Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 36

Pasukan pengawal dipimpin Wangoo menghadang prajurit Sun yang dipimpin oleh Giroo.

Wangoo: Berhenti! (pada Giroo) Lepaskan Yang Mulia!

Girll: Yang Mulia? Apa yang ksedang kau bicarakan?

Wangoo: Aku tahu semuanya, bebaskan dia!

Giroo: (pada anak buahnya) Kawan-kawan!

Para prajurit Sun menyerang para pengawal raja. Pertarungan terjadi di tengah-tengah pasar yang banyak orang.

Wangoo: (kepada rakyat yang menonton) Selamatkan Raja! (Wangoo membela diri dari penyerangnya) Di dalam tandu adalah Raja! Selamatkan Raja!

Beberapa orang segera naik ke atas kereta dan membawa Raja turun dari kereta. Mereka berhasil melepaskan ikatan dari tangan dan mulut Raja. Giroo melihatnya,

Giroo: Yang Mulia! (mendekati Raja)

Raja sangat murka ia segera mencabut pedang di pinggang Giroo dan mengancamnya dengan ujung pedang.

Weeduk: Aku tidak akan dihina olehmu dengan mudah!

Giroo: Yang Mulia!

Weeduk: Kau membunuh putraku Aja, dan mencoba membunuhku. Aku tidak akan memaafkanmu!

Raja berusaha membunuh Giroo tetapi Giroo yang lebih terlatih berhasil menghindar beberapa kali.

Suatu kali anak buah Giroo datang dan menyabet Raja dari belakang.

Giroo terkejut dan berseru, “Yang Mulia!”

Rakyat yang menyaksikan itu sangat terkejut, Wangoo juga terkejut. Raja jatuh namun sebelum ia menyentuh tanah, rakyat menahan tubuhnya.

Wangoo: Yang Mulia!

Wangoo segera berlari menghampiri rajanya, pertempuran berhenti, rakyat berlutut dan menangis menyerukan, “Yang Mulia” berulang-ulang.

Wangoo: (berlutut di hadapan raja) Yang Mulia!

Raja ditopang oleh rakyat, ia menahan rasa sakit.

Weeduk: Pangeran Mahkota yang aku akui …. (menahan sakit dan mengumpulkan sisa kekuatannya) … adalah Pangeran ke-4, Mugang Taeja.

Giroo hanya bisa mengawasi peristiwa itu.

Wangoo: Yang Mulia! Yang Mulia!

Weeduk: (napas terengah-engah) Sebarkan kenyataan ini ke seluruh rakyat!

Tangan Weeduk terkulai ke bawah dan Weeduk menutup matanya, menghembuskan napas terakhirnya.

Wangoo: Yang Mulia! (berteriak) Yang Mulia!

Semua orang yang berkumpul di pasar langsung berteriak dan meratap, ” Yang Mulia! Yang Mulia!” Mereka berlutut dan menangis meratap.

Wangoo hanya bisa menangis sedih.

Sementara itu Jang menyaksikan semuanya dari kejauhan dan ingin menghampiri Raja, tapi Daejang menahannya.

Daejang: Pikirkan apa yang kau inginkan!

Giroo masygul dan melihat ke semua arah, di mana-mana orang sedang meratapi kematian rajanya. Kemudian menatap raja yang terbaring tak bergerak.

Jang menatap ke arah Raja yang menghadapi kematiannya dengan pandangan sedih. Ia berusaha melepaskan diri dari Daejang yang menahannya.

Suara hati Jang: Yang Mulia aku tidak akan menangis! Aku tidak akan menangis lagi!

Sun dan Heuk mengawasi peristiwa itu dari kejauhan, Giroo menghampiri mereka. Mendengar dari Giroo  kalau Raja Weeduk telah menyatakan  bahwa Mugang Taeja sebagai pewaris tahta yang sah di tengah-tengah pasar yang banyak orang, Sun mengertakkan giginya dengan kesal, “Sampai akhir, sampai pada kematiannya!”.

Ia kemudian memerintahkan pada Heuk untuk menyingkirkan tubuh Raja dan kemudian langkah selanjutnya mengerahkan pasukan pribadinya, membantai semua orang di area itu yang mungkin telah menyaksikan peristiwa itu, termasuk beberapa dari prajurit militer di bawah pimpinannya sendiri.

Sun memerintahkan  Heuk supaya orang-orangnya memakai pakaian biasa sehingga kelihatannya seperti serangan dari orang lain, mungkin mencoba untuk menimpakan kesalahan pada Pangeran Ke-4 lagi, ini juga bisa membuat seakan-akan para penyerang ‘yang tak diketahui identitasnya’ itulah yang membunuh raja bukan prajurit Sun. Bahkan Heukjipyung dan Giroo sendiri tak dapat mempercayai kalau Sun bisa memerintahkan untuk melakukan pembunuhan brutal itu pada banyak orang yang tak bersalah.

Giroo berusaha menentang perintahnya dan memberi alasan kalau pembunuhan ini akan menjadi noda di waktu ia nanti memerintah sebagai Raja. “Terlambat, aku sudah ada di posisi yang tak ada jalan kembali” sahut Sun tetap bersikukuh dengan keputusannya.

KEMUDIAN

Sunhwa ada di kamar sedang membaca, Mokrasu menemaninya.

Suara Chogee: Nona! Nona! (Chogee masuk dengan terengah-engah habis berlari)

Sunhwa: Ada apa? … Apa yang terjadi?

Chogee: (gugup) Di pasar ….

Sunhwa: Ada apa di pasar?

Chogee: (merasa gugup) Ya Tuhan … Ya ampun …. Raja memegang pedang di pasar.

Mokrasu: (kaget) Raja? Kenapa dia ada di pasar? (Bomyung menyerbu masuk)

Bomyung: Raja baru saja mangkat!

Sunhwa: (sangat terkejut dan langsung bangkit berdiri) Apa?

KEMUDIAN

Rakyat masih meratapi kematian raja. Heukjipyung datang dengan membawa sepasukan prajurit. Wangoo menatap mereka dengan mata berapi-api.

Heukjipyung: Menyingkir semua! Kami pasukan militer! Kami akan mengawal raja kembali ke istana.

Wangoo: (bangkit berdiri) Kamilah yang akan mengawalnya! (Mereka berdua saling menatap)

Heukjipyung kemudian berbalik, katanya pada anakbuahnya, “Pengawal Wangoo akan mengawal Raja kembali, kalian lindungilah dia!”

Prajurit: Ya!

Tiba-tiba ada banyak panah beterbangan mengarah ke orang-orang yang ada di pasar. Pasukan ‘entah dari mana’ datang dan menghabisi orang-orang yang ada di pasar termasuk para prajurit yang dibawa Heuk.

Wangoo: Lindungi Yang Mulia! Lindungi Yang Mulia!

Rakyat berusaha membopong tubuh Raja Weeduk dan membawanya ke tempat yang aman.

Heuk: Ini adalah pemberontakan, mundur semua!

Pasuka ‘tak dikenal’ itu mendesak terus kepada para prajurit Sun dan rakyat.  Jang dan Daejang mengawasi kejadian itu, gelisah tapi tak dapat berbuat banyak karena banyaknya musuh. Wangoo mundur disertai dengan rakyat yang membawa tubuh raja. Pasukan itu membunuh tanpa pandang bulu, siapapun yang tidak berseragam seperti mereka, dibunuh tanpa ampun.

Jang dan Daejang tak sampai hati melihat semua itu

Daejang: Mundur sekarang! Kita harus mundur dulu!

Kapten dari Wangoo bersembunyi, ia gelisah dan kemudian ia melihat Wangoo dikepung.

