Hong Gil Dong – Episode 04

Setelah diselamatkan dari air oleh Gil Dong, Enok merasakan campuran antara perasaan terima kasih karena diselamatkan dan malu untuk “ciuman” yang tak direncanakan. Sebaliknya dengan Gil Dong, tanpa mengetahui perasaan Enok mengingatkannya untuk tidak melupakan hari ini. Enok salah mengerti, berpikir maksud Gil Dong mengenai “ciuman” itu, tapi kemudian Gil Dong menjelaskan kalau ini adalah kedua kalinya dirinya menyelamatkan hidup Enok. Lega, Enok bersumpah akan membalas budi padanya entah kapan.

 

Kekek Heo merenungkan ramalan dari Hae Myung, bertanya-tanya bagaimana seorang gadis yang kasar dan ceroboh seperti Enok nantinya bisa menjadi anggota Kerajaan, dan bagaimana seorang gelandangan malas seperti Gil Dong dapat menjadi seorang pahlawan. Tapi, Hae Myung menebak dengan benar saat ia dengan tepat menyatakan kalau Kakek Heo tidak memiliki anak, walaupun sebenarnya tidak mungkin Hae Myung bisa tahu kalau Enok bukanlah sanak kadangnya yang bertalian darah

Sementara itu, Raja yang gelisah bertekad untuk membangun Istana yang baru dan megah (dan tidak ada hantu tentunya), dan rakyat digiring dan didaftarkan pada pekerjaan pembangunan dengan kejam. Dayang Noh melihat kalau ini adalah kesempatan besar untuk menyelundupkan mata-mata ke Istana. Untuk beberapa alasan, ujian pelayanan umum (yang sebenarnya peristiwa besar, karena semua pria dari seluruh negeri akan menuju ke Hanyang untuk mengikuti ujian) adalah hari di mana Chang Whe harus dapat merebut pedang yang dicuri …

 

…. dan pedang itu ada dalam tangan Menteri Hong. Pedang itu sangat penting bagi Chang Whe karena berkaitan dengan klaim Chang Whe untuk menyatakan diri sebagai pewaris yang sah dari tahta kerajaan, dengan adanya ukiran yang menyatakan kekuasaan di atas badan pedangnya. Menteri Hong telah mencuri pedang itu dari menteri sebelumnya (yang ia bunuh) dan membantu Raja yang sekarang naik tahta, sebab sekeping bukti ini tetap tersembunyi.

Istri dan anaknya, di lain pihak, sangat ingin untuk menghukum Gil Dong karena berencana untuk melarikan diri (yang dapat dijadikan alasan untuk mengeksekusinya), tapi  Menteri Hong membungkam gerutuan In Hyung dan memberitahunya untuk mencemaskan masalahnya sendiri (ujian yang akan segera dilaksanakan). Dan In Hyung benar-benar sangat cemas. Ibu In Hyung menuduh suaminya pilih kasih dan membantu Gil Dong, dan kemudian mereka bedua berdebat bagaimana akhirnya ibu Gil Dong mati karena Nyonya Hong. Sang istri keluar dan bergumam, “Dan aku akan melakukannya lagi.”

Dan apa solusi ibu In Hyung untuk anak kesayangannya mengenai ujian yang akan dihadapi anaknya? Dia mengusulkan untuk menyuap agar In Hyung bisa masuk. Ah … memang ibu yang bisa diandalkan … Tapi karena suaminya selalu menjaga keuangan keluarga mereka dengan ketat, mereka harus menemukan cara untuk mendapatkan uang suap itu dan mencari kambing hitam. Siapa lagi yang bisa lebih baik selain Gil Dong?

Gil Dong mengisahkan pada Enok bahwa ketika ia mempelajari kebenaran di balik kematian ibunya, dia menyadari cara dunia ini bekerja, bahwa dia selalu akan menjadi seorang pelayan, selalu menjadi orang berstatus rendah. Saat itulah ia bertemu pertama kalinya dengan rahib Hae Myung.

Pada saat bersamaan rahib Hae Myung juga mengisahkan kisah yang sama, tapi berdasarkan versinya sendiri, pada Kakek Heo.

Kita akan flasback berdasarkan cerita dua orang ini, yang walaupun sebenarnya menceritakan kejadian yang sama tapi dalam sudut pandangan yang berbeda, antara pengajaran si rahib Hae Myung dan apa yang bisa dipetik oleh Gil Dong darinya.

