Hong Gil Dong – Episode 03

Gil Dong memberitahu para bandit untuk melarikan diri sebelum mereka tertangkap dan terbunuh, tapi sebenarnya, para bandit curiga dengan orang asing di tengah-tengah mereka. Demi keselamatan mereka, Gil Dong tidak dengan tepat membuat masalah menjadi lebih persuasif untuk dirinya sendiri karena sikapnya yang terlihat sembrono bertolakbelakang dengan peringatannya yang sungguh-sungguh. Akhirnya ia berhasil meyakinkan mereka, tapi pada saat itu sudah terlalu terlambat karena prajurit sudah menuju mereka. Tidak ada jalan untuk mundur tanpa terlihat.

(Dua orang di belakang Gil Dong adalah MAL NYEO DAN SU GEUN)

Para bandit mencoba untuk merencanakan strategi melarikan diri sementara Gil Dong melagukan pujian pada Budha, tapi setiap kali ide yang buruk diusulkan oleh Su Geun, yang cepat marah, Gil Dong melagukan dalam nada rendah,  “Jika kau lakukan itu ….. kalian semua akan matiiiiii ….”  dan ” Ah uh …..  Itu akan membuatmu terbunuh juga ….. “

Akhirnya para bandit meminta nasihat pada Gil Dong, dan dengan cepat Gil Dong membuat rencana, meminta mereka untuk mengikuti komandonya tanpa banyak tanya. Su Geun (karena pria, maka ia merasa “terancam”,  dan dengan sikap tidak begitu berbahaya, bahkan seperti bercanda)  tidak mempercayai kepemimpinan Gil Dong, sementara yang lain mengakui kemampuan Gil Dong dan mengikuti semua perintahnya. Mal Nyeo bahkan mengerlingkan matanya sedikit saat Gil Dong berlari dengan beraninya. (Tapi siapa yang dapat menyalahkannya …. orangnya tampan boq 😛 )

Rencananya sangat sederhana, tapi berhasil karena pasukan yang sedang mendekat meremehkan para bandit. Pertama, Gil Dong memberi perintah pada para bandit untuk menabuh genderang dan simbal dengan keras-keras, seaan-akan mereka sedang berkumpul untuk melakukan penyerbuan besar-besaran. Setelah merasa membuat suara ribut yang dirasa cukup untuk menarik perhatian, Gil Dong secara mendadak memerintahkan semuanya untuk diam. Mereka bersembunyi, sementara pasukan, mengikuti suara ribut tadi, sampai pada tempat pertemuan yang sudah kosong.

Kemudian Gil Dong melanjutkan kembali tabuhan genderang dari tempat jauh untuk mengalihkan perhatian pasukan itu ke arah berlawanan. Para prajurit segera mengejarnya, dan sekarang para bandit bebas untuk melarikan diri. Gil Dong pergi sendiri, dan para pencuri mengakui kalau dia baru saja menyelamatkan mereka semua.

Sementara itu, Kakek mengusulkan pada Enok agar mereka berdua tinggal di kuil untuk sementara. Enok, yang tenggelam dalam rasa murung setelah “suami tercinta” nya pergi ke Tiongkok, tidak tahu mengapa ia merasa begitu muram, tapi si Kakek menduga kalau alasannya adalah Gil Dong. Dia berpikir berapa banyak sudah si Enok bertumbuh, dan mengingat saat pertama kali ia melihat Enok.

Flashback … Si Kakek (yang masih muda) menimang Enok bayi yang menangis di samping ibunya yang terbaring mati dan penuh darah di jalan.  Sejak itulah Enok selalu bersamanya, selama 20 tahun ini.

Juga terjadi 20 tahun yang lalu, menyingkapkan Dayang Noh dan salah satu sekutunya, adalah pembunuh dari seorang menteri tertentu dari pemerintah. Alasan mengapa ia tertarik pada para pencuri sekarang jelas sudah; dengan para pengawal meninggalkan tempat jaga mereka untuk mengejar para pencuri, Chang Whe dan anak buahnya dapat menyelundupkan persenjataan. Dengan bantuan senjata-senjata itu, mereka akan dapat mencuri sebuah pedang tertentu,  yang berkaitan dengan pembunuhan menteri yang masih belum terpecahkan dan situasi di sekitar pengangkatan Raja, yang sekarang memerintah,  ke atas tahtanya. Identitas pemegang pedang itu tidak diketahui, tapi ada kemungkinan kalau dia adalah orang yang dekat dengan Raja yang sekarang. Dia juga adalah orang yang bertanggungjawab atas kebakaran yang akhirnya membunuh Ratu sebelumnya.

