Hong Gil Dong – Episode 11

Gil Dong, setelah berhasil menarik Enok dan menyelamatkannya dari bahaya, tetap menutupi mata Enok ketika Enok bertanya siapa dirinya dan mengapa membantunya. Gil Dong segera saja berkelit menghindar dan pergi, menyembunyikan wajahnya, Enok segera saja mengejarnya.

Kembali untuk bertemu dengan Su Geun, Gil Dong dan Su Geun segera berlari bersama untuk bersembunyi (Su Geun mengenali Enok dan menyebutkan julukan Enok sebagai, “Mata Kelinci”). Sialnya, Su Geun tidak sengaja menjatuhkan sebuah tong, yang kemudian mulai berguling, dan Gil Dong berhenti tepat pada waktunya, tapi dengan demikian dia tersusul di tempat terbuka oleh Enok.

Adegan berikutnya sangat lucu, benar-benar lucu, membuatku ketawa sampai sakit perut …. ahahahah ….

Gil Dong tetap mempertahankan bagian punggungnya yang menghadap Enok, tak mampu menjawab pertanyaan Enok karena takut Enok mengenali suaranya. Karena itulah Su Geun yang juga berada di situ turun tangan untuk  mewakili Gil Dong dalam menjawab pertanyaan Enok, dan bahasa yang ia gunakan tak kepalang muluk-muluknya:

Su Geun (sebagai  Gil Dong): “Jangan bergerak lebih mendekat lagi, anak muda. Karena situasi yang tidak mengijinkan, aku tidak dapat mengungkapkan identitasku yang sebenarnya.”

Enok: “Kumohon, beritahukanlah namamu!”

Su Geun (Gil Dong}: “Dalam takdir yang menghilang seperti angin yang berhembus, apa gunanya mengetahui nama satu sama lain? Biarlah kita berpikir kalau pertemuan ini hanyalah kesempatan untuk membaurnya aroma kita di bawah langit bercahayakan bulan”.

[Gil Dong segera saja mengerutkan dahi dan memberi tatapan tajam pada Su Geun. Enok mengendus-endus udara di sekelilingnya]

Enok: “Tapi aku tidak mencium bau apapun?” (ahahahah …. )

Su Geun (Gil Dong): “Saat ini adalah kesempatan paling dekat yang kita pernah lakukan. Jangan datang lebih dekat lagi dan membuat dadaku terbakar dengan api”

Enok: “Tapi aku tidak membawa sedikitpun api?”

Su Geun: “Tatapanmu itulah yang dapat membakar hati setiap pria. Api itu telah padam, seperti hembusan asap yang pergi, adieu … ”

Enok: “Apakah kau memintaku untuk pergi, seperti asap? Baiklah … Aku akan segera pergi.”

Su Geun: “Selamat tinggal, Mata Kelinci!”

Enok merasa diperingatkan saat ia mendengar Su Geun (sebagai Gil Dong) menyebutkan julukannya Mata Kelinci: “Apakah kau mengenalku?” Su Geun gelagapan dan segera menyahut untuk memperbaiki kesalahannya: “Uh.. aku kata: ‘Jangan lupa untuk membeli kacamata‘. Kelihatannya penglihatanmu lemah dan tidak begitu bagus.”

Catatan: rima baris kacamata (ahn-gyung kkok sa-sheo) secara samar-samar berima sama dengan Selamat Tinggal Mata Kelinci (ahn-nyung kkot sa-seum).

Enok bisa menerima jawaban itu dan berjanji akan membayar kembali bantuan Gil Dong kali ini, kemudian segera beranjak keluar. Su Geun merasa menyesal bagi Gil Dong, yang tidak dapat memberitahu Enok semua yang ingin Gil Dong katakan, dan memanggil Enok kembali untuk mengatakan:

“Aku minta maaf kalau aku harus menyuruhmu pergi tanpa dapat menunjukkan wajahku padamu. Situasiku lah yang mencegahku untuk terlibat dengan dirimu lebih jauh. Tapi aku tahu aku akan selalu bertanya-tanya mengenai kesejahteraahmu, jadi kumohon jagalah dirimu baik-baik!”

