang! (Jang menghentikan pekerjaannya) Masuk ke dalam! Aku perlu bicara denganmu!

Jang: Guru, maafkan aku! Aku ingin memikirkan sesuatu. Beri aku beberapa waktu. (Jang melanjutkan pekerjaanya)

Mokrasu hanya bisa mengawasinya, mendesah ….

KEMUDIAN

Mokrasu kembali ke kantornya, duduk berpikir sambil menunggu Jang. Tiba-tiba Mokrasu teringat ….

Saat dia di Gonghyul, seperti dituntun oleh sesuatu, menggali di suatu tempat dan menemukan peti batu dengan tutupnya yang bertuliskan: “Raja yang dipermalukan akan memperanakkan kesedihan, dan kesedihan akam memperanakkan kesalahan, kesalahan akan membakar pedupaan itu sendiri, ia akan menjadi Raja, Raja yang akan kembali membangkitkan Baekjae dan akan mendapatkan kehormatan dan kemuliaan yang besar.”

Ia menemukan pedupaan yang disebutkan dalam ramalan itu di dalam peti batu.

Mokrasu segera bangkit berdiri, ia menyadari sesuatu,

Mok: (pada dirinya sendiri): Yeongamo menghabiskan satu malam dengan Raja. Pria yang dilahirkan karena kesalahan …. Ketika pedupaan itu tak sengaja kutemukan … ketika ia mengandung Jang …. apakah ini hanya kebetulan? (Terduduk, teringat kembali …)

Mokrasu: Siapa? Siapa yang membakar peduapaan? Siapa? Siapa yang datang ke ruang kerjaku? (berteriak) Siapa yang membakar pedupaan?

Mokrasu menduga ….

Jang sedang berkonsentrasi melakukan pekerjaannya, ia berhasil membentuk mata pedang dan sedang menajamkan salah satu sisinya. Mokrasu datang.

Mokrasu: Jang!

Jang: (menoleh) Ya?

Mokrasu: Ketika kau datang padaku untuk pertama kalinya …

Jang: (mengasah mata pedang) Ya?

Mokrasu: Apakah kau melihat pedupaan tembaga di ruanganku?

Jang: (masih mengasah) Ya.

Mokrasu: Kapan itu?

Jang: (tetap mengasah) Itu adalah saat upacara penobatan Tuan Buyo-Gye sebagai Pangeran Mahkota.

Mokrasu: Apakah itu terbakar?

Jang: (masih mengasah) Ya.(Mokrasu kaget)

Suara hati Mokrasu: Maka … maka pemilik ramalan … (memandang Jang yang sedang meneliti mata pedang) … adalah dirimu, Jang!

KEMUDIAN

Raja sedang di dalam kamar Buye-Do, Pangeran ketiga, yang terbaring sakit.

Wangoo: Yang Mulia, kau perlu beristirahat. Aku khawatir kalau kau nanti akan jatuh sakit. Kumohon pergilah tidur.

Weeduk: (menggelengkan kepala, berkata kepada Buyo-Do) Sejak Pangeran Ke-4 menjadi pembunuh, jika kau mati, aku tidak memiliki alasan untuk hidup.

Wangoo: Yang Mulia!

Weeduk: Tidak ada sesuatupun yang berharga. Tak ada yang berharga.

KEMUDIAN

Sun dan anak buahnya mengadakan perjamuan kecil-kecilan untuk Abigi dan Giroo.

Sun: Aku merasa sangat baik hari ini.

Heuk: Benar, Jenderal. Raja sepertinya telah kehilangan semangat, dan dia tidak pernah keluar dari kamar Pangeran Do. Dia akan menyatakan penyerahan tahta segera. (tertawa senang)

Sun: Ini adalah jasamu, Giroo!

Giroo: (tertawa) Tidak, jika tanpa adanya bantuan dari Tuan Abigi. Aku tak dapat menyelesaikannya dengan baik sendirian.

Sun: Benarkah?