Gil Dong kembali ke kota, karena ia ketinggalan perahu yang menuju ke Tiongkok, dan bertemu dengan Chang Whe dan Chisu dengan barang-barang mereka, mulai berbaris dua – dua untuk pemeriksaan di pintu gerbang. Bagaimanapun juga karena para prajurit yang keluar dan tidak berhasil menemukan para bandit kembali lebih cepat, dan kepala daerah memiliki perasaan, menyadari kalau para bandit itu kemungkinan besar sudah masuk ke kota. Dia memerintahkan anak buahnya untuk mencari di seluruh kota dan menemukan para penjahat itu. Chang Whe menyadari kalau dia bisa tertangkap basah.

Jadi dia memerintahkan Chisu untuk menyelamatkan barang-barang mereka ke tempat yang lebih aman sementara ia akan membuat pengalihan dengan melempar peledak. Karena ini, dia dikejar ke dalam kota, dan kemudian berhasil meloloskan diri dengan menyamar sebagai seorang desa.

Gil Dong tertarik dan ingin tahu sehingga memutuskan untuk mengikuti Chisu, dan dia melihat kemana mereka menyembunyikan persenjataannya. Setelah itu dia kembali ke pasar dan merasa terganggu karena seluruh pasar ternyata sedang merayakan “keberangkatannya” ke Tiongkok.

Di lain pihak, Enok memata-matai Chang Whe yang menyamar dan setiap Chang Whe menoleh, ia akan segera bersembunyi (karena Chang Whe pernah menuduhnya menguntit). Dia kemudian mengambil sebuah pot tembaga, tapi tak sengaja menjatuhkannya; Pot itu jatuh ke tanah dengan suara yang sangat keras.

Para pengejar Chang Whe mendekat di pasar, menjebaknya, dan ketika penjaga toko meminta Enok untuk membeli pot itu karena sudah cacat sekarang, Enok mulai mendebatnya. Chang Whe membelinya dengan segera untuk mencegah keributan yang menarik perhatian.

Enok salah paham kalau ini adalah taktik Chang Whe karena tertarik padanya; dan Chang Whe menambahkan kesalahpahaman itu lebih dalam ketika Enok beranjak akan pergi dan berterima kasih atas hadiahnya, Chang Whe (memerlukannya untuk menyamar) meraih tangannya, mengatakan, “Tetaplah bersamaku sedikit lebih lama lagi”. Mereka berkeliling desa bersama-sama, dan sikap acuh-tak acuh Chang Whe sedikit hilang ketika mendengarkan Enok yang sedang menceritakan kisah hidupnya. Chang Whe bahkan merasa bersimpati saat mendengar kalau Enok adalah seorang yatim piatu, atau itu mungkin perasaan senasib, karena Chang Whe juga yatim piatu.

Di tempat lain di pasar, Eun Hye sedang berbelanja dengan para pengawalnya. Eun Hye memacak dirinya di cermin dengan semacam perhiasan mencolok, membuat jantung pengasuhnya berdebar keras karena itu adalah barang-barang yang biasa dipakai oleh gisaeng.  Sementara pengasuhnya sedang pergi untuk melakukan perintahnya, Eun Hye menyelinap pergi dan berjalan menuju ke sebuah gibang.

