Hong Gil Dong – Episode 09

Legenda dari Gil Dong semakin menyebar setelah ‘kematian’ nya, disebarluaskan oleh orang-orang seperti Kakek Heo, yang menceritakan kembali berbagai kisah kehidupan Gil Dong pada masa sebelum menjadi seorang pencuri untuk menarik perhatian para pembeli dan menjual obat-obatan pada mereka. Dengan versi fiksinya dimulai ketika Menteri Hong mendapatkan mimpi keberuntungan, yang sangat mempengaruhinya sehingga ia sangat ingin mendapatkan seorang anak lelaki. Gagasan ini ditolak oleh istrinya sehingga Menteri Hong beralih pada seorang pelayan untuk mengandung anaknya. Kemudian Gil Dong dilahirkan dan menjadi seorang tokoh yang termashyur, sekalipun ia dilahirkan bukan dari kalangan bangsawan.

Setahun berlalu setelah ‘kematian’ Gil Dong …. semuanya berjalan seperti biasanya. Enok sedang merasa sangat gembira karena kapal dari Tiongkok datang hari ini, dan segera memburu ke dermaga untuk menyambut penumpang kapal itu, yang ternyata si Chang Whe.

Chang Whe baru saja kembali dari Tiongkok, berusaha untuk melacak seorang pedagang bahan-bahan peledak. Kendatipun tidak berhasil dalam perjalanannya ini, dia sedikit rileks saat melihat Enok, dan tersenyum ketika Enok menyambutnya dengan antusias sekali. Chang Whe juga membawa kembali seekor kobra yang baru untuk menyenangkan Enok, yang kemungkinan besar atas permintaannya, dan diterima dengan suka cita oleh Enok.

Setahun belakangan ini, gosip mengenai pangeran mahkota (Chang Whe) yang masih hidup menyebar dengan luas, tapi dia masih menahan diri. Dayang Noh bertanya padanya, “Apakah kau masih memikirkan mengenai pertanyaannya (Gil Dong)?” Chang Whe mengiyakannya, karena ia tidak dapat menemukan jawaban yang jelas untuk pertanyaan mengapa harus ia yang menjadi Raja, jika nanti ia bisa menjadi Raja.

Pedang, yang sekarang dalam kepemilikan Kwang Whe, biasa digunakan olehnya sebagai pelengkap gumamannya sendiri, “Pedang apa yang akan kau pegang ketika kau datang untuk membunuhku?”

Sementara itu Gil Dong …

… sudah menyatu dengan kelompok bandit, yang sekarang menarget para pejabat korup, menyerbu dan merampok kekayaan yang didapatkan dengan cara yang tidak wajar, kemudian membagi-bagikannya pada rakyat miskin. Kelompok yang terakhir disergap oleh mereka saat kelompok itu berjalan melalui hutan.

Para bandit tetap mendirikan markas mereka di pegunungan yang terpencil. Sementara Gil Dong memimpin penyerbuan itu, Su Geun secara resmi masih menjadi pimpinan mereka.

Enok sangat bersukacita atas kobra barunya dan berterima kasih pada Chang Whe sedalam-dalamnya, bahkan mengundangnya untuk menyaksikan pertunjukannya, yang ia rasa akan dapat menggaruk banyak uang kali ini.

Chisu menyadari sedikit perubahan pada majikannya, saat ia ada di dekat Enok, Chang Whe terlihat sedikit santai: “Sangat baik melihatmu seperti itu.”

Tapi tak lama kemudian, si kobra berhasil keluar dari kotak penyimpanannya dan merayap keluar dari kamar Enok, membuat semua orang terkejut dan ketakutan sehingga mereka menyerang si ular, yang kemudian menyusup masuk ke sebuah taplak meja. Orang-orang segera memburu ular itu dan menginjak-injaknya sampai mati. Enok yang melihat ular barunya mati terinjak-injak, menangis menggerung-gerung.

Hae Myung mampir di desa bandit dan menerima kabar mengenai aksi penyerbuan mereka yang terakhir dengan gembira hati. “Mereka memang layang mendapatkannya!”. Dia kemudian mencari Gil Dong dan menemukannya di kamar sedang telentang di lantai, dan berpikir:

“Sejenak, kelihatannya tidak ada yang berubah, tapi dia sebenarnya terus berubah. Sedikit demi sedikit, namamu akan menjadi termashyur.”

Hae Myung memberitahu kabar terakhir di luar sana pada Gil Dong, banyak sekali tipsnya membantu para bandit untuk mengkoordinasikan penyergapan mereka, dan mengingatkan Gil Dong untuk tetap waspada karena banyak gosip yang beredar kalau para perampok mengincar jalan-jalan tertentu. Hae Myung kemudian memberi pertanyaan pancingan, “Apakah ada yang lain yang ingin kau ketahui?”

