Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 58

Hur June dan Kim Mangyung melakukan perawatan darurat pada pria yang terluka. Seorang perawat menggendong bayi dan yang lain berdiri di dekatnya, mereka berdua mengawasi Hur June dan Kim Mangyung. Tiba-tiba Ohgun berlari menghampiri mereka dan berseru kalau mereka dalam masalah, pasukan Jepang sedang mendekat. Hur June dan Kim terkejut, mereka bingung …

Sekelompok pasukan Jepang sedang berpatroli mendekati rumah itu. Mereka dalam keadaan siaga siap menembakkan senjata mereka jika ada sesuatu bergerak.

Hur June dan yang lainnya segera bersembunyi dan mengintip dari balik jendela yang terbuka. Tampak seorang prajurit menemukan buntalan buku-buku yang mereka bawa. Hur June dan yang lainnya waswas. Prajurit itu curiga kalau ada orang di sekitar tempat itu dan berjalan menuju ke arah Hur June sambil mengawasi ke sekelilingnya.

Hur June terkejut demikian juga yang lain, mereka segera pergi dan bingung mencari tempat bersembunyi. Hur June, Sanghwa, Ohgun, Ye Jin dan si bayi bersembunyi di sudut rumah, di balik tumpukan ranting kayu bakar, Kim dan perawat yang lain di sudut berseberangan.

Prajurit tadi memeriksa tempat mereka tadi bersembunyi dan semakin mendekat dengan tempat persembunyian Hur June dan yang lain. Hur June mengintip dan kebingungan saat melihat prajurit itu tepat menuju ke tempat persembunyian mereka ….

Prajurit Jepang itu melangkahkan kakinya dengan waspada mengawasi sekelilingnya, merasa tidak ada yang mencurigakan, ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah rekan-rekannya yang lain, tiba-tiba saja bayi di gendongan Ye Jin menangis. Semua orang terkejut, Ye Jin segera menenangkannya dan mendekap mulut si bayi, tapi sudah terlambat. Prajurit tadi mendengar suara mencurigakan dan berbalik untuk memeriksa lagi. Hur June dan yang lainnya merasakan hati mereka berdebar lebih kencang … Prajurit itu sampai di ujung sudut rumah di mana Hur June dan lainnya bersembunyi. Ohgun ketakutan …. Sanghwa tampak mengambil satu keputusan dan segera berlari ke arah lain untuk mengalihkan perhatian prajurit Jepang itu. Hur June terkejut atas tindakan Sanghwa. Prajurit itu sedang melihat ke belakang punggungnya dan hanya merasa ada sekilas bayangan melesat pergi dari sudut matanya, ia segera menoleh dan melihat seseorang berpakaian ala orang Korea berlari ke arah rimbunan pohon. Prajurit itu berteriak memberi tanda pada rekan-rekannya yang lain dan segera mengejar ke arah mana Sanghwa berlari. Hur June dan yang lain tetap tak bergerak dari tempatnya. Prajurit yang lain menyusul dan segera menembak Sanghwa beberapa kali, tapi Sanghwa berhasil lolos. Hur June gemetar ketakutan melihat Sanghwa ditembaki. Prajurit-prajurit itu melihat tembakan mereka gagal segera berlari mengejar Sanghwa dan menyusul rekannya tadi, lebih banyak prajurit datang dan melakukan pengejaran. Hur June sangat mencemaskan Sanghwa.

Hur June berusaha mengejar Sanghwa tapi Ohgun segera menahannya dan mengatakan kalau mereka harus segera mengungsi ke tempat lain. Kim juga membantu Ohgun untuk menyeret Hur June untuk pergi dari tempat itu bersama dengan Ye Jin dan para perawat yang lainnya, mereka tahu Sanghwa berbuat demikian supaya rombongan Hur June dapat pergi dengan selamat. Hur June berseru-seru memanggil Sanghwa, takut terjadi sesuatu padanya. Kim dan Ohgun terus menyeretnya pergi.

Kim memimpin rombongan untuk segera meninggalkan kota itu, Hur June berulangkali menoleh ke belakang, berharap-harap Sanghwa menyusul atau kalau tidak, berhasil meloloskan diri dari kejaran para prajurit Jepang.

Sanghwa berlari ke bukit, beberapa tembakan diarahkan ke kakinya, Sanghwa terguling jatuh ….

Rombongan Hur June berhasil menemukan seorang pemilik perahu yang mau membawa mereka melalui jalur sungai. Sementara menunggu pemilik perahu itu mempersiapkan perahunya, Hur June menanti dengan harap-harap cemas akan Sanghwa. Berdoa dalam  hatinya agar Sanghwa selamat tak kurang suatu apapun….

Perahu sudah siap, para perawat naik ke perahu, dikuti yang lain. Hur June tampang bingung, masih tidak beranjak dari tempatnya. Ohgun berseru memanggil Hur June. Pemilik perahu khawatir kalau patroli Jepang lewat tempat itu, meminta agar mereka semua naik perahunya dan berangkat. Hur June meminta agar mereka menunggu sedikit lagi. Kim menoleh pada Hur June yang masih menatap ke arah mereka tadi datang, mengatakan kalau mereka harus segera berangkat sekarang. Ohgun memohon pada Hur June agar berangkat, kalau tidak ia akan membuat mereka semua terbunuh. Hur  June menyahut kalau mereka tidak menunggu di sini maka Sanghwa pasti akan mati. Kim juga mencemaskan Sanghwa. Hur June merasa kalau ini terlalu awal bagi Sanghwa untuk mati dengan cara seperti ini. Tapi Kim bertanya apa yang bisa dilakukan oleh Hur June, sudah tidak ada waktu lagi. Hur June bimbang. Pemilik perahu berseru lagi kalau mereka harus segera berangkat. Ye Jin menggendong bayi menatap pada Hur June, cemas. Ohgun dan Kim memohon pada Hur June. Sudah tidak ada waktu yang tersisa, mereka harus berangkat sekarang. Hur June masih saja ragu-ragu. Pemilik perahu ketakutan dan berseru kalau mereka harus pergi karena prajurit Jepang ada persis di depan mereka. Kim dan Ohgun segera menggiring Hur June ke perahu. Hur June merasa berat hati tapi ia mengikuti saja rekan-rekannya, tapi kepalanya berulangkali menoleh ke arah mereka datang tadi masih berharap kalau pada saat terakhir ini, Sanghwa menampakkan dirinya. Semua orang naik ke perahu, pemilik perahu segera mendorong perahunya sehingga melaju sedkit demi sedikit ke tengah sungai. Hur June masih memandang ke arah daratan. Perawat lain meminta bayi dari tangan Ye Jin.

Pemilik perahu mengayuh perahunya dengan sekuat tenaga berusaha menjauhkan perahu dari tepian sungai. Semua orang tertunduk lesu mengingat tindakan Sanghwa. Ye Jin memandang ke arah tepian sungai dan menjadi terkejut, ia segera memanggil Hur June dan memberitahu kalau Sanghwa ada di tepian. Hur June terperanjat dan melihat benar-benar Sanghwa ada di tepian sedang berjalan sedikit terpincang-pincang. Hur June bingung karena perahu sudah jauh dari tepian sungai.

Sanghwa berjalan terpincang-pincang melambai-lambaikan tangannya dan memangil-manggil dr. Hur tapi kemudian terjatuh.

