Hong Gil Dong – Episode 08

Gil Dong berada di tepi tebing, terkepung dan terpojok oleh para prajurit, menghadapi kematian yang tak terelakkan. Sebatang anak panah dilepaskan, dan sejenak melayang di udara untuk sedetik dan melesat dengan kecepatan tinggi. Beberapa orang menyatakan bahwa ketika dalam ambang kematian, maka kehidupanmu di masa lalu berkelebat dalam ingatanmu. Untuk Gil Dong, dia mengingat sekilas memori percakapannya baru-baru ini dengan Hae Myung:

Hae Myung: “Tidakkah kau peduli dengan apa yang terjadi di dunia ini?”

Gil Dong: “Dunia ini kelihatannya tidak mengijinkan aku untuk melakukan sesuatu. Jadi tidak ada gunanya aku bersikukuh kalau aku dapat melakukan sesuatu untuk mengubahnya.”

Hae Myung: “Kau tidak dapat melakukan sesuatu, sehingga kau akan berdiam diri saja? Jika kau mengasingkan kehidupanmu dari dunia ini hanya karena tidak ada gunanya, maka tidak ada ketidakadilan jika kau mati, benar? Taruhlah dirimu dalam situasi hampir mati, apakah yang kau pikir akan terjadi? Pada saat itu, jawabannya bagaimana kau harus hidup pasti akan terungkap!”


Gil Dong terpanah ….

Dia jatuh dari tebing, dengan kata-kata si rahib bergema di dalam kepalanya, “Temukanlah jawaban dari pertanyaan itu!” Para bandit berhasil menemukan Gil Dong yang pingsan dan segera membawanya pergi.

Kwang Whe mengambil kembali pedang itu, tapi gelisah karena mengetahui bahwa pangeran yang sebenarnya masih hidup di suatu tempat. Sementara itu sang pangeran telah menerima laporan bahwa Gil Dong sudah mati. Dayang Noh menyakinkan Chang whe kalau itu adalah hasil yang sangat baik, “Karena dialah yang membuat rencana kita tersingkap!” Chang Whe membalasnya, “Jika itu tidak terjadi maka kepala-kepala yang tergantung di depan Istana sekarang mungkin sebaliknya adalah milik orang-orang lain yang akan aku bunuh.” Dia bertanya-tanya, “Supaya aku dapat tetap hidup, berapa banyak nyawa orang lain yang haurs dikorbankan?”

Dayang Noh mengingatkannya untuk tidak melemah, dialah pangeran yang sebenarnya. Chang Whe, “Sejak aku dapat menghindar dari kebakaran itu, aku tidak pernah sedikitpun ada keraguan. Tidak sampai hari itu, ketika dia (Gil Dong) menanyaiku pertanyaan semacam itu”. ‘Pertanyaan itu’ mengacu pada tantangan Gil Dong, bertanya pada saat ia melakukan perjanjian untuk menutupi konspirasi dari pihak Chang Whe:

Gil Dong: “Jadi semua ini hanya untuk merebut kembali posisimu yang telah diambil oleh Raja? … Mengapa kau harus menjadi seorang Raja? Karena kaulah pangeran pewaris tahta yang sah? Hanya karena aku tidak dapat menjadi yang lain selain seorang pelayan, dilahirkan menjadi seorang pelayan, kau dilahirkan untuk menjadi seorang Raja, jadi kau harus melakukan semuanya untuk menjadi seorang Raja, apakah seperti itu? Seperti yang telah kujanjikan, aku akan mati untukmu. Kau dapat hidup terus, jadi pikirkanlah terus mengenai itu, mengapa kau harus menjadi seorang Raja?”

Chang Whe mengakui, “Aku tidak pernah berpikir sedikitpun mengapa aku harus menjadi seorang Raja!”

Eun Hye mendengar berita ‘kematian’ Gil Dong dengan sangat shock dan pernuh dengan penyesalan, “Aku tidak seharusnya meninggalkannya seperti itu. Aku seharusnya pergi bersamanya waktu itu.”

Enok, di lain pihak, menolak percaya kalau Gil Dong sudah mati, dan menjelajahi hutan untuk mencarinya. Merasa tidak ada gunanya mencari seperti itu sementara ia bahkan tidak tahu di mana Gil Dong mati, dia pergi ke markas Chang Whe dan di sana ia ‘beraksi’ dengan menendangi ini itu ke sana kemari dan berteriak-teriak, melontarkan luapan kemarahan untuk menemui Chang Whe.

