Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 32

Jang dibawa ke hadapan Raja Weeduk yang masih menunggui jenazah pangeran Do.

Weeduk: Pergi dan beritahukan pada Pangeran Ke-4! Janganlah pernah datang kepadaku. (Jang terkejut)

Tidak! Beritahu dia untuk melupakan kalau dia adalah anakku dan anggota keluarga raja. Beritahu dia aku tak memiliki kekuasaan untuk melindunginya atau keinginan melakukannya.

Aku tidak merasa menyesal atau sedih karenanya. Untunglah dia tersembunyi. Itulah satu-satunya cara untuk melindunginya, dan itu adalah keberuntungan. Beritahu dia untuk hidup dengan bebas dan nyaman

Jang: Baik, Yang Mulia! (Jang akan meninggalkan ruangan, tapi berbalik)

Yang Mulia! (Weeduk menoleh) Yang Mulia, apakah kau harus melakukan ini? (Menatap Jang) Apakah kau akan mundur dengan keadaan seperti ini? (Raja masih menatap Jang)

(Dengan nada marah) Apa alasanmu menginginkan penyerahan tahta? Bukankah kau memintanya untuk membangun kembali Baekjae yang mengalami kemunduran? Jenderal-lah yang kehilangan kemauannya  untuk membangun Baekjae dan berkonspirasi dengan para bangsawan, tidakkah kau meminta Pangeran Aja untuk merebut Baekjae dari tangan Jenderal? (Raja terkejut)

Karena kau memintanya untuk melakukan ini, dia ingin menjadi anak yang berbakti dan tidak takut dengan kematian, dia menerima penyerahan tahta itu. Dia memberitahuku akan pergi melangkah menghadapi semua rintangan! Bagaimana mungkin kau sekarang mencoba untuk menginjak-injak keinginan dari Pangeran dan mengambil itu darinya? (Weeduk merenung)

Yang Mulia! Ini semua adalah kesalahanmu! Semua adalah kesalahanmu, Yang Mulia! (Weeduk menatapnya lagi) Kekuatanmu, harapanmu cuma sampai di sini! (Weeduk tetap memandangnya) Kematian Pangeran Aja dan semua pangeran yang lain, dan Pangeran ke-4 yang terpaksa bersembunyi, semua karena kesalahanmu! (Weeduk merenung lagi)

Tetapi Pangeran Mahkota sangatlah berbeda. (Raja menatapnya lagi) Dia mengatakan padaku kalau dia akan melindungimu,  melindungi Pangeran ke-3 yang baru saja meninggal, dan melindungi keselamatan Pangeran ke-4 yang tak pernah kau lihat! Tetapi seharusnya semua ini kau yang melakukannya, dan kaulah yang harus menjembataninya.

Sampai hari kau meninggal, sampai hari dimana kau tiada! Kau seharusnya menjadi kekuatan bagi para pangeran sampai akhir. Maka tidak ada seorangpun Pangeran yang akan meninggal, dan Pangeran ke-4 tidak akan menjadi pembunuh dan bersembunyi hanya untuk bisa hidup. (Weeduk merasa tergerak)

Seorang rakyat kecil sepertiku ini memiliki api dendam yang membara yang menyakitkan bagi kepala dan hatiku! (menaikkan suaranya) Kenapa kau menyerah! Kenapa kau mengatakan padanya untuk terus bersembunyi? (Weeduk merasa tidak enak)

Aku akan memberitahunya tepat seperti apa yang telah kau katakan padaku. Aku akan mengatakan padanya, “Ayahmu telah membuangmu” Dan aku akan mendendam padamu!

Wangoo: (Masuk) Beraninya kau! (Menghunuskan pedang dan mengarahkan pada leher Jang) Beraninya kau mengatakan kata-kata yang kasar seperti itu pada Yang Mulia!

Jang: (terengah-engah karena menumpahkan emosinya, berlutut) Yang Mulia, bunuh saja aku! (Weeduk menatapnya) Perintahkanlah dia untuk membunuhku! (Raja dan Wangoo tak habis mengerti dengan sikap Jang) Itu lebih baik daripada seperti ini! (Jang menangis, Weeduk menatapnya ) Bunuh saja aku!

Weeduk: Singkirkan itu!

Wangoo menarik pedangnya dari leher Jang dan menyarungkannya kembali.  Ketiga orang itu saling berdiam diri beberapa saat, kemudian Jang bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan. Weeduk membiarkannya sehingga Wangoo juga tak dapat berbuat apa-apa, hanya menatap iba pada sang Raja. Weeduk memikirkan kata-kata Jang dan merasa heran dan kagum dengan tindakan Jang.

Jang keluar dari kediaman Raja berjalan beberapa langkah dan kemudian berbalik menatap kediaman Raja, menjatuhkan dirinya berlutut dan menangis. Mokrasu datang dan menatapnya dari kejauhan, mendesah.

Jang di luar kediaman Raja menangis ….

Raja Weeduk di dalam menangis … (Andy: Aku juga menangis …. )

Wangoo: Yang Mulia, kumohon tenangkanlah hatimu. Kau sudah sangat kelelahan  selama beberapa hari.

Raja masih saja menangis tak dapat menahan kesedihan di hatinya. Jang berlutut menunggu di luar, ia sudah dapat menguatkan hatinya, kemudian bangkit berdiri, diawasi oleh Mokrasu dari kejauhan, dan melakukan penghormatan besar ke arah kediaman Raja, seperti melakukan penghormatan terhadap orangtua.

Jang meninggalkan kediaman Raja, sedikit kaget melihat Mokrasu berdiri mengawasinya, kemudian berlalu dari hadapannya tanpa mengucapkan satu patah kata.

Jang di kamarnya mengemasi semua pakaiannya, Mokrasu masuk dan melihatnya berkemas.

Mokrasu: Apa yang sedang kau lakukan? Bongkar semua itu! (Jang masih mengemasi)  Bongkar semuanya!

Jang: (berbalik menghadapinya) Aku tidak pernah berpikir bahwa kesedihan dan kebingungan yang akan tersisa.

Mokrasu: Aku tahu!

Jang: Tidak! Kau tidak tahu! Aku tak dapat tinggal disini lagi! Aku akan meninggalkan semuanya. Jika aku hidup sebagai orang desa dan menangkap ikan untuk bertahan hidup, aku dapat melakukan semuanya dengan kepercayaan diri. Aku akan hidup dengan lebih baik dibandingkan dengan ini.

Mokrasu: Apa yang ingin kau tinggalkan?  Pangeran Aja? Atau orang-orang yang setia kepada Pangeran Aja? Atau apakah  para anggota Taehaksa? Apa yang ingin kau tinggalkan?

Jang: Semuanya!

Jang pergi, Mokrasu terhenyak, Bumro masuk ke dalam.

Bumro: Guru, apa yang sedang terjadi? Kenapa Jang sangat marah dan pergi? Dan apa itu semua mengenai Pangeran ke-4?

Mok: Aku akan menulis sura. Antarkan itu pada Pedagang Jin! Sepertinya Jang akan pergi ke sana.

KEMUDIAN

Sunhwa sedang membaca dan Chogee sedang menjahit, Bomyung masuk ke dalam.

Bomyung: Nona, Bumro dari Taehaksa datang ingin menemuimu. (Chogee sangat gembira, ia membereskan dandanannya, Bumro masuk.)

Sunhwa: Ada apa?

Bumro: (membungkuk dan menyerahkan surat) Surat ini dari Guru Mokrasu.

Sunhwa menerima dan membacanya, ia terkejut saat selesai membaca.

Sunhwa: (pada Bumro) Sekarang Seodong-Gong ada di mana?

Bumro: Guru Mokrasu mengatakan kalau ia  akan kemari. Apakah ia belum datang?

Chogee: Tidak!

Sunhwa: (pada pengiringnya) Kalian harus mencari Seodong-Gong!

Chogee: Ya.

Sunhwa: (bangkit berdiri) Tidak! Aku juga harus mencarinya sendiri!

Chogee: Ya.

Sunhwa keluar dan Soochong mendatanginya.

Soochong: Apa yang terjadi?

Sunhwa: Temukan Seodong-Gong! (Kepada yang lain) Kita akan berpencar dan mencarinya!

Semua: Ya (Mereka segera berpencar untuk mencari Jang)

Bumroo sedang berjalan pergi, Chogee menarik lengan bajunya.

Chogee: (senang) Kau bersamaku Bumro! (menyeret Bumro pergi) Ayo!

Sunhwa dikawal Soochong mendatangi rumah milik mereka (pas adegan ciuman itu lho!), ternyata rumah itu kosong tak ada orang. Sunhwa kecewa. Sunhwa berkeliling bersama Soochong mencari Jang.

Soochong: Dia tidak ada di sini.

Sunhwa menghela napas kecewa, tapi tiba-tiba ia teringat satu tempat, Sunhwa segera berlari pergi, Soochong mengikutinya dari belakang.

Bumro dan Chogee datang ke rumah Jang dan Sunhwa juga.

Bumro: Apakah dia akan kesini?

Chogee: Mungkin saja. Tempat ini sangat berarti bagi mereka berdua.

