Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 51

Jang dan Giroo berhadapan di tengah-tengah pertempuran, dan saling bertarung di atas kuda masing-masing, dan kemudian turun dari kuda, melanjutkan pertarungan, mereka berdua bertarung sendirian.

Jang: Aku tidak perlu memikirkan hal lain. Hanya dengan memikirkan Guru Mokrasu … saja aku seharusnya membunuhmu. Kau mampu membunuh siapa pun untuk keuntungan dirimu sendiri. Aku tidak bisa membiarkan kau menjadi seorang penguasa! Aku bisa melupakan segalanya. Aku bisa meletakkan segala sesuatu di belakangku dan mengampunimu. Tapi aku tidak akan mengampunimu … Aku tidak akan mengampunimu!

Giroo: Kau tidak akan mengampuniku? Bagaimana dengan segalanya termasuk kehidupanku yang telah kau rampas?

Jang: Aku tidak pernah merampas apa pun dari dirimu! (Berhasil melukai Giroo) Kau telah menyerahkan nasibmu ke tangan orang lain daripada menentukan sendiri nasibmu. Itulah yang selalu menjadi masalahmu selama ini! (Jang berhasil menusuk Giroo, dan Giroo jatuh.)

Wangoo menemukan Jang dan berlari mendekatinya bersama-sama dengan anak buahnya, terkejut melihat Giroo.

Wangoo: Cheon Na. (Dia melihat Giroo terbaring di tanah) Cheon Na.

Jang: Tangkaplah dirinya. Aku akan menunjukkannya pada rakyat..

Dooil: Ya! (Kepada yang lain) Wiesa Japyung tertangkap. Wiesa Japyung tertangkap. Wiesa Japyung tertangkap!

Suara bersahut-sahutan:Wiesa Japyung dikalahkan oleh Mugang Taeja!

Jang: Sekarang kita menuju ke Savisong. Kita akan bergerak menuju ke Savisong!

KEMUDIAN

Buyeosun: Apa? Giroo telah tertangkap?

Heukjipyung: Aku telah menerima pesan dari Notijae.

Buyeosun: Jadi?

Heukjipyung: Begitu Wiesa Japyung tertangkap, pasukan kita tercerai-berai.

Buyeosun: Kalau begitu mereka sekarang akan datang ke Savisong?

Heukjipyung: Ya, mereka telah menyeberangi lembah. Namun, kita masih memiliki lebih dari lima ribu prajurit pribadi yang masih melindungi Savisong.

Buyeosun: Apa yang dilakukan para bangsawan penguasa distrik sekarang?

Heukjipyung: Kita tidak dapat menemukan sesuatu yang mencurigakan di antara mereka. Aku sudah memerintahkan mereka untuk mengalihkan kekuatan militer mereka kepadaku. Yang Mulia, kau harus mencari perlindungan di distrik dari Tuan Haedoju.

Buyeosun: Apa? Apakah aku harus bersembunyi sekarang? Apakah para penguasa distrik telah meninggalkanku?

Heukjipyung: Tidak, itu tidak akan terjadi. Aku hanya memikirkan kalau itu akan lebih aman bagimu untuk merencanakan serangan balik dari sana Hanya berjaga-jaga saja….

Buyeosun: Bicaralah dahulu dengan ayah mertuaku..

Heukjipyung: Ya! Dan … apa yang harus aku lakukan dengan Wooyung Gongju?

Buyeosun: Eksekusi dia!

Heukjipyung: Ya.

Orang-orang Tuan Haedoju menangkap suruhan dari Bangsawan Baejung, yang mencoba untuk mengirim surat rahasia kepada Mugang Taeja. Seorang pria lain datang untuk memberitahu Haedoju kalau para pemberontak sedang mendekati Savisong setelah menangkap Wiesa Japyung.

Anak buah dari Sadokwang memberikan berita kepada tuannya. Sadokwang memerintahkan dia untuk mengatur pembebasan Wooyung Gongju. Tapi ketika ia pergi ke penjara, ia menemukan semua penjaga telah mati, dan Wooyung dan ibunya sudah lenyap.

Wooyung dan ibunya sangat ketakutan, tidak tahu mengapa mereka dibawa ke sebuah ruangan yang sunyi. Ibu suri mengira kalau mereka akan dibunuh dengan diam-diam. Tiba-tiba Ratu dan ayahnya masuk ke ruangan.

Wooyung: Apakah Ratu yang telah membebaskan kami?

Ratu: Ya.

Wooyung: Apakah pasukan Mugang Taeja sudah masuk Savisong?

Haedoju: …. (menunduk, tanda mengiyakan)

Wooyung: Jadi sekarang …?

Ratu: Kita adalah sama-sama wanita dari  marga Hae. Ayah dan keluarga Hae harus tetap selamat. Apapun yang terjadi pada Raja dan aku, keluarga Hae harus tetap bertahan. Itulah sebabnya aku menyelamatkanmu. Kau harus menghentikan tragedi, kejatuhan keluarga kita. Ini adalah satu-satunya cara agar kita bisa menjaga nama keluarga kita. Selain itu, cintamu pada Dalsol Jang tidak akan terwujud tanpa bantuan dari faksi Hae. Aku akan mempercayai dirimu.

KEMUDIAN

Ratu memberi tahu ayahnya kalau dia ingat saat ayahnya memberitahunya ketika ia menikah dengan Sun sebelum ia menjadi raja, kalau dirinya harus selalu memikirkan nama keluarga dahulu di atas segalanya. Jadi, Ratu mengatakan kepada ayahnya, Haedoju, kalau ini adalah apa yang sedang dia lakukan, dan bahwa sudah tidak ada cara  lain yang tersisa.

Heukjipyung mengatakan pada Haedoju mengenai rencana rahasia mereka untuk membantu raja melarikan diri. Haedoju mengatakan kalau dia akan mengirim tambahan orang-orangnya di distriknya untuk menjaga keselamatan raja, dan Haedoju juga menyatakan kalau semuanya masih dalam keadaan terkendali.

Sadokwang menemukan kalau Wooyung Gongju telah lenyap dari penjara dan ternyata semua penjaga penjara telah tewas Dia menyadari kalau ini pasti adalah perbuatan dari Haedoju, karena hanya orang-orangnya yang dapet melakukan ini sejak hanya merekalah yang menjaga Istana.

