Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 47

Giroo mengintip ruangan Jang.

Dooil: (kepada Jang) Tidakkah kau seharusnya tetap diam untuk saat ini?

Suara hati Giroo: Impian Jang…. Rencana Jang… Cita-cita Jang… Membangkitkan pemberontakan? Tidak, ini tidak mungkin … tidak masuk akal, apakah Woochae? …. (teringat sesuatu) Bukan! Pasti Putera Ke-4!. Dia masih hidup! Pengkhianatan Jang merupakan satu kamuflase. Tapi bagaimana aku mengungkapkannya?

Giroo teringat lagi …

Suara Jang: Aku berencana untuk menangkap mereka semua, dan aku ingin mengirim mereka ke pulau Wonsando.

Suara hati Giroo: Guru Mokrasu dan para pengikut Aja Taeja … pulau penjara! Wonsando!

KEMUDIAN

Bumro: Jang!

Jang: Kenapa kalian kemari?

Bumro: Kau dalam kesulitan!

Jang: Mengapa?

Eunjin: Giroo berusaha untuk mencari tahu siapa itu Yurim!.

Dooil: Apa?

Eunjin: Kami juga mencari jati dirinya di masa lalu, karena permintaan Pedagang Jin.

Bumro: Giroo telah mengajukan banyak pertanyaan bahkan di dalam Akademi juga!

Eunjin: Jika Giroo memberitahu raja, Kau akan mendapatkan masalah lagi?

KEMUDIAN

Giroo memberitahu ayahnya, Kim Saheum, tentang kecurigaannya. Ia merasa sesuatu sedang terjadi di Wonsando, tetapi ayahnya mengatakan kepadanya untuk berhenti mencurigai Jang, dan mencoba untuk menggunakan apa yang dimiliki oleh Jang untuk keuntungan dirinya sendiri. Giroo kemudian mengatakan kalau ia akan menyelidiki  untuk terakhir kalinya, dan jika dia salah, dia akan mengubah sikapnya terhadap Jang.

Sunhwa berusaha untuk mempererat hubungannya dengan Heukjipyung, mengatakan kalau dirinya akan menyumbangkan banyak hadiah pada Raja Sun atas nama Heuk demi menghindari rasa iri hati pedagang lain kalau ia memberikan pada raja atas namanya. Heuk sangat senang dan akan menerima usul dari Sunhwa.  Kemudian, Daejang juga memberitahukan pada Heuk kalau Wiesa Japyung Giroo memberikan Dalsol Jang banyak kesulitan dengan memerintahkan para prajurit untuk tidak mendengarkan perintah dari Jang.

Giroo menemui Raja, memberikan buku yang ditulis oleh Yurim dan raja membacanya, kemudian Giroo mengatakan kecurigaannya kalau ia merasa buku yang ditulis oleh Yurim itu dan tulisan-tulisan yang tersebar di antara rakyat ditulis oleh orang yang sama.

Buyeosun kemudian mengatakan pada Giroo untuk berpesan pada Jang agar menangkap orang yang dicurigai, namun Giroo mengatakan kalau Jang tampaknya sudah lama berhubungan dengan Yurim.

Raja: Benarkah? Bagaimana Jang bisa berhubungan dengan orang itu?

Giroo: Aku melihat Jang sedang bersama-sama dengan Yurim dan Pedagang Jin.

Raja: Apa? Pedagang Jin juga?

Giroo: Ya.

Raja: Apa yang sedang mereka lakukan?

Giroo: Aku tahu kalau paduka mengira aku mencoba menyakiti Jang karena perasaan pribadi aku, tapi ini tidak benar. Aku hanya tidak percaya dengan ketulusan pengabdian Jang kepadamu.

Raja: Itu benar. Aku sebenarnya sulit untuk mempercayainya Tapi aku percaya kalau dia akan melakukan yang terbaik demi menyelamatkan Guru Mokrasu. Selain itu, apa lagi yang bisa mereka lakukan sekarang?

Giroo: Itulah yang sedang aku coba selidiki. Apakah benar ia bekerja untukmu demi menyelamatkan jiwa dari Guru Mokrasu? Apakah benar mereka tidak memiliki alasan yang lain? Aku mau menyelidikinya. Aku punya perasaan kalau Jang dan Guru Mokrasu sedang berusaha menipumu dan ada suatu muslihat yang terjadi di Wonsando. Tapi karena paduka tidak percaya penuh padaku seperti di masa lalu, aku ingin pergi dan menemukan beberapa bukti dari kecurigaanku. Aku ingin berangkat besok pagi menuju ke Wonsando, tapi usahakan supaya ini menjadi rahasia di antara kita.

Raja mengatakan kalau ia akan memberitahu orang lain kalau Giroo sedang pergi ke propinsi lain dan melakukan tugas darinya. Sun mengatakan pada Giroo untuk memeriksa semuanya secara seksama.

KEMUDIAN

Jang mengatakan pada Heukjipyung kalau ia memiliki sesuatu untuk dikatakan pada raja.

Heukjipyung: Mulia, Dalsol Jang memintaku untuk menyampaikan pesan.

Raja: Dalsol?

Heukjipyung: Ya. Dia mengatakan kalau dia telah menggunakan mantan perwira dari Aja Taeja bernama Yurim untuk menangkap para pemberontak, yang kemudian semuanya ia kirim ke Wonsando.

Raja: Yurim … begitukah?

Heukjipyung: Dia ingin tahu apakah ia harus menangkapYurim sekarang atau jika kau lebih suka, membiarkannya dulu sehingga Dalsol dapat menangkap lebih banyak orang bekas pengikut Aja Taeja, sebelum kemudian memenjarakannya..

Raja: Tapi kenapa kau yang membawa pesan ini? Bukankah Wiesa Japyung yang seharusnya melakukan itu?

Heukjipyung: Sebenarnya … Wiesa Japyung memberikan Dalsol Jang banyak kesulitan belakangan ini.

Raja: Bagaimana bisa?

