Hong Gil Dong – Episode 10

Enok mengintip ke dalam gudang yang dipenuhi dengan gadis-gadis muda, salah satu di antaranya adalah Sim Chung. Dengan penuh keberanian dan semangat, Chung adalah satu-satunya yang memiliki nyali untuk berdiri menghadapi Choi Chul Joo ketika dia masuk ke dalam ruangan dengan anakbuahnya untuk memeriksa gadis-gadisnya. Dan sialnya, Choi telah memergoki Enok yang sedang mengintip di jendela kemudian mengirimkan anakbuahnya untuk menangkap Enok.

Enok bertarung dengan baik untuk melawan 3 tukang pukul Choi, tapi sama seperti Su Geun sebelumnya, roboh ketika Choi memukulkan tongkatnya yang berat di punggungnya.

Choi bermaksud melenyapkan Enok, karena tidak ingin Enok membahayakan pekerjaan mereka nantinya, tapi maksudnya itu terhenti dengan kedatangan Chang Whe, yang memberitahunya kalau ia membunuh Enok, maka Chang Whe akan membunuhnya sebagai gantinya.

Enok menjamin pada Chang Whe kalau dia akan memanggil yang berwenang dan segera berlari pergi. Sementara Enok pergi, Choi memberitahu Chang Whe untuk memastikan agar Enok tidak membuka mulutnya. Jika tidak, maka Enok akan membahayakan Chang Whe juga nantinya karena Chang Whe juga terlibat dalam rencana ini. Chang Whe mendengar teriakan para gadis yang berteriak meminta tolong dari dalam gudang, sejenak hati nuraninya berperang sebelum ia kemudian mengabaikan para gadis itu dan berjalan pergi … Darn u Chang Whe …

Saat Enok kembali dengan para penjaga kota, Choi sudah membersihkan segala sesuatunya di gudang itu dan penjaganya membantah kisah Enok. Enok terlihat berteriak sangat kesal dan para penjaga kota menggiringnya pergi untuk menghukumnya karena telah membuat-buat kisah untuk menipu mereka. Hukumannya adalah pukulan di pantat … bah …

Sementara itu ….

Su Geun sudah pulih dari rasa sakit akibat dipukuli dan kemudian meraung ngeri saat menyadari kalau ia kehilangan salah satu (maaf) buah pelirnya … Yup kalian tidak salah baca … Setengah dikebiri … ahahaha sungguh suatu hasil yang kejam bagi Casanova kita …. Dia sekarang setengah pria dari dirinya sebelum ini.

Dia berjalan keliling dengan sempoyongan, berteriak : “Hilanglah sudah!” sementara yang lain hanya menghela napas, “Pasti itunya sangat  sakit!”

Enok mengingat kalau ia pernah mendengar nama ayah Sim Chung dan segera pergi untuk mencarinya dan pada saat yang bersamaan, Gil Dong juga berpikiran sama dengan Enok. Saat Enok dalam perjalanan ke sana, beberapa kejadian membuat kita berpikiran kalau mereka berdua akan bertemu, tapi ternyata itu semua tidak terjadi … wasem deh ….

Gil Dong sampai lebih dulu dan berbicara dengan ayah Sim Chung, yang merasa sangat bersalah dan tidak berdaya, mengenai hutangnya kepada Choi Chul Joo. Gil Dong kemudian pergi tanpa menyadari kalau Enok juga dalam perjalanan menuju ke rumah itu, mereka berdua tidak saling berpapasan, bahkan tak mengetahui betapa dekatnya mereka untuk bertemu satu sama lain.

Pembicaraanya dengan sang ayah buta mengkonfirmasi kecurigaanya mengenai kejahatan dari Choi. Dia meyakinkan orang tua itu kalau ia akan melakukan apapun yang ia bisa untuk membawa kembali anak gadisnya pulang ke rumah. Dia akan mencari bantuan dari seseorang yang “cerdas, di posisi yang sangat tinggi”.

Tentu saja yang ia bicarakan adalah Chang Whe. Enok sangat bersemangat dan ingin segera pergi untuk melakukan penyelamatan dan berasumsi kalau Chang Whe pasti akan membantunya, dan karena itulah ia tidak bisa mengerti mengapa Chang Whe menolak permintaannya. Chang Whe menyahut kalau itu bukanlah urusannya, jadi mengapa ia harus membantu Enok? Enok memohon, “Kau adalah seseorang yang memiliki kekuatan, dan kau adalah seorang yang baik.”

