Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 43

Sementara Sunhwa masih tersenyum pada Giroo, Raja Buyeo-Sun mengatakan pada Giroo mengenai usaha Pedagang Jin yang sangat luar biasa dalam menemukan delapan tambang baru. Lebih jauh, Pedagang Jin memberikan tambang-tambang itu pada Buyeo-Sun (beberapa persen keuntungan diberikan pada Sun).

Sun: (pada Sunhwa)  Mengapa kau ingin memberikan tambang-tambang itu kepadaku?

Sunhwa: Apa yang kau maksudkan, Yang Mulia? Semua hal yang ada di Baekjae adalah milikmu.

Setelah itu, dia menggunakan nada seperti orang yang dijadikan korban tanpa bukti, mengakui kalau dia merasa dikhianati diperlakukan dengan buruk oleh para pengawal kerajaan, dan mengulangi kalau dia telah memberikan penawaran itu pada Buyeo-Sun bahkan ketika usahanya tidak berjalan begitu baik.

Tergerak oleh tindakan Sunhwa, Sun mengatakan pada Sunhwa kalau dia tak pernah melihat apa-apa  yang tak disukai dari Sunhwa, dan meminta Sunhwa untuk memaafkan tindakan dari Giroo. Raja Sun kemudian memerintahkan pada Giroo untuk memberikan hak pengelolaan semua dari delapan tambang itu kepada Pedagang Jin.

Setelah memberikan pukulan keras secara politis kepada Giroo, Sunhwa melanjutkan untuk melunakkan hati Heuk dengan memuji-muji dirinay. Heuk mengakui kalau Giroo memang sangat cerdik, tapi Sunhwa mengatakan padanya kalau kesetiaan seseorang ditunjukkan bukan melalui akal licik tetapi dari hati. Sunhwa “menawarkan” Heuk informasi yang memperbandingkan praktek manajemen dan harga-harga dari usaha dagang Sunhwa dengan milik Abigi, sekutu Giroo (yang sebenarnya ayahnya).

Heuk memberikan perkamen ke Sun yang menunjukkan kalau dirinya memiliki otak, tapi itu juga untuk memberikan pukulan yang lain kepada Giroo. Sun setuju untuk melihatnya dan menemukan kalau sebenarnya banyak permasalahan yang terjadi tapi tidak diberitahukan kepadanya. Lebih lanjut, para bangsawan melaporkan kalau ada perampokan berturut-turut terhadap barang-barang kerajaan ketika diangkut ke Istana, yang juga dalam penanggungjawaban Giroo.  Buyeo-Sun kemudian menegur Giroo dengan keras dan memerintahkan untuk mengatasi masalah perampokan itu secepatnya.

Giroo kemudian mengetahui kalau perampokan ini terjadi di seluruh kerajaan dengan kecepatan yang sangat membahayakan, menduga kalau ini bukanlah suatu kebetulan tapi diatur dengan rapi. Kemudian, dengan beberapa bangsawan, Giroo mendapatkan sebuah laporan kalau para perampok itu mencuri barang-barang kerajaan dan membagi-bagi barang rampokan itu kepada para petani. Sebab itulah rakyat tidak melaporkan para perampok ini malah melindungi dan menyokong gerakan mereka. Usaha Giroo membentur tembok dan sia-sia dalam mengungkapkan siapa sebenarnya yang bertanggungjawab atas perampokan ini, para gubernur juga tidak menemukan petunjuk sama sekali.

Di propinsi di mana kamp pekerja berlokasi, ada pengumuman tertulis yang tersebar secara diam-diam, mengatakan kalau Raja Buyeo-Sun membunuh mantan Raja Weeduk dan Aja Taeja, kemudian merampas tahta. Giroo, menduga kalau Jang dan Mokrasu pasti ada kaitannya dengan pengumuman yang tertulis itu, pergi ke kamp pekerja. Giroo menyelidiki dengan diam-diam untuk melihat apakah Wooyung yang berada di balik semua peristiwa itu. Wooyung sangat murka dan menegur Giroo untuk mencoba memfitnahnya. Giroo mengatakan padanya kalau dia berhenti mellindungi Jang, maka Wooyung dapat dengan mudah kembali ke Istana.

Sementara itu, Jang menyaksikan teman-teman budaknya menyatakan kebanggaan mereka karena berhasil menyelundupkan potongan kecil yang tak berarti dari logam berharga. Jang kemudian mengatakan pada Mokrasu kalau kebahagiaan mereka itu muncul dari mengetahui bahwa sesuatu, walaupn sebenarnya tak begitu berarti, adalah milik mereka. Jang menduga-duga bagaimana dia bisa menjaga perasaan bangga dan merasa memiliki di dalam hati rakyat sementara memperjuangkan tujuan kerajaan.

