Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 63

Raja mengatakan kalau ia pernah mendengar, seseorang yang sudah menderita penyakit dalam jangka waktu yang lama akan mendapatkan kembali kekuatannya semula hanya untuk sebentar sebelum waktunya habis.  Itu artinya kalau orang itu harus mengungkapkan semua yang ia ingin ungkapkan sebelum meninggalkan dunia ini. Ratu Inmok terlihat bersedih. Hur June cemas.

Dr. Chung menemui Hur June dan keluarganya yang baru saja keluar, memberitahu Hur June kalau ia harus segera ke Istana sekarang. Hur June heran. Dr. Chung memberitahu kalau Raja tiba-tiba sakit parah.

Menteri Jung bertanya bagaimana kondisi Raja, apakah penyakitnya serius. Tapi Hur June terdiam. Menteri Jung heran dan bertanya lagi mengapa Hur Jun diam saja dan tidak menjawab. Hur Juen kemudian dengan berhati-hati memberitahu mereka semua kalau sulit baginya untuk pulih kembali. PM Sung dan yang lainnya terkejut mendengar kabar itu.

Menteri Jung memerintahkan untuk menyembuhkan Raja dan tidak peduli apapun yang akan dilakukan Hur June pokoknya Raja harus pulih. Apapun caranya!

Hur June menunggui Raja yang masih tidak sadar.  Raja tiba-tiba mulai menggerak-gerakkan kepalanya dan mulai membuka kedua matanya. Hur Juen melihatnya dan terkejut.

Menteri B berlari ke kantor Wakil PM dan memberitahu rekan-rekannya kalau Raja sudah sadar.

Menteri Jung menyatakan kalau mereka tidak bertindak sekarang mengangkat Pangeran Yeongchang sebagai Pangeran Mahkota maka mereka semua akan mati. Ia segera mengajak semua rekan-rekannya untuk menemui Raja.

Hur June keluar dari Istana Raja dan menemui Doji yang membawakan obat. Ia menerima obatnya dan akan masuk ke dalam, tetapi pihak Menteri Jung datang dan meminta untuk bertemu dengan Raja. Hur June juga menolak mereka. Kim Gongryang tidak terima dan bertanya mengapa mereka tidak dapat menemuinya. Hur June memberikan alasan kalu Raja baru saja mendapatkan kekuatannya dan masih dalam kondisi serius, jadi ia butuh beristirahat dan menyuruh mereka untuk kembali. Kim Gongryang membentaknya dan mengatakan kalau Hur June tidak bisa menyuruh mereka kapan akan datang atau pergi  Hur June masih menahan mereka. Menteri Jung kesal dengan sikap Hur June, ia menyuruh Hur June minggir. Tapi Hur June tetap tidak mengijinkan mereka. Menteri Jung menyatakan kalau ia ingin mengajukan permohonan pada Raja. Istana dan negara sangat bergantung pada permohonan itu jadi ini sangat penting.  Hur June tidak peduli, ia tetap menolak permintaan mereka. Kim Gongryang kesal dengan Hur June, ia membentak Hur June untuk minggir sambil mendorongnya. Hur Juen terjatuh bersama dengan ramuan obat bagi Raja. Menteri Jung memanfaatkan kesempatan itu untuk segera menerobos ke dalam. Hur June sangat gusar melihat ramuan obat bagi Raja tumpah ke tanah, ia membentak mereka …..

Di dalam kamar, Sehee sedang memijati lengan Raja yang tertidur.

Di dalam kamar, Sehee sedang memijati lengan Raja yang tertidur.

Menteri Jung dan Kim Gongryang mendatangi kamar Raja dan meminta Kepala Dayang Istana untuk memberitahukan kedatangan kedatangan mereka pada Raja, tapi sebelum Kepala Dayang melakukannya, Hur June sudah menyurusl mereka dan menyahut kalau mereka tidak bisa melakukan ini. Jika mereka mengajukan suatu persoalan maka itu akan menyakitinya dan meminta mereka kembali. Menteri Jung tidak menggubrisnya dan memerintahkan Kepala Dayang untuk mengumumkan kedatangannya. Kepala Dayang serba salah. Menteri Jung bertindak segera, ia sendiri yang berseru menyatakan kehadirannya dan ingin bertemu untuk membicarakan masalah penting. Hur June menegurnya keras. Tapi sudah terlambat, Raja mendengarnya dan menyuruh mereka untuk masuk. Menteri Jung memandang Hur June dengan penuh kemenangan.

Raja bersusah payah bangun duduk dibantu oleh Sehee. Menteri Jung dan Kim Gongryang serta Hur June memberi hormat padanya.  Hur June memandang kedua pejahat (eh salah pejabat) itu dengan kesal kemudian memandang cemas pada Raja.

Menteri Choi bergegas menemui PM Sung dan juga Jung Jak, memberitahu keduanya kalau Menteri Jung dan Kim masuk ke dalam Istana Raja. PM Sung terkejut, Jung Jak menebak kalau mereka ke sana pasti untuk mengajukan permintaan menaikkan Pangeran Yeongchang ke atas tahta. PM Sung sangat gelisah.

Raja tampak sangat pucat dan lemah, ia bertanya apa maksud mereka ia harus mengangkat Pangeran Yeongchang ke atas tahta. Menteri Jung mengiyakannya. Hur June dan Sehee terkejut. Kim Gongryang memberanikan diri untuk mengutarakan sesuatu, bukankah Pangeran Mahkota Gwanghae anak dari Gong Bin Mama. Pangeran Yeongchang yang ada sekarang seharusnya secara alami yang menjadi Pangeran Mahkota. Meninggalkan garis keturunan utama dan mengangkat seorang anak dari seorang selir sama sekali tidak pantas, ia memohon agar Raja memahami ini. Menteri Jung juga mengatakan dikarenakan alasan itulah, yakni dia bukanlah dari garis keturunan utama maka Dinasti Ming tidak mengakuinya. Ia memohon agar Raja mempertimbangkannya demi keberlangsungan pemerintahan yang sah dari negara dan keluarga Raja dan meminta agar Pangeran Yeongchang yang menjadi pewarisnya untuk menerima jubah Raja. Kedua menteri itu memohon agar Raja mempertimbangkannya kembali.

