Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 57

Hur June sedang dalam perjalanan pulang saat ia mendengar teriakan “Bunuh semua para bangsawan!” dan melihat beberapa orang, pria dan wanita berpakaian indah, sedang dipukuli dengan kayu oleh orang banyak. Hur June terkejut dan segera menghampiri mereka, menghardik mereka dan menyuruh mereka untuk menghentikan tindakan mereka memukuli orang-orang itu. Tapi seseorang berseru sambil menunjuk Hur June kalau ada bangsawan juga di sana. Banyak orang segera mengejar Hur June yang berlari menyelamatkan diri, tapi Hur June terkepung oleh orang-orang yang tiba-tiba muncul di sekelilingnya. Orang-orang itu membawa celurit, garu, pentungan kayu dan obor, menakut-nakuti Hur June. Hur June menjadi ketakutan dan bingung ……

Hur June berteriak, “Mengapa kalian melakukan hal seperti ini?”

Seorang pria balik bertanya, “Mengapa? Apanya yang mengapa? Siapa yang memeras uang kami? Bukankah para bangsawan seperti dirimu? Yang kalian pedulikan hanya mencari keuntungan pribadi belaka dan berdebat saja dan lihat sekarang siapa yang membuat negera kita dalam kondisi seperti ini? Kita harus membunuh Raja dan para bangsawan! Bunuh! Bunuh!”

Hur June kebingungan, pria itu berkata lagi, “Kami akan mati juga saat prajurit Jepang menyerbu Joseon … (pada rekan-rekannya) Mari kita membalaskan dendam kita sebelum kita mati! Bunuh!”

Tiba-tiba terdengar suara seruan seseorang menyuruh mereka berhenti. Kim Mangyung dengan pakaian biasa, datang menghampiri Hur June, berusaha melindunginya, dan bertanya pada orang-orang itu, “Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”.

Pria lain bertanya dengan suara keras, “Siapa kau, apakah kau ingin dirimu terbunuh? Semua bangsawan harus mati!”

Pria itu ingin membacokkan celuritnya pada Kim Mangyung, tapi Kim segera mencekal kedua tangannya dan mengumpat padanya dan berteriak pada semua orang, “Lihatlah aku! Aku dokter Kim Mangyung! Jika kalian pernah sakit dan datang ke Hyemin  Aku yakin kalau kalian pasti pernah melihatku! Sudah lebih dari 20 tahun aku bertahan di Hyemin dan mengobati rakyat miskin. Kalian tidak bisa mengatakan kalau kalian tidak pernah melihatku!”

Seroang pria membisiki pria yang menyerang Kim, kemudian pria penyerang itu membatalkan niatnya, berkata, “Tuan, berpura-puralah kau tidak melihat apapun dan minggirlah! Aku harus melepaskan dendam di dalam hatiku!”

Kim kaget dan bertanya, “Dendam? Apa yang sedang kau bicarakan?”

Pria pertama menunjuk Hur June dan berseru, “Aku bermaksud akan membunuh pria itu untuk membuat hatiku senang!”

Kim terkejut dan segara melindungi Hur Juen, bertanya “Apakah kalian tahu siapakah dia sebenarnya? Dia adalah dokter Raja, Hur June!”

Semua orang terkejut dan menggumamkan nama Hur June …. Kedua orang pemimpin orang banyak itu tampak saling berpandangan.

Kim berteriak, “Dia bukanlah jenis orang yang kalian sebutkan! Dia merawat para pasien seperti dirinya sendiri! Dialah satu-satunya orang yang mau menyedot darah nanah dengan mulutnya sendiri! Dia pergi ke kota yang terkena wabah dan menyelamatkan nyawa banyak orang!”

Orang-orang itu terkejut karena mereka pernah mendengar nama besar dan juga tentang kepribadian Hur June yang sangat peduli pada rakyat miskin.

Kim Mangyung menyuruh semua orang itu untuk pergi, dan bertanya “Apakah kalian akan membalas kebaikan dengan kebencian? Pergi! Pergi sekarang!”

Pemimpin orang banyak itu salah tingkah dan segera mengajak semua orang itu pergi.  Orang-orang itu meninggalkan Hur June dan Kim Mangyung. Tiba-tiba terdengar seruan, “Itu .. di sana ada bangsawan!” Orang-orang itu segera berlari menuju ke sumber suara.

Hur June merasa lega karena terlepas dari bencana tidak terduga, Kim Mangyung mendekati Hur June, “Hampir saja! Kau sangat berani berjalan dengan seragam itu (jubah merah dokter Raja) berkeliaran pada waktu seperti ini.”

Hur June tersenyum dan balik bertanya, “Kau seharusnya mengikuti rombongan Kerajaan, apa yang sedang kau lakukan di sini?”

Kim Mangyung menjawabnya, “Aku tidak bisa membiarkan kau melakukan rencanamu sendirian saja.” Hur June tidak menyangka.

“Aku akan pergi ke Hyemin dan akan membawa catatan para pasien”, ujar Kim.  Hur June sangat senang. “Omong-omong, kau mau ke mana?” tanya Kim Mangyung.

Hur June menjawab, “Aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah untuk mengungsikan keluargaku.”

Kim Mangyung menganjurkannya untuk meneruskan perjalanan, sedangkan ia sendiri akan pergi ke Hyemin dan mengemasi buku-buku.

Tiba-tiba terdengar seruan, “Kantor Administrasi Kerajaan terbakar!”. Banyak orang berlari ke arah sumber kebakaran. Kim dan Hur June terkejut. Terdengar seruan lagi, “Istana kebakaran!”

