Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 33

Mokrasu mendekati Raja.

Mokrasu: Yang Mulia!

Weeduk: (berbalik) Ada apa?

Mokrasu: Sebelum kau meninggalkan tempat ini, tolong berkelilinglah di Taehaksa sekali lagi.

Weeduk: Kenapa?

Mokrasu: Karena aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Aku berusaha keras membentuknya, dan Pangeran Aja sangat menyukainya.

Weeduk: Ayo kita pergi!

Mokrasu mengajak Raja ke suatu tempat. Di sana ada Jang dan Giroo yang terlihat sedang bercakap-cakap.

Mokrasu: Kita sudah sampai Yang Mulia!

Weeduk: Apa itu? Mengapa kita kemari? Tidak ada sesuatu pun di sini!

Mokrasu: (melihat pada Jang) Itulah dia!

Weeduk: (melihat ke arah yang dipandang oleh Mokrasu) Bukankah itu Jang?

Mokrasu: Ya, Yang Mulia! Apa yang kubentuk dengan usaha keras dan yang sangat disukai oleh Pangeran Mahkota adalah Jang. (Weeduk hanya menatapnya) Dia adalah anakmu yang ke-4 dan seorang Pangeran dari Baekjae! Dia adalah Jang!

Weeduk: (sangat terkejut) Apa? (Wangoo juga terkejut)

Mokrasu: Dia adalah anak dari Yeongamo. (Raja masih belum hilang kejutnya)

Weeduk: Tanpa mengetahui ini, aku mengatakan padahnya supaya tidak muncul di hadapanku. Aku beritahu dia kalau aku bahkan tidak merasa menyesal sedikitpun terhadapnya.

Raja memandang Jang yang saat itu sedang saling memukul dengan Giroo.

Jang: Kau mencintai Puteri? Tidak! Kau mencintai posisinya. Karena kau tidak bisa melakukannya sendiri, kau bahkan tidak dapat menatapnya dengan cara yang benar. Pertarungan antara kau dan aku, aku menang terhadapmu. Ini adalah pertarungan yang sangat menarik, karena meskipun kau yang menang, tetap aku yang memenangkannya.

Giroo: ….

Jang pergi meninggalkan Giroo dengan hati yang marah, berjalah dengan kepala tertunduk ke arah Raja dan Mokrasu. Weeduk menatapnya dan merasakan rasa sedih dan bersalah merasuki hatinya.

Tiba-tiba Jang menyadari kehadiran Mokrasu dan Raja, ia maju memberi hormat kemudian melanjutkan langkah kakinya. Raja hanya bisa menatapnya dan Mokrasu berdiam diri Wangoo gelisah  tapi tak tahu harus mengatakan apa.

KEMUDIAN

Raja dan para pengiringnya, termasuk Mokrasu dan Wangoo kembali ke kediaman raja dan masuk ke kamarnya.

Weeduk: (duduk, sedikit lemat) Aku tidak tahu di mana dan bagaimana itu semua menjadi salah.

Mokrasu: …

Weeduk: (menyesal) Berapa lama lagi kesalahanku akan berlangsung? Sekarang aku sangat takut. (bingung) Apa yang harus kulakukan? (dengan nada tinggi, menatap kepada Mokrasu dan Wangoo) Apa yang seharunya kuperbuat?

Wangoo: Yang Mulia, tenangkanlah dirimu!

Weeduk: (menenangkan hatinya, kepada Mokrasu) Kapan kau mengetahuinya?

Mokrsu: Aku mengetahuinya baru beberapa saat yang lalu.

Weeduk: Apakah kau bersama-sama dengan Jang sejak Haneulchae?

Mokrasu: Ya, Yang Mulia

Weeduk: Bagaimana? Bagaimana itu bisa terjadi?

Mokrasu: Ketika aku dikejar-kejar dan terpaksa melarikan diri ke Shilla, Yeongamo memintaku untuk menjaga Pangeran.

Weeduk: Yeongamo? Meminta kau untuk menjaga Jang? Sepertinya kau  sangat dekat dengannya. Bagaimana kau mengenalnya?

Mokrasu: (sedikit ragu-ragu) Sebelum aku menjadi seorang ilmuwan… Aku minta maaf sebelumnya, Yang Mulia … kami berencana untuk menikah.

Raja sangat terkejut, Wangoo hanya khawatir dengan rajanya, Weeduk tidak berani menatap Mokrasu, merasa malu dan sangat bersalah.

Mokrasu: Yang Mulia.

Weeduk: (menggelengkan kepalanya dan tertunduk) Aku tak tahu apa yang harus kuucapkan. (merasa malu) Aku tak dapat mengatakan apapun.

Mokrasu: Yang Mulia. Aku, Mokrasu, tidak mengatakan ini untuk mendengar perkataan seperti itu.

Kumohon batalkan perintah yang telah kau berikan pada Pangeran ke-4. (Weeduk menatapnya) Kumohon batalkan permintaanmu untuk melupakan Pangeran Aja. Meskipun aku marah pada Yeongamo, alasan dia mengirim Pangeran padaku adalah agar aku mendidiknya seperti seorang Pangeran. (Raja terpana) Aku tidak tahu maksudnya, sehingga aku tak dapat mendidik Pangeran seperti laiknya seorang Pangeran, tapi dia sendirilah yang bertumbuh menjadi pribadi seorang Pangeran, dan dia benar-benar seorang Pangeran!

Weeduk: …. (termenung)

Mokrasu: Ah .. Bukan, karena dia tidak menerima pendidikan dari kerajaan, dia justru bertumbuh seperti itu.

Weeduk: …

Mokrasu: Dia bertumbuh sebagai salah satu dari rakyat jelata. Dia hidup sama dengan kondisi yang mereka alami. Dia bertumbuh seperti rumput liar. Sebaliknya, dia tidak mudah ditundukkan dan justru bertumbuh semakin besar dan dia tak akan mengkhianati maupun menjual rakyatnya. Jadi apa yang telah kau coba untuk padamkan, kumohon nyalakan kembali setitik api pengharapanmu.

Weeduk: … (mendesah)

Mokrasu: Aku mengerti bahwa kau ingin menyelamatkan Pangeran terakhir yang masih kau miliki. Tapi jika Pangerah dapat hidup melalui semua itu, dia akan hidup dengan menyesali kekalahannya seperti dirimu, Yang Mulia.

Weedul: … (menundukkan kepalanya, merasa hatinya dipenuhi rasa bersalah terhadap Pangeran ke-4)

Mokrasu: Itu bukanlah cara untuk menyelamatkan Pangeran tapi justru akan membunuhnya.

Weeduk: …

Wangoo: …

Mokrasu: Pangeran tidak pernah hidup seperti itu. Jika dia di dalam situasi di mana dia harus mati atau takluk kepada musuh, dia selalu memilih untuk mati, tapi kemudian dia akan hidup dan bangkit lagi. Aku menaruh kepercayaan kepadanya, bahwa ia takkan pernah dengan mudah dibunuh, dan percaya kalau dialah yang akan membawa Baekjae pada kebesarannya kembali.

Weeduk: … (merenungkan kata-kata Mokrasu)

Mokrasu: Jadi kumohon… Kumohon batalkan perintahmu padanya untuk melupakan segalanya.

Weeduk: … (masih terlalu bingung)

Mokrasu: Yang Mulia!

KEDIAMAN SUNHWA

Jang: Itu adalah omong kosong sepenuhnya! (duduk) Apakah Guru mempercayai pedupaan dan ramalannya, dan bersedih karenanya?

Sunhwa: Aku sudah katakan padamu itu bukan saja tentang ramalan! Kau juga adalah …

Jang: (menyela) … rakyat jelata. Apakah itu alasan dari ramalan?

Sunhwa: (menganggukkan kepalanya) Ya.

Jang: Ada jutaan banyaknya orang di luar sana. Bukankah tidak  masuk akal, menjadi seorang rakyat jelata adalah alasan untuk naik tahta dan membangkitkan lagi sebuah negara?

Sunhwa: Bukan seperti itu! Sangat besar perbedaannya bahwa kau adalah seorang rakyat jelata yang juga sekaligus adalah  seorang anak raja. Semua politikus selalu mengatakan kalau mereka ada untuk rakyat tapi mereka tak pernah melakukannya. Karena mereka tidak pernah tahu kehidupan rakyatnya.

Jang: Kau tidak perlu untuk mengetahui itu. Untuk memerintah atas suatu negara, itu bukanlah memelihara hidup perseorangan, itu adalah untuk mengatur sistem sehingga rakyat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Aku tidak pernah mendapatkan pendidikan atau mempunyai kemampuan!