Raja ternyata juga memikirkan hal itu semenjak kelahiran dari Pangeran Yeongchang. Kedua menteri terkejut tapi senang. Raja pernah berpikir untuk menurunkan Pangeran Mahkota yang sekarang dan mengangkat Pangeran Yeongchang sebagai Pangeran Mahkota yang baru. Menteri Jung segera meminta agar Raja melakukan hal itu. Tapi Raja berpikir lain, ia berkata kalau Pangeran Yeongchang masih berumur 3 tahun dan terlalu muda untuk menerima tahta. Menteri Jung mau membantahnya, tapi Raja melanjutkan perkataannya, jika Yeongchang menerima tahta sekarang maka kekuasaan Raja akan tergoncang dan akan tersapu oleh faksi-faksi. Ia tahu dengan baik apa yang dicemaskan oleh mereka berdua, tapi ia tak akan menurunkan Pangeran Mahkota yang sekarang. Hur June terkejut karena tidak menyangka. Kedua pejahat (ah …. ) itu segera berseru supaya Raja mempertimbangkannya kembali. Raja tidak menggubris mereka, ia segera mengambil sebuah amplop berisi surat wasiatnya dan melemparkannya di hadapan mereka, mengatakan kalau itu adalah wasiatnya untuk mengangkat Pangeran Mahkota Gwanghae ke atas tahta. Semua orang terkejut, Menteri Jung berpandangan dengan Kim Gongryang. Raja menyatakan kalau tahta akan diwarisi oleh Pangeran Gwanghwae jadi ia menyuruh keduanya untuk mengumumkan ini pada semua pejabat (nah jariku benar juga akhirnya ngetiknya). Menteri Jung dan Kim segera meminta berulangkali agar Raja mempertimbangkan ini kembali. Tapi Raja menyuruh mereka pergi. Menteri Jung dan Kim masih bersikukuh agar Raja mempertimbangkannya lagi. Raja emosinya naik dan berseru agar mereka berdua pergi, tapi tiba-tiba penyakitnya kambuh. Hur June terkejut dan segera menghampirinya, cemas dengan kondisi Raja, Hur June segera membentak pada kedua pejahat itu ( ah … salah lagi ) … Keduanya salah tingkah dan berpandangan satu sama lain. Hur June segera menyuruh Sehee mengambilkan air dingin. Raja akhirnya jatuh ke tempat tidur, Hur June segera mengambil kotak jarumnya. Menteri Jung dan Kim tahu kalau kali ini merekalah yang menyebabkan kumatnya penyakit Raja, hati mereka tidak enak.

Menteri Jung dan Kim Gograng keluar dari Istana Raja. Menteri Jung membawa surat wasiat Raja. Kim menyatakan kalau semuanya sudah berakhir sekarang.  Tapi Menteri Jung tidak mau mereka mundur begitu saja. Kim mengatakan kalau wasiat sudah turun, bukankah sudah tidak ada jalan lain. Menteri Jung menyatakan kalau Raja wafat, hanya dokter dan perawat Raja saja yang tahu akan surat wasiat ini. Jika mereka menutup mulut keduanya maka tidak akan ada yang tahu mengenai surat wasiat itu dan itu dapat menjadi tidak pernah ada semenjak awal. Kim tertegun, apa itu artinya Menteri Jung bermaksud untuk mengabaikan perintah Raja. Menteri Jung balik bertanya, apakah ia ingin hanya duduk diam saja menanti kematiannya. Kim ragu-ragu. Menteri Jung mencoba memperngaruhinya, menyuruhnya memikirkah hubungan mereka selama ini dengan Pangeran Mankota. Jika Pangeran Mahkota naik tahta maka mereka semua akan mati. Menteri Jung bertekad kalau mereka harus membuat Pangeran Yeongchang menjadi Pangeran Mahkota apapun caranya. Kim masih bimbang. Menteri Jung menunjukkan surat itu dan mengingatkannya bahwa tidak ada yang namanya surat wasiat. Kim memandang surat itu kemudian pada Menteri Jung.

Pihak PM Sung sangat gelisah, Menteri Chung menyatakan kalau Raja wafat tanpa wasiat maka pihak Menteri Jung akan segera berusaha membuat Pangeran Yeongchang mewarisi tahta. Jung Jak tidak mengerti mengatakan, tapi Pangeran Mahkota masih ada sekarang, jika tidak ada wasiat dari Raja mengenai Pangeran Mahkota, Pangeran Gwanghae seharusnya secara otomatis yang akan mewarisi tahta. Menteri Choi membantahnya, tidakkah ia ingat kalau Pangeran Mahkota tidak mendapatkan pengakuan dari Dinasti Ming. Menteri Jung terkejut. Menteri Choi menganjurkan semua orang yang berada di pihaknya untuk mempersiapkan segalanya untuk berjaga-jaga jika Raja wafat. Jika Raja benar-benar wafat, mereka semua harus segera melakukan upacara pengangkatan Raja sebelum pihak lawan keburu melakukan rencana jahat mereka. PM Sung mengatakan kalau ada banyak aturan di Istana, seberapa cepat mereka dapat melakukannya, bukankah paling cepat 3 hari? Menteri Choi membantahnya, ada bukti di masa lampau kalau Raja Seongjong naik tahta pada hari Raja Yejong mangkat. Menteri Jung tidak tahu ini dan bertanya apa itu benar. Menteri Choi mengiyakannya dan menganjurkan agar tidak memberi pihak Menteri Jung waktu dan kesempatan. PM Sung tampak memutar otaknya.

Hur June menemui Sehee di luar dan membertahunya, karena sudah terlambat setengah jam dari jadwal maka mereka harus mengurangi Baek Chool dan Chang Cool sebanyak 0.05 gram dan menyuruh mereka segera membuatkan ramuan sesuai dengan resepnya. Sehee dan dua orang perawat mengiyakannya.

* Baek Chool dan Chang Chool adalah ramuan untuk menguatkan limpa dan lambung dan menghilangkan cairan yang berlebihan.

Hur June melakukan pengobatan akupungtur pada Raja, yang kembali tidak sadarkan diri dan sangat lemah kondisi tubuhnya.

Sehee menunggu Ohgun untuk merebus obat. Doji datang ke ruangan ramuan bersama dr. Lee Myung Won. Doji bertanya bagaimana kondisi Raja. Sehee menjawab kalau ia tidak begitu baik. Doji sangat cemas. Sehee meminta diri. Jang Hak Do dan Kim Mangyung ternyata juga ada di ruangan ramuan, menemui Doji, Ohgun, dan Lee. Mereka sangat khawatir dengan Hur June yang sekarang pasti merasa sangat gelisah. Kim sangat menyesal karena mereka semua tidak bisa membantunya. Mereka hanyalah dokter-dokter biasa. Semua orang sangat prihatin.