Kim segera mencekal seseorang, yang ternyata penyerangnya tadi, dan bertanya apa yang telah terjadi… Pria itu menjawab kalau Istana Kyung Bok terbakar, pria yang lain menyahut kalau Hyemin dan Kantor Administrasi Kerajaan juga terbakar. Hur June dan Kim Mangyung terperanjat.

Kelompok 1 yang akan mengikuti rombongan Raja sedang menunggu kedatangan Hur June. Doji mengatakan pada dr.Yang kalau Hur June mungkin saja tidak datang.  Dr. Yang bimbang. Doji melanjutkan, mereka tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Mengapa mereka harus menunggu seseorang yang melarikan diri? Lee menyela kalau perkataan itu tidak pantas diucapkan. Tidakkah mereka pergi untuk mengambil buku-buku medis? Apa yang lebih penting daripada menyelamatkan buku-buku selain melindungi Yang Mulia. Apapun alasannya, tidak hadir dan menyadari posisinya adalah sama dengan tidak bertanggungjawab akan tugasnya dan melarikan diri.  Lee memohon pada dr. Yang untuk menunggu sedikit lagi, dr. Yang masih mempertimbangkannya ketika Hongchun datang dan memberitahu mereka kalau ada masalah besar, rakyat yang marah membakar Istana Kyung Bok, Kantor Administrasi Kerajaan, Hyemin, dan juga terjadi kebakaran di mana-mana di seluruh kota. Semua orang terkejut dan menjadi gelisah. Akhirnya dr. Yang memutuskan untuk tidak menunggu lagi, ia mengajak mereka semua berangkat.

Gyeum menunggu di halaman, gelisah dan bertanya-tanya mengapa ayahnya tak kunjung datang.

Yangtae dalam perjalanan pulang setelah keluar mencari kabar.

Keluarga Hur June, Ilsuh, dan istri Yangtae gelisah menunggu-nunggu kabar di dalam ruangan. Yangtae pulang dan masuk ke dalam, memberitahu kalau pasukan Jepang sudah sampai di pelabuhan Samgae. Semuanya terkejut karena itu sangat dekat dengan tempat mereka. Haman tidak dapat menunggu lagi, ia mengajak suami dan anaknya untuk pergi terlebih dahulul. Tapi Ilsuh dan Unyun segera menahannya, Haman menjadi marah dan bertanya apa mereka mau mati begitu saja di tempat ini. Nyonya Son bertanya apa mungkin sedang terjadi sesuatu pada Hur June, anaknya. Gyeum juga khawatir, ia mengatakan kalau akan ke Istana dan segera berpamitan. Dahee memanggilnya, cemas dengan keselamatan anaknya. Yangtae menenangkan Dahee dan mengatakan klau ia akan segera menyusul Gyeum. Yuwol mencoba menahan suaminya karena ia ketakutan, tapi Yangtae mencoba menghiburnya kalau di tempat ini istrinya tidak akan apa-apa kemudian segera pergi menyusul Gyeum.

Hur June (berpakaian biasa) dan Kim Mangyung sampai di Hyemin dan terkejut melihat bangunan di sana sudah terbakar hebat dan bertanya pada Ohgun bagaimana dengan gudang Hyemin, bagaimana dengan memorandum dan catatan pasien, Ohgun memberitahunya kalau Tuan Kim (Sang Hwa) dan Yejin masuk ke dalam, Hur June segera menyusul masuk ke gudang yang terbakar.

Ye Jin dan Sanghwa sedang mengambil buku-buku catatan medis dan mengumpulkannya menjadi satu di tempat yang tidak ada apinya, untuk kemudian dibungkus dan dibawa pergi, namun Ye Jin terlalu banyak menghirup asap sehingga pingsan, Sanghwa terkejut dan berusaha menyadarkannya. Hur June dan Kim Mangyung datang, Sanghwa memberitahu mereka kalau Ye Jin pingsan karena terlalu banyak menghirup asap. Hur June cemas dan menyuruh Sanghwa untuk membawanya keluar. Sanghwa menggendong Ye Jin di punggungnya dan segera keluar gudang.

Hur June  berkata pada Kim Mangyung, paling tidak mereka harus berhasil membawa yang paling penting, ia meminta Kim untuk mencari catatan kesehatan Raja yang berkaitan dengan akupungtur, moxibustion, dan ramuan. Kim mengiyakan kemudian segera pergi mengambil beberapa buku dari lemari. Hur June dan Kim Mangyung bertarung dengan api, asap, hawa panas, dan waktu untuk menemukan buku-buku yang paling berharga.

Gyeum dan Yangtae menuju ke Istana untuk mencari kabar tentang Hur June.  Mereka berdua mendengar percakapan dari pengungsi, bukan saja Istana Kyung Bok yang terbakar, tapi juga Istana Chang Duk, Kantor Administrasi Kerajaan juga terbakar. Gyeum bertanya apakah benar Istana terbakar, pria itu mengiyakannya, baru saja ia dari sana. Yangtae bertanya bagaimana dengan Raja. Pria itu dengan gemas menyatakan kalau Raja sudah melarikan diri. Gyeum terkejut dan bertanya lagi apakah itu artinya sudah tidak ada orang lagi di Istana. Pria itu menjawab saat ia ke sana, tempat itu kosong, tidak ada orang, kelihatannya semua sudah pergi melarikan diri. Bukan hanya Raja, tapi juga semua orang di Istana pergi dari Seoul. Hur Gyeum menjadi masygul.

