Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 48

Hur June sedang berjalan menuju Istana, ia melihat rombongan dayang Kim, dan di antaranya ada Ye Jin, Hur June heran tapi kemudian ia menyadari sesuatu dan terperanjat …..

Ye Jin dibawa ke Istana dan disuruh masuk ke dalam suatu ruangan. Ye Jin bingung, tapi ketika ia masuk ke ruangan itu Ye Jin kaget tapi sekaligus senang karena melihat So Hyun. So Hyun juga senang melihatnya tapi kemudian menyadari sesuatu dan wajahnya yang semula muram tambah lebih muram lagi. Ye Jin tidak menyadari muramnya wajah So Hyun, ia segera duduk di dekat So Hyun dan mengatakan kalau ia sangat lega melihat So Hyun juga ada di sini karena sebelumnya ia merasa sangat tegang. So Hyun bertanya apakah Ye Jin kemari tanpa mengetahui apapun. Ye Jin mengiyakannya dan bertanya tempat apa ini. So Hyun tidak menjawabnya, wajahnya masih tampak muram. Ye Jin heran dan bertanya apakah ada sesuatu yang buruk akan terjadi. So Hyun memberitahunya kalau sebentar lagi Duta Besar dari dinasti Myun akan tiba di Seoul. Mereka berdua diharuskan untuk memberikan layanan di tempat tidur. Ye Jin kaget setengah mati.

Di Hyemin, Chae Sun mencari Gaegeum. Ia menemukannya di samping dr. Hur. Chae Sun membisikkan sesuatu ke telinga Gaegeum, yang kemudian mengatakan kalau sebelumnya ia sangat iri mengapa hanya Ye Jin yang dipanggil ke Istana, tapi sekarang ia sungguh lega. Hur Jun mendengar itu dan hatinya tidak enak, ia segera memberi perintah pada Gaeguum untuk memberikan ramuan obat pada pasiennya itu sesuai dengan resep. Gaegeum segera melakukannya, Hur June beranjak pergi mau masuk ke dalam. Chae Sun menyusulnya dan bertanya apakah Hur June tidak tahu kemana Ye Jin dibawa pergi. Chae Sun memberitahunya kalau Ye Jin akan melayani Duta besar di tempat tidur, mengapa ini bisa terjadi padanya. Hur June sungguh tidak tahu harus berbuat apa, ia gelisah bukan main. Chae Sun mengatakan dengan nada sedih kalau Ye Jin hanya memikirkan diri Hur June seorang …. Hur June segera pergi … Chae Sun memanggilnya beberapa kali sehingga beberapa dokter menoleh, Hur June tetap melangkah tanpa menoleh.

Hur June minum-minum di kedai minuman. Ia mengingat perkataan almarhum Lee Jung Myung, betapa Ye Jin patah hati selama beberapa tahun ini karena diri Hur June tapi Hur June tidak menyadari perasaan di dalam hatinya. Tidak menyadari perasaan orang lain adalah sesuatu yang buruk. Kalau dipikir-pikir, Hur June adalah orang yang jahat.

Kembali ke masa sekarang, Hur June sangat masygul hatinya. Ohgun mendatangi Hur June dan duduk di depannya. Ohgun mendengar rumor di antara para perawat dan mengetahui apa yang terjadi karenanya. Ohgun bertanya apa yang akan Hur June lakukan dengan hal ini. Hur June menyahut kalau setiap perjuangan semakin berat saat belajar ilmu pengobatan.  Hur June hanya menerima semua hal yang baik dari Ye Jin. Saat ia menjadi pencabut rumput, Hur June belajar efek tetumbuhan obat dari Yejin. Ia belajar dasar-dasar pengobatan dari buku pengobatan yang Ye Jin berikan padanya. Bahkan ketika ia menyerah untuk belajar saat ditelantarkan gurunya, Hur June dapat kembali memulai segalanya, itu semua karena Ye Jin. Dan sekarang ketika Ye Jin dalam masalah, Hur June tidak sanggup melakukan apapun untuk menolongnya. Tidak peduli berapa banyakpun ia memikirkannya tetap saja tidak ada sesuatu yang dapat ia lakukan bagi Ye Jin. Hur June sungguh-sungguh merana dan masygul. Ohgun dan Hur June sama-sama diam memikirkan nasib Ye Jin.

Dayang Kim mendatangi Ye Jin dan So Hyun. Dayang Kim memerintahkan kedua dayang pengiringnya untuk mempersiapkan baju baru untuk mendandani kedua perawat itu. Tapi Ye Jin segera mengatakan kalau ia tak bisa mematuhi perintah ini bahkan jika harus berhenti menjadi perawat dan memohon supaya dirinya dikembalikan ke Hyemin. Dayang Kim menegurnya karena kata-katanya yang kasar. Bukanlah urusannya jika Ye Jin mau berhenti atau tidak dari pekerjaaannya. Dayang Kim mengatakan kalau Ye Jin tidak tahu betapa pentingnya melayani Duta Besar dengan baik, memahami apa dan kapan harus berbicara. So Hyun menyahut bagaimana bisa mereka yang diharuskan pergi dari sekian banyak orang, mengapa para perawat. Mereka bukanlah gadis-gadis penghibur. Mereka adalah perawat Istana. Mereka mengurus pengobatan di Istana, merawat para pasien. Dayang Kim tetap bersikukuh kalau tugas mereka lebih daripada itu. Apakah mereka tidak menyadari kalau mereka juga disebut “gisaeng” perawat. Pada masa lalu, bahkan seorang gadis dari keluarga bangsawan tidak menikah untuk dipilih sebagai dayang.  Mereka berdua tidaklah cukup berharga untuk membuat keributan seperti ini. Jika mereka mengeluarkan perkataan omong kosong lagi, Dayang Kin akan segera mengakhiri periode haid mereka (Andy: sorry aku kurang jelas dan nda begitu mengerti perkataan dayang Kim ini, tapi yang kutangkap adalah kalau Dayang Kin mengancam akan memberikan obat-obatan pada mereka sehingga masa haid mereka akan hilang selamanya alias menopause secara dini .. tapi apa bisa ya ??? ) So Hyun dan Ye Jin langsung bungkam. Dayang Kim segera memerintahkan kedua dayang pengiringnya untuk mendandani kedua perawat itu. Kedua dayang itu segera mengiyakannya.