Hur June memerintahkan pemilik perahu untuk memutar perahunya, tapi pemilik perahu menentangnya. Hur June bergumam pada Sanghwa kalau ia akan memutar perahu jadi Sanghwa dimintanya untuk bertahan dulu. Hur June memerintahkan berulangkali untuk memutar perahunya, tapi pemilik perahu tidak mau. Hur June tidak sabar lagi dan segera menghampiri pemilik perahu yang berada di belakang. Hur June berusaha merebut kemudi kapal dari pemilik perahu, yang berulangkali mengatakan kalau ia tidak bisa melakukannya, Hur June akan membawa mereka dalam masalah jika ia memutar perahu ke tepian. Hur June berhasil merebut kendali dan mendorong pemilik perahu menjauh. Pemilik perahu terus saja berseru kalau mereka tidak bisa melakukan ini, mereka akan dalam masalah nantinya. Tiba-tiba Ye Jin melihat sesuatu dan berteriak menyuruh Sanghwa melompat ke sungai. Hur June juga terkejut melihat begitu banyak prajurit mengejar Sanghwa yang sedang berlari di sepanjang tepian sungai mengikuti perahu. Hur June berteriak pada Sanghwa untuk bertahan, ia akan datang untuk menyusul Sanghwa. Hur June berusaha memutar perahu.

Tapi Sanghwa tidak mendengar seruan mereka dan berhenti di tepian menunggu perahu, para prajurit Jepang segera menembaki Sanghwa berulangkali. Sanghwa tersungkur jatuh. Hur June dan Ye Jin segera berseru memanggil-manggil Sanghwa. Yang lain shock melihat Sanghwa tertembak jatuh.

Para prajurit Jepang berlari ke arah tepian sungai kemudian memasang posisi menembak ke arah perahu Hur June. Mereka menembaki perahu tapi untungnya meleset semua, hanya terkena pinggiran perahu. Semua orang segera menunduk berlindung. Pemilik perahu ketakutan dan segera berusaha merebut dan mengambil alih kemudi dari Hur June, yang shock atas tertembaknya Sanghwa, kemudian segera memutar kembali perahu itu menjauhi tepian dan juga menjauhi Sanghwa.

Ye Jin memanggil-manggil nama Sanghwa dan menangis sedih. Hur June terduduk dan berduka, matanya berkaca-kaca dan sangat shock melihat kematian Sanghwa di depan matanya, dikarenakan tindakan Sanghwa yang ingin menyelamatkan mereka semua.

Keluarga Ilsuh akhirnya bergabung kembali dengan rombongan keluarga Gyeum dan Yangtae, melanjutkan perjalanan mengungsi mereka. Semua orang tampak sangat kepayahan setelah berjalan melalui jarak yang begitu jauh. Mereka sampai di satu rumah, Ilsuh menemui pemilik rumah dan memohon agar pemilik rumah itu bermurah hati untuk memberi mereka sedikit makanan, karena seperti yang ia lihat mereka adalah pengungsi dan sedikit sekali makanan yang ada pada mereka. Pemilik rumah itu menolaknya dan dengan kasar mengusir mereka pergi. Dahee berusaha memohon, jika ia tidak mau memberi makanan, paling tidak memberi mereka tempat semacam gudang untuk beristirahat karena ada wanita hamil dalam rombongan mereka. Tapi pemilik rumah tetap tidak mau menolong mereka, ia sudah lelah dan kehabisan energi karena banyak menolong orang seperti mereka itu, dan mengusir mereka pergi dari halamannya. Yangtae menyebutnya orang yang jahat, Haman berseru kalau ia tidak mau memberi makan pada mereka maka ia tidak berhak bertindak kasar. Rombongan itu akhirnya keluar dari rumah milik orang kasar tadi.

Rombongan Gyeum sampai di jalan besar dan sangat lelah, tiba-tiba Yuwol merosot jatuh sudah tidak kuat lagi. Yangtae kaget dan segera memanggil Nyonya Son. Semua orang terkejut melihat Yuwol, Nyonya Son berseru kalau Yuwol kelihatannya sudah mau melahirkan, dan segera memerintahkan cucunya untuk pergi mencari gudang atau rumah kosong.  Gyeum mengiyakan dan segera melakukannya. Haman kesal dan bertanya bagaimana jika Yuwol melahirkan di jalanan… Ilsuh segera menendang istrinya yang sedang berjongkok. Haman memaki suaminya dan bertanya apakah perkataannya salah. Yangtae mencoba membangunkan istrinya yang tampak sudah payah, Haman membantunya.

Gyeum menemukan sebuah rumah kosong dan membawa mereka ke sana, Yuwol dipapah ke satu ruangan. Nyonya Son, Dahee dan Haman mulai membantu Yuwol dalam proses persalinan. Nyonya Son yang mengawasi jalan kelahiran si bayi, sedangkan Haman menyemangatinya, bahkan ia merasa seakan akan dirinya sendiri juga akan melahirkan.

Yangtae mondar-mandir gelisah di luar ruangan, berharap-harap cemas. Ilsuh dan Gyeum memandanginya saja. Ilsuh akhirnya tidak tahan dan berkata kalau nanti akhirnya akan keluar juga si bayi, jadi berhenti saja berkeliaran seperti seekor anak anjing dan menyuruhnya diam. Yangtae mengiyakannya tapi lekas saja ia mondar-mandir lagi dengan gelisah….  Tiba-tiba Unyun datang membawa sebuah bungkusan sedang. Ilsuh bertanya apa itu, Unyun tersenyum bangga menjawab kalau itu beras. Ilsuh terkejut dan segera memakannya mentah-mentah, dan tidak percaya ternyata itu benar beras. Ia bertanya darimana Unyun mendapatkannya, uang tidak bisa membelinya bahkan emaspun tidak dapat, jadi darimana Unyun mendapatkannya.  Unyun menjawab kalau ia melihat anak-anak muda seumuran dengannya dan ia menukar 2 gulung sutera dengan bungkusan beras itu. Ilsuh sangat senang dan tertawa terbahak-bahak, ia menghampiri Unyun dan memegang putirnya, memuji kerja Unyun sangat bagus. Unyun tampak sangat senang. Ilsuh kemudian berjongkok berbicara dengan Gyeum, menyuruhnya belajar kiat-kiat Unyun, bahkan anaknya itu bisa bertahan hidup walaupun ada di dalam hutan lebat dan bahkan akan berteman dengan harimau. Ilsuh kembali memeluk anaknya dan merasa bangga. Tapi Unyun melepaskan pelukan ayahnya, membawa bungkusan beras dan meminta Gyeum untuk menunggu sedikit lagi karena ia akan memasakkan nasi hangat untuk Gyeum. Ilsuh shock dan bergumam seharusnya Unyun belajar mendahulukan siapa dulu, sungguh tiada guna membesarkan seorang anak gadis.

Tiba-tiba terdengar tangisan bayi, Yangtae terkejut. Haman keluar dengan tampang gembira. Yangtae bertanya bagaimana, Haman memberitahunya kalau itu adalah bayi laki-laki. Yangtae terkejut dan langsung menangis. Ilsuh juga merasa sangat senang dan memujinya kerja yang hebat, tapi kemudian heran dan bertanya apakah Yangtae menangis. Yangtae menjawab kalau Ilsuh tidak akan tahu bagaimana perasaanya sekarang, dulu ia sebatangkara dan tidak ada keluarga yang lain, ia hanya mengikuti Hur June ribuan mil dari Yongchun, tapi sekarang ia memiliki darah daging sendiri. Ilsuh mengerti dan mengatakan kalau ia sebenarnya bisa mengerti perasaan Yangtae. Haman menimpali, “Ribuan orang mati karena perang, tapi suatu kehidupan baru juga dilahirkan, sungguh sesuatu yang misterius terjadi di sini. Dunia bekerja dengan caranya yang misterius.” Ilsuh membenarkannya, kemudian mengatakan pada Yangtae kalau mereka semua telah kelelahan dan kepayahan, tapi kelahiran bayi Yangtae membuat hari mereka seakan-akan lebih baik, dan mengajak mereka, walaupun perut mereka lapar sekarang, untuk tertawa bahagia. Ilsuh dan Haman tertawat keras, Yangtae yang menangis berusaha untuk tertawa, tapi jadinya malah kacau, Yangtae tampangnya antara tertawa dan menangis … ahahahhaah …. Cukup geli dan juga terharu juga sih melihat adegan ini😀

Malam tiba, rombongan Hur June sudah menepi di daratan dan memasang api unggun. Semua orang tertunduk lesu dan berduka mengingat pengorbanan Sanghwa. Suasana sangat hening dan sunyim hanya terdengar suara gemerisik api melalap kayu-kayu dan tampak bunga-bunga api berterbangan dihembus angin., masing-masing orang sedang tenggelam dalam lamunan mereka.

