Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 19

Ahn Kwang Ik menceritakan kehidupan Rahib Samjeuk, atau Kim Min Se, yang akhirnya memiliki seorang anak laki-laki, walaupun sedikit terlambat karena dirinya sudah beranjak tua. Anak laki-laki Min Se, Kim Sanghwa, sangat cerdas dan Min Se sangat mencintainya.

Suatu hari seorang petugas medis menemuinya dan memberikan kabar kalau dia harus pulang ker rumah karena puteranya menghilang. Min Se sangat terkejut dan ia segera pulang ke rumahnya. Ahn Kwang Ik sendiri menyssulnya. Semua orang tidak tahu kemana Sanghwa pergi dan beberapa orang sudah disebar untuk mencari kabar dari Sanghwa. Kemudian salah seorang pegawai tua mengatakan, “Pagi hari saat Tuan Muda sedang bermain di depan pintu utama, penderita lepra lewat.”

Kim Min Se sangat terkejut dan masygul, istrinya langsung pingsan mendengar itu. Pencarian besar-besaran segera dilakukan sampai malam hari. Min Se membagi dua kelompok, satu mencari ke sepanjang sungai, dan yang kedua ke arah kota. Min Se sendiri melangkah tidak tentu sambil meneriakkan. “Sanghwa …. Sanghwa…”

Min Se terus mencari anaknya sampai ke suatu daerah terpencil, di sana ia menemukan satu gubuk, Min Se sedikit ragu-ragu tapi kemudian ia berjalan ke arah gubuk itu. Ketika mendekati gubuk itu Min Se melihat salah satu sepatu anaknya, yang diberikannya sebagai hadiah. Min Se merasakan hatinya seperti tenggelam ketika melihat ke dalam gubuk itu dan menemukan tiga orang penderita lepra, pria wanita dan satu anak perempuan sedang makan, tapi anaknya tidak ada. Min Se sangat murka, ia mengambil cangkul dan mengayunkannya ke arah tiga orang itu  sambil berteriak penuh amarah dan putus asa …… Ketiga penderita lepra itu hanya melihat ke arahnya, pasrah …..

Beberapa saat kemudian Min Se keluar dari gubuk itu bersimbah darah, pikiran warasnya kembali dan ia sangat terkejut melihat tangan dan bajunya penuh berlumuran dengan darah. Gubuk di belakangnya terbakar akibat anglo membara  yang terguling di dalam gubuk. Min Se menangis menyesali perbuatannya dan juga akan nasib anaknya. Semua kejadian itu terjadi sangat cepat tanpa ada waktu memikir ulang bagi Min Se.

Min Se berjalan gontai menjauh dari tempat mengerikan itu dengan pakaian masih bersimbah darah, ia kemudian bertemu dengan seorang anak berjubah hijau, jubah anaknya dan mengira itu anaknya, tetapi ternyata itu adalah seorang anak laki-laki lain.

Anak itu sangat ketakutan melihat keadaan dari Min Se dan mengira Min Se akan membunuhnya. Anak itu lari dan dikerjar oleh Min Se, yang kemudian menangkap dan mengamatinya. Anak itu ketakutan dan meemohon pada Min Se agar tidak membunuhnya karena ia hanya memakan ular dan kepala ular saja. Min Se hanya mengawasinya tak tahu harus berbuat apa. Anak itu kemudian melepas jubah hijau dan mengatakan kalau ayahnya yang memberikan itu padanya dan mengatakan kalau ia tidak pernah melukai pemilik baju itu.

Kim Min Se tahu sekarang ternyata anak ini adalah anak tertua dari penderita lepra yang dibunuhnya. Anak itu berulang-ulang memohon Min Se agar tidak membunuhnya, ia ahnya makan ular dan kepala ular saja. Min Se terpukul hatinya, memeluk anak itu dan menangis. Anak itu berulang-ulang mengatakan kalau ia tidak melukai anak Min Se. Min Se tetap memeluknya dan menangis. Berduka karena kehilangan anak dan karena telah membunuh sehingga menyebabkan seorang anak kehilangan keluarganya. Min Se berulang-ulang meminta maaf pada anak itu sambil menangis penuh penyesalan.

Semua orang di rumah Min Se sedang menunggunya dengan harap-harap cemas. Ketika Min Se datang, semua orang terkejut melihat bajunya yang dipenuhi dengan darah. Ahn Kwang Ik menanyakan padanya apa yang terjadi. Dan di mana Sanghwa. Dan siapa anak yang dibawa oleh Min Se.