So Hyun dipakaikan baju yang indah dan wajahnya didandani supaya menjadi cantik. (Andy : menurutku sih yang paling cantik di drama Huh Joon ya So Hyun ini :P, btw untuk kalian ketahui yang jadi So Hyun ini ntar jadi Puteri Hwawan, bibi sekaligus musuh dari Yi San di drama Yi San)  So Hyun dihadapkan pada cermin, walaupun ia pasrah tapi hatinya sakit sehingga tak terasa air matanya menetes turun.

Ye Jin pasrah saat pakaiannya diganti dan didandani dengan indah.

Ye Jin menulis surat pada Hur June. Ia menuliskan isi hatinya sambil meneteskan air mata.

Suara Ye Jin: Dokter Hur, aku tidak pernah terlalu berlebih-lebihan di dalam hidupku sampai sejauh ini. Aku berpakaian sutra yang mahal dan dilayani oleh para dayang Istana. Betapa cantiknya diriku saat kubercermin.  Aku terlihat cantik tapi meneteskan air mataku  Mungkin karena aku berpikir kalau aku dilayani seperti orang yang sudah mati.  Menerima semua barang-barang bagus dan kain kafan yang indah sebelum pergi meninggalkan dunia ini. Semua ini terasa seperti mimpi belaka. Hari-hari itu, ketika aku masih dapat melihatmu, berhadapan muka. Aku dulu berpikir kalau aku tak akan pernah melihatmu lagi saat aku pergi meninggalkan Sanum. Sekarang aku pergi melakukan perjalanan jauh lagi. Sebab aku takut kalau mimpiku akan hancur tanpa alasan.  Aku dengan tulus hati berharap kau akan meraih semua cita-citamu.

So Hyun di kamarnya, menangis dalam diam merenungkan nasibnya. Air matanya terus menetes.

Ye Jin keluar kamarnya dan menemui dayang yang yang menjaga di luar kamar, meminta bantuan dayang itu untuk menyampaikan suratnya pada dokter Hur di Hyemin.  Melihat dayang itu tidak menjawabnya dan ragu-ragu, Ye Jin segera melepaskan cincin di jarinya dan memberikannya beserta surat itu kepada dayang, yang kemudian menyahut kalau ia mengerti. Ye Jin tersenyum lega dan senang.

So Hyun berpakaian perawat lagi, mengunjungi kamar Ye Jin dan memanggil namanya dari luar, tapi tidak ada sahutan sampai beberapa kali. So Hyun bertanya apa ia keluar, dayang yang bertugas menjawab kalau ia tidak keluar. So Hyun membuka pintu kamar dan masuk ke dalam, Ye Jin terlihat masih tertidur. So Hyun berulangkali memanggilnya tapi masih Ye Jin tidak bergerak. So Hyun curiga dan mendekati Ye Jin sambil memanggilnya, tapi tetap tak ada jawaban atau gerakan dari Ye Jin. So Hyun kaget dan segera memanggil-manggil Ye Jin  sambil mengguncang-guncangkan tubuh Ye Jin.  Dayang di luar mendengar keributan itu dan masuk untuk melihat. Ia bertanya ada apa, So Hyun segera menyuruhnya untuk membawa Sobi dan dayang Kim ke tempat itu secepatnya.  Dayang itu melihat kondisi Ye Jin dan terkejut, ia segera berbalik dan menghambur keluar untuk melakukan permintaan dari So Hyun.

Dayang Kim dan Sobi segera datang dan masuk ke kamar Ye Jin, So Hyun sedang memijati tangan Ye Jin. Sobi segera menghampiri Ye Jin dan bertanya apa yang terjadi. So Hyun menjawab kalau Ye Jin berusaha bunuh diri. Dayang Kim terkejut dan bertanya apa ia mati. So Hyun menjawab kalau ia masih bisa merasakan denyut nadi Ye Jin. Dayang Kim panik dan segera memerintahkan pada para perawat untuk memeriksanya. Sobi menyahut kalau tubuh Ye Jin sudah mulai mendingin, ia menyuruh Onjin untuk memberi Ye Jin pijatan. Onjin segera menghampiri Ye Jin dan memijati kakinya, sementara So Hyun tangannya, dan Sobi memijat dadanya untuk menguatkan denyut jantung Ye Jin.

Beberapa saat kemudian, Sobi melakukan akupungtur pada kaki Ye Jin, So Hyun mengusap keringat di wajah Ye Jin. Dayang Kim mengawasi semuanya itu, dayang yang bertugas menjaga di depan kamar Ye Jin gelisah. Sobi sudah selesai melakukan akupuungtur dan mendekati Ye Jin, yang tampak sudah bergerak. Sobi lega dan tersenyum, demikian juga dengan Onjin dan So Hyun. Dayang Kim bertanya apa Ye Jin hidup, Sobi menjawab kalau Ye Jin akan baik-baik saja, tapi tetap harus dirawat oleh dokter sampai pulih. Dayang Kim menentangnya karena jika mereka melakukan itu maka semua orang akan tahu kalau Ye Jin mencoba untuk melanggar perintah. Jika para pejabat tinggi mengetahui semuanya ini maka Sobi dan dirinya juga tidak akan selamat.  Sobi tertunduk. Dayang Kim menyebut Ye Jin sebagai gadis yang tak berguna. Dayang yang menjaga Ye Jin menghampiri dayang Kim dan memberitahu kalau ia ada sesuatu yang harus diberitahukan pada dayang Kim.