Giroo: Ya, karena itu akau membawanya ke sini tanpa meminta ijin darimu.

Sun: Tidak apa-apa, ya, memang seharusnya! Jika dia sudah membantuku, maka dia layak minum denganku. (menuangkan minuman ke mangkuk Abigi) Jadilah kekuatanku bersama dengan Guru Giroo.

Saheum: Kau layak menerimanya, aku akan melakukan segalanya untukmu.

Sun: Apa yang kalian lakukan, ayo kita minum sampai mabuk!

KEMUDIAN

Sun dan yang lain berjalan kembali ke kediaman masing-masing.

Sun: Aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu.

Giroo: Aku sangat tersanjung!

Sun: Tidak! Orang yang ingin meraih tahta, ia tidak hanya membutuhkan kekuatan, tapi juga membutuhkan keberuntungan dari Langit dan orang-orang. (Giroo tersenyum) Sejak aku bertemu denganmu, sepertinya Langit sedang membantuku. Jalanku akan kuat dan lebar!

Heuk tidak senang karena Giroo sekarang menjadi favorit dari Sun, ia juga curiga dengan hubungan antara Giroo dan Abigi.

Heuk: Sejak kapan kau mulai dekat dengan Guru Giroo?

Saheum: baru baru ini.

Heuk: Kau memiliki ikatan dengan kasus besar ini?

Saheum: Orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama akan mengenali satu sama lain.

KEMUDIAN

Giroo mengawasi Sunhwa dari kejauhan.

Suara hati Giroo: Kau pikir kau sudah selesai denganku? Tidak, aku baru mulai sekarang! Kau pikir aku dengan mudahnya menyerah atas cita-citaku? Kau salah mengerti diriku.

KEMUDIAN

Maekdosu: Bukankah ini Sogokju? Dan tiga botol?

Jang: Ya, Pangeran memberikannya padaku.

Maekdosu: Dari pangeran? jika ia memberikannya padamu, dia pasti tahu kalau ini akan sampai kepadaku.

Jang: Kau selalu seperti ayah bagiku, ini saja yang dapat kuberikan padamu, aku sungguh minta maaf.

Maekdosu: Aku sudah sangat senang dengan ini.

Jang menyerahkan sebuah buku pada Bumro. Bumro membuka-bukanya secara sembarangan.

Bumro: Ada yang salah dengan hadiahku!

Jang: Kau harus belajar. Kau ingin seperti kakakmu. Ini adalah apa yang telah kupelajari dan kucatat selama ini. Kau boleh memilikinya.

Bumro: Bagaimana denganmu?

Jang: Aku akan mempelajari hal lain. (memberi hormat pada Maekdosu) Aku akan pergi sekarang!

Maekdosu: Baiklah, sampai jumpa lagi. (Jang keluar ruangan)

Bumro mengawasinya pergi, berkata pada ayahnya, “Ada yang salah dengannya, yah?”

Maekdosu: itu terjadi kadang-kadang. Ketika kau bangun suatu hari, kau berterima kasih pada orang-orang di sekelilingmu. Dia pasti seperti itu, hanya padaku! (Bumro masih tidak mengerti)

KEMUDIAN

Eunjin: Benarkah? Apakah kau membuat ini untukku?

Jang: Sebenarnya itu bukan untuk dirimu. Itu adalah sutra bersulam yang kami buat untuk pertama kalinya.

Eunjin: Benarkah! Ini sungguh berarti!

Jang: Aku ingin kau memilikinya!

Eunjin: Mengapa: Mengapa kau berpikir demikian?

Jang: Pokoknya terima kasih! (Jang pergi)

Eunjin sangat senang, hatinya berbunga-bunga karena Jang memperhatikannya.

Eunjin: Wah .. Aku pikir aku akan menunggunya 10 tahun lagi, tapi akhirnya dia menyadari betapa berharganya diriku. Aku merasa lebih baik sekarang. (membuka gulungan kain) Ini sutra … sutra!

KEMUDIAN

Mojin: Apa yang kau sedang sembunyikan?