Ini menambah rasa bersalah pada Chang Whe, dan segera berbalik menghardiknya, “Aku bukanlah orang yang baik!” Ketika Enok mengingatkannya kalau Chang Whe pernah menyelamatkan dirinya, Chang Whe berteriak, “Ya, aku memang sudah menyelamatkanmu, jadi sekarang ucapkan terima kasih dan pergi dari sini!”

Menyadari sesuatu, Enok bertanya dengan dengan mencoba-coba, “Jika aku ikut campur, apakah ini tidak akan mempersulit dirimu? Apakah … apa kau terlibat dengan bisnis orang itu? Apakah kau tahu segala sesuatunya ketika kau meminjamkan gudangmu padanya?” Chang Whe menjawabnya, “Ya, aku tahu. Aku tahu semuanya dan tidak melakukan apapun, jadi aku juga tidak akan menyelamatkan mereka sekarang.”

Merasa kecewa, Enok mundur: “Aku tidak dapat meninggalkan hal seperti ini. Maaf.”

Dia kemudian meninggalkan Chang Whe, yang bergumam sendirian.

Dayang Noh yang menyaksikan semuanya itu, memutuskan kalau Enok terlalu memiliki pengaruh besar atas Chang Whe, dan tidak dapat mengijinkan sang Pangeran Boneka nya untuk dipengaruhi oleh moral Enok. Dia harus melakukan sesuatu terhadap gadis itu.

Para bandit membuat rencana untuk menyelamatkan para gadis itu, mereka nantinya akan membutuhkan lokasi dari perahu milik si Choi, menghubungi orangtua para gadis, dan menemukan umpan yang cocok yang akan memancing Choi masuk dalam perangkap mereka. (Perencanaan itu dilakukan di atas sebuah jembatan, dan selama itu juga para bandit meniru semua gerakan dari Gil Dong bahkan sedikit berlebihan …. ngakaq deh ….

Di sebuah Gibang, Mal Nyeo menemukan seorang pengunjung kaya, seorang pedagang gindseng, yang akan menjadi sekutu mereka tanpa orang itu mengetahuinya. Dia segera mengalihkan perhatian dari pedagang itu dan menjiplak segelnya, yang digunakan Gil Dong untuk mendapatkan kunci atas gudang penyimpanan pedagang tersebut. Mal Nye terus membuat pedagang itu sibuk dengan pergi berlibur sebagai sepasang kekasih sampai operasi mereka selesai.

Lalu, Gil Dong berpakaian seperti pedagang ginseng tersebut dan pergi ke rumah judi, yang mana sering dikunjungi oleh Choi (untuk mencari mangsanya yang malam untuk dipinjami uang olehnya). Gil Dong bermain judi dan sengaja berlaku kalah besar sehingga menarik perhatian dari Choi.

Gil Dong berpura-pura menjadi seorang yang sangat bodoh dan terobsesi dengan judi, membuatnya menjadi target yang mudah bagi si rakus Choi. Kemudian Choi yakin kalau dirinya ada di atas angin dan meminta jaminan pada Gil Dong. Gil Dong menyebutkan kalau ia memiliki ginseng dengan kualitas tinggi dan menunjukkan barangnya pada Choi, yang segera saja mengenali betapa berharganya barang tersebut.

Choi melihat suatu kesempatan yang besar untuk menangguk untung besar dari ginseng Gil Dong (terutama setelah melihat betapa tololnya si pedagang Gil Dong yang tidak dapat melakukan bisnisnya dengan benar) dan menegosiasikan sebuah perjanjian. Dia akan menjual ginseng-ginseng itu di Tiongkok (bersama-sama dengan para gadis muda) untuk keuntungan yang tinggi, dan demi pembayaran tunda, maka ia menjanjikan pada Gil Dong pembayaran bunga yang sangat tinggi. Choi menduga kalau dirinya akan dengan mudah membuat semua uangnya itu kembali sepuluh kali lipat.