Min Se memberikan jubah hijau kepada istrinya, Yuh Ok, yang mengenali kalau itu milik anaknya. Yuh Ok bertanya-tanya di mana Sanghwa, demikian juga dengan Kwang Ik yang menanyakan kenapa ia hanya membawa jubahnya.

Min Se dengan nada datar mengatakan kalau Sanghwa telah meninggal. Kwang Ik sangat shock, Yuh Ok langsung tak sadarkan diri.

Beberapa waktu kemudian

Kim Min Se sedang bercakap-cakap dengan Ahn Kwang Ik di kamarnya …

Kwang Ik: Apa yang kau bicarakan?

Min Se: Aku akan mengangkatnya sebagai anakku.

Kwang Ik: Apakah kau sinting? Dia adalah anak dari musuhmu yang telah membunuh Sanghwa!

Min Se: Baginya, aku adalah musuhnya yang telah membunuh orangtua dan adik perempuannya.

Kwang Ik: Hei … Min Se!

Min Se: Jangan bicara lagi! Apapun yang kau katakan, aku tak akan mengubah niatku.

Kwang Ik: Bagaimana dengan Yuh Ok? Dengan alasan apa, dia harus mengasuh anak dari musuh yang telah membunuh Sanghwa?

Min Se: Dia akan mengerti maksudku. (Kwang Ik hanya bisa terdiam dan menahan rasa kesal di hatinya)

Beberapa saat kemudian …

Anak laki laki itu telah berganti baju bagus dan ditempatkan dalam satu kamar. Min Se masuk ke dalam kamar. Anak itu bangkit berdiri menyambutnya.

Min Se: Dengan kau berpakaian seperti itu, kau kelihatan sangat tampan. (berjongkok) Apakah kau sudah bersantap?

Anak: Ya, Tuan.

Min Se: Mendekatlah. (Anak itu ragu-ragu) Ayolah … (Anak itu mendekat) Siapa namamu?

Anak: Namaku Gaedong.

Min Se: Benarkah? Sekarang aku akan menggantinya dengan Sanghwa dari sekarang. Panggillah aku ayah … (Anak itu hanya menatapnya tidak mengerti) .. Sanghwa …. (anak itu masih terdiam, Min Se merasa sedih sehingga menangis) …. Kau sekarang seharusnya pergi dan mengucapkan salam pada ibumu.

Min Se menggandengnya keluar kamar dan pergi ke kamar Yuh Ok. Setelah memanggil beberapa kali dan tidak ada jawaban, Min Se segera masuk ke kamar istrinya, tetapi ia sangat terkejut melihat tubuh Yuh Ok tergantung di kamarnya.

Semua orang terkejut dan sangat terpukul melihat kenekatan dari Yuh Ok, terutama Min Se. Prosesi pemakaman dilakukan untuk melepaskan arwah Yuh Ok.

Min Se mengundurkan diri dari Departemen Medis di Istana. Yang Yesu berusaha menahannya karena sayang dengan kemampuannya tetapi Min Se sudah membulatkan tekadnya.

Min Se: Aku menjadi dokter, tapi aku mengambil senjata dan menghabisi nyawa tiga orang.

Yang Yesu: Petugas pemerintah tidak akan mempermasalahkan itu. Itu bukan kesalahanmu. Jadi tenangkan dirimu dan akan aku urus semuanya.

Min Se: Seperti aku yang tidak dapat membangkitkan mereka lagi, tiada seorangpun yang dapat memaafkanku.

Yang Yesu: Hey .. bangunlah! Dari apa yang kulihat, kau belum dalam kondisi yang tepat untuk membuat suatu keputusan! Pikiranmu masih kalut sehingga kau tidak bisa berpikir dengan jernih.  Aku akan mengijinkanmu untuk mengambil cuti, beristirahatlah dahulu! Setelah kau pulih kembali dari rasa dukamu dan mendapakan kembali ketenangan dirimu kau bisa ….

Min Se: (menyela) Aku tidak akan …. mengubah pikiranku. Aku akan pergi!

Yang Yesu: Jangan terlalu memikrikan mereka yang telah mati. Mereka adalah orang-orang sadis yang telah membunuh putramu.

Min Se: Darah mereka … berwarna merah … sama seperti kita! Darah yang menempel pada lengan bajuku benar-benar jelas berwarna merah! Kecuali penyakit mereka, mereka adalah sama seperti kita!

Yang Yesu: Kau adalah calon Dokter Raja yang akan menggantikan aku nantinya! Tidakkah kau tahu kalau bukan aku saja satu-satunya yang menaruh harapan tinggi padamu?

Min Se: … (menunduk)

Yang Yesu: Serahkan itu padaku!

Min Se: Aku tidak akan melupakan kebaikanmu yang telah banyak membimbingku selama ini, baik di dalam dan di luar pekerjaan.