Baekjung mengetahui kalau orang-orang Haedoju telah menangkap orang suruhannya. Dia takut kalau raja akan mengetahuninya dan memutuskan untuk membunuhnya, sehingga ia berencana untuk melarikan diri dari Istana.

KEMUDIAN

Jang dan pasukannya berhenti di depan benteng Savisong

Jang: Kita akhirnya tiba di depan Savisong. Siapkan penyerangan! (Bendera kemudian dikibarkan dan suara tambur diperdengarkan)

KEMUDIAN

Ratu dan ayahnya sedang berusaha membujuk raja Buyeo-Sun untuk lari Tapi Buyeosun mengatakan kalau semestinya masih ada banyak orang di dalam Savisong, dan jika ia yang memimpin mereka, ia masih bisa memenangkan peperangan ini.

Buyeosun: Katakan pada para bangsawan penguasa distrik untuk datang dan menmui diriku segera!

Suara prajurit: (kepada Heukjipyung) Daejang, pasukan pribadi dari Sadokwang sedang menyerbu Savisong.

Heukjipyung: Apa maksudmu?

Suara prajurit: (pada Heukjipyung) Daejang, kali ini, pasukan pribadi dari Baekjung datang untuk membantu Tuannya melarikan diri dari Savisong.

Para prajurit  yang berada dalam pasukan pribadi yang berbeda saling bertempur satu sama. Seseorang mengatakan kepada Raja kalau Wooyung Gongju dan Ibu Suri telah lolos dari penjara. Raja sangat yakin kalau Sadokwang telah mengkhianatinya dan membantu mereka melarikan diri.. Heukjipyung mendesak Raja untuk melarikan diri juga.

KEMUDIAN

Jang dan pasukannya terus menunggu di luar benteng, sebuah bendera putih dikerek naik dari dalam benteng, pertanda mereka sudah menyerah.. Para prajurit dari Mugang Taeja bersorak dengan gembira.

Wangoo: Apa ini bukan sebuah tipuan?

Pintu Gerbang Savisong terbuka, dan para bangsawan ponguasa distrik mulai berjalan ke arah pasukan Jang, Jang berkuda menemui mereka. Para bangsawan itu berlutut di hadapan Jang.

Sadokwang: Kami menyambutmu di tempat ini, Mugang Taeja!

Para bangsawan: Kami menyambut kedatanganmu, Mugang Taeja!

Sadokwang: Kami telah dijadikan sandera oleh raja yang sekarang yang telah merampas tahta, kami tidak bisa banyak membantumu. Cheon Na, ampunilah kami!

Para bangsawang: Cheon Na, ampunilah kami!

Sadokwang:  Tapi mulai dari sekarang, semua pasukan pribadi kami menjadi milikmu, Cheon Na! Mereka akan mengiringi dirimu, Cheon Na!

Jang: Singkirkan senjata mereka!

Para bangsawan: Apa?

Jang: (Kepada Daejang) Singkirkanlah senjata dari semua pasukan pribadi dan  pimpin mereka keluar dari Istana untuk memperkenalkan diri mereka kepada dirimu!

Daejang: Ya! (Dia memberi perintah kepada anak buahnya.)

Para bangsawan: Ya, Cheon Na! Ya, Cheon Na!

Sadokwang: (kepada salah satu anakbuahnya) Sekarang, sebarkan perintahku kepada semua pasukanku untuk menyerahkan senjata mereka dan keluar untuk memperkenalkan dir mereka!

Baekjung juga memberikan perintah yang sama kepada orang-orangnya.

Jang: Ini adalah Istana! Ayo kita masuk ke dalam!

Giroo telah  menyaksikan semuanya itu dari dalam kereta tahanan.

KEMUDIAN

Pasukan pribadi Haedoju sedang berusaha untuk menangkap raja.

Buyeosun: Apa ini! Ayah mertua, apa ini?

Haedoju: …

Buyeosun: Istriku, apa sebenarnya yang telah terjadi?

Ratu: Yang Mulia. Aku akan mati bersama-sama denganmau. Tapi ijinkanlah ayahku dan nama keluarga kami untuk tetap bertahan.

Buyeosun: Istriku. Ayah mertua.

Haedoju: Maafkan aku. Tetapi aku hanya memiliki 1000 orang saja sekarang. Kita tidak bisa memenangkan pertempuran ini.

Buyeosun: Ayah mertua!. Istriku!. Ayah mertua!

Heukjipyung mulai bertarung dengan para prajurit pribadi Haedojui, membantu Buyeosun untuk melarikan diri.

Heukjipyung: Lindungi Yang Mulia! Lindungi Yang Mulia!

Haedoju: Raja berusaha melarikan diri. Tangkap dia! Kita harus menangkapnya sebelum Mugang Taeja masuk ke Istana Tangkap raja!

Haedoju: Bagaimana ia bisa menghilang seperti itu? Pergi mencarinya! Kita harus menemukannya sebelum Mugang Taeja masuk Cepat!

KEMUDIAN

Suara Daejang: Tangkap Buyeosun hidup-hidup! Dan hancurkan sisa pasukan dari  Haedoju.

Haedoju dan Ratu kemudian tertangkap Haedoju memerintahkan anak buahnya untuk tidak melawan dan menyerah.. Jang masuk dan orang-orang yang tertangkap dihadapkan padanya.

Haedoju: Cheon Na, Mugang Taeja! Aku mencoba untuk membunuh raja yang merampas tahta sebagai persembahan kepada dirimu, tetapi dia berhasil melarikan diri. Aku cukup yakin dia tidak akan bisa keluar dari Istana. Kau harus menghukum dia karena perbuatannya yang telah membunuh Aja Taeja dan Raja Weeduk, dan karena menipu rakyat dan para bangsawan penguasa distrik dengan tujuan untuk duduk di atas takhta.

Jang: Ya, aku akan melakukannya. Namun, selama pemeriksaan nanti aku harus menghakimi tindakanmuu juga. (Kepada Dooil) Jaga Ratu dan Sangjapyung di dalam Paviliun ratu!

Haedoju mencoba untuk mengajukan alasan kalau dirinya tidak bersalah, tapi Jang tidak mendengarkannya.

Jang: Apakah kau sudah menangkap semua pasukan pribadi di dalam istana?

Daejang: Sangjapyung memerintahkan mereka untuk menyerah, sehingga tugasku menjadi cukup mudah.