Ohgun menemui Hongchun dan memberitahunya kalau Raja tidak begitu baik kondisinya. Hongchun menghela napas sedih, ia juga sudah mendengar kabar itu. Ohgun berharap kalau tidak terjadi sesuatu yang buruk, tapi ia bertanya bagaimana nasib istrinya jika Raja wafat. Hongchun tidak mengerti maksudnya. Ohgun memberitahunya kalau ia dengar dari para dokter Istana kalau dokter Raja akan dianggap sebagai penjahat dan akan ditangkap. Dan setelah dibawa entah kemana, ia akan dihukum dengan berat. Ohgun bertanya apakah Hongchun juga akan dibawa entah kemana yang ia tidak tahu dan mendapatkan hukuman berat juga? Hongchun hanya memandangnya karena ia sendiri juga tidak mengerti bagaimana nanti nasibnya. Ohgun sangat masygul dan mengatakan kalau ia tidak bisa hidup tanpa istrinya dan segera memeluk istrinya. Hongchun terkejut dan berusaha melepaskan dirinya, menegur suaminya karena bertindak kekanakkan. Hongchun menegurnya bagaimana bisa ia mengatakan sesuatu yang sangat buruk seperti itu kepada Raja yang sakit parah. Apa gunanya mencemaskan dirinya sekarang. Ohgun mendekati istrinya, berkata dengan suara pelan, jika Raja yang sekarang wafat maka akan ada Raja lain yang menggantikannya tapi jika istrinya pergi, maka berakhir sudahs emuanya. Hongchun memarahi suaminya, jika suaminya ingin berbuat baik pada dirinya maka berlakulah sedikit bermartabat. Ia sangat cemas kalau semua perawat bawahannya akan mendengar perkataan Ohgun ini kemudian pergi dengan hati kesal.  Ohgun mengawasi kepergian istrinya dan bergumam mengapa istrinya itu begitu lamban untuk memahami dirinya.

Sehee bersama Ok Jung membawakan ramuan untuk Istana Raja, di tengah perjalanan Sehee disapa oleh seseorang dan diberitahu kalau ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Sehee tidak mau meladeni mereka dan menjawab kalau ia sedang dalam perjalaan menuju ke Istana Raja untuk mengantarkan ramuan dan ini sangat mendesak. Pria itu memberitahunya dengan nada mengancam, jika ia tidak ingin terluka maka lebih baik mengikutinya dengan diam.  Sehee terkejut, Ok Jung gelisah. Sehee menyuruh Ok Jung untuk menunggu sebentar, kemudian ia mengikuti pria itu. Ok Jung sangat cemas.

Pria itu ternyata mengantar Sehee menemui pihak Wakil PM dan Menteri Jung. Sehee memberi hormat pada mereka. Semua orang mengawasinya dengan pandangan tajam, Sehee gelisah sendiri.

Hur June memeriksa nadi Raja, kemudian bertanya pada Chae Ryung mengapa Sehee sangat lama. Chae Ryung juga tidak tahu, dan mengatakan kalau ia akan pergi ke ruang ramuan untuk mencarinya. Hur June menyuruhnya bergegas, Chae Ryung mengiyakan dan langsung beranjak keluar ruangan, tapi pintu membuka dan Sehee bersama Ok Jung datang membawakan ramuan jadi ia batal pergi dan mengikuti mereka berdua kembali.

Sehee menghampiri Hur June, meminta maaf karena terlambat, Hur June tidak mempedulikan semua itu dan segera meminta ramuannya. Hur June segera membuka kain penutup, mengambil mangkuk obat dan sendok kemudian menyuapi Raja. Sehee sangat gelisah dan ketakutan, mengawasi Hur June.

Hur June dan Sanghwa di Kantor Departemen Medis sedang memeriksa usaha penyusunan buku ketika Menteri Jung dan Kim Gongryang datang menemui mereka. Hur June dan Sanghwa segera berdiri memberi hormat. Kim meminta Sanghwa agar pergi karena mereka berdua ingin berbicara dengan Hur June secara pribadi. Sanghwa mengiyakan dan segera pergi.

Hur June mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.  Kemudian ia bertanya, “Apa yang membawa kalian  ke tempat ini?”.

Kim berkata, “Aku mendengar kalau kau ada di sini jadi aku datang untuk meminta maaf karena tindakanku sebelum ini, saat itu sangat mendesak sehingga aku bersikap kasar pada dirimu. Kuminta pengertianmu.”

Hur June tahu kalau bukan ini inti masalahnya, ia bertanya lagi, “Apa yang membuat kalian ingin menemuiku?”

Menteri Jung bertanya, “Apakah ada cara untuk menyembuhkan Raja?” Hur June terdiam.

Menteri Jung mengatakan, “Raja sakitnya parah dan aku mendengar kalau Raja dapat mempertahankan kesehatannya sampai sekarang semua karena usaha keras darimu.” Hur June belum mengerti arah pembicaraan mereka.

Menteri Jung menyatakan, “Jika Raja wafat, siapa yang akan menghargai kerja kerasmu?  Kau yang akan bertanggungjawab atas semuanya jadi sekarang mestinya kau sedang putus asa.”

Hur June menyahut, “Itu semua memang adalah tanggungjawabku.”

Kim bertanya, “Tidakkah kau seharusnya mencari jalan keluar?” Hur June tidak mengerti maksud mereka.

Menteri Jung membujuknya, “Bagaimana menurutmu, jika kau bekerja untuk Pangeran Yeongchang maka kau pasti akan mendapatkan banyak kebaikan. “

Kim mengutarakan niatnya, “Tetaplah diam mengenai apa yang terjadi di Istana Raja. “

Hur June bingung dan masih tidak paham.

Kim melanjutkan, “Jika saja kau menutup mulut maka Pangeran Yeongchang dapat naik tahta dan aku yakin kalau Pangeran tidak akan melupakan jasamu ini. “

Hur June bertanya, “Apa sebenarnya yang kalian bicarakan.”

Menteri Jung menyuruhnya berpikir dengan seksama, kemudian mengatakan, “Sampai sejauh ini tidak ada dokter Raja yang selamat setelah Rajanya mangkat. Walaupun kau sangat dekat dengan Pangeran Mahkota tapi aku yakin kalau dia tidak akan dapat melindungi dirimu. Tapi berbeda dengan Pangeran Yeongchang. Jika saja ia menjadi Pangeran Mahkota … “

Hur Jun sudah paham seluruhnya dan segera membentak Menteri Jung, “Hentikan bicaramu!”  Menteri Jung terkejut.

Hur June menegur mereka dengan keras, “Bagaimana bisa kalian berusaha mengacaukan Istana dengan rencana busuk semacam itu?”.

Kim tidak terima, “Rencana busuk? Jaga bicaramu!”

Hur June membentaknya, “Itu adalah perintah Raja! Apakah kalian ingin membujukku untuk mengabaikan perintah Raja? Aku tidak dapat mengikuti kemauan kalian, jadi sekarang pergilah!”

Kim Gongryang terkejut, berusaha menjelaskan “Ayolah … “

Hur June segera bangkit berdiri dan mengusir mereka, “Pergi sekarang!”