Bumro: Berarti? Apa artinya?

Chogee: Tempat ini menyimpan kenangan yang sangat indah, suci, dan sangat manis.

Bumro: (tidak mengerti) Apa yang sedang kau bicarakan?

Chogee: Aku maksudkan, Seodong-Gong dan nonaku di sini, mereka saling memegang tangan satu sama lain, dan kau tahu!? Mereka dengan lembut melakukan ‘itu’. (Chogee memeragakan adegan ciuman)

Bumro: A .. Apa?

Chogee: (memegang kedua pipi Bumro) Seperti apa ‘itu’ rasanya?

Bumro: Aku tak tahu! (Bumro ketakutan dan mendorong Chogee, terus lari … 😀 )

Chogee: (duduk santai) Ahhh …. Wajahnya sedikit menyedihkan tapi dia sangat polos! (tertawa mengikik)

Sunhwa dan Soochong mencari di mana-mana, termasuk di rumah yang ditinggali terakhir oleh Jang dan ibunya  tapi tetap tak menemukan Jang.

Soochong: Dia juga tak ada di sini.

Sunhwa gelisah, tapi ia tiba tiba teringat lagi pada satu tempat terakhir yang mungkin saja Jang datangi.

Sunhwa: Benar! Pasti di sana! Makam dari Pangeran Aja! Dia pasti ada di sana! (Sunhwa segera pergi diikuti oleh Soochong)

MAKAM PANGERAN AJA

Jang: Taeja Cheon Na, aku tidak dapat memenuhi keinginan terakhirmu.

Aku akan melakukannya, walaupun aku tidak yakin kalau aku memiliki kemampuan untuk melakukannya. Aku akan mencobanya, meskipun aku tak memiliki kekuatan untuk melakukannya. Aku akan mengusahakannya tidak peduli apapun juga.

Karena itu adalah harapanmu. Aku tak dapat melihat mereka yang telah membunuh ibuku dan dirimu, menghancurkan Baekjae milikmu.

Tetapi aku telah dipatahkan semangatku. Raja menyuruhku untuk menutupnya. Raja menyuruhku untuk melupakannya. Aku akan membencinya, aku membencinya lebih dan lebih lagi. Raja yang tak dapat membalaskan dendam Taeja Cheon Na, membuatku menjadi pembuhuh. Aku akan membencinya.

Kumohon maafkan aku Taeja Cheon Na! Maafkanlah aku!

Jang menangis memikirkan Pangeran Aja, keinginan terakhirnya dan situasi yang sekarang ia tengah hadapi. Beberapa saat kemudian Sunhwa mendatangi dengan perlahan dari belakang.

Sunhwa menatap punggung Jang, yang mulai dipenuhi oleh butiran salju. Sunhwa dapat melihat kepedihan dan beban berat yang dipikul oleh Jang di punggungnya. Ia ingin menghiburnya tapi ragu-ragu apakah ini tepat atau tidak.

Jang bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya, tampak air mata menetes turun dari matanya. Jang terkejut melihat Sunhwa sudah ada di belakangnya. Sunhwa melihat air mata itu dan merasa sedih di hatinya.

Jang: Sekarang semuanya sudah berakhir. Sekarang aku dapat pergi ke manapun bersama dengan dirimu.

Sunhwa: (Tersenyum paksa) Ya.

Jang berlalu pergi dari makam dan Sunhwa mengikutinya.

Sunhwa mengikuti Jang dengan sedikit terpincang-pincang, tapi ia tidak mengeluh sedikitpun. Jang terkejut ketika di tengah jalan ia mengetahuinya.

Jang: Apa yang terjadi?

Sunhwa: Kakiku keseleo ketika mencarimu. Aku tidak apa-apa.

Sunhwa berjalan melewatinya dan Jang hanya bisa mengawasinya. Tiba-tiba Sunhwa hampir jatuh,Jang segera meraih tangannya dan kemudian mengangkat Sunhwa dalam gendongannya. (wuih ….:D)

Sunhwa: Aku baik-baik saja!

Aja: Aku yang tidak baik-baik saja! (Jang tetap menggendongnya pergi)

Selama perjalanan Sunhwa terus menatap Jang, yang terus menggendongnya juga. Jang diam saja tapi kadang-kadang ia juga memandang Sunhwa.

Mereka sampai di Kediaman Sunhwa, Jang langsung masuk ke kamar Sun.wa dan menurunkannya. Sunhwa meloncat, ternyata kedua kakinya baik-baik saja. Jang terkejut melihatnya.

Sunhwa: Aku menipumu lagi. Aku baik-baik saja! (Sunhwa berjalan dengan menghentakkan kedua kakinya)

Jang: (tersenyum kesal) Bagaimana bisa kau melakukan itu di hari-hari seperti ini?

Sunhwa: (senang melihat Jang tidak marah) Aku sangat ketakutan. (Jang tidak mengerti) Aku melakukan itu karena kau sangatlah putus asa, sehingga kau mau melepaskan semuanya. (Jang menatap Sunhwa)

Kau memilikiku sebagai seseorang yang dapat menjadi tempatmu bergantung dan sebagai seseorang yang harus kau lindungi. Memang tidak sebesar Baekjae, tapi kau masih memilikiku. Dan aku menginginkan kau untuk tidak memikirkan masa-masa yang sulit.

Berbaringlah, sehingga kau dapat beristirahat dengan nyaman. Aku mau membuatmu tertidur. (Jang tersenyum, hatinya terhibur) Letakkan seluruh pikiran dan tubuhmu yang lelah padaku, dan pergilah tidur.

Sunhwa menarik Jang ke tempat tidur dan Jang menurutinya, Mereka berdua duduk di tempat tidur, Jang kemudian membaringkan tubuhnya dan menaruh kepalanya ke pangkuan Sunhwa.

Sunhwa: Aku memerintahkanmu untuk tidak berpikir. Kumohon janganlah berpikir mengenai apapun juga. Hanya tidurlah, tidurlah! (Jang menurutinya, ia menutup matanya dan mencoba untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya)

KEMUDIAN

Sun: Apa? Raja mau melanjutkan pemeriksaan dan meminta semua orang yang hadir kemarin untuk datang menghadirinya lagi? Kita semua? Semuanya?

Heuk: Ya, mungkin Raja ingin menyelesaikan pemeriksaan kemarin.

Giryoo: Tidakkah dia sudah kehilangan kemauannya untuk melakukan pemeriksaan?

Heuk: Ya dia seperti itu.

Sun: Ayo kita pergi.

Sun dah Heukjipyung menuju ke tempat pemeriksaan, di tengah jalan mereka bertemu dengan Haedoju.

Haedoju: Kau tahu sesuatu?

Sun: Aku tidak tahu! Jadi kau juga tidak tahu?

Hae: Tidak!

Sun: Ayo kita berangkat!

Rombongan Hae dan Sun bertemu dengan rombongan Buyo-Gye dan Wooyung. Buyo Gyee dipersilahkan untuk memasuki ruangan terlebih dahulu. Chilryo dan Baekmoo juga datang.

KEMUDIAN

Para pejabat sudah berkumpul begitu juga dengan Mokrsu sebagai Pimpinan dari Taehaksa. Raja datang, mereka semua bangkit berdiri menyambut kedatangannya. Raja duduk di singgasana, mereka juga duduk.

Chilryo: Yang Mulia kau kelihatan tidak begitu sehat!

Weeduk: Aku tidak apa-apa! Sebelum aku tenang dari kehilangan beruntun dari Pangeran Aja dan Pangeran Do, alasanku mengumpulkan kalian semua di sini adalah untuk membuat suatu keputusan yang amat sangat penting. (Semua orang menebak-nebak apa itu)

Penjahat itu, Jangdoo, yang berusaha untuk membunuh Pangeran Aja, pihak militer dapat mengurusnya.

Sun tidak menduganya tapi tetap menunjukkan wajah tenangnya, Wooyung merasa ada yang aneh, Mokrasu tak menunjukkan sikap apapun.

Chilryo: Yang Mulia, bagaimana bisa …

Weeduk: Aku menganggap kasus Pangeran Aja adalah karena kehendak Langit! Dan aku akan tambahkan, aku akan memperjelasnya di sini. (Semua orang menunggu dengan tidak sabar) Aku akan pensiun dari posisiku sebagai Raja dan akan masuk menjadi rahib Buddha. (Semua orang kaget, Mokrasu sudah sedikit dapat menduga maksud dari Raja)

Gye: Yang Mulia, tapi ini …

Weeduk: Aku telah memberitahukan ini pada kalian, jadi persiapkanlah semuanya untuk itu! (Raja bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan)

Semua: (Bangun berdiri) Yang Mulia!

Semua orang tak menduga kalau Raja akan membuat keputusan demikian sehingga mereka hanya bisa menebak-nebak tanpa hasil.

KEMUDIAN

Weeduk duduk di kamarnya ditemani oleh Wangoo.

Weeduk: Panggil Mok diam-diam kemari!

Wangoo: Baik! (Ia segera pergi)

Chilryo masuk dan berlutut di hadapan Raja.

Chilryo: Yang Mulia, batalkanlah keputusanmu! Ini tidak masuk akal!