 

Hae Myung menceritakan kalau dia berusaha membuat si remaja Gil Dong untuk membersihkan dan menyapu dengan maksud untuk mengajarinya disiplin diri; tapi Gil Dong mengartikannya bahwa tidak ada di kehidupan ini yang namanya “gratis”.

Hae Myung kemudian membuatnya bergantung pada cabang sebuah pohon dengan maksud memberinya pelajaran agar bersabar; Gil Dong jatuh dari cabang pohon itu, merasakan sakit di pantatnya  dan mempelajari kalau dia tidak bisa mempercayai semua orang di dunia ini.

Hae Myung menyuruhnya untuk mengisi sebuah tong bocor untuk mengajarinya “tidak memiliki”; Gil Dong mempelajari bahwa walaupun seseorang bekerja sedemikian kerasnya sampai tulang-tulangnya remuk, tetap saja tidak akan yang tersisa nantinya. (Enok: “Ah … jadi itulah alasannya mengapa kau sangat malas!”).

Dan terakhir, menyembah pada dewa dan berdoa dengan tujuan untuk mengajarinya ketenangan hati; Gil Dong, yang celananya robek pas di pantatnya saat ia berlutut, mempelajari untuk tidak tahu malu.

Jadi pengajaran dari si Rahib justru mendapatkan hasil yang bertolak belakang tanpa si Rahib bisa mengerti bisa demikian. Gil Dong bertumbuh menjadi berandalan dan pribadinya sangat unik …. (kalau nda gitu nda bakalan ada cerita Gil Dong ini😛 )

Kemudian, tujuan utama Gil Dong sekarang adalah dengan segera menghasilkan uang yang cukup untuk membeli tiket perahu selanjutnya yang akan menuju ke Tiongkok, dan Enok dengan sukarela menyatakan ia akan membantunya. Lagipula ia memang berhutang budi pada si Gil Dong. Gil Dong mengamatinya dari atas ke bawah, kemudian tersenyum, “Yeah, kau memang bisa menjadi sebuah umpan yang bagus.”

Dengan kecantikannya? atau gayanya yang feminim?

…. Bukan !! Gil Dong benar-benar menjadikannya umpan ….. untuk memancing binatang buas …. ahahahah …..

Bersama-sama, mereka berdua berburu berbagai macam binatang buas (musang, beruang, macan ) yang mana kemudian mereka jual dengan harga yang bagus. Gil Dong kemudian mendapat tahu dari Pedagang Wang kalau perahu selanjutnya akan berangkat besok pagi, dan Gil Dong menjamin pada pedagang Wang, yang letih dengan tindakan Gil Dong yang bolak-balik batal, kalau ia akan naik ke atasnya.

Perbincangan mengenai keberangkatan Gil Dong membuat Enok tidak bersemangat, karena dia sudah mulai terbiasa bersama-sama dengan Gil Dong. Saat perjalanan mereka menuju ke desa, hujan turun dan membuat mereka segera mencari perlindungan di atap rumah yang berlawanan. Enok mengawasi Gil Dong dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri, hubungan macam apa yang mereka miliki, dan bergumam pada dirinya sendiri (tidak meyakinkan) kalau mereka berdua hanyalah teman biasa saja…… Teman yang zzzzzzuuuukaaaaaaa satu sama lain …. hehehehhe …..

 

Sebuah tandu melintas, dan di dalamnya ada Eun Hye. Rasa ingin tahunya menggelitiknya saat terakhir pertemuannya dengan Gil Dong, dia menyuruh tandu berhenti kemudian keluar menemui Gil Dong untuk berbicara dengannya. Gil Dong masih saja menyangka kalau Enok itu adalah seorang gisaeng. Enok memberitahu kalau dirinya sedang menjalankan suruhan kemudian memohon simpati Gil Dong, mengatakan dia harus menemukan seorang tabib, tapi kemudian dia tersesat di pasar yang tak dikenalnya dengan baik. Jika ia pulang terlambat, ia akan mendapatkan masalah.

Dengan perasaan yang enggan (karena Gil Dong tidak begitu tertarik dengannya), ia memberitahu Enok (yang penasaran, tidak cemburu) untuk menunggunya, dan memimpin Eun Hye ke tujuannya. Gil Dong kemudian langsung membalikkan tubuhnya, meninggalkan Eun Hye yang berteriak memanggilnya, “Tapi siapa namamu?” Eun Hye tidak mendapat jawaban, tapi bertekad untuk mencari tahu, dengan nada sendu, “Dia sangat menarik ….”

