Hong Gil Dong – Episode 07

Segera setelah Gil Dong berhasil melarikan diri dari Istana:

Chang Whe menyadari kalau dia sudah terperangkap, Raja telah mengenali dirinya. Dia kemudian menimpakan kegagalan rencananya ini pada Gil Dong. Raja tersadar, menyadari kalau pangeran yang mati ternyata masih hidup, dan memerintahkan bawahannya untuk menemukan siapa pengacaunya, yang pasti masih ada di halaman Istana karena gerbang Istana sudah ditutup. Para pengawal menanyai satu persatu para peserta ujian, beberapa dari mereka bahkan dengan lucunya bersikukuh kalau mereka tidak bersalah, dengan mengatakan: “Aku hanya berusaha untuk menyontek. Aku bersumpah kalau aku tidak ada kaitannya dengan hal yang lain!”

Enok, tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Gil Dong, tidak berhasil menjual obat-obatan bersama dengan kakeknya, dan mengusulkan dikarenakan mereka tidak begitu berhasil di Joseon, mereka seharusnya berpikir untuk kembali ke Tiongkok. Kakek Heo bertanya padanya dengan tepat sasaran, apakah ia ingin kembali lagi ke Tiongkok karena itu adalah tempat ke mana Gil Dong akan pergi. Enok menyangkalnya, kemudian mengakui kalau ia memang menyukai Gil Dong.

Gil Dong mengumpulkan semua fakta yang ia temukan, dan menyimpulkan kalau Chang Whe terlibat dalam konspirasi untuk melawan Raja. Dia mau memberitahu ayahnya mengenai ini dan membersihkan namanya, tapi diprotes oleh para bandit dan menyebutnya sebagai ide gila. Tapi Gil Dong bersikeras, dan mereka akhirnya setuju membantunya dengan mencopet kantung uang In Hyung, yang sedang gembira karena Ujian negara dihentikan, dan memancingnya langsung ke Gil Dong.

Gil Dong memberitahu In Hyung kalau ia ada pesan bagi ayah mereka, ingin membuktikan kalau dirinya tidak bersalah. Awalnya ketakutan, kemudian menjadi marah, dan terakhir In Hyung mencemoohnya, menyela Gil Dong dan berujar, “Dia sudah tahu kalau kau bukanlah pencurinya!”

Gil Dong sangat shock menyadari kalau ayahnya tahu dirinya tak bersalah, tapi In Hyung melanjutkan, “Ya, dia tahu tapi tetap menutupinya demi diriku. Dia katakan kalau tidak ada yang bisa dia lakukan untukmu. Akulah anaknya yang sah! Dan kau bukanlah siapapun baginya!”

Enok dan Su Geun mendengar semua ini ketika In Hyung memutar dan menusukkan “pisau” nya lebih dalam, “Ayah tidak peduli apakah kau bersalah atau tidak. Dia telah membuangmu!”

Termangu-mangu, Gil Dong mengulanginya, “Aku bukan siapa-siapa … ?? Dia telah membuang diriku?” … In Hyung kemudian berteriak, “Jadi berhentilah berbuat tolol dan jangan ganggu aku lagi! Menghilanglah dari hadapanku!” Setelah menggunakan semua keberaniannya, In Hyun melarikan diri, ketakutan.

Tidak seperti Gil Dong, Su Geun tidak menjadi tertegun karena sakit hati, dia segera menghadang In Hyung di luar dan menghadiahinya satu tamparan keras (yang memang layak didapatkannya) di wajahnya. Sementara itu, Enok masuk ke dalam ruangan dan menemui Gil Dong. Ia dapat merasakan betapa sakitnya sekarang hati Gil Dong. Gil Dong duduk meringkuk di lantai, mencoba tidak peduli akan semuanya, tertawa sengit.

Enok mencoba untuk membuatnya melepaskan kepahitan di hatinya, dan menjajarkan kedua tangannya di depan mulut Gil Dong, katanya:

“Janganlah tertawa, tertawa justru membuatmu lebih menderita …. Aku akan membuat agar tidak ada orang yang melihat. Aku juga tidak akan melihat. Jadi Gil Dong, menangislah. Tidak apa-apa koq kalau kau menangis ….”

