Hong Gil Dong – Episode 05

Gil Dong, terkepung di markas para pencuri, bertarung sebentar dengan pasukan pemerintah dan berusaha membuat jalan lari. Dia masuk ke gudang senjata dan menemukan bahan peledak. Gil Dong kemudian melemparkan bahan peledak itu ke arah para prajurit, yang terpaksa menjaga jarak dengan Gil Dong. Gil Dong tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, ia segera melarikan diri secepatnya.

Sementara itu di rumah menteri Hong, In Hyung sedang panik karena rencana curang yang ia buat, sekarang  menjadi gelap baginya. Dia tidak percaya kalau Gil Dong adalah pembunuhnya, dia melihat sendiri penyusup lain yang terluka dengan kedua matanya sendiri, tapi ibunya yang berhati kejam mengambil keuntungan atas kekacauan ini dengan mencuri uang. Lagipula, itulah alasan utama mengapa mereka merencanakan perampokan ini dari awal.

Cemas, tanpa menyadari betapa parahnya peristiwa malam ini, Enok mengoceh sambil merawat Chang Whe.  Karena Chang Whe tidak mengatakan dari mana ia mendapatkan lukanya, Enok menebak-nebak, apakah ia penjahat? seorang pencuri?, dan Chang Whe tersinggung. Dia menghunus pedangnya dan membentak, ” Terus saja berbicara menghina, dan aku akan membunuhmu!”

Terluka dan tersinggung, Enok memberitahu Chang Whe untuk menyingkirkan pedangnya dan mengatakan kalau ia tidak harus membantu Chang Whe. Enok berbalik untuk pergi, tapi kemudian hatinya tidak tega menyaksikan Chang Whe yang berlumuran darah, ia kembali dan merawatnya lagi.

 

Gil Dong menghimpun fakta-fakta yang terjadi dan menyimpulkan kesimpulan yang tepat kalau dia sedang difitnah, tapi oleh siapa? Untuk tujuan apa? Dia kemudian pergi keluar untuk mencari jawabannya, bersembunyi dari pasukan pemerintah yang menyebar dan mencarinya di seluruh kota. Gil Dong pertama-tama pergi ke pedagang Wang, yang bertanya apakah ia bersalah.

Gil Dong kemudian menuju ke Gibang untuk mendapatkan informasi lebih banyak dari seorang gisaeng, yang “berterimakasih” padanya karena telah menggiring mereka ke para bandit yang menyusahkan. Gil Dong menghela napas, “Aku sudah katakan kalau aku tidak melakukannya!”, tapi sia-sia saja karena perkataannya tidak dipercayai gisaeng itu.

Sementara itu, Eun Hye sudah sampai di Gibang itu menyabar sebagai seorang pria bangsawan, berharap dapat bertemu dengan Gil Dong. Tapi ia justru melihat In Hyung yang masuk bersama seorang pelayannya. Ia segera berbalik sebelum In Hyung melihatnya, dan bersembunyi di sebuah ruangan kosong, yang ternyata beberapa saat kemudian Gil Dong datang untuk bersembunyi di sana juga.

Sial bagi mereka berdua, In Hyung sangat gelisah dan gugup, memutuskan kalau dia butuh privasi untuk transaksi gelap, dan masuk ke dalam ruangan itu dengan pelayannya, menunggu penghubung mereka. In Hyung mengadakan perjanjian untuk memberikan sejumlah uang pada seseorang untuk mengubah hasil ujiannya nanti. Tak menyadari kalau percakapan mereka didengar, In Hyung mengoceh mengenai kelulusan ujian.

Di balik tirai, Gil Dong dan Eun Hye mendengarkan dengan diam. Keduanya sangat penasaran pada satu sama lain, Gil Dong menunjukkan huruf-huruf di tirai untuk bertanya apa yang Eun Hye lakukan di sini …  ( … mengapa … kau … bersembunyi … ). Hahaha sungguh menyenangkan dan pintar … keduanya saling menunjuk kata-kata di puisi untuk menunjukkan pertanyaan dan jawaban. Eun Hye: “Takut ketahuan. Kau?” Gild Dong: “Sama!”

Dan kemudian … ahahhaha … kita lihat versi modern dari percakapan “bisu” mereka, tertulis seperti chat, ketika suara mereka mengisi kata-kata yang sedikit hilang ….

Tulisan Eun Hye: Senang ketemu kamu^^ (Suara: “Senang bertemu denganmu lagi.”)
Tulisan Gil Dong: Sangat terkejut –_–;;   Pakaian aneh — –;(“Kau benar-benar mengejutkan aku! Kenapa dengan pakaianmu?”)
Tulisan Eun Hye: Aneh ??? (“Kenapa? Apakah terlihat aneh?”)
Tulisan Gil Dong: Ha… kekeke (“Sangat lucu.”)