Kapten: Tuan Wangoo! Tuan Wangoo! (berlari menghampiri Wangoo)

Sun dan Giroo melihat pembantaian itu dari kejauhan.

Rakyat berhamburan berusaha melarikan diri. Mokrasu, Sunhwa dan para pengiringnya yang  sedang berusaha mendekati pasar terpaksa berlindung di salah satu rumah.

Mereka sangat shock, menyaksikan  dengan sembunyi-sembunyi pembantaian itu.

Sunhwa: Apa yang sedang terjadi Guru?

Mokrasu: Aku juga tidak tahu tepatnya!

Soochong: Bencana datang mendekat, kita harus pergi berlindung dulu.

KEMUDIAN

Beberapa jam kemudian, suara-suara teriakan dan keributan sudah lama berhenti.

Mayat-mayat bergeletakkan di pasar akibat dari pembantaian yang dilakukan oleh pasukan ‘tak dikenal’ itu.

Soochong mengintip dan berusaha menyelidiki situasi.

Soochong: Aku akan pergi dulu untuk melihat-lihat. Kalian semua tinggal di sini dulu.

Soochong mendekati area tersebut, melihat tak ada orang yang menyerang, Mokrasu dan lainnya segera menyusul.

Mereka semua sungguh miris hatinya melihat banyaknya orang yang menjadi korban pembantaian yang sadis itu.

Wangoo selamat tapi terluka parah di lengannya, kaptennya sedang berusaha membalutnya.

Jang tertunduk diam, hatinya berkecamuk, antara murka dan benci kepada musuh-musuhnya, merasa kasihan dan bersimpati dengan rakyat yang menjadi korban maupun keluarga mereka. Daejang bersamanya. Jang kemudian berusaha meninggalkan tempat itu.

Daejang: (meraih tangan Jang) Sembunyi! Wiesa Japyung datang kemari.

Mokrasu, Sunhwa dan para pengiringnya juga bersembunyi begitu melihat kedatangan dari Gye, Sun dan pasukannya.

Gye dan Sun menemukan tubuh dari Raja  Weeduk.

Gye: (menghampiri, berlutut, dan menangis) Yang Mulia! Yang Mulia! Mengapa ini bisa terjadi, Yang Mulia! (Sun berpura-pura sedih) Siapa, siapa yang melakukan ini padamu! (Giroo berlutut di depan jenazah Raja) Yang Mulia! (Gye menangis tersedu-sedu, Sunhwa dan yang lainnya mengintip) Kakak! (Wangoo dan kaptennya menyesal tak dapat membawa jenazah raja)

Jang (entah apa yang ada dalam hatinya, tidak bisa nebak ekspresinya karena terlalu tenang) hanya terdiam dan mengawasi Gye yang menangisi kematian sang Raja, yang juga kakak kandungnya.

KEMUDIAN

Gye mengadakan pertemuan dengan para pejabat Japyung dan memberitahukan pada mereka kalau Weeduk sudah mangkat. Para pejabat menjadi terkejut. Gye menyuruh mereka untuk mempersiapkan perkabungan kenegaraan. Para pejabat tidak mempercayainya, Sun menyatakan kalau Pangeran ke-4 lah yang melakukan semua ini. Ia sudah menerima berita kalau Raja akan melewati pasar dan berusaha mengirimkan pasukan militer untuk melindungi raja tapi  sepasukan tak dikenal menyerang mereka dan Raja sehingga Raja terbunuh oleh pasukan itu beserta banyak rakyat yang tak bersalah.  Wooyung menatapnya curiga.

KEMUDIAN

Giroo mengadakan pertemuan dengan para akademisi Taehaksa dan memerintahkan mereka untuk mengadakan persiapan untuk perkabungan kenegaraan. Semua orang terkejut, mereka segera keluar dan mempersiapkannya.

Suara hati Giroo: (kesal) Dia membantai rakyat. Berapa lama hal ini bisa disembunyikan.

Giroo mengingat ….

“Terlambat, aku sudah ada di posisi yang tak ada jalan kembali” sahut Sun tetap bersikukuh dengan keputusannya.

Suara hati Giroo: Ia sudah ada di tempat yang tak ada jalan kembali! Tak ada jalan kembali! (Giroo menutup wajahnya menyesal)

KEMUDIAN

Upacara perkabungan kenegaraan bagi Raja Weeduk yang mangkat diadakan, semua keluarga Gye bertindak sebagai penerima hormat. Para pejabat hadir dan memberikan penghormatan terakhir mereka bagi Raja. Saat inilah kita melihat untuk pertama kalinya adik Wooyung, Pangeran Woochae.

KEMUDIAN

Seusai upacara perkabungan, Sun berusaha mendekati para bangsawan dan meminta mereka untuk memberikan ribuan dari pasukan pribadi mereka untuk kepentingan ayahnya. Para bangsawan, tidak bersedia menyerahkan sumber kekuatan mereka dengan begitu mudahnya, menolak untuk memenuhinya sampai Sun bisa mendapatkan Segel Kerajaan, para bangsawan juga menolak mengakui ayah Sun sebagai Raja.

Chilryo menyerahkan kotak yang berisi Segel Kerajaan pada Giroo yang kemudian membawanya ke hadapan Sun, tapi ketika dibuka mereka terkejut karena kotak itu kosong.

KEMUDIAN

Di tempat persembunyian.

Para pengawal yang tersisa meratapi kematian Raja. Wangoo, Mokrasu dan yang lainnya berduka. Sunhwa memandangi mereka kemudian pergi menemui Jang di dalam ruangan. Jang sedang duduk dengan tenang menghadapi tempat Segel Kerajaan yang asli. Sunhwa menghampiri Jang.

Jang: Jangan katakan kalau aku tidak memiliki hati dan perasaan. (Sunhwa duduk di hadapannya) Aku tidak akan menangis lagi. Ya, memang benar, aku berbeda dengan mereka.

Mereka berpikir kalau rakyat itu harus dikuasai dan dikendalikan sehingga membantai mereka untuk merebut tahta. Aku berbeda dengan mereka.

Sunhwa: … (memandangnya dengan pengertian)

Jang: Aku adalah rakyat. Aku adalah rakyat yang sebenarnya hanya ingin hidup dengan merdeka dan mendapatkan penghidupan yang mudah.

Sunhwa: …

Jang: Jadi aku akan menjadi pemilik Segel Kerajaan ini.

Sunhwa: … (gelisah karena tahu dengan keputusan ini Jang akan menghadapi banyak masalah dan tantangan di hadapannya.)

Jang: (dengan keteguhan hati) Aku akan menjadi pemiliknya! Pasti!

KEMUDIAN

Sun menemui Haedoju dan Wooyung dan memberitahu mereka kalau Kotak Segel ternyata kosong. Haedoju mengatakan kalau para bangsawan tidak akan memberikan prajurit mereka kalau Gye tidak memiliki Segel dan Naskah Kerajaan. Sun mengatakan kalau ia akan menemukannya.

Sun kemudian kembali ke kediamannya dan menemui Chilryo dan Giroo yang ternyata sedang menunggu. Sun menanyai Chilryo apakah ia tidak menipunya,  Chilryo mengatakan kalau ia sudah berkhianat pada raja dengan menyerahkannya pada Sun, untuk apa lagi ia berbohong.  Giroo dan Heuk menanyainya apakah hanya Raja dan para pengawalnya yang datang bersama-sama ke kediaman Chilryo. Chilryo mengiyakannya. Kemudian karena tersinggung, Chilryo mengingatkan Sun kalau ia sudah berjanji walaupun ternyata menjadi seperti ini kejadiannya, janji tetap janji. Chilryo pergi.

