The Slave Hunter [Chuno] – Episode 11

Setelah beberapa episode tegang dan sedih, yang ini lebih santai

Song Tae Ha, Un Nyun, Hanseom dan pangeran kecil berhasil berlayar dan menemukan kapal yang akan membawa mereka kembali ke daratan korea. Song Tae Ha melihat gelagat hanseom yang murung.
“Apa kamu meninggalkan seseorang di P . Jeju?”, tebak Tae Ha. Hanseom sedih. Tae Ha berkata jika misi mereka telah berhasil hanseom dapat kembali ke sana. hanseom berkata dia tidak akan ternah kembali ke . Jeju. Hanseom berterimakasih pada Tae Ha karena perasaannya sekarang sudah lebih baik.
Un Nyun menidurkan pangeran kecil di kamar di kapal.

Tae ha terkesan dengan loyalitas Un Nyun. Dia ingin berkata sesuatu pada Un nyun tapi agak bingung
“Saya pria yang banyak menghabiskan waktu di medan perang dan bergaul bersama para prajurit. Jadi saya tidak tahu bagaimana berbicara dengan wanita.Tapi merupakan kehormatan bagiku , karena kamu mau ikut bersama saya”, ujar Tae Ha formal dan kaku (walau sudah lama berdua dalam pelarian mereka memang irit bicara)
“Kata loyalitas dan kehormatan adalah kata yang jarang diucapkan pria pada seorang wanita”, kata Un Nyun sambil menahan senyum karena geli mendengar istilah Tae Ha (tersanjung ,perhatian, sayang, cinta pake kata2 gitu dong)

Salju turun , cuaca begitu dingin. “Jendral” choi dan Wangson bepergian tanpa membawa uang (kebawa sama daegil semua) . Atas pengalaman playboy Wangson, mereka bisa berteduh dan makan di rumah seorang wanita. Wang Son dengan pura-pura pintar meramala bahkan berani merayu nyonya rumah. Choi yang kekar dan kalem langsung dikecengin budak perempuan di sana.
Namun Sebelum pagi hari Wangson mengajak Choi buru-buru pergi dari rumah itu, karena di luar dugaannya suami wanita itu pulang.

Seol hwa membawa Dae gil ke penginapan. Di sana dae gil masih ingin banyak minum dan mabuk. Seol hwa sepertinya sudah pasrah, rasanya sia-sia menasehati menghibur Dae Gil yang sedang patah hati. Dae Gil mabuk sampai  tertidur. Seol hwa menyiapkan
alas tidur untuk Dae Gil dan dirinya. Tiba-tiba dae gil menarik seol hwa kepelukannya.

“Kamu begitu hangat, hidupku ini begitu kacau…”, kata Daegil sambil memeluk Seol hwa erat-erat.

Pemberontakan budak yang diketuai oleh Eop bok beraksi lagi. dia kembali berhasil menembak 2 orang bangsawan yang biasa berbisnis dengan Lee sheng Gik (mertua chul woong). Dia kembali dibantu oleh seorang budak wanita pemberani yang pandai melihat situasi. Jika ada waktu selang, malam hari dia mengajari teman-temannya menembak.

Rombongan Song Tae Ha sudah tiba di daratan korea. Un Nyun meminta agar dia yang menggendong pangeran kecil agar terlihat alami. Orang akan curiga jika Hanseom yang menggendong pangeran.

Dia juga minta Hanseom tidak memanggil Tae Ha dengan sebutan jendral atau orang-orang akan curiga.Tae Ha setuju pendapat Un Nyun. Hanseom dengan ragu memanggil Tae Ha kakak, dan memanggil Un Nyun kakak ipar.