Mokrasu: …

Mojin: Kenapa kau dan Jang sama sekali tidak mengatakan apapun mengenai interogasi itu? Aku merasakan beban berat. Kumohon beritahulah aku!

Suara Jang: Guru ini aku, Jang.

Mokrasu: Masuklah!

Jang: (memberi hormat pada keduanya) Aku minta maaf, tapi aku butuh ke suatu tempat untuk beberapa hari.

Mokrasu: Apakah ada yang perlu lebih dipikirkan?

Jang: ya.

Mokrasu: Aku ijinkan kau untuk pergi.

Mojin: Guru! Kemana kau akan pergi pada saat-saat yang sangat genting seperti ini?

Mokrasu: (pada Jang) Tapi jika kau ingin pergi ke sana, kau harus memberitahuku terlebih dahulu.

Jang: Ya. (ia meninggalkan ruangan)

Mojin: Guru!

Mokrasu: Dia bergumul karena insiden Pangeran. Jagalah dia.

KEMUDIAN

Jang keluar dan bertemu dengan Giroo di jalan. Mereka berdua saling memandang, Jang kemudian mendahului untuk pergi, Giroo mengawasi Jang yang berlalu.

KEMUDIAN

Sunhwa: Apa? Achak? Apakah kau mau pergi ke gua?

Jang: Tidak, aku ingin bersantai.

Sunhwa: Ya?

Jang: Aku ingin berpesiar denganmu. Aku sudah mendapat persetujuan dari Guru.

KEMUDIAN

Jang dan Sunhwa pergi berpesiar ke Achak. Di sana mereka bermain-main dengan salju. Saling berkejaran dan melempar salju, tertawa lepas.

Jang membawa Sunhwa ke sebuah rumah.

Jang: Ini adalah rumah terakhir aku tingal bersama dengan ibuku. Aku sering tidak  mendengarkan kata-kata ibuku, benar-benar nakal.

Sunhwa: (tertawa) Sama seperti kau yang selalu tidak mau mendengarkan aku. Aku bisa mengatakannya kalau itu pasti benar.

Jang: (tertawa) Aku tidak belajar dan malah menggali kuburan orang-orang kaya, aku membuat bom bubuk kacang.

Sunwha: Jika aku yang menjadi ibumu, aku akan marah dan akan menyerah untuk mengasuhmu.

Jang dan Sunhwa duduk di tempat peristirahatan.

Jang: Jika kau yang menjadi ibuku, aku tidak akan melakukan semua itu.

Sunhwa: Benar, aku akan memukulmu …. (Jang tertawa)

Jang: Tapi ibuku menanggung semuanya itu, ia selalu tersenyum padaku dan memasak untukku santapan yang enak. Walaupun dia tidak makan, dia selalu memasak menggunakan gandum yang baik. Dia biasa memasakkan sayuran berbumbu untukku. Aku akan memasaknya sekarang.

Sunhwa: Kalau begitu aku akan menanak nasi.

Jang: Kau yakin aku bisa makan itu?

Sunhwa: Jangan makan banyak nanti! (Jang tertawa)

KEMUDIAN

Sunhwa pergi ke pasar dan menemui pedagang gandum. Jang membeli sayuran. Sunhwa bingung memilih antara beras dan gandum.

Sunhwa menanak nasi dan Jang memasak sayur.  Sunhwa mendekati Jang.

Sunhwa: Ah … ada sesuatu di wajahmu (ia menyentuh pipi Jang dengan jarinya lalu tertawa)

Jang: Kenapa? Di sini? (menyentuh pipinya yang tergores arang) Apakah di sini? (Jang mengusap wajahnya dan noda di wajahnya semakin melebar, Sunhwa tertawa terbahak-bahak)

KEMUDIAN

Sunhwa: (mengambil sayuran, dan mencicipinya) Hmm … kau lumayan juga!

Jang: Buka punyamu! (Sunhwa membukanya dan ternyata bubur, Jang tertawa kecil) Apa ini?