Giroo menebak kalau Mokrasu tidak datang bersama Raja pasti ia sekarang bersama dengan Pangeran Ke-4, dan diserahi Segel itu. Sun memerintahkan untuk mengorek keterangan pada semua orang yang berhubungan dengan Mokrasu dan mencari di semua tempat yang mungkin didatanginya. Giroo memikirkan seseorang yang mungkin menyembunyikan Mokrasu.

Suara hati Giroo: Mungkinkah …. ?

Menduga-duga di mana mereka mungkin bersembunyi, Giroo memimpin prajurit untuk mencari di kediaman Sunhwa. Sunhwa sangat marah kepada Giroo namun ia tak dapat berbuat apa-apa.

Sementara itu, Heukjipung menangkap dan menyiksa para pengikut Mokrasu di Akademi untuk menyingkapkan keberadaan Mokrasu maupun Jang. Tapi mereka tak mendapatkan apapun karena pengikut Mokrasu, walaupun ingin membuka rahasia, tapi mereka sendiri tak tahu di mana Mokrasu maupun Jang.

KEMUDIAN

Sunhwa menemui Wooyung.

Wooyung: Apa yang membawamu kemari?

Sunhwa: Aku tahu kalau kau merasa waswas sejak terjadinya tragedi beruntun di keluarga kerajaan.

Wooyung: (menduga ada sesuatu) Kenapa? Apa ada yang tidak beres?

Sunhwa: Bukan seperti itu. Apakah kau tahu seseorang pria bernama Sataek Giroo?

Wooyung: Guru Giroo, kenapa?

Sunhwa: Dia menyerbu masuk dan menggeledah kediamanku dengan para prajurit.

Wooyung: (sedikit terkejut) Benarkah dia melakukannya?

Sunhwa: Aku tidak tahu alasannya, tapi apakah kau tidak mempercayaiku?

Wooyung: Tidak ada yang seperti itu!

Sunhwa: Apakah kau pikir aku tidak dapat membaca situasi dan kepanikan saat ini?

Wooyung: Aku katakan padamu bukan seperti itu! Mungkin dia sedang mencari Guru Mokrasu.

Sunhwa: Guru Mokrasu? Aku bertemu dengannya beberapa kali saat mengirimkan barang ke Taehaksa, tapi dia tak ada kaitannya denganku. Jika tokoku di inspeksi oleh militer akan membawa pengaruh buruk yang sangat besar bagiku.

Wooyung: ….

Sunhwa: Aku ada surat resmi dari China dan aku tak dapat menahan diri lagi.

Wooyung: Itu tak direncanakan dan aku minta maaf.

Sunhwa: Kau menjadi penyokongku, jadi tolong bantu aku sedikit lagi. Aku tak akan membuatmu merasa menyesal, terutama karena dirimu, Puteri.

Wooyung: Karena aku?

Sunhwa: Ya. Tidakkah ini waktunya bagimu untuk membangun kekuatanmu sendiri dengan mengumpulkan orang-orang kepercayaanmu?

Wooyung: … (mulai tertarik)

Sunhwa: Jika kau membutuhkanku, Tolong beritahu saja aku.

Wooyung: Apa alasanmu?

Sunhwa: Setelah penyerahan tahta diputuskan, aku mengirimkan banyak hadiah sebagai ucapan selamat kepada Tuan Jenderal. Tapi aku merasa tindakan ini tidak begitu bagus. Bukankah Perdana Menteri yang menjadi Raja?

Wooyung: …. (mulai tergugah)

Sunhwa: Dan juga aku memiliki kekhawatiran sebagai seorang pedagang.

Wooyung: Apa itu?

Sunhwa: Pedagang Abigi membantu Jenderal dengan cara tidak sehat. Aku pikir dia sedang mengincar jalur perdaganganku.

Wooyung: ….

Sunhwa: Dan dia juga dekat dengan Guru Giroo.

Woyuung: … (merasa sedikit geram)

KEMUDIAN

Giroo menemui ayahnya dan meminta bantuan supaya mengawasi Jin Gakyung (Puteri Sunhwa) karena kemungkinan besar ia tahu dimana Mokrasu dan Jang, yang diduga Giroo membawa Segel Kerajaan. Saheum mengatakan kalu ia akan menempatkan orang untuk mengawasi tindak tanduk Sunhwa. Pada saat yang bersamaan Wooyung datang dan melihat Giroo bercakap-cakap dengan Abigi (Kim SAheum).

Wooyung menghadang jalan Giroo ketika ia mau keluar dari sana.

Wooyung: Kudengar kau menggeledah rumah Jin Gakyung, apakah ini benar?

Giroo:(ragu-ragu) … Ya.

Wooyung: Dengan alasan apa?

Giroo: Aku sedang mencari Guru Mokrasu.

Wooyung: Kenapa dia? Apakah kau tidak tahu kalau aku sangat menyukainya?

Giroo: Aku minta maaf!

Wooyung: Beri aku alasannya! Apakah kau punya bukti?

Giroo: Pedagang Abigi memberitahuku kalau Guru Mok sering datang dan pergi ke kediaman Jin.

Wooyung: Tidakkah dia sedang menggunakan situasi seperti ini untuk mengambil satu keuntungan dengan menjebak para pedagang lain?

Giroo: Ah … bukan seperti itu ….

Wooyung: Jangan pernah melakukan hal seperti ini tanpa seijinku!

Giroo: …

Wooyung: Apa kau mengerti!

Giroo: (terpaksa) .. Ya.

KEMUDIAN

Para pengikut Mokrasu dimasukkan ke penjara setelah disiksa seharian.

Mojin: (Cemas) Eunjin, apakah kau baik-baik saja? Baik-baikah dirimu?

Eunjin: (menangis) Bagaimana denganmu ibu?

Mojin: Aku tidak apa-apa.

Bumro: Ayah! Ayah! Apakah kau baik-baik saja?

Maekdosu: Apakah aku terlihat dalam kondisi baik di matamu? Tubuhku bagian bawah sakit semua ….

Mojin: (kepada semua) Kerja bagus dari kalian semua. Kalian menanggunnya dengan baik.

Maekdosu: Aku akan memberitahu mereka jika aku tahu. (pada Gomo) Ilmuwan Gomo apakah kau tahu? (menangis, menahan sakit) Bagaimana jika mereka menyiksa kita lagi?(mencium-cium bau)  Oh … bau tahi !

DI LUAR PENJARA

Giroo menemui Heuk.

Giroo: Tak ada seorangpun yang bicara?

Heuk: Mereka tidak mengakui apapun. Dari pengalamanku, mereka memang benar-benar tidak tahu apa-apa.

Suara hati Giroo: Kemana perginya mereka? Di mana Guru Mokrasu dan Jang bersembunyi?

KEMUDIAN

Daejang membawa Mokrasu dan Jang ke suatu tempat rahasia, di mana dia ternyata telah merekrut sekelompok petarung tangguh dan membentuk pasukan pribadi yang siap digunakan kapan saja.

Mokrasu: Bagaimana kau bisa melakukannya?

Daejang: Seperti yang kukatakan padamu sebelumnya, aku telah dinyatakan sebagai seorang pengkhianat tanpa bukti. Aku kehilangan orangtuaku dan keluargaku hancur. Jadi aku memimpikan pengkhianatan yang sebenarnya. Itulah kenapa aku mengumpulkan mereka semua.

Mokrasu: Bagaimana caramu mengumpulkan mereka?

Daejang: Mereka dulunya adalah orang-orangnya ayahku, jadi aku memanggil mereka kembali. Dan aku berhasil merekrut beberapa lagi dengan alasan demi keamanan perdagangan.

Mokrasu: Seberapa banyak jumlah mereka?

Daejang: Sekitar 500 orang.