(Andy: Kayaknya para ‘peli tikus’ … eh … politikus Indonesia  harus lihat episode film yang ini deh dan belajar sama Puteri Sunhwa dan Jang bagaimana sebenarnya memimpin suatu negara 😛 )

Sunhwa: Kau dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan kemampuanmu.

Jang: Sampai kapan? Bagaimana?

Sunhwa: …

Jang: Percuma kalau kita masih tinggal di sini.

Sunhwa: Kalau begitu kenapa kau mau mengungkapkan jati dirimu? Tidakkah kau tahu seperti apa menjadi seorang Pangeran?

Jang: Aku tahu, tapi yang lebih penting dari semuanya itu adalah membalaskan dendam Pangeran Aja kepada para musuhnya! Pangeran ke-4 tidak membunuhnya, tapi merekalah yang melakukannya!

Sunhwa: Untuk mencapai apa? Itu adalah penghancuran bukan penciptaan.

Jang: Ya! Aku melakukan penghancuran. Aku akan menghancurkan mereka!

Sunhwa: Seodong-Gong!

Sunhwa: Penciptaan bukanlah bagian dari tugasku, dan aku tidak memiliki kemampuan atau kemauan. Jangan pernah membayangkan fantasi yang semu! (Jang pergi dengan sedikit kesal)

KEMUDIAN

Jang menemui Mokrasu di kantor Direktur.

Jang: Aku tak percaya kalau dia bisa mempercayai hal-hal seperti itu!

Mokrasu: Apakah kau sudah mendengarnya?

Jang: Untuk membuat kami percaya terhadap pedupaan dan ramalan itu, kau menambahkan alasan ‘hidup sebagai rakyat jelata’. Aku sangat terkejut.

Mokrasu: Jang!

Jang: Aku terkejut karena kau mengatakan padaku bahwa tidak ada seorangpun selain aku yang diberikan mandat oleh Langit!

Mokrasu: … (sulit untuk menjelaskan)

Jang: Tiap orang dilahirkan dan mendapatkan mandat dari Langit. Ketika ada 99% usaha dan kemauan, 1% dari Langit sangat penting! Itulah mengapa takdir berarti kerja keras.

Mokrasu: Itu benar, tetapi hal yang berkaitan dengan tahta kerajaan berbeda. Seseorang harus melakukan sesuatu yang benar-benar berbeda. Ketika tahta diwariskan kepada garis keturunan yang salah, akan ada banyak pertumpahan darah!.

Jang: Itu hanyalah alasan yang dicari-cari untuk tetap tinggal di sini. Bahkan jika kau benar, sekarang aku sudah tidak memiliki sedikitpun kemauan dan kehendak atas diriku sendiri. (Weeduk ada di luar ruangan Direktur sedang mendengarkan percakapan Mokrasu dan Jang) Aku akan melupakannya. Aku akan melupakan sepenuhnya! (Wangoo memandang iba pada raja yang masih mendengarkan). Pangeran Mahkota Aja dan Yang Mulia Raja, aku akan melupakan mereka semua. Dan aku akan membuat takdirku sendiri dengan memberi mandat pada diriku sendiri.

Suara Wangoo: Yang Mulia di sini.

Jang dan Mokrasu terkejut, mereka segera memberi hormat pada Raja yang baru saja masuk. Raja Weeduk masuk dan langsung menatap pada Jang, Jang menundukkan kepalanya.

KEMUDIAN

Jang menemui Raja di kediamannya. Ia memberi hormat.

Weeduk: Jang!

Jang: …

Weeduk: Jang! Aku sungguh-sungguh menyesal, aku menyangkal keberadaanmu ketika kau berada di hadapanku.

Jang: Aku sudah mengukir perintahmu di dalam hati.

Weeduk: Jang!

Jang: Aku akan melupakan semuanya, jadi kau seharunya melupakan aku, Yang Mulia.

Weeduk: (Terkejut) Jang! Aku menyangkalmu karena …

Jang: (menyela) Aku tidak menyalahkanmu karena menyangkalku. Aku hanya membencimu, karena kau menutupi kematian Pangeran Aja dan tidak beusaha untuk membalaskan dendamnya. Ini adalah perkataan yang kasar, tapi aku tak dapat menerima semua itu. (mengangkat wajahnya) Kau tidak memiliki hak untuk menyatakan penyesalanmu terhadap Pangeran Aja dan diriku. (Raja terkejut) Kau tidak pernah menunjukkan usaha terbaikmu untuk menyelamatkan kehidupan para Pangeran atau untuk membangkitkan kembali Baekjae. (Raja merasa sedikit tersinggung)

Terpisah dari keberhasilan dan kegagalanmu selama ini, kau tidak pernah menunjukkan suatu usaha. Aku tidak dapat mengerti semua ini.  Aku mengatakan ini menyadari kalau jiwaku terancam bahaya.

Weeduk terdiam tak dapat mengatakan apapun karena tertohok oleh perkataan Jang. Jang memberi hormat padanya dan beranjak pergi.

Weeduk: Jang! (Jang menghentikan langkahnya dan menoleh) Hanya sekali saja … panggil aku ‘ayah’. Hanya sekali saja. (Jang menatapnya dan kemudian tanpa mengatakan apapun ia meninggalkan kediaman Raja. Raja menyesali dirinya dan termenung)

KEMUDIAN

Jang keluar dari kediaman Raja dan berjalan pergi, tapi bertemu dengan Mokrasu yang ingin menemui Raja.

Jang: Kau dapat melakukan apapun yang ingin kau lakukan! Aku akan melakukan apa yang harus kulakukan. (Kemudian ia langsung pergi)

KEMUDIAN

Jang masuk ke dalam kamarnya dan menemukan Wooyung sedang duduk membaca buku di kamarnya. Wooyung menoleh melihat Jang yang sedang memasukkan barang-barang ke tas.

Jang: Meskipun kau seorang keluarga raja atau Guru, tidaklah sopan masuk ke dalam kamar orang lain. (Wooyung tersenyum geli). Keluarlah.

Wooyung: 10 hari lagi ayahku akan naik tahta. Posisi apa yang kau inginkan?

Jang: … (tetap mengemasi pakaian)

Wooyung: Aku berpikir tentang posisi Sekretaris Kerajaan, yang akan mengatur perintah-perintah Kerajaan. Bagaimana dengan posisi Eunsol yang di bawah wewenangku.

Jang: … (masih membereskan barang-barangnya)

Wooyung: Dan aku akan memberimu tanah, para pelayan, dan pasukan pribadi.

Jang: … (tetap mengemasi barang)

Wooyung: Aku ingin mengambil posisi Wiesa Japyung, mengatur informasi dan pasukan, tapi kakakku tidak akan menyerahkannya padaku.

Jang: … (selesai mengemasi dan beranjan pergi)

Wooyung segera memegang tangannya dan menahannya pergi. Jang menatapnya.

Jang: Lepaskan tanganmu.

Wooyung: Setelah penyerahan tahta, ketika Raja sudah masuk Buddha, apa yang kau pikirkan mengenai apa yang akan dilakukan oleh kakakku terhadap dirimu dan Guru Mokrasu? (Jang menatapnya) Sejauh ini kau telah melihat dan mengalami semua tindakan darinya. Apa yang kau pikir dia akan lakukan?

Orang tunduk bukan karena mereka mau. Jika sebegitu mudahnya maka dunia ini sungguh membosankan. Jadi janganlah berpikir mengenai baik dan jahat. tapi lihatlah sebagai untung rugi. Maka dunia ini akan menjadi tempat yang menarik untuk ditinggali.

Jang menatap Wooyung, tak tergerak dengan kata-katanya. Wooyung melepaskan cekalannya pada tangan Jang. Jang meninggalkannya tanpa berkata apa-apa. Wooyung tersenyum percaya diri.

KEMUDIAN

Jang berjalan menuju kediaman Sunhwa sambil memikirkan kata-kata Wooyung.

Suara Wooyung: Setelah penyerahan tahta, ketika Raja sudah masuk Buddha, apa yang kau pikirkan mengenai apa yang akan dilakukan oleh kakakku terhadap dirimu dan Guru Mokrasu? Sejauh ini kau telah melihat dan mengapami semua tindakan darinya. Apa yang kau pikir dia akan lakukan?

KEMUDIAN

Daejang: Apa? Kamu mau pergi?

Jang: Ya, Daejang. Aku minta maaf.

Daejang: Pria macam apa kau? Kemana kau pikir akan pergi?

Jang: Aku minta maaf, aku tak dapat membertitahu semua padamu. (kepada Sunhwa) Jadi putuskanlah sekarang. Aku tidak akan memaksamau.

Sunhwa: ….

Daejang: Jang!

Sunhwa: Aku mengerti dirimu. Tunggulah aku sebentar. (Jang keluar dari kamar)

Daejang: Kenapa dia bersikap aneh beberapa waktu ini?

