Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 61

Beberapa tahun telah berlalu …..

Hongchun dan Sehee sedang membantu proses persalinan dari Ratu Inmok. Mereka berdua memberi semangat bagi Ratu Inmok agar tetap bertahan dan menahan rasa sakitnya. Ratu Inmok tampak kesakitan berusaha mendorong bayinya keluar.

Hur June di luar bersama dengan Doji, menunggu dengan gelisah …

Ratu Inmok berusaha dengan segenap kekuatannya, dua perawat masuk, masing-masing membawa baskom berisi air hangat.

Hur June masih menunggu di luar kamar, kemudian terdengar tangisan bayi, Hur June berpandangan dengan Doji, mereka sangat lega. Hongchun keluar kamar dengan wajah senang, Hur June segera bertanya bagaimana dengan sang ibu….

Tahun 1606, Masa Pemerintahan Seonjo, tahun ke 39

Seorang kasim mengiringi Hur June dan Doji untuk menghadap Raja.

Raja sedang menunggu dengan gelisah di luar Paviliun bersama para menteri…..

Hur June dan Doji menemui Raja, yang bertanya apa yang terjadi. Hur June segera memberi ucapan selamat, diikuti oleh Doji. Hur June memberitahu kalau Ratu telah melahirkan seorang Pangeran. Raja tampak terkejut dan bertanya apa benar seorang bayi laki-laki. Hur June mengiyakannya. Raja tertawa senang menoleh pada para menterinya, yang juga memberikan ucapan selamat karena mendapatkan seorang Pangeran. Raja benar-benar senang karena akhirnya ia mendapatkan keturunan lelaki dari Ratu nya.

Menteri Jung mengatakan kalau ini artinya para Dewa tidak meninggalkan keluarga Kerajaan dari negara ini, karena ini adalah bayi Pangeran yang dilahirkan oleh isteri yang Sah, yakni Ratu Inmok, yang selama ini memang mereka nantikan. PM Sung, Jung Jak dan beberapa menteri yang di pihaknya menjadi tidak senang dengan perkataan Menteri Jung. Wakil PM menyatakan kalau ini merupakan peristiwa yang sangat membahagiakan, kekuasaan Istana dan prinsip-prinsipnya akan lebih teratur sekarang. Raja berterima kasih dan balas memuji ini semua juga karena doa dari para menterinya. Para Menteri segera membalas dengan ucapan terima kasih. Raja kemudian mengatakan pada Hur June dan Doji kalau ia berhutang pada mereka berdua, mereka telah memberikan kebahagiaan yang besar bagi dirinya. Hur June dan Doji berterima kasih.

Tampak pihak wakil PM sangat senang dengan kelahiran bayi pangeran ini, sedangkan pihak PM Sung terlihat was-was akan manuver politik yang akan dilakukan mereka.

Pangeran Gwanghae dan Puteri Ryu di kamar mereka, tampak duduk dengan tampang yang gelisah, Dayang Kepala Paviliung Pangeran Mahkota datang dan menemui mereka berdua. Puteri Ryu bertanya, apakah ia membawa kabar dari Paviliun Ratu, Dayang Kepala mengiyakannya, Puteri Ryu bertanya apa yang sedang terjadi di sana. Dayang Kepala ragu-ragu. Pangeran Gwanghae saat melihat tampang Dayang itu segera menebak apakah Pangeran? Dayang Kepala mengiyakannya. Pangeran menjadi masygu.

Para Menteri di pihak Wakil PM memanggil Kim Gongryang berkumpul untuk membicarakan pengaturan yang tepat mengenai pewaris tahta kerajaan. Karena seorang pangeran telah lahir dari rahim Ratu sebagai istri yang sah, maka mereka berencana untuk melakukan pengangkatan bayi Pangeran (Yeongchang) sebagai Pangeran Mahkota dan menurunkan Pangeran Mahkota yang sekarang, yakni Pangeran Gwanghae. Kim ragu-ragu karena tidak mungkin Pangeran Gwanghae akan semudah itu turun dari posisinya sebagai Pangeran Mahkota.  Menteri Jung menyatakan jika Pangeran Mahkota tidak bersedia turun dari posisinya sekarang, maka ia berencana akan melengserkannya dengan paksa. Lagipula  Pangeran Gwanghae tidak mendapatkan pengakuan dari Dinasti Ming karena bukan dari garis keturunan utama. Tapi ini semua membutuhkan dukungan dari Inbin Mama dan Kim Gongryang,  Untuk itulah Kim Gongryang mereka panggil. Jika Pangeran yang sekarang naik tahta, siapa yang dapat menjamin keselamatan dari Inbin Mama dan juga Kim Gongryang sendiri. Menteri Jung menyuruh untuk mempertimbangkannya. Kim terkejut dan memandang Menteri Jung. Menteri Jung memintanya untuk bekerjasama melindungi Pangeran Yeongchang dan juga Ratu. Itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Istana dan juga diri mereka. Kim memikirkan kebenaran kata-kata Menteri Jung. Menteri Jung sendiri tersenyum senang karena yakin Kim dan Inbin akan berada di pihaknya.

Pihak PM Sung, Jungjak, dan seorang menteri  berdiskusi mengenai hal ini juga. Awalnya peristiwa ini seharunya menjadi sesuatu yang membahagiakan bagi mereka, bahwa seorang Pangeran telah lahir bagi Raja. Tapi sekarang PM Sung cemas karena ia menebak, dengan kejadian ini maka Istana akan menjadi kacau, kedua rekannya saling berpandangan.

Hur June dan Doji keluar dari kamar Raja, mereka berdua melihat kedatangan Pangeran  Gwanghae dan Puteri Ryu, segera menghampirinya dan memberi hormat. Pangeran Gwanghae bertanya apakah Hur June baru saja dari Istana Raja, Hur June mengiyakannya. Puteri Ryu bertanya bagaimana Ratu dan bayinya, Hur June menjawab kalau keduanya sehat. Pangeran bertanya apakah Hur June sendiri yang memberitahu ayahnya mengenai kelahiran Pangeran. Hur Jun mengiyakannya. Pangeran Gwanghae menduga kalau ayahnya pasti sangat bahagia mendengar kabar itu. Pangeran Gwanghae memberitahu mereka kalau mereka akan melanjutkan pembicaraan lagi nanti, sekarang  ia dalam perjalanan untuk memberi ucapan selamat pada ayahnya. Hur June mengiyakannya lalu minggir memberi jalan. Pangeran Gwanghae melangkah menuju kediaman Raja. Hur Jun berkata pada pada Doji kalau Gwanghae terlihat murung. Doji menjawab kalau Pangeran Gwanghae tidak mungkin bisa tenang, sejak seorang anak laki-laki dilahirkan oleh Ratu, sangat jelas kalau posisinya akan goyah karena dilahirkan dari seorang selir. Dia mungkin harus merelakan posisinya kepada Pangeran Yeongchang. Tapi Hur June merasa kalau itu tidak mungkin. Doji sudah menganalisa kalau Raja sebenarnya Raja tidak begitu suka dengan Pangeran Gwanghae dari awal,  dan para pejabat yang sudah dilengserkan dari kursi kekuasaan akan membuat pergerakan dengan cepat untuk membuat bayi Pangeran menjadi Pangeran Mahkota, jadi hanya tinggal menunggu waktu saja samapai Istana menjadi kacau. Hur June gelisah. Doji menyarankan agar Hur June membaca situasi dan memperjelas posisinya. Hur June bimbang. Doji mengingatkan Hur June kalau ia adalah dokter Raja, jika ia tidak memperjelas posisinya maka bisa saja ia akan dikorbankan dalam pertarungan politik. “Kita adalah para dokter! Marilah kita hanya memikirkan tugas kita sebagai seorang dokter saja.” Doji tahu sifat Hur June jadi ia tidak memaksanya, tapi Doji cemas dengan keselamatan Hur June, takut kalau-kalau Hur June akan menjadi korban dari manipulasi politik para pejabat, yang sering menggunakan segala cara.