Yangtae dan Gyeum pulang dengan wajah murung dan memberitahu kalau Hur June tidak bisa datang.  Nyonya Son bertanya apa maksudnya itu. Gyeum menjawab kalau Raja sudah melarikan diri dan semua pejabat yang melayani dan membantu Raja juga sudah pergi semuanya dan keluar dari Seoul. Dahee bertanya apakah kalau begitu ayah Gyeum juga sudah pergi keluar Seoul. Yangtae menjawab, karena Hur Juen adalah dokter yang menjaga kesehatan Raja, dia pasti ikut. Ilsuh tidak bisa menerimanya, bagaimana bisa ia pergi sementara ada keluarganya sedang menunggu kedatangannya. Dahee tampak tidak percaya kalau suaminya bisa melakukan hal seperti itu. Gyeum mengajak ibunya untuk segera pergi mengungsi, tapi Dahee masih bimbang dan memikirkan suaminya. Hur Gyeum berseru kalau ayahnya tidak mungkin datang. Jika ia memikirkan keluarganya maka tidak mungkin ia melakukan ini pada mereka. Dia tidak pulang ke rumah selama berhari-hari saat keadaan kacau seperti ini. Dia mengikuti Raja dan tidak peduli jika keluarganya mengungsi untuk mencari perlindungan atau tidak. Nyonya Son membantahnya, pasti ada alasan di balik semua ini. Tapi Gyeum sudah terlanjur marah pada ayahnya, meminta mereka untuk segera pergi atau kalau tidak mereka akan dalam masalah. Ilsuh mendukung Gyeum dan meminta Nyonya Son dan Dahee untuk pergi sekarang, jika mereka terlambat mengungsi dan tertangkap oleh prajurit Jepang … ia takut untuk membayangkannya. Nyonya Son memandang ke setiap wajah orang-orang di hadapannya dan sangat bingung.

Ye Jin berhasil diselamatkan dan baru saja tersadar tapi masih mencemaskan buku-buku medis dan catatan pasien. Ohgun menenangkannya dan mengatakan kalau dokter Raja dan dr. Kim Mangyung sedang mengeluarkannya.

Hur June dan Kim Mangyung keluar dari gudang yang terbakar dengan membawa dua buntalan besar berisikan buku-buku dan menaruh semua ke tempat yang aman. Hur June mau pergi lagi tapi Kim Mangyung dan Sanghwa segera menahannya. Hur June mencoba memberontak dan mengatakan kalau ia harus pergi sekali lagi ke dalam sana, tapi Kim Mangyung menentangnya dan tetap saja menghalanginya bersama dengan Sanghwa. Gudang Hyemin terbakar hebat, Hur June masih tidak dapat melepaskan diri dari kedua rekannya, ia menjadi sangat berduka dan menangis sedih. Ye Jin mengawasi semua itu dan hatinya juga ikut berduka.

Hur June berlari ke rumahnya tapi melihat kalau tempat itu ternyata sudah kosong, ia memanggil-manggil ibu dan istri serta anaknya, tapi tidak ada yang menjawabnya, tampaknya tidak ada seorangpun di sana, semua orang sudah mengungsi. Ia masuk ke dalam rumah dan melihat ada selembar kain ditutupkan ke atas meja. Hur June menghampiri dan mengambil kain itu, tampak ada hidangan di atas meja dan surat di sebelahnya. Hur June mengambil surat itu dan berpikir sebentar kemudian segera pergi keluar mencari keluarganya di antara para pengungsi.

(Adegan selanjutnya menggambarkan pengungsian Dahee beserta keluarganya dan pencarian Hur June diiringi suara Dahee sebagai latar belakangnya, membacakan isi suratnya)

Suara Dahee: Aku meninggalkan surat ini hanya umtuk berjaga-jaga, walaupun aku tahu kalau sedikit sekali kemungkinann ini akan mencapai dirimu.  Setelah mendengar kalau kau mengikuti rombongan Kerajaan, kami pergi dengan membawa barang-barang kita. Aku ketakutan dan tidak punya harapan kemana kami akan pergi, tapi Gyeum memimpin kami, jadi jangan mencemaskan kami sekeluarga. Walaupun  aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi satu sama lain, aku percaya kalau aku akan bertemu denganmu lagi. Kumohon jagalah dirimu sampai kita bertemu lagi nanti.

Hujan turun mengiringi pengungsian rombongan keluarga Kerajaan, seakan menangisi keputusan Raja meninggalkan rakyatnya demi keselamatan dirinya sendiri. Tampak Pangeran Gwanghae, memakai jubah hitam pertanda Pangeran Mahkota, menunggang kuda di depan rombongan bersama dengan Bae Chunsoo sebagai Jenderal Pengawal Kerajaan.

Raja tampak termenung, merasa masygul dalam Tandu Kerajaan. Di belakangnya menyusul berturut-turut tandu Inbin, Pangeran Shin Sung, dan Puteri Ryu, isteri Pangeran Gwanghae. Rombongan para pejabat, dayang, kasim, dokter, dan perawat berjalan kaki mengiringi anggota Kerajaan yang ditandu.

Keluarga Hur June, Ilsuh dan Yangtae berhasil keluar dari Seoul, dan bersama-sama dengan rombongan pengungsi yang berjumlah besar melanjutkan perjalanan mereka untuk menyelamatkan diri dari serbuan pasukan Jepang, yang mulai bergerak ke Ibukota.

Hur June dan rekan-rekannya, Kim Mangyung, Kim Sanghwa, Lim Ohgun, Ye Jin, dan dua orang perawat (mungkin Ok Jung dan Chae Ryun)  sudah mengemasi buku-buku dan berbagi beban di antara mereka.  Hur June menyatakan kalau rombongan Raja pasti telah tiba di wilayah Pajoo sekarang dan tidak akan mudah untuk menyusulnya dengan beban buku-buku yang berat ini, tapi Hur June yakin kalau mereka pasti lambat laun akan menyusul jika mereka memusatkan pikiran mereka untuk meraih tujuan itu. Hur June mengajak mereka pergi.