Enok menangis lebih dahulu, kemudian diikuti oleh Gil Dong …. (sialan …. aku jadi nangis juga …)

Semua orang beristirahat sementara di kuil, dan Yeon berterimakasih pada Gil Dong karena telah membantu mereka untuk membalaskan kematian pimpinan mereka. Gom bertanya apakah Gil Dong sekarang bergabung dengan mereka, tapi Gil Dong menyahut kalau ia akan pergi tidak lama lagi,dan kembali ke sikapnya yang biasa, “Itu tak ada hubungannya dengan diriku. Apa peduliku?”
Su Geun meyakinkan Gil Dong kalau mereka tidak memberitahu Enok mengenai tindakan berbahaya mereka sebelum ini, dan Gil Dong menyuruhnya untuk tidak mengatakannya; lebih baik jika Enok sama sekali tidak tahu. Su Geun menggodanya, “Ah, jadi meninggalkan gadismu dalam ‘gelap’ akan membuatnya aman, benarkah demikian?” Gil Dong meninggalkan mereka, para bandit menyadari kalau Gil Dong tidak membantahnya.

Mereka  memutuskan untuk mencari tahu kebenarannya dengan cara mereka sendiri. Mal Nyeo membangkitkan rasa cemburu Enok dengan menekankan padanya kalau ia akan menghabiskan malam yang panas dan berat dengan Gil Dong (dia harus berterima kasih dengan “cara” yang layak). Enok berusaha untuk membelokkan rencana Mal Nyeo itu, dan berakhir dengan sukarela minum-minum bersama Mal Nyeo. Yang memang sebenarnya adalah tujuan utama dari Mal Nyeo.

Enok yang mabuk bertanya pada Mal Nyeo apakah ia arti kata (bhs. Inggris) “I love you”,  dan menjelaskan kalau dirinya mendengar sekali saat seorang pria mengatakannya pada seorang wanita, ujarnya “Aku rasa itu pasti adalah kata-kata yang sungguh bagus.”

Mal Nyeo: “Mungkinkah itu berarti menyukai seuatu?”

Enok: “Itu bukan hanya menyukai sesuatu. Lihat kentang ini, ini adalah benda yang bagus. Tapi itu bukan sebuah ‘I love u’. Itu lebih daripada benda yang bagus, sebuah hal yang lebih .. lebih dan lebih bagus lagi. Aku pikir itulah artinya sebuah ‘I love u’. ”

Mal Nyeo: “Aku rasa aku mulai mengerti…”

Enok: “Tapi seperti yang kau lihat … Aku rasa aku mulai merasa ‘I love you’ pada Gil Dong.”

Mal Nyeo tersenyum memahaminya, dan mengingatkannya kalau Gil Dong segera akan pergi ke Tiongkok. Enok menghela napas, itulah masalahnya, “Aku bahkan pernah memintanya untuk tidak pergi, tapi ia tetap akan pergi”. Mal Nyeo memberitahu Enok agar pergi saja bersamanya, dan Enok frustasi dan meraung, “Tapi aku tidak dapat pergi dengannya kecuali ia memintaku!”  Mal Nyeo memberitahunya kalau Enok akan menyesal jika ia membiarkan Gil Dong pergi begitu saja tanpa membicarakan mengenai hal itu, dan menyemangatinya agar melakukannya.

Jadi, Enok kemudian menemui Gil Dong dan ingin membicarakannya, tapi ia merasa malu sehingga mengalami kesulitan untuk mengatakannya keluar. Gil Dong meminjami Enok kacamata hitam miliknya, dan memberitahu, “Rasa malumu sedikit berkurang jika semuanya terlihat lebih gelap”.