Jang: Temukan Buyeosun. Kau harus menemukan dia!

KEMUDIAN

Heukjipyung: Mengapa kau ingin bersembunyi di tempat ini? Aku sudah mengatakan kalau aku  tahu tempat persembunyian yang aman.

Buyeosun: Aku tidak akan bisa lepas dari pemgamatan semua orang yang berusaha menangkap diriku.

Heukjipyung: Tetapi, mengapa kau datang ke sini? Ini adalah Paviliun dari Wiesa Japyung. Aku yakin Jang dan anak buahnya akan segera datang ke sini.

Buyeosun: Itulah sebabnya aku datang kemari.

Heukjipyung: Yang Mulia …

Buyeosun: Aku tidak akan aman di manapun, sekarang ayah mertuaku dan Ratu telah mengkhianati aku.

Heukjipyung: Yang Mulia!

Buyeosun: Jadi aku akan memainkan kartu terakhirku. Jika Langit masih tidak meninggalkanku, Jang akan datang ke sini. Setelah memberikan perintah kepada anak buahnya, dia akan tinggal di sini sendirian. Itu akan menjadi kesempatanmu! Saat itulah kau harus membunuhnya!

KEMUDIAN

Wangoo: Kau akan butuh tempat tinggal sementara kami sedang memeriksa seluruh isi istana raja.

Jang: Aku akan tinggal di Paviliun dari Wiesa Japyung untuk saat ini. Di situlah aku dulu tinggal. Selain itu, semua dokumen resmi ada di sana.

Wangoo: Ya, silahkan melakukannya.

Wangoo kemudian Dia memerintahkan anak buahnya untuk memanggil Dooil dan Daejang ke Pavilun Wiesa Japyung untuk menjaga Jang.

KEMUDIAN

Suara Buyeosun: Kaulah satu-satunya orang yang tertinggal yang masih setia padaku sekarang.

Heukjipyung: Yang Mulia, bersiaplah untuk keadaan apa pun. Aku akan bersamamu sampai akhir.

Buyeosun: Untuk membunuh orang lain dengan tujuan menjadi seorang raja sangat mudah bagiku. Tapi setelah menjadi raja, aku merasa membunuh orang itu tidaklah semudah seperti sebelumnya. Setelah duduk di singgasana, aku sadar kalau aku harus menyembunyikan segalanya, bagaimana aku bisa sampai duduk di atas tahta.. Jadi aku harus, entah teurs melakukan pembunuhan, atau memberikan pengampunan sepenuhnya pada  para bangsawan penguasa distrik. Melakukan pembunuhan akan membuatku menjadi seorang raja tanpa kekuasaan. Namun, aku masih mengingini gelar itu. Mengapa? Karena ini adalah gelar Raja.

Heukjipyung: Ya, Yang Mulia. Kau akan duduk di atas takhta lagi! Jika kita memenggal kepala Jang dan menggantungnya di luar, segala sesuatunya akan kembali normal.

Buyeosun: Benar!

KEMUDIAN

Jang masuk ke paviliun Wiesa Japyung. Wangoo memerintahkan anak buahnya untuk menjaga pintu masuk

Jang: Kau masih belum dapat menemukan raja perampas tahta itu?

Daejang: Belum

Jang: Apa yang sekarang sedang dilakukan oleh para penguasa distrik?

Daejang: Kami menjaga Ratu dan Haedoju di dalam Paviliun ratu. Kami juga menjaga semua masing-masing dari para penguasa distrik dalam kamar-kamar pribadi mereka untuk saat ini.

Jang: Bagaimana dengan para pasukan pribadi?

Daejang: Kami sedang memeriksa mereka dan setelah mengambil senjata mereka, kami akan mengirim mereka keluar Savisong.

Wangoo: Orang-orangku sedang melakukan hal yang sama dengan para prajurit dari Haedoju yang berada di dalam Istana.

Jang: Kau harus menghancurkan mereka sepenuhnya untuk mencegah pemberontakan. Jadi lakukanlah dengan sangat seksama!

Wangoo: Baik!

Jang: Mungkin ada pertumpahan darah jika kau tidak menyelesaikan ini dalam beberapa jam. Jadi kalian semua harus bertindak secepatnya!

Semua: Baik!

Tiga pria itu meninggalkan Jang sendirian. Jang mengambil sebuah buku dari atas meja dan duduk di kursi)

Jang: (kepada dirinya) Buyeosun … di mana dia bisa bersembunyi?
Apakah kau ingin menguji siapa di antara kita yang lebih cepat membunuh?

Heukjipyung bersiap-siap untuk melompat ke Jang, tapi Jang juga mendengar suara di bawah meja.. Mereka berdua segera mengeluarkan senjata mereka pada waktu yang bersamaan.

Heukjipyung: (mengarahkan pisau ke leher Jang) Aku sudah menunggumu. Aku sudah menunggu saat ini untuk membunuhmu.

Jang: Turunkan.

Heukjipyung: Kau tidak dapat berbicara kepadaku dengan nada seperti itu!

Jang: Turunkan pisaumu, sebelum aku menikamnya lebih dalam.(Pedang Jang sedang menusuk punggung dari Buyeosun) Apakah Kau ingin menguji siapa di antara kita yang dapat membunuh lebih cepat?

Buyeosun: Aku tidak apa-apa!  .. Teruskan saja dan bunuhlah Jang!

Heukjipyung mulai bimbang, Jang merasakannya dan segera menyerangnya sehingga Heukjipyung terpaksa mundur, Jang mengarahkan pedangnya pada Heukjipyung. Tiga perwira dari Jang memasuki ruangan.

Jang: Dia ada di bawah meja.

Wangoo: (pada Buyeosun) Keluarlah sekarang! (Buyeosun diseret keluar dari bawah meja)

Heukjipyung: Yang Mulia! Yang Mulia!

Jang: Seret mereka pergi! Aku akan menghakimi mereka di depan umum, bersama dengan Wiesa Japyung!

KEMUDIAN

Rakyat menyaksikan Giroo ditawan di kereta tahanan. Mereka mulai menggoncangkan kereta dengan penuh kemarahan. Tiba-tiba, beberapa petarung yang dipimpin oleh Goosan, membuka pintu kereta tahanan denagn paksa dan membawa Giroo pergi. Kim Saheum berada di dekat tempat itu, menunggu untuk menyelamatkan anaknya.

