Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 59

Tiba-tiba terdengar seruan, ”Pasukan Jepang datang! Pasukan Jepang sudah datang!” Para prajurit segera bergegas ke posisi mereka masing-masing untuk mempertahankan Istana. Hur June terkejut.

Hur June mengiringi Pangeran Mahkota menuju ke dinding benteng Istana, Bae Chunsoo menunjukkan jalannya. Pangeran Gwanghae dan Hur June melihat dari sisi dalam tembok ke arah luar, dan sangat banyak sekali jumlah pasukan Jepang yang menyerbu benteng Istana. Banyak di antara mereka membawa tangga untuk digunakan naik ke benteng.  Pangeran Mahkota Gwanghae dan juga Hur June terperanjat melihat jumlah pasukan dari Jepang …..

Pasukan Jepang terus maju tanpa kenal takut, Bae Chunsoo memberikan komandonya untuk menembakkan meriam, para komandan segera memerintahkan para prajurit menyalakan sumbu dan menembakkan meriam ke arah pasukan Jepang. Ledakan terjadi di mana-mana akibat peluru-peluru meriam menyentuh tanah, para prajurit Jepang yang berada di dekat peluru meriam meledak, terlempar dan beberapa tewas seketika. Tapi pasukan Jepang tidak goyah, dengan berani mereka terus maju, meninggalkan yang mati dan terluka di belakang. Para Pemimpin Pasukan Jepang berkuda di belakang pasukan, mengawasi pertempuran itu dan memberikan aba-aba untuk tetap menyerang Benteng Istana Pyeongyang.

Para komandan pasukan Joseon memberikan aba-abanya untuk melepaskan anak panah pada prajurit Jepang yang mendekat ke dinding Benteng Istana. Para pemanah segera menetapkan target mereka dan melepaskan anakpanah dari busurnya. Beribu-ribu anak panah melesat menuju ke arah pasukan Jepang. Beratus-ratus orang terjatuh karena panah-panah itu menembus tubuh mereka. Hujan anak panah berlangsung terus tapi pasukan Jepang tetap saja menerobos maju tanpa takut mati.

Catapult diisi dengan batu kemudian prajurit melepaskan alat pelontar catapult, yang  melontarkan batu-batu itu ke arah pasukan Jepang, hujan batu melayang dan menimpa prajurit Jepang, beberapa puluh orang terjatuh dan mati seketika terkena batu yang jatuh dari udara. Pasukan Jepang masih pantang mundur.

Para wanita penduduk Pyeongyang membantu mengumpulkan batu, termasuk Dahee dan Unyun. Haman mendatangi mereka, tiba-tiba terdengar tembakan, Haman segera menunduk kemudian menyeret Unyun ke tempat yang lebih aman. Haman bertanya pada anaknya apa yang sedang dilakukannya di tempat seperti ini. Unyun menjawab tidakkah ibunya melihat kalau ia sedang mengumpulkan batu ke Istana. Haman memarahinya, apakah Unyun tidak mendengar suara tembakan itu. Jika ia pergi seperti itu bagaimana kalau tertembak oleh peluru nyasar, apa itu yang ia inginkan. Haman memukulinya. Tiba-tiba terdengar suara tembakan, Haman segera mengkeret ketakutan dan mengajak anaknya untuk berlindung, tapi Unyun menolak, Gyeum saja sedang melawan pasukan Jepang, jadi ia juga tetap akan pergi mengangkati batu. Haman memeluk tangan Unyun dan tidak mengijinkannya pergi, tapi Unyun berontak dan melepaskan tangannya dari pelukan ibunya kemudian pergi mengangkati batu lagi.

Pangeran Gwanghae sedang memeriksa barisan prajurit, tapi Bae Chunsoo menghampirinya dan menganjurkan Pangeran berlindung saja di dalam karena tidak aman di tempat itu, tapi Gwanghae menolak dan tetap berkeliling ditemani seorang komandan. Bae Chunsoo sungguh cemas.

Ilsuh dan Yangtae memapah seorang prajurit yang terluka dan membawanya ke tempat yang aman.

Pasukan Jepang berhasil mendekati dinding dan mulai menegakkan tangga yang mereka bawa. Pihak Joseon yang bertahan berusaha menghalangi dengan melepaskan tembakan, memanah dan melemparkan batu ke arah para prajurit Jepang yang dekat dengan dinding. Pasukan Jepang membalas dengan menembaki mereka dari bawah, banyak prajurit pemanah dan pasukan sukarela yang tertembak

Beberapa prajurit Jepang mulai naik tangga. Prajurit Joseon menimpuki mereka dengan batu-batu, beberapa prajurit Jepang terjatuh, tapi masih saja ada yang berhasil naik mendekati ujung tangga, prajurit Joseon segera mengambil ember berisi air panas dan menyiramkannya ke tubuh prajurit itu yang languung merosot jatuh karena kesakitan.

Beberapa prajurit Jepang berhasil naik dan menerobos ke atas benteng, mereka dihadang oleh para prajurit dan terjadilah pertempuran di atas tembok benteng. Tusuk sana tusuk sini, sabet sana sabet sini, darah berhamburan dari pertempuran itu. Prajurit Joseon kalah persenjataan dan perlengkapan, mereka kewalahan. Banyak prajurit Jepang yang berhasil menerobos ke dalam benteng tapi dihadang oleh para prajurit Joseon yang lain. Pertempuran juga terjadi di dalam benteng. Seorang Komandan Joseon segera memerintahkan prajuritnya untuk menggunakan meriam dan menembakkannya ke prajurit Jepang yang berhasil menerobos masuk, meriam ditembakkan, semua penyusup mati.

Hur June dan para dokter serta perawat berusaha merawat semua orang yang terluka, mereka bekerja tanpa kenal lelah, berusaha melakukan yang terbaik demi keberlangsungan Istana Pyeongyang supaya dapat bertahan dari serbuan pasukan Jepang. Mereka bekerja di bawah desingan peluru, sesekali para dokter dan perawat menunduk untuk berlindung dari peluru nyasar.

Pasukan sukarela menggunakan berbagai peralatan seadanya, di antara mereka ada Ilsuh dan Yangtae, membantu para prajurit Joseon untuk menolak tangga dan menjatuhkannya sehingga para prajurit Jepang tidak dapat naik lagi. Prajurit Jepang yang di bawah melihat mereka dan segera menembaki orang-orang di atas tembok, beberapa orang terkena tembakan dan terjatuh di luar tembok. Hujan batu dan anak panah masih terus berlangsung, banyak mayat prajurit Jepang yang bertebaran dan bertumpuk di bawah tembok sisi luar Benteng Istana.

Tiba-tiba terlihat para prajurit Jepang mengundurkan diri, Para Pemimpin Pasukan Jepang memberikan perintah untuk menarik pasukan dan mengepung Benteng, mengumpulkan kembali pasukan mereka yang tercerai berai dan merencanakan taktik selanjutnya.

Rombongan Raja sampai di Weeju, rakyat menyembah tapi dengan menggerutu, Raja macam apa yang meninggalkan rakyatnya. Bagaimana ia bisa disebut Raja jika tanpa rakyat yang diperintah.

Raja Seonjo turun dari Tandu dan memasuki Istana Weeju bersama dengan Inbin dan para pejabat lainnya, mengawasi ke sekelilingnya. Menteri Jung meminta maaf karena mereka bersalah, tidak berhasil menemukan tempat yang sesuai dengan martabat Raja. Tapi Seonjo menjawab kalau ia adalah raja yang dalam pelarian dan yang telah gagal melayani rakyat, jadi walaupun di jalanan pun ia tidak akan masalah. Para pejabat menyahut kalau itu tidak benar dan memohon maaf karena ketidakmampuan mereka.  Tiba-tiba Dayang Kepala Pangeran menemui Inbin dengan wajah cemas dan memberitahu kalau Pangeran Shin Sung jatuh tak sadarkan diri. Inbin dan Raja terperanjat.

Para perawat dan Doji sedang berusaha menyadarkan Pangeran Shin Sung di depan tandunya. Inbin datang dan segera memeluk anaknya, meminta agar Shin Sung membuka matanya.

