Hong Gil Dong – Episode 06

Gil Dong menyadari kalau Chang Whe adalah orang yang bertanggungjawab
atas pembunuhan yang ditimpakan pada dirinya, dan keduanya segera saja
bertarung.

Chisu memojokkan Enok dan mendesaknya untuk memberitahu mengapa Enok
menguntit dirinya. Enok bersikeras kalau ia tidak tahu apapun, tapi
Chisu semakin curiga saat Enok menyebutkan luka tusuk dari Chang Whe.
Dia menyadari kalau Enok mengetahui lebih dari yang seharusnya, juga
Dayang Noh, yang datang kemudian dan mengamati Enok dengan rasa ingin
tahu.

Kedua orang itu dengan enggan mengakui keahlian bertarung lawannya, dan
sama-sama berhasil melukai (ringan) satu sama lain, sebelum kemudian Gil
Dong berhasil memukul jatuh senjata dari Chang Whe. Ia kemudian
bertanya, “Mengapa kau membunuh para bandit itu?”

Chang Whe menggeram balik, “Kau lebih baik berhenti sementara masih di
sini. Mereka yang dengan bodohnya melibatkan diri pada urusanku, pasukan
pemerintah, ayahmu yang menteri, siapapun, aku akan membunuh mereka
semua!” Lalu ia melanjutkan, lebih baik Gil Dong melarikan diri sejauh
mungkin jika tidak ingin mati.

Hal itu membuat marah Gil Dong, “Kau memperlakukan hidup seseorang
seperti tiada harganya sama sekali. Mengapa kau merasa berhak untuk
membunuh seseorang?”

Pada saat itu, Chisu dan anakbuahnya datang, Gil Dong tahu kalau ia
tidak bisa menang melawan begitu banyak orang, memutuskan untuk pergi
dan melarikan diri. Chisu dan yang lain mau mengejarnya, tapi Chang Whe
mencegah mereka dan memberitahu kalau kelihatannya Gil Dong tidak tahu
apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi menjadi lebih waspada ketika
mendengar Dayang Noh sedang mengamati Enok.

Dia memang beralasan untuk waspada, Dayang Noh mengundan Enok ke
kediaman seorang pedagang untuk mencari tahu seberapa banyak yang Enok
ketahui, yang kemudian justru menjadikan dirinya tidak nyaman. Dia
menyadari suatu kebetulan yang sangat mengganggunya, Enok ternyata
memiliki nama yang tidak biasa, dan sama dengan seorang gadis yang ia
sedang cari. Dia bertanya apakah nama marga Enok adalah Yoo; Enok
kelihatannya tidak tahu kalau dia diadpsi kakek Heo sehingga mengatakan
kalau marganya adalah Heo.

Karena itu hanya kebetulan saja namanya sama, Dayang Noh kemudian
memutuskan kalau Enok harus dibungkam untuk selamanya. Dia memberitahu
Enok untuk bersantap sendirian, dan memerintahkan anakbuahnya untuk
mengisi ruangan itu dengan gas beracun.

Nyatanya, Enok makan dengan bahagia tanpa menyadari apapun.

Beberapa detik kemudian, pintu terpentang lebar; Chang Whe memburu masuk
untuk menyelamatkan Enok. Dayang Noh bisa dimengerti kalau menjadi
terkejut, tapi Chang Whe hanya berkata, “Gadis ini telah menyelamatkan
hidupku! Aku tidak ingin untuk membunuhnya!”

Setelah Enok diberikan penawar racun, Chang Whe mengawasi Enok yang
tertidur, mengingat perkataan Gil Dong dengan gelisah. Dia bertanya-tanya pada Dayang Doh apakah itu benar kalau dia tidak menghargai hidup orang lain; Dayang Noh menjawab, “Demi mencapai hal yang besar, pengorbanan memang diperlukan.” Dan karena pengorbanan itu selalu menyangkut kehidupan orang lain, maka Dayang Noh sama sekali tidak keberatan.

Gil Dong, di lain pihak, sedang termenung, bertanya-tanya apa rencana
selanjutnya yang akan ia lakukan, ketika ia kemudian mengingat tawaran
Yeon untuk membantunya. Gil Dong menemui penghubung yang ditunjuk oleh
Yeon, si Gom muda (Gom = beruang). Gom selekasnya menyadari kalau ini
pasti si Gil Dong, dan mengibarkan serangkaian bendera merah untuk
memberitahu kelompoknya, dan berujar, “Sekarang kita menunggu”.

Tak berapa lama, para bandit berkumpul dan menemui Gom, yang memanggil mereka.