KEMUDIAN

Daejang: Kita sedang dalam masalah sekarang!.

Jang: Apa maksudmu?

Daejang: Sataek Giroo lolos. Itu terjadi tepat di luar Istana. Orang-orang kita akan mengejarnya sekarang.

Jang: Dia harus ditangkap! Giroo adalah orang yang memanipulasi semua kelemahan raja perampas tahta ini. Kau harus menangkap dia dengan segala cara!

Daejang: Baik!

Wangoo: Ibu Suri ada di sini.

Jang: Benarkah? (Ibu suri masuk, kepadanya) Aku sangat lega melihat kau selamat dan tidak kurang suatu apapun..

Ibu Suri: Wooyung disiksa dan dia sedang menerima perawatan di paviliunnya sekarang. Kau harus pergi menemuinya.

Jang: Baiklah!

Ibu Suri: Hanya ada satu hal yang aku harapkan darimu. Kau tidak boleh lupa bahwa kau dapat berada di tempatmu sekarang karena pengorbanan kami. Terutama Wooyungku, setiap kali hidupmu dalam bahaya, dia mempertaruhkan hidupnya untuk menyelamatkanmu. Juga … Woochaeku … Kumohon jagalah keluarga kami.

KEMUDIAN

Jang: Bagaimana keadaanya?

Instruktur Gomo: Dia disiksa dengan hebat. Aku pikir kalau dia tidak akan pulih kesehatannya untuk sementara waktu.

KEMUDIAN

Suara: Mugang Taeja ada di sini.

Wooyung: (berusaha berdiri dan membungkuk) Mugang Taeja Cheon Na! (Tuanku Pangeran Mahkota Mugang)…

Jang: Kau seharusnya tetap berbaring saja!

Wooyung: Tidak, bagaimana aku bisa menerima Cheon Na seperti itu?

Jang: Kalau begitu setidaknya duduklah! Kau sangat menderita karena aku. Maafkan aku.

Wooyung: Akulah yang harus minta maaf. Sebenarnya, aku berpikir bahwa satu-satunya hal yang aku bisa lakukan untukmu sekarang adalah dengan memberikan kalung Pangeran KE-4, jadi aku mengambilnya dan membawanya bersama denganku. Tapi aku menjatuhkannya dan kakakku menemukannya. Itulah alasan pemberontakanmu saat di Sondoksa gagal.

Jang: Jangan berpikir seperti itu! (Sambil menunjukkan kalung Pangeran Ke-4). Saat benda ini kembali ke tanganku di Sondoksa, aku tahu kalau aku akan menang. Aku juga menghargai hatimu, dan semua yang telah kau pertaruhkan untuk membantuku. Aku berterima kasih … Sekarang beristirahatlah dahulu.

KEMUDIAN

Melihat anak perempuannya kembali, Ratu Shilla menangis terharu dan gembira.  Suaranya bercampur dengan sukacita dan teguran pada Sunhwa.

Sunhwa: Ibu …

Ratu: Kau sangat menderita ….

KEMUDIAN

Jang: Apa? Giroo menyeberang perbatasan dan menuju ke Shilla?

Daejang: Ya. Mereka mengikutinya sepanjang perjalanan ke sana, tapi ia kemudian menyeberangi perbatasan dan menghilang. Apa yang harus kita lakukan sekarang?

Jang: (Kepada Wangoo) Apakah kau membawa semua dokumen?

Wangoo: Ya!

Jang: Apakah semuanya sudah siap?

Semua: Ya!

Jang: Ayo kita pergi!.

KEMUDIAN

Seluruh bangsawan anggota Dewan Istana bangkit ketika Jang masuk dan kemudian duduk di atas takhta di Balairung Istana.

Wangoo: (meletakkan sebuah perkamen di hadapan para bangsawan) Ini adalah sebuah dokumen yang ditinggalkan oleh Raja Weeduk. Sebelum Raja Whae (Buyeo-Gye) duduk di atas tahta, Raja Weeduk menunjuk Putera Ke-4 darinya sebagai Mugang Taeja. Dokumen-dokumen telah distempel dengan Segel Kerajaan untuk upacara ini juga telah disimpan dengan baik di Kantor Istana, di dalam ruang sejarah di Akademi. Silakan melihatnya pada semua ruangan itu.

Suara Raja Weeduk: Akulah Raja ke-27 dari Baekje, Raja Weeduk. Aku menunjuk Putera Ke-4 ku sebagai Putera Mahkota, setelah Putera Mahkota Aja. Namanya akan disebut sebagai Mugang!

Haedoju: Aku Doksansuns Haedoju. Aku akan mematuhi perintah Raja Weeduk! Cheon Na, Mugang Taeja!

Sadokwang: Aku Sadokwang Nosaji Aku akan mematuhinya!

Baekjung: Aku Baekjung Byukjoong. Aku akan mematuhnya.

Semua orang: Aku akan mematuhi Mugang Taeja Cheon Na!

Jang: Semua bangsawan penguasa distrik telah mengakui diriku.  Sesungguhnya Aku sekarang adalah Pangeran Mahkota dari Baekje, dan pewaris takhta setelah Raja Weeduk. Tugas pertamaku adalah mengadakan pengadilan rakyat terhadap raja perampas tahta, Buyeosun. Kalian semua harus keluar dan menyaksikan ini!

Semua orang: Baik! Taeja Cheon Na!

KEMUDIAN

Buyeosun sedang mengingat penobatannya, dan kemenangan demi kemenangan yang ia dapatkan selama peperangan di masa lalu.  Ia juga mengingat ketika petempuran di Benteng Cheonwie.

Suara Jang: Kau telah mengingkari janjimu!

Suara Buyeosun: Aku tidak menepati janjiku pada yang lemah. Jika kau ingin aku memenuhi janjiku kepadamu, jadilah kuat!

Jang: Kami bukanlah senjata! Kami adalah manusia!

Buyeosun: (mendesah) aku seharusnya membunuhnya dulu!

Heukjipyung: Apakah kau berbicara mengenai Jang?

Buyeosun: Semakin aku menyukainya, bahkan ketika ia berpihak pada musuhku … semakin aku menyukainya, aku seharusnya sudah membunuhnya. Aku benar-benar menyukainya, jadi aku seharusnya membunuhnya langsung pada waktu itu! Aja selalu berpikir apa yang seharusnya ia lakukan setelah ia menjadi raja. Aku hanya memikirkan bagaimana aku bisa menjadi raja.

