Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 62

Para petugas ramuan berhujan-hujan ria, membawa ember untuk menadahi air hujan seperti yang diminta oleh dokter Raja. Mereka sangat heran dan tidak mengerti, tapi karena ini adalah perintah dari atasan maka mereka hanya melakukannya walaupun dirasa tidak masuk akal.

Hur June dan Ohgun menanti di gudang obat Istana. Hur June sangat gelisah hatinya, ia berjalan mondar-mandir di tempatnya berdiri sementara tangannya berulangkali saling mengusap. Hur June kemudian mengambil kotak obat beracun dari atas lemari dan membukanya, ia mengambil sebuah bungkusan kemudian mengangkat sendok. Ohgun terkejut dan bertanya bukankah itu adalah racun arsenik. Hur June meliriknya kemudian menetapkan hati dan menyendok racun itu dan memandanginya …..

* Racun Arsenik adalah salah satu bahan obat yang racunnya sangat kuat, biasa digunakan untuk mengobati kelumpuhan, sesak napas, dan malaria.

Seorang petugas ramuan datang membawa dua ember air hujan ke dalam gudang obat lalu pergi. Hur June kemudian menatap Ohgun dengan tajam, menyuruhnya untuk mendengarkan dirinya dengan seksama dan membuatkan ramuan tepat seperti yang ia instruksikan. Ohgun mengiyakannya.

Hur June: Ambil 4 gram racun arsenik, 8 gram garam, campurkan ke dalam 600 gram air hujan kemudian rebuslah dengan api kecil sampai kau dapatkan 450 gram.

Ohgun: (mengulangi) 4 gram racun arsenik, 8 gram garam, dan 600 gram air hujan.  (Ohgun heran) Tuan, aku sudah bekerja selama beberapa tahuh sebagai pencatat catatan kesehatan sampai menjadi seorang petugas di gudang ramuan, tapi tidak pernah mendengar ramuan semacam itu. Apa itu sebenarnya?

Hur June: Itu disebut dengan Shin Seok Soo Mo.

Ohgun: Shin Seok Soo Mo?

Hur June: Itu adalah obat untuk menyembuhkan malaria.

Ohgun: Racun arsenik juga diikutkan, tidakkah ramuan itu berbahaya karena mengandung racun itu?

Hur June: Aku akan bertanggungjawab, jadi tolong buatlah ramuan itu.

Hur June pergi meninggalkan Ohgun yang merinding ketakutan ….

Hur June merenung di kantor Departemen Medis. Hujan masih turun dengan derasnya dan sesekali cahaya kilat menyambar-nyambar  di luar ruangan. Hur June berulangkali menghela napas. Merasakan beban yang sangat berat ada di dalam dadanya.

Ohgun sedang merebut ramuan obat persis seperti yang diminta oleh Hur June, tapi ia masih saja tidak tenang, berulangkali terkejut saat mendengar suara kilat maupun saat cahayanya sampai ke dalam ruangan. Ia menarik napas melegakan hatinya kemudian melanjutkan lagi mengipasi api rebusan.

Pagi hari menjelang, Ohgun menemui Doji dan membisikkan sesuatu padanya. Doji terkejut dan bertanya benarkah itu. Ohgun menjawab kalau ia tidak pernah mendengar ramuan semacam itu. Doji gugup dan bertanya di mana sekarang dokter Raja. Ohgun menjawab seharunya ia ada di kantornya.

Tampak sebuah buku pengobatan terbukan di hadapan Hur June. Tapi Hur June sendiri sedang memejamkan matanya dan menghela napas. Doji masuk dengan terburu-buru dan menghadap Hur June, bertanya apa yang dimaksud dengan Shin Seok Soo Mo. Hur June memandangnya kemudian menunduk. Doji bertanya apakah ia benar-benar akan memberikannya pada Pangeran Mahkota.  Hur June mengangguk mengiyakannya. Doji terkejut dan cemas, bertanya bagaimana jika sesuatu terjadi pada Pangeran Mahkota. Hur June menjawab kalau ia yang akan bertanggungjawab, jadi tidak usah terlalu khawatir. Hur June bangun dan keluar ruangan. Doji masih tertegun di tempatnya, bingung sekaligus cemas dengan tindakan Hur June.

Puteri Ryu merawat suaminya dengan perasaan khawatir. Dua orang perawat membantunya. PM Sung, Jung Jak, dan Menteri Choi menunggui dengan setia. Puteri Ryu bertanya sudah tiga hari tidak ada kemajuan, apa yang harus mereka lakukan.  Ketiga Menteri tidak dapat menjawab hanya menundukkan kepala sebagai tanda penyesalan. Tiba-tiba tedengar suara menyatakan kedatangan dokter Raja. Puteri Ryu mempersilahkannya masuk, kemudian bersama dengan perawat membantu suaminya untuk duduk.

Hur June masuk diiringi Sehee yang membawa ramuan dan langusng menuju ke hadapan Pangeran Mahkota kemudian duduk di depannya. Sehee menaruh ramuan di hadapan Hur June dan Pangeran, kemudian membuka kainnya. Hur June menyatakan kalau ini ramuan obatnya. Menteri Choi curiga dan membuka suara menahan Hur June memberikan mangkuk obat pada Pangeran. Menteri Choi bertanya apakah itu sudah diperiksa. Hur June tenang saja dan menjawab tidak. Menteri Choi tidak terima, itu untuk  Pangeran dan tidak diperiksa?. PM Sung menyela kalau dokter Raja sendiri yang menyajikannya sendiri jadi tidak ada perlunya. Tapi Menteri Choi bersikeras agar ramuan itu tetap diperiksa kemudian berseru pada Dayang Kepala di luar untuk masuk dan memeriksa ramuan obat. Pangeran Gwanghae tidak enak dengan Hur June dan menyatakan kalau itu tidak perlu, ia akan meminumnya. Menteri Choi menolaknya, menyembah dan mengatakan kalau negara ini bergantung pada kehidupan Pangeran Gwanghae. Ia ingin mencegah hal-hal yang buruk, jadi ia memohon agar diijinkan untuk melakukannya. Ia kemudian memerintahkan Dayang Kepala untuk memeriksa.

Dayang Kepala segera maju, mengeluarkan sendok perak dari balik bajunya dan mencelupkannya pada mangkuk yang berisi ramuan obat. Hur June tahu kalau sebentar lagi kekacauan akan timbul, ia tidak takut dengan segala macam tuduhan hanya saja ia tidak tahu apakah sang Pangeran Mahkota akan mempercayainya penuh seperti yang telah dikatakannya sebelum ini.