Yang Yesu: … (mendesah kesal)

Min Se: Aku pamit dahulu. (beranjak pergi)

Yang Yesu tahu kalau Min Se adalah orang yang cukup keras dan sekali bicara akan melakukannya.

Yang Yesu: Saat hatimu sudah lebih tenang, kuminta agar kau kembali.

Kim Min Se memberikan hormatnya lalu pergi. Yang Yesu tampak berat hatinya, ia telah kehilangan salah satu tangan kanannya yang sangat berharga …

Beberapa hari kemudian …

Kim Min Se membawa Gaedong [Sanghwa], berpamitan pada Ahn Kwang Ik dan seisi rumahnya, yang menangis karena ia pergi. Ahn Kwang Ik bertanya apakah ia benar-benar akan pergi? Min Se hanya menunduk. Kwang Ik lalu bertanya lagi ke mana ia akan pergi, karena dirinya berencana tak lama lagi akan meninggalkan Departemen Medis juga dan akan menyusul Min Se. Ahn Kwang Ik merasa dirinya tak pantas untuk tetap tinggal di Istana karena ia adalah seorang penjagal, yang hanya tertarik pada ilmu membedah saja.

Min Se menjawab kalau ia sendiri tak punya tujuan tertentu dan hanya berpikiran untuk tidak akan melihat cahaya kembali. Ahn Kwang Ik hanya bisa mendesah …

Beberapa hari kemudian …

Kim Min Se sambil membawa Gaedong [Sanghwa] mengunjungi makam keluarga Gaedong [Sanghwa], meminta maaf karena takdir yang kejam sehingga mereka menjadi seperti ini. Ia bersumpah akan memerangi penyakit lepra sampai napas terakhirnya. Jika Dewa tak bisa menyembuhkannya, maka ia akan berusaha untuk mencarikan penyembuhan bagi penyakit mengerikan itu. Kim Min Se lalu meminta Gaedong untuk melakukan penyembahan.

Kim Min Se dan Gaedong [Sanghwa] berjalan di perbukitan, tapi Gaedong [Sanghwa] berhenti sejenak. Kim Min Se menghampirinya dan membetulkan baju Gaedong [Sanghwa] lalu mengajaknya untuk kembali berjalan.

Kembali ke masa kini …

Ahn Kwang Ik: Demikianlah, ia pergi seperti itu dan menuju ke Gunung Dooryu dengan anaknya. Ia lalu bertemu dengan Hyoojung yang sedang berkeliling dunia. Lalu ia melakukan Naksik dan menjadi seorang rahib. Lalu ia datang kemari ke Gunugn Ahnjum dan mengumpulkan para penderita lepra yang hidup berkeliaran di dunia ini. Sudah bertahun-tahun sejak ia hidup hanya demi menyembuhkan penyakit mereka.

* Hyoojung: Pendeta Buddha Soohsan

* Naksik: Upacara mencukur rambut

Hur June: Anak yang memukul tambur sepanjang hari dan malam, apakah dia Sanghwa?

Kwang Ik: (mengangguk) Dia mencoba untuk memukul rasa dendam di hatinya.

Hur June: Bukankah ia seorang penderita lepra?

Kwang Ik: Setelah mereka tiba di Gunung Ahnjum, gejalanya mulai timbul pada dirinya juga. Tapi Samjuk melakukan semua apa yang bisa ia lakukan untuk mencegah penyakitnya semakin memburuk. Dia terlihat baik-baik saja sekarang, tapi suatu hari penyakitnya mungkin akan muncul kembali.

Hur June berjalan di luar kamar, menghampiri tempat di mana Sanghwa memukul tambur dan mengawasinya, sambil mengingat perkataan Ahn Kwang Ik.

Kwang Ik: Mungkin pikiran seseorang tak dapat diubah hanya dengan satu pengabdian diri. Saat Sanghwa bertumbuh besar dan semakin dewasa, ia tak dapat membebaskan diri dari pemikirannya bahwa Samjuk lah yang telah membunuh orangtua dan adik perempuannya. Dia sedang hidup dengan niat untuk membunuh Samjuk dengan kedua tanganny sendiri. Mungkin Samjuk sendiri sedang menunggu hari di mana Sanghwa mengambil jiwanya.

Rahib Samjuk ada di kamarnya sedang bermeditasi dan memuja Budha, Hur June lewat di depan kamarnya dan memandang ke arahnya..

Keesokan paginya …

Hur June sedang memotong-motong bahan-bahan obat-obatan di gudang. Sanghwa masuk membawa beberapa bahan obat ke dalam gudang.