Dalam pikirannya, Gil Dong mengumandangkan kata-kata yang sama, seperti dia sendiri lah yang mengatakan itu semua pada Enok.

Tentu saja, orang asing di bawah cahaya bulan (Gil Dong) membuat Enok berkhayal. Dia memberitahu kakeknya kalau orang itu tampaknya seorang yang baik, bahkan memiliki aroma yang benar-benar enak. (ahahahahhaha) Kakek Heo, dengan muka datar mengatakan, “Karena kau yang mengatakan itu, pasti orang itu telah memakan roti manis ATAU daging ayam.”  Enok cemberut dan menjelaskan, “Itu seperti bau ‘I Love U’ yang kucium.” Kakek: “Oh jadi roti manis DAN daging ayam?” (waduh perutku sakit … ). Kakek Heo menciptakan julukan bagi orang asing itu : Tuan Gagah Perkasa Berjubah Hitam di bawah Cahaya Bulan.

Chang Whe dan rombongannya menyaksikan prosesi pemakaman yang lewat dari gadis yang telah mati karena berusaha melarikan diri dari cengkeraman Choi Chul Joo. Kedua orangtua gadis  itu yang bersedih mengenali Chang Whe dan mengutukinya karena dianggap bertanggungjawab atas kematian anak gadis mereka (karena hubungannya dengan Choi). Bahkan seorang anak kecil berani melemparkan sebuah batu ke kepala Chang Whe. Meskipun Chang Whe memberitahu anakbuahnya untuk membiarkan keluarga itu pergi tanpa diganggu, dia sendiri sangat terpengaruh oleh tuduhan mereka, yang mengusik rasa bersalahnya. Gil Dong menyaksikan semua ini, menyamar sebagai anggota rombongan dari prosesi itu.

Gil Dong mengirim Shim Chung pada Enok sebagai wakilnya. Chung memberitahu Enok kalau dirinya (Gil Dong) lah yang mencegah perahu Choi (yang mengangkut para gadis budak) untuk berangkat, yang mana membuat Enok sangat kagum. Enok ingin bertemu dengan pria ini, tapi Chung memberitahunya kalau itu mustahil, jadi Enok meminta Chung untuk menyampaikan pesannya.

Ketika Chung melaporkannya balik pada Gil Dong, pesan Enok membuat Gil Dong dan Su Geun tertawa terbahak-bahak: “Dengan penuh hormat, Tuan Gagah Perkasa Berjubah Hitam di bawah Cahaya Bulan”

Enok memuji berulangkali Pria Cahaya Bulan nya dan Enok  berharap dapat bertemu lagi denganya. Kakek Heo mengusulkan Enok untuk menyebut dirinya sendiri Bayangan Cahaya Bulan, membuatnya berfantasi menjadi seorang petarung yang andal dan berhasil mengalahkan Choi seorang diri.

Gil Dong menggerakkan para orang tua gadis-gadis yang diperbudak untuk melakukan tindakan. Setiap hari saat perahu itu tetap bersandar, Choi harus membayar bunga yang tinggi pada pedagang ginseng (samaran Gil Dong). Biarlah Choi merasakan tusukan bunga yang sangat tinggi yang mereka anggap sebagai perbuatan kriminal sementara para orangtua melakukan apapun yang mereka bisa untuk menyabotase perahu itu sehingga gagal berangkat.

Para orangtua bergiliran meloncat ke dalam air yang sangat dingin, malam demi malam, untuk merusak lambung kapal dan membuatnya bocor. Choi menjadi paranoid dan sangat jengkel, mengetahui kalau dia dengan cepat akan mengumpulkan banyak sekali bunga tinggi, dan memerintahkan anakbuahnya untuk menangkap siapa pelakunya.