Rakyat sedang berebut naik perahu untuk menyeberangi sungai yang lebar, pemilik perahu menyuruh mereka berbaris tapi rakyat tidak mendengarnya dan tetap berebutan ingin naik terlebih dahulu, tiba-tiba rombongan kerajaan tiba. Bae Chunsoo menyuruh semua orang untuk memberi jalan pada rombongan Raja. Semua orang terkejut dan segera memberi jalan bagi rombongan itu kemudian berlutut menyembah untuk menghormati Raja. Tandu Kerajaan diturunkan, demikian juga dengan tandu yang lainnya. Raja segera turun dari tandu, demikian juga dengan Inbin dan Pangeran Shin Sung.

Bae Chunsoo mendatangi pemilik perahu, dan menyuruhnya untuk mempersiapkan perahu karena rombongan Raja akan menggunakan perahunya untuk menyeberangi sungai. Pemilik perahu itu segera mengiyakannya dan pergi untuk mempersiapkan perahunya.

Saat Raja melewati rakyat yang masih menyembah, ia mendengarkan suara ratapan rakyat yang bertanya kemana ia pergi, mengapa Raja meninggalkan mereka, dan memohon agar Raja tidak membuang mereka. Raja tampak sangat masgul dan bimbang. Para pejabat merasa gelisah dan akhirnya Menteri Jung memohon agar Raja segera menaiki perahu. Raja masih merasa berat, tapi para menteri segera mendesaknya untuk naik perahu. Raja akhirnya menguatkan hatinya, mengabaikan seruan rakyat dan naik ke perahu. Gwanghae tampak sangat bersimpati dengan rakyat dan hatinya juga tak bisa menerima keputusan Raja untuk meninggalkan Ibukota, yang berarti meninggalkan rakyat. Bae Chunsoo meminta agar Gwanghae juga naik ke perahu. Gwanghae akhirnya dengan berat hati melangkahkan kakinya ke dermaga dan naik ke perahu. Segera setelah keluarga Raja naik, para pejabat dan rombongan kerajaan lainnya mengikuti di belakangnya.

Keluarga Hur June, Ilsuh, dan Yangtae sedikit lagi sampai daerah Tae San. Yuwol sudah tidak tahan dan duduk. Yangtae membujuknya, jika mereka melewati bukit di depan mereka, maka itu sudah dekat dengan dermaga feri, dan setelah mereka menyeberangi sungai baru mereka bisa beristirahat, jadi ia meminta istrinya untuk bertahan sedikit lagi. Yuwol akhirnya memaksakan dirinya bangun dan melanjutkan perjalanannya dipapah suaminya.

Raja sudah menyeberangi sungai bersama dengan rombongan lainnya. Raja kemudian beristirahat. Menteri Jung menghampiri Bae Chunsoo dan memintanya berbicara di tempat lain.

Bae Chunsoo terkejut dengan permintaan dari Memteri Jung. Menteri Jung menyahut kalau itu demi keselamatan Raja dan para pangeran. Bae mencoba untuk mengatakan sesuatu tapi Menteri Jung memberitahunya kalau untuk situasi sekarang, yang paling utama adalah melindungi Raja. Jadi tidak usah mengatakan apapun hanya lakukan saja perintahnya. Bae tampak bingung.

Rakyat berkerumun di dermaga feri yang baru saja digunakan oleh Raja. Perahu-perahu masih belum kembali sehingga rakyat banyak berdesakan di seberang sungai di mana Raja berada. Keluarga Hur June, Ilsuh, dan Yangtae juga sudah sampai di dermaga itu.

Bae Chunsoo menyuruh para prajurit membawa jerami dan menaruhnya di perahu, beberapa prajurit juga membawa obor. Pemilik perahu dan anakbuahnya terkejut dan bertanya apa yang sedang dilakukan oleh Bae. Bae menyuruh mereka mundur kemudian memberi tanda pada anakbuahnya untuk membakar jerami itu. Pemilik perahu mencoba menghalangi tapi Bae segera menghunus pedang dan mengancamnya jika ia melangkah setindak lagi maka kepalanya akan lepas. Pemilik perahu ketakutan dan tidak berani melakukannya. Para prajurit membakar jerami-jerami tadi dengan obor sehingga cepat saja perahu itu terbakar.

Gwanghae melihat kejadian itu menjadi terkejut dan berseru pada Menteri Jung apa yang sedang dilakukanya, bagaimana dengan rakyat yang ada di seberang sungai. Raja menoleh dan juga terperanjat melihat perahu-perahu terbakar. Menteri Jung beralasan jika mereka meninggalkan perahu di seberang maka itu dapat menjadi alat bagi pasukan Jepang untuk menyeberangi sungai. Jadi untuk menunda pergerakan pasukan Jepang ke Utara mereka tidak bisa meninggalkan perahu di belakang mereka. Raja berseru. “Membunuh rakyat tak bersalah sehingga aku bisa tetap hidup?” Menteri Jung memohon agar raja memahami maksud hatinya dan meminta agar Raja menjaga keselamatannya. Banyak pejabat (atau penjahat ya 😦 ) mendukung Menteri Jung. Raja tidak bisa menerima ini dan memerintahkan agar memadamkan api. Wakil PM mengatakan kalau mereka merasa kalau ini adalah jalan terbaik dan memohon agar Raja memahami tindakan mereka. Raja sangat shock dengan keputusan yang dibuat oleh para menteri itu. Gwanghae juga meminta Raja agar memerintahkan para prajutrit berhenti membakar perahu, tapi Jung Jak dan Kim Gongryang meminta agar Gwanghae memahami maksud hati mereka. Raja berseru “Dewa bantulah kami” dan tahu kalau ia tidak bisa berbuat apa-apa mencegah tindakan para menteri yang menyuruh para prajurit untuk membakar perahu-perahu itu.