Shin Sung segera dibawa ke dalam sebuah kamar, Doji memeriksa nadinya dengan diawasi oleh Inbin dan Seonjo yang cemas. Tampak kalau Shin Sung bibir dan wajahnya pucat. Inbin gelisah dan bertanya pada Doji apa yang terjadi dengan anaknya. Apa yang membuatnya tiba-tiba saja tidak sadarkan diri. Doji terkejut dan tidak dapat menjawabnya. Raja menyatakan kalau dokter Raja seharusnya tahu kondisinya dengan lebih terperinci. Bukankah Doji yang menjamin pada mereka kalau kondisi Pangeran dapat bertahan dalam perjalanan menuju ke Weeju. Doji ketakutan, keringat dingin mulai timbul di wajahnya. Doji berusaha menenangkan Raja dan memberi alasan kalau Pangeran tak sadarkan diri karena demam yang parah tapi akan pulih segera dengan akupungtur dan ramuan. Inbin bertanya apakah dirinya dapat memegang perkataan Doji, dapatkah ia percaya pada Doji. Doji mengiyakannya. Raja memberi peringatan, jika terjadi sesuatu yang buruk pada Pangeran Shin Sung maka Doji tidak mungkin akan bisa lolos dari hukumannya. Doji terperanjat dan mengiyakannya.

Catatan: aku ternyata selama ini salah, menganggap kalau seorang dokter itu harus tingkat 3 senior baru disebut dokter Raja, tapi ternyata dalam episode ini Doji juga disebut dokter Raja padahal ia masih tingkat 3 junior (Naeuijeon), yang berarti setiap dokter, walaupun tingkatnya lebih rendah, tapi melayani raja maka akan dianggap sebagai dokter Raja. Jubah merah yang dipakai oleh Hur June itu bukanlah seragam dokter Raja, tapi seragam tingkatannya, seorang direktur tingkat 3 senior dari Departemen Administrasi Kerajaan, demikian juga dengan dr. Yang, seorang direktur tingkat 3 senior dari Departemen Medis.

Doji dengan resep di tangannya mau menuju ke tempat merebus obat, tapi ia berhenti di tengah perjalanannya dan gelisah memikirkan keselamatan dirinya. Dr. Chung datang dan mendengar kalau Pangeran Shin Sung tidak sehat dan dalam kondisi serius. Doji menyahut kalau secara fisik Pangeran Shin Sung memang lemah, tapi itu hanyalah demam sementara disebabkan oleh perjalanan panjang yang ditempuh. Dr. Chung bertanya tidakkah Doji merasa heran, jika itu hanya demam biasa maka Pangeran pasti sudah pulih sekarang, dan ia takut kalau sesuatu yang lain yang membuat gejala demamnya tambah memburuk. Apakah ada kemungkinan ada penyakit lain yang tidak disadari oleh Doji. Doji membantahnya, tidak mungkin, kemudian memberitahu dr. Chung untuk menjaga mulutnya dan hanya mengikuti resep yang dibuatnya. Doji menyerahkan resep pada dr. Chung, yang mengiyakannya dan mengambil resep itu lalu pergi. Tapi Doji merenungkan kembali perkataan dr. Chung, apakah ada kemungkinan ada penyakit lain yang tidak disadari oleh Doji. Doji merasa kalau perkataan dr. Chung mungkin ada benarnya, ia segera pergi ke gudang dan mencari-cari sesuatu di beberapa kotak pakaian (mungkin milik Pangeran Shin Sung) di sana tapi tidak menemukannya.

Dr. Chung menemui para perawat dan menyuruh mereka bergegas untuk membuat ramuan bagi Pangeran Shin Sung karena dokter Raja pasti sedang gelisah di dalam hatinya. Sehee mengiyakannya. Perawat lain pergi. Dr. Chung kemudian berjongkok di dekat Sehee  dan menyebut kalau ini mungkin karma antara Sehee dan dokter Raja sangatlah kuat, mereka berdua entah dengan cara bagaimana bisa ada di tempat ini. Sehee menatap tajam pada dr. Chung, yang bertanya apakah Sehee masih memikirkan Doji. Sehee tidak terima dan membentaknya, dr. Chung tertawa kecil dan mengatakan kalau dirinya hanya menggoda Sehee. Doji menemui mereka berdua, ia bertanya pada dr. Chung apakah dr. Chung tidak membawa buku-buku medis, yang berhasil dibawa dokter Raja (Hur June) saat pengungsian, ke Weeju. Dr. Chung justru balik bertanya bukankah Doji sendiri yang memerintahkan untuk membawa barang-barang sesedikit mungkin karena itu ia meninggalkannya semua di Istana Pyeongyang. Doji merasa masygul. Dr. Chung bertanya untuk apa dia mencari buku-buku itu. Doji menjawab bukan untuk apa-apa, kemudian pergi.

Doji memeriksa nadi Pangeran Shin Sung dan mengeluarkan kotak jarumnya, tapi teringat dengan peringatan raja sebelumnya, jika terjadi sesuatu yang buruk pada Pangeran Shin Sung maka Doji tidak mungkin akan bisa lolos dari hukumannya. Doji gemetar ketakutan karena kali ini ia benar-benar di ujung tanduk, sudah tidak bisa meloloskan diri. (Andy: Udah ga ada Hur June yang bisa dijadikan “kambing hitam”). Tangan Doji yang memegang kotak jarum gemetar dengan keras, Sehee melihatnya dan menegur Doji. Doji menoleh dan meminta agar ia dibiarkan sendirian saja, Sehee mengiyakannya, kemudian ia dan rekannya segera keluar dan membiarkan Doji sendirian dengan Pangeran Shin Sung.

Doji menghirup napas dalam-dalam, keringat dingin mulai muncul di dahinya, tangannya dengan gemetar membuka kotak dan mengambil jarum dari dalamnya. Masih dengan tangan gemetaran Doji melakukan akupungtur pada kepala Pangeran Shin Sung.

Malam hari di Istana Pyeongyang, patroli bersiaga setiap saat mengawasi pergerakan dari luar. (Andy: Takut ninja datang kali😛 ).

Di tempat pengungsian, Ohgun menemani Hongchun yang sedang menggendong anak angkat mereka, yang mereka namakan Junghwa, lengkapnya Lim Junghwa.  Hongchun sangat khawatir dengan kondisi anaknya itu karena tidak mau makan bubur, kalau begini maka mereka seharusnya memberikan ASI pada si bayi. Ohgun bertanya bagaimana dengan istrinya, tapi Hongchun menatapnya tajam dan menegur seakan-akan suaminya itu tidak tahu saja keadaaan dirinya. Kemudian Ohgun teringat sesuatu dan meminta Junghwa dari istrinya. Hongchun bertanya untuk apa, Ohgun menjawab kalau ia punya ide.

Yuwol sedang menyusui anaknya, Yangtae sangat senang melihat anaknya menyusu pada ibunya dengan lahap. Ohgun, sambil menggendong Junghwa, menemui mereka dan meminta bicara berdua dengan Yangtae. Yangtae mendekatinya dan bertanya mengapa Ohgun memegang Junghwa seperti itu. Ohgun meminta bantuan Yangtae, agar Yangtae memintakan ASI pada Yuwol supaya Junghwa bisa disusui. Yangtae terkejut. Ohgun memberitahunya kalau Junghwa tidak mau makan bubur dan bisa saja segera meninggal. Ohgun dengan pandangan memohon, meminta agar Yangtae mempertimbangkannya. Yangtae ragu-ragu, tapi Ohgun memintanya agar jangan pelit, Junghwa khan hanya seorang bayi. Yangtae menyahut kalau mereka berdua memang sudah saling mengenal dengan baik, tapi seperti yang Ohgun ketahui kalau istrinya hanya dapat makanan sedikit saja akhir-akhir ini, jadi istrinya hanya dapat mencukupi kebutuhan ASI dari Jangsu, anaknya sendiri. Ohgun bertanya apa itu artinya Yangtae tidak mau berbagi. Yangtae menyahut kalau ia mengerti keadaan Ohgun tapi tidak ada yang bisa ia bantu, Yangtae membalikkan badannya. Ohgun sangat kesal dan menyumpahi Yangtae yang ia anggap begitu kikir, dan berbalik pergi, tapi Yuwol memanggilnya dan meminta Junghwa. Yangtae berusaha menentang istrinya, tapi Yuwol tetap pada keputusannya. Ohgun segera menghampiri Yuwol dan menyerahkan bayinya untuk disusui Yuwol. Jangsu di dada kirinya, Junghwa di dada kanannya. Ohgun sangat berterima kasih pada Yuwol, ia segera membalikkan badan, memberikan kesempatan pada Yuwol untuk menyusui kedua bayi itu.