Dayang Kim dan dayang yang menjaga Ye Jin keluar kamar, dayang yang menjaga Ye Jin menyerahkansuratYe Jin untuk dr. Hur. Dayang Kim bertanya surat apa itu. Dayang yang menjaga Ye Jin menjawab kalau itu adalah surat yang Ye Jin minta padanya untuk dikirimkan.  Dayang Kim segera membuka dan membaca surat dari Ye Jin kemudian menjadi terkejut setelah melihat isi suratitu.

Hur June menemui Menteri Sung, yang sangat senang melihatnya. Menteri Sung bertanya apa yang membawa Hur June ke tempatnya. Hur June memberanikan diri untuk meminta bantuan dari Menteri Sung. Menteri Sung mempersilahkannya untuk duduk. Hur June duduk.

Ye Jin dibantu untuk bangun duduk. Wajahnya terlihat muram dan kusut. So Hyun bertanya apa Ye Jin baik-baik saja. Ye Jin mengiyakannya. Sobi menyebutnya gadis yang bodoh. Ye Jin hanya bisa meneteskan air matanya. Dayang Kim masuk sambil membawa suratnya, bertanya bagaimana keadaan Ye Jin, Sobi menjawab kalau Ye Jin sekarang baik-baik saja. Dayang Kim kemudian menyuruh mereka untuk pergi karena ia ingin berbicara berdua dengan Ye Jin.

Setelah semua pergi, Dayang Kim duduk di hadapan Ye Jin dan bertanya apakah Ye Jin tidak tahu kalau tindakannya ini sungguh keterlaluan. Ye Jin mengatakan kalau ia lebih suka mati saja. Dayang Kim sangat marah dan menegur betapa beraninya dia, jika Ye Jin dapat membunuh dirinya sendiri maka tiada sesuatupun yang tidak dapat ia lakukan. Dayang Kim mengeluarkan surat Ye Jin dan melemparnya di hadapan Ye Jin, yang menjadi sangat terkejut. Dayang Kim menyuruh Ye Jin untuk mengingat kata-kata yang ia ucapkan, jika Ye Jin tidak berhati-hati dengan semua tindakannya, maka dokter ini juga tidak akan selamat. Ye Jin terperanjat. Dayang Kim melanjutkan kalau semua ini demi Yang Mulia dan Istana. Jika Ye Jin menolak untuk mengikuti perintah karena affair ini, maka jelaslah sudah kalau Ye Jin dan dokter itu tidak akan selamat. Dayang Kim bertanya apa Ye Jin mengerti. Melihat Ye Jin tidak menjawab, Dayang Kim mengancam ataukah ia harus menyingkapkan hubungan ini.  Ye Jin ketakutan dan segera menggelengkan kepalanya dan mengatakan tidak. Ye Jin sangat sedih dan menundukkan kepalanya, menangisi nasibnya.

Hur June meminta bantuan pada Menteri Sung untuk membatalkan penunjukkan para perawat sebagai gadis penghibur bagi Duta Besar Dinasti Myung. Menteri Sung tampak berpikir keras. Hur June mengatakan kalau ia tahu kalau dirinya meminta terlalu banyak pada Menteri Sung, tapi Hur June sendiri ingin tahu apakah Menteri Sung dapat menggunakan kekuasaanya dalam masalah ini. Menteri Sung menyahut kalau saja ia tahu ini lebih dahulu, maka ia bisa melakukan sesuatu, tapi sekarang sudah terlambat, karena melayani Duta Besar Dinasti Myung adalah masalah yang sangat penting bagi Istana. Karena para pejabat tidak tahu apa yang akan diminta oleh utusan itu pada mereka. Dan itu adalah strategi terbaik untuk menyambut para utusan dengan keramahtamahan yang paling baik sehingga tidak menyinggung para utusan itu. Apalagi mengubah siapa yang akan memberikan layanan itu bukan dalam wilayah tanggungjawabnya. Semua mata di Istana sedang mengawasi peristiwa ini. Hur June sangat masygul, satu-satunya orang yang ia harapkan dapat membantu ternyata juga angkat tangan….

Ye Jin di kamarnya sedang merenung. So Hyun memasuki kamar dan meminta Ye Jin untuk mengikutinya. Mereka keluar dari tempat mereka dikeram menuju ke gudang obat Istana, tapi di tengah jalan mereka berdua melihat Hur June sedang berjalan berlawanan arah, keduanya segera menyembunyikan diri. Setelah Hur June lewat, So Hyun dan Ye Jin segera melanjutkan perjalanan mereka.

Di gudang obat Istana, So Hyun mencari-cari, kemudian mengambil sekotak bahan obat. So Hyun memberitahu Ye Jin kalau itu adalah Sanjoin.

Sanjoin adalah obat herbal untuk membantu tidur, juga bisa digunakan untuk meringankan gejala sakit perut, diare, dan keringat dingin.

So Hyun mengambil beberapa Saonjin dan menaruhnya ke sebuah kain sambil mengatakan kalau Ye Jin lebih tahu kapan ia harus menggunakannya lebih daripada Soh Hyun sendiri. Bahkan melakukan bunuh diri juga tidak berhasil, jadi semuanya sekarang bergantung pada diri mereka sendiri. Ye Jin ragu-ragu tapi So Hyun menyuruhnya untuk mengambil obat itu karena mungkin mereka membutuhkannya nanti. Ye Jin menerimanya.