Ini adalah perbedaan antara orang yang memang terlahir untuk menjadi raja dan seseorang yang telah merampas gelar itu bagi dirinya. Itu sebabnya aku merasa kalau Aja tidak begitu aktif dalam politik. Aku selalu harus bekerja keras untuk membuktikan diri kepada orang lain. Aja tidak perlu melakukan apa pun. Tapi alasan terbesar mengapa aku tidak bisa membunuh Jang adalah karena Aja sangat menyukainya!

Aku tidak punya kesempatan untuk memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah aku menjadi raja. Jadi aku pikir kalau aku bisa mencuri ide dari Aja juga melalui diri Jang..

Tapi ternyata, aku dapat merebut tahkta tapi tak dapat merebut hati rakyat ….

(Daejang datang untuk membawa para tahanan ke halaman pengadilan.)

Jang: (sedang membaca) Siapa nama penjahat ini? Aku meminta namamu sekarang!

Buyeosun: Bagaimana mungkin seseorang yang duduk di tahta memanggil seseorang yang duduk di atas takhta sebelumnya sebagai seorang penjahat? Satu-satunya kejahatanku adalah karena aku telah kalah! Aku tidak menyesal membunuh Aja Taeja dan Raja Weeduk!.

Jang: Kau sama sekali tidak menyesal? Kau bahkan tidak menyesal telah membantai rakyat yang tidak bersalah?

Buyeosun: Itu adalah situasi antara hidup atau mati.

Jang: Situasi antara hidup atau mati? Kau menganggap membunuh banyak orang untuk duduk di atas takhta adalah situasi antara hidup atau mati? Inilah sebabnya mengapa Kau kalah!. Bagaimana besarnya keinginanmu untuk naik tahta, sebesar itu pula keinginan rakyat untuk hidup sebagai rakyat biasa dari kerajaan ini. Orang lain mungkin mencuri dari mereka, tetapi semua yang mereka inginkan adalah untuk hidup secara nyaman, dan aman.

Tapi kau, di sisi lain, kau inigin untuk memiliki lebih dari apa yang sebenarnya sudah kau miliki. Karena ambisimu, kau telah mengambil dari rakyat, segalanya yang mereka miliki., kebebasan mereka. Bila kau melanggar batas itu, semua yang kau pedulikan adalah keselamatan dirimu, dan rakyat akan bangkit menentangmu!.

Jadi Kau kalah dalam perang ini, yang mana sebenarnya kau berperang dengan rakyatmu sendiri. Bagimu, peperangan ini adalah keinginanmu untuk memiliki lebih lagi. Tapi bagi rakyat, hidup merekalah yang  dipertaruhkan. Satu-satunya cara supaya kau dapat bertahan hidup sekarang adalah pergi kepada rakyat, mengakui kejahatanmu dan meminta mereka untuk mengampuni dirimu.

(Kepada Daejang) Bawa raja perampas tahkta ini, Buyeosun dan Heukjipyung ke hadapan rakyat!

Mereka dibawa ke luar, dalam perjalanan itu Heukjipyung berhasil membuka ikatan tangannya. Rakyat berkumpul dan terlihat seperti kerumunan semut saking banyaknya … Arwah dari Pangeran Aja dan Raja Weeduk juga ada di sana, berdiri di antara rakyat, berjalan menuju Buyeosun.

Buyeosun: Tidak, ini tidak mungkin ….

Arwah Aja: Dendamku akhirnya terbalaskan!

Arwah Weeduk: Ini adalah balas dendamku untuk membunuh putraku. Tidak, ini adalah pembebasan kerajaan! (Pangeran dan Raja mengarahkan pedang mereka ke Buyeosu)

Buyeosun: Biarkan aku hidup! Kumohon biarkan aku hidup! Aku salah! Heukjipyung, kau memohonlah pada mereka juga! Ayo! Aja Taeja dan Raja Weeduk sedang berjalan ke arah sini. Mohonlah belas kasihan mereka! Aku telah bersalah!.(Berlutut) Biarkan aku hidup! Biarkan aku hidup! (Berteriak seperti orang gila) Biarkan aku hidup!

Heukjipyung tak dapat menahan rasa pilu di hatinya melihat kondisi rajanya, membuka ikatan dirinya, mengambil pedang dari salah satu penjaga dan menusuk Buyeosun. (Daejang terkejut dengan perbuatan Heuk

Buyeosun: Terima kasih. Terima kasih untuk membuatku keluar dari penderitaan ini.

Heukjipyung: Yang Mulia! …. Yang Mulia!

Buyeosun: Tapi … apa yang harus aku lakukan sekarang? … Jika aku pergi ke dunia lain … dan bertemu Aja dan Raja Weeduk … aku tidak ingin … (Dia meninggal.)

Heukjipyung: Yang Mulia! …. (berteriak sedih) Yang Mulia! …. (rakyat tidak mengerti dengan perbuatah Heuk …  mereka juga merasa kasihan pada Sun)

Jangan khawatir Yang Mulia!. Kemanapun rajaku pergi, aku akan pergi kesana juga. Aku akan menjagamu di sana juga … (Dia mengambil pedang dan dia membunuh dirinya sendiri) Yang Mulia …

Catatan: Dalam sejarah yang tertulis, Buyeo-Gye nantinya akan menjadi Raja dengan gelar Raja Hye (tahun 598-559) dan kemudian diteruskan oleh Buyeo-Sun dengan gelar Raja Beop (tahun 559-600), yang dalam sejarah sebenarnya tidak suka dengan pembunuhan. Ia mengeluarkan maklumat melarang semua pembunuhan, termasuk perburuan. Bahkan ia juga memerintahkan untuk melepaskan semua elang, membakar alat-alat nelayan dan perburuan. Gelarnya Beop pun dapat diartikan secara kasar adalah “raja yang mematuhi hukum” atau “raja yang mengamalkan dharma”, yang berkaitan dengan agama Buddha. Beop juga yang memerintahkan pembangunan Kuil Wangheungsa yang nantinya akan diselesaikan oleh Raja Mu (Jang). Jadi harap diingat kalau drama ini walaupun berdasarkan fakta sejarah, tetapi sebenarnya masih tetap sebuah fiksi, jadi jangan ditelan mentah-mentah ya😀

KEMUDIAN

Baekjung: Apa yang Kau pikir yang akan terjadi pada Haedoju?