Weeduk: Aku tahu maksudmu, Tuan Chilryo, tapi tak usah kau katakan.

Chilryo: Yang Mulia, Temukanlah kebenarannya dan balaskan dendam Pangeran Aja!

Weeduk: Anggaplah semuanya itu adalah kesalahanku. Aku tak ingin mengalami kematian anakku lagi. Aku bahkan tidak mengetahui bagaimana wajahnya. Dia bahkan belum pernah menerima kasih sayang dariku. Aku tak ingin dia terbunuh oleh karena diriku. Ini adalah keinginan terakhirku.

Chilryo: Yang Mulia, tolong pahamilah ini, aku tak dapat menerimanaya, Yang Mulia. (Mokrasu datang dan menghormat pada Raja)

Weeduk: (pada Mokrasu) Aku tak ada kata-kata yang dapat kuutarakan. Persiapkanlah pengunduran diriku! (Mokrasu memberi hormat)

KEMUDIAN

Maekdosu mengatakan kalau ia harus melarikan diri dari tempat ini, Eunjin menyahutnya kalau Raja akan menjadi Rahib tapi kenapa justru Maekdosu mau lari. Maekdosu menjawabnya dengan mengatakan kalau mereka semua tidak punya otak. Bumro menanyakan padanya kenapa. Ilmuwan lain mengatakan kalau itu berarti akan terjadi penyerahan tahta karena Raja menjadi Rahib Buddha. Juriyeong menebak-nebak siapa yang akan menjadi pewarisnya, apakah kepada pangeran ke-4 yang tidak diketahui siapa sebenarnya dirinya, Woosoo menjawabnya kalau orang itu adalah saudara Raja, Perdana Menteri Buyo-Gye.

Eunjin kaget dan bertanya apa itu benar, Maekdosu berteriak karena itulah mereka harus segera mengemasi barang dan pergi. Gooksoo bertanya apakah kejadian di Taehaksa bertahun-tahun lalu bisa terjadi lagi. Maekdosu menjawabnya kalau suami Gooksoo meninggal karena periwtiwa itu dan ia masih tidak tahu siapa yang menjadi dalangnya? Eunjin tidak mempercayai semua ini jadi ia akan bertanya pada ibunya. Maekdosu mengikutinya.

KEMUDIAN

Mojin: Jika ia bermaksud menyerahkan tahta, mengapa ia tidak mengatakannya secara gamblang? Sebaliknya ia mengatakan kalau mau menjadi Rahib Buddha?

Gomo: Dalam pandangannya, mereka lah yang telah menyakiti Pangeran Aja. Bagaimana ia bisa mengumumkan kalau ia akan menyerahkan tahta pada mereka.

Mojin: Jadi itu memang artinya …

Gomo: Aku juga berpikir demikian.

Mojin: Kalalu begitu apa yang akan terjadi pada Guru Mokrasu?

Gomo: Dia harus mengundurkan dirinya.

Mojin: Yang kumaksudkan adalah apakah pengunduran diri akan membawa manfaat? Tidak ada jaminan kalau kejadian itu (badai saat upacara) tidak akan terulang lagi.

Maekdosu: Tolonglah perintahkan kami, kemana kita akan pergi menyelamatkan diri kali ini?

Eunjin: Ibu, perlukan kita melarikan diri lagi?

Mojin: … (mendesah, tak bisa menjawabnya)

Gomo: Guru sudah datang)

Mokrasu datang dan akan pergi ke ruangan kerjanya.

Mojin: Guru apakah ini benar? Apakah Raja akan menyerahkan tahta kepada Perdana Menteri?

Mokrasu: Dia hanya mengatakan untuk mempersiapkan upacara inisiasinya masuk ke Buddha.

Maekdosu: Jadi itulah maksudnya.

Mojin: Jika itu benar, kau harus menghindari untuk memimpin pelaksanaannya

Maekdosu: Guru jangan sampai kita terlambat untuk melarikan diri sepsrti waktu yang lalu. Kita harus melakukannya lebih awal, lebih lebh awal!

Mokrasu: Belum terlambat untuk menyerah saat Pimpinan yang baru dipilih. Jangan panik dan kalian tunggu saja! (Mokrasu meninggalkan mereka)

Maekdosu: (mengawasi Mokrasu yang pergi) Ini waktunya untuk panik.

KEMUDIAN

Semua Faksi Sun mengucapkan selamat pada Buyo-Gye karena jelas yang dimaksudkan oleh Raja mengenai inisiasi adalah penyerahan tahta kepada Buyo-Gye. Buyo-Gye dengan tertawa senang mengatakan pada mereka kalau ini masih belum tentu, karena Raja belum menyatakannya. Sun menyahut kalau Raja hanya tidak ingin mengatakannya secara terbuka kepada mereka. Setelah masa dukanya sudah berakhir, dia akan mngumumkannya secara resmi dan Gye bisa mengikuti upacara penyerahan tahta.

Pintu terbuka dan terlihat beberapa pejabat memberikan selamat pada Buyo-Gye. Tapi kemudain semua pejabat itu memuji Sun dan mengatakan bahwa akhirnya rencananya membuahkan hasil. Buyo-Gye merasa diasingkan. Semua orang merasa senang.

KEMUDIAN

Giroo, Sun, dan Heukjipyung membicarakan tentang bagaimana merencanakan untuk menyingkirkan Pangeran ke-4. Sun mengatakan padanya kalau Raja melakukan hal ini karena ia ingin menutup kasus ini, semacam negosiasi. Heuk bertanya bukankah kita bisa mendapatkan sesuatu yang lebih besar, dan ini yang lebih penting dari semuanya.

Sun mengatakan kalau pihak mereka sudah melakukan tindakan terlalu jauh, dan ini saatnya untuk berdiam diri dahulu, karena kalau mereka terlalu memaksa raja, maka ditakutkan kalau Raja akan mengubah pikirannya. Heukjipyung menyahut kalau itu adalah hal yang sangat bagus, dan dia akan mengejar identitas sebenarnya dari Pangeran ke-4 secara diam-diam.

Tiba-tiba Giroo membuka mulutnya dan mengatakan kalau ia merasa tidak tenang karena keberadaan pangeran ke-4.

KEMUDIAN

Sunhwa menatap Jang yang sedang tidur. Tak berapa lama Daejang masuk. Sunhwa bangkit menyambutnya.

Daejang: Apakah ia masih tertidur?

Sunhwa: Ya!

Daejang: Ikutlah denganku sebentar.

Sunhwa: Baiklah. (Mereka berdua keluar dari kamar)

KEMUDIAN

Sunhwa: Benarkah? Apakah itu benar? Apakah raja mengatakan kalau ia akan menjadi Rahib Buddha?

Daejang: Itulah yang kudenganr.

Sunhwa: (gelisah) Bagaimana … Bagaimana bisa …

Daejang: Apakah kau sekarang tidak aakn membangunkan Jang?

Sunhwa: Aku ingin membiarkannya seperti ini untuk beberapa saat lagi.

Daejang: Bagaimanapun juga kita harus mengirimkan hadiah pada mereka.

Sunhwa: Hadiah apa?

Daejang: Para bangsawan dan pedagang menganggap bahwa tindakan raja itu sama dengan upaya menyerahkan tahta pada Buyo-Gye, jadi hadiah-hadiah dikirim kepada mereka, dan pesta sedang digelar sekarang.

Sunhwa: (terkejut) Pada waktu perkabungan Pangeran?

Daejang: Bahkan walaupun dalam kondisi seperti itu, mereka membuatnya seakan-akan itu adalah pernyataan yang resmi.

Sunhwa: … (bingung)

Daejang: Kita tidak bisa menonton saja sekarang.

Sunhwa: Kau ambil alih urusan ini.

KEDIAMAN SUN

Kesibukan terjadi di Kediama Sun, barang-barang hadiah dikirimkan dan tiap detik ada saja yang datang untuk menyerahkan hadiah. Sopal sangat senang melihat semua barang-barang itu seakan-akan semua itu adalah miliknya.

Kim Saheum, yang menyamar sebagai Abigi, datang ke kediaman Sun membawakan hadiah spesial bagi sang Jenderal.

Pesta juga digelar di dalam. Para pedagang dan pejabat yang bersekutu dengan Sun menghadiri jamuan dan memberikan ucapan selamat. Sun ingin bersulang dengan semuanya, tapi sebelum orang-orang menyahutinya, Wooyung mengatakan kalau sebenarnya ayahnya, Buyo-Gye yang patut untuk minum pertama karena dialah alasan mereka kesini. Semua orang menyetujuinya dan memberi selamat kepada Gye.

Di tengah-tengah pesta  itu, Sun mengatakan kalau Wooyung, yang duduk berdekatan dengan Giroo, tampak seperti pasangan kekasih, Wooyung dan Giroo saling berpandangan, salah tingkah. Gye pun setuju. Kemudian Sun menyuruh Wooyung untuk mengadakan pemilihan Pemimpin Kepala Taehaksa yang baru karena Guru Mokrasu pasti akan mengundurkan dirinya sendiri jika Gye yang naik tahta. Wooyung bertanya siapa calon Pimpinan Taehaksa berkutnya, Sun mengatakan seharunya itu adalah Wooyung, tapi ia harus mempersiapkan banyak hal yang besar, jadi lebih baik kalau Giroo yang memegang posisi itu. Giroo kaget dan berusah menolaknya (?) tapi Sun menyuruhnya jangan merendahkan dirinya, dan memutuskan kalau Giroo layak untuk posisi itu.