Chang Whe mendengar perahu Choi disabotase dan menduga kalau para orangtua gadis itu yang ada dibalik semua ini. Dia menjadi waspada saat Chisu mengatakan kalau Choi sedang merencanakan perangkap untuk menangkap pelakunya malam ini, ketika dia melihat Enok ada di desa.
Tapi sekarang, Enok merasa sama sekali tidak nyaman berada di dekat Chang Whe, merasa kecewa dengan pribadi Chang Whe dan mencoba menyembunyikan wajahnya. (Mungkin banyak yang berharap sama, “Jika aku tidak dapat melihatnya, maka dia tidak dapat melihatku” ?). Kejadian ini sama seperti dulu ketika Chang Whe kemudian membelikannya pot tembaga, tapi sekarang berbeda, dulu dia merasa tersanjung sekarang justru merasa canggung.

Enok sudah berhenti bekerja di kelompok pedagang, karena kelihatannya sudah tak ada gunanya ia melanjutkan. Chang Whe bertanya padanya bagaimana perasaanya mengenai usaha sia-sia dari para orangtua itu untuk menunda keberangkatan perahu yang berisi anak-anak gadis mereka. Chang Whe berpikir kalau mereka telah menyia-siakan waktu mereka dengan melakukan usaha yang tidak ada gunanya, tapi Enok membela mereka: “Mereka melakukan itu semua demi melindungi anak-anak gadis mereka!”

Chang Whe mencemooh, melindungi anak-anak mereka? Para orangtua itulah yang menyerahkan anak-anak mereka sejak awal. Mereka tidak mengetahui apa itu artinya untuk melindungi. Enok mendebatnya, dengan berapi-api, matanya berkaca-kaca:

“Itu tidak berarti mereka tidak mengetahui apa artinya melindungi. Hanya saja mereka terlalu lemah, karena itulah mereka tidak dapat melindungi anak-anak gadisnya. Aku sudah kehilangan seseorang yang kukasihi, jadi aku tahu bagaimana perasaan mereka. Karena aku juga terlalu lemah, aku tidak dapat melindungi seseorang yang kusayangi. Aku juga tidak dapat pergi bersama-sama dengannya. Apakah kau tahu betapa menyakitkan hal itu? Kau berkata seperti itu karena kau begitu kuat, kau tidak pernah kehilangan apapun. Kau sangat kuat tapi ternyata kau tidak melakukan apapun, itu membuatmu terlihat sangat buruk. Kaulah orangnya yang tidak mengetahui apa itu artinya melindungi!”

Tepuk tangan untuk Enok … rasakan itu Chang Whe !!! ….😛

Kata-kata Enok menyerang langsung ke titik terlemah Chang Whe, walaupun sebenarnya dia dapat membantahnya tapi Chang Whe tetap diam. Dia mengakuinya pada Chisu bagaimana perasaannya mengenai ibunya: “Aku masih terlalu muda dan terlalu lemah.  Aku tahu kalau aku akan kehilangan ibuku, yang membuatkau untuk melindunginya lebih dan lebih lagi. Tapi sekarang … Aku rasa aku sudah terlalu jauh melupakan perasaan itu …”

Malam itu, Gil Dong menemukan dirinya dalam keadaan sedikit serba salah, Cho telah mencurigai dirinya (yang menyamar sebagai pedagang ginseng). Dua gadis dibawa keluar, dan Choi mengancam akan melemparkan mereka dari perahu (sebagai tindakan peringatan padanya untuk menghentikan tindakan pengrusakan yang berlangsung selama ini). Hal ini membuat Gil Dong dalam persimpangan jalan, jika ia ikut campur, hal ini akan bertentangan dengan samarannya (bukankah seorang pedagang hanya menginginkan keuntungan, karena itu ia seharunya membiarkan Choi tetap bertindak sesukanya)

Gadis-gadis itu berteriak memohon pengampunan, sementara Gil Dong bergumul dengan driinya sendiri, dan tepat pada waktunya, pihak ketiga datang: Chang Whe.

Alasan Chang Whe untuk mencegah masalah berlanjut lebih jauh membuat Choi terpaksa menahan dirinya: Tiap insiden yang disebabkan oleh Choi akan menciptakan masalah untuk kelompok pedagangmya. Para gadis tidak dibunuh, tapi Gil Dong terpaksa harus menunjukkan wajahnya, dan segera saja dikenali oleh Chang Whe dan Chisu. Syukurlah, tidak tahu untuk alasan apa, Chang Whe tidak menyingkapkan penyamaran Gil Dong, mengatakan kalau mereka telah berbisnis satu sama lain di masa lampau dan bagaimana mereka berbisnis.