Enok bertanya apakah Gil Dong akan berburu lagi, dan dijawab, “Yeah. Mau pergi denganku?” Enok segera saja setuju, dan sekarang gantian Gil Dong bertanya, “Walaupun kita harus menangkap dua harimau?” Enok bersikukuh, “Aku tetap saja ingin pergi denganmu!” Sedikit canggung (tapi senang), Gil Dong menjawab, “Kalau begitu, ayo kita berburu harimau dan pergi ke Tiongkok bersama-sama … Ayo pergi ke Tiongkok bersamaku!” Gembira tak terkatakan, Enok setuju, dan meyakinkan Gil Dong kalau tidak perlu harimau lagi untuk mendapatkan uang, karena ia sudah menyimpannya bagi keperluan mereka pergi ke Tiongkok. Dia berlari kecil pergi untuk mengambil uang simpanannya tapi tidak lama kembali lagi, wajah memerah dan berujar (dalam bhs. Inggris), “I .. I love you”. Gil Dong tidak mengerti dan bertanya apa arti perkataannya itu, dan Enok berjanji akan memberitahu apa artinya saat mereka sudah sampai di Tiongkok.

Dayang Noh membuat sebuah rencana untuk menimpakan semuanya pada Gil Dong, karena Raja tidak akan diam sampai pedang, rahasia paling berbahaya yang harus tetap disimpan, kembali ke pangkuannya. Rencana Dayang Noh menambahkan keuntungan pada pihak mereka dengan membuat Raja yang rahasianya mulai tersingkap menjadi lebih sinting.

Untuk memantapkan rencananya, Dayang Noh menemui Menteri Hong dan berbincang-bincang dengannya dalam samaran untuk berbagi informasi. Anakbuahnya ada di Istana pada saat terjadinya ledakan, dan melihat orang yang bertanggungjawab atas terjadinya ledakan itu, Hong Gil Dong. (Pernyataan ini membuat Menteri Hong shock, karena ia yakin kalau anaknya itu tidak bersalah.)

Berita mengenai keterlibatan Gil Dong juga sampai ke telinga para penduduk, tapi mereka membuat penafsiran yang berbeda, mereka yakin kalau Gil Dong sekali lagi bertindak dengan penuh keberanian. Seseorang menduga kalau Gil Dong mungkin telah mendengar Raja memaksa rakyat untuk bekerja dalam proyek pembangunan Istananya yang baru dan meledakkannya sebagai perwujudan dari sikap pemberontakkannya melawan pemerintahan yang tirani. Yang lain berpikir kalau Gil Dong, sebagai seorang anak yang tidak sah, sedang menentang perlakuan yang salah dari para bangsawan kepada rakyat kelas rendahan. Para penduduk merasa malu karena telah salah menilai pahlawan ini sebelumnya.

Dalam persiapannya untuk ke luar negeri, Enok memberi penghormatan pada makam ibu Gil Dong, meyakinkannya, “Aku akan selalu bersama-sama dengannya”. Dia mengambil segenggam tanah dan membungkusnya sehingga Gil Dong dapat merasa lebih dekat pada ibunya walaupun jauh.

Sementara itu, Hae Myung berbicara pada Gil Dong mengenai ramalannya, menduga kalau Gil Dong bermaksud untuk melarikan diri, dan tidak ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk mencegahnya. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang akan menderita saat ia melarikan diri? Gil Dong menjawab, “Bagaimana itu bisa menjadi tanggungjawabku? Aku tidak mau dipersalahkan untuk rencana jahat konspirasi mereka!” Hae Myung menambahkan kalau ayah Gil Dong juga akan mendapatkan kesulitan karenanya,  “Ayahmu mungkin saja telah membuangmu, tapi dapatkah kau berlaku sama padanya?” (Andy: “Tentu saja donk!”)

Ramalan Hae Myung sangat tepat, ketika Raja mendengar keterlibatan Gil Dong, Menteri Hong membela anaknya, mengatakan kalau seseorang yang lainlah yang mencuri pedang itu, Gil Dong hanya berada pada waktu yang salah dan tempat yang salah. Dia meminta pada Raja untuk bersabar sehingga mereka dapat menemukan siapa sebenarnya yang ada di belakang semua ini.

Raja menjawabnya, “Aku ingin mempercayaimu. Kau telah mengkhianati teman-temanmu dan sang Ratu dan membunuh semua orang demi diriku. Kau tidak akan mengkhianati diriku. Kali ini, bunuh anakmu dan aku akan tunjukkan kepercayanku padamu!”