 

Setelah momen sekejap yang memikat di antara mereka berdua (Eun Hye memang sudah punya sebelumnya, tapi ini yang pertama bagi Gil Dong), pada sisi lain di layar  justru mulai bertambah serius.  In Hyung menyebut betapa dia beruntung bahwa dia terlepas dari tuduhan karena semuanya akan jatuh pada Gil Dong, dan karena semua pencuri sudah terbunuh, maka tidak akan mungkin ada orang melacak balik pada In Hyung.

Saat ini, Gil Dong akhirnya menyadari kebenarannya dan menampakkan dirinya, dan segera saja, In Hyung jatuh berlutut di hadapannya, meminta ampun padanya. Eun Hye mengawasi dari balik tirai, dan anak buah In Hyung berlari untuk membantu majikan mereka sementara In Hyung menyembah-myembah, mengatakan kalau semuanya  itu adalah rencana dari ibunya, dan dia tidak ikut campur dengan kejadian pembunuhan itu, “Aku tidak ada hubungannya dengan itu! Aku cuma menyewa mereka untuk menyusup masuk!” In Hyung tidak tahu siapa yang bertanggungjawab atas pembunuhan yang terjadi, tapi ingat kalau ada seseorang yang berhasil melarikan diri, yang tertusuk di pinggangngya, yang bukan dari salah satu pencuri sewaannya. Dia tergagap, “Aku yakin kalau kau juga tak ada hubungannya dengan pembunuhan itu.”

Gil Dong menyuruh In Hyung untuk membersihkan namanya, tapi In Hyung tidak dapat menelan ide untuk menghadapi ayahnya. Dia memohon, “Gil Dong, kumohon selamatkanlah aku kali ini saja, aku mohon padamu! Jika ayah sampai tahu, matilah aku!” (diterjemahkan: “Lebih baik kau dari pada aku”)

Dia meminta untuk diselamatkan, dan mencoba untuk tawar-menawar, bukankah Gil Dong akan pergi ke Tiongkok? Gil Dong bertanya mengapa In Hyung harus melakukan sejauh itu untuk memfitnahnya ketika ia akan pergi ke Tiongkok, “Apakah kau begitu membenciku?” (Dalam percakapan ini In Hyung menggunakan bahasa biasa – banmal- tapi Gil Dong justru menggunakan bahasa resmi, dan itu justru membuat sindirannya terlihat semakin tajam).

Gil Dong dengan tenangnya memberitahu In Hyun untuk menyatakan kebenarannya kemudian beranjak pergi, In Hyung yang putus asa mencoba untuk menghentikannya, bahkan memanggilnya “aho”, satu panggilan yang biasa digunakan seorang pria untuk teman dekat, atau adik. Itu membuat Gil Dong menghentikan langkahnya sejenak, tapi In Hyung justru mengambil kesempatan itu untuk mengambil pecahan kaca dan menusuk Gil Dong di lengannya, bahkan mungkin jantungnya. In Hyung lari sambil berteriak meminta tolong, tapi Gil Dong masih tertegun, shock. Jelaslah sudah bahwa pengkhianatan saudaranya melukai hati Gil Dong lebih buruk daripada lengannya yang terluka dan mengucurkan darah dengan derasnya ……

Gil Dong meraih Eun Hye (dan kantung uang In Hyung yang tertinggal) dan segera menyerbu keluar, dan memintanya untuk menjadi saksi, karena tidak ada seorangpun yang akan percaya pada perkataannya. Tapi Eun Hye tidak bisa mengiringinya, walaupun sebenarnya ia menaruh perasaaan pada Gil Dong, dan tidak bisa menjelaskan mengapa ia tidak bisa. Tapi Eun Hye tidak usah melakukan itu, karena ayahnya telah mencarinya berkeliling dan menemukannya, setelah mendapat tahu kebenarannya dari si pengasuh. Ketika si pengasuh melihat Eun Hye, dan memanggilnya, “Nona Besar!”, Gil Dong menyadari kalau Eun Hye ternyata bukanlah gisaeng seperti yang ia sangka selama ini.  Memahami kenyataan bahwa kelas sosial mereka memang berbeda, dia menghadapi pasukan pemerintah sendirian.

Terkepung, Gil Dong melakukan satu-satunya hal yang bisa ia pikirkan, dia meraup segenggam koin uang dari kantung In Hyung dan melemparkannya ke udara. Semua orang di sekitar itu segera saja menatap hamburan uang di tanah di hadapan mereka dan bertindak seperti orang sinting saling berebut mengambil uang-uang itu, membantu Gil Dong melarikan diri.