Sunhwa: Kau perlu menunggunya. Itu adalah sesuatu yang aku tak bisa beritahukan padamu.

Daejang: Tapi dia berkata dia akan pergi segera. Dan kau menjawabnya kalau kau bersedia pergi bersamanya.

Sunhwa: Seodong-Gong tak bisa pergi dari sini. Dia tak dapat melakukan itu. Aku akan lakukan apapun untuk mengubah pikirannya. Jadi kaulah yang mengurus semuanya di sini sementara aku pergi.

Daejang: Itu adalah yang selama ini aku telah lakukan.

KEMUDIAN

Sunhwa mengikuti Jang disertai oleh Chogee, Bomyung dan Soochong, mereka berempat hanya mengikuti langkah kaki Jang, tidak tahu tujuan mereka, hanya Jang saja yang tahu tujuan mereka.

Chogee: (kepada Bomyung) Aku harap dia tak akan pergi ke Sangdaepo dan berangkat ke China atau Persia.

Bomyung: Yah .. aku juga tidak tahu, tapi apakah dia akan melakukan itu?

Chogee: Dia tidak kelihatan begitu baik. Lagipula jika kita akan pergi ke negara lain, aku tak bisa pergi!

Bomyung: Kenapa tidak?

Chogee: Pertama, aku tak bisa bahasa Persia. Dan aku akan mati jika aku tak bis mengobrol. (Cemberut, Bomyung tertawa, Soochong tersenyum)

Bomyung: Bukankah kau juga pernah mengatakannya ketika kau pertama kali ke Baekjae?

Chogee: Itu tidak sama! Dan ada hal penting yang lainnya …

Bomyung: Kenapa? Apa karena Bumro … ?

Chogee: (kaget, berbalik) Hah? Kau sudah tahu?

Bomyung: kau tidak perlu khawatir akan apapun juga.

Chogee: (senang) Kenapa?

Bomyung: (tersenyum) Jika kau pergi, dia akan sangat senang.

Chogee: (berteriak kesal) Nyonya !! Aih ….. (memutar tubuh dan mengikuti Sunhwa lagi)

Bomyung tertawa dan Soochong tersenyum kecil.

Mereka berjalan terus, Chogee kecapekan jadi duduk di tanah, Sunhwa dan Jang tetap berjalan, tiba-tiba dilihat di depannya manusia salju yang mereka buat dulu.

Sunhwa: Manusia salju yang kita buat jadi jelek. (membujuk) Tidakkah kau ingin membuatnya lagi sebelum kita pergi?

Jang tak menghiraukannya, Sunhwa kesal, ia membungkuk dan mengambil segenggam salju lalu melemparkannya ke punggung Jang berharap ia akan membalasnya seperti dulu. Tapi Jang tetap terus saja seakan-akan tidak terjadi sesuatu apapun. Sunhwa melemparinya lagi tapi Jang terus berjalan.

Sunhwa gemas jadi dia mengejar Jang dan menarik tangannya sehingga Jang membalikkan tubuh dan menatapnya, Sunhwa tak mampu bertindak apapun. Jang kemudian pergi.

Sunhwa hanya bisa memandanginya menjauh. Chogee berlari mendatanginya, Bomyung dan Soochong menyusul.

Chogee: Ya Ampun, gurauanmu sudah tak mempan padanya. (mendesah) Aku sangat lapar.

Bomyung: Kami tidak apa-apa, tapi kau pasti merasa lelah, Nona. Dia terlalu kasar padamu.

Sunhwa: Aku tidak apa-apa. (Sunhwa pergi menyusul Jang)

KEMUDIAN

Raja Weeduk di kamarnya merenung…

Jang: Kau tidak memiliki hak untuk menyatakan penyesalanmu terhadap Pangeran Aja dan diriku. Kau tidak pernah menunjukkan usaha terbaikmu untuk menyelamatkan kehidupan para Pangeran atau untuk membangkitkan kembali Baekjae.

Terpisah dari keberhasilan dan kegagalanmu selama ini, kau tidak pernah menunjukkan suatu usaha. Aku tidak dapat mengerti semua ini.  

Weeduk berdiri dan menyandarkan kepalanya ke tiang tempat tidurnya, menangis.

KEMUDIAN

Gomo dan Mojin mengemasi barang-barang yang perlu dibawa, Mokrasu hanya mengawasi mereka. Maekdosu berlari masuk ke ruangan diikuti oleh Bumro dan Eunjin.

Maekdosu: Guru! Kami sudah siap. Apa kita berangkat sekarang?

Mokrasu: Kalian duduklah semua.

Semua: Baik! (mereka duduk)

Mokrasu: Aku menyesal untuk mengatakan hal ini, tapi aku tak dapat pergi bersama dengan kalian, aku harus tetap tinggal di sini.

Mojin: (kaget) Guru! Apa yang kau katakan? Akankah kau menerima tawaran dari Guru Wooyung?

Gomo: Itu omong kosong! Kau hanya akan menjadi Pimpinan boneka, prosesi penyerahan tahta sedang dilakukan oleh Guru Wooyung!

Mokrasu: bukan itu masalahnya!

Maeksodu: Benar! Kau tidak akan menerimanya khan?

Mokrasu: Apapun yang terjadi, aku akan terus melayani Raja sampai akhir. (Semua orang terkejut mendengarnya) Setelah penyerahan tahta, aku akan mengikuti Raja ke kuil dan apapun yang terjadi setelah itu, mengawal Raja bersama dengan Pengawal Raja Wangoo adalah tugasku.

Mojin: (gelisah dan takut) Guru!

Mokrasu: Jadi kalian semua harus pergi sekarang! (Mojin menutup matanya, menghela napas, pasrah) Kalian semua akan ditandai sebagai orang-orangku dan akan melalui masa-masa yang sulit. Aku sungguh menyesal aku tak dapat melindungi kalian semua. (Bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka semua)

Semua: (bangkit berdiri) Guru! (Mereka mengawasi Mokrasu pergi lalu duduk dengan lemas.)

Eunjin: Kemana Jang pada saat kritis seperti ini.

Mojin: Ya. Kalian berdua pergi dan temukanlah Jang!

Eunjin dan Bumro: Ya! (Bangkit berdiri dan pergi)

Mojin dan Gomo menghela napas.

Maekdosu: (pada Mojin) Aku tak dapat melindungimu … (berdiri dan mau pergi)

Mojin: Apa yang mau kau lakukan?

Maekdosu: (kembali duduk, salah tingkah) Aku tidak akan pergi.

Mojin: Aku akan tetap mengikuti Guru Mokrasu.

Maekdosu: Tidak bisa jadi!

Gomo: Aku juga akan melakukannya.

Maekdosu: Kau boleh melakukannya, tapi Nyonya Mojin harus pergi bersamaku. Itu adalah hal yang paling masuk akal, baik bagi tubuhmu maupun masa depanmu.

Mojin: Kau harus membawa Eunjin dan Bumro.

Maekdosu: … Nyonya Mojin … (salah tingkah, tapi kemudian pasrah) … ya, baiklah… Kesetiaan bukanlah segalanya di dunia ini. … (bergumam pada dirinya sendiri) Apakah aku mendengar itu dalam mimpi? (pada semua) Atau Jang yang mengatakan itu? (menoleh kesana kemari) Tapi mana Jang? (berseru marah) Di mana sekarang dia sebenarnya berada?

KEMUDIAN

Eunjin dan Bumro mendatangi rumah perdagangan milik Sunhwa dan Daejang.

Eunjin: Apa? Dia tak ada di sini?

Bumro: Dia sungguh jahat sekali, tak mengucapkan sepatah katapun pada kita!

Eunjin: Tidak mungkin! Dia pergi untuk mencari tempat yang bisa ia tinggali.

Daekang: … Sebenarnya ia kelihatannya tidak seperti itu.

Eunjin: Tidak?

Daejang: Aku tak tahu cerita sebenarnya, tapi kelihatannya ia terluka hatinya.

Bumro: Apa dia pikir hanya dia saja? Hatiku juga terluka selama 4 musim

Eunjin: Tidakkah kau tahu kemana dia mau pergi?

Daejang: Katanya ia mau pergi ke Persia.

Eunjin: (Terkejut setengah mati) Persia?!! (mau jatuh)

Bumro: Hei Eunjin … (memeganginya)

Eunjin: Ini tidak benar! (marah) Ini pengkhianatan dan pemberontakan! (menoleh pada Bumro) Kita haru mengejarnya! Jang! Jang! (berlari pergi).

KEMUDIAN

Chogee, Bomyung dan Soochong sedang beristirahat dan berteduh di bawah pepohonan. Jang dan Sunhwa duduk tak jauh dari tempat itu.