Di kamar, Jang terkejut mendengar berita yang tersebar mengenai orang-orang yang mencuri dari kerajaan dan para bangsawan dan memberikan sebagian dari barang-barang rampasan mereka kepada orang0orang miskin … dalam nama Pangeran Mugang!

Sunhwa juga terkena dampak dari perampokan itu, salah satu kirimannya dirampok oleh salah satu kelompok, yang pimpinannya berhasil ditangkap oleh orang-orangnya Sunhwa, ia menyatakan kalau mereka bekerja di bahwa Pangeran Mugang. Dia kemudian memulai penyelidikan untuk menemukan siapa sebenarnya orang di balik perampokan itu.

Mokrasu menerima sepucuk surat rahasia yang berisi perkataan: “Aku adalah orang yang menyebarkan pengumuman tertulis yang menyatakan bagaimana Raja Weeduk dan Aja Taeja dibunuh. Aku akan ke tempatmu dalam 3 hari dengan tujuan untuk membawamu dan penasihat Jang pergi dari kamp itu.” Mokrasu kemudian mengatakan isi surat itu pada Jang, dan mereka bersepakat harus menemui orang itu dan melihat siapa sebenarnya dia.

Jang melarikan diri dari kamp pekerja dengan tujuan untuk menemukan orang yang menulis surat rahasia itu. Dengan bantuan dari Dooil, Jang sendirian, mengatus sebuah pertemuan dengan orang itu di tengah malam. Ketika dia menyebutkan namanya, Jang, kepada kelompok itu, mereka memberikan hormat mereka padanya dan mengantarnya kepada seorang pria yang mereka sebut “Taeja” (Pangeran)

Ketika bertemu dengan orang itu dan hanya berdua di ruangannya, Jang mengancamnya dengan sebuah pisau.

Jang: Siapa kau ini? Mengapa kau melakukan ini? Aku mengenal Mugang Taeja. Bagaimana kau bisa memalsukan dirinya? Beraninya kau melakukan itu dan menyebarkan pengumuman tertulis, merampok dari yang kaya dan memberikannya kepada yang miskin dalam namanya, mengacaukan hati rakyat seperti itu? Apakah kau pikir hidupmu akan selamat setelah melakukan semuanya itu?

Kemudian, Yurim menjelaskan siapa dirinya, bahwa dia adalah bawahan dari Raja Weeduk, dan dia juga menyaksikan bagaimana Raja Weeduk mati. Jadi dia pergi dari Istana setelah peristiwa itu. Selanjutnya, dia bertemu dengan anak salah satu dari orang-orang yang terbunuh di pasar waktu itu, dan melalui dia, Yurim menjadi bagian dari kelompok pemberontak ini. Mereka mulai merampok dari yang kaya dan memberikannya kepada yang miskin.

Yurim juga menjelaskan kalau orang-orangnya-lah yang menyebutnya sebagai ‘Taeja” (Pangeran Mahkota) karena meskipun mereka tahu kalau dia bukanlah Mugang Taeja, itulah sebenarnya harapan dan keinginan dari dalam hati mereka. Setelah kelompoknya memulai menyebarkan barang-barang rampokan kepada rakyat, mereka mulai menyebut kelompoknya sebagai Mugang Taeja, dan meneriakkan. “Semoga Mugang Taeja panjang umur!”

Yurim: Inilah bagaimana kami akhirnya dikenal sebagai Faksi dari Mugang Taeja. Rakyat tidak melupakan hari di mana beliau wafat, dan meskipun dalam peristiwa itu dinyatakan kalau Mugang Taeja yang melakukan pembantaian, rakyat tidak mempercayai itu. Dan ketika diumumkan kalau Mugang Taeja mati, rakyat juga menolak untuk mempercayainya.

Bahkan walaupun dia benar-benar sudah mati, rakyat tidak akan mempercayainya. Untuk rakyat yang telah menderita begitu banyak, Mugang Taeja, yang tak pernah mereka lihat …. menjadi simbol dari harapan mereka. Dan itulah satu-satunya alasan mengapa aku disebut dengan “Taeja” karena akulah satu-satunya orang di sini yang dapat membaca dan menulis, tapi semua orang tahu kalau aku bukanlah dirinya.

Yurim juga menjelaskan kalau banyak para bandit yang lain, setelah mendengar mengenai kelompok ini, melakukan hal yang sama, menggunakan nama Mugang taeja, dan ini sangat mencemaskan baginya.