Hur June segera memanfaatkan kesempatan ini untuk memintanya menemani dirinya dalam menangkap ular di gunung nanti. Sanghwa menatapnya saja. Hur June tersenyum kecil dan mengatakan orang-orang telah memberitahu kalau dia sangat ahli dalam menemukan tempat di mana ular-ular berhibernasi. Dan untuk membuat obat-obatan di sini banyak yang mengatakan kalau aku perlu menangkap sebanyak mungkin ular dan ikan gabus. Hur June meminta agar Sanghwa mengajarinya kemampuannya itu.

Tapi Sanghwa sama sekali tak tertarik dengan ajakan Hur June bahkan menyuruhnya berhenti bersikap munafik dan menyuruhnya turun gunung saja. Hur June tidak mengerti dan bertanya mengapa ia seperti itu. Sanghwa segera membuka kain penutup wajahnya dan baju di bagian dada, menunjukkan bekas-bekas penyakit lepra di tubuhnya.

Sanghwa: Tidakkah kau mengerti? Jika kau harus memakan ular untuk memperpanjang hidupmu, jika kau begitu putus asa agar bisa tetap hidup, maka kau akan bisa mencium baunya dari sejauh 4 km. Jangan memunculkan senyuman itu, seperti kau sedang menunjukkan kebaikan hatimu yang besar dan mencoba untuk membingungkan orang-orang yang malang itu. Bagaimana mungin seseorang sepertimu, yang memiliki tempat untuk pulang sembarang waktu,  tahu penderitaan kami?

Sanghwa meninggalkan Hur June di gudang. Hur June tampak sedikit terkejut …

Sementara itu …

Doji sedang merebus obat untuk Yejin yang jatuh sakit. Anakbuahnya membicarakannya dari kejauhan, mengenai bagaimana Doji turun tangan sendiri untuk merebus obat untuk Yejin yang sakit. Yang lain menimpali bahkan kelihatannya ia selalu berjaga di samping Ye Jin selama beberapa malam terakhir. Padahal sebelumnya ia bahkan tidak mendekat sama sekali ke Rumah Sakit karena sedang bersiap-siap untuk mengikuti ujian. Mungkin itulah yang dinamakan calon suami yang penyayang. Semua orang tertawa.

Doji sedang menunggui Ye Jin di kamarnya, memandang Ye Jin yang tidur dengan sayang. Saat dilihatnya keringat di kening Ye Jin, Doji segera mengambil kain dan mengusap keringatnya.

Tak berapa lama kemudian Ye Jin membuka matanya, Doji terlihat lega dan sangat senang. Doji bertanya apakah ia sudah bangun. Ye Jin berusaha untuk duduk dan terkejut melihat Doji ada di kamarnya, sedang merawat dirinya. Doji segera menyuguhkan ramuan ke hadapan Ye Jin, mengatakan kalau isinya adalah semua hal yang menyehatkan dan meminta Ye Jin untuk meminumnya sehingga mendapatkan kekuatannya kembali.

Ye Jin sedikit ragu-ragu tapi kemudian ia menerima mangkuk obat dari tangan Doji lalu meminum ramuan itu. Lalu Doji mengatakan kalau dirinya tak bisa melakukan apa-apa jika melihat Ye Jin terbaring sakit, jadi demi dirinya agar bisa melewati ujian ini dengna sukses, Doji meminta agar Ye Jin cepat sembuh.

Tiba-tiba, Ohgun datang dan dari luar kamar memanggil Doji, yang bertanya ada apa. Ohgun menjawab kalau ada utusan dari tuan Yoo Sichan di Jinjoo. Doji menyuruh Ohgun untuk masuk, lalu bertanya pada Ohgun, apakah yang dimaksudkannya itu adalah tuan Yoo Sichan yang dulu pernah menjadi pejabat kerajaan. Ohgun mengiyakan dan mengatakan kalau mereka telah mengirimkan seekor kuda berharap bisa membawa Doji segera. Ohgun memintanya untuk bersiap-siap.

Doji masih tidak tenang dengan kondisi Ye Jin sehingga memutuskan untuk tidak pergi. Ohgun dan Ye Jin terkejut. Ohgun menegurnya bukankah ayah Doji tak ada di sini jadi seharusnya Doji lah yang pergi menggantikannya. Doji beralasan karena Ye Jin sedang sakit maka ia tak dapat meninggalkannya. Ye Jin segera memintanya untuk tidak mencemaskan kesehatannya dan pergi saja. Ohgun membujuknya, apalagi pasien mereka kali ini adalah bekas pejabat kerajaan, bagaimana bisa mereka menolaknya. Doji memandang pada Ye Jin dan menghela napas, ia memutuskan akan pergi dengan Yungdal dan meminta Ohgun untuk menengeok keadaan Ye Jin. Ohgun mengiyakan dan memintanya untuk tidak cemas.