KEMUDIAN

Wooyung dan Buyo-Gye dalam perjalanan pulang.

Gye: Mengenai Guru Giroo: Anak siapakah dia?

Wooyung: Dia bukanlah seorang bangsawan. Dia diasuh oleh Mokrasu di Haneulchae, aku tidak tahu latar belakangnya.

Gye: Aku minta maaf, Sun lah yang merekomendasikannya.

Wooyung: ….

KEMUDIAN

Mokrasu mendatangi Kediaman Sunhwa dan masuk ke kamar, melihat Jang masih tertidur nyenyak. Sunhaw mendatanginya.

Sunhwa: Haruskah akau membangunkannya?

Mokrasu: Jangan! Biarkan saja dia.

Sunhwa: Ya. (Mokrasu keluar  ruangan Sunhwa menyusulnya.)

DI LUAR

Sunhwa: Aku mendengar ada penyerahan tahta? Apakah kau harus mengundurkan diri dari posisimu sebagai Pimpinan Kepala?

Mokrasu: Itu benar. Mereka ingin melakukannya dengan cepat, jadi aku akan diganti esok.

Sunhwa: Besok? Apakah mara bahaya mendatangi dengan begitu cepatnya?

Mokrasu: …. (berpikir)

KEMUDIAN

Wooyung sedang berjalan-jalan di luar, berpikir …

Mokrasu ada di kamarnya berpikir…

KEMUDIAN

Sun: Apa sebenarnya maksudmu? Giroo tidak menjadi Pimpinan Kepala Taehaksa? Siapa yang berani menentangku?

Heuk: Aku juga tidak mengerti itu. 3 orang di Dewan Guru adalah orang-orang kita.

Sun: Ayo berangkat ke Taehaksa!

KEMUDIAN

Gomo dan Mojin menemui Mokrasu di kantornya.

Gomo: Bagaimana ini bisa terjadi?

Mojin: Tidakkah ini aneh? Kecuali mempertaruhkan leher kita, siapa yang dapat menolak pengangkatan Giroo? Siapa yang tidak menyetujuinya?

Wooyung: (masuk ke ruangan) Itu aku! Aku tidak menyetujui pengangkatan Giroo. (semua terkejut) Aku ingin Guru Mokrasu tetap terus menjadi Pimpinan Kepala dari Taehaksa. (Kepada Gomo dan Mojin) K alian tinggalkan kami berdua!

Mojin dan Gomo: Ya. (Keduanya membungkuk hormat dan keluar)

Wooyung: Siapapun yang ada di tahta, Taehaksa harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Kita harus belajar dan meneliti untuk menjadi kumpulan orang-orang yang memberikan kemakmuran bagi rakyat dan negara. Pangeran Mahkota Aja pasti akan setuju denganku. Guru Giroo tidak layak untuk posisi itu. Akku harap Guru mengerti maksudku. (Wooyung pergi)

KEMUDIAN

Wooyung keluar dari kantor Mokrasu, berharap kalau Mokrasu dapat mencerna maksud dari kata-katanya tadi, dan berjalan pergi, tapi ia bertemu dengan Sun dan Heukjipyung yang sedang menuju ke Taehaksa.

Sun: Siapa dia?

Wooyung: Itu aku!

Sun: Kau?

Wooyung: Aku mengetahui seluk beluk dari Taehaksa lebih baik darimu. Aku berpikir secara mendalam sebelum memutuskan itu. Ketika ayah kita menjadi raja, Guru Mokrasu akan memimpin Taehaksa dengan baik. Dan akan menjadi kekuatan yang sangat penting bagi ayah.

Sun: Dapatkah kau bersumpah bahwa kau melakukan itu benar-benar untuk ayah?

Wooyung: Ya.

Sun: Kau tidak salah mengartikan apa yang kukatakan tadi malam?

Wooyung: Salah mengerti?

Sun: Aku hanya ingin Giroo …

Wooyung: (menyela) Dia pintar dan cemerlang. Tapi dia bukanlah bangsawan dan juga tidak memiliki kekuasaan. (Giroo datang di belakangnya dan mendengarnya, Wooyung memberi hormat pada Sun dan berjalan pergi tanpa tahu kalau Giroo ada di belakangnya)

Giroo: (mendatangi Sun sambil tersenyum): Kau bertindak terlalu jauh.

KEMUDIAN

Maekdosu menjelaskan sesuatu pada Eunjin Tiba-tiba Bumro masuk

Bumro:  Sudahkah kau dengar peristiwa ini?

Eunjin: Apa?

Bumro:  Giroo tidak akan menjadi Kepala Akademi.

Eunjin: (tidak percaya) Apa? Bagaimana?

Bumro: Guru Wooyung menolaknya jadi itulah alasannya.

Eunjin: Benarkah? itu sangat aneh.

Maekdosu: Bukankah itu bagus buat kita?

Bumro: Itulah yang kumaksud …

Eunjin:  Tidak seperti itu, dia pasti punya alasan lain.

Bumro: Tidakkah dia tiba-tiba diliputi rasa bersalah?

Maekdosu: Ketika pikiran warasmu sudah pergi, sangatlah sulit untuk kembali.

Eunjin: Menemukan anak perempuan yang hilang lebih mudah daripada menemukan kewarasan yang hilang.

Maekdosu: Benar!

Wooyung tiba-tiba masuk ke ruangan, semua orang salah tingkah karena berpikir kalau ia mendengar percakapan mereka. Wooyung melihat ke sekeliling merasa ada yang kurang.

Wooyung: Di mana Jang?

Eunjin: Sebenarnya …. aku tidak tahu.

Wooyung: Apa kau pernah bertemu dengannya?

Eunjin: Tidak, mengapa kau mencarinya?

Wooyung: Temukan dia! Dan bawa ke ruanganku!

Semua: Baik! (Wooyung pergi)

Maekdosu: Dia sangat cantik, tapi tingkah lakunya membuat orang merasa benci.

Bumro: Aku juga setuju.

Eunjin: (Khawatir) Dimana Jang sebenarnya di saat-saat kritis seperti ini?

Bumro: (serba salah) Dia menyuruhku untuk pergi meninggalkannya, jadi aku menurutinya.

Eunjin: Apa yang sedang ia lakukan?

Bumro: (tersenyum lebar) Dia sedang tidur nyenyak.

Eunjin: Apa ?

KEMUDIAN

Daejang dan Sunhwa memeriksa barang-barang dagangan mereka.

Sunhwa: Ikan sangat sulit untuk diurus.

Daejang: Aku tahu, karena itulah aku sangat khawatir.

Chogee: Oh … apakah kau sudah bangun?

Jang: (meregangkan tangannya ke samping) Ya. Itu tidur yang nyaman. Aku merasa sangat segar sekarang. Aku dapat pergi sekarang!

Daejang: Kau bodoh! Kau pikir kemana kau akan pergi? Apakah kau tahu situasi yang sedang dihadapi oleh teman-teman dan Gurumu saat ini?

Jang: Itu sudah tak ada hubungannya denganku sekarang! Jika mereka ingin pergi bersama denganku, aku akan senang menerimanya. Tapi jika mereka tetap ingin tinggal aku tak dapat membantu mereka.

Bumro: (mendatangi mereka bersama dengan Eunjin) Pengkhianat! Jika kita pergi, kita pergi bersama, jika kita tinggal, maka kita juga tinggal bersama.  Kau tidak dapat pergi seenakmu.

Eunjin: Siapa yang mengijinkan kalian berdua saling bertemu satu sama lain, aku bekerja keras untuk membujuk semua orang untuk memberikan respek pada kalian berdua (Sunhwa merasa tidak enak, Jang tersenyum simpul) dan sekarang kalian tidak berterima kasih dan mau pergi? Kita harus pergi bersama! Kemanapun kau pergi, aku akan ikut denganmu!

Jang: Baguslah, aku tidak masalah.

Bumro: Tpi Jang, sesuatu yang aneh teradi. Guru tetap di posisinya. (Sunhwa terkejut, Jang juga)

Jang: Tetap di posisinya? Apakah mereka memilih Pimpinan Taehaksa yang baru?

Sunhwa: Raja mengumumkan penyerahan tahta beberapa saat yang lalu. Jadi mereka memilih Pimpinan yang baru.

Bumro: Tapi Guru Wooyung memberikan suara penolakan terhadap pengangkatan Giroo. Jadi Guru tetap di posisinya.

Jang: Jadi? Apakah ia akam tetap melakukannya? (menaikkan suaranya) Apa yang dapat ia lakukan di posisi itu?

Bumro: Kenapa kau marah pada kami?

Jang tidak berpikir panjang langsung bergegas menuju ke Taehaksa.

Eunjin: (berteriak) Jang, Guru Wooyung ingin menemuimu!