Hur June dan para dokter Naeuiwon lainnya masih berkutat dengan pembuatan dan penyusunan buku medis baru.

Kim Mangyung: Itu juga menjadi masalah, untuk menyusun titik akupungtur yang dimiliki oleh 12 titik akupungtur dan arteri. Menurut ingatanku, kudengar ada dua pendapat mengenai akupungtur dan moxibustion.

Doji: Dalam “Gap Eul Gyeung” yang dibuat oleh Hwang Bo Mil dan ‘Chun Geum Bang’ yang dibuat oleh Son Sa Mak, mereka menyusun titik akupungtur dari titik akupungtur di tubuh seseorang, sampai pada arteri afferen. Di ‘Chim Gu Dong In Gyung’ oleh Wang Yoo Il dan ‘Ship Sa Gyung Bal Hwi’ oleh Hwal Soo, mereka menyusun titik akupungtur pada arah yang sama dengan arah sirkulasi arteri.

Chung Tae Un: Setelah Wang Yoo Il, mereka menggunakan yang terakhir lebih banyak, jadi aku percaya kalau kita lebih baik mengikutinya juga.

Doji: (memandang Chung) Hanya karena banyak orang yang mengikutinya, tidaklah benar kalau kita mengikutinya tanpa ada pengulasan kembali.

Hur June: Aku setuju dengannya. Aku rasa mencatat dari pangkal lengan dan tungkai kaki, di mana banyak titik akupungtur tersebat adalah ide yang lebih bagus untuk mengurangi kebingungan dari para dokter yang mengacu pada catatan ini.

Semua dokter mengangguk-anguk setuju.

Hur June: (pada Sanghwa) Kapan Tuan Lee (Myung Won) yang pergi ke Dinasti Ming tiba?

Sanghwa: Aku dengar akhir bulan depan.

Hur June mengangguk-angguk mengerti dan berharap banyak pada Tuan Lee.

Jang Hak Do: (sambil tersenyum) Jika Tuan Lee membawa banyak buku mengenai bahan-bahan obat dan pengobatan dari Dinasti Ming, ini akan membuat kita lebih lama lagi dalam usaha menyusun buku, Tuan.

Hur June dan dokter yang lain sedang sibuk melakukan tugas mereka menyususn buku. Hur June sendiri sedang memeriksa bahan-bahan obat, ketika tiba-tiba ia terbatuk dengan keras sampai terbungkuk-bungkuk.

Kim Mangyung: (mengawasi Hur June) Itu sudah  sebulan sejak kau mulai terbatuk-batuk dengan hebat.

Hur June: (menahan batuknya, tersenyum) Benarkah?

Jang Hak Do: (cemas) Kumohon istirahatlah Tuan. Jika kau jatuh sakit, penyusunan buku pengobatan dan semua hal yang berkaitan dengannya akan berakhir.

Hur June: (masih menahan batuknya) Aku baik-baik saja jadi jangan cemas. (Pada Sanghwa, yang memandangnya cemas) Apakah kau sudah selesai mengumpulkan semua bahan-bahan obat yang direbus?

Sanghwa: Sudah Tuan.

Hur June, Tolong bawa kemari.

Sanghwa memberikan buku kumpulan bahan-bahan obat rebus pada Hur June, yang mau memeriksanya tetapi kembali terbatuk dengan keras.

Kim dan yang lainnya mengawasi Hur June dengan cemas.

Pasar Seoul, Yangtae bertanya pada Ilsuh apakah mereka tidak makan sekarang. Ilsuh sangat marah dan memaki Yangtae, ia sudah membuat bangkrut satu toko jadi tidak layak untuk makan. Yangtae merasa salah, jadi ia dengan lagak apa boleh buat kembali melanjutkan melantangkan suaranya untuk beriklan pada orang yang lewat sambil menggerakkan tangannya ke udara. Haman datang dan menyuruh Yangtae jangan berbuat tolol, sama seperti wajahnya dan menyuruh Yangtae untuk  membawa barangnya. . Yangtae menurunkan tangannya, menerima buntalan besar dari Haman kemudian memanggil Ilsuh, memberitahu istrinya datang. Ilsuh bertanya mengapa istrinya datang. Haman menjawab kalau ia ingin ke rumah Unyun. Yangtae memberitahunya, bukankah banyak orang mengatakah kalau mempunyai anak gadis yang sudah menikah akan seperti orang asing, mengapa Haman masih saja sering ke sana. Haman menjawab kalau itu tidak sering, bagaimana ia bisa tidur jika memikirkan anaknya terus. Ilsuh bertanya apa isi bungkusan besar yang dibawa oleh Yangtae. Haman menjawab kalau dia merendam buntut sapi dan ginseng dalam madu untuk kesehatan suami Unyun. Ilsuh tersinggung dan menegur istrinya, betapa Haman menyayangi menantu lelakinya lebih daripada suaminya sendiri. Apakah istrinya pernah membuatkannya sesuatu seperti itu. Haman tidak terima dan berseru kalau Jang kehilangan stamina karena belajar demi ujian negara yang akan diadakan sebentar lagi. Dan kemudian tersenyum menggoda, mengatakan kalau ia rasa Ilsuh sudah kuat hari-hari belakangan ini bahkan tanpa benda itu.  Ilsuh mau membantahnya tapi kemudian menyadari perkataan istrinya benar, Haman tertawa mengikik. Yangtae penasaran dan bertanya apakah benar Ilsuh justru lebih kuat sekarang.  Haman menutupi wajahnya tersipu malu dan tidak mau mengatakannya.

Tiba-tiba Unyun datang menyapa ibunya sambil tangannya menutupi wajahnya. Haman menarik tangan Unyun dan melihat ada lebam di mata Unyun yang berusaha disembunyikannya tadi. Haman terkejut demikian juga Ilsuh. Ilsuh bertanya apa yang terjadi. Unyun menutupi matanya lagi dan menjawab kalau tidak terjadi apa-apa. Haman tidak percaya dan menyahut kalau matanya seperti telah terkena pukul seseorang, dan bertanya siapa yang memukulnya. Unyun gugup dan menggoyangkan tangannya mengatakan kalau itu bukan karena siapa-siapa tapi karena tempat fermentasi kedelai jatuh dan tepat menimpa matanya. Haman membentak kalau itu pasti bukan karena fermentasi kedelai. Unyun bersikukuh dengan pendapatnya. Haman mengalah dan menegur mengapa Unyun tidak berhati-hati. Tapi Haman kemudian tersenyum senang, karena sebenarnya ia juga akan pergi ke rumah Unyun karena ia sudah membawakan buntut sapi dan ginseng dalam madu. Unyun malah cemberut dan gelisah.