Heukjipyung: Wiesa Japyung ingin semua informasi tentang Wiesabu (para prajurit kerajaan) diinformasikan langsung padanya, dan membiarkan Jang buta situasi. Juga, dia menyebarkan desas-desus yang mengatakan siapa pun yang menaati perintah Dalsol akan menghadapi murka Japyung, membuat mustahil bagi Dalsol melatih mereka. Wiesa Japyung meminta Dalsol untuk tetap bersamanya, tapi sekarang Japyung tidak mengizinkan Jang bernapas. Jang sudah sangat dikenal di kalangan masyarakat. Dan ketika bekerja sebagai petugas militer kerajaan, Dalsol sudah banyak menangkapi para bandit. Dia bahkan menangkap para pemberontak sekarang. Selain Jang, bagaimana bisa Wiesa Japyung menghancurkan moral para prajurit seperti itu? Biarkan raja yang mengatasi situasi ini.

Raja: Baiklah. Untuk sekarang, biarkan saja Dalsol Jang terus mencari para pemberontak .

Heukjipyung mengirimkan pesan raja ke Jang, dan mencoba untuk menyemangatinya.

KEMUDIAN

Raja bertanya-tanyadi hadapan Ratu, mengapa hubungan Wiesa Japyung Giroo dan Dalsol Jang berubah dari jelek menjadi sangat buruk. Raja kemudian bertukarpikiran dengan ratu kalau dia tidak tahu lagi siapa yang bisa dipercayainya. Ratu mengatakan kalau Wiesa Japyung-lah yang telah memberikan segalanya bagi raja, tetapi raja diam-diam berpikir, “Ya, Giroo melakukan semua pekerjaan yang ‘kotor’ untukku, itulah alasannya mengapa aku merasa diriku menjadi jauh darinya.”

Raja Sun kemudian mengatakan pada Ratu kalau ia berharap bisa mendapatkan lebih banyak bantuan dari Guru Mokrasu dan Jang, selain dari Giroo, sehingga hati rakyat mungkin lebih terbuka kepadanya. Ia juga meminta sang ratu untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu antara Jang dan Giroo dan mengapa mereka bisa menjadi musuh besar sampai sekarang.

KEMUDIAN

Pengawas: Kau kira apa yang sedang kau lakukan sekarang?

Prajurit: Aku tidak tahu, pokoknya aku hanya mengikuti perintah dari atasanku.

Pengawas: (kepada Jang) Menurutmu apa ini, apa yang sedang coba kau lakukan? Beraninya kau menangkapi para prajurit dari Tuan Haedoju? Selain itu, aku bertanggung jawab atas orang-orang ini.

Jang: Itu adalah kewajiban dari kami untuk menangkap siapa pun yang telah melanggar hukum.

Pengawas: Melanggar hukum? Hukum yang mana?

Jang: Apakah kau tidak pernah mendengar Aturan Gongan Joryung? Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan datang ke provinsi ini dengan membawa senjata!

Pengawas: Apa!

Jang: (kepada para prajuritnya) Kalian semua pergi keluar sekarang dan menangkap setiap orang yang membawa segala jenis senjata! Apakah itu orang biasa atau bangsawan, tahan mereka semua!

Prajurit Kerajaan: Baik!

Jang: Jika ada yang melewatkan seseorang karena orang itu adalah bangsawan atau anggota dari sebuah keluarga bangsawan, aku akan membuat kalianlah yang dihukum karenanya, dipenjara selama 2 tahun berdasarkan aturan yang tertulis di buku! Apa yang kalian tunggu? Pergilah sekarang!

Prajurit Kerajaan: Baik!

KEMUDIAN

Haedoju menemui Raja dan melaporkan tindakan dari Jang.

Haedoju: Orang-orangku tidak melanggar hukum. Bagaimana dia bisa menangkap mereka karena masalah kecil seperti itu?

Heukjipyung: Dia selalu melakukan segala sesuatunya sesuai dengan aturan di buku. Tapi aku pikir dia sedikit keterlaluan kali ini.

Haedoju: Sesuai dengan aturan di buku? Sudah lama sekali Aturan Gongan Joryung tidak berlaku lagi sebagai hukum. (Pada Sun) Kau sekarang harus menghukum Dalsol Jang langsung!

Raja berpikir, kemudian ia memberitahu ayah mertuanya kalau dia akan mempertimbangkannya.

Heukjipyung: Aku akan pergi dan menghentikannya sekarang.

Raja: Pergilah dan katakan padanya untuk bertindak pelan-pelan, jangan tergesa-gesa!

Heukjipyung: Pelan-pelan?

Raja: Katakan padanya untuk tidak menangkap para bangsawan.

KEMUDIAN

Jang memerintahkan para prajurit untuk memasang pemberitahuan di tempat-tempat umum mengenai berlakunya kembali Aturan Gongan Joryung, hukum yang melarang seseorang, siapapun dia, membawa senjata di Provinsi Savisong, ibukota Baekjae. Para prajurit kemudian mulai menangkapi siapa saja yang membawa senjata.

Heukjipyung: Hei Dalsol, raja mengatakan kepadaku kalau kau harus pelan pelan sedikit!

Jang: Pelan-pelan? Dia tidak mengatakan aku harus berhenti?

Heukjipyung: Aku juga bingung… (Jang tersenyum) Apakah Kau memahami apa yang dia maksudkan?

Para bangsawan saling berembuk dan saling mengeluh karena banyak orang-orang mereka yang ditangkapi akibat dari berlakuknya Aturan itu.

Bangsawan 1: Idenya siapa ini, raja atau Wiesa Japyung?

Bangsawan 2: Wiesa Japyung sedang pergi jauh sekarang. Dalsol Jang yang melakukan ini atas inisiatifnya sendiri.

Sadokwang: Dalsol?

Bangsawan 1: Itu tidak masuk akal.

Bangsawan 2: (Kepada Haedoju): kami bermaksud untuk mengirimkan pesan padamu tadi. Kepala pengawalku telah ditangkap.

Haedoju: Kau juga?

Bangsawan 2: Bukan itu saja. Para penjaga keamanan dari setiap bangsawan sekarang ditahan di sana sini.