Malam hari, dayang Kim memimpin Ye Jin dan So Hyun ke halaman depan, disanasudah ada 2 tandu. Dayang Kim menyuruh keduanya untuk masuk ke dalam tandu. Ye Jin dan So Hyun mau masuk tandu, tapi kemudian seorang kasim datang dan membisikkan sesuatu pada dayang Kim. Dayang Kim kemudian menyuruh So Hyun untuk kembali karena ternyata hanya seorang saja yang diperlukan untuk tugas ini. So Hyun merasa sedikit lega tapi juga merisaukan Ye Jin, yang sudah pasrah. So Hyun bertanya apa yang harus ia lakukan sekarang. Ye Jin menjawab kalau So Hyun tak usah mengkhawatirkan dirinya, karena sekarang tidak ada lagi yang ditakutkan oleh dirinya. Ia akan pergi. Dayang Kim menyuruh Ye Jin untuk segera berangkat. So Hyun pergi dengan menahan tangis, bercampur antara lega dan sedih.  Ye Jin hanya bisa mengawasinya.

Ye Jin dibawa dengan tandu ke kediaman Duta Besar Dinasti Myung. Ye Jin turun dari tandu, Dayang Kim memberitahunya untuk menjaga setiap perkataan dan tindakannya. Ye Jin mengiyakannya. Dayang Kim menyuruhnya untuk masuk.  Ye Jin menetapkan hatinya dan mulai melangkahkan kakinya menuju Wisma Tamu dimana Duta Besar menginap.

Di dalam, Ye Jin dibawa oleh pejabat penanggungjawab Wisma Tamu Negara ke depan kamar Duta Besar, di mana seorang Kepala Pengawal Utusan dan seorang Dayang dari Myung sedang berjaga. Dayang itu memeriksa badan Ye Jin dan ketika tak ditemukan benda-benda yang mencurigakan, dayang itu mundur ke tempatnya. Kepala Pengawal Utusan mempersilahkan Ye Jin untuk masuk. Ye Jin menguatkan hatinya dan mulai masuk ke dalam kamar diikuti oleh pejabat penanggunjawab Wisma Tamu Negara. Di dalam kamar Duta Besar, yang ternyata seorang pria setengah tua, sedang asik menulis di mejanya. Santapan sudah disiapkan di meja terpisah. Ye Jin mengamati ke sekitarnya dan terakhir pada Duta Besar. Duta Besar itu kemudian menyadari kehadiran orang di kamarnya, menoleh sebentar lalu melanjutkan tulisannya. Ye Jin menanti dalam diam dengan gelisah.

So Hyun menunggu dengan gelisah di kamarnya, menanti kabar mengenai Ye Jin.

Duta Besar memberitahu pejabat penanggungjawab Wisma Tamu kalau dirinya ingin benar-benar sendirian dan meminta supaya tidak seorangpun berada di dekat kamarnya.

Pejabat itu memberi hormat kemudian pergi. Ye Jin hanya berdua saja dengan Duta Besar, yang masih asik menulis. Ye Jin berdiri dengan gelisah, Duta Besar itu tanpa menoleh menyuruhnya untuk duduk. Ye Jin sedikit terkejut tapi kemudian melangkah dengan perlahan duduk di meja, di mana hidangan sudah disiapkan. Ye Jin melihat kalau Duta Besar tidak memperhatikannya, dengan gemetar ia mengeluarkan bungkusan Sanjoin dari balik lepitan lengan bajunya. Ye Jin melihat teko teh ada di dekatnya, kemudian melihat pada Duta Besar, yang masih menulis. Dengan tangan bergetar, antara rasa takut dan ragu-ragu, Ye Jin memberanikan diri, dengan gerakan perlahan-lahan ia membuka tutup teko kemudian akan menuangkan obat itu…

Tiba-tiba terdengar erangan, Ye Jin menjadi terkejut, ia segera menyembunyikan obat itu tapi tidak sempat menaruh kembali tutup teko di tempatnya. Ye Jin ketakutan tapi ketika ia melihat Duta Besar itu, ternyata sang Duta Besar sedang merintih kesakitan, tangannya memegang perutnya. Wajahnya tampak pucat dan menahan rasa nyeri.  Ye Jin sedikit lega tapi juga terkejut melihat kondisi dari Duta Besar, ia segera bangkit berdiri, bertanya apakah Duta Besar sedang sakit atau sesuatu yang lain. Sang Duta Besar tidak dapat menjawabnya karena sedang menahan sakit yang amat sangat di bagian perutnya. Ye Jin ragu-ragu, ia melihat ke tangannya yang memegang obat Saonjin.

Para Dayang dan  penjaga di luar wisma tidak mendengar apapun.

Ye Jin bergerak mendekati Duta Besar, bertanya lagi apakah Duta Besar baik-baik saja. Duta Besar menyuruhnya jangan mendekat. Napasnya terengah-engah menahan sakit. Ye Jin kembali melihat obat di tangannya. Dengan sedikit ragu-ragu dan gemetar, Ye Jin mengulurkan tangannya yang memegang obat dan mengatakan pada Duta Besar untuk menggunakan obatnya itu. Duta Besar menahan sakit dan menoleh, Ye Jin memberitahu kalau itu adalah obat yang disebut Sanjoin, yang terbuat dari biji-bijian jujube liar yang dikeringkan, yang akan bekerja untuk meringankan sakit perut. Duta besar bertanya sambil menahan sakit, mengapa Ye Jin membawa obat seperti itu. Ye Jin terkejut dan serba salah. Duta Besar berseru dan bertanya lagi mengapa Ye Jin membawa obat itu. Ye Jin menelan ludah tapi memutuskan untuk memberitahukan yang sebenarnya.