KEMUDIAN

Jang, Daejang, dan Mokrasu masuk ke ruangan di mana Wangoo sedang menunggu.

Wangoo: Rumah perdagangan mengontak kita kalau mereka telah digeledah oleh prajurit.

Jang: Dari Tentara Militer?

Wangoo: Mereka tiba-tiba datang menyerbu.

Daejang: Mereka mencari Segel Kerajaan. Mereka mungkin sekarang sudah menjadi putus asa.

Mokrasu: Seharusnya begitu!

Daejang: Apakah pedagang Jin baik-baik saja?

Wangoo: Ya, ia menemui Guru Wooyung untuk meminta bantuan. Pesan dari Jin kalau kita haru lebih waspada.

Mokrasu: Kita seharusnya pindah ke Gunung untuk sementara waktu.

Daejang: Ya. Itu memang lebih baik.

Jang: Ya. Sampai pikiranku menjadi jernih

KEMUDIAN

Para pejabat dan bangsawan berkumpul untuk membicarakan penyerahan pasukan pada Sun, ada yang berpendapat kalau itu adalah taktik Sun untuk melemahkan posisi mereka dengan alasan berjaga-jaga terhadap serangan Pangeran Ke-4.  Mereka bersepakat untuk menolak permintaan Sun. Mereka takut jika mereka melakukannya maka justru kekuatan dan kekuasaan keluarga Hae lah yang menjadi semakin besar sementara kekuatan mereka semakin lemah.

Sun, sangat murka, memikirkan dengan paksa mengambil kekayaan dan kekuatan pasukan para bangsawan menggunakan kekerasan dengan mengutus pasukannya, tapi Giroo dan Wooyung menolak dan menentangnya, menyatakan kalau satu-satunya alasan mereka mendapatkan posisi seperti sekarang ini semua karena adanya dukungan dari para bangsawan.

Sun kemudian menemui para bangsawan dan mengancam mereka serta menyatakan jika mereka tak mengakui ayahnya sebagai Raja dan tidak menyerahkan sejumlah prajurit yang telah ditentukan maka mereka dianggap bersekutu dengan Pangeran Ke-4 dan berniat untuk memberontak.

Para bangsawan, melakukan perlawanan, memiliki rencana untuk menggunakan taktik yang sama yang telah Sun gunakan melawan pangeran Aja.

Pimpinan bangsawan mendekati Wooyung dan (calon) Ratu, menyatakan kalau mereka bersedia untuk mengakui ayah Wooyung, Buyeo-Gye, sebagai raja jika Wooyung dan ibunya  setuju untuk mengusir Sun dari Istana selama 5 tahun dan menyuruhnya pergi ke Jepang (itulah mengapa Pangeran pertama, Aja Taeja, sedang ‘pergi’ pada permulaan drama ini)

Sekarang Wooyung dan ibunya, Ratu, mendapatkan dua pilihan yang sulit, meskipun mereka berdua tidak menyukai kalau Sun mendapatkan terlalu banyak kekuasaan, mereka juga mengerti bahwa satu-satunya alasan para bangsawan menghormati keluarga mereka sampai saat ini karena mereka segan dengan Sun.

Sun mendengar permintaan para bangsawan itu dan menjadi sangat murka karena para bangsawan  menggunakan taktik yang sama yang telah ia gunakan untuk mengurangi kekuatan Raja dan Aja Taeja.

KEMUDIAN

Jang mengawasi para prajurit yang direkrut oleh Daejang berlatih sambil berpikir ….

Sunhwa menemui Mokrasu, Daejang, dan Wangoo.

Daejang: Apakah mereka mengawasimu?

Sunhwa: Aku selalu waspada dan berhati-hati.

Mokrasu: Bagaimana keadaan Istana?

Sunhwa: Karena penyerahan tahta belum dilakukan, kupikir para bangsawan dan Wiesa Japung sedang adu kekuatan sekarang.

Daejang: Bagaimana dengan rakyat?

Sunhwa: Mereka cenderung untuk tidak membicarakannya secara terang-terangan, tapi secara diam-diam semuanya telah menyebar luas. (memandangi mereka) Apakah kalian sudah memutuskan untuk melakukan suatu tindakan?

Mokrasu: Mugang Taeja belum memutuskan apapun.

Sunhwa: …. (mendesah khawatir)

Wangoo: Tapi untuk saat ini hanya ada satu-satunya pilihan.  (Mokrasu menoleh padanya) Untungnya para pedagang diperbolehkan memiliki pasukan pribadi. Tidakkah kita perlu membangun pasukan di sini?

Jang: (tiba-tiba masuk) Tidak bisa seperti itu! (Semua berdiri menyambutnya)

Mokrasu: Tidak bisa? (Jang duduk, semua mengikuti duduk)

Jang: Sangat beresiko jika kita menggunakan pasukan itu.

Daejang: Kita masih dapat menambah jumlah pasukan kita.

Jang: Kalau kita menambah jumlah mereka, suatu saat pejabat daerah akan memergoki kita. Dan bahkan jika kita bisa menyembunyikannya tapi akan  sangat sulit bagi kita membangun pasukan di daerah yang sempit ini. Yang kumaksudkan adalah, kita ada batas berapa banyak jumlah orang yang dapat kita kumpulkan. Dan yang lebih penting adalah, aku masih belum siap.

Mokrasu: Jadi apa rencanamu untuk saat ini?

Jang: Pertama-tama, aku akan menyiapkan diriku sendiri, dan tindakan kita dalam merekrut prajurit harus menjadi resmi!

Daejang: Tidak ada cara untuk melakukan itu sekarang ini.

Jang: Ada satu cara!

Semua orang menduga-duga apa sebenarnya rencana Jang, tapi tak dapat menebaknya.

KEMUDIAN

Seseorang bergerak secara diam-diam di kediaman Wooyung.

Wooyung sedang di kamarnya, berpikir …

Suara hati Wooyung: Apa yang harus aku lakukan …..

Wooyung mendengar gerakan di belakangnya, ia bangkit berdiri. Jang menampilkan dirinya di hadapan Wooyung yang menjadi terkejut.

Wooyung: Kau … ? Bagaimana kau …. ?

Jang: Bagaimana keadaanmu?

Wooyung: (sedikit takut) Kau sungguh tidak kenal takut! Kau pikir kau sedang menyusup ke tempat siapa?

Jang: Aku ada beberapa hal yang perlu dibicarakan!

Wooyung: Hal yang dibicarakan?

Jang: Ya.

Wooyung: …  (sedikit terkejut dengan keberanian Jang)

Jang: Aku akan menerima tawaranmu sebelumnya.

Wooyung: Tawaran … ?

Jang: Ya.

Wooyung: (tertawa kecil) Apa yang telah kutawarkan padamu?

Jang: Jika kau dipercaya untuk duduk di posisi  Sekretaris Kerajaaan yang menagani perintah Kerajaan, kau akan mengangkatku sebagai Eunsol di bawah pimpinanmu.

Wooyung: (jual mahal) Apa? Apakah aku memberimu tawaran sebesar itu?

Jang: Ya, dan kau akan memberiku tanah, pelayan dan pasukan.

Wooyung: (tertawa lagi) Wow … itu benar-benar sesuatu perjanjian yang besar.

Jang: … (hanya tertawa kecil membalasnya)

Wooyung: Kau seharusnya menerima tawaran itu sebelumnya.

Jang: … (menanti kelanjutan kata-kata Wooyung)

Sunhwa: Aku sungguh tak beruntung, kau dan Guru Mokrasu mengkhianati aku sekali lagi dan kau meluputkan tawaran itu.

Jang: Bagiku, ini adalah waktunya yang tepat.