Jang berdiam diri sukup lama, Sunhwa gelisah dan ia melihat berkali kali pada Jang, berusaha melihat mimik wajah Jang, tapi Jang tetap saja tak bergerak.

Jang: Aku ingin mampir ke satu tempat dulu.

Sunhwa: (menebak) Apakah Kuil Wangryong? (Jang menoleh terkejut, Sunhwa tersenyum senang) Ayo kita pergi!

KEMUDIAN

Faksi Sun berkumpul dan membicarakan mengenai upacara inisiasi Raja. Wooyung mengatakan kalau hari-H tinggal 7 hari lagi dan semua sudah siap, tapi mengapa Raja belum mengumumkan apapun. Haedoju kasihan pada kondisi Raja yang bersedih jadi tidak menanyakannya. Gye juga tidak dapat menanyakannya. Haedoju bertanya pada Sun apakah yang harus mereka lakukan. Apakah mereka harus mengadakan pertemuan dengan Raja.

Wooyung setuju dengan Haedoju, karena walaupun Raja akan melaksanakan inisiasi, tapi belum ada pengumuman penyerahan tahta. Jadi jika mereka tetap melakukan persiapan seperti ini maka mereka bisa saja dianggap berkhianat. Sun mengatakan pada mereka semua kalau ia akan menemui Raja.

Sun menemui Raja yang sedang berjalan-jalan. Ia menyerahkan selembar perkamen.

Sun: (membawa perkamen di tangannya) Yang Mulia. Penjahat yang telah melukai Pangeran akan dieksekusi segera. Yang pasti, ini adalah hal yang benar untuk mencari Pangeran Ke-4 yang telah membunuh Pangeran Aja bersama dengan penjahat itu. Tapi itu akan membuka permasalahan dalam keluarga kerajaan. Jadi tolong ijinkan ini (mengajukan perkamen ke Raja)

Raja tidak menerima perkamen itu, jadi Sun menyerahkannya pada Wangoo yang ada di sisi Raja. Kemudian ia mengambil perkamen lain dan menyerahkannya pada Wangoo.

Wangoo: Apa ini?

Sun: ini adalah daftar orang-orang yang akan hadir dan jadwal dari upacara penyerahan tahta, dan karena ancaman dari beberapa negara, dan konspirasi yang dilakukan oleh Pangeran ke-4, ini adalah pernyataan untuk meminta militer menjaga Istana. (Raja menoleh pada Wangoo, Wangoo terkejut)

Wangoo: Kau tidak diijinkan untuk membawa pasukan ke dalam Istana.

Sun: Tolong setujui ini.

Weeduk: … Aku mengerti, tinggalkan itu.

Sun menyerahkan perkamen pada Wangoo, memberi hormat, lalu pergi.

Weeduk: (memanggil Jenderal) Sun.

Sun memutar tubuhnya dan berjalan mendekati Raja.

Sun: Ya, Yang Mulia?

Weeduk: Apakah kau sangat menginginkan menjadi Raja?

Sun: …(tak menyangka)

Weeduk: Jika kau menjadi Raja, apa yang ingin kau lakukan?

Sun: … (berpikir)

Weeduk: Ketika aku menjadi Pangeran Mahkota, ayahku, Raja Sunghwang menanyakan ini.

Sun: …

Weeduk: Kupikir aku memiliki ambisi di dalam diriku. Aku dulu punya. (Raja pergi diikuti para pengiringnya)

Suara hati Sun: Apa gunanya mengingat kenangan masa lalu? Itu tak ada gunanya.

KEMUDIAN

Weeduk duduk di kamarnya, mengingat …

Jang: Bukankah kau memintanya untuk membangun kembali Baekjae yang mengalami kemunduran? Jenderal-lah yang kehilangan kemauannya  untuk membangun Baekjae dan berkonspirasi dengan para bangsawan, tidakkah kau meminta Pangeran Aja untuk merebut Baekjae dari tangan Jenderal?(Raja terkejut)

Karena kau memintanya untuk melakukan ini, dia ingin menjadi anak yang berbakti dan tidak takut dengan kematian, dia menerima penyerahan tahta itu. Dia memberitahuku akan pergi melangkah menghadapi semua rintangan! Bagaimana mungkin kau sekarang mencoba untuk menginjak-injak keinginan dari Pangeran dan mengambil itu darinya?

Tetapi Pangeran Mahkota sangatlah berbeda. (Raja menatapnya lagi) Dia mengatakan padaku kalau dia akan melindungimu,  melindungi Pangeran ke-3 yang baru saja meninggal, dan melindungi keselamatan Pangeran ke-4 yang tak pernah kau lihat! Tetapi seharusnya semua ini kau yang melakukannya, dan kaulah yang harus menjembataninya.

Raja tertunduk dan merenungkan semua kata-kata Jang.

KEMUDIAN

Sun, Giroo dan Heukjipyung bertemu untuk berdiskusi. Heuk bertanya apakah Raja sudah mengijinkan semuanya? Sun mengatakan kalau Raja tidak lama lagi pasti akan melakukannya, karena pikirannya sudah tertekuk.

Sun menanyakan bagaimana persiapan dengan upacara, Giroo mengatakan kalau semuanya berjalan sesuai rencana, dan semua itu diupayakan oleh Wooyung dan dirinya tanpa ada keterlibatan dari Mokrasu. Jadi seharusnya Sun tidak perlu khawatir.

Heukjipyung menyodorkan sebuah buku pada Sun. Dan mengatakan kalau itu adalah buku daftar eksekusi. Setelah upacara selesai maka orang-orang di daftar itu harus dibunuh. Giroo menentangnya karena itu akan membuktikan pada rakyat kalau mereka sebenarnya adalah perampas tahta. Heuk penasaran, Giroo mengatakan kalau mereka memang harus melakukan eksekusi itu tapi di lain waktu dan bukannya sesaat setelah penyerahan tahta. Sun setuju dengan Giroo.

Giroo mengajukan beberapa orang yang berjasa dan layak untuk mendapatkan promosi jabatan. Sun membacanya dan kaget karena Giroo mengusulkan Wooyung menjadi Sekretaris Kerajaan, karena itu adalah posisi dengan tugas yang sangat berat dan tanggung jawab yang besar. Giroo menjawabnya kalau itu akan membantu mereka dalam beberapa masalah.

Giroo bertanya-tanya mengenai lokasi dari kamar rahasia, di mana semua dokumen Raja dan benda-benda suci ditempatkan. Giroo dan Buyeo-Sun curiga bahwa lokasi dari kamar itu tidak akah diberitahukan pada mereka, karena Wooyung dan ibunya (istri Buyo-Gye), akan mencoba untuk menjauhkan informasi dari mereka. Sun memberikan perintah pada Heukjipyung  untuk memeriksa dan menggeledah semua tempat penyimpanan di istana dengan alasan “menjaga Istana’ sebelum diadakannya upacara.

Giroo juga meminta Sun untuk melepaskan Jangdoo. Sun mengatakan padanya kalau ia akan mengurusnya.

DI KUIL WANGRYONG

Jang: Ini adalah hal terakhir yang akan kulakukan. Setelah inisiasi, aku akan membawa Yang Mulia dan Guru Mokrasu kemari dan kemudian aku akan pergi. Aku hanya akan melakukan itu.

Sunhwa: Jika kau sudah memutuskan seperti itu, kau seharusnya kembali ke Istana dan mengawal Yang Mulia. (Jang terkejut) Setelah upacara itu, mereka bisa saja melakukannya saat perjalanan kemari. Sangat mungkin saat penyerahan tahta, meskipun para pengawal raja akan di sana tapi mereka kekurangan orang. Bergabunglah dengan beberapa orang bayaran dan rencanakan ini dengan seksama.

KEMUDIAN

Weeduk: Apakah kau yakin kalau Jang juga akan mengawal keselamatanku? Jadi dia pergi menemui Rahib di Wangryong?

Wangoo: Benar, Yang Mulia.

Weeduk: Aku belum melakukan apapun untuknya, tapi dia tetap tak dapat meninggalkanku? Apakah aku ini seorang ayah?

KEMUDIAN

Jang di Kuil Wangryong berpikir ….

Weeduk di kamarnya, berpikir …

Mokrasu di ruang kerjanya, berpikir …

KEMUDIAN

Keesokan paginya, raja memanggil Wangoo dan memberinya tugas untuk mengamankan Jangdoo.  Raja mengatakan kalau mereka akan mengeksekusinya tapi itu pasti tidak akan terjadi. Raja meminta Wangoo untuk mendapatkan Jangdoo tanpa setahu Sun.

Wangoo akan pergi keluar istana untuk menemukan Jangdoo, tapi ia melihat beberapa pengawal raja menyeret beberapa prajurit. Wangoo bertanya ada kejadian apa. Kapten menjawab kalau mereka mendapati beberapa orang itu sedang menggeledah ruang penyimpanan semalam.  Ketika Wangoo akan mengiterogasi mereka Heuk datang menyela kalau ia dan anak buahnya mengikuti perintah dari Jenderal.