Tanpa bantuan dari Chang Whe, Enok tidak tahu bagaimana harus menyelamatkan para gadis yang tertangkap itu, dan kemudian memutuskan untuk mengintil Choi tapi tidak berhasil dan ketahuan. Tapi untungnya karena ancaman dari Chang Whe sebelumnya maka Choi tidak melukai Enok, tapi Enok menyerah dengan usahanya.

Dia kemudian bertemu dengan Eun Hye, yang sementara itu telah berhasil melacak kelenengan, yang mana membuat Gil Dong begitu tertarik, dan ternyata terhubung kepada Choi Chul Joo. Jadi ketika dia melihat Enok mencoba untuk melakukan perjanjian dengan Choi, Eun Hye segera menariknya pergi dan memberi nasihat yang kelihatannya bijaksana mengenai masalah itu. Dia mengusulkan kalau Enok harus menjauh dari Choi yang sangat berbahaya, dan mencoba untuk berbicara dengan para penjaga kota yang lebih simpatik. Ia menambahkan kalau ia akan membicarakan masalah ini kepada ayahnya. Enok berterima kasih pada Eun Hye atas bantuannya dan segera pergi untuk mencari seorang penjaga kota yang akan mendengarkan kisahnya.

Pengasuh Eun Hye bertanya apakah Eun Hye benar-benar akan memberitahu ayahnya, Menteri Seo, mengenai masalah dari Enok, dan Eun Hye menjawab (dengan pahit?), “Ya, tapi aku kira ayah tidak akan mendengarkan”. Rasa persahabatannya segera pergi dan ia berkata kalau Enok tetap mencoba untuk mendekati Choi, Enok mungkin saja bertemu dengan Gil Dong, dan Eun Hye tidak mau itu terjadi.

Sementara itu Chang Whe masih merasakan tusukan dari pertanyaan besar Gil Dong padanya, “Mengapa kau harus bertindak begitu jauh? Mengapa harus kau yang menjadi Raja?. Teriakan dari rakyatnya yang menderita berdengung terus di telinganya, dan ia mengatakan pada dirinya sendiri, “Aku tidak boleh ragu-ragu. Aku tidak akan tergoncang!” Tapi ketika Chang Whe berusaha mengarahkan panahnya pada target, dia meleset.

Menteri Hong (dan Seo) meminta bertemu dengan Dyang Noh, dan memintanya untuk mencari pedagang senjata. Dayang Noh bertanya mengapa Hong meminta dirinya untuk membantu Hong, dan Seo menjawab kalau mata-mata dari Dayang Noh telah menghubungi orang di posisi yang tinggi. (Para menteri, di lain pihak, terikat karena suap dan tidak dapat berbuat apa-apa)

Dayang Noh menjawab kalau mata-matanya tidak berdagang senjata tapi akan berusaha mencarinya. Dia merasakan kalau Hong mencurigai dirinya dan meyakinkan dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati. Dia mengingatkan Chang Whe bahwa karena Gil Dong sedang waspada, maka lebih baik bagi mereka jika persetujuan mereka dengan Choi berlangsung dengan lancar. Pekerjaan utama mereka sekarang ini adalah membantu Choi untuk pergi ke Tiongkok tanpa terlibat dalam masalah, karena jika Choi tersandung dalam masalah, maka mereka semua akan terseret ke dalamnya juga.

Dayang Noh juga merasakan kegelisahan Chang Whe dan memberitahunya kalau lebih banyak rakyat yang membutuhkannya, menekankan kalau ini adalah pengorbanan kecil yang memang harus dibayar.

Sementara itu, In Hyun sedikit sekali kemunculannya di episode ini, tapi sekarang ia sudah menjadi pengawal kerajaan, meskipun ia masih kekanak-kanakkan seperti sebelumnya. Dia dan ibunya, juga dengan Menteri Seo membahas pernikahannya dengan Eun Hye.

Rencana dari para bandit berjalan dengan sangat lancar dalam semua bagian, kecuali satu hal, mendapatkan bantuan dari orangtua para gadis yang diculik. Su Geun pergi dari satu rumah ke rumah yang lain, tapi para orang tua menolak berbicara dengannya, membantah kalau mereka telah menjual anak gadis mereka.