Hur June akhirnya membuka suara, saat ini mengingatkan dirinya ketika bertemu dengan Sanghwa pertama kali di Kuil Samjeuk. Kenangan itu masih sangat nyata dalam ingatannya, saat Sanghwa memukuli tambur seperti orang sinting, untuk menghilangkan belenggu kebencian di hatinya. Tapi kedua orang tuanya mati karena lepra dan Sanghwa dulunya juga adalah penderita lepra. Jadi dia menjadi staf medis untuk menemukan cara pengobatan penyakit itu. Ye Jin matanya berkaca-kaca. Hur Jun melanjutkan, sangat berat untuk melihat anak ini mati sia-sia sebelum cita-citanya terpenuhi. Ye Jin masih berharap dan mengatakan kalau mungkin saja Sanghwa masih hidup. Kim menyahut kalau itu tidak mungkin, karema mereka semua menyaksikan kalau Sanghwa jatuh karena tertembak dan meminta mereka semua untuk tidak bergantung pada harapan yang sia-sia dan menganjurkan untuk melupakan semua yang telah terjadi. Kim berkata pada Hur June, jika Hur June masih saja menyimpannya seperti itu dalam hatinya, maka Hur June  akan menghalangi langkah Sanghwa meninggalkan dunia ini. Sekali lagi Kim menganjurkan agar mereka mengubur semuanya sehingga Sanghwa dapat pergi ke Surga. Hur June mendesah berat … Air mata Ye Jin masih membekas di pipinya, Ye Jin menyadari kebenaran kata-kata Kim.

Ohgun mengintip si bayi yang sedang tertidur di gendongan seorang perawat dan memuji kalau tampangnya sangat tampan. Ohgun meminta si bayi itu pada perawat dan menggendongnya. Hatinya sangat tertarik dengan bayi malang ini. Ohgun memandangi wajah si bayi kemudian menoleh pada Hur June dan mengatakan kalau ia akan mengadopsi bayi ini menjadi anaknya. Hur June walaupun masih bersedih tapi masih dapat tersenyum senang. Ohgun melanjutkan kalau Sanghwa mati sia-sia hanya untuk menyelamatkan nyawa bayi ini. Ini adalah karma yang dikirim oleh Surga kepada mereka. Jadi Ohgun memutuskan kalau ia akan menjadi ayah angkat bayi ini. Hur June lega karena si bayi mendapatkan pengganti orangtuanya yang meninggal. Semua orang kembali termenung dalam pikiran mereka masing-masing.

Istana Pyeongyang, Bae Chunsoo mencari  wakilnya dan memerintahkannya untuk mempersiapkan prajurit di luar Istana, wakilnya mengiyakan dan segera pergi melaksanakan perintah Bae.

Para menteri edang membahas para pejabat yang dianggap melarikan diri dari tanggungjawabnya. Pejabat Chung yang seharusnya hadir di Seoul telah melarikan diri. Jipyung Namgun juga melarikan diri setibanya di Yunseo. Lim Gungno juga sama, melarikan diri saat setibanya di Istana Pyeongyang beralasan ibunya sakit, entah apapun alasan sebenarnya. Hur Sung berjanji akan mengumpulkan pasukan tapi melarikan diri. Han June, Min June, dan Yun Usin. Juga ada dokter Raja Hur June, tapi Perdana Menteri Sung segera menyela dan meminta mereka untuk segera menghentikan pembahasan mengenai nama-nama orang itu. Mereka seharusnya melindungi Raja tapi ternyata melarikan diri, bagaimana bisa ia memberitahukan kenyataan yang memalukan ini pada Raja. Menteri Jung menyatakan kalau perang ini berlanjut terus, pasukan Jepang akan mencapai Pyeongyang dalam waktu 3 hari. Ia mengusulkan untuk tidak membuang waktu sedetikpun dan segera pergi mengungsi ke Weeju (Uiju, dekat perbatasan dengan Dinasti Ming). Bahkan berjaga-jaga hal yang lebih buruk terjadi, mereka seharusnya memindahkan raja ke wilayah Dinasti Ming.  Wakil PM terkejut dan bertanya apakah mereka harus menyeberangi Sungai Amnok dengan Yang Mulia. Menteri Jung membenarkannya.

PM Sung menyatakan kalau bukan saja pasukan pribadi tapi juga pasukan pemerintah sudah bersiap di garis depan, jadi bagaimana mereka bisa mengusulkan untuk pergi melarikan diri. Menteri Jung membantah kalau itu bukan hanya demi dirinya, itu semua demi keselamatan Yang Mulia. Wakil PM menentangnya, dan mengatakan kalau Menteri Jung tidak mengerti, jika Raja mengungsi ke wilayah Dinasti Ming itu berarti dia telah meninggalkan negaranya. Seharusnya itu adalah pilihan paling terakhir yang akan mereka pertimbangkan. Tapi Menteri Jung masih mendebat, mengatakan kalau mereka tidak melihat pada keseluruhan keadaan, bagaimana jika mereka semua terluka karena perang ini, apa yang akan mereka lakukan mengenai hal itu. Pertama, mereka seharusnya mengungsi ke tempat aman baru memikirkan hal yang lain. Kim Gongryang mendengarkan semuanya itu.

Kim Gongryang menghadap Raja dan Inbin, serta Pangeran Mahkota Gwanghae. Ia meminta agar Raja menyetujui usulan dari Menteri Jung, mengirimkan utusan ke Dinasti Ming dan bertanya pendapat mereka mengenai usulan itu. Inbin setuju, mengatakan kalau Raja sudah melihat mata yang menyinarkan ketakutan dari para pengungsi di Pyeongyang, walaupun bukan karena pasukan Jepang, tapi ia sangat takut kalau-kalau akan muncul pemberontakan oleh orang-orang dungu itu. Raja tampak bimbang. Pangeran Mahkota memberikan pendapatnya, kalau usulan para pejabat agar Raja berlindung ke Dinasti Ming tidak layak untuk dipertimbangkan sama sekali. Raja heran, Inbin menegur Pangeran Mahkota karena telah keluar jalurnya. Gwanghae mengatakan kalau ia sendiri juga telah melihat mata yang dipenuhi oleh kebencian dari rakyat, tapi itu bukanlah kesalahan mereka. Bahkan orang-orang ini mencoba menyelamatkan negara dengan menjadi pasukan yang setia. Tapi satu-satunya yang dipikirkan oleh para menteri adalah meninggalkan negara  Jadi bagaimana ayahnya bisa mengharapkan rakyat untuk percaya pada Istana dan bergantung pada ayahnya. Raja tampak baru menyadarinya. Inbin juga baru mengetahui maksud hati Pangeran Mahkota. Gwanghwa melanjutkan, jika ayahnya melangkah setapak saja menjauh dari tanah Joseon, maka negera ini bukan lagi milik mereka, keluarga Raja. Kim menunduk. Negara ini tidak lagi memiliki Raja. Raja yang telah meninggalkan negaranya tidak layak untuk menjadi seorang Raja negara itu. Mencari perlindungan ke Dinasti Ming adalah hal yang sama sekali tidak pantas untuk dilakukan. Gwanghae memohon agar ayahnya mempertimbangkan kembali. Raja masih sedikit bimbang, tapi hatinya sudah mulai tergugah dengan perkataan Gwanghae.