Di dalam, dia melihat ke sekeliling di area ruangan tamu, menikmati penjelajahannya ini sampai ia bertemu dengan seorang yang asing baginya, tapi tidak bagi kita … si Gil Dong 😀

Gil Dong bertanya apakah ia gadis baru, dan Eun Hye mengiyakannya. Gil Dong bertanya-tanya siapa yang tega menjualnya ke tempat seperti ini (ayah pemabuk? Saudara laki-laki yang bangsat?) dan Eun Hye menjawabnya kalau dia pergi dengan niatnya sendiri demi mencegah nasib yang lebih buruk.  Gil Dong mencemoohnya, mengatakan kalau ini bukanlah tempat yang cocok baginya. Eun Hye mencoba bertindak berani, tapi  Gil Dong membuka bualannya …

Dia menyambar Eun Hye ke dalam sebuah kamar mandi belakang, dan Euh Hye secara refleks memberontak dan mengatakan pada Gil Dong untuk melepaskannya. Gil Dong langsung menyatakan maksudnya, “Nah lihat? Seorang gisaeng harus berurusan dengan para lelaki yang dia tidak sukai. Tidak menyenangkan, bukan?” kemudian melepaskannya. Kendatipun Eun Hye dapat menguasai dirinya kembali, tapi jelas kalau Eun Hye adalah gadis bangsawan yang dipingit, dia terpesona dengan sisi lain dari kehidupan rakyat kelas bawah. Eun Hye memperkenalkan dirinya sendiri dan menanyakan nama Gil Dong; Gil Dong memberitahu kalau Eun Hye tidak perlu tahu karena ia akan segera pergi tak lama lagi.  Saat Gil Dong berjalan pergi dengan lagak angkuh (untuk berbicara pada seorang gisaeng mengenai Chang Whe dan kelompoknya), Eun Hye tersenyum: “Sungguh menarik!”

Di tempat lain di Gibang, In Hyung berjudi dan memohon pada bangsawan yang lain untuk membantunya berbuat curang pada ujian pelayanan umum.  Para pejudi lain bertanya-tanya apakah Gil Dong dapat membantu untuk membuat pengalihan bagi In Hyung, kemudian mengirim pesan padanya.

Gil Dong datang, memberi penghormatan pada In Hyung, sementara keputusasaan di wajahnya segera menghilang ketika dia tersenyum mengejek pada Gil Dong, yang berstatus lebih remdah. Mereka kemudian mengajukan usul mereka, dan In Hyung lebih jauh menghinanya, “Bukankah itu adalah harapan terbesarmu untuk mengikuti ujian?” Dia tertawa dengan yang lainnya, mengatakan pada mereka betapa Gil Dong terbiasa bermimpi untuk mengikuti ujian, tidak mengetahui kalau anak tidak sah tidak bisa. Jika dia membantu mereka, maka dia akan dapat melihat seisi ruangan ujian.

Ejekan mereka itu tepat sasaran, tapi Gil Dong menolak tawaran itu, yang mana membuat gemas In Hyung. Tapi para bangsawan lain merasakan kalau mereka akan dipermalukan dengan penolakan itu, mencoba menyelamatkan muka mereka dengan mengatakan kalau mereka juga tidak akan mempercayai seorang macam Gil Dong dengan tugas yang sangat penting seperti itu ….

Gil Dong pulang ke rumah ayahnya, dan hal pertama yang dilakukan oleh Ibu In Hyung adalah menamparnya karena telah menyentuh putranya yang berharga. Dia membenci Gil Dong, yang mungkin berarti kalau dalam hatinya dia mengakui bahwa Gil Dong lebih cerdas dan berkemampuan dari pada putranya sendiri. Dia menggerutu mengenai kebiasaan Gil Dong, berjudi dan melacur, kemuidan bertanya-tanya kemana perginya si In hyung. Gil Dong (dengan sengaja) memberitahunya dengan sopan,  “Nyonya, aku katakan ini hanya karena kau khawatir. Dia sekarang sebenarnya berjudi di gibang.” Hah?!!

Gil Dong mulai beranjak pergi menuju kuil, tapi bertemu dengan ayahnya.

Menteri Hong: “Kenapa kau tidak pergi? Apa kau pikir aku tidak tahu kalu kau berdiri di depan jendelaku tadi malam?”
Gil Dong: “Lalu mengapa kau tidak melakukan apapun? Jika seorang pelayan lari, tidakkah ada hukum yang menyatakan untuk menangkap dan membunuhnya? Tidakkah itu yang kau lakukan pada ibuku?”