Sendok perak diangkat dan terlihat kehitaman, pertanda ada racun di dalam ramuan itu. Para menteri terkejut, Menteri Choi segera berseru kalau ada racun dalam ramuan itu.  Puteri Ryu tidak menyangka dan terkejut menatap Hur June. Pangeran Gwanghae juga tampak tidak percaya kalau Hur June bisa melakukan ini, mau meracuninya. Ia menatap Hur June. PM Sung segera membentak dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Hur June tetap tenang dan menjawab kalau itu adalah ramuan obat untuk mengobati penyakit malaria. PM Sun tidak mempercayainya begitu saja dan bertanya lagi, kalau begitu kenapa ada racun di dalamnya. Hur June menjawab karena ia menggunakan racun arsenik. Dayang Kepala kembali ke tempatnya sambil membawa sendok perak tadi. Jung Jak (ingat dia juga dokter) bertanya arsenik? Ramuan macam apa yang menggunakan arsenik sebagai bahan utamanya. Hur June menjawab kalau ramuan itu disebut Shin Seok Soo Mo. Jung Jak terkejut dan berkata kalau ia sudah menjadi dokter Istana selama bertahun-tahun tapi dirinya tidak pernah mendengar atau melihat ramuan semacam itu sebelumnya. Hur June masih dengan kalemnya menyahut kalau racun arsenik digunakan sebagai bahan utama, dan digunakan sebanyak 4 gram bersama dengan 8 gram garam, dan 600 gram air, kemudian merebutsnya di api kecil sampai tersisa 450 garam. Inilah yang disebut dengan resep Shin Seok Soo Mo. Dan 38 gram Shin Seok Soo Mo yang dilarutkan dalam 450 gram air murni adalah ramuan yang ada sekarang di sini.  Ramuan ini sangat istimewa dalam mengobati penyakit malaria yang serius.  Hur June meminta pada Pangeran Gwanghae untuk mempercayainya dan meminum ramuan itu.  Menteri Choi menentangnya dan meminta Pangeran Gwanghae untuk tidak meminumnya karena ada racun di dalamnya. Hur June menyahut kalau racun dapat menjadi bahan obat jika digunakan dengan tepat dan meminta Pangeran Gwanghae sekali lagi untuk mempercayai dirinya. Menteri Choi berseru lagi dan meminta Pangeran agar tidak meminumnya. Hur June tetap meminta agar Pangeran Gwanghae meminumnya.

Pangeran Gwanghae bimbang, ia tidak tahu mana yang bisa ia percayai. Menteri Choi masih berseru agar Pangeran tidak meminum ramuan itu. Hur June kemudian menjelaskan kalau Pangeran Gwanghae tidak mengobati malarianya sekarang maka hidupnya akan dalam bahaya dan meminta agar Pangeran meminumnya. Tapi Menteri Choi sangat murka dan menyuruh Hur June tutup mulut. Meminta Pangeran meminum racun, itu adalah tindakan sinting dari seorang dokter Raja. Hur June tidak peduli dan memohon pada Pangeran Gwanghae. Pangeran Gwanghae tampak bimbang, Hur June yang melihat perubahan wajahnya menjadi masgyul, tapi tiba-tiba Pangearn Gwanghae dengan suara pelan mengatakan kalau ia akan meminum ramuan obat itu. Semua orang terkejut. Pangeran Gwanghae mengatakan kalau ia  mempercayai Hur June, jadi ia akan meminumnya. Puteri Ryu cemas.

Pangeran Gwanghae tidak ambil pusing lagi dengan semua seruan menteri-menterinya, ia mengambil mangkuk obat itu dari tangan Hur June, ia segera meneguk ramuan beracun itu, mempercayakan hidupnya pada dokter Hur, dokter yang telah merawatnya sejak kecil dan satu-satunya dokter yang dipercayai oleh ibunya bahkan sampai menjelang kematiannya. Hur June sendiri sangat senang dan terharu karena kepercayaan yang diberikan oleh Pangeran Gwanghae, ia menunduk dalam pada Pangeran Gwanghae. Semua orang sangat cemas dengan keselamatan jiwa sang Pangeran yang telah meminum ramuan beracun itu.

Seorang kasim berlari tergesa-gesa dari Paviliun Pangeran Gwanghae, ternyata ia seorang mata-mata yang telah disuap oleh pihak Wakil PM dan Kim Gongryang. Ia menemui Kim dan memberitahunya kejadian di Paviliun Pangeran Mahkota. Kim tampak shock.

Menteri Jung terkejut sekali saat mendengar kabar dari Kim, bertanya apa itu benar. Kim mengangguk mengiyakanya, bahkan dokter Raja sendiri yang menyajikannya dan sendok perak yang digunakan untuk menguji berubah warnanya. Wakil PM bertanya apakah ada racum atau yang semacam itu di dalam ramuannya. Kim mengiyakannya, ia mendengar kalau mereka mengatakan itu adalah racun arsenik. Kemudian Menteri Jung bertanya apakah sang Pangeran benar-benar meminumnya. Kim mengiyakannya. Menteri Jung tersenyum senang dan berseru kalau para dewa ada di pihak mereka sekarang.

Ohgun memberitahu para dokter Istana, yang menjadi terkejut mendengar tindakan Hur June. Kim Mangyung bertanya apakah dokter Raja benar-benar menyajikan ramuan yang mengandung racun arsenik. Ohgun mengiyakannya, ia sendiri yang membuat ramuan itu. Jang Hak Do bertanya berapa banyak racun arsenik? 4 gram jawab Ohgun. Semua dokter terkejut. Begitu banyak?, tanya Lee Myung Won. Sanghwa bertanya bukankah racun arsenik tidak selalu dianggap sebagai racun? Ia mengerti kalau itu juga biasa digunakan untuk mengobati kelumpuhan, sesak napas, dan muntah-muntah. Kim menggoyangkan tangannya dan menjelaskan kalau dokter Istana menggunakan bahan obat lain yang mempunyai khasiat yang sama.walaupun racun arsenik dibutuhkan. Jika seseorang bersikeras menggunakan obat yang dapat menyebabkan masalah, maka itu akan membawanya pada kematian. Dan sekarang dokter Raja menggunakan racun arsenik sebagai bahan utama. Lee menimpali, dan jumlahnya 4 gram. Dengan kondisi Pangeran sekarang, bukankah itu sama saja dengan meracuninya. Kim mengangguk mengiyakan, ia sangat cemas. Jang juga memberitahu Ohgun, jika terjadi sesuatu yang buruk, bukan hanya dokter Raja tapi Ohgun yang membuatnya juga tidak akan hidup. Ohgun sangat terkejut dan bertanya mengapa bisa? Ia hanya membuatnya berdasarkan resep yang dibuat oleh dokter Raja.

Hongchun sedang menghukum Chae Ryung karena telah bercanda dan tertawa-tawa dengan para petugas ramuan. Ia memerintahkan Sehee untuk memberikan hukuman keras. Sehee menyuruh Chae Ryung untuk mengangkat roknya kemudian memukuli betis Chae Ryung di bagian belakang. Chae Ryung menahan sakit dan tangis. Tiba-tiba Ohgun berlari-lari dan berseru-seru memanggil namanya, semua perawat tertawa, kecuali Chae Ryung dan Hongchun sendiri yang malu dengan kelakuan suaminya.. Ohgun tersadar dan memanggil istrinya dengan Kepala Perawat. Ia ingin berbicara berdua dengan istrinya itu.