Wooyung: … (sedikit bingung)

Jang: Kau meminta balas dendamku terhadap Jenderal?Kau memberitahuku untuk menjalin persamaan keinginan  di antara kita? Aku tak dapat melakukan itu sebelumnya, tapi kini aku kehilangan Rajaku. Jadi sekarang ini adalah waktu yang tepat bagiku.

Wooyung: Itu adalah waktumu. Tapi sekarang bukan hanya kakakku yang tidak akan memafkanmu, aku juga tak akan mengampunimu.

Jang: (tersenyum) Benarkah demikian?

Wooyung: …. (semakin bingung dengan kepercayaan diri Jang)

Jang: Kalau begitu 2 benda yang kau sangat perlukan saat ini, tidak akan pernah kau dapatkan.

Jang tersenyum percaya diri, Wooyung sangat bingung dan mencoba menebak maksud perkataan dari Jang.

Tiba-tiba …

Suara Giroo: Guru, ini aku  Giroo. (Jang dan Wooyung sangat terkejut dan panik) Guru!

Wooyung segera menyuruh Jang bersembunyi dan dia bersiap menerima Giroo.

Wooyung: Masuklah! (Giroo masuk) Ada apa?

Giroo: Aku tahu kalau Tuan Sa (pimpinan dari Bangsawan) telah mengajukan penawaran terhadapmu dan ibumu kalau Jenderal harus dikirimkan ke Jepang. (Jang tertegun) Dan jenderal juga mengetahui hal ini. Kau dapat memenuhi permintaan mereka, tapi kau nantinya akan kehilangan sesuatu yang lebih besar. (Wooyung menatapnya dengan kesal) Pikirkanlah baik-baik! (Giroo pergi)

Wooyung merasa sangat kebingungan, Jang keluar dari tempat persembunyiannya.

Jang: Aku akan mengatakan hal yang sama yang baru saja dikatakan oleh Giroo … Pikirkanlah baik-baik!

Wooyung: (penuh ingin tahu) Aku masih belum selesai. Apa 2 benda yang sekarang paling aku butuhkan?

Jang: (tersenyum) Jika kau memikirkannya dengan teliti, kau akan mengetahuinya. (Jang pergi, tapi berbalik di depan pintu) Dan aku berterimakasih kepadamu karena telah menyembunyikan diriku dari Giroo. (tersenyum lalu berlalu dari kamar Wooyung)

Wooyung memikirkan terus kata-kata Jang, ia samar-samar menyadarinya dan memanggil Jang tapi Jang sudah pergi.

KEMUDIAN

Para anggota Taehaksa sudah dibebaskan dari penjara, Eunjin merawat Bumro dan Maekdosu yang berbaring di tempat tidur. Mereka mengingat kehidupan di Haneulchae dulu yang tampak seperti ‘surga’ daripada Taehaksa yang sekarang, setelah sembuh mereka ingin melarikan diri dari Taehaksa. Eunjin bertanya-tanya ke mana perginya Jang dan Guru Mokrasu, tiba-tiba Jang masuk.

Eunjin: Jang!

Bumro: Jang!(Bangun duduk)

Jang: (Kepada Bumro) Apakah kau baik-baik saja? (Kepada Maekdosu) Apakau kau tidak apa-apa, paman?

Maekdosu: (kesal) Apakah aku terlihat baik-baik saja di matamu?

Jang: Aku sangat menyesal. Kelihatannya kalian melalui banyak kesulitan karena aku. Aku khawatir dengan keadaan kalian.

Eunjin: Yeah. Kami baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Bagaimana dengan Guru Mok?

Jang; Ah … kami baik-baik saja.

Bumro: (bersedih) Kau tahu mengenai kabar dari Raja? Kau tahu kabarnya khan?

Jang: Ya!

Maekdous: Kalau begitu, apakah aku harus berkemas sekarang? Ah, tidak usah. Kami bisa pergi denganmu sekarang, khan?

Jang: Itu tidak mungkin. Kita akan bertemu tak lama lagi. Bertahanlah sampai saat itu tiba.

Maekdosu: Apa kau tidak datang untuk membawa kami pergi?

Jang: Tidak, bertahanlah sedikit lebih lama lagi.

Eunjin: Benarkah?

Bumro: Sungguh?

Maekdosu: Kalau begitu bagaimana dengan Nyonya Mojin dan aku? Hah! Jang!

Jang: Tidak, aku minta maaf, paman!

Eunjin: Baiklah! Kami mengerti, kau akan mendapatkan masalah jika tetap disini, pergilah!

Bumro: Benar! Beritahu Guru Mok untuk berhati-hati.

Jang: Ya, Gumawo! (Jang pergi)

Eunjin: (sedikit berseru) Berhati-hatilah!

Maekdosu: Aigoooo …. (rubuh lagi ke tempat tidurnya)

Bumro: Aigooooooo … aku sekarat …. Aigooooo (rubuh juga, Eunjin menatap mereka dengan kesal) oh … Ayah …. !

Maekdosu: Jangan sentuh bantalku!

KEMUDIAN

Jang dan Soochong pergi dari Istana, sekali loncat langsung keluar istana … (kayak film kungfu deh ….😛 )

Wooyung mondar-mandir di kamarnya, berpikir mengenai kata-kata Jang…

Wooyung: (duduk, berbicara sendiri) 2 benda yang paling aku butuhkan? (Wooyung masih bingung)

KEMUDIAN

Jang, Sunhwa, Wangoo, Mokrasu, dan Daejang berdiskusi mengenai rencana Jang.

Wangoo: itu mustahil! Kau akan masuk ke Istana lagi?

Jang: Ya, aku harus pergi!

Wangoo: Kau tida bisa masuk, bahkan jika kau berhasil maka itu adalah jalan kematian bagimu.

Jang: Saat ini aku masih belum mempunyai cukup kekuatan.

Daejang: Karena itulah kami melatih prajurit sekarang.

Jang: Kekuatan militer hanya salah satu bagian dari kekuatan  yang perlu aku capai. Bahkan jika aku memiliki jumlah prajurit daripada mereka aku tidak akan menggunakannya. Istana adalah tempat yang tempat untuk menggunakannya! Istanalah tempat dimana kita dapat meningkatkan kekuatan militer! Istana adalah tempat di mana kita dapat belajar dan mengendalikan kekuatan kita. (Sunhwa dan Mokrasu baru mengerti maksud rencana Jang)

Wangoo: (masih tidak dapat menangkap maksud Jang) Yang Mulia hanya mengkhawatirkan keselamatan dari Pangeran. Tapi kau akan kembali ke sana?!? Aku tak dapat menerima maksudmu!

Daejang: (mengingatkan Jang) Ini tidaklah sama seperti saat kita menyalakan sinyal api di peperangan dulu.

Jang: (tegas) Aku tahu! Tapi aku tetap harus kembali!

KEMUDIAN

Sunhwa menemani Jang yang sedang duduk sendirian di halaman.

Jang: Aku ingin mengikuti kemauan dari Raja dan Pangeran Aja. Tapi, aku hanyalah seorang yang biasa-biasa saja sekarang ini. Kalau seperti ini aku tidak akan bisa menjadi seorang Raja. Rakyat tidak akan menginginkan seorang rakyat jelata seperti mereka menjadi Raja. Mereka tidak menginginkan seorang Raja yang bajik, atau raja yang dapat memimpin suatu negara. Mereka hanya menginginkan Raja yang dapat memberikan kenyamanan pada hati mereka.

Sunhwa: …. (memahami hati Jang)

Jang: Aku harus membuat diriku seperti itu.

Sunhwa: (mendukung dengan hatinya) Ya, kau harus melakukannya! Pergilah ke Istana dan pelajari caranya! … Tapi, bagaimana kau akan melakukannya? Apa rencanamu?