Menteri Jung menyerukan kekesalannya, ia bangun dan segera pergi, Kim masih memandang Hur June dengan gusar kemudian mengikuti Menteri Jung keluar.

Di luar Kim menyebut Hur June sebagai orang tolol. Dan berkata pada Menteri Jung, bukankah sudah ia katakan kalau ini tidak akan ada gunanya. Menteri Jung bertekad kalau mereka tidak bisa berhenti di sini begitu saja. Jika mereka tidak menutup mulut Hur June maka semuanya akan berakhir. Kim tidak tahu bagaimana caranya untuk mengubah pikiran Hur Jun yang sangat teguh itu. Menteri Jung tidak menjawab, ia segera pergi meninggalkan Departemen Medis, Kim menyusul di belakangnya.

Hur June masih merenung di kantornya, mengingat perkataan Menteri Jung,

Menteri Jung menyuruhnya berpikir dengan seksama, kemudian mengatakan, “Sampai sejauh ini tidak ada dokter Raja yang selamat setelah Rajanya mangkat. Walaupun kau sangat dekat dengan Pangeran Mahkota tapi aku yakin kalau dia tidak akan dapat melindungi dirimu. Tapi berbeda dengan Pangeran Yeongchang.”

Malam hari, Doji masuk ke sebuah gibang, seseorang menemuinya dan bertanya apakah ia dr. Yoo, Doji mengiyakan, orang itu segera menunjukkan jalannya.

Kim Gongryang sedang minum-minum ditemani seorang gisaeng. Pria tadi membawa Doji menemuinya.

Kim menyuruh gisaengnya untuk keluar dan memberinya pesan kalau ia ada pembicaraan sangat penting jadi memintanya untuk tidak mengijinkan siapapun masuk. Gisaeng itu mengiyakanya. Seperginya gisaeng itu, Kim mengajak Doji untuk minum dulu.

Hur June masih di kantornya, membaca buku-buku medis. Sehee masuk dan menemuinya. Hur June heran dan bertanya apa yang sedang dilakukannya di sini. Sehee menjawab kalau ada sesuatu yang ia ingin beritahukan pada Hur June. Hur June heran…

Setelah beberapa saat, Hur June bertanya apakah yang dikatakan oleh Sehee benar, apakah mereka benar-benar mengancamnya. Sehee mengiyakannya. Bahkan mereka mengancam kalau mereka dapat membunuhnya dengan mudah. Hur June geram. Sehee ketakutan dan bertanya apa yang harus ia lakukan sekarang. Hur June memandanginya, iba dengan Sehee, kemudian ia membuat keputusan di hatinya.

Kim Gongryang berusaha membujuk Doji, menyuruhnya untuk memikirkan kalau semua ini bukan hanya demi pihaknya, tapi juga demi dokter Raja, yang harus menghadapi hukuman berat jika Raja mangkat. Doji tampak terpengaruh, ia memikirkan kebenaran kata-kata dari Kim dan mencemaskan keselamatan Hur June. Kim melihat kalau kata-katanmya berhasil mempengaruhi Doji meminta agar Doji membujuk dokter Raja, jika ia membantu pihaknya maka bukan saja dokter Raja menyelamatkan dirinya sendiri tapi juga gelarnya akan dipertahankan. Doji bimbang dan mempertimbangkannya, kemudian bertanya apakah semua janjinya itu benar. Kim berjanji akan melakukannya. Doji masih belum yakin. Kim mengatakan kalau dokter Raja diputuskan bersalah, maka mereka akan mengusahakan agar Ratu memberikan janjinya untuk melindunginya. Jadi seharusnya Doji tidak usah cemas akah hal itu dan bujuk saja dokter Raja.

Doji di kamarnya, merenungkan perkataan Kim Gongryang, yang meminta agar Doji membujuk dokter Raja, jika dokter Raja membantu pihak Kim maka bukan saja dokter Raja menyelamatkan dirinya sendiri tapi juga gelarnya akan dipertahankan. Doji akhirnya memutuskan untuk menemui Hur June. Ia segera bangun dan pergi keluar rumah.

Hur June masih di kantor dan tampak sangat lelah, ia kemudian mengingat perkataan Sehee yang memberitahu Hur June, pihak Menteri Jung telah mengancam Sehee kalau mereka dapat membunuhnya dengan mudah. Doji masuk ke ruangan menemui Hur June, yang terkejut melihatnya datang begitu larut ke Istana.

Subuh menjelang, mereka berdua telah bercakap-cakap begitu lama, Doji mencoba membujuk Hur June.

Hur June berterima kasih karena Doji sudah mencemaskan keadaan dirinya, tapi ia mengatakan “Aku tidak bisa melakukan hal semacam itu.”

Doji memohon, “Ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan hidupmu.”

Hur June menyahut, “Aku sebagai dokter Raja yang betugas merawat kesehatan Raja telah gagal memenuhi kewajibanku. Aku memang layak dihukum karenanya. Aku tidak bisa mencari jalan keluar untuk menyambung hidupku dengan mengabaikan perintah Raja.”

Doji khawaitr, ia bertanya, “Mengapa kau menganggap hidupmu dengan ringan?  Mengapa kau memikirkan kematian sementara ada jalan untuk hidup?” Hur June menatapnya.

Doji melanjutkan, “Jika sesuatu terjadi padamu, bagaimana dengan para dokter yang bergantung padamu dan telah memberikan segalanya demi usaha penyusunan buku? Bagaimana dengan buku pengobatan yang telah kita susun dan hanya tinggal tahap akhirnya saja? Kau telah meminta untuk memasukkan semua bahan-bahan obat herbal Korea dan merancang sistem pengobatan yang teratur.  Kau mendorong kami untuk membuat sebuah buku yang dengan mudah didapat bahkan oleh seorang wanita desa dan menyelamatkan banyak jiwa yang tidak berdosa yang sekarat tanpa campur tangan dokter. Tapi jika kau menyerah, siapa lagi yang dapat melakukan usaha itu? Tidakkah kau tahu kalau menyelamatkan hidupmu adalah cara untuk menyelamatkan para pasien yang tak terhitung banyaknya?”

Hur June sangat terharu dengan perhatian Doji, “Dr. Yoo, kau memang benar. Hidupku adalah mengenai usaha penyusunan buku. Tapi tidak peduli sebesar apapun impiannku, aku tidak dapat menggapainya dengan cara meninggalkan jalan yang benar.”

Doji masih mau membantah tapi tiba-seorang kasim dari luar masuk dan mengatakan kalau Raja kondisinya gawat. Hur June dan Doji terperanjat, mereka segera bergegas ke Istana Raja.

Hur June memeriksa nadi Raja dan terkejut, ia segera memerintahkan Doji dan yang lainnya untuk memberitahu Ratu dan Pangeran Mahkota. Semua orang terkejut.