Jang: Kenapa kau berencana membawa Guru Mokrasu dan diriku kemari?

Yurim: Entah bagaimana, kelompokku telah menjadi simbol harapan dari rakyat. Tetapi aku sendiri tidaklah cukup kuat untuk menjadi orang yang memikul harapan itu. Aku sangat takut, jadi aku putuskan untuk membawamu dan Guru Mokrasu ke tempat ini. Jadilah pemimpin kami. Kalian berdua melayani Raja Weeduk dan Aja Taeja begitu dekat, bahkan dalam pemikiran rakyat, kalian berdua mewakili Mugang Taeja. Kumohon, jadilah pimpinan kami. Dua hari dari sekarang, kami akan berada di pintu masuk dari kamp pekerja, menunggu kalian berdua.

KEMUDIAN

Jang kembali ke kamp dan menceritakan semuanya pada Mokrasu.

Mokrasu: Rakyat benar-benar meneriakkan, ” Semoga Mugang Taeja panjang umur?”

Jang: Aku tidak berpikir kalau dia berbohong tapi aku juga tidak begitu mempercayainya. Tapi mereka akan menunggu kita berdua, dua hari dari sekarang.

KEMUDIAN

Heuk mengatakan pada Sunhwa kalau menurut laporan dari Giroo, Jang dan Mokrasu kelihatannya di belakang perampokan dan pemberitahuan yang mengatasnamakan Mugang Taeja.. Namun, Sunhwa meyakinkannya kalau menangkap Jang dan Mokrasu hanya akan membuat Sun terlihat seperti seorang yang kejam, penguasa yang brutal sehingga rakyat bisa memberontak.

Dua hari kemudian

Jang, Mokrasu, dan Dooil berusaha meninggalkan kamp perkerja, tapi mereka dihadang oleh Giroo. Yurim, mengawasi dari kejauhan, tak dapat menolong mereka.

Yurim: (kepada orang-orangnya) Jika kita bergerak sekarang, mereka akan terbunuh. Apa yang dapat kita lakukan sekarang adalah mempercayai kekuatan dari rakyat.

Giroo membawa Jang dan Mokrasu sebagai tawanan yang akan dieksekusi, dengan tuduhan menyebarkan pengumuman yang menuduh Raja Sun yang mendalangi pembantaian. Tapi ketika prosesi menuju istana di mana pembantaian sebenarnya telah terjadi, lebih dan lebih lagi banyak lagi  rakyat mengikuti …. mengawasi mereka.

KEMUDIAN

Ketika Heukjipyung menemui Sun untuk menasehati raja agar tidak dengan mudahnya membunuh Jang dan Mokrasu, kemudian seorang bangsawan melapor kalau ada perkatan  yang telah beredar di antara rakyat yang mengatakan kepada mereka untuk melindungi Jang dan Mokrasu demi Mugang Taeja.

Di mana-mana, orang-orang saling berdebat apakah mereka seharusnya tinggal di rumah atau menjadi salah satu bagian dari gerakan ini, dan lebih dan lebih lagi orang-orang mau mempertaruhkan semuanya demi menjadi bagian dari gerakan ini, untuk mendukung M0krasu dan Jang …. gemetar ketakutan tapi juga sangat bersukacita dalam hati ….. membawa batu-batu di tangan mereka.

Mokrasu: (dengan air mata di matanya) Sungguh nyata kalau mereka semua sebenarnya takut. Tapi tetap saja, mereka datang bersama-sama ke tempat ini di mana pembantaian yang lalu telah terjadi. Jadi ini memang benar, apa yang orang itu katakan padamu, kalau rakyat benar-benar meneriakkah, “Semoga Mugang Taeja panjang umur!” Aku puas dengan melihat semuanya ini, bahkan jika aku harus mati sekarang. Hanya dengan menjadi bagian dari gerakan ini, aku sudah baik-baik saja dan puas.

Jang mengawasi sekelilingnya, matanya berkaca-kaca.

Jang: Tidak, Guru. Kupikir kita tidak akan mati. Aku pikir rakyat akan benar-benar menyelamatkan Mugang Taeja!

10 comments on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 43

  1. Ya Tuhan sampek segituny rakyat ngebela mugang taeja,terharu banget baca ni sinop,,kak Andy memang hebat!!! I Love U kak!Semangat!! lanjutkan episode selanjutny…

    • ho ho ho ho ho ho ho ho …. target minggu depan selesai sampe 55, mau buat sinopsisnya Yi San, lagi kebelet dan kepelet ama film ini😛

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s