Dahee berkeliling membagikan nasi kepal kepada para prajurit yang berjaga dan menemui anaknya yang juga mendapatkan tugas jaga. Dahee mengajak anaknya untuk makan di tempat lain bersamanya. Gyeum mengangguk setuju, mereka segera pergi ke tempat lain untuk bersantap.

Dahee bertanya apakah anaknya terluka, Gyeum menjawab tidak, kemudian makan. Dahee mengawasinya dengan penuh sayang. Dahee memberitahunya kalau ayahnya sangat sibuk merawat para prajurit yang terluka. Gyeum tampak merenung. Dahee bertanya apakah Gyeum masih punya kemarahan terpendam di dalam hatinya akan ayahnya. Hur Gyeum hanya mengangkat kepalanya memandang ibunya. Dahee menceritakan keadaan ayah Gyeum saat di Sanum. Dulu ia pernah diusir oleh gurunya, dr. Yoo Wee Tae. Gyeum tidak pernah mendengar ini. Dahee melanjutkan, untuk menenangkan pikirannya yang hancur, ayah Gyeum minum sampai mabuk dan hidup seperti mayat berjalan. Dahee dulu menggendong Gyeum di punggungnya dan berusaha mempertahankan kehidupan keluarganya bersama dengan nenek Gyeum, menjual arrowfoot di pasar. Kemudian ayah Gyeum meninggalkan mereka bertiga tanpa berpamitan sedikitpun. Waktu itu Dahee tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kepercayaannya pada Hur June pecah berkeping-keping dan ia merasa sangat membenci suaminya. Ketika ia akhirnya diberitahu kalau Hur June tinggal di Julgang, yang dekat dengan Sanum, ia pergi kesana untuk menemuinya sendiri. Dahee menghela napas mengingat masa-masa itu, lalu melanjutkan kembali ceritanya, dalam cuaca dingin yang membeku seperti itu, saat menuruni jalan gunung, ia terus berjanji pada dirinya sendiri, jika ia bertemu dengan suaminya maka ia akan menumpahkan segala kebencian itu pada suaminya. Ia akan bertanya mengapa suaminya itu begitu tidak memperhatikan keluarganya, tapi ternyata ia tidak bisa melakukan semua itu.

Dahee bertanya pada anaknya, tahukah Gyeum mengapa demikian. Ketika akhirnya ia sampai di Julgang, ia melihat ayah Gyeum sedang merawat orang-orang yang terluka akibat gua tambang runtuh. Saat melihatnya merawat para pasien dengan segenap hatinya, semua kebencian di dalam hatinya langung meleleh seketika itu juga. Pemandangan saat itu adalah yang paling indah dan paling membanggakan dari suaminya semenjak ia bertemu dengan Hur June. Sejak hari itu, tidak peduli betapapun sulitnya keadaan, ia memiliki penghormatan yang mendalam pada suaminya.  Karena ayah Gyeum percaya kalau dirinya melakukan hal yang paling berharga dan tugas yang paling bernilai lebih dari daripada orang lain di dunia ini. Wajah Gyeum tampak mulai menunjukkan perasaan melunak. Dahee juga yakin kalau hal yang sama juga terjadi pada ayah Gyeum pada saat pengungsian yang lalu. Jadi Dahee meminta Gyeum agar menghilangkan semua kekecewaannya pada ayahnya. Gyeum merenungkan kisah yang diceritakan oleh ibunya mengenai ayahnya.

Di Tenda Medis, Hur June dan para dokter yang lain serta para perawat bekerja tanpa kenal lelah merawat para prajurit yang terluka dengan sepenuh hati mereka.

Gyeum datang dan mengawasi dari kejauhan, ayahnya yang sedang bekerja merawat para prajurit. Mengingat perkataan ibunya, kalau sejak hari itu, tidak peduli betapapun sulitnya keadaan, ia memiliki penghormatan yang mendalam pada suaminya.  Karena ayah Gyeum percaya kalau dirinya melakukan hal yang paling berharga dan tugas yang paling bernilai lebih dari daripada orang lain di dunia ini. Gyeum mulai luluh hatinya … ia kemudian pergi …

Bae Chunsoo menemui Hur June dan mengatakan kalau Hur June mengalami malam yang berat, kemudian memberitahunya kalau mata-mata yang mereka kirimkan untuk menyelidiki gerakan dari pasukan Jepang kembali ke Istana dengan menggendong seseorang. Sebelum tak sadarkan diri, orang itu mengatakan kalau ia adalah dokter Istana. Dia terluka serius dan sedang dalam perjalanan ke tempat Hur June, jadi Bae meminta dr. Hur agar merawat orang itu. Bae kemudian pergi berpatroli bersama beberapa anakbuahnya. Hur June bertanya-tanya dalam hatinya siapa gerangan orang yang dimaksudkan oleh Bae itu. Hur June kemudian melihat dua orang prajurit, seorang menggendong orang terluka dan seorang membawa obor. Hur June menghampiri mereka dan ingin melihat wajah orang itu.

Hur June kemudian mengangkat kepala orang itu dan terkejut melihat wajahnya, ternyata orang itu …  Sanghwa …. Hur June segera berseru memanggil Sanghwa. Ye Jin mendengar suara Hur June dan menoleh, heran ada apa…

Pagi menjelang, Doji masih melakukan pengobatan akupungtur pada Pangeran Shin Sung. Sehee dan rekannya menemani Doji. Doji kemudian memanggil-manggil Pangeran, wajah Pangeran Shin Sung terlihat dipenuhi keringat. Doji kemudian bertanya dengan gelisah di mana ramuannya pada Sehee, yang menjawab masih dipersiapkan. Doji tidak bisa menunggu lagi, ia segera keluar kamar dan menuju ke tempat merebus obat.

Doji menemukan dr. Chung sedang mempersiapkan ramuan obat di nampan. Doji segera mengambil nampan itu dan membawanya sendiri, dr. Chung heran dengan sikap Doji yang sangat terburu-buru.

Di kamar pangeran Shin Sung, Sehee sedang mengusap keringat di wajah Pangeran Shin Sung dan terkejut ketika melihat Pangeran Shin Sung tiba-tiba tubuhnya bergetar dengan keras, matanya membalik sehingga kelihatan putihnya. Sehee sangat bingung dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Sehee memanggil-manggil pangeran. Doji masuk dan terkejut melihat keadaan Pangeran Shin Sung, ia segera menyerahkan nampan ke perawat lain dan menghampiri Shin Sung, bertanya pada Sehee sejak kapan gejala ini. Sehee menjawab kalau baru saja. Doji memeriksa nadinya dan terkejut, ia memanggil-manggil Pangeran. Doji sangat gelisah dan gugup, ia mengambil kotak jarumnya dan mau mengambil sebuah jarum, tapi karena saking gugupnya, Doji menjatuhkan kotak dan semua jarum segera berserakan di lantai kamar. Doji berusaha mengambil jarum-jarum itu, tapi karena ia gugup dan jarum-jarum itu tipis membuat Doji mengalami kesulitan untuk mengambil kembali jarum-jarum itu. Saat Doji sedang sibuk mengumpulkan jarum, Sehee mengawasi pangeran yang tiba-tiba saja berhenti bergetar dan kepalanya terkulai. Sehee pasrah … Doji masih memunguti jarum dan tidak tahu kejadian ini ….

Raja dan para menteri sedang mengadakan rapat. Menteri Jung meminta Raja untuk membuat keputusan, untuk sekarang ia mengusulkan agar Raja mengungsi ke wilayah Ming dan meyelamatkan diri. Menjaga keselamatan Raja itu juga adalah salah satu cara untuk menyelamatkan negara. Raja memberitahu mereka kalau ia sudah mengirimkan utusan untuk meminta pasukan bantuan dan menganjurkan mereka semua untuk menunggu sebenter sambil menantikan jawaban dari Ming. Tiba-tiba Kepala Dayang Istana masuk dan memberitahu kalau Pangeran Shin Sung tiba-tiba sakitnya menjadi parah. Raja terperanjat….

Doji melakukan akupungtur pada Pangeran Shin Sung dengan wajah penuh keringat, kemudian ia memeriksa nadi Pangeran, tapi ia terkejut karena tak dapat merasakan denyutnya. Doji terduduk shock berat.