Ibu Doji diberitahu kalau Doji baru saja berangkat ke Jinjoo. Ibu Doji tampak lega tapi pikirannya masih rumit.

Ye Jin sedang berdandan di depan cermin. Ibu Doji di luar kamar ingin bertemu dengannya, Yejin mempersilahkannya masuk. Ibu Doji masuk dan duduk, tanpa membuang waktu ia segera menegur Ye Jin karena sakit, sehingga membuat Doji mencemaskanny a dan menyingkirkan pelajarannya selama beberapa malam hanya untuk merawat Ye Jin. Ye Jin merasa tidak enak. Ibu Doji melanjutkan bahkan sekarang para pekerja dan pembantu mereka sedang membicaraakn hubungan antara Doji dan Ye Jin. Ia tidak ingin Ye Jin nantinya menghalangi masa depan dari Doji. Apakah ini adalah balas budi dari Ye Jin yang telah ia besarkan selama ini? Dan seharusnya Ye Jin tahu apa yang terbaik bagi Doji. Ye Jin hanya duduk membisu dan menundukkan kepalanya.

Sementara itu di rumah keluarga Hur June

Dalhee sedang memotong-motong ubi di halaman. Nyonya Hur menemuinya dan mengatakan kalau mereka tidak mungkin bisa menjualnya di pasar. Dalhee menjawab kalau mereka sudah tidak punya jalan lain karena tak ada orang yang sedang mencari pekerja harian di hari-hari ini.

Haman (istri Ilsuh) datang menemui mereka, Nyonya Son bertanya apakah ia sudah mencarikan apa yang dimintanya. Haman mengatakan kalau tidak ada pekerjaan menjahit.ataupun pekerjaan yang lainnya dan lagi .. itu disebabkan karena rumor yang beredar kalau Nyonya Son menghilangkan kain sutra dari Nyonya Kim kapan hari. Nyonya Son tidak terima dan memberitahu kalau itu adalah rencana licik mereka. Haman tahu itu tapi masalahnya rumor tak akan berhenti.

 

Nyonya Son lalu bertanya apakah tidak ada lagi pekerjaan lain? Haman dengan ragu-ragu menjawab kalau sebenarnya ada sih pekerjaan tapi di tempat dr. Yoo, mereka membutuhkan orang untuk membersihkan tempat itu dan juga mencuci, tapi bukankah mereka tak dalam posisi untuk melakukan itu? Nyonya Son menunduk tapi Dalhee berpikiran lain ..

 

Ye Jin memutuskan untk keluar dari tempat dr. Yoo dan pergi ke Kuil Samjuk. Saat ia beru keluar dari tempat dr. Yoo, dalam perjalanan ia berpapasan dengan Dalhee, tapi keduanya saling tidak menyadari karena Ye Jin sedang menoleh ke belakang, melihat untuk terakhir kalinya Rumah Sakit dr. Yoo dan Dalhee bejalan sambl menundukkan kepalanya.

 

Ilsuh dan Yangtae heran dan bertanya pada Yejin yang berpapasan dengan mereka di tengah jalan, apakah ia akan pergi ke suatu tempat. Yejin mengiyakan dan langsung pergi.

 

Sepeninggal Ye Jin, Yangtae memuji kalau Yejin sungguh cantik. Ilsuh segera mengeplak kepalanya, mengatakan kalau Yangtae selalu “ngiler” setiap melihat wanita mengenakan rok. ^^ Yangtae kemudian bertekad untuk menangkap beberapa harimau sehingga ia bisa secepatnya menikah. Ilsuh mengejeknya, sebelum ia berhasil menangkap seekorpun, ia pasti sudah disantap dahulu oleh si harimau^^

 

Di tempat dr. Yoo

 

Hadong sedang menjemur tak sengaja menubruk Ohgun. Ohgun menyuruh Hadong untuk memberikan tangannya tapi Hadong ragu-ragu. Ohgun kesal dan mengatakan jika ia meminta tanganya ya berikan saja. Hadong mengulurkan tangannya, Ohgun segera memasang sebuah cincin di jari Hadong, yang keheranan dan tak mengerti untuk apa itu. Ohgun menjelaskan itu adalah hadiah karena telah membantunya tempo hari. Hadong menyahut kalau ia tidak melakukan itu demi mendapatkan hadiah. Ohgun maju sedikit dan mengatakan kalau ia tahu perasaan Hadong padanya, dan bertanya apakah Hadong mau bertemu dengannya di tempat kincir air saat gelap nanti? Hadong mendelikkan matanya terkejut dan bertanya untuk apa. Ohgun menjawab kalau itu adalah tempat terbaik untuk bertemu pada saat musim dingin ini. Ohgun mau merayunya dan akan mencium pipi Hadong tapi tiba-tiba Dalhee datang ^^ membuat Ohgun kelabakan dan segera pergi karena malu ^^