Eun Hye juga yakin kalau Gil Dong tidak bersalah, dan memohon pada ayahnya untuk ikut turun tangan demi dirinya. Menteri Seo menduga kalau Eun Hye memiliki perasaan pada gil Dong, tapi menasihatinya untuk membuang itu.

Sementara itu, Enok (masih memakai kacamata karena ia merasa malu) memberi Gil Dong kantungnya yang berisi tanah dari makam. (heheheh harus lihat sendiri filmnya, karena lebih romantis (juga lucu???) daripada yang tertulis di sini 😛 ) Gil Dong tersentuh oleh perhatian dari Enok, dan ketika Enok terpeleset karena kacamata hitamnya, Gil Dong meraih dan memegang tangannya, kemudian merangkul pada bahunya, ketika mereka kembali ke kuil bersama-sama. Gil Dong juga memberitahu Enok supaya tidak mencarinya besok karena dia ada sesuatu yang penting yang harus ia lakukan.

Langkah Dayang Noh selanjutnya dalam memfitnah Gil Dong melibatkan penyebaran pesan yang terukir di pedang Raja, yang sungguh-sungguh membuat mata Kwang Whe berkobar dalam kemurkaan.

Pesan itu menyinggung (dalam bentuk syair dan berkode) raja yang sebenarnya adalah pangeran yang sah (Chang whe, yang seharusnya terbunuh di dalam kebakaran.) Salinan dari pesan itu ditempelkan di seluruh dinding desa, dan kesintingan Kwang Whe mencapai puncaknya, dia memerintahkan semua orang yang menjadi kuli dalam pembangunan disiksa untuk memeras informasi dari mereka, yang tentu saja mereka tidak miliki. Menteri Seo berunding dengan Menteri Hong untuk menemukan cara agar menghentikan segala sesuatunya sebelum keluar kendali. Pertama, para peserta ujian dilepaskan.

Sialnya, keberuntungan tidak berpihak pada para kuli pembangunan, yang sebenarnya dipaksa untuk bekerja dalam proyek itu, dan mereka disiksa dan dihukum mati. Cara Menteri Hong untuk “menghentikan semuanya sebelum keluar kendali” adalah membinasakan semuanya, berharap dapat mengembalikan kesadaran Raja.

Gil Dong menyaksikan semuanya ini dengan hati yang sesak dan berat, mengingat kembali apa yang telah sebelumnya dikatakan oleh Hae Myung padanya, dan segera menuju ke tempat pedagang untuk berbicara dengan Dayang Noh untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ia inginkan.

Gil Dong memberitahu Dayang Noh kalau banyak orang tak bersalah dibunuh, Dayang Noh tidak peduli, mengatakan kalau semua ini adalah tindakan dari Menteri Hong. Dia berbalik mengatakan kalau itu adalah konspirasi pihak mereka lah yang memulai semuanya ini dan memintanya untuk memberitahu apa sebenarnya hubungan semua ini dengan pedang itu:

“Jelaskan padaku, jadi aku bisa menutupinya atau mati mengetahui yang sebenarnya. Jika aku terlibat tanpa sedikitpun tahu, maka mereka dan aku, kita semua, akan mati begitu saja dengan sia-sia.”

Gil Dong salah menyangka kalau ia dapat membuat alasan dengan Dayang Noh, yang dengan dingin menjawabnya, “Itulah yang memang aku inginkan!” Dayang Noh telah memutuskan siapa yang harus mati, dan siapa peduli dengan yang lainnya.

Dan demikianlah, orang-orang dihukum mati, satu demi persatu, dalam gelombang penuh darah. Gil Dong bergegas menuju tempat hukuman gantung, terbebani dengan perasaan bersalah dan sedih. Tak seberapa jauh, ia mengawasi Chang Whe, yang juga sedang mengamati, tapi dengan ekspresi wajah yang kurang jelas. (Ouch … JGS … kenapa nda sedih atau tertawa gila gitu loh … masa tampangnya blank gitu 😦 padahal seharusnya adegan ini bisa menunjukkan sisi lain dari Chang Whe … ah sudahlah … )

Lihatlah saat mereka bertatapan …. mata saling menilai musuhnya, penuh kemarahan dan sesal ….