Menteri Hong meminta bertemu dengan Enok untuk mendiskusikan kelompok pedagang, dan Enok memberitahukan padanya kalau banyak gadis yang dikurung di gudang mereka. Dia ragu-ragu untuk menyebutkan pimpinan pedagang yang bertanggung jawab atas kejahatan ini, dan sebaliknya mengatakan kalau yang bersalah hanyalah Choi Chul Joo seorang.

Menteri Hong, yang kelihatannya seorang penilai yang baik dari karakter seseorang (termasuk pada anaknya) dan seorang yang terhormat, terkecuali dengan kejahatan yang telah ia lakukan di masa lalu, menyukai Enok, tapi namanya yang tidak biasa membangkitkan rasa penasaran Menteri Hong. Dia bertanya bagaimana Enok menuliskan namanya, dan mengenalinya kalau itu adalah nama yang sama yang dimiliki oleh anak gadis dari menteri yang telah ia bunuh. Kakek Heo yang menguping di luar juga menyimpulkan hal yang sama; bahkan lebih jauh, Kakek Heo mengenali suara Menteri Hong sama seperti orang yang berada di tempat kejadian di malam saat ibu Enok terbunuh.

Enok, bagaimanapun juga, tidak mengetahui semuanya ini dan hanya berterima kasih belaka pada Menteri Hong, yang berjanji untuk menginvestigasi Choi. Setelah Enok pergi, Hong dengan berduka mengenali kemiripan Enok dengan ayahnya yang telah terbunuh; Enok, juga sama, dengan berduka mengenali kemiripan Menteri Hong dengan Gil Dong.

SEkarang setelah Chang Whe menyadari kalau Gil Dong masih hidup, bertanya apakah Gil Dong yang mengkoordinasikan penyabotan perahu, dan juga yang mencuri kepala para pekerja yang dieksekusi di Istana. Mengapa sekarang ia justru berpura-pura melakukan bisnis dengan Choi? Gil Dong bertanya balik: “Kenapa? Apakah kau akan membantu jika aku memberitahumu semuanya?”

Gil Dong memikirkan keterlibatan dari Chang Whe, mengakui kalau Chang Whe membantu gadis-gadis tadi jadi mungkin saja Chang Whe tidak sepenuhnya ada di pihak Choi. Tapi apa sebenarnya rencanaya? Chang Whe menggunakan pertanyaan yang sama: “Kenapa? Apakah kau akan membantu jika aku memberitahumu semuanya?”

Mungkin ada di antara kalian yang bertanya-tanya mengapa Gil Dong tidak langsung menyerbu saja dengan para bandit dan menyelamatkan para gadis dengan paksa? Mengapa dia tidak melakukan penyusupan ala ninja dan menyelamatkan semuanya seorang diri? Kenapa justru melakukan hal yang sebaliknya, membuat para orangtua gadis melakukan semua usaha itu sendiri. Tentu saja ia juga membantu, tapi yang bertanggung jawab atas semua tindakan penyelamatan itu adalah para orangtua itu sendiri. Mereka akan menyelamatkan dan mendapatkan kembali anak-anak mereka dengan usaha mereka sendiri.

Gil Dong tidak bermaksud untuk meminta bantuan Chang Whe, tapi ia menginginkan Chang Whe berdiam diri dan menyaksikan saja ketika para orangtua mengambil kembali anak-anak gadis mereka: “Seseorang yang ingin menjadi seorang raja seharusnya melindungi rakyatnya!”

Sementara itu, Kakek Heo bertanya pada Hae Myung mengenai sesuatu yang pernah ia dengar di Tiongkok yang dapat menimbulkan kehilangan ingatan. Dia berharap dapat menggunakannya, entah bagaimana, kepada Enok, karena Kakek Heo merasa gelisah setelah dapat mengenali pembunuh ibu Enok.

Dan kemudian, air membeku, membuat perahu tertambat dengan tidak ada kesempatan lebih jauh untuk berangkat ke Tiongkok.