Hongchun menegur suaminya, jika Ohgun terus-terusan berlaku seperti ini, bagaimana ia menghadapai para gadis-gadis perawat anakbuahnya itu. Ohgun menyesal dan meminta maaf, tapi bagaimana ia bisa berpikiran jernih jika ia bisa saja dihukuum mati. Hongchun terkejut dan betanya apa maksud perkataannya itu. Ohgun dengan wajah memelas memberitahunya kalau dengan kedua tangannya itu ia telah menaruh racun arsenik di ramuan Pangeran Mahkota. Hongchun terperanjat. Dan jika Pangeran Mahkota meninggal setelah meminum itu, maka ia akan dhukum mati segera. Jika terjadi sesuatu pada dirinya, apa yang akan terjadi kelak pada istri dan anak gadis mereka, Jung Hwa? (Andy : Loh koq ???…. Aku dapet yang episode kapan hari nyebutnya “he”, “him” dan “son” kenapa sekarang jadi “daughter” ? ,, buset ga bener deh yang buat subtitle … L ) Hongchu masih tidak mengerti dan menyuruhnya untuk menjelaskannya dengan perlahan-lahan. Apa maksudnya ia menaruh racuh arsenik ke dalam ramuan?

Pangeran Gwanghae masih menggigil saja bahkan lebih parah. Hur June, Doji, dan beberapa perawat Istana sedang mengawasi kondisi Pangeran. Doji sangat cemas dan mengatakan kalau kelihatannya kondisi Pangeran justru memburuk dan meminta agar Hur June menggunakan ramuan lain untuk menetralisir racunnya. Jika Pangeran meninggal tiba-tiba maka Hur June yang akan dituduh membunuhnya dengan racun. Hur June tetap tenang dan justru memberitahu Doji kalau setelah beberapa jam lagi ia akan memberikan ramuan yang sama pada Pangeran jadi ia menyuruh mereka mempersiapkan segalanya. Doji terkejut dan rasa cemasnya bertambah besar, ia tidak ingin melihat Hur June jatuh ke jurang yang dalam.

Menteri Choi, Jung Jak dan PM Sung menunggu di luar Paviliun. Menteri Choi mendesak pada PM Sung, sampai kapan ia terus menunggu, mereka seharunya menurunkannya dari posisinya sekarang. PM Sung menyuruh mereka semua untuk mempercayainya lagipula tidak ada yang bisa mereka lakukan sekarang.  Menteri Choi masih berusaha mengubah pendirian PM Sung, menuduh Hur June telah bekerja sama dengan pihak pendukung Pangeran Yeongchang. Bagaimana mereka bisa mempercayainya. Bukankah  PM Sung melihat dengan matanya sendiri kalau Hur June memberikan ramuan beracun pada Putera Mahkota.

Tiba-tiba Hur June datang menemui mereka. PM Sung bertanya  apa ada kemajuan. Hur June menjawab kalau mereka perlu menunggu lagi. Menteri Choi bertanya menunggu lagi? Apa yang ia maksudkan mereka harus menunggu sampai Pangeran Mahkota mati di tangannya. Hur June terkejut. PM Sung sendiri tidak menyangka rekannya itu bisa begitu kasar dan menegurnya. Tapi Menteri Choi sudah tidak bisa menahan lagi, bukankah setelah Hur June melakukan pengobatannya itu justru kondisinya tambah memburuk. Hur June segera menyahut kalau Pangeran sedang membaik. Ia menegur Menteri Choi, jangan membuat keputusan dengan mudah hanya dengan melihat pada gejala yang muncul. Energi yang kuat dari racun arsenik mungkin sekarang sedang menekan energi mematikan dari malaria. Alasan mengapa ia menderita demam tinggi karena energi yang jahat dari dalam tubuh sedang didesak keluar. “Menyembuhkan seorang pasien adalah tugas dari seorang dokter” ujar Hur June dan segera mengusir mereka pergi. Tiba-tiba Menteri Jung dan Kim Gongryang datang dan bertanya apa yang terjadi. PM Sung balik bertanya apa yang mereka lakukan di tempat ini. Menteri Jung bertanya apa maksud pertanyaannya itu,  tentu saja mereka harus datang kemari sebagai seorang bawahan. dan menengok keadaan Pangeran  PM Sung hanya tersenyum kecil. Kim Gongryang mendengar kalau mereka memberikan masa sulit bagi dokter Raja. Dan bertanya bukankah dokter Raja tidak akan bisa melakukan tugasnya dengan baik jika mereka terus saja melakukan hal seperti itu. Menteri Choi yang merasa disindir mau berbantahan tapi PM Sung segera bertindak, memberitahu mereka kalau Pangeran tidak bisa menemui mereka sekarang. Menteri Jung heran dan bertanya benarkah begitu? Kalau begitu kondisinya lebih serius daripada yang ia dengar. Jung Jak gusar dan memandang Menteri Jung dengan pandangan tajam. Hur June berusaha keluar dari pertikaian yang konyol itu dan berpamitan, tapi Menteri Jung menasehatinya kalau tanggungjawabnya sangat penting, jadi lakukan yang terbaik dan sembuhkanlah Pangeran. Hur June berbalik, menghormat dan mengiyakannya. Menteri Jung menoleh pada PM Sung dan yang lainnya kemudian beranjak pergi. PM Sung dan rekan-rekannya mengawasi kepergian Menteri Jung dan Kim Gongryang dengan perasaan kesal.

Hur June di ruang ramuan sedang memberikan instruksinya pada Ohgun dan yang lain. Lee Myung Won dan Kim Mangyung datang menemuinya, bertanya bagaimana keadaan Pangeran sekarang. Hur June menjawab kalau ia masih belum bisa memastikannya sekarang. Kim merasa kalau sekarang adalah satu tindakan yang ceroboh. Hur June menyahut kalau semuanya akan baik-baik saja sehingga meminta mereka tidak usah cemas dan melanjutkan usaha penyusunan buku. Keduanya memberi hormat. Tiba-tiba seorang kasim datang menyeruak di antara Kim dan Lee, menghadap pada Hur June memberitahunya kalau Menteri Jung Sung Pil ingin bertemu dengannya. Hur June heran.

Hur June menemui Menteri Jung dan Kim Gongryang yang sedang bersama dengannya.  Hur June bertanya mengapa mereka ingin bertemu dengannya. Kim menyuruhnya duduk baru berbicara dengan nyaman.