Sadokwang: Apakah Kau sudah berbicara mengenai permasalahan ini dengan raja?

Haedoju: Chini Daejang (Kepala Pengawal Raja) sudah menyuruh Dalsol untuk bertindak pelan-pelan saja tapi Dalsol tidak mendengarkannya..

Sadokwang: Pelan-pelan? Ia tidak diberitahu untuk berhenti? Kita tidak bisa membiarkan ini berlanjut!. Nantinya kekuasaan kita akan berkurang karena berlakunya aturan ini!

Haedoju: Itu benar. Kita harus menghentikan ini sekarang. Mari kita pergi menegurnya!

KEMUDIAN

Jang sedang memimpin para prajurit Kerajaan menghukum orang-orang yang dianggap melanggar Aturan Gongan Joryung. Haedoju dan para bangsawan lainnya datang menemuinya.

Jang: (pada para prajuritnya) Mulailah sekarang!

Haedoju: Kau pikir apa yang sedang kau lakukan? Bebaskan mereka sekarang!

Jang: Maaf tapi aku tidak bisa menurutinya!

Haedoju: Kau tidak bisa?

Jang: Mereka semua ini adalah orang-orang yang tidak taat pada hukum Gongan Joryung. Bagaimana aku bisa membiarkan mereka pergi?

Haedoju: Bagaimana kau bisa begitu beraninya melangkahi kami semua, dan menerapkan  hukum yang sudah tidak berguna lagi?

Jang: Hukum yang tidak berguna lagi? Ini adalah hukum yang disusun demi melindungi raja dan rakyatnya.

Sadokwang: Ketika raja masih menjadi Wiesa Japyung), ia mengatakan kalau hukum ini sangat tidak praktis, sehingga ia tidak menerapkan hukum itu.

Jang: Aku tidak tahu tentang itu. Jadi jika Kau memang tidak setuju dengan hukum itu, Kau harus bertemu dengan raja dan secara resmi meminta raja untuk membatalkan hukum itu..

Haedoju: Beraninya kau …. !

Jang: (pada prajuritnya) Mulailah sekarang.

Para bangsawan: Hentikan! (Prajurit kerajaan bingung mana yang harus mereka turuti)

Jang: (pada para prajuritnya) Mulailah sekarang!

Haedoju: Apa?. Bukankah aku sudah memberitahumu untuk menghentikannya?!!

Jang: (pada para prajuritnya) Mulailah sekarang!

Heukjipyung memberitahu raja kalau para bangsawan berusaha menghentikan Jang tapi Jang tetap tidak mau mendengarkan mereka.

Heukjipyung: Aku takut dia akan menyinggung para bangsawan, yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Kau harus memerintahkan Jang untuk berhenti.

Raja: Panggil mereka semua!

KEMUDIAN

Jang: Itu tugas kami untuk menghukum para pelanggar hukum.

Haedoju: Kau ingin mati?

Jang: (kepada para prajurit Kerajaan) Dengarkan aku, kalian adalah prajurit kerajaan yang bertanggung jawab melindungi kesejahteraan raja dan rakyatnya. Tidak peduli seberapa rendah status kelahiranmu, kau masih seorang prajurit dari pasukan Wiesabu. Kalau ada yang meremehkanmu hanya karena mereka termasuk ke dalam status sosial yang lebih tinggi, perlakukan mereka sesuai dengan aturan dan hukum yang berlaku! Ini adalah kekuatan dari Wiesabu! Ini merupakan kebanggaan dari Wiesabu! Jadi, kalian harus mengikuti hukum sesuai dengan kata-kata dari hukum itu sendiri! Apakah kalian mengerti?

Para Prajurit Kerajaan: (serempak dan terbangkitkan semangatnya karena perkataan Jang) Baik!

Jang: Dalam rangka untuk mengajarkan kalian makna dari kata-kataku itu, kalian harus menghukum orang-orang ini di hadapan majikan mereka, tuan-tuan bangsawan ini. Mulailah sekarang!

Para Prajurit Kerajaan: Baik!

Heukjipyung: Berhenti sekarang! Raja telah meminta semua orang untuk masuk menghadapnya.

KEMUDIAN

Jang dan para bangsawan menghadap Raja Buyeo-Sun.

Haedoju: Yang Mulia, Aku meminta kau untuk menurunkan Dalsol Jang karena menghina para bangsawan.

Jang: Aku tidak menghina para bangsawan, justru sebaliknya,  mereka-lah yang telah menghina raja.

Haedoju: Apa?

Jang: Ketika aku pertama kali menangkap orang-orang Tuan, itu karena beberapa prajurit Wiesabu telah berkelahi dengan mereka. Orang-orangku tidak terlalu memikirkannya saat mereka kalah. Tapi tidak denganku, bagaimana oraong-orang dari Tuan berani bertengkar dengan para prajurit kerajaan? Dan ternyata kemudian kuketahui kalau perkelahian itu terjadi ketika para prajurit Wiesabu melaksanakan misi atas perintah dari Wiesa Japyung, sehingga aku memerintahkan untuk menangkap mereka, dan kemudian aku mendapati kalau masing-masing dari mereka, semuanya membawa senjata, yang sebenarnya secara terang-terangan melanggar Aturan Gongan Joryung

Apa itu Aturan Gongan Juryung? Itu adalah hukum yang melarang orang untuk membawa senjata di provinsi ini, untuk melindungi raja dan keamanan di propinsi ini. Aku tidak mengerti apa kesalahan yang telah aku lakukan?

Sadokwang: Tapi paduka! Saat itu kau sendiri yang mengizinkan para pasukan pribadi dari bangsawan membawa senjata di propinsi ini. Untuk melindungi keselamatan dari Raja Sunghwang, kau mencoba untuk menambah kekuatan dari pasukan pribadi. Apakah Kau lupa ini?

Raja: Aku tidak lupa  …

Bangsawan 1: Situasi sekarang juga sama saja. Pasukan kami selalu siap berperang demi Yang Mulia setiap kali kau memintanya.