Ye Jin mengatakan kalau dirinya sebenarnya adalah seorang perawat yang merawat para pasien. Duta Besar terkejut, bertanya, “Seorang perawat?”, Ye Jin mengiyakannya. Duta Besar  menggerakkan tubuhnya untuk dapat melihat Ye Jin kemudian bertanya mengenai obatnya. Ye Jin menjawab kalau ia lebih baik mati daripada mengikuti perintah untuk melayani Duta Besar di tempat tidur. Duta Besar tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. Ye Jin melanjutkan kalau ia berencana untuk menaruh obat itu ke dalam minuman Duta Besar dengan maksud melawan perintah itu. Duta Besar lebih terkejut lagi. Tapi Ye Jin melihat Duta Besar yang sangat kesakitan jadi ia menyerahkan obat itu pada Duta Besar. Duta Besar tidak mengerti. Ye Jin menjelaskan kalau Sanjoin akan membantunya untuk tidur dan akan membantu untuk meredakan gejala sakit perut, diare, dan keringat dingin. Ye Jin memohon pada Duta Besar itu untuk mempercayai perkataannya. Duta Besar ragu-ragu… ia menatap Ye Jin dan pada obatnya. Ye Jin meyakinkannya kalau semua perkataanmya adalah benar. Ye Jin mengunjukkan obat itu di depan Duta Besar. Duta Besar menerimanya, membukanya, kembali menoleh pada Ye Jin, lalu memandang pada obatnya kemudian tanpa ragu menuangkan obat itu ke dalam mulutnya. Ye Jin pasrah sekarang setelah obatnya digunakan untuk pengobatan.

Setelah beberapa saat, Ye Jin bertanya pada Duta Besar bagaimana kondisinya. Duta Besar menjawab kalau sekarang dirinya sudah baikan. Ye Jin sangat lega mendengarnya. Duta Besar mengatakan, “Mencoba untuk menentang perintah dengan memberiku obat tidur. Betapa menggelikan!”. Ye Jin memohon pada Duta Besar untuk mengulurkan pengampunannya. Duta besar menghela napas dan bertanya tahukah Ye Jin mengapa dirinya mempercayai perkataan Ye Jin dan meminum obatnya.  Ye Jin menjawab kalau ia tidak tahu. “Karena kejujuranmu”, ujar Duta Besar. Ye Jin tidak mengerti.  “Tidak ada sedikitpun kepalsuan di wajahmu”. Ye Jin memandang Duta Besar, entah ia harus berkata apa. Duta Besar menguap kemudian berkata kalau itu memang benar obat tidur. Sekarang ia harus pergi beristirahat. Ye Jin dag dig dug … Tapi ternyata duta besar menyuruhnya untuk pergi. Ye Jin terkejut, ia tak paham, tapi kemudian pelan-pelan senyumnya muncul dan perasaan lega membanjiri hatinya … Ye Jin memberi hormat kemudian segera pergi.

Ye Jin keluar, menenangkan hatinya yang berdebar, ia tersenyum lega dan senang. Ye Jin menemui Dayang Kim, yang terheran-heran mengapa Ye Jin keluar begitu cepat, ia bertanya apa yang terjadi. (Andy: Emangnya “begituan” butuh waktu semalam suntuk?? 😛 ). Ye Jin tersenyum dan memberitahu kalau Duta Besar menyuruhnya untuk pergi. Dayang Kim curiga dan menuduhnya pasti melakukan perbuatan yang tidak pantas.  Ye Jin menjawab kalau ia tidak melakukan semua itu. Dayang Kim masih tidak mempercayainya dan mengancam jika segala sesuatunya menjadi salah maka Ye Jin tidak akan bisa lolos dari semua ini. Ye Jin tetap tenang.

Pagi hari di Hyemin, para pasien membanjiri halaman Hyemin, dr. Hur sangat sibuk merawat para pasien. Ohgun datang tergesa-gesa untuk menemuinya dan bertanya dengan riang apakah Hur June sudah mendengar kabar mengenai Ye Jin. Kim Man Kyung yang ada di situ langsung bertanya apa yang terjadi. Beberapa dokter, petugas medis, dan perawat segera menghampiri Ohgun untuk mendengarkannya. Ohgun dengan riang hati mengatakan kalau Ye Jin yang seharusnya pergi untuk melayani Duta Besar Dinasti Myung di tempat tidur, keluar dengan tak kurang suatu apapun bahkan menyembuhkan nyeri akutnya. Gaegeum masih tidak paham dan bertanya kalau begitu apakah Ye Jin telah melayaninya di tempat tidur. Ohgun yang tertawa senang segera memasang wajah garang dan bertanya pada Gaegeum apakah Gaegeum akan tidur dengan seseorang ketika ia sangat kesakitan. Gaegeum terdiam… Ohgun kembali dengan tampang cerianya melanjutkan kalau Duta Besar memuji usaha Ye Jin kepada Dewan Istana, dan Tuan Dojedo akan memberinya penghargaan besar karenanya.  Hur June merasa hatinya seperti terlepas dari beban berat yang menindih, lega bukan main. Semua orang sangat senang mendengar berita itu.

Tiba-tiba ada orang berseru “Ye Jin”, ternyata Ye Jin baru datang, semua orang sangat senang melihatnya. Duk Geum menghampirinya dan memuji kerjanya, betapa ia sangat khawatir dengan Ye Jin sehingga tidak dapat memejamkan matanya barang sekedip pun semalaman. Sungguh beruntung karena ternyata semuanya berjalan ke arah yang tak diduga seperti itu. Ye Jin melihat Hur June dan memandangnya dengan pandangan “penuh cinta”. Hur June balas memandangnya dan tersenyum melihat Ye Jin dapat lolos dari peristiwa ini dengan cara luar biasa.

Saat semuanya sedang bersuka karena kepulangan Ye Jin, duo sirik mendatangi Hur June dan memberitahunya kalau dr. Yang sedang mencarinya dan menyuruh Hur June ke Istana.

Hur Jue menemui dr. Yang yang ditemani oleh Menteri Kesehatan. Menteri Kesehatan memberitahu Hur June kalau Yang Mulia akan pergi berburu dengan para bawahannya dan meminta Hur June agar menjaga keselamatannya. Hur June kaget. Dr. Yang mengatakan kalau Gong Bin Mama secara khusus memilih Hur June, jadi diharapkan agar Hur June tidak membuat kesalahan. Hur June dengan mantap mengiyakannya.