Sementara itu, Menteri Seo melangkah maju untuk melindungi anak gadisnya (yang sebelumnya ditangkap karena dianggap sebagai kaki tangannya Gil Dong), yang kembali ke rumahnya dengan berdandan kembali sebagai seorang wanita, dan sangat bersimpati pada Gil Dong. “Dia sangat terluka”, ujar Eun Hye pada pengasuhnya. “Di tubuhnya dan di hatinya. Aku melihatnya terluka. Dia sungguh-sungguh dalam situasi yang sangat buruk.”

 

Semua rencana mereka, In Hyung dan ibunya telah ketahuan oleh Menteri Hong, setelah penyelidikan dilakukan terhadap mayat pencuri itu dan didapatkan sebuah peta yang menggambarkan kediaman keluarga Hong. Menteri Hong menyadari kalau Gil Dong terlibat, maka dia tidak akan membutuhkan sebuah peta. Dihadapkan pada kebenarannya, In Hyung mengaku dan memohon pengampunan, sementara ibunya demi melindungi keselamatan anaknya, mengakui kalau itu adalah tanggungjawabnya, ia yang merencanakan itu semua.

Menter Hong hanya bisa merasa muak dan gusar pada anaknya yang telah sepenuhnya membuang “anak tidak bersalah itu” kepada serigala.

Sementara itu, “anak yang tidak bersalah itu” sekarang sedang kedinginan dan sendirian, merasakan beratnya beban dari pengkhianatan bertubi-tubi. Dia bergumam dengan sedih, “Aku tidak dapat mempercayai seorangpun di dunia ini. Yeah … lagipula tidak ada seorangpun yang akan mempercayaiku. ”

 

Pagi hari menjelang, Chang Whe terbangun dan kemudian melihat ke sekelilingnya dan menemukan Enok yang sedang tertidur. Ia merasa kalau Enok sudah menyaksikan dan mendengar terlalu banyak: Enok harus dilenyapkan. Dia menghunus pedangnya dan mengarahkannya pada leher Enok, tapi tidak dapat membuat dirinya membunuh Enok, dan pada akhirnya ia berkompromi dengan dirinya sendiri, dia tidak akan membunuh Enok, tapi lebih baik jika ia juga tidak pernah melihat Enok lagi.

 

Gambar Gil Dong sebagai seorang buronan yang diinginkan oleh pemerintah, ditempelkan dan disebarkan ke berbagai tempat di kota, yang kemudian menjadi peringatan bagi para bandit atas pelariannya. Mengingat betapa mereka berhutang pada Gil Dong atas bantuannya, mereka bertanya-tanya apakah mereka seharusnya membantu Gil Dong sekarang saat ia dalam kesulitan. Yeon menyatakan kalau Gil Dong akan mencari mereka jika ia nanti membutuhkan bantuan, dan lebih baik sekarang mereka memusatkan perhatian pada tujuan mereka untuk menghadapi anakbuah Chang Whe untuk membalaskan dendam kematian pemimpin mereka.

Dan dari sinilah legenda Gil Dong mulai berakar, para penduduk desa mendengar kalau Gil Dong telah mengambil uang dari orang-orang kaya yang korupsi dan membagikannya pada mereka yang miskin.

 

Gil Dong (yang sudah pulih kembali dari rasa sedihnya semalaman) memutuskan untuk mencari satu hal yang ia tahu, bahwa pencuri dan pembunuh yang sebenarnya telah tertusuk di perut. Dia mencari di sebuah sarang pencuri, yang kebetulan sedang memperbudak wanita sebagai pelacur, dan bertanya, “Apa yang sedang kau lakukan kemarin malam?” Para pencuri salah paham dan menjawab, “Ah, jadi kau datang karena mengetahui apa yang telah kami lakukan!” dan menantangnya bertarung. Gil Dong menerimanya dan dengan cepat ia memenangkan pertarungan itu. Tapi ternyata tiada seorangpun yang menderita luka tusuk: ini bukanlah para pencuri yang ia car. Tapi karena dia sudah ada di tempat itu, dia melepaskan para wanita, yang merasa berterima kasih padanya.

Gil Dong kemudian menyerbu ke kelompoh bandit yang lain, yang ternyata sedang menyiksa orang-orang, dan bertanya hampir persis seperti pada kelompok pertama dan mendapatkan jawaban yang sama, “Apa yang sedang kalian lakukan kemarinnya kemarin malam?” … “Ah, jadi kau tahu apa yang telah kami lakukan!”, dan  bertarung dengan mereka.

Kelompok selanjutnya, “Apa yang sedang kalian lakukan kemarinnya kemarinnya kemarin malam ?” … “Ah, jadi kau tahu apa yang kami lakukan!” dan bertarung dengan mereka. Tapi lagi-lagi tidak ada luka tusuk di antara mereka. Dan kembali ia melepaskan tawanan para penjahat itu semacam renungan baginya.