Ohgun datang dan bertanya kabar mereka sekalian. Semuanya segera memberi salam dan bertanya kabar Ohgun, yang menjawab ia baik-baik saja, kemudian melihat lebam di mata Unyun dan seperti yang lain, bertanya mengapa dengan mata Unyun. Unyun menutupi matanya dan menjawab kalau bukan apa-apa. Haman menyahut itu karena tempat fermentasi kedelai. Ohgun melihat mata Unyun dan memberitahunya, Unyun sampai di suatu jalan dengan berkuda dan menemui 2 persimpangan, apa yang akan dilakukan Unyun. Kemudian bertanya apakah Unyun hamil. Haman terkejut dan menyangka Unyun memang hamil. Unyun bingung dengan perkataan Ohgun yang aneh itu.  Ohgun sendiri segera mengalihkan pertanyaan pada Ilsuh, bagaimana dengan bisnisnya. Ilsuh kesal dan menjawab kalau tidak begitu ramai, hanya cukup untuk tidak kelaparan. Ohgun tetawa dan menegurnya karena berkata-kata seperti anak kecil saja. Ilsuh heran dengan kedatangan Ohgun di tempatnya, dan bertanya ada maksud apa ia kemari. Ohgun menjawab kalau ia datang untuk memberi kabar baik bagi Ilsuh dan istrinya. Haman bertanya berita baik apa. Ohgun menjawab kalau sebentar lagi Ujian Kenegaraan akan diadakan.  Bukankah menantu mereka sedang mempersiapkan diri mengikuti ujian itu untuk menjadi seorang dokter Istana.

Ilsuh terkejut dan senang, bertanya apakah itu benar. Ohgun menjawab tentu saja benar. Ratu telah melahirkan Pangeran Yeongchang jadi mereka mengadakan Ujian Kenegaraan untuk merayakan peristiwa bahagia itu. Haman senang dan berkata pada Unyun, sekrang ada jalan bagi suami Unyun untuk masuk menjadi dokter Istana. Haman sebenarnya cemas karena kelihatannya suami Unyun tetap tenang. Unyun justru tampak semakin kesal. Ilsuh bertanya, benar khan kalau Jang sedang belajar keras untuk megikuti Ujian Nasional Medis.

Tiba-tiba Unyun menjatuhkan dirinya, duduk di tanah dan menangis menggerung-gerung, berseru-seru pada Dewa. Ilsuh terperanjat.dan bertanya mengapa anaknya menangis.  Haman berjongkok dan meminta anaknya untuk mengatakan apa yang terjadi. Unyun membuka rahasia kalau sebenarnya suaminya tidak sedang belajar tapi justru berjudi dan melirik gadis-gadis lain saja kerjaannya.  (Bapak mertua dan menantu sama saja hobinya … ahahahah😀 ) Dan jika Unyun menegurnya, maka suaminya akan segera memukulinya seperti memukuli anjing saja. Haman terkejut, seperti seekor anjing? Haman sangat shock dan menangis bersama-sama dengan Unyun. Ilsuh sangat geram dan bertanya apakah itu benar, jadi lebam itu bukan karena kejatuhan fermentasi kedelai tapi dihajar oleh bangsat itu. Unyun sambil menangis mengangguk-anggukkan kepalanya.  Ohgun menambah minyak pada api membara, bukankah invasi Jepang terjadi tidak baru beberapa tahun lalu, jangan memulai perang lagi. Ilsuh tidak bisa menahan rasa gusarnya dan berteriak di mana bajingan itu, di mana dia. Ilsuh pergi mencari Jang, suami Unyun.

Yangtae mencoba menghalangi Ilsuh dan menyuruhnya untuk tenang, tapi Ilsuh sudah seperti kerbau yang mengamuk, menendang dan mendorong Yangtae, namun Yangtae tetap saja mengikutinya.

Ilsuh pergi ke kedai minum dan mencari Jang di sana, tapi tidak ada di luar halaman, ia segera menghampiri sebuah kamar dan menguping.

Di dalam banyak orang sedang berjudi, dan Jang ternyata menang, seorang gisaeng memujinya dan menuangkan minum untuknya. Jang sangat senang, meminumnya kemudian memeluk gisaeng itu. Ilsuh sudah cukup mendengar dan segera membuka pintu kemudian masuk ke dalam. Semua orang melihat siapa yang membuka pintu, Jang terkejut dan segera berusaha bersembunyi di balik punggung seorang penjudi. Ilsuh menyerukan nama Jang Man Duk kemudian masuk seperti kerbau gila, mengobrak-abrik tempat itu dan menghampiri si Jang, mencekal bajunya kemudian menyeretnya keluar. Jang berseru-seru memanggil ayahnya untuk membantu tapi ayah Jang sendiri tidak berdaya karena takut melihat kemarahan Ilsuh. Ilsuh membanting Jang keluar ruangan tapi ia sendiri juga kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh. Tapi Ilsuh langusng bangun lagi dan menjatuhkan tubuhnya ke Jang, yang kesakitan ditindih Ilsuh. Saat Ilsuh mau menindihnya lagi, Jang menggulingkan badannya sehingga ia terjatuh ke tanah. Jang merangkak mau pergi tapi Ilsuh menariknya lagi dan memukulinya sambil berseru bagaimana bisa ia memukuli Unyun, anak gadisnya yang berharga. Yangtae kaget dan berusaha menahan Ilsuh. Tapi Ilsuh menolaknya. Ilsuh kalap dan mengambil sapu lidi (tapi sapu lidi jaman itu besar-besar bukan seperti sekarang) kemudian memukuli Jang. Yangtae berusaha menahan Ilsuh dan mengatakan kalau Ilsuh bisa saja tidak sengaja membunuhnya nanti. Ilsuh tidak mau mendengarkan Yangtae dan menolaknya pergi, Yangtae terjatuh ke belakang.

Ilsuh memukuli Jang dan berteriak mengatakan kalau ia sudah memberi Jang seorang istri, memberinya makan dan tempat bernaung, padahal Jang seorang yang tak beruang, tapi bisa-bisanya ia memukuli Unyun. Jang menutupi wajahnya berusaha melindungi dari pukulan Ilsuh.

Unyun tidak enak hatinya dan menyusul ayahnya, terkejut saat melihat ayahnya memukuli suaminya. Ia segera berlari menuju mereka.

Ilsuh masih sangat kesal, ia membuang sapu lidi kemudian karena saking gusarnya, Ilsuh meraih tangan si Jang dan menggigitnya. Unyun datang dan menjungkalkan ayahnya ke belakang sambil berseru memarahi ayahnya kalau ayahnya bisa saja membunuh suaminya. Ilsuh terperangah tidak percaya …. Unyun berteriak bagaimana bisa ayahnya memukuli menantunya dengan keras seperti itu. Unyun segera membantu suaminya bangun dan menghardik semua orang yang menonton kemudian menyeret suaminya pulang ke rumah mereka. Ilsuh memanggil anaknya, masih tidak percaya anaknya bisa-bisanya bertindak seperti itu padanya, yang berusaha membela. Yangtae berusaha menghiburnya, tapi Ilsuh menolaknya dan duduk di tanah, menangis menggerung-gerung.

