Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 20

Ahn Kwang Ik: Saat Sanghwa bertambah umurnya dan semakin besar, dia tak dapat menghilangkan pikiran kalau Samjeuk telah membunuh kedua orangtua dan adik perempuannya.

Sanghwa dan Soo Yeon melarikan diri dari Kuil Samjeuk, sampai ke pinggiran desa. Mereka berdua kelaparan dan memasuki satu rumah dan bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang makan kue. Sanghwa dan Soo Yeon menghampiri anak itu bermaksud untuk meminta nasi sisa untuk mengisi perut mereka yang lapar. Tetapi anak itu justru ketakutan dan menangis, Sanghwa berusaha menenangkan anak itu dan mengatakan kalau mereka tidak bermaksud jahat.

Dua orang laki-laki masuk ke halaman, mendengar tangisan si anak kecil kemudian melihat Sanghwa dan Soo Yeon, yang berpakaian seperti penderita lepra, sedang mendekati anak kecil yang terus menangis. Mereka mengira kalau Sanghwa akan menculik anak itu. Salah seorang pria itu ternyata adalah ayah sang anak. Ayah anak itu mengambil sebatang kayu dan temannya seikat sapu lidi, Sanghwa berulangkali mengatakan kalau ia tidak bermaksud menculik anak pria itu, tapi si ayah tidak percaya dan mengancam mereka dengan potongan kayu di tangannya, Sanghwa berusaha melindungi Soo Yeon.

Hur June juga datang ke desa Haman, mampir ke sebuah kedai untuk melepas lelah dan bersantap. Ia bertanya pada nyonya pemilik kedai apakah ada penderita lepra yang lewat di desa itu. Nyonya itu menjawabnya kalau ia tidak pernah melihat, dan mengatakan kalau penduduk desa tidak akan mengijinkan para penderita lepra masuk ke desa. Nyonya pemilik kedai melanjutkan kalau mereka seharusnya melempari para penderita lepra itu dan mengusir mereka keluar desa.

Seseorang berpakaian bagus memanggil nyonya pemilik kedai dan memarahinya karena menyajikan minuman anggur yang sangat buruk rasanya. Nyonya itu tetap mengatakan kalau minuman itu adalah arak murni. Mereka berdebat mengenai minuman itu, pria berpakaian sutra itu marah, berdiri, dan mau meninggalkan tempat itu, tetapi tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh, pria itu sangat kesakitan. Hur June hanya mengawasi kejadian itu.

Pria itu dibantu berdiri oleh pengawalnya dan nyonya pemilik kedai, tetapi ia tiba-tiba merasa sangat kesakitan di punggungnya sehingga berteriak keras, dan diletakkan kembali ke atas tanah oleh pengawalnya.

Nyonya pemilik kedai: (berteriak) Adakah dokter di sini? Tolonglah! (Hur June masih berdiam saja) Adakah dokter di sini? … Apa yang harus kita lakukan? (Hur June ragu-ragu, Pria itu masih mengerang-ngerang kesakitan)

Pengawal: (kebingungan melihat majikannya kesakitan) Tuan! Tuan ! …..  Dokter! Adakah dokter di sini?

Hur June akhirnya tidak tega dan bangkit berdiri, ia memutuskan untuk membantu pria itu

Nyonya: Adakah dokter di sini? Tolong bantulah kami! Adakah dokter?

Pengawal: (Hur June mendekati mereka) Adakah dokter di sini?

Hur June: Ah …. permisi, kau bergeserlah ke samping. (Pengawal itu segera pergi ke belakang Hur June) Hadapkan punggungnya ke atas!

Nyonya pemilik kedai dan Pengawal itu membantu Hur June untuk menggulingkan tubuh pria itu yang masih mengerang kesakitan. Hur June malakukan tusuk jarum di pinggang bagian belakang pria itu. Orang-orang melihatnya.

Hur June: (berdiri) Balikkan lagi dia! (pria itu ditelentangkan, pada pria itu) Sekarang cobalah untuk berdiri lagi!

Pria itu berusaha bangun dengan sedikit takut kalau sakitnya muncul lagi, tapi ternyata ia bisa bangkit duduk dengan biasa dan mampu untuk berdiri tanpa rasa sakit di punggungnya.

Pria Bangsawan: (Sambil melihat pinggangnya, ke kanan ke kiri) Apa? …  (Ia menggerakkan tubunhnya ke depan ke belakang, kanan dan kiri, memutar pinggang) Wah … ! (pada Hur Jne) Bagaimana ini bisa? (sangat senang) Ini luar biasa, terima kasih! (meraih tangan Hur June dan mengajaknya bersalaman) Dokter, siapakah namamu?

Hur June: Namaku Hur June!

Pria bangsawan: Hur June? Kau sungguh-sungguh dokter yang hebat! Terima kasih! Terima kasih! (mengajaknya) Ayo kutraktir kau minum dulu …

Hur June: (menolak) Terima kasih, tetapi aku sedang terburu-buru.