Chang Whe keluar untuk menemuinya, dan bertanya (dengan sebersit rasa bersalah?), “Mengapa kau memintaku untuk membantumu dalam hal ini? Aku tidak ada urusannya dengan dirinya!” Enok memintanya untuk mencari tahu di mana Gil Dong terpanah (karena Enok rasa Chang Whe kenal dengan seseorang dengan posisi yang tinggi), dan memberitahunya, “Aku telah menyelamatkan hidupmu, bukankah demikian? … sebenarnya Gil Dong juga telah menyelamatkan hidupku sebanyak dua kali. Itu artinya dia juga telah menyelamatkan hidupmu!”

Meskipun Chang Whe tidak menyetujui pendapat Enok yang keras kepala bahwa Gil Dong masih hidup, dia dapat melihat kalau Enok tidak akan menyerah begitu saja, dan menawarkan dirinya untuk membantu mencari Gil Dong.

 

Untuk kali ini, para penduduk menarik kesimpulan yang benar, berpikir kalau Gil Dong pasti telah menerima semua tuduhan berkonspirasi demi menyelamatkan nyawa orang-orang yang lain. Mereka menangisi kematiannya, merasa menyesal atas perlakuan mereka terhadapnya sebelum ini.

Gil Dong tinggal bersama-sama dengan para bandit dalam persembunyian mereka, sementara ia mulai berangsur-angsur pulih, meskipun hatinya sangat bersedih. Su Geun bertanya-tanya apakah mereka seharusnya memberitahu Enok kalau Gil Dong masih hidup, tapi Gil Dong menjawab tidak, “Dia bisa saja mati karena diriku …. Jika ia pikir aku sudah mati, maka ia akan berhenti untuk mencari diriku.” Ah … tapi Gil Dong terlalu memandang ringan Enok, karena Enok terus saja berkeliling untuk mencarinya, masih saja berharap.

Di tempat tiang gantungan, seorang anak lelaki memohon kepala dari ayahnya, yang sedang dipamerkan, sebagai sebuah peringatan. Gil Dong mengawasi semua itu dengan hati yang sangat sakit, lebih marah lagi saat ia melihat tandu menteri, yang merasa benar sendiri, lewat dan kelihatannya tak menyadari penderitaan di sekelilingnya.

Gil Dong mengingat saat Hae Myung bertanya padanya di kuburan para pencuri:

“Apakah ada seorang pencuri yang lebih hebat daripada seseorang yang telah mencuri nyawa dari orang-orang yang telah dikubur di sini?

Demikanlah, Gil Dong mencuri semua kepala yang dipamerkan untuk memberikan penguburan yang layak bagi mereka, menggali kuburan bagi mereka dengan hati dipenuhi rasa amarah karena dunia yang tidak adil ini. Sekali ini ia merasa tergerak oleh pertanyaan yang dulu pernah diajukan oleh Hae Myung,  “Ketika kau melihat mereka, tidakkah kau merasakan sesuatu?”
Enok mendengar adanaya pencurian kepala dan segera berpikir kalau ini pasti perbuatan dari Gil Dong. Ia segera memburu ke kuburan, sedikit  terlambat untuk menemui Gil Dong di sana, tapi dengan harapan yang baru.

Sekarang setelah merasa menemukan jawabannya, Gil Dong meminta kawan-kawan banditnya untuk membantunya dalam rencananya yang baru. Dalam keterkejutan mereka, ia mengumumkan:

“Aku akan mulai mencuri dari para pencuri terbesar di negara ini!”

Gom dengan sangat antusias menyetujuinya, “Karena Gil Dong adalah kakakku, maka aku pasti ikut tak peduli apapun yang terjadi!” Selanjutnya Yeon, “Aku percaya padamu, Hong Gil Dong!” Kemudian Mal Nyeo, “Lagipula apa gunanya hidup dengan membosankan seperti ini? Mempermainkan para bangsawan kedengarannya sangat menyenangkan!”