Beberapa saat kemudian, Yangtae menuangkan minum untuk Ilsuh, yang langusng meminumnya. Yangtae mengatakan kaalu menantu Ilsuh itu persis seperti Ilsuh pada masa mudanya. Berjudi dan suka menggoda para wanita. Benar-benar seperti Ilsuh. Ilsuh cemberut kemudian menyuruh Yangtae tutup mulut, apakah Yangtae mau membuat dirinya bahan tertawaan.  Yangtae menasihatinya kalau anak gadis yang sudah menikah itu adalah orang asing, jadi biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka mau. Yangtae menuangkan minuman lagi. Ilsuh masih mengingat ketika anaknya itu masih suka mengikuti Gyeum dan bersikeras untuk menikah dengannya, ia seharusnya membuat itu menjadi kenyataan. Yangtae tidak terima, bagaimana ia dan June bisa menjadi berbesanan, keluarga June sekarang adalah bangsawan. Ilsuh tersinggung dan berseru kalau June sendiri menikahi istrinya, yang seorang bangsawan, padahal ia adalah dari kelas sosial yang lebih rendah. Ilsuh kemudian bertanya benar khan Gyeum sekarang menjadi Gubernur di Young Wol. Yangtae mengiyakannya. Ilsuh benar-benar menyesal, kenapa dulu tidak membiarkan saja Unyun menikah dengan Gyeum.

Malam hari di kediaman Hur June, Hur June juga membawa beberapa buku medis ke rumahnya dan sedang memeriksa serta menyuntingnya. Tiba-tiba Hur June terbatuk-batuk dengan keras. Dahee masuk dan memberitahu suaminya kalau Gyeum megutus seseorang kemari tadi sore untuk memberitahu mereka bagaimana keadaannya di sana. Katanya ia akan ke Seoul bulan depan dan mampir kemari. Hur June sangat senang dan bertanya bagaimana kabarnya. Dahee menjawab pejabat yang membawa pesan mengatakan kalau ia meraih banyak respek dari rakyat. Hur June tertawa sennag. Dahee kemudian menegurnya, hari sudah larut, mengapa suaminya tidak beristirahat dulu. Hur June menyuruh istrinya untuk tidur dulu, ia akan melanjutkan sedikit lagi. Dahee cemas dengan Hur June yang akhir-akhir ini terus lembur. Nyonya Son masuk ke ruangan membawa sebuah guci kecil, Dahee segera bangun berdiri dan bertanya mengapa ibu mertuanya masih baugun. Nyonya Son menjawab kalau batuk Hur June belum berhenti, ia tidak bisa mengabaikan itu dan tidur. Nyonya Son duduk dan memberikan guci kecil itu pada Dahee, menyuruhnya menberikan itu pada Hur June. Dahee bertanya apa isinya. Nyonya Son menjawab kalau itu adalah jus buah pir dengan madu, tidak ada yang lebih baik untuk asma selain itu. Dahee menjawab kalau ia sudah memberikan ramuan  pada Hur June setiap hari. Nyonya Son tahu, tapi ia merasa kalau jus pir adalah yang terbaik untuk asma. Itu adalah salah satu jenis obat yang disajikan pada Raja. Ia sudah bertanya pada Goo Ilsuh dan katanya sangat sulit untuk membuatnya. Nyonya Son bertanya pada anaknya, apakah memang benar jus pir sangat baik untuk asma. Hur June tertawa geli dan menmbenarkannya, itu juga tertulis di buku-buku bahan obat, seperti Bon Cho Gang Mok dan Yoo Bang Yoo Chi. Jus pir sangat baik untuk menghilangkan rasa haus karena penyakit dan juga panas di dalam karena amarah, juga meringankan sakit di leher dan hidung.  Nyonya Son sangat senang, dan meminta menantunya agar memberikan jus pir itu pada June tanpa terlewatkan. Dahee tersenyum dan mengangguk mengiyakannya.

Nyonya Son beranjak pergi, tapi kemudian berbalik dan menyatakan kalau June itu persis seperti ayahnya yang telah meninggal, “Seperti ayah demikian juga si anak” ujar Nyonya Son, lalu ia pergi. Hur June tersenyum geli. Dahee tidak mengerti dan bertanya apa maksud perkataan terakhir ibu mertuanya tadi. Hur June memberitahunya kalau ayahnya menderita asma berat, di Yongchun, dia memberikan ruang utama pada para pejabat lain, dan ibunya melakukan pekerjaan kasar di kediaman pelayan. Walaupun ia sering dihina oleh gisaeng muda, dia tetap memberikan jus pir dengan madu pada ayahnya, yang menderita karena asmanya. Dahee mengangguk-anggukan kepalanya baru mengerti. Hur June meminta guci itu dan akan meminumnya.

Hongchun sedang mau bertugas bersama-sama dengan perawat lainnya, Ohgun menemuinya. Hongchun menyuruh para perawat berjalan dulu. Hongchun kemudian berbicara berdua dengan Ohgun, tapi terkejut melihat bibir Ohgun tampak sobek dan berdarah. Ia bertanya pada suaminya apa yang terjadi. Ohgun menjawab ia sudah melalui perang yang begitu sengit, tapi sekarang ia hampir terbunuh oleh satu orang pengepul bahan obat. Hongchun melihat luka suaminya.

Hur June bersama-sama dengan Doji meninjau gudang ramuan, di sana ia melihat Sanghwa sedang menulis dan mengawasi apa yang sedang ditulisnya. Kemudian Hur June membuka suara, itu tidak cukup. Sanghwa yang sedang asik menulis baru sadar kalau Hur Juen dan Doji datang, ia segera bangun berdiri dan memberi hormat, sambil keheranan. Hur June melanjutkan perkataannya, untuk penyakit berkaitan dengan organ kemih, gunakan bahan mentah, tapi untuk yang berkaitan dengan organ pencernaan gunakan Skullcap, gold thread (huang lian), dan Annemarrhena asphodeloides, selain dari biji-bijian gardenia. Tapi bagaimana bisa hanya ada catatan mengenai biji-bijian gardenia saja. Sanghwa tampak salah tingkah dan menundukkan kepalanya, merasa malu. Hur June menasehatinya kalau ia juga harus mempelajari efek dari ketiga bahan obat lainnya dan menelitinya supaya mereka semua tidak dihilangkan. Sanghwa lega dan mengiyakannya. Hur June sangat senang dan beranjak pergi, tapi terdengar seruan memanggilnya. Hur June berhenti dan heran. Ohgun masuk dengan terengah-engah menyatakan kalau ada keributan di luar Istana..

Beberapa rakyat jelata sedang melakukan protes di luar gerbang Istana. Dua dokter Istana, dr. Chung dan Kim Mangyung sedang berusaha menenangkan mereka. Hur June, Doji, dan Ohgun menemui mereka. Hur June bertanya apa yang terjadi.  Dr. Chung dan Kim Mangyung segera menemuinya dan memberi hormat. Dr. Chung menjawab kalau ini bukan apa-apa dan tidak perlu dikhawatirkan. Hur June mendesaknya dan bertanya kembali apa yang sedang terjadi. Dr. Chung serba salah dan memandang Kim Mangyung, yang kemudian menerangkan bahwa mereka ini adalah para pengumpul tanaman yang dipekerjakan oleh para dokter Istana untuk mengumpulkan tanaman obat atau menghimpun sumber-sumber bahan obat. Hur June masih tidak mengerti permasalahannya. Kim dengan berat hati memberitahunya kalau mereka masih belum membayar orang-orang itu sudah 4 bulan lamanya. Hur June terkejut.

Seorang perwakilan pengumpul tanaman obat menemuinya dan meminta agar Hur June mempertimbangkan kondisi mereka juga. Walaupun mereka sudah berkeliling pergi kemanapun dan membawakan tanaman obat tapi masih tidak mendapatkan sesenpun uang, jika ini berlanjut terus maka keluarga mereka akan mati karena kelaparan. Hur June tampak bingung dan tidak mengerti mengapa semua ini bisa terjadi, ia memandang pada Doji yang menundukkan kepalanya.