Pria itu masih mau memaksanya, tetapi Hur June tetap menolaknya dan meminta pria itu untuk melanjutkan perjalanannya. Pria bangsawan itu tidak lagi memaksanya, ia sangat berterima kasih pada Hur June, kemudian pria itu pergi. Hur June kembali ke tempat duduknya, tiba-tiba seorang pria datang dan memberitahu pada orang-orang di kedai itu kalau ada penderita lepra yang datang ke desa mereka. Semua orang pergi untuk memukuli dan mengusir para penderita lepra itu. Hur June juga mendengar berita itu dan bergegas menyusul mereka.

Beberapa orang berkerumun di suatu tempat, terdengar suara orang dipukuli. Hur June juga datang ke sana, dan melihat kalau memang benar orang-orang yang dipukuli oleh orang-orang desa adalah Sanghwa dan Soo Yeon. Hur June berusaha menghentikan perbuatan mereka.

Hur June: Hentikan! Hentikan! Kenapa dengan kalian? Mengapa kalian melakukan ini pada mereka?!

Ayah anak kecil tadi: Tidakkah kau melihatnya? Tidakkah kau melihat kondisi mereka? Sebelum kau tertular oleh mereka, menyingkirlah! (pada yang lain) Apa yang kalian lakukan? Keluarkan dia dari sini!

Teman ayah anak itu: Kau! Keluarlah! (berusaha menarik Hur June, tapi Hur June segera mengibaskan tangan orang itu)

Hur June: Aku adalah seorang dokter! Dengarkan aku! Kalian semua  salah! Pemikiran kalian kalau penderita lepra memakan anak-anak kecil tidaklah benar! Pemikiran kalau penyakit ini adalah penyakit keturunan, atau kalian bisa saja dengan mudah tertular karena telah bersentuhan dengan mereka adalah salah total!

Ayah anak kecil: Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan?

Hur June: Di samping itu, anak-anak ini tidaklah sakit!

Hur June membuka penutup muka Soo Yeon dan mencucup bekas kusta di bawah dagu Soo Yeon, membuka baju Sanghwa dan mencucup bekas kusta di dadanya, semua orang bergidik ngeri melihatnya, Hur June membuka penutup muka Sanghwa dan memperlihatkan bekas kusta di lehernya dan kemudian juga dicucupnya. Ayah anak itu ternganga ngeri, dia mundur selangkah.

Hur June: (menghampiri ayah anak tadi) Lihat! Jika mereka sakit dan jika seperti katamu kalau kusta dapat menular dengan mudahnya, bagaimana bisa aku menaruh mulutku ke tubuh mereka? Bagaimana bisa aku menyentuh bagian tubuh mereka yang terjangkit penyakit?

Ayah anak itu: (masih tidak terima) Jangan membodohi kami!

Ia maju menghantam Hur June dengan potongan kayu, tapi ditangkis oleh tongkat yang dipegang oleh Hur June, Hur June kemudian menendangnya. Teman orang itu berusaha membantu tapi dipukul jatuh oleh  Hur June. Hur June koq dilawan ^^ wong bekas preman ^^

Hur June: (penuh dengan amarah) Mereka telah dibuang oleh Dewa, mereka adalah manusia yang malang yang telah dibuang oleh keluarga mereka! Mereka adalah orang-orang yang menggelandang dan entah nanti akan kelaparan sampai mati atau membunuh diri mereka sendiri karena semua prasangka dari kalian semua! Hentikanlah semua prasangka itu! Jika kalian tidak mempercayaiku … masing-masing dari kalian harus menghadapiku …. ayo majulah!

Teman dari ayah anak tadi: (mengambil sepotong kayu dari tanah) Apa yang kalian semua tunggu, mari kita pukul dia! (Ayan anak itu mau menghantam Hur June)

Suara pria: Hentikan! Hentikan!

Semua orang melihat ke arah datangnya suara itu, seorang pria bersama dua prajurit menghampiri mereka dan berdiri seperti akan mellindungi Hur June, ternyata orang itu adalah pria bangsawan tadi yang ditolong oleh Hur June di kedai.

Pria bangsawan: Apa yang terjadi? (membentak) Apa yang sedang kalian lakukan di isni?

Ayah anak: (menghampiri pria itu) Syukurlah kau ada di sini! (menunjuk pada Sanghwa dan Soo Yeon) Kedua orang ini mencoba untuk melukai anak laki-lakiku sehingga kami semua memukuli mereka, (menunjuk pada Hur June) tapi kemudian dia datang dan melindungi mereka berdua, mengatakan kalau ia adalah seorang dokter!

Hur June: Tidak! Itu semua tidak benar! (menunjuk pada Sanghwa dan Soo Yeon) mereka dulu memang pernah sakit, tapi mereka bukanlah penderita lepra! Ini pastilah sebuah kesalahpahaman kalau  mereka berdua berusaha menculik anak orang itu. Aku akan membawa mereka pergi dari desa ini, jadi tolong lepaskanlah mereka!