Gil Dong menjaga paras tenangnya dan menjawab tidak; Hae Myung memberitahunya, dengan penuh maksud: “Semuanya baik-baik saja.” Mereka berdua tahu kalau Hae Myung mengacu pada Enok, walaupun tidak menyebutkan namanya. Gil Dong memberitahu dirinya sendiri. demgan sedikit tersenyum: “Jadi dia baik-baik saja. Itu sungguh melegakan!”

Menteri Seo dan Hong bertemu untuk mengadakan kerjasama. Seo telah mendengar bisik-bisik mengenai keberadaan dari pangeran Chang Whe dan bertanya-tanya mengenai nasib dari anak perempuan dari orang yang dibunuh oleh Menteri Hong. Sekarang banyak yang percaya kalau Gil Dong telah bekerja sama dengan Chang Whe dalam penyerangan Istana tahun lalu, dan ia menjadi cemas, apakah mereka bertiga masih hidup di suatu tempat.

Melihat Enok menangisi kematian ularnya, Chang Whe menawari Enok untuk minum dengannya, bermaksud membuat Enok terhibur. Enok ragu-ragu menyebut Chang Whe sebagai temannya, karena perbedaan posisi mereka, Enok memanggilnya sebagai seorang “dari kelas sangat tinggi”, tapi Chang Whe tersenyum dan mengatakan”

“Kau tidak harus melihatku dengan cara itu, karena aku tidak melihatmu sebagai orang dari status rendah. Anehnya …. aku merasa nyaman denganmu.”

Enok memarahi Chang Whe karena tidak mengingat untuk melakukan semua yang telah ia usulkan untuk Chang Whe lakukan saat ia ada di Tiongkok (kebanyakan berkaitan dengan makanan, karena Enok tergila-gila dengan makanan Tiongkok). Chang Whe mengusulkan padanya untuk kembali ke Tiongkok saja … Chang Whe memberitahunya jika ia dapat mengirim Enok ke Tiongkok demi perjalanan bisnis, tapi tiba-tiba pembicaraan ini menghilangkan rasa senang Enok, yang tergagap dan mengatakan kalau ia tidak ingin pergi ke Tiongkok, dia pernah berencana untuk pergi ke sana sebelumnya tapi semuanya tidak berjalan lancar.  Chang Whe menyadari perubahaan suasana hati Enok yang tiba-tiba dan berujar, “Aku mengerti, pasti dia (Gil Dong) telah memintamu untuk pergi bersama-sama dengannya ke sana.”

Enok tak dapat menghentikan air matanya yang keluar, dan dengan malu memasang kacamata Gil Dong yang sebenarnya sudah retak untuk menyembunyikannya. Dia kemudian memohon diri dan segera bergegas pergi keluar, di mana ia kemudian dengan diam-diam menangis, mengingat masa lampaunya saat masih bersama-sama dengan Gil Dong.

Pada saat yang bersamaan, Gil Dong sedang memegang kantong bernoda darah yang dibuat oleh Enok untuknya, berpikir hal yang sama dengan Enok. Enok telah menyerahkan kembali kantung itu pada Hae myung, yang kemudian memberikannya pada Gil Dong, entah itu akan dibakar atau disimpannya. Gil Dong bergumam pada dirinya, “Aku masih …. tidak dapat memaksa diriku untuk membakarnya.”

Seorang gadis berlari-lari di hutan, terikat dan habis dipukuli, diburu oleh para pengejarnya. Di pagi hari selanjutnya, para bandit menemukan mayatnya di hutan, dan menduga kalau gadis ini pasti telah berusaha melarikan diri untuk menghindar dijual sebagi budak. Gil Dong menyadari sebuah kalung kelenengan yang ada di lehernya, yang pasti dipakaikan pada gadis itu sehingga para penjaga dapat mendengarnya. Tapi siapa yang begitu jahat?

Inilah dia orangnya, Choi Chul Joo, seorang bajingan rentenir tua yang jahat. Murka karena gadis itu melarikan diri, dia memerintahkan anakbuahnya untuk mengambil adik perempuan gadis itu, jika yang lebih tua tidak dapat digunakan untuk melunasi hutang maka yang lebih muda harus membayarnya. Tidak peduli kalau si gadis itu masih berumur 13 tahun: “13 tahun pun  masih seorang perempuan, khan?” Sungguh perkataan yang mengerikan keluar dari seorang manusia ….

Adik gadis itu ditangkap di desa; Chang Whe menyaksikannya dari kejauhan. Chisu memberitahunya, ketika orang-orang tidak dapat membayar kembali pinjamannya, maka pemberi pinjaman akan menjual orang-orang itu atau anggota keluarganya, yang pria sebagai seorang budak dan yang wanita sebagai seorang pelacur.