Yeon: “Aku tahu kalau kau pasti akan datang …. Ucapkan saja, kami akan membantumu dengan apapun yang kau perlukan”

(Setelah Gil Dong menghadapi begitu banyak perlakuan kejam dari dunia
ini, dukungan mereka yang tanpa syarat ini sungguh cukup membuat mata
menjadi berkaca-kaca)

Gil Dong bertanya apakah mereka masih mengejar kelompok petarung bayaran
dari Chang Whe, dan mengajukan diri, “Ayo kita lakukan bersama-sama!”.

 

Enok terbangun dengan kepala berat dan berdenyut keras, tidak menyadari apa yang telah terjadi. Chang Whe emberitahunya kalau ia pingsan tanpa sebab, dan Enok tidak mempercayainya, karena ia bukanlah orang yang dengan mudahnya pingsan begitu saja. “Pingsan adalah bagian dari wanita yang lemah lembut!”. Tapi gerakan yang tiba-tiba membuat kepalanya menjadi lebih ringan, dan ia kemudian bertanya-tanya (dengan kepuasan sebagai wanita), “Aku sebelumnya tidak pernah pingsan. Kupikir-pikir, mungkin aku juga punya sisi lemah lembut di dalam diriku!”. Chang Whe tersenyum geli.

Setelah makan (lagi), ia memberitahu Chang Whe kalau ia harus pergi dan
membantu urusan temannya. Chang Whe bertanya apakah teman yang dimaksud olehnya adalah Gil Dong, dan Enok menjamin padanya kalau semua rumor mengenai Gil Dong adalah tidak benar, Gil Dong tidak bersalah, dia
difitnah.

Enok bersumpah akan membantu Gil Dong untuk menemukan penjahat
sebenarnya untuk diadili, dan Chang Whe menyadari dengan gelisah kalau
dia ternyata baru saja membuat musuh yang tak diketahuinya. Chisu
memperingatkannya kalau ia melepaskan Enok pergi dengan bebas sekarang,
Enok mungkin saja akan kembali lagi nanti. Chang Whe menyahut dengan
muram, “Kalau begitu aku terpaksa harus membunuhnya nanti.”

Para bandit merasa tergelitik saat mengetahui kalau Gil Dong ternyata memiliki
masalah yang sama dengan musuh mereka. Gil Dong bertanya apakah mereka
sudah membuat rencana, dan Su Geun segera saja menyatakan dengan
bangganya, “Tentu saja donk!” Di belakangnya, Mal Nyeo dan Yeon memutar
mata mereka, saat Su Geun mengungkapkan strateginya yang sangat bodoh:
berusaha memenangkan hati Dayang Noh yang kesepian! Mal Nyeo langsung
saja menyelanya, “Ndak, kami tidak punya rencana apapun!”

Dong menghela napas, “Aku juga tidak mengharapkannya, tapi aku masih
tetap kecewa. Adakah cara untuk membalas dendam pada musuh kita?”

Gil Dong bermaksud untuk melakukan rencananya dengan menghancurkan
kelompok musuh mereka sekaligus. Kelompok, yang pada saat itu, telah
membuat rencana akhir mereka untuk menyusup ke Istana. Dengan sehari
tersisa sebelum Ujian Layanan Umum, mereka berhasil mengatur pasukan dan
senjata mereka diselundupkan masuk ke tempat pembangunan. Para bandit
mengawasi anakbuah Chang Whe dan lokasi di mana bahan-bahan peledak
disembunyikan, berencana untuk menyusup masuk ke gudang itu.

Sementara itu, Menteri Hong sedang gelisah mengenai pedang yang telah
dicuri dan takut kejahatan lamanya terbongkar. Sekarang, setelah beberapa kepingan puzzle diletakkan di tempatnya: pria yang dibunuh oleh Menteri Hong adalah anggota keluarga Kerajaan, yang memiliki hak sebagai pewaris terdekat pada tahta kerajaan setelah (mereka sangka) Chang Whe mati. Anak perempuan pria itu, Yoo Enok, telah menghilang ketika kediaman orangtuanya diserang dan diperkirakan mati juga (yang menjelaskan mengapa Hae Myung meramalnya kalau Enok akan menjadi anggota keluarga kerajaan).

Dengan tiadanya pewaris tahta yang lain, maka Kwang Whe, sebagai anak yang tidak sah (dilahirkan oleh selir), dapat menjadi Raja, dan setiap orang yang mengetahui keberadaan pedang tersebut telah dibunuh habis.Saat ini, Kwang Whe menertawakan kegalauan Menteri Hong dan menyebutnya paranoid (= penyakit sinting karena takut) terhadap satu pencuri kecil dan tidak mendengarkan peringatan dari Menteri Hong untuk menunda Ujian Layanan Publik karena situasi yang tidak menentu.