Sadokwang: Aku tidak yakin mengenainya…. …

Baekjung: Dia emngubah pikirannya pada menit-menit terakhir. Selain itu, ada Wooyung Gongju dan Ibu Suri. Aku tidak berpikir kalau raja akan membuat keluarga Hae menjadi musuhnya.

Sadokwang: Tapi kita harus lebih cemas tentang diri kita sendiri sekarang!

Baekjung: Mengapa?

Sadokwang: Kita mungkin tidak memiliki keuntungan sebanyak keluarga Hae, tapi siapa di antara kita yang belum menerima bantuan dari raja perampas tahta itu? Dan siapa di antara kita yang membantu Raja Weeduk selama perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh raja perampas itu?

Baekjung: Namun, Taeja tidak memiliki dukungan politik di belakangnya, jadi dia tidak akan menyentuh kita!

Sadokwang: Dia memang tidak dapat menyentuh kita, tapi … kita tidak boleh meremehkannya.

KEMUDIAN

Ibu Suri: Akhirnya semuanya sudah berakhir, dengan cara seperti ini pula … Setelah apa yang ia alami sampai sejauh ini?

Wooyung: Siapa pun yang ada di posisi kakakku bisa bertindak seperti itu …..

Ibu Suri: Bagaimanapun, kau benar. Upacara penobatan Putera Mahkota akan dilakukan segera. Kita harus mengajukan dirimu untuk pernikahan setelahnya]

Wooyung: …

Ibu Suri: Mengapa Kau begitu terkejut? Bukankah ini yang kau impikan setelah semua yang telah kau lalui… gelar ratu? Itu juga merupakan cara yang pasti untuk mengembalikan kekuatan kepada keluarga Hae kita.

KEMUDIAN

Kim Saheum (ayah Giroo): Kau belum cukup kuat. Mengapa kau sudah keluar kamar?

Giroo: Aku tidak pernah membayangkan kalau aku akan melihat Haneulchae lagi …

Kim Saheum: Jangan memikirkan apa pun sekarang. Hanya berusahalan mengembalikan kesehatanmu!.

Goosan: Raja telah meninggal!

Kim Saheum: Apa!

Giroo: Jadi pada akhirnya … Jang … Jang …

KEMUDIAN

Jang berjalan di sekeliling  Istana, masih memakai jubah pangeran. Dia kemudian memasuki kamar ayahnya dan ketika ia akan pergi, ia mendengar ada suara. Jang kemudian berbalik untuk melihat …

Arwah Aja: Bukankah ini Jang

Arwah Weeduk: Kau pasti telah melalui begitu banyak penderitaan. Sekarang kau tampak sangat lelah.

Arwah Aja: Itulah apa yang akan kukatakan. Dia masih memiliki begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukannya sendirian. Istirahatlah di sini untuk sementara.

Arwah Weeduk: Ya, itu semua yang bisa kita lakukan untukmu sekarang. Jadi datanglah kemari dan istirahatlah sejenak.

Jang tampak terkejut, senang dan sedih … dan segera, arwah dari ayah dan kakaknya lenyap

Jang: Tinggallah di sini bersama denganku, bersama-samaku … Tetaplah denganku!

Suara wanita: Taeja Cheon Na!

Jang: (Ia berbalik, melihat Sunhwa, dan dia tersenyum dengan sukacita) Tuanku Puteri, kau kembali? Aku sangat sedih karena kau tidak ada di sini … Aku sedih karena tidak ada orang di dekat …

(Ekspresinya wajahnya berubah saat dia menyadari kalau ternyata wanita yang ada di depannya adalah Wooyung)

Wooyung: Cheon Na … (Jang pergi, kecewa.) “Tuanku Puteri?” (Wooyung bertanya-tanya siapa sebenarnya yang dipanggil oleh Jang)

KEMUDIAN

Bomyung: Raja perampas tahkta telah meninggal. Mugang Taeja telah berhasil dalam pemberontakan itu!

Chogee: Kalau begitu dia akan segera menjadi raja! Bagaimana ini bisa terjadi?!! Kau tidak akan dapat menghadiri upacara penobatannya! Raja kita tidak akan pernah mengizinkanmu untuk pergi keluar sama sekali … Apakah ini akan menjadi akhir dari kalian berdua?

Bomyung: Namun, Gongju, aku percaya raja kita sedang berpikir untuk mengirimmu kembali ke Baekje. Ini adalah apa yang aku dengar …

KEMUDIAN

Raja Jinpyung: Raja Baekje telah digulingkan dan seorang raja baru telah mengambil alih.

Chunmyung (kakak Sunhwa): Aku juga telah mendengarnya ..

Raja Jinpyung: Sama seperti nenek moyang kita Raja Jini, aku ingin pergi berperang melawan Ko-Kuryo dengan bantuan dari pasukan Baekje.

Chunmyung: Apakah ini mungkin? Raja Jini mengkhianati raja Baekje saat itu, dan Baekje tidak pernah melupakan peristiwa itu sampai hari ini.

Pria: Benar, Yang Mulia. Kau tidak perlu terburu-buru dengan hal-hal ini. Kau dapat merencanakan hal seperti itu setelah mengevaluasi raja yang baru dari Baekje.

Raja Jinpyung: Itu tidak akan terjadi. Segera setelah penobatannya selesai, aku akan mengirim Sunhwa Gongju sebagai duta besar dari Shilla.

Chunmyung: Yang Mulia, Kau tidak bisa melakukan itu. Kami setuju mengangkatnya kembali sebagai seorang Gongju dengan syarat kalau dia tidak akan terlibat dalam politik. Apakah kau telah melupakannya?

Raja Jinpyung: Aku belum melupakannya, tapi ini adalah kasus yang berbeda.

Chunmyung: Apa maksudmu?

Raja Jinpyung: Pria yang dicintai Sunhwa Gongju  … Pria Baekje itu adalah Mugang Taeja. Dia adalah orang yang akan menjadi Raja Baekje. Segera setelah upacara penobatan, aku akan mengirim Sunhwa untuk misi perdamaian. (Kakak Sunhwa menentangnya dan sangat tidak senang, tetapi Raja tetap bersikeras mengenai keputusannya.