 

Dalhee menundukkan kepalanya dan menghadapi Hadong, yang sudah kembali seeperti biasanya. Hadong bertanya ada keperluan apa Dalhee kemari. Dalhee mengatakan kalau ia telah mendengar kalau mereka membutuhkan orang untuk bersih-bersih dan mencuci.

 

Hadong dengan pongah mengatakan apakah ia pikir kalau Nyonya Oh akan mengijinkannya untuk melakukan pekerjaan itu? Dalhee menyahut kalau ia akan melakukan apapun. Hadong masih enggan tapi Nyonya Oh datang dan menemui mereka, bertanya ada apa. Hadong lega dan mengatakan kalau Dalhee kemari demi mencari pekerjaan. Dalhee memberikan hormatnya. Nyonya Oh memandangnya dengan pandangan meremehkan. Dalhee mengatakan kalau ia akan melakukan apapun yang diperintahkan padanya.

 

Nyonya Oh menyindirnya, mengatakan kalau Dalbee dulu biasanya pongah tidak menyadari situasi yang ada, tapi sekarang kelihatannya akal sehatnya sudah kembali. Nyonya  Oh kemudian mengatakan pada Hadong agar memberikan pekerjaan pada Dalhee.  Hadong tertegun ..

 

Dalhee membersihkan kamar pasien dengan rajin, mengumpulkan kain-kain kotor yang bernodakan darah pada satu tempat, lalu mencari kayu bakar, dan mencuci kain-kain bernoda darah itu dalam cuaca yang begitu dingin, membuat tangannya seperti akan beku. Dalhee meniup-niup tangannya agar menjadi agak hangat dan kembali mencuci lagi.

 

Dalhee: (dalam hati) June, demi dirimu dan Gyeum, aku akan mengatasi semua kesulitan dan penghinaan. Jangan khawatir mengenai kami di sini dan berkonsentrasilah untuk mempelajari ilmu pengobatan.

 

Kuli Samjeuk

 

Samjeuk sedng melakukan pemeriksaan rutin …

 

Sanghwa melihat ayahnya sedang sibuk lalu mengawasi ke sekeliling dan segera pergi sambil membawa buntalan pakaian.

 

Soo Yeon menunggu Sanghwa dipadangdengan hati cemas. Sanghwa datang dan langsung menarik Soo Yeon untuk segera pergi bersama-sama, melarikan diri dari Kuil Samjuk.

 

Ahn Kwang Ik sedang keluar dan melihat keduanya sedang melarikan diri, tapi ia hanya tersenyum dan mendiamkan mereka.

 

Ye Jin sedang naik ke atas gunung saat ia berpapasan dengan Sanghwa dan Soo Yeon yang sedang turun gunung melarikan diri. Ye Jin memanggil mereka dan terkejut saat meliihat keduanya berlari ke arah bawah gunung, tak menghiraukan panggilannya.

 

Hur June sedang merawat para pasien saat Ye Jin datang.Parapenderita lepra mengenalinya dan memberi hormat pada Ye Jin, yang dibalas oleh Ye Jin.

 

Ye Jin melihat Hur June dan sangat senang saat melihat Hur June begitu asik sedang merawat para pasien.

 

Ye Jin kemudian menyapa Rahib Samjuk, yang sangat senang melihatnya. Hur June menyadari kedatangan Ye Jin. Ye Jin memberi hormat pada Hur June, yang langsung dibalas Hur June.

 

Samjuk heran dan bertanya apakah Yejin kemari sendirian? Yejin mengiyakan dan mengatakan kalau ia ingin tinggal sementara waktu di tempat Samjuk. Samjuk menanyakan apakah ia habis sakit karena koq terlihat kurus dan pucat. Yejin tergagap dan menjawab tidak. Ye Jin lalu mengatakan kalau saat ia kemari, ia melihat Sanghwa dan Soo Yeon sedang berlari turun gunung, tapi saat ia memanggil mereka, keduanya tidak menjawab sepatahkatapun. Samjuk terkejut mendengar berita ini dan langsung meminta Hur June untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Hur June mengiyakan dan segera pergi. Ye Jin bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Hur June kembali lagi dan memberitahu kalau keduanya telah mengemasi barang-barang mereka. Samjuk segera sadar apa yang terjadi dan menyebut keduanya bodoh. Ia menyebut Buddha Maha Pengasih.