Sunhwa: Hari-hari berhujan adalah kue tawar, Hari-hari hersalju adalah bubur! (Jang tertawa) Ayo, aku akan menyuapimu.

Sunhwa menyendok bubur dan mengarahkan sendok ke depan Jang, Sunhwa juga menunjukkan wajah seperti merayu orang untuk membuka mulut dan makan … aaaakkk …

Jang menatapnya kemudian menundukkan wajah dengan raut wajah sedih, lalu bangun dan keluar dari kamar. Sunhwa tertegun, tidak menyangka kalau perbuatannya akan membuat Jang bersedih. Ia segera menyusul Jang keluar.

KEMUDIAN

Jang: Aku memikirkanmu ketika aku datang ke sini, dengan semua bahaya yang harus kau hadapi. Kau mengatakan padaku bahwa balas dendam adalah hal yang menjemukan (red: pas episode 4). Tapi kenapa balas dendam menjemukan? Jika itu menjemukan untuk membalaskan dendam kepada siapa yang telah membunuh ibuku, kakakku, apakah yang berharga di dunia ini? Aku akan medapatkan identitas dan posisiku kembali lalu akan membalasnya.

Sunhwa: Itu sangatlah berbahaya. Kau harus berpikiran rasional.

Jang: Aku tidak suka berpikir secara rasional! Aku tidak ingin berterung sambil berupaya mencari jalan untuk melarikan diri. Aku tak ada jalan keluar. Bukan! Aku tidak ingin mencari jalan keluar. Ketika aku mundur, aku takut mundur karena takut akan kematian. Aku takut untuk menyerah ketika aku mengingat hari-hari bahagia yang kuhabiskan bersama denganmu. Untuk pertama kalinya, aku merasa benci dengan cinta kita, yang kujalin denganmu.

Sunhwa: ,,, (memandanginya)

Jang: Dan hatiku hancur. Jalan yang aku bersikeras untuk melaluinya, aku mungkin tidak akan dapat melindungi cinta kita. Haruskah aku berhenti sekarang? Apakah kau menyukainya jika aku melakukan itu? Karena itulah aku minta kau datang bersamaku ke tempat ini. Aku memerlukan ijinmu. Aku memerlukan ijinmu, karena diriku adalah milikmu. Setelah aku mengungkapkan diriku, aku akan menjalani jalan yang, entah aku akan terbunuh atau aku akan menjadi Pangeran Mahkota. Aku harus melakukan pembalsan dendam yang menurutmu menjemukan itu jadi aku harus tetap pergi. Kumohon ijinkan aku. (Andy: Jang mantep …… PRIA SEJATI !!!! 🙂 )

Sunhwa: …. (kalut, ia dapat merasakan kesedihan Jang, tapi juga memikirkan dirinya yang mungkin bisa kehilangan Jang jika ia memberikan ijinnya)

KEMUDIAN

Jang mengantar Sunhwa ke kediamannya.

Jang: Masuklah!

Sunhwa: Apakah kau akan pergi sekarang?

Jang: … Masuklah!

Sunhwa: … (memandang Jang dan tiba-iba ia memeluk Jang)

Jang: Masuklah! Kalau tidak, aku tak dapat pergi.

Sunhwa melepaskan pelukannya, Jang meatapnya, Sunhwa melangkah masuk dan Jang melangkah pergi.

Tanpa sepengetahuan Jang, Sunhwa keluar lagi untuk melihat kepergiannya. Daejang keluar menemui Sunhwa.

Daejang: Kau sudah kembali? (Melihat raut wajah Sunhwa yang sedih) Ada apa? Apakah ada sesuatu yang telah terjadi? Bagaimana dengan Jang? Tidakkah dia datang bersama denganmu? (Sunhwa tak menjawabnya, tetap melihat ke arah Jang pergi)

KEMUDIAN

Jang kembali ke Istana dan menuju ke Kediaman Raja. Di tengah jalan  Wooyung melihatnya dan merasa heran sehingga ia mengikuti Jang. Jang sampai ke depan kediaman Raja dan membungkuk hormat pada Wangoo.