Doji menemui Hongchun dan memberikan resep, memberitahunya kalau kesehatan Raja menurun dan menyuruhnya menyajikan ramuan dalam resep itu 2 kali sehari. Doji juga menyuruh mereka berhati-hati dalam membuatnya. Hongchun mengiyakan. Dr, Chung menghampirinya dengan wajah kuyu. Doji heran dengan kedatangannya.

Doji dan Dr. Chung masuk ke dalam ruangan. Dr. Chung ternyata beralasan untuk mengambil tanaman obat sehingga dapat pergi ke Istana Pyeongyang. Doji mengatakan kalau di Istana Pyeongyang juga tidak cukup tanaman obat seperti yang sudah dilihat oleh dr. Chung, jadi pasti ada alasan lain di dalam pikirannya. Dr. Chung memohon bantuan Doji sehingga ia bisa ikut dalam rombongan Raja. Doji heran. Dr. Chung memberitahu kalau sekarang ini, seluruh wilayah Kang Won dan Ham Gyeong seperti neraka maut. Semua petugas medis harus merawat para prajurit yang terluka. Selain itu banyak peperangan terjadi di sana dan tinggal menunggu waktu saja sampai mereka semua mati. Doji tampak memikirkannya. Dr. Chung mengingatkan betapa ia sudah setia mengikuti Doji selama ini jadi ia memohon agar Doji membantunya hanya kali ini saja. Doji hanya bisa berjanji akan membantunya tapi tidak ada jaminan kalau permintaan rekannya itu terkabulkan. Ia hanya akan membicarakanya pada dokter Raja mengenai hal ini. Dr. Chung berseru bukankah Doji lah sebenarnya yang menjadi dokter Raja saat ini, pendapatnya sama bagusnya dengan dokter Raja. Doji tersenyum simpul.

Tiba-tiba seorang penjaga masuk dan menemui Doji dan memberitahunya kalau ada beberapa orang di luar sedang mencari petugas medis di Rumah Sakit Kerajaan. Doji bertanya apakah mereka menyebutkan nama, penjaga itu mengatakan kalau ia mendengar mereka mengatakan dokter Hur June. Penjaga itu sudah memberitahu mereka kalau tidak ada orang dengan nama itu tapi mereka tidak mau mendengarkan. Doji menduga-duga siapa gerangan orang-orang itu.

Yangtae bersama-sama dengan Dahee dan Gyeum berusaha menemui Hur June yang mereka sangka ada di dalam Istana menemani Raja, tapi ternyata penjaga menjawab kalau tidak ada dokter Raja bernama Hur June. Yangtae heran dan  tidak mempercayainya, meminta agar penjaga memeriksanya sekali lagi. Tapi penjaga itu menjawab kalau seperti yang telah ia katakan sebelumnya kalau dokter Raja itu namanya dokter Yang Yesu, bukan Hur June.  Gyeum terkejut. Dahee memohon agar penjaga memeriksanya lagi. Tapi terdengar suara kalau itu tidak perlu. Semua orang menoleh dan melihat Doji diiringi dr. Chung sedang menghampiri mereka.

Doji bertanya apa mereka datang kemari untuk menemui dr. Hur, Dahee mengiyakan. Doji memberitahu mereka kalau perjalanan mereka jauh-jauh datang kemari sungguh sia-sia karena Hur June tidak ada di tempat ini. Dahee terkejut. Gyeum bertanya kemana kalau begitu perginya ayahnya. Doji menjawab tidak tahu. Ia menjelaskan kalau dokter Raja sudah memerintahkan mereka untuk mengikuti rombongan Raja dengan buku-buku medisnya tapi ia tidak muncul. Sejak itu tidak ada kabar berita mengenai Hur Juen, jadi mereka menganggapnya melarikan diri. Dahee saling berpandangan dengan anakhnya, mereka terkejut.

Dahee, Gyeum, dan Yangtae pulang dengan langkah gontai, mengingat perkataan Doji kalau dokter Raja sudah memerintahkan mereka untuk mengikuti rombongan Raja dengan buku-buku medisnya tapi ia tidak muncul. Sejak itu tidak ada kabar berita mengenai Hur Juen, jadi mereka menganggapnya melarikan diri. Tiba-tiba Dahee seperti mau pingsan, Gyeum terkejut dan segera menangkap lengan ibunya sehingga tidak sampai jatuh ke tanah. Dahee mengatakan kalau ia tidak apa-apa. Mereka bertiga melanjutkan perjalanan pulang.

Semua orang terkejut saat mendengar kalau Hur June tidak ada di Istana Pyeongyang bahkan tidak mengikuti rombongan Raja dari pertama. Haman menduga kalau Hur June pasti menyelamatkan dirinya sendiri, tapi Ilsuh menegurnya dan menyatakan kalau Hur June bukanlah orang semacam itu. Nyonya Son bertanya dimana anaknya sekarang berada, di waktu perang seperti ini di mana Hur June berada. Seharusnya ia tinggal saja di Seoul dan menunggunya. Lebih baik dulu ia tinggal saja. Yangtae berusaha menenangkannya, ia yakin kalau Hur June tidak apa-apa sekarang, di manapun Hur June berada. Nyonya Son menangis.

Dahee tampak termenung menyendiri di bawah sebuah pohon. Hur Gyeum mengawasi ibunya dari jauh, dan merasa kalau ayahnya kali ini sangat keterlaluan. Hatinya sangat kesal.

Kim memimpin rombongan disusul Hur June, Ohgun, Yejin dan kedua perawat. Mereka terlihat sangat kepayahan, Kim menyemangati kalau kurang sedikit lagi mereka akan sampai. Semuanya menguatkan diri dan tetap melangkahkan kakinya untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya Gerbang Istana Pyeungyang terlihat, mereka sangat senang, dan seakan-akan tenaga bertamabah. Mereka mempercepat langkah dan mau masuk ke dalam gerbang, tapi penjaga menghadang jalan mereka, Kim terkejut. Hur June maju dan memberitahu penjaga kalau ia adalah petugas medis yang melayani Raja, ia dan rekan-rekannya terlambat karena suatu alasan. Penjaga itu membentaknya kalau para petugas medis sudah sampai semua. Hur June terkejut dengan sikap penjaga. Ohgun maju dan menegurnya karena begitu kasar dan menyebut kalau orang yang dibentaknya itu adalah dokter Raja, dr. Hur June dan menyuruhnya segera masuk dan memberitahu.  Penjaga itu terkejut. Saat itu di dalam gerbang, Lee Myung Won sedang melintas dan penasaran dengan keributan di depan gerbang, ia terkejut ketika melihat Hur June, yang sementara itu sudah menerobos hadangan penjaga. Penjaga itu  mau bertindak tapi kemudian ia melihat seorang dokter Istana menemui mereka dan tampaknya saling mengenal jadi ia diam saja.

Lee Myung Won menemui Hur June sekalian dan sangat terkejut melihat keadaan Hur June dan yang lainnya. Hur June sangat lega melihat Lee Myung Won.