Gil Dong melangkah ke tahap selanjutnya dalam rencanaya yang sudah mulai menampakkan hasilnya, dan sekarang kita dapat melihat betapa briliannya rencana Gil Dong ini. Tidak hanya dia sudah mempersiapkan rencana penyelamatan itu, tapi juga ia melakukannya secara resmi dan sah!

Gil Dong mengambil kembali ginseng mahal dari Choi, karena sekarang Choi tidak dapat berangkat untuk menjualnya ke Tiongkok. Para bandit kemudian mengembalikan ginseng itu ke pemilik aslinya, mereka tidak pernah bermaksud untuk mencurinya dengan alasan melakukannya demi kebaikan; mereka hanya membutuhkannya untuk digunakan dalam rencana mereka ini… TOP MARKOTOP !!!

Lali Gil Dong memberikan surat hutang Choi (untuk bunga ginseng) pada ayah buta si Shim Chung. Shim buta mengklaim kalau dia telah memenangkan surat hutang itu dalam suatu babak judi, dan bermaksud untuk mengambil haknya dari Choi. Para orangtua gadis itu menggunakan hutang Choi untuk membayar hutang mereka sendiri dan mengambil kembali anak-anak gadis mereka.

Choi kemudian menemui kepala daerah dan mengajukan komplain, mengatakan kalau dirinya adalah korban konspirasi yang rumit. Kepala Daerah justru akan menghormati klaim dari Shim buta atas hutangnya jika ia dapat membuktikan kalau Shim buta memenangkannya dengan jujur, yang mana Choi kemudian menghinanya, bagaimana seorang pria dapat melakukan itu ketika ia bahkan tidak dapat melihat anak gadisnya sendiri? Ini membuat Shim buta sangat murka: “Aku DAPAT  melihat anakku!”, dan dengan kekuatan keyakinannya, dia membuka paksa kedua matanya dan kemudian penglihatannya pulih kembali, ia bisa melihat!

Jadi Choi kehilangan ginsengnya, klaimnya terhadap para gadis, dan juga pendapatan di masa depan dari menjual gadis-gadis itu. Murka, dia memerintahkan anakbuahnya untuk menggunakan bahan peledak untuk membongkar es sehingga mereka dapat berlayar pergi, karena tetap tinggal di pelabuhan membuatnya seperti seekor bebek yang duduk menunggu untuk dibantai. Tergiring di luar batas kesadarannya, Choi menjadi sinting dan memerintahkan anakbuahnya untuk mengurus Enok, juga atas instruksi dari Dayang Noh sebelumnya.

Berita tersebar dengan cepat, membuat beberapa tindakan berlangsung segera. Kelompol pedagang Chang Whe menghadapi kenyataan terungkapnya keterkaitan mereka dengan Choi. Gil Dong dan Menteri Hong menyadari kalau kelompok pedagang Chang Whe telah membeli bahan-bahan peledak dan ini membuat pengawal kerajaan diberangkatkan ke dermaga.

Es sekarang sudah terbongkar, Choi bersiap untuk berlayar, yang mana membuat para orangtua menjadi sangat ribut ketika melihat mereka tidak dapat mengambil kembali anak-anak gadis mereka. Mereka segera meraih tambang kapal dan bertahan, mencegah keberangkatan kapal itu. Anakbuah Choi memukuli para orangtua itu, baik pria maupun wanita, supaya mereka melepaskan tambang, yang berbalik menjadi kekacauan yang lebih hebat karena para orangtua yang dalam ambang putus asa masih bertahan untuk memegang tambang itu.

Gil Dong dan Chang Whe berdua menemukan diri mereka dalam posisi yang canggung, karena meskipun keduanya bersedia ikut campur dalam menghadapi kesintingan Choi, itu akan membuat mereka terancam bahaya. Mereka berdua tidak berani untuk melakukan ini, apalagi dengan para pihak berwenang sedang dalam perjalanan ke dermaga.

Jadi Chang Whe mengusulkan untuk bekerja bersama-sama. Chang Whe akan menuju ke dermaga dan melepaskan gadis-gadis itu, jika Gil Dong mau menahan para pengawal kerajaan.