KEMUDIAN

Guru Mokrasu membaca surat, berpikir. Kemudian ia keluar dari Taehaksa melewati pasar menuju ke kediaman Sunhwa.

Sementara itu Jang pergi ke kantor Direktur.

Jang: Guru! Apakah kau ingin menemuiku? (Jang masuk dan melihat tempat itu kosong)

Jang mencari Mokrasu ke aula tempat pertemuan Taehaksa.

Jang: Guru! Apakau kau ingin menemuiku? Kau memanggilku?

Wooyung menyusul di belakang Jang.

Wooyung: Aku yang memanggilmu. Kenapa kau tidak datang?

Jang: (memberi hormat) Aku tak tahu kenapa kau memanggilku, tapi aku tidak ada hal yang perlu dibicarakan.

Wooyung: (tersenyum) Aku sangat penasaran ketika pertama kali bertemu denganmu. (Jang tidak mengerti) Tidakkah kau takut akan kematian? Bagaimana kau bisa begitu tinggi hati dan bermuka tebal kepada kakakku dan aku? Beanrkah kau tidak takut mati?

Jang: Setiap orang takut mati!

Wooyung: Lalu? Apa alasanmu begitu tinggi hati?

Jang: Aku lebih takut takluk pada kalian lebih daripada kematian.

Wooyung: Benar, melihat tingkah lakukmu terhadap kakakku, aku tak pernah membayangkan akan membuatmu tunduk kepadaku.

Jang: Apa yang ngin kau katakan?

Wooyung: Aku tidak akan membuatmu tunduk padaku. Tapi berikan padaku dendammu terhadap kakakku.

Jang: …

Wooyung: Kemarahan dan kesedihan akibat kematian Pangeran Aja, lepaskan itu melaluiku. (Jang menatapnya) Aku iri dengan kesetiaan yang kau tunjukkan pada Pangeran Aja, tapi aku tidak mengharapkannya.

Jang: Kenapa kau tiba-tiba menginginkan bantuan dari aku dan Guru Mokrasu?

Wooyung: Pertama, bakat dan hasratmu itulah yang dibutuhkan oleh Taehaksa.

Kedua, aku tidak ingin ayahku hanya menjadi boneka seperti raja sekarang, karena itulah aku membutuhkan orang-orang yang menentang kakakku. Yang satu adalah aku, yang lain adalah dirimu. Ketiga adalah …. (batal melanjutkan)

Jadi kau harus membujuk Guru….

Jang: (menyela) Bagaimana jika aku menolaknya? Apakah kau akan mengambil nyawa kami seperti yang dilakukan oleh Jenderal?

Wooyung: Aku tidak perlu melakukannya, kakakkulah yang akan mengurus semua itu. (Jang tertegun) Bahkan jika kalian berdua berhasil lolos, dia akan menemukanmu, seperti saat kalian tinggal di Haneulchae, Shilla. Jadi tetaplah hidup selagi kau bisa.

Jang: Aku tak tahu kalau kau akan menyukainya atau tidak, tapi kau dan kakakmu adalah sama. (Wooyung sedikit tersinggung) Jadi jawabannya juga sama, Tidak! Dalam situasi apapun, aku tidak akan menjadi anakbuahmu. (Mereka berdua saling berpandangan)

Wooyung: Pikirkanlah secara perlahan! Aku tidak mencoba untuk mengancammu atau membunuhmu! Aku ingin menyamakan pendapatmu dan pengertianku. Jadi pikirkanlah dengan seksama.

Alasan ketiga yang tak kukatakan padamu adalah, Taehaksa akan sangat membosankan tanpa adanya dirimu! (Wooyung tersenyum, dan meninggalkan Jang)

KEMUDIAN

Mokrsu sampai ke kediaman Sunhywa dan masuk ke kamarnya, yang mana Sunhwa sedang asyik membaca buku.

Sunhwa: (menutup buku dan bangun berdiri) Dia pergi menemuimu! Tidakkah kau bertemu dengannya?

Mokrasu: Aku datang kemari untuk menemuimu!

Sunhwa: Aku?

KEMUDIAN

Sun mengundan Wooyung untuk datang ke kediamannya.

Wooyung: Ada apa?

Sun: Aku berbuat kesalahan. Aku tidak tahu itu akan sangat melukaimu. Seperti yang kau tahu, Giroo akan menjadi sosok yang penting. Selama latar belakangnya tidak diungkit, dia memnuhi semua syarat. Jadi janganlah salah paham terhadapku. Dan aku ingin kau tahu usahaku.

Wooyung: …

Sun Apakah kau tahu yang Mokrasu lakukan pada 10 tahun yang lalu pada saat penobatan?

Wooyung: Itu adalah masa lalu. Bukan! Lebih tepatnya, Guru Mokrasu tidak melakukan semuanya itu. Kau yang menuduh Guru Mokrasu yang berbuat.

Sun: Apakah kau pikir suara keras yang aneh dan badai angin hanya kebetulan karena peristiwa alam?

Wooyung: Jadi apakah kau pikir Taehaksa dapat menciptakan semua keributan itu?

Sun: …. (tertarik)

Wooyung: Aku sendiri juga adalah anggota dari Taehaksa, walaupun Taehaksa memiliki pengembangann teknologi yang hebat, tapi peristiwa seperti itu bagaimanapun juga tak akan dapat dilakukan oleh Taehaksa.

Sun: Karena itulah aku merasa sangat risau. Karena itulah aku tidak ingin dia yang menangani penyerahan tahta.

Wooyung: Apa yang membuatmu sangat risau? Situasi saat ini berbeda. Kau punya aku dan Giroo di Taehaksa, dan para bansawan serta 6 kepala departemen ada di tanganmu. Tindakan seperti itu membuat kita terlihat kerdil.

Sun: … (berpikir)

Wooyung: Kita tidak mencoba untuk merampas tahta, kita adalah tahta itu sendiri sekarang! Bergeraklah dengan besar-bearan dan berpikirlah luas. (wwoyung pergi)

Sun merenung dan berpikir, tiba-tiba ia bangkit dan menagmbil tutup batu pedupaan yang ditemukan oleh Mokrasu.

“Raja akan dalam kemuliaan, Tetai karena kesembronoannya, Raja akan menanggung amarah, dan raja yang dipermalukan akan memperanakkan kesedihan, dan kesedihan akam memperanakkan kesalahan, kesalahan akan membakar pedupaan itu sendiri, ia akan menjadi Raja, Raja yang akan kembali membangkitkan Baekjae dan akan mendapatkan kehormatan dan kemuliaan yang besar.”

Sun: (pada dirinya sendiri) : Raja yag dipermalukan …. raja yang dipermalukan … (Sun teringat beberapa tahun lalu)

Prajurit: Yang Mulia! Yang Mulia!

Sunghwang: (pada anakbuahnya) Balaskan penghinaan ini kepada mereka.

Raja Sunghwang dipenggal oleh seorang budak dari Shilla.

Sun bangkit dari duduknya karena menyadari arti dari ramalan di atas batu itu, dalam hatinya, ” Jika Raja Sunghwang adalah Raja yang dipermalukan…..”

Sun: (berbicara pada dirinya sendiri) Maka Raja yang bersedih adalah raja yang sekarang. (duduk) Dan putra yang dilahirkan karena kesalahannya …. apa mungkin Pangeran ke-4? (bangkit lagi dan menjadi sangat terkejut dengan kenyataan yang baru ia sadari)

KEMUDIAN

Sunhwa: Apakah waktunya benar-benar tepat saat kau menemukan ramalan itu beserta pedupaannya dan saat raja menghamili ibu Seodong-Gong?

Mokrasu: Itu benar!

Sunhwa: Dan Sodong-Gong lah satu-satunya orang yang berhasil membuat pedupaan itu terbakar ?

Mokrasu: Cocok sekali!

Sunhwa: …. (menghela napas dengan berat, karena menyadari …)

Mokrasu: Ini bisa saja kebetulan dengan keajaiban yang sangat ekstrem, atau ramalan itu hanyalah kata-kata kosong yang tertulis tanpa arti.

Sunhwa: … (berpikir)

Mokrasu: Tapi bagaimanapun juga, jika pedupaan itu memang diserahkan padaku dan Yeongamo melahirkan bayi anak Raja, dan Jang, yang kemudian menjadi muridku. Jika ini semua memiliki arti …

Sunhwa: (menyambung) Guru, kau menerima mandat dari Langit!

Mokrasu: Itu benar … untuk menjadikan Jang  sebagai Raja.

Sunhwa: ….. (menghela napas … karena menyadari ini adalah rahasia terbesar mengenai identitas Jang yang sesungguhnya!)

Mokrasu: Jika memang demikian …. Aku tidak akan pergi dari tempat ini dengan Jang. Dan aku tidak boleh pergi. Akuk harus menerima tawaran dari Guru Wooyung. Aku harus tetap berada di sini.

Sunhwa: Tapi apa yang membuatmu cemas?

Mokrasu: … (sukar untuk mengungkapkan)

Sunhwa: Apa yang menghentikanmu?