Mereka berbicara di dalam ruangan. Kim sangat senang karena semua orang dalam rombongan Raja selamat. Lee memohon maaf sebesar-besarnya, ia seharusnya juga membawa buku-buku medis itu. Tapi ia terlalu bingung sehingga tidak menyadari maksud sebenarnya dari Hur June. Hur June menyahut kalau tidak usah memikirkan hal yang lalu. Kim menimpali kalau Lee seharunya merasa berduka untuk dr. Kim (Sanghwa). Kim berhenti sejenak kemudian melanjutkan kalau semua buku-buku medis yang paling berharga aman di tempat ini karena pengorbanannya.  Semua orang tertunduk sedih mengingat Sanghwa. Kim kemudian bertanya bagaimana keadaan di tempat ini. Lee menjawab kalau ada rumor tersebar menyatakan kalau Istana Pyeongyang akan segera jatuh. Jadi pasti ada pengungsian keluarga Raja lagi. Kim sangat kesal, mereka datang jauh-jauh kemari hanya untuk bergerak lagi. Selanjutnya apa? Apakah menyeberangi Sungai Amnok. Lee memberitahu Hur June kalau kondisi dr. Yang sedang tidak baik. Hur June cemas dan bertanya apakah serius. Lee menjawab sebetulnya tidak serius tapi ia mendengar kalau dr. Yang hanya mengalami kesulitan untuk berjalan saja, jadi pejabat Naeuijeon yang menyajikan ramuan pada Raja. Hur June sedikit terkejut demikian juga dengan Ye Jin.

Doji sedang memberikan instruksi pada para perawat ketika dr. Chung datang menemuinya dan memberitahu kalau dr. Hur baru saja datang di Istana Pyeongyang. Doji terkejut, para perawat lain sangat senang. Doji bertanya apa itu benar. Dr. Chung mengiyakan dan memberitahu kalau sekarang ia menemui dr. Yang. Doji segera pergi ingin bertemu dengan Hur June. Sehee memberitahu Hongchun, kalau dokter Raja sudah datang kemari maka tentunya Tuan Lim juga datang. Hongchun mengangguk senang bercampur haru, ia mengatakan kalau akan keluar sebentar.

Ohgun menunggu dengan gelisah di luar Rumah Sakit dengan membawa bayi laki-laki itu.

Hongchun berkeliling mencari-cari suaminya …

Ohgun masih menunggu dan akhirnya Hongchun menemukannya. Hongchun sangat terharu dan senang melihat suaminya demikian juga dengan Ohgun. Hongchun menghampiri suaminya dan memegang tangan Ohgun. Keduanya saling menatap dengan pandangan penuh cinta, saling menumpahkan perasaan mereka dalam pandangan itu tanpa berkata-kata.  ….  ceileh …. Romantis bener aku …. Hehehehe ….Ohgun mengira kalau ia akan mati tanpa bertemu dengan Hongchun lagi, tapi sekarang ia bertemu dengan istrinya yang sehat dan baik-baik saja. Hongchun mengiyakannnya. Ohgun memandang pada bayi itu, yang sedang tidur,  kemudian menyerahkannya pada Hongchun dan mengatakan kalau bayi itu adalah anak dari Hongchun. Hongchun menerima bayi itu dan keheranan ….

Hur June menemui dr. Yang. Dr. Yang mengatakan kalau Hur June telah meninggalkan tugasnya untuk mengiringi rombongan Raja. Sungguh tindakan yang bodoh. Tapi menjaga buku-buku medis, tidak peduli apapun yang terjadi, juga salah satu tugas sebagai seorang dokter. Hur June sangat lega karena dr. Yang bisa memahaminya. Tapi dr. Yang khawatir kalau tidak ada seorangpun yang memahami kebulatan hati Hur June untuk menyimpang hanya untuk menyelamatkan sekumpulan buku medis. Hur June juga tahu itu.

Doji datang menemui dr. Yang dan juga Hur June. Dr. Yang juga mau memanggil Doji, tapi ternyata Doji sudah datang. dr. Yang bertanya apakah Doji sudah menyajikan ramuan bagi Raja. Doji menjawab kalau ia masih akan melakukannya. Dr.Yang memberitahunya kalau tugasnya sudah selesai. Doji terkejut. Dr. Yang mengatakan karena dokter Raja sudah kembali maka dokter Raja lah yang akan melakukan tugas itu. Doji shock. Hur June merasa sedikit tidak enak.

Hur June (memakai jubah merah dokter Raja) ke kamar Raja, Kepala Dayang terkejut melihatnya. Hur June memberitahu Dayang Kepala kalau ia ingin menemui Raja dan meminta Dayang Kepala untuk membertahukan kedatangannya. Kepala Dayang segera mengumumkan kedatangan Hur June.

Raja, Inbin, dan Gwanghae terkejut mendengar kedatangan Hur June. Raja heran dan rasa tidak suka terpancar di wajahnya, tapi Raja tetap menyuruhnya masuk.

Hur June masuk, memberi hormat pada Raja. Raja menatap Hur June. Gwanghae tampak sangat senang melihat Hur June.

Doji sedang merebut ramuan obat, mengingat perkataan dr. Yang karena dokter Raja sudah kembali maka dokter Raja lah yang akan melakukan tugas itu.

Hur June memberitahu mengenai alasan ia absen. Gwanghae sangat senang dan ia juga merngira kalau Hur June tidak akan menyerah dan melarikan diri. Rasa tidak suka masih tampak pada wajah Raja dan juga Inbin. Inbin menyatakan kalau alasan itu tidak bisa diterima, meninggalkan tugasnya hanya untuk membawa buku-buku medis? Tidakkah itu berarti buku-buku itu lebih penting daripada Raja. Hur June mencoba memberikan alasan tapi Raja tidak mau mendengarkannya. Gwanghae segera membela Hur June, kebulatan hatinya untuk menjaga buku-buku medis pasti datang dari pandanngan jangka panjangnya mengenai keselamatan dari Istana. Inbin menyatakan kalau itu mungkin hanya alasan di muka saja untuk melarikan diri karena takut. Gwanghwa mencoba membela tapi Raja menyuruh mereka berhenti berdebat dan memerintahkan Hur June pergi dari hadapannya. Hur June terkejut. Tapi ia bisa menerimanya dan sedikit banyak sudah mengira kalau hal ini akan terjadi. Hur June segera bangkit, memberi hormat kemudian meninggalkan kamar Raja.

Hur June keluar dari kamar Raja dan bertemu dengan Doji di depan kamar, yang membawakan ramuan. Hur June memandang Doji yang balas memandangnya. Hur June kemudian segera pergi. Doji tersenyum penuh kemenangan. (Andy: Keren loh senyumannya Doji, buat hati jadi mangkel … pengin banget nimpuk dia … hehehhehehe😛 )

Pangeran Gwanghae memanggil Hur June ke kamarnya dan menemuinya dengan istrinya, Puteri Ryu. Gwanghae menghibur Hur Jun supaya tidak merasa sedih karena yang terjadi di Istana Raja tadi. Semakin besar rasa suka ayahnya pada Hur June semakin kecewa apa yang ia rasakan saat ini. Mungkin juga karena ia mengkhawatirkan keselamatna negara. Gwanghae menganjurkan Hur June menanti kemarahannya mendingin. Saat itu ayahnya pasti akan menyadari maksud sesunggunya dari tindakan Hur June. Hur June sangat senang dan lega karena Pangeran Mahkota Gwanghae bisa memahami tindakannya. Gwanghwa sendiri sangat senang dan juga lega  melihat kalau Hur June ternyata masih hidup. Puteri Ryu bertanya bagaimana kabar keluarga Hur June. Hur June dengan jujur mengatakan kalau ia tidak ada waktu, dan belum mendengar kabar mengenai mereka sejak awal pengungsian. Puteri Ryu terkejut dan ikut bersedih. Hur June berterima kasih karena perhatian darinya.