Wangoo: Apa yang membawamu kemari selarut ini?

Jang: Aku harus menemui Raja.

Wangoo: Tetang apa ini?

Jang: Mengenai kasus Pangeran Aja. (Wooyung mengintip)

Wangoo: Tapi Guru Mokrasu mengatakan kalau kau kehilangan pengendalian dirimu karena insiden itu. Dan dia menyuruhku untuk tidak membiarkanmu masuk.

Jang: Tidak. Ini belum terlambat. Aku tidak kehilangan pengendalian diriku. Tolong ijinkan aku masuk.

Wangoo: Jika kau ingin menemui raja, datanglah bersama dengan Guru Mokrasu.

Jang: Tuan!

Suara Weeduk: Bawa dia masuk!

Wangoo: (tak bisa berbuat banyak) Masuklah! (Wooyung mengawasi Jang masuk ke dalam kamar Raja.)

KEMUDIAN

Weeduk: Ada apa? Apa yang kau ketahuui tentang kasus itu?

Jang: Ya, Yang Mulia. Sebelum Pangeran meninggal, dia telah memberitahuku siapa Pangeran ke-4.

Weeduk: (berbalik menghadapinya) Apa?

Jang: Aku punya rencana yang dapat membuktikan bahwa Pangeran ke-4 tidak membunuh Pangeran Mahkota Aja. Jadi apakah Yang Mulia  akan mengikuti rencanaku?

KEMUDIAN

Mokrasu: Apa?

Gomo: Kecuali orang yang memang dibutuhkan untuk pekerjaan penting, apakah Raja menginginkan semua anggota Taehaksa berada di tempat interogasi?

Mojin: Ya, itulah yang dia katakan padaku.

Mokrasu: Siapa ? Siapa yang mengirimkan pesan ini?

Mojin: Eunsol dari Pengawal Raja. Ini adalah perintah yang mendesak dari Baginda Raja. Jadi aku juga sudah menyampaikan kepada semua orang yang kutemui dalam perjalanan ke sini.

KEMUDIAN

Bumro: Mengapa dia menginginkan kita berada di sana?

Eunjin: Orang itu pasti telah membuka mulutnya kalau Jenderal lah yang jadi dalangnya.

Maekdosu: (menyeret Eunjin dan Goyiso)  Ayo kita segera mencari tahu. Kita cari tahu! Aku ingin melihat lehernya dipatahkan, dan berkata: “Ya, aku yang melakukannya”. Aku harus mendengar ini!

Gooksoo: Tapi mengapa kita harus ada di sana?

Asoji: Mereka perlu saksi!

Juriyeong: Benar, kalau tidak dia akan memutar balikkan kesaksiannya nanti.

Goyiso: Aku juga harap begitu!

Maekdosu: Ayo pergi! Cepat! (Sambil menyeret Goyiso dan Eunjin, yang lainnya segera menyusul.)

Wooyung: apakah ini benar?

Woosoo: Benar! Mereka mengatakan pada kami utnuk datang ke tempat interogasi.

Wooyung: (pada Giroo) Apakah kau tahu kenapa?

Giroo: Aku juga tidak tahu !

KEMUDIAN

Sun: Pergi ke tempat interogasi?

Giroo: Bukan hanya Jenderal, Raja memanggil semua orang yang ada di istana.

Sun: Semua orang?

Giroo: Ya. Aku pikir hanya anggota Taehaksa yang diperintahkan ke sana, tapi para pejabat pemerintahan juga diharuskan ke sana.

Heuk: Apa yang terjadi? Pemeriksaan untuk sementara ini dihentikan.

Sun: Jangan terlalu khawatir. Walaupun Raja memeriksanay sekali lagi, dia tak akan mendapatkan apa-apa. (Giroo berpikir) Aku pikir Raja akan menyelesaikannya dengan diam-diam. Kau lihat nanti. Ayo kita berangkat!