Ayah anak itu masih tidak terima dan berusaha mempengaruhi pikiran pria bangsawan itu. Pria bangsawan itu kesal dan menyuruhnya tutup mulut.

Pria bangsawan: Pria ini adalah seorang dokter! Namanya adalah Hur June, dan dia seorang dokter yang hebat! Karena dia sudah mengatakan kalau dia akan membawa kedua orang ini keluar dari desa, kalian semua harus percaya perkataannya dan tinggalkan tempat ini! (semua orang ragu-ragu) Apa yang sedang kalian tunggu? Tinggalkan tempat ini segera! (Mereka semua pergi)

Pria bangsawan itu mengusir semua orang pergi dan mengatakan kalau ini bukanlah suatu pertunjukan.

Hur June: Terima kasih! Terima kasih!

Pria bangsawan: tidak apa-apa, sekarang cepatlah bawa mereka pergi sesegera mungkin.

Hur June: (menghampiri Sanghwa) Sanghwa … Sanghwa bangunlah …  Sanghwa bangun!

Sementara itu Rahib Samjeuk tidak tenang hatinya, jadi ia memutskan untuk turun ke salah satu desa terdekat, Guhchang,  untuk mencari Sanghwa. Ia bertanya pada orang lewat mengenai penderita lepra, dan dijawab kalau memang ada dan setelah mereka dipukuli, mereka diusir keluar dari desa. Mereka dilempari batu sehingga berdarah-darah. Samjeuk kaget dan sangat cemas. Samjeuk menanyakan di mana sekarang penderita lepra itu berada. Orang itu menjawabnya kalau beberapa orang sudah pergi ke sebuah pondok di luar desa untuk membakar pondok itu beserta para penghuninya, para penderita lepra. Smjeuk kaget dan segera bergegas menuju pondok itu.

Beberapa orang sudah menyiapkan obor yang menyala untuk membakar pondok, tapi Samjeuk mencegah mereka. Orang-orang itu takut kalau para penderita lepra di dalam pondok itu turun ke desa dan nantinya menyakiti para wanita dan anak-anak mereka. Samjeuk meminta mereka menunggu dan ia masuk ke dalam pondok itu sambil memanggil nama Sanghwa dan Soo Yeon, tapi ternyata yang ada di dalam pondok adalah keluarga penderita lepra lain yang ketakutan melihat kedatangannya. Samjeuk sangat masygul, tapi ia tetap berusaha menyelamatkan para penderita lepra itu.

KEMUDIAN

Hur June berhasil membawa Sanghwa dan Soo Yeon keluar dari desa. Hur June membujuk Sanghwa untuk kembali ke Kuil Samjeuk. Tapi Sanghwa bersikukuh kalau ia tidak akan kembali. Hur June menegurnya dan mengatakan kalau penyakit lepra dari Soo Yeon bisa saja muncul kembali dan bertambah buruk jika tidak ditangani secepatnya. Sanghwa tetap pada kepututsannya dan menyahut kalau bukanlah urusan dari Hur June jika mereka mati atau hidup. Ketika Hur June menyinggung betapa cemasnya sang Rahib, Sanghwa menjawab kalau itu semua adalah caranya menipu mereka untuk mendapatkan pengampunan dari dosa pembunuhan yang telah ia lakukan pada orangtua dan adik perempuannya.

Hur June: Tutup mulutmu! Aku tahu kalau kau dipenuhi dengan emosi mudamu, tapi bagaimana bisa kau mengatakan kata-kata kasar seperti itu!

Sanghwa: … (tidak mempedulikannya)

Hur June: Apakah kau ingat dengan perkataanmu padaku sebelumnya? Kau mengatakan padaku bahwa orang-orang yang memiliki tempat untuk kembali pulang tidak dapat memahami kesengsaraan dari para penderita lepra. Kau memang benar! Aku tak dapat merasakan semua kesulitan yang telah kau hadapi. Aku mungkin saja dapat menanggung semua ini karena aku memiliki rumah dan keluarga sebagai tempatku untuk kembali. Tapi ayahmu tidak! Dia telah membuang segalanya dan sekarang dia tidak memiliki tempat untuk pulang. Satu-satunya rumahnya adalah Kuil Samjeuk dan orang-orang yang hidup bersamanya adalah dirimu dan para penderita lepra. Ayo kita kembali!

Sanghwa: …

Hur June: Ayo kita kembali demi Soo Yeon! Apakah kau belum cukup mengalami perlakuan dunia luar pada kalian? Karena tindakanmu yang tanpa berpikir panjang, aku pikir Soo Yoon terluka sangat parah. Jika kau benar-benar memikirkan Soo Yeo, kau harus kembali!

Sanghwa: … (hatinya mulai tergerak)

Hur June: Sanghwa!