Dr. Chung menemui Hur June yang baru keluar dari kediaman Pangerang Mahkota, Hur June heran dan bertanya bukankah ia seharusnya mengikuti Tuan Kim (kelompok 3). Dr. Chun menjawab kalau ia sekarangi juga ditugaskan untuk mengiringi rombongan Raja. Dr. Chung kemudian bertanya apakah Hur June sudah mendengar kabar mengenai keluarganya. Hur June menjawab belum dan bertanya apakah dr. Chung mendengarnya. Dr. Chung memberitahunya kalau sebelum Hur June datang, mereka sudah berusaha menemuinya. Hur June terkejut dan bertanya di mana keluarganya sekarang, di mana mereka berada?

Unyun berlari menemui kedua orangtuanya, yang tampak lusuh dan kelaparan, memberitahu kalau ia membawa sesuatu, mereka terkejut dan segera membuka bungkusan yang dibawa oleh anak mereka dan ternyata itu  … nasi kepal… Ilsuh heran dan bertanya dari mana Unyun mendapatkannya. Unyun menjawab kalau ia menukarnya dengan perhiasannya. Ibunya terkejut dan bertanya apa perhiasan itu perhiasan amber? Unyun mengiyakan. Haman sangat gusar karena perhiasan yang mahal itu ditukarkan hanya dengan beberapa biji nasi kepal saja. Tapi Unyun membela diri, apa gunanya perhiasan mahal kalau mereka mati kelaparan. Haamn tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi anaknya, jadi ia segera melahap nasi kepal itu dengan rakus seakan-akan ingin memakan semuanya sebagai pengganti perhiasan itu. Yangtae mengambil beberapa biji dan menyerahkannya pada keluarga Gyeum kemudian berbalik pada istrinya. Nyonya Son bertanya dari mana mereka mendapatkannya. Ilsuh menjawab kalau anaknya, Unyun yang mendapatkan nasi-nasi itu. Unyun melihat pada Gyeum yang belum mendapat nasi dan menghampirinya, memberikan nasi kepal di tangannya tapi Gyeum yang hatinya sedang kesal tidak berselera. Haman menarik Unyun dan menegurnya, Unyun seharusnya memberi makan keluarganya, mereka sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga lain. Tapi dasar Unyun, ia mendebat ibunya, bertanya siapa keluarga lain, bukankah mereka itu nantinya akan menjadi suami, ibu dan nenek mertuanya. Haman mau mengomel lagi, tapi baru saja ia membuka mulut, Unyun dengan sigapnya langsung menjejalkan nasi kepal di tangannya pada mulut ibunya sehingga ibunya menjadi kelabakan dan tertegun, Unyun segera pergi … wahahahha kurang ajar si Unyun ini …. Heheheheh ….  :P

Hur June mencari-cari keluarganya di tempat pengungsian dan akhirnya menemukan ibunya sedang membagi dua nasi kepal dan memaksa Dahee untuk makan, sedangkan Dahee menolak, tapi akhirnya Dahee kalah dengan kemauan ibu mertuanya. Hur June terkejut melihat keadaan keluarganya yang begitu mengenaskan.

Hur June segera menghampiri mereka dan memanggil ibunya. Nyonya Son terkejut mendengar suara anaknya dan segera menoleh, terperangah melihat Hur June dan berseru memanggilnya. Dahee juga kaget dan segera melihat kalau Hur June ada di dekat mereka, Hur Gyeum juga terkejut.  Nyonya Son sangat senang dan terharu, ia memeluk Hur June. Yangtae dan yang lainnya terbangun dan melhat Hur June, mereka hampir tidak percaya. Yangtae berseru kalau sungguh melegakan melihat Hur June selamat. Gyeum tampak menahan kesal dalam hatinya. Nyonya Son memberitahu Gyeum kalau ayahnya datang, tapi Gyeum membalikkan diri dan melangkah pergi. Dahee menarik lengan bajunya dan menegur tindakannya itu. Gyeum menyindir ayahnya yang pasti terikat dengan Istana, jadi apa yang membawa ayahnya ke sini. Hur June terkejut dengan sikap anaknya. Dahee menegur Gyeum.

Gyeum bertanya pada ayahnya apakah keluarga tidak berarti baginya, bagaimana bisa tidak mempedulikan mereka. Hur June merasa hatinya sakit karena tidak dimengerti oleh anaknya. Gyeum mengatakan kalau mereka semua mengerti apa yang telah terjadi di Seoul, karena itu mereka mencemaskan ayahnya. Tapi ayahnya bahkan tidak peduli untuk  muncul di hadapan mereka. Walaupun ia begitu peduli untuk menjaga kesehatan Raja, tapi apakah tidak bisa untuk mengunjungi mereka sebentar saja. Gyeum menyebut kalau ayahnya tidak pernah berubah, sejak ia masih kecil, ayahnya selalu berlaku seperti itu, sedikit sekali perhatiannya pada keluarga. Yang ada di pikirannya hanya kerja, kerja, dan kerja.… Tidakkah ayahnya menyadari betapa nenek dan ibunya menderita. (Andy: ingat saat wabah campak menyerang anak-anak kecil? Hur June tetap menyuruh keluarganya untuk ikut antri, dengan maksud tidak pilih kasih, padahal sudah umum pada waktu itu untuk mendahulukan keluarga dokter daripada pasien yang lain, dan sampai sekarang juga masih seperti itu ) Dahee menegur anaknya, apa yang sebenarnya yang anaknya katakan. Ia tidak pernah merasa sakit hati terhadap ayah Gyeum. Bahkan selalu merasa bangga terhadap apapun yang Hur June lakukan karena ia tahu betapa pentingnya pekerjaan yang dilakukan Hur June bagi orang lain. Ia selalu bangga akan Hur June dan menyuruh anaknya menghentikan tindakan yang tidak masuk akal ini secepatnya. Gyeuj tampak masih merasa hatinya panas. Hur June tahu betapa salah paham ini sulit untuk dijelaskan dengan satu dua patah kata, dan ia tidak ingin memperpanjangnya, jadi Hur June mengatakan kalau ia memang pantas disalahkan. Ini semua memang kesalahannya, Dahee terkejut dan berseru memanggil suaminya. Hur June merasa hari ini begitu banyak kejadian yang menimpanya. Hatinya sangat masygul. Nyonya Son memandang iba pada Hur June.

Malam hari, Ohgun dan Hongchun di kamar memandangi bayi laki-laki, Ohgun mengatakan kalau bayi ini suaranya lantang dan jernih sama seperti Hongchun. Hongchun sangat senang dengan bayi itu, mengatakan kalau bayi ini juga memiliki tampang terhormat sama seperti Ohgun. Ohgun tersenyum senang dan mengatakan kalau bayi itu adalah anak mereka jadi ia harus menjaga mereka berdua nanti. Hongchun membenarkannya. Ohgun kemudian memanggil Hongchun, Hongchun mengangkat kepalanya dan tersipu-sipu malu saat melihat Ohgun sedang menatapnya. Ohgun mengatakan kalau ia tidak bisa hidup semenitpun tanpa Hongchun. Mereka seharusnya terus bersama sampai kematian menjemput. Hongchun mengiyakannya. Ohgun memeluk istrinya, Hongchun pasrah…. Tiba-tiba si bayi membuka matanya dan melihat pada mereka, Hongchun segera menolak tubuh suaminya dan berseru kalau si bayi mengawasi mereka berdua. Ohgun melihat si bayi dan mengatakan kalau ia tidak apa-apa dan meminta istrinya mendekat. Hongchun menggeser tubuhnya, Ohgun memegang baju bagian atas dan mengintip dada istrinya, tiba-tiba si bayi menangis, Hongchun segera menarik baju dan menutupnya, menepuk-nepuk si bayi. Ohgun lagi “hot” meminta istrinya berbaring di lantai kamar saja, Hongchun tersipu malu ….

Dua utusan berkuda memacu kudanya menuju ke Istana Pyeongyang….