Kelompok rentenir yang sama sedang mengiklankan jasa mereka di sebuah desa, yang membuat Yeon dan Su Geun yang mendengarnya sangat jijik. Dengan praktek rentenir yang korup, membuat pinjaman itu hampir selalu mustahil untuk dibayar kembali. Mereka berdua menyaksikan seorang gadis sedang berdebat dengan para rentenir dan menuduh mereka mengambil keuntungan dari ayahnya yang buta dan malang.

Su Geun terguncang saat melihat gadis itu, dan segera teringat kepada seorang gadis di masa lampaunya yang sangat mirip dengan gadis itu. Dia kemudian menguntit gadis tadi pulang ke rumahnya, di mana ayahnya yang buta memanggilnya Chung.

Sebagai seorang pembawa pesan untuk kelompok pedagang, Enok mengantarkan sebuah bingkisan pada Eun Hye (yang masih bertunangan dengan Ih Hyung, yang sekarang berhasil lulus dari ujian militer). Nada mereka berdua sangat sopan, dan Enok menanyakan mengenai kepergian Eun Hye yang sangat sering ke kuil, yang mana Eun Hye tersenyum dan menjawab, “Itu sangat menyenangkan. Aku sangat menikmatinya.”

Karena, tentu saja, ia tidak pergi ke kuil. Dia pergi untuk bertemu dengan Gil Dong di desa bandit.

Tidak ada seorang pun yang terlihat senang dengan kunjungan Eun Hye yang berulangkali di desa bandit. Mal Nyeo dengan tegas berpihak pada Enok, menggerutu bahwa Eun Hye begitu licin dan  sok malu-malu. Ia lebih suka dengan pendekatan langsung “I Love U” ala Enok. Yeon bertanya apa artinya itu, dan dijawab oleh Mal Nyeo, “Itu sesuatu yang berakhir dengan begitu menyedihkan”.

Eun Hye dan Gil Dong berbincang-bincang, Gil Dong tampak tidak sabaran tapi Eun Hye tidak terpengaruh. Gil Dong dengan jelas sekali merasa kalau kunjungan Eun Hye yang berulangkali sangat tidak menyenangkan, tapi dia bertahan karena Eun Hye selalu mengancam akan melapornkannya. Pada suatu ketika, Eun Hye dengan angkuhya memerintahkan Gil Dong untuk menaruh batu di atas sungai yang dangkal sehingga ia dapat menyeberang tanpa kakinya menjadi basah. Tersinggung dengan sikapnya, Gil Dong segera meraihnya, mengangkat dan memanggulnya kemudian menyeberangi sungai yang dangkal itu.

Gil Dong berteriak padanya, “Apa masalahmu? Aku bertemu denganmu karena kau mengajukan syarat itu supaya kau tetap menjaga rahasia kami, tapi ini menjadi sangat konyol!” Dia kemudian memberitahu Eun Hye untuk menghentikan ini segera dan segera pergi. Tak mau melepaskan ‘genggaman’ nya pada Gil Dong, Eun Hye menyindir Gil Dong bahwa ia akan melaporkannya karena beberapa perampokan baru-baru ini: “Akulah satu-satunya yang berhak untuk memutuskan kapan kita akan berhenti bertemu. Kau hanya perlu melakukan apa yang kuperintahkan padamu!” Dia menegaskannya dengan meminta Gil Dong untuk membawanya kembali ke kota. Lagipula bandit ada di mana-mana di daerah itu.

Kembali ke markas para pedagang, Dayang Noh bertemu dengan Choi Chul Joo, dan merek berdua akhrinya mencapai kesepakatan. Dayang Noh akan menyediakan Choi dengan tempat penyimpanan bagi “muatan” nya dan membawanya ke Tiongkok, dan Choi akan menyuplai kelompok Dayang Noh dengan bahan-bahan peledak.

Dayang Noh tidak melihat ada sesuatu yang janggal dalam kesepakatan mereka, tapi nurani Chang Whe sangat terusik. Dia tidak menyukai ide untuk melakukan kerjasama dengan seseorang yang begitu menjijikkan seperti si Choi ini: “Jadi demi mendapatkan apa yang kita butuhkan, kita harus membayar harganya dengan terlibat dalam permainan kotor ini”. Chang Whe mengingat kembali si gadis muda yang direbut paksa dari keluarganya untuk dijual sebagai pelacur.

Gadis itu, pada saat ini sedang dikurung dalam salah satu gudang si Choi, terikat dan dikalungi kelenengan di lehernya.

Kelenengan yang dikenakan oleh kakak perempuannya, di lain pihak, sedang berada di tangan Gil Dong, yang sekarang sedang mengantar Eun Hye ke kota dan sesampainya di kota ia segera  mencari kelenengan yang sama, berharap menemukan sesuatu pertanda. Keinginan tahuan Eun Hye menjadi rasa cemburu begitu mendengar jawaban Gil Dong yang mengungkapkan kalau kelenengan itu bersangkutpaut dengan seorang gadis, dan itu bukan urusan Eun Hye.