Raja berkuda diiringi para pengawal menuju tempat perburuan.

Gong Bin mengawasi dengan bahagia kedua anaknya yang sedang bermain kejar-kejaran. Hur June dan para pejabat menunggu kedatangan Raja di kemah peristirahatan. Menteri Sung melihat Hur June dan menghampirinya. Menteri Sung mengatakan kalau ini adalah tugas yang sangat berat melayani Yang Mulia Raja, tapi pada saat yang bersamaan karir Hur June tampak menjanjikan. Hur June merendah. Menteri Sung mengawasi sekeliling dan menyuruh Hur June sementara ia ada di sini, melupakan sejenak para pasiennya, menikmati pemandangan dan beristirahat, karena Menteri Sung mendengar kalau Hur June terlalu keras pada dirinya sendiri. Memahami bagaimana dan kapan beristirahat juga adalah sebuah keutamaan.

Tiba-tiba Kepala kasim diiringi oleh Kepala Pengawal Raja berseru-seru memanggil Menteri Sung, yang langsung bertanya ada kejadian apa. Kasim itu memberitahu kalau Yang Mulia terjatuh dari kudanya. Semua orang terkejut dan segera pergi untuk melihat keadaan sang Raja. Hur June juga pergi.

Raja sedang terduduk bersandar di bawah pohon. Sepatunya sudah terlepas, dan sekarang kaus kakinya yang akan dilepas. Raja menahan sakit. Kasim tadi dan para pejabat serta Hur June mendatangi Raja. Raja melihat kehebohan itu dan mengatakan pada mereka kalau ini bukan sesuatu yang serius, jadi tidak perlu untuk dibuat heboh. Hur June segera menghampiri Raja dan meminta ijin untuk memeriksanya. Hur June memeriksa nadi Raja. Menteri Sung menegur para pengawal raja karena telah melalaikan tugasnya. Raja mengatakan kalau ini adalah kesalahannya sendiri, jadi tidak usah Menteri Jung terlalu keras pada dirinya sendiri. Raja kemudian bertanya pada Hur June bagaimana kondisi lukanya. Hur June menjawab kalau uratnya tampak tertekan dikarenakan benturan akibat jatuh dari kuda, tapi tulangnya tidak apa-apa. Ia akan melakukan akupungtur, menormalkan kembali urat yang tertekan itu, sehingga kondisi Raja akan membaik. Menteri Sung dan pejabat yang lain lega dan senang mendengar diagnosa Hur June.

Hur Jun melakukan pengobatan akupungtur di kaki Raja. Kepala Pengawal Raja melihat Dr. Hur dan merasa kalau ia mengenalinya, tapi tidak dapat mengingat di mana ia pernah bertemu. Hur June masih berkonsentrasi melakukan akupungtur dan mencabuti semua jarum. Menteri Sung bertanya apakah pengobatannya sudah selesai. Hur June mengiyakannya. Menteri Sung segera memerintahakan para pengawal untuk membimbing Raja dan membawanya ke kemah.Parapengawal mengiyakannya, rombongan besar mulai berangkat. Hur June mengemasi semua peralatan medisnya. Raja dibawa dengan tandu kerajaan.

Kepala Pengawal Istana mendekati Hur June dan memuji kerjanya, Hur June menoleh dan melihat pada Kepala Pengawal Istana, tiba-tiba Hur June mengenalinya. Kepala Pengawal mengatakan kalau bukan karena Hur June maka posisinya akan hilang hari ini. Hur June dengan gugup mengatakan kalau ia akan pergi menyusul Raja. Kepala Pengawal menyatakan kalau ia memiliki satu hutang besar pada Hur June. Hur June mengiyakannya dan beranjak pergi. Tapi Kepala Pengawal itu menyuruhnya berhenti sebentar, Hur June ragu-ragu membalikkan badannya. Kepala Pengawal bertanya jika Hur June mengenal dr. Kim Mangyung. Hur June mengiyakannya dan mengatakan kalau Kim Mangyung ada di Hyemin. Kepala Pengawal tertawa senang dan mengatakan kalau dr. Kim dan dirinya dulu satu sekolah, dan meminta Hur June untuk menyampaikan kalau ia akan mengunjungi temannya itu, dan menyebutkan namanya, Bae Chunsoo, Kapten Polisi di biro polisi (- gantinya Lee Jung Myung -).  Hur June memberi hormat. Kapten Bae tersenyum senang dan segera berbalik pergi memimpin anakbuahnya untuk menyusul rombongan Raja.

Hur June sangat shock dan hatinya dipenuhi dengan beban berat. Hantu dari masa lalunya telah kembali untuk mengejar dan meminta pertanngungjawaban atas perbuatannya. Bae Chunsoo adalah Komandan polisi di Yongchun, yang telah menangkap Hur June yang tertangkap basah sedang melakukan perdagangan gelap dan menjebloskan dirinya ke penjara. Jika bukan karena ayahnya, Hur Ryune, yang berkorban untuk menyelamatkan Hur June, Hur June mungkin sudah dihukum berat dan menjadi budak. Karena itulah ia lari ke Sangnum.