Para pejabat dan Pangeran Mahkota Gwanghae berkumpul di kamar Raja, Raja sudah menerima surat dari utusan dan sedang membacanya. Raja tampak sangat masygul saat selesai membaca surat itu dan mengatakan, bahkan Haejoo di Gae Sung pun jatuh ke tangan pasukan Jepang. Menteri Jung memohon agar Raja mencari perlindungan ke Weeju, tapi Gwanghae menentangnya, jika Raja dan para Menteri Istana meninggalkan Istana Pyeongyang maka apa yang akan terjadi pada rakyat sangat mudah terlihat, Gwanghae kemudian memohon agar Raja mengijinkannya tinggal di Istana Pyeongyang. Raja terkejut, PM Sung tak menyangka. Pangeran Mahkota Gwanghae mengatakan pada para pejabat, khususnya pada PM Sung, jika Istana Pyeongyang jatuh dan direbut oleh pasukan Jepang maka tidak ada yang dapat menjamin keamanan keluarga Raja dalam perjalanan ke Weeju. Karena itu ia akan tinggal di Istana Pyeongyang dengan pasukan yang ada untuk mempertahankan Istana.  Raja sungguh tidak menyangka Gwanghae ternyata begitu memperhatikan keselamatannya.

Hur June memenuhi panggilan dari dr. Yang dan menemuinya di kamar dr. Yang. Dr. Yang memberitahunya, seperti yang sudah diketahui oleh Hur June  kalau anggota Istana akan dibagi dua, Yang Mulia akan pergi ke Weeju dan Pangeran akan tetap tinggal di Istana ini. Dr. Yang memutuskan kalau Doji dan Chung Tae Un akan menemani Pangeran Mahkota, tapi Hur June justru memohon pada dr. Yang agar ia diijinkan untuk tinggal di Istana karena mengikuti rombongan Raja sepantasnya adalah tugas dari dr. Yang. Dr. Yang menyahut, tidak, yang harus mengiringi Yang Mulia adalah Hur June.bukan dirinya. Hur June berusaha menolaknya, tapi dr. Yang mengatakan kalau sangat sulit baginya untuk berjalan kaki ke Weeju dengan kondisinya sekarang bahkan bisa saja ia membuat masalah di tengah jalan. Sungguh memalukan. Hur June juga menyadari kebenaran kata-kata dr. Yang. Dr. Yang melanjutkan, ia tidak pernah melihat Raja begitu tidak sehat seperti sekarang dan meminta pada Hur June agar selalu ada di dekat Yang Mulia.

Tandu Kerajaan sudah disiapkan di halaman Istana dan semua anggota rombongan sudah berbaris dan siap untuk berangkat. Raja turun tangga diikuti oleh Inbin dan Pangeran Shin Sung, menemui  Pangeran Mahkota Gwanghae. Gwanghae memohon pada ayahnya untuk menjaga kesehatannya. Raja merasa senang dengan perhatian anaknya, ia memegang tangan Gwanghae dan menepuk-nepuknya. Gwanghae tidak menyangka tapi ia merasa sangat senang.

Raja kemudian melihat Doji dan dr. Chung ada di deretan anggota Istana yang akan tinggal di Istana Pyeungyang dan bertanya mengapa Doji tinggal di sini. Doji menjawab kalau ia diperintahkan untuk tinggal dan menjaga kesehatan dari Pangeran. Raja heran tapi ia mengerti kalau itu sudah diputuskan, Raja kemudian pergi menuju ke tandunya tapi ia melihat Hur June ada di deretan orang yang mengiringinya ke Weeju, Raja menghampiri Hur June dan mengatakan kalau ia lebih suka Doji yang mengiringinya dan memerintahkan Hur June untuk tinggal di Istana Pyeongyang menjaga Pangeran. Hur June mengiyakannya, para pejabat sangat terkejut demikian juga dengan Pangeran Gwanghae. Doji juga terperangah dan tidak menyangka kalau Raja ternyata memilihnya daripada Hur June. Doji sangat gembira karena dengan ini ia berhasil mengalahkan Hur June lagi, dan pasti tidak lama lagi jubah merah itu akan menjadi miliknya.  Hur June memang terkejut dan merasa sedikit dipermalukan, tapi ia tidak begitu shock, karena memang keinginannya dari semula kalau ia ingin tinggal di Istana Pyeongyang, jadi kebetulan malah.

Tandu Kerajaan mulai diangkat dan perjalanan menuju ke Weeju dimulai. Beberapa pengawal Istana berkuda di depan, sedangkan semua orang yang lain segera bergerak mengiringi tandu Raja di belakangnya.

Beberapa hari kemudian, masih dalam perjalanan ke Weeju, Dayang Kepala Paviliun Pangeran Shin Sung berlari menemui Doji dan memberitahunya kalau Pangeran Shin Sung jatuh sakit. Rombongan segera berhenti di karesidenan setempat.

Pangeran Shin Sung ditempatkan di satu kamar, Doji memeriksa nadi Pangeran Shin Sung. Raja dan Inbin sangat cemas dengan kondisi kesehatan pangeran Shin Sung. Doji melakukan pengobatan akupungtur pada tangan dan lengan Shin Sung. Raja bertanya seberapa buruk kondisinya. Doji menjawab kalau kekuatan tubuhnya menurun drastis karena perjalanan jauh yang tak terduga. Tapi jika ia meminum ramuan setelah dilakukan akupungtur, Doji rasa Shin Sung akan pulih kembali. Inbin sangat khawatir dengan kesehatan anaknya dan mengatakan betapa berat dan jauh perjalanan ini bagi seorang anak kecil, ia memohon agar menunda perjalanan ini untuk sejenak sampai Pangeran sehat kembali. Menteri Jung membuka suara dan meminta maaf atas kekasarannya, tapi mereka tidak tahu kapan pasukan Jepang akan menyusul mereka jadi mereka harus secepatnya tiba di Weeju. Inbin tidak terima dan membentaknya. Tapi Raja berpaling pada Doji dan bertanya pendapatnya, apakah perjalanan ini terlalu berat bagi Shin Sung untuk melanjutkan kembali ke Weeju. Doji menyahut kalau ia sudah mengatur penggunaan akupungtur untuk pengobatan darurat dan mereka juga masih memiliki beberapa pil obat, jadi ia rasa tidak apa-apa untuk melanjutkan perjalanan kembali. Inbin tampak cemas. Doji melanjutkan, lagipula mereka seharusnya mencari tempat yang nyaman untuk melanjutkan pengobatan yang sepenuhnya terhadap pangeran Shin Sung. Raja mengangguk-angguk dan mengatakan kalau begitu mereka akan segera melanjutkan perjalanan. Para pejabat mengiyakan.

Tambur di Istana Pyeongyang ditabuh, suaranya menggema sampai jauh, seakan-akan menyatakan panggilan berperang bagi semua orang, pria atau wanita, baik tua maupun muda, asalkan sudah bisa memegang senjata mereka segera bergabung ke dalam pasukan sukarela untuk mempertahankan Istana Pyeongyang dari serbuan pasukan Jepang. Para wanita mengangkati batu-batu untuk pertahanan dan kayu bakar untuk memasak air panas.

Pangeran Mahkota dan Jenderal Pengawal Istana bersama dengan pejabat militer lainnya dan para komandan pasukan melakukan rapat untuk membahas bagaimana mereka akan melakukan pertahanan.