KEMUDIAN

Sunhwa: Apakah Ayahanda Raja benar-benar mengatakan itu?

Bomyung: Ya!

Chogee: Apakah ini berarti kalau kita akan dapat menemui Seodong Gong sebagai raja yang baru dengan segera?

KEMUDIAN

Upacara Penobatan

Teman-teman Jang sangat senang melihat Jang akhrinya dapat naik ke tahta.

Wangoo: Ibu Suri menyerahkan kotak Segel Raja Weeduk!

Ibu Suri: Ini adalah dokumen penobatannya. (Semua orang membungkukkan tubuh mereka)

Wangoo: Ini adalah Wooyung Gongju. Semoga Raja menerima ucapan selamat darinya!

Wooyung: Hidup Raja (dia menyembah).

Sadokwang: Hidup Raja (yang lainnya mengikuti).

Suara Mokrasu:

Raja yang dipermalukan akan melahirkan kesedihan,
Kesedihan akan melahirkan anak karena kesalahan.
Yang lahir dari kesalahan akan menyalakan dupa,
dan yang menyalakan dupa ini akan menjadi Raja.
Raja ini akan membangkitkan Baekjae kembali,
dan akan menerima kehormatan besar dan segala pujian.

KEMUDIAN

Jang: Hanya ada satu hal yang aku harus lakukan sebagai seorang raja. Aku harus memastikan bahwa setiap orang dapat hidup dengan nyaman. Itu cukup mudah, dan semua dari kalian tahu bagaimana untuk melakukannya. Aku, bersama dengan kalian semua, harus melindungi rakyat kita dan memastikan mereka hidup dan makan dengan baik. Kalian harus melepaskan diri dari kekerasan yang mendominasi selama pemerintahan raja perampas itu, dan tidak peduli alasan apapun, kalian harus mengembalikan tanah yang telah kalian rampas dari rakyat!

Dan selain dari segala sesuatu yang dapat membantu kemajuan bangsa, kalian semua harus menghentikan semua kegiatan pribadi yang menguntungkan diri kalian sendiri, seperti membentuk pasukan pribadi. kalian sudah tahu ini adalah satu-satunya cara untuk membawa kemakmuran bagi Baekje, sehingga kalian semua harus mengikuti perintahku dan bekerjasama denganku untuk membangun kembali kerajaan Baekje.

Semua: Baik, Yang Mulia!

KEMUDIAN

Eunjin: Bukankah raja terlihat sangat tampan selama penobatan?

Woosoo: Dia benar-benar tampak berbeda, seperti orang lain.

Bumro: Bagaimana ya sekarang perasaannya?

Woosoo: Apa maksudmu?

Bumro: Bagaimana rasanya duduk di takhta? Kita tidak akan pernah merasakan itu. Tidakkah dia merasa kalau dia seperti ada di surga sekarang? Apakah dia merasa seperti melayang di udara? Aku sangat penasaran.

Eunjin: Tidakkah ia merasa seperti ini? Sedikit gugup, dan tidak tahu ke mana harus melihat.. Merasa sedikit malu dan bahagia pada saat yang sama …

Woosoo: Bagaimana kau mengetahuinya begitu baik?

Eunjin: Aku pernah mengalami itu sebelumnya.

Bumro: Kapan?

Eunjin: Apakah kau tidak ingat? Waktu di Haneulchae ketika kita mengenakan pakaian yang kubuat dan kemudia ditampilkan kepada semuanya?.

Bumro: Bagaimana Kau bisa membandingkan itu dengan saat sekarang! Aku malu setiap kali aku memikirkan itu. Aku merasa seperti ingin bersembunyi … Jika itu adalah perasaan dari seorang raja, aku tidak ingin menjadi raja. Aku lebih suka mati.

Wooyung: Apakah kalian semua sudah menata kamar dengan rapi?

Semua: Ya!

Wooyung: Ya, aku mendengar seberapa keras kalian semua bekerja untuk raja kita, selalu mengikuti dirinya kemanapun ia pergi.

Eunjin: Kami hanya melakukan tugas kami.

Wooyung: Tapi … Bagaimana mungkin aku tidak melihat Pedagang Jin di sini?

Eunjin: Ya?

Wooyung:  Mengapa dia tidak ada di sini?

Woosoo: … Lihat! Bukankah itu Mojin di sana?

KEMUDIAN

Makdosu: Apakah Kau tahu sesuatu?

Anggota Akademi: Apa?

Makdosu: Raja dan aku tumbuh seperti seorang ayah dan anak. Ada alasan yang mendalam untuk itu, yang aku tidak bisa menjelaskan kepadamu dengan kata-kata. Itulah mengapa aku bisa menjadi seperti ayahnya. Dan kau tahu sesuatu yang lain?

Anggota Akademi: Apa?

Maekdosu:  Aku bisa dipromosikan ke posisi tertinggi segera …

Anggota: Sungguh?

Maekdosu:  Aku menempatkan hidupku di garis terdepan untuk melindungi raja sebelum ia naik di atas takhtanya. Aku tidak bisa menceritakannya …

Mojin: Maekdosu, apakau kau masih belum mendapatkan suatu pelajaran? Apakah Kau masih menggunakan nama raja di belakangnya?

Makdosu: Mojin! Apakah Kau datang untuk tinggal di isni? Apakah Kau tinggal di sini dengan kita mulai dari sekarang? (Mojin mengangguk)

Eunjin: Bu! (Mereka berpelukan) Aku sangat merindukanmu.

Makdosu: Aku sangat senang sekarang. Akademi ini sekarang kelihatannya kembali normal!

KEMUDIAN

Sarjana 1: Ini adalah buku hukum tentang distrik yang telah jadi dan dikerjakan di Choosondo oleh Mojin dan kami. Menurut Guru Mokrasu, raja kita sangat memperhatikan bagaimana mendapatkan sumber daya yang akan memotivasi orang untuk bekerja keras untuk memenuhi harapan dan impian mereka.

Jang: Ya. Jadi apakah kalian sudah menemukannya?

Sarjana 1: Kita akan mendapatkannya dengan membagikan tanah pada rakyat yang membutuhkannya. Kita harus megnhentikan kerja paksa dan membagikan tanah kepada mereka sebagai gantinya.