 

Ahn Kwang Ik datang menyela dan mengatakan mungkin lebih baik seperti ini. Daripada ia menjadi orang asing yang menyimpan dendam, lebih baik jika ia pergi. Samjuk segera menegurnya, betapa ia begitu dingin. Mereka belum pernah melihat dunia luar selama ini sejak masih kecil. Mereka belum pernah tahu betapa dunia ini bisa menjadi sungguh kejam, bagaimana mereka nanti bisa menghidupi diri mereka? Siapa yang tahu apa yang akan mereka alami nanti. Kwang Ik dengan tertawa menyindir Samjuk, bukankah ada belas kasihan dari Buddha, jadi apa yang perlu dicemaskan? Samjuk marah dan menegurnya karena telah mengeluarkan perkataan konyol seperti itu. Samjuk pergi ke dalam perkampungan.

 

Ahn Kwang Ik hanya tertawa kemudian memberitahu Yejin dan Hur June kalau ia sendiri juga harus pergi juga. Hur June bertanya kemana ia akan pergi. Ahn Kwang Ik mengatakan kalau ia harus mencari apakah ada orang-orang yang akan mati membeku pada musim dingin seperti ini. Ahn Kwang Ik kemudian pergi dengan tersenyum lebar.

 

Sepeninggal Kwang Ik, Hur June bertanya pada Yejin apakah ia tahu gadis bernama SYeon. Yejin mengiyakan.

 

Yejin: Aku pernah dengar kalau Soo Yeon dibesarkan di tempat ini bersama-sama dengan Sanghwa sejak masih kecil. Dulu ia pernah terkena lepra, tapi sekarang penyakitnya sudah berhenti. Kelihatannya mereka berdua saling menyukai satu sama lain.

 

Sanghwa dan Soo Yeon terus berlari turun gunung, berlari melewatipadangrumput dan juga sawah-sawah …

Rumah Sakit dr. Yoo

 

Nyonya Oh menyambut anaknya, Doji, yang baru saja kembali dari mengobati pejabat Yoo Sichan di Jinjoo. Doji langsung bertanya pada ibunya bagaimana kondisi Ye Jin yang sakti.  Ohgun serba salah dan memandang pada Nyonya Oh, yang berkelit dari pertanyaan itu dengan menyuruh Doji untuk menemui ayahnya dan kemudian beristirahat. Doji mengiyakan dan Nyonya Oh segera pergi. Tapi Doji segera menegur Ohgun, yang mau pergi, bagaimana keadaan dari Yejin. Ohgun terpaksa berbalik dan menundukkan kepalanya, sulit untuk menjawab. Doji menduga jelek, apakah penyakitnya memburuk. Ohgun menjawab tidak, tapi Yejin sudah tidak ada di tempat ini. Doji terkejut dan bertanya apa maksudnya. Ohgun terpaksa memberitahu bahwa di hari Doji pergi meninggalkan rumahnya untuk pergi ke Jinjoo, hari iitu Yejin juga pergi.

 

Doji menemui ayahnya di kamar kerjanya dan bertanya kemana Yejin pergi. Tapi Yoo Wee Tae sendiri juga tidak tahu, ketika ia kembali, hanya ada pesan kalau ia pergi menuju ke kuil Samjuk. Doji terkejut dan bertanya mengapa ia pergi kesanadengan kondisi kesehatannya masih kurang baik. Ayah Doji menjawab bagaimana ia bisa tahu niatnya? Mungkin saja ia merasa lebih nyaman disana. Doji meragukan itu.

 

Doji kemudian menanyai pembantu yang biasanya melayani Yejin mengenai kepergian Yejin tapi si pembantu menjawab kalau ia tidak tahu. Doji terus mendesaknya, mengapa ia pergi kesana? Si pembantu tampat serba salah. Doji menjadi kesal dan mengancamnya, “Apakah aku harus membunuhmu baru mau mengaku?” Si pembantu terpaksa mengatakan kalau itu ada kaitannya dengan ibu Doji.