Yangtae dan Ilsuh sedang menjaga toko. Haman datang dan melihat tampang mereka yang kusut dan bertanya mengapa mereka tak bersemangat. Yangtae menjaawab kalau tidak banyak pelanggan datang hari-hari ini. Ilsuh takut kalau mereka terpaksa gulung tikar karena bangkrut. Haman iri dengan kehidupan Gyum yang begitu baik, selalu bersenandung ria dan tampangnya terlihat cerah dan bersih. Lain halnya dengan anak mereka, Unyun, yang terlihat pucat. Ilsuh menegurnya apa itu perkataan yang pantas dikeluarkan oleh seorang ibu dan menyuruh istrinya untuk memberi makan yang cukup pada anak mereka. Tapi Haman gusar dan mengatakan kalau tidak ada yang memberi makan padanya. Mereka berdua mau bertengkar tapi Hur June datang.  Hur June ingin bicara berdua dengan Yangtae, Yangtae heran… tapi segera pergi setelah sebelumnya menganjurkan pada kedua suami istri itu agar tidak bertengkar. Ilsuh dan Haman heran dan merasa ada yang aneh pada tingkahnya Hur June.

Hur June memberitahunya mengenai kehadiran Bae Chunsoo, yang menjadi Kapten Polisi di biro polisi. Yangtae terkejut. Sudah hampir satu dekade sekarang, tapi jika masa lalu Hur June sebagai penyelundup terungkap, Hur June akan mendapatkan masalah besar.  Menyembunyikan seorang kriminal, menikahi anak gadis seorang bangsawan, mereka telah melanggar banyak sekali hukum. Yangtae mengusulkan kalau mereka dari sekarang harus bersiap-siap kalau-kalau Kapten Bae mengenali mereka dan mengungkapkan semuanya.  Hur June mengatakan kalau kelihatannya Kapten Bae tidak mengenalinya. Ia kelihatannya melupakan tentang Hur June. Yangtae bertanya bagaimana jika sesuatu tiba-tiba saja membuatnya teringat. Hur June bingung. Yangtae melanjutkan perkataannya kalau hari-harinya akan berakhir. Yangtae berdesah dan mengeluh, ia mengira kalau kesempatan mereka telah tiba, tapi sekarang … ?  Apa yang telah mereka lakukan sehingga mereka pantas menerima semua ini …

Keesokan paginya Hur June berpamitan pada ibu dan istrinya. Setelah Hur June pergi, Nyonya Son bertanya apa ada yang terjadi pada Hur June, mengapa wajahnya terlihat pucat. Dahee menyahut kalau Hur June bergulak-gulik di tempat tidur semalaman tapi tidak mengatakan sepatah katapun. Nyonya Son bertanya-tanya apakah mungkin karena cuaca musim semi…

Di Hyemin, Hur June masih melakukan tugasnya, tapi kadang tampak melamun. Ye Jin melihatnya dan heran. Kim Mangyung juga melihatnya dan bertanya-tanya apa yang salah dengan Hur June. Kim Mangyung menghampiri Hur June dan menyuruhnya untuk pergi beristirahat karena tampangnya tidak terlihat baik. Hur June menolaknya tapi Kim Mangyung menegurnya supaya tidak keras kepala dan mengikuti nasihatnya untuk beristirahat. Ye Jin memandangi Hur June selama itu.

Bae Chunso datang ke Hyemin dan menemui Kim Mangyung, yang sangat senang melihatnya. Hur June terkejut dan menjadi gugup serta gelisah melihat kedatangan Bae Chunsoo.

Hur June menyendiri di kantor Hyemin, hatinya masih dipenuhi rasa takut dan gelisah. Kim Mangyung datang dan bertanya apakah Hur June tugas jaga malam ini, Hur June menjawab tidak. Kim Mangyung sangat senang dan menyuruh Hur June untuk ikut padanya. Hur June tidak paham. Kim Mangyung menjelaskan kalau orang yang baru saja Hru June lihat berjanji akan membelikan mereka minuman dan mengatakan kalau ia ingin membalas kebaikan dari Hur June. Hur June serba salah. Kim Mangyung menyebutkan namanya Bae Chunsoo dan mereka berdua pernah belajar bersama. Hur June salang tingkah dan menyahut kalau dirinya tak ingin mengganggu reuni dari mereka berdua. Kim Mangyung membujuknya kalau ini sangat baik untuk Hur June bisa berkenalan dengannya, apalagi kelihatannya Bae menyukai Hur June. Lagipula, Bae tidak pernah gagal untuk membalas kebaikan yang pernah ia terima, Hur June tidak akan bisa mengatakan tidak padan Bae untuk selamanya. Hur June sangat gelisah hatinya.

Akhrinya Hur June dengan terpaksa ikut Kim Mangyung untuk menemui Bae Chunsoo, mereka bertiga minum-minum di kedai. Kim Mangyung dan Bae Chunsoo bernostalgia saat-saat mereka bersekolah bersama-sama dahulu. Selama perbincangan itu  Hur June hanya diam saja karena pikirannya melayang entah kemana. Kemudian Bae Chunsoo melihat Hur June diam saja mengatakan kalau Hur June kelihatannya perlu minum lagi, ia menuangkan minuman pada cangkir Hur June. Bae merasa ia pernah melihat Hur June sebelumnya, tapi sulit sekali untuk mengingat kembali kenangan masa lampau, tiba-tiba ia bergumam Hur dari Yongchun. Hur June kaget, tapi masih dapat menguasai dirinya. Bae bertanya darimana asal Hur June, Kim yang menjawab kalau Hur datang dari Sanum, Kyung Sangdo dan meraih banyak hal dari wilayah selatan. Hur June juga sangat terkenal di rumah sakit Kerajaan. Tidak pernah lagi mereka akan melihat talenta ini. Kim yakin kalau suatu saat nanti Hur June akan menjadi dokter Raja melayani Yang Mulia, jadi Bae dan Hur nantinya pasti akan sering bertemu. Bae sangat senang dan berkata kalau begitu dirinya seharusnya menjamu mereka lebih baik daripada jamuan yang sekarang. Kim Mangyung setuju kalau mereka butuh jamuan yang kedua, bahkan yang ketiga pun sangat membantunya.  Selama itu Hur June hanya diam saja dengan hati yang berkecamuk.