Ayahnya memberitahu Gil Dong memberitahunya betapa Gil Dong menyia-nyiakan hidupnya: “Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!” Gil Dong merasa tusukan di hatinya, tapi dia dengan tenangnya memberitahu kalau dia akan pergi: “Lain kali jika kau bertemu denganku, bertingkahlah seperti kau tidak pernah  mengenalku!”

Di kuil, Hae Myung dan Kakek Heo mengadakan lagi pertandingan yang lebih konyol (dasar orang tua!!), kali ini bertaruh sebiji kue beras. Hahahaha … konyol sekali …. hubungan keduanya ini sebenarnya juga mencerminkan kedua orang yang dalam asuhan mereka, si Gil Dong dengan si Enok. Membuat cerita ini semakin menarik dan lucu ….

Sementara itu, Enok mengikik melihat pot tembaga baru yang sekarang menjadi miliknya, membersihkannya di sungai.  Gil Dong datang mendekatinya dan menyaksikannya, merasa geli, saat pot itu hanyut karena arus. (Andy:  Aku pikir itu cuman pot biasa aja) Tapi Enok mengejarnya sambil berteriak, “Pot pipisku!!!” ….. ahahahhahaha …… dan Enok jatuh ke air.

Gil Dong mengingat kembali sehari sebelumnya, ketika dia ketinggalan perahu ke Tiongkok, dan kemudian mendengar Enok berteriak dan mengucapkan ucapan selamat tinggal dari dermaga. Gil Dong tersenyum,  “Ternyata, tak kusangka kalau ada seseorang yang bersedia mengantarku”.

Dan kemudian Gil Dong mengalami momen yang membuatnya tidak nyaman, ketika ia melihat sekilas, mungkin, tanda pertama dari pesona kewanitaannya. Yang sebenarnya sangat menggelikan karena Enok bukanlah tepat dikaitkan dengan Dewi Sungai, justru terlihat seperti orang habis tenggelam daripada wanita cantik yang sedang mandi.

Dan kemudian …. Gil Dong melihat sesuatu yang aneh sedang terjadi, Enok ternyata sedang buang air besar di dalam air!!! Jijik, Gil Dong segera lari pergi … ahahaha …

Di Kuil, Enok yang sedang mengeringkan diri melihat Gil Dong dan tidak dapat mempercayai kalau ternyata Gil Dong kembali. Enok segera menyerbunya dan ingin memberinya pelukan selamat datang, tapi Gil Dong masih mengingat kejadian di sungai  tadi dan menolak untuk bersentuhan dengannya. Tapi ia masih sempat berkomentar, “Yah, ternyata masih ada seseorang yang senang melihatku kembali”  (Ingat di pasar tadi orang-orang justru merayakan kepergian Gil Dong dengan gembira)

Enok bertanya mengapa ia datang ke kuil dan bukannya ke rumahnya, dan Gil dong memberitahunya kalau ayahnya tidak ingin dirinya ada di sana.

Enok: “Apakah alasanmu sebenarnya ingin pergi ke Tiongkok karena sikap ayahmu?”
Gil Dong: “Aku pergi karena aku tidak suka melihatnya, tapi ternyata berbalik ia juga tidak suka melihatku. Yah tampaknya itu berhasil dengan baik.”
Enok: “Kau pasti sedih.”
Gil Dong: “Yeah, Aku sangat sedih karena aku tidak dapat pergi ke Tiongkok.”
Enok: “Bukan, bukan itu! Tidakkah kau sedih karena ayahmu berkata kalau ia tidak ingin melihatmu? Khan sebenarnya bukan karena kau menyukai Tiongkok sehingga kau mau pergi ke sana?”

Denok kemudian berusaha menyemangatinya, “Jiayou!” (yang mungkin artinya “Ayo semangat!”).

Gil Dong: Hey, jadi kau ternyata kau tahu bagaimana untuk membuat suamimu ceria!

Dan kemudian dia makan permen yang diberi oleh Enok, dan merasakan kalau itu sangat aneh rasanya. Enok memberitahunya kalau itu ada di sakunya dan menjadi basah saat ia berendam di sungai, segera saja Gil Dong menyadarinya ketika Enok sedang …. ehm ….. buang air besar di sungai. Merasa ngeri, Gil Dong segera memuntahkannya keluar.