Ratu Inmok di Paviliunnya sedang mengawasi anaknya yang tertidur, Dayang Kepala Paviliun Ratu memberitahu kalau ia mendapatkan pesan penting dari dokter Raja di Istana Raja. Ratu terkejut.

Pagi hari, para menteri baik di pihak Pangeran Mahkota Gwanghae maupun Pangeran Yeongchang menuju ke Istana Raja. Mereka berhenti sejenak untuk saling mengawasi dengan pandangan bermusuhan, kemudian PM Sung segera melanjutkan perjalanannya disusul rekan-rekannya.

Bae Chunsoo memerintahkan anak buahnya untuk menjaga gerbang Istana dengan ketat. Para pejabat masih berbondong-bondong datang.

Ratu, Pangeran Mahkota, PM Sung, Wakil PM, Menteri Jung, Hur June, Sehee, Ok Jung, Chae Ryung, dan seorang perawat, semua menunggui Raja yang sedang menghadapi sakratul Maut. Raja terlihat kesulitan bernapas, napasnya sangat berat. Ratu mengawasinya dengan sedih dan menahan tangis. Gwanghae bertanya pada Hur Juen apakah memang benar sudah tidak ada kesempatan lagi.  Hur June menyembah dan meminta maaf. Pangeran Gwanghae sangat sedih dan memanggil ayahnya. Inmok meminta agar Raja melawan penyakitnya dan menjadi sehat kembali. Ratu tidak bisa menerima kalau Raja meninggal seperti ini.

PM Sung dengan berat hati mengatakan kalau sejak jaman dahulu ada ujar-ujar yang mengatakan seorang pira tidak boleh mati di tangan istrinya. Jadi jika Ratu tetap ada di ruangan menyaksikan kematian Raja akan melanggar aturan itu. PM Sung meminta agar Ratu menunggu di luar ruangan. Ratu Inmok tidak beranjak dari tempatnya, sangat berduka. PM Sung kemudian memanggil Kepala Dayang dan memintanya untuk membawa Ratu keluar ruangan. Ratu menangis memanggil Raja, tapi ia tidak melawan saat Kepala Dayang membimbingnya pergi. Semua orang berdiri memberi hormat pada Ratu, yang masih menyempatkan diri menoleh, melihat Raja kemudian pergi keluar.

Semua orang duduk, Gwanghae menghampiri ayahnya dan memanggilnya. Raja tiba-tiba memanggil Pangeran dengan suara lirih. Gwanghae terkejut dan memanggil ayahnya lagi. Menteri Jung kaget dan ketakutan. Raja kembali memanggil Pangeran. Gwanghae menyahut, “Aku disini Aba Mama! Aba Mama, aku ada disini!” Hur June mengawasi Menteri Jung, yang sangat ketakutan. Raja memanggil Pangeran kembali dan menggerakkan tangannya, Gwanghae segera menggenggam tangan ayahnya dengan kedua tangannya dan memanggil ayahnya. Raja memanggil dengan suara lirih “ Pangeran Mahkota …. Yeongchang …. Kumohon ….” Kemudian menarik napas penghabisan dan tubuhnya segera terkulai, ia mangkat. Gwanghae terkejut dan segera mengguncang-guncang tubuh ayahnya sambil memanggil-manggilnya berulang-ulang. Hur June segera bangkit dan menghampiri Raja kemudian mengambil kapas dan menaruhnya di depan hidung Raja. Tapi kapas itu tidak bergoyang, tidak ada hembusan udara yang keluar masuk dari hidung Raja. Hur June terduduk shock dan dengan perlahan menyatakan kalau Raja sudah mangkat. Gwanghae memanggil Raja dengan suara keras dan menangis pilu. Semua orang meratapi kepergian Raja Seonjo.

Kasim mengibas-ngibaskan jubah Raja di luar Istana pertanda Raja sudah mangkat. Suara terompet kerang bergema di seluruh Istana menandakan kabar duka. Semua anggota Istana menyembah di tanah menghadap ke arah Istana Raja, meratapi mangkatnya Raja Seonjo. Rakyat di sekitar Istana mendengar suara terompet kerang pertanda Raja meninggal, mereka segera berlutut menyembah dan meratapi kematian raja mereka.

Yangtae berlari melewati banyak orang yang sedang meratapi kematian Raja, bergegas menuju ke kediaman Hur June. Ia menemui Dahee dan bertanya apakah Dahee sudah mendengarnya. Dahee bertanya apa, Yangtae menjawab kalau Raja telah mangkat. Dahee sangat terperanjat mendengarnya. Ilsuh dan Haman berlari menemui mereka, dan bertanya pada Yangtae apa ia sudah mendengarnya, Raja telah mangkat. Yangtae menjawab kalau ia juga mendengarnya. Haman memberitahu Dahee kalau rakyat seperti orang sinting semua di jalanan, menangis di mana-mana. Yangtae bertanya apakah ada kabar dari June. Haman menyebut Yangtae bodoh, Raja sudah mangkat, bagaimana bisa dokter Raja menyempatkan diri mengirim pesan. Haman penasaran apa yang akan terjadi pada Hur June karena ia pernah mendengar kalau Raja mangkat maka dokter Raja juga mendapatkan masalah. Ilsuh memukul istrinya, yang tidak terima, ia khawatir makanya bertanya seperti itu. Nyonya Son merangkak keluar dan bertanya apa yang terjadi pada June. Dahee terkejut dan menghampiri ibunya. Nyonya Son mendengar kalau mereka mengatakan kalau June dalam masalah, apa maksudnya itu. Dahee tidak bisa menjawabnya. Yangtae menjawab kalau itu bukan apa-apa jadi tidak usah mencemaskannya. Tapi Nyonya Son sudah mendengarnya semua dari dalam, dan bertanya lagi apa yang terjadi? Mengapa dia dalam masalah? Haman menepuk-nepuk mulutnya yang bocor, menyesali ucapannya tadi. Ilsuh segera memberikan alasan kalau ia masih belum menerima uang dari persediaan barangnya, makanya ia dalam masalah. Ilsuh  kemudian menyuruh Yangtae untuk membawa Nyonya Son ke dalam. Nyonya Son masih ragu-ragu dengan alasan Ilsuh, tapi ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yangtae membantu Dahee membawa Nyonya Son ke dalam rumah.