Raja bersama Inbin berlari mendatangi kamar Pangeran Shin Sung, di depan kamar terlihat dayang-dayang sudah menangis. Raja dan Inbin terkejut. Raja dan Inbin segera masuk karena cemas dengan anaknya.

Raja dan Inbin masuk ke dalam kamar, Doji dan para perawat lainnya bangkit berdiri dan menghormat. Raja dan Inbin masih berdiri dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada anak mereka dan bertanya apa yang terjadi pada Shin Sung. Doji ketakutan dan tidak dapat menjawab. Raja membentak sekali lagi apa yang terjadi pada Pangeran Shin Sung. Doji dengan gugup dan takut-takut menjawab kalau Pangeran Shin Sung telah meninggal. Raja dan Inbin terperanjat.

Raja terduduk shock berat, Inbin tidak dapat mempercayai itu dan segera menghampiri anaknya, bertanya bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Ia menggoncang-goncangkan tubuh Pangeran Shin Sung berusaha membangunkan anaknya. Inbin dengan suara keras memerintahkan Doji untuk memeriksa nadi anaknya lagi. Doji perlahan-lahan berlutut, pasrah, dan memohon agar Raja menghukum mati dirinya. Inbin menangis, dan bertanya mengapa anaknya begitu tega meninggalkan dirinya sendirian. Inbin berulangkali meminta agar Shin Sung membuka matanya. Inbin tidak rela anaknya meninggalkan dirinya dengan begitu saja dan terus mengguncang-guncang tubuh Pangeran Shin Sung. Raja menangisi tanpa suara kematian dari Pangeran kesayangannya, Raja kemudian menghampiri tubuh anaknya dan membelai wajah Pangeran Shin Sung. Inbin dengan menangis berulangkali menyuruh anaknya bangun. Doji memohon agar Raja memberikan perintah untuk menghukum mati dirinya. Raja dan Inbin tampak sangat gusar kepada Doji, mereka berdua menatap Doji dengan pandangan “membunuh” …..

Istana Pyeongyang, Hur June ditemani oleh Ye Jin merawat Sanghwa yang tidak sadarkan diri di suatu kamar. Tampak Sanghwa menderita luka berat di tubuhnya, wajahnya juga terluka dibeberapa tempat. Hur June memijat-mijat lengan Sanghwa. Sanghwa mulai menggerak-gerakkan tubunhya, Ye Jin dan Hur June menanti Sanghwa sampai sadar. Sanghwa kemudian membuka kedua matanya dan mengawasi ke sekelilingnya. Hur June bertanya apakah Sanghwa tahu ada di mana dirinya sekarang. Sanghwa mengenali Hur June dan memanggilnya, ia berusaha duduk, Hur June berusaha menahannya dan menyuruh berbaring, tapi Sanghwa tetap mau duduk. Ye Jin memberinya ramuan dan menyuruh Sanghwa untuk meminumnya. Sanghwa mengambilnya dan langsung meneguk ramuan itu.

Setelah melihat Sanghwa meminum obatnya, Hur June bertanya apa yang terjadi pada diri Sanghwa. Sanghwa menjawab kalau yang ia ingat hanya ia tertembak dan jatuh. Ketika ia bangun, ia mendapati dirinya terbaring di dermaga dan sendirian. Kemudian ia sadar kalau peluru itu hanya menyerempet lehernya. Sejak itu, ia hanya bertekad untuk mencapai Istana Pyeongyang. Hur Jun memuji keberaniannya. Ye Jin memberitahu Sanghwa kalau pengorbanannya itu telah menyelamatkan mereka semua tapi sebaliknya hati mereka semua berduka karena Sanghwa. Sanghwa menatap pada Hur June kemudian menunduk dan menyahut kalau semuanya itu tidak ada yang bisa dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh Hur June saat menyelamatkan dirinya saat ada di Kuil Samjeuk. Tiba-tiba terdengar suara memanggil, Lee Myung Won datang dan memberitahu kalau pasukan Jepang datang menyerang lagi. Hur June terkejut.

Pasukan Jepang menyerang lagi dengan pasukan yang lebih besar. Masih sama dengan pertempuran pertama, para prajurit Jepang pantang mundur maju terus tidak mempedulikan apapun juga, bahkan tidak takut walaupun peluru meriam berhamburan di sekitar mereka. Pasukan Jepang terus mendesak maju walaupun banyak berjatuhan korban di pihak mereka.

Para dokter dan perawat di Tenda Medis kembali harus berjibaku dengan desingan peluru di sekitar mereka, sesekali mereka menunduk saat terdengar desingan peluru. Tampaknya kali ini pasukan Jepang lebih siap, para penembak mereka sudah mencari tempat tinggi dekat dengan tembok Benteng dan menembaki para pemanah dan penembak serta pasukan sukarela yang membantu menjatuhkan batu. Banyak dari antara prajurit Joseon menjadi korban. Para pemanah Joseon tidak mau kalah, mereka memanahi orang-orang Jepang di bawah tembok dan panah-panah itu banyak memakan korban dari pihak Jepang.

Rakyat Pyeongyang membantu membawakan batu-batu, termasuk Dahee, Ilsuh, dan Yangtae.

Para prajurit yang terluka terus mengalir berdatangan di Tenda Medis, para dokter dan perawat sangat kerepotan, tapi mereka melakukan sebisanya yang dapat mereka lakukan untuk merawat para prajurit yang terluka itu. Ohgn membantu membawa usungan untuk mengusung prajurit yang tidak dapat berdiri lagi.

Yangtae dan Ilsuh sangat bersemangat dalam melemparkan batu-batu ke arah para prajurit Jepang. Hujan batu berjatuhan menimpa para prajurit Jepang dan memakan banyak korban, tapi prajurit Jepang berhasil menegakkan tangga dan berusaha untuk naik ke atas tembok. Gyeum berusaha menjatuhkan batu, tapi tertembak di tangannya. Gyeum berteriak kesakitan dan terjatuh di sisi dalam, memegangi tangannya yang tertembak. Ilsuh dan Yangtae yang ada didekatnya mengetahui peristiwa itu menjadi terkejut dan segera membawanya menuju ke Tenda Medis. Unyun melihat Gyeum digendong oleh Yangtae terkejut dan segera menyusul mereka.

Yangtae dan yang lainnya segera menemui Hur June dan memberitahunya kalau Gyeum tertembak, Hur June terkejut dan segera menyuruh Yangtae membaringkannya. Hur June segera membuka baju Gyeum dan memeriksa luka tembaknya, terkejut melihat darah mengalir deras dari luka Gyeum. Unyun menangis melihat Gyeum terluka. Yangtae dan Ilsuh juga cemas.

Hur June membebat luka Gyeum, Gyeum sendiri meringis menahan sakit. Seorang prajurit menemui Hur June dan memberitahunya kalau Pangeran Mahkota ingin bertemu dengannya. Hur June heran …

Pangeran Mahkota Gwanghae dan Puteri Ryu serta dr. Yang menunggu kedatangan Hur June, wajah mereka menunjukkan rasa duka. Terdengar suara orang memberitahukan kedatangan Hur June, Gwanghae segera mempersilahkannya masuk. Hur June masuk dan memberi hormat pada mereka semua. Gwanghwa menyuruhnya duduk, tapi Hur June menjawab kalau ia berdiri saja. Gwanghae kemudian tampak menghela napas sedih. Hur June heran dan tidak mengerti, ia melirik pada dr. Yang, tapi wajah dr. Yang juga sedih. Hur June merasa ada yang tidak beres dan bertanya pada Pangeran apa ada sesuatu yang buruk terjadi. Dengan berat hati Pangeran Gwanghae memberitahu Hur June kalau ia baru saja menerima kabar Pangeran Shin Sung meninggal. Hur June terkejut. Pangeran Gwanghae meminta Hur June untuk pergi ke Weeju segera. Hur June lebih terkejut lagi. Pangeran Gwanghae mendengar kalau ayahnya sekarang sudah tidak dapat bangun. Hur June terperanjat. Dr. Yang meminta Hur June segera mengemasi barangnya dan pergi. Hur June mengiyakannya.