Raja yang bertahta sekarang, merasakan perasaan bersalah di dalam dirinya semakin meningkat, ingin pindah ke Istana lain untuk melarikan diri dari para hantu yang ada di Istananya sekarang. Menteri Hong (ayah Gil Dong) menentang rencananya untuk membangun Istana yang baru, tapi Raja tetap bersikeras.

“Tempati ini dihantui oleh para hantu setiap malam. Aku tidak dapat tidur. Mereka kerap kali membisiikan, “Kwang Whe, serahkan tahtamu. Kwang Whe serahkan tahtamu!”  Selamatkanlah aku! Aku telah bersalah …. Menteri, tidakkah kau mendengar suara para menteri yang telah kau bunuh? Tidakkah kau juga membunuh teman-temanmu?

Perkataan raja itu mendapatkan pandangan curiga dari seorang menteri yang lain, tapi ketika ia mencoba untuk mengangkat masalah itu, Menteri Hong segera menyuruhnya diam, memberitahunya untuk tidak mempercayai ocehan raja yang meracau.

Tapi tentu saja, sang Raja berbicara hal yang sebenarnya, karena Menteri Hong lah orang yang saat ini memiliki pedang berukir. Sebuah flashback menunjukkan pada kita bahwa dia memang telah membunuh seorang menteri “dengan maksud untuk melindungi rahasia dari pedang ini” dan untuk menjaga posisi Raja tetap bertahta, menghancurkan para penentangnya yang percaya kalau tahta seharusnya diwariskan pada Chang Whe, karena dia anak dari Ratu.

Enok membawa Gil Dong ke seseorang penjual tiket untuk membeli tiket lain untuk ke Tiongkok, dan bertemu lagi dengan Chang Whe dan para pengiringnya. Enok menyapanya dengan terbuka karena ia pikir mereka berdua sekarang berteman, tapi Chang Whe sedang sibuk dengan urusannya dan menyangkal kalau ia mengenal Enok.

Hae Myung memberitahu Kakek Heo kalau dia telah meramal masa depan Enok, dan melihat kalau Enok akan menjadi seorang Ratu. Kakek Heo membayangkan kalau itu memang bisa saja terjadi,  karena Enok bisa saja berasal dari keluarga bangsawan, Kakek Heo tidak mengetahu apapun mengenai diri Enok saat ia menemukannya dengan ibunya yang mati beberapa tahun yang lalu. Flashback lain sekarang menunjukkan kalau ibu Enok mati karena perbuatan yang lebih jahat, lagi-lagi dirancang oleh Menteri Hong. Dan karena Kakek Heo telah melihat wajah Menteri dari balik bayang-bayang rumah, tinggal menunggu waktu saja sebelum dia menemukan hubungannya.

Marah dan terluka karena penyangkalan kejam oelh Chang Whe, Enok berkeliling  dengan wajah murung, sementara Gil Dong memberitahunya kalau Enok lebih baik melupakannya. gil Dong mendengarkan Enok ketika ia melepaskan perasaanya, bersumpah, “Lain kali saat aku bertemu dengannya, aku akan bertingkah seperti aku tidak tahu siapa dia!” Dia kemudian menendang sebuah batu karena frustasi, mengirimnya jauh dan tepat mengenai sebuah sarang lebah. Uh … oh ….

Lebah-lebah itu segera beterbangan dan mulai menyerbu mereka, membuat Enok dan Gil Dong berlomba-lomba menuju ke hutan untuk melepaskan diri dari serangan lebah yang marah.

Mereka berdua menemui sungai dan segera terjun ke dalamnya sampai kumpulan lebah itu menghilang, tapi ketika dirasa aman untuk kembali ke permukaan, kaki Enok tersangkut di antara bebatuan yang besar dan berat. Gil Dong mencoba untuk membantunya melepaskan diri, tapi Enok ternyata benar-benar tersangkut.

Enok dengan segera kehabisan udara dan mulai kehilangan kesadarannya …. Gil Dong panik sehingga ia melakukan satu-satunya yang terpikir olehnya saat itu. Dia segera menuju ke permukaan air, menghirup udara sampai paru-parunya serasa penuh dan berenang kembali ke bawah air untuk memberikannya pada …

7 comments on “Hong Gil Dong – Episode 03

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s