Di garis depan penyelidikan misteri pembunuhan, Chang Whe dan Dayang Noh mendapatkan rencana untuk mengungkap siapa menteri tingkat tinggi yang telah mencuri pedang rahasia itu. Dayang Noh yakin kalau salah seorang dari penjahatnya pasti menghadiri perayaan; jadi mereka akan pergi dengan menyamar sebagai pedagang kaya dari Tiongkok.

 

Di perayaan, Chang Whe diperkenalkan sebagai anggota dari garis keturunan keluarga Raja Dinasti Ming, yang membuat senang Menteri Seo, yang menyukai semua hal yang berbau Tiongkok (terlihat dari kegemarannya mengumpulkan barang-barang Tiongkok yang mahal). Chang Whe memberinya hadiah sebuah pedang, yang seharusnya adalah hadiah dari keluarga Raja Dinasti Ming, dan menyatakan kalau ia mendengar ada pedang berukir yang sama di kerajaan Chosun. Menteri Seo dibutakan karena senang dengan mainan barunya, tapi Menteri Hong hanya diam saja, menjadi tidak tenang saat Seo dengan tampang tak berdosa mengatakan jika memang benar pedang itu ada, maka itu pasti dipegang oleh teman dekat Menteri Hong, yang kemudian mati karena penyerbuan orang tak dikenal beberapa tahun lalu.  Hong memungkiri kalau ia tahu mengenai pedang itu

Chang Whe mencurigai diamnya Menteri Hong, demikian juga dengan seorang menteri yang lain, yang sebenarnya rasa curiganya sudah muncul sejak Raja meracau. (Masih belum tahu nama menteri ini, aku sebut saja menteri A). Dia menyimpulkan kecurigaannya itu pada Dayang Noh dan Chang Whe: “untuk melindungi posisi Raja yang sekarang, ia harusnya telah membunuh temannya sendiri dan menyembunyikan pedang berukir rahasia itu.”

In Hyung dan ibunya membuat rencana untuk membunuh seekor burung dengan sebuah batu: memfitnah Gil Dong dan mencuri uang untuk menyuap demi kesuksesan In Hyung melalui ujian. Mereka berdua menemui para bandit, yang jika kalian masing mengingatnya, telah kehilangan uang dalam perjudian dengan Gil Dong (Episode 01). Pimpinannya akan memakai baju Gil Dong dan meninggalkan bukti sebuah ikat pinggang, dan para bandit sangat senang diberikan kesempatan untuk mencuri kediaman bangsawan kaya.

 

Setelah makan malam, Enok dengan secara sambil lalu bertanya pada Gil Dong mengenai wanita tadi, yang disebutnya sangat cantik.  Siapa dia? Apakah ia dan Gil Dong sangat dekat? (Apakah ia sangat sangat menyukainya atau cuman menyukai begitu saja?)

Gil Dong: “Aku tidak tahu mengenai dirinya dan kami tidaklah dekat!”

Enok: “Lalu mengapa kau pergi dengannya tadi?”

Gil Dong: “Seperti yang kau bilang, dia sangat cantik!”

Jawaban itu membuat Enok menjadi sedih, dan Gil Dong mengejeknya si tolol. Enok menyahut balik,  “Jika aku seorang tolol, mengapa kau berkeliaran denganku?” Ini membuat Gil Dong berpikir sejenak: “Huh …? Itu memang benar. Aku biasanya tidak keluyuran dengan orang lain, kenapa aku bisa keluyuran dengan dirimu? Ehm … sebenarnya kau mulanya sangat menggangguku, tapi tidak terlalu buruk. Kau sedih ketika aku pergi, senang ketika aku kembali, menyemangatiku dengan mengatakan, “Jiayou!” Kau memang benar!” Merasa sedikit bersemangat, Enok menawarinya untuk membelikan minuman di gibang …

… yang mana ternyata sedang mengadakan pertunjukan khusus. (Spanduknya sangat ramai menggoda : ” Pertunjukan tari perut gaya India yang luar biasa! Hanya sehari ini saja! Termasuk hidangan pembuka, 10 nyang, dan diskon 1 % untuk semua peserta ujian pelayanan umum!”) Jika kalian memperhatikan dengan seksama, penari utama tarian perut itu tidak lain tidak bukan adalah si bandit wanita Mal Nyeo …

Melihat Gil Dong, yang sedang minum-minum di ruangan tersendiri dengan Enok, Mal Nyeo menunggu Enok pergi sejenak sebelum mendekatinya.