KEMUDIAN

Semua pejabat pemerintahan dan juga para anggota Taehaksa berkumpul di halaman tempat pemeriksan. Jangdoo dibawa dan diikat di kursi. Raja datang untuk memeriksa Jangdoo.

Weeduk: Mulailah!

Wangoo: Baik! (berbalik dan mulai pemeriksaan) Apa kau bertemu dengan orang yang mengupahmu?

Jangdoo: Ya.

Wangoo: Apakah kau masih mengingat wajahnya?

Jangdoo: Ya!

Wangoo: Kalau begitu, jika dia ada di tempat ini, apakah kau masih dapat mengenalinya? (Giroo kaget, Jangdoo terlihat ragu-ragu.)

Jangdoo: Ya.

Wangoo: Baguslah! Lihatlah orang-orang yang ada di sini, dan temukan dia! (Kepada semua orang) Setiap orang maju ke depan orang ini satu persatu! Aku akan mulai dari Taehaksa.

Setiap orang berjalan ke depannya dan Jangdoo menggelengkan kepala kepada semua orang dari Taehaksa, termasuk kepada Jang, walaupun Jangdoo mengenalinya sebagai orang yang menggagalkan rancananya untuk membunuh Pangeran. Demikian juga kepada setiap pejabat pemerintah.

Wangoo: Jenderal kau juga harus melakukan ini seperti yang lainnya.

Weeduk: Lakukan seperti yang ia katakan!

Sun: Baik. (Sun maju ke depan Jangdoo)

Giroo menjadi yang orang yang terakhir yang diperiksa.

Wweduk: Apakah kau yakin kalau orang yang menyuruhmu tidak ada di sini?

Jangdoo: Itu benar!

Weeduk: Kau tidak melihatnya?

Jangdoo: Tidak, dia tidak ada di sini.

Weeduk: Kau katakan bahwa dalangnya adalah Pangeran Ke-4, benar?

Jangdoo: …

Weeduk: Benar?

Jangdoo: itu benar.

Weeduk: Pangeran ke-4 ada di sini!

Semua orang terkejut mendengarnya.

Weeduk: Pangeran Ke-4 majulah ke depan! (Jang sedikit ragu-ragu, Mokrasu menatapnya) Pangeran Ke-4 majulah!

Jang akan maju, tapi tiba-tiba terdengar teriakan …

Prajurit: (sambil berlari berteriak) Yang Mulia….

Weeduk: Ada apa?

Prajurit: Pangeran! Pangeran Buyeo-Do baru saja meninggal!

Weeduk: (bangkit berdiri)  Apa? (Semua orang tak tenang) Do? Benarkah ini?

Prajurit: (menangis) Ya.

Weeduk:  Tidak ! Tidak! (berjalan mau menuju kamar anaknya)

Wangoo: Kawal raja! (Kepada prajurit) Kalian penjarakan dia lagi! Yang lain ikuti Yang Mulia sekarang!

Prajurit: Baik!

Mokrasu: (pada anggota Taehaksa) Kau kembalilah ke Taehaksa dan persiapkanlah upacara penguburan bagi Pangeran!

Anggota Taehaksa: Baik!

Mokrasu segera mendorong Jang untuk pergi.

Yang tertingal di tempat pemeriksaan adalah Sun, Giroo dan Heukjipyung.

Suara hati Sun: Bagaimana bisa Pangeran Ke-4 ada di sini?

KEMUDIAN

Raja memasuki kamar Pangeran Do.

Weeduk: Mengapa kau membuatku semakin sedih, aku tak dapat menyaksikan saat-saat terakhirmu. (Menangis tersedu-sedu – red: Dia adalah Raja yang bersedih dalam ramalan)

Catatan: Ingat ramalan yang ditemukan oleh Mokrasu?