Gil Dong tidak peduli dengan semua aksinya itu yang mungkin dianggap sebagai perbuatan baik oleh orang lain, karena yang ia inginkan hanya membersihkan namanya dengan menemukan si pencuri yang terluka tusuk itu. Tapi berita mengenai setiap penyerbuannya ke sarang bandit dan aksi “penyelamatannya” sampai ke telinga para penduduk. Mereka sebenarnya mengenal Gil Dong dengan baik sehingga awalnya tidak mempercayai kisah itu, tapi semakin-lama mereka semakin  dapat menerima perubahan hati yang luar biasa dari Gil Dong saat mereka mendengarkan setiap kisahnya.

Dan seorang legenda terlahir !

Enok terlambat mendengar masalah Gil Dong dari pedagang Wang dan tidak percaya kalau pedagang Wang bisa-bisanya tidak mau membantu seorang teman yang sedang dalam kesulitan. Gusar, dia membalasnya dengan cara yang paling terbaik, dia berteriak pada para penduduk, “Pedagang Wang bukanlah seorang Tionghoa! Dia dari Propinsi Jeolla!”

Enok memutuskan membuat pemberitahuan sehingga Gil Dong mungkin saja melihatnya dan bertemu dengannya di suatu tempat lain, tapi Enok juga tidak mau menbahayakannya, jadi dia menulis dengan setengah sandi rahasia,  “Bertemu di lokasi darurat CPR. Dari: Si Tolol!” … Ouch … sungguh manis … heheheh

 

Gil Dong melihat pemberitahuan itu dan muncul, bahkan memujinya karena sangat pintar. Enok kemudian melihat lukanya dan sangat cemas. Gil Dong bertanya padanya, berjaga-jaga, “Tidakkah kau akan bertanya apakah aku ini seorang pembunuh dan perampok?” Enok justru balik bertanya dengan nada tidak percaya, “Tapi bukankah kau tidak bersalah?”

Ini membuat Gil Dong terkejut (wajahnya menunjukkan rasa sedih memilukan) karena tidak ada seorangpun yang mempedulikannya sejauh ini. Gil Dong memberitahunya kalau ia memang tidak bersalah, Enok menerimanya tanpa bertanya, dan Gil Dong menerima perlakuan ribut  Enok atasnya.  Ketika Enok kembali ke kota dengan tergesa-gesa untuk mengambil makanan dan obat-obatan, Gil Dong berpikir (dan ini akan menjadi suatu pola antara Gil Dong dan Enok): “Yeah, paling tidak ada seorang yang percaya padaku!”

Sebenarnya, ada dua orang, ayah Gil Dong juga percaya kalau anaknya itu tidak bersalah. Tapi ada perbedaan besar, Menteri Hong masih bersedia mengorbankan anaknya yang tidak sah itu demi menyelamatkan anaknya yang sah. Dia memberitahu In Hyung, yang sangat bersyukur, kalau dia akan menutupi semua kekacauan yang dibuat oleh In Hyung, dan untuk Gil Dong, yah …. , nasibnya sudah seperti itu … (Oh … Tidaaaaaaaakkkkkkk…… !!!)

Golongan Chang Whesiap untuk melakukan rencana mereka, menyusup ke Istana saat hari di mana Ujian pelayanan umun dilakukan. Dalam persiapannya, Chang Whe dan Chisu mengawasi halaman Istana sementara menyamar sebagai pekerja pembangunan, dan berpapasan dengan Raja di halaman Istana. Raja merasa ada sesuatu yang akrab mengenai Chang Whe, meskipun ia tidak tahu apa itu, dan bertanya-tanya di mana ia pernah melihat Chang Whe sebelum ini. Apakah ini juga dari ke-SINTNG-annya?

 

Tanpa mengetahu siapa atau apa tepatnya yang sedang dicari oleh Gil Dong, Enok dengan sukarela ingin membantunya. Gil Dong hanya menjawabnya untuk tidak ikut terlibat ketika Enok melihat Chang Whe dan menyebutkan luka tusuk di perutnya.

Seketika itu juga, Gil Dong segera bertanya mengenai luka Chang Whe, dan Enok menjawabnya. Menyadari kalau Chang Whe lah ternyata orang yang ia cari-cari, dia segera mengejarnya, mengikuti Chang Whe ke sebuah gudang tekstil

Chang Whe bertanya, “Mengapa kau menguntitku?”

Gil Dong: “Apa yang sedang kaku lakukan 5 malam yang lalu?”

Chang Whe: “…”

Gil Dong: “Ah …. Aku lihat kau tidak punya jawabannya!”

Dan segera saja mereka beradu senjata, bertarung ….

One comment on “Hong Gil Dong – Episode 05

  1. Daku paling suka melihat ekspresi gil dong waktu enok percaya bahwa dia tidak melakukan perampokan dan pembunuhan, Kang Ji Hwan emang gak ada matinya… Kang andi, gumawo….ditunggu lanjutannya….

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s