Wangoo sangat marah dan mengatakan kalau tidak seorangpun dari militer yang diperbolehkan untuk masuk ke istana apalagi menggeledah tempat penyimpanan di Istana. Heukjipyung berkeras kalau itu adalah perintah Jenderal supaya menjaga agar pemberontak tidak menyusup masuk ke istana selama upacara berlangsung nantinya.

Wangoo menemui raja dan mengatakan kalau ia tidak bisa melakukan perintah Raja karena prajurit Sun sudah mengepung Istana dan mengawasi semua gerak-gerik mereka. Raja berkata kalau ia yang akan mengatasinya dan mengadakan pertemuan.

KEMUDIAN

Raja mengumpulkan para pejabat untuk mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan itu Buyo-Gye akhirnya menerima surat penetapan bahwa tahta akan diserahkan padanya. Semua terkejut tak menduganya. Weeduk mengatakan kalau ia akan mengikuti rencana yang telah dipersiapkan oleh  Jenderal, upacara akan diadakan 4 hari lagi.

Raja kemudian menyuruh semua orang keluar karena ia ingin berbicara dengan Perdana Menteri. Ketika tinggal mereka berdua, Raja meminta pengertian dari Gye kalau ia dalam keadaan yang sangat lelah dan sedih sehingga surat penetapan terlambat ia berikan. Gye mengatakan kalau ia mengerti.

Raja mengatakan pada Gye kalau mereka berdua telah mengalami kehilangan ayah mereka, dan juga mengatakan kalau ia telah kehilangan anak-anaknya dan Gye pasti melihat penderitaannya, jadi keserakahan apa lagi yang ia miliki?

Raja kecewa karena ternyata Gye masih tidak mempercayainya dan mengirim militer untuk mengawasinya. Gye kaget dan tidak mengerti. Raja mengatakan kalau beberapa waktu ini dia tidak dapat tenang hatinya dan tidak dapat beristirahat dengan tenang, sehingga Raja ingin segera menaikkan Gye ke tahta. Tapi ia ingin agar Gye tidak melakukan apapun sampai Raja mengundurkan diri. Raja meminta agar pasukan yang ditempatkan di Istana agar ditarik, ia akan berkeliling di sekitar Istana untuk menikmati keindahan taman sampai upacara penyerahan tahta. Itu adalah harapan terakhirnya sebagai kakak. Gye menunduk merasa menyesal. Wangoo dan Raja saling berpandangan sama-sama mengerti.

Gye menemui Sun dan Wooyung, Gye memarahi Sun yang membiarkan pasukannya masuk ke Istana dan menggeledah Istana, termasuk Gudang Kerajaan. Wooyung langsung mencela Sun dan menanyakan maksudnya menggeledah Gudang Kerajaan karena itu adalah wilayah pribadi dari Raja dan Ratu, yang akan diwariskan pada Gye ketika ia menjadi Raja. Gye kemudian memerintahkan Sun untuk menarik pasukannya dari Istana. Raja sudah tidak memiliki kekuasaan. Apalagi Raja sendiri sebenarnya adalah kakak kandung dari Gye dan ia ingin agar kakaknya mengundurkan diri dengan tenang. Sun terpaksa menurutinya.

Sun kemudian memerintahkan Heukjipyung untuk mengundurkan pasukannya. Heuk bertanya mengapa, Sun menjawabnya bahwa Wooyung dan ayahnya merasa tersinggung, jadi Sun tidak ingin disalahkan secara sembarangan.

KEMUDIAN

Mokrasu menemui Raja. Raja memberitahukan rencananya.

Mokrasu: Apa? Menyiapkan itu?

Weeduk: Benar: Aku akan melakukan apa yang dapat kulakukan. Aku ingin menunjukkan pada anakku sedikit dari kemauanku sebelum aku mati. Jadi bawalah Jang!

Mokrasu: Tapi Jang ….

Wangoo: Dia ada di Kuil Wangryong.

Mokrasu: (terkejut) Kuil Wangryong?

Weeduk: Kirimkan surat rahasia dan katakan kalau aku ingin melihatnya untuk terakhir kali.

Mokrasu: Ya. Yang Mulia!

Weeduk: (pada Wangoo) Apakah kau sudah ada rencana untuk mengamankan Jangdoo?

Wangoo: Ya. Mereka sekarang sedang menunggu.

Weeduk: Berjaga-jaga jika ada situasi lain, selain pengawal raja, pasukan kecil diperlukan di sekeliling Istana. (Kepada Mokrasu) Apakah kau ada orang yang dapat membantu kita?

Mokrasu: (berpikir) Yang Mulia, ada seseorang!

Weeduk: Mereka diperlukan untuk melindungi Jang. Kerjakan dengan seksama!

Mokrasu: Baik Yang Mulia.

Weeduk: Karena keragu-raguanku, kita jadi tidak punya banyak waktu yang tersisa. (Kepada Mokrasu dan Wangoo) Bergeraklah dengan cepat dan rahasia!

Mokrasu dan Wangoo: Baik!

KEMUDIAN

Bumro membawakan Mokrasu seekor kuda.

Bumro: Guru mengapa kau membutuhkan seekor kuda?

Mokrasu: Jang ada di kuil Wangryong.

Bumro: di Kuil Wangryong?

Mokrasu: Benar, jadi tunjukkan ini padanya dan cepatlah kembali bersamanya. (menyerahkan surat pada Bumro)

Bumro: Baguslah!

Mokrasu: Jika dia tidak mau datang …

Bumro: (menyela) Aku akan mengikatnya di atas kuda dan membawanya kembali. Jangan khawatir. (Pada dirinya sendiri) Dasar bajingan cilik, kita lihat nanti! (Bumro naik ke kuda dan memacunya pergi, Mokrasu mengawasinya pergi)

Mokrasu kembali ke Taehaksa tapi ia tertegun ketika baru masuk, karena sudah dihadang oleh Mojin, Eunjin, Gomo, dan Maekdosu.

Maekdosu: Kami sudah memikirkan dengan seksama dan memutuskan …

Mojin: Kami akan membantumu sampai akhir.

Mokrasu: Kalian semua … Semua dari kalian?

Maekdosu: … Jika kau tidak membutuhkanku … (berpura-pura mau  pergi)

Gomo: (memegangnya) Ya. Kami semua akan melakukannya …

Mokrasu: Terima kasih! Aku berterima kasih! Tidak ada orang di sekeliling Taehaksa, jadi kupikir kalian sudah pergi.

Eunjin: Apakah kami akan melakukan hal seperti itu?

Mokrasu: (berjalan ke hadapan mereka) Itu bagus. Lagipula aku memang membutuhkan kalian semua.

Mojin: Apa itu?

Mokrasu: Aku tak dapat membicarakannya di sini, ayo kita ke ruang kerjaku.

KEMUDIAN

Maekdosu: Yeah? Tinggalkan aku saja di belakang? Mengapa aku harus melakukannya?

Mojin: Aku akan melakukannya, tapi mengapa sekarang? Apakah ada Pangeran yang masih tersisa?

Mokrasu: Pangeran ke-4 masih hidup!

Eunjin: Jadi itu benar?

Mojin: Tapi Pangeran Ke-4 berusaha untuk membunuh Pangeran Mahkota.

Mokrasu: Itu adalah jebakan dari Jenderal, Pengeran Ke-4 ada di sana di tempat kejadiannya.

Gomo: Bagaimana dia bisa ?

Mokrasu: Jadi kalian berpasangan dan melakukan tugas yang telah kuberikan pada kalian. Eunjin dan Mojin lakukan ini, Gomo dan Maekdosu lakukan itu.

Semua: Baik!

Mokrasu: Kalian semua tahu betapa pentingnya ini! Hati-hati dan berhati-hatilah lagi!

Semua: Ya. (Mokrasu meninggalkan ruangan)

Maekdosu: Aku akan melakukannya jika diminta. Tapi apakah Pangeran Ke-4 tahu mengenai betapa sulitnya keputusan yang telah kita buat?

Eunjin: Ibu, aku gemetar. (Mojin memeluknya)

Maekdosu: Aku gemetaran juga. (Mendekat ke Mojin dan Eunjin)

KEMUDIAN

Mokrau menemui Baekmoo di pasar.

Mokrasu: Ikuti aku.

Baekmoo: Baik.

Mokrasu menemui Daejang.

Daejang: Nona Jin belum mengirimi aku surat.

Mokrasu: Aku sudah menulis surat pada Jang dan Nona Jin. Mereka akan segera kemari.