 

Nyonya Oh di kamarnya sedang berdandan di kamarnya ketika Doji minta bertemu. Nyonya Oh melihat tampang Doji yang kusut dan bertanya apa yang terjadi. Doji langsung bertanya apakah ibunya yang mengirim Yejin pergi. Nyonya Oh berpura-pura tidak tahu apalagi apakah Yejin jenis gadis yang mau mematuhi apa yang ia perintahkan. Doji memberitahu ibunya kalau ia berniat membawa kembali Yejin dan menikahinya. Nyonya Oh sangat terkejut mendengar niat anaknya. Doji mengatakan ia sudah bersabar sampai sekarang demi menunggu hati ibunya melunak tapi ia sudah tak bisa menunggu lebih lama lagi.  Nyonya Oh bertanya padanya, mengapa ia begitu tertarik pada gadis semacam itu, bukankah Yejin hanya tertarik pada Hur June? Mengapa ia terus menyukai Yejin, yang menyukai pria beristri?

 

Doji menjawab dulunya ia juga berpikir demikian, tapi sekarang ia tahu mengapa Yejin selalu menolaknya. Itu karena ibunya yang selalu mencegah mereka berdua menikah, bahkan berusaha menikahkan Yejin dengan orang lain. Juga kali ini, pasti ibunya yang mengirimnya pergi. Nyonya Oh tidak terima dan mengatakan kalau Yejin pergi atas keamuannya sendiri. Doji memohon ibunya dengan sungguh-sungguh untuk mengijinkan ia menikah dengan Yejin. Ibunya berusaha membujuknya lagi, tapi Doji kembali mengatakan, demi tujuan menjadi dokter Raja yang sangat diidam-idamkan ibunya, ia perlu mendapatkan ketenangan dalam pikirannya. Jika kali ini ia membiarkan Yejin pergi, maka ia tak tahu apakah ia bisa melakukan apapun selanjutnya. Doji kembali memohon agar ibunya merestui pernikahan mereka. Ibu Doji tak bisa berkata apa-apa mendengar perkataan anaknya.

 

Kuil Samjuk

 

Hur June menemui Rahib Samjuk di kamarnya. Rahib Samjuk memberitahu untuk pergi ke pasar Haman dan menjual bahan-bahan obat kering di gudang obat dan membali barang-barang yang dibutuhkan oleh para pasien. Rahib Samjuk kemuidan membarikan kertas bertuliskan daftar barang yang dibutuhkan. Hur June mengiyakan dan segera menyimpan kertas itu.

 

Rahib Samjuk: Jika … (ragu-ragu) … jika kau bertemu dengan orang yang pernah melihat Sanghwa, tolong tanyakan mengenai dirinya. Jika ia mati dalam pengembaraannya maka kita harus paling tidak mengirimkan jiwanya kembali pulang.

 

Hur June memahami perasaan Samjuk … Ye Jin mengawasi Hur June.

 

Hur June segera berkemas dan membawa bahan-bahan obat yang akan dijual lalu berangkat turun gunung.

 

Sementara itu Sanghwa dan Soo Yeon sampai di dekat sebuah desa. Soo Yeon merasa tak kuat lagi berjalan dan bersender pada sebuah pohon. Ia lemas karena kelaparan, belum makan sejak lari dari Kuil Samjuk. Sanghwa memintanya agar menunggu, mereka harus mencari makanan tak peduli apapun. Soo Yeon mengatakan kalau ia ingin kembali saja ke Kuil Samjeok sekarang. Sanghwa menegurnya agar tidak menjadi lemah. Ia lebih suka mati kelaparan ataupun dipukuli sampai mati berkeliaran di tempat itu daripada kembali. Soo Yeon menunduk.

 

Hur June sampai di Haman dan segera menuju ke gudang obat untuk menjual bahan-bahan obat.

 

Sanghwa dan Soo Yeon mengendap-endap di suatu rumah, dan memanggil-manggil ke dalam rumah. Seorang anak kecil keluar sambil membwa kue di tangannya, terkejut melihat dandanan dari Sanghwa dan Soo Yeon. Sanghwa mengawasi keadaan sekitar dan masuk ke dalam halaman rumah, meminta si anak kecil agar tidak takut. Ia hanya ingin meminta sedikit nasi sisa saja, tapi si anak kecil saking takutnya segera menangis. Sanghwa berjalan mendekat dan membujuk si anak kecil agar tidak takut padanya.

 

Dua orang laki-laki masuk ke halaman, mendengar tangisan si anak kecil kemudian melihat Sanghwa dan Soo Yeon, yang berpakaian seperti penderita lepra, sedang mendekati anak kecil yang terus menangis. Mereka mengira kalau Sanghwa akan menculik anak itu. Salah seorang pria itu ternyata adalah ayah sang anak. Ayah anak itu mengambil sebatang kayu dan temannya seikat sapu lidi, Sanghwa berulangkali mengatakan kalau ia tidak bermaksud menculik anak pria itu, tapi si ayah tidak percaya dan mengancam mereka dengan potongan kayu di tangannya, Sanghwa berusaha melindungi Soo Yeon.

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s