Perang sudah mereda, Hur June berjalan dengan langkah perlahan, ragu-ragu untuk melakukan perintah Pangeran karena mengingat perkataan anaknya sebelum ini. Saat itu Gyeum bertanya pada dirinya apakah keluarga tidak berarti baginya, bagaimana bisa tidak mempedulikan mereka. Gyeum merasa kalau Hur June sedikit sekali perhatiannya pada keluarga. Yang ada di pikirannya hanya kerja, kerja, dan kerja.… Tidakkah ayahnya menyadari betapa nenek dan ibunya menderita.

Hur June berjalan dengan perasaan bimbang dan serba salah. Di satu sisi ia adalah dokter Raja tapi di sisi lain ia adalah seorang ayah. Perasaannya bercampur aduk.

Dahee dan ibu mertuanya mendengar kabar kalau Gyeum tertembak dan segera menengoknya di Tenda Medis. Nyonya Son dan Dahee sangat sedih. Hur June datang dan duduk di samping istrinya. Dahee bertanya apa yang akan terjadi pada anak mereka. Hur June menenankan istrinya dan memberitahu kalau lukanya sudah diobati dan tidak terlalu parah, jadi mereka tidak usah cemas. Hur June kemudian mengutarakan isi hatinya, ia takut kalau dirinya tidak bisa memenuhi harapan Gyeum pada dirinya untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang ayah. Gyeum terkejut tidak mengerti. Hur June memberitahu kalau ia akan pergi ke Weeju sekarang. Gyeum tampak berpikir. Nyonya Son tidak mengerti apa maksud perkataan June, kemana ia akan pergi saat anaknya terluka seperti ini. Hur Jun tidak menjawab. Nyonya Son mendesaknya. Hur June akhirnya memberitahu mereka kalau Yang Mulia di Weeju sedang sakit parah, jadi sudah menjadi tugasnya kalau ia harus ke sana dan merawat kesehatan dari Yang Mulia. Nyonya Son bertanya kalau begitu apa yang harus mereka lakukan untuk merawat Gyeum. Dahee juga menangis mencemaskan anaknya. Hur June tampak bingung.  Gyeum melihat kebingungan di wajah ayahnya dan akhirnya memutuskan, ia meminta ayahnya untuk pergi dan tidak usah mencemaskan dirinya, Hur June tidak menyangkanya. Gyeum mengatakan, ia percaya kalau ayahnya melakukan hal yang paling berharga dan tugas yang paling bernilai lebih dari orang lain di dunia ini. Gyem memintanya pergi dan menjaga kesehatan Yang Mulia. Dahee tersenyum lega dan terharu. Hur June juga menjadi terharu dan sangat lega karena anaknya akhirnya mengerti semua tindakannya itu. Gyeum berjanji kalau ia tidak akan memendam rasa benci lagi pada ayahnya. Ia meminta ayahnya untuk berangkat dan tidak usah mencemaskan dirinya. Hur June sangat senang sekali, ia menggenggam tangan anaknya, merasa berterimakasih atas pengertian yang diberikan oleh Gyeum.

Malam hari, Kim Mangyung dan Lee Myung Won menanti di gerbang samping Benteng Istana Pyeongyang. Hur June, ditemani oleh Ye Jin, dan Ohgun mendekati pintu gerbang samping. Hongchun mengikuti suaminya sambil menggendong Junghwa.. Komandan di pintu gerbang memberitahu Hur June sekalian kalau tidak mudah untuk menerobos keluar Istana karena para prajurit Jepang mengepung Istana dengan banyak penjagaan, jadi ia memerintahkan beberapa prajurit untuk mengawal rombongan Hur June, Hur June sedikit lega. Lee memberitahu Hur June agar tidak usah khawatir mengenai anaknya karena mereka berdua akan merawatnya dengan baik. Hur June menghargai perhatian mereka. Kepala prajurit yang ditugaskan mengawal Hur June segera mengajak untuk berangkat. Hur June mengiyakan dan segera mengikuti prajurit itu, disusul oleh Ye Jin. Ohgun dengan berat hati berpamitan pada Hongchun dan anaknya. Hongchun mengawasi kepergianmereka dengan cemas.

Mereka berhasil keluar dari pintu gerbang samping dan segera keluar menerobos rerimbunan pepohonan, melewati jalan setapak yang menembus hutan. Mereka terus berjalan dengan waspada selama beberapa jam sebelum kemudian kepala pengawal memberi tanda agar mereka semua pergi menyembunyikan diri. Tak berapa lama patroli Jepang muncul dan melakukan penyisiran. Pasukan Jepang itu membagi dua kelompok, yang satu ke arah lain dan yang satu tepat menuju ke tempat Hur June sekalian bersembunyi. Kepala pengawal dan para prajurit lainnya sudah bersiap dengan pedang di tangan mereka, mereka segera berhamburan keluar menyerang patroli Jepang itu, yang tidak menyangka ada serangan, sehingga segera saja terbabat habis. Hur June dan yang lain segera melarikan diri ke arah lain. Benar saja, kelompok lain yang memecah diri tadi segera menghampiri tempat mereka tadi dan melihat mereka yang melarikan diri. Prajurit-prajurit Jepang itu segera menyusul Hur June sekalian.

Hur June dan yang lainnya berlari cepat, terdengar suara tembakan beberapa kali, Hur June berteriak kesakitan, tapi tetap melanjutkan larinya. Kepala Pengawal mengajak mereka untuk bersembunyi ke semak-semak, terdengar beberapa kali tembakan tapi meleset semua. Hur June dan yang lainnya berhasil menyembunyikan diri. Mereka mengawasi ke arah yang mereka lalui tadi, tak berapa lama kemudian tampak para prajurit Jepang sedang mencari mereka. Dan kemudian lebih banyak lagi prajurit Jepang datang bergabung. Hur June dan yang lainnya sangat cemas. Para prajurit Jepang itu membagi menjadi beberapa kelompok dan mencari mereka.

Kepala pengawal bertanya bagaimana dengan keadaan Hur June, yang menjawab kalau itu luka kecil. Kepala pengawal berkesimpulan kalau mereka sulit untuk meloloskan diri dari kejaran para prajurit Jepang jika mereka jadi satu, jadi ia memutuskan kalau ia dan rekan-rekannya akan menghadapi para prajurit Jepang sedangkan Hur June, Ye Jin, dan Ohgun melanjutkan perjalanannya menuju ke Weeju. Ia memberi petunjuk kalau Hur June mengikuti terus jalanan setapak ini maka ia akan menemukan jalan yang lebar dan teus mengikuti jalan lebar itu maka Hur June akan sampai di Weeju, ia meminta Hur June untuk bergegas. Hur June menelan ludah sedikit gugup kemudian menganggukkan kepalanya. Hur June mulai beringsut meninggalkan tempat persembunyiannya diikuti oleh Ohgun dan Ye Jin.

Mereka bertiga belum berjalan beberapa jauh ketika mendengar suara tembakan dibalas tembakan. Hur June dan yang lainnya terkejut, menundukkan diri, kemudian suasana menjadi hening. Hur June tidak tahu apa yang terjadi, tapi kelihatannya para prajurit Joseon yang mengawal mereka tadi berhasil mengalihkan perhatian dari prajurit Jepang. Hur June bergerak maju dengan perasaan waswas diikuti oleh Ye Jin dan Ohgun.

Pagi hari menjelang, Hur June, Ye Jin, dan Ohgun berhasil melewati hadangan dari pasukan Jepang. Mereka terus berjalan menuju ke Weeju.

Beberapa hari telah berlalu dan ketiganya berhasil sampai di Weeju dengan selamat tak kurang suatu apapun hanya merasa kelelahan. Hur June, Ye Jin, dan Ohgun diantarkan seorang prajurit masuk ke Istana Weeju. Hur June memandang ke sekeliling, Ye Jin tersenyum lega, Ohgun juga tampak senang.

Hur June memeriksa nadi Raja yang terbaring sakit dan tampak sangat lemah. Raja membuka matanya, Hur June merasa serba salah, tapi Raja hanya bertanya apakah ia bisa hidup dan sehat lagi. Hur June berjanji kalau ia dengan segenap hatinya akan memusatkan perhatian untuk menyembuhkan penyakit Raja dan menjamin kalau Raja pasti bisa memulihkan kembali kondisi kesehatannya. Hur June meminta Raja mempercayainya.