Su Geun menjadi yang terakhir bergabung, lebih karena ia merasa terancam posisinya sebagai pimpinan kelompok bandit itu. Ia memberitahu Gil Dong, “Ayo kita lakukan itu, tapi tetap aku yang menjadi bos di sini. Aku hanya mengikuti saranmu karena ini kasus yang khusus!”

Tahap pertama … ouch .. rada menjijikkan, tapi juga rada keterlaluan … ahahaha

Sementara para menteri sedang diusung dengan tandu mereka, para bandit menyerang mereka tiba-tiba dengan siraman ….. hueeekkk …… kotoran manusia ….

Rencana ini sangat berhasil dan efektif, tapi ini hanya tahap pertama saja …

Sebelum tahap kedua dilaksanakan, pertama itu butuh sedikit persiapan dan penyelesaian. Gil Dong memasang sebuah pemberitahuan di desa, mengumumkan niat para bandit untuk mencuri dari menteri yang paling korup!

Para bandit sendiri, dalam pekerjaan sehari-hari mereka, membantu menyebarkan gosip ini lebih jauh, dan segera saja, para penduduk saling melemparkan prediksi mengenai siapa pejabat terkorup yang akan diserang. Bahkan menjadi seperti even bertaruh, orang-orang dengan bersemangatnya mengutarakan taruhan mereka, “Menteri ini yang paling korup, aku akan bertaruh padanya” … “Bukan! Menteri itu yang paling banyak disuap!” .. “Menteri yang lain itu juga disuap banyak!”

Sekarang benar-benar yakin kalau Gil Dong masih hidup, Enok memberitahu Chang Whe kalau bantuannya sudah tidak ia butuhkan lagi. Dia akan mencari Gil Dong sendirian. Chang Whe bertanya apakah Enok memiliki bukti kalau Gil Dong masih hidup? Enok menjawab tidak, itu hanyalah perasaannya saja, tapi ia yakin akan dapat menemukannya jika ia terus mencari.  Sambil menahan rasa tangisnya, memberitahu dirinya sendiri, “Dia telah berjanji padaku, jadi ia pasti akan datang mencariku!”

Dayang Noh, menguping, memutuskan kalau sesuatu harus dilakukan sehingga Enok selalu dalam pengawasannya. Ia memberitahu Chisu untuk mempersiapkan sebuah posisi bagi Enok dalam organisasi mereka, jika ia tidak dapat menjauhkan Enok dari Chang Whe, maka sekarang ia menginginkan paling tidak bisa mengawasinya lebih dekat.

Dia juga banyak merenung, kemudian berbicara pada dirinya sendiri, bahwa Enok adalah sebuah nama yang tidak umum. Gadis kecil bernama Yoo Enok sebenarnya diberi nama oleh ibu Chang Whe sendiri, dia  sebenarnya dimaksudkan untuk memiliki “takdir khusus” dengan sang pangeran, jika saja ia masih hidup.

Raja mendengar pengumuman yang disebarkan oleh para bandit, dan bertanya pada para menterinya mengenai kebenaran berita suap menyuap itu. Tentu saja para menteri tidak bersalah dan tidak melakukan semua perbuatan seperti itu! Tapi Raja kemudian mengancam, “Apa yang terjadi jika kalian bertemu dengan para perampok itu? Jangan merusak kepercayaanku pada kalian!”

Para menteri membungkuk hormat dan gemetar dengan takut.

Menteri Seo berbincang-bincang dengan ibu In Hyung, mencemaskan kemungkinan besar ia akan menjadi target dari pencurian itu. Dia merengek seperti anak kecil:

“Jika aku ada di urutan yang kedua, maka tidak akan menjadi masalah! Aku bukanlah satu-satunya orang yang menerima suap! Semua orang juga menerimanya! Aku mungkin saja menerima sedikit lebih banyak, di sini dan di sana. Kenapa mereka hanya mencari yang paling top saja?”

Ibu In Hyung mencoba untuk menenangkannya, mungkin seseorang yang lain menerima suap yang lebih banyak dan ia tidak tahu mengenai hal itu. Seo menuliskan daftar 5 orang top yang paling mungkin, tapi ternyata tidak ada yang lain, dialah satu-satunya target utama mereka, ia yakin itu.

Ibu In Hyung mengusulkan, untuk berjaga-jaga, agar Menteri Seo menempatkan lebih banyak penjaga. Menteri Seo merasa resah, tidakkah itu justru menjadi bukti kalau ia sedang cemas?