Cemas dengan kondisi Gil Dong, Enok bertanya pada Pedagang Wang
kalau-kalau Pedagang Wang telah melihat Gil Dong, tapi ternyata Pedagang
Wang juga tidak pernah melihatnya akhir-akhir ini. Tak disangka Eun Hye
datang dan bertanya hal yang sama pada Pedagang Wang, hal ini membuat
Enok penasaran juga. Saat mendengar kalau Enok kenal dengan Gil Dong,
Eun Hye mengundang Enok ke rumahnya dan memintanya untuk menyampaikan pesan pada Gil Dong.

“Kumohon beritahu padanya kalau aku sangat menyesal aku tidak dapat pergi bersamanya pada hariitu. Aku tidak dapat melakukannya karena keadaan yang memaksaku. Memang itu hanya sebentar saja, tapi waktu yang kuhabiskan bersamanya …. Aku sungguh menikmatinya.”

Enok pulang ke kuil dan menyapu, terganggu dengan pernyataan bahwa Gil
Dong telah meminta Eun Hye untuk pergi bersamanya ke suatu tempat (Enok
tidak tahu situasinya … ). Kakek Heo tidak membuat segalanya lebih
baik, menduga kalau Gil Dong pasti sedang berusaha meyakinkan Eun Hye
untuk melarikan diri sebagai sepasang kekasih, dan karena ketakutan maka
si nona menolaknya.

Merasa kalau dirinya kurang “feminim” dibandingkan Eun Hye yang
bangsawan, Enok berdandan di tepi sungai, berusaha menjadi sedikit
seperti seorang wanita umumnya, tapi terhenti karena kedatangan dari Gil
Dong. Enok memberinya sambutan yang hangat, kemudian menyampaikan pesan Eun Hye dan dengan sedikit ragu-ragu bertanya kemana Gil Dong akan
membawa Eun Hye pergi.

Enok: “Jika ada suatu tempat kau ingin pergi …. Aku bisa pergi bersamamu … ”

Gil Dong: “Jika aku benar-benar memintamu untuk pergi bersamaku, apakah kau benar-benar mau?”

[So .. girls … gimana jawabanmu kalo Gil Dong bertanya seperti itu
pada kalian? … pasti menjawab “IYA” khan …. ahahahaha :p. Ups sory
… balek lagi ke Laptop … eh … ke sinopsis :p]

Gil Dong memperingatkannya, “Bagaimana jika tempat itu menakutkan dan
berbahaya?” Enok mengingatkan Gil Dong kalau ia pernah memburu binatang
buas bersama-sama dengan Gil Dong, dan sama sekali tidak takut. Gil Dong
berubah menjadi lebih serius, “Kau tidak harus pergi bersamaku, dan
jangan mencariku juga!”, yang menyebabkan muka Enok menjadi kecewa. Tapi
semangatnya timbul kembali ketika Gil Dong menambahkan, “Hanya …
tunggulah aku. Ketika aku sudah menyelesaikan segalanya, aku akan datang
dan menemukanmu!” ………. sooooooo romantic ……….

 

Setelah makan malam, Enok terangguk-angguk mengantuk. Gil Dong
membangunkannya dan memintanya untuk kembali ke kuil. Enok bergumam
dengan mengantuk, “Jangan pergi. Omong-omong saja denganku untuk
beberapa saat lagi.” Gil Dong menggeser duduknya di sebelah Enok dan
memberikan peringatan lagi untuk tidak ikut campur dengan rencananya
besok, tapi Enok mengangguk (karena ngantuk) dan menyandarkan kepalanya
di bahu Gil Dong.Gil Dong memberitahu Enok yang tertidur:

“Jika kau pergi bersamaku, kau akan mengalami bahaya. Aku tidak
menginginkan hal itu terjadi pada dirimu, jadi aku tak dapat mengajakmu pergi bersama-sama sekarang. Tapi … jika segala sesuatunya berkembang sesuai dengan rencana … Di Ming juga ada harimau, haruskah kita menangkapnya bersama-sama? …. Apakah saat itu kau masih ingin pergi denganku?”

Keeokan harinya, hari besar untuk Ujian Layanan Umum dimulai, hari di
mana Chang Whe telah merencanakan serangannya, hari di mana Gil Dong dan
para rekan banditnya berangkat untuk melaksanakan rencana “balas
dendam” mereka.

Rencana Chang Whe melibatkan beberapa tahap: Pertama, Menteri Choi
diserahi pedang dan akan menunggu di tempatnya di Istana. Chang Whe
sendiri akan menyamar sebagai peserta ujian. Dan wakilnya akan membawa
bahan peledang ke tempat pembangunan, di mana sebuah sinyal asap akan
dipasang, asap hijau jika semuanya lancar-lancar saja, asap merah jika
terjadi masalah.

Para bandit, di lain pihak, tidak menyadari rencana Chang Whe dan
bergerak untuk menyusup ke gudang senjatanya. Mal Nyeo mensabotase
gerobak barang sementara Gil Dong bersembunyi di bawah ruangan gerobak
yang lain.