Para perjabat menunggu Hur June, yang kemudian masuk ke dalam ruangan pertemuan. Menteri Jung bertanya bagaimana keadaan raja. Hur June dengan apa adanya mengatakan kalau Raja sangat lemah. Menteri Jung meminta Hur June untuk menjelaskan lebih terperinci. Hur June memberitahu mereka kalau Raja menderita sakit karena disebabkan oleh rasa cemas dan amarah, juga perjalanan yang panjang telah membuat kondisinya semakin memburuk, dan sekarang Pangeran Shin Sung mendadak meninggal jadi penyakitnya menyerang dengan tiba-tiba. Semua menteri menjadi gelisah. Menteri Jung bertanya apakah ada cara untuk menyembuhkannya. Hur June hanya menjawab kalau ia akan melakukan yang terbaik.

Hur June memanggil dr. Chung di kamarnya, Ye Jin dan Ohgun juga hadir di sana. Hur June menjelaskan pada mereka bertiga kalau tubuh yang lemah karena lemahnya energi Yang sebagai akibat melemahnya jiwa seseorang, dan melemahnya energi Yin diakibatkan oleh melemahnya aliran darah. Tiap-tiap gejala ini sangat mudah untuk disembuhkan, tapi jika kedua-duanya terjadi bersamaan … itu sangat berbahaya. Ye Jin bertanya kalau begitu Yang Mulia …. Hur June menyambungnya, menunjukkan gejala dari keduanya bersamaan. Semua orang terkejut. Hur June melanjutkan, energi jiwa di hati dan hidung yang terutama melemah, dan itu menyebabkan seseorang sangat sensitif terhadap akupungtur. (Artinya tidak boleh dilakukan akupungtur jika kondisinya seperti itu). Hur June memutuskan agar pertama, mereka harus mengisi lagi energi yin dan yang Raja yang melemah dengan Chun Wang Bo Sim Dan dan Gwibitang.  Hur June memberitahu Ye Jin dan Ohgun kalau ia membutuhkan Chun Wang Bo Sim Dan sekarang dan meminta mereka berdua untuk menyiapkan ramuan itu. Keduanya mengiyakan dan segera beranjak pergi. Dr. Chung juga mau pergi untuk memeriksa bagian ramuan, tapi Hur June menahannya dan bertanya apa yang terjadi pada dr. Yoo. Dr. Chung menghela napas sedih dan masygul, memberitahunya kalau dr. Yoo dikurung di penjara. Hur Jun terkejut. Dr. Chung memberitahu kalau dr. Yoo lah yang membuat Pangeran Shin Sung sampai meninggal, bahkan jika dr. Yoo diampuni pun, posisinya di Istana sudah hilang.  Hur June tampak sedih dan terpukul mendengar berita ini.

Doji di penjara sedang termenung. Hur June datang ke penjara dan menemui Yoo Doji Doji melihat kedatangan Hur June, memalingkan wajahnya, kalah dan malu, kemudian memintanya pergi karena Hur June sudah melihat penderitaannya sekarang. Hur June tidak mengucapkan apapun dan segera pergi.

Di luar penjara, Hur June tampak merenung. Ohgun dan Ye Jin menemuinya dan memberitahunya kalau ada masalah, bahan-bahan obat herbal tersisa tidak banyak untuk membuatkan ramuan bagi Raja. Hur June terkejut.

Hur June mendatangi tempat penyimpanan bahan obat dan memeriksanya, benar seperti yang dikatakan oleh Ohgun dan Ye Jin, bahan obat herbalnya sangat sedikit dan tidak akan cukup untuk membuat ramuan. Hur June kemudian bertanya pada Ye Jin bagaimana dengan bahan obat herbal yang mereka bawa dari Istana Pyeongyang. Ye Jin menjawab kalau hanya sedikit yang tersisa untuk membuat ramuan Chun Wang Bo Sin Dan dan tidak tersisa untuk Gwibitang. Ohgun menimpali kalau bahan obat herbal ini sangat sulit untuk didapatkan pada waktu seperti ini. Hur June bingung kemudian bertanya berapa banyak yang tersisa untuk membuatkan Chun Wang Bo Sin Dan. Ye Jin menjawab cukup untuk tiga hari. Hur June memutuskan untuk membuat ramuan itu dulu untuk sekarang. Ia akan mencoba mencari cara untuk mendapatkan bahan-bahan obat yang lain.

Hur June dan Ohgun turun tangan sendiri mencari bahan-bahan obat di gunung.

Hur June menyempatkan diri membaca buku-buku mengenai tanaman obat dan mencocokkannya dengan tanaman yang ia telah kumpulkan. Tapi ternyata tidak ada yang cocok dengan efek yang Hur June inginkan.

Beberapa hari telah berlalu, Ye Jin menemui Hur June sambil mmbawa ramuan. Hur June bertanya apakah itu ramuan yang terakhir. Ye Jin mengiyakannya. Hur June tampak sangat bingung.

Hur June menyuapi Raja dengan ramuan. Inbin tampak sangat cemas dengan kondisi Raja.

Ye Jin sedang termangu-mangu memandang kotak persediaan obat yang banyak kosongnya dari pada tidak. Ohgun datang bersama seorang staf medis membawa buntalan. Ye Jin tampak berharap, bertanya apakah Ohgun mendapatkan bahan-bahan obatnya, Ohgun menjawab bukan yang sangat mereka perlukan sekarang. Ye Jin tampak kecewa. Staf medis bertanya kemana ia harus menaruh barang-barang itu semua. Ohgun menyerahkan buntalannya dan menyuruhnya untuk meletakkan di halaman belakang. Ye Jin heran dan bertanya apa itu. Ohgun menjawab kalau itu adalah arang. Ye Jin heran. Ohgun memberitahunya kalau ia menemukan gubuk pembuat arang di gunung, jadi ia meminta beberapa pada mereka kalau-kalau nanti ia dapat menggunakannya sebagai bahan ramuan. Ye Jin berpikir sebentar kemudian dengan girang bertanya di mana gubuk itu berada.

Ohgun membawa Ye Jin ke gubuk pembuat arang yang ada di gunung.

Hur June sangat masygul karena bahan-bahan obatnya sudah habis dan ia tidak dapat membuat ramuan, yang berarti Raja dalam kondisi yang berbahaya. Tiba-tiba Ohgun dan Ye Jin datang berlari menghampiri mereka. Ohgun memberitahu kalau Ye Jin berhasil mendapatkan bahan obat untuk Yang Mulia. Hur June heran dan menatap Ye Jin. Ye Jin mengangsurkan guci yang ia bawa dan mengatakan kalau ia telah membawakan cuka kayu. Hur June terkejut dan bertanya dari mana Ye Jin mendapatkannya. Ye Jin tersenyum senang melihat Hur June yang begitu terkejut. Ohgun menjawab kalau ia yang menemukan kalau ada gubuk pembuat arang di dekat sini, dan Ye Jin pergi dan mendapatkan cairan itu. Dr. Chung tidak mengerti dan bertanya apa aitu cuka kayu. Hur June menjawab kalau itu adalah cairan yang terbentuk dari asap pembakaran kayu oak menjadi arang. Dr. Chung bertanya apakah itu juga termasuk obat-obatan. Hur June menjelaskan kalau digunakan langsung, itu beracun, tapi jika dimurnikan maka ketika diminum akan memulihkan energi jiwa dan membantu peredaran darah supaya lancar. Dr. Chung tersenyum senang. Ye Jin menimpali, menurut buku medis dari dinasti Ming, cairan dari bambu juga bisa digunakan. Hur June bertanya apakah racunnya sudah dihilangkan. Ye Jin mengiyakannya, orang-orang di gubuk itu sudah menggunakannya.  Hur June sangat senang sekali dan mengatakan kalau ini akan membantu memulihkan energi jiwa dari Yang Mulia. Ye Jin tersenyum mengiyakannya.

Hur June menyuapi Raja sesendok demi sesendok ramuan obat yang dicampuri dengan cuka kayu.