Gil Dong mengusulkan melakukan taktik yang berbeda, jadi Su Geun pergi menemui para orang tua gadis itu lagi untuk memberitahu mereka bahwa satu dari para gadis itu mati saat berusaha melarikan diri. Para bandit menyimpan jenazah gadis itu, dan sekarang terserah pada para orangtua untuk mengidentifikasi dan mengklaim kembali jenazah gadis itu jika gadis itu adalah anak mereka.

Enok sudah melakukan semua yang ia bisa untuk mendapatkan orang yang  akan mendengarkannya mengenai para gadis yang tertangkap, tapi benar-benar tak berhasir. Dia sangat murka dan marah, menumpahkan kekesalannya pada kakeknya, “Mereka semua cerdas dan berkuasa! Mengapa emreka berpura-pura tidak mengatahu yang terjadi?” Kakeknya menjawab, “Mereka berpura-pura tidak tahu yang terjadi karena mereka cerdas!” Enok tidak mau menyerah, meskipun Kakek Heo memberitahunya kalau ada hal-hal yang memang tidak dapat dilakukan oleh Enok.

Enok kembali ke ayah buta Sim Chung, meminta maaf dan merasa malu karena tidak dapat melakukan sesuatu. Dia menjelaskan sambil bercucuran air mata”

“Walaupun aku melihat segalanya dengan jelas dengan kedua mataku, aku tidak dapat melakukan apapun. Aku begitu bodoh sehingga aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku pergi menemui orang-orang yang lebih cerdas, dan orang-orang dengan posisi yang lebih tinggi, tapi mereka semua berpura-pura tidak tahu apa yang kubicarakan …. Aku sungguh-sungguh meminta maaf.”

Chang Whe, yang telah mendengar usaha sia-sia dari Enok, menyaksikan dari kejauhan ketika ia menangis dengan ayah Chung.

Malam itu, para orang tua yang cemas atas anak gadis mereka yang dijual datang menemui para bandit untuk mengidentifikasi jenazah. Yeon mengatakan pada Gil Dong, “Pada akhirnya mereka datang untuk mengklaim anak gadis mereka” tapi Gil Dong mungkin lebih berpandangan jauh lebih mendalam, dengan sinis (menyindir mereka secara tidak langsung kalau mereka datang untuk meredakan rasa bersalah mereka):

“Bukan seperti itu. Mereka datang berharap kalau jenazah itu bukan anak gadis mereka, untuk mengkonfirmasikan kalau ini bukanlah anak mereka”

Ketika penutup jenazah disingkapkan, ibu gadis itu menangisi jenazah anak gadisnya, sementara Su Geun mengatakan sebuah pidato yang menggugah hati:

Su Geun: “Adik perempuanku juga telah dijual dan meninggal. Jadi aku tahu bagaimana perasaan kalian, bahwa kalian tidak dapat melakukan apapun mengenai itu, bahwa kalian mungkin bisa saja juga mati. Bahwa kalian tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan itu. Bahwa apapun alasannya yang kuberikan, orang yang mati adalah adikku dan bukan aku, sebuah kenyataan yang tidak akan pernah bisa berubah, Dan untuk seumur hidupku aku tidak pernah dapat mengampuni diriku sendiri karena telah menjual adik perempuanku.

Dan kemudian Gil Dong menyela, suaranya tegas (walaupun penuh perasaan), memberitahu mereka untuk tidak jatuh dalam mengasihani diri mereka sendiri:

“Jadi demi keselamatan anak gadis kalian, bertindaklah. Tidak ada gunanya jika kalian menyerah sepenuhnya dan menggunakan alasan kalau kalian miskin dan lemah. Jika kalian menginjak seekor cacing, cacing itu akan menggeliat. Cacing itu mungkin saja terlihat bodoh dan tidak berarti, tapi ada sebuah kesempatan kalau cacing itu bisa saja menjatuhkan seseorang karena ketakutan dan membunuh mereka. Aku membantu kalian karena kalian lemah. Tapi kami juga tidak sekuat itu juga. Yang mana mengapa kita harus melakukan ini bersama-sama. Jika kita tidak melakukan sesuatu sekarang, kalian akan hidup seperti orang ini (Su Geun), terbungkus dalam rasa bersalah seumur hidup kalian. Adiknya dan gadis ini sudah meninggal, tapi anak-anak gadis kalian masih hidup, jadi mereka masih bisa diselamatkan!”