Gil Dong merasa semuanya ini sudah cukup. Ia ingin mengakhiri semuanya ini, sekali dan untuk selamanya.

“Ayo selesaikan ini dengan kematianku. Aku yakin aklau kau tahu bagaimana untuk mengakhiri ini!”

Tak mempedulikan protes dari Dayang Noh, Chang Whe mengambil pedang dan memberikannya pada Gil Dong. Jika Gil Dong mengakui konspirasi ini dan menunjukkan pedang sebagai bukit, maka rasa haus darah dari Raja akan terpuaskan dan penumpahan darah akan berhenti.

Chang Whe: “Ambil pedang ini, selamatkan jiwa mereka, dan kau … kau akan mati untuk mereka.”

Gil Dong mengunjungi ayahnya, yang yakin kalau anaknya tidak bersalah, tapi sudah terlambat dan tak berguna. Gil Dong mengakui semua kejahatan itu sebagai perbuatannya, dan Menteri Hong tidak mempercayai semuanya itu, menduga kalau Gil Dong pasti sedang berusaha menutupi keterlibatan seseorang, tapi Gil Dong mengatakan, “Aku bertindak sendirian!”

Gil Dong mengatakan kalau ia memiliki pedang, dan saat para tertuduh dibebaskan, maka ia baru akan menyatakan di mana lokasi ia menyimpannya. Di titik ini, dia akan menyerahkan diri pada ayahnya dan menanti keputusan darinya, karena inilah satu-satunya cara agar ayahnya lepas dari kecurigaan terlibat dalam masalah ini. Gil Dong menambahkan kalau ia menyimpan surat lain, jika pembunuhan masih tidak berhenti setelah dirinya terbunuh, maka kebenaran sesungguhnya dari pedang itu akan terbuka.

Menteri Hong memohon identitas dari penjahat yang sesungguhnya:

“Mengapa kau lakukan hal ini? Siapa mereka? Kau harus memberitahuku! Kau adalah ANAKKU!”

Gil Dong berusaha mempertahankan sikapnya:

“Aku bukanlah benar-benar anakmu. Jika aku tertangkap, aku tidak akan mengatakan apapun. Jadi jangan tangkap aku hidup-hidup!”

Enok tidak sengaja mendengar percakapan dari para bandit mengenai situasi yang sedang dihadapi oleh Gil Dong dan menyadari apa yang akan terjadi. Dia segera berlari menemui Gil Dong untuk memperingatkan adanya bahaya, dan menemukannya di “tempat mereka” biasanya, di kolam gunung, dimana Gil Dong dengan tenang-tenang menanti kematiannya, berkata, “Jika itu terjadi di sini, tidaklah begitu buruk”.

Panik, Enok memohon pada Gil Dong untuk melarikan diri, sementara ia sendiri akan berusaha mengalihkan perhatian para prajurit sehingga Gil Dong dapat lolos. Kemunculan tiba-tiba dari Enok membuat Gil Dong kesal, karena ia tidak mau membahayakan Enok. Melihat kalau Enok tampaknya tidak mau meninggalkannya dengan rela hati,, ia memukul Enok di titik vital sehingga membuat Enok pingsan, dan berujar,” Heo Enok, aku minta maaf karena aku tidak dapat pergi bersama-sama denganmu.”

Ketika para prajurit datang, Gil Dong berlari ke arah yang lain untuk menjauhkan mereka dari Enok sejauh mungkin.
Membuatnya ke sebuah tebing, di mana ia menjadi terpojok …

Tak lama kemudian, Enok bangun, melihat dirinya sendirian, ia langsung berlari untuk mencari Gil Dong sambil menangis.

Gil Dong melemparkan pedang itu ke para prajurit.

Sebuah anak panah dilepaskan dan melayang di udara untuk sejenak ….

Gil Dong terpanah di dadanya, Gil Dong melihat ke panah yang tertancap di dadanya, kemudian matanya berputar ke atas, dan ia mulai jatuh ke belakang dari tebing ….

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s