Hur June bangkit berdiri dan gusar, bertanya apa maksud perkataan mereka. Menteri Jung menjawab kalau Hur June lebih mengerti maksud mereka. Bukankah itu alasannya ia mencampur ramuan dengan racun arsenik. Hur June tak percaya, tindakannya itu dikira ingin membunuh pangeran. Menterri Jung menyatakan jika ia dapat mewujudkannya, pihaknya akan ada di belakang Hur June, jadi tidak usah mencemaskan apapun.  Hur June membentak dengan keras, apa yang sedang ia bicarakan. Menteri Jung terkejut. Hur June menegur mereka, bagaimana bisa sebagai seorang pejabat senior ia mengatakan hal yang jahat seperti itu. Racun arsenik yang ada dalam ramuan Pangeran adalah obat bukan racun. Hur June dengan tegas menyatakan kalau Pangeran pasti akan membaik. Bahkan ia bersumpah, apapun yang terjadi ia akan menyembuhkannya. Hur June pergi dengan marah, tidak berpamitan pada mereka berdua. Kedua menteri itu terkejut dengan sikap Hur June.

Hur June keluar dari kantor Menteri Jung dengan perasaan gusar dan tak percaya.

Kim mengatakan, jika Pangeran sembuh maka semuanya akan kembali seperti sedia kala. Menteri Jung merasa kalau masih ada kesempatan, dokter Raja masih melanjutkan memberikan ramuan dengan racun arsenik. Jika mereka mencampurkan lebih banyak racun itu di dalamnya …. Maka itu akan menjadi racun bukan obat lagi. Kim Gongryang tertarik dengan pemikiran ini. Menteri Jung percaya kalau Pangeran Mahkota pasti meminum racun arsenik itu dan akhirnya mati. Tentu saja, semua tanggungjawab akan dilimpahkan pada dokter Raja. Kim tampak berpikir dan kemudian menyadari betapa bagusnya rencana ini.

Hur June sedang merawat Pangeran Mahkota yang masih menggigil. Hur June sangat bersedih melihatnya seperti ini dan tiba-tiba teringat lagi wasiat mendiang Gong Bin.

Gong Bin Mama: Kumohon rawatlah para pangeran. Bukan hanya kesehatan mereka tapi juga keseluruhan hidup mereka dengan pribadimu yang tulus.

 

Mata Hur June berkaca-kaca,

Hur June: Chou Ha, bukalah matamu. Aku tahu kalau energi racun itu membuatmu sangat kesakitan. Aku sungguh-sungguh tahu itu. Tapi kau harus melawannya. Kau harus melawannya supaya dapat tetap hidup. Seperti kau sudah mempercayaiku dan meminum ramuan obat itu,  aku juga mempercayaimu. Aku percaya kalau kau cukup kuat untuk melawan rasa sakit dan menang atasnya. Kumohon, bertahanlah.

…. Gwanghae tampak beberapa kali membuka mulutnya, seperti akan mengatakan sesuatu. Hur June menangis sedih melihat Pangeran Gwanghae begitu menderita…

Doji pergi ke ruang ramuan mau mengambil ramuan obat, ia menemui Ohgun, yang bertanya apakah dokter Raja masih bersama dengan Pangeran Mahkoa. Doji mengiyakannya dan mengambil nampan ramuan dari Ohgun. Seorang petugas ramuan mengintip mereka berdua. Ohgun mengatakan kalau ia sangat khawatir dengan kesehatan Hur June karena sudah tidak tidur selama 3 malam. Doji memberitahunya kalau ramuan berikutnya harus siap pada pukul 6 pagi. Ohgun mengiyakannya. Petugas ramuan itu segera menyembunyikan diri ketika melihat Doji beranjak pergi.

Malam hari, Kim Gongryang menemui Menteri Jung di gibang dan memberitahunya kalau semuanya sudah siap. Menteri Jung mengangguk senang.

Pagi hari menjelang, Hur June menunggui terus Pangeran Mahkota, yang sekarang sudah terlihat lebih baikan, tidak menggigil dan tertidur dengan pulas.  Hur June menyeka keringat di wajah Pangeran Mahkota. Hur June merasa pundaknya sangat pegal dan tubuhnya kecapekan, tiba-tiba ia sedikit terbatuk-batuk. Para perawat melihatnya dengan cemas.

Seorang petugas ramuan (yang tadi mengintip) dengan gemetar memindahkan isi dari ramuan obat untuk Pangeran Mahkota ke mangkuk lain kemudian mengembalikannya ke posisi semula. Doji dan Sehee datang untuk mengambil ramuan, Doji heran kemana Lim Ohgun, petugas itu menjawab kalau Tuan Lim sudah tidak pulang ke rumahnya beberapa hari, jadi ia bertugas menggantikannya. Doji tidak memperpanjang masalah dan meminta ramuannya. Dengan tangan gemetar, petugas tadi memberikannya pada Sehee, yang langsung membawanya bersama dengan Doji tanpa curiaga sedikitpun. Petugas tadi lega karena tidak ada yang curiga.

Hur June dan Sehee segera bergegas menuju ke Paviliun Pangeran Mahkota.

Di kamar Pangeran Gwanghae, Hur June tertidur di pojok ruangan karena sangat kelelahan. Pangeran Gwanghae juga masih tertidur, tapi perlahan-lahan jari-jarinya bergerak.

Doji dan Sehee sampai di depan Paviliun ditemui oleh para Dayang yang mengiringi mereka berdua masuk ke dalam.

Hur June masih tertidur pulas di pojokan. Pangeran Gwanghae mulai membuka matanya dan mengawasi ke sekeliling, melihat Hur June tertidur. Hur June sendiri mulai terbangun dan mengerjapkan mata, langsung teringat pada Pangeran Gwanghae dan mengawasinya, terkejut saat melihat Pangeran Gwanghae sudah membuka matanya. Hur June segera beringsut menghampiri Gwanghae. Ia bertanya apakah Pangeran sudah baikan. Pangeran Gwanghae tampak masih lemah, tapi tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya. Hur June segera memeriksa tangan dan dahi Pangeran, ternyata sudah tidak demam lagi, suhu badannya sudah normal, Hur June sangat senang.  Pangeran bertanya bagaimana sekarang keadaannya. Hur June berkaca-kaca, menjawab kalau demamnya sudah turun. Pangeran  menyahut bukankah Hur June sendiri yang telah mengatakan kalau dirinya akan menjadi lebih baik dengan ramuan itu. Hur June sangat terharu sekaligus merasa sangat gembira melihat Gwanghae sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pulih, air matanya menetes jatuh.

Para dayang yang menjaga di luar mendengar percakapan itu dan mengenali suara Pangeran walaupun masih lemah. Mereka menduga kalau Pangeran sudah bangun. Dayang Kepala dan Doji datang, melihat keduanya sedang berbisik-bisk, bertanya apa yang terjadi. Seorang dayang menjawab kalau Pangeran telah sadar kembali. Doji terkejut dan tersenyum senang.