Sanghwa: ….

Akhrinya Sanghwa memutuskan mengikuti kata hatinya dan kembali ke Kuil  Samjeuk bersama dengan Hur June, demi perawatan Soo Yeon

Yejin menemui mereka di halaman, dan terkejut melihat keadaan Soo Yeon. Hur June memberitahunya kalau mereka berdua telah diperlakukan tidak adil oleh orang-orang di desa Haman. Hur June bertanya apakah Rahib ada tapi Yejin mengatakan kalau Rahib saking cemasnya juga pergi mencari Sanghwa dan Soo yeon  dan belum kembali sampai sekarang.

Hur June gelisah karena Rahib tidak ada, tapi kemudian memutuskan untuk merawat Soo Yeon karena kondisinya yang kritis. Ye Jin mengatakan kalau ia akan mempersiapkan segala sesuatunya. Hur June memerintahkan Sanghwa untuk membawa Soo Yeon ke pondok.

Malamnya, Hur June dan Yejin merawat Soo Yeon diawasi oleh Sanghwa. Hur June mngatakan kalau ia akan menggunakan teknik moxibustion. Ye Jin mengatakan kalau ia akan mencari bahan-bahannya di gudang.

*Moxibustion adalah teknik ‘pembakaran’ ramuan obat di titik-titik akupungtur untuk memasukkan khasiat obat secara langsung ke nadi yang berhubungan dengan penyakit seseorang.

Saat Ye Jin di gudang sedang mempersiapkan bahan-bahan obat yang akan digunakan untuk moxibustion, Rahib Samjeuk datang. Ye jin menyambutnya, Rahib mengatakan kalau ia menemukan keluarga penderita lepra yang lain dan menyuruh Yejin untuk mengatakan pada Hur June untuk memeriksa kondisi kesehatan mereka, karena setelah matahari muncul ia akan mencarikan tempat tinggal bagi keluarga baru itu. Ye Jin kemudian memberitahunya kalau Sanghwa sudah kembali. Rahib Samjeuk merasa sangat lega, menanyakan dimana Sanghwa sekarang.

Hur June sedang merawat Soo Yeon. Samjeuk masuk dan menatap lama pada Sanghwa, Sanghwa merasa bersalah, menunduk. Samjeuk menanyakan kondisi Soo Yeon, Hur June menjawab setelah memeriksa kseadaannya yang menunjukkan gelaja demam tinggi dan kaki dan tangan menjadi dingin, kemungkinan besar Soo Yeon terkena Sanghan.

*Sanghan adalah penyakit yang disebabkan oleh energi dingin.

Samjeuk: Kita perlu melancarkan aliran energi utamanya jadi ia perlu berkeringat dan menurunkan panas tubuhnya.

Hur June: Baik, tuan!

Samjeuk bangkit berdiri dan akan beranjak keluar ruangan, sebelum itu ia menatap Sanghwa, Sanghwa menghindari pangdangan matanya.

Samjeuk: Lihatlah dirimu! Kau terlihat habis dipukuli! Jika kau membiarkan luka-luka itu, itu akan menjadi penyakit yang serius! Ambillah resep obat dari Ye Jin!

Sanghwa: Apakah hanya itu saja yang dapat kau sampaikan padaku? (Samjeuk tertegun) Berhentilah berlagak baik, menyembunyikan perasaanmu yang sesungguhnya, dan mengatakan hal yang sebaliknya.

Samjeuk: Bagaimana dunia yang kau lihat?

Sanghwa: Mereka terlihat  seperti serangga, lebih buruk dari anjing dan babi.

Samjeuk: Kau juga terlihat seperti itu di mataku. (Sanghwa kaget) Kau tidak lebih baik daripada anjing, babi, maupun serangga! (Sanghwa menatapnya, terpana) Kulitmu terpecah-pecah karena kusta, itu hanya penampilan luarmu! Apa yang tidak lebih baik daripada anjing, babi, maupun serangga bukanlah tubuhmu tapi hatimu yang telah dikendalikan oleh rasa dendam. Menjadi berbeda dari apa yang terlihat dari penampilanmu bergantung pada pikiranmu! Jika kau ingin menjadi manusia yang sesungguhnya, lepaskanlah penampilanmu yang seperti itu! (Samjeuk pergi meninggalkan pondok)

Sanghwa kembali ke menara tambur … menabuh tambur ….  menabuh dendamnya ….. menabuh rasa sakit hatinya pada dunia ini …

Samjeuk bermeditasi di kamarnya, bersembahyang di hadapan patung Buddha.

KEMUDIAN

Samjeuk menuliskan pesan di atas selembar kertas ….

Saat menulis pesannya, ia teringat pada saat ia bertemu dengan Sanghwa yang sekarang, untuk pertama kalinya….

Samjeuk mengambil sebuah kotak, membukanya, mengambil beberapa butir obat pulung ….