Hur June menemui para pejabat. PM Sung mendengar kalau kondisi Raja sudah lebih baik. Hur June mengiyakannya dan mengatakan kalau ia akan melanjutkan dengan akupungtur. Semua pejabat sangat lega dan senang mendengar berita ini. PM Sung bertanya kapan pengobatan akupungtur akan dilakukan. Hur June menjawab esok pagi-pagi sekali. PM Sung mengatakan kalau hidup Yang Mulia dan keberlangsungan kerajaan ada di tangan Hur June dan memintanya untuk melakukan yang terbaik. Hur June mengiyakannya. Tapi Hur June meminta agar dr. Yoo yang dipenjara yang melakukan akupungtur

Inbin terkejut dan bertanya lagi apa yang barusan dikatakan oleh Hur June. Kim Gongryang juga tidak menyangka. Hur June menjelaskan, mungkin hal itu terdengar tidak masuk akal, tapi ia telah tertembak di lengan kanannya saat dalam perjalanan ke Weeju oleh prajurit Jepang. Karena itu mustahil baginya untuk melakukan akupungtur dengan tangannya yang terluka itu. Hur June memohon agar mengijinkan dr. Yoo melakukan akupungtur mewakili dirinya. Inbin sangat shock dan menyebut Hur June sangat konyol. Kim Gongryang menyahut kalau dr. Yoo telah membiarkan Pangeran Shin Sung mati dengan sia-sia. Bagaimana mereka bisa membiarkannya merawat kesehatan Yang Mulia Raja. Hur June menyahut kalau ia tidak akan menyangkal kesalahan fatal yang telah dr. Yoo lakukan sebelumnya, tapi sebenarnya dr. Yoo adalah pejabat yang sangat kompeten, dan satu-satunya orang yang dapat menyembuhkan Yang Mulia dengan akupungtur hanya dr. Yoo. Hur June memohon agar Inbin Mama mempertimbangkan usulnya ini. Inbin sangat kesal dengan Hur June tapi mengerti kalau perkatan Hur June adalah benar, yang bisa menandingi Hur June dalam akupungtur hanya dua orang, yakni dr. Yang dan dr. Yoo, tapi karena dr. Yang ada di Istana Pyeongyang maka satu-satunya harapan hanya pada dr. Yoo yang dipenjara.

Ohgun terkejut dan mendengar kalau dr. Yoo akan dipilih untuk melakukan pengobatan akupungtur pada Yang Mulia Raja, apakah itu benar. Ye Jin membenarkannya. Dr. Hur tidak dapat melakukannya karena tangannya terluka. Ohgun heran dan mengatakan kalau lukanya tidak dalam, sungguh aneh. Dr. Chung mendengarkan percakapan keduanya dan tahu tujuan tersembunyi dari dr. Hur.

Dr. Chung masuk ke dalam penjara dan menemui Doji dalam selnya, memberitahu kalau ia rasa Doji akan melakukan pengobatan akupungtur pada Yang Mulia. Doji heran dan tidak mengerti. Dr. Chung memberitahunya  kalau dr. Hur memberikan kesempatan ini pada Doji untuk menyelamatkan dirinya. Doji terkejut.

Doji, masih diikat, digiring oleh dua penjaga menemui Hur June, yang kemudian memerintahkan mereka untuk melepaskan tali yang mengikat Doji dan kembali ke tempat semula. Mereka melepaskan ikatan itu dan pergi. Hur June mengajak Doji pergi mengikutinya. Doji tidak mengerti maksud Hur June dan bertanya untuk apa Hur June memberikan dirinya kesempatan ini. Hur June yang sudah membalikkan badan kembali memutar dan menatapnya dengan tajam, memberitahunya supaya tidak berpikiran macam-macam atas tindakan dirinya itu, bahkan menegaskan kalau satu-satunya orang yang dapat melakukan akupungtur pada Yang Mulia saat ini adalah Doji sendiri. Doji menatapnya dengan pandangan tak percaya, tidak menyangka kalau Hur June akan melakukan ini demi dirinya … Hur June mengajaknya lagi. Doji merasa malu .. tapi kemudian mengikuti Hur June.

Doji memeriksa nadi Raja diawasi oleh Hur June. Raja tampak sudah lebih baikan tapi masih lemah. Ye Jin memandangi Doji. Doji sendiri pikirannya masih berkecamuk. Hur June mengambil kotak jarum dan mengangsurkannya kepada Doji, katanya “Lakukanlah akupungtur” Doji sedikit ragu-ragu, tapi kemudian ia mengambil kotak jarum itu, membukanya dan memilih sebatang jarum. Doji memandangi jarum itu kemudian memandang Raja. Hur June mengawasi Doji kemudian pada Raja, hatinya berdebar kencang, satu pertaruhan yang besar …..

54 comments on “Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 59

  1. Luar biasa …… Sang Hwa memang patut dibanggakan. Dalam kondisi terluka serius masih punya naluri untuk berkumpul dengan teman seperjuangannya untuk menyingkirkan Jepang dari tanah airnya. Artinya dalam kondisi apapun … kita tidak boleh putus asa dan menyerah untuk mencapai tujuan. Benar Koh Andy ……..?
    Penasaran banget …… sinopsisnya masih setengah setengah … tidak Full. Ou….! …….

    • Saya yakin masih banyak kisah heroik Korea lainnya dalam abad 16 tersebut. Bukankah semenanjung Korea ini sedang gencar-gencarnya di invasi Jepang untuk maksud menggali, mengambil dan memanfaatkan umber daya Korea tersebut ? ( … rumput tetangga lebih cantik …. ), namun itu tidak berhasil mulus karena bantuan militer China. Nanti abad 19 ( tahun 1910 ), maksud tersebut berhasil. Kekayaan korea dikuras ke Jepang. Beberapa puluh tahun kemudian … Indonesia yang kita cintai dan kita tempati ini, pernah mendapat perlakuan yang sama (didahului oleh Belanda).

  2. Ahhhhhhhhhhh kang andy bikin qt penasaran, syukurin si doji ga ada temennya yg ngebantu, kalo dipikir2 dia itu ga pinter ya?!? Masa ini ga bisa itu ga bisa????

    • Ini masih tentang Do Ji yang kelabakan mengobati Pangeran Shin Shung. Do Ji tidak tahu harus berbuat apa …… karena tidak ada teman berdiskusi (merasa pintar sendiri) merasa apa yang dilakukan adalah yang paling benar ( merasa orang lain hanya dapat diperalat ) ….. karena dia type Pemimpin TMTA (tiba masa tiba akal) saat ini mati kutu ….. takut berbuat salah dan takut dihukum kalau ada kesalahan ….. dan tidak ada sandaran buku medis yang menurut Do Ji tidak perlu diangkut dari Istana/Hyemin.

      Do Ji …. ! emangnya otak lu otak kompi ! Processor iCore7 ?! ( Kompi istilah Koh Andy untuk Laptop), Mati Lu ! Lu sendiri yang perintah bawa barang seadanya khan? Apa Lu pengen ke Istana Pyeongyan cari buku medis ? Awas lho …. Ketangkep Serdadu Jepang ! Tamat Lu …….. ! Atau keluar aja kelapangan luas…. Teriak sekencang kencangnya …. Biar pesan mu didengar Hur June yang saat ini mempertahankan Istana bersama Pangeran !

      Duh maaf ya… Yoo Do Ji ….. saya emosi terhadap perilakumu yang tidak bersahabat …….. ! Iya khan Mas Budi ?

  3. bolak balik ngecek postingannya… beluuuuummmm :((
    Iya, Budi..aneh ya..pdhl harusnya kn dia dokter yg bagus jg,,walaupun mgkn ga excellent…

  4. Tetep semangat dan senantiasa sehat buat koh Andy, ….kalo hur joon selesai,…itu the merchant jg bagus,….tokoh2 nya banyak y maen di hur joon,….sinopsisnya dong,…hehehe….salam sehat selalu,..

    • heuiehuehu thks, tapi Sangdo, The Merchant udah pernah ditayangin di LBS, jadi ga kubuatin dulu, baru kalo ada waktu luang … lagipula bosen dikejar-kejar TV … awahahahaha….. aku pengin rada santai dikit … abis Huh Joon tamat aku mau buat Huh Joon yang dari episode 1-19, 22,23,35 … abis itu baru buat Yi San …. mungkin 1/2 bulan ke depan ini kalian justru bosen buka tutup blogku deh, ga bakal ada yang baru … wkkwkwkw😀

      • Stagnan …… aku punya usul ……..kita jadikan blog Koh Andy,
        ajang ketemu blogger untuk hal yang bermanfaat. Kita tidak
        terikat waktu. Topiknya terserah Koh Andy ………………………
        Kalau setuju dan ada yang mendukung, Koh Andy yang nyusun
        jadwalnya.