Hur June sedang menunggui Pangeran, yang sudah tidur lagi. Doji masuk dan menghampirinya, mengatakan kalau ia mendengar Pangeran sudah sadar lagi. Hur June tersenyum senang, membenarkannya dan sekarang Pangeran kembali tidur. Doji  merasa lega, bertanya bagaimana kondisinya. Hur June menjawab kalau Malarianya sudah hilang. Doji sekarang benar-benar merasa plong, juga Sehee, mereka berdua teresnyum gembira. Hur June menyatakan kalau dirinya berhutang banyak pada Doji dan berterima kasih padanya. Doji menunduk hormat, ia yakin sekarang kalau Hur June berhasil dengan pengobatannya yang tidak masuk akal itu. Doji kemudian membuka kain penutup ramuan dan mengangsurkannya pada Hur June, bertanya apa yang akan Hur June lakukan dengan ramuan itu. Hur June menatap ramuan itu. Doji bertanya tidakkah lebih baik tetap memberikannya pada Pangeran beberapa kali untuk benar-benar menghentikan penyebaran penyakit demi kebaikannya.  Hur June berpikir sebentar kemudian mengambil mangkuk ramuan itu, akan membangunkan Pangeran dan memberikannya  untuk diminum, tapi kemudian ia ragu-ragu dan membatalkan niatnya. Hur June berpaling pada Doji dan mengatakan kalau Pangeran sudah kehabisan tenaga (karena melawan penyakit) jadi untuk memulihkan kembali kekuatannya, ia rasa lebih baik memberinya ramuan yang umum saja.  Doji mengambil kembali mangkuk obat dan mengiyakannya.

Kim Gongryang menemui Menteri Jung, yang bertanya bagaimana hasilnya. Kim memberitahu kalau ia mendengar Pangeran sudah pulih. Menteri Jung terkejut. Kim menduga pasti ada yang salah. Mereka berdua masygul karena rencana bagus mereka entah kenapa. tidak berhasil. Kim melihat Raja disertai para menteri sedang berjalan ke arah Paviliun Pangeran Mahkota.

Unyun membawa suaminya, Jang Man Duk menemui ayahnya di toko. Man Duk ingin berbicara dengan ayah mertuanya, tapi Ilsuh tidak mau karena ia sendiri tidak ingin berbicara dengan menantunya itu, tapi Unyun segera berteriak marah, Ilsuh merasa apa boleh buat dan menghampirir menantunya itu, dan bertanya apa yang ia ingin bicarakan. Unyun mengatakan kalau menurut suaminya, seseorang tidak usah mengikuti ujian nasional medis untuk menjadi dokter Istana. Ilsuh bertanya apa itu artinya menantunya itu mengetahui ada jalan belakang atau semacam itu. Jang membantahnya, bukan jalan belakang tapi rekomendasi. Yangtae bertanya rekomendasi? Man Duk mengiyakannya, jika seseorang yang berkuasa merekomendasikan dirinya maka ia dapat masuk Istana dan menjadi dokter. Ilsuh tidak percaya ini dan bertanya siapa yang akan merekomendasikannya, ia suka melirik para gadis dan berjudi. Siapa yang bersedia merekomendasikannya? Unyun marah dengan ayahnya yang ia rasa begitu menghina suaminya. Ilsuh tidak peduli dan menyuruh mereka berdua berhenti bicara omongkosong dan pergi saja. Manduk memohon pada ayah mertuanya, ia dengar kalau Ilsuh memiliki seorang teman yang menjadi dokter Raja di Istana. Jika dokter Raja sendiri yang merekomendasikannya maka ia akan dapat menjadi dokter Istana. Manduk memohon dengan sangat agar ayah mertuanya membantu dirinya. Ilsuh bimbang dan bertanya apa Manduk yakin ia bisa menjadi seorang dokter hanya dengan rekomendasi? Jang Man Duk segera menganggukkan kepalanya berulangkali, mengiyakan. Yangtae mengatakan kalau itu tidak akan mungkin terjadi, June tidak akan mau merekomendasikan sembarangan orang. Ilsuh gantian tersinggung dan mengamuk, ia mendorong Yangrtae berulangkali mengatakan apanya yang orang sembarangan? Siapa orang sembarangan? Dia itu anak menantunya. Yangtae menggelengkan kepalanya melihat kebodohan si Ilsuh.

Ilsuh memberitahu Haman mengenai keinginannya untuk mendapatkan surat rekomendasi dari Hur June. Haman tidak mempercayainya juga. Ilsuh menjelaskan kalau Manduk mendapatkannya maka ia bisa menjadi seorang dokter Istana. Jadi Ilsuh berencana untuk menemui Hur June dan menyuruh istrinya untuk mempersiapkan segalanya. Haman tidak mengerti dan bertanya mempersiapkan apa? Ilsuh kesal dan menyebut istrinya sebagai orang bodoh. Ia ingin pergi ke rumah Hur June untuk mengajukan permohonan jadi tidak mungkin kan ia pergi bertangan kosong. Haman baru mengerti dan segera masuk ke dalam rumah untuk mempersiapkan hadiah.

Ohgun datang menemui Ilsuh dan bertanya kabarnya. Ilsuh sangat senang melihat Ohgun. Ohgun heran dan bertanya mengapa Ilsuh kelihatannya sangat senang melihatnya. Ilsuh kesal dan bertanya sejak kapan ia tidak senang melihatn Ohgun datang, kemudian ia mengatakan kalau dirinya bagaimanapun juga sebenarnya ingin menemui Ohgun juga. Ohgun heran. Ilsuh segera memanggil menantunya dan menyuruhnya memberi hormat pada Ohgun. Manduk segera menghampiri mereka, menyapa dan memberi hormat pada Ohgun. Ohgun berlagak angkuh, mengangguk-anggukkan kepalanya. Ilsuh mendengar kalau ada jalan lain untuk menjadi dokter Istana selain mengikuti ujian nasional dan bertanya apa Ohgun mengetahuinya. Ohgun bertanya, jalan lain? Apa maksudnya jalan belakang? Ilsuh menggoyang-goyangkan tangan membantahnya, bukan itu. Jika seseorang mendapatkan surat rekomendari dari orang berkuasa seperti June maka ia dapat menjadi seorang dokter Istana, apakah memang benar begitu? Ohgun menjawab memang ada sedikit orang yang seperti itu, tapi itu hanya untuk orang-orang yang memang sangat bagus. Tapi ia dengar justru menantunya Ilsuh itu adalah seorang yang hanya jago perempuan dan kerjanya hanya berjudi saja.

Ilsuh kelabakan dan bertanya pada anaknya apa saja keahlian yang ia miliki. Jang Manduk ragu-ragu menjawab kalau ia bagus dalam hal pemijatan dan energi. Ilsuh ragu-ragu dan bertanya apakah memijat juga termasuk keahlian medis. Ohgun menyebutnya sangat tolol dan menjelaskan kalau itu juga termasuk salah satu bagian dari teknik pengobatan. Ohgun kemudian bertanya darimana Jang mendapatkan keahlian memijat itu. Jang menjawab kalau ia dulunya adalah bocah rahib di Kuil Woon Bong yang terletak di Gunung Keum Tae dan ia belajar di bawah bimbingan dari kepala Kuil Woon Bong sendiri. Ohgun menyahut kalau begitu Jang adalah rahib nakal. Seorang petualang seperti Jang tidak bisa tinggal diam saja menghabiskan hidupnya hanya menutup diri dari dunia ini.  Ohgun kemudian meminta Jang mempraktekkan keahlian memijat pada tubuhnya sendiri. Jang dengan percaya diri melakukan permintaan Ohgun, memintaya berbaring di teras rumah.