Mokrasu: … Kenapa Jang yang terpilih? Walaupun itu isi ramalannya, Aku harap ada alasan yang pasti sehingga aku dapat menerimanya. Ah .. Tidak. Karena ramalan itu diserahkan ke tanganku, maka harus ada sebuah alasan yang masuk akal.

Sunhwa: ,,, (merenungkan kata-kata Mokrasu)

Mokrasu: Mengapa bukan Pangeran Aja yang menerima mandat itu tapi Jang? Apa yang tidak dimiliki oleh Pangeran Aja tapi Jang memilikinya, sehingga akan membuat Baekjae menjadi makmur? Jang pasti memilikinya.

Sunhwa: Pasti ada alasannya!

Mokrasu: Sampai kita berhasil menemukannya, aku tak akan membuat keputusan apapun.

Sunhwa: …

Mokrasu: Alasanku memberitahumu ini adalah …

Sunhwa: (menyela) Aku tahu! Jika benar dia diberikan mandat oleh Langit aku akan bertindak lain.

Mokrasu: Benar!

Sunhwa: Aku mengerti! Seperti yang kau katakan, mengapa harus dirinya, mandat yang tidak diterima oleh Pangeran Aja. Aku akan berusaha menemukan alasan mengapa itu diberikan padanya. (Mokrasu menganggukkan kepalanya) Jika sudah cukup jelas, aku akan menghubungimu. (Mokrasu mendesah lega)

KEMUDIAN

Suara hati Sun: Ini pasti salah! Seperti yang Wooyung katakan, aku berpikir terlalu banyak.

KEMUDIAN

Mokrasu berjalan kembali ke Taehaksa.

Suara hati Mokrasu: Mengapa Jang? Apa yang ada di dirinya yang dapat membangkitkan Baekjae kembali?

KEMUDIAN

Sunhwa berjalan-jalan di dalam kamarnya.

Suara hati Sunhwa: Apakah ini memang benar adalah jalan yang tak dapat dihindari oleh Seodong-Gong? Tak dapat dihindari?

KEMUDIAN

Jang menemui Gomo dan Mojin untuk membujuk Mokrasu supaya melarikan diri bersama dengan mereka.

Jang: Kita harus melarikan diri. Apakah kalian lupa peristiwa 10 tahun yang lampau?

Mojin: Bagaimana kami dapat melupakannya?

Jang: Tapi mengapa kau hanya mengawasi Guru?

Mojin: Kami sedang berusaha membujuknya. Sangat menggelisahkan karena Guru Wooyung bertindak demikian.

Jang: Ya. Itu akan terlambat.

Gomo: Tapi saat ini mereka berusaha untuk memproses penyerahan tahta kepada Perdana Menteri. Mereka pasti tidak ingin ada pertumpahan darah.

Jang: Tapi kita tidak dapat menebak bagaimana hal-hal berubah dan khususnya kita tidak tahu bagaimana dengan Jenderal

Mojin: Itulah yang kumaksudkan.

Jang: Aku akan bertemu para pedagang dan mencari ke mana kita dapat pergi dan mencari perahu yang dapat kita gunakan untuk pergi secara rahasia. Kumohon supaya kalian berdua membujuk Guru.

KEMUDIAN

Jang berjalan mau ke kamarnya dan bertemu dengan Mokrasu.

Jang: Guru!

KEMUDIAN

Di kantor Direktur Taehaksa

Jang: Apa yang membuatmu berlambat-lambat?

Mokrasu: Jang!

Jang: Bahkan jika Guru Wooyung akan menjamin keselamatan kia, itu bukanlah jaminan yang sesungguhnya. Kau harus pergi bersamaku, kita harus cepat-cepat. Apakah kau melakukan ini kiarena aku?

Mokrasu: Ya benar.

Jang: Aku sudah melepaskannya. Siapa diriku dan siapa ayahku. Aku sudah melupakannya semua. Tidak … Ini adalah perintah Raja. Perintah itu bukan saja diberikan untukku, tapi untukmu juga. Jadi jangan membuat aku jadi alasanmu.

Mokrasu: …

Jang: Jika kau tetap mau berada di sini, aku hanya akan berpikir kalau kau berlambat-lambat karena masih ingin menjadi Pimpinan di sini. Aku akan mempersiapkan tempat dan waktu bagi kita untuk pergi. (Jang meninggalkan Mokrasu sendirian)

Suara hati Mokrasu: Apa yang ada di diri Jang? Kenapa Langit memerlukan sesuatu yang ada pada dirinya?

Mokrasu pergi keluar dan bertemu dengan Wooyung.

Wooyung: Guru, apakah kau sudah memutuskan?

Mokrasu: …

Wooyung: Aku tak dapat mengatakan kalau aku tidak punya motif, tapi kau dan orang-orangmu adalah sumber daya manusia yang sangat dibutuhkan oleh Taehaksa dan aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Sekarang aku telah menjadi Tuan Puteri dari Baekjae. Aku pikir kau akan menjadi penyalur kemakmuran dari Baekjae. Tetapi kakakku tidak berpikir demikian. Kita tidak punya banyak waktu. Putuskanlah cepat!

Mokrasu: Baik. (Dia pergi meninggalkan Wooyung)

Wooyung berjalan pergi, tapi tiba-tiba Giroo datang dan menghadang jalannya.

Giroo: Jika ini karen aku, kau tidak perlu melakukan hal ini.

Wooyung: … (cuek)

Giroo: Sungguh berani kau. Kau meremehkan Guru Mokrasu. Jadi kuharap kau jangan membuat keputusan yang berbahaya.

Wooyung: Berbahaya? Apa kau pikir dia itu orang yang berbahaya?

Giroo: Bukan seperti itu. Dia berbahaya karena dia menentang Jenderal. Kecuali kau melakukan ini karena memprotes aku, jika kau melakukannya dengan alasan yang lain …

Wooyung: (menyela) Itu berbahaya?

Giroo: Bukan … terlalu awal! (tersenyum sedikit meremehkan, memberi hormat dan meninggalkan Wooyung)

KEMUDIAN

Mojin: Mengapa kau belum membuat satu keputusan?

Mokrasu: Apa yang kau pikirkan mengenai Jang?

Mojin: Kenapa tiba-tiba?

Mokrasu: Kau selalu mengatakan kalau dia labil dan berbahaya.

Mojin: Dia selalu bertindak sesuai dengan kata hatinya, keras kepala, dan dia tak mengenal batasan.

Mokrasu: Batasan?

Mojin: Tentu dia itu pandai, kemauan dan kemauan tekadnya luar biasa. Dia memiliki sifat ksatria dan setia. Tapi dia tak bisa dikendalikan dalam sebuah kelompok. Dia telah memberikan keuntungan pada musuh dan berhubungan dengan wanita Shilla. Kita sebagai anggota Taehaksa tidak pernah sedikitpun berpikir demikian. Dia memiliki batasan pemikiran yang berbeda dibandingkan kita. Tapi kenapa dengan Jang? Dia bukanlah masalah, tapi kau. Mengapa kau tidak mendengarkan aku?

Mokrasu: Dia tak punya batasan? (berpikir)

KEMUDIAN

Jang: Kenapa kau melakukan ini?

Sunhwa: Selama Guru Mokrasu tidak membuat keputusan, aku tidak akan pergi.

Jang: Itu berbahaya! Alasan mengapa mereka memintanya tetap tinggal karena kebaikan hati mereka. Ketika Jenderal memutuskan, pembantaian yang sama seperti 10 tahun lalu dapat saja terjadi, dan aku khawatir mengenai ini.

Sunhwa: Aku sudah memikirkan hal ini dan memutuskannya, aku sudah memberitahumu.

Sunhwa bangkit berdiri dan meninggalkan Jang yang tertegun melihat ketegasan sikap dari Sunhwa. Jang menyusul Sunhwa yang keluar ruangan.

DI LUAR

Sunhwa berjalan ke luar menemui Daejang dan untuk mengecek barang dagangannya.

Daejang: Orang itu? Kau yakin? Apakah kau benar-benar menjualnya begitu banyak?

Sunhwa: Apakah kau menjual semua ikan-ikan itu?

Pengurus: Ya. Seharusnya aku sudah lakukan itu dari awal.

Daejang: Itu akan menyakitkan sekali jika kita tak dapat menjualnya dalam waktu 2 hari.

Sunhwa: Bagaimana caramu menjualnya?.

Pengurus: Aku mengikat ubi dengan ikan. (Jang mendengarkan)

Daejang: Kau menjual dengan mengikat ubi dengan ikan?

Pengurus: Ya! Aku membeli ubi murah dan mengikatnya, kemudian semuanya terjual dengan sangat cepat.

Daejang: (tertawa senang) Keuntungan kita berkurang, tapi itu hebat karena kau telah berhasil memecahkan ini.

Pengurus: Ya. Aku pirkir aku akan melakukannya lebih sering. (tertawa puas, Sunhwa dan Daejang juga tertawa senang)

Jang: Jangan lakukan lagi cara itu lain kali. (Sunhwa menoleh padanya, keheranan) Jika banyak ubi tersebar di pasar, maka para seodong kecil (anak-anak penjual ubi) akan kelaparan untuk beberapa hari. (Sunhwa tertegun karena tidak tahu hal ini) Aku sendiri pernah kelaparan karena hal semacam ini.