KEMUDIAN

Sanghwa terus memegang tangan Soo Yeon sepanjang malam. Hur June  juga ada di pondok itu, tertidur …

Sanghwa membelai pipi Soo Yeon …. Soo Yeon membuka matanya….

Sanghwa: Soo Yeon …

Soo Yeon: Sanghwa … (Sanghwa berkaca-kaca, mengangguk-angguk) kumohon … lepaskanlah dendam mu pada ayahmu …

Sanghwa: Soo Yeon … Ayo …. kita mati bersama … Daripada hidup dengan semua beban ini di atas kita selamanya … mari kita …. mari kita mati bersama …

Soo Yeon: (menangis …) Sanghwa … (Sanghwa juga menangis …)

Tiba-tiba Ye Jin masuk ke dalam pondok dan membangunkan Hur June … Hur June terbangun dan bertanya ada apa, Ye Jin mengatakan kalau mereka dalam masalah besar, Rahib telah jatuh tak sadarkan diri  setelah memuntahkan darah … Hur June sangat terkejut, Sanghwa masih belum memahami apa yang terjadi …

Hur June segera keluar dari pondok dan menuju ke  pondok tempat tinggal Samjeuk.  Hur June masuk dan melihat Samjeuk telah terbaring di lantai dengan darah di mulutnya. Hur June segera memeriksa denyut nadinya. Ye Jin menanyakan keadaannya, Hur June menjawab kalau denyut nadinya semakin melemah. Ye Jin sangat sedih, Hur June segera memerintahkan Ye Jin untuk membuatkan Gamdootang.

*Gamdootang adalah penawar racun yang dibuat dari akar licorice dan kedelai hitam.

Ye Jin segera pergi membuatkan resepnya, Hur June melihat kotak obat pulung dan mengambil obat itu, kaget. Kemudian ia mengambil surat yang ditinggalkan di samping kotak obat dan membacanya.

Suara Samjeuk:

“Hur June terkasih, tahukah kau tentang Chunsoogwanum (Buddha Tangan Seribu) yang menghadapi semua belenggu dan penderitaan dari dunia dan menyelamatkan umat manusia dengan seribu tangannya? Aku masih belum menemukan penyebab dan obat yang benar dari lepra. Walaupun aku telah bertarung dengan lepra selama 10 tahun dengan pikiran Chunsoogwanum, menyalahkan kekurangan imanku dalam Agama Buddha, aku sungguh malu dengan batasan dari ilmu pengobatanku yang mana  telah kubaktikan  seumur hidupku.

Berkelana di semua dataran dan pegunungan di Korea, aku telah mengumpulkan dan mempelajari semua macam tanaman obat dan membuat obat-obatan. Tetapi karena obat-obatan itu berdasarkan tanaman beracun, aku tak dapat menilai efeknya pada manusia jadi aku tak dapat menggunakannya pada pasien. Tapi … melihat Sanghwa yang hidup dalam penderitaan dengan hukuman dari Dewa, kupikir aku sudah tak bisa menunda lagi untuk mencoba obat ini. Penyakit lepra dari Sanghwa telah berhenti menyebar untuk saat ini,  tapi jika muncul lagi, Sanghwa akan terluka dan tidak akan dapat dipulihkan.

Demi Sanghwa dan para pasien lainnya, aku akan menguji obat ini. Jika aku selamat, aku akan menggunakan obat ini untuk para penderita lepra dan Sanghwa. Tapi jika aku mati, tolong beritahukan pada Sanghwa, paling tidak mengenai niatku ini.”

Sanghwa juga mendatangi pondok ayahnya, terkejut melihat kondisi ayahnya, yang mana darah keluar dari mulut ayahnya.

KEMUDIAN

Sanghwa duduk termenung di halaman. Mengingat kata-kata ayah angkatnya ketika Sanghwa masih kecil yang menyatakan penyesalannya di hadapan makam keluarganya dan berjanji akan menebus dosa seumur hidupnya dengan berjuang melawan penyakit lepra sampai napasnya yang penghabisan.

Min Se (Samjeuk) : Jika Dewa tidak mau menyembuhkannya, aku akan … aku akan menyembuhkan penyakit yang mengerikan ini! (memberikan penghormatan pada makam)

Hur June menghampiri Sanghwa, ia bertanya apa Sanghwa dapat membaca lalu menyerahkan surat ayahnya dan menyuruh Sanghwa untuk membaca surat itu.  Sanghwa membacanya.