Haedoju: Yang Mulia, hukumlah Dalsol Jang dengan tegas sekarang dan batalkan Aturan Gongan Jorung ini!

Jang: Itu tidak boleh terjadi, Paduka. Itu hanya akan membantu para bandit terus menambah kekuatan mereka di mana-mana..

Haedoju: Tidak, Tuanku! Batalkan hukum ini. (Raja bingung)

Raja: Dengarkan aku! Kalian semua benar ketika mengatakan kalau aku adalah orang yang mengabaikan hukum ini dan menyatakannya kalau tidak berguna. Tetapi posisiku sekarang telah berubah. Aku adalah seorang raja sekarang. …. Dalsol Jang, dengarkan aku!

Jang: Ya, Yang Mulia!

Raja: Terapkan Aturan itu di propinsi ini dan umumkan pada rakyat serta tegakkan aturan itu seluruhnya!

Jang: Baik! Yang Mulia!

Semua bangsawan sangat terkejut dan tidak puas dengan keputusan dari Raja, tapi mereka hanya bisa memendam kekecewaan mereka karena Raja sudah memerintahkannya.

KEMUDIAN

Jang: Raja telah memihak kita! (Para prajurit bersorak, Jang mengangkat tangannya,, para prajurit segera diam) Tidak akan pernah lagi ada ancaman dari para bangsawan dan pasukan pribadinya. Aku berterima kasih pada kalian semua! Hal ini terjadi berkat semua ketaatan kalian semua dalam mengikuti perintahku meskipun itu berbahaya…. Kali ini aku akan mempromosikan dua orang pimpinan, Makdol dan Deunso! (Kedua orangitu bersukacita, semua prajurit sangat senang dengan perhatian dari Jang, Dooil tertawa terbahak-bahak) Hari ini adalah hari yang patut untuk dirayakan, kalian semua bisa makan, minum, dan tidur sepuasnya!

Semua prajurit kerajaan bersorak kegirangan, Jang juga sangat senang karena satu tahapan penting dari rencananya sudah berhasil.

KEMUDIAN

Para bangsawan berkumpul dan berdiam diri, merasakan hati mereka sangat kecewa tapi tidak bisa melampiaskannya keluar.

Jang di ruangannya bersama Dooil, beberapa prajurit masuk dan menemuinya. Jang mengatakan pada para prajurit untuk memeriksa setiap orang dengan seksama dan melaporkan semua temuan kepadanya. Dooil sangat senang karena para prajurit sekarang mendengarkan Jang.

GUDANG SENJATA AKADEMI

Maekdosu dan Gomo sedang mengemasi panah-panah ke dalam sebuah kotak, dua orang prajurit menunggu untuk mengambil kotak-kotak yang berisi panah itu.

Seorang prajurit mengatakan pada rekannya kalau Raja menyukai Dalsol Jang sehingga mereka harus mendengarkan dia. Maekdosu bertanya pada Gomo apa yang sedang Jang lakukan sekarang. Gomo hanya terdiam karena juga tidak tahu. Puteri Wooyoung masuk ke dalam gudang dan bertanya apakah mereka sudah selesai mengemasi panah-panah yang akan dikirimkan ke Achak. Kemudian Wooyung memberitahu Maekdosu kalau ia akan memberi petunjuk lebh lanjut tentang siapa, di mana, dan waktu pengiriman panah-panah itu. Maekdosu sangat senang. Wooyung menyuruhnya agar nanti setelah selesai mengemas, Maekdosu pergi ke ruangan kerjanya.

Eunjin, Bumro, dan Woosoo masuk dengan bercanda di antara mereka. Wooyung menegur mereka karena berkeliaran dan tidak mengerjakan tugas yang telah diberikan olehnya pada mereka. Wooyung kemudian pergi. Gomo bertanya pada ketiga anak itu mengapa Wooyung membutuhkan peta, Bumro menjawab kalau ia tidak tahu, mungkin saja Wooyung memang ingin memberikan masa-masa sulit pada mereka. Maekdosu tertawa senang karena ia akan diutus keluar dari Akademi.

KEMUDIAN

Sunhwa, Daejang, Wangoo, dan Yurim merayakan kemenangan Jang yang berhasil menerapkan Aturan Gongan Juryung, yang nantinya akan membuat terjadinya pemberontakan lebih mudah, dan juga karena Jang berhasil mengambil alih kendali atas Wiesabu. Mereka juga mengatakan kalau senjata yang lebih banyak akan datang dari Akademi. Sunhwa mengatakan pada Daejang kalau dia akan pergi selama beberapa hari. Wangoo Moojang mengatakan pada Yurim kalau Giroo sedang pergi untuk menyelidiki mengenai siapa dirinya, tapi Yurim mengatakan kalau sebenarnya raja yang mengirim Giroo pergi.

Giroo pergi ke Wonsando, mendarat di sisi belakang pulau, dan mengatakan pada para prajurit yang menemuinya supaya mereka ‘memata-matai’ para tahanan, dan memberitahu kalau tidak akan ada pergantian jaga bulan ini, sehingga mereka bisa berpura-pura tidak melakukan tugasnya sebagai bentuk protes tetapi mereka harus mengamati dengan seksama dan tanpa terburu-buru. Giroo mengamati Mokrasu dan tahanan lainnya, tetapi ia tak melihat sesuatu yang aneh.

Mokrasu menemui penjaga dan mengatakan kalau mereka kehabisan obat-obatan sehingga harus mencarinya ke gunung. Giroo mengikutinya.

Mokrasu dan para tahanan yang lain bertemu dan bersama-sama mencari tumbuhan obat. Sementara mereka menggali-gali tanah, seorang tawanan mengatakan kalau penjaga tidak begitu ketat menjaga mereka sehingga lebih baik mereka berbicara saja, tapi Mokrasu tetap menganjurkan untuk melakukan sesuai dengan kesepakatan mereka sebelumnya.