Hur June berpamitan pada Kim Mangyung dan menyesal karena harus pulang lebih dahulu, tapi Kim Mangyung berkata tidak apa-apa, justru dirinya yang cemas karena telah memaksa Hur June untuk datang padahal Hur June kelihatannya tidak begitu baik keadaannya. Jadi Kim Mangyung menyuruhnya pergi karena dirinya dan Bae nanti pasti minum berkendi-kendi sampai mabuk. Hur June sedikit lega dan berpamitan pada Kim Mangyung.

Kim Mangyung kembali menemani Bae dan mengatakan kalau Hur June kelihatannya tidak terlalu baik kondisinya, tapi itupun tidak perlu diherankan karena Hur June tidak pernah memperhatikan kondisinya sendiri tapi justru merawat para pasien. Bae bertanya apakah Hur June tumbuh di Sanum, Kim heran dan bertanya apakah ia sekarang mulai tertarik dengan Hur June. Bae menjawab kalau dirinya khan pernah bilang kalau ia pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi  ia belum pernah ke Sanum sebelumnya. Kim Mangyung menegurnya karena banyak orang di luarsanayang mungkin terlihat mirip, jadi berhenti saja bicara dan minum. Bae tertawa dan mulai minum mengiringi Kim Mangyung. Kim Mangyung kemudian ingin membicarakan diri Bae Chunsoo.  Apakah penghargaan yang ia terima sebagai Kapten Polisi sudah cukup baginya. Bae menjawab kalau ia masih saja tidak bisa mengatakan apapun mengenaiSeoulkarena selama ini ia bertugas di pinggiran negeri. Tapi Bae pikir kalau ia akan baik-baik saja. Sudah hampir sepuluh tahun, Kim mengingat saat ia dulu terakhir kali mengunjungi Bae yang menjadi komandan polisi di Yongchun. Bae tertawa tapi tiba-tiba sekilas memori melintas. Ia teringat dengan seseorang yang ia tangkap sebagai penyelundup di Yongchun, namanya Hur June, anak dari Hur Ryune, kepala daerah Yongchun. Kim Mangyung bertanya apa yang ia gumamkan, Bae berpura-pura tidak ada apa-apa dan mengajak Kim minum-minum lagi.

Heymin, Bae Chunsoo datang lagi untuk mencari Hur June. Ia menemukan Hur June sedang memeriksa pasien dan memberi petunjuk pada asisten perawat.  Bae mengawasi Hur June dari kejauhan. Hur June selesai memeriksa pasiennya dan bermaksud untuk memeriksa pasien yang lain tapi kemudian menyadari kehadiran Bae Chunsoo di hadapannya dan menjadi terkejut. Bae bertanya mengapa Hur June terlihat terkejut melihatnya. Hur June menjawab karena ia datang. Bae bertanya apakah Kim Mangyung ada, Hur June menjawab kalau Kim ada di dalam.  Bae mengatakan pada Hur June kalau ia dulu pernah bekerja sebagai komandan polisi di Yongchun, Pyungando sekitar 10 tahun lalu. Pada saat itu, ada sekelompok penyelundup di Yongchun dan setelah ia ingat-ingat, nama pemimpinnya adalah Hur June. Hur June terkejut. Bae melanjutkan kalau kenangannya ini sudah telalu lama dan ia masih tidak yakin, tapi Bae merasa kalau pemimpin penyelundup itu banyak kemiripan dengan Hur June. Hur June menjawab dengan gugup, ia percaya kalau Bae salah menganggapnya dengan orang lain. Bae bertanya apakah benar, Hur June mengiyakannya dan meminta diri pada Bae. Bae membiarkannya dan sambil mengawasi punggung Hur June, Bae berkata sungguh melegakan kalau Hur June bukanlah orang yang ia maksudkan, karena Hur June di Yongchun itu tidak hanya memimpin penyelundupan tapi juga kawin lari dengan anak gadis keluarga bangsaawan. Dia adalah penjahat yang tidak bisa melarikan diri dari hukuman mati. Jadi memang baik kalau orang itu bukanlah Hur June. Hur June sangat gugup dan gelisah, ia melangkah pergi dengan hati berkecamuk hebat …..

Iklan

8 comments on “Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 48

  1. senangnya pada YE JIN,,,akhirnya selamat juga,,,bisa lolos….dengan selamat,,,
    aduhh,,,mudah”an dr. hur june tdk knp”,,,bagaimana yah selanjutnya,,ditunggu episode slanjutnya,,,

  2. Hur June menghadap kepada menteri Sung memohon agar perawat di ’cancel ’ sebagai teman tidur Duta Besar Myung dan diganti dengan wanita lain …. ( sungguh nekad…. Tindakan Hur June pada saat itu masih tergolong tabu …walaupun pernah mengobati istri Pak Meneri sampai sembuh ) …… Ya …..inilah Balas Budi….Cinta dan persahatan …… karena Hur June sangat tidak tega Ye Jin diperlakukan seperti itu. Hur June sangat ingat kalau dulunya sebagai tukang rumput (ketika sadar dan memilih jalan lurus) …..Ye Jin sejak awal telah mengajarkan efek tumbuhan obat, dasar dasar pengobatan, maupun support dari Ye Jin agar bangkit ketika diusir oleh gurunya di Sanum …… Mengharukan ……….
    ( Saya ingat Koh Andi pernah komentar …… pasti Ye Jin akan terpilih sebagai pasangan Hur June seandainya ia belum punya istri ……. ) Sangat bermakna dalam sanubari dan saya men support untuk hal tersebut……

  3. Ada yang menghentak di paragraf terakhir ……….
    Hukum tetap adalah hukum dan harus dilaksanakan ( apabila mata rantai bukti terpapar…. ) ….. pengakuan masa lalu yang tidak kunjung terucap oleh Hur June…..
    Namun sanggupkah kita melihat Hur June hanya sampai episode 49?
    Tentu tidak……..

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s