Hur June:

“Sekarang kau tahu mengapa ia mengangkatmu sebagai anak dan mendirikan Kuil Samjeuk. Kau menyebutnya munafik, katamu ia berusaha menipumu dan para penderita lepra lainnya untuk mendapatkan pengampunan atas dosanya membunuh kedua orangtua dan adik perempuanmu. Tapi sekarang, apakah kau masih berpikiran demikian? (Sanghwa menangis menyesal)

Orang macam apa di dunia ini yang bersedia menyerahkan hidupnya hanya bersandiwara dengan menjadi munafik dan menipu orang lain? (Sanghwa semakin menyesal, ia menangis tersedu-sedu) Sampai kapan kau menolak ketulusan hati orang lain yang berusaha memeluk hatimu yang penuh dendam? Sampai kapan kau akan menyiksa dirimu sendiri, terperangkap dalam belenggu masa lalu? (Sanghwa menangis)

Ayahmu mungkin saja tidak akan bangun untuk selamanya. Jika dia pergi dengan keadaan  seperti ini, kau akan menambahkan beban pada dirimu sendiri yang justru lebih besar daripada dendam di hatimu. (Sanghwa masih menangis penuh penyesalan) Sebelum itu terjadi, pergilah untuk menemuinya.”

Hur June pergi meniggalkan  Sanghwa yang masih menangis penuh penyesalan dalam hati.

KEMUDIAN

Hur June memasak ramuan obat di luar ruangan ..

Ye Jin sedang menyeka keringat dari Rahib Samjeuk. Hur June selesai memasak obat dan membawanya kepada Rahib. Ye Jin mengatakan kalau rahib terus berkeringat, Hur June menjawab kalau itu kemungkinan besar adalah efek dari pertarungan antara tubuh Samjeuk melawan racun di dalam tubuhnya. Hur June kemudian meminumkan ramuan obat penawar racun. Sambil mengawasi Hur June meminumkan obat, Ye Jin bertanya bagaimana kondisi Rahib. Jawabnya,  ” Hari ini mungkin adalah masa kritis baginya”

Sementara itu …. Sanghwa masih di tempat tadi termenung …

Malamnya …

Sanghwa mengunjungi pondok ayahnya untuk menjenguknya. Melihat ayahnya yang biasanya sehat dan kuat sekarang terbaring lemah dan tak berdaya karena berusaha menguji khasiat dari obat demi penyembuhannya, Sanghwa tidak dapat menahan tangisnya lagi.

Sanghwa: (menangis) Ayah …. (meletakkan kepalanya di dada ayahnya, menangis penuh penyesalan)

Semua penderita lepra yang dirawat di Kuil Samjeuk mendoakan keselamatan Rahib Samjeuk.

KEMUDIAN

Ye Jin menguruti tangan Rahib Samjeuk, sedangkan Hur June memijat kakinya. Beberapa saat kemudian Rahib Samjeuk membuka matanya. Ye Jin yang pertama menyadarinya baru Hur June. Hur June dan Ye Jin sangat senang dan terharu.

Seorang wanita penderita lepra berteriak memberitahu semua penghuni Kuil Samjeuk kalau Rahib selamat dan sekarang sudah sadar.

Para penghuni keluar dari pondok mereka dan bersukacita atas kabar itu.

Samjeuk dengan dipapah oleh Hur June dan  Ye Jin menemui mereka.

Semuanya sangat senang melihat kalau Rabib walaupun kelihatan lemah tapi sudah kuat berjalan.

Samjeuk menenangkan mereka dan mengatakan kalau ia sudah baik sekarang. Sanhwa mendatanginya, berlutut dan meminta ampun atas semua kelakuannya sebelum ini. Samjeuk meraihnya ia membimbing Sanghwa bangun dan kemudian memeluknya.

Semua orang sangat senang, demikian juga dengan Soo Yeon, ketika melihat ayah dan anak itu menjadi akur.

KEMUDIAN

Yo Doji datang ke Kuil Samjeuk untuk menemui Ye Jin, saat ia sampai di sana, Doji sangat ngeri dan takut dengan semua penderita lepra yang ada, ia berusaha untuk tidak dekat-dekat dengan mereka. Seseorang laki-laki penderita lepra menanyai siapa dia dan mau apa. Yo Doji mengatakan kalau ayahnya adalah dr. Yo Wee Tae yang pernah berkunjung ke Kuil dan ia juga menyampaikan kalau ia ingin bertemu dengan Ye Jin.

Ye Jin yang sedang merawat pasien diberitahu kalau ada seorang pria ingin menemuinya, Ye Jin sangat heran. Tapi kemudian Doji menemuinya di tempat itu, Ye Jin sangat terkejut.

Mereka berdua kemudian keluar ruangan dan bercakap-cakap di tempat lain.

Doji menegurnya karena Y Jin tidak mau mengatakan kalau ibunya lah yang melarang mereka berdua menikah bahkan sekarang yang menyebabkan Ye Jin harus datang ke tempat mengerikan seperti ini. Tapi sekarang semuanya sudah beres dan Doji mengajak Ye Jin untuk kembali ke Sanum dan menikah dengannya karena ibunya sudah melunak hatinya dan menyetujui pernikahan mereka berdua.