“Raja yang dipermalukan akan memperanakkan kesedihan, dan kesedihan akam memperanakkan kesalahan, kesalahan akan membakar pedupaan itu sendiri, ia akan menjadi Raja, Raja yang akan kembali membangkitkan Baekjae dan akan mendapatkan kehormatan dan kemuliaan yang bear.”

Raja yang dipermalukan adalah Raja Sunhwang

Raja yang bersedih adalah Raja Weeduk.

KEMUDIAN

Mokrasu: Bagaimana tanpa memberitahuku kau melakukan ini?

Jang: Ini adalah satu-satunya cara untuk membuktikan kepalsuan tuduhan dan kebenaran yang sesungguhnya.

Mokrasu: Apakah kau sudah memberitahunya kalau kau adalah Pagneran Ke-4?

Jang: Aku tidak mengatakannya, aku mengatakan kalau Pangeran yang menyuruhku untuk melakukan seperti itu.

Mokrasu menghela napas lega.

Jang: Dia mungkin tidak akan mengumumkannya karena aku. jadi aku tidak memberitahunya mengenai identitasku. Ini berlangsung seperti rencana, tapi hanya berhasil separuh saja. Dia berkata kalau tidak ada Pangeran Ke-4 di sana. Sudah jelas sekarang kalau aku tidak menyuruhnya. Jika aku mengungkapkan diriku maka semuanya itu akan menjadi sebuah kebohongan.

Mok: Tapi itu bukan caranya! Yang paling penting sekarang adalah melindungimu. Aku maksudkan kalau kau harus diselamatkan.

KEMUDIAN

Heuk: Apakah Pangeran ke-4 benar-benar ada di sana?

Sun: Itulah mengapa dia membuat situasi seperti itu.

Giroo: Dia menyamar karena tahu kalau Jangdoo tidak akan dapat mengenalinya.

Heuk: Sekarang sulit bagi kita untuk memfitnahnya sebagai pembunuh.

Sun: …. (menggebrak meja) Tapi Do sudah mati. Shock yang dialaminya secara berturutan akan membuat Raja sulit mengatur perasaannya. Kita masih ada waktu jadi kita harus membuat rencana.

Heuk: Tidakkah kita harus menggunakan operasi militer?

Sun: Dia ada di sana! Di antara orang-orang itu, dia hadir di sana. (Semua orang hanya bisa menduga-duga) Siapa dia? Siapa sebenarnya dirinya?

Heuk: Aku akan memeriksa setiap orang yang datang ke sana.

Sun: Temukan dia! Temukan dia!

KEMUDIAN

Raja masih di kamar Pangeran Do.

Suara hati Weeduk: Apa yang tersisa dariku? Tubuh yang kurus dan menyedihkan. Aku hidup dengan rasa bersalah karena tak dapat berbakti kepada ayahku. Aku harus hidup dengan penyesalan terhadap anak-anakku. Aku tidak seharusnya dilahirkan dalam keluarga raja.

Wangoo dan para pengawal masuk ke dalam.

Wangoo: Yang Mulia, kami harus memindahkannya.

Weeduk: …

Wangoo: Yang Mulra!

Weeduk: Pergilah! (membentak) Keluarlah sekarang!

KEMUDIAN

Jang di dalam kamarnya berpikir …

KEMUDIAN

Wangoo: Yang Mulia, kau seharusnya …

Weeduk: Pergilah dan bawa Jang

Wangoo: Yang Mulia.

Weeduk: Bawa dia padaku.

KEMUDIAN

Jang dibawa ke hadapan Raja Weeduk yang masih menunggui jenazah pangeran Do.

Weeduk: Pergi dan beritahukan pada Pangeran Ke-4! Janganlah pernah datang kepadaku. (Jang terkejut) Tidak! Beritahu dia untuk melupakan kalau dia adalah anakku dan anggota keluarga raja. Beritahu dia aku tak memiliki kekuasaan untuk melindunginya atau keinginan melakukannya. Aku tidak merasa menyesal atau sedih karenanya. Untunglah dia tersembunyi. Itulah satu-satunya cara untuk melindunginya, dan itu adalah keberuntungan. Beritahu dia untuk hidup dengan bebas dan nyaman

Jang: Baik, Yang Mulia! (Jang akan meninggalkan ruangan, tapi berbalik) Yang Mulia!