Gil Dong: “Kupikir kau seorang pencuri, tapi ternyata kau seorang gisaeng?”

Mal Nyeo: “Mencuri adalah pekerjaan sampingan. Gisaeng adalah pekerjaan utama.”

Gil Dong: “Tidakkah kau sangat sibuk. Apakah kau sebenarnya sekarang sedang melakukan pekerjaan sampingan atau pekerjaan utamamu??”

Mal Nyeo: “Pekerjaan sampingan. Kau seharusnya bergabung dengan kami!”

Gil Dong: “Ndak, makasih. Mencuri itu sangat menggangguku!”

Mal Nyeo tiba-tiba saja menyerangnya; Gil Dong dengan reklek yang sangat cepat segera memberikan serangan balik, dan mereka berdua segera saja terlibat dalam pertarungan jarak dekat. Meskipun Mal Nyeo sangat licin, tapi Gil Dong dengan efisien segera saja berada di atas angin dan pergi dengan kata-kata, “Aku akan menyambutmu kapanpun kau kembali ke pekerjaan utamamu!”

 

Gil Dong (yang senang karena selingan dengan Mal Nyeo) dan Enok beranjak pergi, tapi kemudian dihentikan oleh Su Geun , yang bekerja keras untuk menemukan siapa pembunuh pemimpin mereka, di halaman.  Segera saja si kepala dingin Yeon dan Mal Nyeo bergabung. Mal Nyeo ingin tahu di mana kuburan pemimpin mereka.

 

Gil Dong (dengan Enok tentunya) mengajak mereka pergi ke kuburan bandit di kuil. Menyaksikan ketiganya memberikan penghormatan dalam pada pemimpin mereka, Gil Dong bertanya-tanya mengenai kesetiaan mereka. Dia memberitahu ketiganya kalau tidak ada gunanya untuk mengadakan pembalasan dendam, musuh mereka (pihak Chang Whe) terlalu kuat: “Apakah kalian akan mempertaruhkan nyawa hanya untuk seorang yang telah mati?” Yeon menjawabnya dengan sikap yang sungguh-sungguh: “Pemimpin kami adalah seorang pria yang layak sehingga kami mempertaruhkan nyawa baginya.” Dia juga memberitahu Gil Dong untuk menghubungi mereka jika sewaktu-waktu membutuhkan bantuan.

Raja sedang menghibur dirinya di pelukan seorang gisaeng, yang menjamin padanya kalau dirinya akan mengandung seorang anak laku-laki Raja. Tak terduga, Kwang Whe justru menjadi murka, melemparnya ke lantai karena sikapnya yang angkuh itu. Kwang Whe menyebutknya bermimpi terlalu tinggi, mengungkapkan rasa rendah dirinya sendiri yang rumit karena telah dilahirkan sebagai seorang anak yang tidak sah dari seorang Selir Raja. Dia memerintahkan pada para pengawal agar menyeret si gisaeng keluar dan dieksekus,  “Satu lagi hantu yang akan menghantui diriku.”

Dayang Noh menemui Menteri Seo dan memberikan upeti untuk mendapatkan janjinya bekerjasama, karena dia telah menanam seorang anakbuahnya sebagai salah satu kru pembangunan istana yang baru: Chisu ….

Sementara Gil Dong mengawasi (dengan teropong, entah dari mana tuh??? ) perahu yang akan berlayar menuju ke Tiongkok,  Enok menyuarakan berbagai alasan mengapa Gil Dong tidak seharusnya pergi.

Enok: “Perahu itu terlalu kecil.  Itu bisa saja terbalik. Kau tidak seharusnya menaiki perahu seperti itu.”

Gil Dong: “Itu terlihat lebih besar daripada yang sebelumnya.”

Enok: “Jika kau pergi ke Tiongkok sekarang, di sana akan musim dingin. Kau mungkin akan membeku mati.”

Gil Dong: “Aku tidak akan mati!”

Enok: “Tidakkah itu terlihat seperti cuaca yang akan timbul angin topan?“

Gil Dong: “Apakah kau senang jika angin topan datang sehingga perahunya tidak dapat berlayar pergi?”

Enok: “…yeah.”

Gil Dong: “Kenapa?”

Enok: “Bagaimana jika kau tidak usah pergi saja? …. Aku cuma .… Ehm … yah … Aku lebih suka kau tidak pergi ke Tiongkok dan tetap tinggal di sini. Gil Dong, tidak bisakah kau tinggal?”