Mokrasu dan para tahanan itu berbagi ide-ide mereka dengan menulis di tanah, sehingga Giroo, yang mengamati mereka dari kejauhan, tidak dapat menemukan apa-apa. Kemuidan Mokrasu dan para tahanan pergi, tiba-tiba seorang tahanan terjatuh kemudian bangkit berdiri, tanpa menyadari secarik catatan terjatuh dari balik bajunya…. Perahu ‘rahasia’ akan membawa lebih banyak barang-barang yang telah mereka minta dan akan datang pada hari ini …

Mojin ke belakang pulau dan melihat sebuah perahu.

Mojin (kepada dirinya sendiri): Mengapa mereka membawa sebuah perahu besar?

Seorang pemberontak, bernama Yonggak, yang sedang berjaga di belakang pulau itu menemuinya dan mengatakan pada Mojin kalau “kapal itu bukan milik kita” Mojin mengatakan tidak ada pergantian para prajurit  pada bulan ini … ini adalah sesuatu yang aneh … seseorang pasti telah datang secara sembunyi-sembunyi, dan caranya sama dengan yang mereka gunakan selama ini…

Mojin mengatakan pada Yonggak kalau ia akan mencari tahu dan menyuruh Yonggak untuk bersembunyi dulu dan menunggu selama satu jam, jika tidak ada tanda darinya maka Yonggak harus pergi. Kemudian Mojin berlari ingin memberitahu Mokrasu, tapi ia justru menemukan Giroo sedang mengamati setiap gerakan dari para tahanan. …

Kemudian Giroo menemukan sepotong kain … dengan kata-kata yang tertulis di atasnya dan menyadari kalau mereka sedang ‘mematangkan’ sebuah kode rahasia dan menyembunyikannya di balik pakaian yang mereka kenakan …

Mojin mendatangi ruangan Mokrasu. Mokrasu sedang duduk dan  memilah-milah tanaman obat yang barusan ia petik dari gunung.

Mojin: (terengah-engah karena habis berlari) Kita dalam masalah besar.

Mokrasu: (sedikit terkejut, bangun menghampirinya) Mengapa?

Mojin: Giroo ada di pulau ini. Dia datang secara diam-diam dari belakang pulau. (Mokrasu kaget) Aku menemukan perahunya, tersembunyi di pantai.

Mokrasu: Apa? Benarkah ini?

Mojin: Ya!

Mokrasu: Apakah dia masih mengamati kita?

Mojin: Ya! Kita harus melarikan diri sekarang! Pakaian seseorang telah tercabik dan ia menemukan potongannya dan ada pesan di atas cabikan itu.

Mokrasu: (lebih kaget lagi, panik) Apa?

Giroo sedang mengamati cabikan kain yang terdapat pesan rahasia, para prajurit berkumpul di dekatnya.  Kemudian Giroo mendengarkan suara  suling, dan dia teringat kalau irama suiling itu seperti ‘tanda rahasia bambu’ di Haneulchae dulu. Giroo segera menyadari kalau Mokrasu dan yang lainnya sedang berusaha unttuk melarikan diri. Ia segera berlari menuju ke pondok para tahanan. Dan menemukan kalau semuanya sudah kosong. Giroo segera memerintahakan para prajurit menyebar dan menggeledah semua pondok, jika menemukan para tahanan harus segera ditangkap.

Mokrasu dan Mojin menunggu rekan-rekan mereka sesama tahanan yang juga merupakan pengikut Aja Taeja.

Giroo mencari ke semua pondok-pondok tahanan tapi semuanya juga kosong. Giroo menyebarkan pasukannya ke seluruh pulau dan memerintahkan untuk menangkap setiap tahanan yang mereka lihat.

Mokrasu dan Mojin serta seorang tahanan masih menunggu di tempat yang telah disepakati.

Mojin: (melihat sesuatu) Itu … Itu mereka datang (beberapa orang menuju ke arah Mokrasu dan Mojin berada)

Tahanan 1: Apa yang sedang terjadi?

Mok: Wiesa Japyung ada di pulau ini!

Mojin: Maaf (menunjukkan cabikan kain di baju tahanan 1) Wiesa Japung melihat robekan kain dari bajumu.

Tahanan 1: Saat di gunung …

Mokrasu: Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi.

Mojin : Kita harus melarikan diri dari pulau. Kita dapat pergi ke pantai dimana Yonggak sedang menunggu kita … sekarang! (Beranjak pergi dulu)

Mokrasu: Sekarang! (Semua orang beranjak pergi menyusul Mojin)

Mokrasu, Mojin, dan para tahanan lainnya berlari menuju ke belakang pulau di mana perahu mereka tersembunyi.

Giroo sedang menanti dengan gelisah kedatangan para prajurit yang ia sebar, menunggu berita.

Prajurit: Mereka tidak ada di sekitar sini.

Giroo kecewa dan berpikir kemana sebenarnya mereka itu, lalu teringat ….

Giroo: Perahu …. Mereka menuju perahu!

Mokrasu dan Mojin bertemu dengan Yonggak di pantai, kemudian Mokrasu menyuruh Mojin dan Yonggak serta beberapa tahanan untuk mengambil perahu Giroo dan pergi ke Jang untuk memberitahunya mengenai situasi ini. Dia akan mengambil perahu rahasia mereka bersama dengan beberapa tahanan lain menuju ke Pulau Chosun.

Mojin dan Yonggak serta tahanan lain naik ke perahu Giroo dan berlayar pergi, Mojin memandang Mokrasu dan Mokrasu balas memandangnya sampai perahu itu berada jauh dari tepi pantai.

Mokrasu dan yang lainnya berhasil mencapai perahu dan berusaha menjalankannya, ketika para prajurit datang menyusul mereka. Giroo memerintahkan untuk melepaskan anak panah karena perahu itu masih dalam jangkauan panah. Beberapa prajurit segera melepaskan panah ke arah perahu.

Mokrasu terkena panah di dadanya, darah mengucur deras dari lukanya.

Mokrasu: (berseru) Kita telah menyelesaikan misi kita.

Tahanan: Guru!