Jang: Aku memiliki apa yang mereka butuhkan.

Sunhwa: (menyadari maksud Jang) Apakah Segel Kerajaan? (Jang mengangguk, Sunhwa merasa beban berat di hatinya)

Mokrasu menemui Jang di ruangan pertemuan.

Mokrasu: Tapi jika kau memberikannya …

Jang: Jika kita tidak memberikannya, apakah Perdana Menteri Gye tidak dapat menjadi Raja? Hal ini sangat penting jika aku nantinya menjadi Raja, karena tanpa Segel Kerajaan berarti aku ini bukan apa-apa.

Mokrasu: Ya, kau benar.

Jang: Jadi kau harus mengikuti maksudku dan bersama-sama denganku kembali ke Istana!

Mokrasu: Tentu saja!

Jang: Siapa yang ibuku ingin kau jaga? Aku akan memintanya padamu sekali lagi, tolong bantu aku untuk menjadi seseorang yang dapat mewujudkan impian Raja.

Mokrasu: Ya, Cheon Na!

SEMENTARA ITU

Wooyung, masih menebak-nebak dua benda yang dia butuhkan menurut Jang, yang satunya pasti  adalah Segel kerajaan, dan Guru Mokrasu pasti memilikinya, tapi yang satunya ia masih tidak bisa menduganya.

Saat ia memikirkan itu, Sun memanggilnya. Wooyung menemui Sun. Sun mengatakan kalau ia akan menyerang Tuan Sa. Jika satu orang dijadikan contoh maka yang lainnya pasti nanti akan mengikuti keinginannya. Sun mengatakan sebenarnya ia melakukan semua peristiwa sebelumnya adalah untuk menaikkan ayahnya menjadi Raja. Dan walaupun ia dan Wooyung bertarung dalam perebutan kepemimpinan dengan maksud untuk menjadi pemimpin selanjutnya setelah ayah mereka, tapi ia juga satu-satunya yang dapat melindungi Wooyung dan ibunya, jadi Sun menginginkan kerjasama dengan Wooyung dan ibunya.Juga berbahaya jika tiba-tiba para bangsawan mengubah jalan pikiran mereka dan mengangkat sosok Pangeran Ke-4 sebagai Raja. Jika itu yang terjadi maka habislah mereka sekeluarga.

Wooyung menyadari sesuatu setelah mendengar kata-kata Sun.

Suara hati Wooyung: Benar, pasti Pangeran ke-4! Kedua benda itu adalah yang satu Segel Kerajaan dan yang lainnya adalah Pangeran Ke-4! Yang satu dapat meredam tuntutan dari para bangsawan, yang lain dapat menekan kakak!

KEMUDIAN

Mojin menemui Gomo.

Mojin: Jang datang kemari tadi malam!

Gomo: Benarkah? Bagaimana dengan Guru Mok?

Mojin: Kelihatannya ia juga dalam kondisi aman. Kita akan bertemu satu sama lain, jadi ia ingin supaya kita mennggu mereka. (tiba-tiba Wooyung datang)

Wooyung: Apakah kalian tahu Jang ada di mana?

Gomo: Kami tidak tahu.

Mojin: Kami sudah pergi ke Kantor Militer. Kami benar-benar tidak mengetahui keberadaan mereka.

Wooyung: Aku tidak mencoba untuk melakuan sesuatu yang buruk terhadapnya atau kalian. (Gomo dan Mojin hanya terdiam) Apakah kalian benar-benar tidak tahu?

Mojin: Benar, kami memang tidak tahu di mana mereka. (Wooyung pergi dengan tergesa-gesa, Mojin menghela napas lega)

KEMUDIAN

Wooyung juga menanyai Eunjin, Bumro, dan Maekdosu yang sedang makan siang. Eunjin mengatakan kalau tidak tahu dan meminta belas kasihannya karena mereka sudah disiksa sedemikian rupa.

Maekdosu berpura-pura kesakitan dan tidak sadarkan diri. Wooyung kemudian pergi. Mereka bertiga segera melanjutkan makan.

Wooyung kembali ke kamarnya.

Wooyung: Apakah ia akan mendatangiku lagi?

Seorang dayang mendatanginya dan mengatakan kalau Jin Gakyung ingin bertemu denganya.

Wooyung: Begitukah? Baiklah, bawa ia masuk.

Sunhwa masuk ke dalam.

Wooyung: Duduklah! (Mereka berdua duduk berhadapan) Ada apa?

Sunhwa: Aku ada masalah penting yang harus didiskusikan.

Wooyung: Apa itu?

Sunhwa: Seorang pria bernama Jang menemui pedagang bawahanku dan aku sekarang menyembunyikannya.

Wooyung: (kaget) Jang menemui seorang pedagang bawahanmu?

Sunhwa: Ya. Pedagang itu memiliki ikatan dengan Jang saat peperangan yang lalu. (Wooyung mengangguk-angguk) Aku berpura-pura menyembunyikannya jadi aku datang kemari untuk memberitahumu. Apa yang harus aku lakukan padanya? (Wooyung bingung) Apa kau akan melapornkannya pada militer?

Wooyung: Tidak, aku akan pergi menemuinya. Bawa aku padanya!

Sunhwa: (bangkit berdiri) Ya!

Wooyung dan Sunhwa keluar, Soochong menunggu di tempat tersembunyi, Sunhwa memberi tanda padanya, Soochong mengerti dan segera pergi untuk melaksanakan rencana selanjutnya.

KEMUDIAN

Sunhwa memimpin Wooyung menuju ke tempat ia menyembunyikan Jang dan lansgsung masuk ke kamar di mana Jang sedang membaca buku. Jang ‘kaget’ (dibaca: pura-pura kaget)  melihat Sunhwa membawa Wooyung.

Jang: (dengan nada marah merasa ‘dikhianati’, bangkit berdiri) Bagaimana ! Bagaimana kau bisa …!

Sunhwa: (memainkan sandiwara) Maafkan aku, aku adalah seorang pedagang, dan aku tidak akan membiarkan sesuatu mengancam keberlangsungan tokoku.

Jang terdiam …. menatap Wooyung dengan pandangan tajam.

Wooyung: Jangan menatapku seperti itu, kita akan sering bertemu nantinya.

Jang: ….

Wooyung: (pada Sunhwa) Kau bisa pergi sekarang!

Sunhwa: Baik! (Sunhwa keluar ruangan, ia menunggu di depan dan menguping)

Jang dan Wooyung saling berpandangan satu sama lain. Setelah beberapa saat …

Wooyung: Mari kita langsung ke intinya. Apakah kau akan memberikan padaku semuanya?

Jang: Ya.

Wooyung: Satu adalah Segel Kerajaan!

Jang: Benar!

Wooyung: Yang lain adalah Pangeran Ke-4!

Jang: Itu juga benar!

Wooyung: Kau bisa memberiku Segel Kerajaan, tapi bagaimana dengan Pangeran ke-4?

Jang mengambil sebuah kotak dibungkus kain dari bawah kursi dan meletakkannya ke atas meja dan membuka ikatan kainnya. Wooyung membuka kotak itu dan terkejut, isinya adalah kepala manusia, Wooyung sangat terkejut.

Jang: Dia sudan meninggal. Jadi kami tidak ada orang sebagai tempat bergantung sekarang. Dan ini membawa kami kepada tawaranmu.

Wooyung: … (bingung, antara percaya dan tidak)

Jang: Gunakanlah rasa dendamku.

Wooyung: (berseru) Kau pembohong! (Jang menatapnya) Apakah kau mencoba untuk membodohi diriku dengan itu? Siapa yang kau bawa ini dan membuatku bingung?

Jang: ….

Wooyung: Aku akan mengirim prajurit untuk menangkap dan mengeksekusimu!