Malam yang sudah ditentukan, semua pejabat yang sedang gelisah masih bangun, berharap kalau mereka tidak menjadi korban perampokan.

Dan, sungguh penasaran, para bandit ternyata tidak merampok salah satu dari mereka malam itu, yang mana membuat para menteri yang lega merasakan rasa aman, yang sebenarnya palsu belaka.

Sebaliknya, para bandit berkumpul untuk memberikan dukunngan tetap pada Gil Dong, membuatnya menjadi ketua mereka yang baru, “Kami semua akan mengikuti perintahmu sekarang!” Su Geun bahkan menyerahkan tongkat sebagai tanda pimpinan, membuat semua perilaku mereka terlihat lebih meyakinkan. Gil Dong menerima tanggungjawab itu, dan mereka kemudian keluar pada malam berikutnya, menyerbu bukan hanya satu tapi SEMUA kediaman para pejabat tinggi.

Sungguh lucu, para menteri memohon pada Gil Dong, bukan untuk membiarkan mereka pergi, tapi supaya melakukan perampokan itu dengan diam-diam saja, “Lanjutkanlah, ambil semuanya!”… “Hanya jangan beritahukan pada siapapun kalau kau sudah merampok rumahku!”

Saat giliran menteri Seo, untuk sejenak, tak dapat menentukan bagaimana ia seharusnya bereaksi, dan berusaha menggertak nyali dari para penyusup itu. Gil Dong memberitahu Menteri Seo, “Benar, aku memang seorang pencuri. Mengapa kau tidak membunyikan tanda bahaya menandakan kau sedang dirampok?” Menteri Seo tentu saja tidak dapat mendebatnya. Dia pada saat yang bersamaan ingin tetap diam dan berteriak secara bersamaan, tekanan ini membuatnya tampangnya kelihatan seperti seseorang yang baru saja menghirup angin busuk.

Wahahahhahah … aku SANGAT suka adegan ini …. mereka, para menteri, tidak dapat melawan balik, karena jika mereka membunyikan tanda bahaya dan membuat kegaduhan maka sama saja mereka memberitahu semua orang kalau mereka adalah pejabat korup. Jadi mereka hanya bisa duduk manis dan menyaksikan diri mereka dirampok.

Dan seperti yang sudah diperkirakan, Gil Dong meyakinkan Seo kalau dialah pejabat korup yang paling top!

Saat para bandit meninggalkan tempat itu, Eun Hye, yang bersembunyi saat melihat penyusupan mereka, mengenali Gil Dong. Mal Nyeo ingin membunuhnya karena Eun Hye dapat mengidentifikasinya nanti, tapi Gil Dong meminta waktu sejenak sendirian dengan Eun Hye. Eun Hye terlihat sangat gembira melihat Gil Dong, tapi Gil Dong menjaga jarak dan tetap tenang.

Gil Dong: “Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan, dan juga tidak ada alasan mengapa kau tertarik dengan urusanku. Berpura-puralah tidak mengenalku, seperti yang kalu lakukan terakhir kalinya!”

Eun Hye: “Mengenai waktu itu … ”

Gil Dong: “Aku sudah menerima pesan minta maafmu.”

Ketika Gil Dong mau beranjak pergi, Eun Hye menghadangnya dan memberinya perintah, berusaha menampikan roman berwibawa walaupun sedang tegang. Dia tidak akan membiarkan Gil Dong pergi, kecuali untuk satu syarat. Satu bulan dari sekarang, Gil Dong harus bertemu dengannya lagi di mana mereka pernah bertemu di hari berhujan. Dia kemudian pergi ke kamarnya, (“Aku pasti sedang sinting!”), sangat senang, dan gugup.

Para pencuri mengumpulkan hasil mereka, dan memberi Gil Dong tanggungjawab memutuskan untuk melakukan apa dengan semua barang itu, sebelum ia lari lagi.

The thieves exult in their bounty, and give Gil Dong the responsibility of deciding what to do with it, before he runs away.

Gil Dong: “Aku tidak melarikan diri. Dalam keadaan yang sekarat, aku menyadari banyak hal yang menggangguku. Aku tidak akan melarikan diri lagi!”