Para menteri (berpakaian serba putih, pertanda perkabungan) baik dari pihak pendukung Pangeran Yeongchang maupun Pangeran Mahkota Gwanghae mengadakan rapat. Kim tidak bisa menerima usulan dari pihak PM Sung yang meminta agar Pangeran Mahkota diangkat menjadi Raja hari itu juga. Bagaimana mereka bisa membicarakan mengenai tahta padahal seharipun belum lewat sejak Raja mangkat. Menteri Choi beralasan kalau Raja Seongjong pun naik tahta pada hari Raja Yejong mangkat, jadi ini bukannya tidak pernah dilakukan sebelumnya tapi mengapa mereka terus menolaknya. Menteri Jung beralasan kalau ada peraturan yang harus diikuti di Istana dan pihak Menteri Choi lah yang mau mengabaikannya dan berlaku keras kepala untuk mempercepat upacaya kenaikan tahta, apa tujuan mereka sebenarnya. Mengangkat Raja pada hari yang sama dengan mangkatnya Raja sebelumnya tidak mungkin dilakukan. PM Sung membantahnya, karena sudah pernah dilakukan maka tidak ada kata tidak mungkin. Menteri Jung menatapnya kemudian mengatakan, kalau begitu hanya ada satu jalan, ia akan menemui Ratu dan meminta pendapat Ratu atas pandangan mereka dengan detill. PM Sung terkejut. Menter Jung melanjutkan, seperti yang mereka semua sudah tahu kalau Raja telah mangkat tanpa meninggalkan pesan atau wasiat, maka sekarang kekuasaan untuk menentukan pewaris tahta ada di tangan Ratu, bukankah demikian? Pihak PM Sung tidak menyangka kalau semuanya berkembang seperti ini, mereka menjadi gugup dan gelisah. Pihak Menteri Jung tersenyum kemenangan.

PM Sung keluar dari ruangan, menghela napasnya dan bergumam kalau sekarang semuanya sudah berakhir, tidak ada pegangan baginya untuk menghentikan pihak lawannya. Menteri Choi tidak bisa menerimanya. PM Sung menyatakan kalau Pangeran Mahkota tidak menerima surat persetujuan (dari Dinasti Ming) mengenai pengangkatannya sebagai Pangeran Mahkota. Lebih buruk lagi, ia tidak menerima wasiat dari Raja. Pihak lawan berkata benar, jika tidak ada wasiat mengenai penyerahan tahta maka kekuasaan untuk menentukan pewaris ada di tangan Ratu. Walaupun mereka bisa mengangkat Pangeran Yeongchang naik tahta, mereka tidak punya pegangan untuk melawannya.  Menteri Choi bertanya apakah kalau begitu PM Sung hanya akan melihat mereka. PM Sung tampak sangat risau.

Menteri Jung dan Kim Gongryang menemui Jung Jong Mama (Ratu) dan memintanya agar mengangkat Pangeran Yeongchang sebagai Pangeran Mahkota. Kim mengatakan kalau Pangeran Mahkota Gwanghae menerima tahta maka mereka tidak bisa menjamin keselamatan dari Pangeran Yeongchang. Mereka berdua meminta Jung Jong Mama agar mempertimbangkan hal ini demi keselamatan Pangeran Yeongchang. Ratu Inmok tampak sangat bingung.

Para dokter berkumpul di luar kantor Departemen Medis. Doji datang menemui mereka dan bertanya apakah dokter Raja ada di dalam. Mereka mengiyakannya. Jang bertanya apakah ada jalan untuk menyelamatkan dokter Raja. Bukankah ini karena memang kesehatan Raja yang tidak begitu baik, ia mangkat dikarenakan usia tua.  Kim Mangyung terkejut dan menyuruhnya untuk menjaga perkataannya. Jang tahu kalau kata-katanya mungkin dianggap tidak sopan, tapi ini sungguh tidak adil. Doji memberitahu mereka kalau sebenarnya bukan tidak ada jalan. Semua terkejut. Dr, Chung bertanya apakah kalau begitu ada jalan untuk menghindari dokter Raja dianggap bertanggungjawab atas kematian Raja. Doji menyuruh mereka menunggu kemudian ia segera masuk ke dalam untuk menemui Hur June. Dr. Chung bergegas menyusulnya. Semua dokter penasaran.

Hur June di dalam kantor, menundukkan kepalanya sedang merenungkan sesuatu. Doji menemuinya

Doji: Daegam ….

Hur June terbangun dari lamunannya dan senang melihat kedatangan Doji.

Doji: Aku mendengar kalau Menteri Jung Sung Pil menemui Jung Jong Mama dan meminta agar Pangeran Yeongchang yang mewarisi tahta.  Istana tidak merasakan adanya keanehan. (Hur June tampak berpikir. ) Kau hanya perlu untuk diam saja seperti sekarang ini. Jika Pangeran Yeongchang yang naik tahta maka kau pasti akan selamat.

Doji kemudian duduk menanti jawaban Hur June.

Hur June bimbang, tapi kemudian ia lagi-lagi teringat wasiat Gong Bin Mama padanya.

Gong Bin Mama: Kumohon rawatlah para pangeran, bukan hanya kesehatan mereka tapi keseluruhan hidup mereka dengan pribadimu yang tulus.  

Hur June: Dr. Yoo …

Doji: Ya, Daegam ..

Hur June: Raja yang baru saja mangkat, sangat khawatir kalau Istana akan tergoncang dan terpecah menjadi banyak faksi jika Pangeran kecil Yeongchang menerima tahta. (Doji terkejut karena ia baru tahu fakta ini. ) Menteri Jung Sung Pil bersikeras mengangkat Pangeran Yeongchan dengan alasan dia adalah anak dari istri yang sah, hanyalah tipuan belaka untuk mempertahankan kekuasaannya. Jika ia benar-benar peduli pada keluarga Raja dan Istana maka dia seharusnya mengikuti wasiat Raja dan membiarkan Pangeran Gwanghae yang menerima tahta.

Aku tidak dapat dipermainkan oleh sekelompok orang yang hanya memikirkan kepentingan pribadi mereka dan menginginkan kekuasaan.

Hur June segera bangun dan pergi. Doji terkejut dan serba salah. Tapi ia tahu kalau pikiran Hur June sekali sudah terbentuk maka tidak ada yang bisa menekuknya. Doji sangat cemas pada Hur June, entah apa yang akan dilakukannya.

Hur June menemui PM Sung dan memberitahu semua yang terjadi di Istana Raja. PM Sung terkejut dan bertanya apakah itu benar. Hur June memberitahunya kalau Raja memberikan sebuah wasiat pada Pangeran Mahkota untuk mewarisi tahta. PM Sung menyebut mereka sebagai orang yang jahat.