Daejang: Jadi kau kesini untuk bertemu denganku?

Mokrasu: Benar. Aku datang meminta bantuanmu untuk hal yang sulit.

Daejang: … (tek mengerti)

Mokrasu: Ini Eunsol, Baekmoo, yang biasanya membantu Pangeran Aja.

Daejang: Senang bisa bertemu denganmu.

Baekmoo: Aku juga senang bisa bertemu.

Daejang: Apa yang membuatmu kemari? Kalian terlihat sangat tegang!

Mokrasu: Aku membutuhkan pasukan pribadimu.

Daejang: Pasukan pribadi? Mengapa kau membutuhkan mereka?

Mokrasu: Aku membutuhkan tenaga mereka saat upacara penyerahan tahta.

Daejang: Untuk upacara penyerahan tahta?

Mokrasu: Berjaga-jaga jika ada sesuatu, kami membutuhkan mereka untuk melindungi Pangeran Ke-4!

Daejang: (terkejut) Pangeran Ke-4?

Mokrasu: Aku akan memberitahumu ketika saatnya tiba. Bisakah kau melakukannya untuk kami?

Daejang: Mungkin tidak sebanyak Jang, tapi aku juga memiliki dendam terhadap Wiesa Japyung dan keluarga Hae. Aku harus membantu kalian.

Mokrasu: Kalau begitu, Eunsol akan memberitahumu rute keluar masuk istana dan jalan pegunungan.

Dajang: Baik.

Mokrasu: kita tidak punya banyak waktu, tapi emua harus berjalan dengan tepat sesuai dengan rencana.

Daejang dan Baekmoo: Baik! (Tiba-tiba Sunhwa masuk)

Mokrasu: Belum lama ini aku mengirim Bumro ke Kuil.

Sunhwa: Seodong-Gong cemas dengan keselamatan Raja dan dia mengubah pikirannya.

Daejang: Dimana Jang sekarang? Guru Mokrasu sedang menjelaskan hal yang penting.

Sunhwa: Dia pergi untuk menemui Guru Mokrasu.

Daejang: Kalau begitu aku akan menjemputnya. Dia dapat membuat rencana yang tepat untuk ini.

Mokrasu: Tidak usah. Jang harus melakukan hal yang lain.

Sunhwa: Apa yang terjadi?

Mokrasu: Yang Mulia membuat keputusan tegas.

KEMUDIAN

Jang mau menemui Guru Mokrasu di ruang kerjanya, tapi tempat itu kosong. Jang mau keluat namun Mokrasu masuk lebih dulu.

Mokrasu: Jang!

Jang: Aku hanya akan mengawal Yang Mulia dan Guru dengan selamat sampai ke Kuil Wangryong.

Mokrasu: Baiklah. Aku akan melakukannya. Pergi dan temui Wangoo, dia akan memberikan perintahnya.

KEMUDIAN

Jang menuju ke kediaman Raja, Wangoo menemuinya.

Wangoo: Pange …. (sadar kalau tidak boleh ada yang tahu, menengok sekelilingnya) … Ah kau di sini. (serba salah)

Jang: (memberi hormat) Ya.

Wanggo: Baguslah …

Jang: Guru mengatakan padaku kalau kau yang akan memberikan perintah.

Wangoo: Benar. (kepada kaptennya) Yang Mulia akan berada di kuil kerajaan, bawa Jang ke sana.

Kapten: Baik. (pada Jang) Ikuti aku!

Jang beranjak pergi ketika ada seorang pengawal berlari ke Wangoo dan berbisik sesuatu di telinganya.

Wangoo: Apakah kau yakin?

Pengawal: Ya. (Jang mendengar sekilas)

Wangoo: Baiklah. Jangan sampai ada kesalahan!

Pengawal: ya.

Wangoo mendesah tegang. Jang melanjutkan perjalanannya bersama Kapten.

TEMPAT EKSEKUSI

Seseorang dengan baju tahanan dan kepalanya ditutup kain hitam, dipaksa berlutut di tempat eksekusi.

Prajurit: Penjahat, Jangdoo sudah siap!

Heukjipyung: Walaupun kau hanya seorang pelaksana, tapi kau sudah melukai Pangeran. Bukan hal yang salah jika kau dicabik-cabik, tapi karena penyerahan tahta kau akan dieksekusi dengan diam-diam. Berterima kasihlah pada Yang Mulia dan hadapilah kematianmu. (Anak buah Wangoo mengintip, Heuk berkata pada prajurit) Eksekusi dia!

Prajurit: Ya! (orang itu ditebas dari belakang, jatuh tersungkur dan mati)

Heuk: Buang mayatnya di pasar lama!

Prajurit: Ya!

Anak buah Wangoo yang mengintip segera menyingkir. Para prajurit membawa mayat ‘Jangdoo’ ke pasar lama dan membuangnya di sana. Wangoo datang dan memeriksa mayat itu.

Wangoo: Buka kain penutupnya! (Salah satu anakbuahnya membuka kain penutup dan membalikkan tubuh ‘Jangdoo’

Pengawal: Lihat wajahnya, dia bukan Jangdoo!

Wangoo: (mengangguk membenarkan) Ya. Ini cukup menjadi bukti. Pertama-tama cari identitas orang ini dan kubur dia di bawah salju!

Pengawal: Ya.

Wangoo: Apakah kau sudah menempatkan orang untuk mengikuti Jangdoo?

KEMUDIAN

Jangdoo menyamar sebagai seorang prajurit keluar dari Kantor Pemerintahan, anak buah Wangoo mengawasi gerak-geriknya. Jangdoo berpura-pura membeli sesuatu di pasar, di belakangnya anak buah Wangoo tetap mengikutinya. Jangdoo bertemu dengan Goosan yang mengajaknya untuk menemui Kim Saheum

Saheum: Kerja bagus!

Jangdoo: Tidak masalah. (Saheum memberikan sekantung uang) Terima kasih!

Saheum: Tiga hari setelah penyerahan tahta, saat itu adalah dunianya Doham. Jadi pulanglah ker rumahmu. Doham akan memanggilmu lagi, jadi kuucapkan selamat padamu lagi.

Jangdoo: Ya.

Saheum: (pada anakbuahnya) Ayo kita pergi!

Pengawal: Baik. (Mereka pergi)

Goosan: Pergilah ke desa.

Jangdoo: Ya.

Goosan: Aku ada beberapa barang untuk ibuku yang akan kutitipkan padamu.

Jangdoo: Ya.

Jangdoo berjalan menuju ke desa, tapi dihadang oleh beberapa orang. Pertarungan tak seimbang terjadi, walaupun Jangdoo cukup jago tapi ia kalah jumlah orang, sehigga dapat dikalahkan.

Kapten: Cari tahu dengan siapa saja ia bertemu! Bekap mulutnya dan masukkan ke dalam kotak!

Semua: Baik! (mereka menyeret dan memasukkan Jangdoo yang sudah dibekap mulutnya ke dalam kotak.

KEMUDIAN

Mokrasu memberi aba-aba, Gomo dan Maekdosu membawa peti besar mengikutinya. Mereka berusaha menyelundupkan kotak itu ke dalam kediaman Raja. Heukjipyung mengawasi mereka dari atas pohon di luar istana. Ia hanya bisa menduga-duga.

Wangoo berjaga di luar kediaman Raja, sedangkan Raja yang di dalam sedang memikirkan sesuatu.

Mokrasu: (kepada Wangoo)  Ini adalah piring-piring baru yang dibuat oleh Taehaksa.

Wangoo: Aku mengerti. (berbalik, berseru kepada raja) Yang Mulia, Piring-piring dari Taehaksa sudah datang. Aku akan membawanya masuk. (Kepada Mokrasu) Ayo bawa masuk ke dalam.

Maekdosu: Kami akan …

Wangoo: Tidak apa-apa, ayo! (Wangoo mengangkat peti bersama dengan Mokrasu masuk ke dalam kamar raja.)

Gomo: (setelah Mokrasu dan Wangoo masuk) Piring-piring itu sangat berat!

Maekdosu: Itu terbuat dari kayu pohon Ash. (Mereka pergi)

DI DALAM

Moraksu dan Wangoo masuk membawa peti itu ke dalam.

Mok : Yang Mulia.

Weeduk: Bawa itu ke ruangan rahasia!

Wangoo: (membungkuk) Baik!

Wangoo dan Mokrasu mengangkat peti itu lagi dan membawanya ke ruangan rahasia. Jang juga ada di sana, terheran-heran dengan peti yang dibawa oleh mereka berdua.

Jang: Guru. Ruangan ini untuk melindungi Raja. Apa ini?

Raja masuk ke ruangan, semuanya memberi hormat.

Weeduk: Buka peti itu!

Mokrasu: Ya, Yang Mulia.