Mokrasu: (membentak) Aku tidak apa-apa! Kita harus cepat pergi dan melengkapinya! (Sebatang panah menancap di pinggang Mokrasu)

Mokrasu tak dapat menahan tubuhnya dan terjatuh ke dalam air, semua rekan-rekannya seperahu kaget dan berteriak memanggilnya, “Guru! Guru!” Tapi tidak ada gerakan dari Guru Mokrasu, pasukan tetap memanahi mereka, jadi terpaksa mereka meninggalkan Guru Mokrasu.

Seorang prajurit memberitahu Giroo kalau perahunya telah hilang, Giroo terkejut dan sangat kesal karenanya, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa selain menandangi perahu itu menjauh.

KEMUDIAN

Wiesabu (Prajurit Kerajaan) dan Chinide (Pengawal Raja) mengadakan kompetisi dan saling bertanding satu sama lain. Wiesabu memenangkan banyak pertandingan, Heukjipyung kesal dengan anak buahnya dan meminta tanding ulang.

Jang mengabulkannya tapi meminta waktu untuk istirahat selama setengah jam, Jang kemudian mengatakan kepada anak buahnya, para prajurit Wiesabu, kalau dia akan mentraktir semua pemenang dengan dua botol anggur, dan kemudian dengan daging. Anak buahnya bersorak gembira.

Orang-orang dari pasukan Chinide mengeluh ketika mereka dihukum karena kalah, beralasan kalau Wiesabu bisa menang karena ada janji hadiah … jadi mereka juga ingin mendapatkan hadiah jika mereka menang. Akhirnya Heukjipyung juga memutuskan akan memberikan hadiah yang lebih banyak daripada yang telah Jang berikan kepada anak buahnya yang menjadi pemenang. Tapi tetap saja prajurit dari Wiesabu yang terus menang.

Raja juga menyaksikan kompetisi itu..

Raja: Apakah kalian sedang mengadakan pertandingan persahabatan?

Heukjipyung: Ya, jadi Wiesabu dan Chinide bisa saling mengenal lebih baik, mengurangi persellisihan, dan kita juga dapat meningkatkan kemampuan satu sama lain.

Raja: Sangat baik melihat kompetisi seperti ini. Tapi sekarang, mengapa kalian berdua tidak bertanding antara satu sama lain?

Jang dan Heuk: Apa?

Raja Sun:  Bukankah itu menyenangkan untuk disaksikan?

Heukjipyung: Tapi semua orang sedang melihat …

Raja: Aku menyadari ada banyak orang dari Wiesabu dengan kemampuan bertarung yang hebat. Chinide membutuhkan orang-orang yang dapat bertarung dengan baik. . Jadi pindahkanlah  beberapa dari mereka ke Chinide!

Jang: Tapi paduka …

Raja: Ini untuk keselamatan pribadiku. Lakukan seperti yang kukatakan.

Jang: Baik!

Heukjipyung: Jangan pikir aku tidak bertarung denganmu karena takut kalah …!

KEMUDIAN

Wooyoung: Aku harus mengirim senjata ke Achak, jadi kirimlah beberapa orang terpercaya ke Akademi.

Jang: Aku berterima kasih untuk bantuanmu….

Wooyoung: Dalam situasi sekarang ini, itu semua yang bisa aku lakukan. Kau tahu itu, karena itu kau berani memperlakukan aku seperti ini! Jika raja tahu aku telah  menyelamatkanmu, bahkan setelah dia mengetahui kebenarannya, dia tetap tidak akan membiarkanku hidup. Jadi, sebenarnya aku tidak membantumu. Aku hanya menyelamatkan diriku sendiri.

Tapi aku masih tidak menyerah untuk mendapatkan dirimu!.

KEMUDIAN

Eunjin, Bumro dan Woosoo mengeluh karena Wooyung meminta gambar peta yang sangat detil dan menduga kalau Wooyung sengaja melakukannya untuk memberikan kesulitan pada mereka. Maekdosu datang menyapa mereka dan senang karena akan melakukan ‘misi’ keluar. Wooyung memberikan surat pada Maekdosu dan mengatakan kalau ia akan bertemu orang di Achak dan disuruh melakukan apa yang tertulis dalam isi surat itu.

KEMUDIAN

Jang menemui rekan-rekannya.

Wangoo: (Bangkit bediri menyambut Jang) Kau datang …  (Mereka duduk)

Jang: Yurim, berhati-hatilah.

Yurim: Ya, Aku sudah tinggal di pegunungan beberapa hari ini.

Wangoo: Kau benar-benar bertindak bagus dengan memberlakukan kembali Aturan Gongan Juryung.

Jang: Ini akan membantu perjuangan kita, tetapi juga sesuatu yang seharusnya ditegakkan dari awal.

Wangoo: Ini juga seharusnya terjadi selama pemerintahan raja Weeduk. Tapi baik juga kalau itu terjadi sekarang, dan demi masa yang akan datang.

Jang: Ada kabar baik lainnya yang terjadi karena ketidaksengajaan..

Daejang: Apa itu?

Jang: Sekitar dua puluh orang kita telah memasuki Chinide.

Wangoo: Pengawal raja?

Jang: Ya, terima kasih kepadamu, Wangoo Daejang. Raja menyaksikan orang-orang kita bertarung dan memenangkannya, ia kagum dengan kemampuan bertarung mereka sehingga ia memerintahkan mereka untuk dipindahkan ke Chinide.

Daejang: Itu bagus. Aku sudah khawatir kalau kita tidak bisa menyusupkan orang-orang kita ke dalam Chinide.

Yurim: Kalau begitu kita bisa dengan sempurna merencanakan semuanya sebelum hari-H!

Jang: Ya, kalian semua harus tetap waspada dan berhati-hati!

Semua: Baik!

Jang: (pada Daejang) Omong-omong di mana Nona?

Daejang: Dia harus pergi ke suatu tempat selama beberapa hari karena ada kepentingan pribadi.

PERBATASAN

Sunhwa menemui ayahnya, Raja Jinpyeong.

Raja Jinpyeong (Raja Shilla): Sunhwa.

Sunhwa: Yang Mulia.

Raja: Sunhwa.

Sunhwa: (Berlutut) Yang Mulia.