Hur June mengadakan rapat darurat. Ia bertanya pada rekan-rekannya mengapa mereka semua tidak ada yang memberitahukan mengenai hal ini padanya. Kim menyatakan kalau ini adalah kesalahannya karena ia tidak ingin menambahkan kepusingan pada Hur June karena Hur June sudah banyak terbebani secara berlebihan oleh pekerjaannya. Jadi ia meminta pada dokter-dokter yang lain untuk tetap diam. Kim meminta maaf pada Hur June. Hur June kemudian bertanya apa alasannya dukungan keuangan dihentikan. Doji menjawab, ini merupakan ketidakberuntungan bagi mereka, tapi para direktur senior ragu-ragu dengan hasil kerja mereka. Dr. Chung menimpali kalau mereka itu mengatakan kalau para dokter membuang dana sia-sia hanya untuk hal yang tidak berguna dan mengajukan beberapa protes pada Raja. Hur June bertanya, apakah itu artinya mereka tidak mau mendukung lagi. Doji menyahut kalau ia sudah berusaha mengajukan protes tapi tetap tidak ada jawabah..  Hur June tampak bingung. Kim berseru jengkel, jika mereka mengetahui situasinya buruk, mereka para pejabat itu seharusnya menyerahkan tanah yang mereka miliki atau melakukan sesuatu yang lain tapi sekarang mereka berbicara hal sampah seperti itu. Hur June mengatakan pada mereka kalau ia akan menemui Wakil PM sendiri. Doji menyahut kalau itu juga tidak akan ada gunanya dan mengatakan kalau dirinya sudah mengajukan permintaan tapi ia justru menegur ditegur oleh Wakil PM dan sebaliknya menyuruh mereka untuk menghentikan pekerjaan mereka.

Hur June  ke Perpustakaan Istana untuk menenangkan pikirannya. Ia mengingat kata-kata Doji kalau mereka terus saja mengatakan kalau perang telah menghancurkan situasi keuangan negara, dan sejak satu bulan sebelumnya, sudah tidak ada bahan-bahan obat yang dibawa masuk ke Istana untuk dipelajari.

Suara hati Hur June: Sudah 10 tahun sejak kami mulai melakukan penyusunan sumber-sumber bahan-bahan obat, kami tidak bisa berhenti sekarang.

Doji bergegas menemui Hur June dan memberitahunya untuk segera ke Paviliun Ratu.  Ia rasa Pangeran Yeongchang mengalami kejang.  Hur June terkejut.

Hur June dan Doji segera menuju ke Paviliun Ratu bersama Dayang Kepala Paviliun Ratu. Sementara itu Dayang Kepala Paviliun Pangeran Mahkota sedang mencari Hur June dan menemuinya saat dalam perjalanan menuju ke Paviliun Ratu.  Hur June bertanya ada apa, Dayang Kepala Pavilun Pangeran Mahkota memberitahu kalau Pangeran Gwanghae jatuh sakit dan memintanya untuk pergi meneriksannya. Hur June bertanya sakit di mana. Dayang menjawab kalau Pangeran menderita sakit kepala yang berat. Hur June bingung dan memandang pada Dayang Kepala Paviliun Ratu ….. Doji mengerti kesulitan dari Hur June dan memberitahunya kalau ia yang akan memeriksa Pangeran Gwanghae jadi Hur June disarankannya tetap pergi ke Paviliun Ratu.  Doji kemudian segera menyuruh Dayang Kepala Paviliun Pangeran untuk kembali ke tempatnya, sedangkan ia akan kembali ke kantornya untuk membawa peralatan medisnya. Dayang Kepala Paviliun Pangeran tidak mengerti mengapa bukan Hur June, tapi Doji menyentaknya dan menyuruhnya segera bergegas. Dayang Kepala Paviliun Pangeran mengiyakannya dan segera pergi. Hur June merasa sangat berterima kasih pada Doji, tapi hatinya tetap saja gelisah dan tidak enak pada Pangeran Gwanghae, namun tugas sudah menunggunya di Paviliun Ratu sehingga Hur June membuang segala pikiran yang mengganggu dan melanjutkan perjalanan ke Paviliun Ratu.

Raja dan Ratu Inmok mengawasi Hur June yang sedang melakukan akupungtur pada bayi mereka. Hur June dengan sangat berhati-hati menusukkan jarumnya dengan tepat supaya tidak melukai si pangeran kecil. Inmok merasa sangat cemas dengan kondisi anaknya.

Pangeran Gwanghae terbaring sakit di tempat tidurnya. Puteri Ryu di sampingnya sedang memijati tubuhnya. PM Sung dan Jung Jank menunggui junjungan mereka dan gelisah menunggu kedatangan Dayang Kepala dengan Hur June.

Terdengar seruan dari Dayang Kepala, Menteri Jung menyuruhnya masuk, Gwanghae mmaksa dirinya untuk duduk dibantu istrinya. Dayang Kepala masuk sendirian. PM Sung heran dan bertanya mengapa ia hanya sendirian saja. Dayang Kepala meminta maaf tapi dr. Hur pergi ke Paviliun Ratu untuk merawat Pangeran Yeongchang. PM Sung dan Jung Jak terkejut. Pangeran Gwanghae juga tidak menyangka. PM Sung bertanya lagi apakah dia tahu kalau Pangeran sedang sakit. Dayang Kepala mengiyakannya. PM Sung lebih terkejut lagi. Pangeran Gwanghae tampak kecewa.

Para menteri di pihak Wakil PM menunggu di luar Paviliun Ratu, kemudian bertarnya pada Hur June yang baru saja keluar dari dalam, bagaimana kondisi sang Pangeran kecil. Hur June menjawab kalau sang Pangeran sudah baikan. Wakil PM bersyukur pada Dewa. Menteri Jung berterima kasih pada Hur June, karena Hur June sendiri yang merawat Pangeran kecil, maka ia menjadi sangat lega. Hur June ingin berbicara dengan Wakil PM yang justru kebetulan malah, karena Kim Gongryang dan yang lain juga ingin berbincang-bincang dengan Hur June, sehingga ia mengusulkan pertemuan di tempat terpisah. Hur June heran.

Hur June menemui PM Sung, Jung Jak, dan dua orang menteri di pihak faksi Utara Besar di kantor PM Sung, dan bertanya apakah mereka ingin menemuinya. Menteri Choi segera menegur keras Hur June, apa ia tahu apa yang sedang dilakukannya. Hur June terkejut tidak mengerti. Menteri Choi memberitahunya kalau Pangeran jatuh sakit dengan mendadak, dan seharusnya Hur June datang lebih cepat daripada orang lain untuk memeriksanya. Tapi Hur June justru meninggalkan tugasnya dan itu tidak bisa diterima. Hur June memberikan alasan kalau si bayi Pangeran sangat sakit dan ia pergi ke Paviliun Ratu. Menteri Choi juga menyahut kalau ia tahu itu, bukankah Pangeran bayi hanya mengalami kejang minor saja. Hur June hanya diam saja. Menteri Choi melanjutkan kalau Istana sedang sibuk bekerja demi Pangeran Yeongchang, dan sekarang apakah Hur June juga mau mengabaikan Pangeran Mahkota. Hur June segera membantahnya dengan suara keras, mengatakan kalau itu sangat tidak pantas diutarakan. Menteri Choi terkejut karena Hur June membentaknya. Hur June menurunkan suaranya melanjutkan, kejang pada bayi dapat saja mengambil jiwa si bayi seketika jadi itu adalah hal yang paling serius dalam masa balita, selain campak dan cacar. Karena itulah ia memutuskan kalau si bayi dalam kondisi yang lebih serius, jadi kalau sang menteri menuduhnya mengabaikan Pangeran Mahkota maka itu adalah tuduhan yang sangat tidak adil. Menteri Choi langsung terdiam mendengar penjelasan dari Hur June. PM Sung mencoba meredakan suasana, ia meminta maaf karena salah paham pada Hur June dan meminta pengertian dari Hur June. Alasan sebenarnya ia memanggil Hur June adalah bukan untuk mencelanya karena insiden hari ini, tapi karena ia ingin mendiskusikan sesuatu mengenai Pangeran Mahkota.