Gil Dong menatapnya dengan pandangan aneh sebelum menjawab kalau ia tetap akan pergi. Tapi sebenarnya dalam hatinya, perkataan Enok membuatnya berpikir sebentar, dan bertanya-tanya apakah memang seharusnya ia tinggal saja.

 

Eun Hye mengunjungi gibang lagi untuk mencari tahu mengenai Gil Dong, membuat hati pengasuhnya berdebar lebih kencang lagi. Pemimpin Gibang, Mae Hyang, cenderung tidak membantu si gadis muda cantik, dan lagi angkuh, tapi Eun Hye menyelipkan sekantung uang dan memerintahkannya: ” Beritahu aku mengenai dirina!”

Dan sekarang kita beralih ke aksi utama yang sudah ditunggu-tunggu … ehehhe

Bertindak sesuai dengan instruksi In Hyung dan ibunya, ketiga pencuri bayaran berhasil menyusup masuk ke kamar Menteri Hong. (Mereka memang harus bekerja malam ini juga, karena mendengar Gil Dong akan pergi esok paginya.). Ibu In Hyung sudah mempersiapkan segalanya: para pelayan sedang sibuk minum minuman yang secara khusus ia sajikan; sang menteri, suaminya, sudah ia sarankan untuk bermalam di ruangan yang lebih hangat untuk malam ini; dan Gil Dong sudah dipanggilnya.

Para pencuri mengikuti semua petunjuknya, dan mengambil juga beberapa barang tambahan sementara mereka ada di sana. Kepala pencuri menjatuhkan ikat pinggang Gil Dong, kemudian mengamati pedang berukir dan memutuskan mengambilnya juga.

Sialnya, kelompok pencuri lain juga memilih malam ini sebagai malam untuk melakukan aksi mereka :

Chang Whe, Chisu, dan rekan-rekannya yang lain telah datang untuk mencuri balik pedang itu, menangkap basah kelompok pencuri pertama di tengah aksi mereka. Chang Whe diserang mendadak dan tertusuk; satu di antara ketiga pencuri bayaran terbunuh; dan dua yang lain segera melarikan diri dengan membawa pedang itu.

Chang Whe memerintahkan Chisu untuk mengejar dan merebut kembali pedang itu, sementara ia sendiri sempoyongan, terluka.

Waktu itulah, Gil Dong sendirian saat ia datang di ruang yang telah dirampok, dan mengenali wajah dari si pencuri yang telah mati. In Hyun datang dengan bantuan, sudah siap dengan senang hati menangkap Gil Dong, tapi bahkan ia sendiri terperanjat dan ketakutan melihat apa yang terjadi di dalam kamar. Segalanya ternyata berbalik di luar kendalinya.

 

Gil Dong mengerti kalau dia yang akan dipersalahkan, dan segera melarikan diri sementara tanda bahaya diperdengarkan di seluruh rumah. In Hyung memberitahu ibunya kalau Gil Dong tidak memegang pedang. Meskipun ia senang karena telah berhasil memfitnah Gil Dong untuk pencurian itu, tapi masih memiliki sedikit “kesadaran”, dan kejadian ini telah mendorong dirinya sampai ke batasnya. Ibunya bersikeras kalau mereka tidak tahu apa-apa, dan bahwa Gil Dong lah yang bertanggungjawab atas semua ini.

Di desa, Chang Whe yang berdarah-darah bertemu dengan Enok, mencekalnya dan meminta pertolongannya, kemudian pingsan.

Kembali ke markas para pencuri, pemimpin pencuri itu percaya kalau ia telah dijebak oleh In Hyung, dan memerintahkan semua anakbuahnya untuk melarikan diri. Tapi tanpa mereka sadari sama sekali, Chisu sudah berhasil menyusul mereka dan bertarung untuk memperebutkan pedang itu, dan berhasil.

Sekarang setelah Gil Dong tahu kalau para pencuri terlibat, dia segera berangkat menuju sarang mereka, tapi datang terlalu terlambat, Chisu sudah pergi melarikan diri.

Dan memang nasibnya lagi apes, sekali lagi ia mendapati dirinya telah ada di tengah-tengah kepungan pasukan keamanan.

Yaaaa … elahhhhh ….

2 comments on “Hong Gil Dong – Episode 04

  1. Hahaha….peringatan tuh buat para guru (termasuk gue) ma ortu, caranya dah bener belum tuh ngajarnya, jangan-jangan ditangkapnya beda jauuuuhhhhh…….

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s