Sunhwa: Apa yang sedang kau bicarakan?

Jang: Jika ubi diikat dengan barang lain sebagai bonus dan gratis, tidak akan ada orang yang membeli ubi dari para seodong kecil lagi. (Sunhwa mendengarkan Jang sambil berpikir) Jadi itu akan memotong penghidupan dari anak-anak. miskin tanpa disengaja. (Pengurus memikirkan kata-kata Jang)

Daejang: Aku tidak pernah memikirkah hal seperti itu.

Jang: Kalian berasal dari kaum bangsawan, kalian tidak akan tahu hal seperti ini. (Sunhwa memandangnya) Tolong lakukan seperti yang kuminta. (Jang pergi meninggalkan mereka)

Sunhwa merenungkan kata-kata Jang dan ia tiba-tiba teringat ….

Jang: Apa yang sedang kau cari?

Sunhwa: Sesuatu yang tolol dan tidak berguna sepertimu, kenapa?

Jang: Apa yang membuatmu berpikir kalau aku ini tolol dan tidak berguna?

Sunhwa (ke seorang pedagang): Tuan,  bukankah ‘usus babi’ tidak berguna?

Jang: Jangan berkata begitu. Itu berguna. Kau dapat meniupnya dan memainkannya seperti bola. Atau kau dapat mengisinya dengan bubuk kacang untuk membuat bom kacang.

Sunhwa: Bagaimana dengan ekornya?

Jang: Itu dapat digunakan untuk mengejutkan orang.

Sunhwa pergi ke pedagang pot tanah liat: Tuan, bukankah pot yang berlubang ini tidak berguna?

Jang: Tidak, kau dapat mengisinya dengan air, dan kau dapat mengecek berapa lama waktu berlalu dengannya.

Sunhwa pergi ke pengrajin alat-alat pertukangan: Tuan, apakah petir berguna?

Jang: Itu untuk menghukum orang!

Sunhwa bertanya ke orang lewat: Tuan, sebuah tahi lalat. Apakah tahi lalat manusia berguna?

Jang: Iya, itu sangat berguna! Di kotaku, seorang anak perempuan dikenali oleh orangtuanya melalui tahi lalatnya.

Suara hati Sunhwa: Ini dia! Inilah alasannya!

KEMUDIAN

Bumro sedan membaca buku catatan milik Jang yang diberikan padanya sebagai hadiah.

Bumro: Jang sungguh pandai, tapi kenapa dia selalu memperhatikan hal-hal yang tak berguna. (Mokrasu sedang lewat dan mendatanginya)

Mokrasu: Apa itu?

Bumro: Jang memberikan buku ini padaku seperti ia sedang memberikan harapan terakhrinya padaku.

Mokrasu: Jang melakukannya?

Bumro: Ya. Dia menyelidikinya sendiri. Contohnya, jika kau melindungi leher dan kepala maka hawa dingin akan berkurang setengahnya. Aku tak berpikir kalau itu sesuatu yang penting. (Mokrasu segera mengambil buku itu dan membacanya sendiri) Satu hari Nyonya Mojin meminta kita untuk membuat pakaian yang dapat melindungi kita dari hawa dingin, dan dia tidak mencoba meneliti pakaian, tapi itu mengatakan mengenai melindungi leher dan kepala, kau tahu Guru… (Mokrasu membawa buku itu bersamanya, Bumro hanya bisa memandanginya pergi, heran dengan sikap Guru Mokrasu)

KEMUDIAN

Mokrasu membaca buku catatan penelitian milik Jang.

Suara Jang: Bulu binatang adalah bahan pakaian terbaik untuk perlindungan terhadap hawa dingin. Tapi jerami juga berfungsi sama.

Mokrasu: (membaca bersuara) Ketika kau menaruh jerami di antara kain katun. itu akan terisi dengan udara, kemudian dijalin untuk membuat pakaian. Itu akan menjaga kehangatan.

Mokrasu teringat …

Mokrasu: Kita memiliki tugas untuk menjaga teknologi Baekjae.

Jang: Jika aku harus pergi berperang, aku akan melakukannya. Tapi mereka sekarat karena subpyung.

Mokrasu: Mereka adalah orang Shilla.

Jang: Rakyat Baekjae atau rakyat Shilla, mereka semua adalah manusia.

Mokrasu: Tapi para ilmuwan memiliki negara.

Jang: Ilmu pengetahuan seharusnya tidak mengenal batasan.

Mokrasu: Pada akhirnya, Baekjae kehilangan superioritas dalam diplomasi, kekayaan dan kekuasaan dari ondol (tungku penghangat). Sebagai hasilnya, kau telah membantu musuh.

Jang: Tapi yang terutama para pasienku hidup.  Pada akhirnya aku telah membantu sesama manusia.

Mokrasu menggebrak meja, ia telah menyadarinya.

Eunjin: (masuk ke ruangan) Guru! Pedagang Jin ingin menemuimu.

Mokrasu: (senang, merasa kebetulan) Baiklah! (menghirup napas kelegaan, dan merasa senang karena telah menemukan alasan yang selama ini ia cari-cari,)

DI LUAR

Mokrasu menemui Sunhwa.

Sunhwa: Jawaban itu ternyata mudah!

Mok: Aku juga berpikir begitu.

Sunhwa: Aja Taeja Cheon Na, Aku, dan kau selalu menekankan itu, tapi kita sebenarnya kita tidak memilikinya.

Mokrasu: Karena dia dilahirkan karena satu kesalahan, dia memilikinya.

Sunhwa: (senang) Dia bukan anggota keluarga Raja yang berbuat demi rakyat. Dia sendiri  adalah rakyat itu sendiri.

Mokrasu: Benar. Rakyat jelata tidak peduli tentang Shilla atau Baekjae. Yang mereka butuhkan hanyalah kebahagiaan dan kemudahan dalam mencari penghidupannya.

Sunhwa: Benar!

Mokrasu: Dia tidak berpikir mengenai pengkotak-kotakan teknologi. Tidak peduli dari mana saja asalnya, dia hanya peduli merawat yang sakit.

Sunhwa: Benar!

Mokrasu: Ketika semua ilmuwan berpikiran untuk membuat pakaian yang dapat melindungi dari hawa dingin dengan menggunakan bulu binatang dan sutra untuk keluarga kerajaan, Jang berpikir mengenai perlindungan terhadap leher dan kepala akan mengurangi hawa dingin. Dia adalah rakyat itu sendiri. Dia tidak perlu berpikir, dia menjadikan pengalamannya sebagai pengetahuan dan langusng mempraktekkannya.

Sunhwa: Itulah mengapa Langit memilihnya!

Mokrasu: Itu selaras dengan jiwa dari Baekjae.

Sunwha: Itulah mandat dari Langit untuk membangkitkan kembali Baekjae. (Mereka berdua terkejut dan saling memandang, sekarang mereka baru yakin kalau Jang benar-benar adalah pilihan Langit bagi kemakmuran Baekjae.)

KEMUDIAN

Mokrasu bertemu dengan Jang lagi saat akan kembali ke ruang kerjanya.

Jang: Guru! Kumohon ikutilah kemauanku!

Mokrasu sangat bingung, ia berjalankesana kemari beberapa kali di hadapan Jang, yang hanya mengawasinya. Kemudian Mokrasu memandang Jang dan mengambil keputusan, ia meninggalkan Jang, yang tidak tahu isi hatinya, yang merasa kecewa dengan tindakan Mokrasu berusaha mengikutinya. Tapi tiba-tiba Giroo datang dan menghadangnya.

Giroo: Aku tidak tahu mengapa kau masih bertahan di sini. Kau kalah padaku tanpa bertarung satu sama lain. Jadi akuilah kekalahanmu. Itu adalah cara  untuk menghilang secepatnya. (Jang menatapnya) Apakah aku harus melukaimu atau membuatmu dalam situasi untuk melarikan diri?

KEMUDIAN

Mokrasu mendatangi kediaman Raja.

Mokrasu: Beritahu Raja aku ada di sini.

Pengurus: Yang Mulia pergi ke Junghwajung dan masih belum kembali.

Mok: Kenapa di sana?

Pengurus: Aku juga tidak tahu.

DI JUNGHWAJUNG

Weeduk berjalan di jalan yang sama ketika ia untuk pertama kalinya bertemu dengan Yeongamo. Weeduk berhenti, menatap tempat latihan  dan mengingat saat itu. Ia masih mengingatnya dengan jelas, seakan baru saja kemarin ia bertemu dengan Yeongamo, yang sedang berlatih menari untuk upacara ayahnya, Raja Sunghwang.

Weeduk: Maafkan aku! Aku sungguh-sungguh minta maaf!

Mokrasu mendekati Wangoo.

Mokrasu: Tempat ini?

Wangoo: Ini adalah tempat pertama kalinya ia bertemu dengan Yeongamo 20 tahun yang lalu.

Mokrasu mendekati Raja.

Mokrasu: Yang Mulia!

Weeduk: (berbalik) Ada apa?