Pangeran Gwanghae tampak sangat murung, istrinya bertanya apa yang sedang ia pikirkan. Apakah ia sedang marah karena dokter Raja tidak mau datang.  Pangeran Gwanghae segera membantahnya, itu tidak benar, ia pergi untuk memeriksa Pangeran Yeongchang. Pangeran Gwanghae menghela napas dan mengatakan kalau ia sebenarnya ingin hidup dengan tenang.Ia sungguh bodoh karena terobsesi pada gelar Pangeran Mahkota yang satupun tidak ada yang mengakuinya.

PM Sung memberithau Hur June kalau Pangeran Mahkota sangat bijaksana dan memiliki pandangan yang hebat untuk melihat ke dalam situasi dengan jelas, dan PM Sung yakin kalau Hur June tahu lebih banyak mengenai diri Pangeran Mahkota karena Hur June sangat akrab dengannya. Semua adalah hasil kerjanya membawa Istana dalam kesatuan yang sebelumnya telah tercerai-berai akibat invasi Jepang selama 7 tahun. Tapi mereka yang mencari kekuasaan mulai mengajukan Yeongchang yang masih bayi dan dengan demikian menghina Raja, bahkan dengan beraninya mulai membicarakan untuk menurunkan Pangeran Mahkota yang sekarang. PM Sung yakin kalau Hur June pasti tahu apa yang dirasakan oleh Pangeran Mahkota sekarang. Jung Jak meminta Hur June agar berdiri di pihak Pangeran Mahkota, bukankah Hur June sudah merawatnya sejak Pangeran Mahkota masih kecil. Seorang dokter Raja yang dengan bebas keluar masuk Paviliun Ratu pasti akan mendapatkan informasi dengan sendirinya. Hur June mulai mengerti arah pembicaraan mereka. Menteri Choi menyatakan kalau Hur June dapat membaca situasi di pihak lawan mereka, maka mereka akan dapat melakukan sesuatu terlebih dahulu. Hur June bimbang dan mau mengutarakan maksudnya, PM Sung menyelanya, ia tahu kalau ini adalah hal yang sulit untuk dilakukan oleh Hur June tapi ia ingin agar Hur June melakukan ini semua untuk Pangeran Mahkota Gwanghae.

Hur June dengan tegas menyatakan kalau dirinya tidak akan terlibat dalam faksi manapun. Ia juga menghormati pribadi dan kebijaksanaan dari Pangeran Mahkota, dan ia dengan sungguh-sungguh yakin kalau Pangeran Mahkota kelak akan menjadi seorang Raja yang bijaksana, tapi Hur June menegaskan kalau ia adalah seorang dokter yang merawat keluarga Raja. Tugasnya adalah merawat pasien dan penyakitnya dan tidak bisa menggunakan keahlian medisnya untuk terlibat dalam faksi manapun. Semua orang di dalam ruangan itu terkejut, karena dengan perkataanya itu sama saja Hur June ingin bersikap netral dan tidak mau membantu pangeran, tapi mereka tidak bisa membantah ataupun mendebatnya karena alasan yang dikemukakan oleh Hur June sangat tepat sasaran. Jung Jak menghela napas, ia tahu kalau Hur June sekali berkata, akan tetap memegangnya teguh apapun yang terjadi. Hur June  berpamitan pada mereka dan segera keluar. Menteri Choi tetap tidak mempercayainya dan menduga kalau Hur June pasti sedang diam-diam berkomunikasi dengan pihak lawan mereka, tapi PM Sung membantah dugaannya itu, Hur June bukanlah orang semacam itu kemudian menghela napasnya.

Hur June keluar dari Kantor Perdana Menteri dan berhenti di bawah sebuah pohon. Kemudian ia mengingat :

Suara Menteri Jung: Terima kasih, karena kau sendiri yang merawat Pangeran kecil, aku menjadi sangat lega.

 

Suara Jung Jak: Seorang dokter Raja yang dengan bebas keluar masuk Paviliun Ratu pasti akan mendapatkan informasi dengan sendirinya.

 

Menteri Choi: Jika kau dapat membaca situasi dari pihak sana, kami akan dapat melakukan sesuatu terlebih dahulu.

 

Hur June tidak mau ambil pusing dengan segara pertarungan politik, ia segera membuang pikirannya jauh-jauh dan melanjutkan langkahnya.

Malam hari di sebuah gibang terkemuka, pihak Wakil PM dan Menteri Jung mengadakan perjamuan, mereka tertawa senang, minum-minum ditemani oleh para gisaeng. Seorang gisaeng membuka pintu dan memberitahu kalau dokter Raja sudah datang. Menteri Jung mempersilahkan untuk masuk. Hur June masuk dan prihatin melihat mereka semua para pejabat itu justru sedang bersenang-senang di tempat ini. Semua orang menyuruhnya duduk. Hur June duduk dan masih diam, susah untuk memulai dari mana.

Menteri Choi dan beberapa rekannya datang ke Gibang itu juga untuk mencari hiburan.

Menteri Jung mengajak semua orang yang ada di ruangan itu untuk minum, mereka semua mengangkat cawan dan minum seteguk. Wakil PM membuka percakapan dan bertanya apa yang Hur June inginkan sehingga ingin menemuinya. Hur June memberitahunya kalau ini mengenai persoalan keuangan untuk usaha penyususnan buku yang dikerjakan oleh para dokter di Naeuiwon. Wakil PM sudah mendengar itu dari dr. Yoo. Hur June memberitahunya kalau untuk menyelesaikan usaha itu, mereka harus mengumpulkan buku-buku medis dari Tiongkok yang sangat langka, mengumpulkan tanaman-tanaman obat dari tempat-tempat yang berbeda dan mempelajari efeknya, tapi karena dana mereka dipotong, maka mereka tidak dapat melanjutkannya kembali. Wakil PM bisa mengerti kesulitan Hur June tapi saat ini mereka juga sedang kehabisan dana juga dan bertanya apa Hur June memang harus melakukan usaha itu. Hur June menjawab kalau mereka sudah sampai pada tahap akhir dari pekerjaan mereka selama 10 tahun, jadi ia dan rekan-rekannya tidak bisa menghentikan usaha ini begitu saja. Menteri Jung menyahut kalau sebenarnya itu tidak begitu sulit. Bukankah itu diperintahkan oleh Raja juga. Jika keterbatasan dana Departemen Medis tidak mengijinkan Hur June melanjutkan pekerjaannya, itu berarti mereka harus mencari dana melalui jalan lain. Kim Gongryang cepat tanggap, ia mendukung perkataan Menteri Jung, pasti ada jalan lain untuk memecahkan persoalan Hur June. Hur June tidak mengerti dan menatapnya.  Kim meminta Hur June tidak usah khawatir dan minum saja. Hur June minum tapi pikirannya terus berputar mengapa mereka berbicara berbelit-belit seperti ini, sebentar berkata tidak bisa, sebentar bicara ada jalan lain. Menteri Jung memberitahunya kalau Hur June seharusnya tidak usah cemas dengan jumlah uang yang hanya sedikit seperti itu. Hur June menaruh cawannya dan memandang Menteri Jung. Menteri Jung menyuruhnya untuk tidak memikirkan hal yang lain dan hanya berkonsentrasi untuk merawat kesehatan dari Pangeran Yeongchang. Jangan dilupakan kalau ia adalah seorang yang sangat berharga yang akan menerima tahta selanjutnya. Hur June sekarang baru “ngeh” dengan maksud mereka, setelah berputar-putar sekian lama akhirnya si ular menampakkan wajahnya juga setelah selama ini hanya buntutnya yang kelihatan.