Pihak Menteri Jung sangat senang dan tertawa terbahak-bahak. Menteri Jung mengatakan kalau Pangeran Mahkota akan turun dan Pangeran Yeongchang yang akan menerima tahta. Wakil PM sangat senang dan memuji kerja yang sangat bagus. Kim Gongryang menyatakan kalau mereka masih belum dapat sepenuhnya lega, jika Hur Jun berbicara … Menteri B menyela, jika Hur June masih diam saja sampai sekarang maka itu artinya dia tidak ada keinginan untuk mengatakannya. Menteri Jung menimpali, bukankah dia juga manusia, mengapa ia tidak ingin hidup? Menteri Jung yakin kalau Hur June tidak akan mengatakannya. Semua orang tertawa.

Tiba-tiba terdengar suara keras, semua orang kaget dan melihat ke arah pintu masuk. PM Sung, Menteri Choi, dan Jung Jak datang menemui mereka. Menteri Jung heran dan bertanya, “Apa yang kalian lakukan di tempat ini?”

PM Sung menegurnya, “Tidakkah kau tahu? Di mana surat wasiat dari Raja?”

Menteri Jung dan yang lain terkejut.

PM Sung berkata, “ Kau berpikir yang terbaik untuk negara dan Istana? Kalau begitu mengapa kau dapat melakukan hal yang hina seperti itu? Bagaimana kau bisa menyembunyikan surat wasiat Raja dan berbohong mengenai kata-kata Raja?”

Menteri Choi berseru, “Ini tidak ubahnya dengan merencanakan pemberontakan!”

Kim Gongryang tidak terima, “Pemberontakan? Perkataanmu terlalu jauh!”

PM Sung membentak mereka semua, “Tutup mulutmu!” Lalu ia melanjutkan, “Aku akan segera menemui Jung Jong Mama dan menjernihkan semuanya dan akan memikirkan langkah selanjutnya!”  PM Sung dan kedua rekannya segera pergi.

Menteri Jung terkejut dan sangat shock. Semua orang dari Faksi Utara Kecil sangat gusar tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sangat bingung.

Hur June masuk gedung perpustakaan Istana, ia berkeliling mengawasi semuanya dan menyimpan kenangan ini dalam hati.

Hur June pergi ke ruangan ramuan, semua orang memberi hormat padanya dan merasa cemas, mereka tahu kalau ini mungkin yang terakhir kalinya mereka semua bisa bekerja di bawah seorang yang hebat seperti Hur June.  Hur June melangkah mengelilingi ruangan ramuan dan mengingatnya dalam kenangannya.

Ohgun: Daegam ….

Hur June: Kuminta kau untuk menjaga ibu dan istriku.

Ohgun: Mengapa kau berbicara seakan-akan kau tidak akan pernah kembali.

Hur June hanya tersenyum kecil

Lee Myung Won menemui Hur June di ruang ramuan, semua orang sudah melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Lee memberitahu Hur June kalau Ratu telah memberikan surat resmi untuk mengangkat Pangeran Gwanghae sebagai pewaris tahta dan akan segera diadakan upacara pengangkatannya. Hur June merasa kalau ini adalah waktunya, ia segera meminta Lee untuk mengumpulkan semua dokter.  Lee berubah wajahnya, ia mengerti maksud Hur June mengumpulkan semua dokter. Lee mengiyakanya.

PM Sung, Menteri Choi dan Jung Jak menghadap Gwanghaegun, yang telah menempati Istana Raja. PM Sung mengatakan kalau tidak mematuhi perintah Raja dan menyembunyikan wasiatnya adalah kejahatan yang serius jadi ia meminta agar Gwanghaegun mencopot Jung Sung Pil, Moon Seung Hoon, Lee Tae Sung, dan Kim Gong Ryang dari posisi mereka dan memberikan hukuman yang berat. Gwanghaegun mengijinkannya. Menteri Choi juga meminta agar Gwanghaegun menghukum Hur June dengan berat sehingga mengembalikan martabat dan keteraturan dalam Istana. Gwanghaegun tampak ragu-ragu. Menteri Choi kembali memberikan alasan kalau Hur Juen bukan hanya gagal untuk menjaga Raja tapi juga tidak menghentikan mereka yang berusaha untuk mengangkat Pangeran Yeongchang dan mengijinkan mereka untuk menemui Raja. Itu juga kejahatan yang sangat serius. Bahkan bukan itu saja, ketika Raja sedang sakit, Hur June sudah menghentikan mereka yang berusaha untuk membantunya, Raja yang sekarang. Menteri Choi meminta agar Raja menghukumnya dengan sangat berat. Gwanghaegun bertanya pada PM Sung apakah ia juga berpikir demikian? PM Sung menjawab walaupun keahliannya sangat hebat, tapi dia tidak akan bisa menghindar dari tanggungjawab atas kematian Raja. Menteri Choi kembali meminta agar Gwanghaegun menghukum berat Hur June.

(Andy: Aku sampai sekarang setelah melihat 2 kali adegan ini masih nda mengerti, apakah Menteri Choi itu begitu gobloknya, tidak tahu kalau bukan karena jasa Hur June yang memberitahu mereka mengenai adanya surat wasiat dari Raja maka mereka tidak akan di posisi sekarang, justru bisa-bisa mereka yang akan dihukum oleh pihak Menteri Jung  … asli aku sangat kesal dengan adegan ini …. Mentolo nggaplok cangkeme Menteri Choi … 😦 )

(Oh ya, aku nda nyebut Gwanghaegun sebagai Raja, karena walaupun ia memang adalah raja joseon yang ke-15 tapi tidak mendapat gelar kuil seperti raja-raja lainnya. Gwanghaegun sendiri berarti Pangeran Gwanghae. Coba cek Gwanghaegun )

Rapat darurat dokter Naeuiwon dilakukan di Kantor Departemen Medis setelah Lee berhasil menghubungi semua rekan-rekannya.

Hur June: Sudah lebih dari 10 tahun sejak Seonjo Wang Mama mengeluarkan perintahnya saat perang dan memulai penyusunan buku medis yang baru. Syukur pada kesetiaan dan kerja keras kalian, ada kemajuan yang membukakan mata kita tapi kalian harus bekerja lebih keras lagi untuk menyelesaikannya. (Pada Doji) Dokter Yoo…

Doji: Ya Daegam …

Hur June: Kuminta agar kau yang memimpin para dokter dan menyelesaikan usaha penyusunan buku ini.

Doji: (kaget) Daegam …

Hur June: (pada Jang Hak Do) Jang Jubu …

Jang Hak Doi: Ya  Daegam …

Hur June: Penelitian dalam pengobatan penyakit anak masih kurang, karena kau sangat tertarik pada wilayah itu maka kuminta kau menanganinya dan menyelesaikan itu.

Jang Hak Do: (sedih) Baik Daegam …

Hur June: (pada Kim Mangyung) Kim Jikjang …

Kim Mangyung: Ya Daegam …

Hur Jun: Aturlah surat perintah Raja untuk Hyemin dan selesaikanlah bagiam Macam-macam penyakit.