Hur June menemui para perawat dan juga Ohgun, menanyakan jumlah bahan obat Sogye (thistle) , Cheukbaegip (daun thuja) , dan Okjugol (cuttlebone). Ohgun menjawab kalau ada 1.2 kg untuk thistle, 1.8 kg untuk daun thuja, dan kurang dari 0.6 kg untuk cuttlebone. Hur June sangat cemas saat mendengar jumlah bahan obat itu. Hongchun bertanya kalau mereka sangat kekurangan bahan obat, apa yang dapat mereka lakukan sekarang. Hur June meminta mereka semua untuk membawakan shepherd’s purse, dan mengambil sarinya, Hongchun heran. Hur June menjelaskan jika mereka meminum sarinya kemudian menaruh bubuknya di luka, itu juga berlaku sebagai pemampat darah. Hongchun mengiyakan dan segera pergi dengan suaminya.

  • Shepherd’s Purse ga kuterjemahin karena aku ga tahu arti Indonesianya yang pas, kalau ada yang tahu harap komen ya …😀

Hur June memeriksa bahan-bahan obat, Ilsuh dan Yangtae berseru memanggilnya kemudian menghampirinya. Hur June terkejut dan bertanya apa yang sedang mereka lakukan di Istana. Yangtae dan Ilsuh menyahut kalau mereka menjadi pasukan sukarela Kerajaan. Gyeum juga datang dan mengatakan kalau ia juga masuk pasukan sukarela.  Hur June gelisah melihat anaknya juga menjadi pasukan sukarela.

Tiba-tiba terdengar seruan, ”Pasukan Jepang datang! Pasukan Jepang sudah datang!” Para prajurit segera bergegas ke posisi mereka masing-masing untuk mempertahankan Istana. Hur June terkejut.

Hur June mengiringi Pangeran Mahkota menuju ke dinding benteng Istana, Bae Chunsoo menunjukkan jalannya. Pangeran Gwanghae dan Hur June melihat dari sisi dalam tembok ke arah luar, dan sangat banyak sekali jumlah pasukan Jepang yang menyerbu benteng Istana. Banyak di antara mereka membawa tangga untuk digunakan naik ke benteng.  Pangeran Mahkota Gwanghae dan juga Hur June terperanjat melihat jumlah pasukan dari Jepang …..

25 comments on “Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 58

  1. Disinilah kelihatan cara berpikir 2 calon pemimpin masa depan :
    Do Ji mengutamakan sasaran jangka pendek ( tiba masa tiba akal )
    Hur June berpikir jangka panjang kelangsungan hidup generasi berikut ( dampak kedepan ) ………
    Atau kalau masa sekarang Do Ji cukup jadi Pemimpin Event Organizer ( EO )
    Hur June bolehlah jadi Pemimpin Partai tempat naungan hajat hidup orang banyak …..

  2. Tambah seru kang, pdhal jgn dulu hbs episodenya,,,,,, belasungkawa buat shanghwa, salut krn ngorbanin diri sendiri,,,, udah jam 8 ditunggu lanjutannya kang……

  3. katanya doji bakal menyesali perbuatannya tp udah berkali2 dikalahkan huh joon tapi g’ insyaf ya?! emangnya di episode ke brp ceritanya?!

    • Benar ….. karena kita akan lebih ekspresif sesuai lingkungan dan latar belakang pengalaman kita sehingga komentar akan muncul setelah nonton serialnya : …. Oh… gitu toh ! …….. Begitulah dramawan mengelola imajinasi ….. ( Jangan disimpan dihati ).

      Memang kalau difilm bahasa gambar dan mimik pemain yang akan memvisualkan pikiran kita sedangkan Koh Andy menciptakannya lebih imajinatif … sangat beda …. beda jauh dengan bahasa gambar tadi. Sebenarnya ini cambuk untuk Koh Andy unuk memulai menulis … menulis karya sendiri ( novelis ? ) …. Kita tunggu Koh Andy. Semangat !
      Saya ingin membaca tulisan jurnalistik Koh Andy …. pasti banyak hal-hal yang menarik kalau kebetulan mulai meninggalkan Jember tujuan Surabaya …. banyak …. banyak sekali. Ayo Koh Andy …… ! Perilaku anak les yang diasuh …..Atau ‘Love Story’ nya Koh Andy ? ………. Pasti banyak yang berkesan.

      • “garuk-garuk kepala” ini kuanggap sebagai pemanasan dulu, moga-moga bisa jadi novelis … ahahahahah …. kapan hari udah buat beberapa bab seh … tapi seperti yang kalian tahu, kompiku sempat di format total, hilang semua dataku deh termasuk calon novel ku😛 …..

  4. Shepherd’s Purse tumbuh hampir disemua belahan dunia, mirip tapak kaki kuda di Indonesia ya… Koh Andy ( tanamannya satu marga ? ). Konon di Inggrris Jerman Amerika sendiri, ahli herbal disana menyebutnya Kantong Gembala …. lazim digunakan untuk mengatasi pendarahan diluar dan dalam tubuh, sari seluruh tanaman dapat diekstrak dalam bentuk cairan untuk infus, bau bunganya mirip bunga mustard.

  5. Sang Hwa namamu terpateri dalam episode ini sebagai pahlawan! Kau pantas ditangisi…. Manusia yang tahu membalas budi…..sungguh besar pengorbanan mu untuk negaramu. Jelas baktimu untuk Hur June yang telah menyadarkan kau dari kesesatan berpikir menyalahkan takdir. Kau dididik menjadi Dokter oleh Hur June dan menemukan jati dirimu.
    Perang …….. sungguh besar dampakmu ! Mulai dari kerusakan infra struktur, bangunan bersejarah dan hancurnya situs budaya ….. Keparat ! Belum lagi moral wanita yang dihancurkan oleh Jepang dengan barisan JUGUN IANFU yang diciptakan untuk pemuas nafsu bejat serdadu Jepang ….. ( Oh Perang ….. Kau ….Masa lalu yang kelam ).

    • Pyeongyang ( hampir berbatasan dengan Krea Utara sekarang ) …… betapa jauhnya jarak mengungsian ini …. melewati lembah sedemikian banyak dan menyebrangi 3 sungai yang cukup lebar sejak dari Hanyang / Seoul ( letak ibu kota ini berada ditengah semenanjung Korea ) dan pasti perjalanan ini sangat melelahkan.
      Sangat menarik karena menjelang episod terakhir …. disini cukup banyak konflik terbangun khususnya menyangkut pemeran utama. Banyak kisah yang terjadi disini kalau ditelaah … sangat menyentuh …. ada heroisme (SangHwa)… ada kemanusiaan (Oh Gun) … ada Cinta remaja ( Hur Gyeum – Unjum ) … ada pengabdian (Hur June) .. ada muka bunglon ( Do Ji ) ada semangat kesatria ( Pangeran Gwanghae ) …… banyak lagi …………..
      Do Ji …. dia malah sumringah berada di garis belakang. Beda dengan Hur June dengan gagah berani rela berkorban bersama Pangeran mempertahankan Istana Pyeongyang.

      • Mantep dijelasin deh jarak antara Pyeongyang dan Hanyang / Seoul, terlalu cape nulis sampai ga sempat (alias lupa😛 ) mencari info ini, thks alika😀 … dan sebagai penjelasan, aku dari awal menyebut Hanyang sebagai Seoul, karena subtitle bhs Inggrisnya nyebut Seoul, dan aku ga perhatikan percakapan mereka juga lupa kalau Hanyang = Seoul … mau nda mau tetap lanjut dengan Seoul, bukan Hanyang.

  6. Dan …… sangat tepat kalau Koh Andy kalau fokus menyebutkan Seoul. Saya analisa ….. blogger yang bergabung disini ada usia muda sekitar 17 – 20 tahunan. Kalau menyebut Hanyang kayaknya ‘kuno’ banget. Walaupun kata Hanyang cukup qualified. Bukankah salah satu Universitas terkenal di Seoul adalah Hanyang University ? Dengan kata ‘Seoul’ pasti cepat teringat ibu Kota Korea … intinya nyambung dengan lokasi alur cerita ini.

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s