Ohgun berbaring telungkup. Jang mulai dengan gayanya kemudian memulai memijat Ohgun. Mulanya Ohgun masih kegelian dengan cara Jang memijat tapi kemudian segera terkejut dan sangat kesakitan ketika Jang melanjutkan pijatanya yang sangat kasar bahkan juga sempat memiting tangannya. Ohgun berseru kalau Jang mau membunuhnya. Ohgun segera membalikkan badan dan menampar muka si Jang berulangkali, Unyun berteriak mengapa Ohgun memukuli suaminya. Ohgun bangkit berdiri dan dengan gusar menunjuk ke muka si Jang mengatakan kalau Jang hampir membunuhnya, seorang pembual sepertinya tidaklah layak menjadi seorang dokter. Ilsuh sangat malu. Ohgun segera berlalu dari sana dengan menahan sakit di beberapa bagian tubuhnya. (Andy: mungkin pikir si Ohgun pijatan si Jang sama dengan pijatan istrinya atau almarhum Chae Sun, makanya ia bersedia dijadikan bahan percobaan … ahahah … tapi nasibnya apes bukan sehat malah sakit semua ahaahah 😛 )

Sepeninggal Ohgun, Ilsuh sendiri memukuli menantunya, Unyun protes pada ayahnya. Tapi Ilsuh yang sudah kesal karena dipermalukan menyuruh mereka tidak usah banyak bicara dan pergi saja. Unyun gantian marah dan mengatakan kalau ia benar-benar akan pergi.

Hur June menemui Raja, yang sedang bersama Ratu Inmok, dan bermain-main dengan anaknya, Pangeran Yeongchang. Raja tampak sangat gembira sekali saat bercanda dengan anaknya itu. Hur June melihat semuanya itu dengan hati tidak tenang, memikirkan Pangeran Gwanghae.

Hur June memeriksa nadi di tangan Raja. Raja mengatakan kalau sudah lama sekali sejak ia sakit, dan ia pernah mendengar kalau seseorang yang sudah menderita penyakit dalam jangka waktu yang lama akan mendapatkan kembali kekuatannya semula hanya untuk sebentar sebelum waktunya habis.  Itu artinya kalau orang itu harus mengungkapkan semua yang ia ingin ungkapkan sebelum meninggalkan dunia ini. Ratu Inmok terlihat bersedih. Hur June cemas, Raja tertawa dan mengatakan agar Hur June tidak usah cemas, bagaimana bisa ia menutup matanya dan meninggalkan Yeongchang seperti ini. Hur June tampak masygul.

Para dokter Istana terus melanjutkan pekerjaan mereka, Hur June sendiri tampak merenungkan perkataan Raja dan mencemaskan kondisi dari Pangeran Gwanghae. Kim Mangyung melihatnya sedang gundah dan tampak banyak pikiran, bertanya apa semuanya baik-baik saja. Hur June menjawab kalau semuanya bukan apa-apa. Jang Hak Do mengatakan kalau Hur June memang terlihat tidak begitu baik beberapa hari ini. Hur June menenangkan rekan-rekannya dan mengatakan kalau bukan masalah besar jadi mereka tidak perlu terlalu cemas kemudian langsung bertanya bagaimana kelanjutan penyusunan dari bahan-bahan obat herbal ke dalam bahan herbal, tanaman, dan bebatuan. Doji menjawab kalau masih setengah jadi.  Hur June tahu kalau mereka sudah bekerja keras dalam usaha ini, tapi ia rasa kemajuan dalam mempelajari buku-buku pengobatan dan khasiat dari obat-obat herbal terlalu lamban dan meminta mereka semua untuk lebih cepat lagi.

Dr. Chung dan Doji sedang dalam perjalanan. Dr. Chung merasa kalau akhir-akhir ini dokter Raja menginginkan kemajuan yang lebih cepat. Dan saat ia melihat sikap dokter Raja, kelihatannya dokter Raja seperti sedang dikejar oleh sesuatu.  Doji menyahut kalau sekarang sudah lebih dari 10 tahun jadi ia bisa mengerti kegelisahannya. Tapi dr. Chung merasa ada yang lain.

Malam hari, Hur June masih melakukan pekerjaannya di rumah, Dahee menemaninya dengan menyulam. Hur June menulis kemudian teringat pada perkataan Raja,  yang mengatakan, ia pernah mendengar kalau seseorang yang sudah menderita penyakit dalam jangka waktu yang lama akan mendapatkan kembali kekuatannya semula hanya untuk sebentar sebelum waktunya habis.  Itu artinya kalau orang itu harus mengungkapkan semua yang ia ingin ungkapkan sebelum meninggalkan dunia ini. Hur June sangat gelisah dan menghela napas, Dahee bisa merasakannya dan bertanya apa suaminya sedang merisaukan sesuatu. Hur June berusaha menutupinya dan menjawab kalau tidak ada sesuatu yang mengganggunya. Tapi Dahee memberitahunya kalau dari tadi ia menghela napas terus. Hur June akhrinya memberikan alasan yang setengah benar, mengatakan ia cemas bisakah mereka menyelesaikan usaha penyusunan buku dengan baik. Sudah 10 tahun, dan dengan pikiran yang terkonsentrasi pada mengatur sistem dari ilmu  pengobatan, walaupun banyak di antara mereka para dokter Istana yang mengerjakannya tapi usaha penyusunan buku masih saja dalam tahap ini padahal mereka sudah bekerja dengan begitu keras.  Sekarang mereka sudah dalam tahap akhir, dan Hur June mempunyai perasaan kalau semuanya bisa saja berakhir menjadi sia-sia nantinya. Dahee terperanjat, ia mengatakan kalau sampai saat ini suaminya melakukan dengan baik tapi mengapa sekarang mendadak ia berbicara seperti itu. Tiba-tiba terdengar seruan memanggil Hur Juen. Dahee dan Hur June heran.

Dr. Chung menemui Hur June dan keluarganya yang baru saja keluar, memberitahu Hur June kalau ia harus segera ke Istana sekarang. Hur June heran. Dr. Chung memberitahu kalau Raja tiba-tiba sakit parah. Hur June dan keluarganya terkejut. Hur June segera meminta istrinya untuk mempersiapkan semuanya sehingga ia bisa segera pergi. Dahee mengiyakannya dan segera bergegas pergi.