Kim: Daegam …

Seorang staf Departemen Medis masuk dan memberitahu pada Hur June kalau polisi sudah datang. Hur June memberitahu staf itu untuk meminta mereka menunggu sebentar lagi. Staf itu mengiyakannya dan segera pergi keluar.

Hur June: (mengawasi semua dokter) Aku percaya pada semua dokter akan melakukan yang terbaik. Sementara kalian bekerja, pikirkanlah orang-orang yang telah mati karena dengan kejamnya selama peperangan. Tanamkan dalam pikiran kalian akan orang-orang yang tidak pernah mendapatkan penanganan dari dokter dan hidup mereka berakhir dengan menderita.  Ingatlah kalau buku medis yang kita susun ini akan diwariskan ke beberapa generasi berikutnya. Maka dengan demikian kalian tidak akan pernah mengabaikan pekerjaan kalian.

Semua orang: Daegam … Daegam ….

Hur Jun segera bangun dan menemui para polisi di luar Kantor.  Para polisi segera mengikat Hur June. Semua dokter menyaksikannya dan berseru berulangkali memanggilnya.  Hur June hanya menoleh sebentar pada mereka kemudian mengajak Perwira polisi untuk segera berangkat. Semua dokter mengawasi kepergian Hur June dengan hati cemas dan sedih.

Semua orang dari ruangan ramuan, gudang obat dan para perawat Istana, termasuk di antaranya Ohgun, Hongchun, dan Sehee mengiringi kepergian Hur June. Mereka sangat bersedih karena Hur June ditangkap.

Rombongan Hur June bertemu dengan rombongan para Menteri Faksi Utara Kecil. Rombongan keduanya berhenti.

Jung Sung Pil: Sungguh orang yang tolol!

Hur June: Orang yang tolol adalah dirimu, bukan aku. Tidak ada yang perlu ditakuti jika kau melakukan perbuatan yang benar. Kekuasaan tidaklah berlangusng abadi dan kau menginginkan keuntungan pribadi dengan mengabaikan prinsip-prinsip yang benar?

Hur June pergi lebih dahulu diikuti para polisi yang mengawalnya. Jung Sung Pil mengawasi Hur June. Kim Gong Ryang hanya bisa pasrah.

Perintah Raja datang untuk Hur June di sel penjara. Hur June dikeluarkan dari penjara dan dipertemukan dengan Bae Chunsoo. Hur June memberi hormat yang dibalas dengan penghormatan yang sama oleh Bae. Bae meminta agar Hur June menerima perintah Raja, walaupun sebenarnya banyak pejabat mengajukan petisi dan meminta agar dia dihukum berat karena tindakannya yang telah lalu dan menganggapnya bertanggungjawab atas kematian Raja Seonjo, tapi Raja yang sekarang mengakui prestasinya selama ini dan memerintahkan agar Hur June diasingkan.

Hur June terkejut, ia sebenarnya sudah pasrah dan mengira kalau jiwanya sudah di ambang kematian, hanya menunggu perintah Raja turun, tapi ternyata justru yang keluar adalah perintah pengasingan bukannya hukuman mati. Hur June merasa lega dan terharu. Ia menghadap ke arah Istana Raja dan mengucapkan rasa terima kasihnya pada Raja yang sekarang, kemudian memberikan penghormatan besar bagi Raja.

Ratu Ryu menemani Gwanghaegun menunggu kabar mengenai Hur June. Kepala Dayang Istana (udah ganti loh … Dayang Kepala Paviliun Pangeran Mahkota sekarang naik pangkat jadi Dayang Kepala Istana Raja, dan otomatis menjadi Kepala Dayang Istana 😀 ) menemui Raja dan Ratu memberitahu mereka kalau Hur June sudah berangkat menuju tempat pengasingannya. Raja menyuruhnya pergi.

Gwanghaegun: Jungjong …

Ryu Jungjong: Ya, Cheon Na …

Gwanghaegun: Aku sebenarnya tidak ingin mengirimnya pergi. Tapi sudah tidak ada jalan lain karena para pejabat terus saja mengajukan permintaan kalau martabat keluarga Raja dan prinsip-prinsip Istana perlu ditegakkan.

Ryu Jungjong: Cheon Na….

Gwanghaegun tampak sangat berduka karena mengirim orang yang berjasa besar bagi dirinya ke tempat pengasingan yang sangat jauh.

Para pengawal menggiring rombongan penjahat dan kriminal dan mengarak mereka melalui jalan umum, baik yang dimasukkan ke dalam kereta tahanan maupun yang berjalan kaki, termasuk Hur June. Keluarga Ilsuh dan Yangtae menemuinya. Dahee dan ibu Hur June juga datang. Nyonya Son sangat berduka dan memanggil-manggil terus anaknya, Dahee juga demikian memanggil suaminya berulangkali. Hur June menangis karena ia tidak dapat melakukan apapun untuk menghibur mereka semua. Nyonya Son terus saja memanggil-manggil Hur June …. (Haiiizzz … nangis deh …. 😦 ) Hur June digiring pergi oleh para pengawal. Nyonya Son terduduk sedih, air mata terus mengalir, mulutnya terus memanggil-manggil anaknya … Dahee bersedih akan suaminya dan juga akan ibu mertuanya ….

Beberapa bulan telah berlalu, Hur June berjalan dikawal terus oleh dua prajurit. Akhirnya mereka sampai di satu gubuk besar di dekat pantai. Hur June melihat sekilas gubuknya kemudian mengawasi lautan luas di hadapannya  ……

12 comments on “Hur June / Huh Joon [The Way Of Medicine] – Episode 63

  1. Detak jantung kehidupan di Istana seolah terhenti.
    Raja Seonjo mangkat ……… tahun 1608.
    Ini yang jadi pangkal masalah! Antara Pangeran
    Gwanghae dan Antek-antek Pangeran Besar
    Yeongchang.
    Akhir yang tragis …… Ending yang memilukan!

  2. Hiks…hiks…hiks….jaman kerajaan kejam banget ya, joon diasingkan dgn kesalahan yg ga jelas… Barusan nonton lbs juga nangis….oh yejin, cintamu seluas samudera,,,,,,,,,,

  3. hahaha..sempat geli krn koh andy pakai bahasa jawa timuran dalam sinopsis ini..iku lho sing eneng “mentolo..dst” mungkin bagus juga klu drama ini dubbingnya pake bhs jawa kayak di JTV hehehe

    • se7 … tapi bisa2 ngakaq terus kalo nonton, jadi ilang seriusnya, aku pernah nonton drama silat mandarin di JTV yang bahasa jawa, setiap liat film itu pasti banyak ketawa-ketiwi pas dengar istilah-istilah jawa yang seru-seru 😛

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s