Hong Gil Dong – Episode 02

Aku ulang dikit,  episode 1 khan berakhir dengan Enok diselamatkan oleh Gil Dong dari amarahnya In Hyung (kakak lain ibu Gil Dong), nah episode 2 ini mulai dengan memperllihatkan pada kita mengapa Gil Dong ada di klub itu – tentu saja untuk memelototi para gadis cantik yang sedang menari😀

Melihat Enok terkena masalah, ia segera melompat dan menyeretnya, dan keduanya segera melarikan diri. Ih Hyung mengejar mereka bersama dengan anakbuahnya, dan Chang Whe serta Chisu (Pengawal pribadi Chang Whe) mengikuti dengan diam-diam di belakang mereka, mencari kesempatan untuk merebut kembali jepit rambut milik Ratu yang ditemukan oleh Enok.

Mereka berhasi meloloskan diri, dan Gil Dong memimpin Enok ke kuil terdekat, yang mana terdapat kuburan untuk para pencuri (yang pernah digali oleh Gil Dong sebelumnya) dan membuat Enok merinding.

Di rumahnya, In Hyung sangat direpotkan oleh tingkah ibunya yang mengomelinya tiada henti, sementara dia sendiri merintih karena lukanya seperti seorang banci … Dia merajuk karena rencananya telah digagalkan oleh Gil Dong, yang kelihatannya sebuah kejadian yang biasa terjadi.  Ibunya mengomelinya karena resah atas ujian pelayanan sipil mendatang yang akan diikuti oleh In Hyung – dia mengerang karenanya dan berharap kalau lengannya patah sehingga dia tidak usah mengikuti ujian itu. In Hyung memohon pada ibunya untuk tidak memberitahu ayahnya mengenai ini, tapi ayahnya mendengar itu dari luar kamar dan membalikkan tubuhnya dalam kekecewaan yang pahit. Sang ayah menghela napas masygul, jika bukan karena Gil Dong, anaknya yang lain yang berkemampuan,  maka anaknya yang sah tidak akan terlihat begitu tak berguna jika diperbandingkan.

Sementara itu, seorang pengemis menarik perhatian dari Dayang Istana Noh, yang berpakaian dengan anggun, pelayan yang mematuhi perintah Ratu dan menyelamatkan hidup Chang Whe ketika masih kecil. Dia terlihat jahat dan penuh perhitungan, tapi kelihatannya juga sangat setia pada Chang Whe, yang berarti dia tidak begitu buruk, ataukah sebaliknya? Balik lagi, Dayang Noh mengamati wajah si pengemis  dan dapat mengenalinya sebagai pemimpin dari sebuah kelompok bandit pencuri.

Dayang Noh telah melacaknya, dan mendengar rencanya pengemis itu yang akan melakukan pencurian besar-besaran. Dia meminta si pengemis untuk membatalkan rencananya dan sebaliknya bekerja untuk dirinya. Si pengemis mendengar kalau Dayang Noh juga adalah seorang petarung yang hebat, bertanya-tanya,  apakah dia bermaksud untuk membangun semacam pasukan? Dan menduga kalau dia bekerja untuk majikan yang tersembunyi. Dayang Noh berusaha mempertahankan ketenangannya ketika si pengemis menolak permintaannya, tapi pemimpin bandit itu tiba-tiba menemukan dirinya sendiri tiba-tiba terkurung di tempat yang jauh dan terbius. Si pengemis itu berhasil keluar tapi dipergoki oleh anakbuah Dayang Noh, yang kemudian mengejarnya ke hutan.

Di kuil, Enok mengaku kalau dia tidaklah begitu hebat di Tiongkok, yang mana dijawab oleh Gil Dong kalau Enok lebih baik tahu cukup banyak untuk mengajarinya bahasa Mandarin. Lagipula itulah alasannya mengapa dirinya menyelamatkan Enok.

Enok: “Apa? Kau menyelamatkanku hanya karena kau ingin belajar bahasa Mandarin?”
Gil Dong: “Aku menjual semua obat-obatan itu untukmu. Jika kau mati sekrang, maka sia-sia sudah semua usaha dan waktuku”
Enok: “Tidak mungkin! Kau pasti akan menyelamatkanku walaupun tanpa pelajaran Mandarin! Mengapa? Itu karena kau adala pria yang baik!”
Gil Dong (dengan riangnya): “Nggak! Jika itu bukan karena pelajaran Mandarin, aku tidak akan menyelamatkanmu. Mengapa? Karena aku ini seorang bajingan.”