Rombongan Wakil PM dan Menteri Jung pulang diantar oleh para gisaeng, Hur June berjalan paling belakang. Saat itu Menteri Choi sedang melintas di tempat itu dan heran dengan rombongan orang banyak itu. Ia mengawasi mereka sejenak..

Menteri Jung mengajak Hur June berbicara sebentar, Menteri Choi melihat dengan jelas wajah Hur June dan menjadi terkejut. Ia menahan rasa gusar di hatinya.

Hur June dalam perjalanan pulang, sambil berjalan ia mengingat perkataan Menteri Jung, yang menyuruhnya untuk tidak memikirkan hal yang lain dan hanya berkonsentrasi untuk merawat kesehatan dari Pangeran Yeongchang. Jangan dilupakan kalau ia adalah seorang yang sangat berharga yang akan menerima tahta selanjutnya.

Doji sedang membaca buku medis, Hansang memberitahunya dari luar kamar kalau dokter Raja ingin menemuinya. Doji terkejut dan mempersilahkannya masuk. Doji bangkit berdiri menyambut Hur June kemudian menyuruh Han Sang untuk membawakan meja minuman. Han Sang mengiyakannya. Hur June ternyata sangat gundah sehingga ia membatalkan pulang dan sebaliknya ingin menemui Doji untuk bertukar pikiran.

Meja hidangan sudah dipersiapkan, tapi Hur June justru minum-minum terus. Doji menduga ada sesuatu yang tidak beres, Hur June tidak menjawab hanya bertanya bukankah Doji sudah pernah memintanya agar membaca situasi dan memperjelas posisinya. Hur June minum lagi. Hur June melanjutkan kalau ia sebenarnya tidak tahu, kelihatannya gelar dokter Raja terlalu berat baginya, bergumul di antara kedua faksi politik. Ia ingin melempar jauh semua itu. Doji mau menyemangatinya tapi tidak tahu harus berkata apa. Kalau saja bukan karena usaha penyusunan buku medis yang baru …ia ingin segera pergi saja. Doji menatapnya cemas.

Pagi harinya, Jung Jak terkejut dan bertanya pada Menteri Choi apakah itu benar. Menteri Choi mengiyakannya dan yakin kalau Hur June sedang berkomunikasi diam-diam dengan pihak Menteri Jung Sung Pil. Jung Jak terkejut, PM Sung segera bangun berdiri dan melangkah keluar ruangan, yang lain segera bertanya kemana ia mau pergi. PM Sung menjawab kalau ia mau menemui Pangeran Gwanghae.

Saat PM Sung datang, Dayang Kepala baru saja keluar dari kamar Pangeran dengan terburu-buru. PM Sung heran dan bertanya ada apa, Dayang Kepala menjawab kalau mereka mendapatkan masalah. PM Sung terkejut dan segera masuk ke dalam dan melihat kalau Pangeran Gwanghae sedang menggigil kedinginan. Puteri Ryu tampak kebingungan melihat kondisi suaminya. PM Sung segera berseru pada orang di luar untuk memanggilkan dokter Raja.

Semua dokter sedang berkumpul di Kantor Departemen Medis, menyambut kedatangan Lee Myung Won yang baru saja pulang dari Dinasti Ming, dan seperti yang telah diduga oleh Jang, ia membawa banyak sekali buku medis dari sana.  Hur June sangat senang karena keberhasilan perjalanan yang dilakukan oleh Lee, walaupun menempuh jarak yang sangat jauh dan waktunya lama tapi dengan semua yang dibawanya kali ini, maka mereka dapat mempercepat usaha penyusunan buku. Lee menyahut kalau ia sangat senang dapat memberikan sedikit bantuan bagi mereka. Jang menyatakan kalau persoalan dana sudah terpecahkan dan sekarang karena Lee membawakan mereka buku-buku pengobatan kuno dari Tiongkok yang tersisa hanyalah menyelesaikan pekerjaan mereka. Semua dokter sangat senang termasuk Hur June.

Tiba-tiba Dayang Kepala menemui Hur June dan memberitahunya kalau Pangeran Mahkota sakit parah. Hur June terkejut.

Hur June, Doji, dan dua orang perawat segera berangkat menuju Paviliun Pangeran Mahkota bersama dengan Dayang Kepala Paviliun Pangeran.

Hur June memeriksa nadi Pangeran Mahkota yang sedang menggigil kedinginan, Puteri Ryu di samping Hur June sangat khawatir dengan kondisi suaminya. Hur June tampak kebingungan saat menemukan sumber penyakit dari Pangeran Gwanghae.

Kim Gongryang menemui rekan-rekannya dan memberitahu mereka kalau Pangeran Mahkota jatuh sakit, dan tampaknya sangat parah. Semua orang terkejut. Menteri Jung bertanya apakah dokter Raja sudah memeriksanya. Kim mengiyakanya. Menteri Jung berujar jika dokter Raja dapat berpikir, ia seharusnya tahu bagaimana harus bertindak. Semuanya kelihatannya menjadi lebih mudah sekarang.

PM Sung dan rekan-rekannya menanti di luar Paviliun Pangeran Mahkota, bertanya pada Hur June yang baru saja keluar dari dalam, bagaimana keadaan Pangeran. Hur June menjawab kalau ia menderita malaria (Andy: malaria tersiana kelihatannya). Jung Jak bertanya tidakkah Hur June memiliki cukup keahlian untuk menyembuhkanya? Hur June menjawab kalau penyakitnya tidak diobati dengan benar dari awal jadi sekarang penyakitnya memburuk. Dia menderita No Hak, yang menyebabkan kedinginan dan demam pada saat bersamaan yang akan menyebabkan lemahnya energi tubuh.

* No Hak adalah malaria jangka panjang, maksudnya malaria ini melekat pada penderita dan tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, walaupun sembuh tapi ketika kondisi badan penderita menjadi lemah, maka malaria itu akan muncul kembali.

PM Sung terkejut dan bertanya apakah kalau begitu ia bisa saja meninggal. Hur June terdiam. Menteri Choi bertanya apa itu artinya kalau Hur June tidak bisa menyelamatkan Pangeran. Dulu ia menyembuhkan Pangeran Yeongchang dengan begitu baik, tapi sekarang tidak bisa menyembuhkan malaria Pangeran Mahkota? Itu kedengarannya kalau Hur June tidak mau menyembuhkannya karena ada tujuan lain di baliknya. Hur June tidak terima dan segera membentaknya. PM Sung meredakan perdebatan itu, menyuruh rekan-rekannya untuk tenang kemudian meminta Hur June agar melanjutkan perawatannya. Hur June memberi hormat kemudian dengan perasaan kesal meninggalkam mereka. Menteri Choi tidak bisa mempercayakan kesehatan Pangeran Mahkota pada Hur June dan menduga kalau ini adalah rencana busuknya, membesar-besarkan gejala biasa menjadi parah. PM Sung bimbang. Jung Jak mengatakan kalau Menteri Choi sangatlah benar. Jika memang benar Hur June mengadakan komunikasi diam-diam dengan pihak lawan maka mereka tidak tahu apa yang akan dilakukannya.  PM Sung membantahnya dan masih mempercayai kalau semua itu tak akan terjadi karena Hur June bukan orang semacam itu.