Gil Dong kemudian pergi dengan segera sementara Eun Hye mengingatkannya mengenai pertemuan mereka sebulan lagi. Setelah Gil Dong pergi, Eun Hye bergumam dengan kecewa, “Aku tidak bermaksud berpisah dengannya dalam kondisi buruk seperti ini”.

Tak sengaja, Gil Dong berhasil melacak orang yang menjual kelenengan itu pada seorang rentenir, dan bukan hanya sebiji dua biji tapi sekitar seratusan biji. Gil Dong langsung berasumsi kalau rentenir ini pasti telah menculik paksa banyak gadis.

Sementara itu di Istana, Menteri Hong menasehati Kwang Whe, yang menatap lagi pedangnya yang bersinar. Kwang Whe mengatakan kalau Chang Whe telah bersembunyi dengan sangat batik sehingga hampir sama seperti seorang hantu, tahu kalau ia ada tapi tak kelihatan wujudnya: “Tapi dia kurang menakutkan daripada hantu dari seorang yang telah mati. Sejak hari di mana aku mengetahui adikku masih hidup, tidurku menjadi lebih baik”. Tapi menteri Hong masih mencoba beralasan, “Lebih menakutkan lagi adalah sentimen dari rakyat. Kumohon lebih berhati-hati dalam memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan rakyat.”

Khwang Whe melamun sendir dan bertanya-tanya sejak kapan ia mulai kehilangan kewarasannya. Dia memutuskan kalau itu pasti ketika ayahnya membuatkan pedang ini bagi Chang Whe, demi tujuan untuk membunuh dirinya, demi mempertahankan garis keturunan kerajaan yang murni.

Kembali ke Shim Chung.

Gil Dong menyadari kalau Su Geun sedang menguntit Chung, dan terheran-heran dengan perasaan yang mendalam dari Su Geun terhadap gadis itu yang jauh lebih muda daripada Su Geun. Tapi Su Geun menyingkapkan padanya kalau ia tidak ada maksud romantis di balik tindakannya ini, Chung hanya mengingatkannya pada adiknya belaka, yang telah dijual untuk membayar hutangnya ketika ia patah kaki. Tak dapat menyelamatkan adiknya, yang kemudian meninggal, dan sekarang ia ingin membantu gadis ini dengan apapun yang dapat ia lakukan. Pada akhirnya, Su Geun bermaksud akan membawakan makanan dan persediaan, dan meninggalkan semua itu di rumah gadis tadi.

Tapi ironisnya, sesaat setelah Su Geun menjelaskan situasinya pada Gil Dong dan pergi untuk melaksanakan niatnya, Choi dan anakbuanya datang bermaksud untuk mengambil kembali pinjamannya pada Chung. Chung meminjam uang itu demi memulihkan penglihatan ayahnya tapi sekarang hutangnya menjadi sepuluh kali lipat daripada pokoknya hanya dalam beberapa bulan saja, sehingga ia tidak dapat membayar hutangnya pada Choi. Choi segera menyuruh anakbuahnya untuk menangkap Chung dan kemudian menyeretnya pergi.

Su Geun datang terlambat, dan segera berlari pergi untuk menyelamatkannya. Tapi ia tak dapat menghadapi tiga orang sendirian dan dipukuli oleh para tukang pukul Choi. Chung kembali diseret pergi.

Di kota, Enok menyadari kalau ia telah salah meletakkan kacamata Gil Dong dan segera pergi kembali ke gudang, berharap untuk menemukan kacamata itu. Sudah lewat beberapa jam dan dia sebelumnya telah diberitahu kalau ia tidak akan diijinkan untuk masuk saat barang-barang yang baru tiba, jadi ia berencana untuk menyusup masuk lewat pintu belakang.

Tapi Enok tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya di dalam gudang tersebut, yang ternyata dipenuhi dengan banyak gadis yang terikat dan ketakutan.

Chang  Whe datang ke penginapan dan diberitahu oleh Kakek Heo kalau Enok keluar untuk mengambil kembali suatu barang yang ketinggalan di gudang. Segera saja Chang Whe menyadari kalau Enok sedang menuju ke marabahaya tanpa Enok mengetahuinya. Chang Whe segera berlari pergi, bergegas  untuk mencari Enok.

Terluka, Su Geun dengan terhuyung-huyung kembali ke markasnya dan menemui Gil Dong, memohon padanya:

“Mereka …. membawanya pergi … Selamatkanlah … ia …. “

Iklan

One comment on “Hong Gil Dong – Episode 09

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s