Percakapan mereka berlanjut ke topik yang semakin lama semakin aneh ketika mereka memperdebatkan apakah hantu Tiongkok lebih menakutkan daripada hantu yang berasal dari negara mereka, Korea. Enok menggambarkan seseuatu yang seperti  zombie (mayat hidup), hantu dari Tiongkok; Gil Dong menyelanya, mengatakan kalau hantu Korea lebih menakutkan. Jadi siapa yang akan memenangkan pertarungannya?

Aku harus mengakui kalau adegan ini membuatku tertawa sangat keras. Awalnya sih kelihatan konyol, tapi saat mereka membuatnya semakin lama semakin tampak seperti sesuatu yang bodoh, sampai suatu saat justru menjadi sangat lucu. Terutama saat si mayat hidup dari Tiongkok melompat-lompat di atas tanah sementara sang hantu dari Korea melayang di atasnya – keduanya tidak dapat menyerang satu-sama lain …. lucu banget … hehehehe ….

Di lain pihak, si pemimpin bandit terluka parah oleh para pengawal Dayang Noh. Gil Dong merasakan sesuatu yang aneh dan menuju ke hutan, dan menemukan pria yang terluka, ditinggal untuk mati. (Wah kelihatannya si Gil Dong punya indera ke enam … ahahahha😛 )

Pria yang sekarat itu (yang menyebutkan nama Rahib Hae Myung) berhasil memberikan pesan terakhinya, walaupun dengan susah payah: kelompok bandit pimpinannya berencana untuk bertemu dalam dua hari di hutan. Gil Dong HARUS memperingatkan mereka untuk lari, atau mereka akan mati. Lalu ia mati.

Gil Dong mengubur pria itu di kuburan para bandit, dan Enok menangisi kematian pria itu yang membuat Gil Dong terkejut. Gil Dong beralih ke kuburan yang lain, mengenalinya sebagai makam ibunya. Mengetahui kalau ia tidak bisa membesarlam anaknya, yang dianggap tidak sah, di Seoul, dia mencoba untuk melarikan diri, tapi mati segera setelah melahirkan Gil Dong. Gil Dong merenung, jika saja ibunya tidak melahirkan dirinya, mungkin ia masih hidup sekarang.

Gil Dong menepuk-nepuk makam ibunya dengan lembut, dan Enok, sekarang menangisi betapa sedihnya kehidupannya itu, menepuknya dengan maksud menghibur. Momen yang sangat berkesan.

Kemudian Enok memberitahu Gil Dong kalau ia akan meninggalkannya sendirian, memberinya waktu pribadi …. dan kemudian melangkah pergi tapi segera saja ia menghancurkan momen itu karena terpeleset jatuh, dan Gil Dong melihatnya ….. hehehheeh ….

Hae Myung dan Kakek Enok bertemu satu sama lain di hutan, keduanya dalam perjalanan menuju ke kuil, si Kakek mengenali Hae Myung sebagai Rahib yang menemani Gil Dong, dan mereka segera saja terlibat dalam pertarungan pendek untuk menentukan siapa yang lebih hebat dalam perjalanan menuju ke Kuil. Mereka mempercepat langkah untuk saling mengalahkan yang lain sampai kedua-duanya benar-benar kehabisan napas. Dasar dua orang tua yang konyol …. semakin tua semakin jadi aja  … ahahahah😛

Nah, di sana akhirnya Enok menyapa mereka, kemudian berbicara dengan Hae Myung mengenai kepala bandit yang mati tadi malam. Hae Myung sangat senang ketika mendengar kalau si kepala bandit mewariskan tongkat pimpinannya pada Gil Dong, dan berkata, “Aku kira sekarang benda itu menemukan jalannya sehingga bisa sampai ke pemilik yang sebenarnya.

Tapi Gil Dong tidak punya niat untuk memenuhi permintaan dari pemimpin bandit itu, dalam hatinya: “Maaf, aku berrencana untuk melarikan diri. Kau salah memilih orang!”