Iklan

31 comments on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 31

  1. dimana ya bisa beli dvd seodongyo, yg bajakan jg boleh..bsk liburan sekolah dimulai,2 minggu gk bs nonton n ngenet…

      • wew……………………….., semangadddddddd truuuuuuuuuuuusssss
        pantang pake acara “” “glodak” semaput duluan “”””””
        hehehehe……………..
        ditunggu ni bos……
        kita semua turut berdoa, agar bisa siap n makin mantap tnuty…

        • hahahahha …. ga sampe semaput cuman kedodoran bang … seperti yang kubilang … kalo ga sibuk pasti 1 episode muncul untuk 1 hari, tapi kalo dah sibuk kadang sampe ga berkutik … pegang kompi aja ntar dimarahin bos 😦 …. hahaha sampe kenyang deh kena semprot 😛 omong-omong ini masih 1/4 yang 32 nya 😦 ga bisa muncul kayaknya hari ini …. tapi kupost seperti biasa sepotong demi sepotong sampe lengkap nanti 😀

  2. Wedew…makin asyik aja ni cerita si jang…..
    Moga2 boz andy byk pahalanya deh…wkkkkkkeekkkk
    lanjut boz, episode 32… ditunggu bezok…:)

    • weleh …. ini masih proses bang, ga bisa langsung jadi …. ga ada orang indonesia yang buat sinopsis film ini selain aku, jadi mau tak mau aku buat satu-satu, ga copas doank … orang luar pun cuman buat ringkasan tanpa dialog setelah episode 24, mau ga mau aku terjemahin langsung dari filmnya, aku terjemahin dan tuliskan satu-satu semua dialog di dalam film sampe menerangkan juga tindakan dan situasinya, paling parah kalo teks bahasa inggrisnya ga ada terjemahan yang pas, terpaksa aku pikirkan sendiri yang pas , belum lagi kasih gambarnya … jadi film 1,5 jam kalo buat sinopsisnya bisa 7-12 jam, tergantung sibuk ndaknya diriku dan juga koneksi internetnya lemot nda 😦 … Tolong sabar ya … 😀 Sorry kalo jadi curhat … wkkwkwkw … ikuti aja terus, yang pasti ntar kulanjutin sampe tamat koq … 😀 Aku juga CINTA banget ma film ini makanya bela-belain buatin sinopsisnya, biar yang ketinggalan masih bisa mengetahui kejadian yang sebenarnya, dan mendahului yang di TV supaya kalian semua bisa jadi ‘sutradara’ di rumah, dah tau jalan ceritanya 😀 …… Jadi sekali lagi sabar ya ……. heheheh jadi panjang deh 😛

  3. ih bos Andy bisa banget cutting ceritanya, bikin yg ga jantungan dpt serangan pertama, yg ga asma jd sesak nafas…anyway thanks

    • bisa aja … jadi besar kepala nih 😛 .. hehehe ….. aku emang demen baca buku novel sama silat, jadi ya biasa gitu… khan kalo cuman baca kalian ga tau kondisinya apalagi aku jarang kasih gambar gara2 ngebut buat sinopsisnya, jadi mau ga mau aku memikirkan supaya kalian paling dikit masih bisa membayangkan situasi pas saat itu, gitu deh… 😀 thanks buat pujiannya … tambah semangat deh … heheh 😀

      • its amazing………………………..
        kasih keprok2 dunks…………..
        he.he.he……………
        yg penting tetep smangadddddddddddddd………….

  4. thanks banget sama Andy, hebat uuiie nulisnya……org yg baca serasa larut ama ceritanya, kayak nonton langsung dramanya….terus lanjut ya….episode 32, 33 dst…..makasihhhhhhhh udah mengurangi rasa penasaran q…..

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s