Hur June tergesa-gesa berjalan menuju ke Istana, dalam perjalaanan ia bertanya siapa yang jaga malam. Dr. Chung menjawab dr. Yoo.

Para Menteri juga mendengar kabar ini, mereka berkumpul (menurut faksi mereka masing-masing) dan sibuk membicarakan sakitnya Raja di antara mereka. Hur June datang, para menteri segera memberi jalan, Menteri Jung bertanya apakah Raja sakitnya parah, Hur June menjawab kalau ia masih dalam perjalanan ke Istana Raja sekarang, jadi belum dapat mengatakan apapun, kemudian berpamit pada mereka semua. Hur June segera berlari pergi. Para Menteri sangat cemas dengan kondisi Raja dan kedua faksi saling berpandangan satu sama lain.

Doji sedang melakukan akupungtur pada Raja, Hur June masuk, Doji segera bangkit berdiri dan pindah memberikan tempatnya yang semula pada Hur June. Hur June bertanya apa yang terjadi. Doji menjawab kalau tiba-tiba saja Raja berteriak kesakitan pada sekitar  pukul 8 malam dan muntah-muntah. Hur June bertanya apa yang dimakannya. Doji  terdiam karena tidak mengetahui dan tidak berpikiran sampai ke sana. Hur June segera menyuruh Sehee memanggil Kepala Dayang Istana. Sehee ragu-ragu tapi Hur June membentaknya, “Sekarang juga !” Sehee segera pergi memanggil Kepala Dayang Istana. Semua orang cemas dengan kondisi Raja.

Hur June tidak membuang waktu segera membuka kotak jarumnya, memmilih jarum panjang dan menusukkannya di titik akupungtur di perut Raja.

Ohgun berjaga di ruang ramuan, mondar-mandir dengan gelisah. Hongchun menemuinya dan memberikan resep dan menyuruhnya segera membuatkannya. Ohgun bertanya bagaimana kondisi Raja. Hongchun menjawab kalau ia sakit parah. Ohgun terkejut. Hongchun menyuruh suaminya untuk bergegas karena waktu sangat berharga bagi mereka saat ini. Ohgun segera meminta anakbuahnya untuk membantunya.

Kepala Dayang Istana datang dan menemui Hur June di kamar Raja. Hur June tidak mau berbasa-basi langsung menyuruhnya mengatakan apa saja yang dihidangkan pada Raja. Kepala Dayang menytakan kalau hidangannya sudah diperiksa oleh para dokter dari Departemen Medis dan disajikan sesuai dengan instruksinya. Hur June mengatakan kalau yang ia ingin ketahuui apakah ada yang lain selain hidangan yang diperbolehkan.  Kepala Dayang Istana menelan ludah dan menjilat bibirnya yang kering, gugup.  Ia mengatakan kalau setelah Raja merasa ia sudah mendapatkan kekuatannya kembali, ia menginginkan nasi ketan berbumbu jadi samg Kepala Dayang menyajikannya untuk Raja. Hur June sangat murka dan menegurnya, bukankah dirinya sudah menjelaskan padanya kalau dia tidak boleh menyajikan makanan lain tanpa seijin dirinya. Kepala Dayang Istana ketakutan dan mengatakan kalau itu  Raja yang memintanya. Hur June tahu kalau sang Dayang tidak sepenuhnya salah, mana berani ia menentang perintah junjungannya itu. Hur June sangat masygul. Doji juga tahu kalau kali ini hanya keajaiban lah yang bisa menyelamatkan jiwa Raja.

Kantor Perdana Menteri, semua menteri termasuk PM Sung menunggu kabar dari Istana. Hur June dan Doji menemui mereka. Menteri Jung bertanya bagaimana kondisi Raja, apakah penyakitnya serius. Tapi Hur June terdiam. Menteri Jung heran dan bertanya lagi mengapa Hur Jun diam saja dan tidak menjawab. Hur Juen kemudian dengan berhati-hati memberitahu mereka semua kalau sulit baginya untuk pulih kembali. PM Sung dan yang lainnya terkejut mendengar kabar itu. PM Sung bertanya apa itu benar? Tidak adakah cara lain untuk menyembuhkannya. Menteri Jung menegur Hur June dengan keras, apa yang ia lakukan sampai Raja seperti ini, dan apakah Hur June berharap bisa tetap hidup karenanya. Doji mencoba membelanya dan memberikan alasan kalau ini bukan karena Hur June melainkan Kepala Dayang Istana yang menyajikan makanan yang dilarang.  Menteri Jung berteriak kalau ia tidak mau mendengar alasan seperti itu, apa ia bermaksud untuk menyalahkan orang lain? Menteri Jung memerintahkan untuk menyembuhkan Raja dan tidak peduli apapun yang akan dilakukan Hur June pokoknya Raja harus pulih. Apapun caranya! (Andy: Kalian tahu mengapa Menteri Jung sangat bersikeras kalau Hur June harus menyembuhkan Raja? Itu karena ia tahu jika Raja wafat tanpa ada wasiat maka Pangeran Mahkota Gwanghae akan otomatis naik tahta, jadi ia panik sendiri) Hur June hanya diam saja, percuma bicara dengan orang-orang yang tidak tahu ilmu medis seperti mereka. (Andy: Mungkin kalau aku yang jadi Hur June aku akan bicara : Emangnya aku Dewa, apa? … hehehheeh 😛 )

Pangeran Gwanghae menengok ayahnya dan sangat bersedih melihat ayahnya sakit parah dan berulangkali memanggil ayahnya. Hur June datang dan melihat semua kejadian itu. Hur June kemudian meminta agar Raja dibiarkan beristirahat jadi ia meminta pada Pangeran Gwanghae untuk pergi. Pangeran Gwanghae tahu kalau Hur June berkata benar, ia segera bangun dan dengan langkah gontai keluar ruangan. Hur June kemudian menghampiri Raja.

Kim datang ke Kantor Departemen Medis dan menemui rekan-rekannya, ia mendengar kalau Raja dalam ambang kematian dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Lee menjawab kalau mereka telah mengatakan kalau Raja tidak mungkin pulih lagi. Kim terkejut dan bertanya siapa yang mengatakan hal itu. Jang menjawab kalau itu langsung dari mulut dokter Raja. Kim sangat shock, ia tahu kalau Hur June sendiri yang mengatakannya maka itu pasti benar. Jang gelisah dan sangat cemas dengan situasi yang dihadapi oleh Hur Juen, karena jika Raja wafat maka Hur June akan dianggap bertanggungjawab dan mendapatkan hukuman berat. Ia bertanya apa yang bisa mereka lakukan untuk membantunya. Kim bingung. Sanghwa merasa tidak adil karena dia adalah dokter Raja yang merawat Raja yang menderita penyakit jantung, yang tidak seorangpun dokter dapat menyembuhkannya, apalagi kondisi Raja memburuk karena kesalahan dari Kepala Dayang Istana. Semua orang menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan pendapat Sanghwa. Kim memastikan kalau semuanya tidak berguna, jika Raja wafat maka semua tanggungjawab akan jatuh ke pundak dokter Raja. Walaupun itu sebenarnya di luar kendalinya tapi tetap saja ia tidak bisa menghindari tanggungjawab itu. Semua orang sangat cemas dengan Hur June. Apa yang akan terjadi padanya jika Raja benar-benar wafat.