Rakyat di seberang sungai melihat perahu-perahu dibakar dan menjadi terkejut. Mereka menjadi sangat marah atas tindakan Raja membakar perahu demi keselamatan dirinya. Raja macam apa itu, ia sudah merebut setiap sen uang dari mereka dan sekarang ia membunuh rakyatnya sendiri saat Jepang menyerang dan kemudian melarikan diri.

Keluarga Hur June, Ilsuh, dan juga Yangtae melihat kejadian itu dan menjadi terkejut juga. Ilsuh menyebut para pembakar itu orang-orang yang sungguh jahat dan terkutuklah mereka. Haman penasaran dengan yang diteriakkan oleh orang-orang di dermaga, Yangtae memberitahu kalau mereka mengatakan kalau Raja telah membakar perahu dengan sengaja. Haman segera duduk di tanah, menangis  sambil berseru-seru matilah sekarang mereka, mereka akan mati sekarang.

Raja menatap pada dermaga seberang dan melihat kalau rakyat sangat marah melihat perahu telah dibakar. Para menteri memintanya untuk segera berangkat dan menjaga keselamatannya. Wakil PM memohon agar Raja tidak meninggalkan pikirannya di tempat ini, mengatakan kalau keselamatannya itulah yang paling utama , dan memohon agar Raja memahami maksud dari para pejabat sekalian. Pejabat yang lain segera memohon agar Raja memahami mereka. Raja tampak masih berat meninggalkan rakyat di belakangnya, tapi ia tahu kalau ia memang harus pergi. Raja membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Rombongan kerajaan mengikutinya dari belakang.

Hampir sebagian besar rakyat telah pergi dari dermaga feri. Keluarga Hur June, Ilsuh, dan Yangtae terduduk lesu di rerumputan. Tiba-tiba Yuwol merasa kesakitan dan memanggil suaminya, Yangtae segera menghampirinya dan kebingungan. Nyonya Son menduga kalau Yuwol mau sudah ada tanda-tanda mau melahirkan, mereka harus bergegas kalau seperti ini. Dahee segera menyuruh anaknya untuk mencari tempat beristirahat. Gyeum mengiyakan dan segera pergi. Yangtae sangat berterima kasih.

Gyeum menemukan rumah yang cocok dan mengajak semuanya ke rumah itu. Yangtae memeriksa dan merasa sedikit puas, rumah itu sangat besar walaupun kelihatnnya bukan milik orang kaya.  Yuwol dibantu masuk ke dalam ruangan, semua orang juga masuk ke dalam ruangan besar itu. Mereka berencana untuk istirahat hari ini dan baru melanjutkan perjalanan esok pagi. Haman mengeluh kalau mereka harus bergegas tapi kelihatannya tidak bisa. Ilsuh menyuruhnya tutup mulut tapi Haman masih berceloteh terus, karena inilah karena itulah, bahkan menganggap Yuwol yang hamil telah memperlambat perjalanan mereka. Ilsuh tidak bisa menerimanya dan segera menampar istrinya, semua orang terkejut, Ilsuh sendiri juga tak menyangka. Haman tidak terima dan mengancam akan pergi tapi Ilsuh segera menyuruhnya pergi. Haman benar-benar pergi. Nyonya Son menegur Ilsuh kalau tidak harus seperti ini. Ilsuh meminta maaf pada Nyonya Son atas kelakuan istrinya.

Haman menangis di tepi sungai dan menyesal karena memiliki suami yang tidak peduli dengan istrinya sendiri, tiba-tiba terdengar seseorang menyapanya, Haman menoleh, seorang pria di belakangnya dan bertanya apakah ia butuh sebuah perahu….

Ilsuh ternyata tidak tega dengan istrinya, menanti dengan gelisah di depan rumah. Mondar-mandir ke sana kemari dan bertanya-tanya kemana istrinya pergi. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya. Haman kembali dan berlagak angkuh, Ilsuh memanggilnya tapi Haman tidak menggubris. Ilsuh segera memeganngnya dan meminta maaf, bukankah istrinya tahu perangai Ilsuh. Ia berjanji tidak akan melakukannya lagi, atau haruskah dirinya memotong lengannya yang telah menampar Haman dan segera mau menggigit lengannya, tapi Haman segera memukul dadanya bertanya di mana Unyun, dan berkata kalau ia ingin berbicara berdua saja.

Ilsuh terkejut dengan rencana Haman yang ingin naik perahu hanya dengan mereka bertiga. Ilsuh bertanya bagaimana hanya mereka saja yang naik perahu. Haman menyahut kalau perahu itu kecil jadi tidak semuanya bisa pergi. Lagipula keluarga Gyeum dan Yangtae miskin, jadi apakah Ilsuh mau membayar untuk perahu itu, yang mana Haman sudah membayar uang banyak supaya mereka dapat naik perahu. Apalagi pasukan Jepang katanya sudah menguasai Seoul dan sekarang menuju ke Hwa Jeon. Ilsuh terkejut dan bertanya Hwa Jeon? Haman mengiyakannya, dan memohon untuk kali ini saja demi Unyun anak mereka, agar Ilsuh menurutinya, karena ia mendengar kalau para prajurit Jepang sangat tergila-gila saat melihat gadis muda. Ilsuh merasa hatinya bagai dibelah, tapi ketika memikirkan keselamatan anaknya ia setuju dengan usul istrinya.