Raja: (berlutut juga) Mari aku melihatmu.

Sunhwa: Yang Mulia.

Raja: Kau sungguh gadis nakal! Bahkan setelah kau menusukkan pisau ke hatiku, bagaimana bisa kau justru menjadi terlebih cantik?!!

Sunhwa: (menangis terharu) Yang Mulia.

Raja: Tapi ini justru bagus. Ini seratus kali lebih baik melihatmu seperti ini daripada terlihat sengsara dan putus asa. Kau membuat kesalahan di masa lalu, tetapi itu adalah kesalahanku karena aku tidak bisa melindungimu. Aku sangat bangga padamu ketika mendengar kalau kau hidup sebagai pedagang yang kaya di Baekje daripada membusuk di sebuah biara.

Sunhwa: Yang Mulia.

Raja: Sekarang, Kau hanya perlu kembali kepada aku. Kalau aku memanggilmu kau bisa kembali

Sunhwa: Yang Mulia.

Raja: Ratu juga, dia sudah menunggumu kembali setiap hari.

Sunhwa: Yang Mulia, aku tidak bisa … Aku tidak bisa kembali.

Raja: Apa katamu?

Sunhwa: Aku telah berdosa terhadap negaraku dan terhadapmu. Bagaimana mungkin aku bisa menebus kesalahanku pada ibu? Sejujurnya setelah aku keluar dari Istana, tiada hari tanpa memikirkanmu dan ibu. Kapanpun ketika aku dalam kesulitan, kapanpun ketika aku bersukacita, aku selalu merindukan kalian beruda.

Raja: Lalu mengapa kau tidak mau kembali? Apakah karena murid Akademi dari Baekje itu? Sampai hari ini?

Sunhwa: Maafkan aku, aku sangat menyesal … Aku lebih suka tinggal di sini dan hidup sebagai wanita biasa. Anggaplah aku sebagai seorang biksu Buddha. Atau lebih baik, anggaplah aku sudah mati.

Raja: (Bangkit berdiri) Mati? …. mati? Beraninya kau mengatakan kata-kata itu. Apakah Kau tahu apa itu hidup selama dua tahun tanpa mengetahui keberadaan anakmu sendiri? Jika kau tahu seperti apa perasaan itu, bahkan jika hanya sepotong kecil dari perasaan itu, kau tidak akan mengatakan itu!

Sunhwa: Yang Mulia …

Raja: Aku tidak akan memaafkanmu, tidak akan pernah.

DI LUAR

Raja: (menghela napas menghilangkan kekesalan dihatinya, pada para pengawalnya) Ayo kita pergi!

Raja Jinpyeong pergi diiringi para pengawalnya dan pengiringnya.

Chogee: (pada Bomyung, gelisah) Apa yang harus kita lakukan?

Bomyung lari mengejar Raja dan berlutut di hadapannya.

Bomyung: Yang Mulia, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu!

Raja: …

Sunhwa di kamarnya sedang menangis, Chogee masuk ke ruangan.

Chogee: Gongjunim … (Sunhwa tetap menangis tersedu-sedu)

Dalam perjalanan kembalinya ke Istana, Raja Jinpyeong mengingat kata-kata dari Bomyung.

Suara Bomyung: Pria yang dicintai oleh Sunhwa Gongju (Puteri) adalah Putera Ke-4 dari Weeduk Hwang (Raja), Mugang Taeja!

KEMUDIAN

Daejang: Aku percaya Pedagang Jin menemui orangtuanya.

Dooil memberitahu Jang kalau Giroo sekarang menghilang, bahwa  dia tidak ada di provinsi ke mana raja sudah mengutusnya pergi.

KEMUDIAN

Para prajurit terjebak di pulau Wonsando, dan pergantian penjaga baru akan datang sekitar dua puluh hari lagi … mereka kehabisan perbekalan dan makanan .. . Giroo sangat kelaparan karena  hampir tidak makan selama beberapa hari.

Mokrasu selamat dan kembali ke pulau kemudian dia menangkapi para prajurit satu per satu. Dia juga meracuni makanan mereka.

Sebuah bayangan seperti hantu menyerang Giroo … bayangan itu ternyata Mokrasu. Mereka berdua saling berkutat satu sama lain dan sampai ke pinggir tebing. Keduanya jatuh tapi sebuah batang pohon menahan mereka di tepi tebing. Keduanya terluka parah. Sebatang pohon menghimpit Giroo sedangkan darah terus mengalir dari luka di pinggang Mokrasu akibat sabetan pedang Giroo.

(Moga-moga kelihatan gambar yang ku ‘capture’ ini, gelap banget😛 )

Giroo mengerang kesakitan dan berusaha menyingkirkan batang pohon yang menghimpit tubuhnya. Mokrasu menekan luka di pinggangnya yang berdarah akibat terkena sabetan pedang Giroo.

Mokrasu: Akhirnya … adalah seperti ini … Kau dan Aku. .. akan mati? Terdampar di pulau ini … akhirnya … seperti ini?

Karena aku terluka oleh pedangmu, aku tidak dapat mengangkat batang pohon itu dan menyelamatkanmu. Dan Kau juga tidak akan mampu menyelamatkanku, karena batang pohon itu yang menghancurkan tubuhmu.

Aku yang membunuhmu, meskipun aku yang membawamu masuk ke Haneulchae. Dan kau membunuhku, meskipun kau sebenarnya adalah muridku. Tapi mengapa? Mengapa Kau harus melangkah sampai sejauh ini?

Giroo: Karena kau sudah sekarat, yang terbaik adalah kau pergi tanpa tahu apapun!.

Mokrasu: Katakan padaku. Katakan padaku … apa sebenarnya yang telah dicuri Jang darimu? Katakan padaku!

Giroo: Negaraku, calon istriku. Kekuatan, cintaku … kehidupanku. Diriku sendiri! Aku …. Aku adalah bangsawan dari Shilla … Aku adalah seorang Hwarang dari Shilla. (Hwarang adalah kekuatan militer khusus. Mereka melayani keluarga kerajaan Shilla, kalau mau lebih jelasnya liat di Queen Seon Deok, ada penjelasan mengenai divisi Hwarang di sana, tapi lupa episode berapa😛 ).