Ye Jin memberitahunya kalau sebenarnya alasan ia kemari bukanlah karena disebabkan oleh ibunya, tetapi karena memang keinginan hatinya untuk tinggal dan membantu Rahib merawat mereka yang sakit dan menderita lepra. Ye Jin menolak untuk mengikuti Doji kembali ke Sanum. Doji masih berusaha membujuk Ye Jin tapi Ye Jin tetap tak bergeming, saat itulah Doji melihat Hur June dan baru ia menyadari kalau alasan sebenarnya Ye Jin ke tempat ini dan menolak untuk kembali ke Sanum karena adanya Hur June.

Doji sangat marah dan menyesal karena ia berharap kalau Ye Jin mau kembali bersamanya, ia merasa seperti orang bodoh dan mengatakan kalau ia tidak akan memikirkan Ye Jin lagi. Doji kemudian pergi dengan marah. Ye Jin mengawasi kepergian Doji, Hur June mengawasi Ye Jin dan Doji yang pergi.

KEMUDIAN

Doji kembali pulang ke rumahnya dengan mabuk, orang-orang di rumahnya menjadi ribut dan sibuk melayaninya.  Ibunya memapahnya ke kamar dan membaringkannya ke tempat tidur. Ibu Doji menanyakan apa yang terjadi tapi dijawab dengan tangisan patah hati. Nyonya Oh menduga ini pasti karena Ye Jin dan bertanya-tanya apa yang terjadi sehingga anaknya sampai begitu terluka hatinya.  Doji masih menangis dengan penuh penderitaan di hatinya.

KEMUDIAN

Yo Doji akhirnya berusaha menyingkirkan Ye Jin dari hatinya dan menyibukkan diri dengan menerima pasien, memberikan pengobatan akupungtur dan merawat mereka.

KEMUDIAN

Rahib Samjeuk memberikan pelajaran mengenai bagaimana melakukan teknik pernapasan yang benar pada Hur June dan Ye Jin. Bagaimana mereka harus melakukan teknik bernapas di siang hari sehingga matahari sebagai energi Yang akan membantu melancarkan energi kehidupan dalam tubuh. Rahib mengajarkan kalau dalam melakukan teknik ini mereka harus menenangkan pikiran dan tidak memikirkan hal-hal yang bekaitan dengan keduniawian.

Sementara itu dr. Yoo Wee Tae juga memberikan pelajaran yang sama pada Doji, mengatakan kalau bernapas saat marah maka energi akan naik, pada saat bahagia itu melemah, pada saat bersedih energi dalam tubuh akan mendingin dan ketika ketakutan akan semakin jatuh.  Ketika kedinginan akan berkontraksi, ketika panas akan meluap. Ketika kau terkejut maka energi akan kacau, ketika kau lelah maka energi itu akan terpakai. Inilah yang disebut 9 gejala penyakit dari 9 energi. dr. Yoo menanyai anaknya apa obat untuk penyakit ini.

Doji: Kita gunakan Sin Sun Googi Tang dan Jeong Gi Cheon Hyang Tang

Wee Tae: Lebih baik mengendalikan emosi pasien sebelum memberikan pengobatan.

KEMUDIAN

Doji sedang membaca buku ketika ibunya datang. Mereka berdua kemudian bercakap-cakap mengenai ujian Nasional yang akan diadakan. Ibunya menyarankan untuk Doji pergi belajar di tempat yang tenang yang ternyata juga menjadi niat dari Doji. Ibunya yakin dengan kemampuan dan keahllan medis yang dimiliki oleh Doji, hanya satu yang dikhawatirkannya: Dokter Kerajaan Yang Yesu. Doji sudah menetapkan untuk melakukan apa saja demi mengubah pendirian Yang Yesu.

KEMUDIAN

Yo Doji berangkat terlebih dahulu ke kuil di Danyang untuk belajar mempersiapkan ujiannya. Ia berpamitan pada ayah dan ibunya.  Doji pergi diiringi oleh Lim Ohgun dan Yeongdal. Ilsuk dan Yangtae melihat keberangkatan Doji, mereka mencegat Yeongdal dan menanyakannya, Yeongdal menjawab kalau mereka akan mengikuti Doji untuk pergi mengikuti ujian Nasional di Seoul.

Yangtae segera menemui Dalhee dan mengatakan kalau ujian Medis Nasional akan segera dilaksanakan. Seharusnya Hur June juga mengikuti ujian ini, tapi ia tidak tahu lagi apa yang sedang dilakukan oleh Hur June sekarang. Dalhee hanya terdiam, khawatir.

KEMUDIAN

Rahib Samjeuk memanggil Hur June ke pondoknya. Hur June memenuhi panggilan itu. Rahib Samjeuk mengatakan padanya kalau ia baru saja mampir di kedai di Guhchang dan melihat banyak sekali dokter-dokter di sana dan mendapatkan kabar kalau Ujian Medis Nasional akan segera diadakan pada bulan depan hari ke 17. Jadi Rahib Samjeuk menyuruh Hur June untuk berkemas dan mengikuti Ujian Medis itu. Hur June tidak tertarik karena ia merasa kalau banyak sekali yang masih belum ia pelajari dari sang Rahib, tapi Rahib Samjeuk mengatakan kalau ia memiliki niat terselubung dengan menyuruh Hur June ikut ujian ini.