Mokrasu: Sebelum kau meninggalkan tempat ini, tolong berkelilinglah di Taehaksa sekali lagi.

Weeduk: Kenapa?

Mokrasu: Karena aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Aku berusaha keras membentuknya, dan Pangeran Aja sangat menyukainya.

Weeduk: Ayo kita pergi!

Mokrasu mengajak Raja ke suatu tempat. Di sana ada Jang dan Giroo yang terlihat sedang bercakap-cakap.

Mokrasu: Kita sudah sampai Yang Mulia!

Weeduk: Apa itu? Mengapa kita kemari? Tidak ada sesuatu pun di sini!

Mokrasu: (melihat pada Jang) Itulah dia!

Weeduk: (melihat ke arah yang dipandang oleh Mokrasu) Bukankah itu Jang?

Mokrasu: Ya, Yang Mulia! Apa yang kubentuk dengan usaha keras dan yang sangat disukai oleh Pangeran Mahkota adalah Jang. (Weeduk hanya menatapnya) Dia adalah anakmu yang ke-4 dan seorang Pangeran dari Baekjae! Dia adalah Jang!

Weeduk: (sangat terkejut) Apa?

Raja memandang Jang yang saat itu sedang memukul Giroo.

53 comments on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 32

  1. O mak,,,teganya teganya…..
    Jgn getu dong boz andi,,,,ntar pahalanya di discound tuh,,up loadnya mbok ya 1 episode donk….:(

    • wkakakak …. gimana lagi …. wong banyak yang minta ….. hahahahah …. ini juga lagi ngebut buat sinopsis sampe lom mandi juga kaya frezzy … ahahahah …:P ……..

    • BETOL TU BETOL……………………

      KLO GAK NTR KITA KASIH AJA SURAT MA JANG BIAR EPISODENYA GAK CUMAN 55 TAPI 155,,,,,,,,,, WKWKWKWK…………………

      BIAR KLO PAHALANYA DI DISCOUNT TP MSH ANTRI DIDEPAN TU…….. HA,HA,HA,
      DITUNGGU TROS NI BOS………………..

      • HEHEHE………BTW, dari mana dapat gmbry tu bos……?????
        punya chanel HD SBS KOREA y…..??? klo pke parabola, mau dunks infoin frekwensinya……

        tapi yg plg diutamain siapin dulu ….ntr yg laen mkn nuntut……………….
        kita mah kagak bisa bantuin posting…………….

        bisanya………, tunggu n nGAREP CEPET SIAP.DOT.COM

        he.he.he………….
        tetep SMANGAD>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

  2. wakakakkakakaaaakkkkkk
    gapapa deh 1/4 nya… mengurangi penasaran…
    yangbelom mandi karena nungguin episode 32 silahkan mandi dulu..:D

  3. Low internet ne kayak pintunya doraemon…eke kirimin wedang jahe, kopi ginseng, mie goreng, kacang goreng, dan lainya biar boz semangad…wkakkkkakkk…..
    Hidup boz andy, jaga kesehatan yak…eke doain bozgak masuk angin…

    • sorry ya terlalu memaksa..ntar klo dipaksa malah jd gk mood..tp gk bs disalahin jg soalny bc sinopsisny jauh lebih seru n menegangkn dr nontonny..kyk bc buku novel best seller..tetep semangat yaaaa

      • heheh ga kok, aku juga sama seperti itu kalo dah kadung kesengsem ma cerita, penginnya baca terus :D, aku ga akan marah cuman karena kalian pengin liat lanjutannya dan keliatan seperti maksa, justru aku tambah senang karena berarti caraku dalam membuat sinopsis bisa diterima kalian dan film ini juga digemari 😀 Cuman karena ada kesibukan membuat kue untuk persiapan lebaran jadinya aku super sibuk dibandingkan seminggu lalu, ini akan terus sampe 10 hari sebelum hari raya idul fitri. jadi harap maklum kalo kadang2 rada lelet keluar sinopsisnya …. tapi yang pasti minimal 5 episode lebih dahulu daripada TVnya 😀

      • wah……………………. bisnismen yg lg dapet BIG PROJECT…………

        maulah ntr angPau LEBARAN dibagi……….xixixi……………..
        tumpahanya aja, ga usah cipratanya………………..

        ntr diposkan ja ke JAMBI mas…………..
        he.he.he…….

        gara2 JANG ni, kagak bisa tidor……………………

        OK deh, mdh2n kesibukanya dapat BERKAH, plus sinopsisnya……
        BO2 dulu wlopun bLm ngntuk…….

  4. Aku sukaaaa…..
    di kostku nggak ada TV, baca disini sudah menghapus kerinduanku ke puteri sunhwa,,,,ha..ha…
    makasih boss andy, jan telat postingnya……..

  5. pendatang baru mo ikutan comment,..salut buat sinopsisnya, seruu aja bacanya jd kebawa emosi..jd inget jaman dulu waktu buku-buku cerita silat n sandiwara radio masih jadi idola. Saran nih mas kalau udah kelar semua episode dijadikan satu aja seperti ebook, jd gampang kalau mau dibaca berulang2 nggak perlu klik satu-satu. Ini juga untuk drama yg lain seperti Dae Jang Geum, Dong Yi dan lain-lain.

  6. aku penggemar berat film ini…. mz andi plisssssssssssss ayolah ditulis lg…. aku neeh setiap ahri bangun pagi’ langsung buka blog mz andi… aku penasaran banget….

    • wah …. makasih banget … 😀 ini lagi nulis yang 33 tapi masih dikit , udah tengah malam … doain aja besok aku ada waktu free agak banyak biar bisa kerjain sinopsis ini 😀

  7. sinopsisix mantap banget, lebih menegangkan dari filmx….
    bang. dilanjutin donk postingx….
    penasarn neh, episode 33 dan sterusnya kpn kelar/

  8. mampir komen neh….
    sinosisnya mantap banget tuh……..
    bisa dilanjutin episode 33 dan seterusx?
    kpn selsesai posyingx
    penasaran neh kelanjutanx……………

  9. Mas bro makasih ya ma sinopsisnya…..jd ketagihan nonton jang…..btw….ditunggu ya kelanjutan sinopsisnya…penasaran bgt nech…..!!!!

  10. Aduhhh boz…tidur mlm, tidur siang, gak da nyenyaknya ni bos…sinopsisnya atu-atu…..
    Ntr, yg episode 32, dilunasin dulu aja yak, soalnya lwbih seru penasaran di yg lunas pd yg kredit,,,,,gk sanggup byr bunganya coy….

    • iyaaaaaaaaa …. ga kuat kepalaku 😦 … rada pusing hari ini … ini aja tadi bela-belain karena kurang dikit 😀

  11. ih….kodong, semangatku mi lagi baca sinopsis, eeeee….ujung2x kecewa….
    bang andiy…….pleas diselesaikan donk semua!
    kita lg penasaran nih semua, g enak mkn n g nyeyak tidurx mikirin putri shunwa (yang lagi npain ya skrg?) setelah weeduk mengetahui klo jang itu pangerang ke-4?
    bang andy………….pleas donk!!!

  12. thx,,,, sinopsisnya yaaaa,,,, puas banget dechhhh,,,, di tunggu kelanjutannya,,,yyy oy,, kira2 hepy ending ga ya,ceritanya????,,,,katanya putri SUNHWA bakalan mninggal ya??? amit2,, jgn sampe dech,,, di tunggu ya mas kelanjutan episodenya,,,,, thx a lot,,,

  13. mas Andy……………….!!!!! lama lage ya………….??????????????
    wah……………. penasaran bgt ni……………

    • ga tau deh …. aku bener2 sibuk … tapi besok kuusahain 33 kelar, tapi larut malam kayaknya … besok juga mau ke jember lagi cari peralatan oven kue, sekarang bos laki-laki yang minta diantar …

  14. mas Andy……………….!!!!! lama lage ya………….??????????????
    wah……………. penasaran bgt ni…………. wah makan tak enak, tidor tak lelap……….. keQya idop pun tak sempurna klo blm tau kondisi jang n Sunhwa…………….
    nasip…………..!!!!!!!!!!! koQ jadi begini,,,,,,,, Hu.Hu.Hu……. ;-(

  15. lho mas………………. kok ra ono isi episode seng 33…….?????????????????
    wa……… yo weslah….. tak enteni sisok ae…….
    huamh…………
    zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzZZZZZZZZZZZZ…..

  16. mbak,terimakasih ya…asyik sekali,aku jadi gak penasaran coz lagi liburan plus ditempat libur gak bisa nonton…mbak,kok eps.33nya tiba-tiba hilang????

    • ewewewe, jangan panggil mbak donk 😦 ….. aku khan laki-laki 😦 kapan nih aku operasi kelamin??? 😛 Epsiode 33 lom selese kemaren tapi gak sengaja kena klik publish jadi muncul di postingan, ku tarik lagi mo kuselesaikan dulu …. 😀

  17. massssssssss andyyyyyyyyyyyy,,, jadi gregetaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnnnn

    manaaaaaa Lanjutannnnnnnnnnnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    ???????????

    plissssssssssssssssssss

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s