Mokrasu dan Wangoo membuka kunci-kunci peti.  Ketika peti itu dibuka, Jangdoo yang masih dibekap mulutnya dan diikat tangannya berusaha duduk, ia kaget ketika melihat Raja ada di hadapannya.  Jang melihat Jangdoo dan mengenalinya, ia terkejut.

Jang: Yang Mulia.

Weeduk: (kepada Jangdoo, sambil menunjuk kepada Jang) Apakah kau pernah melihat orang ini di gua?

Jangdoo menoleh, mengenali Jang, dan mengangguk kepada Raja.

Weeduk: Apakah kau pernah melihat dia sebelum itu?

Jangdoo berpikir dan kemudian menggelengkan kepalanya. (Jang mulai mengerti maksud dari Raja)

Weeduk: Katamu kau pernah bertemu dengan Pangeran ke-4, benar?

Jangdoo: …. (ragu-ragu)

Weeduk: (membentak)  Benar tidak?

Jangdoo terpaksa menganggukkan kepalanya dengan ketakutan.

Weeduk: (marah) Dasar kau jahat! (tangannya menunjuk jang) Dia adalah anakku yang ke-4, Pangeran ke-4 Baekjae!

Jangdoo terkejut dan menoleh ke Jang, dan melihatnya dengan penuh ketakutan karena tipuannya sudah terbongkar.

Weeduk: Tapi aku tetap akan menepati kata-kataku. Jika kau mengatakan yang sebenarnya, aku tak akan membunuhmu. (Jangdoo menatapnya ketakutan)

Pihak militer telah melaporkan kematian palsumu. Dan aku juga tahu kalau kau menemui pedagang yang bernama Abiji. (Jangdoo semakin ketakutan, Jang memandang Jangdoo kemudian pada Raja) Akui kebenarannya! (Jangdoo tak berdaya) Apakah dia Buyeo-Sun? (Jangdoo terkejut) Apakah Wiesa Japyung? (Jangdoo ketakutan) Beritahu aku! Apakah dia Buyeo-Sun?

Wangoo saling berpandangan dengan Mokrasu, Jang berdebar-debar, Jangdoo masih ketakutan dan ragu-ragu, tapi akhirnya kepalanya mengangguk berulangkali.

Weeduk: Jadi memang benar Wiesa Japyung Buyeo Sun?

Jangdoo menganggukkan kepalanya lagi dan menangis, Jang sudah menyangkanya tapi tetap saja terkejut karena memang terbukti kalau Sun-lah dalangnya di balik semua ini.

Weeduk: Wangoo, korek semua keterangan darinya dan kerahkan orang-orang rekrutanmu.

Wango0: Baik. (Wangoo dan Mokrasu menutup kembali peti, Jang mengawasi mereka)

Jang: Yang Mulia.

Weeduk: Kau tetap di sini!

Raja meninggalkan ruangan, didikuti oleh Mokrasu dan Wangoo yang membawa peti berisi Jangdoo. Jang mengawasi mereka pergi, bingung dan tak mengerti maksud dari semua kejadian yang baru saja terjadi.

Weeduk: Bawa masuk orang-orang yang sudah kau pilih.

Mokrasu: Baik!

Mokrasu dan Wangoo membawa peti keluar. Di luar sudah menunggu beberapa orang, Mojin dan lainnya.

Mokrasu: Apakah sudah siap?

Mojin: Ya, semua sudah siap. (menyerahkan kotak berwarna hijau)

Mokrasu menerimanya dan membawanya ke dalam.

Mojin: Ayo kita pergi. (Dia dan Eunjin pergi, Gomo dan Maekdosu kebagian jadi kuli lagi 😛 mengangkat peti yang berisi Jangdoo)

Mokrasu masuk ke ruangan rahasia sambil membawa kotak hijau dan meletkakannya di atas lantai, Jang menyambutnya.

Jang: Guru, Apa yang sedang terjadi?

Mokrasu tak menjawab, ia membuka kotak itu, kemudian mengeluarkan seperangkat baju indah dari dalamnya dan menaruh di atas meja di hadapan Jang.

Mokrasu: Baju Pangeran Mahkota yang baru masih belum jadi, jadi aku membawakan milik Pangeran Aja. Aku sangat menyesal.

Jang: (terkejut dan tidak senang) Guru!

Mokrasu: Tolong pelankan suaramu!

Jang: Guru!

Mokrasu mengambil pakaian indah itu dan memakaikannya ke Jang, Jang dengan enggan dan bingung, terpaksa mengikuti kemauan Mokrasu. Raja masuk ke dalam saat Mokrasu sudah selesai memakaikan dengan lengkap baju Pangeran Mahkota.

Raja memberi tanda pada Mokrasu.

Mokrasu: (pada Jang) Berlututlah! (Jang dengan ragu-ragu berlutut)

Wangoo mengeluarkan perkamen dan Raja mengambilnya kemudian membacanya.

Weeduk: Tahun Ke 27 menurut kalender Baekchae Chang, aku akan menganugerahkan kepada anakku yang ke-4, gelar sebagai Pangeran Mahkota.

Jang: Yang Mulia!

Weeduk: (Tak menghiraukan Jang) Aku akan memberimu nama Mugang!

Jang: Yang Mulia!

Weeduk mengambil kalung Pangeran Ya Myung Ju, yang terukir angka 4, dan mengalungkannya kepada Jang, yang sedang berlutut. Jang hanya bisa mengawasi tindakan Raja.

Weeduk: Sekarang kau adalah Pangeran Mahkota dari kerajaan Baekjae, Pangeran Mugang!

Jang: Yang Mulia!

Weeduk: Walaupun penobatanmu dilakukan dengan sangat buruk dan sederhana, Penyerahan tahta kepadamu tidak akan seperti ini!

Jang: Penyerahan tahta?

Weeduk: Penyerahan tahta akan dilakukan 2 hari lagi. Aku yang akan menyerahkannya langsung padamu.

Jang dan yang lainnya sangat terkejut bukan main, Jang tak bisa berkata apapun karena terkejutnya.

Mokrasu dan Wangoo: Yang Mulia!

Weeduk: Naskah kerajaan ini harus disimpan di Gudang Kerajaan, Taehaksa, dan Departemen Pendidikan.

Wangoo: Baik Yang Mulia.

Weeduk: Sebagai tambahan, Guru Mokrasu akan menyediakan segala sesuatunya bagi Pangeran sampai upacara penyerahan tahta!

Mokrasu: Baik, Yang Mulia.

Jang: Yang Mulia!

Weeduk: Jangan berkata apapun, diamlah dan hanya ikuti semua ini! (Jang terkejut dan tak tenang hatinya.)

KEMUDIAN

Wooyung datang ke kediaman Sun pada malam hari.

Penjaga: Guru Wooyung ada di sini.

Wooyung masuk ke dalam.

Sun: Apa yang membawamu kemari malam begini? (Wooyung menyerahkan buku ke hadapannya) Apa ini?

Wooyung: Ini dikirim oleh ibuku, yang nantinya akan menjadi Ratu.

Sun: …

Wooyung: Bagaimana bisa kau melakukan penyeleksian sendiri dari 6 pimpinan departemen, 12 pejabat utama, dan 10 divisi? Ketika ayah kita naik tahta, banyak  orang-orang berkuasa yang terlibat, kau tahu itu bukan? Banyak orang-orang yang kami inginkan untuk mendapat beberapa posisi tertentu, jadi lakukanlah apa yang kau mau. (Giroo dan Heuk diam saja) Hari bertambah larut, jadi aku harus pergi.

Wooyung memberi hormat dan pergi meninggalkan kediaman Sun.

KEMUDIAN

Jang membuka pakaian Pangeran Mahkota

Di kamar raja., Mokrasu dan Wanggoo menemui raja.

Wangoo: Yang Mulia, tolonglah beritahukan rencanamu pada kami!

Mokrasu: Ya, Yang Mulia. Hal ini tidak sama seperti saat kau mengumumkannya di depan para utusan. Mereka tidak dapat melakukan apapun di waktu yang lampau. Tapi mereka mempunyai kekuasaan untuk yang satu ini!

Weeduk: Ini harus dilakukan setelah menekuk kekuatan mereka. (Wangoo bingung) Aku punya rencana! Dan aku pikir itu akan berhasil! Bahkan jika ini gagal, aku akan mengamankan warisan untuk Jang! (Mokrasu dan Wangoo berpandangan) Jadi jika segala sesuatunya berbalik menjadi buruk, prioritas utama kalian adalah melindungi Jang!

KEMUDIAN

Jang menunggu di ruangan tadi. Eunjin masuk menemuinya.

Eunjin: Apakah Guru ada di sini?

Jang: Tidak!

Eunjin: Jin Gakyung ingin menemuinya.

Jang: Benarkah?