Semua orang sudah tidur, Unyun bahkan tidur nyenyak dengan kepala berbaring di perut Gyeum. Haman masuk ke dalam kamar, berhati-hati supaya tidak membangunkan yang lain ia menepuk-nepuk pundah Unyun. Unyun hanya menggeliat. Haman menepuk-nepuknya dengan lebih keras. Unyun kaget dan terbangun bertanya apa yang terjadi, tapi mulutnya segera dibekap oleh ibunya. Haman menyuruh Unyun tetap diam dan keluar.

Keluarga Ilsuh membawa barang-barang mereka dan pergi bertiga saja. Unyun heran dan bertanya kemana mereka akan pergi. Haman menyuruhnya diam dan ikut saja pada orangtuanya. Unyun heran dan curiga kemudian duduk mengesot di tanah, ngambek tidak mau pergi kalau tidak bersama dengan Gyeum. Haman memukulinya dan berkata kalau Unyun mati maka Gyeum itu tidak berarti apa-apa. Haman menyeret anaknya. Ilsuh bertanya pada istrinya di mana perahunya. Haman menjawab kalau mereka hampir sampai. Haman kemudian berlari ke pinggiran sungan dan berkata kalau perahunya ada di sini. Tapi Haman tidak melihat ada perahu di sekitar tempat itu, tiba-tiba ia sadar, pasti ia telah ditipu dan teringat kalau sudah membayar begitu banyak uang pada pria tadi. Pasti sekarang pria itu sudah lari dengan uangnya. Haman sangat shock …. Ilsuh sangat kesal dan menyebut istrinya sungguh bodoh. Apa ia harus menamparnya lagi? Ilsuh segera menyingsingkan lengan bajunya dan menghampiri Haman. Unyun menangis dan memanggil-manggil “Orrabuni … “ (Gyeum)

Subuh, Rombongan Hur June sedang mendaki sebuah bukit, mereka merasa kelelahan. Ohgun meminta agar mereka beristirahat sebentar. Kim menyuruh mereka untuk bertahan sebentar lagi karena sungai Im Jin sudah kelihatan. Tapi Ohgun menyahut kalau mereka sudah berjalan sepanjang malam, mereka yang pria mungkin tidak masalah tapi  kelihatannya para perawat sudah tidak tahan lagi. Ye Jin menyahut kalau mereka tidak apa-apa. Tapi Hur June memutuskan mereka beristirahat saja dulu. Kim sebenarnya ingin segera melanjutkan tapi ia menyadari kalau perkataan Ohgun benar, Hur June segera menyuruh Sanghwa untuk mencari tempat beristirahat. Sanghwa mengiyakan.

Sanghwa membawa mereka ke sebuah rumah, kemudian ia mengatakan kalau ingin melihat ke sekeliling dan seberapa dekat mereka dari dermaga feri. Hur June dan Kim menyuruhnya berhati-hati. Yang lain segera memilih ruangan untuk beristirahat.

Hur June, Kim Mangyung, dan Ohgun sekamar, menaruh barang-barang mereka dan melepaskan penat. Ohgun mengatakan kalau ia tidak pernah berjalan sedemikian beratnya seumur hidupnya ini. Ia bertanya-tanya di mana Hongchun nya sekarang berada. Kim menyahut kalau rombongan Raja pasti sudah sampai di Gae Sung sekarag. Para perawat masuk dan menghidangkan makanan. Ohgun berseru nasi kepal … kemudian mengajak mereka berbagi, tapi Ye Jin menyuruh mereka makan dulu. Kim mengatakan kalau Jepang terus saja datang, jadi mereka tidak tahu apakah Raja juga akan meninggalkan Gae Sung. Jadi mereka harus bergabung dengan rombongannya sebelum ia meninggalkan Gae Sung. Jika mereka tidak berhasil menyusulnya maka mereka akan dianggap bersalah dan akan diperlakukan sesuai dengan hukum negara. Hur June menimpali kalau Sungai Im Jin sudah dekat, jadi setelah mereka memulihkan tenaga, mereka akan dapat menyusul rombongan Raja.

Tiba-tiba Sanghwa masuk dengan tergesa-gesa, membawa kabar setelah Raja dan para pejabat menyeberangi sungai, mereka membakar perahu-perahu. Hur June terkejut. Kim menyimpulkan kalau itu pasti mereka gunakan untuk menahan pasukan Jepang bergerak lebih jauh ke Utara. Ohgun dengan mulut penuh nasi, bertanya kalau begitu apakah mereka harus berenang menyeberangi sungai itu. Hur June menjawab kalau mereka tidak dapat melakukan itu dan harus mengambil jalan memutar. Raja pasti akan segera meninggalkan Gae Sung, jadi rombongan Hur June sulit untuk dapat menyusul rombongan Raja di Gae Sung. Hur June rasa mereka pasti menuju ke Istana Pyeongyang, jadi mereka seharusnya langsung menuju ke sana. Kim memberitahu kalau mereka ingin langsung pergi ke Istana Pyeongyang, mereka dapat pergi lebih jauh ke arah Timur kemudian memutar ke Utara atau turun ke wilayah pantai bagian Barat dan menggunakan jalur laut. Hur June menimpali kalau mereka pergi lebih jauh lagi ke arah Timur akan memakan waktu lebih lama. Kim menyahut, tapi wilayah Kim Po dan Kanghwa di bagian Barat pasti sudah direbut oleh pasukan Jepang. Hur June mengatakan kalau tidak ada jalan lain, itu adalah satu-satunya jalan untuk mengurangi waktu perjalanan mereka walaupun sangat beresiko. Ohgun sebenarnya ingin melalui jalan yang sedikit berbahaya … tapi tampaknya semua orang setuju dengan pendapat Hur June.