Nah … sekarang kita akan bertemu dengan SEO YOON SEOB, seorang pejabat tingkat tinggi di pemerintahan (yang sangat bangga akan dirinya sendiri karena menjadi orang yang sangat penting dan berkuasa), yang menunjukkan tandu barunya dengan gaya Tiongkok pada ibu In Hyung, Nyonya Kim.  Anak gadis Tuan Seo, EUN HYE dan In Hyung akan segera menikah setelah In Hyung lulus dari ujian pelayanan umum.  Gugup karena menyebutkan ujian, Nyonya Kim mencoba menguji Seo, bertanya apakah kedua anak itu bisa tetap menikah walaupun jika In Hyung gagal dalam ujian; Seo tidak menyukai ide itu.

Di luar kediaman Seo, In Hyung mengintip untuk melihat sedikit bayangan dari calon istri yang dicintainya, Eun Hye. Kebalikan dari penampilan luarnya yang kalem, Eun Hye memiliki sifat yang sangat mengerikan, yang membuat pengasuhnya ketakutan. Melihat satu dari sepasang burung lovebird mati di kandangnya, dia bertanya-tanya, akankah burun yang hidup itu mati tanpa ada pasangannya? “Kita lihat apa yang akan terjadi. Apakah dia ingin hidup, atau mati? Jika ia makan karena ingin hidup. Aku akan membunuh yang satu ini juga!”

Dia menaburkan makanan di kandang, dan ketika burung itu memakannya, Eun Hye tersenyum jahat: “Jadi jantan ini tidak punya kesetiaan.” Dia menangkap si burung dan mencengkeramnya dengan erat di tangannya, bersiap untuk meremukkannya, dan kemudian melemparkannya keluar jendela untuk selanjutnya terbang pergi. Tertawa keras, Eun Hye memberitahu pengasuhnya yang sangat shock, “Tentu saja dia ingin hidup … Semuanya khan sangat jelas … Sungguh lebih baik jika dia juga mati. Sangat membosankan.”

Euh Hye ternyata memiliki karakter yang sangat menarik, terutama kalau dipasangkan dengan seorang bangsawan lemah seperti In Hyung.  Waaaahhhh … Aku takut deh kalau jadi suaminya😛

Karena Gil Dong berencana untuk meninggalkan Korea dan pergi ke Tiongkok segera, waktunya bagi pasangan itu yang sudah menikah (pura-pura) untuk berpisah. Enok mengajarinya kata-kata “Baba” (Papa/Ayah) dan “Da Ge” (Ta Ko, kakak laki-laki), memberitahunya kalau ia merasa sangat frustasi karena tidak dapat memanggil keluarganya dengan sebutan Ayah dan Kakak (karena statusnya yang tidak sah), dia dapat menggunakan bahasan Mandarin.

Enok memutuskan untuk memberinya hadiah dengan pertunjukan khusus dari rencana-cepat-untuk-kaya nya yang baru, atraksi “menyihir” ular. Dia memainkan seruling (?), dan ular di depannya perlahan-lahan bergoyang naik mengikuti suara seruling itu. Coba lihat latar belakangnya …. hahahahah … sungguh kocak …. ahahahah😛

Tapi si ular tidak berefek bagus pada Gil Dong, yang kelabakan dan segera membunuhnya, melemparnya jauh. Dan seketika itu juga mimpi Enok untuk menghasilkan uang dengan pertunjukan ular menghilang, dan dia beraksi dengan penuh rasa gusar. Gil Dong lari untuk meloloskan diri dari kemarahan Enok yang sudah sampai di ubun-ubunnya …… ahahahah😀

Gil Dong merasa ketukan rasa bersalah karena telah membunuh si ular, sekarang baru sadar (karena Enok meneriakkannya ke seluruh desa) apa artinya itu bagi Enok, dan bertanya pada seorang pedagang, Tuan Wang, jika ular menari benar-benar ada. Dia juga mendapat berita kalau perahu yang menuju Tiongkok akan berlayar esok pagi dan kemudian ia ingat permohonan kepala bandit padanya. Gil Dong bimbang, jika ia menumpang perahu itu, dia tidak akan dapat memperingatkan kelompok bandit itu.