Karena dunia ini membuatnya tidak mungkin untuk melakukan sesuatu yang berharga, maka ia menyimpulkan kalau mungkin saja ia dapat membuat satu efek perubahan dengan mengaduk semuanya menjadi satu, menjungkirbalikkan segalanya, atas ke bawah dan bawah ke atas.

Su Geun: “Jadi kau merampok untuk memberontak pada dunia?”

Gil Dong: “Itu benar! Dan aku akan terus mencuri. Aku akan mencuri semua hal yang kotor dan korup di dunia ini!”

Yeon: “Seperti barang-barang yang ada di sini”

Gil Dong mengatakan kalau barang-barang hasil rampokan mereka adalah hasil dari para pejabat merampok rakyat, jadi mereka harus mengembalikan semua uang ini kepada mereka yang telah dirampok oleh para pejabat lebih dulu. “Itulah cara yang pantas untuk membagi hasil rampokan ini!” Dia memberikan tanggung jawab untuk membagi barang-barang itu pada Su Geun, yang akan memutuskan siapa yang layak untuk menerimanya.

Jawaban Su Geun, “Seluruh negeri? Pada siapa para pejabat telah merenggutnya? Tapi untuk sekarang, semua ini akan dibagi kepada keluarga-keluarga dari para pekerja pembangunan yang dieksekusi!”

Gil Dong setuju, “Okay, aku akan menuruti keputusanpu, ketua!” dan Su Geun sangat senang sekali menjadi ketua lagi. Dan begitulah, dengan misterius, keluarga-keluarga yang sedang berduka menemukan uang telah dikirim ke rumah mereka entah dari mana asalnya. Banyak diantara mereka sebenarnya memang sudah miskin dan menjadi lebih miskin lagi, bahkan mengemis, dan sekarang mereka telah diberikan setitik harapan.

Berita mengenai ini sampai ke telinga Chang Whe, yang hampir saja percaya kalau itu adalah perbuatan dari Gil Dong, “Satu-satunya orang yang akan merasa bertanggungjawab untuk kematian orang-orang itu adalah aku dan Hong Gil Dong!” Chisu mengingatkannya bahwa Gil Dong sudah mati, tapi Chang Whe tahu lebih baik, “Seperti diriku, dia mungkin saja masih hidup sementara dikira sudah mati.”

Sekali lagi, ia mengingat pertanyan Gil Dong, “Pikrikan lagi mengapa kau yang harus menjadi Raja?”, dan bertanya-tanya, “Jika aku bertemu lagi dengannya, dapatkah aku menjawab pertanyaannya ini?”

Hae Myung kelihatannya sangat senang melihat kalau Gil Dong telah menemukan jalannya, tapi bertanya-tanya mengenai Enok.

Hae Myung: “Apakah kau bermaksud untuk tidak menemuinya lagi?”

Gil Dong: “Ini bukanlah jalan di mana kami dapat melangkah bersama-sama!”

Hae Myung: “Dia masih saja mencari dirimu. Akankah kau meninggalkannya hanya untuk membuatnya menunggumu, mungkin untuk selamanya?”

Gil Dong: “Aku harus mengakhirinya, bukankah begitu?”

Hae Myung mengirim “bukti” kalau Gil Dong telah mati dan memberitahu Enok kalau tubuhnya ditemukan dengan membawa sebuah kantung, yang berisikan tanah makam ibu Gil Dong, (yang sobek karena panah, aku pikir inilah yang membuat nyawa Gil Dong selamat dari tusukan panah, dan ini juga menjadi pertanda yang cukup bagi Enok kalau panah telah menembus kantung itu dan mengenai dada Gil Dong)

Enok segera saja mengenalinya, dan kali ini, ia percaya pada Hae Myung ketika memberitahunya, “Gil Dong sudah mati!”

Sejenak setelah tidak percaya, dia terduduk, menangis sangat sedih, meratapi kematian dari Gil Dong. Sementara itu … dari kejauhan, Gil Dong mengawasinya bahkan ia merasa sangat terkejut melihat betapa berdukanya Enok atas ‘kematian’nya.

Tapi ini demi kebaikan Enok, Gil Dong berusaha meyakinkan dirinya sendiri … kemudian ia berbalik dan melangkah pergi, diiringi suara tangisan sedih dari Enok, yang meratap di belakangnya  ….

Iklan

One comment on “Hong Gil Dong – Episode 08

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s