Para menteri di pihak Menteri Jung sangat gelisah dan bingung, Kim bertanya apa yang harus mereka lakukan. Jika Raja wafat maka semuanya akan berakhir. Menteri Jung menyatakan kalau Pangeran Yeongchang harus mewarisi tahta. Wakil PM mengingatkan kalau Pangeran Mahkota sekarang adalah Gwanghae jadi bagaimana mereka bisa mengangkat Pangeran Yeongchang ke atas tahta. Semua orang bingung. Menteri Jung lagi-lagi membuka suaranya, Raja dapat menuliskan surat penurunan Pangeran Mahkota yang sekarang dari posisinya sebagai Putera Mahkota.

Pihak PM Sung juga sama saja, mereka juga gelisah, Menteri Choi mengatakan jika saja Raja sadar dan memberikan surat pengangkatan Pangeran Yeongchang ke atas tahta maka semuanya akan berakhir. Menteri Choi menyatakan kalau mereka harus melindungi Pangeran Mahkota. Jung Jak mengangguk setuju. PM Sung diam saja tapi otaknya berputar mencari solusi.

Para menteri di pihak Pangeran Gwanghae berkumpul di luar Istana Raja. Jung Jak menemui rekan-rekannya dan mengatakan kalau suasananya di luar kebiasaan.

Hur June menunggui Raja yang masih tidak sadar.  Raja tiba-tiba mulai menggerak-gerakkan kepalanya dan mulai membuka kedua matanya. Hur Juen melihatnya dan terkejut.

Menteri B berlari ke kantor Wakil PM dan memberitahu rekan-rekannya kalau Raja sudah sadar. Menteri Jung bertanya benarkah itu. Menteri B menjawab kalau berita ini datang dari dokter di Istana Raja jadi pasti benar. Menteri Jung segera menganjurkan mereka untuk menemui Raja, karena Raja berpikir Pangeran Yeongchang seharusnya menjadi Pangeran Mahkota, jadi kalau mereka tidak bertindak sekarang mengangkatnya sebagai Pangeran Mahkota maka mereka semua akan mati. Ia segera mengajak semua rekan-rekannya untuk menemui Raja.

Jung Jak heran dan tidak bisa mengerti mengapa ia tidak bisa menemui Raja, bukankah Hur June sendiri yang mengatakan kalau ia sudah sadar. Hur June menjawab kalau itu memang betul tapi Raja harus mendapatkan ketenangan dulu. PM Sung memohon agar Hur June memperbolehkan mereka untuk menemui Raja, tapi Hur June menolaknya.

Pihak PM Sung mengundurkan diri dan pergi dari Istana Raja tapi Jung Jak melihat Menteri Jung yang juga akan pergi menuju ke Istana Raja.

Hur June keluar dari Istana Raja dan menemui Doji yang membawakan obat. Ia menerima obatnya dan akan masuk ke dalam, tetapi pihak Menteri Jung datang dan meminta untuk bertemu dengan Raja. Hur June juga menolak mereka. Kim Gongryang tidak terima dan bertanya mengapa mereka tidak dapat menemuinya. Hur June memberikan alasan kalu Raja baru saja mendapatkan kekuatannya dan masih dalam kondisi serius, jadi ia butuh beristirahat dan menyuruh mereka untuk kembali. Kim Gongryang membentaknya dan mengatakan kalau Hur June tidak bisa menyuruh mereka kapan akan datang atau pergi.  Hur June masih menahan mereka. Menteri Jung kesal dengan sikap Hur June, ia menyuruh Hur June minggir. Tapi Hur June tetap tidak mengijinkan mereka. Menteri Jung menyatakan kalau ia ingin mengajukan permohonan pada Raja. Istana dan negara sangat bergantung pada permohonan itu jadi ini sangat penting.  Hur June tidak peduli, ia tetap menolak permintaan mereka. Kim Gongryang kesal dengan Hur June, ia membentak Hur June untuk minggir sambil mendorongnya. Hur Juen terjatuh bersama dengan ramuan obat bagi Raja. Menteri Jung memanfaatkan kesempatan itu untuk segera menerobos ke dalam. Hur June sangat gusar melihat ramuan obat bagi Raja tumpah ke tanah, ia membentak mereka …..

18 comments on “Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 62

  1. Huuuaaa..tega banget disuruh nunggu koh andy ngasi les. Memangnya les pelajaran apa? Ayo kugantikan ngasi les nya biar koh andy ngelanjutin sinopsisnya.

  2. Yah….ampun dech….suka banget ya kang, bikin orang penasaran??? Hbs sibuk, ngasih les ga ada yg ngebantuin, ntar rame2 qt bantu dech…. Nanti pangeran selamat ga? Jd degdegan….

  3. Intrik politik yang sangat jahat …… beberapa menteri dengan faksinya masing masing sudah sampai ke taraf yang sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan negara. Semua cara dilakukan untuk mendukung pendapat sendiri. Bahkan Dokter Raja sendiri yang netral (berfikir lebih jernih dari yang lain) telah diabaikan. Pangeran GwangHae sendiri hampir saja diracuni oleh orang-orang dibalik faksi Menteri Jung dan Kakak Ratu In Bin Tn. Kim Goryang. Tentang wasiat Raja ? Mungkinkah Pangeran YeongChang yang akan dijadikan Raja Boneka? (mengingat usianya masih balita walaupun menurut sejarah Pemerintahan disana, model ini dapat diterapkan ). …………….

    Dari beberapa kejadian sejarah dimasa lalu ….. situasi ‘chaos’ seperti ini ada yang diciptakan oleh nafsu keserahakan kelompok orang-orang tertentu yang ingin berkuasa lebih lama dan kesempatan kesenangan duniawi bagaikan surga yang diciptakan oleh mereka didunia.

    Apabila Pangeran Gwanghae berkuasa, pasti pejabat model Menteri Jung dan Kim Goryang dan antek antek nya ini bakal direformasi. Inilah yang dikhawatirkan oleh mereka. Dengan Pangeran Besar Yeongchang pasti enak melenggang kangkung tiap hari (tertiup angin kiri kanan tidak masalah, rebahpun masih bisa nancap akar dan mendongak keatas lagi).

  4. politik mmg kejam ,apapun cr dgunakn u/ mjatuhkn lawan.bgt da lawan yg lg da mslh bsorak ria,jk lwn adem ayem dbikin mslh kalo prlu djebak,smua hal ngtif lwn di ungkapkn.bagaimn dng di politik sini ya..?kok mlh ngomongin politik,wah mumet,.mending tdr,surga….

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s