Pangeran Gwanghae dan para pejabat sedang melakukan rapat dan mendiskusikan situasi perang terkini. Bae datang dan bertanya apakah mereka ingin menemuinya. Menteri Jung mendengar kalau ada para pejabat dalam rombongan Raja yang melarikan diri dan bertanya apakah itu benar. Bae meminta maaf tapi ia membenarkan hal itu. Menteri Jung segera menegurnya, apa yang sedang Bae lakukan mengapa tidak menangkap dan membunuh mereka. PM Sung segera menyahut bagaimana menghentikan mereka kalau mereka  masih dalam pelarian. Bae memberi hormat berterima kasih pada PM Sung. Gwanghae merasa kalau ini sampai di telinga ayahnya maka ayahnya akan menjadi sangat cemas jadi Gwanghae meminta mereka agar tidak membiarkan ayahnya tahu.  Bae mengiyakannya.

Doji memberikan resep pada perawat dan menyuruhnya untuk membuatkan ramuan sesuai resep itu. Perawat itu mengiyakannya. Lee menemui Doji dan memberitahunya kalau dr. Yang jatuh sakit.

Doji dan Lee segera menemui dr. Yang dan bertanya apa yang terjadi. Dr. Yang mengatakan kalau tidak ada yang perlu dicemaskan. Ia sudah terlalu tua untuk mengikuti Raja. Seharunya ia merawat kesehatan Raja sendiri tapi sekarang ia tak berdaya jadi dr. Yang meminta Doji untuk merawat kesehatan Raja. Apakah Doji bisa melakukannya? Doji menjawab kalau ia akan melakukan yang terbaik.

Doji pergi ke tempat rebusan ramuan dan bertanya apakah ramuannya sudah siap, Sehee menjawab kalau itu sudah siap, ia pergi mengambilkannya, kemudian Doji memberitahu Honghcun kalau ramuan itu untuk Raja jadi mereka harus lebih berhati-hati. Honghcun mengiyakannya.

Raja bertanya pada Inbin bagaimana kondisi Pangeran Shin Sung, Inbin menjawab kalau Pangeran seharusnya dibiarkan beristirahat. Terdengar seruan dari luar kalau dokter membawakan ramuan. Raja mempersilahkan untuk masuk . Doji masuk bersama dengan Sehee, membawakan ramuan untuk Raja. Raja dan Inbin heran melihat Doji. Raja bertanya di mana dokter Raja. Doji menjawab kalau mungkin perjalanan ini terlalu berat bagi dr. Yang, yang sekarang terbaring di tempat tidur, jadi mulai sekarang ia lah yang akan menggantikan dr. Yang untuk merawat kesehatan Raja. Tapi Raja bertanya mengenai Hur June. Doji terkejut. Raja mengatakan kalau ia juga tidak melihat keberadaan Hur June dalam perjalanannya kemari dan bertanya kemana perginya dr. Hur. Doji meminta maaf dan memberitahu kalau dr. Hur telah meninggalkan tanggungjawabnya untuk mengikuti Raja dan tidak menampakkan dirinya saat daftar nama dibacakan di Gerbang Im Hwa. Inbin terkejut dan bertanya apakah ia melarikan diri. Doji tidak menjawabnya. Inbin menyebut Hur June sebagai orang yang hina. Bagaimana bisa ia sebagai dokter Raja melakukan hal seperti itu.  Raja masih tidak percaya dan bertanya sekali lagi apakah Doji yakin kalau dr. Hur melarikan diri.  Doji merasa ini kesempatan baginya untuk menjatuhkan Hur June dan menjawab kalau ia tidak menemukan dengan tepat alasannya tapi percaya kalau dr. Hur memang melakukannya. Raja tampak geram. Doji tersenyum tipis.

Tiba-tiba terdengar seruan kalau Direktur dari Biro Investigasi datang. Raja mempersilahkannya masuk. Kim Gongryang masuk dan memberitahu raja kalau ia baru saja menerima surat, yang memberitahu kalau pasukan Jepang sudah merebut Seoul dan sekarang sudah mencapai Sungai Im Jin. Ia  meminta Raja untuk meninggalkan Gae Sung segera. Raja terkejut.

Rombongan Hur June melewati hutan dan tampak sudah kepayahan. Ohgun keliahtan lemas, dipapah oleh Sanghwa dan Kim Mangyung. Mereka sampai di satu tempat yang kelihatannya baru saja diserang oleh pasukan Jepang, tampak mayat di mana  mana dan api berkobar di beberapa tempat.

Hur June dan yang lainnya terkejut melihat mayat-mayat itu. Kim menduga kalau pasukan Jepang pasti baru saja menyapu habis desa ini. Hur June menyahut kalau mereka tidak bisa menduga kapan pasukan Jepang akan kembali jadi mereka harus segera pergi dari tempat ini. Mereka segera bersiap-siap untuk pergi, tapi Sanghwa mendengar tangisan bayi. Ohgun berusaha mengalihkan perhatian dan mengatakan kalau itu bukan suara tangisan bayi dan mengajak semuanya segera pergi. Tapi Sanghwa ragu-ragu.