Jang: Apakah kau akan percaya jika aku juga memberimu kalung Pangeran ke-4?  (Wooyung kaget) Aku memiliki kalung Pangeran dengan angka 4 tertulis di belakangnya.

Sunhwa yang mendengarkan di luar ruangan sangat terkejut, dan berkata pada dirinya, “Bahkan kalungnya juga?”

Jang: Aku bukanlah masalahnya! Karena aku dapat memberikanmu ke 2 benda yang sangat kau butuhkan!

Wooyung: (tersenyum) Apakah kau ingin aku menjamin nyawamu?

Jang: Tentu saja! (Wooyung terkejut dengan keterusterangan Jang) Mungkin saja kau tidak mengatakan kebohongan seperti yang telah sering dilakukan oleh Jenderal.

Wooyung: … (sedikit ragu-ragu)

Jang: Jika kau ada cara untuk menjamin nyawaku, aku akan menyerahkan semua ini kepadamu.

Wooyung: …

Jang: Jika tidak, semua benda ini tak berarti sedikitpun bagiku, jadi aku akan membuangnya ke laut.

Wooyung bingung, Jang tersenyum. Mereka berdua kemudian keluar dari ruangan.

Wooyung: (berkata pada Jang sambil mengarahkan pandangannya pada Sunhwa) Aku mempercayainya. ( Jang dan Sunhwa saling memberi hormat) Aku akan menghubungimu lagi di lain waktu melalui Jin.

Jang: Aku mengerti.

Wooyung: (pada Sunhwa) Ayo pergi!

Wooyung segera meninggalkan Jang diikuti oleh Sunhwa, Jang mengawasi mereka pergi.

DALAM PERJALANAN KE ISTANA

Saat Wooyung berjalan kembali ke Istana ditemani oleh Sunhwa, Wooyung bertanya tentang pendapat Sunhwa mengenai masalahnya. Sunhwa ragu-ragu tapi kemudian Wooyung menenangkannya karena ia  menginginkan pandangannya sebagai seorang pedagang, mengenai untung dan ruginya kalau ia menerima tawaran Jang.

Sunhwa mengatakan kalau ia menerimanya maka banyak keuntungan yang akan ia dapat, dengan Segel kerajaan ia dapat membungkam tuntutan para bangsawan dan penyerahan tahta dapat dilakukan. Itu keuntungan pertama. Dengan kalung itu maka Wooyung membuktikan kalau ia memegang Pangeran ke-4 yang menjadi bahaya konstan bagi Sun. Ini adalah keuntungan kedua. Dan juga dengan itu ia dapat meredakan keributan di antara rakyat.  Pada intinya dengan tidak mengindahkan keadaan Jenderal, Wooyung sebenarnya tidak mengalami kerugian sedikitpun. Apalagi ia juga akan mendapatkan keuntungan ketiga, mendapatkan orang-orang pandai seperti Guru Mokrasu dan Jang dengan gratis.

Wooyung menjawabnya dengan tersenyum dan mengatakan kalau memang itulah yang menjadi hal yang menarik baginya untuk mendapatkan dukungan dari Jang dan Mokrasu. Sunhwa memandangnya dengan wajah kebingungan.

KEMUDIAN

Wangoo: Apa yang sedang kau bicarakan? Tidak masuk akal, kau akan memberikan kalung pangeran kepada mereka.

Daejang: Walaupun kami mengetahui identitasmu yang sebenarnya sebagai seorang Pangeran, tapi itu adalah benda satu-satunya yang membuktikan dirimu adalah benar-benar seorang Pangeran dari Baekjae!

Jang: Buat apa aku membutuhkannya?

Wangoo: Buat apa kau membutuhkannya? Sudah tidak aman ketika kita memberikan Segel, sekarang kau ingin memberikan juga kalung itu, aku tidak menyetujuinya!

Jang: Tidak! Jika aku tidak bisa menjadi Raja tanpa itu, aku tidak boleh menjadi Raja! Jika aku tidak memiliki kemampuan dan kekuatan yang diperlukan untuk menjadi seorang Raja, semuanya itu tetap tidak ada artinya bagiku walaupun kumiliki. Jika mandat dari Langit memang memilihku, ketika aku mendapatkan kemampuan dan kekuatan dengan usahaku sendiri, kalung itu akan kembali kepadaku!

Mokrasu, Daejang, dan Wangoo tidak dapat mengatakan apapun juga karena perkataan dari Jang memang sangat tepat. Walaupun hati mereka khawatir dan tidak dapet menyetujui sepenuhnya, tapi mereka juga mengagumi keteguhan hati dan prinsip Jang.

KEMUDIAN

Jang merenung di luar ….

KEMUDIAN

Wangoo. Mokrasu, dan Daejang melanjutkan diskusi mereka tanpa Jang.

Wangoo: Masuk ke dalam Istana akan sangat berbahaya. Raja memintaku untuk menjaganya setiap waktu, tapi kalau di Istana aku tidak dapat melakukannya.

Mokrasu: Di manapun bahaya tetap ada.

Wangoo: Ini mengenai keselamatannya. Itulah yang terpenting! (Sunhwa masuk)

Daejang: Kau sudah mendengarnya?

Sunhwa: Ya. Aku tahu.

Daejang: Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?

Sunhwa: Aku sangat terkejut, tapi aku memiliki perasaan yang sama dengannya. (Mokrasu mengangguk setuju)

Daejang: Tapi untuk menyerahkan satu-satunya bukti yang ia miliki … dia pergi masuk ke Istana!

Wangoo: Dan keselamatan dirinya ….

Sunhwa: Apakah kau juga berpikiran yang sama dengan mereka, Guru?

Mokrasu: Jika harus memilih, antara bahaya dan apa yang dikehendakinya,  ketika keduanya bertemu, ia selalu memilih yang terakhir.

Daejang: Tapi ini sesuatu mengenai ia akan menjadi raja nantinya! Untuk menjadi seorang raja ….

Mokrasu: (menyela) Dia tidak berpikir mengenai menjadi Raja.

Wangoo: Lalu apa itu?

Sunhwa: Itu disebutkan dalam ramalan pedupaan, dia akan membangkitkan kejayaan Baekjae kembali setelah ia menjadi seorang Raja!

Mokrasu: Itu benar. Jika tujuannya hanya menjadi seorang Raja, dia mungkin sudah membangun pasukannya di tempat ini.

Sunhwa: Tapi setelah ia menjadi seorang Raja, ia menginginkan dirinya sendiri untuk membangkitkan Baekjae kembali.

Mokrasu: Jika ini tidak dilakukan sendiri olehnya, ia tidak akan menjadi soerang Raja. (Daejang dan Wangoo mulai sedikit mengerti jalan pikiran dari Jang)

Sunhwa: Itulah mengapa ia melepaskan Segel dan kalung.

KEMUDIAN

Sunhwa dan Jang duduk bersama di luar.

Jang: Haruskah kita lari sekarang?

Sunhwa: … (tersenyum)

Jang: Kurasa kalau ini adalah kesempatan yang terakhir.

Sunhwa: Aku tidak berpikir begitu. Setiap waktu mungkin adalah kesempatan untuk itu. Kau akan menginginkan untuk lari dan  pergi setiap ada kesempatan. Hidupku di Istana seperti itu.

(Jang menatapnya) Ini bukan karena bahayanya. Tidak mudah untuk bangkit dan percaya pada dirimu sendiri. (Pada Jang) Percayalah pada dirimu sendiri. Jika kau ingin lari, aku akan selalu lari denganmu. Jika kau membutuhkan gurauan konyolku, aku akan selalu melakukannya untukmu. (Jang memandangnya dengan penuh cinta) Semua di sekitarmu terlihat tidak ada yang pasti, tapi aku, di tempat yang sama, bahkan jika aku harus kehilangan jati diriku sendiri, bahkan jika kau memang harus menggunakan diriku, aku akan selalu ada  untukmu.