Pertemuan darurat dokter Istana, Doji meminta maaf karena ia menusuk pada titik akupungtur yang salah dan membuat penyakit Pangeran Mahkota memburuk. Hur June menghiburnya, mengatakan kalau ini bukanlah kesalahan Doji, karena sangatlah sulit untuk menemukan titik akupungtur yang diserang oleh malaria. Kim menduga kalau kondisi Pangeran Mahkota akan menjadi bertambah buruk mulai sekarang. Jika rasa dingin dan demam muncul secara bergantian, mereka dapat menggunakan obat-obatan panas dan dingin untuk memisahkan yin dan yang, tapi  keduanya muncul bersamaan, apa yang dapat mereka lakukan? Hur June menyimpulkan kalau mereka harus menggunakan obat keras untuk menyembuhkan malarianya. Doji menyahut kalau Pangeran kemungkinan besar tidak dapat menanggunnya dikarenakan kondisinya yang lemah sekarang. Hur June menganggukkan kepalanya, setuju dengan pendapat Doji. Ia sangat bingung.

Hur June mengawasi sendiri pembuatan ramuan untuk Pangeran Mahkota di ruangan ramuan bahkan ia juga turut membantu untuk merebus obat. Kim Gongryang datang menemuinya, Hur June heran dan bertanya apa yang sedang dilakukannya di tempat ini. Kim meminta untuk berbicara pribadi dengannya.

Menteri Choi sedang berjalan-jalan dan lewat di dekat ruangan ramuan Istana, dan melihat sekilas bayangan Kim Gongryang, ia segera menyusul dan melihat Kim Gongryang sedang berbicara pada Hur June dan tampaknya sangat serius.

Hur June memeriksa nadi dari Pangeran Gwanghwae, yang masih menggigil terus kedinginan. Ia merasa sangat masygul karena masih belum mendapatkan pengobatan yang aman bagi pangeran, yang kondisinya semakin memburuk. Pangeran Gwanghae menggerakkan tangannya dengan lemah, memegang tangan Hur June. Hur June kaget dan segera menggenggam tangan Pangeran dengan kedua tangannya, berseru memanggilnya. Pangeran Gwanghae memaksakan dirinya mengatakan kalau ia mempercayai Hur June…..  Hur June sangat terharu dan matanya berkaca-kaca, perasaan kasihnya terpancar di matanya. Hur June menunduk, air mata turun ke pipinya.

(Andy: Ingat kalau dari kecil yang menjaga dan merawat Pangeran Imhae dan Gwanghae adalah Hur June, apalagi Hur June sangat respek pada ibu mereka, Gong Bin Mama dan berusaha untuk melakukan wasiatnya. Walaupun di serial ini mungkin hanya sekilas-sekilas, tapi aku membayangkan betapa Hur June sangat menaruh perasaan khusus pada kedua anak Gong Bin, dan menganggap mereka seperti anaknya sendiri.)

Hujan deras turun, Hur June mencari hawa segar di luar Paviliun Pangeran Mahkota.  Ia merenungkan cara yang tepat untuk menyembuhkan penyakit Malaria dari Pangeran Mahkota. Akhirnya Hur June mengambil keputusan nekat tapi ia yakin kalau ini adalah satu-satunya cara yang tersisa.

Hur June memerintahkan para petugas ramuan untuk berkumpul, kemudian menyuruh mereka untuk pergi keluar dan mengumpulkan air hujan sekarang juga. Ohgun terkejut dan bertanya air hujan? Hur June mengatakan kalau ini sangatlah mendesak dan menyuruh mereka bergegas. Semua orang bingung, Ohgun segera memerintahkan anakbuahnya untuk melakukan tugas dari Hur June.

Para petugas ramuan berhujan-hujan ria, membawa ember untuk menadahi air hujan seperti yang diminta oleh dokter Raja. Mereka sangat heran dan tidak mengerti, tapi karena ini adalah perintah dari atasan maka mereka hanya melakukannya walaupun dirasa tidak masuk akal.

Hur June dan Ohgun menanti di gudang obat Istana. Hur June sangat gelisah hatinya, ia berjalan mondar-mandir di tempatnya berdiri sementara tangannya berulangkali saling mengusap. Hur June kemudian mengambil kotak obat beracun dari atas lemari dan membukanya, ia mengambil sebuah bungkusan kemudian mengangkat sendok. Ohgun terkejut dan bertanya bukankah itu adalah racun arsenik. Hur June meliriknya kemudian menetapkan hati dan menyendok racun itu kemudian mengangkat sendok lalu memandanginya …..

28 comments on “Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 61

    • Mungkin ngak ada cerita lanjutan tentang ye jin sebab tidak ada lagi diriwayatkan dalam sejarahnya barangkali yaa. Atau kita minta produsernya buatkan lanjutan kisah rekaan tentang nasib ye jin selanjutnya khusus buat Risna ? hmmmm para pemuja cinta platonis.

  1. tp waktu ngungsi ke pyongyang itu,,tandu yg diusung cm raja,,inbin,sm anaknya… harusnya kan puluhan tandu kalo anak istri diboyong semua.. makanya aneh,,tiba2 ada ratu inmok lg,,hehehe

    • Mungkin Raja udah ga tertarik lagi ama Inbin, atau seperti Raja Sukjong di Dong Yi, yang mana Dewan Menteri meminta raja untuk memilih Ratu dari kalangan bangsawan yang terhormat, atau rajanya suka daun muda ….😛

  2. Aduh sport jantung lg nih para fans, sembuh ga p.gwanghae? Blom ada kina ya kang andy? Kalo p.imhae kmn, ko ga ada ceritanya…… Apa ntar bukunya selesai disusun? Kalo ga berpihak ke salah satu faksi, gmn kalo difitnah kayak jenderal lee? Ditunggu lanjutannya…..

      • Koh Andy … aku makin enggak ngerti mengenai arsenik yang disendok Hur June.
        Bukankah arsenik zaman lampau banyak digunakan untuk penyakit gonorhea ( dengan takaran tertentu) sebelum ditemukannya peniccillin, zulfa atau anti biotik yang kita kenal sekarang ?
        Lalu kaitannya dengan penyakit malaria … apa sih Koh Andy ? Apakah arsen tersebut untuk Pengeran Gwanghae atau ……. Wah tambah penasaran aja !

        • emang diputus sampe di situ dari filmnya supaya buat kalian penasaran aahahahaah …. betul katamu alika kalau jaman dulu arsenik juga termasuk salah satu obat kelas rendah (beracun) yang sangat dibatasi penggunaannya. kenapa bisa arsenik digunakan untuk malaria …. wah aku sendiri juga ga ngerti, tapi ini khan Hur June yang buat resepnya ya mestinya manjur donk … siapa dulu wong Hur June, dokter no 1 di korea😛

  3. kykny eps 62ny bsk ya?btw mas andy kulakan jamuny tradisional jawa ato jamu tiongkok cina? Racikan sendiri kyk yg suka d buat dr hur ato jual jd kyk ilsuh..

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s