Gil Dong segera saja setuju dengan usul itu. Para bandit segera mengambil posisi mereka untuk menghadang pihak pengawal kerajaan.

Chisu dan anakbuahnya segera saja menghadapi anakbuah Choi di dermaga, sementara Chang Whe menghadapi Choi seorang diri. Chang Whe dengan mudah mengatasi perlawanan Choi.

Choi mengancamnya, “Kau seharusnya tidak membunuhku jjika kau ingin ‘gadis itu’ tetap hidup” Menjadi waspada, Chang Whe menginginkan Choi untuk memberitahu maksudnya itu, tapi Chisu terlanjur menjatuhkan pukulan mematikan ke Choi. Dalam keadaan sekarat, Choi mengatakan, “Tanyalah Dayang Noh!” sebelum kemudian Chang Whe melepaskannya jatuh keluar perahu. Mati juga loh orang jahat ….

Demi dirinya sendiri, Dayang Noh memberitahu kebenarannya dan mengakui kalau dia memang telah memerintahkan Choi untuk pergi membawa Enok (“demi kebaikan dari Chang Whe”, selalu saja demi kebaikan orang lain … ) dan Chang Whe segera saja berlari pergi untuk mencari Enok.

Eun Hye mendengar ledakan di dermaga yang dilakukan oleh Choi, dan mencemaskan keselamatan dair Gil Dong. Pengasuhnya segera menahannya: “Itu sangat berbahaya! Apa yang dapat kau lakukan jika kau keluar dan pergi ke sana?” Eun Hye menjawabnya: “Aku tidak tahu! Tapi bagaimana jika dia terluka?” dan segera berlari keluar.

Para bandit sangat kalah dalam jumlah mereka dibandingkan para pengawal kerajaan, tapi mereka melakukan usaha yang sangat baik dalam menahan para pengawal itu, menggunakan semacam bom asap untuk menghalangi pandangan dan membuat pihak pengawak kerajaan menahan gerakan mereka. In Hyung juga ada dalam pasukan itu, seperti biasa menjadi seorang pengecut, menjaga jarak dari pertarungan itu.

Menteri Hong sampai ke tempat kejadian dan melihat ke arah kabut asap, dan mengamati Gil Dong saat penutup kepalanya terbuka sebentar yang membuat wajahnya tampak. Kemudian para bandit segera mundur ke desa, yang mana mereka kemudian bersembunyi dan beberapa kali melemparkan bom asam mereka untuk membuat para pengawal terus kebingungan.

Kabut asap yang sama mengganggu pencarian Chang Whe atas Enok. Dia mencari ke sekelilingnya yang berasap, mengingatkannya pada Istana terbakar yagn mana menyebabkan ibunya mati. Kecemasannya timbul tak terkendali dan dia bergumam seorang diri, “Aku tak bisa kehilangan dia lagi kali ini …” Dan kemudian Enok tiba-tiba muncul dari kabut asap, melihat kepanikan Chang Whe, yang segera saja meraih dan memeluk Enok secara tiba-tiba.

Chang Whe dipenuhi dengan rasa lega sementara  Enok menjadi tertegun. Chang Whe mengatakan, “Kupikir aku akan kehilangan dirimu” dan saat ia mulai mendapatkan ketenangan dirinya, ia melihat Gil Dong melalui bahu Enok. Gil Dong masih belum dapat melihat keduanya, tapi Chang Whe tidak memberi kesempatan, ketika Enok mencoba untuk berbalik, dia dengan sengaja merangkulnya kembali mencegah Enok melihat Gil Dong.

Gil Dong segera pergi berlalu, tak mengetahui betapa dekatnya mereka, dan Chang Whe memberitahu Enok, “Aku tidak ingin kehilangan dirimu.”

2 comments on “Hong Gil Dong – Episode 11

  1. Aduh, ternyata chang we ILU sama enok? (sebenarnya enok itu nama orang sunda, bisa dibilang panggilan sayang pada anak gadisnya, seperti, eneng, nyai, atau enok) lanjut terus kang….

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s