Mokrasu: (terkejut) Apa?

Giroo: Sebagai Hwarang, aku masuk Haneulchae sebagai mata-mata Shilla. Sebagai imbalannya aku dijanjikan dapat menikahi Puteri ketiga dari Raja Shilla, Puteri Sunhwa. Tapi Jang merampasnya dariku.

Mokrasu: (kaget) Itu berarti …

Giroo: Ya, Jin Ga Kyung … adalah Puteri Sunhwa dari Shilla.

Mokrasu: Puteri?

Giroo: Dari sudut pandang Baekje, aku mungkin adalah orang jahat, tetapi dari pandangan orang Shilla, aku tidak melakukan apa pun yang memalukan. Tapi Jang datang menyela di antara keduanya. Dia datang di tengah-tengah dan mencabik-cabik, mengambil segalanya dari aku.

Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri karena telah membunuh Aja Taeja dan Raja Weeduk. Sebenarnya, aku juga tidak ingin mendapatkan kekuasaan dengan menggunakan cara kotor seperti itu. Aku tidak perlu melakukan itu bahkan jika aku menginginkan kekuasaan. Tapi itu terjadi semuanya karena Jang.

Dapatkah orang mengatakan cintaku itu semu? Apakah Kau pernah mendengar tentang anggota kerajaan menikah karena cinta? Dan katakan padaku, adakah seorang rakyat  jelata yang berpikiran cukup sinting dan memimpikan kalau ia bisa jatuh cinta dan menikahi seorang Puteri? Dialah Jang yang melakukan hal yang sinting itu, bukan aku. Jang lah orangnya yang melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan oleh orang lain. Dan Kau justru mendorongnya untuk melakukan itu.

Jika Jang menyalahkan aku karena semua perbuatan jahat yang telah kulakukan, aku akan menyalahkan segalanya pada perilaku Jang yang di luar kewarasan. Tidak ada kejahatan yang telah kuperbuat secara langsung menyakiti Jang, tapi tindakannya yang tidak waras telah merampas semua dariku!

Sebut saja aku gila … Aku tahu aku benar-benar akan gila!

Mokrasu: Giroo … (dengan nada mengasihani).

Giroo: Walaupun aku dari Shilla, Aku telah membunuh pewaris tahta sehingga bisa naik sampai ke status ini. Tapi tetap saja, aku tak dapat tidur dengan nyenyak karena merasa ketakutan kalau-kalau asal-usulku terungkap. Bagaimana aku dapat mempertahankan kewarasanku? Bagaimana aku bisa melakukannya?

Mokrasu: Aku sangat senang … Aku sangat senang bahwa aku akan dapat membawamu bersamaku …. Aku sungguh-sungguh sangat senang! Untuk Jang, biar dia hidup di jalannya, dan untukmu, aku sangat senang aku dapat membawamu bersamaku sehingga kau akhirnya dapat beristirahat dalam kedamaian.

Giroo: Bagaimana kau bisa mengatakan itu? Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Aku akan membunuhnya …. Akau akan bunuh mereka semua! (Mengerang, berusaha memindahkan batang pohon dari atas tubuhnya) Pangeran Ke-4 masih hidup, benar bukan? Siapa itu Putera Ke-4? Kau pikir aku akan membiarkan Putera Ke-4 naik ke tahta sehingga dia dapat naik ke status sosial yang lebih tinggi daripada aku? Siapa itu Putera Ke-4? Putera Ke-4! Aku akan membunuh mereka semua! Siapa itu Putera Ke-4?

Tiba-tiba … pohon yang disandari oleh Mokrasu terjatuh, Mokrasu juga ikut terjatuh sambil menjerit …..

Giroo: (terlihat sangat ketakutan) Guru! Guru! ….. Guruuuuuuu!

KEMUDIAN

Mojin berhasil sampai di Savisong dan segera menemui Jang.

Jang: Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa keluar dari pulau dan datang kemari?

Mojin: Giroo datang dan tahu semuanya!

Jang: Dia pergi ke Wonsando?

Mojin: Ya. Dia tidak dapat menghilangkan rasa curiganya padamu bahkan setelah tindakanmu menangkapi para bandit dan mantan pejabat  sebelum ini.

Jang: Di mana Guru?

Mojin. Sesungguhnya, Giroo adalah salah satu orang yang terperangkap di pulau karena kami telah mengambil perhunya. Para prajurit penjaga pulau juga terperangkap di sana.

Jang: Apa?

23 comments on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 47

    • mak pet ….. kompiku tiba-tiba mati …..gak taunya papaku nginjek kabel kompi sampe lepas dari stop kontak, jadi gak semua kena upload …. wkkwkwkwk sori deh …..😀 …. bentar kurang dikit, paling setengah jam lagi dah kelar … ini net juga rada lemot, asem deh😦

  1. SIPPPPPPP…………makin lama makin penasaran dgn episode2 selanjutnya, Q jg lebih bersemangat lgi bacanya coz smangat dan kemampuan jang udh mulai bangkit lagi……^-^

    ayo mas Andi lanjutkannnnnn…………sampai titik darah penghabisan, xixixixixi

  2. Walah baca lagi ni saya jadinya mantap buat ko andy semangat terus, blognya sudah saya sebar kemana2 dan sekarang blognya ko andy berjejer di posisi 16 besar mantap cahyo

    • aaww …. hahahha … ga pernah mikirin itu, pernah kulihat aku dulu di posisi 98😛 … ahahaha naek cepet banget tuh😛 thks😀

  3. Mas Andy I’ll be waiting for 48, 49, 50, 51, 52, 53, 54 daaaaannnnnnn 55….go…go….go…semangat yoooo!!!!!!

  4. sprt guru mok aku jg kacian sm giro..ini mmbuktikn klo dia bnr2 cinta gila smp jd sinting sm putri sunhwa..giro n jang pnya kualitas yg sm,sm2 cinta mati sm sunhwa tp tetep jang is the best choice

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s