  5. Hur June yang berjiwa besar ternyata seorang pemaaf ….. manusia langka untuk kita dapatkan pada kondisi kehidupan saat ini ……. Apakah ini balas budi atas jasa Dr Yoo Wee Tae membesarkan dirinya? Fantastis ….. perilaku ini pula dipakai untuk mengobati Ibu Do Ji yang menghina bahkan mengusir Dr Hur yang hendak mengobati dirinya ( kala Doji ber tugas ke Negara Ming beberapa waktu lalu ) bahkan merendahkan dirinya didepan Ny Oh dengan menyembah agar Ny Oh dapat diobati olehnya (saat itu dokter dokter terkenal di Hanyang pada angkat tangan tidak sanggup mengobati ).
    Ternyata Do Ji juga punya perasaan malu ya? …….. Mudah-mudahan rasa malu Do Ji menjadi penyembuh sifat serakahnya. Bayangkan … hukuman mati menanti. Hidup yang sia-sia … mati yang tidak bermakna !
    Mudah-mudahkan ada ampunan Raja untuk Do Ji. Kalau tidak Sukjoong menjadi janda beranak satu. …… Bagaimana Koh Andy ? ……..

  6. Akhirnya…..luluh juga keangkuhan yoo doji,,,,itulah baiknya joon disakiti bgmn pun juga tetap pemaaf dan baik hati, joon…..ilmunya memang bagus, kalo skr pasti udah jd dokter spesialis segala…..

  7. Aduh…gmn dong para fans eps tinggal 5 lg tp cerita lg seru2 nya, emang keterlaluan tuh sutradara dramanya di ending… Pdhal sinetron indonesia yg NGGAK BERMUTU bisa ratusan eps….

    • Soalnya pemirsa kita …… masih banyak yang mau dibodohi ….. banyak cerita yang tidak masuk akal. …… tidak mendidik. Sadisme yang terselubung. Pernah lihat sinet ‘Anugerah’ yang masih tayang saat ini? Ada fasilitas umum ( baca ‘rumah sakit’ ) orang berperilaku buruk ( baca ‘preman’ ) keluar masuk ruangan pasien tanpa pembatasan dengan maksud jahat … mencekik orang …. ngasih racun di infus ! Apakah ini mendidik? Inilah bentuk penjajahan baru ….. pembodohan ! Terselubung dalam konteks kapitalisme ……

  8. Bener mas alika, harusnya lembaga sensor bekerja meng’cut sinetron kayak gini….. Bukan rating yg di pentingkan, yg lbh penting moral anak bangsa! Itulah salah satu penjajahan jaman modern ”’kekerasan sadisme trik jahat narkoba seks bebas aurat”’ pdhal ada embel2 sinetron religi, tp kok bukan muhrim pegang2an???

    • Kelemahan Sang Sutradara …… Kalau skenario bisa ditinjau ulang dan
      dirundingkan kalau ada yang melenceng dari plot. Berbicara religi nanti jadi ribut.
      Kalau menurut saya ….. kalau film religi ( baca ‘Islam’ ) sebaiknya
      minta pandangan MUI … apa salahnya! Inikan menyangkut pendidikan
      moral. Apalagi TV sudah menjadi kawan akrab anak bangsa.
      Kalau ‘the have’ banyak media lain dipakai untuk mnghindar dari TV
      a.l dengan les tambahan, outbound dll, tapi anak bangsa dipinggiran ?
      Ya…. telan mentah-mentah ……

    • Dr Hur June …. Rupanya tambah Smart berfikir dan bertindak. Saya pikir memang seharusnya Pemimpin harus berpikir demikian. Sekarang Hur June resmi diangkat dgn SK sebagai Dokter Raja bukan? Otomatis Dr Yoo Do Ji adalah bawahan Dr Hur June, dia berpikir secara strktural bahwa Dr Yoo Do Ji adalah bawahan yang harus dia lindungi ( Cailah … Dr Do Ji malah nenbencinya …), walaupun mungkin akan ada perubahan status di pengungsian karena Do Ji ikut Raja. Sejak pindah ke Hanyang rasa ‘benci’ tersebut melebihi dendam kesumat yang biasa terjadi pada adegan wayang wong.
      Apa gerangan yang mebuat Do Ji dendam seperti itu ? Kita lihat latar belakang dia :
      1. DO JI ….. memendam rasa cinta yang dalam ke pada Ye Jin. Tidak terbalaskan karena Ye Jin menyukai Hur June karena budi pekertinya.
      2. DO JI …. Merasa perhatian ayahnya lebih besar ke Hur June . Dia tidak rela wasiat ayahnya untuk bedah ajar tubuh Dr Yoo Wee Tae almarhum di lakukan oleh Hur June.
      3. DO JI …. Merasa lebih pintar dari Hur June tapi kenyataannya Hur June lebih ulet dan bekerja tanpa pamrih. Tidak rela kalau Hur June berhasil.
      4. Semua tipu muslihat Do Ji ke Hur June malah berbalik menjadi prestasi untuk Hur June. Politisasi yang berbalik menyerang diri sendiri.
      5. Selalu menganggap Hur June tidak sejajar dengan dia, namun kenyataannya Hur June menjadi atasan Do Ji.

      Kembali ke Hur June ……..
      Pembelajaran ke Do Ji ….. dia mencoba mengangkat kembali derajat Doji yang jatuh dihukum penjara, mungkin dengan cara ini Do Ji akan insyaf. Mudah-mudahan ………… ( Apakah ini juga bentuk balas budi ke mendiang Guru yang dia hormati ? ) …….. Atau cara spesifik Hur June membuat Do Ji sadar ? …………. Wallahualam …..

  9. knp ya saat perang penduduk rame2 borong sandal jrami waktu d sangdo the merchant jg ada adegan perang..smua pnddk beli sandal rami..trus knp tulisan korea jman dúlu kyk tulisn cina ya..gk kyk tulisan yg skrg..mas andy tau gk?

    • karena sandal rami khan cepat rusak, namanya aja rami/jerami, beberapa km perjalanan aja ya soak … heheheh … makanya harus sedia banyak kalau mau mengungsi dan ingat kalau jalanan pada jaman dulu ga aspal tapi berbatu-batu, kalau kaki nda mau lecet2 dan luka2 ya harus pake sandal jerami … gitu … moga2 ini bisa menjawab rasa penasaran yanti😀
      tulisan korea jaman dahulu menggunakan karakter Mandarin karena pengaruh budaya, agama, ekonomi dan juga relasi yang dekat dengan Tiongkok yang waktu itu merupakan kerajaan terkuat di Asia. Di korea, karakter Mandarin disebut hanja dan tulisan korea asli disebut hangeul, diciptakan oleh raja ke 4 dinasti joseon, raja Sejong yang Agung. Tapi karena pengaruh Tiongkok yang sangat kuat (terbukti kalau seorang Pangeran Mahkota belum sah jika tidak mendapatkan pengakuan dari Tiongkok) , maka tulisan hanja yang sering digunakan di kalangan istana tapi di kalangan orang biasa justru terbiasa dengan hangul. Oleh karena itu Huh Joon di sejarah aslinya (dan juga di episode selanjutnya) berusaha menggunakan tulisan yang dipahami oleh orang awam / rakyat biasa sehingga ia menggunakan Hangul dalam pembuatan bukunya😀

        • wahahahha ….. ga juga, aku khan penasaran sama latar belakangnya jadi aku cek di wikipedia (english dan juga indonesia) …. hmmmm …… jadi penasaran mau lengkapi sejarah korea di wikipedia Indonesia (dari englishnya😛 ) …. banyak yang ga ada jadi aku cari di edisi yang english😀

      • Ada lagi alasan pakai sepatu jerami …… di Korea hawanya lebih dingin …. kalau sepatu jerami ada sirkulasi udara sehingga keringat tidak mengkristal karena dingin. Kalau bahan lain biasanya membuat kaki lebih cepat ngilu ……….. Gitu sih katanya penduduk zaman itu ……… Gitu lho Mbak Yanti …….

  10. Aduh bisa2 pingsan nich cape bolak balik, pencet kanan kiri, buka tutup, koh andy msh tega blm ngeposting joon, pdhal brsan ngasih coment disini, please……60 nya mana???? Ayo…….coment kurang 5 lg biar pass 50, kang andy tega bikin qt penasaran???!!! Kalo dilihat2 penggemar joon banyak ya, apalagi kalo semua yg baca nulis coment, lucu2 sm seru2 dan nambah ilmu….. Mas alika, ayo bantuin kang andy…..

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s