Di dalam Istana, Chang Whe sudah menempati posisinya di tengah-tengah
serbuan para peserta ujian untuk mendapatkan posisi ujian mereka. In
Hyung, yang tidak punya rencana cadangan karena dia tidak dapat menyewa
seseorang sebagai penggantinya untuk mengikuti ujian (istilah sekarang
mungkin “joki ujian”), sedang bimbang antara mengikuti ujian dengan
jujur dan mencoba untuk menemukan cara untuk melakukan kecurangan. Dia
akhirnya mengambil tempat bermaksud untuk mengintip jawaban melalui bahu
seseorang.

Raja Kwang Whe datang untuk menyaksikan Ujian, dan semuanya menyembah
memberi hormat. Chang Whe juga menyembah, tapi dengan sedikit sentuhan
tambahan yang pas, ia tetap mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, dengan
berpikiran kalau sangat merendahkan dirinya, raja yang sah, untuk
menyembah kepada perebut tahtanya.

Syukur pada sabotase yang dilakukan oleh Mal Nyeo dan para bandit yang
lain, gerobak yang membawa bahan peledak tersembunyi, rusak di hutan.
Gom “tidak sengaja” lewat di tempat itu dengan gerobak lain (di mana Gil
Dong bersembunyi), anak buah Chang Whe melihatnya dan membeli gerobak
itu dengan tergesa-gesa, bermaksud untuk menyelesaikan rencana mereka,
dan karenanya Gil Dong juga dibawa tepat ke dalam Istana.

Para bandit mengawasi semuanya itu dengan cemas dan bertanya-tanya
mengapa kelompok pedagang menyelundupkan persenjataan ke dalam Istana.
Mereka tidak mengantisipasi gerakan dari Chang Whe yang ini. Sialnya,
mereka juga tidak dapat mencari cara untuk masuk ke dalam Istana dan
hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.

Kemudian Gil Dong mendapati dirinya ada di tengah-tengah “kerumunan serigala” ketika ia keluar dari ruangan gerobak.

Tak butuh waktu sedetik, Gil Dong dikenali oleh para pengawal Istana. Terkepung oleh jumlah yang sangat banyak, Gil Dong melakukan yang terbaik untuk membuat para pengepungnya tidak dapat menyentuh dirinya, dan hasil dari pertarungan itu membuat segala sesuatunya berantakan dan kocar-kacir tidak karuan, api tersebar, gerobak-gerobak hancur, dan gulungan bahan peledak bergulir ke kobaran api.

>BADABOOOMM ….. DUAR …. :p … Segera saja ledakan demi ledakan terjadi dengan cepat. Chang Whe mengetahui dari sumber suara ledakan kalau sesuatu yang salah telah terjadi. Para peserta ujian panik. Gil Dong lari dari kejaran ledakan dan juga para pengawal Istana. Mengawasi dari luar Istana, Dayang Noh melihat asap merah dan mengetahui kalau rencana mereka telah gagal.  Yuhuuuu ….

 

Di tengah-tengah para peserta ujian yang panik, pihak Chang whe berdiri dengan ketenangan yang mencurigakan, dan Kwang Whe melihat mereka yang
memandangnya dengan pandangan penuh kemarahan. Kelihatannya sih Kwang
Whe tidak mengenali rupa Chang Whe, yang menghantuinya dalam mimpi buruknya, tapi dia TAHU kalau orang-orang inilah yang bertanggungjawab atas semua kekacauan ini, dan memerintahkan orang-orangnya untuk menangkap para penyusup itu.

Tentu saja, ini menjadi sesuatu yang menakutkan, dan semua orang menjadi
panik membuat segalanya menjadi luar biasa kacaunya. Gerbang Istana ditutup, dan para pengawal menjaga agar setiap orang tetap terkurung di dalam Istana.

 

Dalam suatu kesempatan yang kebetulan, Gil Dong berhadapan dengan Chang
Whe, masing-masing mengetahui kalau pihak lawanlah yang bertanggungjawab
atas kekacauan yang terjadi sehingga membuat mereka sama-sama terlibat
di dalamnya. Mereka saling menatap tajam. Mata menyipit, tangan terkepal, suasana hening, mereka bersiap-siap, debar jantung semakin kencang … weleh …. terlalu didramatisir … ahahahah …. Dan kemudian, Gil Dong bergerak lagi dengan cepat, dikejar oleh pengawal lebih banyak.

Gom berteriak dari atas dinding Istana, ia telah menyiapkan jalan untuk melarikan diri. Gil Dong melarikan diri melompati dinding Istana dan segera menuju ke kereta kuda yang dikusiri oleh Su Geun, dan mereka segera mempercepat laju kereta, menjauh dari Istana.

One comment on “Hong Gil Dong – Episode 06

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s