Eunjin: Ya! Kelihatannya ada yang sangat penting. (Jang pergi)

KEMUDIAN

Jang: Apakah Yang Mulia yang memintamu untuk menyiapkan prajurit di sini?

Sunhwa: Ya, oleh karena itu aku perlu untuk menemui Guru. Tapi kenapa kau disini?

Jang: Apa yang sedang terjadi?

Sunhwa: Aku sendiri datang kemari untuk mencari tahu situasinya. Adakah yang salah?

Jang: (ragu-ragu) Aku telah diangkat menjadi Pangeran Mahkota.

Sunhwa: (tak percaya) Ya?

Jang: Dia akan menyerahkan tahtanya padaku saat upacara itu. (Sunhwa sangat terkejut) Itu karenamu dan Guru.

Sunhwa: … (berpikir)

Jang: Guru memimpinnya ke jalan yang salah karena berdasarkan kepercayaannya yang salah dan karena ingin bertahan di sini.

Sunhwa: …

Jang: Penyerahan tahta? Dia mempercayai aku? Aku ini bukanlah siapa-siapa!

Sunhwa: Seodong-Gong!

Jang: Ini tidak benar! Aku akan membawanya ke dalam bahaya!

Sunhwa: ….

Jang: Aku harus menghentikan ini!  Aku harus hentikan ini!

Jang keluar bersamaan dengan masuknya Daejang.

Daejang: Jang! Jang! (kepada Sunhwa) Ada apa?

Sunhwa: Aku tidak berpikir ini adalah sesuatu yang biasa-biasa saja!

Daejang: Apa maksudmu?

Sunhwa: Raja tidak akan merencanakan ini tanpa ada alasan yang kuat!

KEMUDIAN

Jang menemui Mokrasu di ruang kerjanya. Mokrasu memberi hormat padanya

Mokrasu: Pangeran, sampai kita bebas dari mereka, aku akan memberi penghormatan yang sederhana.

(Mulai saat ini, Mokrasu selalu memberi hormat dulu pada Jang, menunjukkan kalau Mokrasu lebih rendah tingkatannya daripada Jang, sebagai seorang Putera Mahkota)

Jang: Guru ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan hal itu. (Mok mengangkat wajah, menatapnya) Tolong ubah kehendak dari Raja! (mokrasu kaget) Ini semua terjadi karena penilaianmu yang salah! Kau seharusnya tetap diam mengenai jati diriku. Kaulah yang bertanggungjawab atas kejadian ini, jadi kau yang harus menghentikan Yang Mulia!

Mokrasu: Aku tidak pernah mengubah maupun mempengaruhi pikiran dari Yang Mulia. Kaulah yang mengubahnya, kau Jang! (Jang tak percaya) Aku hanya memberitahunya kebenaran, aku tidak mempengaruhinya untuk mengambil keputusan apapun. Jadi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mengubah pikiran Raja. Itu, hanya kau yang bisa!

Jang gelisah, ia segera pergi menuju ke kediaman Raja. Wangoo menemuinya di halaman.

Wangoo: Mengapa kau datang kemari, seharusnya kau tetap tinggal di sana!

Jang: (berseru ke arah kediaman Raja) Yang Mulia, Jang di sini. Aku ingin berbicara denganmu!

Suara Weeduk: Masuklah!

Jang mmberi hormat pada Wangoo dan masuk ke dalam kediaman Raja.

DI DALAM

Weeduk: Ada apa?

Jang: Yang Mulia, aku bukanlah pangeran Aja. (Weeduk menatapnya tidak mengerti) Aku tidak tahu apa yang telah Guru katakan padamu. Aku tidak terdidik seperti anak raja yang lain dan aku juga tidak punya kemampuan untuk itu.

Weeduk: Aku tidak tertarik dengan pendidikanmu atau kemampuan yang kau miliki. Hal-hal seperti itu bisa kau dapatkan setelahnya. Yang aku perhatikan hanyalah kemauan kehendakmu.

Dan sekarang ini, apa yang sedang kucoba lakukan adalah …, apa yang dapat aku tunjukkan adalah …, apa yang kau minta padaku untuk memperlihatkan sedikit dari kehendak dan usahaku. (Jang tertegun) Dan  Aku sungguh berterima kasih karena kau membuatku mendapatkan kembali sedikit kemauan kehendakku!

Jang: Tapi Yang Mulia, kekuasaan Jenderal ada di mana-mana di sekeliling kita. Dan ini tindakan yang terlalu ceroboh dan berbahaya!

Weeduk: Berbahaya? Selalu ada bahaya di sekeliingku, sehingga aku tak bisa melakukannya dan  aku tidak melakukannya! Tapi …. Aku selalu merencanakan ini. Rencana yang tidak mungkin gagal!

Jang: Apa itu?

Weeduk: … (ragu-ragu)

Jang: Apa itu? Beritahukan padaku! Sebelum kau memberitahuku rencanamu, aku tak akan mengikuti kemauanmu!

Weeduk: ….

Jang: Yang Mulia!

Weeduk: Aku akan … (Jang menunggu) … membunuh Buyeo-Sun dengan tanganku sendiri! (Jang terkejut!)

————————————-

Catatan Penulis: Aku mohon maaf sebelumnya pada semua penggemar (?) Sinopsis Drama Korea, terutama Seo Dong Yo,  yang telah dengan setia selalu menanti episode yang baru tiap hari. Karena satu dan berbagai hal yang terjadi di toko dan rumah, yang mana banyak kesibukan dan membuatku juga super sibuk, pontang-panting kesana kemari, jadi mungkin aku akan mengeluarkan sinopsis agak sedikit terlambat dari sebelumnya. Mohon maklum ya, tapi kalo pas ada waktu luang, pasti kukerjakan sehingga tetap memenuhi targetku sendiri: minimal 5 episode dalam seminggu (kalau bisa sih lebih biar cepat selesai 😀 ). Gumawo!

Iklan

36 comments on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 33

  1. pertamaxxxx……….!!!
    Dunia serasa lebih lambat ketika ku menantikan lanjutan cerita seo dong yo…..
    Jangan siksa kami seperti ini…!!!!!
    pikirkan perasaan kami om andy…….
    S’lalu kami tunggu lanjutannya……

    • walah …. salah klik lagi … hahahah bukan maksud hati mau setengah-setengah … hari ini asli salah klik …

  2. Boz Andi….
    jgn gtU duNc…..kmi bSa mti PnasraN neCh…..
    post in sEgeRa ea klAnjutaN_y…!!
    pLeAse…….!!

    • aduhh … jangan mati duluan donkk …. sapa ntar yang baca sinopsisku …. 😛 tiada maksud dipotong-potong tapi keadaan yang memaksaku, ga isa full kerjain sinopsis, ada aja kesibukan jadi mau nda mau walaupun masih lom selese ya kupost 😦

    • =.=a banyak banget yang protes deh …. ya deh ya deh ….. kusimpan dulu di penyimpanan sementara 😀 kalo dah kelar kuposting lagi.

  3. waduh……..tambah sakit neh dada bacanya………semoga semua urusannya lancar……biar bisa kembali nyambung sinopsisnya 😛

  4. iya deh dimaklumi kalo urusannya banyak, tapi pliiissss jangan sampe keduluan sama yg di TV…bisa basi dong sinopsisnya kalau gitu, btw yg di TV udah di episode 29 loh hari ini…ingat..ingat…peace !!!

  5. Karena rasanya luaaamaaa buanget, tpakse deh sy liat sinopsis laen mpe episod 55..gak sanggup kredit cuy..namun kita org tetap setia nunggu sinopsis boz andi yg okeh py…lanjutt boozzz..wkwk

    • ahahahah apa yang bhs inggris? punyanya priscilia sama holengjai? mereka cuman meringkas saja kalau episode 30-40 an, 40 an ke atas ada dialognya tapi dikit cuman yang penting aja. Aku ambil juga dari mereka yang 1-24 …. kerasa bedanya khan sama punyaku ? Mauku sih cuman nerjemahin pny mereka aja daripada repot-repot, tapi ntar banyak yang kecewa …. makanya jadi lambat gara-gara nulis satu demi satu percakapan mereka di dalam film 😦

  6. udah 3 hari nunggu episode 34 belum juga ada …….sampe 😦 😦
    mohon secepatnya bos Andy, hati penasaran kepala cenat cenut
    cepat..cepat …cepat …..

  7. Waduhhh bung andy tolong jgn siksa kami spt ini dong,,,ini bisa dikategorikan sbg pembunuhan nih namax…
    Lanjutin dong please please please…

  8. wah resep yah baca sinopsi dari mas andy, bisa demikian terperinci seperti novel hidup saja.hebat sekali mas andy ini. korea mania atau talenta menulis novel nich?

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s