Hur June juga curiga kalau mungkin ada orang yang masih hidup dan meminta mereka untuk memeriksa ke dalam rumah. Ye Jin ternyata juga mendengar suara tangisan bayi dan menunjuk arah belakang satu rumah dan mengatakan kalau suara itu datang dari sana. Kim berusaha membujuk kalau sekarang bukan waktunya mereka melakukan hal ini. Ohgun bertanya bagaimana jika pasukan Jepang menyerang. Ia bisa saja mati sebelum menemui Hongchun.

Ye Jin mengikuti asal suara tangisan bayi dan menemukan seorang bayi sedang menangis di dekat tubuh seorang wanita dengan mulut berdarah, yang mungkin adalah ibunya. Hur June dan yang lain menyusul Ye Jin, yang mengangkat bayi itu dan menenangkannya. Hur June memeriksa wanita tadi, Ye Jin bertanya bagaimana keadaan wanita itu, Hur June menjawab kalau ia sudah mati. Ohgun mengatakan kalau sekarang bukan waktunya untuk ini, bisa saja pasukan Jepang datang jadi mereka harus meninggalkan kota ini segera.

Ye Jin  masih menepuk-nepuk punggung si bayi, yang sekarang sudah diam. Ia menduga kalau si bayi pasti lapar jadi ia akan membuatkan bubur beras dan memberi makan si bayi. Tiba-tiba terdengar erangan seorang pria, Hur June segera menghampirinya. Ye Jin bertanya bagaimana orang itu. Hur June menjawab kalau ia harus menghentikan pendarahannya dulu. Tampak perut orang itu terluka parah. Ohgun berseru lagi kalau mereka tidak bisa menyisihkan waktu untuk melakukan hal ini, tapi mana Hur June mau meninggalkan pasien. Ye Jin memberikan bayi itu pada seorang perawat dan akan mencari apa ada beras atau jagung di dalam rumah dan akan membuatkan bayi itu bubur gandum. Perawat itu mengiyakannya dan menerima si bayi. Ohgun sangat gelisah dan menyuruh mereka bergegas, bagaimana jika pasukan Jepang menemukan mereka semua. Kim datang dan bertanya apa ada yang hidup. Ia segera membantu Hur June merawat pria tadi yang terluka.

Ye Jin masuk ke dapur diikuti oleh Sanghwa, mereka mencari kalau-kalau ada beras atau jagung di dapur.

Hur June dan Kim Mangyung melakukan perawatan darurat pada pria yang terluka. Seorang perawat menggendong bayi dan yang lain berdiri di dekatnya, mereka berdua mengawasi Hur June dan Kim Mangyung. Tiba-tiba Ohgun berlari menghampiri mereka dan berseru kalau mereka dalam masalah, pasukan Jepang sedang mendekat. Hur June dan Kim terkejut, mereka bingung …

Sekelompok pasukan Jepang sedang berpatroli mendekati rumah itu. Mereka dalam keadaan siaga siap menembakkan senjata mereka jika ada sesuatu bergerak.

Hur June dan yang lainnya segera bersembunyi dan mengintip dari balik jendela yang terbuka. Tampak seorang prajurit menemukan buntalan buku-buku yang mereka bawa. Hur June dan yang lainnya waswas. Prajurit itu curiga kalau ada orang di sekitar tempat itu dan berjalan menuju ke arah Hur June sambil mengawasi ke sekelilingnya.

Hur June terkejut demikian juga yang lain, mereka segera pergi dan bingung mencari tempat bersembunyi. Hur June, Sanghwa, Ohgun, Ye Jin dan si bayi bersembunyi di sudut rumah, di balik tumpukan ranting kayu bakar, Kim dan perawat yang lain di sudut berseberangan.

Prajurit tadi memeriksa tempat mereka tadi bersembunyi dan semakin mendekat dengan tempat persembunyian Hur June dan yang lain. Hur June mengintip dan kebingungan saat melihat prajurit itu tepat menuju ke tempat persembunyian mereka …..

Iklan

16 comments on “Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 57

  1. Do Ji ……. dalam pengungsian, kepanikan, suasana yang tidak menentu dan ketidak pastian…..Kok masih menjelekkan Hur June ? Dasar manusia serakah …. yang cenderung memikirkan hanya dirinya dan menjelekkan orang lain … memangnya Hur June melarikan diri ? Tentu tidak ….. untung ada Dokter Kim yang ada bersamanya ….. dialah nanti yang akan menjadi saksi bahwa Hur June dan rombongannya yang terpisah menanggung beban berat menyelamatkan Dokumentasi ilmu kedokteran istana dan saat ini terperangkap dalam lingkaran tangan haus darah serdadu Jepang …………
    ( Duh ! saya sadar bahwa peran antagonis Do Ji masih dibutuhkan dalam serial ini ….dan saatnya nanti akan ditangkap oleh Jepang …. Ditawan dan babak belur di pengasingan dan menyadari kesalahannya selama ini …. Benarkah begitu Koh Andy ?)

  2. Wah, tegang buanget kang andy, sampe degdegan nahan nafas, gmn apa selanjutnya kerajaan joseon bisa ngalahin japan? Apa joon ga dihukum raja? Perangnya gimana? lanjut 58 kang, tambah penasaran……..

  3. Heeh mba karin, tegang….kayak ada disana dan serasa jadi hur june, hehehe…. Tp aku yakin mas alika, si doji bakalan kena batunya, emang rese tu orang, kalo artis indonesia pasti sudah dicubitin sama fansnya joon….

  4. terusan tentara jepang ada yang mendadak sakit, diobati sama dr huh, sembuh. akhirnya dr huh dilepas. trus ketemu sama rombongan raja. gitu aja kok tegang!!

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s