Matahari sudah tinggi ketika Dae Gil membangunkan Seol hwa dengan paksa (seol hwa emang tukang tidur). Dae Gil mencurigai seolhwa yang tadi malam tidur di dekatnya.
“bukankah kau yang memintaku? semalam kl au bilang hidupmu begitu kacau”, kata seol hwa heran. Dae Gil tak ingat (atau jaim jika inget juga).
Mereka berdua melanjutkan perjalanan. Dae Gil tidak mau memberi Seolhwa makan karena dia sudah tidur lama. Seolhwa rindu pada Wang son dan Choi. Dae Gil yakin mereka pasti akan mengambil jalan yang sama dengannya. Dae Gil lalu menceritakan saat pertama dia bertemu mereka berdua. (dae gil ini kalau bicara kasarkadang ga percaya dulu iu dia anak bangsawan)

Awalnya, Wang son seorang pencopet. Dan Choi adalah seorang pegawai kecil yang akan ikut ujian  masuk ke akademi militer. Suatu hari Wangson mencopet uang choi lalu melarikan diri. setelah beberapa saa Choi baru sadar uangnya dicuri. Wangson yang sedang senang tak sengaja bertemu Dae gil, “preman” yang curiga akan gerak-gerik wangson. Dengan alasan mencek identitas, Dae gil memalak wangson.

Wangson lari, Dae gil mengejarnya. Malang bagi Wangson , choi juga yang sadar uangnya hilang menghadangnya. Akhirnya uang itu jadi rebutan Choi dan Dae Gil. Dae gil merasa dia yang pertama kali mendapatkannya.Choi bilang itu adalah uang yang akan dia gunakan untuk ujian masuk militer. Dae Gil hanya mengembalikan separuh. Dia berkata kepada mereka jika ingin mendapat uang lebih baik bergabung dengannya. Choi bretanya dari mana Dae Gil belajar gaya bertarung seperti itu. Dae Gil bilang dia belajar sendiri (street fighter)
“Aku bahkan akan langsung memanggilmu “jendral” “, ujar Dae Gil pada Choi. Sejak itu Choi, di kalangan tetangga mereka sering disebut Jendral Choi.

Tak lama kemudian 3 jagoan itu pun kembali bertemu. Seol hwa dan Wang son tampak begitu semangat, Dae Gil spt biasa sok cuek. Choi tersenyum kalem. Choi menunjukan pesan rahasia yang dia temukan yang sepertinya berupa sandi. Dae Gil dapat menebak sandi itu, dia tahu tujuan mereka. Dae Gil langsung tak sabar ingin pergi ke sana. Choi agak heran dengan sikap Dae Gil
“Dia baru tahu Un Nyun telah menikah dengan Song Tae Ha”, Seol Hwa menjelaskan pada Choi. Choi sadar kondisi Dae Gil sedang labil, mereka buru-buru mengikuti Dae Gil.
Dae Gil seperti banteng ngamuk, dia secara frontal berani menyerbu satu regu polisi untuk mengambil kuda-kuda meraka. Dae Gil dan rombongan berkuda ke arah tujuan. Di tengah jalan Choi mengingatkan agar mereka segera turun dari kuda dan menghapus jejak, jika tidak ingin ditangkap polisi.

Un Nyun, Tae Ha dan han seom sudah hampir sampai mereka mendaki bukit. Un Nyun masih menggendong pangeran. Tae Ha ingin meringankan beban Un Nyun.
“Biarlan aku kali ini aku mendapat bagian tugas”, kata Un Nyun. Mereka akhirnya sampai dan menunggu semua anggotanya berkumpul. Anak buah Tae Ha (sekitar 6 orang) sudah berkumpul. mereka menjadi budak di berbagai tempat. Han seom sangat terharu bertemu kembali dengan teman-teman seperjuangannya. Saat mereka membuka ikat kepala mereka Tae Ha begitu sedih,di dahi mereka semua sudah tercap kanji budak.

Dae Gil dan rombongan telah tiba di kaki bukit. Mereka kembali akan berpisah untuk menemukan mereka. Mereka menyamakan kompas. Choi mengingatkan karena Tae Ha kali ini tidak sendirian, jika menemukan mereka harus memberi tanda. Wang son malas merasa bahwa kali ini dia harus lari lagi (dipikir-pikir drama ini emang banyak adegan lari/kejar-mengejar hehe). Dae Gil berlari ke atas bukit sambil memegang belatinya. Setiap langkah kakinya dia membayangkan wajah Un Nyun.

Tae Ha dan anak buahnya sebelum berangkat mereka semua melakukan penghormatan resmi pada pangeran kecil , putra mahkota.

sumber: nana-catatanku.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s