Jang: Sebuah hukum pembagian tanah? Ini akan bersentuhan langsung dengan perkebunan para bangsawan.

Sarjana 3: Ya. Banyak perkebunan yang harus dipindahkan..

Jang: Semuanya ternyata berbalik menjadi prjuangan melawan para bangsawan penguasa distrik. Pembagian tanah, restrukturisasi prajurit pribadi dari mereka dan pengukuhan undang-undang baru …

Sarjana 3: Benar, Yang Mulia.

Jang: Kalian semua telah melakukan pekerjaan yang besar. Aku akan membaca buku ini dengan seksama dan aku akan bertemu dengan kalian semua secara pribadi nanti. Istirahatlah dulu untuk saat ini.

Semua sarjana: Baik! Yang Mulia.

Jang: Selain itu, kalian semua akan dipindahkan ke akademi dan dari sana kalain akan bekerja untukku. Siapa pun itu, apakah tua atau muda, kaya atau miskin, temukanlah orang-orang yang berbakat.

Semua: Baik, Yang Mulia!

KEMUDIAN

Wangoo: Yang Mulia. Pergilah ke kamarmu untuk membaca ini. Kurasa tidak nyaman jika kau membaca di sini.

Jang: Buku ini dibuat dengan darah dari Guru Mokrasu. Aku tidak bisa membacanya dengan nyaman. (Ia ingat saat ia mengirim gurunya pergi …)

Suara Mokrasu: Selamatkan aku, Jang … Jang, selamatkanlah aku. Jang, Jang, selamatkanlah aku! Jang!

KEMUDIAN

Mojin sedang mencari-cari di sekitar Akademi Dia menemukan benda peninggalan dari Mokrasu, dan ia mulai menangis, memanggil namanya.. Jang masuk dan mengawasinya.

Wangoo: Raja ada di sini …

Mojin: Yang Mulia …

Jang: Kau pasti sangat membenciku sehingga kau tidak mau datang untuk menemuiku?

Mojin: Yang Mulia, bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu?

Jang: Aku berjanji padamu kalau aku akan mengirim guru kepadamu setelah semuanya selesai, tapi aku tidak bisa menepati janjiku. Maafkan aku. Aku harus pergi ke Wonsando. Aku harus pergi menemuinya dan memohon ampun padanya. Kumohon, ikutlah aku.

WONSANDO

Jang, Mojin, Wangoo, Maekdosu, Eunjin, dan Bumro, serta beberapa pengawal mengelilingi pantai Wonsando dalam rangka mencari Guru Mokrasu.

Mojin: Ini mungkin gua yang biasa digunakan oleh Guru.

Makdosu: Lihat, bukankah itu  asap yang datang dari arah sana?

(Jang terlihat terkejut.)

27 comments on “Song Of The Prince [Seo Dong Yo] – Episode 51

  1. semangat ya bang andy…terimakasih ya,walau segudang kesibukan kerjaan menunggumu,masih menyempatkan menghilangkan rasa penasaran kami pada jang,pangeran Jang…semangat ya..

  2. DUH,……………… MO NANGIS RASANYA……..
    KASIAN MOKRASU,……… HARUS BERJUANG SNDIRI…., PASTI MENGHARUKAN BGT WAKTU JANG KETEMU KLO GURUNYA MSH HDUP……!!!!!!!, DUH….. PENGEN JERIT SEKERAS MUNGKIN JADINYA…
    AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA……!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    SORRY MAS ANDY, KITA PRESS TERUS WLO KRJAAN NUMPUK,
    MOGA SINOPSIS2Y BISA MNG INSPIRASI KITA SMUA AGAR JD LEBIH BAEK……

  3. wahhhhhh….aku seneng bgt akhirnya si jendral sun mati jg……oia klo g’ slah entar jang ketemu lagi kn dengan mokrasu di wonsado…..coz Q pernah liat di you tubex koq jang berpelukan ma guru mokraso ya……????

    ayo mas Andi smangat tinggal 4 episode lagi….udah g’ sabar nih pengen liat jang nikah ma Sunwa…….waduh keren abizzzz poko’x jang ganteng bgt jdi raja…….hidupppp Jang….

  4. semakin seru nih…… mas andy yg semangat ya…..minum vitamin ya….biar gak sakit untuk nerusin cerita ini…..pokokx gak bakalan dilupain deh jasanya hehe……go …. go….. episode selanjutx……

  5. akhirnya Jang jadi raja,,,,horreeeee……

    Tapi kenapa giroo ngk mati sich?! Bakalan jadi duri dlm daging lagi nich makhluk…

  6. Wah akhirnya Jang jadi Raja.. Btw woyoung gak ambil kesempatan minta di nikahi ma jang gak ya, coz jang hanya untuk putri sunwha bukan orang lain..Bos lanjut di tunggu lanjutanya.. Thanks

  7. 52 bisa dipercepat? Kemaring Jang telp ne…katanya mas andy disuruh mempercepat yang 52, biar bs ketemu Jang lagi….

  8. Ko Andy,, terusin y eps slnjutx… bener” seru nih cerita ^ ^ ko andy,, sehat trus y spy bisa nerusin nii… salut bwt Ko andy,, hehe,, moga wooyoung gk mnt dinikahin ma Jang, moga Jang bisa nikah ma Sunhwa… giroo=die X_X

  9. komen u notenya bang andy, mgkin buyosun menyesal stelah melakukan pembantaian dipasar,itujd hukum yg dibuat stelahnya bukan krna kebaikan hatinya tp mmg agar tidak ada lg pembunuhan krn dia takut dia jg akan dibunuh, makanya dia membuat hukum itu……….ingat kan ketika dia panik sampai jang blng kl dia akan memarahi hembusan angin…..jd dia takut sm karma dirinya aja

    • nga juga … di wikipedia tulisannya seperti itu, lagian ini fiksi koq, kita juga nda tau kebenarannya soalnya kisah kehidupan Hye dan Beop tidak terlalu banyak …. juga di d addcict dituliskan kalau drama ini secara ‘bebas’ bercerita mengenai keadaan waktu itu, jadi ya emang fiksi😀 tapi disesuaikan dengan sejarah … gitu😀

  10. krennnnnn lanjutin trusss ampee mnuju ke menangannnn
    jgan lupa jaga tho kesehatan biar gax cpek bawa crita nya

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s