Rahib Samjeuk:

“Alasanku menyuruhmu untuk mengikuti ujian ini adalah bukan untuk lulus dan meraih kesuksesan ataupun kepopuleran.

Di dalam perpustakaan Rumah Sakit Kerajaan banyak terdapat buku-buku pengobatan dari China. Dan banyak sekali obat-obatan yang sangat langka dan berharga di gudang Istana. Aku ingin kau mempelajari buku-buku itu dan semua obat-obatan yang ada di sana dan meraih apa yang tak dapat kucapai.

Jika kau benar-benar bermimpi untuk menjadi seorang dokter yang berkemampuan tinggi, kau seharusnya pergi ke Istana dan mempelajari semuanya secara sistematis. Dengan cara itu kau mungkin akan mendapatkan pengobatan yang tepat bagi para penderita lepra suatu hari nanti. Kau akan berhasil meracik resep yang akan menyembuhkan orang-orang yang mati karena wabah penyakit. Semuanya itu menjadi mungkin jika kau belajar dengan cara yang lebih sistematis untuk dapat mengembangkan kemampuanmu yang terhebat! Janganlah kau ragu-ragu dan ikutilah ujian itu!”

Hur June: Aku …. akan mengikuti kata-katamu.

KEMUDIAN

Ye Jin sedang membaca sebuah buku.

Suara Hur June: Aku akan masuk …. (Ye Jin terkejut, tapi juga senang hatinya)

Ye Jin: Silahkan masuk! (Bangkit berdiri menyambut Hur June) Aku akan menyiapkan teh.

Hur June: (duduk) Tidak usah … aku ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. (Ye Jin heran, tapi ia kemudian duduk) Aku pikir  besok aku akan meninggalkan Kuil Samjeuk (Ye Jin terkejut) Rahib mengatakan kalau aku seharusnya meninggalkan tempat ini untuk mengikuti Ujian Medis Nasional.

Ye Jin: (menutupi kegundahannya dengan tersenyum paksa) Itu berita bagus! Dengan kemampuanmu, kau pasti akan lulus ujian itu.

Hur June: Aku akan pergi, tapi sampai kapan Akashi (Nona) berencana akan tinggal di sini? (Ye Jin menundukkan kepalanya) Kalau tiada dirimu yang membimbingku, aku sekarang pasti masih menggelandang dari satu kedai minum ke kedai mimum yang lain dan tetap dalam penderitaan. Aku akan mengukirkan perhatian dan pengertianmu serta kebaikanmu dalam-dalam di hatiku.

Ye Jjin tersenyum manis padanya …

[Andy:  walaupun Ye Jin tidak begitu cantik  tapi aku sangat suka senyumnya :P ]

Hur June kemudian pergi meninggalkan Ye Jin, Ye Jin mengawasi punggung Hur June sambil menahan gejolak kesedihan di dalam hatinya.

Keesokan harinya …

Semua orang yang ada di Kuil Samjeuk mengiringi keberangkatan Hur June, Rahib Samjeuk sangat berterima kasih atas semua kerja keras Hur June dalam membantunya merawat para penderita lepra. Hur June juga berterima kasih pada Rahib yang telah mengajarinya banyak hal. Hur June melihat pada Ye Jin, yang memberi hormat padanya, Hur June kemudian menghampiri Sanghwa dan berpesan untuk menjaga dirinya dan ayahnya, Sanghwa memberi hormat dan juga Soo Yeon. Hur June kemudian pergi, semua orang mengawasi kepergiannya dengan berat hati karena Hur June sudah dianggap sebagai salah satu keluarga Kuil Samjeuk.

Sinopsis Darma Kerajaan [Sageuk] Korea | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Hur June menuruni gunung meninggalkan Kuil Samjeuk untuk mengikuti Ujian Medis Nasional.

3 comments on “Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 20

  1. Andy.. Ye Jin Akhirnya Nanti Married Dgn Siapa Ya??
    Penasarann Nich…🙂
    Soalnya Saya Suka Banget Dgn Pemeran Ye Jin Ini.. Baik Karakter Maupun Aktris nya.. Tidak Cantik2 Banget Sich.. Namun Menawan Hati… Hehehehe
    Siapa Nama Asli Pemeran Ye Jin Ini,Yaa??

    • sampe nanti tua nda nikah … setia sama huh joon seorang … Nama asli pemeran Ye Jin : Hwang Soo Jung …. dia ga cantik, tapi emang kalem dan keliatan manis kalo tersenyum ….😛

  2. Tq ya koh Andy..ditunggu episod selanjutnya. Sy seneng banget nonton huh joon.. Seodong udh habis ya episodnya. tetap semangat ya!!

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s