Sungguh pidato yang bagus, dengan latar belakang musik yang menggugah hati juga. Para orangtua segera saja memohon bantuan pada para bandit, dan Gil Dong segera menerangkan tujuan mereka, untuk mencegah perahu Choi berangkat!

Para anak gadis sedang melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan demi menyelamatkan diri mereka sendiri waktu itu. Mengikuti keberanian dari Chung, mereka menggunakan pecahan kaca dari kacamata milik Enok (yang aslinya milik Gil Dong) untuk digunakan memotong ikatan mereka.

Kembali pada Kwang Whe, dia bertanya pada Menteri Hong apakah Hong menyesal telah membantunya untuk meraih tahta. Kwang Whe mengatakan kalau Hong tidak boleh menyesal, tidak setelah semua orang yang telah mereka bunuh dengan tujuan untuk sampai ke posisi mereka sekarang ini: “Tapi aku telah melupakan apa arti sesungguhnya dari tahta ini”.

Dia melanjutkan, “Ketika aku telah melupakan semuanya, kau mungkin akan menyesalinya nanti.”

Chang Whe juga sedang menyatakan penyesalannya, pada Chisu, bagaimana ia telah melakukan apapun yang ia bisa untuk sampai di tempatnya sekarang. Tapi kemudian ia melihat Enok menangis, dan airmatanya seperti telah menyadarkannya: “Jika aku terus seperti ini, apa yang akan tersisa dari diriku?”

Dalam sikapnya yang mengawasi, Dayang Noh melihat ini dan segera pergi menemui Choi, memberitahu dia untuk membawa Enok bersamanya di perahu ke Tiongkok.

Enok sedang bersama dengan ayah buta Sim Chung ketika Chun sendiri terhuyung-huyung pulang ke rumah. Dia dan beberapa gadis lain berhasi melarikan diri, meskipun gadis yang lain ditangkap kembali sehingga ia satu-satunya yang selamat, dan meyakinkan gadis yang lain kalau ia akan mencari bantuan.

Enok menyadari kalau Choi cepat atau lambat akan tahu kalau Chung pulang ke rumah, dan kemungkinan besar sekarang sedang dalam perjalanan. Dengan tiada kesempatan untuk melarikan diri, Enok memberitahu mereka berdua untuk bersembunyi, sementara ia bertindak sebagai pengalih perhatian. Dia meyakinkan mereka kalau ia dapat berlari lebih cepat dari mereka seperti sebatang panah yang melesat, dan segera pergi untuk memberikan waktu bagi keduanya untuk melarikan diri.

Gil Dong (masih menyamar sebagai pedagang ginseng) bertemu dengan Choi dan tak sengaja mendengar kalau anak gadis dari si orang buta telah berhasil melarikan diri. Gil Dong segera berlari menuju ke rumah Chung dan menemukan keduanya sedang bersembunyi dan mencoba untuk mengiringi mereka pergi. Ketika mereka menyebutkan gadis yang telah membantu mereka, dia terkejut dengan deskripsi yang diberikan oleh Chung bahwa gadis itu mengatakan kalau ia lebih cepat dari sebatang panah, bahwa dia lebih-lebih pernah berburu harimau. Pria buta itu menambahkan kalau gadis yang baik itu adalah gadis yang menjual obat-obatan, dan Gil Dong segera bertanya, “Namanya … Siapa namanya?”

Pria buta itu mengidentifikasikan orang yang membantu mereka adalah Heo Enok, dan Gil Dong segera berlari pergi untuk mengejar Enok.

Enok berhasil mengelak dari penangkapan, tapi sekarang ia merasa lelah dan kalah jumlah. Dia telah berlari dan menyusup ke sana kemari di desa, diikuti begitu dekat oleh anakbuah Choi, ketika pada suatu kesempatan, entah dari mana, dia ditarik untuk bersembunyi ….

…. orang yang menarik Enok adalah Gil Dong yang segera menekap mulut Enok sehingga tetap diam. Enok merasakan sesuatu mengenai orang ini, dan mencoba untuk berbalik dan melihat wajahnya. Segera saja, Gil Dong ganti menutupi mata Enok, yang sekarang bertanya: “Siapa kau?”

2 comments on “Hong Gil Dong – Episode 10

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s