Kakek Enok memberitahunya kalau pria tampan dengan topi bambu sudah mengikutinya berkeliling selama ini, dan Enok secara otomati mengira kalau Chang Whe pasti tertarik pada dirinya. (Jah ge er banget nigh cewe😛 ) Karena itulah ketika Enok bertemu dengannya di desa, Enok merasa malu dan tersipu-sipu, mau menyinggung betapa ia pasti sangat menyukai Enok.

Tepat ketika Enok mau mempermalukan dirinya sendiri di depan Chang Whe, seorang anak laki-laki mencopet dompetnya dan lari. Enok spontan mengejarnya melalui perkampungan kumuh, tapi kemudian diserang oleh rasa kasihan ketika melihat anak itu hidup di sebuah gubuk dengan banyak anak-anak kecil  lainnya yang sakit dan kelaparan. Enok akhrinya reda kemarahannya dan justru bersimpati pada mereka, ia membawa adik laki-laki anak tadi untuk mendapatkan pengobatan, dan memberinya jepit rambut Ratu, memberitahu anak itu untuk menjualnya dan uangnya untuk membelikan makanan bagi adik-adiknya yang lain. Sementara itu, Chang whe menyaksikan semuanya dari kejauhan dan mengingat kebaikan Enok itu dalam hatinya, senyuman mengejeknya yang biasa tersungging di bibir, menghilang sedikit, kemudian ia memerintahkan pengawalnya, Chisu, untuk  membeli jepit rambut itu dari si anak laki-laki.

Di Istana, sendirian di tahtanya, kakak Chang Whe, Kwang Whe, terbayang-bayang dengan semua hantu dari semua orang yang ia bunuh untuk menguasai tahta. Dia bereaksi dengan mimik penuh kegembiraan dan duka yang mendalam saat semua hantu menghilang menjadi satu, Chang Whe muda. Hantu anak laki-laki itu memanggil Kwang Whe, dan Kwang Whe berteriak, “Aku tidak ingin membunuhmu”

Gil Dong mampir ke rumahnya untuk mengucapkan selamat tinggal pada ayahnya, tapi tetap menjaga jaraknya dengan tinggal di luar. Dia kemudian memberi penghormatan besar pada bayangan ayahnya, menyembah dengan hormat. Mengingat perkataan Enok, ia mencoba untuk memanggil ayahnya dengan bahasa Mandarin untuk “ayah”. Gil Dong merasa sedikit janggal dan tidak nyaman, tapi ia mengucapkannya.

Keesokan paginya, dalam perjalanannya ke dermaga, dia melihat para pengawal Raja di desa dan mendengar bisik-bisik dari orang-orang kalau akan terjadi masalah. Gil Dong mengingat permohonan dari kepala bandit yang sekarat  dan merasa gelisah, tak tenang … tapi kemudian menyingkirkan perasaan itu menganggap bukan urusannya.

Tuan Wang mengantarkan sekantung uang pada Enok, pembayaran dari Gil Dong untuk ular yang dibunuhnya. Enok merasa menyesal pada Gil Dong ketika menyadari kalau Gil Dong sekarang bermaksud meninggalkan negera asalnya tanpa seorangpun yang mengantarkannya. Atau itu hanya alasannya saja sehingga ia bisa memburu ke dermaga dan menemui Gil Dong sebelum ia pergi; Enok berteriak pada perahu yang mulai berlayar: “Selamat tinggal, Gil Dong! Pergilah ke Tiongkok dan pelajarilah banyak hal di sana! Temuilah hantu Tiongkok! Dan juga ular yang menari! Gil Dong, terima kasih!”

Sementara itu, di tempat pertemuan yang sudah ditentukan, anggota kelompok bandit menunggu pimpinan mereka, tidak mengetahui kematiannya.

Waspada dan curiga dengan kedatangan Gil Dong, mereka tidak mempercayai peringatan dari Gil Dong untuk pergi jauh. Sementara itu, para pengawal Raja mulai mendekati dengan jumlah yang sangat banyak, mengepung mereka berusaha untuk membasmi mereka.

Tapi, saat Gil Dong menunjukkan pada mereka tongkat dengan salah satu ujungnya dibuat dari  emas, yang diterimanya dari kepala bandit, semua bandit itu menyadari kalau Gil Dong pasti mengatakan hal yang sebenarnya ketika Gil Dong memberitahu mereka untuk mendengarkannya jika mereka semua tidak ingin mati.

4 comments on “Hong Gil Dong – Episode 02

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s