Jang dapat merasakan cinta kasih yang terpancar dari kata-kata Sunhwa dan dari pandangan matanya, ia merasakan hatinya hangat dan cinta kasih Suhnwa membasuh kesendirian dan keragu-raguannya selama ini. Apakah ia benar-benar bisa menjadi seorang Raja? Apakah ia layak? Apakah ia bisa memenuhi impian dari Raja dan kakaknya? Walaupun kelihatannya ia tegar di luar, namun ia merasakan rapuh di dalam dirinya dan sewaktu-waktu dapat hancur oleh tekanan dari luar. Begitu banyak kejadian yang bertubi-tubi menimpanya beberapa waktu ini membuat ia seperti telah direntangkan sampai batasnya. Tapi dengan Sunhwa di sampingnya, ia mampu menghadapi semuanya itu. Dengan Sunhwa di sisinya ia merasa seluruh dunia adalah miliknya.

Jang meraih Sunhwa dalam pelukannya.

Saat inilah titik balik dari kehidupan Jang. Melalui pernyataan dari Sunhwa, Jang dapat menghadapi segalanya. Semua halangan dihadapinya dengan kepala dingin dan hati teguh.

KEMUDIAN

Tuan Sa menemui Wooyung lagi dan mendesaknya untuk mengambil keputusan. Sa mengatakan kalau mungkin Jenderal berpikir bisa menyerangnya, tapi itu juga tidak akan dengan mudah. Wooyung tidak memberikan jawabannya.

Sun memutuskan untuk menyerang Tuan Sa secepatnya bersamaan dengan diadakannya penyerahan tahta. Sun memerintahkan Heuk untuk mempersiapkan prajurit untuk  penyerangan kepada Tuan Sa dan memberi tugas pada  Giroo memimpin Taehaksa mempersiapkan upacara penyerahan tahta.

Wooyung dan ibunya menemui Gye dan mengatakan rencana mereka (yang sebenarnya rencana Jang). Pertama Gye ragu-ragu, tapi Wooyung mengatakan kalau itu demi kebaikan Sun daripada ia dikirim ke Jepang atau mereka menghadapi perang saudara. Ibu Wooyung juga membujuk suaminya, mengatakan bahwa tahta sudah kosong terlalu lama sejak Raja Weeduk mangkat dan negara dalam ambang kekacauan. Gye akhrinya menerima usul itu. Wooyung lega.

KEMUDIAN

Sunhwa menerima surat dan sebuah kotak yang dikirm oleh Wooyung melalui seorang dayang. Sunhwa kemudian menyerahkannya kepada Jang, yang ternyata kotak itu berisi Naskah pengangkatan Gye sebagai Raja.

Jang memberi stempel Naskah itu dengan menggunakan Segel Kerajaan.

KEMUDIAN

Gye memerintahkan diadakan pertemuan di Balairung Istana, semua pejabat tak terima karena Gye belum menjadi Raja, sehingga mereka menghadiri pertemuan itu dengan tujuan untuk memprotes tindakan Gye ini.

Ketika Gye datang, ia langsung menuju ke depan dan duduk di kursi Raja, para bangsawan terkejut karena dengan melakukan itu maka Gye menyatakan dirinya adalah Raja, padahal Segel dan naskah tidak ada. Maka para bangsawan menyatakan sekali lagi kalau rakyat Baekjae tidak akan mengakui seorang Raja yang tidak memiliki Segel Kerajaan atau naskah pernyataan dari Raja Weeduk yang menyatakan Gye sebagai raja selanjutnya. Gye menyatakan kalau ia memiliki Segel dan naskah pernyatan itu.

Gye: Naskah penyerahan tahta sudah datang dari Raja Weeduk. (Semua orang bingung dan terkejut)

Wooyung: (ke arah luar ruangan) Masuklah!

Jang dan Mokrasu masuk dengan membawa Segel Kerajaan dan Naskah Kerajaan. (Sun, Heuk, dan Giroo sangat kaget, lebih kaget daripada para pejabat)

Haedoju: Jenderal … ini … ini …

Jang dan Mokrasu menghampiri Gye dan berdiri di depannya.

Jang: Ini adalah Segel Kerajaan yang diminta oleh Raja untuk diserahkan pada Tuan Perdana Menteri.

Jang menyerahkan Segel kepada Gye, yang diletakkan di atas meja di hadapan Gye.

Mokrasu: Ini adalah Naskah penyerahan tahta! (Semua orang sangat kaget dan berbisik-bisik di antara mereka)

Mokrasu meletakkan naskah di samping Segel Kerajaan di atas meja di hadapan Gye.

Gye: Aku, Buyeo-Gye menerima perintah dari Raja dan akan mengadakan upacara kenaikan tahta. (Semua orang masih tak dapat menghilangkan keterkejutan mereka, terutama Sun, Giroo, dan Heuk) Dan inilah perintah pertamaku yang harus ditulis dan ditandai dengan Segel Kerajaan di atasnya. (Semua orang terpana) Guru Mokrasu dan Ilmuwan Jang yang telah menyelesaikan semua kebingungan mengenai Segel dan Naskah, akan menjadi pejabat pertama yang dianugerahi karena jasa mereka setelah aku naik tahta. ( Wes pokok’e semua orang dari terkejut menjadi sangat terkejut kemudian lebih terkejut lagi😛 ) Aku memerintahkan Guru Mokrasu untuk menjadi Kepala Akademi Taehaksa! (Mokrasu memberi hormat) Dan Jang akan menjadi Eunsol di bawah Sekretaris Kerajaan. (Jang memberi hormat)

Sun dengan kesal menatap Wooyung yang juga menatapnya dengan tersenyum simpul, kemudian Sun menatap pada Jang yang memberi hormat padanya dan juga tersenyum.

34 comments on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 36

  1. YA AMPUNNNNNNN…..setiap baca sinopsisx Song Of The Princes slalu deg-degkan n kepikiran terus pa lg ma Jang……susah amat ce jalan yg dilalui Jang….SMANGAT JANG…..SMANGAT……

    Mas Andi Q tunggu ya kelengkapan ceritax episode 36 n episode2 selanjutnya……Jangan bosen y mas Andi buat Sinopsisx Song Of The Princes….SMANGAT MAS ANDI…..Cz karya Mas Andi akan slalu ditunggu ma pecinta film Song Of The Princes……makacih bgt y…..SMANGAT……CAYO….CAYO……

    • yo masih sementara, kemaren aku ngantuk banget jadi sore2 dah tidur ga lanjutin buat sinopsis, hari ini kucoba dobel, makanya bangun rada pagi nih😛

  2. Cayo…Mas ANDI lanjutin episode 37nya ya……Q kan slalu menunggu……smangt mas Andi………I LIKE THIS….

  3. Semangat bung Andy….truskan perjuanganmu yooo…ditunggu, nyenengin orang dpt pahala lho mas andy…..

  4. Dtunggu lanjutanya…
    Jangan lama lama ya!!!
    Kalo lama bisa bisa puasa ga makan ga mandi, ngecek episode lanjutanny tiap jam😀

  5. ayoooooo, mas andy, manaaaaaa lanjutan episode ke 37 nyaaa, ??????? bikin geregetan aja si jang, makin lama makin penasaran, thanks ya mas andy, good luck

  6. wow.. Kak Andy m’mang mantap pool..mlh lbh asik baca sinop yg udh kak Andy buat dri pada nonton Filmny…mAnTAP kak SEMANGATTT,..

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s